Anda di halaman 1dari 9

STRATEGI KEBIJAKAN AS DI KAWASAN ASIA TIMUR TERKAIT PEMBANGUNAN PERSENJATAAN NUKLIR DI KOREA UTARA (PERIODE 2003-2007) PROPOSAL BAB I

OLEH: ANDHIKA WAHYU PUTRA 1042500932

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA 2012
1

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

Pasca Perang Dingin, melihat runtuhnya Uni Soviet sebagai sekutu dekat Korut tidak serta merta menghentikan perkembangan senjata nuklir di kawasan Semenanjung Korea, hal tersebut bukan lagi sebagai ancaman bagi stabilitas kawasan Asia Timur, sebaliknya AS menganggap perkembangan senjata nuklir Korut semakin mengancam keamanan di kawasan Asia Timur khususnya di Semenanjung Korea. Bagi AS apabila Korut mampu membangun persenjataan nuklirnya maka akan menibulkan perlombaan senjata di kawasan yang juga berdampak pada stabilitas keamanan.1 Dalam strategi keamanan kawasan (regional security startegy) AS, program nuklir Korut dianggap sebagai ancaman serius bagi penataan keamanan yang menjadi kebijakan AS pasca perang dingin di kawasan Semenanjung Korea dan Asia Timur secara lebih luas. Hal tersebut menyebabkan AS sangat khawatir terhadap perkembangan nuklir Korut tersebut dan berusaha untuk menghentikannya. Disamping itu juga hal tersebut didasari oleh alasan kepentingan strategi AS di kawasan tersebut. Pertama, masalah kepentingan keamanan (security interest) terutama dengan Jepang dan Korea Selatan sebagai sekutu di kawasan yang harus dilindungi. Kedua, AS memiliki kepentingan ekonomi (economic interest) yang begitu besar didalam kawasan Asia Timur terutama dengan Jepang dan Cina, terhitung bahwa 30 persen perdagangan AS ada di Asia Pasifik dan terbesar berada di kawasan Asia Timur lebih besar daripada perdagangan dengan Uni Eropa.2 Proses penyelesaian masalah program nuklir tersebut tercapai pada masa pemerintahan Bill Clinton. Dimana AS sangat menekankan pendekatan diplomasi terhadap Korut. Pada bulan Oktober 1994 AS sepakat untuk melakukan perundingan bilateral dengan
1 2

Daniel A. Pinkston, DPRK Motivations For Developing Nuclear Weapons, vol 4, hal 39. Christoper Brown, East Asia in Transition: US Interest in East Asia, Southern center For International Studies, 2007, hal 2-3.

Korut yang kemudian dituangkan dalam sebuah kerangka persetujuan (Agreed Framework) yang bertujuan menghindarkan krisis keamanan militer (Military Security Crisis) dengan meminta Korut membekukan reaktor Grapit (Graphite-moderate reactors) dan fasilitas nuklirnya. Dan sebagai imbalannya AS berkomitmen untuk memberikan bantuan 100 Megawatt (Light Water Reactor) dan memberikan suplai minyak 500.000 ton pertahun untuk kebutuhan industri.3 Menurut laporan intelejen AS, bahwa memasuki tahun 2000-an Korut sudah memiliki kemampuan untuk membuat sepuluh senjata nuklir yang memberikan ancaman langsung terhadap pasukan AS di Korea Selatan yang merupakan sekutu kawasan yang paling penting, serta kepentingan vital AS di Asia Timur. Kemudian yang lebih ditakutkan AS bahwa dengan kondisi ekonomi yang buruk, Korut mungkin akan menjual bahan-bahan untuk membuat senjata nuklir ataupun senjata nuklir itu sendiri kepada negara lain ataupun kepada kelompok Non Negara. Hal ini tidak hanya mengancam stabilitas secara regional tetapi juga secara global.4 Pasca serangan 11 September 2001 AS memasukkan Korut kedalam negara-negara yang dianggap sebagai musuh AS. Hal tersebut sangat mempengaruhi dalam proses penyelesaian masalah nuklir tersebut. Dalam strategi Keamanan Nasional AS yang dikeluarkan tahun 2002 telah disebutkan bahwa jika sebuah negara atau kelompok teroris mengembangkan senjata pemusnah masal dan hal itu dinilai mengancam kepentingan AS, tanpa menunggu jatuhnya korban, AS akan mengambil kebijakan Pre Emptive War. Disamping itu juga AS menyatakan bahwa senjata pemusnah masal dalam hal ini senjata nuklir, jika dimiliki oleh negara pembangkang (rogue states) ataupun kelompok-kelompok teroris dianggap sebagai ancaman serius bagi stabilitas kawasan tetapi juga merupakan tantangan sistemik bagi tatanan dunia yang aman. AS tentu sangat khawatir karena sikap Korut yang keras dan tertutup terkait isu nuklir tersebut.

B. Rumusan Masalah
3

Pierre Goldschmidt, The Urgent Need to Strenght the Nuclear Non-Proliferation Regime, dalam Policy outlook: Carnegie Endowment For International Peace, januari 2006, hal 3
4

Geeorge Perkovich, Jessica T. Mathews, Joseph Cirincione, Rose Gottemoeller, Jon B.Wolfsthal, Universal Compliance: A Strategy for Nuclear Security, (Washington, DC: Carnegie Endowment for International Peace), hal 186.

Menurut beberapa kalangan bahwa sikap AS tersebut membuka jalan terpilihnya opsi perang sebagai instrumen utama kebijakan keamanan AS terhadap Korut seperti yang dilakukan di Irak dan Afghanistan. Kemudian usaha diplomasi dengan Korut yang selama ini dilakukan, tidak lagi menjadi orientasi kebijakan AS terkait permasalahan nuklir ini. Namun pendekatan perang terhadap Korut memiliki resiko yang sangat besar terhadap kondisi keamanan kawasan Asia Timur. Dalam paradigma yang demikian AS dihadapkan pada pilihan sulit dalam kebijakan keamanannya yaitu antara membiarkan Korea Utara mengembangkan teknologi senjata nuklirnya, atau dengan menggunakan kebijakan keamanan melalui penggunaan kekuatan militer.

Melihat latar belakang dari penelitian ini, permasalahan yang diangkat adalah bagimana strategi kebijakan yang diimplementasikan AS di Semenanjung Korea sepanjang periode 2003 2007 terkait pengembangan program senjata nuklir Korut ?

C. Tujuan Penelitian

Penulis mengangkat kasus tentang pembangunan nuklir di Korut ini bertujuan untuk memperoleh penjelasan yang lengkap mengenai strategi kebijakan keamanan AS sebagai negara adidaya dalam menyelesaikan masalah keamanan di Semenanjung Korea yang diakibatkan oleh pembangunan program persenjataan nuklir yang dilakukan Korut.

D. Kerangka Teori

Teori Kebijakan Luar Negeri dan Konsep Keamanan Nasional

Kebijakan luar negeri merupakan strategi atau rencana tindakan yang dibuat oleh para pembuat keputusan negara dalam menghadapi negara lain atau unit international lain, dan diarahkan untuk mencapai tujuan nasional. Kebijakan luar negeri yang dijalankan oleh pemerintah suatu negara memang bertujuan untuk mencapai kepentingan nasional mayarakat yang diperintahnya meskipun kepentingan nasional suatu bangsa pada waktu itu ditentukan oleh siapa yang berkuasa pada waktu itu.5 Menurut Rosenau, kebijakan luar negeri ditujukan untuk memelihara dan mempertahankan kelangsungan hidup suatu negara.6 Dari pemikiran tersebut dapat dilihat bahwa kebijakan AS terhadap Semenanjung Korea dibuat untuk meraih tujuan-tujuan nasional AS di kawasan tersebut. Pemikir realis menempatkan keamanan sebagai derivasi dari power atau sebagai turunan dari power. Kondisi keamanan dapat diperoleh suatu negara jika sebuah negara tersebut berupaya untuk menggunakan segenap power yang dimiliki untuk mencapai posisi dominan dalam hubungannya dengan aktor lain dan sekaligus dapat mengatasi sumbersumber instabilitas yang dapat menggangu keamanan nasionalnya. Pemikir yang memandang keamanan sebagai turunan dari power ialah Barry Buzan yang membagi konsep keamanan yang memiliki kaitan dengan sistem international. 7 Jika ia berdiri sendiri maka keamanan didefinisikan sebagai kebebasan dari ancaman. Namun jika terkait dengan sistem international maka konsep keamanan berhubungan dengan mempertahankan identitas kemandirian dan integritas fungsional mereka. Konsekuensinya adalah konsep keamanan bersifat relasional dalam artian bersifat dinamis mengikuti pola interaksi antar negara dalam sistem international.8 Berdasarkan uraian diatas maka upaya yang dilakukan suatu negara untuk menggunakan kemampuan yang dimilikinya dalam rangka penciptaan keamanan nasional
5

Mochtar Masoed, Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi, (Jakarta, LP3ES, 1994), hal 184. 6 James N. Rosenau, Gavin Boyd, Kenneth W. Thompson.1976. World Politics: An Introduction, New York: The Free Press, hal 27. 7 Barry Buzan, People, States and Fear, Second Edition, ( London: Harvester wheatsheaf), 1991, hal 18-19. 8 Mohammed Ayoob, The Security Problematic Of The Third World, World Politics, no.43, Januari 1991, hal 257.

terwujud dalam kebijakan keamanan nasional negara tersebut. Kebijakan keamanan nasional berisi tentang : 1. Kepentingan Nasional

2. Sumber-sumber ancaman dari negara lain yang dapat mengganggu usaha


pencapaian kepentingan nasional tersebut. AS memiliki kepentingan besar didalam Kawasan Asia Timur. Kepentingan nasional tersebut meliputi kepentingan ekonomi dan keamanan. Disamping itu dengan semakin berkembangnya kekuatan nuklir Korut, AS juga sangat fokus terhadap keamanan nasionalnya, terutama dari kepemilikan misil jarak jauh Korut. Sementara itu paradigma serangan terorisme pada 11 September membuat AS sangat concern dengan masalah penyebaran nuklir yang akan membawa dampak yang sangat berbahaya bagi AS sendiri. AS melihat bahwa sumber ancaman dari negara lain dapat mengganggu kepentingan nasional serta keamanan nasionalnya datang dari Korut. Perkembangan nuklir Korut yang mengalami peningkatan secara signifikan merupakan tantangan keamanan yang sangat serius bagi AS dan negara aliansi di kawasan Asia Timur. AS menganggap pengembangan senjata nuklir untuk tujuan politik dan militer oleh Korut sangat mungkin mengancam kepentingan nasional AS. Oleh karena itu AS mengedepankan beberapa pendekatan untuk menyelesaikan isu tersebut, yaitu engagement (meningkatkan kerjasama dan hubungan bilateral, dengan Cina, Rusia, Jepang dan Korsel untuk berperan dalam persoalan keamanan di kawasan tersebut), dan perundingan multilateral.9

Regional Security Complex

Barry Buzan dalam teorinya mengatakan bahwa kawasan merupakan sebuah sub sistem dalam hubungan keamanan yang signifikan dan terpisah, yang berada antara kelompok negara yang terikat dalam kedekatan geografis satu dengan yang lainnya. Relasi antar negara di dalam suatu kawasan dapat dilihat melalui dua hal, yaitu Amity dan

Wu Xinbao, US Security Policy In East Asia, (Shanghai: Asia Fondation, 2003), hal 12-14.

Enmity.10 Amity (persahabatan) merupakan hubungan yang mengatur dari pertemanan


antar negara menjadi sebuah hubungan yang lebih baik dan dekat serta diharapkan menuju pada perlindungan dan dukungan dalam hal keamanan. Sedangkan enmity adalah hubungan yang dibentuk negara-negara di dalam kawasan yang dilatarbelakangi oleh rasa saling curiga dan ketakutan.11 Barry Buzan mendefinisikan regional security complex sebagai sebuah kelompok negara dalam satu kawasan dimana fokus utama dalam konteks keamanannya berhubungan erat antar satu negara dengan negara yang lainnya.12 Dalam hal ini pengaruh AS sangat memainkan peranan penting dalam menciptakan kondisi keamanan di kawasan Semenanjung Korea. Intervensi AS tersebut diimplementasikan dalam keterlibatan AS untuk menekan Korut.

E. Metode Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan penulis adalah penelitian deskriptif analistik. Artinya penelitian ini berusaha menjelaskan dan menganalisa mengenai kebijakan keamanan AS dengan melihat paradigma perkembangan program senjata nuklir Korut. Sumber data yang digunakan dalam penulisan ini adalah data sekunder yang berasal dari buku, jurnal, internet, serta media massa yang juga membahas mengenai kebijakan keamanan AS dalam menyelesaikan isu tersebut. Batasan utama yang ditemui selama penelitian adalah kesulitan untuk melaksanakan observasi langsung di kawasan tersebut. Keterbatasan yang kedua adalah jumlah dokumen statistik yang merujuk secara khusus kepada keadaan di kawasan Asia Timur, baik itu dokumen yang diterbitkan oleh dewan keamanan PBB maupun oleh badan independen seperti organisasi non pemerintah. Dalam pengolahan data penulis juga merujuk pada konsep keamanan nasional, teori kebijakan luar negeri, dan konsep regional

security complex.

10

Barry Buzan, People, States and Fear, Second Edition, ( London: Harvester wheatsheaf), 1991, hal 188-189. 11 Ibid hal 190. 12 Buzan dan Ole Weaver, Regions and Power: The Structure of International Security, (United Kingdom: Cambridge University Press), 2003. Hal 45.

F. Sistematika Penulisan Dalam upaya memberikan pemahaman mengenai isi dari penelitian secara menyeluruh, maka penelitian ini dibagi menjadi 5 bab. Bab-bab tersebut antara lain: BAB I Merupakan bab pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan permasalahan, tujuan penelitian, kerangka pemikiran, metode penelitian dan sistematika penulisan. BAB II Bab ini akan menjelaskan kompleksitas keamanan di Semenanjung Korea serta membahas mengenai pengembangan nuklir korut serta ancaman yang dimiliki. BAB III Bab ini akan menjelaskan tentang intervensi AS dalam proses transformasi keamanan yang membahas kebijakan dalam Agreed Framework. Serta perspektif ancaman AS terhadap pengembangan nuklir Korut dan garis kebijakan keamanannya. BAB IV Bab ini akan menjelaskan mengenai implementasi kebijakan AS berdasarkan garis kebijakan keamanan kawasan (Regional

Strategy) dan
tahun 2002

pasca yang

dikeluarkannya

National

Security

Strategy

diimplementasikan selama periode 2003-2007. BAB V Bab ini berisi kesimpulan yang dibuat oleh penulis berdasarkan permasalahan penelitian yang dibuat.

DAFTAR PUSTAKA

Ayoob, Mohammed. The Security Problematic Of The Third World.World Politics.no.43, Januari 1991. Brown , Christoper.East Asia in Transition: US Interest in East Asia, Southern center For International Studies, 2007. Buzan, Barry, People.States and Fear.Second Edition.( London: Harvester wheatsheaf), 1991. Buzan dan Ole Weaver.Regions and Power: The Structure of International Security.(United Kingdom: Cambridge University Press), 2003. Goldschmidt, Pierre.The Urgent Need to Strenght the Nuclear Non-Proliferation

Regime.dalam Policy outlook: Carnegie Endowment For International Peace.Januari 2006.


Masoed , Mochtar, Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi.(Jakarta, LP3ES, 1994). Perkovich , Geeorge, Jessica T. Mathews, Joseph Cirincione, Rose Gottemoeller, Jon B.Wolfsthal. Universal Compliance: A Strategy for Nuclear Security.(Washington, DC: Carnegie Endowment for International Peace). Pinkston,A Daniel.DPRK Motivations For Developing Nuclear Weapons, vol 4.

. Rosenau, N James, Gavin Boyd, Kenneth W. Thompson.1976. World Politics: An

Introduction, New York: The Free Press.

Xinbao , Wu.US Security Policy In East Asia.(Shanghai: Asia Fondation, 2003).