Anda di halaman 1dari 13

Kata Pengantar

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas berkah dan karunia-Nya serta shalawat dan salam kepada nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah ini yang berjudul Mikrobiologi Pseudomonas aerugionsa. Karya ilmiah ini diajukan dalam rangka memenuhi salah satu tugas dari dokter pembimbing untuk menyelesaikan tugas akhir stase.

Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga penyusunan karya ilmiah ini dapat lebih baik lagi. Besar harapan penulis semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan masyarakat pada umumnya. Akhir kata dengan mengucap Alhamdulillah, semoga Allah selalu meridhoi kita semua.

Cirebon, Mei 2012

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI 1 2

BAB I. PENDAHULUAN. 3

BAB II. Pseudomonas aeruginosa...... 2.1. mikrobiologi 2.2. infeksi nosokomial 2.3 patologi 2.4 Diagnosis & pemeriksaan 2.5 Penatalaksanaan 4 5 6 8 9

BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN .... 3.1. Kesimpulan ..11

DAFTAR PUSTAKA

BAB I Pendahuluan
Persyaratan utama setiap rumah sakit ialah tidak membahayakan pasien , kata Florence Nightingale. Ternyata, pasien dalam menjalani perawatan di rumah sakit dapat terinfeksi oleh mikroorganisme yang bersifat patogen. Istilah bagi infeksi ini yaitu penyakit nosokomial yang telah dikenal sekitar tahun 1960-an. Pada abad ke- 18, pencegahan tersebarnya penyakit dalam masyarakat, si sakit akan dikucilkan di rumah sakit demam, rumah sakit cacar, sanatorium tuberkulosis, atau rumah hama. Rumah sakit ini merupakan bangsal yang luas dan penuh sesak, pasien saling berdesakan sehingga infeksi mudah menjalar dari satu pasien ke pasien yang lain. Pelopor perbaikan rumah sakit, Sir James Y. Simpson mengatakan bahwa di dalam mengobati si sakit, maka akan berbahaya bila mereka dikumpulkan dan keselamatan hanya dapat tercapai bila mereka saling dipisahkan. Hal ini disebabkan adanya infeksi nosokomial. Nosokomial berasal dari kata Yunani berarti di rumah sakit. Jadi, infeksi nosokomial adalah infeksi yang diperoleh selama dalam perawatan di rumah sakit. Salah satu bakteri yang dapat menyebabkan infeksi nosokomial yaitu Pseudomonas aeruginosa

P. aeruginosa termasuk dalam genus Pseudomonas, yang ditentukan oleh Migula pada tahun 1984. Yang termasuk dalam genus tersebut adalah bakteri gram negatif, berbentuk tangkai, polar da berflagel. Pada tahun 2000 spesies Pseudomonas spesies dideterminasikan meliputi Pseudomonas aeruginosa strain PA01. Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan dan manusia. Hal ini ditemukan dalam tanah, air, flora di kulit dan sebagian besar lingkungan manusia di seluruh P.aeruginosa disebut patogen oportunistik, yaitu memanfaatkan kerusakan pada mekanisme pertahanan inang untuk memulai suatu infeksi. Bakteri ini dapat juga tinggal pada manusia yang normal dan berlaku sebagai saprofit pada usus normal dan pada kulit manusia. Tetapi, infeksi P.aeruginosa menjadi problema serius pada pasien rumah sakit yang menderita kanker, fibrosis kistik dan luka bakar. Angka fatalitas pasien-pasien tersebut mencapai 50 %. dunia. Ia tidak hanya berkembang di atmosfir biasa, tetapi juga dengan sedikit oksigen.

BAB II Mikrobiologi
Pseudomonas aeruginosa adalah bakteri Gram negative, berbentuk batang, memiliki flagel tunggal. Bakteri ini berukuran panjang 1-5 m dan lebar 0.5-1.0 m. P. aeruginosa adalah aerob obligat, yang menggunakan oksigen sebagai metabolism optimalnya walaupun bisa juga anaerob dengan menggunakan nitrat atau alternative akseptor electron lainnya. P. aeruginosa dapat mengkatabolis berbagai jenis molekul organic termasuk senyawa organic seperti benzoate. Oleh karena itu, menyebabkan P. aeruginosa mikroorganisme yang dapat ditemukan secara luas di berbagai lingkungan seperti tanah, air, manusia, hewan, tumbuhan, dan di rumah sakit. Temperature optimum untuk pertumbuhan berkisar antara 370C dan dapat tumbuh sampai suhu 420C. Bakteri ini torelan dengan berbagai macam kondisi fisik, seperti temperature. Bakteri ini juga resisten dengan konsentrasi tinggi garam dan pewarna, antiseptic lemah, dan beberapa antibiotic yang sering digunakan.
Psedomonas aureginosa (pewarnaan Gram). From the Centers for Disease Control and Prevention (CDC)

Pseudomonas aeruginosa membutuhkan hanya sedikit kebutuhan nutrisi. Kadang-kadang diteliti dapat tumbuh di air suling, yang membuktikan kebutuhan nutrisinya yang sedikit. Pada laboratorium medium plaing sederhana untuk pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa mengandung asetat sebagai sumber karbon dan ammonium sulfat sebagai sumber nitrogen. Fleksibilitas metabolism inilah yang membuat P. Aeruginosa terkenal. isolasi P. aeruginosa dapat menghasilkan tiga jenis koloni. Isolasi alami dari tanah atau air biasanya menghasilkan koloni kecil dan kasar. Sampel kilins secara umum menghasilkan satu atau lain
4

dari koloni halus. Salah satu tipe memiliki fried-egg appearance yang besar, halus, dan ujung rata dan menonjol. Tipe lainnya, yang sering diperoleh dari sekresi saluran nafas dan urin memiliki bentuk mukoid, yang dikaitkan dengan produksi lender alignate. Koloni halus dan mukoid diduga berperan pada kolonisasi dan virulensi. P. aeruginosa mensekresi berbagai pigmen, yaitu pyocyanin (blue-green), pyoverdine (yellow-green and fluorescent), and pyorubin (red-brown). King, Ward, and Raney mengembangkan Pseudomonas Agar P (King A medium) untuk meningkatkan produksi pyocyanin dan pyorubin dan Pseudomonas Agar F (King B medium) untuk meningkatkan produksi fluorescein. P. aeruginosa sering diidentifikasi pertama kali oleh bentuk pearlescent appearance dan bau grape-like atau tortilla-like pada in-vitro. Identifikasi klinis definitive P. aeruginosa sering termasuk mengidentifikasi produksi pyocyanin dan fluorescein.

koloni Pseudomonas aureginosa pada agar

Koloni Pseudomonas aeruginosa pada blood agar plate. From the Center of Diseases Control and Prevention (CDC)

Infeksi Nosokomial
Fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit, tempat perawatan, atau fasilitas rawat jalan, dapat menjadi tempat yang berbahaya untuk terjadinya infeksi. Jenis infeksi nosokomial yang
5

paling sering adalah infeksi luka operasi, infeksi pernafasan, infeksi urogenital dan juga infeksi saluran penceranaan. Infeksi ini sering disebabkan pelanggaran prosedur pengendalian infeksi. Lingkungan yang tidak bersih dan tidak steril, dan/atau pegawai yang sakit. Pasien dengan immunocompromised, orang tua dan anak kecil biasanya lebih rentan daripda yang lainnya. Infeksi ini menular melalui kontak langsung dari staf rumah sakit, alat-alat yang tidak steril, droplet dari pasien lainnya atau bahkan makanan dan minuman yang diberikan oleh rumah sakit. Menurut CDC, pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi nosokomial adalah Staphylococcus aures, Pseudomonas aeruginosa, dan E.coli. Pencegahan infeksi nosokomial termasuk kebersihan petugas yang baik dan cuci tangan, sterilisasi yang cukup untuk alat-alat medis, dan menyediakan lingkungan yang bersih dan sehat di dalam fasilitas pelyanan kesehatan. Pseudomonas aeruginosa adalah pathogen nosokomial yang primer. Menurut CDC, total insiden dari infeksi P.aeruginosa di rumah sakit di Amerika Serikat rata-rata sekitar 0,4% (4 dari 1000 kasus), dan bakteri ini adalah terbanyak ke-empat pathogen nosokomial yang sering diisolasi ,berjumlah 10,1% dari semua infeksi yang didapatkan di rumah sakit. Di dalam rumah sakit P.aeruginosa memiliki banyak reservoir: disinfektan, peralatan pernafasan, makanan, di bak, keran, dan kain pel. Organism ini sering di reintroduced ke lingkungan rumah sakit melalui buah-buahan, tanaman, dan juga oleh pengunjung dan pasien.

Patologi
Faktor predisposisi P.aeruginosa adalah pathogen oportunistik manusia. Bakteri ini bersifat oportunistik karena jarang menginfeksi individu yang sehat. Akan tetapi, sering berkolonialisasi pada pasien dengan immunocmpromised, seperti pasien dengan cystic fibrosis, kanker, atau AIDS. Bakteri sering diisolasi pada pasien yang di rawat di rumah sakit lebih dari 1 minggu. Sebagai tambahan ke patogenitasnya, bakteri ini hanya membutuhkan nutrisi yang sedikit dan bisa menoleransi berbagai kondisi fisik. Bakteri ini sering menjadi penyebab infeksi nosokomial seperti pneumonia, infeksi saluran kemih (ISK), dan bakterimia. Infeksi Pseudomonas yang sulit dan dapat mengancam jiwa. Pathogenesis Pathogenesis dari infeksi Pseudomonas multifaktorial dan kompleks. Pseudomonas sangat invasive dan toxigenic. Ada tiga tahap, menurut Pollack (2000), yaitu (1) penempelan bakteri dan kolonialisasi, (2) infeksi local, dan (3) penyebaran di aliran darah dan penyakit sistemik. Produksi dari ekstraseluler protease menambah virulensi bakteri dengan membantu penempelan dan invasi bakteri. Infeksi Pseudomonal dapat melibatkan berbagai bagian dari tubuh, salah satunya telinga:

Telinga
o

Pada otitis eksterna (swimmers ear), pasien menunjukan gejala nyeri pruritus, dan keluar cairan dari telinga. Nyeri diperburuk dengan tarikan telinga Infeksi Pseudomonas sering menjadi penyebab otitis media kronik. Otitis Eksterna Maligna adalah manifestasi dari infeksi invasive yang biasa terdapat pada pasien diabetes tidak terkontrol. Penyakit ini dimulai sebagai otitis eksterna biasa yang tidak merespon dengan terapi antibiotic. Gejala klinisnya; nyeri yang persisten, edema, melembeknya jaringan halus telinga, dengan secret purulen. Deman biasanya jarang, dan beberapa pasien terdapat paralisis nervus fasialis. Penyebaran infeksi ke tulang temporal dapat mengakibatkan osteomyelitis, dan penyebaran yang lebih jauh dapat mengakibatkan paralisi nervus kranialis dan kemungkinan infeksi system saraf pusat.

Manifestasi klinis Pseudomonal bacteremia terjadi dalam hubungannya dengan kegansan, kemoterapi, AIDS, sepsi luka bakar, dan diabetes. Kondisi yang mendukung infeksi pseudomonal dan manifestasi klinis utamanya adalah sebagai berikut:

Diabetes - Malignant otitis externa Drug addiction - Endocarditis, osteomyelitis Leukemia - Sepsis, typhlitis Cancer - Pneumonia, sepsis Burn wound - Cellulitis, sepsis Cystic fibrosis - Pneumonia Surgery involving CNS - Meningitis Tracheostomy - Pneumonia Neonatal period - Diarrhea Corneal ulcer - Panophthalmitis Vascular catheterization - Bacteremia, suppurative thrombophlebitis Urinary catheterization - UTI

Otitis Eksterna Maligna .

Kanalis auditorius eksternal eritematosa, bengkak, dan meradang, dan ada sekret yang dapat diamati.

Membrane timpani tidak dapat dilihat karena tertutup edema dan dapat rupture. Mungkin ada lymphadenopati lokal

Diagnosis & Pemeriksaan


Diagnosis dari infeksi P.aeruginosa tergantung pada isolasi dan idetifikasi laboratorium dari bakteri. Bakteri ini tumbuh dengan baik pada banyak media laboratorium dan biasanya diisloasi pada agar darah atau eosin-methylthionine blue agar. Bakteri diidentifikasi berdasarkan mofrologi Gram, ketidakmampuan untuk memfermentasikan laktosa, reaksi oksidase positif, bau khas buah, dan kemapuan untuk tumbuh pada 420C. floresensi dibawah ultraviolet sangat membantu pada identifikasi awal koloni P.aeruginosa dan juga membantu mengidentifiksai keberadaannya pada luka. Pemeriksaan Laboratorium Pada hitung sel darah dapat menunjukan leukositosis dengan pergeseran ke kiri dan bandemia. Pada pasien dengan keganasan darah atau postkemoterapi, leucopenia dengan neutropenia dapat diperkirakan. Leucopenia adalah indicator prognosis buruk. Kultur Darah

Mengambil setidaknya 2 set kultur darah (2 aerobik, 2 anaerobik) dari tempat yang berbeda. Hasil positif pada kultur darah adalah tanpa adanya situs infeksi ekstrakardiak dapat mengindikasikan endokarditis Pseudomonal. Tetapi, bakterimia dapat menjadi komplikasi infeksi kateter intravena, alat saluran kemih, trauma, dan pembedahan tanpa adanya endokarditis.

Pada ISK, urinalisis dapat membantu menegakan diagnosis. Pada pneumonia, sputum dan secret pernafasan harus dikultur. Tetapi, isolasi Pseudomonas dari sputum dan skeret trakea dapat mengindikasikan kolonialisasi di jalan nafas. Sensitivitas dan spesifitas dari sputum untuk menentukan bakteri penyebab pneumonia pada pasien dengan ventilator mekanik telah menyebabkan penggunaan besar kultur kuantatif yang diperoleh dari bronchoaveolar lavage. Analisi gas darah untuk menilai hipoksia atau hiperkarbia sebaiknya dilakukan pada pasien dengan pneumonia. Pemeriksaan Histologis Infeksi Pseudomonas menyebabkan inflamasi nekrosis. Secara histologist, batang gramnegatif ditemukan di dinding pembuluh darah, menyebabkan nekrosis koagulasi, bersama dengan thrombosis dan hemorrhage.
8

Penatalaksaan
Antibiotic adalah terapi utama. Kombinasi dua obat, seperti antipseudomonal beta-lactam dengan aminoglikosida, dapat digunakan. P.aeruginosa sering resisten dengan banyak antibiotic yang umum digunakan. Walaupun banyak strain yang rentan dengan gentamisin,tobramisin, colistin, dan amikacin, bentuk resisten telah terbentuk. Carbapanems (cth. Imipenem, meropenem) dengan antipseudomonal kuinolon dapat digunakan dengan gabungan bersama aminoglikosida. Beberapa jenis vaksin sedang di uji coba, tetapi tidak ada yang tersedia untuk pemakaian umum. Infeksi telinga
o o o

Otitis eksterna diobati dengan antibiotic dan steroid local. Otitis Maligna membutuhkan pengobatan agresif dengan 2 antibiotik dan pembedahan Waktu pengobatan 4-8 minggu, tergantung keterlibatan jaringan sekitar.

Pencegahan ISK yg diakibatkan kateter sangat sering terjadi, dan tindakan pencegahan sangat penting. Tindakan pencegahan yang jelas adalah menghindari kateterisasi. Kalau ini tidak mungkin, kateter harus sering diganti. Kateter harus dimasukan secara aseptis dalam kondisi steril. Tindakan higienis yang penting adalah cuci tangan oleh petugas medis. Pasien harus banyak minum cairan setiap hari. Kateter dan area sekitar urethra harus dibersihkan setiap hari. Penggunaan antibiotic propilaksis tidak disarankan karena dapat menyebabkan timbulnya bakteri resisten antibiotic. Kateter intravena harus dimasukan dalam kondisi steril. Pseudomonas dapat berkembang dalam cairan nebulizer; oleh karena itu sterilisasi dan disinfeksi peralatan sangat dibutuhkan.

Komplikasi & Prognosis


Komplikasi Infeksi telinga dapat menyebabkan perikondritis; sinusitis; mastoiditis; osteomyelitis tulang temporal; serangan ke Nervus cranial VII, IX, XI, dan XII; dan thrombosis dari sinus lateral dan sigmoid. Meningitis dan abses otak biasanya jarang

Prognosis

Pseudomonas menyebabkan penyakit spectrum luas; oleh karena itu prognosis bervariasi Prognosis dari Otitis maligna meningkat dengan diagnosis dini dan terapi antibiotic yang cukup Bakterimia, septicemia, meningitis, sepsis luka bakar, dan infeksi mata Pseudomonal menyebabkan prognosis yang buruk.

10

BAB III

KESIMPULAN
Pseudomonas aeruginosa adalah bakteri Gram negative, berbentuk batang, memiliki flagel tunggal. Bakteri ini berukuran panjang 1-5 m dan lebar 0.5-1.0 m. P. aeruginosa adalah aerob obligat, yang menggunakan oksigen sebagai metabolism optimalnya. P. aeruginosa mikroorganisme yang dapat ditemukan secara luas di berbagai lingkungan seperti tanah, air, manusia, hewan, tumbuhan, dan di rumah sakit. Temperature optimum untuk pertumbuhan berkisar antara 370C dan dapat tumbuh sampai suhu 420C. Bakteri ini torelan dengan berbagai macam kondisi fisik, seperti temperature. Bakteri ini juga resisten dengan konsentrasi tinggi garam dan pewarna, antiseptic lemah, dan beberapa antibiotic yang sering digunakan. Fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit, tempat perawatan, atau fasilitas rawat jalan, dapat menjadi tempat yang berbahaya untuk terjadinya infeksi. Jenis infeksi nosokomial yang paling sering adalah infeksi luka operasi, infeksi pernafasan, infeksi urogenital dan juga infeksi saluran penceranaan. Infeksi ini sering disebabkan pelanggaran prosedur pengendalian infeksi. Lingkungan yang tidak bersih dan tidak steril, dan/atau pegawai yang sakit. Pseudomonas aeruginosa adalah pathogen nosokomial yang primer. Menurut CDC, total insiden dari infeksi P.aeruginosa di rumah sakit di Amerika Serikat rata-rata sekitar 0,4% (4 dari 1000 kasus), dan bakteri ini adalah terbanyak ke-empat pathogen nosokomial yang sering diisolasi ,berjumlah 10,1% dari semua infeksi yang didapatkan di rumah sakit. Di dalam rumah sakit P.aeruginosa memiliki banyak reservoir: disinfektan, peralatan pernafasan, makanan, di bak, keran, dan kain pel. Organism ini sering di reintroduced ke lingkungan rumah sakit melalui buah-buahan, tanaman, dan juga oleh pengunjung dan pasien. P.aeruginosa adalah pathogen oportunistik manusia. Bakteri ini bersifat oportunistik karena jarang menginfeksi individu yang sehat. Akan tetapi, sering berkolonialisasi pada pasien dengan immunocmpromised, seperti pasien dengan cystic fibrosis, kanker, atau AIDS. Bakteri sering diisolasi pada pasien yang di rawat di rumah sakit lebih dari 1 minggu. Pathogenesis dari infeksi Pseudomonas multifaktorial dan kompleks. Pseudomonas sangat invasive dan toxigenic. Ada tiga tahap, menurut Pollack (2000), yaitu (1) penempelan bakteri dan kolonialisasi, (2) infeksi local, dan (3) penyebaran di aliran darah dan penyakit sistemik. Produksi dari ekstraseluler protease menambah virulensi bakteri dengan membantu penempelan dan invasi bakteri.

Diagnosis dari infeksi P.aeruginosa tergantung pada isolasi dan idetifikasi laboratorium dari bakteri. Bakteri ini tumbuh dengan baik pada banyak media laboratorium dan biasanya diisloasi pada agar darah atau eosin-methylthionine blue agar. Bakteri diidentifikasi
11

berdasarkan mofrologi Gram, ketidakmampuan untuk memfermentasikan laktosa, reaksi oksidase positif, bau khas buah, dan kemapuan untuk tumbuh pada 420C. floresensi dibawah ultraviolet sangat membantu pada identifikasi awal koloni P.aeruginosa dan juga membantu mengidentifiksai keberadaannya pada luka. Antibiotic adalah terapi utama. Kombinasi dua obat, seperti antipseudomonal beta-lactam dengan aminoglikosida, dapat digunakan. P.aeruginosa sering resisten dengan banyak antibiotic yang umum digunakan. Walaupun banyak strain yang rentan dengan gentamisin,tobramisin, colistin, dan amikacin, bentuk resisten telah terbentuk. Carbapanems (cth. Imipenem, meropenem) dengan antipseudomonal kuinolon dapat digunakan dengan gabungan bersama aminoglikosida. Beberapa jenis vaksin sedang di uji coba, tetapi tidak ada yang tersedia untuk pemakaian umum. Prognosis

Pseudomonas menyebabkan penyakit spectrum luas; oleh karena itu prognosis bervariasi Prognosis dari Otitis maligna meningkat dengan diagnosis dini dan terapi antibiotic yang cukup Bakterimia, septicemia, meningitis, sepsis luka bakar, dan infeksi mata Pseudomonal menyebabkan prognosis yang buruk.

12

Daftar Pustaka
http://emedicine.medscape.com/article/226748 http://microbewiki.kenyon.edu/index.php/Pseudomonas_aeruginosa http://textbookofbacteriology.net/pseudomonas.html http://www.ehagroup.com/resources/pathogens/pseudomonas-aeruginosa/ http://mikrobia.wordpress.com/2008/05/16/pseudomonas-aeruginosa-penyebab-infeksinosokomial/

13