Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ilmu bedah mulut adalah suatu cabang ilmu kedokteran gigi yang mengobati penyakit gigi dan mulut dengan jalan operasi atau suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan pembedahan dalam mulut. Bedah mulut merupakan bagian kecil dari ilmu bedah umum,berdasarkan ilmu pengetahuan pokok yang cukup luas. Seorang ahli bedah mulut sebagai mana ahli-ahli bedah lainnya,seharusnya mempunyai pengetahuan yang luas dan mendalam bukan saja dalam ilmu bedah,tetapi juga mempunyai pengetahuan yang mendalam mengenai ilmu kedokteran dasar seperti anatomi terutama anatomi mulut,tulang dan organ sekitarnya,selain itu juga fisiologi,patologi,farmakologi,bakteriologi dan anastesiologi. Ilmu bedah mulut dapat dibagi dalam 3 bagian yaitu Exodonti (pencabutan gigi), Minor Oral Surgery (Ilmu Bedah mulut sederhana), dan Mayor Oral Surgery (Ilmu Bedah Mulut besar).

1.2. Tujuan Untuk mengetahui definisi pembedahan minor Untuk mengetahui alat-alat yang digunakan pada pembedahan minor

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Bedah minor merupakan tindakan operasi ringan yang biasanya dikerjakan dengan anastesi lokal.

2.2 Tujuan Bedah Minor Sebagai persiapan untuk dilakukan tindakan selanjutnya. Misalnya pada bedah preprostetik. Bedah preprostetik merupakan tindakan bedah minor yang dilakukan sebelum pemasangan atau pembuatan protesa.

2.3 Indikasi dan Kontraindikasi Bedah Minor Indikasi - Pada keadaan pasien yang sehat dan tenang - Out patient ( pasien rawat jalan ) yang biasanya dirawat dengan anaestesi lokal. - Kasus bedah yang ringan Kontraindikasi - Pada keadaan pasien yang sakit dan tidak tenang - In patient ( pasien rawat inap) yang biasanya dirawat dengan anaestesi umum. - Kasus bedah yang berat

2.4 Lokasi Pembedahan Lesi yang berada pada : - Mukosa - Di bawah mukosa - Di dalam tulang - Kulit

2.5 Prosedur Tindakan Bedah 1. Tindakan bedah yang meliputi jaringan tulang dan jaringan lunak Prosedurnya : a. Insisi dan pembuatan muko-periost flap b. Pengambilan tulang yang menutupi lesi
2

c. Pengambilan gigi, sisa akar atau lesi lainnya dalam tulang d. Pembersihan luka atau tulang e. Penutupan flap dengan penjahitan packingatau dressing f. Perawatan pasca bedah

2. Tindakan bedah yang meliputi jaringan lunak saja Prosedurnya : a. Insisi dan pembuatan mucosal flap dan pengambilan lesi b. Pembersihan luka c. Penjahitan luka d. Perawatan pasca bedah

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Definisi Pembedahan Minor Bedah Minor merupakan pembedahan dimana secara relatif dilakukan secara simple, tidak memiliki resiko terhadap nyawa pasien dan tidak memerlukan bantuan asisten untuk melakukannya seperti contoh membuka abses superficial, pembersihan luka, inokuasi, superfisial neuroktomi dan tenotomi.

3.2 Alat-alat yang digunakan dalam pencabutan gigi Alat yang digunakan dalam pencabutan gigi adalah sebagai berikut : 1. Alat-alat standar a. Kaca mulut : untuk melihat rongga mulut serta untuk menarik bibir saat penyuntikan anesthesi.

b. Sonde : dapat digunakan untuk mengetahui apakah anesthesi telah berjalan atau tidak, bisa juga digunakan untuk mengetahui apakah masih ada halangan pada gigi yang akan dicabut.

c. Pinset : dipakai untuk menjepit kapas atau kasa yang digunakan untuk membersihkan luka atau sebagai tampon.

Gambar A.3. Pinset

d. Ekskavator : mengambil jaringan yang kecil yang masih tertinggal.

Gambar A.4. Ekskavator 2. Raspatorium : untuk melepaskan gingiva pada daerah yang akan dicabut, agar gingiva tidak tersobek pada saat dicabut.

Gambar A.5. Raspatorium 3. Elevator bend : untuk melonggarkan akar gigi dari tulang alveolar.

Gambar A.6. Elevator

4. Crayer : untuk mengungkit atau mencongkel sisa akar dari tulang alveolus.

Gambar A.7. Crayer 5. Sendok kista atau granuloma : untuk mengambil granuloma atau kista dari tulang alveolus (jika terdapat kista atau granuloma) 6. Tang ekstraksi : tang untuk mencabut gigi.tang yang digunakan untuk setiap gigi berbeda, sesuai dengan bentuk anatomis setiap gigi.

Gambar A.8. Tang untuk pencabutan gigi sulung

3.2 Instrumen Yang Di Gunakan Pada Pembedahan Minor Instrumen dasar bedah minor terbagi atas empat berdasarkan fungsi, yakni instrumen dengan fungsi memotong (pisau scalpel + pegangan dan beragam jenis gunting), instrumen dengan fungsi menggenggam (pinset anatomi, pinset cirrhurgis dan klem jaringan), instrumen dengan fungsi menghentikan perdarahan (klem arteri lurus dan klem mosquito), serta instrumen dengan fungsi menjahit (needle holder,benang bedah, dan needle).

A. Instrumen Dengan Fungsi Memotong 1. Pisau Scalpel + Pegangan Scalpel merupakan mata pisau kecil yang digunakan bersama pegangannya. Alat ini bermanfaat dalam menginsisi kulit dan memotong jaringan secara tajam. Selain itu, alat ini juga berguna untuk mengangkat jaringan/benda asing dari bagian dalam kulit. Setiap pisau scalpel memiliki dua ujung yang berbeda, yang satu berujung tajam sebagai bagian pemotong dan yang lainnya berujung tumpul berlubang sebagai tempat menempelnya pegangan scalpel. Cara pemasangannya: pegang area tumpul pisau dengan needle-holder dan hubungkan lubang pada area tersebut pada lidah pegangan sampai terkunci (terdengar bunyi). Cara pelepasan: pegang ujung pisau dengan needle-holder dan lepaskan dari lidah pegangan, kemudian buang di tempat sampah. Pegangan scalpel yang sering digunakan adalah yang berukuran 3 yang dapat digunakan bersama pisau scalpel dalam ukuran beragam. Sedangkan pisau scalpel yang sering digunakan adalah yang berukuran no.15. Ukuran no.11 digunakan untuk insisi abses dan hematoma perianal. Pegangan scalpel digunakan seperti pulpen dengan kontrol maksimal pada waktu pemotongan dilakukan. Dalam praktek keseharian, pegangan scalpel biasanya diabaikan sehingga hanya memakai pisau scalpel. Hal ini bisa diterima dengan pertimbangan pisaunya masih dalam keadaan steril (paket baru) dan harus digunakan dengan pengontrolan yang baik agar tidak menimbulkan kerusakan jaringan sewaktu memotong.

2. Gunting Pada dasarnya gunting mengkombinasikan antara aksi mengiris dan mencukur. Mencukur membutuhkan aksi tekanan halus yang saling bertentangan antara ibu jari dan anak jari lainnya. Gerakan mencukur ini biasanya dilakukan oleh tangan dominan yang bersifat tidak disadari dan berdasarkan insting. Sebaiknya gunakan ibu jari dan jari manis pada kedua lubang gunting. Hal ini akan menyebabkan jari telunjuk menyokong instrumen pada waktu memotong sehingga kita dapat memotong dengan tepat. Selain itu, penggunaan ibu jari dan jari telunjuk pada lubang gunting biasanya pengontrolannya berkurang. Jenis-jenis gunting berdasarkan objek kerjanya, yakni gunting jaringan (bedah), gunting benang, gunting perban dan gunting iris. a. Gunting Jaringan (bedah) Gunting jaringan (bedah) terdiri atas dua bentuk. Pertama, berbentuk ujung tumpul dan berbentuk ujung bengkok. Gunting dengan ujung tumpul digunakan untuk membentuk bidang jaringan atau jaringan yang lembut, yang juga dapat dipotong secara tajam. Gunting dengan ujung bengkok dibuat oleh ahli pada logam datar dengan cermat. Pemotongan dengan gunting ini dilakukan pada kasus lipoma atau kista. Biasanya dilakukan dengan cara mengusuri garis batas lesi dengan gunting. Harus dipastikan kalau pemotongan dilakukan jangan melewati batas lesi karena dapat menyebabkan kerusakan. b. Gunting Benang (dressing scissors) Gunting benang didesain untuk menggunting benang. Gunting ini berbentuk lurus dan berujung tajam. Gunakan hanya untuk menggunting benang, tidak untuk jaringan. Gunting ini juga digunakan saat mengangkat benang pada luka yang sudah kering dengan tehnik selipan dan sebaiknya pemotongan benang menggunakan bagian ujung gunting. Hati-hati dalam pemotongan jahitan. Jika ujung gunting menonjol keluar jahitan, terdapat resiko memotong struktur lainnya. c. Gunting Perban
8

Gunting perban merupakan gunting berujung sudut dengan ujung yang tumpul. Gunting ini memiliki kepala kecil pada ujungnya yang bermanfaat untuk memudahkan dalam memotong perban. Jenis gunting ini terdiri atas knowles dan lister. Bagian dasar gunting ini lebih panjang dan digunakan sangat mudah dalam pemotongan perban. Ujung tumpulnya didesain untuk mencegah kecelakaan saat remove perban dilakukan. Selain untuk membentuk dan memotong perban sesaat sebelum menutup luka, gunting ini juga aman digunakan untuk memotong perban saat perban telah ditempatkan di atas luka. d. Gunting Iris Gunting iris merupakan gunting dengan ujung yang tajam dan berukuran kecil sekitar 3-4 inchi. Biasanya digunakan dalam pembedahan ophtalmicus khususnya iris. Dalam bedah minor, gunting iris digunakan untuk memotong benang oleh karena ujungnya yang cukup kecil untuk menyelip saat remove benang dilakukan.

B. Instrumen Dengan Fungsi Menggenggam/Pemegang 1. Pinset Anatomi Pinset Anatomi memiliki ujung tumpul halus. Secara umum, pinset digunakan oleh ibu jari dan dua atau tiga anak jari lainnya dalam satu tangan. Tekanan pegas muncul saat jari-jari tersebut saling menekan ke arah yang berlawanan dan menghasilkan kemampuan menggenggam. Alat ini dapat menggenggam objek atau jaringan kecil dengan cepat dan mudah, serta memindahkan dan mengeluarkan jaringan dengan tekanan yang beragam. Pinset Anatomi ini juga digunakan saat jahitan dilakukan, berupa eksplorasi jaringan dan membentuk pola jahitan tanpa melibatkan jari. (wikipedia)

2. Pinset Chirurgis Pinset Chirurgis biasanya memiliki susunan gigi 1x2 (dua gigi pada satu bidang). Pinset bergigi ini digunakan pada jaringan; harus dengan perhitungan tepat, oleh karena dapat
9

merusak jaringan jika dibandingkan dengan pinset anatomi (dapat digunakan dengan genggaman halus). Alat ini memiliki fungsi yang sama dengan pinset anatomi yakni untuk membentuk pola jahitan, meremove jahitan, dan fungsi-fungsi lainnya. 3. Pinset Splinter Penggunaannya adalah untuk mengadaptasi tepi-tepi luka ( mencegah overlapping).

3. Klem Jaringan Klem jaringan berbentuk seperti penjepit dengan dua pegas yang saling berhubungan pada ujung kakinya. Ukuran dan bentuk alat ini bervariasi, ada yang panjang dan adapula yang pendek serta ada yang bergigi dan ada yang tidak. Alat ini bermanfaat untuk memegang jaringan dengan tepat. Biasanya dipegang oleh tangan dominan, sedangkan tangan yang lain melakukan pemotongan, atau menjahit. Cara pemegangannya: klem dipegang dalam keadaan relaks seperti memegang pulpen dengan posisi di tengah tangan. Banyak orang yang memegang klem ini dengan salah, yang memaksa lengan dalam posisi pronasi penuh dan menyebabkan tangan menjadi tegang. Dalam penggunaannya, hati-hati merusak jaringan. Pegang klem selembut mungkin, usahakan genggam jaringan sedalam batas yang seharusnya. Klem jaringan bergigi memiliki gigi kecil pada ujungnya yang digunakan untuk memegang jaringan dengan kuat dan dengan pengontrolan yang akurat. Hati-hati, kekikukan pada saat menggunakan alat ini dapat merusak jaringan. Kemudian, klem tidak bergigi juga memiliki resiko merusak jaringan jika jepitan dibiarkan terlalu lama, karena klem ini memiliki tekanan yang kuat dalam menggenggam jaringan.

10

C. Instrumen Dengan Fungsi Menghentikan Perdarahan 1. Klem Arteri Pada prinsipnya, klem arteri bermanfaat untuk menghentikan perdarahan pembuluh darah kecil dan menggenggam jaringan lainnya dengan tepat tanpa menimbulkan kerusakan yang tidak dibutuhkan. Secara umum, klem arteri dan needle-holder memiliki bentuk yang sama. Perbedaannya pada struktur jepitan, dimana klem arteri, struktur jepitannya berupa galur paralel pada permukaannya dan ukuran panjang pola jepitannya sampai handle agak lebih panjang dibanding needle-holder. Alat ini juga tersedia dalam dua bentuk yakni bentuk lurus dan bengkok (mosquito). Namun, bentuk bengkok (mosquito) lebih cocok digunakan pada bedah minor. Cara penggunaan: klem arteri memiliki ratchet pada handlenya. Ratchet inilah yang menyebabkan posisi klem arteri dalam keadaan terututup (terkunci). Ratchet umumnya memiliki tiga derajat, dimana pada saat penutupan jangan langsung menggunakan derajat akhir karena akan mengikat secara otomatis dan sulit untuk dilepaskan. Pelepasan klem dilakukan dengan cara pertama harus ditekan ke dalam handlenya, kemudian dipisahkan handlenya sambil membuka keduanya. Sebaiknya gunakan ibu jari dan jari manis karena hal ini akan menyebabkan jari telunjuk mendukung instrumen bekerja sehingga dapat memposisikan jepitan dengan tepat. Jepitan klem arteri berbentuk halus dengan galur lintang paralel yang membentuk chanel lingkaran saat instrumen ditutup. Jepitan ini berukuran relatif panjang terhadap handled yang memungkinkan genggaman jaringan lebih halus tanpa pengrusakan. Jepitan dengan ujung bengkok (mosquito) berfungsi untuk membantu pengikatan pembuluh darah. Jangan menggunakan klem ini untuk menjahit, oleh karena struktur jepitannya tidak mendukung dalam memegang needle.

D. Instrumen Dengan Fungsi Menjahit 1. Needle Holder Needle holder bermanfaat untuk memegang needle saat insersi jahitan dilakukan. Secara keseluruhan antara needle holder dan klem arteri berbentuk sama. Handled dan ujung jepitannya bisa berbentuk lurus ataupun bengkok. Namun, yang paling penting adalah perbedaan pada struktur jepitannya. Struktur jepitan needle holder berbentuk criss-cross di permukaannya dan memiliki ukuran handled yang lebih panjang dari jepitannya, untuk tahanan yang kuat dalam menggenggam needle. Oleh karena itu, jangan menggenggam jaringan dengan needle holder karena akan menyebabkan kerusakan jaringan secara serius.
11

Cara penggunaan: cara menutup dan melepas sama dengan metode ratchet yang telah dipaparkan pada penggunaan klem arteri di atas. Needle digenggam pada jarak 2/3 dari ujung berlubang needle, dan berada pada ujung jepitan needle-holder. Hal ini akan memudahkan tusukan jaringan pada saat jahitan dilakukan. Selain itu, pemegangan needle pada area dekat dengan engsel needle holder akan menyebabkan needle menekuk. Kemudian, belokkan needle sedikit ke arah depan pada jepitan instrumen karena akan disesuaikan dengan arah alami tangan ketika insersi dilakukan dan tangan akan terasa lebih nyaman. Kegagalan dalam membelokkan needle ini juga akan menyebabkan needle menekuk. Tehnik menjahit : jaga jari manis dan ibu jari menetap pada lubang handle saat menjahit dilakukan yang membatasi pergerakan tangan dan lengan. Pegang needle holder dengan telapak tangan akan memberikan pengontrolan yang baik. Secara konstan, jangan mengeluarkan jari dari lubang handled karena dapat merusak ritme menjahit. Pertimbangkan pergunakan ibu jari pada lubang handled yang menetap, namun manipulasi lubang lainnya dengan jari manis dan kelingking.

2. Benang Bedah Benang dapat dibagi menurut : 1. Penyerapan a. Benang yang dapat diserap atau absorbable, contoh: catgut, asam poliglikolat (Dexon), asam poliglaktik (Vicryl) dan polidioksanone. Yang paling sering dipakai adalah catgut dan Vicryl. Jenis benang yang dapat diserap Catgut Benang jenis ini terbuat dari usus halus kucing atau domba. Catgut merupakan benda asing bagi jaringan tubuh yang dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Plain catgut memiliki waktu absorbsi sekitar 10 hari. Chromic catgut yang mengandung
12

garam kromium memiliki waktu absorbsi yang lebih lama sampai 20 hari. Chromic catgut biasanya menyebabkan reaksi inflamasi yang lebih besar dibandingkan plain catgut. Tidak terbukti bahwa catgut dapat menyebabkan reaksi alergi. Catgut digunakan untuk mengikat pembuluh darah lapisan subkutaneus dan untuk menutup kulit di skortum dan perineum. Benang sintetis

a. Multifilamen Asam poliglikolat atau Dexon adalah benang sintetis yang mempunyai kekuatan regangan sangat besar. Diserap habis setelah 60 90 hari. Efek reaksi jaringan yang dihasilkan lebih kecil daripada catgut. Digunakan untuk menjahit fasia otot, kapsul organ, tendon dan penutupan kulit secara subkutikulet Dexon tidak mengandung protein kolagen, antigen, dan zat pirogen sehingga menimbulkan reaksi jaringan yang minimal. Karena bentuknya yang berpilin jangan digunakan untuk menjahit di permukaan kulit karena dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri sehingga mudah timbul infeksi. Asam poliglaktik atau vicryl adalah benang sintetis berpilin yang sifatnya mirip dengan dexon. Benang ini memiliki kekuatan regangan sedikit di bawah dexon dan dapat diserap habis setelah 60 hari pascaoperasi. Hanya digunakan untuk menjahit daerah-daerah yang tertutup dan merupakan kontraindikasi untuk jahitan permukaan kulit. Vicryl biasanya berwarna ungu. Untuk menghasilkan kekuatan yang memuaskan Vicryl dan dexon disimpul minimal tiga kali. Vicryl dan dexon terutama digunakan untuk meligasi pembuluh darah, menautkan fasia, dan menjahit kulit secara subkutikular. b. Monofilamen Polidioksanone (PDS). Kekuatan regangannya bertahan selama 4 sampai 6 minggu dan diserap seluruhnya setelah 6 bulan. Karena monofilamen, benang ini sangat baik untuk menjahit daerah yang terinfeksi atau terkontaminasi.

13

b. Benang yang tidak dapat diserap atau non-absorbable. Contoh: sutera, katun, poliester, nilon, polypropilene (prolene), dan kawat tahan karat. Yang sering dipakai adalah sutera dan polypropilene. Jenis benang yang tidak dapat diserap Sutera atau silk

Serat protein yang dihasilkan larva ulat sutera yang dipilin menjadi benang. Mempunyai kekuatan regangan yang besar, mudah dipegang dan mudah dibuat simpul. Kelemahannya, kekuatan regangan dapat menyusut pada jaringan yang berbeda-beda, umumnya timbul setelah 2 bulan pascapoperasi. Poliester (dacron)

Serat poliester, berupa benang pilinan yang mempunyai kekutan regangan yang sangat besar. Sangat dianjurkan untuk penutupan fasia. Kerugiannya adalah tidak digunakan pada jaringan yang terinfeksi atau terkontaminasi karena bentuknya yang berpilin. Untuk kekuatan yang maksimal poliester disimpul minimal sebanyak lima kali. Polipropilene (prolene)

Material monofilamen yang sangat halus sehingga tidak banyak menimbulkan kerusakan dan reaksi jaringan. Biasanya berwarna biru. Pada beberapa merek prolene langsung bersambung dengan jarum berukuran diameter sama sehingga tidak menimbulkan trauma yang berlebihan. Merupakan pilihan utama untuk menjahit daerah yang terinfeksi atau terkontaminasi. Ukuran yang sangat kecil sering digunakan untuk bedah mikro. Kelemahannya benang ini sulit disimpul dan sering terlepas sendiri. Kawat baja

Dibuat dari baja yang mengandung karbon rendah merupakan bahan inert (tidak bereaksi dengan jaringan). Menghasilkan kekuatan regangan yang terbesar dan reaksi jaringan yang minimal. Kesulitannya adalah dalam hal menjahit dan harus hati-hati untuk mencegah supaya jaringan tidak terpotong atau terlipat (kinking). Digunakan untuk menyambung ligamen, tendon dan tulang.

2.

Reaksi jaringan yang timbul terhadap materi yang digunakan untuk pembuatannya a. Benang yang menimbulkan reaksi (besar), misalnya catgut, sutera, dan benangbenang multifilamen.

14

b. Benang yang menimbulkan reaksi minimal, misalnya nilon dan benag-benang monofilamen. 3. Filamen fisik a. Benang multifilamen yang disusun/kepang (braided), misalnya sutera. b. Benang monofilamen yang hanya terdiri dari satu filamen, misalnya nilon. Ukuran Benang Benang ukuran terbesar yang tersedia adalah nomor 5 yang kira-kira berukuran seperti kawat biasa. Ukuran akan mengecil sampai ke nomor 1, yamg masih dianggap benang yang kasar. Ukuran yang lebih kecil lagi dimulai dari 1.0, kemudian 2.0 , 3.0 dan seterusnya sampai yang terkecil 10.0. Untuk kegunaan biasa ukuran 5.0 sampai 1.0 adalah ukuran baku. Ukuran 6.0 sampai 7.0 digunakan untuk anastomosis pembuluh darah halus, ukuran 8.0 sampai 10.0 untuk operasi mata dan bedah mikro, ukuran 0 1 cocok untuk menjahit fasia sedangkan ukuran 4.0 untuk menjahit tendon.

3.

Jarum Jahit Jarum jahit bedah yang lurus atau lengkung, berbeda-beda bentuknya berdasarkan

penampang batang jarum yang bulat atau bersegi tajam dan bermata atau tidak bermata. Jarum umumnya dapat dibedakan menurut dua cara yaitu atas dasar traumatis atraumatis serta menurut bentuk ujung dan penampangnya yaitu cutting noncutting. Berdasarkan caranya, yaitu : A. Jarum traumatis Jarum yang mempunyai mata untuk memasukkan benang di bagian ujungnya yang tumpul. Disebut traumatis karena jarum ini pada bagian yang bermata ukuran penampangnya lebih besar dari bagian ujungnya yang tajam sehingga akan menimbulkan bekas luka yang lebih besar. Hal ini kurang menguntungkan jika digunakan pada jaringan yang halus seperti usus dan pembuluh darah atau jaringan kritis lainnya. Keuntungannya adalah jarum ini dapat dipakai berulang kali dan harganya lebih murah. B. Jarum Atraumatis Jarum yang tidak bermata sehingga ujung jarum langsung dihubungkan dengan benang. Jarum ini mempunyai ukuran penampang yang hampir sama besar dengan ukuran benangnya. Kerugiannya jarum ini hanya bisa dipakai sampai benangnya habis dan harganya jauh lebih mahal dari jarum traumatis.

15

Berdasarkan bentuk ujung dan penampangnya, yaitu : A. Jarum cutting Jarum yang penampangnya berbentuk segitiga atau pipih dan tajam, sehingga ketika dipakai dapat menyayat jaringan dan menimbulkan lubang yang lebih lebar. Jarum ini umumnya dipakai untuk menjahit kulit dan tendo karena keduanya adalah jaringan yang sangat liat. B. Jarum non-cutting Jarum yang penampangnya bulat dan ujungnya saja yang tajam, sehingga tidak menimbulkan sayatan yang lebar pada kulit. Jarum ini digunakan untuk menjahit jaringan lunak, fasia, dan otot

E. Instrument penarik ( retraktor ) Retraktor banyak dipakai untuk menyisihkan jaringan yang menghalangi gerakan, juga untuk memberikan pemaparan yang lebih baik.

Gambar B.5. retraktor F. Instrumen penghisap Digunakan bila perdarahan cukup banyak. Alat penghisap untuk prosedur minor adalah penghisap berujung Frazier.

16

BAB IV KESIMPULAN

Pelaksanaan prosedur bedah minor mengharuskan seorang dokter mengetahui beberapa pengetahuan dasar mengenai tindakan ini. Pengetahuan dasar tersebut berupa instrumen bedah minor, bahan serta tehnik disinfeksi dan tehnik menjahit jaringan. Instrument utama yang digunakan dalam pembedahan minor adalah Instrumen dasar bedah minor terbagi atas empat berdasarkan fungsi, yakni instrumen dengan fungsi memotong (pisau scalpel + pegangan dan beragam jenis gunting), instrumen dengan fungsi menggenggam (pinset anatomi, pinset cirrhurgis dan klem jaringan), instrumen dengan fungsi menghentikan perdarahan (klem arteri lurus dan klem mosquito), serta instrumen dengan fungsi menjahit (needle holder,benang bedah, dan needle).

17

DAFTAR PUSTAKA

http://c11104066.blogspot.com/2011/12/pengenalan-instrumen-dasar-bedah-minor.html Jumat, 23 Desember 2011 http://wikimed.blogbeken.com/peralatan-2 http://kmbakp.blogspot.com/2010/03/mengenal-intrumen-bedah-minor.html Kamis, 25 Maret 2010 http://wikimed.blogbeken.com/peralatan-2 http://id.shvoong.com/medicine-and-health/medicine-history/2080535-pengertian-bedah-danmacam-macam/

18