Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MATA KULIAH HUKUM LINGKUNGAN ANALISIS PUTUSAN PERKARA TATA USAHA NEGARA NOMOR: 71/G.

TUN/2001/PTUN-JKT

OLEH: ADERY - 1006731595 ADITYA PRATAMA BONFILIO BENVENUTO MUHAMMAD IQBAL ISNAENI NADIA PURWOKO RAIHANI KEUMALA - 1006709840 RAISHA JESSICA ZENITA SORAYA 1006710243

KELAS :

PROGRAM PARALEL

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

B. Tujuan

C. Perumusan Masalah Melihat dari latar belakang yang telah bahas, maka dapat dirumuskan beberapa pertanyaan sebagai berikut : 1.) Bagaimana penggunaan hak gugat oleh penggugat dalam kasus ini? Dan bagaimana pendapat hakim atas hak gugat para penggugat? 2.) Bagaimana pendapat para pihak dan hakim mengenai hubungan Amdal, Risk Assesment, dan Precautionary Principle dalam kasus ini, apa pendapat hakim sudah tepat terkait hubungan ini? 3.) Bagaimana para pihak melihat keamanan produk kapas transgenik, yang termasuk jenis pest/insect resistant crops (Bt)? 4.) Bagaiman pendapat hakim atas persoalan keamanan ini? Apakah pendapat hakim sudah tepat?

BAB II ISI

A) Penggunaan Hak Gugat dan Pendapat Hakim atas Hak Gugat Para Penggugat :

Sebelum membahas ini kita ketahui lebih dahulu siapa saja yang mempunyai hak gugat: 1. Individual 2. Perwakilan Kelompok 3. Organisasi 4. Pemerintah 5. Citizen Lawsuit

Dalam putusan nomor:71/G.TUN/2001/PTUN-JKT bahwa subjek yang melakukan gugatan adalah organisasi (LSM) Pasal 38 ayat (1) UU No.23 tahun1997 isinya: dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan pola kemitraan, organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestriaan fungsi lingkungan hidup

Pasal 38 ayat (3) UU No.23 tahun1997 bahwa Organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan sebagaiamana dimaksud pada persyaratan: 1.) Berbentuk badan hukum atau yayasan 2.) Dalam anggaran dasar organisasi lingkungan hidup yang bersangkutan menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan pelestarian lingkungan hidup 3.) Telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya ayat (1) apabila memenuhi

Berdasarkan ADRT yang mengajukan gugatan tersebut bahwa pertama 1. Mengajukan gugatan yaitu yayasan lembaga pengembangan hukum lingkungan Indonesia (ICEL) berdasarkan ketentuan pasal 4 anggaran dasar/angraan rumah tangga yayasan

2. Yayasan lembaga konsumen Indonesia berdasarkan ketentuan pasal 5 AD/ART dari yayasan le=mbaga konsumen Indonesia 3. Yayasan biodinamika pertanian Indonesia sesuai ketentuan pasal 5 AD/ART 4. Yayasan lembaga konsumen slawesi sesuai ketetntuan pasal 5 AD/ART

Akan tetapi dalam eksepsi yang dilakukan oleh tergugat ada point dimana bahwa penggungat tidak mempunyai kualitas sebagai penggungat mengatakan bahwa apakah lembaga-lembaga swadaya tersebut memiliki hak yang lebih dibandingkan asosiasi petani kapas indonesian atau bahkan DPRD dan gubernur propinsi Sulawesi selatan, selanjutnya bahwa kepentingan para penggugat tidak ada yang dirugikan baik secara materil maupun imateril sebab hingga kini pelaksanaan penananman varietas unggul kapas transgenic Nu COTN 35 B (BOOLGARD) di 7 (tujuh) kabupaten Propinsi Sulawaesi selatan belum ada bukti-bukti yang menunjukan adanya dampak negative atau merugikan lingkungan hidup.hal ini berarti penggugat bertentangan dengan pasal 37 Undang-Undang nomor 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup.

Akan tetapi mengenai eksepsi yang diajukan menurut pertimbangan hakim bahwa organisasi LSM kedudukannya tepat dalam mengajukan gugatan dalam hal subjek hukumnya. Bahwa setiap lembaga yang mengajukan dalam AD/ARTnya memang mencantumkan mengenai tujuanya untuk melestarikan lingkungan hidup. Hal tersebut diperkuat dengan bukti-bukti penggugat dari P1 sampai P6 yang membuktikan bahwa benar yayasan tersebut telah melaksanakan kegiatan berdasarkan anggaran dasarnya. Kemudian sejalan pasal 6 UU no.23 tahun 1997 yaitu: setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Dalam penjelasan nya bahwa kewajiban setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat ini tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan mahluk social. kewajiban tersebut mengandung makna bahwa setiap orang turut berperan serta dalam upaya memelihara lingkungan hidup.

Maka pendapat kami dalam hal yayasan yang mengajukan gugatan telah mempunyai persona standi in judicio dan karenanya dapat bertindak sebagai penggugat mengatasnamakan kepentingan umum sesuai dengan pasal 38 ayat 3 UU no 23 tahun 1997.

Mengenai 38 ayat (1) dalam hal mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian lingkungan hidup hal tersebut harus dibahas mengenai pokok perakara akan di bahas pada point selanjutnya

Mengenai objek gugatan yang dapat diadili dalam PTUN adalah berupa KTUN yang bersifat beschiking, konkrit,individual,final. Sesuai pasal 1 angka (2) UU No.5 tahun 1986. Dalam KTUN yang dikeluarkan para penggugat beranggapan bahwa keputusan yang dikeluarkan oleh Menteri Pertanian R.I bertentangan dengan ketentuan mengenai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) karena menurut ketentuan Undang-Undang no 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup serta peraturan pelaksanaannya berupa Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, disebutkan bahwa usaha dan/atau kegiatan introduksi jenis tumbuhtumbuhan, jenis hewan dan jasad renik termasuk pelepasan kapas transgenik Bt DP 5690B sebagai varietas unggul yang menjadi materi SK Menteri Pertanian R.I, harus didahului dengan AMDAL dan pengumuman kepada masyarakat sebelum penyusunan AMDAL. Dan para pihak penggugat menilai bahwa SK Menteri Pertanian R.I yang mengizinkan pelepasan kapas transgenik di 7 (tujuh) Kabupaten di Sulawesi Selatan tanpa melalui proses AMDAL serta pengumuman kepada masyarakat sebelum penyusunan AMDAL bertentangan dengan ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan seperti yang disebutkan di atas. Surat Keputusan yang menjadi objek gugatan dalam perkara ini memenuhi syarat-syarat objek gugatan Peradilan Tatas Usaha Negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 angka (2) dan pasal 1 angka (3) UU No 5 Tahun 1986, yaitu: dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara, dalam hal ini Menteri Pertanian Republik Indonesia, Surat Keputusan yang dikeluarkan bersifat Konkrit, Individual, dan Final, serta menimbulkan kerugian bagi para Penggugat.

B) Hubungan Amdal, Risk Assesment, dan Precautionary Principle dalam Kasus dan Pendapat Hakim :

C) Keamanan Produk Kapas Transgenik yang Termasuk Jenis Pest/Insect Resistant Crops (Bt) :

Menurut pihak Tergugat, kapas Bt adalah kapas hasil rekayasa genetika varietas Delta pine (DP) 5690 yang telah disisipi gen Cry1A yang mengandung endotoxin Bt (Bacillus thuriengiensis) sehingga tahan hama karena dapat membunuh serangga-serangga tertentu. Selanjutnya, tanaman transgenik tahan hama merupakan tanaman yang harus melalui kajian lingkungan paling rinci dan ketat, karena kemampuannya menghasilkan toxin (racun) yang mampu membunuh hama sasaran, sehingga mempunyai potensi besar untuk menimbulkan kerugian pada keanekaragaman hayati berupa terbunuhnya suatu jenis hewan atau menurunnya populasi suatu jenis tanaman yang bukan merupakan sasaran semula. Potensi yang ditimbulkan lainnya yaitu, terjadinya perpindahan gen dari tanaman transgenik ke kerabat lainnya sehingga menimbulkan gulma super yang sulit diberantas. Dan yang terakhir, pembentukan senyawa yang menimbulkan alergi atau keracunan bagi manusia. Saksi dari Tergugat menyebutkan hal-hal mengenai kelebihan penggunaan produk kapas transgenic. Bahwa tingkat keberhasilan dari menanam kapas transgenik bagi anggota Asosiasi rata-rata berhasil, dan saksi tidak mengetahui ada yang gagal. Penggunaan kapas transgenik lebih menguntungkan karena mengurangi pemakaian pestisida, dimana efek pestisida dapat merusak lingkungan. Saksi berpendapat bahwa lingkungan disekitar saksi normal, kesehatan biasa-biasa saja, hewan dan tumbuh-tumbuhan tidak ada yang mati dan udara juga normal. Hasil dari transgenik sangat tinggi, bahwa dari lahan Ha, dapat menghasilkan 20.000 pohon, 1 pohon Transgenik menghasilkan 80 bol, sedang Kanesia hanya menghasilkan 15 bol. Banyak negara seperti Amerika dan Australia yang telah mengizinkan adanya Transgenik, dimana keuntungan Transgenik adalah tanaman Transgenik dapat meningkatkan produksinya, menggunakan gen tunggal, mengurangi pestisida, dan menghasilkan toxin atau racun yang membunuh serangga. Menurut para saksi ahli, tujuan diadakan Transgenik adalah

untuk

meningkatkan

produktivitas

kapas,

meningkatkan

pendapatan,

mengurangi

penggunaan pestisida, dan memiliki ketahanan terhadap hama atau serangga. Terdapat perbedaan dalam penggunaan kapas Transgenik dengan kapas lokal/kanesia, diantaranya yaitu Transgenik memiliki kualitas lebih baik, tahan hama, mengurangi penggunaan pestisida sampai dengan 80%, mengurangi biaya produksi dan meningkatkan produksi (2x lipat) dan meningkatkan pendapatan (5x lipat) karena berkurangnya pemakaian pestisida. Disamping itu, lokal/kanesia tidak tahan terhadap hama target, menyemprotkan 10x dengan 15 Liter per tiap penyemprotan pestisida, yang sangat merusak lingkungan, menyebabkan resisten hama, dan menimbulkan gangguan kesehatan. Alasan yang mendorong petani menanam Transgenik adalah bahwa sebelum ada Bollgard / Transgenik, hasil kapas tidak begitu baik, penanaman konvensional sangat riskan, sedangkan Transgenik meningkatkan pendapatan dan mengurangi biaya pestisida. Dasar ilmiah mengenai Transgenik hama terhadap lingkungan adalah bahwa aman adalah istilah yang relatif, jadi harus mencari cara-cara yang aman terhadap resiko Transgenik tersebut. Terdapat beberapa kerugian yang dihasilkan dari penggunaan Transgenik, diantaranya yaitu tingkat ekspresi dari gen tunggal sehingga menahan biomasa dari Transgenik, akan menimbulkan toleransi terhadap hama, sehingga menimbulkan kekebalan yang cepat pada serangga (imun) yang merusak daun sampai kebatang, apabila bakteri tersebut sampai ketanah akan merusak struktur tanah dan mengganggu ekosistem antropoda pada tanah, dan Transgenik juga akan merusak tanah. Selain itu, Transgenik belum diteliti dengan baik sehingga dalam penerapan PHT harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian. Saksi ahli mengetahui bahwa saat ini Transgenik belum terbukti resisten. Dan juga menurut ketentuan hukum, tidak ada istilah yang menyebutkan kapas Transgenik wajib AMDAL dalam Kep.Men No. 3 Tahun 2000. Transgenik mempunyai daya dukung dalam pertanian (besarnya orang yang dapat hidup karena Transgenik indikatornya produksi Bollgard meningkat). Pendapatan Transgenik menjadi Rp 3.800.000,- dibandingkan kanesia Rp 700.000,- dalam 1Ha.

T e r d a p a t p e r b e d a a n ya n g m e n d a s a r a n t a r a k a p a s transgenik dan kapas lokal (kanesia), kapas transgenik memiliki kualitas yang jauh lebih baik seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sedangkan pada kapas local (kanesia) memiliki kualitas yang kurang baik karena tidak tahan terhadap hama, perlu menggunakan banyak pestisida untuk perawatannya, menyebabkan resistensi terhadap hama, dan menimbulkan ganguan kesehatan.

Masalah muncul karena bibit kapas Bt yang dimodifikasi dengan disisipi gen Cry1A yang mengandung endotoksin Bt (Bacillus thuriengiensis) sehingga tahan hama justru memiliki potensi besar untuk merusak lingkungan. Kapas jenis ini melindungi diri dengan caramenimbulkan toksin atau racun yang mampu membunuh serangga tertentu sehingga dapat memberikan untung lebih banyak karena produksi kapas tidak terganggu oleh hama. Tapi, muncul resko perpindahan gen dari kapas Bt ke tanaman lainnya dapat menimbulkan gulma yang dapat menyebabkan hama. Kandungan toksin dalam Bt ini juga dapat menimbulkan kerugian pada keanekaragaman hayati, berupa terbunuhnya suatu jenis serangga atau tanaman yang bukan merupakan sasaran toksin tersebut hingga populasinya menurun. Selain itu, tanaman Bt-transgenik memiliki potensi resiko terhadap kesehatan manusia berkaitan dengan kemungkinan munculnya alergen baru dalam serbuk sari tanaman atau kemungkinan munculnya kombinasi antar protein yang dapat menyebabkan efek sekunder yang sulit diperkirakan. Dan juga Respon masyarakat terhadap Transgenik dilapangan adalah bahwa musuh utama petani yakni hama tidak berdaya lagi, pendapatan meningkat karena hasilnya bagus. Disamping itu kita juga harus mengetahui mengenai rekayasa genetika itu sendiri, GMOs atau Geneticaly Modified Organism adalah hasil dari bioteknologi. WHO memberikan definisi GMOs sebagai berikut: Genetically Modified Organims (GMOs) can be defined as organisms in which the genetic material (DNA) has been altered in a way that does not occur naturally. The technology is often called modern biotechnology or gene technology, sometimes also recombinant DNA technology or genetic engineering. It allows selected individual genes to be transferred from one organism into another, also between nonrelated species. .

Berdasarkan pada definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa GMOs atau yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan produk rekayasa genetika adalah organisme yang DNA-nya telah dirubah dengan menggunakan suatu teknologi yang disebut dengan bioteknologi modern sehingga menghasilkan suatu organisme atau produk yang berbeda dengan produk alamiahnya yang mempunyai beberapa kelebihan karena dalam pembuatannya dilakukan seleksi terhadap sifat-sifat baiknya. Kontroversi mengenai manfaatdan bahaya produk transgenik masih terus diperdebatkan. GMO memang menjanjikan potensi

keuntungan bagi para pelaku agri bisnis termasuk para petani. Beberapa produk pertanian yang merupakan GMOs bisa tahan terhadap hama, tahan terhadap berbagai penyakit, penggunaan pestisida yang lebih sedikit, mempunyai penampilan yang menarik,mempunyai nutrisi yang lebih banyak jika dibandingkan dengan produk yang asli, dan lainsebagainya. Beberapa kelebihan dari GMOs tersebut diklaim dapat mengatasi masalah populasi dan pangan yang dihadapi oleh dunia. Namun seiring berkembangnya penggunaanGMO, ditemukanlah permasalahan dan resiko yang berdampak negative pula. Produkproduk GMOs berpeluang untuk mempengaruhi kesehatan manusia, kesehatan

makanan,serta permasalahan lingkungan.

D) Pendapat Hakim Mengenai Persoalan Keamanan Produk Kapas Transgenik

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan & Saran

DAFTAR PUSTAKA

1. D. A. Andow and Claudia Zwahlen, Assesing Environtmental Risks of Transgenic Plants, Ecology Letters, Vol. 9, 196-214 (2006). 2. Rebecca Bratspies, The Illusion of Care: Regulation, Uncertainty, and Genetically Modified Food Crops, New York Environtmental Law Journal, Vol. 10, 297-355 (2002). 3. D. Santillo, et. al., The Precautionary Principle: Protecting Against Failures of Scientific Method and Risk Assesment, Marine Pollution Buletin, Vol. 36(12), 939-950(1998).