Anda di halaman 1dari 2

F. Pembahasan Tujuan praktikum kali ini bertujuan mampu melakukan identifikasi simplisia secara makroskopik dan mikroskopik.

Diperlukannya suatu identifikasi simplisia berkaitan dengan penegasan dan penetapan keaslian, mutu dan keamanan suatu sediaan obat tradisional, misalnya jamu. Identifikasi suatu simplisia baik secara makroskopik dan mikroskopik dilakukan secara organoleptis yang meliputi warna, bau dan rasa. Tetapi pada mikroskopik hingga melihat struktur dari serbuk uji dengan bantuan mikroskop. Pemeriksaan bahan nabati dengan uji makroskopik dapat dilakukan dalam bentuk irisan melintang maupun serbuk simplisianya. Pemeriksaan bahan nabati tersebut dilakukan terhadap simplisia dan serbuk simplisia folium (daun), cortex (kulit batang), akar (radix), rimpang (rhizoma), dan flos (bunga). Pertama, dilakukan pengamatan pada Amylum Solani , Amylum Manihot dan Amylum Tritici. Jika diuji dengan makroskopik, ketiga zat tidak berbeda, merupakan serbuk putih sehingga perlu diidentifikasi secara mikroskopik agar dapat mengetahui struktur ketiga amilum tersebut. Seperti yang tertera pada data pengamatan, terdapat perbedaan pada Amylum Solani dan Amylum Manihot setelah diamati secara mikroskopik. Perbedaannya terdapat pada hilus dan lamelanya. Amylum Solani memiliki hilus ekstrentis dan lamelanya jelas. Sedangkan pada Amylum Manihot tampak sklerenkim yang menyerupai usus namun kurang jelas letak hilusnya. Bentuk Amylum Solani cenderung elips sedangkan Amylum Manihot berbentuk bulat. Amylum dapat dites dengan reaksi warna dengan pereaksi Iodium, hasil positif yaitu warna ungu. Amilum merupakan ergastic padat hasil akhir metabolism dalam tubuh dan biasanya endapan zat cair makanan cadangan dan dibentuk di plastida pada umumnya. Pada reaksi warna dengan Iodium, reaksi yang terjadi :

+ I2 amylum iodium Pada pengamatan mikroskopis Amylum tritici dimana mempunyai bentuk cenderung bulat hilus merupakan titik dan terdapat lamela. Pengamatan simplisia nabati dapat beupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman. Percobaan simplisia pada cortex, melibatkan penetasan aquadest agar mempermudah peengamatannya secara mikroskopoik karena fungsinya melekatkan objek glass dengan kaca penutup. Dalam penetesan aquadest dilakukannya fiksasi untuk melekatkan preparat pada objek glass dan juga melarutkan zat pengotor serta amylum dari zat uji. Pengamatan daun sebagai simplisia yakni Psidi folium dan Guazumae folium dilihat dari ciri khas yang dimiliki daun, yaitu stomata, trikomata, rambut penutup, hablur kalsium oksalat dan berkas pembuluh. Simplisia daun biji digunakan sebagai obat diare. Dimana dari ciri ciri masing masing daun secara mikroskopis dapat membedakan satu jenis daun simplisia dengan daun simplisia lainnya. Pengamatan simplisia cortex dapat dibedakan dari fragmen lain berupa sel sklerenkim pada korteksnya, silinder pusat, jari jari empulur, berkas pembuluh. Pada pengamatan praktikan pada simplisia Burmani cortex tampak adanya sel skleida dan serabut sklerenkim. Simplisia ini berguna untuk sebagai kurminatif. Untuk simplisia Rhizoma dapat dilihat fragmen khas berupa bulirpati / amylum seperti yang juga terlihat pada pengamatan Curcumae domesticae Rhizoma. Fungsi simplisia ini anestika gigi, korminatif, zat tambahan dan aromatika. Fragmen jaringan yang mungkin dapat diamati pada rhizoma berupa sklerenkim, jaringan gabus, berkas pembuluh yang mirip pada batang (untuk sistem pengangkutan).

Untuk simplisia bunga (Flos) dilakukan pada pengamatan Caryophili flos yang teramati adalah sel batu, flagmen kepala sari, dan berkas pembuluh. Pengamatan juga dilakukan pada 10 jenis simplisia, yang dilakukan secara makroskopis dan organoleptis yaitu Merremiae tubera, Curcumae Domesticae Rhizoma, Burmani cortex, Sanchi folium, Sappan lignum, Guazumae folium, Abri folium, Ixorae fructus, Retrofracti fructus dan Foeniculli fructus. Tujuan dari pengamatan 10 jenis simplisia ini untuk mengetahui organoleptis (warna, bau, rasa) dari simplisia yang diamati.Yang diamati meliputi organoleptis, bentuk, sifat bahan seperti mudah tidaknya, kasar tidaknya permukaan, warna, bau, serta rasa sehingga pada percobaan ini lebih mengandalkan panca indra pada manusia. Praktikum kali ini dapat diterapkan dalam mengetahui apakah senyawa atau zat yang ada dalam obat sesuai dengan yang tertulis di wadah atau tidak. G. Kesimpulan 1. Identifikasi simplisia dilakukan secara makroskopis, mikroskopis, dan organoleptis. 2. Makroskopis mencakup pengamatan bentuk, bagian simplisia, struktur/bagian luar yang telah mati. 3. Mikroskopis mencakup pengamatan satuan yunit terkecil atau sel penyusut simplisia dengan mikroskop. 4. Organoleptis dilakukan dengan pengecekan massa, bau, dan warna