Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

FILTRASI
Dosen pembimbing : Ir. Emma Hermawati, MT Tanggal praktikum : 27 September 2012 Tanggal Pengumpulan : 04 Oktober 2012

Disusun oleh : Kelas 3C KELOMPOK 1 Abdullah M. Ridha Annisa Leoni Amalinda Ari Haryanto Asep Saiful Bihar Dede M. Ridwan 101411065 101411066 101411067 101411068 101411069

JURUSAN TEKNIK KIMIA PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA POLITEKNIK NEGERI BANDUNG 2012

FILTRASI I. Tujuan Mempelajari proses filtrasi. Menentukan effisiensi proses filtrasi menggunakan filter pasir silika. Menentukan laju alir optimum pada proses filtrasi menggunakan filter pasir silika. Membandingkan proses filtrasi dengan menggunakan koagulan dan tidak menggunakan koagulan. Landasan Teori Filtrasi adalah pembersihan partikel padat dari suatu fluida dengan melewatkannya pada medium penyaringan, atau septum, yang di atasnya padatan akan terendapkan. Range filtrasi pada industri mulai dari penyaringan sederhana hingga pemisahan yang kompleks. Fluida yang difiltrasi dapat berupa cairan atau gas; aliran yang lolos dari saringan mungkin saja cairan, padatan, atau keduanya. Suatu saat justru limbah padatnyalah yang harus dipisahkan dari limbah cair sebelum dibuang. Operasi filtrasi dijalankan dengan dua cara yaitu : 1. Filtrasi batch Proses secara batch memerlukan waktu yang lebih lama dan memerlukan biaya yang lebih mahal. 2. Filtrasi kontinu Proses filtrasi secara kontinu banyak diterapkan pada industri kimia. Analisis operasi filtrasi ini dibagi dalam 3 tahap, yaitu : a. Pembentukan cake, b. Pencucian cake untuk membuang larutan c. Pelepasan cake dari filter Menurut prinsip kerjanya filtrasi dapat dibedakan atas beberapa cara, yaitu: a. Gravity Filtration : Filtrasi yang cairannya mengalir karena gaya berat. b. Pressure Filtration : Filtrasi yang dilakukan dengan menggunakan tekanan. c. Vacum Filtration : Filtrasi dengan cairan mengalir karena prinsip hampa udara. Dalam proses filtrasi terjadi reaksi kimia dan fisika, sehingga banyak faktorfaktor yang saling berkaitan yang akan mempengaruhi pula kualitas air hasil filtrasi, efisiensinya, dan sebagainya. Faktorfaktor tersebut adalah : 1. Debit Filtrasi Debit yang terlalu besar akan menyebabkan tidak berfungsinya filter secara efisien. Sehingga proses filtrasi tidak dapat terjadi dengan sempurna, akibat adanya aliran air yang terlalu cepat dalam melewati rongga diantara butiran media pasir. Hal ini menyebabkan berkurangnya waktu kontak antara permukaan butiran media penyaring dengan air yang akan disaring. Kecepatan aliran yang terlalu tinggi saat melewati rongga antar butiran menyebabkan partikelpartikel yang terlalu halus yang tersaring akan lolos.

II.

2. Konsentrasi Kekeruhan Konsentrasi kekeruhan sangat mempengaruhi efisiensi dari filtrasi. Konsentrasi kekeruhan air baku yang sangat tinggi akan menyebabkan tersumbatnya lubang pori dari media atau akan terjadi clogging. Sehingga dalam melakukan filtrasi sering dibatasi seberapa besar konsentrasi kekeruhan dari air baku (konsentrasi air influen) yang boleh masuk. Jika konsentrasi kekeruhan yang terlalu tinggi, harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu, seperti misalnya dilakukan proses koagulasi flokulasi dan sedimentasi. 3. Temperatur Adanya perubahan suhu atau temperatur dari air yang akan difiltrasi, menyebabkan massa jenis (density), viskositas absolut, dan viskositas kinematis dari air akan mengalami perubahan. Selain itu juga akan mempengaruhi daya tarik menarik diantara partikel halus penyebab kekeruhan, sehingga terjadi perbedaan dalam ukuan besar partikel yang akan disaring. Akibat ini juga akan mempengaruhi daya adsorpsi. Akibat dari keduanya ini, akan mempengaruhi terhadap efisiensi daya saring filter. 4. Kedalaman media, Ukuran, dan Material Pemilihan media dan ukuran merupakan keputusan penting dalam perencanaan bangunan filter. Tebal tipisnya media akan menentukan lamanya pengaliran dan daya saring. Media yang terlalu tebal biasanya mempunyai daya saring yang sangat tinggi, tetapi membutuhkan waktu pengaliran yang lama. Selain itu ditinjau daris segi biaya, media yang terlalu tebal tidaklah menguntungkan dari segi ekonomis. Sebaliknya media yang terlalu tipis selain memiliki waktu pengaliran yang pendek, kemungkinan juga memiliki daya saring yang rendah. Demikian pula dengan ukuran besar kecilnya diameter butiran media filtrasi berpengaruh pada porositas, laju filtrasi, dan juga kemampuan daya saring, baik itu komposisisnya, proporsinya, maupun bentuk susunan dari diameter butiran media. Keadaan media yang terlalu kasar atau terlalu halus akan menimbulkan variasi dalam ukuran rongga antar butir. Ukuran pori sendiri menentukan besarnya tingkat porositas dan kemampuan menyaring partikel halus yang terdapat dalam air baku. Lubang pori yang terlalu besar akan meningkatkan rate dari filtrasi dan juga akan menyebabkan lolosnya partikelpartikel halus yang akan disaring. Sebaliknya lubang pori yang terlalu halus akan meningkatkan kemampuan menyaring partikel dan juga dapat menyebabkan clogging (penyumbatan lubang pori oleh partikelpartikel halus yang tertahan) yang terlalu cepat. 5. Tinggi Muka Air Di Atas Media dan Kehilangan Tekanan Keadaan tinggi muka air di atas media berpengaruh terhadap besarnya debit atau laju filtrasi dalam media. Tersedianya muka air yang cukup tinggi diatas media akan meningkatkan daya tekan air untuk masuk kedalam pori. Dengan

muka air yang tinggi akan meningkatkan laju filtrasi (bila filter dalam keadaan bersih). Muka air diatas media akan naik bila lubang pori tersumbat (terjadi clogging) terjadi pada saat filter dalam keadaan kotor. Untuk melewati lubang pori, dibutuhkan aliran yang memiliki tekanan yang cukup. Besarnya tekanan air yang ada diatas media dengan yang ada didasar media akan berbeda di saat proses filtrasi berlangsung. Perbedaan inilah yang sering disebut dengan kehilangan tekanan (headloss). Kehilangan tekanan akan meningkat atau bertambah besar pada saat filter semakin kotor atau telah dioperasikan selama beberapa waktu. Friksi akan semakin besar bila kehilangan tekanan bertambah besar, hal ini dapat diakibatkan karena semakin kecilnya lubang pori (tersumbat) sehingga terjadi clogging. Turbiditas Turbiditas atau kekeruhan adalah ukuran yang menggunakan efek cahaya sebagai dasar untuk mengukur keadaan air baku dengan skala NTU (nephelo metrix turbidity unit) atau JTU (jackson turbidity unit) atau FTU (formazin turbidity unit), kekeruhan ini disebabkan oleh adanya benda tercampur atau benda koloid di dalam air. Hal ini membuat perbedaan nyata dari segi estetika maupun dari segi kualitas air itu sendiri. Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan anorganik dan organik yang terkandung dalam air seperti lempung, lumpur dan bahan yang dihasilkan oleh buangan industri. Dan akibatnya bagi budidaya perairan adalah dapat mengganggu masuknya sinar matahari, membahayakan bagi ikan maupun bagi organisme makanan ikan. dan juga dapat mempengaruhi corak dan sifat optis dari suatu perairan. Silika Silika atau dikenal dengan silikon dioksida (SiO2) merupakan senyawa yang banyak ditemui dalam bahan galian yang disebut pasir kuarsa, terdiri atas kristal-kristal silika (SiO2) dan mengandung senyawa pengotor yang terbawa selama proses pengendapan. Pasir kuarsa juga dikenal dengan nama pasir putih merupakan hasil pelapukan batuan yang mengandung mineral utama seperti kuarsa dan feldsfar. Pasir kuarsa mempunyai komposisi gabungan dari SiO2, Al2O3, CaO, Fe2O3, TiO2, CaO, MgO, dan K2O, berwarna putih bening atau warna lain bergantung pada senyawa pengotornya. Pasir silika ini berfungsi untuk menyaring kekeruhan yang diakibatkan oleh pasir, lumpur, endapan dan partikel dalam air. Silika bersifat inert sehingga tidak merubah sifat kimia air. Bentonit Bentonit adalah istilah dari lempung monmorilonit yang dikenal dalam dunia perdagangan dan termasuk kelompok dioktohedral. Secara geologi bentonit terjadi karena dari hasil pelapukan, hidrotermal, akibat transformasi dan sedimentasi. Ada 2 tipe dari bentonit yaitu : 1. Tipe Wyoming (Na-betonit) Bentonit ini mempunyai kemampuan mengembang hingga delapan kali apabila dicelupkan didalam air dan tetap terdispersi beberapa waktu di dalam air. Kegunaan dari bentonit tipe ini adalah sebagi lumpur pembilas pada

pengeboran, pembuatan pellet bijih besi, penyumbat kebocoran bendungan dan kolam, bahan perekat, pengisi (filler). Dalam keadaan kering berwarna putih atau cream, pada keadaan basah dan terkena sinar matahari akan berwarna mengkilap, mempunyai pH 8,5 9,8 2. Mg, Ca-bentonit (Sub-bentonit-Meta Bentonit) Bentonit ini kurang mengembang apabila dicelupkan kedalam air, mempunyai pH 4-7. Dalam keadaan kering berwarna abu-abu, biru, kuning, merah dan coklat. Kegunaan untuk proses pemurnian minyak goreng, pembersih minyak bakar, pelumnas, minyak goreng, farmasi, kertas, keramik, pembuatan Na-bentonit sintetis. Bentonit mempunyai kemampuan yang tinggi untuk menjernihkan warna seperti pada pengolahan minyak yang berasal dari binatang atau tumbuh-tumbuhan. Tawas Tawas, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut "Alum" adalah suatu kristal sulfat dari logam-logam seperti lithium, potassium, calcium, alumunium, dan logam-logam lainnya. Kristal tawas ini cukup mudah larut dalam air, dan kelarutannya berbeda-beda tergantung pada jenis logam dan suhu. Tawas telah dikenal sebagai flocculator yang berfungsi untuk menggumpalkan kotoran-kotoran pada proses penjernihan air. Selain itu, tawas juga digunakan sebagai deodorant, karena sifat antibakterinya. Alum merupakan salah satu senyawa kimia yang dibuat dari dari molekul air dan dua jenis garam, salah satunya biasanya Al2(SO4)3. Alum kalium, juga sering dikenal dengan alum, mempunyai rumus formula yaitu K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O. Dosis maksimum koagulan adalah 0,5%. III. Percobaan a. Alat dan Bahan Peralatan analisis dan peralatan Serangkaian alat filtrasi Turbidimeter 1 buah Kayu Pengaduk 1 buah Pompa 1 buah Gelas Ukur 50 mL 1 buah Gelas Kimia 100 mL 2 buah

Bahan yang digunakan Air 80 L Bentonit 3gram Tawas 90 gram

b. Prosedur Kerja Filtrasi dengan koagulan


Mempersiapkan bahan dan alat yang akan digunakan. Menentukan jumlah air yang akan diolah menjadi air baku (80 L) Menghitung dosis koagulan untuk sejumlah air baku yang digunakan (tawas 0,5%)

Memasukkan air baku ke dalam tangki masukan

(*)Mengukur nilai kekeruhan (NTU) awal dari air baku

Membuat larutan air baku

Mengalirkan air baku ke dalam bak filtrasi

Mengatur laju alir masukan air baku

Mengukur nilai kekeruhan (NTU) efluen air baku hasil filtrasi

Menentukan hubungan efisiensi kekeruhan (NTU) terhadap variasi laju alir

Menghitung efisiensi kekeruhan (NTU) air baku

Melakukan langkah (*) dengan variasi laju alir berbeda

Menentukan Laju Alir Optimum

Filtrasi tanpa koagulan


Mempersiapkan bahan dan alat yang akan digunakan. Menentukan jumlah air yang akan diolah menjadi air baku (80 L) (*)Mengukur nilai kekeruhan (NTU) awal dari air baku

Mengatur laju alir masukan air baku

Mengalirkan air baku ke dalam bak filtrasi

Memasukkan air baku ke dalam tangki masukan

Mengukur nilai kekeruhan (NTU) efluen air baku hasil filtrasi

Melakukan langkah (*) dengan variasi laju alir berbeda

Menghitung efisiensi kekeruhan (NTU) air baku

Menentukan Laju Alir Optimum

Menentukan hubungan efisiensi kekeruhan (NTU) terhadap variasi laju alir

c. Data Pengamatan Kondisi Operasi : pH air baku = 4,63; suhu = 25 OC; dan tekanan atmosfer. Filtrasi tanpa koagulan Volume Waktu No. (L) (s) 1 2 3 4 5 6 7 8 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 9,01 9,76 10,58 11,59 12,44 12,54 14,27 15,44 Kekeruhan (NTU) Awal Akhir 60,06 9,82 51,21 7,47 57,50 7,06 47,32 6,14 46,26 4,74 48,46 4,38 42,97 4,38 40,51 3,93 Filtrasi dengan koagulan Volume Waktu No. (L) (s) 1 2 3 4 5 6 7 8 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 14,89 15,26 15,50 17,32 17,77 18,53 22,52 23,23 Kekeruhan (NTU) Awal Akhir 39,13 3,54 38,82 3,09 38,12 2,74 38,03 2,54 37,23 2,02 35,37 1,73 31,63 1,42 30,29 1,38

d. Perhitungan ( ) ( ) ( )

( ) Filtrasi tanpa koagulan Volume Waktu No. (L) (s) 1 2 3 4 5 6 7 8 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 9,01 9,76 10,58 11,59 12,44 12,54 14,27 15,44 Laju Alir (L/s) 0,00555 0,00512 0,00473 0,00431 0,00402 0,00399 0,00350 0,00324 Kekeruhan (NTU) Awal Akhir 60,06 9,82 51,21 7,47 57,50 7,06 47,32 6,14 46,26 4,74 48,46 4,38 42,97 4,38 40,51 3,93 Efisiensi (%) 83,65 85,41 87,72 87,02 89,75 90,96 89,81 90,30

Filtrasi dengan koagulan Volume Waktu No. (L) (s) 1 2 3 4 5 6 7 8 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 14,89 15,26 15,50 17,32 17,77 18,53 22,52 23,23 Laju Alir (L/s) 0,00336 0,00328 0,00323 0,00289 0,00281 0,00270 0,00222 0,00215 Kekeruhan (NTU) Awal Akhir 39,13 3,54 38,82 3,09 38,12 2,74 38,03 2,54 37,23 2,02 35,37 1,73 31,63 1,42 30,29 1,38 Efisiensi (%) 90,95 92,04 92,81 93,32 94,57 95,11 95,51 95,44

Kurva

e. Pembahasan Oleh Abdullah M. Ridha NIM 101411065

Oleh Annisa Leoni Amalinda NIM 101411066

Oleh Ari Haryanto NIM 101411067

Oleh Asep Saiful Bihar NIM 101411068 Praktikum filtrasi kali ini dilakukan dengan proses filtrasi secara kontinyu dan dengan prinsip gravity filtration, dimana air limbah dialirkan melewati pasir silika tanpa perlakuan ( vacum maupun setting tekanan) apapun. Temperature air limbah di-set tetap pada kondisi standard(1 atm,250C) untuk menghilangkan pengaruh variable lain pada praktikum. Kedalaman filter pasir juga dibuat tetap pada sekitar 30cm. Variable terukurnya adalah angka kekeruhan, dimana angka ini diharapkan menurun setelah air dilewatkan pada pasir silika. Variasi yang digunakan adalah laju alir dan penggunaan tawas sebagai koagulan . Dari grafik percobaan yang ada, laju alir berbanding terbalik dengan efisiensi filtrasi untuk kedua (dengan dan tanpa koagulan) variasi. Hal ini positif terhadap teori yang ada, debit persatuan waktu yang besar akan menurunkan nilai efisiensi filtrasi. Meningkatnya laju alir akan menjadikan air limbah semakin cepat melewati pasir silika, sehingga untuk kondisi normal padatan suspensi tidak optimal ter-cover oleh pasir silika sebagai media filter. Penggunaan tawas (koagulan) dapat meningkatkan efisiensi 5-10 %, hal ini dikarenakan pemberian tawas fungsinya mengikat dan mengendapkan padatan terlarut, padatan terkumpul menjadi ukuran besar , dan akan lebih tertahan oleh pasir sillika. Kecenderungan penurunan nilai efisiensi ( dengan dan tanpa koagulan tawas) terhadap laju alir ,karena pasir silika cukup jenuh oleh bentonit, jadi jika diinginkan efisiensi optimum harus di backwash.

Oleh Dede M. Ridwan NIM 101411069

f. Kesimpulan Proses filtrasi dengan medium filter pasir silika tanpa penambahan koagulan pada kondisi operasi pH air baku 4,63; suhu 25 OC; dan tekanan atmosfer, menghasilkan efisiensi optimum sebesar 90,96 % pada laju alir 0,00399 L/s. Proses filtrasi dengan medium filter pasir silika dengan penambahan koagulan tawas pada kondisi operasi pH air baku 4,63; suhu 25 OC; dan tekanan atmosfer, menghasilkan efisiensi optimum sebesar 95,51 % pada laju alir 0,00222 L/s.

Proses filtrasi dengan medium filter pasir silika menggunakan koagulan tawas cenderung menghasilkan efisiensi lebih tinggi daripada proses filtrasi tanpa medium filter pasir silika menggunakan koagulan. Kecenderungan penurunan nilai efisiensi ( dengan dan tanpa koagulan tawas) terhadap laju alir, disebabkan oleh pasir silika yang cukup banyak mengikat kotoran. Dilihat dari efisiensi yang terhitung, filter yang digunakan pada praktikum kali ini masih laik digunakan sebagai proses penjernihan,karena nilai efisiensi masih berada di atas 75% kekeruhan. DAFTAR PUSTAKA Ajie. 2009. Mineral mineral : Bentonit (08 Februari 2009) Hidayati, Nur. 2012. Blog Kimia : Tawas. (28 Mei 2012) blogpengajarankimia.blogspot.com Lolypoly.2011. Shvoong : Faktor-faktor yang mempengaruhi filtrasi. (23 Nopember 2011) http://id.shvoong.com/exact-sciences/chemistry/2231949-faktor-faktor-yangmempengaruhi-proses/#ixzz27WYKk5sf http://bongkah.blogspot.com/2009/02/bentonit.html (http://bamboe-lokal.blogspot.com/2009/11/Filtrasi28.html) (http://rac.uii.ac.id/server/document/public/2008080103041pdf%20TA.pdf) bhupalaka.files.wordpress.com/2010/12/filter_cepat.pdf http://ricky-fishery-art.blogspot.com/2011/06/kekeruhan.html