Anda di halaman 1dari 11

Penatalaksanaan Kegawat Daruratan Psikiatri

Nindita Pinastikasari Rumah Sakit Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang

Abstract: The emergency of psychiatric is a disturbia of their feelings, thinking and habit that need an emergency helps because those people can die into regretion or chronical defect. The most dangerous for themselves or other people and their enviroment, but it can give advantageous to rise again their feelings, insight, understandings, rise up their power and the good things for looking the background of feeling disturbia. To help that emergency of psychiatric are being easy and full of confidence also can be more careful and to know that the people could being an aggression person. For the next is give information to the people and tell that vandalism can not be accepted by their enviroment. Key word: The Emergency, Psychiatric

Kegawat daruratan psikiatri merupakan suatu kondisi darurat yang perlu penanggulangan segera karena adanya gangguan perilaku, emosi, proses berpikir yang dapat menimbulkan resiko terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya. Penyebab kegawat daruratan psikiatrik adalah: Bisa hal yang tidak berhubungan dengan kelainan organis (Psikosis, mania, histeri dissosiatif, gangguan panik dan sebagainya). Atau hal yang berhubungan dengan kelainan organis/delirium (trauma kapitis, drug abuse, stroke, kelainan metabolik, sensitivitas terhadap obat dan sebagainya). Kondisi yang masuk kategori kedaruratan psikiatrik adalah: Gaduh gelisah. Krisis bunuh diri. Akibat penggunaan NAPZA atau NARKOBA.

GADUH GELISAH Kegawat daruratan psikiatrik gaduh gelisah dapat disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut: o Psikosis (fungsional maupun organik). Psikosis Fungsional: Psikosis reaktif, Skizofrenia, manik depresif, amok dan sebagainya). Psikosis Organik: Delirium, demensia, psikosis berhubungan dengan zat, psikosis karena gangguan metabolik, psikosis karena trauma kepala maupun infeksi pada otak, dan sebagainya). Kecemasan Akut dengan/tanpa Panik. Kebingungan post konvulsi. Reaksi disosiasi & keadaan fugue. Ledakan amarah/temper tantrum. Penanganan kegawat daruratan psikiatik pada gaduh gelisah - Bersikap tenang dan penuh percaya diri serta dengan kewaspadaan penuh maka nilai kondisi pasien yang berkemungkinan agresif. o Informasikan kepada pasien bahwa kekerasan tak dapat diterima - Periksa fisik dan wawancarai pasien dengan tutur kata lembut, menenangkan, bantu menilai realitas pasien serta beri keyakinan bahwa pasien akan mendapat pertolongan.

Alamat Korespondensi: Nindita Pinastikasari Tenaga Kesehatan Rumah Sakit Dr. Radjiman Wediodiningrat Malang Jl. Akhmad Yani 15, Lawang, Malang

57

Nindita Pinastikasari

Kalau mungkin, lepas ikatan apabila kondisi memungkinkan, sambil tetap waspada bahwa pasien akan menipu, melarikan diri, mengamuk setelah ikatan dilepas. Sebaliknya informasikan bahwa fiksasi akan digunakan bila perlu. Kalau perlu pamer kekuatan dengan menyiapkan tim yang sudah siap melakukan fiksasi. Medikasi bila dirasa perlu.

Beberapa hal yang perlu curiga adanya Gangguan Mental Organik bila: - Onset akut. - Episoda pertama. - Usia tua. - Penyakit fisik atau cidera yang baru terjadi. - Riwayat penyalahgunaan obat. - Adanya halusinasi non auditorik. - Adanya gejala neurologik: kejang, penurunan kesadaran, nyeri kepala tertentu. - Perubahan penglihatan. - Status mental tertentu. - Gangguan bicara, berjalan, gait - Gambaran katatonik, bradikinesia (Eko, 2009). Pemeriksaan laboratorium untuk pasien gaduh gelisah akut dengan kecurigaan organik - Darah lengkap. - Elektrolit. - Gula darah. - Fungsi liver/renal. - Urin test untuk NAPZA. - Kadar alkohol dalam darah. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada Pasien Gaduh Gelisah - Medikasi hanya bertujuan untuk mengontrol target simptom - Pasien eksaserbasi akut sebaiknya diketahui obat yang sedang atau terakhir dipakai. - Pemberian obat per oral harus segera dimulai pada hari itu juga. Fiksasi pada pasien gaduh gelisah adalah: - Fiksasi yang digunakan untuk penjagaan atau perawatan pasien agar jangan melukai 58

diri sendiri, menyerang orang lain atau merusak barang. - Harus dilakukan dengan mengingat, kenyamanan pasien tak terganggu, pemberian makanan dan obat tetap dapat berlangsung. - Penjelasan kepada pasien. dan penanggung jawab pasien. - Seharusnya memakai alat yang telah disiapkan secara standar maka pengikat kulit yang paling aman dan bukan tali. Metode fiksasi atau dengan pengikatan pada pasien gaduh gelisah - Menggunakan petugas sebanyak empat sampai lima orang. - Menjelaskan pada pasien mengapa harus diikat. - Seorang petugas harus selalu terlihat pasien dan menenteramkan untuk menghilangkan rasa takut, ketidakberdayaan dan hilangnya kendali pasien. - Pasien.diikat dengan tungkai terpisah, satu lengan diikat di satu sisi dan lengan lain di atas kepala. - Pengikatan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga cairan infus dapat diberikan jika perlu. Kepala pasien agak ditinggikan untuk menurunkan perasaan rentan dan menghindari kemungkinan aspirasi. - Pengikatan harus diperiksa berkala demi keamanan dan kenyamanan pasien. - Setelah pasien diikat, dimulai intervensi terapi. - Setelah pasien terkendali, satu ikatan sekali waktu harus dilepas dengan interval 5 menit, sampai pasien hanya memiliki dua ikatan di kaki. Kedua ikatan lainnya harus dilepas bersamaan. - Selalu mencatat dengan lengkap alasan pengikatan, perjalanan terapi dan respon pada pasien terhadap terapi selama pengikatan (Eko, 2009).

PSIKOVIDYA VOLUME 13 NOMOR 1 APRIL 2009

Penatalaksanaan Kegawat Daruratan Psikiatri

KEDARURATAN PSIKIATRIK AKIBAT KRISIS BUNUH DIRI. Percobaan bunuh diri adalah segala usaha perbuatan yang disengaja dilakukan seseorang untuk membinasakan dirinya dalam waktu segera. Gagasan seseorang untuk bunuh diri adalah pikiran atau ide untuk menghabisi nyawa sendiri, terdapat pada orang yang peka terhadap stressor, dapat terjadi di segala usia, dapat berlangsung dalam waktu yang lama tanpa usaha bunuh diri. Perilaku bunuh diri adalah perilaku yang disengaja atau tidak, dapat membahayakan nyawa sendiri. Misalnya: mutilasi diri (memotong pergelangan tangan, menggigit, membenturkan kepala). Mutilasi diri merupakan gejala dari gangguan psikiatrik dan penyakit fisik. (Marga, 2009). Macam-Macam Bunuh Diri Emile Durkheim: Bunuh diri egosentrik adalah bunuh diri yang disebabkan individu tidak berintegrasi dengan masyarakat, kegagalan integrasi dalam keluarga. Bunuh diri altruistik adalah bunuh diri disebabkan individu terikat tuntutan tradisi khusus (misalnya harakiri), identifikasi yang terlalu kuat dengan suatu kelompok. Bunuh diri anomik terjadi bila ada gangguan keseimbangan integrasi antara individu dengan masyarakat sehingga masyarakat tidak bisa mengatur dan mengawasi kebutuhannya. Individu kehilangan pegangan dan tujuan serta meninggalkan norma-norma yang biasa (misalnya: perceraian, perubahan ekonomi yang drastis). Menurut Herbert Hendin: Kematian sebagai pelepasan pembalasan dan bunuh diri untuk mengurangi preokupasi tentang perasaan takut akan kematian. Kematian merupakan pembunuhan ke belakang dan bunuh diri dapat mengganti kemarahan atau kekerasan yang tidak dapat direpresi.
ISSN: 0853-8050

Kematian sebagai penyatuan kembali: kematian bisa mempunyai arti menenangkan karena bisa bersatu dengan orang yang sudah meninggal. Kematian sebagai hukuman buat diri sendiri karena tidak mampu mencintai, merasa tidak berguna,berdosa karena tidak bisa mengendalikan emosi dan perbuatan agresi. Menurut Freud, Tingkah laku bunuh diri untuk menyatakan amarah dan permusuhan terhadap seseorang yang dicintai sehingga mengganggu keseimbangan insting untuk hidup dan mati. Proses pikiran tak sadar memainkan peranan sentral dalam perilaku id, ego, superego yang mengalami konflik dan tidak berdaya. Menurut Meninger ada tiga hal pada bunuh diri: Adanya keinginan untuk membunuh atau menyerang. Adanya keinginan untuk dibunuh dan mati. Adanya keinginan hukuman pada diri sendiri. Menurut Scheiderman dan Farberow: o Ancaman bunuh diri (treatened suicide). o Percobaan bunuh diri (attemped suicide). o Bunuh diri yang telah dilakukan (commited suicide). o Depresi dengan hendak bunuh diri. o Melukai diri sendiri (self destruction). Psikodinamika yang terjadi karena hampir semua orang, sekali waktu dalam hidupnya timbul pikiran untuk lebih baik mati saja. Motivasi ini sangat kompleks dan apakah buah pikiran itu menjadi kenyataan terjadilah proses psikologik didalam alam pikirnya tergantung keadaan lingkungan sosial dan fisik serta keadaan jiwa dan badan orang itu. Individu yang mengalami krisis mental bila teratasi dengan baik maka akan dapat lebih mematangkan jiwanya, tetapi bila tidak teratasi maka jatuh ke dalam keadaan yang lebih buruk. (Marga, 2009). Niat bunuh diri ini masih terbentur pada sikap yang ambivalen antara keinginan untuk hidup dan mati, maka untuk menghilangkan sikap ambivalensinya dia menjabarkan ga59

Nindita Pinastikasari

gasannya tentang konsep mati, cara, waktu, tempat dan akibatnya. Motivasi bunuh diri bisa disebabkan oleh: o Penyelesaian masalah frustasi. Karena kecewa dalam hubungan dengan orang lain, benda/barang, tujuan yang tidak tercapai. o Balas dendam. o Memperoleh keadaan yang damai dan tentram. o Hilangnya rasa man dan kepastian akan statusnya. o Anggapan sebagai jalan keluar. Pada tindakan bunuh diri keinginan untuk mati jauh lebih besar daripada keinginan untuk hidup. Disebabkan oleh banyak faktor antara lain: o Penyakit atau kondisi yang beresiko untuk terjadinya bunuh diri. o Insomnia berat. o Penggunaan alkohol dan obat-obatan. o Skizofrenia. o Penyakit Fisik. o Individu dengan orientasi homoseksual. o Gangguan Stres Pasca Trauma. o Riwayat keluarga bunuh diri. o Lain-lain Krisis bunuh diri manifestasinya adalah berupa: Ketegangan yang tidak dapat ditahan lagi, perasaan sedih dan putus asa. Adanya isyarat berupa ucapan, ancaman akan bunuh diri, cerita yang menunjukkan bosan hidup dan ingin mati atau catatan bunuh diri. Jeritan minta tolong diwujudkan dalam sikap ambivalensi yaitu mempunyai niat mengakhiri hidupnya pada saat itu juga menginginkan ada orang lain yang menyelamatkan. Orang-orang yang beresiko tinggi untuk melakukan bunuh diri adalah sebagai berikut: Orang dengan keinginan mati yang sungguh-sungguh, adanya pernyataan yang berulang-ulang bahwa dia ingin mati, bisa disertai dengan persiapan terperinci. 60

Adanya depresi dengan gejala rasa bersalah dan dosa, rasa putus asa, ingin dihukum berat, rasa cemas yang hebat, sangat berkurangnya nafsu makan, seks dan kegiatan lain serta adanya gangguan tidur yang berat. Adanya psikosis, terutama yang impulsif serta adanya perasaan curiga, ketakutan dan panik. Keadaan semakin berbahaya jika pasien mendengar suara/halusinasi yang memerintahkan agar dia membunuh dirinya.

Tindakan psikiatrik bisa dengan jalan: o Harus masuk rumah sakit. o Cukup berobat jalan. o Segera dipulangkan dengan pemberian nasehat-nasehat. Pilihan mana yang diambil bergantung besar kecilnya bahaya yang mengancam jiwa pelaku. Faktor besar-kecilnya resiko bunuh diri: Riwayat pelaku: - Banyaknya percobaan bunuh diri yang dilakukan. - Seringkali minum obat terlarang. - Seringkali minum alkohol. - Seringkali melakukan tindak pidana. Ciri percobaan bunuh diri: - Rencana bunuh diri lebih terperinci. - Lebih banyak menggunakan cara kekerasaan daripada minum obat yang berlebihan. - Tidak mengharapkan pertolongan sesudah percobaan bunuh diri dilakukan. Motivasi: - Sedikit melakukan hubungan dengan orang lain. - Permusuhan lebih banyak ditujukan pada diri sendiri. Status Mental: - Mengalami gangguan jiwa (Psikosis). Makin besar resiko bunuh diri, makin cepat akan melakukan percobaan bunuh diri. Pemeriksaan yang dilakukan dalam kasus krisis bunuh diri: o Anamnesis untuk mendapat informasi tentang kesungguhan niat, penyebab dan cara percobaan bunuh diri.

PSIKOVIDYA VOLUME 13 NOMOR 1 APRIL 2009

Penatalaksanaan Kegawat Daruratan Psikiatri

Pemeriksaan fisik (neurologi) untuk mendapatkan kelainan organik yang mendasari tindakan percobaan bunuh diri maupun akibat yang ditimbulkannya. Test psikiatrik dengan tujuan untuk mencari dasar kepribadian pasien yang mendasari tindakan percobaan bunuh diri serta untuk membantu nalar. Pemeriksaan laboratorium yang sesuai dengan kebutuhan atau kelainan organik yang didapatkan.

- Psikosis akibat zat. - Kegawatan sering merupakan gabungan kegawatan fisik & psikiatri. Tujuan Penanganan pada kasus diatas antara lain adalah: - Bebas dari kegawatdaruratan. - Menciptakan lingkungan yang aman & stabil bagi pasien. Observasi adanya penyakit yang lain, komplikasi dsb. Upayakan pasien tetap sadar, kurangi ansietas, memberi pengertian obat atau zat menimbulkan pengalaman yang tak menyenangkan (Sadock, 2000). Dasar-dasar intervensi pada kedaruratan psikiatrik akibat penggunaan Zat kadang sangat sulit. Penanganan kadang sulit, mengingat situasi gawat dan mengancam dokter, pasien serta keluarga (Eko, 2009). Langkah-langkah yang dilakukan adalah: -Pendekatan pada pasien dan keluarga percaya dengan Dokter -Penilaian situasi: o kondisi pasien: agitasi, stupor, gangguan kesadaran, gangguan vital sign, dan sebagainya. o anamnesis tentang zat yang digunakan, gejala yang timbul, kapan pemakaian, dosis, cara pemakaian, dan sebagainya. Intervensi Gawat Darurat - Mengerti prosedur penangan gawat darurat akibat zat. - Mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. - Sedapat mungkin menentukan jenis obat atau zat yang menimbulkan kegawatdaruratan Intervensi Medik pada akibat pengguna Napza/Narkoba adalah: Mengamati tanda-tanda yang mengancam kehidupan: adalah hilang kesadaran, kurangnya frekwensi pernafasan, frekwensi nadi, tekanan darah, demam, muntah, kejang dan sebagainya. Follow Up pada pasien yang mengalami atau akibat pengguna Napza /Narkoba adalah: 61

Penatalaksanaan: Bila kesadaran pasien berkabut sampai koma: - Pemeriksaan fisik diagnostik, khususnya tanda vital. - Resusitasi jantung-paru. - Perawatan di Intensive Care Unit. - Atasi kondisi fisik akibat tindakan bunuh diri. - Pemeriksaan penunjang. - Setelah Compos Mentis, evaluasi psikiatrik dengan sikap suportif, tidak menghakimi, rujuk ke fasilitas psikiatrik. Bila kesadaran pasien Compos Mentis: - Atasi gangguan fisik. - Jika terdapat tanda-tanda yang serius dapat dirawat dengan pengawasan ketat. - Jika dramatisasi dapat dilakukan psikoterapi suportif. - Jika didapatkan Gangguan kepribadian sebaiknya dirujuk ke fasilitas psikiatrik, begitu pula bila didapatkan skizofrenia dengan gagasan bunuh diri sebaiknya segera dirujuk. KEDARURATAN PSIKIATRIK AKIBAT PENGGUNAAN NAPZA/ NARKOBA Napza: Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya - Narkoba: Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif lainnya. Sejak tahun 2000 kasus penyalahgunaan zat semakin banyak. dan banyak yg datang ke Unit Gawat Darurat RSU. Kasus antara lain: - Intoksikasi/Overdosis. - Gejala putus obat/withdrawal. - Gangguan Mental Organik akibat zat.
ISSN: 0853-8050

Nindita Pinastikasari

Untuk pasien yg telah melewati krisis, dan dapat berfungsi normal, oleh karena sering terjadi pasien merasa bersalah, malu, bingung, kacau dan sebagainya: - Menggali riwayat pemakaian yang telah terjadi. - Membantu pasien memperoleh gambaran yang sebenarnya dan yang bermanfaat untuk kesembuhan, serta terhindar dari pemakaian berulang. Konseling kegawat daruratan Zat Bina Rapport Pendekatan secara hangat, terbuka, tak menghakimi, penuh perhatian, memupuk kepercayaan, serta membina rapport yang baik. Keamanan : Ciptakan suasana aman, jauhkan benda berbahaya, kalau perlu minta petugas untuk membantu/menjamin keselamatan pasien / dokter. Aktif mendengarkan. Tenang, percaya diri dan penuh kontrol. Menenteramkan dapat memahami. Berbagi pengetahuan dan pengalaman. Empati. TATA LAKSANA KEGAWATAN AGITASI, DELIRIUM, PSIKOSIS Etiologi : - GMO (Gangguan Mantal Organik) - Intoksikasi Narkoba - Psikosis Fungsional

- Ensefalitis - Kasus-kasus dengan hipertermia. Tata laksana: Pendekatan atau rapport, selanjutnya ventilasi dan persuasi. Intoksikasi Opioida Getah biji tanaman Papaver Somniferum Alami : Morfin, heroin, kodein, hidrokodon Derifat : dekstrometorfan Sintetik : metadon, meperidin

Mekanisme toksisitas : Stimulasi reseptor opiat Sistem Syaraf Pusat: sedasi dan depresi respirasi Dosis Toksis: Bervariasi ttergantung toleransi, dosis, cara pemakaian. Gejala Klinik: Terdapat tanda-tanda pemakaian : needle track. Terdapat Perilaku maladaptif : euforia, apatia, disforia, agitasi, retardasi psikomotor, hendaya dalam perhatian dan daya ingat serta, hendaya fungsi sosial atau pekerjaan. Bicara cadel, mual, muntah, Kulit kemerahan, demam. Konstriksi pupil (miosis/pinpoint pupil), gangguan kesadaran (apatis, somnolens, hingga koma), tekanan darah turun dan nadi lemah, depresi pernafasan (frekuensi nafas kurang dari 10 X /menit). Withdrawal: disforia, nausea, vomitus, nyeri otot, lakrimasi atau rinorhea, dilatasi pupil, piloereksi, keringat sangat banyak, diare, menguap, demam, insomnia.

Gejala Klinik : - Psikosis Fungsional: Gangguan emosi, perilaku, proses pikir, persepsi. - Gangguan Mental Organik: Halusinasi visual, Disorientasi, gangguan kesadaran (delirium) - Hal-hal klinik yang mandasari gangguan adalah: Gangguan Metabolik (hipoksia, Tata Laksana putus zat opioid: hipoglikemia, hiponatremia, sindroma - Abrupt withdrawal (putus seketika) putus obat, dan sebagainya) - Simptomatik. Intoksikasi: opiat, amfetamin, alkohol, - Gradual withdrawal sedatif-hipnotik dan sebagainya. - Tirotoksikosis PSIKOVIDYA VOLUME 13 NOMOR 1 APRIL 2009 62

Penatalaksanaan Kegawat Daruratan Psikiatri

Intoksikasi Amfetamin (XTC/ Shabu-shabu) Jenis yang sering dipakai : Dextro amfetamin, metilfenidat, Metamfetamin (shabu-shabu), MDMA (Metilendioksi-Metamfetamin/Ectasy). Mekanisme Toksisitas Aktivasi Sistem Syaraf Pusat dengan pelepasan katekolamin dan inhibisi reuptake katekolamin/Mono Amin Oksidase. Gejala Klinik: - Manifestasi sentral : Euforia, talkative, ansietas, agitasi, restlesness, hipertensi, perdarahan otak, kejang, koma. - Manifestasi Perifer : sweating, tremor, rigiditas, takikardi, hipertensi, aritmia, hipertermia - Penyebab Kematian: Kejang, aritmia ventrikuler, hipertermia. - Withdrawal : fatigue, halusinasi, hipersomnia, nafsu makan, retardasi, agitasi psikomotor. Tata Laksana withdrawal: - Reassurance dan simptomatik. Intoksikasi Benzodiazepin Banyak macam dengan potensi, durasi efek, farmakokinetik yang berbeda. Lethal dosis cukup banyak, kematian jarang terjadi kecuali pemakaian kombinasi dengan alkohol/barbiturat.

Dosis Toksik Cukup besar sekitar 15 20 kali dosis terapeutik; triazolam sekitar 5 mg (20 X therapeutic dose). Gejala klinik: - Terjadi setelah 30 sampai 120 menit pemakaian. - Gangguan perhatian dan daya ingat, letargi, slurred speech, ataxia, hipotermia, respiratory arrest, koma. - Kejang dapat terjadi dengan pemakaian kombinasi trisiklik antidepresan atau rangsangan gejala putus obat Benzodiazepin. Gejala Withdrawal: Hiperaktivitas Sistem Syaraf Otonom (keringat lebih banyak, nadi lebih 100), tremor, insomnia, mual, muntah, halusinasi, ilusi, agitasi psikomotor, ansietas, kejang grandmal. Tata Laksana withdrawal adalah: - Abrupt withdrawal yang akibatnya bisa fatal. - Gradual withdrawal Intoksikasi Alkohol Ethanol: Bir : 2 4 %, Champagne: 6 8 %, Gin: 35 40 %, Wiski, Rum, Vodka, Brandy: 40 55 %. Mekanisme Toksisitas : - Depresi Sistem Syaraf Pusat. - Hipoglikemia Dosis Toksik: - Sangat bervariasi, tergantung toleransi, jumlah serta konsentrasinya - Pemula kurang 100ml : euforia, gangguan pertimbangan, agresif. - Kurang 200 ml: ggg pusat bicara (ngawur), keseimbangan, dan ggg koordinasi - Kurang 400 ml: penekanan semua motorik - Kurang 800 ml: hilang daya persepsi dan koma - Kurang 800 ml: depresi pernafasan, cardiac arrest. 63

Mekanisme toksisitas. - Aksi inhibisi GABA. - Jumlah banyak dan menimbulkan inhibisi reflex spinal dan sistem aktivasi retikuler, gangguan kesadaran dan depresi pernafasan. - Depresi Respirasi sering terjadi pada Benzodiazepin short acting (Triazolam/alprazolam) - Depresi Respirasi dan Cardiopulmonary arrest dapat terjadi akibat pemakaian diazepam Intra Vena yang terlalu cepat (Ganong,1995).

ISSN: 0853-8050

Nindita Pinastikasari

Gejala Klinik - Akut: euforia, gangguan koordinasi, ataksia, nistagmus, gangguan pertimbangan, Respon reflek menurun. Aspirasi paru, depresi pernafasan, koma. - Kronis: perdarahan lambung, pankreatitis, hepatitis, sirosis hepatis, hepatik ensefalopati, hipoglikemia, hipokalemia, hipofosfatemia, hipomagnesia, tiamin defisiensi, alkohol ketoasidosis. Gejala putus alkohol: - Hiperaktivitas Sistem Syaraf Otonom: keringat banyak, nadi lebih dari 100, Tremor, insomnia, mual, muntah, halusinasi, agitasi, ansietas, kejang. - Delirium Tremens : muncul setelah 1-5 hr putus alkohol, gejala : hiperaktivitas, hipertermia, delirium. Intoksikasi Ganja - Zat Psikoaktif: THC (Tetrahidro Canabinol) - Daun dan bunga canabis sativa - Rokok ganja, Bumbu masakan (biasanya kue Brownies). - Rokok ganja: 1 3 % THC, Hashish : 3 6 %. Mekanisme Toksisitas - Pelepasan katekolamin menyebabkan hipertensi dan sebagainya. - Inhibisi reflex simpatis: sedasi, hipotensi ortostatik, dan sebagainya. Dosis Toksik: Sangat bervariasi, tergantung pengalaman subyektif, tingkat toleransi, dosis. Gejala Klinik pada intoksikasi ganja adalah sebagai berikut: - Gejala subyektif antara lain adalah euforia, palpitasi, peningkatan kewaspadaan, gangguan persepsi, reaksi panik: gangguan memori, depersonalisasi, disorientasi, halusinasi visual, psikosis akut.

- Gejala obyektif antara lain adalah takikardia, hipotensi ortostatik, conjunctival injectoin, tremor, ataksia. Tata laksana pada pasien yang mengalami intoksikasi ganja adalah dengan menggunakan teknik psikoterapi reassurance. Intoksikasi Kafein - Psychoactive substance: Kopi. - Penggunaan klinik: anorexiant, Co-analgesic, Diuretic, Sleep suppresant. Mekanisme Toksisitas - Stimulasi 1 dan 2 Adrenergik. - Pelepasan katekolamin endogen. Dosis Toksik - Sekitar 10 gram Kafein. - Minuman kopi per Cup 200 cc = 50 200 mg kafein). Gejala Klinik - Awal: anoreksia, tremor, restlesness, nausea, vomitus. - Lanjut: takikardia, confuse, hipokalemia, hipoglikemia, kejang. - Kronik ( intake dosis tinggi) : ansietas, iritabilitas, tremor, insomnia, muscle twiching, palpitasi, hiperrefleksia. Intoksikasi Inhalansia Zat-zat yg mudah menguap seperti : minyak cat, ter, bensin, lem castol, lem uhu dsb. Mekanisme Toksisitas - Aspirasi pneumonia. - Depresi Sistem Syaraf Pusat. - Gangguan sistem hemopoetik (darah) - Zat karsinogenik. Dosis Toksik - 100 cc pemakaian ingesti. - 10.000 ppm pemakaian inhalansia. Gejala Klinik intoksikasi adalah sebagai berikut: inhalansia

64

PSIKOVIDYA VOLUME 13 NOMOR 1 APRIL 2009

Penatalaksanaan Kegawat Daruratan Psikiatri

Efek Sistem Syaraf Pusat adalah headache, nausea, vomitus, dizzines, inkoordinasi motorik, ataksia, slurred speech, letargi, konvulsi, koma. Intoksikasi Kokain Alkaloida dari daun tanaman eritroksilon koka Pernah dipakai sebagai campuran minuman (soft drink). Sediaan serbuk. Penggunaan: ditelan, disedot melalui hidung, dirokok, disuntikkan.

Mekanisme Kerja - Hambat inisiasi dan konduksi impuls Susunan syaraf tepi: - Aktivasi Sistem Syaraf Pusat. - Hambat reuptake katekolamin sinaps: mempengaruhi kadar katekolamin otak, efek euforia. Dosis Toksik - Tergantung dosis, cara pemakaian dan toleransi. - 1 gram: fatal Gejala Klinik pada intoksikasi kokain adalah: - Sistem Syaraf Pusat : euforia, ansietas, agitasi, tremor, rigiditas otot, hiperaktivitas, kejang, hipertermia, hipertensi, perdarahan serebral, delirium, koma, psikosis. - Pemakaian kronis pada insomnia, dan paranoid. - Withdrawal/putus Zat: rasa lelah, mimpi buruk (nightmare), insomnia/hipersomnia, nafsu makan, agitasi atau bahkan retardasi psikomotor. - Kardiovaskuler adalah: o Ventrikuler takiaritmia. Hipertensi: stroke hemorhagic, aortic dissection. o Spasme arteri coronaria/trombus menyebabkan infark miokard. o Vasokonstriksi pembuluh darah: extravasasi, renal failure.

Pedoman Diagnostik yang digunakan pada PPDGJ III tentang Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif (F10-F19). F10. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Alkohol. F11. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Opioida. F12. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Kanabinoida. F13. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Sedativa atau Hipnotika. F14. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Kokain. F15. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Stimulansia Lain Termasuk Kafein. F16. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Halusinogenika. F17. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Tembakau. F18. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Pelarut yang mudah menguap. F19. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Multipel dan Penggunaan Zat Psikoaktif lainnya. Kode empat dan lima karakter dapat digunakan untuk menentukan kondisi klinis sebagai berikut: F1x.0.Intoksikasi Akut. .00 Tanpa Komplikasi. .01 Dengan trauma atau cedera tubuh lainnya. .02 Dengan komplikasi medis lainnya. .03 Dengan delirium. .04 Dengan distorsi persepsi. .05 Dengan koma. .06 Dengan konvulsi. .07 Intoksikasi patologis. F1x.1.Penggunaan yang merugikan (harmful use). F1x.2. Sindroma ketergantungan. .20 Kini abstinen. .21 Kini abstinen tetapi dalam lingkungan terlindung. .22 Kini dalam pengawasan klinis dengan terapi pemeliharaan atau 65

ISSN: 0853-8050

Nindita Pinastikasari

dengan pengobatan zat pengganti (ketergantungan terkendali). .23 Kini abstinen tetapi sedang dalam terapi dengan obat aversif atau penyekat. .24 Kini sedang menggunakan zat (ketergantungan aktif). .25 Penggunaan berkelanjutan. .26 Penggunaan episodik (dipsomania) F1x.3. Keadaan Putus Zat. .30 Tanpa komplikasi .31 Dengan konvulsi F1x.4. Keadaan Putus Zat dengan delirium .40 Tanpa konvulsi .41 Dengan konvulsi. F1x.5. Gangguan Psikotik. .50 Lir-skizofrenia (schizophrenia-like) .51 Predominan waham. .52 Predominan halusinasi. .53 Predominan polimorfik. .54 Predominan gejala depresi. .55 Predominan gejala manik. .56 Campuran. F1x.6. Sindrom Amnestik. F1x.7. Gangguan Psikotik Residual atau onset lambat. .70 Kilas balik (flashbacks). .71 Gangguan kepribadian atau perilaku. . 72 Gangguan afektif residual. . 73 Demensia. . 74 Hendaya kognitif menetap lainnya. . 75 Gangguan psikotik onset lambat. F1x.8. Gangguan mental dan perilaku lainnya. F1x.9. Gangguan mental dan perilaku YTT. (APA, 1994; Maslim, 2004). Dengan menggunakan pedoman diatas maka dapat lebih mudah mendiagnosa jenis gangguan jiwa yang disebabkan oleh zat-zat psikoaktif.

KESIMPULAN Kegawat daruratan psikiatri adalah gangguan alam perasaan, berpikir dan perilaku yang perlu pertolongan segera karena pasien dapat meninggal dunia masuk fase regresi atau cacat kronis. Saat paling membahayakan baik bagi diri sendiri maupun orang lain atau lingkungannya namun bisa menjadi saat menguntungkan untuk membangun kembali alam perasaan, insight, pengertian, meningkatkan kekuatan diri dan saat paling baik untuk mencari latar belakang gangguan jiwa. Penanganan kegawatan darurat psikiatrik antara lain adalah, bersikap tenang dan penuh percaya diri serta dengan kewaspadaan penuh dan menilai kondisi pasien yang berkemungkinan agresif. Selanjutnya memberikan informasi kepada pasien bahwa kekerasan tak dapat diterima oleh lingkungan disekitar pasien.

DAFTAR RUJUKAN American Psychiatric Association. (1994). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. Washington DC. Eko Sunaryanto, B. (2009). Kegawat ratan Psikiatri. Tidak diterbitkan. Daru-

Ganong, WF. 1995. Review of Medical Physiology., Appleton&Lange, Norwalk, Connecticut. Marga, Betty.(2009). Krisis bunuh diri. Tidak diterbitkan Maslim, R. (2004). Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa Indonesia. ke III. Jakarta. Sadock BJ, Sadock VA. (2000). Comprehensive Textbook of Psychiatry. Lippincott Williams&Wilkins, A Wolters Kluwer Company.

66

PSIKOVIDYA VOLUME 13 NOMOR 1 APRIL 2009

Penatalaksanaan Kegawat Daruratan Psikiatri

ISSN: 0853-8050

67