Anda di halaman 1dari 3

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN PADA TINEA CRURIS ET CORPORIS

ABSTRAK Seorang wanita 40 tahun datang dengan keluhan gatal pada selangkangan kanan-kiri, perut bagian bawah, dan bokong. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien didiagnosis tinea cruris et corporis. Tinea cruris adalah penyakit jamur dermatofita di daerah lipat paha, genitalia dan sekitar anus yang dapat meluas ke bokong dan perut bagian bawah. Sedangkan tinea corporis adalah penyakit karena infeksi jamur dermatofita pada kulit halus (glabrous skin) seperti di daerah muka, leher, badan, lengan, dan gluteal. ISI Pasien wanita usia 40 tahun datang dengan keluhan gatal-gatal tak tertahankan, di daerah selangkangan kanan-kiri, perut bagian bawah, dan bokong sejak dua bulan yang lalu. Pada awalnya sekitar 1 bulan yang lalu timbul bintik kemerahan yang terasa gatal di selangkangan kanan-kiri. Kemudian bertambah lebar, dan sekitar 1 bulan ini bintik kemerahan menyebar ke bokong, dan sekitar 2 minggu yang lalu terdapat juga bintik kemerahan yang terasa gatal di perut bagian bawah. Daerah tersebut kadang terasa perih. Gatal terutama dirasakan saat berkeringat. Gatal semakin terasa juga saat pemakaian pembalut dan saat daerah tersebut lembab. Pasien tidak demam baik sebelum maupun selama penyakit tersebut menyerang. Pasien sudah berobat ke Puskesmas, mendapat pengobatan salep selama satu minggu tapi tak ada perubahan. Riwayat alergi disangkal. Di keluarga tidak terdapat riwayat penyakit serupa. Dari pemeriksaan fisik didapatkan pada inguinal dekstra et sinistra tampak plak eritem, batas tegas, semilunar, multiple, distribusi regional, diskret, disertai erosi dan skuama. Pada lower abdomen dan gluteal tampak plak eritem, batas tegas, sirsinar, multiple, diskret, distribusi regional, disertai erosi dan skuama. DIAGNOSIS Tinea cruris et corporis TERAPI Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah antijamur ketoconazole oral 2 x 200 mg, antihistamin Interhistin 2 x 50 mg, dan Salep kombinasi ketoconazole dan myconazole 2 x oles setelah mandi. DISKUSI Tinea kruris dan tinea korporis merupakan dermatofitosis. Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut dan kuku yang disebabkan golongan jamur dermatofita. Tinea kruris adalah penyakit jamur dermatofita di daerah lipat paha, genitalia dan sekitar anus yang dapat meluas ke bokong dan perut bagian bawah. Sedangkan tinea korporis adalah penyakit karena infeksi jamur dermatofita pada kulit halus (glabrous skin) seperti di daerah muka, leher, badan, lengan, dan gluteal. Penyebab tersering tinea korporis adalah Trichophyton rubrum dan Trichophyton mentagrophytes. Pasien merasa gatal dan kelainan umumnya berbentuk bulat, berbatas tegas, terdiri atas macam-macam efloresensi kulit (polimorf) dengan bagian tepi lesi lebih jelas tanda peradangannya daripada bagian tengah. Beberapa lesi dapat bergabung dan membentuk gambaran polisiklik. Lesi dapat meluas dan memberi gambaran yang tidak khas terutama pada pasien imunodefisiensi. Penyebab tersering tinea kruris adalah Epidermophyton floccosum, kadang-kadang dapat juga disebabkan oleh Trichophyton rubrum. Gambaran klinik biasanya adalah lesi simetris di lipat paha kanan dan kiri. Mula-mula lesi ini berupa bercak eritematosa

dan gatal, yang lama-kelamaan meluas sehingga dapat meliputi skrotum, pubis, glutea bahkan sampai paha. Tepi lesi aktif, polisiklis, ditutupi skuama dan kadang-kadang disertai dengan banyak vesikel kecil-kecil. Penatalaksanaan tinea cruris et corporis dapat menggunakan obat topical seperti : Kombinasi asam salisilat (3-6%) dan asam benzoat (6-12%) dalam bentuk salep (Salep Whitfield). Kombinasi asam salisilat dan sulfur presipitatum dalam bentuk salep (salep 2-4, salep 3-10) Derivat azol : mikonazol 2%, klotrimasol 1%, ketokonazol 1% dll. Atau pengobatan sistemik dengan menggunakan: Griseofulvin 500 mg sehari untuk dewasa, sedangkan anak-anak 10-25 mg/kgBB sehari. Lama pemberian griseofulvin pada tinea korporis adalah 3-4 minggu, diberikan bila lesi luas atau bila dengan pengobatan topikal tidak ada perbaikan. Ketokonazol 200 mg per hari selama 10 hari-2 minggu pada pagi hari setelah makan Antibiotika diberikan bila terdapat infeksi sekunder. Pada kasus yang resisten terhadap griseofulvin dapat diberikan derivat azol seperti itrakonazol, flukonazol dll. Selain itu diberikan juga edukasi berupa mandi dengan bersih 2x sehari, ganti baju yang bersih sehabis mandi, hindari baju yang tidak menyerap keringat dengan baik, jangan menggaruk-garuk daerah yang sakit karena dapat menimbulkan infeksi sekunder dan menyebarkan jamur ke daerah lain. KESIMPULAN Tinea kruris adalah penyakit jamur dermatofita di daerah lipat paha, genitalia dan sekitar anus yang dapat meluas ke bokong dan perut bagian bawah. Sedangkan tinea korporis adalah penyakit karena infeksi jamur dermatofita pada kulit halus (glabrous skin) seperti di daerah muka, leher, badan, lengan, dan gluteal. Penatalaksanaan tinea cruris et corporis pada umumnya sama seperti pengobatan penyakit kulit akibat jamur lainnya, meliputi topical, sistemik, dan edukasi pasien. REFERENSI 1. Djuanda, A., Hamzah, M., Aisah, S. 2007. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin Edisi Kelima. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2. Budimulja, U. (2005) Mikosis, dalam Djuanda, Adhi., Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, 4th ed. FK UI, Jakarta 3. Mansjoer, Suprohaita, Wardhani, Setiowulan. (2000) Mikosis Superfisisalis, Kapita Selekta Kedokteran, 3nd ed. FK UI, Jakarta. 4. Price S.A, Wilson L.M. (2005) Dermatomikosis, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Prose Penyakit, 2nd ed. EGC, Jakarta