Anda di halaman 1dari 8

Nama Kelas NIM

: Edwin Erwanda : PrakAudit CD : 0910233080

Diskusi

1. Pada saat melakukan perikatan audit terdapat tim perikatan audit yang terdiri dari: a) Partner, rekan atau partner pada saat melakukan perikatan audit dibagi menjadi dua bagian yaitu: Partner-in-charge, tugas dari partner-in-charge yaitu: Sebagai penanggung jawab dalam pengambilan keputusan selama audit berlangsung. Sebagai kepala tim untuk memberikan persetujuan pada saat melakukan perikatan audit. Pada saat pengauditan partner-in-charge ini juga bertanggung jawab untuk otorisasi atau memberikan tanda tangannya (ttd) pada Laporan Audit. Consulting partner, tugas dari consulting partner yaitu: Memiliki wewenang untuk memberikan persetujuan pada saat melakukan perikatan audit. Pemberi nasihat dan review terhadap hasil akhir. Memiliki wewenang untuk memberikan nasihat atas sesuatu hal pada saat melakukan perikatan audit. Sebagai penjamin terciptanya pengawasan yang memadai dan menjaga kompetensi dalam setiap aktivitasnya b) Manajer, tugasnya adalah : Sebagai penyusun pembuatan prosedur dan program audit Melakukan pemeriksaan atau review pada keseluruhan pekerjaan yang dilakukan oleh senior audit dan staf auditor Menandatangani hasil pemeriksaan atau laporan audit terkait.

c) Senior Auditor, tugasnya yaitu:

Sebagai penanggung jawab staf auditor untuk menjalankan audit sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Menjalankan program audit yang telah dibuat oleh manajer. Membuat review tentang keseluruhan pekerjaan yang dilakukan oleh staf auditor.

d) Staff Auditor, memiliki tugas yaitu: Menjalankan program-program audit secara nyata di lapangan untuk selanjutnya direview dan diperiksa oleh senior auditor.

2. Tujuan dari dimilikinya Partner-in-charge yaitu: Sebagai kepala tim yang akan melakukan perikatan audit Membantu memberikan pertimbangan untuk menerima atau menolak perikatan audit Membantu dalam pengambilan keputusan selama proyek audit

dilaksanakan. Tujuan dari dimilikinya Consulting Partner yaitu: Sebagai pemberi rekomendasi dan review terhadap hasil akhir. Memberikan nasihat mengenai klien yang benar-benar baru atau masih belum pernah ditangani oleh KAP sebelumnya. Menurut saya, KAP harus melakukan rotasi partner. Di Indonesia merupakan salah satu negara yang mewajibkan pergantian kantor akuntan dari partner audit diberlakukan secara periodic. Peraturan tentang pergantian ini sudah muncul pada tahun 2002 dalam bentuk Keputusan Menteri Keuangan no. 423 tahun 2002 tersebut dikatakan bahwa: Pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas dapat dilakukan oleh KAP paling lama untuk 5 (lima) tahun buku berturut-turut dan oleh seorang Akuntan Publik paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturutturut. Selanjutnya di pasal 59 ayat 5 dan 6 dinyatakan bahwa: (5) KAP yang telah memberikan jasa audit umum untuk 5 (lima) tahun buku berturut-turut atau lebih dan masih mempunyai perikatan audit umum untuk

tahun buku berikutnya atas laporan keuangan dari suatu entitas pada saat berlakunya Keputusan Menteri Keuangan ini, hanya dapat melaksanakan perikatan dimaksud untuk 1 (satu) tahun buku berikutnya, (6) Akuntan Publik yang telah memberikan jasa audit umum untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut atau lebih dan masih mempunyai perikatan audit umum untuk tahun buku berikutnya atas laporan keuangan dari suatu entitas pada saat berlakunya Keputusan Menteri Keuangan ini, hanya dapat melaksanakan perikatan dimaksud untuk 1 (satu) tahun buku berikutnya. Dalam Sarbanes-Oxley act Seksi 203: Adanya kewajiban rotasi bagi KAP maupun partner in-charge dari KAP (dibatasi lima tahun) dalam melakukan audit bagi klien yang sama. Dengan demikian, sebuah kantor akuntan publik hanya boleh menugaskan satu orang partner untuk memimpin audit di satu klien yang sama selama lima tahun berturut-turut. Yang dimaksud sebagai rotasi wajib adalah pemberlakuan batasan periode tahun sebuah kantor akuntan publik boleh mengaudit satu klien yang sama, hal ini dilakukan sehubungan dengan Meningkatkan Independensi Auditor.

Dengan

dilakukan

rotasi

partner

maka

diyakini

akan

meningkatkan

keindependensian auditor dalam hal pelaksaan audit. Perilaku auditor diduga tidak akan sama pada aturan rotasi yang berbeda, terutama jika ada aturan rotasi atau tidak ada aturan rotasi. Ketiadaan aturan rotasi akan memberi insentif kepada auditor untuk selama mungkin mempertahankan hubungannya dengan klien, walaupun mungkin tindakan tersebut mencederai independensi mereka. Sehingga adanya aturan rotasi yang membatasi masa tugas auditor akan ketergantungan auditor terhadap klien menjadi terbatas dan kemungkinan pelanggaran independensi juga akan menurun.

3. Menurut saya kegiatan marketing yang dilakukan oleh KAP untuk menambah akuisisi klien baru tidak bertentangan dengan prinsip indepedensi auditor dengan syarat kegiatan marketing yang dilakukan oleh KAP hanya digunakan untuk meperkenalkan KAP yang bersangkutan kepada publik dan jasa-jasa apa yang dapat dikerjakan oleh KAP tersebut,

dan kegiatan marketing seperti advertensi ini pun sudah tidak dilarang oleh IAI hal ini sesuai dengan aturan Etika Profesi nomor 502 tahun 2000 yang memperbolehkan KAP melakukan promosi dan kegiatan pemasaran lainnya. Independensi itu sendiri dibagi menjadi dua tertera pada Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik (Iai) No. 100, yaitu: a) Independensi penampilan: independensi yang terkait dengan pencitraan yang dilakukan oleh auditor terhadap publik. Pencitraan ini terkait dengan asumsi dan ekspektasi dari public mengenai fungsi audit dan auditor itu sendiri. b) Independensi fakta: Independensi auditor yang terkait dengan objektifitas seseorang auditor di dalam penentuan audit judgement. Auditor harus dapat memeprtimbangkan fakta yang ada dan dapat bersikap tidak memihak dalam memberikan pendapatnya. Sikap ini merupakan sikap yang cenderung personal dan merupakan merupakan sikap mental dari diti pribadi akuntan publik. Sesuai dengan ketentuan PSA No. 4 dalam SA Seksi 220 No. 7 mengenai penunjukan dan independensi auditor, mengatakan untuk menekankan indepedensi auditor dari manajemen, penunjukan auditor di banyak perusahaan dilaksanakan oleh dewan komisaris, rapat umum pemegang saham, atau komite audit. 4. KAP besar mengakuisisi KAP menengah atau lebih kecil disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: a) Faktor pengalaman: Kantor Akuntan Publik (KAP) kecil atau menengah mungkin mempunyai pengalaman yang jauh lebih banyak di dalam proses pengauditan klien-klien yang bukan merupakan klien bidikan utama kantor akuntan public besar. Contohnya adalah: kanotr akuntan public kecil atau menengah lebih banyak melakukan audit di ranah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sehingga KAP tersebut mempunyai banyak pengalaman di ranah operasional tersebut diharapakan dapat memperbesar. b) Faktor Ekspansi Klien: Faktor ini sangat terkait dengan faktor nomor 1 diatas, KAP besar diharapkan pada pilihan untuk lebih membuka diri dan mengekspansi klien yang jauh lebih

luas, tidak hanya dari klien yang mempunyai ukuran yang besar saja namun juga mengekspansi klien-klien yang mempunyai unit bisnis kecil tapi mempunyai kelebihan dalam segi kuantitas perusahaan yang jauh lebih banyak daripada perusahaan besar. c) Faktor Budaya: Kebanyakan KAP yang mempunyai nama besar adalah KAP asing yang sangat awam dengan budaya di Indonesia sehingga jalan termudah untuk bekerja sesuai dengan budaya yang ada di daerah (Indonesia) adalah dengan mengakuisisi KAP likal yang mungkin dari segi ukuran masih kecil atau menengah. Keuntungan yang mungkin diperoleh oleh KAP menengah kebawah dengan adanya akuisisi: a) Standarisasi Yang paling mencolok adanya akuisisi antara KAP besar dengan menengah kebawah adalah adanya standarisasi yang coba diterapkan oleh KAP besar tersebut di dalam setiap penugasan audit maupun dar internal KAP yang diakusisi itu sendiri sehingga KAP menengah kebawah yang telah diakuisisi mau tidak mau harus mengikuti syarat-syarat penjaminan mutu yang dibuat oleh KAP besar. Namun tidak semua akuisisi ini menimbulkan dampak yang positif bahkan dapat juga menimbulkan dampak negative bagi KAP menengah kebawah yang telah diakuisisi, diantaranya: a) Perubahan Budaya Organisasi Perubahan budaya organisasi KAP karena harus mengikuti syarat-syarat penjaminan mutu dari KAP yang telah mengakuisisinya akan mengakibatkan perubahan budaya organisasi yang mempunyai implikasi ditinggalkannya KAP yang bersangkutan dengan klien-klien lamanya.

5. Perpindahan seorang individu dari area satu ke area lain ataupun dari jasa satu ke jasa lain menurut saya akan muncul permasalahan (dampak negative). Namun dari kegiatan kerja yang fleksibel ini terdapat juga dampak positifnya: Dampak positifnya yaitu: a) Menambah wawasan dan kemampuan SDM secara umum

Sumber Daya Manusia yang melakukan pekerjaan yang tidak tetap dan sering di rolling akan meningkatkan keinginan SDM tersebut untuk terus belajar dan menghindari kebosanan karena mengerjakan pekerjaan yang sama secara terusmenerus. b) Pemerataan kemampuan SDM Faktor ini terkait dengan faktor diatas, individu yang belajar karena tuntutan pekerjaan yang harus dilakukannya terus berubah akan meningkatkan kemampuannya mengerjakan segala urusan di dalam proses yang telah dilakukannya. Dampak negatifnya yaitu: a) Kurang terpesialisasi Hal ini mrupakan damapak buruk dari adanya faktor Menambah wawasan dan kemampuan SDM secara umumkarena setiap individu dituntut untuk mengerjakan semua tugas audit sehingga menyebabkan individu menjadi kurang terspesialisasi terhadap pekerjaan yang menjadi core tugasnya. b) Rendahnya kualitas laporan hasil audit Hal ini merupakan dampak dari poin diatas, adanya pekerjaan yang kurang terspesialisasi menyebabkan laporan audit yang diperoleh menjasi kurang berkualitas.

Latihan 1. Menurut Standar Pengendalian Mutu (PSPM No. 1) disebutkan bahwa setiap KAP diwajibkan menetapkan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu, khususnya mengenai hal-hal berikut: a) Independensi Auditor b) Penugasan Personel c) Konsultasi d) Supervisi e) Pemekerjaan f) Pengembangan Profesional

g) Promosi h) Penerimaan dan keberlanjutan klien i) Inspeksi Dari pembahasan mengenai gambaran umum KAP Adi Susilo dan rekan itu sendiri minimal kita dapat mengambil dua poin: 1. Kebijakan pemekerjaan SDM yang digunakan di dalam melakukan pemeriksaan audit minimal mempunyai tingkat pendidikan S1 dari perguruan tinggi terkemuka. Hal ini dilakukan untuk menjamin mutu dari auditor yang melakukan audit. 2. Kebijakan inspeksi Adanya partner-in-charge yang mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan pekerjaan (proyek) audit dan membawahi auditor senior yang juga melakukan review dari hasil pekerjaan auditor junior dan staf. Rekomendasai dari saya adalah agar KAP tersebut dapat melengkapi syarat-syarat yang direkomendasikan oleh PSPM sehingga kualitas penugasan sampai dengan pelaporan audit dapat ditingkatkan.

2.

Persiapan spesifik yang dilakukan oleh KAP Adi Susilo dan rekan untuk menerima klien Perusahaan publik, sesuai dengan peraturan SOX atau Sarbanes Oxley Act yaitu: a) Mensyaratkan bahwa manajemen mensertifikasi kewajaran statemen keuangan dan pengungkapan yang dimuat dalam laporan berkala, dan statemen keuangan dan pengungkapan-pengungkapan secara wajar menyajikan dalam segala hal yang material, operasi dan kondisi keuangan dari issuer. b) Mensyaratkan manajemen memberikan penilaian pengendalian intern dan auditor eksternal melaporkan pengendalian tersebut. c) Mensyaratkan adanya kode etik pejabat (officer code of ethic) untuk perusahaan publik. d) Mensyaratkan manajemen melaporkan efektivitas pengendalian intern dan auditor menyajikannya dalam penilaian manajemen. Adapun juga langkah yang dipersiapkan dalam menerima klien perusahan publik pada PSA No. 62, yaitu:

a) Pemahaman atas Dampak Peraturan Perundang-Undangan, Auditor harus memperoleh pemahaman tentang kemungkinan dampak peraturan perundangundangan terhadap laporan keuangan yang umumnya diperkirakan oleh auditor berdampak langsung dan material atas penentuan jumlah yang tercantum dalam laporan keuangan. b) Pertimbangan atas Resiko, Sebagai contoh, jika suatu entitas pemerintahan didesentralisasikan tanpa pemantauan memadai, risiko salah saji material pada tingkat laporan keuangan dapat meningkat.