Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN

Sampai saat ini, telah banyak pemanfaatan tanaman obat tradisional oleh masyarakat Indonesia untuk menanggulangi beberapa penyakit. Manfaat penggunaan obat tradisional tersebut secara luas telah dirasakan oleh masyarakat. Hal ini juga tercermin dengan semakin meningkatnya penggunaan obat tradisional, atau meningkatnya produksi obat dari industri-industri obat tradisional. Seiring dengan ada slogan back to nature, maupun krisis ekonomi yang berkepanjangan sehingga mengakibatkan daya beli masyarakat terutama masyarakat golongan menengah ke bawah, penggunaan obat tradisional menjadi alternatif pengobatan disamping obat modern. Pemanfaatan tanaman obat tersebut meliputi pencegahan, pengobatan maupun pemeliharaan kesehatan. Banyak tanaman obat tradisional yang telah dipasarkan antara lain sebagai pencegahan ataupun pengobatan suatu penyakit. Meskipun demikian, bukti ilmiah keberkhasiatan berbagai tanaman obat terkait, belum dilaporkan. Indonesia merupakan negara terbesar kedua di dunia setelah Brazil yang mempunyai biodiversitas (keanekaragaman hayati). Biodiversitas tersebut meliputi : ekosistem, jenis maupun genetik. Hal ini jelas merupakan suatu anugerah besar bagi masyarakat Indonesia apabila dimanfaatkan secara optimal. Termasuk dalam biodiversitas jenis adalah keanekaragaman tanaman di Indonesia yang sangat besar, termasuk tanaman yang berpotensi sebagai obat. Mengingat fakta tersebut mestinya upaya pemanfaatan tanaman sebagai sumber suatu obat menjadi pilihan utama saat ini bagi para peneliti obat di Indonesia. Proses penemuan suatu obat dari suatu tanaman merupakan sesuatu yang tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Proses tersebut meliputi : studi etnofarmakologi, kemotaksonomi, skrining senyawa bioaktif, kemungkinan upaya sintesis senyawa tunggal, studi pre-klinik maupun klinik, hingga produksi skala besar untuk tujuan medik.
1

Salah satu tanaman Indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk tujuan tersebut adalah buah manggis (G. mangostana L.), terutama pemanfaatan kulit buahnya. Manggis merupakan buah yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Kulit buah manggis yang dibuang, ternyata dapat dikembangkan sebagai kandidat obat. Pada penelitian ini akan disajikan mengenai pemanfaatan kulit buah manggis (G.mangostana L.) dalam upaya penemuan suatu obat baru.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. TINJAUAN TANAMAN MANGGIS 1. Klasifikasi tanaman Klasifikasi botani pohon manggis adalah sebagai berikut: Kingdom Divisi Sub-divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae (tumbuh-tumbuhan) : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) : Angiospermae (berbiji tertutup) : Dicotyledoneae (biji berkeping dua) : Guttiferanales : Guttiferae : Garcinia : Garcinia mangostana L

(Anastasia dalam Rukmana,2010)

2. Deskripsi tanaman Perawakan; pohon, selalu hijau, tinggi 6-20 m, Batang; tegak, batang pokok jelas, kulit batang coklat, memiliki getah kuning. Daun; tunggal, duduk daun berhadapan atau bersilang, berhadapan. Helaian; mengkilap dipermukaan, permukaan atas hijau gelap, permukaan bawah hijau terang,bentuk elips memanjang12-23 x 4,5-10cm. Tangkai; 5-2cm. Bunga-bunga betina 1-3 di ujung batang,susunan mengarpu,garis tengah 5-6cm. Kelopak; 4 daun kelopak, 2 daun kelopak yang berluar hijau kuning, 2 yang terdapat lebih kecil, bertepi merah, melengkung kuat, tumpul. Mahkota; 4 daun mahkota, berbentuk telur terbalik, berdaging tebal, hijau kuning, tepi merah atau hampir semua merah. Benang sari; mandul (staminodia) biasanya dalam tukal atau kelompok. Putik; bakal daun beruang 4-8, kepala putih berjari-jari 4-6. Buah;
3

bentuk bola tertekan, garis tengah 3,5-7 cm, ungu tua, dengan kepala putik duduk (tetap), kelopak tetap, diding buah tebal, berdaging, ungu, dengan getah kuning. Biji; 1-3 diselimuti oleh selaput biji yang tebal berair, putih, dapat dimakan atau (termasuk biji yang gagal tumbuh atau sempurna). (Sudarsono, dkk., 2002).

3. Ekologi dan Penyebaran Manggis merupakan tanaman asli daerah tropis kawasan Asia Tenggara. Sebagian literatur memastikan daerah asal tanaman manggis adalah Kepulauan Sunda Besar dan Semenanjung Malaya. Selain itu juga disebutkan terdapat di hutan-hutan belantara di Kalimamtan Timur dan Kalimantan Tengah (Rukmana,1995). Tumbuhan ini dapat tumbuh di Jawa pada ketinggian 1-1000 dari permukaan laut, pada berbagai tipe tanah (pada tanah liat dan lempung yang kaya bahan organik) (Sudarsono, dkk., 2002).

4. Syarat tumbuh a. Iklim 1) Dalam budidaya manggis, angin berperan dalam penyerbukan bunga untuk tumbuhnya buah. Angin yang baik tidak terlalu kencang. 2) Daerah yang cocok untuk budidaya manggis adalah daerah yang memiliki curah hujan tahunan 1.5002.500 mm/tahun dan merata sepanjang tahun. 3) Temperatur udara yang ideal berada pada kisaran 22-32 derajat C. b. Media Tanam 1) Tanah yang paling baik untuk budidaya manggis adalah tanah yang subur, gembur, mengandung bahan organik. 2) Derajat keasaman tanah (pH tanah) ideal untuk budidaya manggis adalah 57.
4

3) Untuk pertumbuhan tanaman manggis memerlukan daerah dengan drainase baik dan tidak tergenang serta air tanah berada pada kedalaman 50200 m. c. Ketinggian Tempat Pohon manggis dapat tumbuh Pohon manggis dapat tumbuh di daerah dataran rendah sampai di ketinggian di bawah 1.000 m dpl. Pertumbuhan terbaik dicapai pada daerah dengan ketinggian di bawah 500-600 m dpl (Prihatman,kemal 2000).

5. Pemanfaatan kulit manggis Kulit manggis yang dahulu hanya dibuang saja ternyata menyimpan sebuah harapan untuk dikembangkan sebagai kandidat obat. Kulit buah manggis setelah diteliti ternyata mengandung beberapa senyawa dengan aktivitas farmakologi misalnya antiinflamasi, antihistamin, pengobatan penyakit jantung, antibakteri, antijamur bahkan untuk pengobatan atau terapi penyakit HIV. Beberapa senyawa utama kandungan kulit buah manggis yang dilaporkan bertanggungjawab atas beberapa aktivitas farmakologi adalah golongan xanton. Senyawa xanton yang telah teridentifikasi, diantaranya adalah 1,3,6-trihidroksi-7-metoksi-2,8-bis(3- metil-2-butenil)- 9H-xanten-9on and 1,3,6,7- tetrahidroksi-2,8-bis(3-metil-2-butenil)- 9Hxanten- 9-on. Keduanya lebih dikenal dengan nama alfa mangostin dan gamma-mangostin. Dilaporkan senyawa xanton yang diisolasi dari kulit buah manggis, ternyata juga menunjukkan aktivitas farmakologi yaitu garcinon E. Lebih lanjut, mengidentifikasi kandungan xanton dari ekstrak larut dalam diklorometana, yaitu 2 xanton terprenilasi teroksigenasi dan 12 xanton lainnya. Dua senyawa xanton terprenilasi teroksigenasi adalah 8-hidroksikudraksanton G, dan mangostingon[7-metoksi- 2 - (3-metil-2-butenil) 8 - (3-metil-2-okso-3butenil) - 1,3,6 - trihidroksiksanton. Sedangkan keduabelas xanton lainnya adalah : kudraksanton G, 8- deoksigartanin, garsimangoson B, garsinon D,
5

garsinon E, gartanin, 1-isomangostin, alfamangostin, gamma-mangostin, mangostinon, smeathxanthon A, dan tovofillin A. Struktur kimia senyawa mangostin disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1.1 Mangostin 3,6,8-trihidroksi-2-metoksi-1, bis (3-methylbut-2-enil) xanthen-9-satu Properti Molekul rumus C 24 H 26 O 6 Massa molar Tepat massa Penampilan Titik lebur 410,45 g / mol 410.172939 Kuning kristal padat 182 C, 455 K, 360 F 7 -

Tabel 1.1 Properti Mangostin 6. Kajian farmakologi kulit buah manggis Pemanfaatan kulit buah manggis sebenarnya sudah dilakukan sejak dahulu. Kulit buah manggis secara tradisional digunakan pada berbagai pengobatan di Negara India, Myanmar Sri langka, dan Thailand. Secara luas, masyarakat Thailand memanfaatkan kulit buah manggis untuk pengobatan penyakit sariawan, disentri, cystitis, diare, gonorea, dan eksim. Di era modern,

pemanfaatan kulit buah manggis secara luas di Negara tersebut memicu minat para ilmuwan untuk menyelidi dan mengembangkan lembih lanjut aspek ilmiah keberkhasiatan kulit buah manggis tersebut. Banyak penelitian telah membuktikan khasiat kulit buah manggis, dan diantaranya bahkan menemukan senyawasenyawa yang bertanggungjawab terhadap efek-efek tersebut. Berikut ini akan disajikan pembahasan mengenai efek farmakologi dari kulit buah manggis. a. Aktivitas antihistamin Dalam reaksi alergi, komponen utama yang mengambil peran penting adalah sel mast, beserta mediator-mediator yang dilepaskannya yaitu histamin dan serotonin. Allergi disebabkan oleh respon imunitas terhadap suatu antigen ataupun alergen yang berinteraksi dengan limfosit B yang dapat memproduksi imunoglobulin E (IgE). Imunoglubulin E yang diproduksi kemudian menempel pada reseptor FcRI pada permukaan membran sel mast. Setelah adanya interaksi kembali antara antigen-antibodi, akan merangsang sel mast untuk melepaskan histamin. Berhubungan dengan reaksi alergi atau pelepasan histamin tersebut, dilakukan pengujian ekstrak metanol kulit buah manggis terhadap kontraksi aorta dada kelinci terisolasi yang diinduksi oleh histamine maupun serotonin. Dari analisa komponenkomponen aktif dari fraksi lanjutan hasil dari kromatografi gel silika, mengindikasikan bahwa senyawa aktifnya adalah alfa dan gamma mangostin. Alfa mangostin sendiri mampu menunjukkan aktivitas penghambatan kontraksi trakea marmut terisolasi dan aorta torak kelinci terisolasi, yang diinduksi simetidin, antagonis reseptor histamin H2. Namun, senyawa tersebut tidak menunjukkan aktivitas pada kontraksi yang diinduksi karbakol, fenilefrin dan KCl. Alfa mangostin juga mampu menghambat ikatan [3H]mepiramin terhadap sel otot polos arta tikus. Senyawa terakhir tersebut merupakan antagonis spesifik bagi reseptor histamin H1. Dari analisa kinetika ikatan [3H] mepiramin megnindikasikan bahwa alfa mangostin menghambat secara kompetitif. Dari penelitian ini
7

disimpulkan bahwa alfa mangostin tersebut dikategorikan sebagai pengeblok reseptor histaminergik khususnya H1, sedangkan gamma mangostin sebagai pengeblok reseptor serotonergik khususnya 5-hidroksitriptamin 2A atau 5HT2A. Lebih lanjut, dilakukan penelitian ke arah mekanisme ekstrak kulit buah manggis tersebut. Pada penelitian tersebut ekstrak kulit manggis yaitu : etanol 100%, 70 %, 40% dan air, diuji terhadap sintesa prostaglandin E2 dan pelepasan histamin. Ekstrak etanol 40% menunjukkan efek paling poten dalam menghambat pelepasan histamin dari sel 2H3- RBL yang diperantarai IgE. Semua ekstrak kulit buah manggis mampu menghambat sintesa PGE2 dari sel glioma tikus yang diinduksi Ca2+ ionophore A23187. Pada reaksi anafilaksis kutaneus pasif, semua ekstrak kulit manggis juga menunjukkan aktivitas penghambatan reaksi tersebut. Dari penelitian ini, ekstrak etanol 40 % buah manggis adalah paling poten dalam menghambat sintesa PGE2 dan pelepasan histamin. b. Antiinflamasi Penelitian mengenai aktivitas antiinflamasi dari kulit buah manggis sampai saat ini baru dilakukan pada tahapan in vitro dan untuk tahap in vivo baru pada penelitian dengan metode tikus terinduksi karagenen. Dari hasil penelitian diduga bahwa senyawa yang mempunyai aktivitas anti-inflamasi adalah gamma-mangostin. Gamma-mangostin merupakan xanton bentuk diprenilasi tetraoksigenasi. c. Anti oksidan Dilaporkan bahwa ekstrak kulit buah manggis berpotensi sebagai antioksidan. Selanjutnya, ditindak-lanjuti hasil penelitian tersebut dengan melakukan penelitian aktivitas antioksidan beberapa ekstrak kulit buah manggis yaitu ekstrak air, etanol 50 dan 95%, serta etil asetat. Metode yang digunakan adalah penangkatapan radikal bebas 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa semua ekstrak mempunyai potensi sebagai penangkal radikal bebas, dan ekstrak air dan etanol mempunyai
8

potensi lebih besar. Berkaitan dengan aktivitas antioksidan tersebut, kedua ekstrak tersebut juga mampu menunjukkan aktivitas neuroprotektif pada sel NG108-15. Penelitian aktivitas antioksidan dari semua senyawa kandungan kulit buah manggis yang disajikan pada Gambar 1-2, minus mangostingon. Dari hasil skrining aktivitas antioksidan dari senyawasenyawa tersebut, yang menunjukkan aktivitas poten adalah : 8-hidroksikudraxanton, gartanin, alphamangostin, gamma-mangostin dan smeathxanton A. d. Antikanker Hingga saat ini, pengobatan kanker masih tidak memuaskan. Oleh karena itu, penelitian penemuan obat kanker masih gencar dilakukan. Salah satu tanaman obat yang menjadi objek kajian adalah kulit buah manggis. Berdasarkan penelitian tersebut, senyawa garsinon E menunjukkan aktivitas sitotoksisitas paling poten. Sementra itu, dilaporkan bahwa ekstrak metanol kulit buah manggis menunjukka aktivitas sangat poten dalam menghambat proliferasi sel kanker payudara SKBR3, dan menunjukkan aktivitas apoptosis. e. Antimikroorganisme Selain memiliki beberapa aktivitas farmakologi seperti di atas, kulit buah manggis juga menunjukkan aktivitas antimikroorganisme. Seperti pada hasil penelitian sebelumnya, alfa mangostin, gamma-mangostin dan garsinon B juga menunjukkan aktivitas paling poten pada percobaan ini. Ketiga senyawa tersebut menghambat kuat terhadap bakteri Mycobacterium tuberculosis. Hasil temuan tersebut ditindaklanjuti peneliti asal Osaka Jepang, Alfa mangostin aktif terhadap bakteri Enterococci dan Staphylococcus aureus yang masingmasing resisten terhadap vancomisin dan metisilin. Ini diperkuat dengan aktivitas sinergisme dengan beberapa antibiotika (gentamisin dan vancomisin) terhadap kedua bakteri tersebut.Hasil menunjukkan bahwa mangostin mempunyai efek antiplasmodial level menengah, sedangkan xanton terprenilasi yang mempunyai gugus alkilamino menghambat sangat poten.
9

f. Aktivitas lainnya Telah disebutkan sebelumnya bahwa alfa-mangostin memiliki aktivitas antioksidan dan penangkal radikal bebas. Berkaitan dengan fakta tersebut, alfa-mangostin mampu menghambat proses oksidasi lipoprotein densitas rendah (LDL) yang sangat berperan dalam aterosklerosis. Penelitian lainnnya, mangostin dilaporkan menghambat poten terhadap HIV-1 protease,

dilaporkan juga bahwa senyawa xanton mangostin dari kuliat buah manggis mampu penghambat pertumbuhan jamur patogenik : Fusarium oxysporum vasinfectum, Alternaria tenuis, dan Dreschlera oryzae.

g. Kajian toksisitas kulit buah manggis Telah disebutkan bahwa kulit buah manggis mampu menunjukkan berbagai aktivitas farmakologi, dan diantaranya adalah sangat poten. Senyawa-senyawa utama yang dominan menunjukkan aktivitas

farmakologi adalah alfa-mangostin, gamma-mangostin dan garsinon-E. Di lain pihak, perlu juga dilakukan penelitian mengenai kemungkinan efek toksik dari penggunaan kulit buah manggis tersebut. Jujun et al. (2006) melakukan uji toksisitas aku maupun subkronis terhadap ekstrak etanol kulit buah manggis yang mengandung senyawa-senyawa aktif pentingnya. Pada percobaan toksistas akut, ekstrak (10-25 %) tersebut tidak menunjukkan efek toksis (kematian dan perubahan fisik ataupun aktivitas) pada tikus. Secara histopatologi, juga tidak ditemukan perubahan yang berarti pada organ-organ vital tikus (hati, jantung, paru-paru, adrenal, ovarium, ginjal, testis). Pada percobaan toksisitas sub-kronis, pemakaian ekstrak etanol kulit buah manggis (dosis 50-1000 mg/kg BB) selama 28 hari juga tidak menunjukkan efek toksik yang berarti, yang meiputi pengamatan gejala efek toksis, perubahan pertumbuhan, bobot organorgan vital, analisa hematologi, kimia darah maupun gross

histopatologinya (Nugroho, Agung 2007).


10

B. SIMPLISIA Simplisia adalah bentuk jamak dari kata simpleks yang berasal dari kata simple yang berarti satu atau sederhana. Istilah simplisia dipakai untuk menyebutkan bahan-bahan obat alam yang masih berada dalam wujud aslinya atau mengalami perubahan bentuk. Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai bahan obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan (Gunawan & Mulyani, 2004). Simplisia dibagi menjadi tiga golongan yaitu : 1. Simplisia nabati Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman atau gabungan ketiganya. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat atau bahan-bahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan atau diisolasi dari tanamannya. 2. Simplisia hewani Simplisia hewani adalah berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni. 3. Simplisia pelikan atau mineral Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau setelah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni (Gunawan & Mulyani, 2004). Simplisia yang diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak dapat larut seperti serat, karbohidrat, protein, dan lainlain. Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan ke dalam golongan minyak atsiri, alkaloid, flavonoid, dan lain-lain. Struktur kimia yang berbeda-beda akan mempengaruhi kelarutan serta stabilitas senyawa tersebut terhadap pemanasan, udara, cahaya, derajat keasaman. Dengan
11

diketahuinya senyawa aktif yang dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi (Anonim, 2000). Simplisia yang lunak seperti rimpang dan daun mudah diserap oleh pelarut, karena itu pada proses ekstraksi tidak perlu diserbuk sampai halus. Simplisia yang keras seperti biji, kulit kayu, kulit akar yang susah diserap oleh pelarut perlu diserbuk sampai halus (Anonim, 2000) Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas simplisia : 1. Bahan baku simplisia Berdasarkan bahan bakunya simplisia bisa diperoleh dari tanaman liar atau tanaman yang dibudidayakan. Jika simplisia diambil dari tanaman budidaya maka keseragaman umur, masa panen dan asal usul tanaman dapat dipantau. Sementara jika diambil dari tanaman liar banyak kendala dan variabilitas yang tidak bisa dikendalikan, seperti asal tanaman, umur dan tempat tumbuh. 2. Proses pembuatan simplisia Dasar pembuatan simplisia ada beberapa tahapan yaitu : a. Pengumpulan bahan baku Tahapan pengumpulan bahan baku sangat menentukan kualitas bahan baku. Pengambilan bahan baku tanaman dapat dilakukan sebagai berikut. 1) Biji Pengambilan biji dapat dilakukan pada saat mulai mengeringnya buah atau sebelum semuanya pecah. 2) Buah Pengambilan buah tergantung tujuan dan pemanfaatan kandungan aktifnya. Panen buah bisa dilakukan saat menjelang masak, setelah benar-benar masak atau dengan melihat perubahan warna atau bentuk dari buah. 3) Bunga Panen dapat dilakukan pada saat menjelang penyerbukan, saat bunga masih kuncup atau pada saat bunga sudah mulai mekar.
12

4)

Daun atau herba Panen dapat dilakukan saat proses fotosintesis berlangsung maksimal, yaitu ditandai dengan saat tanaman mulai berbunga atau buah mulai masak. Untuk pengambilan pucuk daun, dianjurkan pada saat warna pucuk daun berubah menjadi daun tua.

5)

Kulit batang Pemanenan hanya dapat dilakukan pada tanaman yang sudah cukup umur. Panen yang paling baik adalah awal musim kemarau.

6)

Rimpang Panen dilakukan saat awal musim kemarau.

7)

Umbi lapis Panen dilakukan pada saat akhir pertumbuhan.

8)

Akar Panen dilakukan pada saat proses pertumbuhan berhenti atau tanaman sudah cukup umur.

b. Sortasi basah Sotasi basah adalah pemilahan hasil panen ketika tanaman masih segar. Sortasi dilakukan terhadap tanah atau kerikil, rumput-rumputan, tanaman yang tidak digunakan dan bagian tanaman yang rusak. c. Pencucian Pencucian dilakukan untuk membersihkan kotoran yang melekat, terutama bahan-bahan yang berasal dari dalam tanah dan juga bahan-bahan yang tercemar pestisida. d. Pengubahan bentuk Pada dasarnya tujuan pengubahan bentuk simplisia adalah untuk memperluas permukaan bahan baku. Proses pengubahan bentuk meliputi : 1) Perajangan untuk rimpang, daun dan herba

13

2) Pengupasan untuk buah, kayu, kulit kayu, dan biji-bijian yang ukurannya besar 3) Pemotongan untuk akar, batang kayu, kulit kayu dan ranting. 4) Penyerutan untuk kayu e. Pengeringan Proses pengeringan bertujuan untuk : 1) Menurunkan kadar air sehingga bahan tidak mudah ditumbuhi kapang dan bakteri 2) Menghilangkan aktifitas enzim yang bisa menguraikan lebih lanjut kandungan zat aktif 3) Memudahkan pengelolaan proses selanjutnya

Cara pengeringan bahan-bahan yaitu sebagai berikut. 1) Untuk tanaman rendah, seperti lumut, jamur, agar-agar dikeringkan dengan cara dijemur dibawah sinar matahari. 2) Untuk bahan berupa akar, pengeringan dilakukan dengan cara dirajang kemudian dijemur langsung di bawah sinar matahari. 3) Untuk bahan berupa buah bisa dibelah terlebih dahulu baru dijemur. Jika menggunakan oven panasnya tidak boleh lebih dari 60 C. 4) Untuk bahan berupa bunga hanya diangin-anginkan di tempat yang teduh atau dengan menggunakan oven pada suhu sekitar 25-35C. 5) Untuk daun atau bunga yang ingin diambil minyak atsirinya maka cara pengeringan yang dianjurkan adalah menghindari penguapan terlalu cepat dan proses oksidasi udara. f. Sortasi kering Sortasi kering adalah pemilihan bahan setelah mengalami proses pengeringan. Pemilihan dilakukan terhadap bahan-bahan yang terlalu gosong, bahan yang yang rusak akibat terlindas roda kendaraan (misalnya dikeringkan di tepi jalan raya) atau dibersihkan dari kotoran hewan.

14

g. Pengepakan dan penyimpanan Setelah proses pengeringan telah selesai, maka simplisia perlu ditempatkan dalam suatu wadah tersendiri agar tidak saling bercampur antara simplisia yang satu dengan yang lain (Gunawan & Mulyani, 2004).

C. Parameter mutu simplisia Suatu simplisia harus memenuhi persyaratan pemerian makroskopik dan mikroskopik, penetapan kadar abu, kadar abu tidak larut asam, kadar abu larut air, penetapan kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, penetapan kadar air dan susut pengeringan

D. Ekstraksi Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair (Anonim, 2000). Ekstraksi juga merupakan penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah obat dengan menggunakan pelarut yang dipilih dimana zat yang diinginkan larut. Bahan mentah obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau hewan tidak perlu diproses lebih lanjut kecuali dikumpulkan dan dikeringkan. Bahan-bahan dalam tanaman terdiri dari campuran zat yang heterogen, beberapa mempunyai efek farmakologi dan oleh karena itu dianggap sebagai zat yang dibutuhkan dan zat lain yang tidak aktif secara farmakologi dianggap sebagai zat inert (Ansel, 2005). Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik semua komponen kimia yang terdapat dalam simplisia. Ekstraksi ini didasarkan pada perpindahan massa komponen zat padat ke dalam pelarut dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka, kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut (Anonim, 2009). Secara umum, terdapat empat situasi dalam menentukan tujuan ekstraksi : 1. Senyawa kimia telah diketahui identitasnya untuk diekstraksi dari organisme. Dalam kasus ini, prosedur yang telah dipublikasikan dapat diikuti dan dibuat
15

modifikasi yang sesuai untuk mengembangkan proses atau menyesuaikan dengan kebutuhan pemakai. 2. Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok senyawa kimia tertentu, misalnya alkaloid, flavanoid atau saponin, meskipun struktur kimia sebetulnya dari senyawa ini bahkan keberadaannya belum diketahui. 3. Organisme (tanaman atau hewan) digunakan dalam pengobatan tradisional, dan biasanya dibuat dengan cara, misalnya Traditional Chinese Medicine (TCM) seringkali membutuhkan herba yang dididihkan dalam air dan dekok dalam air untuk diberikan sebagai obat (Anonim, 2009). Suatu tahap ekstraksi biasanya melibatkan tahap-tahap berikut: a) Mencampur bahan ekstraksi dengan pelarut dan membiarkannya saling berkontak. Dalam hal ini terjadi pemindahan massa dengan cara difusi pada bidang antarmuka bahan ekstraksi dan pelarut. Dengan demikian terjadi ekstraksi yang sebenarnya, yaitu pelarutan ekstrak b) Memisahkan larutan ekstrak dari rafinat, kebanyakan dengan cara penjernihan atau filtrasi c) Mengisolasi ekstrak dari larutan ekstrak dan mendapatkan kembali pelarut, umumnya dilakukan dengan menguapkan pelarut. Dalam hal-hal tertentu, larutan ekstrak dapat langsung diolah lebih lanjut atau diolah setelah dipekatkan (Bernasconi et al., 1995). Metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah obat dan daya penyesuaian dengan tiap macam metode ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna atau mendekati sempurna. Sifat dari bahan mentah obat merupakan faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode ekstraksi (Ansel, 2005). Metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut terbagi menjadi 2 yaitu dengan cara dingin dan dengan cara panas (Anonim, 2000). 1. Cara dingin a) Maserasi
16

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan. b) Perkolasi Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. 2. Cara panas a) Refluks Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu pertama sampai 3- 5 kali sehingga termasuk proses ekstraksi sempurna. b) Soxlet Soxlet adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik. c) Digesti Digesti adalah maserasi kinetik dengan pengadukan kontinu pada temperatur yang lebih tinggi dari ruangan kamar yaitu 40- 50 C. d) Infus Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air, temperatur terukur 96-98 C selama waktu tertentu (15-20 menit). e) Dekok Dekok adalah infus pada waktu lebih lama ( 30 menit) dan temperatur sampai titik didih air (Anonim, 2000). Istilah maceration berasal dari bahasa latin macerare, yang artinya merendam merupakan proses paling cepat dimana obat yang sudah halus memungkinkan untuk direndam dalam pelarut sampai meresap dan melunakkan
17

susunan sel, sehingga zat-zat yang mudah larut akan melarut. Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari dan tidak mudah mengembang dalam cairan penyari. Simplisia yang akan diekstraksi ditempatkan pada wadah atau bejana yang bermulut lebar bersama larutan penyari yang telah ditetapkan, bejana ditutup rapat kemudian dikocok berulang- ulang lamanya biasa sekitar 2-14 hari sehingga memungkinkan pelarut masuk ke seluruh permukaan simplisia. Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak dan lainlain. Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air, etanol atau pelarut lain. Bila cairan penyari digunakan air maka untuk mencegah timbulnya kapang, dapat ditambahkan bahan pengawet, yang diberikan pada awal penyarian (Anonim, 1986). Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah di usahakan. Kerugian maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna. Maserasi pada umumnya dilakukan dengan cara : 10 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok dimasukkan ke dalam bejana, kemudian dituangi dengan 75 bagian cairan penyari, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil berulang-ulang diaduk. Setelah 5 hari diserkai, ampas diperas. Ampas ditambahkan cairan penyari secukupnya diaduk dan diserkai sehingga diperoleh seluruh sari sebanyak 100 bagian. Bejana ditutup, dibiarkan ditempat sejuk, terlindung dari cahaya selama 2 hari, kemudian endapan dipisahkan. Pada penyarian dengan cara maserasi, perlu dilakukan pengadukan. Pengadukan diperlukan untuk meratakan konsentrasi larutan diluar butir serbuk simplisia sehingga dengan pengadukan tersebut tetap terjaga adanya derajat perbedaan konsentrasi yang sekecil-kecilnya antara larutan di dalam sel dengan larutan di luar sel. Hasil penyarian dengan cara maserasi perlu dibiarkan selama
18

waktu tertentu. Waktu tersebut diperlukan untuk mengendapkan zat-zat yang tidak diperlukan untuk mengendapkan zat-zat yang tidak diperlukan tetapi ikut terlarut dalam cairan penyari (Anonim, 1986). Lamanya waktu maserasi berbeda-beda tergantung pada sifat atau ciri campuran obat dan pelarut. Lamanya harus cukup supaya dapat memasuki semua rongga dari struktur obat dan melarutkan semua zat yang mudah larut. Lamanya maserasi bisa memerlukan waktu beberapa jam atau beberapa hari untuk ekstraksi yang optimum. Waktu maserasi pada umumnya dilakukan pada temperatur 15C 20C dalam waktu selama 3 hari, setelah waktu tersebut keseimbangan antara bahan yang diekstraksi pada bagian dalam sel dengan luar sel telah tercapai. Dengan pengocokan dijamin keseimbangan konsentrasi bahan ekstraksi lebih cepat dalam cairan (Ansel, 2005).

E. Ekstrak Menurut Farmakope edisi III, ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok di luar pengaruh cahaya matahari langsung. Ekstrak juga merupakan sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Anonim, 1995). Ekstrak merupakan sediaan poten, biasanya potensinya 2 sampai 6 kali berat bahan mentah obat yang dipakai sebagai bahan pada permulaan pembuatan. Kandungannya terutama dari bahan mentah obat, dengan bagian terbesar adalah zat yang tidak aktif dan zat inert dihilangkan (Ansel, 2005). Proses awal

pembuatan ekstrak adalah tahapan pembuatan serbuk simplisia kering. Dari simplisia itu dibuat serbuk simplisia dengan peralatan tertentu sampai derajat halus.

19

Proses yang dapat mempengaruhi mutu ekstrak adalah : 1. Makin halus serbuk simplisia, proses ekstraksi makin efektif dan efesien, tetapi makin halus serbuk maka kehalusan tertentu akan menbuat semakin rumit teknologi peralatan yang digunakan untuk filtrasi. 2. Selama penggunaan peralatan penyerbukkan dimana ada gerakan dan interaksi dengan benda keras ( logam dll ) maka akan timbul panas yang dapat mempengaruhi senyawa kandungan. Namun hal ini dapat dikompensasi dengan penggunaan nitrogen cair (Anomim, 2000). Ditinjau dari asalnya senyawa kimia dalam ekstrak dapat dibedakan menjadi empat kelompok yaitu : 1. Senyawa kandungan asli dari tumbuhan asal Senyawa asli sebenarnya berarti senyawa yang memang sudah ada sejak masa tumbuhan itu hidup. Jika proses preparasi simplisia dan ekstraksi dijamin tidak menyebabkan perubahan kimia, maka hasil analisis kimia terhadap ekstrak mencerminkan komposisi senyawa kandungan asli. 2. Senyawa asli perubahan dari senyawa asli Dari kajian dan riset memang sudah dapat diprediksi terjadi perubahan kimia senyawa asli karena memang sifat fisikokimia senyawa asli dan proses penstabilan yang sulit. 3. Senyawa kontaminasi Senyawa kontaminasi merupakan senyawa eksogen yang tercampur pada ekstrak, baik polusi yang tidak terhindari atau sebagai sisa (residu) proses. Senyawa hasil interaksi kontaminasi dengan senyawa asli atau senyawa perubahan (Anonim, 2000)

F. Cairan Pelarut Cairan pelarut dalam proses pembuatan ekstraksi adalah pelarut yang baik untuk senyawa kandungan yang berkhasiat atau yang akif, dengan demikian senyawa tersebut dapat terpisahkan dari bahan atau senyawa kandungan lainnya,
20

serta ekstrak hanya mengandung sebagian besar senyawa kandungan yang diinginkan (Anonim, 2000). Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pelarut yaitu sebagai berikut : 1. Selektifitas Pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan, bukan komponenkomponen lain dari bahan ekstraksi. Misalnya pada ekstraksi bahan-bahan alami sering juga bahan lain ( lemak, resin ) ikut dibebaskan bersama-sama dengan ekstrak yang diinginkan. 2. Kelarutan Pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan ekstrak yang besar (kebutuhan pelarut lebih sedikit). 3. Kemampuan tidak saling bercampur Pada ekstraksi cair-cair pelarut tidak boleh atau hanya secara terbatas larut dalam bahan ekstraksi. 4. Kerapatan Terutama pada ekstrak cair-cair, sedapat mungkin terdapat perbedaan kerapatan yang besar antara pelarut dan bahan ekstraksi. Hal ini dimaksudkan agar kedua fase dapat dengan mudah dipisahkan kembali setelah pencampuran. 5. Reaktivitas Pada umumnya perlarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada komponen bahan ekstraksi. 6. Titik didih Karena ekstrak dan pelarut biasanya harus dipisahkan dengan cara penguapan atau destilasi maka titik didih kedua bahan tidak boleh terlalu dekat. 7. Kriteria yang lain Pelarut sedapat mungkin harus: a) Murah b) Tersedia dalam jumlah besar
21

c) Tidak beracun d) Tidak dapat terbakar e) Tidak korosif f) Tidak menyebabkan terbentuknya emulsi g) Memiliki viskositas yang rendah ( Bernasconi et al., 1995)

G. Pemisahan Menurut Rony, pemisahan adalah kondisi hipotetik dimana setiap komponen kimia terisolasi sempurna dalam daerah makroskopik yang terpisah. Sedangkan menurut Karger, pemisahan adalah cara kerja yang membagi suatu campuran menjadi sekurang-kurangnya dua fraksi yang berbeda susunannya. Pemilahan teknik kromatografi pada pemisahan sebagian besar tergantung dari sifat kelarutan dari sifat keatsirian senyawa yang akan dipisahkan. Teknik pemisahan yang sering dilakukan adalah ekstraksi cair-cair, kromatografi cair vakum, kromatografi kolom, kromatografi lapis tipis, dan kromatografi kertas Kromatografi Lapis Tipis Kromatografi adalah metode fisika untuk pemisahan dalam mana komponen-komponen yang akan dipisahkan didistribusikan antara dua fase, salah satunya merupakan lapisan stasioner dengan permukaan yang luas, dan fase yang lain berupa zat alir (fluid) yang mengalir lambat (perkolasi) menembus atau sepanjang lapisan stasioner itu. Dalam semua teknik kromatografi, zat terlarut yang akan dipisahkan bermigrasi sepanjang suatu kolom (atau seperti dalam kromatografi kertas atau lapisan tipis, padanan fisika dari suatu kolom) (Day danUnderwood, 1999). Pada dasarnya kromatografi lapis tipis sama dengan kromatografi kertas, terutama pada cara melakukannya, perbedaan nyata terlihat pada media pemisahnya, yakni digunakannya lapisan tipis adsorben halus yang tersangga pada papan kaca, aluminium atau plastik sebagai pengganti kertas. Lapisan tipis adsorben ini pada proses pemisahan berlaku sebagai fasa diam (Soebagio,2005).
22

Kromatografi lapis tipis adalah metode pemisahan fitokimia. Lapisan tipis yang memisahkan terdiri atas bahan berbutir-butir (fase diam), ditempatkan pada penyangga berupa pelat gelas, logam, atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan dipisah, berupa larutan, ditotolkan berupa bercak atau pita (awal), kemudian pelat dimasukkan di dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak). Pemisahan terjadi selama perambatan lapiler (pengembang) dan selanjutnya senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan

Deteksi noda KLT terkadang lebih mudah dibandingkan kromatografi kertas karena dapat digunakan teknik-teknik umum yang lebih banyak. Noda yang tidak berwarna atau tidak berpendar jika dikenai sinar ultra violet dapat ditampakkan dengan cara mendedahkan papan pengembang pada uap iod. Pada tahap identifikasi atau penampakan noda, jika noda sudah berwarna dapat langsung diperiksa dan ditentukan harga Rf-nya. Besaran Rf ini menyatakan derajat retensi suatu komponen dalam fasa diam. Rf juga disebut faktor retardasi atau faktor retensi. Harga Rf dihitung sebagai jarak yang ditempuh oleh komponen dibagi dengan jarak yang ditempuh eluen (fasa gerak) (Soebagio, dkk,2005):

Rf = Jarak yang ditempuh eluen Jarak yang ditempuh komponen

23

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Praktikum dilaksanakan pada bulan april 2012 di Laboratorium Fitokimia STFB (Sekolah Farmasi Bandung). Bahan yang digunakan adalah kulit buah manggis (Garcinia mangostana L). Tahap-tahap yang dilakukan meliputi penyiapan simplisia, karakterisasi simplisia, penapisan fitokimia, ekstraksi, pemantauan ekstrak, fraksinasi, pemantauan fraksi, dan pemurnian.

ALAT DAN BAHAN 1. Alat-alat yang digunakan : Alumunium foil, Kromatografi colom vacum, Kromatografi lapis tipis, Pisau, Rotary evaporator, Timbangan analitik Seperangkat peralat maserasi, Spektrofotometri UV,

2. Bahan yang digunakan : Amoniak, Aquadest, Asam klorida 2N, Asam klorida pekat, Asam sulfat pekat, Asam Sulfat 1%, Kulit buah manggis (sampel), Pereaksi Dragendorff, Pereaksi besi (III) klorida 1%, Pereaksi Mayer, Pelarut n-heksan, Serbuk magnesium

24

BAB IV RANCANGAN KERJA

A. Penyiapan simplisia meliputi : 1. Pengumpulan bahan tanaman 2. Determinasi tanaman 3. Pembuatan simplisia Buah yang digunakan saat menjelang masak, benar-benar masak atau dengan melihat perubahan warna atau bentuk dari buah lalu kulit buah dicuci dengan air mengalir, dipotong kecil-kecil lalu diblender hingga berbentuk serbuk, lalu dikeringan pada suhu kamar. Jika menggunakan oven panasnya tidak boleh lebih dari 60 C selama 3 hari. B. Karakterisasi simplisia meliputi: 1. Pemeriksaan Makroskopik meliputi bentuk buah, permukaan buah, warna buah, diameter buah, bentuk biji, warna dan ukuran biji, serta ciri simplisia. 2. Pemeriksaan Mikroskopik dilakukan terhadap penampang melintang kulit buah manggis. 3. Parameter mutu simplisia 1.) Penetapan kadar abu total Timbang seksama 2 gram sampel yang telah diserbuk, masukkan dalam krus silica yang telah dipijar dan ditara, ratakan Pijarkan perlahan-lahan hingga arang habis, dinginkan, ditimbang Jika arang tidak dapat dihilangkan tambahkan air panas, saring melalui kertas saring bebas abu Pijarkan sisa dan kertas dalam krus yang sama Masukkan filtrat ke dalam krus, uapkan, pijarkan hingga bobot tetap, timbang

25

Hitung kadar abu terhadap bahan yang telah dikeringkan diudara

2.) Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu total, dididihkan dengan 25 ml asam klorida encer selama 5 menit Kumpulkan bagian yang tidak larut dalam asam, saring melalui kaca masir atau kertas saring bebas abu, cuci dengan air panas, pijarkan hingga bobot tetap, timbang Hitung kadar abu yang tidak larut dalam asam terhadap bahan yang telah dikeringkan diudara

3.) Penetapan kadar abu yang larut dalam air Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu total, dididihkan dengan 25 ml air selama 5 menit Kumpulkan bagian yang tidak larut, saring dengan kertas saring yang bebas abu, cuci dengan air panas dan pijarkan selama 5 menit pada suhu tidak lebih dari 450C hingga bobot tetap, timbang Hitung kadar abu yang larut dlam air terhadap bahan yang dikeringkan di udara.

4.) Penetapan kadar sari larut air Sejumlah 5,0 g serbuk (4/18) yang telah dikeringkan di udara, dimaserasi selama 24 jam dengan 100 ml air-kloroform

menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama kemudian dibiarkan selama 18 jam lalu disaring. Filtrat sebanyak 20 mL diuapkan hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara kemudian sisanya dipanaskan pada

26

suhu 105oC hingga bobot tetap. Kadar sari yang larut air dihitung terhadap bobot bahan yang telah dikeringkan diudara.

5.) Penetapan kadar sari larut etanol Sejumlah 5,0 g serbuk (4/18) yang telah dikeringkan di udara, dimaserasi selama 24 jam dengan 100 mL etanol 95 %menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama enam jam pertama kemudian didiamkan selama 18 jam lalu disaring dengan cepat untuk menghindarkan penguapan etanol 95 % dan 20 mL. Filtrat diuapkan hingga kering kedalam cawan dangkal yang berdasar rata yang telah ditara kemudian sisanya dipanaskan pada suhu 105oC hingga bobot tetap. Kadar sari yang larut etanol 95 % dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan.

6.) Penetapan susut pengeringan Sejumlah 1-2 g simplisia ditimbang dalam bobot timbang dangkal bertutup yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu penetapan selama 30 menit dan telah ditara. Jika zat berupa hablur besar, sebelum ditimbang digerus dengan cepat hingga ukuran butiran lebih kurang 2 mm. Zat dalam botol timbang diratakan hingga merupakan lapisan setebal lebih kurang 5 mm sampai 10 mm, dimasukan kedalam ruang pengering, tutup botol dibuka dikeringkan pada suhu pengeringan hingga bobot tetap. Sebelum setiap penimbangan, bobot dibiarkan dalam keadaan tertutup mendingin dalam eksikator hingga suhu kamar. Jika suhu lebur zat dibawah suhu leburnya selama satu jam sampai dua jam, kemudian pada suhu penetapan selam waktu yang telah ditentukan atau hingga bobot yang tetap.

27

7.) Penetapan Kadar Air Tabung penerima dan kondensor dibersihkan seksama dan dibilas dengan air lalu dikeringkan. Sejumlah 200 ml toluene dan 2 ml air dimasukkan ke dalam labu destilasi. Labu dipanaskan hingga larutan mendidih selama dua jam, kemudian didinginkan selama 30 menit dan volume air dibaca pada skala dengan ketelitian 0,05 mL. Hasil yang diperoleh disebut volume destilasi pertama. Sejumlah zat uji yang diperkirakan mengandung 2-4 mL air ditimbang seksama dan dimasukkan ke dalam labu destilasi, dimasukkan juga beberapa potongan batu didih. Labu dipanaskan perlahan selama 15 menit. Saat larutan mulai mendidih, penyulingan dimulai dengan kecepatan dua tetes per detik hingga sebagian besar air tersuling, kemudian kecepatan dinaikkan menjadi empat tetes per detik. Setelah air tersuling seluruhnya, bagian dalam kondensor dibilas dengan toluene. Destilasi dilanjutkan selama kurang lebih lima menit lalu pemanasan dihentikan. Tabung penerima didinginkan pada suhu kamar. Air yang masih menempel pada dinding tabung penerima dilepaskan dengan mengetuk-mengetuk tabung. Lapisan air dan toluene dibiarkan memisah dan volume yang terbaca disebut volume destilasi kedua. Kadar air dinyatakan dalam % menurut rumus : Kadar air = 100 (n1-n) W Dengan W= berat zat uji (gram), n = volume destilasi pertama (mL), dan n1= volume destilasi kedua (mL).

28

C. Penapisan fitokimia a. Uji Senyawa Alkaloid 1. Sampel ditambah 10ml kloroform-amoniak, lalu disaring dengan menggunakan tabung reaksi. 2. Filtrat ditambahkan dengan beberapa tetes asam sulfat 2N dan dikocok sehingga terbentuk dua lapisan, lapisan asam (lapisan bagian atas) dipipet kedalam tabung reaksi lain 3. Ditambahkan pereaksi mayer terbentuknya endapan putih memberi indikasi adanya alkaloid 4. Ditambahkan pereaksi dragendorff terbentuknya endapan jingga sampai merah cokelat memberi indikasi adanya alkaloid b. Uji Senyawa Fenolik 1. Sempel dimasukan kedalam tabung reaksi 2. Ditambahkan beberapa tetes FeCl3 1% dalam air 3. Bila terbentuk warna hijau,merah,ungu, biru atau hitam pekat memberi indikasi adanya senyawa fenolik c. Uji Senyawa Flavonoid 1. Sempel dimasukkan kedalam tabung reaksi 2. Ditambahkan 2 mg serbuk Magnesium 3. Ditambahkan HCl pekat 3 tetes lalu dipanaskan 4. Disaring dan ditambahkan amil alkohol

29

5. Dikocok, bila terbentuk warna kuning-coklat memberi indikasi adanya flavonoid d. Uji Senyawa Saponin 1. Sempel dimasukan kedalam tabung reaksi 2. Ditambahkan 10 ml air panas, kemudian didinginkan 3. Dikocok kuat-kuat selama 10 detik 4. Jika terbentuk buih mantap kurang lebih 10 menit dengan tinggi buih 1 cm sampai 10 cm dan tidak hilang jika ditambahkan 1 tetes HCl 2N memberikan indikasi adanya saponin e. Uji Senyawa Kuinon 1. Sempel dimasukkan dalam tabung reaksi 2. Ditambahkan 3 tetes KOH5% 3. Bila terbentuk warna kuning memberikan indikasi adanya kuinon f. Uji Senyawa Tanin 1. Sempel dimasukkan kedalam tabung reaksi 2. Ditambahkan dua tetes larutan ferri klorida 1 % 3. Bila terbentuk warna biru tua atau hijau kehitaman memberikan indikasi adanya tannin (Harborne,1987)

D. Ekstraksi Dengan cara maserasi yakni Sebanyak 3 kg serbuk halus kulit Garcinia

mangostana dimaserasi dengan n-heksan selama 7 hari pada suhu kamar. Maserasi pertama direndam dengan nheksana. Setelah itu, keseluruhan ekstrak
30

n-heksana diuapkan pelarutnya dengan Rotary Evaporator sehingga diperoleh ekstrak padat n-heksana. E. Pemantauan ekstrak Ekstrak yang diperoleh dipantau secara KLT menggunakan sillika gel GF 254 sebagai adsorban dengan berbagai pengembang. Keseluruhan ekstrak padat yang diperoleh dimonitoring KLT menggunakan eluen kloroform: metanol (9,8 : 0,2), noda dideteksi dengan lampu UV kemudian disemprot penampak noda 1,5% serium sulfat dalam H2SO4 2 N dan dipanaskan dalam oven. F. Fraksinasi dan pemantauan fraksi Fraksi n-heksana yang diperoleh difraksinasi menggunakan kromatografi cair vakum menggunakan eluen n-heksana : diklorometana yang ditingkatkan kepolarannya. Pengelompokan fraksi dilakukan pada fraksi fraksi yang memiliki kemiripan Rf dan pola noda pada KLT. Fraksi gabungan dari fraksinasi I menghasilkan beberapa fraksi. Fraksi gabungan tersebut dimonitoring KLT dengan menggunakan eluen kloroform: metanol (9,9 : 0,1), noda dideteksi dengan lampu UV kemudian disemprot menggunakan penampak noda 1,5 % serium sulfat dalam H2SO4 2 N dan dipanaskan dalam oven G. Pemurnian Dengan rekristalisasi yaitu dilarutkan dalam metanol hangat dan direkristalisasi dengan menambahkan aquades dengan perbandingan 20:1 dari metanol dan dilanjutkan dengan pendinginan hingga terbentuk padatan berupa kristal

31

DAFTAR PUSTAKA

Anonim,1986.Sediaan Galenik.Jakarta;Departemen Kesehatan RI Anonim,1979.Farmakope Indonesia.Edisi III.Jakarta;Departemen Kesehatan RI Anonim,1995.Farmakope Indonesia.Edisi IV.Jakarta;Departemen Kesehatan RI Anonim,2000.Parameter Standar Umum Ekstrak Pertama;Jakarta;Departemen Kesehatan RI Ansel,C.Howard.2005.Pengantar IV.Jakarta;Universitas Indonesia Bentuk Tumbuhan Obat.Cetakan

Sediaan

Farmasi.Edisi

Anastasia,novia.2010. UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SENYAWA ALFA MANGOSTIN KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) TERHADAP Propionibacterium acne dan Staphylococcus aureus MULTIRESISTEN.skripsi,jurusan farmasi universitas muhammadiah surakarta. http://etd.eprints.ums.ac.id/10089/1/K100060121.pdf Bernasconi.G.et al.1995.Teknologi Kimia.Edisi II.Jakarta;PT.Pradnya Paramita Day,R. A., dan Underwood, A. L., 1999, Analisis Kimia Kuantitatif (Penerjemah Aloysius Hadyana Pudjaatmaka, Ph. D.), Penerbit Erlangga, Jakarta,hal: 491 Gunawan,Didik &Mulyani. 2002.Ilmu Obat Alam (Farmakognosi). Jakarta:Swadaya Harborne,J.B.1978.Metode Fitokimia.Penuntun Cara Tumbuhan.Terbitan Kedua.Penerbit ITB;Bandung Modern Menganalisa

Nugroho agung 2007. Skripsi. Manggis (Garcinia mangostana L.) : DARI KULIT BUAH YANG TERBUANG HINGGA MENJADI KANDIDAT SUATU OBAT. Jurusan Farmasi, UNIVERSITAS GADJAH MADA; Yogyakarta Prihatman, kemal 2000. Budidaya Pertanian Manggis. Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS : Jakarta http://www.warintek.ristek.go.id/pertanian/manggis.pdf Rahmat Rukmana, Ir. 1995. Budidaya Manggis. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Rahmawati, Winasih, 2004. Telaah Fitokimia dan Uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri staphylococcus aureus dan escherchia coli dan ekstrak etanol, Fraksi N-heksan, Fraksi etil asetat dan fraksi air dari buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa scheff) Boerl). Sekolah Tinggi Farmasi Bandung, Bandung.
32

Soebagio, Budiasih, E., Ibnu, M.S., Widarti, H.R., dan Munzil, 2005, Kimia Analitik II, Penerbit Universitas Negeri Malang, Malang, Hal: 88-91. Sudarsono, Phil Nat. dkk, 2002. Tumbuhan Obat II. Pusat Studi Obat Tradisional. Universitas Gadjah Mada, Yogjakarta.

33

LAMPIRAN BAGAN ALIR ISOLASI

Simplisia

Karakterisasi simplisia Skrining simplisia

Ekstraksi

Ekstrak

Fraksinasi

Fraksi
Isolasi

Isolat

34