Anda di halaman 1dari 24

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Review Hasil-hasil Penelitian Terdahulu

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh S. Hadiyanto pada tahun 1996,

mahasiswa Institut Keguruan Ilmu Pendidikan Jakarta / 1996, dengan judul “Hubungan

Antara Potongan Penjualan Terhadap Volume Penjualan Pada PT. Pantja Niaga Jakarta”.

Dari penelitian teknis analisis yang digunakan adalah analisis product moment,

hasil deskriptif menunjukan bahwa untuk potongan penjualan (variabel X) diperoleh

dengan uji linier sederhana, diperoleh persamaan regresi Y = 355,82 + 27.710X dengan

melakukan uji kelinieran maka dapat disimpulkan bahwa persamaan tersebut terdapat

hubungan yang positif antara potongan penjualan dengan volume penjualan PT Pantja

Niaga Jakarta.

2.2. Deskripsi Teoritis

2.2.1. Hakikat penjualan

Keberhasilan suatu perusahaan pada umumnya dinilai berhasil dilihat dari

kemampuannya dalam memperoleh laba. Dengan laba yang diperoleh, perusahaan akan

dapat mengembangkan berbagai kegiatan, meningkatkan jumlah aktiva dan modal serta

dapat mengembangkan dan memperluas bidang usahanya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, perusahaan mengandalkan kegiatannya dalam

bentuk penjualan, semakin besar volume penjualan semakin besar pula laba yang akan
diperoleh perusahaan. Perusahaan pada umumnya mempunyai tiga tujuan dalam

penjualan yaitu mencapai volume penjualan, mendapatkan laba tertentu, dan

menunjukan pertumbuhan perusahaan.

Menurut Joel G. Siegel dan Joe K. Shim yang diterjemahkan oleh Moh. Kurdi,

“Penjualan adalah Penerimaan yang diperoleh dari pengiriman barang dagangan atau

dari penyerahan pelayanan dalam bursa sebagai barang pertimbangan. Pertimbangan ini

dapat dalam benuk tunai peralatan kas atau harta lainnya. Pendapatan dapat diperoleh

pada saat penjualan, karena terjadi pertukaran, harga jual dapat ditetapkan dan bebannya

diketahui”.1

Dalam kegiatan ini penjualan akan melibatkan debitur atau disebut juga pembeli

serta barang-barang atau jasa yang diberikan dan dibayar oleh debitur tersebut dengan

cara tunai ataupun kredit.

Penjualan barang dagang oleh sebuah perusahaan dagang biasanya hanya disebut

“Penjualan”, jumlah transaksi yang terjadi biasanya cukup besar dibandingkan jenis

transaksi lainnya. Dalam menjual barang dagangannya perusahaan dapat menerapkan

tiga metode penjualan yang sering dikenal yaitu penjualan tunai, penjualan kredit, dan

penjualan konsinyasi.

2.2.2 Hakikat Penjualan kredit

1
Siegel, Joel G dan Jae K. Shim yang diterjemahkan oleh Moh Kurdi (1999), Kamus Istilah
Akuntansi, Jakarta : PT Elex Media Komputindo, hal 404.
Kebutuhan manusia yang beraneka ragam dengan itu selalu meningkat,

sedangkan kemampuan untuk mencapai sesuai yang diinginkannya itu terbatas. Hal ini

menyebabkan memerlukan bantuan untuk memenuhi hasrat dari cita-citanya. Dalam hal

ini ia berusaha, maka untuk meningkatkan usahanya atau untuk meningkatkan bantuan

dalam bentuk pemodalan. Dalam kehidupan sehari-hari kata kredit bukanlah merupakan

perkataan yang asing bagi masyarakat kita. Perkataan kredit tidak saja dikenal oleh

masyarakat dikota-kota besar tapi sampai didesa-desapun kata kredit tersebut sudah

sangat populer.

Menurut Soemarso SR, “Penjualan kredit adalah penjualan barang dagang scara

tidak tunai yang dicatat sebagai debit pada perkiraan piutang dagang dan kredit pada

perkiraan penjualan”.2

Seseorang atau suatu badan yang memberikan kredit (kreditur) percaya bahwa

penerima kredit (debitur) pada masa yang akan datang akan sanggup memenuhi segala

yang telah dijanjikan. Apa yang telah dijanjikan itu dapat berbentuk segala sesuatu yang

telah dijanjikan itu berbentuk sebagai berikut :

- Barang terhadap uang

- Barang terhadap jasa

- Jasa terhadap jasa

- Jasa terhadap barang

- Uang terhadap jasa

2
Soemarso SR (1999), Akuntansi Suatu Pengantar, Edisi Sembilan, Rineka Cipta, Jakarta, hal 178.
Berdasarkan pendapat Thomas Suyatno,dkk. “Dengan diterimanya kontraprestasi

pada masa yang akan datang, maka jelas terganbar bahwa kredit dalam arti ekonomi

adalah penundaan pembayaran dari prestasi yang diberikan sekarang, baik dalam bentuk

barang, uang maupun jasa. Disini terlihat pula bahwa faktor waktu merupakan faktor

utama yang memisahkan prestasi dan kontraprestasi”.3

Dengan demikian kredit itu dapat pula berarti bahwa pihak kesatu memberikan

prestasi baik berupa barang, uang atau jasa kepada pihak lain, sedangkan kontraprestasi

akan diterima kemudian dalam jangka waktu tertentu.

Dari pengertian-pengertian kredit diatas maka dapat disimpulkan bahwa

penjualan kredit yaitu penjualan yang pembayarannya dilakukan beberapa kali yaitu

cicilan atau dibayar sekaligus pada waktu jatuh tempo dan terkadang didahului dengan

pembayaran uang muka.

Penjualan dengan kredit akan menimbulkan piutang usaha (Account Receivable)

transaksi tersebut dicatat sebagai debit pada perkiraan piutang usaha dan kredit pada

perkiraan penjualan. Ayat jurnal sebagai berikut :

Piutang usaha xxx

Penjualan xxx

3
Thomas Suyatno, dkk (1991), Dasar-dasar Perkreditan, Jakarta : Gramedia, hal 11.
Dan apabila pembayaran diterima dari debitur, mengakibatkan piutang usaha

berkurang atau disebelah kredit sedangkan kas bertambah atau sebelah debit. Ayat jurnal

sebagai berikut :

Kas xxx

Piutang usaha xxx

Transaksi-transaksi tersebut harus berdasarkan suatu dokumen yang merupakan

bukti transaksi yang bersangkutan. Bukti transaksi penjualan biasanya disebut faktur

penjualan (sales invoice). Adakalanya perusahaan memberikan potongan penjualan

kepada pelanggannya, potongan harga yang diberikan karena pembeli membayar faktur

lebih awal, bagi pihak penjual disebut potongan penjualan. Potongan penjualan tersebut

dicatat sebagai debit pada perkiraan potongan penjualan dan dianggap sebagai

pengurangan terhadap penjualan yang telah dicatat sebelumnya. Ayat jurnal sebagai

berikut :

Kas xxx

Potongan penjualan xxx

Piutang dagang xxx

Sehingga dapat dikatakan untuk dapat meningkatkan penjualan ada beberapa hal

yang dapat dilakukan antara lain dengan memberikan potongan penjualan kepada

pembeli, sehingga diharapkan jumlah penjualan dapat sesuai dengan rencana yang telah

disusun oleh perusahaan. Pemberian potongan penjualan juga merupakan motivasi untuk

menarik konsumen.
2.2.3. Hakikat potongan penjualan

Berbagai cara dan kebijaksanaan dilakukan perusahaan untuk meningkatkan

hasil penjualan dan keuntungan perusahaan. Memberikan Potongan penjualan kepada

konsumen merupakan salah satu cara yang digunakan perusahaan untuk menarik minat

konsumen untuk melakukan transaksi pembelian.

Alasan perusahaan memberikan potongan penjualan diantaranya adalah

merosotnya bagian pasar sebagai akibat makin ketatnya persaingan, menarik pangsa

pasar yang lebih besar (promosi), adanya kelebihan kapasitas persediaan, adanya

barang-barang yang ditarik dari peredaran, perusahaan sedang kesulitan keuangan

sehingga membutuhkan uang kas yang cepat dan alasan-alasan yang lainnya.

Potongan tunai diberikan kepada pembeli yang membayar hutangnya tepat waktu

dan membayar hutangnya sebelum waktu yang telah ditentukan, seperti 2/10, n/30 yang

berarti bahwa hutang harus dilunasi dalam jangka waktu 30 hari, namun pembeli akan

mendapatkan potongan 2% jika pembeli melunasi dalam jangka waktu kurang dari atau

sampai dengan 10 hari.

Berdasarkan penjelasan diatas, potongan penjualan diberikan dengan maksud

bukan saja sebagai imbalan kepada pembeli, karena pembeli menyetujui syarat yang

ditentukan tetapi sekaligus sebagai daya tarik dalam persaingan.


Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia : “Potongan penjualan diakui pada saat

pembayaran diterima dalam periode potongan dan dilaporkan dalam perhitungan laba

rugi sebagai pengurang terhadap jumlah penjualan. Penjualan bersih inilah yang akan

diperhitungkan dalam menentukan besarnya laba atau rugi perusahaan”.4

2.2.4. Hakikat piutang usaha

Menurut Donald E Kieso, dan kawan-kawan, “Piutang adalah klaim uang, barang

atau jasa kepada pelanggan atau pihak lainnya”.5

Menurut Soemarso S.R mengatakan bahwa “Piutang adalah klaim dalam bentuk

uang yang dimiliki perusahaan terhadap seseorang atau perusahaan yang timbul karena

penjualan kredit”.6

Sedangkan Muhammad Gade dan Said Khaerul Wasif mendefinisikan bahwa

“Piutang usaha merupakan tagihan perusahaan terhadap badan atau seseorang akibat

adanya penjualan barang dan jasa secara kredit”.7

Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa piutang usaha adalah

tagihan perusahaan kepada pihak lain yaitu badan usaha atau seseorang yang timbul

akibat adanya penjualan barang atau jasa yang dilakukan secara kredit dan pembayaran

dilakukan setelah jangka waktu yang ditentukan oleh kedua belah pihak.

4
Ikatan Akuntansi Indonesia (2004), Standar Akuntansi Keuangan, Rineka Cipta, Jakarta, hal 157.
5
Donald E. Kieso, J. Weygand dan Tery Warfield (2002), Akuntansi Intermediate,
diterjemahkan oleh Herman Wibowo, Jilid Satu, Jakarta, Erlangga, hal 387.
6
Soemarso S.R (1992), Akuntansi Suatu Pengantar, Edisi Empat, Jakarta, Rineka Cipta, hal 365.
7
M. Gade & Said Khaerul Wasif (1999), Akuntansi Keuangan Menengah I, FEUI, Jakarta, hal 63.
Masalah umum yang dihadapi perusahaan dalam piutang usaha adalah sering

terjadinya penagihan piutang yang telah jatuh tempo dan tidak dapat tertagih seluruhnya.

Jika keadaan ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan

kesulitan di kas.

Oleh karena itu, masalah penagihan piutang usaha perlu mendapat perhatian,

agar resiko yang akan timbul dapat dihindari sekecil mungkin. Manajemen perusahaan

harus aktif dalam mengelola penagihan piutang, agar piutang yang telah jatuh tempo

tidak sampai menghambat operasi atau kegiatan perusahaan.

Manjemen piutang usaha merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan

yang menjual produknya secara kredit. Manajemen piutang usaha terutama menyangkut

masalah pengendalian jumlah piutang usaha, pengendalian pembelian, pengumpulan

piutang usaha dan evaluasi terhadap politik kredit yang dijalankan perusahaan.

Piutang pada pihak lain dapat ditagih pada saat piutang usaha tersebut telah jatuh

tempo yang jangka waktunya kurang dari satu tahun sehingga piutang usaha tersebut

termasuk kedalam golongan aktiva lancar.

Semakin lama jangka waktu pelunasan piutang usaha semakin besar

kemungkinan resiko tidak dibayar atau piutang tak tertagih, bahwa ada kemungkinan

piutang usaha itu dihapuskan karena hal-hal yang khusus seperti debitur yang bangkrut,

meninggal dunia, melarikan diri, dan sebab lainnya. Hal ini akan mengakibatkan

kerugian bagi perusahaan walaupun ada kemungkinan piutang usaha yang telah

dihapuskan tersebut tanpa diduga-duga dapat diterima pelunasannya.


Menurut Mardiasmo mengatakan bahwa “Piutang adalah Hak untuk menerima

pembayaran dari pihak yang berkewajiban membayar”8. Definisi ini menekankan kepada

kewajiban perusahaan lain untuk membayar hutangnya pada perusahaan yang

memberikan piutang, kewajiban ini disebabkan perusahaan melakukan suatu transaksi

perdagangan barang atau jasa secara kredit sehingga timbul kewajiban membayar hutang

dari perusahaan yang membeli secara kredit.

Terdapatnya jumlah piutang yang besar dalam perusahaan menunjukan bahwa

penjualan kredit atas barang atau jasa yang telah dilakukan juga dalam jumlah besar,

dimaksudkan untuk meningkatkan volume penjualan dan memperbesar laba perusahaan.

Namun jumlah piutang belum menjamin bahwa perusahaan tersebut akan memperoleh

laba yang besar karena bisa saja terjadi bahwa piutang yang jumlahnya besar tidak

semuanya dapat tertagih sehingga perusahaan harus menanggung resikonya.

J. Fred Weston mengemukakan, “Suatu kebijaksanaan kredit perusahaan yang

mencakup empat variabel, yang dapat dikendalikan dan dapat berpengaruh terhadap

piutang yaitu standar kredit, jangka waktu kredit, potongan tunai (cash discount) dan

kebijakan penagihan (collateral policy)”.9

Dengan uraian sebagai berikut :


8
Mardiasmo (1990), Akuntansi Keuangan Dasar, Jilid Dua, BPFE, Yogyakarta, hal 29.
9
J. Fred Weston (1997), Dasar-dasar Manajemen Keuangan, diterjemahkan oleh Alfonsus Sirait, Jilid
Satu, Jakarta, Erlangga, hal 341.
1. Standar Kredit

Yaitu tingkat resiko maksimum yang masih dapat diterima perusahaan sehubungan

dengan kondisi dan kemampuan para langganan kredit. Perusahaan memberikan

penjualan kredit hanya terbatas pada langganan terpilih untuk mnghindari kerugian

yang mungkin diderita debitur karena debitur tidak sanggup melunasi hutangnya.

Penilaian resiko kredit didasarkan apa yang dikenal dengan 5C kredit yaitu sebagai

berikut :

1) Character (karakter pribadi)

Mengacu pada profitabilitas bahwa pelanggan akan menghormati kewajibannya.

Banyak manajer kredit bersikeras bahwa karakter merupakan unsur yang paling

penting dari 5C, karakter mencerminkan kejujuran pelanggan dan tanggung

jawab moral yang dimiliki pelanggan untuk menghormati utang. Para manajer

kredit sering kali mencari informasi mengenai karakter pelanggan dengan

menyelidiki suatu komunitas bisnis. Penyelidikan semacam itu biasa dilakukan

melalui bankir-bankir local, pengacara kreditur lokal dan bahkan para pesaing.

2) Capacity (kemampuan)

Mengacu kepada kemampuan para pelanggan untuk membayar. Manajer kredit

menilai faktor ini dengan mengkaji ulang catatan pembayaran dimasa lalu,

pengetahuan umum mengenai bisnis pelanggan dan dengan observasi fisik atau

operasi pelanggan.

3) Capital (modal)
Mengacu kepada kondisi umum bisnis pelanggan seperti yang diperlihatkan oleh

laporan keuangan. Manajer kredit biasanya memberikan perhatian khusus pada

ukuran solvensi dan likuiditas serta rasio modal kerja dan rasio lancar.

4) Collateral (jaminan)

Mengacu kepada aktiva-aktiva yang ingin diberikan pelanggan sebagai jaminan

untuk kredit. Institusi atau lembaga keuangan bisanya meminta kolateral atas

kredit berjumlah besar, kolateral bisa berbentuk aktiva apapun, seperti tanah,

bangunan atau persediaan.

5) Condition (kondisi)

Mengacu kepada trend-trend ekonomi nasional dan regional yang biasa

mempengaruhi kemampuan pelanggan untuk membayar, sebagai contoh, selama

periode resesi ekonomi manajer kredit biasanya memperketat standar-standar

kredit sebagai antisipasi terhadap menurunnya kemampuan para pelanggan untuk

membayar.

2. Potongan tunai (cash discount)

Pemberian potongan tunai dalam potongan penjualan dilakukan apabila pembayaran

(pelunasan) dilakukan dengan cepat sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati

setelah barang diterima lalu diberikan potongan tunai, disamping itu jangka waktu

kredit menjadi lebih pendek disebabkan para pelanggan ingin memanfaatkan

potongan yang diberikan.

3. Kebijakan penagihan (collateral policy)


Yaitu prosedur yang ditempuh perusahaan untuk mendapatkan pelunasan dari

rekening-rekening yang telah jatuh tempo. Penetapan ini diperlukan untuk

menghindari makin panjangnya waktu penagihan serta memperkecil kerugian yang

langsung diakibatkan tidak tertagihnya piutang atau piutang tak tertagih.

2.2.5 Hakikat perputaran piutang usaha

Piutang usaha yang dimiliki oleh suatu perusahaan mempunyai hubungan yang

erat dengan penjualan kredit, karena timbulnya piutang disebabkan oleh penjualan

barang atau jasa secara kredit dan hasil penjualan kredit netto jika dibagi dengan piutang

rata-rata merupakan perputaran piutang.

Salah satu cara yang baik untuk menilai apakah jumlah piutang usaha itu masih

dalam batas kelayakan adalah dengan cara membandingkan rata-rata jangka waktu

penagihan dengan pesaing dalam jenis industri yang sama atau dengan norma industri.

Untuk mengetahui berapa kali rata-rata penagihan piutang dapat dilihat dari perputaran

piutang (receivable turn over).

Menurut S Hadibroto menyatakan bahwa “Perputaran piutang adalah hubungan

antara penjualan kredit dengan saldo piutang rata-rata. Piutang rata-rata adalah saldo

piutang tiap akhir bulan ditambah dengan sisanya dibagi menjadi dua”.10

Menurut Bambang Riyanto, “Tingkat perputaran piutang dapat diketahui dengan

membagi jumlah penjualan kredit selama periode tertentu dengan jumlah rata-rata

piutang (average receivable)”.11


10
S. Hadibroto (1991), Dasar-dasar Pembelanjaan Prusahaan, Jilid Satu, LP3ES, Jakarta, hal 212.
11
Bambang Riyanto (1993), Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Jilid Satu, Yayasan Badan Penerbit
Gajah Mada, Yogyakarta, hal 78-79.
Dari definisi diatas jelas bahwa perputaran piutang itu ditunjukan oleh suatu

angka dimana angka tersebut merupakan indikator berapa kali piutang itu dapat ditagih

selama periode akuntansi. Hal ini dapat menunjukan tingkat resiko dalam piutang.

Semakin tinggi tingkat perputaran piutang, semakin cepat piutang akan dapat tertagih

dan sebaliknya jika semakin rendah tingkat perputaran piutang, semakin lama piutang

akan tertahan dan semakin kecil kemungkinan piutang tersebut dapat tertagih.

Menurut Wasif “Perputaran piutang dapat diperoleh dengan cara membagi

penjualan kredit satu tahun dengan saldo piutang rata-rata atau piutang saja. Jika tidak

diperoleh data penjualan kredit maka dapat menggunakan data penjualan bersih”.12

Menurut Rollin Niswonger dan Philip E Fees “Perputaran piutang adalah

hubungan antara penjualan kredit dan piutang dagang”.13

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa perputaran piutang itu ditentukan

oleh faktor-faktor utama yaitu penjualan kredit dan rata-rata piutang. Rata-rata piutang

dapat diperoleh dengan cara menjumlahkan antara piutang awal periode dan piutang

akhir periode dibagi dua. Ada kalanya angka penjualan kredit untuk satu periode tidak

diperoleh, maka yang digunakan sebagai penjualan kredit adalah angka total penjualan.

Dari penjelasan diatas dapat dirumuskan sebagai berikut :

Piutang awal usaha + Piutang akhir usaha


Rata-rata piutang usaha =
2

12
Wasif (1991), Manajemen Keuangan Perusahaan, Jilid Dua, Satya Wacana, Semarang, hal 45.
13
Rollin Niswonger & Philip E. Fees (1992), Dasar-dasar Akuntansi, diterjemahkan Tj Soemarso,
Rineka Cipta, Jakarta, hal 163.
Penjualan (netto)
Perputaran Piutang usaha =
Rata-rata piutang

Contoh : Penjualan (netto) per tahun adalah sebesar Rp 100.000.000,- piutang awal

usaha sebesar Rp 30.000.000,- piutang pada akhir tahun Rp 20.000.000,-.

Jawab :
Rp 30.000.000,- + Rp 20.000.000,-
Rata-rata piutang usaha =
2
= Rp 25.000.000,-

Rp 100.000.000,-
Perputaran Piutang usaha =
Rp 25.000.000,-

= 4 kali

Jadi, perputaran piutang mengindikasikan 4 kali piutang di tagih selama periode

akuntansi.

Tingkat perputaran piutang usaha suatu perusahaan dapat menggambarkan

tingkat efisiensi modal perusahaan karena makin cepat perputaran piutang berarti makin

cepat modal kembali berarti modal yang ditanamkan dalam piutang akan kecil sehingga

dapat menghindari terjadinya over investment.


Sebaliknya jika perputaran piutangnya rendah berarti modal yang ditanamkan

dalam piutang akan besar atau terjadi over investment dalam piutang. Dalam hal ini

perlu dibatasi dan dianalisis lebih lanjut.

Selain perputaran piutang yang digunakan sebagai indikator terhadap efisiensi

ada atau tidaknya piutang, ada indikator lain yang cukup penting yaitu jangka waktu

rata-rata pengumpulan piutang (averable collection period).

Menurut S. Munawir “Jangka waktu pengumpulan piutang adalah jangka yang

menunjukan waktu rata-rata yang diperlukan untuk menagih piutang”.14

Periode pengumpulan piutang dihitung dengan membagi jumlah hari dalam satu

tahun dengan tingkat perputaran piutang atau ratio antara piutang rata-rata dikalikan

dengan jumlah hari dalam setahun dibagi dengan penjualan kredit bersih atau dituliskan

dengan rumus sebagai berikut :

360
Periode rata-rata pengumpulan piutang =
Perputaran piutang

Atau,

Piutang rata-rata x 360


Periode rata-rata pengumpulan piutang =
Penjualan kredit

14
Munawir, Op Cit, hal 76.
Menurut Agus Sartono “Periode pengumpulan piutang yaitu rata-rata hari yang

diperlukan untuk merubah piutang menjadi kas. Biasanya ditentukan dengan membagi

piutang dengan rata-rata penjualan harian. Ada yang menggunakan piutang rata-rata

yang dibagi penjualan kredit, hal ini dilakukan apabila piutang awal telah sangat berbeda

dengan piutang akhir tahun”.15

Piutang x 360
Periode pengumpulan piutang =
Penjualan kredit

Penjualan kredit
Perputaran piutang =
Rata-rata piutang

Periode pengumpulan piutang dapat memberikan tolak ukur mengenai lamanya

waktu piutang dagang yang beredar. Apabila rata-rata jangka waktu penagihan piutang

terlalu lama mungkin hal ini disebabkan pengendalian piutang yang kurang terkontrol

terhadap para debitur, salah satu cara untuk memeriksa keadaan ini adalah dengan

menyusun umur piutang.

2.3. Pengaruh Potongan Penjualan Terhadap Perputaran Piutang Usaha

Dengan memberikan potongan penjualan, perusahaan mengharapkan pembeli

semakin cepat melunasi hutangnya sehingga perputaran piutang akan semakin cepat,

15
Agus Sartono (1996), Manajemen Keuangan, Jilid Satu, BPFE, Yogyakarta, hal 125.
dengan demikian perusahaan akan mendapatkan kembali dengan cepat uang tunai yang

ditanamkan dalam piutang tersebut.

Dalam memberikan potongan penjulan, perusahaan juga harus lebih selektif

dalam memberikan piutang kepada konsumen (debitur) agar perusahaan dapat terhindar

dari kemungkinan masalah kredit yang tidak tertagih atau piutang tak tertagih (bad

debt).

----------------

Contoh Skripsi Tesis Disertasi Dotcom…

Contoh Skripsi Tesis Disertasi Dotcom spesialis menyediakan kumpulan, koleksi, daftar
contoh ribuan skripsi, tesis dan disertasi yang sudah jadi dari berbagai disiplin ilmu
pengetahuan berikut kebutuhan terkait pembuatan tugas akhir kesarjanaan mahasiwa
program S1, S2, dan S3.

Anda bisa mendowload tanpa batas koleksi ribuan contoh skripsi, tesis dan disertasi
yang sudah jadi. Kumpulan skripsi, tesis, dan disertasi ini merupakan contoh-contoh
penelitian tingkat sarjana dan pasca sarjana dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan
sosial dan pasti alam.

Skripsi
Administrasi Bisnis Niaga
Administrasi Negara
Administrasi Publik
Akuntansi
Arsitektur
Astronomi
Bahasa Inggris
Biologi
Bisnis dan Manajemen
Ekonomi
Ekonomi Manajemen
Ekonomi Pembangunan
Farmasi
Filsafat
Fisika
Fisika Teknik
Geofisika
Hukum Acara
Hukum Perdata
Hukum Pidana
Hukum Tata Negara
Ilmu Hukum
Ilmu Keperawatan
Ilmu Komputer
Ilmu Komunikasi
Ilmu Pemerintahan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kehidupan
Kedokteran
Kedokteran Hewan
Kesehatan Masyarakat
Kimia
Manajemen
Manajemen dan Keuangan
Matematika
Meteorologi
Oseanografi
Pendidikan Bahasa Indonesia
Pendidikan Bahasa Inggris
Pendidikan Biologi
Pendidikan Ekonomi
Pendidikan Fisika
Pendidikan Geografi
Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Matematika
Pendidikan Teknik Elektro
Pengembangan SDM
Penjaskes
Perencanaan Kota dan Wilayah
Perhotelan
Psikologi
Seni dan Desain
Sistem Informasi
Sistem Informasi Akuntansi
Sistem Komputer
Sosiologi
Syariah
Tarbiyah
Teknik Bahan
Teknik Dirgantara
Teknik Elektro
Teknik Geodesi dan Geomatika
Teknik Geofisika
Teknik Geologi
Teknik Industri
Teknik Informatika
Teknik Kelautan
Teknik Komputer
Teknik Lingkungan
Teknik Mesin
Teknik Metalurgi
Teknik Perminyakan
Teknik Pertambangan
Teknik Sipil
Teknik Telekomunikasi
Teknologi Pertanian
Teologi
Tesis
Administrasi Bisnis
Arsitektur
Astronomi
Biologi
Desain
Farmasi
Fisika
Fisika Teknik
Geofisika Terapan
Ilmu Pengetahuan Aktuaria
Ilmu Pengetahuan dan Teknik Bahan
Ilmu Pengetahuan Tanah
Instrumentasi dan Kontrol
Kimia
Matematika
MBA Teknologi
Oseanografi dan Ilmu Pengetahuan Atmosfir
Perencanaan Kota dan Wilayah
Seni
Sistem dan Teknik Jalan Raya
Studi Pembangunan
Tata Kota dan Wilayah
Teknik dan Manajemen Industri
Teknik Dirgantara
Teknik Elektro
Teknik Geodesi dan Geomatika
Teknik Geologi
Teknik Informatika
Teknik Kimia
Teknik Lingkungan
Teknik Mesin
Teknik Nuklir
Teknik Perkeretaapian
Teknik Perminyakan
Teknik Pertambangan
Teknik Sipil
Transportasi
Disertasi
Ilmu Pengetahuan Teknik
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Sejarah Teori dan Kritik Seni

Jasa Pembuatan Skripsi Tesis


Kami juga menyediakan jasa pembuatan skripsi/tesis dengan rincian sebagai berikut:

I. Biaya Skripsi Rp. 2.800.000:

1. Proposal Rp. 300.000


2. Bab 1 Rp. 500.000
3. Bab 2 Rp. 500.000
4. Bab 3 Rp. 500.000
5. Bab 4 Rp. 500.000
6. Bab 5 Rp. 500.000

II. Biaya Tesis Rp. 3.300.000:

1. Proposal Rp. 300.000


2. Bab 1 Rp. 600.000
3. Bab 2 Rp. 600.000
4. Bab 3 Rp. 600.000
5. Bab 4 Rp. 600.000
6. Bab 5 Rp. 600.000

Syarat dan Ketentuan Pekerjaan:

1. Pekerjaan bisa dipilih per bab. Ini berarti pekerjaan hanya dilakukan untuk bab yang
anda minta. Misalnya, bila anda meminta bantuan bab 2, maka kami mengerjakan hanya
bab 2; atau bila anda meminta bantuan bab 5, maka kami mengerjakan hanya bab 5;
begitu seterusnya.

2. Pekerjaan tidak mesti semua bab. Ini berarti anda bisa meminta bantuan hanya bab
yang anda pilih. Misalnya, anda bisa meminta bantuan bab1 saja tanpa perlu melibatkan
bab 2, 3, 4, dan 5; anda bisa meminta bantuan bab 4 saja tanpa perlu melibatkan bab 1,
2, 3, dan 5; atau anda bisa meminta bantuan gabungan bab-bab tertentu saja tanpa perlu
melibatkan gabungan bab-bab lainnya; begitu seterusnya.

3. Pekerjaan bab-bab dalam skripsi/tesis harus sambung-menyambung. Ini berarti bab


yang anda minta harus menyatu dengan bab-bab lain yang sudah anda miliki. Misalnya,
bila anda meminta bantuan bab 2, maka anda harus memiliki bab sebelumnya (bab 1);
atau bila anda meminta bantuan bab 5, maka anda harus memiliki bab 1, 2, 3, dan 4;
begitu seterusnya.

4. Pembayaran dilakukan per bab dan ditransfer penuh sebelum pekerjaan dimulai.
Pembayaran dikirim lewat transfer bank; sementara bahan maupun hasil kerja dikirim
lewat email.

5. Pekerjaan dilaksanakan sampai tuntas. Tuntas berarti selesai dalam arti yang sebenar-
benarnya. Bilamana perlu, segala upaya perbaikan, perombakan, penambahan atau
pengurangan terhadap bab yang sudah dikerjakan akan diupayakan semaksimalkan
mungkin.

6. Tidak ada tambahan biaya untuk perbaikan, perombakan, penambahan, atau


pengurangan terhadap bab yang sudah dikerjakan.

7. Untuk kemudahan komunikasi kedua belah pihak, keanggotaan Paid Member dalam
situs ini akan diberikan secara otomatis kepada pemberi pekerjaan tanpa penambahan
biaya. Misalnya, bila anda meminta bantuan pembuatan proposal, pembuatan bab 5, atau
pembuatan bab-bab lainnya, maka dengan sendirinya status anda adalah Paid Member
dalam situs ini dan berhak atas segala fasilitas yang disediakan.

8. SKRIPSI/TESIS INI DIJAMIN ORISINIL ALIAS TIDAK PLAGIAT. SEPERTI


HALNYA ANDA, KAMI JUGA ANTI PLAGIARISME.

Olahdata Statistik
Situs Skripsi Tesis Disertasi Dotcom meyediakan layanan olahdata statistik:

* regresi linier (sederhana dan berganda)


* korelasi
* analysis of variance (anova)
* uji t
* uji F
* linieritas
* uji normalitas
* uji asumsi klasik (heteroskedastisitas, normalitas, multikolinearitas, autokorelasi),
* Kolmogorov Smirnov
* validitas dan reliabilitas
* one way
* dll

Program olahdata yang digunakan:


* SPSS
* Eviews
* Lisrel
* AMOS
* dll

Biaya:

* Rp. 500.000 (olahdata skripsi)


* Rp. 600.000 (olahdata tesis)

Untuk detilnya hubungi kami:

www.skripsitesisdisertasi.com

Email: raihanctym@hotmail.com
Jln. Waru 39 Rt. 007/07 Rawamangun Jakarta - Indonesia
Telp. 021 - 4705484
Hp. 08151151192 (Toto)
Hp.02195010199 (Roni)
Hp. 08164821885 (Ajir)

Anda mungkin juga menyukai