Anda di halaman 1dari 98

1

BAB I
PENDAHULUAN

Pada awalnya Kota Langsa adalah bagian dari Kabupaten Aceh Timur, namun
pada tahun 2001 terjadi pemekaran kota sehingga terbentuklah Kota Langsa. Kota
Langsa merupakan kota pesisir yang memiliki garis pantai 16 km. Kota Langsa
merupakan kota kecil dengan keramaian yang terpusat di tiga titik , yaitu pada Jalan
Teuku Umar , Jalan Sudirman, dan Jalan Ahmad Yani. Jalan Teuku Umar merupakan
pusat pertokoan di Kota Langsa yang terletak di Kecamatan Langsa Kota, apabila
terjadi hujan di areal ini dengan durasi 1 (satu) jam akan menimbulkan genangan di
jalan tersebut dengan ketinggian antara 20 s/d 50 cm. Genangan yang terjadi di Jalan
Teuku Umar ini menghambat arus lalu lintas di areal pertokoan, sebagian genangan
juga ada yang memasuki pertokoan sehingga merugikan masyarakat. Saluran
Drainase pada Jalan Teuku Umar merupakan saluran interceptor/saluran penerima,
sedangkan saluran drainase pada Jalan Sudirman adalah saluran conveyor/saluran
pembawa yang menerima pembebanan air dari areal pertokoan di Jalan Teuku Umar
kemudian disalurkan ke saluran conveyor di Jalan Sudirman, dan pada saluran ini air
buangan diteruskan menuju alur di Desa BTN Sungai Pauh yang kemudian menuju
laut.
Drainase perkotaan menjadi tema yang mendesak untuk di bicarakan karena
memegang fungsi utama dalam hal pengendalian air. Sistem saluran drainase berarti
sistem pengaturan atau pengeringan kawasan atas air hujan yang menggenang. Sistem
saluran drainase harus di kembangkan salurannya sendiri, mulai dari air hujan masuk
ke selokan / parit sampai dengan meresap ke dalam tanah kembali atau mengalir ke
sungai dan bermuara ke laut. Lokasi penelitian saluran drainase terletak di daerah
Jalan Teuku Umar dan Jalan Sudirman (dapat dilihat pada lampiran halaman
65 s/d 69). Sistem saluran drainase merupakan saluran gabungan air limbah domestik
(air limbah rumah tangga) dan air limpasan hujan. Saluran yang di pergunakan adalah
saluran terbuka, dan terdapat beberapa saluran tertutup.

2
Kecamatan Langsa Kota khususnya pada Jalan Teuku Umar termasuk wilayah
rawan banjir genangan akibat hujan. Penelitian ini di maksudkan mengevaluasi
faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya banjir di Jalan Teuku Umar
dan Jalan Sudirman. Tujuannya adalah menganalisa kapasitas saluran drainase dan
debit banjir maksimum dengan periode ulang 5 tahunan dan 10 tahunan, kemudian
akan dilakukan pendimensian hidraulis kembali saluran dan gorong-gorong
menggunakan rumus debit aliran dan rumus manning.


























3

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Banjir merupakan kata yang populer di Indonesia, khususnya pada musim
hujan, mengingat hampir semua kota di Indonesia mengalami bencana banjir.
Peristiwa ini hampir setiap tahun berulang, namun permasalahan ini belum
terselesaikan, bahkan cenderung meningkat, baik frekuensinya, luasannya,
kedalamannya, maupun durasinya. Dalam mengatasi masalah banjir ini diperlukan
suatu sistem drainase yang baik, dengan didukung berbagai aspek perencanaan yang
terkait didalamnya.

2.1 DRAINASE
Drainase berasal dari bahasa Inggris yaitu drainage yang artinya mengalirkan,
menguras, membuang atau mengalihkan air. Dalam bidang Teknik Sipil, drainase
secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan teknis untuk mengurangi
kelebihan air, baik yang berasal dari air hujan, rembesan maupun kelebihan air irigasi
dari suatu kawasan/lahan, sehingga fungsi kawasan/lahan tidak terganggu (Suripin,
2004).

2.1.1 Sistem Drainase
Secara umum sistem drainase dapat didefinisikan sebagai serangkaian
bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi atau membuang kelebihan air dari
suatu kawasan/lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Bangunan
sistem drainase secara berurutan mulai dari hulu terdiri dari saluran penerima
(interceptor drain), saluran pengumpul (collector drain), saluran pembawa (conveyor
drain), saluran induk (main drain), dan badan air penerima (receiving waters). Di
sepanjang sistem sering dijumpai bangunan lainnya, seperti gorong-gorong,
jembatan-jembatan, talang dan saluran miring/got miring (Suripin, 2004).
Sesuai dengan cara kerjanya, Saluran drainase buatan dibedakan menjadi:
1. Saluran Interceptor (Saluran Penerima)
Berfungsi sebagai pencegah terjadinya pembebanan aliran dari suatu daerah
terhadap daerah lain di bawahnya. Saluran ini biasanya dibangun dan

4
diletakkan pada bagian yang relatif sejajar dengan garis kontur. Outlet dari
saluran ini biasanya terdapat di saluran collector atau conveyor atau langsung
di natural drainage/sungai alam.
2. Saluran Collector (Saluran Pengumpul)
Berfungsi sebagai pengumpul debit yang diperoleh dari saluran drainase yang
lebih kecil dan akhirnya akan dibuang ke saluran conveyor (pembawa).
3. Saluran Conveyor (Saluran Pembawa)
Berfungsi sebagai pembawa air buangan dari suatu daerah ke lokasi
pembuangan tanpa harus membahayakan daerah yang dilalui.

abcdefMenurut keberadaannya, sistem jaringan drainase dapat dibedakan menjadi 2
(dua), yaitu:
1. Natural Drainage (Drainase Alamiah)

Terbentuk melalui proses alamiah yang terbentuk sejak bertahun-tahun
mengikuti hukum alam yang berlaku. Dalam kenyataannya sistem ini berupa
sungai beserta anak-anak sungainya yang membentuk suatu jaringan alur
aliran.
2. Artificial Drainage (Drainase Buatan)
Dibuat oleh manusia, dimaksudkan sebagai upaya penyempurnaan atau
melengkapi kekurangan-kekurangan sistem drainase alamiah dalam fungsinya
membuang kelebihan air yang mengganggu. Jika ditinjau dari sistem jaringan
drainase, kedua sistem tersebut harus merupakan kesatuan tinjauan yang
berfungsi secara bersama.

Menurut fungsinya, saluran drainase dapat dibedakan menjadi:
1. Single purpose, yaitu saluran hanya berfungsi mengalirkan satu jenis air
buangan saja.
2. Multi purpose, yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan beberapa jenis air
buangan, baik secara tercampur maupun secara bergantian.
Menurut konstruksinya, saluran drainase dapat dibedakan menjadi:
1. Drainase saluran terbuka
Saluran drainase primer biasanya berupa saluran terbuka, baik berupa saluran
dari tanah, pasangan batu kali atau beton.

5

2. Drainase saluran tertutup
Pada kawasan perkotaan yang padat, saluran drainase biasanya berupa saluran
tertutup. Saluran dapat berupa buis beton yang dilengkapi dengan bak kontrol,
atau saluran pasangan batu kali/beton yang diberi plat tutup dari beton
bertulang. Karena tertutup, maka perubahan penampang saluran akibat
sedimentasi, sampah dan lain-lain tidak dapat terlihat dengan mudah (Suripin,
2004).
Menurut konsepnya, sistem jaringan drainase dapat dibedakan menjadi 2 (dua)
yaitu:
1. Drainase konvensional
Drainase konvensional adalah upaya membuang atau mengalirkan air
kelebihan secepatnya ke sungai terdekat. Dalam konsep drainase
konvensional, seluruh air hujan yang jatuh di suatu wilayah harus secepatnya
dibuang ke sungai dan seterusnya mengalir ke laut. Jika hal ini dilakukan pada
semua kawasan, akan memunculkan berbagai masalah, baik di daerah hulu,
tengah, maupun hilir. Dampak dari pemakaian konsep drainase konvensional
tersebut dapat kita lihat sekarang ini, yaitu kekeringan yang terjadi di mana-
mana, juga banjir, longsor, dan pelumpuran. Kesalahan konsep drainase
konvensional yang paling pokok adalah filosofi membuang air genangan
secepatnya ke sungai. Demikian juga mengalirkan air secepatnya berarti
menurunkan kesempatan bagi air untuk meresap ke dalam tanah. Dengan
demikian, cadangan air tanah akan berkurang, kekeringan di musim kemarau
akan terjadi. Sehingga banjir dan kekeringan merupakan dua fenomena yang
saling memperparah dan terjadi susul-menyusul.
2. Drainase Ramah Lingkungan
Drainase ramah lingkungan didefinisikan sebagai upaya mengelola air
kelebihan dengan cara sebanyak-banyaknya meresapkan air ke dalam tanah
secara alamiah atau mengalirkan ke sungai dengan tanpa melampaui kapasitas
sungai sebelumnya. Dalam drainase ramah lingkungan, justru air kelebihan
pada musim hujan harus dikelola sedemikian rupa sehingga tidak mengalir
secepatnya ke sungai.

6
Beberapa metode drainase ramah lingkungan yang dapat dipakai diantaranya
adalah metode kolam konservasi, metode sumur resapan, metode river side
polder, dan metode pengembangan areal perlindungan air tanah (ground water
protection area).

2.2 ANALISA HIDROLOGI
Untuk menyelesaikan persoalan drainase sangat berhubungan dengan aspek
hidrologi khususnya masalah hujan sebagai sumber air yang akan dialirkan pada
sistem drainase dan limpasan sebagai akibat tidak mampunya sistem drainase
mengalirkan air ke tempat pembuangan akhir. Disain hidrologi diperlukan untuk
mengetahui debit pengaliran.


2.2.1 Analisa Frekuensi dan Probabilitas
Sistem hidrologi kadangkadang dipengaruhi oleh peristiwaperistiwa yang
luar biasa (ekstrim), seperti hujan lebat, banjir, dan kekeringan. Tujuan analisa
frekuensi data hidrologi adalah berkaitan dengan frekuensi kejadiannya melalui
penerapan distribusi kemungkinan.
Frekuensi hujan adalah besarnya kemungkinan suatu besaran hujan disamai
atau dilampaui. Kala ulang adalah waktu hipotetik dimana hujan dengan suatu
besaran tertentu akan disamai atau dilampaui. Ada dua macam seri data yang
dipergunakan dalam analisis frekuensi, yaitu :
1. Data maksimum tahunan: tiap tahun diambil hanya satu besaran maksimum
yang dianggap berpengaruh dalam analisa selanjutnya.
2. Seri Parsial: dengan menetapkan suatu besaran tertentu sebagai batas bawah,
selanjutnya semua besaran data yang lebih besar dari batas bawah tersebut
diambil dan dijadikan bagian seri data untuk kemudian dianalisis seperti biasa.
Dalam analisa frekuensi, hasil yang diperoleh tergantung pada kualitas dan
panjang data. Makin pendek data yang tersedia, makin besar penyimpangan yang
terjadi.

2.2.1.1.Distribusi Probabilitas Normal
Perhitungan hujan rencana berdasarkan distribusi probabilitas normal, jika
data yang di pergunakan adalah berupa sampel, dilakukan dengan rumus

7
n

1
n
X
i
Log X
n
rumus berikut. (I Made Kamiana, 2010, Teknik perhitungan debit rencana
bangunan air, halaman 30)

XT = X + k.Sx ........................................................................(2.1)
X = .............................................................(2.2)

S = ............................................................ (2.3)
Di mana:
XT = Hujan rencana untuk periode ulang T tahun
X = Harga rata rata dari data
S = Standard Deviasi
k = Faktor frekuensi, nilainya bergantung dari T (lihat tabel
ssssssssssssssssssssssss variabel reduksi gaus pada lampiran halaman 74)

2.2.1.2 Distribusi Probabilitas Log Normal
Perhitungan hujan rencana berdasrkan distribusi probabilitas log normal
adalah berupa sampel, dilakukan dengan rumusrumus berikut. (I Made
Kamiana, 2010, Teknik perhitungan debit rencana bangunan air, halaman 31)

Log X = LogX + k.SLog
X
.................................................................... (2.4)
LogX = ................................................... (2.5)

SLog X = ................................................................................................(2.6)
Di mana:
Log X = Nilai logaritmis hujan rencana dengan periode ulang T tahun.
LogX = Nilai ratarata dari data
SLog X = Standard Deviasi dari log x
k = Variabel reduksi Gauss (Lampiran halaman 74).
( X
i -
X

)
2
n -1
( LogX
-
LogX

)
2
n -1

8
Xi
n
Y
T
- Y
n
S
n
K =
2.2.1.3.Distribusi Probabilitas E. J Gumbel Type I
Jika data hujan yang di pergunakan dalam perhitungan adalah berupa sampel
(populasi terbatas), maka perhitungan hujan rencana berdasarkan distribusi
probabilitas gumbel di lakukan dengan rumusrumus berikut. (I Made
Kamiana, 2010, Teknik perhitungan debit rencana bangunan air, halaman 28)

XT = X + K.Sx ....................................................................... (2.7)
X = ....................................................................... (2.8)

S = ..................................................................... (2.9)
Di mana :
XT = Variate yang diekstrapolasikan, yaitu besarnya curah hujan
rencana untuk periode ulang T tahun.
X = Harga ratarata dari data
Sx = Standard Deviasi
Untuk menghitung faktor frekuensi E.J. Gumbel mengambil harga :

K = ........................................................... (2.10)

Di mana :
K = Faktor frekuensi yang merupakan fungsi dari periode ulang
(return period) dan tipe frekuensi.
YT = Reduced variate sebagai fungsi dari periode ulang T
Yn = Reduced mean sebagai fungsi dari banyak data (N)
Sn = Reduced standard deviation sebagai fungsi dari banyak
data (N)

2.2.2 Uji Kesesuaian Pemilihan Distribusi
Uji distribusi probabilitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah persamaan
distribusi probabilitas yang dipilih dapat mewakili distribusi statistik sampel
( X
i -
X

)
2
n -1

9
data yang di analisa. Pada uji kesesuaian pemilihan distribusi probabilitas ini
akan merujuk pada metode semirnov-kolmogorof (secara analitis).

2.2.2.1.Metode smirnovkolmogorof (secara analitis)
Pengujian distribusi probabilitas dengan metode smirnovkolmogorof di
lakukan dengan langkahlangkah perhitungan sebagai berikut.
(I Made Kamiana, 2010, Teknik perhitungan debit rencana bangunan air,
halaman 43)
1. Urutkan data (x) dari besar ke kecil atau sebaliknya
2. Tentukan peluang empiris masingmasing data yang sudah di urut dengan
persamaan weibull.
3. Tentukan peluang teoritis masingmasing data yang sudah di urut tersebut
P(Xi )berdasarkan persamaan distribusi probabilitas yang di pilih (gumbell,
normal, dan sebagainya).
4. Hitung selisih (Pi) antara peluang empiris dan teoritis untuk setiap data yang
diurut :
Pi =P(Xi) P (Xi)
5. Tentukan apakah Pi < P kritis, jika tidak artinya distribusi probabilitas s
yang dipilih tidak dapat diterima, demikian sebaliknya.
6. P kritis lihat tabel pada lampiran .

2.2.2.2 Metode smirnovkolmogorof (secara grafis)
Selain dengan cara analitis yang telah di uraikan di atas, pengujian distribusi
probabilitas dengan metode smirnovkolmogorof juga dapat dilakukan secara
grafis dengan langkahlangkah sebagai berikut. (I Made Kamiana, 2010,
Teknik perhitungan debit rencana bangunan air, halaman 51)
1. Urutkan data (x) dari besar ke kecil atau sebaliknya
2. Tentukan peluang empiris masingmasing data yang sudah diurut dengan
persamaan weibull.
3. Plot masingmasing nilai P(Xi) di atas kertas probabilitas sebagai absis dan nilai
Xi sebagai ordinat yang sudah di skala sedemikian rupa sehingga menjadi titik
titik koordinat.

10
4. Kemudian di atas sebaran titiktitik koordinat tersebut ditarik kurve atau garis
teoritis. Persamaan garis teoritis merupakan garis persamaan probabilitas yang
telah dihitung.
5. Hitung nilai peluang teoritis P(Xi) untuk masing masing data (Xi). Caranya
adalah dengan menarik garis horizontal dari setiap titiktitik koordinat ke garis
teoritis.
Contoh: titik koordinat ke-3, peluang empirisnya P(X3), dari titik ini di tarik
garis horizontal sampai bertemu garis teoritis kemudian dari titik pertemuan
ditarik garis vertikal ke bawah sehingga didapat nilai P(X3).
6. Hitung selisih (Pi) antara peluang teoritis P(Xi) dan empiris P(Xi) untuk setiap
data (Xi) yang diurut :
Pi =P(Xi) P(Xi)
Contoh: untuk titik koordinat ke 3: P3 =P(X3) P(X3)
7 Tentukan nilai Pi yang paling maksimum.
8. Tentukan apakah Pi maksimum < Pi kritis, jika tidak artinya distribusi
probabilitas yang dipilih tidak dapat diterima, demikian sebaliknya. Pi kritis
lihat tabel pada lampiran.












Gambar 2.1 Sketsa uji smirnov kolmogorof secara grafis dengan
kertas probabilitas.
Sumber : I Made Kamiama Teknik Perhitungan Debit Rencana )
Titik koordinat
empiris
Garis Teoritis
? P3
( Xi )
P'(X3) P(X3)
P(Xi) atau P'(Xi)

11
2.2.3 Intensitas Hujan Rencana
abcdefJika yang tersedia adalah data hujan harian, dapat ditentukan dengan rumus
mononobe. Bentuk dari rumus mononobe sebagai berikut.( I Made Kamiana, 2010,
Teknik perhitungan debit rencana bangunan air, halaman 74)

........................................................................... (2.11)

Di mana :
It = intensitas hujan untuk lama hujan jam (mm/jam)
R24 = curah hujan efektif dalam 1 hari (mm)
t = lama hujan (jam)

2.2.4 Waktu Konsentrasi
abcdefLama hujan (time of concentration) tc di sini dianggap lamanya hujan yang
akan menyebabkan debit banjir dan t dihitung dengan rumus Kirpich. (I Made
Kamiana, 2010, Teknik perhitungan debit rencana bangunan air, halaman 83)
tc = ( 0,87 x L
2
/ 1000 x S )
0.385
...........................................................
.
(2.12)
Di mana :
tc = Waktu Konsentrasi (jam)
L = Panjang lintasan air dari titik terjauh sampai titik di tinjau
( km )
S = Kemiringan ratarata daerah lintasan air (m).
abcdefWaktu konsentrasi juga dapat dihitung dengan membedakannya menjadi 2
komponen, yaitu :

tc = to + td ( menit ) ...............................................................(2.13)
to =
S
n
L x 28 , 3
3
2
.......................................................(2.14)
td = V x
Ls
60
(menit ) ...............................................................(2.15)
Di mana :
n = Angka kekasaran permukaan ( lihat tabel )
S = Kemiringan lahan

12
L = Panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan ( m )
Ls = Panjang lintasan aliran didalam saluran/sungai ( m )
V = Kecepatan Aliran didalam saluran ( m/detik )
S = Kemiringan ratarata daerah lintasan air.

2.2.5 Koefisien Pengaliran
abcdefKoefisien pengaliran (C), didefinisikan sebagai nisbah antara puncak aliran
permukaan terhadap intensitas hujan. Perkiraan atau pemilihan nilai c secara tepat
sulit dilakukan, karena koefisien ini bergantung dari :
1. Kehilangan air akibat infiltrasi, penguapan, tampungan permukaan.
2. Intensitas dan lama hujan
abcdefDalam perhitungan drainase permukaan, penentuan nilai c dilakukan melalui
pendekatan yaitu berdasarkan karakter permukaan. Kenyataan dilapangan sangat sulit
menemukan daerah pengaliran yang homogen. Dalam kondisi yang demikian, maka
nilai c dapat dilihat pada lampiran. (I Made Kamiana, 2010, Teknik perhitungan debit
rencana bangunan air, halaman 84)
abcdefDaerah yang memiliki cekungan untuk menampung air hujan relative
mengalirkan lebih sedikit air hujan dibandingkan dengan daerah yang tidak memiliki
cekungan sama sekali. Efek tampungan oleh cekungan ini terhadap debit rencana
diperkirakan dengan koefisien tampungan yang diperoleh sebagai berikut, (Sumber
wesli Drainase Perkotaan halaman 33 ) ;

Cs =
td tc
tc
2
2
..........................................................................(2.16)
Di mana :
Cs = Koefisien Tampungan
tc = Waktu Konsentrasi
td = Waktu konsentrasi air mengalir pada saluran

2.2.6 Debit Banjir Rencana
abcdefDebit rencana adalah debit maksimum yang akan dialirkan oleh saluran
drainase untuk mencegah terjadinya genangan. Untuk drainase perkotaan dan jalan

13
raya, sebagai debit rencana ditetapkan debit banjir maksimum periode ulang 5 tahun
dan 10 tahunan , yang mempunyai makna kemungkinan banjir maksimum tersebut
disamai atau dilampaui 1 kali dalam 5 tahun atau 2 kali dalam 10 tahun atau 20 kali
dalam 100 tahun. Penetapan debit banjir maksimum periode ulang 5 tahun ini
berdasarkan pertimbangan sebagai berikut :
1. Risiko akibat genangan yang ditimbulkan oleh hujan relatif kecil dibandingkan
dengan banjir yang ditimbulkan meluapnya sebuah sungai.
2. Luas lahan diperkotaan relatif terbatas apabila ingin direncanakan saluran yang
melayani debit banjir maksimum periode ulang lebih besar dari 5 tahun.
3. Daerah perkotaan mengalami perubahan dalam periode tertentu sehingga
mengakibatkan perubahan pada saluran drainase.
abcdefPada perhitungan debit rencana ini menggunakan periode ulang 2 dan 5 tahun
dengan menggunakan metode rasional. Metode rasional merupakan rumus yang tertua
dan yang terkenal di antara rumus rumus empiris. Metode rasional dapat digunakan
untuk menghitung debit puncak sungai atau saluran namun dengan daerah pengaliran
yang terbatas.
abcdefMenurut Goldman (1986) dalam Suripin (2004) metode rasional dapat di
gunakan untuk daerah pengaliran < 300 ha. Menurut Ponce (1989) dalam Bambang T
(2008), Metode rasional dapat digunakan untuk daerah pengailaran < 2,5 km2. Dalam
Departemen PU, SK-SNI M-18-1989-F (1989) dijelaskan bahwa metode rasional
dapat digunakan untuk daerah pengaliran < 5000 ha.
abcdefDalam Asdak (2002), dijelaskan jika ukuran daerah pengaliran > 300 ha, maka
ukuran daerah pengaliran perlu dibagi menjadi beberapa bagian sub daerah pengaliran
kemudian rumus rasional diaplikasikan pada masingmasing sub daerah pengaliran.
abcdefDalam Montarcih (2009) dijelaskan jika ukuran daerah pengaliran > 5000 ha
maka koefisien pengaliran (C) bisa dipecah pecah sesuai tata guna lahan dan luas
lahan yang bersangkutan.
abcdefDalam Suripin (2004) dijelaskan penggunaan metode rasional pada daerah
pengaliran dengan beberapa sub daerah pengaliran dapat dilakukan dengan
pendekatan nilai C gabungan atau C ratarata dan intensitas hujan dihitung
berdasarkan waktu konsentrasi terpanjang.

14
abcdefDebit banjir rencana adalah debit maksimum pada saat curah hujan maksimum.
Perhitungan debit banjir rencana menggunakan metode rasional Jepang, sebagai
berikut. (I Made Kamiana, 2010, Teknik perhitungan debit rencana bangunan air,
halaman 81)

Q = 0, 278 .Cs.C.I.A ............................................................. (2.17)
Di mana :
Q = debit banjir (m3/det)
C = koefisien aliran limpasan
Cs = koefisien tampungan
I = intensitas hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam)
A = luas daerah (Km
2
)

2.2.7 Air Limbah (Air Buangan)
abcdefAir limbah atau air buangan merupakan air yang telah dipergunakan oleh
manusia dalam berbagai keperluan seperti rumah tangga dan indrustri, dan kemudian
dialirkan melalui saluran pembuangan. Saluran pembuangan air limbah ini diatur oleh
suatu sistem drainase yang terdiri dari dua jenis yaitu bila air limbah masih dapat di
olah kembali dan tidak mengandung zat kimia berbahaya maka saluran dapat
digabung dengan saluran air hujan, sedangkan air limbah pabrik salurannya harus
tersendiri dan tertutup.

2.2.7.1 Air Limbah Rumah Tangga
Air limbah berasal dari perumahan, besarnya volume air limbah diperhitungkan
berdasarkan kepadatan penduduk ratarata per orang per hari hampir sama
dengan konsumsi air bersih harian maksimum per orang. Serta data ditambah
10%-20% untuk air tanah yang keluar dan yang lainnya.

Jumlah air limbah rumah tangga dari suatu daerah umumnya berkisar 60%-75%
dari air yang disalurkan ke daerah tersebut (Ray K. Linsy,1979).

Menurut Metcalf dan Eddy, 1979 rata rata aliran air limbah dari daerah
permukiman disajikan pada tabel berikut ini:

15
Tabel 2.1. Penggunaan air limbah kota.
Penggunaan
Kisaran
(L/Org/H)
Umum
(L/Org/H)
Rumah Tangga 150 300 250
Komersial dan indrustri 40 -300 150
Publik Area 60 100 75
Kehilangan dan pemborosan 60 100 75
Total 310 800 550
Sumber: Metcalf and Eddy, Wastewater engineering

Menghitung jumlah penduduk per-april 2012 dalam daerah pengaliran:
Po = Kp x A ............(2.18)
Di mana :
Po = Jumlah Penduduk Per April 2012
Kp = Kepadatan Penduduk
A = Luas Areal
Menghitung jumlah penduduk jangka waktu 5 dan 10 tahun ke depan
menggunakan Projeksi dengan Ekstrapolasi, yaitu Ektrapolasi dengan fungsi
matematika. Hubungan ini dapat digambarkan dengan persamaan matematika
sebagai berikut ;

P
t+0
= Pt+f(0) ................................................................................(2.19)
Di mana :
P
t+0
= Penduduk daerah yang diselidiki pada tahun t+0
Pt = Penduduk yang diselidiki pada tahun dasar t
O = Selisih tahun dari tahun dasar t ke tahun t+0
f = Fungsi perkembangan penduduk yang mencerminkan factor
biologi, social, ekonomi, dan politik

Extrapolasi fungsi matematika dibagi atas tiga teknik projeksi yaitu, Ekstrapolasi
Lung Polinomial, Ekstrapolasi Bunga Berganda, dan Ekstrapolasi Lung
Compertz dan Logistik. Pada penentuan jumlah penduduk dalam perencanaan ini

16
menggunakan Ektrapolasi Bunga Berganda. Teknik ini menganggap
perkembangan jumlah penduduk akan berganda dengan sendirinya. Disini
dianggap tambahan jumlah penduduk akan membawa konsekuensi bertambahnya
tambahan jumlah penduduk. Hal ini analog dengan bunga berbunga, oleh
karenanya rumus yang digunakan pun rumus berbunga, sebagai berikut ;

P
t+0
= Pt+(1+r)
0
.........................................................................(2.20)
Di mana ;
P
t+0
= Penduduk daerah yang diselidiki pada tahun t+0
Pt = Penduduk yang diselidiki pada tahun dasar t
O = Selisih tahun dari tahun dasar t ke tahun t+0
r = rata-rata prosentasi tambahan jumlah penduduk daerah yang
diselidiki berdasarkan data masa lampau.

Maka diperoleh debit banjir rencana akibat air limbah, adapun perhitungannya
adalah sebagai berikut:

Qw = Rerata buangan air x Pn x Fdp ...(2.21)

Di mana :
Qw = Debit banjir air limbah ( m3/detik)
Pn = Jumlah periode n tahun
fdp ==Faktor debit puncak untuk periode ulang 5 (lima) dan 10
(sepuluh) tahunanahun adalah 4,5

2.2.7.2 Air Limbah Indrustri
Besarnya volume air limbah indrustri bervariasi menurut jenis dan ukuran
indrustri kota, pengawasan indrustri tersebut, jumlah air pemakaian berulang,
serta cara yang dipergunakan untuk proses indrustri tersebut. Aliran limbah
indrustri dialirkan lebih seragam dalam sehari dengan puncak bervariasi diantara
150% sampai 250% dari laju aliran ratarata. Karena variasi aliran air limbah
indrustri akan berubah sesuai dengan ukuran kota dan jumlah aliran air limbah
indrustri, maka air limbah indrustri tidak bisa dipatokkan dalam satu ukuran

17
tertentu. Untuk mengetahui hasil air limbah indrustri yang tepat dengan
melakukan pengukuran langsung pada sistem yang bersangkutan.

2.2.8 Rumus Debit Aliran
abcdefJumlah zat cair yang mengalir melalui tampang lintang aliran tiap satu satuan
waktu disebut debit aliran dan diberi notasi Q . Debit aliran biasanya diukur
dalam volume zat cair tiap satu satuan waktu, sehingga satuannya adalah m
3
/detik.
abcdefDalam praktek sering variasi kecepatan pada tampang lintang diabaikan, dan
kecepatan aliran dianggap seragam disetiap titik pada tampang lintang yang besarnya
sama dengan kecepatan rerata V, sehingga debit aliran adalah
Q = A x V ........................................................................... (2.22)
Di mana :
Q = debit aliran (m3/det)
A = luas penampang basah (m2)
V = Kecepatan rata rata aliran didalam saluran (m/detik)

2.2.9 Rumus Manning

Seorang ahli dari islandia, Robert Manning mengusulkan rumus berikut ini ;
C =
n
1
R
1/6
...................................................................(2.23)

Dengan koefisien tersebut, maka rumus kecepatan aliran menjadi ;
V =
n
1
.R
2/3
. S
1/2
..................................................................(2.24)

Di mana :
V = Kecepatan ratarata aliran didalam saluran (m/detik)
n = Koefisien kekasaran manning
R = Jarijari Hidrolis (m) R=A/P
S = Kemiringan dasar saluran
A = luas penampang basah (m2)
P = Keliling basah saluran (m)

18
Tabel.2.2 Koefisien Kekasaran Manning
Tipe Saluran Koefisien manning (n)
a. Baja 0.011 0.014
b.Baja permukaan gelombang 0.021 0.03
c. Semen 0.01 0.013
d.Beton 0.011 0.015
e. Pasangan Batu 0.017 0.030
f. Kayu 0.010 0.014
g.Bata 0.011 0.015
h.Aspal 0.013
Sumber : Wesli, Drainase Perkotaan (2008 )Halaman 97

2.3. Perencanaan Dimensi Hidraulis Saluran Drainase, Goronggorong, dan
Jembatan .
abcdefPerhitungan Perencanaan hidrolis saluran menggunakan rumus manning,
namun untuk pemilihan penampang disesuaikan dengan kebutuhan dilapangan.

2.3.1 Kriteria Teknis
abcdefDalam perencanaan dan pelaksanaan pembuatan saluran drainase, kriteria
teknis untuk saluran drainase dan air hujan perlu diperhatikan agar saluran drainase
tersebut dapat bekerja sesuai dengan fungsinya. Kriteria teknis saluran drainase
tersebut adalah sebagai berikut :
a. Kriteria Saluran Drainase Air Hujan
1. Muka air rencana lebih rendah dari muka air yang akan dilayani.
2. Aliran berlangsung cepat, namun tidak menimbulkan erosi.
3. Kapasitas saluran membesar searah aliran.
b. Kriteria Saluran Drainase Air Limbah
1. Muka air rencana lebih rendah dari muka tanah yang akan dilayani.
2. Tidak mencemari kualitas air sepanjang lintasannya.
3. Tidak mudah dicapai oleh binatang yang dapat menyebabkan penyakit.
4. Ada proses pengenceran atau penggelontoran sehingga kotoran yang
ada dapat terangkut secara cepat sampai ke tempat pembuangan akhir.

19
5. Tidak menyebarkan bau atau mengganggu estetika.

2.3.2 Bentuk Penampang Hidraulis Saluran
abcdefMengingat bahwa tersedianya lahan merupakan hal yang perlu
dipertimbangkan, maka penampang saluran drainase perkotaan dianjurkan mengikuti
penampang hidrolis terbaik yaitu suatu penampang yang memiliki luas terkecil untuk
suatu debit tertentu atau memiliki keliling basah terkecil dengan hantaran maksimum.
Untuk mencegah gelombang atau kenaikan muka air yang melimpah ke tepi,
maka perlu tinggi jagaan pada saluran, yaitu jarak vertikal dari puncak saluran ke
permukaan air pada kondisi debit rencana. Tinggi jagaan ini (F) berkisar 5% sampai
30% kedalaman aliran.
Dibandingkan dengan air limbah, air hujan memiliki perbandingan besar antara
debit puncak dengan debit normal. Hal tersebut menyebabkan saluran drainase
mempunyai efektifitas rendah dan hanya berfungsi pada musim hujan.

2.3.2.1 Pendimensian Hidraulis Jembatan dan Gorong-gorong
Bangunan seperti gorong-gorong dan jembatan dimaksudkan untuk meneruskan
aliran air buangan yang melintas di bawah jalan raya. Dalam merencanakan
penampang hidraulis tersebut perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut ;
1. Harus cukup besar untuk melewatkan debit air maksimum dari daerah
pengaliran secara efisien.
2. Kemiringan dasar gorong-gorong atau jembatan dibuat lebih besar dari
saluran pembuangannya, dimaksudkan agar dapat menggelontor sedimen.
3. Keadaan aliran pada gorong-gorong.
Dikenal ada 2 keadaan aliran gorong-gorong yakni ;
a. Kendali inlet
b. Kendali outlet
Untuk setiap jenis pengendalian, rumus serta faktor yang berlainan harus
digunakan. Adapun rumus-rumus nya sebagai berikut ;
Rumus untuk gorong-gorong kotak yang pendek yang berpengendalian inlet telah
diberikan oleh Henderson FM Open chanel Flow (1996), yaitu ;

20
1. Bila Hw/D < 1,2 kira-kira permukaan air pada bagian masuk tidak akan
menyinggung bagian atas dari lubang gorong-gorong oleh karena itu arus
menjadi kritis. Oleh karena itu debit nya adalah ;
Q =
2
/
3
.Cb.B.Hw.
2
/
3
.g.Hw ................................................... (2.25)

Di mana :
Q = debit yang mengalir melalui gorong-gorong (m
3
/detik)
Cb = koefisien penyempitan (0,9 sumber Wesli Drainase Perkotaan
Halaman 83 )
B = Lebar Lubang (m)
Hw = Tinggi Lubang (m)
g = Percepatan gravitasi bumi 9,81 m/detik

2. Bila Hw/D > 1,2 kira-kira permukaan air pada bagian masuk tidak akan
menyinggung bagian atas dari lubang gorong-gorong oleh karena itu arus
menjadi kritis. Oleh karena itu debit nya adalah ;

Q = Cn.B.B.

2.g(Hw-Cn.Hw) ................................................ (2.26)

Di mana :
Q = debit yang mengalir melalui gorong-gorong (m
3
/detik)
Cn = koefisien penyempitan (0,6 sumber Wesli Drainase Perkotaan
Halaman 83 )
B = Lebar Lubang (m)
Hw = Tinggi Lubang (m)
g = Percepatan gravitasi bumi 9,81 m/detik

2.3.2.2 Bentuk penampang segi empat
Saluran dengan tampang segi empat biasanya digunakan untuk saluran yang
terbuat dari pasangan batu/beton. Bentuk segi empat ini sama dengan bentuk
trapesium untuk nilai m=0, rumus untuk bentuk segi empat adalah sebagai
berikut ;

21














Gambar 2.2 Bentuk Tampang Lintang Persegi
Sumber: Bambang triatmojo Hidraulika 1

A = b . h ............................................................................ (2.27)
P = b + 2.h ............................................................................ (2.28)
R = A/P ............................................................................ (2.29)

Di mana :
A = luas penampang basah saluran (m
2
)
P = Keliling Basah Saluran (m)
R = Jari-jari hidraulis saluran (m)
b = lebar atas saluran (m)
h = tinggi saluran (m)
f = tinggi jagaan (m)
m = kemiringan talud

2.3.2.3 Bentuk penampang trapesium
Untuk saluran tanah dengan bentuk trapesium seperti yang ditunjukkan gambar
dibawah dengan lebar dasar b, kedalaman h, dan kemiringan tan = 1/m .
r
h
b
f
Muka Air
Muka Tanah

22











Gambar 2.3 Bentuk Tampang Trapesium
Sumber: Bambang triatmojo Hidraulika 1

A = h. ( b+m.h).......................................................................... (2.30)
P = b + 2.h 1+m
2
.................................................................... (2.31)
R = A/P ..................................................................................... (2.32)

dengan:
A = luas penampang basah saluran (m
2
)
P = Keliling Basah Saluran (m)
R = Jari-jari hidraulis saluran (m)
b = lebar atas saluran (m)
h = tinggi saluran (m)
f = tinggi jagaan (m)
m = kemiringan talud (m)





r
h
b
f
m
1
Muka Air
Muka Tanah

23

BAB III
METODOLOGI
abcdefPada Jalan Teuku Umar dan Jalan Sudirman adalah wilayah rawan banjir
genangan akibat air hujan pada saat musim hujan. Penulisan ini bertujuan
merumuskan masalah, mengevaluasi, serta mencari solusinya, Adapun langkah-
langkah penelitian adalah sebagai berikut:

3.1 PENGUMPULAN DATA
abcdefPenelitian ini akan mengevaluasi, menganalisa, dan merencanakan dimensi
saluran drainase yang ada di Jalan Teuku Umar dan Jalan Sudirman. Adapun data
yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

3.1.1 Data Primer
abcdefData primer adalah data yang didapat dari hasli pengamatan dan hasil survey
lapangan, adapun data tersebut adalah sebagai berikut ;
a. Data Panjang Saluran
b. Dimensi Saluran yang ada

3.1.2 Data Sekunder
abcdefData sekunder adalah data yang didapat dari hasil perencanaan sebelumnya
ataupun instansi-instansi, adapun data sekunder tersebut adalah sebagai berikut ;
a. Data Curah Hujan Harian Maksimum Tahun 2001 s/d 2011
b. Data Jumlah Penduduk Tahun 2010
c. Data Luas Areal Wilayah Kota Langsa
d. Peta Kota Langsa

3.2 ANALISA HIDROLOGI
abcdefData yang telah terkumpul kemudian dilakukan analisa merujuk pada literatur-
literatur yang ada pada bab tinjauan pustaka, adapun proses analisa data adalah
sebagai berikut.

24
3.2.1 Analisa Frekusensi Curah Hujan
abcdefProses analisa frekuensi curah hujan ini bertujuan untuk mendapatkan hujan
rencana dengan periode ulang 5 tahunan dan 10 tahunan.
Metode analisis frekuensi yang dipergunakan adalah sebagai berikut:
a. Metode distribusi probabilitas normal
b. Metode distribusi probabilitas log normal
c. Metode distribusi probabilitas gumbell

3.2.2 Uji Kecocokan Distribusi Probabilitas
abcdefHujan rencana yang telah didapat kemudian diuji dengan menggunakan uji
distribusi smirnov-kolmogorof secara analitis, yang bertujuan untuk mendapatkan
simpangan maksimum terkecil dan tidak lebih dari simpangan kritis debgan jumlah
data n dan derajat kepercayaanya.

3.2.3 Waktu Konsentrasi
abcdefLamanya air limpasan hujan yang masuk dari permukaan ke saluran, dan air
hujan yang mengalir dari titik awal sampai ke pembuangan akhir akan dihitung waktu
konsentrasinya menggunakan rumus kirpich.

3.2.4 Perhitungan Koefisien Tampungan (Cs) dan Limpasan (C)
abcdefPerhitungan koefisien tampungan dihitung berdasarkan waktu konsentrasi.
Perhitungan koefisien limpasan berdasarkan tabel koefisien limpasan untuk rumus
rasional.

3.2.4 Intensitas Hujan Rencana
abcdefIntensitas hujan rencana adalah banyaknya hujan persatuan waktu, perhitungan
intensitas hujan rencana menggunakan rumus mononobe. Perhitungan hujan rencana
dihitung berdasarkan hujan rencana periode ulang dan waktu konsentrasi.

3.2.5 Debit Banjir Rencana
abcdefDebit rencana dihitung menggunakan metode rasional dengan periode ulang 5
tahunan dan 10 tahunan. Perhitungan debit dilakukan pada 4 daerah pengaliran, yaitu

25
daerah pengaliran saluran collector 1, daerah pengaliran saluran collector 2, daerah
pengaliran saluran collector 3 , dan daerah pengaliran saluran conveyor.

3.2.6 Debit Air Aliran Limbah
abcdefUntuk menghitung data debit air limbah diperlukan data luas daerah pengaliran
, kepadatan penduduk, peningkatan penduduk setiap tahunnya dan rata-rata buangan
air limbah penduduk berdasarkan tabel . Perhitungan kepadatan penduduk 5 dan 10
tahun kedepan menggunakan persamaan matematik log binomial.

3.2.7 Kapasitas Debit Tampungan Saluran Drainase yang Ada (existing)
abcdefPerhitungan debit saluran drainase yang ada menggunakan rumus debit aliran
dan rumus manning, adapun saluran yang dianalisa meliputi saluran interceptor,
saluran collector, saluran saluran conveyor, gorong-gorong, dan jembatan beton yang
melintasi saluran drainase.

3.2.8 Hasil Akhir
abcdefSetelah semua tahapan-tahapan dalam proses analisa data selesai hasil akhir
penelitian adalah jaringan drainase untuk Jalan teuku umar dan Jalan Sudirman
berupa gambar penampang hidraulis saluran dan gambar pendukung lainnya.











26

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
abcdefPada bab ini akan menganalisa data primer serta data sekunder untuk
memperoleh debit banjir ditambah debit air limbah serta merencanakan saluran
collector 1, collector 2, collector 3, dan saluran conveyor.

4.1 IDENTIFIKASI PERMASALAHAN
abcdefDari hasil survey lokasi dapat disimpulkan permasalahan adalah , pada Jalan
Teuku Umar yaitu di komplek PJKA terjadi banjir genangan dengan tinggi genangan
berkisar 50 sampai dengan 70 cm dan menggenangi rumah masyarakat. Kemudian
permasalahan terjadi pada toko belakang di Jalan Teuku Umar terjadi hal serupa yaitu
banjir genangan dengan tinggi genangan yang sama. Oleh karena hal tersebut di atas
perlu direncanakan ulang saluran colector di Jalan Teuku Umar dan Jalan Sudirman,
serta perlu diubah nya saluran interceptor di Jalan Teuku Umar menjadi colector
untuk mengatasi masalah banjir genangan di daerah toko belakang, serta perlu
pemindahan saluran di bawah losmen pase ke depannya.
abcdefSaluran yang akan di lakukan evaluasi kapasitas debit saluran dan analisa debit
banjir adalah saluran colector 1 yang berada di Kelurahan Gampong Jawa dan
melintasi Gampong Blang Pase dengan panjang saluran 1.160 m (Sumber Hasil
Pengukuran di lapangan). Saluran colector 1 ini melintasi 8 buah jembatan 1 gorong--
gorong segi empat dengan ukuran yang berbeda dapat dilihat pada lampiran. Luas
daerah pengaliran saluran collector pada lokasi ini adalah 140 Ha atau 1,4 km
2
.
abcdefKemudian Saluran Colector 2 yang berada di Gampong Blang Pase dengan
panjang saluran 660 m (Sumber Hasil Pengukuran dilapangan). Saluran colector 2
ini melintasi 3 buah gorong-gorong segi empat, dengan luas daerah pengaliran saluran
colector 2 ini adalah 20 Ha atau 0,2 km
2
. Saluran colector 3 berada di Kelurahan
Pekan Langsa dengan panjang saluran 540 m (Sumber Hasil Pengukuran) serta
penambahan panjang saluran interceptor yang di rencanakan menjadi saluran colector
360 m (Sumber Hasil Pengukuran), panjang saluran colector 3 ini menjadi 900 m

27
(540 m+ 360 m) dengan luas daerah pengaliran saluran colector 3 ini adalah 20 Ha
ditambah 15 ha menjadi 35 Ha atau 0,35 km
2
.
abcdefTerakhir adalah pendimensian saluran conveyor yang melintasi Gampong
Jawa, Gampong Blang Pase, Desa Matang Seulimeng, dan bermuara di Desa Sungai
Pauh dengan panjang saluran 1.900 m (Sumber Hasil Pengukuran di lapangan)
dengan luas daerah pengaliran saluran conveyor ini adalah 500 Ha atau 5 km
2
.
Saluran ini melintasi 7 buah jembatan dengan ukuran dapat dilihat pada lampiran.

4.2 ANALISA DATA HIDROLOGI UNTUK MENENTUKAN HUJAN
RENCANA PERIODE ULANG 5 DAN 10 TAHUNAN
abcdefDari data curah hujan seperti terlampir, didapat curah hujan harian maksimum
untuk daerah Jalan Teuku Umar-Jalan Sudirman sebagai berikut ;
Tabel 4.1. Curah Hujan Harian Maksimum
No Tahun
Curah Hujan
Maksimum
Satuan
1 2002 315 mm/hari
2 2003 213 mm/hari
3 2004 250 mm/hari
4 2005 275 mm/hari
5 2006 332 mm/hari
6 2007 249 mm/hari
7 2008 357 mm/hari
8 2009 224 mm/hari
9 2010 350 mm/hari
10 2011 330 mm/hari
Sumber : Dinas Pertanian Aceh Timur

abcdefCurah hujan rancangan adalah curah hujan terbesar tahunan dengan suatu
kemungkinan terjadi yang tertentu, atau hujan dengan suatu kemungkinan periode
ulang tertentu. Metode analisis hujan rancangan tersebut pemilihannya sangat
tergantung dari kesesuaian parameter statistic dari data yang bersangkutan, atau
dipilih berdasarkan pertimbangan teknis-teknis lainnya. Data curah hujan yang

28
dipergunakan berasal dari stasiun hujan di Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Timur
dengan periode pengamatan tahun 2002 s/d 2011.
Metode yang digunakan berdasarkan analisa distribusi frekuensi yaitu analisa
distribusi probabilitas Normal, Log Normal, dan E.J. Gumbell.

4.2.1 Analisa Data Curah Hujan Harian Maksimum Menggunakan Distribusi
Probabilitas Normal
abcdefDari data curah hujan diurut dari curah hujan harian maksimum yang paling
besar hingga paling kecil dan menghitung parameter-parameter yang dibutuhkan
sebagai berikut ;
Tabel. 4.2. Perhitungan Parameter Distribusi Probabilitas Normal
No
Curah Hujan ; Xi
(mm)
( Xi - X ) ( Xi - X )
2

1 315 25,5 650,25
2 213 -76,5 5.852,25
3 250 -39,5 1.560,25
4 275 -14,5 210,25
5 332 42,5 1.806,25
6 249 -40,5 1.640,25
7 357 67,5 4.556,25
8 224 -65,5 4.290,25
9 350 60,5 3.660,25
10 330 40,5 1.640,25
Xi 2.895 ( Xi - X )2 25.866,5
Sumber : Hasil Perhitungan

Perhitungan ( Xi-X ) dan ( Xi X )
2

X = Curah Hujan Harian Rata-rata
X =


= 289,5 mm/hari

29
( Xi X ) = 315 mm/hari 289,5 mm/hari = 25,5 mm/hari.
( Xi X )
2
= ( 25,5)
2
= 650,25 mm/hari

Standar Deviasi (S)

S =



= 53,61 mm/hari

abcdefHitung K (Koefisien Reduksi Gaus dapat dilihat pada Tabel Nilai Variabel
Reduksi Gauss Terhadap Distribusi Probabilitas Normal dan Distribusi Probabilitas
Log Normal halaman 74), Untuk K dengan Periode Ulang 5 Tahunan didapat nilai K
5

sebesar 0,84 dan K dengan Periode Ulang 10 Tahunan didapat nilai K
10
sebesar 1,28.

Perhitungan Hujan Rencana Periode Ulang 5, dan 10 Tahunan

XT = X + k.Sx
XT=5 tahunan = 289,5 mm/hari + 0,84 x 53,61 mm/hari
= 334,532 mm/hari
XT=10 tahunan = 289,5 mm/hari + 1,28 x 53,61 mm/hari
= 358,12 mm/hari

4.2.2 Analisa Curah Hujan Harian maksimum menggunakan Distribusi
Probabilitas Log Normal

abcdefDari data curah hujan diurut dari curah hujan harian maksimum yang paling
besar hingga paling kecil dan menghitung parameter-parameter yang dibutuhkan
sebagai berikut ;



30
Tabel. 4.3. Perhitungan Parameter Statistik Distribusi Probabilitas
Log Normal
No
Curah Hujan ; Xi
(mm)
Log Xi ( Log Xi - Log X )
2

1 315 2,498 0,0019
2 213 2,328 0,0158
3 250 2,397 0,0032
4 275 2,439 0,0002
5 332 2,521 0,0044
6 249 2,396 0,0033
7 357 2,552 0,0096
8 224 2,350 0,0108
9 350 2,544 0,0081
10 330 2,518 0,0040
Xi 24,543 0,0613
Sumber : Hasil Perhitungan

Perhitungan ( Log Xi ) dan ( Log Xi Log X )
2

Log X = Log X Curah Hujan Harian Rata-rata
Log X =


= 2,454 mm/hari
( Log Xi ) = Log 315 mm/hari = 2,498 mm/hari
( Log Xi Log X )
2
= ( 2,498 mm/hari-2,454 mm/hari )
2
= 0,0019

Standar Deviasi (S)
S Log X = (


)
= 0,0827



31
abcdefHitung K ( Koefisien Reduksi Gaus Lihat Tabel Nilai Variabel Reduksi Gauss
Terhadap Distribusi Probabilitas Normal dan Distribusi Probabilitas Log Normal
halaman 74), Untuk K dengan Periode Ulang 5 Tahunan didapat nilai K
5
sebesar 0,84
dan K dengan Periode Ulang 10 Tahunan didapat nilai K
10
sebesar 1,28.

Perhitungan Hujan Rencana Periode Ulang 5, dan 10 Tahunan
Log XT = Log X + k x S Log x
Log XT=5 tahunan = 2,454 mm/hari + 0,84 x 0,0827
= 333,426 mm/hari
Log XT=10 tahunan = 2,454 mm/hari + 1,28 x 0,0827
= 362,957 mm/hari

4.2.3 Analisa Curah Hujan Harian Maksimum Menggunakan Distribusi
Probabilitas E.J. Gumbell
abcdefDari data curah hujan diurut dari curah hujan harian maksimum yang paling
besar hingga paling kecil dan menghitung parameter-parameter yang dibutuhkan
sebagai berikut ;
Tabel. 4.4. Perhitungan Parameter Statistik Distribusi E.J. Gumbell
No
Curah Hujan ; Xi
(mm)
( Xi - X ) ( Xi - X )
2

1 315 25,5 650,25
2 213 -76,5 5852,25
3 250 -39,5 1560,25
4 275 -14,5 210,25
5 332 42,5 1806,25
6 249 -40,5 1640,25
7 357 67,5 4556,25
8 224 -65,5 4290,25
9 350 60,5 3660,25
10 330 40,5 1640,25
Xi 2895 ( Xi - X )2 25866,5
Sumber : Hasil Perhitungan

32
Perhitungan ( Xi-X ) dan ( Xi X )
2

X = Curah Hujan Harian Rata-rata
X =


= 289,5 mm/hari
( Xi X ) = 315 mm/hari 289,5 mm/hari = 25,5 mm/hari.
( Xi X )
2
= ( 25,5)
2
= 650,25 mm/hari

Standar Deviasi (S)

S =



= 53,61 mm/hari
Hitung nilai Yn dan Sn dengan jumlah sampel data 10 buah ;
Yn = 0,4952 (Tabel Nilai Reduced Standart Deviation (SN) & Nilai
Reduced Mean (Yn) Untuk Distribusi Gumbell Halaman 73)
Sn = 0,9497 (Tabel Nilai Reduced Standart Deviation (SN) & Nilai
Reduced Mean (Yn) Untuk Distribusi Gumbell Halaman 73)

Hitung nilai Yt periode Ulang 5 Tahunan dan 10 Tahunan ;

Yt
5 tahunan
= 1,4999 (Tabel Nilai Reduced Variate (Yt) Untuk Distribusi
Probabilitas Gumbell Halaman 73)
Yt
10 tahunan
= 2,2504 (Tabel Nilai Reduced Variate (Yt) Untuk Distribusi
Probabilitas Gumbell Halaman 73)



33
Kt =



K
5 tahunan
=



= 1,0579
K
10 tahunan
=



= 1,8482
Perhitungan Hujan Rencana Periode Ulang 5, dan 10 Tahunan
XT = X + k.Sx
XT=5 tahunan = 289,5 mm/hari + 1,0579 x 53,61 mm/hari
= 346,21 mm/hari
XT=10 tahunan = 289,5 mm/hari + 1,8482 x 53,61 mm/hari
= 388,58 mm/hari

4.2.4 Analisa Uji Kecocokan Distribusi Probabilitas Dengan Metode smirnov
kolmogorof (secara analitis)

abcdefUntuk menentukan apakah persamaan distribusi probabilitas yang telah dipilih
dapat mewakili distribusi statistic sampel data yang dianalisis. Persamaan yang
dipakai adalah Pi =P(Xi) P(Xi), Tentukan apakah Pi < P kritis, jika tidak
artinya distribusi probabilitas yang dipilih tidak dapat diterima, demikian sebaliknya.
P kritis lihat tabel smirnov-kolmogorof .

Tabel 4.5 Uji Kecocokan Distribusi Probabilitas Normal menggunakan Metode
Smirnov- kolmogorof
No
Curah
Hujan ; Xi
(mm)
Xi ( setelah
diurut )
P(Xi) f(t) P'(Xi) P = P'(Xi) - P (Xi)
1 315 357 0,09 1,25 0,1056 0,0156
2 213 350 0,18 1,12 0,1314 -0,0486
3 250 332 0,27 0,79 0,2148 -0,0552
4 275 330 0,36 0,75 0,2266 -0,1334

34
Sumber : Hasil Perhitungan

1. Urutkan Data Curah Hujan Harian Maksimum dari besar kekecil.
2. Hitung P (Xi) / P Empiris dengan persamaan weibull P (Xi) =



P (Xi) =



= 0,09
3. Hitung f (t) dengan persamaan f(t) =



f(t) =



= 1,25

4. Hitung P(Xi) / P Teoritis
P(Xi) = 1 Luas dibawah kurve normal sesuai dengan nilai f(t), yang
ditentukan pada tabel halaman 76.
= 1 0,8944
= 0,1056
5. Hitung Simpangan Maksimum P Maksimum = P(Xi) P (Xi)


P Maksimum = 0,1056 0,09
= 0,0156
6. Hitung Simpangan Maksimum P Maksimum tebesar dari ke 10 sampel
data, diperoleh P Maksimum = 0,1273
No
Curah
Hujan ; Xi
(mm)
Xi ( setelah
diurut )
P(Xi) f(t) P'(Xi) P = P'(Xi) - P (Xi)
5 332 315 0,45 0,47 0,3192 -0,1308
6 249 275 0,55 -0,27 0,6064 0,0564
7 357 250 0,64 -0,73 0,7673 0,1273
8 224 249 0,73 -0,75 0,7734 0,0434
9 350 224 0,82 -1,22 0,8888 0,0688
10 330 213 0,91 -1,42 0,9222 0,0122

35
7. Jika jumlah data 10 buah dan derajat kepercayaan adalah 5 % maka dari
tabel diperoleh P Kritis = 0,41 (Tabel Halaman 75)
8. Jadi P Maksimum < P Kritis , 0,1273 < 0,41 maka distribusi
probabilitas dapat digunakan.

Tabel 4.6 Uji Kecocokan Distribusi Probabilitas Log Normal menggunakan
Metode Smirnov- kolmogorof
No Log Xi
Log Xi
( setelah
diurut )
P(Xi) f(t) P'(Xi) P = P'(Xi) - P (Xi)
1 2,498 2,552 0,09 1,18 0,119 0,029
2 2,328 2,544 0,18 1,08 0,140 -0,040
3 2,397 2,521 0,27 0,81 0,209 -0,061
4 2,439 2,518 0,36 0,77 0,220 -0,140
5 2,521 2,498 0,45 0,53 0,298 -0,152
6 2,396 2,439 0,55 -0,18 0,271 -0,279
7 2,552 2,397 0,64 -0,68 0,751 0,111
8 2,35 2,396 0,73 -0,70 0,758 0,028
9 2,544 2,350 0,82 -1,25 0,894 0,074
10 2,518 2,328 0,91 -1,52 0,935 0,025
Sumber : Hasil Perhitungan

1. Urutkan Data Curah Hujan Harian Maksimum dari besar kekecil.
2. Hitung P (Xi) / P Empiris dengan persamaan weibull P (Xi) =



P (Xi) =



= 0,09
3. Hitung f (t) dengan persamaan f(t) =




f(t) =



= 1,18


36
4. Hitung P(Xi) / P Teoritis
P(Xi) = 1 Luas dibawah kurve normal sesuai dengan nilai f(t), yang
ditentukan pada tabel halaman 76.
= 1 0,881
= 0,119
5. Hitung Simpangan Maksimum P Maksimum = P(Xi) P (Xi)


P Maksimum = 0,119 0,09
= 0,029
6. Hitung Simpangan Maksimum P Maksimum tebesar dari ke 10 sampel
data, diperoleh P Maksimum = 0,111
7. Jika jumlah data 10 buah dan derajat kepercayaan adalah 5 % maka dari
tabel diperoleh P Kritis = 0,41 (Halaman 75)
8. Jadi P Maksimum < P Kritis , 0,111 < 0,41 maka distribusi
probabilitas dapat digunakan.

Tabel 4.7 Uji Kecocokan Distribusi Probabilitas E.J. Gumbell dengan menggunakan
Metode Smirnov- kolmogorof
No
Curah Hujan ;
Xi (mm)
Xi
(setelah
diurut )
P(Xi) f(t) Yt P'(Xi)
P
(Simpangan
Maks)
1 315 357 0,09 1,25 1,690 0,159 0,069
2 213 350 0,18 1,12 1,558 0,183 0,003
3 250 332 0,27 0,79 1,240 0,230 -0,040
4 275 330 0,36 0,75 1,212 0,230 -0,130
5 332 315 0,45 0,47 0,946 0.277 -0,173
6 249 275 0,55 -0,27 0,238 0,645 0,095
7 357 250 0,64 -0,73 -0,203 0,757 0,117
8 224 249 0,73 -0,75 -0,221 0,694 -0,036
9 350 224 0,82 -1,22 -0,663 0,345 -0,475
10 330 213 0,91 -1,42 -0,853 0,296 -0,614
Sumber : Hasil Perhitungan



37
1. Urutkan Data Curah Hujan Harian Maksimum dari besar kekecil.
2. Hitung P (Xi) / P Empiris dengan persamaan weibull P (Xi) =



P (Xi) =



= 0,09
3. Hitung f (t) dengan persamaan f(t) =



f(t) =



= 1,259
4. Hitung P(Xi) / P Teoritis (Nilai Yn dan Sn dapat dilihat pada halaman 73)
Oleh karena Jumlah Data 10 Buah , maka Yn = 0,4952, dan Sn = 0,9497
Kt =



Yt = ( Kt. Sn ) + Yn .. Persamaan 1
= (1,259 x 0,9497 ) + 0,4952(Halaman 67)
= 1,690
Untuk memperoleh nilai T ( periode Ulang ) nilai Yt di interpolasikan
antara T
50 Tahunan
dan T
100 Tahunan
. (Dapat dilihat pada tabel halaman 73)
T 10 Tahunan = Yt = 2,2504
T 5 Tahunan = Yt = 1,4999
Untuk Yt =1,690 nilai T harus di interpolasikan.

4.8. Tabel Nilai Reduced Variate (Yt) Untuk
Distribusi Probabilitas Gumbell









Sumber : CD Soemarto
Periode Ulang ( T )
Tahun
Yt
2 0.3065
5 1.4999
10 2.2504
20 2.9702
25 3.1255
50 3.9019
100 4.6001

38
Interpolasi ;
X =


x (1,690 2,2504) + 10
T = 6,260
Untuk menghitung P(Xi)/ P Teoritis =
1
/
T

P(Xi) = 0,159
5. Hitung Simpangan Maksimum P Maksimum = P (Xi) P(Xi)


P Maksimum = 0,159 0,09
= 0,069
6. Hitung Simpangan Maksimum P Maksimum tebesar dari ke 10 sampel
data, diperoleh P Maksimum = 0,117
7. Jika jumlah data 10 buah dan derajat kepercayaan adalah 5 % maka dari
tabel diperoleh P Kritis = 0,41 (Halaman 75)
8. Jadi P Maksimum < P Kritis , 0,117 < 0,41 maka distribusi dapat
digunakan.

Tabel 4.9. Hujan Rencana Dengan Distribusi Probabilitas Normal, Log Normal, dan
Gumbell.
No
Metode Analisa
Frekuensi


R
5 tahunan
(mm/hari)


R
10 Tahunan
(mm/hari)
Uji Kesesuaian Distribusi Smirnov -
Kolmogorof
Derajat
Keperca
yaan
P
Maks
P
Kritis
Kese
suaian
1 Distribusi Normal 334,532

358,12

5 % 0,1273 0,41 Diterima
2 Distribusi Log Normal 333,42

367,95

5 % 0,1110 0,41 Diterima
3 Distribusi E.J Gumbell 346,21

388,58

5 % 0,1170 0,41 Diterima
Sumber : Hasil Perhitungan

abcdefOleh karena Simpangan maksimum terkecil diperoleh dengan menggunakan
Distribusi Probabilitas Log Normal, maka perhitungan hujan rencana menggunakan
analisa frekuensi tersebut, dengan X
5 tahunan
sebesar 334,42 mm/hari dan
X10 tahunan

sebesar 367,95 mm/hari.


39
4.3 ANALISA WAKTU KONSENTRASI PADA SALURAN COLECTOR
1,2,3 DAN SALURAN CONVEYOR

abcdefAnalisa waktu konsentrasi hujan dilakukan pada 3 saluran collector dan 1
saluran conveyor, dengan data yang didapat dari hasil survey di lapangan sebagai
berikut ;
Saluran Colector 1
Lokasi = Kelurahan Gampong Jawa Gampong
BlaBlang Pase
Panjang Saluran = 1.160 m
Panjang Lintasan = 500 m
di permukaan Lahan
Saluran Existing = Beton
Kondisi = Rusak Ringan
Koefisieng Manning = 0,015 (Dapat dilihat pada tabel hal. 91)
Luas Daerah Pengaliran = 140 Ha = 1,4 Km
2

Kemiringan Lahan = 0,05 m ( 5 cm )
Kemiringan Dasar Saluran = 0,05 m ( 5 cm )

Sehingga t
o
pada saluran colector 1 adalah :
to =
05 , 0
015 , 0
500 28 , 3
3
2
m x
to = 73,54 menit


Sehingga t
d
pada saluran colector 1 adalah :
td = ) tan ( det / 5 , 1
60
160 . 1
Diizinkan AliranYang Kecepa ik m x (menit )
td = 28,99 menit = 0,483 jam

Sehingga t
c
pada saluran colector 1 adalah :
tc = 73,55 menit + 28,99 menit
tc = 102,54 menit = 1,709 Jam

40

Saluran Colector 2
Lokasi = Gampong Blang Pase
Panjang Saluran = 660 m
Panjang Lintasan = 500 m
di permukaan Lahan
Saluran Existing = Beton
Kondisi = Rusak Ringan
Koefisieng Manning = 0,015 (Dapat dilihat pada tabel hal. 91)
Luas Daerah Pengaliran = 20 Ha = 0,2 Km
2

Kemiringan Lahan = 0,05 m ( 5 cm )
Kemiringan Dasar Saluran = 0,05 m ( 5 cm )

Sehingga t
o
pada saluran colector 2 adalah :
to =
05 , 0
015 , 0
500 28 , 3
3
2
m x
to = 73,54 menit


Sehingga t
d
pada saluran colector 2 adalah :
td = ) tan ( det / 5 , 1
60
660
Diizinkan AliranYang Kecepa ik m x (menit )
td = 16,5 menit = 0,275 jam

Sehingga t
c
pada saluran colector 2 adalah :
tc = 73,54 menit + 16,5 menit
tc = 90,04 menit = 1,500 Jam

Saluran Colector 3
Lokasi = Kelurahan Pekan Langsa
Panjang Saluran = 900 m
Panjang Lintasan = 500 m
di permukaan Lahan

41
Saluran Existing = Beton
Kondisi = Rusak Ringan
Koefisieng Manning = 0,015 (Dapat dilihat pada tabel hal. 91)
Luas Daerah Pengaliran = 35 Ha = 0,35 Km
2

Kemiringan Lahan = 0,05 m ( 5 cm )
Kemiringan Dasar Saluran = 0,05 m ( 5 cm )

Sehingga t
o
pada saluran colector 3 adalah :
to =
05 , 0
015 , 0
500 28 , 3
3
2
m x
to = 73,54 menit


Sehingga t
d
pada saluran colector 3 adalah :
td = ik m x det / 5 , 1
60
900
(kecepatan aliran yang diizinkan) (menit)
td = 22,5 menit = 0,375 jam

Sehingga t
c
pada saluran colector 3 adalah :
tc = 73,54 menit + 22,5 menit
tc = 96,04 menit = 1,600 Jam

Saluran Conveyor
Lokasi = Kelurahan Gampong Jawa Gampong Blang
PasPase Matang Seulimeng Sungai Pauh
Panjang Saluran = 1.900 m
Panjang Lintasan = 1000 m
di permukaan Lahan
Saluran Existing = Beton
Kondisi = Rusak Ringan
Koefisieng Manning = 0,015 (Dapat dilihat pada tabel hal. 91)
Luas Daerah Pengaliran = 500 Ha = 5 Km
2



42
Kemiringan Lahan = 0,05 m ( 5 cm )
Kemiringan Dasar Saluran = 0,05 m ( 5 cm )
Sehingga t
o
pada saluran conveyor adalah :
to =
05 , 0
015 , 0
1000 28 , 3
3
2
m x
to = 146,93 menit

Sehingga t
d
pada saluran conveyor adalah :
Td = ik m x det / 5 , 1
60
1900
(kecepatan aliran yang diizinkan) (menit )
td = 47,5 menit = 0,791 jam
Sehingga t
c
pada saluran conveyor adalah :
tc = 146,93 menit + 47,5 menit
tc = 194,43 menit = 3,240 Jam

4.4 ANALISA INTENSITAS HUJAN RENCANA PERIODE ULANG 5 DAN
10 TAHUNAN PADA DAERAH PENGALIRAN SALURAN
COLECTOR 1, 2, 3, DAN SALURAN CONVEYOR

abcdefIntensitas hujan pada suatu daerah pengaliran adalah banyaknya hujan yang
melimpas per satu satuan waktu, maka nilai intensitas hujan rencana dengan hujan
rencana periode ulang 5 tahunan sebesar 292,45 mm/hari dan periode ulang 10
tahunan sebesar 296,865 mm/hari adalah sebagai berikut ;

I
5 tahunan
pada Daerah Pengaliran Saluran Colector 1 ,
I
5 tahunan
= )
709 , 1
24
( )
24
/ 42 , 333
(
jam
x
hari mm

I
5 tahunan
= 80,93 mm/jam

I
10 tahunan
pada Daerah Pengaliran Saluran Colector 1 ,
I
10 tahunan
= )
709 , 1
24
( )
24
/ 95 , 367
(
jam
x
hari mm

I
10 tahunan
= 89,31 mm/jam

43

I
5 tahunan
pada Daerah Pengaliran Saluran Colector 2 ,
I
5 tahunan
= )
500 , 1
24
( )
24
/ 42 , 333
(
jam
x
hari mm

I
5 tahunan
= 88,29 mm/jam

I
10 tahunan
pada Daerah Pengaliran Saluran Colector 2 ,
I
10 tahunan
= )
500 , 1
24
( )
24
/ 95 , 367
(
jam
x
hari mm

I
10 tahunan
= 97,43 mm/jam
I
5 tahunan
pada Daerah Pengaliran Saluran Colector 3 ,
I
5 tahunan
= )
600 , 1
24
( )
24
/ 42 , 333
(
jam
x
hari mm

I
5 tahunan
= 84,57 mm/jam

I
10 tahunan
pada Daerah Pengaliran Saluran Colector 3 ,
I
10 tahunan
= )
600 , 1
24
( )
24
/ 95 , 367
(
jam
x
hari mm

I
10 tahunan
= 93,33 mm/jam

I
5 tahunan
pada Daerah Pengaliran Saluran Conveyor ,
I
5 tahunan
= )
24 , 3
24
( )
24
/ 42 , 333
(
jam
x
hari mm

I
5 tahunan
= 52,82 mm/jam

I
10 tahunan
pada Daerah Pengaliran Saluran Conveyor
I
10 tahunan
= )
24 , 3
24
( )
24
/ 95 , 367
(
jam
x
hari mm

I
10 tahunan
= 58,29 mm/jam


4.5 ANALISA KOEFISEN PENGALIRAN (C) DAN KOEFISIEN
TAMPUNGAN (CS) UNTUK RUMUS RASIONAL

44
abcdefKoefisien pengaliran (c) definisikan sebagai nisbah antara puncak aliran
permukaan terhadap intensitas hujan. Perkiraan atau pemilihan nilai c secara tepat
sulit dilakukan, karena koefisien ini antara lain bergantung dari ;
1. Kehilangan air akibat infiltrasi, evaporasi, dan tampungan permukaan.
2. Intensitas dan lama hujan.
abcdefOleh karena berdasarkan hasil survey dilapangan untuk kawasan yang
dilakukan penelitian adalah daerah perkotaan maka koefisien c untuk daerah
pengaliran adalah sebesar 0,95 ( sumber tabel koefisien pengaliran untuk rumus
rasional, suripin 2004 ).
Koefisien Tampungan Pada Saluran Colector 1
Cs =
jam jam
jam
483 , 0 ) 709 , 1 ( 2
) 709 , 1 ( 2



Cs = 0,876


Koefisien Tampungan Pada Saluran Colector 2
Cs =
jam jam
jam
275 , 0 ) 500 , 1 ( 2
) 500 , 1 ( 2



Cs = 0,916


Koefisien Tampungan Pada Saluran Colector 3
Cs =
jam jam
jam
375 , 0 ) 600 , 1 ( 2
) 600 , 1 ( 2



Cs = 0,7895


Koefisien Tampungan Pada Saluran Conveyor
Cs =
jam jam
jam
791 , 0 ) 24 , 3 ( 2
) 24 , 3 ( 2



Cs = 0,891



4.6 ANALISA DEBIT BANJIR RENCANA PERIODE ULANG 5 DAN 10
TAHUNAN DAERAH PENGALIRAN SALURAN COLECTOR 1,2,3
DAN SALURAN CONVEYOR

45

abcdefDebit adalah jumlah zat cair yang melewati suatu penampang per satuan
waktu, sedangkan periode ulang adalah waktu hipotetik dimana suatu kejadian
dengan nilai tertentu, debit rencana misalnya akan disamai atau dilampaui satu kali
dalam jangka waktu hipotetik tersebut. Hal ini tidak berarti bahwa kejadian tersebut
akan berulang secara teratur setiap periode ulang tersebut.

Debit Banjir Rencana Pada Daerah Pengaliran Saluran Colector 1
Q
5 tahunan
= 0, 278 . 0,95 . 0,876 . 80,93 mm/jam . 1,4 Km
2

Q
5 tahunan
= 26,21 m
3
/detik
Q
10 tahunan
= 0, 278 . 0,95 . 0,876 . 89,31 mm/jam . 1,4 Km
2

Q
10 tahunan
= 28,92 m
3
/detik
Debit Banjir Rencana Pada Daerah Pengaliran Saluran Colector 2
Q
5 tahunan
= 0, 278 . 0,95 . 0,916. 88,29 mm/jam . 0,2 Km
2

Q
5 tahunan
= 4,27 m
3
/detik
Q
10 tahunan
= 0, 278 . 0,95 . 0,916 . 97,43 mm/jam . 0,2 Km
2

Q
10 tahunan
= 4,71 m
3
/detik
Debit Banjir Rencana Pada Daerah Pengaliran Saluran Colector 3
Q
5 tahunan
= 0, 278 . 0,95 . 0,7895 . 84,57 mm/jam . 0,35 Km
2

Q
5 tahunan
= 6,17 m
3
/detik
Q
10 tahunan
= 0, 278 . 0,95 . 0,7895 . 93,33 mm/jam . 0,35 Km
2

Q
10 tahunan
= 6,81 m
3
/detik
Debit Banjir Rencana Pada Daerah Pengaliran Saluran Conveyor
Q
5 tahunan
= 0, 278 . 0,95 . 0,891 . 52,82 mm/jam . 5 Km
2

Q
5 tahunan
= 62,14 m
3
/detik
Q
10 tahunan
= 0, 278 . 0,95 . 0,891 . 58,29 mm/jam . 5 Km
2

Q
10 tahunan
= 68,58 m
3
/detik


4.7 ANALISA DEBIT ALIRAN AIR LIMBAH PERIODE ULANG 5 DAN 10
TAHUNAN BERDASARKAN PERTUMBUHAN PENDUDUK DI
KOTA LANGSA .

46

abcdefUntuk menghitung debit air limbah dibutuhkan data luas daerah pengaliran,
kepadatan penduduknya, peningkatan penduduk setiap tahunnya.
Tabel. 4.10. Jumlah Penduduk Kota Langsa Tahun 1999 s/d 2011
No Tahun Pertambahan Penduduk
1 1999 117.256 Jiwa
2 2000 123.980 Jiwa
3 2001 127.261 Jiwa
4 2002 128.702 Jiwa
5 2003 130.189 Jiwa
6 2004 136.383 Jiwa
7 2005 137.586 Jiwa
8 2006 138.903 Jiwa
9 2007 140.005 Jiwa
10 2008 140.267 Jiwa
11 2009 145.351 Jiwa
12 2010 147.821 Jiwa
13 2011 152.789 Jiwa
Sumber : BPS Kota Langsa Tahun 2012

abcdefDidapat pertumbuhan penduduk rata-rata pertahunnya adalah 2.961 jiwa atau
rata-rata pertumbuhan penduduknya adalah 2,168 % pertahunnya. Akan di analisa
jumlah penduduk pada tahun 2016 dan 2021.
Jumlah Periode Penduduk periode 5 tahun kedepan
P
5
= 152.789 jiwa . ( 1 + 0,02168 )
5

P
5
= 170.085 Jiwa
Jumlah Periode Penduduk periode 10 tahun kedepan
P
10
= 152.789 jiwa . ( 1 + 0,02168 )
10

P
10
= 189.339 Jiwa

Tabel. 4.11. Luas Kecamatan Pada Daerah Tingkat II Kota Langsa
No Kecamatan Luas ( Km2)

47
1 Langsa Timur 75,04
2 Langsa Lama 42,39
3 Langsa Barat 59,95
4 Langsa Baro 77,50
5 Langsa Kota 7,53
Total 262,41
Sumber : Kota Langsa Dalam Angka 2010

abcdefBerdasarkan tabel di atas dapat diketahui luas daerah Kota Langsa adalah
262,41 km2, jadi untuk mendapatkan jumlah penduduk per 1 km2 adalah sebagai
berikut ;
Jumlah Penduduk per 1 Km2 = 170.085 jiwa : 262,41 km2 = 649 Jiwa
pada tahun 2016
Jumlah Penduduk per 1 Km2 = 189.339 jiwa : 262,41 km2 = 722 Jiwa
pada tahun 2021
abcdefDebit Aliran Air Limbah Pada Saluran Colector I, dengan Luas Daerah
Pengaliran 140 Ha dan rerata air buangan pada kawasan publik area 75
liter/orang/hari dengan fdp 4,5 ( faktor debit puncak ).
Konversikan 75 liter/orang/hari = 75 : ( 1000 x 24 jam x 60 menit x 60 detik )
= 0,0000008681 m3/detik.
Qw pada tahun 2016 = 0,0000008681 m3/detik x 1,4 Km2 x 649 Jiwa x 4,5
Qw pada tahun 2016 = 0,003 m3 detik

Qw pada tahun 2021 = 0,0000008681 m3/detik x 1,4 Km2 x 722 Jiwa x 4,5
Qw pada tahun 2021 = 0,003 m3 detik

abcdefDebit Aliran Air Limbah Pada Saluran Colector II, dengan Luas Daerah
Pengaliran 20 Ha dan rerata air buangan pada kawasan publik area 75 liter/orang/hari
dengan fdp 4,5 ( faktor debit puncak ).

Qw pada tahun 2016 = 0,0000008681 m3/detik x 0,02 Km2 x 649 Jiwa x 4,5
Qw pada tahun 2016 = 0,00005 m3/detik

48

Qw pada tahun 2021 = 0,0000008681 m3/detik x 0,02 Km2 x 722 Jiwa x 4,5
Qw pada tahun 2021 = 0,00005 m3/detik

abcdefDebit Aliran Air Limbah Pada Saluran Colector III, dengan Luas Daerah
Pengaliran 35 Ha dan rerata air buangan pada kawasan publik area 75 liter/orang/hari
dengan fdp 4,5 ( factor debit puncak ).

Qw pada tahun 2016 = 0,0000008681 m3/detik x 0,035 Km2 x 649 Jiwa x 4,5
Qw pada tahun 2016 = 0,00008 m3/detik

Qw pada tahun 2021 = 0,0000008681 m3/detik x 0,035 Km2 x 722 Jiwa x 4,5
Qw pada tahun 2021 = 0,00008 m3/detik

abcdefDebit Aliran Air Limbah Pada Saluran Conveyor, dengan Luas Daerah
Pengaliran 35 Ha dan rerata air buangan pada kawasan publik area 75 liter/orang/hari
dengan fdp 4,5 ( factor debit puncak ).

Qw pada tahun 2016 = 0,0000008681 m3/detik x 5 Km2 x 649 Jiwa x 4,5
Qw pada tahun 2016 = 0,012 m3/detik

Qw pada tahun 2021 = 0,0000008681 m3/detik x 5 Km2 x 722 Jiwa x 4,5
Qw pada tahun 2021 = 0,014 m3/detik

4.8 EVALUASI KAPASITAS DEBIT TAMPUNGAN SALURAN DRAINASE
YANG ADA ( EXISTING ) DI KOTA LANGSA
abcdefEvaluasi kapasitas debit tampungan yang ada menggunakan rumus debit aliran
dan rumus manning, Pengukuran Dimensi dilakukan pada saluran collector 1 , saluran
collector 2, saluran collector 3, dan saluran conveyor. Didapat data sebagai berikut :
Saluran Colector 1
Saluran berbentuk trapesium, dengan dinding dan lantai saluran dari beton
dengan ukuran sebagai berikut ;

49
h ( tinggi saluran ) = 1,20 m (rata-rata)
b (Lebar Atas ) = 2,00 m(rata-rata)
b(Lebar Bawah) = 1,80 m (rata-rata)
n = 0,015 (Koefisien kekasaran manning
hhhhal. 91)
S rata-rata = 0,05 (rata-rata)
m = 1 : 12
Sumber hasil pengukuran di lapangan

A = ( 2,00 m + 1,80 m ) : 2 x 1,20 m = 2,73 m
2

P = 1,80 m + 2.1,20 m ( 0,083
2
+1

) = 4,20 m
R =
m
m
20 , 4
73 , 2
= 0,65 m
V =
015 . 0
1
. 0,65 . 0.05 = 11,15 m/detik
Q = 2,73 m2. 11,15 m/detik = 30,43 m3/detik











Gambar 4.1. Existing Saluran Colector I
Sumber : Hasil Pengukuran dilapangan

Saluran Colector 2
Saluran berbentuk segi empat , dengan dinding dan lantai saluran dari beton
dengan ukuran sebagai berikut ;

50
h ( tinggi saluran ) = 0,70 m (rata-rata)
b (Lebar Atas ) = 1,10 m(rata-rata)
= 0,015 (Koefisien kekasaran manning
hhhhal. 91)
S rata-rata = 0,05 (rata-rata)
Sumber hasil pengukuran di lapangan

A = 1,10 m x 0,70 m = 0,77 m
2

P = 1,10 m + 2. 0,7 m = 2,50 m
R =
m
m
50 , 2
77 , 0
= 0,308 m
V =
015 . 0
1
. 0,308 . 0.05 = 6,77 m/detik
Q = 0,77 m2. 6,77 m/detik = 5,21 m3/detik













Gambar 4.2 Existing Saluran Colector II
Sumber : Hasil Pengukuran di lapangan

Saluran Colector 3
Saluran berbentuk segi empat , dengan dinding dan lantai saluran dari beton
dengan ukuran sebagai berikut ;

51
h ( tinggi saluran ) = 0,80 m (rata-rata)
b (Lebar Atas ) = 0,80 m(rata-rata)
n = 0,015 (Koefisien kekasaran manning
hhhhal. 91)
S rata-rata = 0,05 (rata-rata)
Sumber hasil pengukuran di lapangan

A = 0,80 m x 0,80 m = 0,64 m
2

P = 0,80 m + 2. 0,80 m = 2,40 m
R =
m
m
40 , 2
64 , 0
= 0,266 m
V =
015 . 0
1
. 0,266 . 0.05 = 6,14 m/detik
Q = 0,64 m2. 6,14 m/detik = 3,92 m3/detik











Gambar 4.3 Existing Saluran Colector III
Sumber : Hasil Pengukuran di lapangan



Saluran Conveyor
Saluran berbentuk trapesium, dengan dinding dan lantai saluran dari beton
dengan ukuran sebagai berikut ;

52
h ( tinggi saluran ) = 1,80 m (rata-rata)
b (Lebar Atas ) = 3,00 m(rata-rata)
b(Lebar Bawah) = 1,00 m (rata-rata)
n = 0,015 (Koefisien kekasaran manning
hhhhal. 91)
S rata-rata = 0,05 (rata-rata)
m = 1 : 1,8
Sumber hasil pengukuran di lapangan
A = ( 3,00 m + 1,00 m ) : 2 x 1,80 m = 7,20 m
2

P = 1,00 m + 2. 1,80( 0,55
2
+1

) = 6,55 m
R =
m
m
55 , 6
20 , 7
= 1,099 m
V =
015 . 0
1
. 1,099 . 0.05 = 15,83 m/detik
Q = 7,20 m2. 15,83 m/detik = 113,97 m3/detik










Gambar 4.4 Existing Saluran Conveyor
Sumber : Hasil Pengukuran dilapangan


4.9.. PERENCANAAN SALURAN DRAINASE YANG MAMPU
MENGALIRKAN DEBIT BANJIR DAN DEBIT ALIRAN AIR
LIMBAH PERIODE ULANG 5 DAN 10 TAHUNAN DI KOTA LANGSA


53
abcdefPerencanaan saluran drainase dilakukan apabila, Q total ( Q banjir + Q aliran
air limbah ) > Q saluran drainase yang ada. Oleh karena setelah dilakukan analisa
data dan didapat Q total > Q saluran maka saluran yang ada perlu untuk di
dimensikan ulang agar mampu mengalirkan debit total yang ada sehingga tidak
terjadi genangan air di kelurahan gampong jawa, gampong blang pase, matang
seulimeng, sungai pauh, dan kelurahan pekan langsa.

Tabel 4.12 Tabel Debit Total Saluran Collector I, II, III, dan Saluran Conveyor
No Uraian Debit
Banjir
( m3/detik )
Debit Air
Limbah
( m3/detik )
Debit Total
(m3/detik)
Kapasitas
Saluran
(m3/detik)
1 Sal. Colector I 26,210 0,003 26,210 30,430
28,920 0,003 28,920
2 Sal. Colector II 4,270 0,00005 4,270 5,210
4,710 0,00005 4,710
3 Sa. Colector III 6,170 0,00008 6,170 3,920
6,810 0,00008 6,810
4 Saluran Conveyor 62,140 0,012 62,152 113,970
68,580 0,014 68,594
Sumber : Hasil Perhitungan

abcdefSetelah dilakukan analisa hidrologi terlihat pada tabel diatas, dari keempat
saluran yang dianalisa hanya 1 saluran yang tidak dapat menampung debit total
periode ulang 5 dan 10 tahunan yaitu pada daerah pengaliran saluran collector III.
Oleh karena hal tersebut perlu segera dilakukan penyesuaian dimensi saluran yang
ada agar mampu mengalirkan debit total tersebut .

Saluran Colector 3
Saluran Direncanakan berbentuk segi empat, dengan ukuran sebagai berikut ;
Periode Ulang 5 Tahunan dan 10 Tahunan.
h ( tinggi saluran ) = 1,34 m
b (Lebar Atas ) = 0,67 m

n = 0,015 (koefisien kekasaran manning hal. 9`)
S Rencana = 0,08 (rata-rata)

A = 0,67 m x 1,34 m = 0,897 m
2


54
P = 0,67 m + 2. 1,34 m = 3,35 m
R =
m
m
35 , 3
897 , 0
= 0,268 m
V =
015 . 0
1
. 0,268 . 0.08 = 7,802 m/detik
Q = 0,897 m2. 7,802 m/detik = 7,019 m3/detik

















Gambar 4.5 Rencana Saluran Drainase Pada Saluran Collector III
Sumber : Hasil Perhitungan


4.10.pPERENCANAANaGORONG-GORONGaYANGmMAMPU MENGALIR
KAN DEBIT BANJIR DAN DEBIT ALIRAN AIR LIMBAH PERIODE
ULANG 5 DAN 10 TAHUNAN DI KOTA LANGSA

abcdefPada saluran collector III terdapat 3 unit gorong-gorong segi empat dan 1 unit
gorong-gorong persegi baru yang harus didimensikan dengan debit total periode
ulang 5 tahunan 6,17 m3/detik, dan periode ulang 10 tahunan 6,81 m3/detik.

Direncanakan Ukuran Gorong-gorong segi empat 1,34 m x 1,90 m sebanyak 4 unit


Q = 0,6 x 1,90 m x 1,90 mx 2 x 9,81 m/detik ( 1,34 m 0,6 x 1,34 m )

Q = 7,022 m3 / detik

55

















Gambar 4.6 Gorong-Gorong Segi Empat Rencana
Sumber : Hasil Perhitungan

















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

56
abcdefAkhir dari penulisan tugas akhir analisa kapasitas saluran drainase Jalan Teuku
Umar-Jalan Sudirman Kota Langsa, adalah sebagai berikut ;

5.1 KESIMPULAN

abcdefDari hasil survey dan analisa hidrologi pada daerah pengaliran saluran
collector I, saluran collector II, saluran collector III, dan saluran conveyor. Terdapat
satu permasalahan pada saluran collector III, Q total (Debit Banjir + Debit Air
Limbah) > Kapasitas Saluran Existing Collector III , sehingga perlu segera di bangun
saluran collector dengan ukuran h = 1,34 m + 0,2 m tinggi jagaan x 0,67 m dengan
kemiringan rata-rata dasar saluran 0,08 m(elevasi saluran dari titik awal sampai akhir
mempunyai perbedaan elevasi rata-rata 0,08 m).
abcdefPada saluran colector III terdapat empat buah gorong segi empat dengan
dimensi 1 m x 1 m, sehingga perlu dilakukan penyesuaian dimensi gorong-gorong
segi empat dengan ukuran h =1,34 m+ 0,2 m tinggi jagaan x 1,90 m agar gorong-
gorong mampu mengalirkan debit total.
abcdefPada saluran colector I, saluran Colector II, dan saluran conveyor tidak perlu
didimensikan ulang karena Q total ( Debit Banjir + Debit Air Limbah ) < Kapasitas
Saluran Collector I, II, dan Saluran Conveyor. Adapun factor-faktor lain yang
menyebabkan terjadinya banjir pada ruas saluran di jalan tersebut, antara lain sebagai
berikut ;
1. Terdapat banyak sampah didalam saluran collector III.
2. Endapan sedimen berkisar 10 s/d 30 cm.
3. Tersumbatnya saluran, yaitu saluran dibawah Losmen Pase sehingga aliran
air tidak lancar.
4. Terdapatnya pipa PDAM dengan posisi melintang pada saluran sehingga
menjadi tempat sangkutnya sampah-sampah dan kotoran lainnya.

5.2 SARAN
abcdefHasil penelitian tugas akhir ini dapat diharapkan menjadi masukan yang
berguna dalam proses pengambilan keputusan untuk kepentingan perencanaan system
saluran drainase yang berkelanjutan khususnya pada wilayah Kota Langsa.

57
abcdefSangat diperlukannya operation and maintenance (OP) dan evaluation and
monitoring (EM) dengan komitmen bersama seluruh stakeholder untuk mewujudkan
good government.
abcdefDiharapkan terbentuknya organisasi yang menangani EM ini dengan personil
yang memiliki kemampuan teknis dan partisipasi masyarakat untuk menciptakan
lingkungan yang berkualitas dan sehat.























DAFTAR PUSTAKA

CV Median Konsultant. 2009. Laporan Pendahuluan DED Jaringan Irigasi Langsa
Timur ( D.I. Paya Keuteng dan Alue Meureubo), Langsa.

58

CV Median Konsultant. 2009. Laporan Akhir DED Jaringan Irigasi Langsa Timur
( D.I. Paya Keuteng dan Alue Meureubo), Langsa.

C.D. Soemarto. 1999. Hidrolika Teknik. Erlangga, Jakarta.

Ir. Suyono Sosrodarsono, Kensaku Takeda. 1976. Hidrologi untuk pengairan. PT
Pradnya Paramita, Jakarta.

I Made Kamiana. 2010. Teknik Perhitungan Debit Rencana Bangunan Air. Graha
Ilmu, Yogyakarta.

Kelompok Kerja Sanitasi Kota Langsa. 2010. Strategi Sanitasi Kota Langsa, Langsa.

Robert J. Kodoatie, Ph.D. Roestam Sjarief, Ph.d. 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air
Terpadu. Andy, Yogyakarta.

Suripin. 2004. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. ANDI Offset,
Yogyakarta.

Wesli. 2008. Drainase Perkotaan. Graha Ilmu, Yogyakarta.














Lampiran G. 1. Bagan Alir Penenlitian yang disajikan dalam bentuk flow chart.





Mulai

59











































Lampiran G. 2. Bagan Alir Analisa Data yang disajikan dalam bentuk flow chart.





Selesai
Perencanaan Hidraulis
Saluran
Debit Banjir
Periode Ulang 5 & 10
Tahunan
Debit Air Limbah
Periode Ulang 5
Dan 10 Tahunan
Evaluasi
Kapasitas
Saluran Existing
Perumusan Masalah
Studi Literatur
Pengumpulan Data
Data Primer Data Sekunder
Analisa Data
Mulai

60











































Lampiran G. 3. Analisa Hidrologi Pada Sal. Colector I, II, III, dan Saluran Conveyor




Analisa Hidrologi
Hujan Rencana Periode Ulang
( Distirbusi Normal )
X
5 tahunan
= 334,532 mm/hari
X
10tahunan
=358,12 mm/hari
Hujan Rencana Periode Ulang
( Distirbusi Log Normal )
X
5 tahunan
= 333,426 mm/hari
X
10tahunan
=362,957mm/hari
Hujan Rencana Periode
Ulang ( Distirbusi Gumbell )
X
5 tahunan
= 346,21 mm/hari
X
10tahunan
=388,58mm/hari
Hitung Waktu Konsentrasi (Tc), menggunakan
Rumus Kirpich TC = To + Td, Kemudian Hitung
Intensitas Hujan Rencana dengan
Rumus Mononobe

Analisa Kapasitas Saluran
Drainase Yang Ada
Menggunakan Rumus Debit
Aliran dan Persamaan
Manning

Analisa Debit Banjir
Periode Ulang 5 dan 10
Tahunan Menggunakan
Metode Rasional
Hitung Pertumbuhan
Penduduk Periode Ulang 5
dan 10 Tahunan
menggunakan persamaan
matematik log binomial
Kemudian Analisa
Debit Air Limbah
Perencanaan Saluran Colector dan Conveyor Menggunakan
Rumus Debit Aliran dan Rumus Manning
Selesai
Input Data Curah Hujan dari
Tahun 2001 s/d 2011
Analisa Frekuensi Curah Hujan Untuk
Mendapatkan Hujan Rencana Periode
Ulang 5 dan 10 Tahunan Menggunakan 3
Metode Distribusi
Distribusi Normal Distribusi Probabilitas Log Normal Distribusi Gumbell
Uji Kecocokan Distribusi yang mana dari ketiga
distribusi memiliki Simpangan Maksimum
Terkecil Untuk Mendapatkan Hujan Rencana
Periode Ulang 5 dan 10 Tahunan Menggunakan
Metode Smirnov Kolmogorof

61
































Uji Smirnov-Kolmogorof
Distibusi Normal = 0,1273 < 0,41 analisa frekuensi dapat diterima
Distibusi Log Normal = 0,1110 < 0,41 analisa frekuensi dapat diterima
Distibusi Gumbell = 0,1170 < 0,41 analisa frekuensi dapat diterima
Setelah dilakukan analisa data dari 3 analisa frekuensi. Hujan rencana didasarkan
pada metode distribusi log normal karena memiliki simpangan maksimum
terkecil
Perhitungan Intensitas Hujan
Rencana Daerah Pengaliran
Saluran Colector 1
I
5 tahunan
= 80,93 mm/jam
I
10tahunan
=89,31 mm/jam
Perhitungan Intensitas Hujan
Rencana Daerah Pengaliran
Saluran Colector 2
I
5 tahunan
= 88,29 mm/jam
I
10tahunan
=97,43 mm/jam
Perhitungan Intensitas
Hujan Rencana Daerah
Pengaliran Saluran
Colector 3
I
5 tahunan
= 84,57 mm/jam
I
10tahunan
=93,33 mm/jam
Perhitungan Intensitas Hujan
Rencana Daerah Pengaliran
Saluran Conveyor
I
5 tahunan
= 52,82 mm/jam
I
10tahunan
=58,29 mm/jam
Koefisien Limpasan (C) Dan Koefisien Tampungan (Cs)
Daerah Pengaliran Sal. Colector 1, C=0,95 dan Cs = 0,876
Daerah Pengaliran Sal. Colector 2, C=0,95 dan Cs = 0,916
Daerah Pengaliran Sal. Colector 3, C=0,95 dan Cs = 0,7895
Daerah Pengaliran Sal. Coveyor , C=0,95 dan Cs = 0,891

Debit Banjir Periode Ulang 5 dan 10 Tahunan
Daerah Pengaliran Sal. Colector 1, Q
5tahunan
= 26,21 m
3
/detik, Q
10 tahunan
= 28,92 m
3
/detik
Daerah Pengaliran Sal. Colector 2, Q
5tahunan
= 4,27 m
3
/detik, Q
10 tahunan
= 4,71 m
3
/detik
Daerah Pengaliran Sal. Colector 3, Q
5tahunan
= 6,17 m
3
/detik, Q
10 tahunan
= 6,81 m
3
/detik
Daerah Pengaliran Sal. Conveyor, Q
5tahunan
= 62,14 m
3
/detik, Q
10 tahunan
=68,58 m
3
/detik

Debit Aliran Air Limbah Periode Ulang 5 dan 10 Tahunan
Daerah Pengaliran Sal. Colector 1, Q
5tahunan
= 0,003 m
3
/detik, Q
10 tahunan
= 0,003 m
3
/detik
Daerah Pengaliran Sal. Colector 2, Q
5tahunan
= 0,00005 m
3
/detik, Q
10 tahunan
= 0,00005 m
3
/detik
Daerah Pengaliran Sal. Colector 3, Q
5tahunan
= 0,00008 m
3
/detik, Q
10 tahunan
= 0,00008 m
3
/detik
Daerah Pengaliran Sal. Conveyor, Q
5tahunan
= 0,012 m
3
/detik, Q
10 tahunan
= 0,014 m
3
/detik



62






s

























Lampiran T .1
Tabel A, P, R, V, dan Q saluran Existing
No Saluran A P R V Q
Evaluasi Kapasitas Debit Pada
Saluran Existing
Sal. Colector 1, Q = 30,43 m
3
/detik,
Sal. Colector 2, Q = 3,21 m
3
/detik,
Sal. Colector 3, Q = 3,92 m
3
/detik,
Sal. Conveyor, Q = 113,97 m
3
/detik,
Debit Total
Sal. Colector 1, Q
5tahunan
= 26,21 m
3
/detik,
Sal. Colector 1, Q
10tahunan
= 28,92 m
3
/detik,
Sal. Colector 2, Q
5tahunan
= 4,27 m
3
/detik,
Sal. Colector 2, Q
10tahunan
= 4,71 m
3
/detik,
Sal. Colector 3, Q
5tahunan
= 6,17 m
3
/detik,
Sal. Colector 3, Q
10tahunan
= 6,81 m
3
/detik,
Sal. Conveyor, Q
5tahunan
= 62,152 m
3
/detik,
Sal. Conveyor, Q
10tahunan
= 68,594 m
3
/detik,

Pendimensian Saluran Colector III
Direncakan Saluran Colector III
Ukuran 0,67 m x 1,34 m + 0,20 m
Direncanakan Plat Beton
Ukuran 1,90 m x 1,34 m + 0,20 m

63
Drainase (m
2
) (m) (m) (m/detik) (m
3
/detik)
1 Colector I 2,73 4,20 0,65 11,15 30,43
2 Colector II 0,77 2,50 0,308 6,77 5,21
3 Colector III 0,64 2,40 0,266 6,14 3,92
4 Conveyor 7,20 6,55 1,099 15,83 113,97
Sumber : Hasil Analisa

Lampiran T .2
Tabel A, P, R, V, dan Q saluran Rencana
No Saluran
Drainase
A
(m
2
)
P
(m)
R
(m)
V
(m/detik)
Q
(m
3
/detik)
1 Colector III 0,897 3,35 0,268 7,802 7,019
Sumber : Hasil Analisa

Lampiran T .3
Tabel R rencana, I rencana, Q banjir, Qw, dan Q existing
No Saluran
Drainase
R
(mm/hari)
I
(mm/jam)
Q Banjir
(m
3
/detik)
Qw
(m
3
/detik)
Q Saluran
(m
3
/detik)
1 Colector I 333,426
362,957
80,93
89,31
26,21
28,92
0,003
0,003
30,43
2 Colector II 333,426
362,957
88,29
97,43
4,27
4,71
0,00005
0,00005
5,21
3 Colector III 333,426
362,957
84,57
93,33
6,17
6,81
0,00008
0,00008
3,92
4 Conveyor 333,426
362,957
52,82
58,29
62,14
68,58
0,012
0,014
113,97
Sumber : Hasil Analisa





Lampiran T.4
Tabel Dimensi Saluran Existing dan Saluran Rencana Pada Saluran Drainase Jalan
Teuku Umar Jalan Sudirman

64
No Saluran
Drainase
Dimensi Existing Dimensi Rencana Dimensi
Saluran
Existing
Dimensi
Saluran
Rencana
1 Colector I




h = 1,20 m
b = 2,00 m
b= 1,80 m

2 Colector II



h = 0,70 m
b = 1,10 m

3 Colector III



h = 0,80 m
b = 0,80 m
h = 0,67 m
b = 1,38 m
4 Conveyor



h = 1,80 m
b = 3,00 m
b= 1,00 m

Sumber : Hasil Analisa












Lampiran G. 4. Peta Langsa



S E L A T M A L A K A
KECAMATAN
KECAMATAN
NURUSSALAM
KECAMATAN
BANDA ALAM
SIMPANG JERNIH
KABUPATEN ACEH TENGAH
KECAMATAN SERBA JADI
I
A
B E T N A P
K M A C E
I R A D
N A T
KECAMATAN
INDRA MAKMUR
KABUPATEN ACEH UTARA
KECAMATAN
JULOK
SIMPANG ULIM
KECAMATAN
KECAMATAN
MADAT
KABUPATEN ACEH TAMIANG
S
E
L
A
T
M
A
L
A
K
A
KECAMATAN
BIERUN BAYEN
KOTA LANGSA
PEUREULAK TIMUR
PEUREULAK
KECAMATAN RANTO SELAMAT
SUNGAI RAYA KECAMATAN
KECAMATAN
KECAMATAN PEUDAWA
KECAMATAN RANTO PEUREULAK
ARUL IKHSAN
KECAMATAN
IDI TUNDING
KECAMATAN
KECAMATAN
KECAMATAN PEURULAK BARAT
KECAMATAN
DARUL AMAN
IDI RAYEUK
KECAMATAN
PETA WILAYAH
ADMINISTRATIF KOTA LANGSA
KETERANGAN
TAHUN 2012
KOTA LANGSA
DINAS PEKERJAAN UMUM
PETA WILAYAH
Peta 1
JALAN TANAH
KOLEKTOR SEKUNDER
ARTERI PRIMER
BATAS KABUPATEN
BATAS KECAMATAN
BATAS DESA
ORIENTASI LOKASI STUDI
SUNGAI
ACEH TIMUR
KABUPATEN
SKALA 1 : 24.000
0
0
1
0.24 0.48
2
0.72
3
0.96
4 5 Cm
Km 1.2
JALAN LOKAL
KECAMATAN LANGSA KOTA
KECAMATAN LANGSA TIMUR
KECAMATAN LANGSA BARAT
KABUPATEN
ACEH TIMUR
ACEH TAMIANG
KABUPATEN
Gg. Citra
Jl. Lilawangsa
l r . P e t u a Z a i n u n
G g . S e d e r h a n a
Jl. Tengah Geudubang
Jl. Lengkong
Jl. Keudee Rambe - Terong
Jl. Sungai Mati
Jl. Kemuning Jl. Seulala Atas
Jl. Tengah Gb. Geudubang Jl. Tgk. Yahya
Gg. SD
Jl. Karang Anyar Lr. D
Jl. Pemuda
Jl. Pemuda Lr. A
Gg. Mawar
Jl. Mendut
Jl. Karang Anyar Lr. C
Jl. Karang Anyar
Jl. Nuruddin Ar - Rahman
Gg. Glugur
Lr. Shaleh
Jl. Sepadan Gg. Asrama
Jl. Pertanian
Gg. Melati
J l. Pay a Bujok Tunong Lr. D
Jl. Pipa
Jl. Pipa
Jl. Lilawangsa
Jl. T. Fatoni
Jl. Sp. Tiga
Lr. SeulangaJl. Komplek SMU 1
Jl. SMKK
Gg. Fakir Gg. Melati
Jl. Cik Di Tiro
Jl. Cut Meutia
Gg. Macan
Jl. Seulala J l . K e b u n L a m a
Jl. Sidorejo
Jl. Mulia
Jl. Pondok Pabrik / Kbn Lama
Jl. Kuburan Sidorejo
Jl. Sidorejo
Jl. Titi Baru
Jl. T. Chik Thebab
Jl. T. Nyak Arief
Jl. WR. Supratman
Jl. Darussalam
Jl. P. Polem
Jl. Ahmad Yani
Jl. S.M Daud Jl. M. Syah Jl. Wilryo Jl. Pabrik Es
Jl. Belakang Teko
Lr. Imum Bardan Jl. Petua Basyid
Jl. Aisyah
Jl. Syiah Kuala
Jl. Aceh Kongsi
Jl. Iskandar Muda
Jl. Jend. Sudirman
Lr. Petua Beni
Jl. TPI
Jl. TPI 2 Jl.Pusara
Jl. Malikul Saleh
Jl.T.M Zein
Jl. Kuburan
J l. Mal ik ul Adil
Jl. Raja
Jl. Terminal Lama
Jl. Nasional
Jl. Kesehatan
Jl. Langgar Jl. Terminal Lama Jl. Agus Salim
Jl. Rukun 2
Jl. Rukun
Jl. Blang Bintang
Jl. Hajar
Jl. SMU Alwasliyah
Jl. Bakti ABRI Jl. Umar
Jl. Damai Gp. Blang
Jl. BTN Alur Beurawe
Lr. Gabungan
Jl.Rel KA
Jl. Rahmad
Lr. Mesjid
Lr. Pahlawan
J l. Kebun Baru
Lr. satria
Jl. Kebun Baru
Lr. Nuri
Jl. T.M Bachrum
Jl. Patuanda
Jl. Simp. Terminal Jl. Akper Depkes
Lr. Hidayat
Lr. Dpn Terminal
Jl. Madjid Ibrahim
Lr. Pusaka
Jl. BTN Seuriget
Jl. Sehat
Jl. Rumah Potong
Jl. Bidan Halijah
Jl. Bougenvile
Jl. Sudirman Ujung
Jl. Utama 2
Jl. Jend. Sudirman
Gg. Durian
Jl. PKKBN
Jl. Langsa - Banda Aceh J l . P e r u m n a s A l u e D u a
Jl. Sukamakmur
Jl. Lingkar Perumnas
Jl. Perumnas
Jl. TVRI
JL. NELAYAN
Lr. Pendidikan
Jl. Tanpa Nama
Jl. Tanpa Nama
Jl. Pendidikan
Jl. Ujung Lueng
Gg. Tabah
Gg. Amal
Jl. Tanjung Mesjid
Gg. Seni
Gg. Bakti
Gg. Sopan
Gg. Nga
Jl. Simpang 5 Unsam
Jl. Kapten Lidansyah Jl. Petua Thayib
Jl. SMP 5
Jl. Keupora
Jl. Permai
Jl. Pericut
Gg. Panti Asuhan
Jl. T Cik Di Tunong Jl. Cut Nyak Dhien
Gg. Mulia
Jl. T.M Bachrum
Lr. Kartika
Lr. Keluarga
Jl. Cempaka
Jl. Kuala Langsa
Jl. Simpang Iyok
Jl. Cinta Raja
Jl. Sukarejo
Jl. Dekat Sp. Uyok
Jl. M. Isa
Jl. Depan SPBU - S. Lhong
Jl. Kebun
Jl. L
a
n
g
sa
- M
e
d
a
n
Jl. Simpang Wie
Jl. Langsa - Medan
J l . T V R I
KECAMATAN
PARIT INDUK T.M. BACHRUM
PELURUSAN KRUENG LANGSA TAHUN 2008 ( OTSUS )
MESJID PB. SEULEMAK
Lr. Kuburan
STADION LANGSA
KODIM LANGSA
SMP N 3 LANGSA
SMA 1 LANGSA
PM LANGSA Lr. UTAMA JL. BRR
SMA S CUT NYAK DHIEN
RSUS CUT NYAK DHIEN
POLRES LANGSA
MESJID SUNGAI PAUH SIMPANG EMPAT KUALA
BTN SUNGAI PAUH
PELABUHAN LANGSA
TPI KUALA LANGSA
UNSAM LANGSA COT KALA
Lokasi TGA

65


















Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Langsa Tahun 2012










Lampiran G 5. Peta Ikhtisar Kota Langsa



66



























Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Langsa Tahun 2011




J
l . S
u
d
i r
m
a
n
J
l . J
e
n
d
. S
u
d
i r m
a
n
B
T
N
S
U
N
G
A
I P
A
U
H
L
a p
a n
g
a n
M
e r d
e k a
P
L N
B
a p
p
e d a
A
. T
i m
K
a n
t o
r P
o s
L
a n
g
s a
T
K
B
u
n
g o n g
S
e u
l a n g a
J
l.

A
.

Y
a
n
i
B
e n
g
l a p
M
e s j i d
M
u
w
a h i d i n
G
a m
p
o
n
g
J a w
a
A
l i r a n A
i r
A
l i r a n A
i r
Toko B
elakang
Toko D
epan
Toko D
epan
L
o
s m
e n
P
a s e
L
E
G
E
N
D
A
K
E
T
E
R
A
N
G
A
N
C
o
l
e
c
t
o
r

D
r
a
i
n
C
o
n
v
e
y
o
r

D
r
a
i
n
I
n
t
e
r
c
e
p
t
o
r

D
r
a
i
n
J
a
l
a
n
T
e l k o m
U
n
s a m
F
a k . E
k o
n o m
i
T
i t i k B
a n
j i r G
e n
a n g a n 1
D
a e r a h
B
e n g l a p T
i t i k B
a n
j i r G
e n
a n g a n 2
K
o
m
p
l e k P
j k a
T
i t i k B
a n
j i r G
e n
a n g a n 3
D
a e r a h
L
o
s m
e n P
a s e
T
i t i k B
a n
j i r G
e n
a n g a n 4
D
a e r a h
B
a p p e d a
T
i t i k B
a n
j i r G
e n
a n g a n 5
D
a e r a h
T
o
k o
B
e l a k a n g
J
e
m
b
a
t
a
n
B
am
bu R
uncing
J
l
.

T
e
u
k
u

U
m
a
r
P
e
m
b
u
a
n
g
a
n
A
k
h
ir k
e
la
u
t
K
E
T
E
R
A
N
G
A
N
T
i
t
i
k

B
a
n
j
i
r

1

p
a
d
a

d
a
e
r
a
h

b
e
n
g
l
a
p
T
i
t
i
k

B
a
n
j
i
r

2

p
a
d
a

d
a
e
r
a
h

k
o
m
p
l
e
k

P
J
K
A
P
a
d
a

J
a
l
a
n

T
e
u
k
u

U
m
a
r
T
i
t
i
k

B
a
n
j
i
r

3

p
a
d
a

d
a
e
r
a
h

L
o
s
m
e
n

P
a
s
e
d
a
n

J
a
l
a
n

S
u
d
i
r
m
a
n
T
i
t
i
k

B
a
n
j
i
r

4

p
a
d
a

d
a
e
r
a
h

B
a
p
p
e
d
a
T
i
t
i
k

B
a
n
j
i
r

5

p
a
d
a

d
a
e
r
a
h

P
e
r
t
o
k
o
a
n
B
e
l
a
k
a
n
g
K
e
c
a
m
a
t
a
n

L
a
n
g
s
a

K
o
t
a
S
T
A
. 0
. 0
0
0
S
T
A
. 0
. 3
4
0
S
T
A
. 0
. 4
4
0
S
T
A
. 0
. 6
6
0
S
T
A
. 0
. 8
8
0
S
T
A
. 1
. 1
6
0
L
u
a
s
D
a
e
r
a
h
P
e
n
g
a
l i r
a
n
S
a
l u
r
a
n
C
o
l e
c
t
o
r
1
=
1
4
0
H
a
=
1
, 4
k
m
2
S
T
A
. 0
. 2
2
0
S
T
A
. 0
. 0
0
0
L
u
a
s
D
a
e
r
a
h
P
e
n
g
a
l i r
a
n
S
a
l u
r
a
n
C
o
l e
c
t
o
r
2
=
2
0
H
a
=
0
, 2
k
m
2
L
u
a
s
D
a
e
r
a
h
P
e
n
g
a
l i r
a
n
S
a
l u
r
a
n
C
o
l e
c
t
o
r
3
=
3
5
H
a
=
0
, 3
5
k
m
2
S
T
A
. 0
. 0
0
0
S
T
A
. 0
. 5
4
0
S
T
A
. 0
. 3
6
0
S
T
A
. 1
. 9
0
0
T
i
t
i
k

P
l
a
t

B
e
t
o
n
T
i
t
i
k

J
e
m
b
a
t
a
n
L
u
a
s
D
a
e
r
a
h
P
e
n
g
a
l i r
a
n
S
a
l u
r
a
n
C
o
n
v
e
y
o
r
=
3
5
H
a
=
0
, 3
5
k
m
2
L
A
M
P
I
R
A
N

G
.

5

S
K
E
T
S
A

L
O
K
A
S
I


67
































L
a
p
a
n
g
a
n
M
e
r
d
e
k
a
P
L
N
B
a
p
p
e
d
a
A
.

T
i
m
K
a
n
t
o
r

P
o
s
L
a
n
g
s
a
A
l
i
r
a
n

A
i
r
T
o
k
o

B
e
l
a
k
a
n
g
T
o
k
o

D
e
p
a
n
T
o
k
o

D
e
p
a
n
L
o
s
m
e
n
P
a
s
e
T
e
l
k
o
m
U
n
s
a
m
F
a
k
.

E
k
o
n
o
m
i
B
a
m
b
u

R
u
n
c
i
n
g
L
A
M
P
I
R
A
N

G
.

6

S
K
E
T
S
A

L
O
K
A
S
I

S
A
L
U
R
A
N

C
O
L
E
C
T
O
R

I
I
I
S
w
a
l
a
y
a
n
S
e
n
y
u
m

L
a
n
g
s
a
J
a
l
a
n

T
.

U
m
a
r
J
a
l a
n
S
u
d
i r
m
a
n
Z
o
n
a

A
L

=

5
4
0

m
L

=

3
6
0

m
D
A
E
R
A
H

P
E
N
G
A
L
I
R
A
N

S
A
L
U
R
A
N

C
O
L
L
E
C
T
O
R

I
I
I
L
U
A
S

A
R
E
A
L

=

3
5

H
a

=

0
,
3
5

K
M
2
Z
o
n
a

B


68
































T
K

B
u
n
g
o
n
g
S
e
u
l
a
n
g
a
B
e
n
g
l
a
p
A
l
i
r
a
n

A
i
r
T
e
l
k
o
m
J
l
.

T
.
U
m
a
r
D
a
e
r
a
h

P
e
n
g
a
l
i
r
a
n

S
a
l
u
r
a
n

C
o
l
e
c
t
o
r

I
I
L
u
a
s

A
r
e
a
l

=

2
0

H
a

=

0
,
2

K
M
2
P
a
n
j
a
n
g

S
a
l
u
r
a
n

5
4
0

M
P
e
r
t
o
k
o
a
n
P
e
r
t
o
k
o
a
n
P
e
r
t
o
k
o
a
n
P
e
r
t
o
k
o
a
n
P
e
r
t
o
k
o
a
n
P
e
r
t
o
k
o
a
n
P
e
r
t
o
k
o
a
n


69
































T
K

B
u
n
g
o
n
g
S
e
u
l
a
n
g
a
A
l
i
r
a
n

A
i
r
A
l
i
r
a
n

A
i
r
T
e
l
k
o
m
U
n
s
a
m
F
a
k
.

E
k
o
n
o
m
i
D
a
e
r
a
h

P
e
n
g
a
l
i
r
a
n

S
a
l
u
r
a
n

C
o
l
e
c
t
o
r

I
L
u
a
s

A
r
e
a
l

=

1
4
0

h
a

=

1
4

k
m
2
P
a
n
j
a
n
g

S
a
l
u
r
a
n
=

1
.
1
6
0

m
'
J
a
l
a
n

A
.

y
a
n
i
J
a
l
a
n

S
u
d
i
r
m
a
n

70

































J
l .

S
u
d
i r
m
a
n
J
l .

J
e
n
d
.

S
u
d
i r
m
a
n
B
T
N

S
U
N
G
A
I

P
A
U
H
P
e
m
b
u
a
n
g
a
n

A
k
h
ir

k
e

la
u
t
D
A
E
R
A
H

P
E
N
G
A
L
I
R
A
N

S
A
L
U
R
A
N

C
O
N
V
E
Y
O
R
L
U
A
S

A
R
E
A
L

=

5
0
0

H
a

=

5

K
m
2
P
A
N
J
A
N
G

S
A
L
U
R
A
N
1
.
9
0
0

M
'

71
































e

`
+

^

.
e

`
+

`
+

^

72

































J
a
l
a
n

T
.

U
m
a
r
J a l a n S u d i r m a n
L
o
s
m
e
n

P
a
s
e
B
a
p
p
e
d
a
P
L
N
T
o
k
o

D
e
p
a
n
T
o
k
o

B
e
l
a
k
a
n
g
S
i
m
p
a
n
g

E
m
p
a
t

K
u
a
l
a
K
u
a
l
a

L
a
n
g
s
a
K
u
b
u
r
a
n

S
u
n
g
a
i

P
a
u
h
S
a
l
u
r
a
n

C
o
n
v
e
y
o
r

J
a
l
a
n

S
u
d
i
r
m
a
n
P
a
j
a
k

P
i
s
a
n
g
M
e
s
j
i
d
S
u
n
g
a
i

P
a
u
h

73






































e

`
+

-
-
-

-

e

+

W


74




























Lampiran T 5: Tabel Nilai Reduced Standart Deviation (SN) dan Nilai Reduced
Mean (Yn) Untuk Distribusi Probabilitas Gumbell
n Sn Yn N Sn Yn
10 0.9497 0.4952 60 1.175 0.5521
15 1.0210 0.5128 70 1.185 0.5548

75
20 1.0630 0.5236 80 1.194 0.5567
25 1.0910 0.5390 90 1.201 0.5586
30 1.1120 0.5362 100 1.206 0,5600
35 1.1280 0.5403 200 1.236 0.5672
40 1.1410 0.5436 500 1.259 0.5724
45 1.1520 0.5463 1000 1.269 0.5745
50 1.1610 0.5485
Sumber: Soemarto (1987)



Lampiran T 6: Tabel Nilai Reduced Variate (Yt)
Untuk Distribusi Probabilitas Gumbell
Periode Ulang ( T )
Tahun
Yt
2 0.3065
5 1.4999
10 2.2504
20 2.9702
25 3.1255
50 3.9019
100 4.6001
Sumber: Soemarto (1987)



















Lampiran T. 7 : Tabel Nilai Variabel Reduksi Gauss Terhadap
Distribusi Probabilitas Normal dan
Distribusi Probabilitas Log Normal
Periode Ulang Peluang K

76
T (tahun)
1.001
1.005
1.010
1.050
1.110
1,250
1.330
1.430
1.670
2.000
2.500
3.330
4.000
5.000
10.000
20.000
50.000
100.000
200.000
500.000
1000.000
0.999
0.995
0.990
0.950
0.900
0.800
0.750
0.700
0.600
0.500
0.400
0.300
0.250
0.200
0.100
0.050
0.200
0.010
0.005
0.002
0.001
-3.05
-2.58
-2.33
-1.64
-1.28
-0.84
-0.67
-0.52
-0.25
0
0.25
0.52
0.67
0.84
1.28
1.64
2.05
2.33
2.58
2.88
3.09

Sumber :Suripin, 2004




















Lampiran T. 8 : Tabel Nilai P Kritis Smirnov-Kolmogorof

N
Derajat Kepercayaan
0.2 0.1 0.05 0.01
5 0.45 0.51 0.56 0.67
10 0.32 0.37 0.41 0.49

77
15 0.27 0.3 0.34 0.4
20 0.23 0.26 0.29 0.36
25 0.21 0.24 0.27 0.32
30 0.19 0.22 0.24 0.29
35 0.18 0.2 0.23 0.27
40 0.17 0.19 0.21 0.25
45 0.16 0.18 0.2 0.24
50 0.15 0.17 0.19 0.23
N > 50
107 1,22 1,36 1,63
N
0.5
N
0.5
N
0.5
N
0.5

Sumber : Soewarno (1995)
































Lampiran T.9 Tabel Luas Wilayah Di Bawah Kurve Normal








78













































Lampiran T.9 Tabel Luas Wilayah Di Bawah Kurve Normal








79













































Lampiran T.9 Tabel Luas Wilayah Di Bawah Kurve Normal








80













































Lampiran T.9 Tabel Luas Wilayah Di Bawah Kurve Normal








81














































LampiranT. 10. Tabel Bentuk bentuk umum saluran terbuka dan fungsinya
No Bentuk Saluran Fungsinya

82
1.





2.





3.





4.
Trapesium





Kombinasi Trapesium dengan segi
empat




Kombinasi Trapesium dengan setengah
lingkaran




Segi Empat


Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasaan air hujan
dengan debit yang besar. Sifat alirannya terus menerus dengan
fluktuasi kecil. Bentuk saluran ini dapat digunakan pada daerah yang
masih tersedia cukup lahan.

Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasaan air hujan
dengan debit yang besar dan kecil. Sifat alirannya berfluktuasi besar
dan terus menerus tapi debit minimumnya masih cukup besar.


Fungsinya sama dengan bentuk 2 sifat alirannya terus menerus dan
berfluktuasi besar dengan debit minimum kecil. Fungsi bentuk
setengah lingkaran ini adalah untuk mengalirkan debit minimum
tersebut.


Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan
dengan debit besar. Sifat alirannya terus menerus dan fluktuasi kecil.


5.





6.

Kombinasi segi empat dengan setengah
lingkaran




Setengah Lingkaran





Bentuk saluran segi empat ini digunakan pada lokasi jalur saluran yang
tidak mempunyai lahan yang cukup/terbatas. Fungsinya sama dengan 2
dan 3.



Berfungsi untuk menyalurkan limbah air hujan untuk debit yang kecil.
Bentuk saluran ini umum digunakan untuk saluran saluran rumah
penduduk dan pada sisi jalan perumahan padat.



Sumber : Robert J kodoatie, Ph.D dan Roestam Sjarief, Ph.D, Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu
Edisi 2 Halaman 109

Lampiran T.11
KEADAAN CURAH HUJAN DALAM
KABUPATEN ACEH TIMUR

83
TAHUN 2002

NO. BULAN
TAHUN
2002
MM HH
1 JANUARI - -
2 FEBRUARI - -
3 MARET 206 4
4 APRIL 27 5
5 MEI 144 9
6 JUNI 49 9
7 JULI 19 3
8 AGUSTUS 34 3
9 SEPTEMBER 106 8
10 OKTOBER 286 22
11 NOPEMBER 158 14
12 DESEMBER 315 14
JUMLAH 1344 91
RATA - RATA 112 8
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Timur
























Lampiran T.12
KEADAAN CURAH HUJAN DALAM
KABUPATEN ACEH TIMUR

84
TAHUN 2003

NO. BULAN
TAHUN
2003
MM HH
1 JANUARI - -
2 FEBRUARI - -
3 MARET - -
4 APRIL - -
5 MEI 132 9
6 JUNI 50 6
7 JULI 46 8
8 AGUSTUS 42 4
9 SEPTEMBER 213 19
10 OKTOBER 52 7
11 NOPEMBER 35 6
12 DESEMBER 57 9
JUMLAH 627 68
RATA - RATA 112 6
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Timur
























Lampiran T.13
KEADAAN CURAH HUJAN DALAM
KABUPATEN ACEH TIMUR

85
TAHUN 2004

NO. BULAN
TAHUN
2005
MM HH
1 JANUARI 92 5
2 FEBRUARI - -
3 MARET 131 6
4 APRIL 76 7
5 MEI 73 7
6 JUNI 65 5
7 JULI 73 5
8 AGUSTUS 69 8
9 SEPTEMBER 158 16
10 OKTOBER 250 18
11 NOPEMBER 212 18
12 DESEMBER 136 9
JUMLAH 1335 104
RATA - RATA 112 9
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Timur
























Lampiran T.14
KEADAAN CURAH HUJAN DALAM
KABUPATEN ACEH TIMUR

86
TAHUN 2005

NO. BULAN
TAHUN
2005
MM HH
1 JANUARI 99 7
2 FEBRUARI 103 3
3 MARET 129 4
4 APRIL 32 3
5 MEI 60 4
6 JUNI 83 5
7 JULI 193 9
8 AGUSTUS 161 8
9 SEPTEMBER 135 8
10 OKTOBER 275 13
11 NOPEMBER 139 9
12 DESEMBER 264 11
JUMLAH 1673 84
RATA - RATA 139 7
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Timur
























Lampiran T. 15
KEADAAN CURAH HUJAN DALAM
KABUPATEN ACEH TIMUR

87
TAHUN 2006

NO. BULAN
TAHUN
2006
MM HH
1 JANUARI 166 15
2 FEBRUARI 8 1
3 MARET 35 3
4 APRIL 26 6
5 MEI 131 11
6 JUNI 134 12
7 JULI 141 6
8 AGUSTUS 118 10
9 SEPTEMBER 174 8
10 OKTOBER 367 18
11 NOPEMBER 244 14
12 DESEMBER 332 13
JUMLAH 1876 117
RATA - RATA 185 10
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Timur
























Lampiran T.16
KEADAAN CURAH HUJAN DALAM
KABUPATEN ACEH TIMUR

88
TAHUN 2007

NO. BULAN
TAHUN
2007
MM HH
1 JANUARI 42 8
2 FEBRUARI 114 8
3 MARET 222 11
4 APRIL 46 11
5 MEI 97 7
6 JUNI 85 9
7 JULI 145 9
8 AGUSTUS 184 11
9 SEPTEMBER 249 15
10 OKTOBER 139 13
11 NOPEMBER 124 13
12 DESEMBER 215 18
JUMLAH 1662 133
RATA - RATA 171 10
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Timur
























Lampiran T.17
KEADAAN CURAH HUJAN DALAM
KABUPATEN ACEH TIMUR

89
TAHUN 2008

NO. BULAN
TAHUN
2008
MM HH
1 JANUARI 114 10
2 FEBRUARI 32 2
3 MARET 61 3
4 APRIL 74 5
5 MEI 225 12
6 JUNI 145 9
7 JULI 166 11
8 AGUSTUS 194 11
9 SEPTEMBER 129 10
10 OKTOBER 258 13
11 NOPEMBER 295 14
12 DESEMBER 357 13
JUMLAH 2049 114
RATA - RATA 171 10
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Timur
























Lampiran T.18
KEADAAN CURAH HUJAN DALAM
KABUPATEN ACEH TIMUR

90
TAHUN 2009

NO. BULAN
TAHUN
2009
MM HH
1 JANUARI 83 12
2 FEBRUARI 48 4
3 MARET 112 10
4 APRIL 100 9
5 MEI 113 12
6 JUNI 114 4
7 JULI 130 7
8 AGUSTUS 148 13
9 SEPTEMBER 172 14
10 OKTOBER 174 15
11 NOPEMBER 180 16
12 DESEMBER 224 14
JUMLAH 1598 130
RATA - RATA 169 10
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Timur
























Lampiran T.19
KEADAAN CURAH HUJAN DALAM
KABUPATEN ACEH TIMUR

91
TAHUN 2010

NO. BULAN
TAHUN
2010
MM HH
1 JANUARI 222 12
2 FEBRUARI 24 4
3 MARET 143 10
4 APRIL 104 9
5 MEI 181 12
6 JUNI 35 4
7 JULI 100 7
8 AGUSTUS 178 13
9 SEPTEMBER 239 14
10 OKTOBER 241 15
11 NOPEMBER 350 16
12 DESEMBER 246 14
JUMLAH 2063 130
RATA - RATA 172 11
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Timur
























Lampiran T.20
KEADAAN CURAH HUJAN DALAM
KABUPATEN ACEH TIMUR

92
TAHUN 2011

NO. BULAN
TAHUN
2011
MM HH
1 JANUARI 230 10
2 FEBRUARI 30 5
3 MARET 140 12
4 APRIL 120 7
5 MEI 190 15
6 JUNI 56 6
7 JULI 122 9
8 AGUSTUS 153 15
9 SEPTEMBER 210 10
10 OKTOBER 220 10
11 NOPEMBER 320 20
12 DESEMBER 330 18
JUMLAH 2121 137
RATA - RATA 177 11
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Timur
























Lampiran T.21
Koefisien Kekasaran Manning untuk gorong-gorong dan saluran pasangan

93

Sumber : Buku Drainase Perkotaan, wesli halaman 97































Lampiran T.22
Kecepatan Aliran Air yang diizinkan berdasarkan jenis material
Tipe Saluran Koefisien manning (n)
1. Baja 0.011-0.014
2. Baja Permukaan Gelombang 0.021-0.030
3. Semen 0.010-0.013
4. Beton 0.011-0.015
5. Pasangan batu 0.017-0.030
6. Kayu 0.010-0.014
7. Bata 0.011-0.015
8. Aspal 0.013

94

Sumber : Buku Drainase Perkotaan, wesli halaman 118


























Lampiran F.1

Jenis Bahan Kecepatan Aliran
yang diizinkan (m/det)
1. Pasir Halus 0,45
2. Lempung Kepasiran 0,50
3. Lanau alluvial 0,60
4. Kerikil Halus 0,75
5. Lempung Kokoh 0,75
6. Lempung Padat 1,10
7. Kerikil Kasar 1,20
8. Batu batu besar 1,50
9. Pasangan Batu 1,50
10. Beton 1,50
11. Beton Bertulang 1,50

95




















Sumber : Hasil Survey Lapangan


























Sumber : Hasil Survey Lapangan



Lampiran F.2


96




















Sumber : Hasil Survey Lapangan

























Sumber : Hasil Survey Lapangan




Lampiran F.3


97




















Sumber : Hasil Survey Lapangan

























Sumber : Hasil Survey Lapangan




Lampiran F.4


98




















Sumber : Hasil Survey Lapangan

























Sumber : Hasil Survey Lapangan