Anda di halaman 1dari 6

Klasifikasi Uveitis Referensi: 1. Skuta Gregory, Cantor Luis, Weiss Jayne. 2008. Clinical Approach to Uveitis.

Intraocular Inflammation and Uveitis. American Academy Ophtalmology. Singapura 2. Melinda, Vivi.

Uveitis.

Diakses

dari

http://yayanakhyar.wordpress.com/2009/05/20/uveitis/. Tanggal 10/11/2012 Uveitis dapat digolongkan menjadi 4 kelompok berdasarkan anatominya: 1. Uveitis anterior. Infeksi terutama mengenai COA. Termasuk dalam uveitis anterior adalah iritis, iridosiklitis, dan siklitis anterior 2. Uveitis intermediet. Infeksi terutama mengenai vitreus. Yang termasuk dalam uveitis intermediet adalah pars planitis, sikltiis posterios dan hialitis 3. Posterior uveitis. Infeksi terutama mengenai retina atau khoroid. Yang termasuk dalam uveitis posterior adalah khoroiditis fokal, multifokal, atau difus, khorioretinitis, retinokhoroiditis, retinitis, dan neuroretinitis 4. Panuveitis. Infeksi mengenai COA, vitreus dan retina atau khoroid Berdasarkan manifestasi klinis dapat dibagi menjadi: 1. Uveitis akut : onset simtomatik terjadi tiba-tiba dan berlangsung selama < 3bulan 2. Uveitis kronik : uveitis yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, seringkali onset tidak jelas danbersifat asimtomatik. Klasifikasi berdasarkan etiologinya 1. Uveitis eksogen : trauma, invasi mikroorganisme atau agen lain dari luar tubuh 2. Uveitis endogen : mikroorganisme atau agen lain dari dalam tubuh a. Berhubungan dengan penyakit sistemik, contoh: ankylosing spondylitis b. Infeksi, yaitu infeksi bakteri (tuberkulosis), jamur (kandidiasis), virus (herpes zoster), protozoa (toksoplasmosis), atau roundworm

(toksokariasis) c. Uveitis spesifik idiopatik, yaitu uveitis yang tidak berhubungan dengan penyakit sistemik, tetapi memiliki karakteristik khusus yang

membedakannya dari bentuk lain (seperti: sindrom uveitis Fuch)

d. Uveitis non-spesifik idiopatik, yaitu uveitis yang tidak termasuk ke dalam kelompok di atas. Klasifikasi berdasarkan patologis 1. Uveitis non-granulomatosa, terdapat infiltrasi dominan limfosit dan sel plasma 2. Uveitis granulomatosa, dominan sel epiteloid dan sel-sel raksasa multinukleus Patofisiologi Kebanyakan penyebab dari uveitis adalah idiopatik. Terdapat beberapa kondisi yang diketahui dapat memicu terjadinya uveitis, yaitu: Referensi: Tsang, Keith.

Iritis

and

Uveitis.

Diakses

dari

http://emedicine.medscape.com/article/798323. tanggal 10/11/2012 1. Genetik. Keterkaitan antara uveitis anterior dengan spondilitis ankilosa pada pasien dengan predisposisi genetik HLA-B27 positif pertama kali dilaporkan oleh Brewerton et al 2. Trauma. Mekanisme trauma yang menyebabkan uveitis diyakini bahwa terdapat kontaminasi mikrobial pada kondisi trauma tersebut dan terdapat akumulasi produkproduk nekrotik di lokasi luka, sehingga menstimulasi proses inflamasi dan menyebabkan uveitis. 3. Infeksi. Reaksi infeksi terjadi sebagai respon imun terhadap adanya atau antigen molekul asing. Reaksi ini dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan sel-sel pada uvea. Lebih dari sepertiga kasus uveitis di antaranya ternyata merupakan reaksi imunologik yang berkaitan dengan penyakit sistemik. Penyakit sistemik yang berhubungan dengan uveitis anterior meliputi: spondilitis ankilosa, sindroma Reiter, artritis psoriatika, penyakit Crohn, kolitis ulserativa, dan penyakit Whipple Radang iris dan badan siliar menyebabkan rusaknya Blood Aqueous Barrrier sehingga terjadi peningkatan protein, fibrin dan sel-sel radang dalam humor akuos yang tampak pada slitlamp sebagai berkas sinar yang disebuit fler (aqueous flare). Fibrin dimaksudkan untuk menghambat gerakan kuman, akan tetapi justru mengakibatkan perlekatan-perlekatan, misalnya perlekatan iris pada permukaan lensa (sinekia posterior). (Ilyas Sidarta, Uveitis Anterior, Ilmu Penyakit Mata, ed II, FKUI, Jakarta: 2002)

Sel-sel radang yang terdiri dari limfosit, makrofag, sel plasma dapat membentuk presipitat keratik yaitu sel-sel radang yang menempel pada permukaan endotel kornea. Akumulasi selsel radang dapat pula terjadi pada tepi pupil disebut koeppe nodules, bila dipermukaan iris disebut busacca nodules, yang bisa ditemukan juga pada permukaan lensa dan sudut bilik mata depan. Pada iridosiklitis yang berat sel radang dapat sedemikian banyak sehingga menimbulkan hipopion. (Ilyas Sidarta, Uveitis Anterior, Ilmu Penyakit Mata, ed II, FKUI, Jakarta: 2002) Otot sfingter pupil mendapat rangsangan karena radang, dan pupil akan miosis dan dengan adanya timbunan fibrin serta sel-sel radang dapat terjadi seklusio maupun oklusio pupil, sehingga cairan di dalam kamera okuli posterior tidak dapat mengalir sama sekali mengakibatkan tekanan dalam dalam camera okuli posterior lebih besar dari tekanan dalam camera okuli anterior sehingga iris tampak menggelembung kedepan yang disebut iris bombe (Bombans). (Ilyas Sidarta, Uveitis Anterior, Ilmu Penyakit Mata, ed II, FKUI, Jakarta: 2002) Gangguan pada humor akuos terjadi akibat hipofungsi badan siliar menyebabkan tekanan bola mata turun. Adanya eksudat protein, fibrin dan sel-sel radang dapat berkumpul di sudut camera okuli anterior sehingga terjadi penutupan kanal schlemm sehingga terjadi glukoma sekunder. Pada fase akut terjadi glaucoma sekunder karena gumpalan gumpalan pada sudut bilik depan,sedang pada fase lanjut glaucoma sekunder terjadi karena adanya seklusio pupil. Naik turunnya tekanan bola mata disebutkan pula sebagai peran asetilkolin dan prostaglandin. (Ilyas Sidarta, Uveitis Anterior, Ilmu Penyakit Mata, ed II, FKUI, Jakarta: 2002) Diagnosis 1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik Referensi: 1. (1. Skuta Gregory, Cantor Luis, Weiss Jayne. 2008. Clinical Approach to Uveitis. Intraocular Inflammation and Uveitis. American Academy Ophtalmology. Singapura 2. Melinda, Vivi.

Uveitis.

Diakses

dari

http://yayanakhyar.wordpress.com/2009/05/20/uveitis/. Tanggal 10/11/2012

3.

Tsang,

Keith.

Iritis

and

Uveitis.

Diakses

dari

http//emedicine.medscape.com/article/798323. tanggal 10/11/2012 Gejala uveitis dapat diketahui melalui anamnesis dan tanda-tandanya dapat dicari melalui pemeriksaan fisik dengan menggunakan pemeriksaan funduskopi dan slit lamp. Perlu juga dilakukan pemeriksaan tekanan intraokular. 1. Gejala utama uveitis anterior akut adalah fotofobia, nyeri, merah, penglihatan menurun, dan lakrimasi. Sedangkan pada uveitis anterior kronik mata terlihat putih dan gejala minimal meskipun telah terjadi inflamasi yang berat. Tanda-tanda adanya uveitis anterior dari pemeriksaan fisik adalah injeksi silier, keratic precipitate, nodul iris, sel-sel akuos, flare di COA, fibrin, hipopion sinekia posterior. Keratic precipitate terjadi karena pengendapan sel radang dalam bilik mata depan pada endotel kornea. Ketika baru terbentuk, keratic precipitate cenderung berwarna putih dan bulat, tetapi mereka kemudian menjadi menyusut, lebih berwarna, atau mengkilat. Keratic precipitate yangberwarna kekuningan dan berukuran besar disebut mutton-fat keratic precipitate, ini biasanya terjadi pada inflamasi tipe granulomatosa. Dengan keterlibatan badan siliar dan trabecular meshwork, tekanan intraokular sering sekunder rendah karena penurunan produksi cairan atau peningkatan aliran keluar, namun tekanan intraokular dapat meningkat drastis jika meshwork menjadi tersumbat oleh sel inflamasi atau debiris atau jika trabecular meshwork itu sendiri adalah situs peradangan (trabeculitis). Blok pupil dengan iris bombe dan penutupan sudut COA sekunder dapat juga menyebabkan peningkatan akut tekanan intraokulae. 2. Gejala uveitis intermediet biasanya berupa floater, meskipun kadang-kadang penderita mengeluhkan gangguan penglihatan akibat edema makular sistoid kronik. Tanda dari uveitis intermediet dari pemeriksaan fisik adalah infiltrasi seluler pada vitreus (vitritis). Berdasarkan densitas, sel dapat dikelompokkan dari derajat 0 sampai 4+: Derajat 0 0.5+ 1+ Jumlah sel Tidak ada sel 1-10 11 20

2+ 3+ 4+

21 30 31 - 100 >100

Perubahan pada vitreus antara lain berupa: a. Konsendat vitreus yang tampak melayang seperti bola salju, disebut snowball opacities b. Eksudat di pars plana (snowbank) tampak seperti gundukan salju. c. Vitreal strands, yaitu perubahan degeneratif dengan kondensasi silinder seperti serat. 3. Dua gejala utama uveitis posterior adalah floater dan gangguan penglihatan. Keluhan floater terjadi jika terdapat lesi inflamasi perifer. Sedangkan koroiditis aktif pada makula atau papillomacular bundle menyebabkan kehilangan penglihatan sentral. Tanda-tanda adanya uveitis posterior dari pemeriksaan fisik adalah infiltrat inflamasi pada retina/khoroid, vaskulitis retina, eksudat pada retina/koroid, bisa terjadi pembengkakan atau atrofi saraf optik. Gejala-gejala yang terdapat pada uveitis anterior seperti nyeri, mata merah, atau fotofobia tidak ada. Jika terdapat gejala uveitis posterior disertai nyeri, maka diduga adanya keterlibatan COA, endoftalmitis bakterial atau skleritis posterior. 4. Pada panuveitis dapat terjadi semua gejala-gejala diatas. 2. Pemeriksaan Penunjang Referensi: 10/11/2012 Pemeriksaan-pemeriksaan penunjang diperlukan untuk mengetahui etiologi secara spesifik, bila dicurigai adanya kecurigaan penyakit sistemik, seperti: Pemeriksaan darah, yaitu differential count, eosinofilia : kemungkinan penyebab parasit atau alergi Pemeriksaan VDRL dan FTA untuk mengetahui adanya infeksi sifilis Autoimun marker (ANA,Reumatoid factor, Antidobble Stranded DNA), foto persendian digunakan untuk pasien yang dicurigai terdapat penyakit reumatoid Yuindartanto, andre.

Uveitis

Anterior.

diakses

dari

http://yumizone.wordpress.com/2009/02/24/uveitis-anterior.

tanggal

Pemeriksaan kadar kalsium darah, serum ACE, pemeriksaan urin berupa kalsium urin 24 jam, ataupun foto toraks untuk mengetahui adanya sarkoidosis Pemeriksaan serologi toxoplasma dan serologi TORCH lainnya, pemeriksaan foto tengkorak, untuk melihat adakah kalsifikasi cerebral untuk melihat adanya penyakit toxoplasmosis.

Pemeriksaan Pathergy test, kultur urin untuk melihat penyakit Bechets reitters Pemeriksaan Mantoux test, foto thorax untuk melihat adanya penyakit tuberkulosis. Foto spinal dan sendi sakroiliaka jika dicurigai terdapat ankilosing spondilitis