Anda di halaman 1dari 3

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SEKRETARIAT JENDERAL BIRO KOMUNIKASI DAN LAY ANAN lNFORMASI

JI. Dr. Wahidin Raya No.1 Jakarta 10710 Telepon (021) 3449230 ext. 6347/48; Fax: (021) 3500847 Website:www.kemenkeu.go.id; email:humas@depkeu.go.id

~IARANPfR~
Nomor :171 IHMS/2012 Tanggal: 9 November 2012

Penyesuaian Besarnya PTKP: Sebuah Kebijakan Insentif Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi dan Stimulus Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Langkah Kebijakan Penyesuaian

PTKP

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) adalah batas penghasilan yang tidak dikenakan pajak sehingga untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak dari Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri, penghasilan netonya dikurangi dengan jumlah PTKP. Ketentuan menenai PTKP ini sendiri diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah beberapakali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 (UU PPh). Dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi dan monoter serta perkembangan kebutuhan pokok setiap tahunnya, besarnya PTKP dapat disesuaikan yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan, setelah dikonsultasikan dengan Dewan Perwakilan Rakyat RI. Selama kurun waktu tahun 2001 sampai dengan tahun 2012, terdapat beberapakali penyesuaian PTKP, sebagaimana tabell di bawah ini. Tabell PTKP 2000-2012

2001-2003 2004-2005 2006-2008 I I I I 2009-2012 Tahun Berlaku Diri WP orang 2,880,000 IRp 12,000,000 I Rp 13,200,000 I Rp 15,840,000 I Rp pribadi Tambahan untuk 1,440,000 IRp 1,200,000 I Rp 1,200,000 I Rp 1,320,000 I Rp WP Kawin Tambahan untuk istri yang penghasilannya I Rp 2,880,000 I Rp 12,000,000 I Rp 13,200,000 I Rp 15,840,000 digabung dengan penghasilan suami Tambahan untuk setiap tanggungan

R p

1,440,000

Rp

1,200,000

Rp

1,200,000

I Rp

1,320,000

Dalam perkembangan perekonomian Indonesia, Pemerintah menimbang bahwa besarnya PTKP yang saat ini berlaku, yaitu sebagaimana diatur dalam UU PPh Nomor 36 Tahun 2008, sudah tidak sesuai dengan perkembangan kebutuhan pokok dari masyarakat Indonesia. Sebagai salah satu tolak ukur kebutuhan pokok minimal masyarakat adalah besaran Upah Minimum Provinsi (UMP) yang besarannya ditetapkan dengan didasarkan atas Kebutuhan Hidup Layak dan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Pada

tahun 2012, besarannya UMP untuk masing-masing provinsi bervariasi berkisar antara Rp837.500 (atau sebesar Rp10.050.000 per tahun) di Provinsi Gorontalo sampai dengan Rp1.529.150 (atau sebesar Rp18.349.800 per tahun) di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta). Dibandingkan dengan besaran UMP tersebut, besaran PTKP saat ini untuk diri WP sendiri yaitu sebesar Rp15.840.000 masih berada pada rata-rata besaran UMP yang disetahunkan. Pertimbangan lain mengenai perlunya perubahan PTKP adalah terkait dengan perlunya kebijakan untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi global, sebagai dampak krisis finansial Eropa dan Amerika Serikat, yang berpotensi menurunkan daya beli masyarakat. Sebagaimana diketahui bahwa salah satu fakt?r pertumbuhan ekonomi suatu negara, dengan Produk Domestik Bruto sebagai ukurannya, adalah tingkat konsumsi masyarakat dan investasi. Dengan menaikkan PTKP diharapkan dapat meningkatkan daya beli konsumen (disposable income), yang kemudian dapat berdampak domino pada peningkatan produk domestik bruto nasional, baik melalui konsumsi maupun peningkatan tabungan (saving). Dalam dunia bisnis dan ekonomi, daya beli konsumen adalah kunci utama pertumbuhan ekonomi. Pengeluaran konsumen yang lancar akan berimbas pada kenaikan penjualan barang impor, output manufaktur, bisnis dan investasi hingga pertumbuhan lapangan kerja.
Penyesuaian PTKP Sebagai Kebijakan Pro Rakyat dan Alat Stimulus Perekonomian

Dengan pertimbangan sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, Pemerintah melalui Menteri Keuangan setelah berkonsultasi dengan DPR RI, telah menetapkan penyesuaian besarnya PTKP yang mulai berlaku 1 Januari tahun 2013. Besarnya PTKP sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 162 IPMK.011/2012 adalah sebagaimana Tabelll di bawah ini. Tabel " PTKP mulai 1 Januari 2013

Diri WP orang pribadi Tambahan untuk WP Kawin Tambahan untuk istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami Tambahan untuk setiap tanggungan

Rp Rp Rp Rp

24.300.000 2.025.000 24.300.000 2.025.000

Dengan kenaikan PTKP, ceteris paribus, akan berdampak pada penurunan penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25/29 Orang Pribadi dan Pajak Penghasilan Karyawan (PPh Pasal 21), yaitu kurang lebih sebesar Rp13,3 triliun (neto dengan potential gain dari PPN dan PPh Badan sebagai dampak pertumbuhan konsumsi dan ekonomi). Berdasarkan data historis, kenaikan besaran PTKP mempengaruhi secara signifikan pertumbuhan penerimaan PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi, namun tidak menyebabkan penurunan penerimaan. Pengaruh terhadap pertumbuhan penerimaan PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi tersebut bersifat sementara, yaitu hanya terjadi dalam kurun waktu 1 s.d. 2 tahun dan selanjutnya mengalami pertumbuhan normal kembali.

Pasal 21 dan PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi tersebut bersifat sementara, yaitu hanya terjadi dalam kurun waktu 1 s.d. 2 tahun dan selanjutnya mengalami pertumbuhan normal kembali. Meskipun kenaikan PTKP mempunyai potensi memperlambat pertumbuhan penerimaan pajak, akan tetapi dari sisi ekonomi makro diharapkan kenaikan PTKP ini akan berdampak positif. Oibandingkan dengan PTKP yang berlaku sejak tahun 2009, maka setiap wajib pajak orang pribadi dalam negeri dengan status tidak menikah dan tanpa tanggungan, akan mempunyai kenaikan disposable income sebesar Rp8.400.000, yaitu selisih PTKP baru untuk diri Wajib Pajak Orang Pribadi dengan PTKP sebelumnya. Lebih lanjut, dengan didasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) pada tahun 2011 bahwa rata-rata status rumah tangga Indonesia adalah kawin dengan 2 orang anak, maka kenaikan PTKP akan berdampak pada kenaikan disposable income sebesar Rp10.575.000 untuk setiap keluarga. Oengan adanya kenaikan disposable income tersebut, diharapkan akan menyebabkan efek domino pada perekonomian Indonesia, yang diawali dengan adanya peningkatan konsumsi dalam negeri. Oaya bell masyarakat akan meningkat, karena atas bagian penghasilan yang sebelumnya digunakan untuk membayar pajak, dengan adanya kenaikan PTKP ini, porsi tersebut dapat digunakan untuk konsumsi atau belanja. Menurut data BPS, Produk Oomestik Bruto (POB), atas dasar harga berlaku, pada kuartal I tahun 2012 adalah sebesar Rp1.972,4 triliun. Konsumsi rumah tangga menyumbang kontribusi terbesar yakni sekitar 55 % dari total POB. Berdasarkan simulasi dengan menggunakan Model Makro Ekonomi, kenaikan PTKP diperkirakan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh kenaikan tingkat konsumsi sebesar 0,0823%. Pertumbuhan konsumsi dalam negeri sangat diperlukan di tahun 2013 untuk mendorong POB, dengan mengingat bahwa aspek ekspor masih berpotensi mengalami penurunan karena kondisi krisis global saat ini. Oampak lain yang diharapkan dari kenaikan PTKP adalah peningkatan tabungan atau saving masyarakat. Oengan asumsi bahwa fungsi credit channeling perbankan nasional berjalan dengan baik, maka adanya kenaikan saving akan berdampak pada peningkatan investasidi sektor riil, yang kemudian berdampak pula pada dibukanya lapangan kerja baru dengan perkiraan pertumbuhan sebesar 0,0031%. Selain dampak pada POB, kebijakan penyesuaian PTKP juga ditargetkan dapat memberikan perlindungan dan keringanan kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Oengan kebijakan ini diharapkan bahwa tingkat kemiskinan dapat ditekan sampai 0.11 persen. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 162/PMK.011/2012 lebih lanjut dapat dilihat di www.kemenkeu.go.id.(/c)