Anda di halaman 1dari 71

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Tujuan pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah mencapai kesehatan bagi semua yakni terpenuhinya hak

setiap orang untuk hidup sehat, sehingga dapat meraih hidup yang produktif dan bahagia (Dep Kes RI,2002).

Kesehatan jiwa merupakan suatu unsur yang sangat penting yang harus dimiliki dalam diri setiap manusia. Kesehatan jiwa bukan hanya tidak ada gangguan jiwa, melainkan yang

mengandung

berbagai

karakteristik

yang

positif

menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan kedewasaan keperibadiannya (Yosep, 2007). Indikator sehat jiwa meliputi sikap yang positif terhadap diri sendiri, tumbuh, berkembang, diri, memiliki memiliki dalam 1998

aktualisasi persepsi beradaptasi

diri, sesuai dengan

keutuhan, kenyataan lingkungan

kebebasan dan (Stuart

kecakapan & Laraia,

dalam Yosep, 2007).

Halon (1994), menyatakan bahwa sehat itu mencakup keadaan pada diri sesorang secara menyeluruh untuk tetap mempunyai kemampuan tugas fisiologis maupun psikologis penuh. Kegagalan peristiwa kehidupan yang
1

penyesuaian

diri

terhadap

keadaan

atau dalam

menyebabkan berdampak

keadaan pada

perubahan

seseorang

timbulnya

keluhan-

keluhan berupa stress, depresi dan cemas (Hawari, 2001). Skizofrenia merupakan suatu bentuk psikosa yang

sering dijumpai di mana-mana sejak dahulu kala. Meskipun demikian pengetahuan sangat ada kita tentang Sebelum sebab-musabab kraepelin mengenai dan

patogenesanya 1926) tidak

kurang.

(1856-

kesatuan yang

pendapat

berbagai

gangguan

jiwa

sekarang

dinamakan

skizofrenia

(Maramis, 2005). Skizofrenia yang merupakan sekelompok area reaksi fungsi psikotik individu, dan

mempengaruhi berfikir

berbagai dan

termasuk

berkomunikasi,

menerima

menginterpretasikan realitas, merasakan dan menunjukkan emosi dan berperilaku dengan sikap yang dapat diterima secara hingga sehingga sosial (Ann Isaacs). Jika kita melihat belum dunia bahwa jelas, khusus

sekarang pernah

etiologi pada suatu

skizofrenia konperensi

tentang

skizofrenia,

dikatakan

sebenarnya

sangat

memalukan, bahwa kita hingga sekarang belum mengetahui sebab-musabab suatu penyakit yang terdapat sejak dahulu kala dan yang tersebar begitu luas serta yang khas bagi umat manusia (belum diketahui adanya skizofrenia pada binatang) dan bahwa kita belum sanggup mengerti dasarnya mengapa seseorang yang sebelum hidup normal diantara orang-orang lain,pada suatu waktu keluar dari rel atau jalan penghidupannya yang wajar dan menderita

skizofrenia. Angka kejadian diseluruh dunia diperkirakan 0,2-0,8% setahun (Maramis,2005). Kehidupan manusia dewasa ini yang semakin sulit dan komplek serta semakin bertambahnya stresor psikososial akibat budaya masyarakat modern yang cendrung lebih

sekuler,

menyebabkan hidup

manusia yang

tidak mereka

dapat alami

menghindari (Prabandari

tekanan-tekanan et.al, 1997). Selama dilakukan

lebih

dari

dua

decade

terakhir dunia

telah yang

penelitian

mendalam

diseluruh

membuktikan bahwa tawa berdampak positif bagi berbagai sistem di dalam tubuh kita. Tawa membantu menyingkirkan efek-efek satu negative ini. STRES Orang yang telah menjadi melupakan pembunuh cara nomor

dewasa

tertawa:

para ilmuan yakin bahwa tawa mempunyai fungsi pencegahan dan pengobatan. Tetapi dewasa ini, dimanakah tawa?

sepertinya orang telah melupakan cara tertawa. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan Dr.Micheal Titze,

seorang psikolog Jerman, pada tahun 1950-an orang bisa tertawa 18 menit sehari, tetapi dewasa ini kita tertawa tidak lebih dari enam menit per hari, kendati terjadi kenaikan taraf hidup yang sangat besar. Anak-anak dapat tertawa hingga 300-400 kali sehari, tetapi ketika tumbuh dewasa frekwensi ini turun menjadi hanya 15 kali sehari. Karena sikap serius yang berlebihan, rasa humor kita

juga menjadi sakit. Hal-hal yang 30 tahun lalu membuat kita tertawa lepas sekarang tidak lagi merangsang seules pun senyum (Kataria, 2004). Tawa mempunyai beberapa manfaat medis/sosial/

holistik yang bisa sangat memperbaiki kualitas hidup, beberapa diantaranya cukup serius. Tawa adalah pengusir stress dan membantu meringankan faktor kecemasan penyebab serta

ketegangan

yang

merupakan

beberapa

penyakit. Tawa setiap hari menjauhkan anda dari dokter tanpa mengeluarkan uang. Observasi awal yang dilakukan oleh calon peneliti pada bulan Juni 2009 di ruang rawat inap Rumah Sakit

Jiwa

Propinsi

NTB

mengenai tingkat rawat

pengaruh depresi inap

terapi pada

tertawa pasien Jiwa

terhadap skizofrenia

penurunan di ruang

Rumah

Sakit

Propinsi NTB, didapatkan informasi sementara bahwa data pasien yang mengalami skizofrenia di ruang rawat inap Rumah Sakit Jiwa Propinsi NTB pada bulan juli (2009) sebanyak : di ruang Angsoka 7 orang, di ruang Dahlia 10 orang,di ruang plamboyan 4 orang, di ruang mawar 4 orang dan di ruang melati 10 rang. Dan study pendahuluan pada bulan juli (2009) menyatakan bahwa di ruang rawat inap Rumah Sakit Jiwa Propinsi NTB belum pernah Tertawa dilakukan Terhadap

penelitian Penurunan (Laporan 2009).

tentang Tingkat

Pengaruh depresi Sakit

Terapi Pada Jiwa

Pasien Propinsi

Skizofrenia NTB Tahun

Tahunan

Rumah

B. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut : Pengaruh Depresi Terapi Pada Tertawa Terhadap di Apakah Ada Penurunan Ruang Tingkat Inap

Pasien

Skizofrenia

Rawat

Rumah Sakit Jiwa Propinsi NTB?

C. TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan umum Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Penurunan Tingkat

Depresi Pada Pasien Skizofrenia di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Propinsi NTB.

2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi

tingkat

depresi

pada

pasien

skizofrenia sebelum diberikan terapi tertawa.


b. Mengidentifikasi

tingkat

depresi

pada

pasien

skizofrenia sesudah diberikan terapi tertawa.


c. Menganalisis

pengaruh

terapi

tertawa

terhadap

penurunan tingkat depresi pada pasien skizofrenia.

D. MANFAAT PENELITIAN 1. Bagi peneliti

Menambah

pemahaman

dan

pengetahuan

tentang

terapi

tertawa dan ilmu keperawatan jiwa.


2.

Bagi Rumah Sakit Jiwa Propinsi NTB Sebagai masukan dan salah satu sumber informasi untuk lebih meningkatkan pemahaman mengenai pengaruh terapi tertawa terhadap penurunan tingkat depresi pada

pasien dengan skizofrenia.


3.

Bagi Institusi Pendidikan Untuk menambah khasanah dalam ilmu keperawatan jiwa dan dapat digunakan sebagai data dasar untuk

melaksanakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan pengaruh terapi tertawa terhadap penurunan

tingkat depresi pada pasien dengan skizofrenia.

Bagi Peneliti Lain Dapat digunakan sebagai data awal yang dapat

dikembangkan dalam proses penelitian selanjutnya.

E. KEASLIAN PENELITIAN

Belum pernah dilakukan penelitian serupa di Rumah Sakit Jiwa Propinsi NTB, namun terkait dengan penelitian oleh Fathurrahman Eksesais 2006, Terhadap dengan mengangkat Tingkat topik Depresi

Pengaruh

Penurunan

Pada Penderita Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Propinsi NTB. Dari penelitian dengan menggunakan HDR-S terhadap 15 orang klien 20,00% gangguan mengalami jiwa dengan skizofrenia 46,66%

ditemukan

depresi

ringan

mengalami depresi sedang dan 13,33% mengalami depresi sebesar dijelaskan terhadap berat sedangkan yang tidak mengalami depresi tersebut eksesais penderita

20,00%.

Berdasarkan prevalensi tingkat

penelitian pengaruh pada

tingginya penurunan

depresi

skizofrenia. Sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk mempelajari pengaruh

terapi tertawa terhadap penurunan tingkat depresi pada pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Propinsi NTB.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Terapi Modalitas


1.

Pengertian Terapi Modalitas

Tertawa

adalah

terapi

yang

diyakini

mampu

membangkitkan semangat hidup, sekalipun dalam kondisi krisis. Tertawa terbukti pula menyehatkan karena

meningkatkan hormon endofrin dan menurunkan stress. Tertawa adalah kemampuan yang hanya dimiliki manusia. Tak ada makhluk lain yang bisa tertawa terbahak-

bahak, kecuali dalam film kartun. Terapi tertawa itu sama khasiatnya sebagai dengan yoga meditasi, tawa. sehingga ini sering juga

disebut

Terapi

meningkatkan kekebalan tubuh agar terhindar infeksi, alergi tekanan penyakit dan kanker. Selain itu, dapat menurunkan

darah

tinggi,

mencegah

serta

mengendalikan darah, dan

jantung, pasokan

memperbaiki oksigen ke

sirkulasi seluruh sakit,

meningkatkan otak. Juga

tubuh

menghilangkan

rasa

mempercepat

penyembuhan penyakit serta menangkal stres. "Terapi tertawa membuat hidup lebih sehat, tenang dan nyaman. Selain itu, terapi ini mampu menggetarkan otak

pada frekuensi gelombang alfa (Armand Archisaputra, 2007).


9

Tawa adalah penangkal stress yang paling baik, murah, mudah, salah satu cara terbaik untuk dan

mengendorkan

otot,

memperlebar

pembuluh

darah

mengirim lebih banyak darah hingga ke ujung-ujung dan

10

ke semua otot di seluruh tubuh. Satu putaran tawa yang bagus juga mengurangi tingkat hormon stress,

bisa dikatakan tawa adalah sebentuk meditasi dinamis dan relaksasi (Kataria 2004).
2.

Jenis-jenis terapi tertawa menurut Kataria(2004). a. Terapi tertawa menarik nafas dalam Sesi dalam tangan dilakukan dimulai ketika dan peserta menarik nafas

melalui keatas

hidung

sekaligus kelangit. gerakan

mengangkat Pernafasan tangan dan

mengarah sesuai

berirama

peserta menghirup udara sebanyak mungkin ke dalam paru-paru, kemudian menahannya sekitar Selanjutnya, dihembuskan nafas dengan secara perlahan 4-5 detik. dan berirama ke

menurunkan

tangan

kembali

posisi normal. Peserta bisa bernafas melalui hidung atau lebih baik melalui mulut sambil mengerutkan bibir, seolah sedang bersiul. Cara ini sesuai

dengan pernafasan dalam yoga, dimana hembusan nafas diperpanjang nafas. b. Terapi tertawa sapaan hampir dua kali lipat lama tarikan

11

Kembali

sesuai

aba-aba

koordinator,

para

peserta saling mendekat dan menyapa satu sama lain dengan gerakan tertentu, sambil tertawa dengan nada menengah bergerak dan tetap menjaga dan kontak bertemu mata orang ketika yang

berkeliling

berbeda. Orang bisa berjabat tangan dan memandang mata orang yang disapa sambil tertawa pelan (cara menyapa ala barat). Cara menyapa ala India adalah dengan mengatupkan kedua tangan (tawa Namaste).

Adap dengan mendekatkan satu tangan ke wajah (cara orang muslim saling menyapa) atau peserta bisa

membungkuk

sebatas

pinggang

dan

tertawa

sembari

memandang mata orang yang disapanya (cara Jepang). c. Terapi tertawa bersemangat Setelah latihan Ho-Ho Ha-Ha-Ha, jenis tawa yang pertama adalah tawa bersemangat. Untuk

mengawali semua jenis tawa, koordinator memberikan aba-aba secara 1,2,3 dan setiap Cara ini peserta mulai tertawa yang

bersamaan.

membentuk

irama

bagus dan dampaknya jauh lebih baik dari pada jika para peserta tertawa pada saat yang berbeda. Dalam tawa bersemangat, orang tertawa sambil mengangkat tangan ke atas dan tertawa penuh semangat. Peserta

12

tidak terus-menerus selama tawa bersemangat. Angkat tangan ke atas selama beberapa saat lalu turunkan dan angkat lagi. Di akhir tawa bersemangat,

koordinator mulai bertepuk tangan dan mendaraskan Ho-Ho Ha-Ha-Ha sebanyak lima sampai enam kali. Hal ini menandai berakhirnya jenis tertawa tertentu,

yang diikuti dengan dua tarikan nafas dalam. d. Terapi tertawa bersenandung dengan bibir tertutup Dalam jenis tawa ini, bibir di katupkan dan peserta berusaha tertawa saat mengeluarkan suara

senandung hmmmmm yang bergema di seluruh kepala. Peserta saling dapat terus saling pandang, mereka bisa

berjabat

tangan

atau

melakukan

gerakan

apapun yang bersipat main-main.

e. Terapi tertawa memaafkan atau meminta maaf Tawa ini adalah jika anda bertengkar dengan seseorang, anda harus minta maaf. Betapa pentingnya mengatakan peserta maaf. Dalam kedua tawa meminta maaf, para

memegang

cuping

telinga,

dengan

13

menyilang tertawa.

lengan

dan

kemudian

berlutut

lalu

f. Terapi tertawa dari hati kehati (tawa keakraban)

Tawa

ini

di

lakukan

terakhir

setelah

semua

jenis tawa di lakukan. Di sini semua peserta saling mendekat dan berpegangan tangan serta tertawa

dengan tatapan penuh bela rasa. Mereka dapat saling berjabat tangan atau memeluk saat tertawa jika

merasa hal itu pantas di lakukan. Tawa ini juga di kenang sebagai tawa keakraban. 3. Model baru sesi terapi tertawa Ada 15 langkah model baru sesi terapi tertawa : Lama : 20-30 menit (maksimum) setiap putaran tawa

berlangsung selama 30-40 detik, diikuti dengan tepuk tangan dan latihan ho ho ha ha ha. Tarik nafas dalam dua kali setelah setiap tawa. Langkah 1 : Bertepuk tangan selama 1-2 1-2-3

sambil mendaras Ho-Ho Ha-Ha-Ha Langkah 2 : Pernafasan melalui pelan. dalam dengan dan tarikan nafas pelan-

hidung

dihembuskan

(bersamaan

kata-kata

penyembuhan,

14

memaafkan,

melupakan,

hidup

dan

tetap

hidup) sebanyak 5 kali. Langkah 3 : Latihan bahu, leher dan peregangan

(masing-masing 5 kali) Langkah 4 : Tawa kedua bersemangat-tawa belah lengan di dengan udara mengangkat dan kepala

agak mendongak ke belakang. Rasakan seolah tawa langsung keluar dari hati anda. Langkah 5 : Tawa sapaan-mengatupkan kedua telapak

tangan dan menyapa ala India atau berjabat tangan dengan sedikitnya 4-5 orang anggota kelompok. Langkah 6 : Tawa penghargaan-bentuk bentuk sebuah

lingkaran kecil dengan telunjuk dan ibu jari anda sambil memutar membuat gerakan anda sedang memberikan penghargaan anda atau

memuji tertawa.

anggota

kelompok

sambil

Langkah 7 : Tawa satu meter : gerakan satu tangan di sepanjang bentangan lengan anda yang lain (seperti merentangkan busur untuk

melepaskan anak panah). Tangan digerakkan

15

dalam

tiga

gerakan

cepat

sambil

mendaraskan AeAeAeeeedan kemudian para peserta tertawa sambil merentangkan kedua lengan dengan sedikit mendorongkan kepala serta tertawa dari perut (ulangi 4 kali). Langkah 8 : Tawa hening tanpa suara : bukalah mulut anda lebar-lebar dan tertawalah tanpa

mengeluarkan suara sambil saling menatap dan membuat gerakan-gerakan lucu. Langkah 9 : Tawa bersenandung dengan mulut tertutuptertawa dengan mulut suara bersenandung kelompok dan tertutup dan

mengeluarkan hmmmmmmmmmmmsaat bergerak dalam

senandung teruslah berjabat

tangan dengan orang yang berbeda. Langkah 10 : Tawa mengayun-berdirilah dalam lingkaran dan bergerak ketengah sambil mendaras

AeeOooEeeUu. Langkah 11 : Tawa dengan singa-julurkan mata terbuka lidah lebar sepenuhnya dan tangan

teracung seperti cakar singa dan tertawa dari perut.

16

Langkah 12 : Tawa

ponsel-berpura

puralah

memegang

sebuah hp dan coba untuk tertawa, sambil membuat tangan berbagai serta gerakan kepala dan dan

berkeliling

berjabat

tangan dengan orang yang berbeda. Langkah 13 A : Tawa bertahan-tertawa sambil

menudingkan jari ke beberapa kelompok seolah sedang berbantahan. Langkah 13 B : Tawa memaafkan atau tawa minta maaf

langsung sesudah tawa bantahan, pegang kedua cuping telinga anda dan tertawa sambil menggelengkan kepala anda (ala India) atau angkat kedua telapak tangan anda seolah anda minta maaf. Langkah 14 : Tawa bertahap-tawa bertahap dimulai

dengan tersenyum, perlahan tambah tawa kecil dan intensitas tawa semakin

ditingkatkan. Lalu para anggota secara bertahap melakukan tawa bersemangat

kemudian perlahan-lahan melirihkan tawa berhenti.

17

Langkah 15

: Tawa dari hati ke hati tawa keakraban mendekat serta dan berpegangan Tertawa atau tanganlah saling apapun

tertawa. tangan

bisa

berjabat

memeluk,

yang terasa nyaman. Tehnik penutupan : Meneriakkan tiga selogan Aku orang paling bahagia di dunia iniYA, Aku orang paling sehat di dunia iniYA, Aku anggota klub tawaYA, Yang terpenting: Diakhir sesi semua anggota berdiri dengan mata

terpejam selama satu menit dengan lengan terpentang kearah atas, mengharapkan perdamaian dunia. 4. Manfaat terapi tertawa untuk kesehatan Orang menderita beraneka macam penyakit yang

berhubungan dengan stress dengan cara tertentu telah merasakan menyatakan manfaat bahwa sesi ada tawa, tetapi kronis kami yang tidak telah

penyakit

18

disembuhkan

terapi

tertawa.

Tawa

lebih

merupakan

terapi pelengkap dan pencegahan (Kataria 2004). a. Antistres Tertawa baik, adalah penangkal salah stress satu yang cara paling untuk

murah,

mudah,

mengendorkan otot, memperlebar pembuluh darah dan mengirim lebih banyak darah hingga ke ujung-ujung dan kesemua otot diseluruh tubuh. Satu putaran tawa juga mengurangi tingkat hormon, stres, epinephrine dan kortisol. Bisa dikatakan tawa adalah sebentuk meditasi dinamis atau relaksasi.
b. Memperkuat sistem kekebalan tubuh

Sistem kekebalan memainkan peranan yang sangat penting dalam menjaga kesehatan tubuh dan menjauhkan diri dari infeksi, alergi dan kanker. Telah

dibuktikan oleh para psikoneuroimunologi bahwa semua emosi negative, seperti kecemasan, depresi atau

kemarahan akan memperlemah sistem kekebalan tubuh dan dengan demikian mengurangi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. Menurut Dr. lee S. Berk dari

universitas Loma Linda, California,AS, tawa membantu meningkatkan jumlah sel-sel pembunuh alami (sel NK-

19

semacam antibody. setelah mengalami

sel

putih)

dan

juga telah

menaikkan menemukan para

tingkat bahwa, peserta A)

Para

peneliti terapi

mengikuti

tertawa,

peningkatan

antibody

(immunoglobulin

dalam lendir di hidung dan saluran pernafasan, yang dipercaya mempunyai kemampuan melawan virus, bakteri dan mikroorganisme lain.
c. Latihan aerobik terbaik

Sebuah manfaat yang didapat oleh hampir setiap orang selama adalah lima perasaan belas enak. Setelah mereka obat tertawa merasa pagi segar

menit, ada

sepanjang

hari.

Tidak

semanjur

tertawa,

yang bisa memberi anda hasil yang langsung terasa. Penyebab perasaan enak ini adalah karena anda

menghirup lebih banyak oksigen saat tertawa. Tawa bisa dibandingkan dengan aerobic, hanya saja anda tidak perlu memakai sepatu atau pakaian khusus. Anda tidak perlu mengucurkan banyak keringat diatas jalur jogging.
5. Depresi, kecemasan dan gangguan psikosomatis

Stress

dan

tekanan

kehidupan

modern

berdampak

buruk terhadap pikiran dan tubuh manusia. Penyakit-

20

penyakit yang berhubungan dengan pikiran, seperti : kecemasan, mengalami orang yang depresi, gangguan Tawa obat syaraf telah anti lebih dan insomnia banyak obat dan

peningkatan. menggunakan Sekarang

membantu depresi mudah

dan tidur

penenang.

mereka

mengalami penurunan tingkat depresi. Orang-orang yang mempunyai harapan. 6. Tekanan darah tinggi dan penyakit jantung Ada sejumlah penyebab tekanan darah tinggi dan penyakit kegemukan, berlebihan. jantung, merokok Tetapi seperti dan stress faktor keturunan, lemak satu yang faktor kecendrungan bunuh diri mulai mendapat

mengkonsumsi adalah salah

yang dominan. Tawa memang membantu mengontrol tekanan darah dengan mengurangi pelepasan hormon-hormon yang berhubungan relaksasi. Dalam eksperimen telah dibuktikan bahwa terjadi penurunan 10-20 mm tekanan setelah seorang penderita mengikuti 10 menit sesi tawa. Demikian juga jika anda beresiko tinggi menjadi penderita penyakit jantung, dengan stress dan dengan memberikan

tawa bisa menjadi obat pencegahan yang terbaik.

21

7. Membuat anda tampak lebih muda Orang melakukan latihan untuk semua otot tubuh, tetapi tidak ada latihan teratur untuk otot-otot wajah kecuali dalam yoga. Tawa merupakan latihan yang sangat bagus untuk otot-otot wajah anda. Tawa mengencangkan otot-otot Ketika wajah dan wajah memperbaiki anda eksperesi merah wajah. karena

tertawa,

tampak

peningkatan pasokan darah yang menyegarkan kulit wajah dan membuat kulit wajah tampak cerah. Orang-orang yang suka tertawa tampak lebih ceria dan menarik. Ketika anda menekan kelenjar air mata dengan tertawa, mata anda menjadi basah dan tampak berkilauan. Tawa melatih otot-otot perut dan membantu mengencangkan mereka yang berperut gendut. 8. Mengurangi bronchitis dan asma Tawa merupakan salah satu latihan terbaik untuk mereka yang menderita asma dan bronchitis. Tawa otot-otot

meningkatkan kapasitas paru-paru dan tingkat oksigen dalam darah. Para dokter menyarankan fisioterapi dada untuk mengeluarkan lender (dahak) dari saluran

pernafasan. Meniup ke dalam sebuah alat atau balon merupakan salah satu latihan yang bisa diberikan

kepada penderita asma. Tawa melakukan hal yang sama

22

dan cara ini lebih mudah dilakukan serta nyaris tanpa ongkos. Terapi tawa bisa menyebabkan ketidaknyamanan bila anda menderita penyempitan saluran pernafasan

yang parah.
9. Penyakit yang tidak boleh mengikuti terapi tertawa

Sementara menderita

itu

ada

beberapa

orang

yang

mungkin

penyakit

tertentu

tanpa

memperlihatkan

gejala yang jelas. Agar bisa memperhitungkan efek-efek samping yang mungkin terjadi (Dr.Madan Ktaria 2004). a. Hernia Hernia adalah menonjolnya isi perut beberapa bagian usus. Khususnya usus kecil melalui otot

dinding perut yang melemah. Bagi mereka yang pernah menjalani operasi perut menjadi titik yang terlemah. Bila berulang kali terjdi peningkatan tekanan

didalam perut, seseorang bisa terkena hernia irisan.

b. Wasir parah Mereka yang menderita wasir dengan pendarahan aktif atau mereka yang wasirnya menonjol keluar

anus, tidak boleh bergabung dalam terapi tertawa,

23

karena

kondisi

ini

bisa

diperburuk

dengan

bertambahnya tekanan pada perut. Psien wasir bisa mengikuti terapi tertawa setelah dilakukan operasi atau perawatan lain. c. Penyakit jantung dengan sesak nafas Orang yang sesak nafas karena gangguan jantung tidak boleh mengikuti terapi tertawa tanpa

berkonsultasi dengan dokter mereka,atau lebih baik lagi,dengan seorang kardiolog. d. Baru menjalani operasi Untuk amannya, seseorang sebaiknya tidak

mengikuti terapi tertawa selama periode tiga bulan setelah menjalani operasi besar apa pun, khususnya operasi di bagian perut dan harus dengan persetujuan dokter. e. Kehamilan Pada kemungkinan sebagian kecil bila wanita hamil kali terdapat terjadi

kuguguran

berulang

peningkatan tekanan di dalam perut mereka sebaiknya tidak mengikuti terapi tawa sampai data penelitian yang sahih mengenai dampak tertawa pada kehamilan.

24

B. GANGGUAN JIWA 1. Pengertian Gangguan Jiwa Gangguan jiwa adalah sindroma atau pola prilaku atau pola psikologi seseorang yang secara klinik

bermakna dan secara khas berkaitan dengan satu gejala penderitaan (distress) atau adanya

(impairment/disability) didalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia. Sebagai dalam segi tambahan, perilaku

disimpulkan

bahwa

disfungsi

psikologi atau biologi dan ganagguan itu tidak sematamata terletak didalam hubungan antara orang itu dengan masyarakat (Muslim, 2002). Gangguan jiwa adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya

gangguan fungsi jiwa yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam peran sosialnya

(Depkes RI, 2002). 2. Pembagian atau penggolongan gangguan jiwa Menurut Depkes RI (1995), gangguan jiwa a. Gangguan penggunaan psikoaktif b. Gangguan psikotik c. Gangguan neurotik yaitu :

25

d. Gangguan kepribadian e. Retardasi mental f. Gangguan kesehatan anak dan remaja 3. Penatalaksanaan pasien dengan gangguan jiwa a. Terapi biologis
1) Mendika mentosa/psikofarmaka/obat psikotropik. 2) Terapi kejang listrik (ECT) b. Psikoterapi suportif atau psikoterapi singkat, yaitu

terapi yang menangani gejala pasien dan memperkuat mekanisme pertahanan dirinya dengan : 1) Rasurence 2) Sugesti
3) Ventilasi c. Terapi sosial

Dengan menipulasi lingkung C. DEPRESI 1. Pengertian depresi

26

Menurut (Hawari, 2001) depresi adalah salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan (affektif mood disorder), yang ditandai gairah dengan kemurungan, tidak

kelesuan,

ketiadaan

hidup,

perasaan

berguna, putus asa dan lain sebagainya. Depresi menurut PPDGJ III adalah suatu gangguan perasaan depresif, yang mempunyai gejala dan utama afek yang serta

kehilangan

minat

kegembiraan

berkurangnya energi yang menuju keadaan mudah lelah dan menurunnya efektivitas ditambah gejala lainnya. Gangguan alam perasaan tersebut (mood disorder) dalam kurun ke waktu tertentu lain bisa berubah dari satu saat

episode penderita

episode dalam

(bipolar), manik

suatu

masuk

episode

(berperilaku

hiperaktif, agitasi dan cemas) pada saat lain masuk dalam episode depresif diri). neurotik Sedangkan merupakan (perilaku hipoaktif, menarik distemik alam atau depresi yang

gangguan gangguan

perasaan

bersifat menahun atau kronis, pada orang dewasa jangka waktu minimal dua tahun mengalami gangguan ini

(Hawari, 2001). 2. Gejala klinis depresi

27

Secara

lengkap

gejala

klinis

depresi

adalah

sebagai berikut :
a. Afek disforik, yaitu persaan murung, sedih, gairah

hidup menurun, tidak semangat, merasa tidak berdaya.


b. Perasaan bersalah, berdosa, penyesalan

c. Nafsu makan menurun d. Berat badan menurun


e. Konsentrasi dan daya ingat menurun f. Gangguan tidur : insomnia (sukar/tidak dapat tidur)

atau sebaliknya hipersomnia (terlalu banyak tidur). Gangguan ini sering kali disertai dengan mimpi-mimpi yang menyenangkan, misalnya mimpi orang yang telah meninggal.
g. Agitasi

atau

retardasi

psikomotor

(gaduh

gelisah

atau lemah tak berdaya).


h. Hilangnya

rasa

senang,

semangat hobi,

dan

minat,

tidak

suka

lagi

melakukan

kreativitas

menurun,

produktivitas juga menurun.


i. Gangguan seksual (libido menurun) j. Pekiran-pikiran tentang kematian, bunuh diri

28

3. Pembagian Depresi

Menurut Hawari,(2001) yaitu : a. Depresi pasca kuasa Orang yang mempunyai jabatan adalah orang yang mempunyai kekuasaan, wewenang dan kekuatan (power). Orang yang kehilangan kekuasaan yang jabatan dan berarti orang yang

kehilangan artinya

kekuatan dan

(powerless) kini

sesuatu

dimiliki

dicintai

telah tiada(loss of love object). Dampak dari loss of love object ini adalah terganggunya keseimbangan mental emosional dengan munculnya berbagai keluhan fisik (somatik), kecemasan dan depresi. b. Depresi pasca stroke Di dalam pengalaman klinis serung dijumpai

bahwa pada pasien-pasien stroke selain gejala-gejala kelainan saraf (misalnya kelumpuhan alat gerak

ataupun otot-otot muka dan lain sebagainya), juga ditemukan mental-emosional misalnya depresi, apati, euphoria bahkan sampai mania. Gejala depresi yang ditimbulkannya itu sebagai akibat lesi

(kerusakan)pada susunan saraf pusat otak dan bisa juga akibat dari gangguan penyesuaian (adjustment

29

disorder)

karena

hendaya

(impairment),

fisik

dan

kognitif pasca stroke.


c. Depresi neurotik (gangguan distimik)

Depresi neurotik adalah suatu gangguan afek (mood) (mood) senang yang menahun atau semua dan mencakup gambaran atau afek rasa

depresif didalam

hilangnya atau hampir

minat semua

aktivitas

kehidupan sehari-hari dan waktu senggang yang biasa dilakukannya. depresi (beberapa gangguan sesudah kembali. Kadangkala itu seseorang yang mengalami tertentu dari

neurotik hari

pada beberapa

waktu-waktu minggu)

atau

bebas

tersebut(periode itu gangguan

normal),

namun akan

kemudian muncul

afektif

tadi

d. Depresi siklotimik Gangguan afektif lainnya adalah yang disebut dengan gangguan afektif siklotimik yang mirip dengan tipe kepribadian siklotimik. Gejala atau ciri-ciri gangguan ini termasuk kelompok depresi yang bercorak siklotimik, depresi oleh karena itu disebut pula sebagai depresi

siklotimik.

Seseorang

dengan

30

siklotimik paling sedikit dalam kurun waktu 2 tahun mengalami gangguan alam perasaan (affect/mood) ini, yang mencakup suatu saat yang bersangkutan dalam

episode depresif dan pada saat yang lain mengalami episode hipomanik. Diantara keduanya itu ia dapat dalam keadaan episode remisi (normal). Pada beberapa kasus lainnya kedua jenis episode itu dapat silih berganti atau bercampur atau tumpang tindih

(overlapping).
e. Depresi pasca napza

Orang yang menyalahgunakan NAPZA (Narkotika, alkohol karena dan yang zat adiktif) sering kali disebabkan dan

bersangkutan

mengalami

kecemasan

atau depresi. Dan untuk mengatasi kecemasan dan atau depresinya itu ia menggunakan NAPZA. Tetapi sebagian orang lainnya menggunakan NAPZA itu untuk kesenangan semata. Sebagaimana diketahui bahwa penyalahgunaan NAPZA dapat mengakibatkan Apabila yang ketagihan dan

ketergantungan.

bersangkutan

menghentikannya, maka ia dapat jatuh dalam keadaan kecemasan kembali dan atau memakai depresi. NAPZA, Oleh karena lama itu ia

lagi

semakin

semakin banyak

bertambah

takarannya

(dosis)dan

semakin

31

frekwensi

pemakaiannya. NAPZA akan

Penyalahgunaan mengakibatkan

dan

ketergantungan

gangguan

mental organik atau gangguan mental dan prilaku. 4. Psikodinamika Psikodinamika adalah asumsi yang dibuat oleh para ahli jiwa dan psikoanalisis, secara umum bahwa prilaku manusia, terutama masalah-masalah emosional terjadi

karena konflik bawah sadar dan insting dasar, yang komponennya terdiri atas : energy psikis (kateksis) merupakan kekuatan yang diperlukan untuk memfungsikan jiwa dan muncul dari dorongan (mis, insting); insting (dorongan) adalah gambaran atau keinginan psikologik yang sudah ada sejak lahir dan mencakup pelestarian diri dan spesies; ansietas merupakan respon terhadap konflik mekanisme besar bawah sadar atau ancaman mekanisme bekerja terhadap jiwa ego;

depresif

adalah yang

(sebagian ego

dibawah

sadar)

melindungi

(Isaacs, 2005). Dikemukakan kehilangan obyek bahwa yang setelah dicintai terjadinya pada peristiwa akan

penderita

terjadi perasaan yang sedih (efek depresif). Secara spontan akan timbul reaksi dari mekanisme pertahanan jiwa (defence mechanism) dari penderita untuk

32

mengatasi keberhasilan depresif

afek

depresif

tersebut. dalam (1979)

Berdasarkan afek

defence

mechanism cyrtyn

mengatasi membagi

tersebut,maka

proses

depresi menjadi tiga fase, yaitu : a. Fase pertama Pada kondisi ini defance mechanism masih mampu dalam mengatasi afek depresif, sehingga depresi baru

terjadi dalam bentuk fantasi (khususnya pada anak). Hal ini dapat diketahui lewat gambaran, tulisan

maupun cerita anak, yang pada umumnya mengambil tema tentang kesalahan, kehilangan, kesedihan, kekejaman, kematian dan bunuh diri. Fase ini sebagai tahap yang timbul paling awal dan hilang paling akhir. b. Fase kedua Tahapan ini terjadi apabila defence mechanism kurang efektif dalam mengatasi afek depresif. Depresi akan nampak dalam ekspresi verbal, baik secara spontan maupun Penderita harapan, dari menjawab pertanyaan-pertanyaan. tentang tidak adanya perasaan

mengemukakan tidak adanya

pertolongan,

bersalah, perasaan tidak bahagia dan perasaan tidak dicintai. Keadaan ini banyak terjadi pada depresi

33

berat yang bersifat akut dan depresi ringan yang bersifat kronis. c. Fase ketiga Terjadi apabila defence mechanism gagal untuk

mengatasi afek depresif. Depresi akan nampak pada perasaan dan tingkah laku anak. Manifestasi dari

keadaan ini berupa keterlambatan psikomotor, roman muka yang sedih, hiperaktif, agresif, kenakalan dan keluhan-keluhan somatik yang umumnya berkisar pada keluhan-keluhan sakit kepala, sesak nafas dan

keluhan tidak enak pada perut. Keadaan ini banyak didapat pada depresi berat yang bersifat kronis

(Isaacs, 2005).

5. Alat ukur derajat depresi Untuk seseorang mengetahui apakah sejauh mana derajat berat depresi berat

ringan,

sedang,

atau

sekali, orang menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal dengan nama Hamilton Rating Scale Depression (HDRS). Alat ukur ini terdiri dari 21 kelompok gejala

34

yang

masing-masing yang

kelompok lebih

dirinci

lagi

dengan

gejala-gejala

spesifik.

Masing-masing

kelompok gejala diberi penilaian angka (skore) antara 0-4, yang artinya adalah : Nilai 0 = tidak ada gejala(keluhan) 1 = gejala ringan 2 = gejala sedang 3 = gejala berat 4 = gejala berat sekali Penilaian atau pemakaian alat ukur ini dilakukan oleh dokter (psikiater) atau orang yang telah dilatih untuk menggunakannya melalui tehnik wawancara

langsung. Masing-masing nilai angka (skore) dari ke-21 kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan itu dapat diketahui derajat depresi

seseorang, yaitu : Total nilai (score) kurang dari 0 17 = tidak ada depresi. 18-24 = depresi ringan

35

25-34 = depresi sedang 35-51 = depresi berat 52-68 = depresi beratsekali Adapun hal-hal yang dinilai dalam alat ukur HDR-S ini adalah sebagai berikut : 1. Keadaan perasaan sedih, putus asa, tak berdaya, tak berguna: a. Perasaan ini hanya ada bila ditanya b. Perasaan ini dinyatakan secara verbal spontan c. Perasaan yang nyata tanpa komunikasi verbal, misalnya ekspresi muka, bentuk, suara, dan

kecendrungan menangis
d. Pasien

menyatakan

perasaan

yang

sesungguhnya

ini dalam komunikasi baik verbal maupun non verbal secara spontan.

2. Perasaan bersalah a. Menyalahkan diri sendiri, merasa sebagai

penyebab penderitaan orang lain

36

b. Ide-ide

bersalah

atau

renungan

tentang

kesalahan-kesalahan masa lalu c. Sakit ini sebagai hukuman, waham bersalah dan berdosa d. Suara-suara kejaran atau tuduhan dan halusinasi penglihatan tentang hal-hal yang mengancamnya 3. Bunuh diri a. Merasa hidup tak ada gunanya b. Mengaharapkan lain kearah itu c. Ide-ide bunuh diri atau langkah-langkah kearah itu d. Percobaan bunuh diri 4. Gangguan pola tidur (initial insomnia) a. Keluhan kadang-kadang sukar tidur, misalnya kematian atau pikiran-pikiran

lebih dari setengah jam baru masuk tidur b. Keluhan tiap malam sukar tidur 5. Gangguan pola tidur (middle insomnia)

37

a. Penderita

mengeluh

gelisah

dan

terganggu

sepanjang malam b. Terjadi sepanjang malam (bangun dari tempat

tidur kecuali bunag air kecil) 6. Gangguan pola tidur (late insomnia) a. Bangun lagi b. Bangun diwaktu dini hari tetapi tidak dapat diwaktu dini hari tetapi dapat tidur

tidur lagi 7. Kerja dan kegiatan-kegiatannya a. Pikiran/perasaan ketidakmampuan keletihan atau kelemahan yang berhubungan dengan kegiatan

kerja atau hobi


b. Hilangnya

minat

terhadap baik

pekerjaan/hobi langsung atau

atau tidak

kegiatan penderita

lainnya,

menyatakan

kelesuan,

keragu-raguan

dan rasa bimbang c. Berkurangnya bila waktu untuk aktivitas menurun,

penderita

tidak

sanggup

beraktivitas

38

sekurang-kurangnya 3 jam sehari dalam kegiatan sehari-hari d. Tidak bekerja karena sakitnya sekarang (dirumah sakit) sekali, bantuan 8. Kelambanan (lambat dalam berfikir, berbicara, bila penderita tidak bekerja sama tanpa

kecuali

tugas-tugas

dibangsal

gagal berkonsentrasi, aktivitas motorik menurun) a. Sedikit lamban dalam wawancara b. Jelas lamban dalam wawancara c. Sukar diwawancarai d. Stupor (diam sama sekali) 9. Kegelisahan (agitasi) a. Kegelisahan ringan b. Memainkan lain-lain c. Bergerak terus tidak dapat duduk dengan tenang d. Meremas-remas tangan, menggigit kuku, menariknarik rambut, menggigit-gigit bibir tangan atau jari-jari, rambut dan

39

10. Kecemasan (ansietas somatik) a. Sakit/nyeri otot, kaku, kedutan otot b. Gigi menggerutuk c. Suara tidak stabil
d. Tinitus (telinga berdenging)

11. Kecemasan (ansietas psikis) a. Ketegangan subyektif dan mudah tersinggung b. Menghawatirkan hal-hal kecil c. Sikap kehawatiran yang tercermin diwajah atau pembicaraannya d. Ketakutan yang diutarakan tanpa ditanya 12. Gejala somatic (pencernaan)
a. Nafsu makan berkurang tetapi dapat makan tanpa

dorongan teman, merasa perutnya penuh b. Sukar makan tanpa dorongan teman, membutuhkan pencahar untuk buang air besar 13. Gejala somatic (umum)

40

a. Anggota berat

gerak,

punggung

atau

kepala

terasa

b. Sakit punggung, kepala dan otot-otot hilangnya kekuatan dan kemampuan 14. Kelamin (genital) a. Sering buang air kecil, terutama dimalam hari dikala tidur b. Tidak haid, darah haid sedikit sekali c. Tidak ada gairah seksual (frigid) d. Ereksi hilang e. impotensi 15. Hipokondriasis berpindah-pindah) a. Pihayati sendiri b. Preokupasi sendiri c. Sering mengeluh membutuhkan pertolongan orang lain (keterpakuan) mengenai kesehatan (keluhan somatik/fisik yang

41

d. Delusi hipokondriasis 16. Kehilangn berat badan a. Berat badan berkurang berhubungan dengan

penyakitnya sekarang b. Kurang dari 0,5 kg seminggu c. Lebih dari 0,5 kg seminggu d. Tidak ternyatakan lagi kehilangan berat badan 17. Insight (pemahaman diri) a. Mengetahui sakit tetapi iklim, berhubungan makanan, dengan kerja

penyebab-penyebab berlebihan, virus 18. Variasi harian a. Adakah perubahan

atau

keadaan

yang

memburuk

pada waktu malam atau pagi


19. tderealisasi

(perasaan

tidak

nyata/tidak

realistis)

20. Gejala-gejala paranoit

42

a. Kecurigaan b. Pikiran dirinya menjadi pusat perhatian,

kejadian diluar tertuju pada dirinya c. Waham kejaran 21. Gejala-gejala obsesi dan kompulsi 6. Terapi Psikofarmaka Yang dimaksud dengan terapi psikofarmaka adalah pengobatan untuk stress, depresi atau cemas dengan

mengguanakan memulihkan

obat-obatan fungsi

(farmaka) gangguan

yang

berfungsi

neurotransmitter

(penghantar signal saraf) disusunan saraf pusat otak (limbic bagian system). dalam System yang limbic tersebut merupakan alam

otak

berfungsi

mengatur

pikiran, alam perasaan dan perilaku atau dengan kata lain mengatur fungsi psikis (kejiwaan) seseorang. Cara kerja psikofarmaka adalah dengan jalan memutuskan

jaringan atau sirkuit psiko-neuroimunologi, sehingga stressor psikososial yang dialami oleh seseorang tidak lagi mempengaruhi fungsi kognitif, afektif, psikomotor dan organ-organ tubuh lainnya.

43

Terapi psikofarmaka yang banyak digunakan adalah golongan anti anti cemas (anti (anxiolytic) depressant) dan yang obat juga golongan berefek

depresi

terapi pada kondisi stress. Efek terapi anatidepresan memerlukan waktu yang relatif lebih lama yakni 2-3 minggu, dengan perbaikan klinis minimal 60-70% (Kaplan dan Sadock, dikutip Habil, 1995). Gejala-gejala sering kali stress, tumpang kecemasan tindih dan depresi

berbaur,

(overlapping),

jarang dijumpai penderita dengan stress murni tanpa disertai kecemasan dan atau depresi, demikian pula

dengan gejala-gejala fisik (somatic) sebagai penyerta (co-morbidity). Karena itu penderita dengan stress

sering emndapati terapi yang merupakan kombinasi obat anti cemas dan depresi (Hawari, 2001). 7. Psikoterapi Menurut mengalami diberikan depresi) kejiwaan Hawari (2001), kecemasan Pada atau (anti juga penderita depresi cemas yang selain anti

stress, terapi dan

psikofarmaka somatik, yang

dan

terapi

diberikan

terapi

(psikologik)

dinamakan

psikoterapi.

44

Psikoterapi banyak jenisnya tergantung dari kebutuhan baik individual maupun keluarga, misalnya : a. Psikoterapi suportif Dengan terapi ini dimaksudkan dan dorongan putus untuk agar asa memberikan pasien dan yang

motivasi,

semangat tidak

bersangkutan

merasa

diberi

keyakinan serta percaya diri (self confidence) bahwa ia mampu mengatasi stressor psikososial yang sedang dihadapinya. b. Psikoterapi re-edukatif Dengan terapi ini dimaksudkan memberikan pendidikan ulang dan koreksi bila dinilai bahwa ketidakmampuan mengatasi stress, kecemasan dan depresinya itu

dikarenakan faktor psiko-edukatif masa lalu dikala yang bersangkutan dalam periode

anak dan remaja. Dari terapi ini diharapkan yang bersangkutan mampu mengatasi stressor psikososial

yang sedang dihadapinya. c. Psikoterapi re-konstruktif Dengan kembali terapi ini dimaksudkan untuk memperbaiki yang telah

(re-konstruksi)

keperibadian

45

mengalami goncangan akibat stressor psikososial yang tidak mampu diatasi oleh pasien yang bersangkutan. d. Psikoterapi kognitif Dengan fungsi berfikir terapi kognitif secara ini dimaksudkan yaitu untuk memulihkan untuk daya

pasien, rasional,

kemampuan dan

konsentrasi

ingat. Selain dari pada itu yang bersangkutan mampu mambedakan nilai-nilai moral etika mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dan mana yang tidak dan mana yang haram dan mana yang halal. e. Psikoterapi psiko-dinamik Dengan terapi ini dimaksudkan untuk menganalisa dan menguraikan proses dinamika kejiwaan yang dapat

menjelaskan mengapa seseorang itu tidak mampu menghadapi stressor psikososial sehingga ia jatuh sakit (stress, cemas dan atau depresi). Dengan mengetahui dinamika psikologis itu diharapkan yang bersangkutan mampu mencari jalan keluarnya.
f. Psikoterapi perilaku

Dengan

terapi

ini

dimaksudkan

untuk

memulihkan

gangguan perilaku yang mal adaptif (ketidakmampuan

46

beradaptasi)

akibat

stressor

psikososial

yang

dideritanya. Dari terapi ini diharapkan pasien yang bersangkutan dapat beradaptasi dengan kondisi yang baru sehingga bisa berfungsi kembali secara wajar dalam kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di

sekolah/di kampus, di tempat kerja dan di lingkungan sosialnya. g. Psikoterapi keluarga Seseorang kecemasan dapat dan jatuh dalam yang keadaan stress, oleh

atau

depresi

disebabkan

stressor psikososial faktor keluarga. Dengan terapi ini dimaksudkan agar untuk faktor memperbaiki keluarga hubungan tidak lagi

kekeluargaan,

menjadi faktor penyebab dan faktor keluarga dapat dijadikan bagi pemulihan terapi pasien ini sebagai factor pendukung yang tidak bersangkutan. hanya ditujukan Dengan pada

demikian

pasien yang bersangkutan saja,tetapi juga terhadap anggota keluarga lainnya. Secara umum tujuan dari berbagai jenis

psikoterapi sebagaimana diuraikan dimuka adalah untuk memperkuat struktur keperibadian, percaya diri,

47

ketahanan dan kekebalan baik fisik maupun mental serta kemampuan beradaptasi dan menyelesaikan stressor

psikososial pada diri seseorang secara mandiri.

D. SKIZOFRENIA 1. Pengertian Skizofrenia Skizofrenia adalah reaksi psikotik yang

mempengaruhi berbagai area fungsi individu, termasuk berfikir dan berkomunikasi, menerima dan

menginterpretasikan realitas merasakan dan menunjukkan emosi dan berperilaku dengan sikap yang dapat diterima secara social (Isaacs, 2005). Skizofrenia merupakan

bentuk psikosis fungsional yang paling berat yang merupakan dan menimbulkan disorganisasi 1995). yang

personalitas Skizofrenia,

terbesar suatu

(Ingram, bentuk psikosa

sering dijumpai dimana-mana (Maramis, 2005). 2. Etiologi Skizofrenia a. Keturunan Dapat dipastikan bahwa factor keturunan

menentukan timbulnya skizofrenia. Hal ini dibuktikan

48

dengan

penelitian

tentang

keluarga-keluarga

penderita skizofrenia dan terutama anak-anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi saudara tiri adalah 0,9%-1,8%, saudara kandung 7-15%,anak dengan salah satu orang tua menderita skizofrenia 7-16%, bila

kedua orang tua menderita skizofrenia 40-68%, kembar dua telur (heterozigot) 2-15% kembar satu telur

(monozigot) 61-86 %. b. Endokrin Dulu gangguan dengan skizofrenia endokrin. diduga ini disebabkan muncul pada oleh

Teori

berhubungan pubertas,

timbulnya

skizofrenia

saat

waktu kehamilan atau masa kehamilan.

c. Metabolisme

Ada

orang

yang

menyangka

bahwa

skizofrenia karena

disebabkan

oleh

gangguan

metabolisme,

penderitanya tampak pucat atau tidak sehat. Ujung ekstremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun. Hipotesisa ini tidak dibenarkan

49

oleh banyak sarjana, namun sekarang mulai mendapat perhatian lagi berhubungan dengan penelitian dengan obat holosinigenik seperti meskalin dan ini asam dapat

lasergik,

diethilemida.

Obat-obatan

menimbulkan gejala-gejala yang mirip dengan gejalagejala skizofrenia, tetapi reversible. Mungkin

skizofrenia disebabkan oleh suatu inborn error of metabolism, tetapi hubungan ini belum ditemukan. d. Susunan saraf pusat 3. Gejala-gejala Skizofrenia Isaacs (2005) mengatakan bahwa gejala-gejala

skizofrenia terdiri dari : a. Waham Keyakinan yang keliru sangat kuat yang tidak dapat dikurangi dengan logika.

b. Asosiasi longgar Kurangnya hubungan yang logis antara fikiran dan

gagasan yang dapat tercermin pada beebagai gejala.

50

c. Halusinasi yaitu persepsi yang keliru dan melibatkan panca indera. d. Ilusi yaitu salah menginterpretasikan stimulus. e. Depersonalisasi yaitu individu merasa bahwa dirinya sudah berubah secara mendasar. f. Afek datar yaitu tidak adanya respon emosional. g. Ambivalen emosi yang yaitu adanya konflik individu atau pertentangan menentukan

menyebabkan

sulit

pilihan. h. Avolisi yaitu kurangnya motivasi untuk melanjutkan aktifitas yang berorientasi pada tujuan. i. Ekopraksi sadar.
j. Alogia yaitu berkurangnya pola bicara.

yaitu

meniru

tindakan

orang

lain

tanpa

4. Pembagian Skizofrenia Menurut Kreaplin(dalam Maramis 2005), yaitu : a. Skizofrenia simplexi Sering kali timbul pertama kali pada masa

pubertas. Gejala utama skizofrenia jenis ini adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan

51

proses

pikir

biasanya jarang

sukar

ditemukan,

waham

dan pada

halusinasi permulaannya

ditemukan, akan

dimana mulai

penderita

kurang

memperhatikan keluarga atau mulai menarik diri dari pergaulan. b. Skizofrenia hebefrenik Skizofrenia ini biasanya terjadi secara perlahanlahan atau sub akut dan sering timbul pada masa remaja atau umur antara 15-25 tahun. Gejala yang menyolok kemauan adalah dan gangguan proses piker, atau gangguan double

adanya

personalisasi

personality. Gejala lain yang timbul yaitu gangguan psikomotor misalnya berperilaku seperti anak-anak

serta waham dan halusinasi. c. Skizofrenia katatonik Timbul pada umur antara 15-30 tahun biasanya akut serta sering didahului oleh stress emosional. Hal ini mungkin terjadi akibat adanya gaduh gelisah

katatonik atau stupor katatonik. d. Skizofrenia paranoid

52

Gejala

yang

timbul

pada

skizofrenia

jenis

ini

biasanya bersifat konstan, dimana gejala-gejalanya yang menyolok adalah waham primer yang disertai

dengan waham-waham sekunder serta halusinasi. e. Skizofrenia residual Suatu keadaan skizofrenia dengan gejala-gejala

primernya bleurer, tetapi tidak jelas gejala-gejala sekundernya. Keadaan ini akan timbul setelah

beberapa kali serangan skizofrenia. f. Episode skizofrenia akut Gejala skizofrenia jenis ini akan timbul mendadak dimana pasien merasa seperti dalam mimpi. Dalam

keadaan ini timbul perasaan seakan-akan dunia luar dan dirinya sendiri berubah, semuanya seakan-akan mempunyai suatu arti yang khusus baginya (keadaan oneroid).
g. Skizofrenia skizo-afektif

Di samping gejala-gejala skizofrenia yang menonjol terdapat juga gejala-gejala depresi (skizo-depresip) atau gejala-gejala mania (skizo-manik). Skizofrenia

53

jenis ini cendrung akan sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga timbul serangan lagi. 5. Pengobatan Pengobatan harus secepat mungkin dilakukan karena keadaan psikotik yang lama akan menimbulkan

kemungkinan yang lebih besar, dimana penderita akan mengalami kemunduran mental. Pengobatan yang dapat

diberikan yaitu :
a. Farmakoterapi

Neuroleptika dengan dosis rendah lebih bermanfaat pada pasien dengan skizofrenia yang menahun,

sedangkan dosis tinggi lebih bermanfaat bagi pasien dengan psikomotorik yang meningkat. Pasien dengan skizofrenia menahun diberikan neuroleptika dalam

jangka waktu yang tidak ditentukan lamanya dengan dosis yang naik turun sesuai keadaannya. b. ECT Electro Confulsif terapi (ECT) (Electro Confulsif Therapy) kejang adalah grand suatu mal

pengobatan

untuk

menimbulkan

secara arifisial dengan melewatkan aliran listrik melalui elektrode yang dipasang pada satu atau dua Teples. Jumlah yang paling umum dilakukan pada

54

pasien dengan gangguan afektif antara 6 - 12 kali, sedangkan pada pasien skizofrenia biasanya diberikan sampai 30 kali. Indikasi utama pemberian ECT adalah untuk depresi berat, disamping gangguan bipolar dan skizofrenia (Stuart & Sundeen,1998). c. Terapi koma insulin Terapi ini tidak khusus, bila diberikan pada

permulaan penyakit hasilnya memuaskan. Terapi koma insulin juga akan memberikan hasil yang baik juga pada skizofrenia katatonik dan paranoid. d. Psikoterapi dan rehabilitasi Psikoterapi psikoterapi yang dapat membentu pasien atau adalah

suportif

individual

kelompok.

Terapi kerja juga sangat baik untuk mendorong pasien bergaul lagi dengan pasien lain, perawat dan dokter.
6. Prognosa

Dahulu bila diagnosa skizofrenia dibuat, maka ini berarti bahwa sudah tidak ada harapan bagi orang yang bersangkutan dimana keperibadiannya selalu akan

mengalami kemunduran mental (disorientasi mental). Dan bila pasien dengan skizofrenia menjadi sembuh maka

diagnosanya harus diragukan.

55

56

A. KERANGKA KONSEP

Pasien Skizofrenia

HDR-S

Tingkat Depresi

Pemberian terapi : Bertambahnya produksi endoprine Perasaan senang,gembira,me ningkatkan semangat dan gairah hidup Menekan rasa nyeri Relaksasi Daya tahan stress meningkat Intensitas depresi menurun

1. Terapi Tertawa 2. 3. 4. Farmako terapi psikoterapi ECT

1. Tidak ada depresi 2. Depresi ringan 3. Depresi sedang 4. Depresi berat 5. Depresi berat sekali

Keterangan : : variabel yang diteliti : variabel yang tidak diteliti

57

Gambar. 3.1 Kerangka konsep Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Penurunan Tingkat Depresi Pada Pasien Skizofrenia

B. HIPOTESA Hipotesa adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan peneliti, sampai terbukti melalui data yang dikumpulkan (Arikunto, 2006). Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah, maka dapat diajukan suatu hipotesis yaitu: Ha :Terapi Tertawa Berpengaruh Terhadap Penurunan Tingkat Depresi Pada Pasien Skizofrenia Ho :Terapi Tertawa tidak berpengaruh terhadap Penurunan Tingkat Depresi Pada Pasien Skizofrenia

58

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat eksperimen (eksperimen research) adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan mengurangi oleh atau peneliti menyisihkan dengan mengeliminasi lain atau yang

faktor-faktor

mengganggu. Eksperimen selalu dilakukan dengan maksud untuk melihat akibat suatu perlakuan (Arikunto, 2006).

A. SUBYEK PENELITIAN Penelitian Propinsi dan ini yang dilaksanakan menjadi di Ruman Sakit Jiwa

subyek

penelitian

adalah

penderita skizofrenia dengan gejala depresi yang sedang menjalani rawat inap.

59

B. POPULASI DAN SAMPEL 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian

(Arikunto, 2006). Populasi dalam penelitian ini adalah penderita skiofrenia yang ada di ruang rawat inap yaitu diruang Mawar, Angsoka, Plamboyan, melati dan diruang Dahlia di Rumah Sakit Jiwa Propinsi yang berjumlah 35 orang. 2. Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006). Penelitian ini menggunakan tehnik porposive sampling yaitu suatu tehnik

penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan dalam yang dikehendaki sehingga peneliti sampel yang

(tujuan/masalah tersebut dapat

penelitian),

mewakili

karakteristik

populasi

telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2003). 1) Kriteria inklusi Merupakan karakteristik umum subjek penelitian

dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2003).

60

a) Penderita dengan diagnosa medis skizofrenia

b) Penderita dengan tingkah laku yang dapat diajak bekerja sama c) Pendidikan SD keatas atau tidak buta huruf
d) Menjalani rawat inap diruang mawar, angsoka

e) Tidak

dalam

tahap

pemberian

Elektro

Kompulsif

Terapi (ECT) f) Tidak dalam tahap pemberian anti depresan atau 45-52 jam setelah pemberian obat anti depresan.
g) Hasil

pemeriksaan

HDR-S

menunjukkan

adanya

depresi (yang menunjukkan tingkat depresi). 2) Kriteria ekslusi Dalam penelitian ini kriteria ekslusinya adalah sebagai berikut : a) Penderita skizofrenia yang tidak bersedia menjadi responden (menolak menjadi responden) b) Penderita skizofrenia yang tidak kooperatif

(tingkah laku gaduh gelisah)

61

c) Penderita

dengan

riwayat

menderita

penyakit

kardiovaskuler

C. RANCANGAN PENELITIAN ATAU DISAIN PENELITIAN Rancangan penelitian adalah suatu rancangan yang biasa digunakan oleh peneliti sebagai petunjuk dalam

merencanakan dan melaksanakan penelitian untuk mencapai tujuan 2003). Disain yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian rancangan Pre-Eksperimental penelitian one Desain group (Nondesain) test-post dengan test atau menjawab pertanyaan penelitian (Nursalam,

pre

62

yaitu

untuk

mengungkapkan

sebab

akibat

dengan

cara

melibatkan satu kelompok subyek. Dalam rancangan ini, kelompok subyek diobservasi sebelum dilakukan perlakuan, kemudian diobservasi lagi setelah dilakukan perlakuan

(Nursalam, 2003). Bentuk eksperimen yang dilakukan dalam penelitian dengan ini peneliti HDR-S mengobservasi sebelum tingkat depresi

menggunakan

melakukan

perlakuan

terapi tertawa yang terdiri dari 15 langkah sesi tawa.

D. TEHNIK PENGUMPULAN DATA


1. Intsrumen Penelitian

Instrument penelitian wawancara ini

penelitian adalah

yang

digunakan observasi

dalam dan

dokumentasi,

63

2. Tehnik Pengumpulan Data

Tehnik pengumpulan data meliputi: a. Studi dokumentasi Studi yang dokumentasi dari meliputi : jenis identitas kelamin, atau penderita melakukan memberikan responden tujuan agar

terdiri

informed lembar

consent

terlebih

dahulu

persetujuan kepada

untuk

menjadi dengan

penelitian

responden

responden mengerti maksud, tujuan penelitian, dan manfaatnya serta klien bersedia mengikuti kegiatan sampai selesai. Lembar persetujuan diberikan pada awal pengambilan data. Jika responden bersedia maka harus menandatangani atau member cap jempol pada

lembar persetujuan tersebut.

Diagnosa medis, riwayat pengobatan (terapi anti depresan dan ECT), riwayat penyakit

64

kardiovaskuler diperoleh dengan mempelajari medical record. b. Observasi Dalam penelitian ini peneliti mengobservasi tingkat depreasi sebelum dan sesudah dilakukan terapi

tertawa dengan menggunakan skala HDR-S c. Metode wawancara Metode Wawancara yang mengacu pada HDR-S digunakan untuk pemeriksaan tingkat depresi responden, yang berupa sejumlah pertanyaan dalam bentuk kuis

(pertanyaan tertulis) yang harus dijawab baik secara langsung maupun didampingi oleh para pendamping E. Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional 1. Identifikasi Variabel Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan manusia, nilai beda terhadap dkk sesuatu 2000: (benda, dalam

dll)

(Soeprapto,

54,

Nursalam, 2003).

65

a. Variabel independent (variabel bebas) Variabel nilainya (Nursalam, menjadi tertawa. b. Variabel dependent (variabel terikat) Variabel terikat adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain (Nursalam, 2003). Dalam penelitian (variabel yang pada ini yang menjadi adalah variabel tingkat gangguan mood independent menentukan 2003). adalah variabel variabel yang ini yang lain yang

Dalam

penelitian

variabel

independent

adalah

terapi

dependent depresi kejiwaan

terikat)nya

menggambarkan alam perasaan

tingkat

(affective

disorder) dengan menggunakan skala HDR-S, yaitu: Total nilai - 0 -17 = tidak ada depresi Total nilai - 18-24 = depresi ringan

Total nilai - 25-34 = depresi sedang Total nilai - 35-51 = depresi berat Total nilai - 52-68 = depresi beratsekali 2. Definisi Operasional

66

1. Pengaruh yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dampak dari pemberian treatment (perlakuan) berupa perbedaan kemaknaan tingkat depresi responden sebelum dan sesudah diberikanterapi tertawa. 2. Terapi tertawa adalah terapi yang diyakini mampu

membangkitkan semangat hidup terapi yang diberikan kepada pasien skizofrenia dengan tujuan menurunkan tingkat depresi. 3. Depresi adalah salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan (affective mood disorder).
4. Skizofrenia adalah reaksi psikotik yang mempengaruhi

berbagai area fungsi individu, termasuk berfikir dan berkomunikasi, realitas menerima dan dan menginterpretasikan emosi dan

merasakan

menunjukkan

berperilaku dengan sikap yang dapat diterima secara social ( Isaacs, 2005). 5. Hamiltone Rating Scale for Depression (HDR-S) Merupakan instrument untuk mengetahui derajat depresi seseorang apakah ringan, sedang, berat atau berat

sekali yang dinyatakan dalam bentuk skala pengukuran.

67

Tabel 3.1

Identifikasi variabel dan definisi operasional : Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Penurunan Tingkat Depresi pada Pasien Skizofrenia di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Propinsi NTB.

Variable Indevenden : Terapi tertawa

Definisi operasional Program terapi tertawa yaitu sebanyak 15 langkah yang masing-masing memiliki waktu 30-40 menit

parameter Sesi terapi tertawa

Alat ukur Pedoman terapi tertawa

Skala data

skor

68

Dependen : Tingkat depresi

Derajat yang menggambarkan gangguan kejiwaan pada alam perasaan (affective / mood)

1. Keadaan perasaan sedih, putus asa, tak berdaya, tak berguna 2. Perasaan bersalah 3. Bunuh diri

wawancara mengacu kepada skala HDR-S

O R D I N A L

1. 17 = Tidak ada depresi 2. 18-24 = Depresi ringan 3. 25-34 = Depresi sedang 4. 35-51 = Depresi berat 5. 52-68 = Depresi berat sekali

4. Gangguan pola tidur


(initial insomnia) 5. Gangguan pola tidur (middle insomnia) 6. Gangguan pola tidur (late insomnia)

7. Kerja dan kegiatankegiatannya 8. Kelambanan (lambat dalam berfikir, berbicara, gagal berkonsentrasi, aktivitas motorik menurun) Kegelisahan(agitasi)

10. Kecemasan (ansietas


somatik)

11. Kecemasan (ansietas


psikis) 12. Gejala somatic (pencernaan)

13. Gejala
(umum)

somatic

Kelamin (genital) 15. Hipokondriasis (keluhan somatik/fisik yang berpindah-pindah) 16. Kehilangn berat

69

F. ANALIA DATA Analisa data pada penelitian ini menggunakan uji statistik t-test dengan rumus :

t=

Md X 2 d N ( N 1)

Keterangan : Md = Mean dari perbedaan pre test (pre Xd test-post test ). dengan post test

= Deviasi masing-masing subjek (d-Md)

Xd = Jumlah kuadrat deviasi N = Subyek pada sampel

d.b. = Ditentukan dengan N-1

70

G. KERANGKA KERJA

Penderita skizofrenia Proposive sampling

Sampel penelitian

Pre test skala HDR-S

Life Review Therapy

Post

test skala HDR-S

71

Tabulasi

Analisa statistik T

tes

Hasil

penelitian

Gambar 3.1.

Bagan Kerangka Kerja (Frame Work) Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Penurunan Tingkat Depresi Pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Propinsi.