Anda di halaman 1dari 19

ANALISIS NILAI POWDER FACTOR (PF) OPERASI PEMBORAN DAN PELEDAKAN OVERBURDEN BATUBARA TERHADAP PRODUKTIVITAS PENGUPASAN OVERBURDEN DI PT BUKIT ASAM (PERSERO) TBK TANJUNG ENIM

ANALISIS NILAI POWDER FACTOR (PF) OPERASI PEMBORAN DAN PELEDAKAN OVERBURDEN BATUBARA TERHADAP PRODUKTIVITAS PENGUPASAN OVERBURDEN DI

PROPOSAL TUGAS AKHIR Dibuat sebagai syarat untuk melakukan skripsi pada Jurusan Teknik Pertambangan

Oleh :

Herlando Juniansyah

53081002015

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

FAKULTAS TEKNIK

2012

IDENTITAS DAN PENGESAHAN PROPOSAL PENELITIAN TUGAS AKHIR MAHASISWA

1.Judul : ANALISIS NILAI POWDER FACTOR (PF) OPERASI PEMBORAN DAN PELEDAKAN OVERBURDEN BATUBARA TERHADAP PRODUKTIVITAS PENGUPASAN OVERBURDEN DI PT BUKIT ASAM (PERSERO) TBK TANJUNG ENIM

2.Pengusul

 
 

a.

Nama

:

Herlando Juniansyah

b.

Nim

:

53081002015

c.

Jenis Kelamin

:

Laki-laki

d.

Semester

:

VIII (delapan)

e.

Fakultas

:

Teknik

f.

Jurusan

:

Teknik Pertambangan

3.

Lokasi Penelitian

:

PT.BUKIT ASAM (PERSERO) TBK

 

Palembang,

April 2012

Pengusul,

Menyetujui :

Ketua Jurusan Teknik Pertambangan

Prof.Dr.Ir.Eddy Ibrahim , MS NIP :196211221991021001

Herlando Juniansyah NIP : 53081002015

Pembimbing Proposal,

Ir. H j . Hartini Iskandar, M.Si NIP : 194812071978062001

Menyetujui :

an. Pimpinan Perusahaan,

JUDUL

ANALISIS NILAI POWDER FACTOR (PF) OPERASI PEMBORAN DAN PELEDAKAN OVERBURDEN BATUBARA TERHADAP PRODUKTIVITAS PENGUPASAN OVERBURDEN DI PT BUKIT ASAM (PERSERO) TBK TANJUNG ENIM

ALASAN PEMILIHAN JUDUL Salah satu kegiatan yang dilakukan pada usaha pertambangan batubara ialah kegiatan pengupasan overburden sebagai lapisan atas yang menutupi lapisan batubara. Dikarenakan lapisan overburden di lokasi tambang PT Bukit Asam berupa batu pasir (sandstone) dan batu andesit, maka perlu dilakukan operasi pemboran dan peledakan dalam rangka membongkar overburden tersebut. Di dalam operasi peledakan, ada parameter yang disebut sebagai Powder Factor (PF), diartikan sebagai perbandingan jumlah bahan peledak yang akan dipakai dengan batuan hasil peledakan. Perencanaan operasi peledakan dengan nilai Powder Factor yang tepat sangat menentukan produktivitas pengupasan overburden tersebut. Dengan memilih judul ini, Peneliti mengharapkan dapat menganalisis nilai Powder Factor pada operasi peledakan overburden batubara dan kaitannya dalam memaksimalkan produktivitas pengupasan overbuden.

TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat dan menganalisis apakah geometri, pola peledakan, dan powder factor yang diterapkan pada daerah kerja pemboran dan peledakan overburden itu sudah cocok, maksimal, dan terfragmentasi baik dengan produktivitas pengupasan overburden yang dilakukan. Artinya menganalisis powder factor dengan mengarah ke tingkat ekonomis suatu proses peledakan dan menghubungkannya dengan produktivitas peralatan pengupasan overburden (alat gali-muat dan alat angkut).

Apakah telah

berjalan dengan baik dan mampu

mengkasilkan

angka

powder

factor

yang

ekonomis

dengan

produktivitas

peralatan

pengupasan

overburden yang maksimal dan memenuhi target perusahaan.

METODOLOGI PENELITIAN Di dalam melaksanakan penelitian permasalahan ini, Penulis menggabungkan

antara teori dengan data-data lapangan, sehingga dari keduanya didapat pendekatan penyelesaian masalah. Adapun urutan pengerjaan penelitian sebagai berikut :

  • 1. Studi literatur, data perusahaan, laporan penelitian terdahulu

  • 2. Penelitian langsung di lapangan, meliputi :

    • a. Orientasi lapangan

    • b. Penentuan titik-titik pengamatan

    • c. Checking terhadap permasalahan

  • 3. Pengambilan data, antara lain :

    • a. Data spesifikasi overburden

    • b. Data spesifikasi peralatan peledakan

    • c. Metode pemboran dan peledakan, metode pengupasan dan

pengangkutan

  • d. Operasi pemboran dan peledakan, rangkaian, handak, powder factor

  • e. Menghitung biaya operasi alat

  • f. Penilaian efektifitas dan produktivitas kerja alat

  • 4. Akuisisi data meliputi pengelompokan data, jumlah data, dan

pengujian data

  • 5. Pengolahan data

Dari data yang didapat, kemudian dihitung dengan menggunakan rumus- rumus yang ada.

Menganalisa hasil dari pengolahan data dan memberikan alternatif perbaikan sistem yang diberikan. 7. Kesimpulan PERUMUSAN MASALAH Pada saat akan memulai operasi penambangan batubara, terdapat lapisan penutup (overburden) yang harus dikupas terlebih dahulu. Lapisan overburden ini berupa bebatuan keras dan lunak. Bebatuan lunak dapat langsung dikupas dengan menggunakan alat ripping dan gali-muat. Sedangkan untuk lapisan batuan keras maka akan memerlukan adanya operasi pemboran dan peledakan guna membongkarnya, menjadikannya sebagai fragmen-fragmen kecil yang siap untuk digali dan dimuat. Untuk mendapatkan fragmentasi hasil peledakan yang baik, diperlukan rancangan geometri, pola peledakan serta penentuan powder factor yang ekonomis. Guna mendapatkan ukuran powder factor yang pas untuk menghasilkan produktivitas alat pengupasan (gali-muat dan angkut) yang maksimal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dilakukan analisis terhadap rancangan geometri peledakan dan powder factor yang dipakai. Dalam analisis ini akan dilakukan dengan pengamatan terhadap beberapa faktor yang mempengaruhi operasi pemboran dan peledakan, yaitu rancangan pola dan geometri, jenis batuan, jenis bahan peledak, jumlah material yang akan diledakan, kinerja dan produktivitas alat. Data yang diperoleh dari pengamatan tersebut akan dijadikan sebagai dasar untuk menganalisis operasi pemboran dan peledakan secara teoritis, termasuk desain geometri, pola lubang bor, pola pengisian handak, dan powder factor. Agar sekiranya dapat dibandingkan dengan aktualisasi dilapangan. Sehingga bila ada kekurangan, maka dapat diperbaiki dan dicocokan. Pemecahan masalah ini berhasil apabila didapat fragmentasi hasil peledakan yang sesuai dengan spesifikasi yang mampu di gali-muat dan angkut oleh alat mekanis dan tercipta produktivitas kerja yang maksimal.

PENYELESAIAN MASALAH Dasar Teori

  • a. Diameter Lubang Tembak Diameter lubang tembak yang biasanya dipilih disesuaikan dengan sifat- sifat fisik batuan yang akan diledakkan. Apabila batuan yang akan diledakkan sukar pecah maka penggunaan diameter lubang tembak yang kecil akan dapat menghasilkan energi peledakkan yang lebih baik.

  • b. Kemiringan Lubang Tembak 1) Lubang Tembak Vertikal Suatu jenjang dengan arah lubang tembak vertikal diledakkan, maka bagian lantai jenjang akan menerima gelombang tekan terbesar. Gelombang tekan tersebut sebagian akan dipantulkan pada bidang bebas dan sebagian lagi diteruskan pada bagian bawah lantai jenjang (lihat gambar dibawah). 2) Lubang Tembak Miring Pada lubang tembak miring, bidang bebas akan menerima gelombang tekan untuk dipantulkan lebih besar dan gelombang tekan yang diteruskan pada bagian bawah lantai jenjang lebih kecil (lihat gambar dibawah). Dengan demikian sebagian besar gelombang tekan yang dihasilkan oleh bahan peledak digunakan untuk membongkar batuan.

  • c. Pola Pemboran Pola pemboran merupakan suatu pola pada kegiatan pemboran dengan menempatkan lubang – lubang tembak secara sistematis. Berdasarkan letak – letak lubang bor maka pola pemboran pada umumnya dibedakan menjadi dua macam, yaitu : 1) Pola pemboran sejajar (paralel pattern) 2) Pola pemboran selang-seling (staggered pattern)

Lantai Atas Daerah bongkar besar Daerah backbreak 0 45 Stemming Gel.Tekan diteruskan Gel.Tekan dipantulkan 0 45
Lantai Atas
Daerah bongkar besar
Daerah backbreak
0
45
Stemming
Gel.Tekan diteruskan
Gel.Tekan dipantulkan
0
45
Lantai Bawah
Lubang tembak
tegak
Daerah bongkar besar
Daerah backbreak
Lantai Atas
Stemming
0
Gel.Tekan diteruskan
45
Gel.Tekan dipantulkan
Lantai Bawah
0
45
Lubang tembak miring
GAMBAR 1.1
Pemboran Dengan Lubang Tembak Tegak dan Lubang Tembak Miring

Pola pemboran sejajar adalah pola dengan penempatan lubang-lubang tembak yang saling sejajar pada setiap kolomnya. Sedangkan pola pemboran selang-seling, adalah pola dengan penempatan lubang-lubang tembak secara selang – seling pada setiap kolomnya. Dalam penerapannya di lapangan, pola pemboran sejajar merupakan pola yang lebih mudah dalam melakukan pemboran dan untuk pengaturan

lebih lanjut. Tetapi perolehan fragmentasi batuannya kurang seragam, sedangkan pola pemboran selang – seling lebih sulit penanganannya di lapangan namun fragmentasi batuannya lebih baik dan seragam. Menurut hasil penelitian di lapangan pada jenis batuan kompak, menunjukan bahwa hasil produktivitas dan fragmentasi peledakan dengan menggunakan pola pemboran selang-seling lebih baik dari pada pola pemboran sejajar, hal ini disebabkan energi yang dihasilkan pada pemboran selang-seling lebih optimal dalam mendistribusikan energi peledakan yang bekerja dalam batuan.

Pola pemboran S sejajar (paralel). S = Spasi B B = Burden Free Face S Pola
Pola pemboran
S
sejajar (paralel).
S
= Spasi
B
B
= Burden
Free Face
S
Pola pemboran
selang-seling
(staggered).
S
= Spasi
B
B
= Burden
Free Face
GAMBAR 1.2
Pola Pemboran Sejajar dan Paralel
B

d. Pola Peledakkan Pola peledakan merupakan urutan waktu peledakan antara lubang – lubang bor dalam satu baris dengan lubang bor pada baris berikutnya ataupun antara lubang bor yang satu dengan lubang bor yang lainnya. Pola peledakan ini ditentukan berdasarkan urutan waktu peledakan serta arah runtuhan material yang diharapkan.

Berdasarkan arah runtuhan batuan, pola peledakan diklasifikasikan sebagai berikut (Gambar 1.3) :

  • a. Box Cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke depan dan membentuk kotak

  • b. Corner cut (echelon cut) , yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke salah satu sudut dari bidang bebasnya.

  • c. “V” cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya kedepan dan membentuk huruf V. Berdasarkan urutan waktu peledakan, maka pola peledakan

diklasifikasikan sebagai berikut :

  • a. Pola peledakan serentak, yaitu suatu pola yang menerapkan peledakan secara serentak untuk semua lubang tembak.

  • b. Pola peledakan beruntun, yaitu suatu pola yang menerapkan peledakan dengan waktu tunda antara baris yang satu dengan baris lainnya. Setiap lubang tembak yang akan diledakkan harus memiliki ruang

yang cukup kearah bidang bebas terdekat agar energi terkonsentrasi secara maksimal sehingga lubang tembak akan terdesak, mengembang, dan pecah. Secara teoritis, dengan adanya tiga bidang bebas (free face) maka kuat tarik batuan akan berkurang sehingga meningkatkan energi ledakan untuk pemecahan batuan dengan syarat lokasi dua bidang bebasnya memiliki jarak yang sama terhadap lubang tembak. e. Kecepatan Pemboran

-

Cycle Time

 
 

Ct

=

Pt

+

Bt

+

St

+

Ft

+

Dt

Dimana :

 
 

Ct

= Cycle time

Pt = Waktu untuk mengambil posisi (positioning time)

Bt

= Waktu untuk membor (boring time)

St

= Waktu untuk menambah, mengganti batang bor

Ft Dt = Waktu untuk mencabut rod dan membersihkan lubang = Waktu untuk mengatasi hambatan-hambatan (delay
Ft
Dt
= Waktu untuk mencabut rod dan membersihkan lubang
= Waktu untuk mengatasi hambatan-hambatan (delay time)
Bidang Bebas
BOX CUT
2
2
1
1
1
1
1
1
3
2
2
2
2
3
Bidang Bebas
2
1
0
1
2
3
2
1
2
3
4
3
2
3
4
Keterangan :
1, 2, … = Nomor urutan peledakan
= Arah runtuhan batuan
ECHELON
Bidang Bebas
CUT
5
4
3
2
1
6
5
4
3
2
7
6
5
4
3
Keterangan :1, 2, … = Nomor
urutan peledakan
= Arah runtuhan batuan

GAMBAR 1.3 Pola Peledakan Berdasarkan Arah Runtuhan Batuan

  • - Kecepatan pemboran H 1

=

Vt 1

Dimana :

Ct

Vt = Kecepatan pemboran

H

= Kedalaman lubang tembak

Ct

= Cycle time

  • - Kecepatan pemboran rata-rata (GDR)

Vt 1 + Vt 2 + . . . + Vt n Vt = n Dimana
Vt 1
+
Vt 2
+
.
.
.
+
Vt n
Vt
=
n
Dimana :
n = Jumlah pengamatan
f. Volume Setara
A
x
L
Veq =
n
x
H
Dimana :

A

= luas daerah yang akan diledakkan

L

= tinggi jenjang

n

= jumlah lubang tembak

H

= kedalaman lubang tembak

  • g. Produksi Alat Bor

P

=

Vt

x

Veq

x

E

Dimana :

 

P

=

produksi alat bor

Vt

= kecepatan pemboran

Veq = volume setara

E

= effesiensi kerja alat bor

  • h. Geometri Peledakkan

  • - Konya Teori

 
 

B

= 3,15 De ( SGe/SGr ) 1/3

Dimana :

B

= Burden

SGe = SG bahan peledak SGr = SG batuan

De

= Diameter lubang tembak

 
  • - R.L. Ash Teori

 
 

Ep

 

AF

1

=

{

} 1/3

 

Ep st

de st

 

AF

2

=

{

} 1/3

 

de

Dimana :

 

Ep

= energi potensial bahan peledak

 

Ep st = energi potensial peledak standart

 

de

= densitas batuan yang diledakkan

de st

= densitas batuan standart

KB terkoreksi

= KB standart

x

AF 1

x

AF 2

 

KB terkoreksi x De

 

B

 

=

12

Hubungan antar variabel R.L Ash :

- Burden Ratio

 

12 B

Kb =

 

De

  • - Hole Depth Ratio

H

=

Kh x B

 
H = Kh x B Kh = 1,5 - 4,0

Kh

=

1,5

-

4,0

  • - Sub Drilling Ratio

 

J

=

Kj

x

B

J = Kj x B Kj = 0,2 - 0,4

Kj

=

0,2

-

0,4

  • - Stemming Ratio

 

T

=

Kt

x

B

T = Kt x B Kt = 0,7 - 1,0

Kt

=

0,7

-

1,0

  • - Spacing Ratio

 

S

=

Ks

x

B

S = Ks x B Ks = 1,1 - 1,8

Ks

=

1,1

-

1,8

  • i. Metode Peledakkan Sampai saat ini dikenal ada empat jenis metode peledakkan, yaitu :

    • - Metode sumbu api

    • - Metode sumbu ledak

    • - Metode Listrik

    • - Metode Non Electric (nonel)

Sedangkan kebutuhan mengenai peralatan dan perlengkapan tergantung dari metode yang akan digunakan.

  • j. Kapasitas Produksi

1. Jumlah batuan yang diledakkan

 

W

=

A

x

L

x

dr

Dimana :

W

= berat batuan

A

= luas daerah yang akan diledakkan

L

= tinggi jenjang

 

dr = densitas batuan

2. Penentuan Tingkat Fragmentasi Batuan Hasil Peledakan Penentuan tingkat fragmentasi batuan hasil peledakan dengan cara membandingkan antara volume nyata batuan hasil peledakan dengan volume batuan yang tidak memerlukan pemecahan ulang. Fragmentasi batuan yang memerlukan pemecahan ulang dinyatakan sebagai bongkah (boulder) dari hasil peledakan, sehingga

diperlukan upaya pemecahan ulang agar batuan tersebut bisa digunakan. Dalam menentukan tingkat fragmentasi batuan hasil peledakan ada beberapa metode yang bisa digunakan, seperti :

1)

Metode photography

2)

Metode photogrametry

3)

Metode photography berkecepatan tinggi

4)

Analisa produtivitas alat muat

5)

Analisa volume material pada pemecahan ulang

6)

Analisa visual komputer

7)

Analisa kenampakan kualitatif

8)

Analisa ayakan

9)

Analisa produktivitas alat peremuk

Penentuan fragmentasi batuan hasil peledakan di PT. Bukit Asam Tanjung Enim ialah dengan menerapkan analisa produktivitas alat muat. Cara ini digunakan karena lebih teliti dalam perhitungannya.

X = A (V/Q) 0,8 . Q 0,17 . (E/115) -0,63

Dimana :

  • X = ukuran fragmentasi batuan

A = faktor batuan

  • V = volume batuan yang dihancurkan tiap lubang tembak

Q = berat bahan peledak

E = energi potensial relatif

3. Bahan peledak yang diperlukan

E

=

de

x

Pc

x

N

Dimana :

E

= jumlah bahan peledak yang diperlukan

de = densitas bahan peledak Pe = tinggi kolom isian bahan peledak

N

= jumlah lubang tembak

  • 4. Powder Factor (PF)

 

W

Pf

=

 

E

  • 5. Blasting Ratio (BR) E Br

=

W

1. Produktivitas Alat Gali Muat dan Alat Angkut. Kemampuan produksi penambangan dapat diketahui dengan melakukan perhitungan kemampuan produksi alat mekanis masing-masing rangkaian kerja yang telah ditetapkan. Kemampuan produksi alat muat dan alat angkut dapat digunakan untuk menilai kemampuan kerja dari suatu alat. Semakin besar hasil produksi suatu

alat dalam waktu yang singkat berarti produktifitas alat tersebut juga akan semakin baik.

  • a. Produktivitas alat gali muat :

Q =

Kb

Eff

3600

Ct

 

Keterangan :

Q

= produktivitas alat muat (ton/jam) untuk batubara, ( bcm/jam) untuk

Kb

interburden = kapasitas bucket

Eff

= Faktor efisiensi alat

Ct

= waktu edar alat muat/excavator, detik.

  • b. Produktivitas alat angkut

 

Q =

Kb x Eff

x 60

Ct

Keterangan :

Q

= produktivitas alat angkut, (ton/jam) untuk batubara, (bcm/jam) untuk

Kb

interburden = kapasitas bucket

Eff = faktor efisiensi alat

 

Ct

= waktu edar truk, menit

 
  • E. Waktu dan Jadwal Kegiatan Waktu dan jadwal kegiatan Tugas akhir ditempuh dalam waktu 2,5 bulan, dari tanggal 18 Juni – 31 Agustus 2012 dengan rincian sebagai berikut :

Keterangan : Q = produktivitas alat muat (ton/jam) untuk batubara, ( bcm/jam) untuk Kb interburden =

DAFTAR PUSTAKA

1.

Anonim,

2004,

“Specification

Komatsu Ltd.

and

Aplication

Handbook“, 25 th Edition,

  • 2. Anonim, 2009, “Hino 500 Series Drive To Perfection”, 6 th Edition : Japan.

  • 3. Anonim, 2006, “Modul Kursus Juru Ledak Penambangan Bahan Galian”, PERMATA Unsri.

  • 4. Darmansyah, N, 1998, “Pemindahan Tanah Mekanis dan Alat Berat”, Cetakan I, Penerbit Universitas Sriwijaya.

  • 5. Ir. Partanto Prodjosumatro, ”Pemindahan Tanah Mekanis”, Jurusan Teknik Pertambangan, Institut Teknologi Bandung, Bandung, 1993.

6.

DAFTAR ISI

ABSTRAK ........................................................................................................

KATA PENGANTAR ......................................................................................

DAFTAR ISI .....................................................................................................

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................

DAFTAR TABEL .............................................................................................

DAFTAR LAMPIRAN .....................................................................................

BAB

  • I. PENDAHULUAN .............................................................................. I.1 Latar Belakang .............................................................................. I.2 Rumusan Masalah ......................................................................... I.3 Tujuan Penulisan ........................................................................... I.4 Metodologi Penelitian ...................................................................

II. TINJAUAN UMUM ........................................................................... II.1 Lokasi dan Topografi PT Bukit Asam (persero) Tbk .................. II.2 Geologi dan Stratigrafi ................................................................. II.2.1 Geologi ............................................................................... II.2.2 Stratigrafi ........................................................................... II.3 Cadangan dan Kualitas Batubara ................................................. II.4 Sistem Penambangan ...................................................................

III. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... III.1 Petrologi Batuan ....................................................................... III.2 Pola Pemboran .......................................................................... III.2.1 Pola Pemboran Sejajar ................................................... III.2.2 Pola Pemboran Selang – Seling ..................................... III.3 Pola Peledakan ......................................................................... III.3.1 Pola Peledakan Serentak ............................................... III.3.2 Pola Peledakan Beruntun ............................................... III.4 Rumusan Konya dan R.L Ash .................................................. III.4.1 Burden Ratio .................................................................. III.4.2 Geometri Peledakan ...................................................... III.4.3 Powder Faktor ...............................................................

III.4.4 Volume Setara ............................................................... III.5 Kebutuhan Alat Bor .................................................................. III.6 Dimensi Jenjang ....................................................................... III.7 Bahan Peledak .......................................................................... III.8 Pemuatan Bahan Peledak ......................................................... III.9 Alat-Alat Mekanis Gali-muat dan Angkut ...............................

VI. PEMBAHASAN ............................................................................... V.1. Analisis Teknis Operasi Pemboran dan Peledakan................... V.1.1 Rancangan Peledakan...................................................... V.1.2 Analisis Powder Factor ................................................... V.2 Kajian Produktivitas Terhadap Powder Factor ..........................

VI. KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................. VI.1 Kesimpulan ........................................................................................ VI.2 Saran ..................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN