Anda di halaman 1dari 13

HARGA TRANSFER PENDAHULUAN

Salah satu masalah utama dalam pengoperasian sistem pusat laba adalah menentukan metode yang paling memuaskan untuk menentukan harga barang dan jasa yang di transfer dari satu divisi ke divisi lainnya. Masalah ini semakin penting dalam suatu perusahaan yang mempunyai transaksi transfer yang signifikan antar divisi. Masalah harga transfer timbul karena transaksi transfer barang dan jasa antar divisi dalam suatu organisasi biasanya tidak merupakan transaksi yang benar-benar bebas ( arms length ) di antara divisi sebagaimana antara organisasi yang satu dengan organisasi lainnya. Besarnya harga transfer akan mempengaruhi prestasi divisi penjual barang atau jasa maupun prestasi divisi pembelinya. Oleh karena itu harga transfer yang di pandang adil oleh divisi penjual dan divisi pembelinya akan dapat memotivasi manajer kedua pusat laba tersebut. KAJIAN TEORI Tujuan Harga Transfer Mekanisme penentuan harga transfer antar pusat laba sangat penting dalam suatu organisasi jika : ( 1 ) frekunsi transaksi transfer barang atau jasa antar divisi cukup signifikan , ( 2 ) biaya barang atau jasa yang ditransfer merupakan komponen penting dari produk akhir dan ( 3 ) profitabilitas merupakan pertimbangan penting di dalam penilaian prestasi divisi. Suatu sistem harga transfer yang baik harus mencapai tujuan sebagai berikut :

1. Sistem harga transfer dapat memberikan informasi relevan yang di perlukan oleh setiap divisi untuk menentukan harga transfer. 2. sistem harga transfer dapat memotivasi manajer divisi penjual , divisi pembeli dan mungkin manajer kantor pusat untuk membuat keputusan harga transfer yang sehat. Tindakan manajer divisi tertentu untuk meningkatkan laba divisi nya juga dapat meningkatkan laba perusahaan secara keseluruhan, jadi di harapkan timbul kesesuaian tujuan 3. sistem harga transfer dapat menghasilkan laporan laba setiap divisi individual yang secara layak mengukur prestasi laba divisi dan kontribusinya terhadap laba perusahaan secara keseluruhan. Tujuan-tujuan tersebut di atas mungkin tidak dapat di capai dengan sempurna. Dalam meningkatkan laba divisi , manajer suatu pusat laba mungkin membuat keputusan yang mengakibatkan penurunan

laba divisi yang lain atau mungkin juga menurunkan laba total perusahaan. Penentuan harga transfer dapat mengurangi masalah tersebut tetapi tidak dapat menghilangkannya sama sekali. Oleh karena itu , sistem harga transfer harus memotivasi para manajer divisi untuk bertindak sebagaimana dia berfungsi sebagai manajer perusahaan yang terpisah. Namun di lain pihak, manajer divisi harus bertindak untuk kebaikan perusahaan secara keseluruhan. Pencapaian tujuan yang satu biasanya mengakibatkan distorsi pencapaian tujuan lainnya.

Definisi Harga Transfer Dalam Arti luas harga transfer adalah nilai barang dan jasa yang di transfer oleh suatu pusat pertanggung jawaban yang lain. Sebagai contoh, biaya yang di pindahkan dari pusat biaya ( departemen ) listrik ke pusat biaya produksi merupakan harga transfer. Demikian pula, biaya yang di pindahkan dari suatu pusat biaya produksi ke pusat biaya produksi lainnya juga merupakan harga transfer. Dalam Arti Sempit harga transfer adalah nilai barang dan jasa yang di transfer antara dua divisi ( pusat laba ) atau lebih. Dalam pembahasan di gunakan definisi harga transfer dalam arti sempit. Karena pusat laba di ukur prestasinya berdasar laba yang di perolehnya, maka barang dan jasa yang di transfer antara pusat laba selalu di tentukan nilainya dengan dalamnya. Sasaran Penentuan Harga Transfer Harga transfer merupakan mekanisme untuk mendistribusikan pendapatan jika dua pusat laba atau lebih bertanggungjawab bersama atas pengembangan, perbuatan, dan pemasaran suatu produk sehingga masing-masing harus berbagi pendapatan yang di hasilkan ketika produk tersebut terjual. harga transfer harus dirancang sedemikian rupa supaya dapat mencapai beberapa sasaran sebagai berikut : mempertimbangkan laba di

1. Memberikan informasi yang relevan kepada masing-masing unit usaha untuk menentukan penyesuaian yang optimum antara biaya dan pendapatan perusahaan.

2. Menghasilkan keputusan yang bertujuan sama maksudnya sistem harus di rancang agar keputusan yang meningkatkan laba unit usaha juga akan meningkatkan laba perusahaan. 3. Membantu pengukuran kinerja ekonomi dari tiap unit usaha

4. Sistem harus mudah di mengerti dan di kelola.

Metode Penentuan Harga Transfer Banyak metode penentuan harga transfer yang di gunakan dalam praktik. Tidak ada metode harga transfer yang sempurna. Setiap metode penentuan harga transfer mempunyai keunggulan dan sekaligus memiliki kelemahan jika di bandingkan dengan metode harga transfer lainnya. Namun sering kali metode harga transfer berdasar harga pasar, jika dapat ditentukan umumnya di pandang sebagai dasar terbaik. Dua metode harga transfer yang sering digunakan dalam praktik adalah : 1. Metode harga transfer berdasar harga pasar (market-based transfer pricing).

2. Metode harga transfer berdasar biaya (cost-based transfer pricing). 1. Metode Harga Transfer berdasar harga pasar Dalam metode harga pasar, harga transfer barang atau jasa antarpusat laba didasarkan atas harga pasar. Jika terdapat harga pasar barang atau jasa yang di transfer antarpusat laba ada maka harga pasar saat ini adalah dasar terbaik untuk harga transfer. Harga pasar merupakan dasar terbaik dalam penentuan harga transfer sebab :

1. Harga pasar di tentukan oleh pihak-pihak eksternal perusahaan sehingga menggambarkan transaksi independen (arms length transaction).

2. Harga pasar merupakan dasar yang baik untuk pembuatan keputusan. Bagi divisi penjual , harga pasar dapat dipakai dasar untuk membuat keputusan untuk menjual barang dan jasanya ke pihak luar atau mentransfernya ke divisi yang lain. Demikian pula bagi divisi pembeli, harga pasar dapat di pakai dasar membuat keputusan untuk membeli barang dan jasa dari pihak luar atau menerima transfer dari divisi yang lain.

3. Metode harga pasar menjadikan setiap divisi sebagai satuan bisnis yang terpisah satu sama lain. Harga pasar bagi divisi penjual mencerminkan pendapatan divisi tersebut jika barang atau jasa di jual kepada pihak luar dan bagi divisi pembeli mencerminkan biaya jika divisi tersebut membeli dari pihak luar.

Jika transaksi transfer di catat pada harga pasar, profitabilitas divisi mencerminkan kontribusi ekonomi nyata divisi terhadap laba total perusahaan. Jika misalnya divisi penjual tidak ada, maka produk harus di beli dari sumber luar pada harga pasar saat sekarang. Konsekuensinya, profitabilitas divisi dapat dibandingkan secara langsung dengan profitabilitas perusahaan lain dengan tipe yang sama. Selain itu manajer divisi harus menghadapi persaingan yang sama seperti halnya jika dia berdiri sebagai perusahaan yang independen. Dalam hal ini terdapat dorongan yang konstan bagi divisi penjual untuk

menelaah keputusan membuat atau membeli dan memproduksi atau menjual hanya produk yang dapat menghasilkan laba. a. Sumber independen Jika divisi penjual dapat menjual produknya di pasar luar dan divisi pembeli dapat membeli barang atau jasa yang di perlukannya dari sumber luar maka keadaan ini memungkinkan setiap divisi bebas dari divisi lainnya. Dalam penentuan harga transfer berdasar harga pasar, keadaan ini seringkali dinamakan harga transfer berdasar harga pasar tanpa kendala sumber. Jika setiap divisi bebas dari divisi lainnya atau tidak ada kendala sumber maka :

1. Keputusan harga transfer dan sumber harus di selesaikan secara bersama-sama oleh manajer divisi yang bersangkutan.

2. Sistem ini tidak memerlukan atau hanya sangat sedikit memerlukan campur tangan staf kantor pusat atau manajemen puncak dalam penentuan harga transfer dan sumber. Sebagai akibat kebebasan divisi, jika harga jual dan kondisi pelayanan divisi penjual tidak dapat bersaing dengan penawaran luar, maka divisi tersebut tidak memenangkan bisnis. Sebaliknya, jika kapasitas produksi divisi penjual terbatas dan sumber lainnya dari luar jarang, maka divisi pembeli harus bersaing dengan pihak luar yang juga membeli dari divisi penjual tersebut. Sistem ini menggunakan mekanisme pasar sebagai dasar penentuan harga internal dengan mengijinkan divisi penjual untuk menentukan ke mana akan menjual. Namun sistem ini tidak menjamin laba total perusahaan yang optimal. Agar setiap divisi juga memperhatikan kemakmuran perusahaan secara menyeluruh, biasanya oleh kantor pusat ditentukan batasan terhadap kebebasan divisi dibandingkan dengan pihak luar yang benar-benar independen.

b. Kendala sumber Sering kali divisi tidak memiliki kebebasan untuk memperoleh sumber. Kendala ini mungkin disebabkan karena :

1. Perusahaan berada dalam industri yang sifatnya sangat terintegrasi sehingga produk antara (intermediate product) sulit diperoleh dari pihak luar karena jarang

diperjualbelikan. 2. Tidak ada sumber luar atau perusahaan lain yang memproduksi produk yang sama dengan yang ditransfer antardivisi.

3. Manajemen puncak mungkin tidak mau menghadapi risiko berhubungan dengan pemasok luar, misalnya karena volume produk yang diperlukan signifikan, atau produk merupakan komponen kunci

Meskipun perusahaan menghadapi kendala sumber pengadaan sehingga pasar produk yang ditransfer terbatas, namun dalam penentuan harga transfer harus tetap menggunakan harga yang bersaing.

c. Harga pasar yang dimodifikasi Harga pasar yang digunakan sebagai dasar harga transfer biasanya perlu dimodifikasi untuk menggambarkan kondisi khusus dalam transfer barang dan jasa antar pusat laba dalam suatu perusahaan. Harga pasar yang dimodifikasi disebut pula dengan harga pasar minus, adalah harga pasar produk di kurangi dengan biaya-biaya yang dapat dihindari atau di tekan karena produk di transfer ke pusat laba lain dibandingkan dengan jika produk tersebut di jual pada pihak luar. Biaya-biaya yang dapat dihindari atau ditekan tersebut misalnya: Potongan volume, biaya penyimpanan, biaya advertensi, komisi penjualan, dan biaya penagihan.

Contoh : PT Gemah memiliki dua pusat laba yaitu divisi A dan divisi B. Divisi A mempunyai kapasitas normal per bulan 8000 unit dan divisi B 5000 unit. Produk divisi A sebanyak 3000 unit dijual kepada pihak lain dengan harga pasar Rp 180,00 per unit dan sebanyak 5.000 unit ditransfer ke Divisi B. Biaya produksi di divisi A dan divisi B bulan januari 1989 sebagai berikut:

Biaya dalam Divisi A

Elemen Biaya Bahan Baku Tenaga kerja langsung Overhead variabel Jumlah

biaya standar per unit Rp 20,00 30,00 10,00 Rp 60,00

Realisasi biaya per unit Rp 23,00 36,00 16,00 Rp 75,00

Total biaya overhead pabrik tetap yang dianggarkan tetap Rp 120.000.00 per bulan atau biaya overhead pabrik tetap per unit pada kapasitas normal sebesar Rp 15,00. Total biaya nonproduksi tetap sebesar Rp200.000,00 atau biaya nonproduksi tetap per unit pada kapasitas normal sebesar Rp 25,00 dan biaya nonproduksi variabel sebesar Rp 30,00 per unit. Biaya non produksi variabel yang dapat dihindari jika produk Divisi A ditransfer ke Divisi B sebesar Rp 20,00. Realisasi biaya overhead pabrik tetap dan biaya non produksi sebesar yang dianggarkan.

Biaya dalam Divisi B Elemen Biaya Tenaga kerja langsung Overhead variabel Jumlah Biaya standar per unit Rp 40,00 Rp 20,00 Rp 60,00 Realisasi biaya per unit Rp 38,00 Rp 21,00 Rp 59,00

Besarnya total biaya overhead pabrik tetap yang dianggarkan Rp 100.000,00 per bulan atau biaya overhead pabrik tetap per unit pada kapasitas normal 5.000 unit sebesar Rp20,00. Total biaya non produksi tetap Rp 150.000,00 atau biaya non produksi tetap per unit pada kapasita normal Rp30,00 dan biaya nonproduksi variabel Rp15,00 per unit. Realisasi biaya overhead pabrik tetap dan biaya nonproduksi sebesar yang dianggarkan. Produk yang telah diolah pada Divisi B dapat dijual dengan harga Rp 35,00 per unit.

Harga transfer berdasar harga pasar antar divisi tersebut diatas digambarkan dalam diagram

Kelamahan Metode Transfer Berdasar Harga Pasar Meskipun metode transfer berdasar harga pasar umumnya diakui sebagai metode yang terbaik, namun dalam keadaan tertentu metode ini memiliki kelemahan sebagai berikut : 1. Tidak semua produk yang yang ditransfer antardivisi memiliki harga transfer 2. Harga pasar seringkali berubah sehingga harga transfer produk antardivisi perlu dihitung kembali 3. Daftar harga seringkali tidak mencerminkan harga pasar sesungguhnya atau harga pasar produk yang ditransfer tidak termuat dalam daftar harga sehungga untuk memperoleh informasi harga pasar perlu tambahan pengorbanan waktu dan biaya. 4. Penghematan biaya yang timbul karena produk ditransfer ke divisi lain atau tidak dijual ke pihak lain, seharusnya tidak dinikmati oleh divisi pembeli saja-dalam bentuk pengurangan harga pasar tetapi juga harus diperhitungkan pula untuk divisi penjual. Hal ini disebabkan jika divisi pembeli membeli produk dari pihak luar harga nya lebih tinggi, jadi pengurangan harga tersebut ditimbulkan karena divisi penjual mau mentransfer produk tersebut ke divisi pembeli. Metode transfer berdasarkan biaya Jika harga kompetitif tidak tersedia, maka suatu harga transfer dapat ditentukan berdasarkan biaya ditambah laba, meskipun harga transfer semacam ini sangat sulit dihitung dan hasilnya kurang memuaskan dibandingkan dengan harga yang berbasis pasar (marked-based price) Dua keputusan yang harus dibuat dalam system harga transfer berdasarkan biaya : 1. Bagaimana menentukan besarnya biaya, dan 2. Bagaimana menghitung mark up laba Basis biaya Basis yang umum adalah biaya standar. Biaya actual tidak boleh digunakan karena faktor efisiensi produk akan terlewatkan bagi pusat laba pembelian. Jika biaya standar yang digunakan, maka dibutuhkan suatu insentif untuk menetapkan standar yang ketat dan meningkatkan standar tersebut.

Markup laba Dalam menghitung markup laba, juga terdapat dua keputusan : 1. Apa basis markup laba tersebut Basis yang paling mudah digunakan adalah presentase biaya Basis yang secara konsep lebih baik adalah presentase investasi, tetapi menghitung investasi untuk diaplikasikan kepada setiap produk yang dihasilkan dapat menyebabkan permasalahan teknis. 2. Tingkat laba yang diperbolehkan Problem yang kedua dalam penyisihan laba adalah besarnya jumlah laba. Persepsi manajemen senior atas kinerja keuangan dari suatu pusat laba akan dipengaruhi oleh laba yang ditunjukkannya. Konsekuensi, kemungkinan penyisihan laba harus dapat

memperkirakan tingkat pengembalian (rate of return) yang akan dihasilkan seandainya unit usaha tersebut merupakan perusahaan independen yang menjual produknya kepada konsumen luar. Solusi konseptual adalah dengan membuat penyisihan laba yang berdasarkan investasi yang dibutuhkan untuk memenuhi volume yang diminta oleh pusat laba pembelian. Nilai investasi tersebut dihitung pada level standar , dengan aset dan persediaan pada tingkat biaya penggantian (replacement cost)

Biaya tetap dan laba upstream Penetapan harga transfer dapat menimbulkan permasalahan yang cukup serius dalam suatu perusahaan yang terintegrasi. Pusat laba yang pada akhirnya menjual produk kepada pihak luar mungkin tidak menyadari adanya jumlah biaya tetap dan laba upstream yang terkandung didalam harga pembelian internal. Metode-metode yang digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan cara-cara yang digambarkan dibawah ini: Persetujuan diantara unit-unit usaha Beberapa perusahaan membuat mekanisme formal dimana wakil-wakil dari unit-unit pembelian dan penjualan bertemu secara berkala untuk memutuskan harga penjualan kepada pihak luar dan pembagian laba untuk produk-produk dengan biaya tetap dan laba upstream yang signifikan.

Dua langkah penentuan harga Cara lain adalah dengan membuat suatu harga transfer yang meliputi dua jenis biaya : 1. Untuk setiap unit yang terjual, pembebanan biaya dibuat sama dengan biaya variabel standar dari produksi. 2. Pembebanan biaya yang berkala (biasanya setiap bulan) dibuat sama dengan biaya tetap yang berhubungan dengan fasilitas yang disediakan untuk unit pembeli. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam menerapkan metode penentuan harga dua langkah (two-step pricing method) : Pembebanan biaya per bulan untuk biaya tetap dan laba harus dinegosiasikan secara berkala dan akan tergantung dari kapasitas yang digunakan oleh unit pembeli Pertanyaan mungkin akan timbul mengenai keakuratan alokasi investasi dan biaya. Dengan system penentuan harga ini, kinerja laba dari unit produksi tidak dipengaruhi volume penjualan dari unit yang terakhir. Hal ini memecahkan masalah yang muncul ketika usaha pemasaran oleh unit usaha yang lain mempengaruhi kinerja laba dari unit produksi murni. Mungkin terdapat konflik antara kepentingan dari unit produksi dengan kepentingan perusahaan (kelemahan ini diatasi dengan menentukan bahwa unit pemasaran memiliki prioritas utama dalam menggunakan kapasitas yang terbatas). Metode ini mirip dengan penentuan harga take-our pay yang sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan sarana umum, saluran pipa, dan batubara dan dalam kontrak jangka panjang. Pembagian laba Jika system penentuan harga dua langkah tidak feasible sistem pembagian laba (profit sharing) dapat digunakan untuk memastikan kesamaan antara kepentingan unit usaha dan perusahaan. Sistem tersebut beroperasi dengan cara sebagai berikut : 1. Produk tersebut ditransfer ke unit pemasaran pada biaya variabel standar 2. Setelah produk tersebut terjual, unit-unit usaha membagi kontribusi yang dihasilkan, dimana perhitungannya adalah harga penjualan dikurangi biaya variabel produksi dan pemasaran.

Melaksanakan system pembagian laba semacam ini akan menimbulkan beberapa masalah teknis : 1. Mungkin saja terdapat argumen-argumen mengenai cara pembagian kontribusi diantara dua pusat laba dan manajemen senior akan turun tangan untuk menangani masalah ini. Hal ini membuang biaya, waktu, dan bekerja secara berlawanan dengan alasan dasar dari desentralisasi, yaitu otonomi para manajer unit usaha. 2. Membagi rata laba diantara pusat laba tidak memberikan informasi yang tepat mengenai profitabilitas masing-masing pusat laba. 3. Karena kontribusi yang ada tidak akan dialokasikan sampai penjualan selesai dilakukan, maka kontribusi unit produksi tergantung pada kemampuan unit pemasaran untuk menjual seharga harga penjualan aktual. Unit produksi mungkin merasa diperlakukan dengan tidak adil dalam situasi ini. Dua bentuk harga Dalam metode ini pendapatan unit produksi akan dikreditkan pada saat harga jual diluar dan unit pembelian dibebankan biaya sebesar total biaya standar. Beberapa kelemahan penggunaan sistem ini adalah : 1. Jumlah laba unit usaha akan lebih besar dari perusahaan secara keseluruhan 2. Sistem ini menciptakan suatu ilusi bahwa unit usaha akan menghasilkan uang, sementara pada kenyataannya perusahaan secara keseluruhan mengalami kerugian karena debit ke kantor pusat. 3. Sistem ini dapat memicu unit usaha hanya berkonsentrasi pada transfer internal dimana mereka terpana pada markup yang bagus pada biaya penjualan ke luar 4. Terdapat tambahan pembukuan yang terlibat dalam pendebitan akun kantor pusat setiap kali ada transfer dan kemudian mengeliminasi akun ini ketika laporan keuangan unit usaha di konsolidasi 5. Fakta bahwa ada konflik diantara unit-unit bisnis akan membuat sistem ini terlihat lemah. Dengan metode dua bentuk harga, konflik-konflik ini dapat dikurangi sehingga tidak menghadapkan manajemen senior pada permasalahan seperti ini Penentuan harga jasa perusahaan Beberapa masalah yang berhubungan dengan pembebanan unit usaha dengan jasa-jasa yang diberikan oleh unit staf perusahaan akan digambarkan dalam bagian ini

Pengendalian atas jumlah jasa Manajer unit usaha mungkin diharuskan untuk menggunakan staf perusahaan yang tidak dapat dikendalikan efisiensi kinerjanya (teknologi informasi dan riset & pengembangan) tetapi dapat mengendalikan jumlah jasa yang diterimanya. Ada tiga teori pemikiran mengenai jasa-jasa seperti ini : Teori pertama menyatakan bahwa sebuah unit usaha harus membayar biaya variabel standar dari jasa yang diberikan. Teori kedua menyarankan harga yang sama dengan biaya variabel standar ditambah porsi yang cukup memadai atas biaya tetap standar yaitu biaya penuh (full cost) Teori pemikiran yang ketiga menyarankan suatu harga yang sama dengan harga pasar atau biaya penuh standar (standar full cost) ditambah dengan margin labanya Pilihan penggunaan jasa Dalam beberapa kasus, pihak manajemen mungkin memutuskan bahwa unit-unit usaha dapat memilih apakah akan menggunakan unit servis sentral atau tidak. Unit-unit bisnis dapat memperoleh jasa tersebut dari pihak luar, mengembangkan kemampuan mereka, atau memilih untuk tidak menggunakan jasa ini sama sekali. Kesederhanaan dari mekanisme harga Harga yang di bebankan untuk servis perusahaan tidak akan mencapai tujuan kecuali metode dalam menghitungnya dapat dimengerti dan dipahami dengan cukup mudah oleh para manajer unit usaha. Administrasi harga transfer Negosiasi Pada sebagian besar perusahaan unit-unit usaha menegosiasikan harga transfer satu sama lain maksudnya, harga transfer yang tidak ditentukan oleh kelompok staf sentral. Alasan yang paling penting untuk hal ini adalah kepercayaan bahwa dengan membuat suatu harga jual dan menentukan harga pembelian yang paling cocok merupakan salah satu fungsi utama dari manajemen lini. Alasan lain bagi unit usaha untuk menegosiasikan harga mereka adalah bahwa mereka biasanya memiliki informasi yang paling tepat mengenai pasar-pasar dan biaya-biaya yang

ada, sehingga mereka merupakan pihak yang paling mungkin untuk memberikan harga yang pantas. Arbitrase dan penyelesaian konflik Bagaimanapun rincinya peraturan penentuan harga ( pricing rule), mungkin tidak ada kasus dimana unit-unit usaha tidak setuju pada harga tertentu. Untuk alasan tersebut, suatu prosedur harus dibuat untuk menengahi pertikaian harga transfer. Terdapat tingkat formalitas yang luas dalam arbitrase harga transfer. Kemungkinan ekstremnya akan di bentuk suatu komite yang memiliki tiga tanggungjawab yaitu : 1. Menyelesaikan pertikaian harga transfer 2. Meninjau alternative sourcing yang mungkin ada, dan 3. Mengubah peraturan harga transfer bila perlu. arbitrase dapat dilakukan dengan beberapa cara dengan sistem yang formal , kedua pihak menyerahkan kasus secara tertulis kepada pihak penengah (arbitrator). Selain tingkat formalitas arbitrase , jenis proses penyelesaian konflik yang digunakan juga mempengaruhi keefektifan suatu system harga transfer. Terdapat empat cara untuk menyelesaikan konflik: Memaksa (forcingi) Membujuk (smoothing) Menawarkan (bargaining) Pemecahan masalah (problem solving)

Klasifikasi produk Luas dan formalitas dari sourcing dan peraturan penentuan harga transfer tergantung pada banyaknya jumlah transfer pada perusahaan dan ketersediaan pasar dan harga pasar. Makin besar jumlah transfer dan ketersediaan harga pasar, makin formal dan spesifik peraturan yang ada. Beberapa perusahaan membagi produknya kedalam dua kelas : Sourcing untuk produk kelas 1 dapat diubah hanya dengan izin dari manajemen pusat. Sourcing untuk produk kelas 2 ditentukan oleh unit-unit usaha yang terlibat . Dengan perjanjian semacam ini, pihak manajemen dapat berkonsentrasi pada sourcing dan pricing atas sejumlah kecil produk-produk bervolume besar