Anda di halaman 1dari 7

TUGAS REKAYASA BAHAN

DISUSUN OLEH: DIMAS PRASETYO OETOMO

2409100046

JURUSAN TEKNIK FISIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2012

Diagram TTT (Time Temperature Transformation) Merupakan sebuah diagram yang menggambarkan hubungan antara temperatur dengan logaritma waktu pada baja paduan dengan komposisi tertentu. Diagram tersebut digunakan untuk menentukan kapan tranformasi tersebut dimulai dan berakhir untuk keadaan isothermal (suhu tetap) pada perlakuan panas pada paduan austenite. Ketika austenite diturunkan suhunya secara perlahan hingga dibawah temperature kritis maka bentuk dari austenite menjadi pearlite. Dengan meningkatnya laju pendinginan, temperatur transformasi perlit akan menjadi lebih rendah. Mikrostruktur material secara signifikan berubah seiring dengan laju pendinginan yang meningkat. Dengan menaikan dan menurunkan temperature maka tranformasi dapat dicatat perubahannya. Diagram TTT tidak hanya mengetahui perubahan bentuk austenite terhadap waktu dan temperature. Namun juga presentasi perubahan autenite pada suhu tertentu. Transformasi Martensite Cepat dingin dari suhu temperatur euctectoid menuju suhu kamar (FCC) ke Martensite (Body Centered Tetragonal) melibatkan gerakan atom secara kolektif

Gambar 1. Diagram TTT

Pada Gambar 1, Area pada kanan kurva transformasi menunjukan region dari austenite. Austenite akan stabil bila diatas temperature kritis namun akan tidak stabil bila di bawah temperature kritis. Kurva yang sebelah kiri menunjukan mulainya transformasi dan sebelah kanan menunjukan berakirnya transformasi. Area diantara dua kurva menunjukan tranformasi pada austenite menujukan type struktur kristal austenite yang berbeda. (Austenite ke pearlite, austenite ke martensite, austenite ke bainite transformasi). Tranformasi isothermal diagram menunjukan bahwa bertranformasi secara cepat (A) dan presentasi dari tranformasi (b)

Gambar 2. Setengah Bagian atas dari Diagram TTT (Austenite-Pearlite Transformation Area) Gambar 2 menunjukan Setengah bagian atas pada Diagram TTT. Sebagai indicator pada gambar 2. Ketika austenite didinginkan ke temperature dibahwa temperature kritis. Dia Tranformasi menjadi struktur Kristal lain karena ketidakstabilan alam. Spesifik transormasi dapat dipilih sehingga tranformasi pada austenite dapat menjadi 50%, 100%. Ketika laju pendinginan sangat lambat seperti annealing process, kurva pendingingan melewati seluruh tranformasi area dan produk akir dari proses ini ada 100% pearlite. Dengan kata lain, ketika pendinginan lambat di lakukan, semua sutenite akan bertranformasi menjadi pearlite. Ketika kurva pendinginan melewati tengah-tengah dari tranformasi area, produk akirnya menjadi 50% austenite dabn 50% pearlite, yang berate bahwa laju pendinginan tertentu. kita dapat menahan bagian tertentu pada autenite, tanpa bertranformasi menjadi pearlite.

Gambar 3. Setengah Bagian Bawah dari Diagram TTT (Austenite-Martensite and Bainite Transformation Areas) Pada Gambar 3 menunjukan tipe transformasi yang dapat ditemukan pada laju pendinginan yang lebih tinggi. Jika laju pendingingan sangat tinggi. Laju pendinginan akan tinggal sisi sebelah kanan pada saat tranformasi dimulai. Pada kasus ini semua austenite dapat bertransformasi menjadi martensite, jika tidak ada gangguan pada pendingingan. Akhir dari produk akan menjadi masternite

Gambar 4. Rapid Quench

Pada Gambar 4. Laju pendinginan A dan B mengidentifikasikan dua proses pendinginan secara cepat. Pada kurva a dapat mengakibatkan distorsi dan Internal stresses yang lebih tinggi dari pada laju pendinginan B. produk akhir pada kedua laju pendinginan akan menjadi martensite. Laju pendingan B juga diketahui sebagai laju pendinginan kritis. Dimana mempresentasikan dengan kurva pendinginan bahwa garis singgung menuju hidung dari Diagram TTT. Laju pendinginan kritis didenisikan sebagai laju pendingan yang paling lambat dimana memproduksi 100% masternite yang meminimalkan stresses dan distorsi

Gambar 5. Interrupted Quench Pada Gambar 5. Proses Quenching cepat di ganggu ( garis horizontal mempresentasikan gangguannya) dengan meredam material dalam cairan salt bath dan pada suhu yang konstan diikuti dengan proses pendinginan lainnya yang melewati bainite region pada TTT diagram. Produk akhir yang dihasilkan adalah bainite, yang mana tidak sekeras matensite. Sebagai hasil dari laju pendinginan D, banyak dimensi yang stabil, sedikit distorsi dan sedikit stress yang dibuat.

Gambar 6. Proses Pendinginan Lambat (Annealing) Pada gambar 6. Kurva pendinginan C mempresentasikan proses pendinginan secara lambat. Seperti pendinginan furnace. Seperti contoh untuk type pendinginan pada annealing process dimana semua austenite di ijinkan untuk bertransformasi ke pearlite sebagai hasil dari pendinginan lambat.

Gambar 7. Laju pendinginan yang memungkinkan pembentukan.baik martensit dan perlit

Pada Gambar 7, kurva E mengidentifikasikan laju pendinginan dimana tidak dapat memproduksi 100% martensite. Ini dapat diobservasi secara mudah dengan melihat diagram TTT. Sejak diagram kurva E tidak menyinggung hidung dari transormasi diagram , austenite telah bertransformasi ke 50% pearlite (kurve E adalah garis singgung ke 50% kurva). Sejak kurve E meninggalkan transformasi diagram pada Martensite zone, sisa 50% pada austenite akan berubah menjadi martensite.

Gambar 8. Diagram TTT and microstruktur yang diperoleh dari beberapa tipe pada tingkat pendinginan

Gambar 9. Sifat mekanik pada mikrostruktur