Anda di halaman 1dari 150

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PERENCANAAN KEBUTUHAN BARANG MILIK DAERAH DI DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN DAN ASET DAERAH KABUPATEN

GARUT

TUGAS AKHIR Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Kelulusan Program Sarjana

Diajukan Oleh: Dwitra Gumilang (0606023)

JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI GARUT 2011

72

73

74

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Barang milik daerah merupakan semua kekayaan daerah baik yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun yang berasal dari perolehan lain yang sah baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, barang dari hibah/sumbangan atau sejenis, barang yang diperoleh sebagai pelaksana dari perjanjian atau kontrak, barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan Undang - Undang atau barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Perencanaan kebutuhan dan penentuan kebutuhan barang/aset merupakan kegiatan merumuskan suatu dasar atau pedoman dalam rincian rencana pengadaan barang/perlengkapan/aset yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan kewajiban yang di emban oleh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang bersangkutan. Mengenai perencanaan kebutuhan barang bukanlah merupakan suatu kegiatan yang berdiri sendiri, tetapi merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam pengelolaan barang milik daerah. DPPKA (Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset), merupakan salah satu dinas yang ada dipemerintahan Kabupaten Garut sebagai bagian yang memiliki tugas pokok melaksanakan kewenangan dalam mengelola keuangan serta kekayaan (aset) daerah. Bagian aset yang bertugas mengelola aset serta pengelolaan barang milik daerah, termasuk perencanaan kebutuhan barang milik daerah. Perencanaan dan penentuan kebutuhan pengadaan dan pemeliharaan aset sangat penting guna menunjang kelancaran dan keberlanjutan menyiapkan kebutuhan serta perlengkapan dalam mengemban tugas dari unit/satuan kerja perangkat daerah. Perencanaan yang baik, efektif dan efisien akan dapat menghemat pengeluaran anggaran belanja pemerintah daerah dan barang/aset

75

daerah. Pelaksanaan perencanaan kebutuhan barang perlu terkoordinasi dengan baik dengan memperhatikan standarisasi yang telah ditetapkan sesuai kondisi daerah masing-masing. Perencanaan dan penentuan kebutuhan sebaiknya diusulkan oleh pejabat paling bawah (bottom-up planning) karena pejabat paling bawah tersebut lebih mengetahui tentang pelaksanaan tugas dan perlengkapan yang mereka butuhkan serta kondisi saat ini. Usulan ini kemudian baru dikaji atau dipertimbangkan oleh pejabat di atasnya, dengan memperhatikan visi, misi, tugas dan fungsi dari Satuan Kerja Perangkat Daerah masing masing. Dalam barang/inventaris melakukan harus perencanaan pada dan penentuan alasan kebutuhan yang dapat

didasarkan

beberapa

dipertimbangkan secara logis atas beban tugas dan tanggung jawab masing masing unit sesuai anggaran yang tersedia dan dapat menjawab pertanyaan untuk keperluan apa aset/barang diperlukan. Dan dilaksanakan berdasarkan pertimbangan pertimbangan yaitu: 1) Untuk memenuhi kebutuhan barang pada masing-masing Unit/Satuan Kerja sesuai besaran organisasi/jumlah pegawai dalam satu organisasi untuk melaksanakan tugas dan pekerjaan nya; 2) Untuk mengganti barang-barang yang rusak, dihapus, dijual, hilang, mati atau sebab lain yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga memerlukan penggantian; 3) untuk memenuhi kebutuhan akan barang/inventaris guna menunjang pengembangan organisasi dan atau penambahan personil (karyawan) pada satuan kerja yang bersangkutan; 4) Untuk menjaga tingkat persediaan barang milik daerah (terutama pada barang stok habis) untuk perkiraan pemakaian pada satu tahun anggaran mendatang agar efisien dan efektif; dan 5) Pertimbangan perkembangan teknologi. Seperti pembelian komputer, scanner dan sebagainya.

76

Perencanaan untuk pemenuhan kebutuhan barang harus terinci dengan memuat banyaknya barang, nama barang, waktu dan jumlah biaya yang diperlukan. Dalam kegiatan perencanaan dan penentuan kebutuhan didasarkan atas beban tugas dan tanggung jawab masing-masing unit sesuai anggaran yang tersedia dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) barang apa yang dibutuhkan ( nama, jenis, spesifikasi, dan sebagainya ); b) dimana dibutuhkan; c) mengapa dibutuhkan; d) berapa biayanya; e) siapa yang mengurusnya dan siapa yang menggunakannya; f) berapa banyak dibutuhkan; dan g) bagaimana cara pengadaan. Perencanaan kebutuhan barang milik daerah disusun oleh masing masing unit sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKASKPD) dengan memperhatikan standarisasi sarana dan prasarana kerja pemerintah daerah dan standarisasi harga yang telah ditetapkan oleh Kepala Daerah. Dalam melakukan proses perencanaan kebutuhan barang milik daerah yang tepat dan terperinci tersebut membutuhkan koordinasi yang baik serta sesuai dengan kondisi daerah masing - masing. Akan tetapi, laporan perencanaan barang ini sering tidak sesuai dengan jadwal, sehingga diperlukan tenaga kerja tambahan. Oleh karena itu, untuk lebih meningkatkan efisiensi waktu dan mengurangi kekeliruan data dalam perencanaan kebutuhan, maka diperlukan suatu sistem perencanaan yang tepat dalam pengelolaan data perencanaan kebutuhan barang milik daerah tersebut. Seiring dengan perkembangan daerah dewasa ini mengakibatkan semakin bertambahnya kebutuhan akan pengadaan barang milik daerah, sehingga diperlukan perencanaan yang tepat, dan pembuatan laporan sesuai dengan jadwal serta dengan meminimalisir kekeliruan data. Dalam melakukan proses perencanaan barang milik daerah untuk pemenuhan kebutuhan barang harus

77

terinci dengan memuat banyaknya barang, nama barang, waktu dan jumlah biaya yang diperlukan. Dengan mempertimbangkan kualitas dan kuantitas data yang semakin besar, maka diperlukan suatu sistem yang mampu mengolah data data tersebut menjadi informasi dengan cepat (sesuai jadwal yang ditentukan), tepat dan akurat. Berdasarkan hal tersebut di atas maka penulis mengambil judul PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PERENCANAAN KEBUTUHAN BARANG MILIK DAERAH DI DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET (studi kasus di DPPKA Kabupaten Garut). 1.2 Identifikasi Masalah Pengolahan data perencanaan kebutuhan barang yang dilakukan di DPPKA Kabupaten Garut pada saat ini masih menimbulkan beberapa permasalahan. Berdasarkan pemaparan sebelumnya yang telah penyusun sampaikan, adapun permasalahan yang diidentifikasi adalah: a. Pembuatan laporan cenderung melebihi dengan jadwal yang telah ditentukan dan dalam pembuatan laporan tersebut sering kali memerlukan tenaga kerja tambahan sehingga memerlukan anggaran tambahan disertai waktu tambahan (lembur).
b. Kebutuhan barang yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun

sehingga

diperlukan

perencanaan

kebutuhan

yang

matang

serta

penganggaran yang tepat sesuai dengan kemampuan daerah, maka diperlukan system pengolahan data data yang akurat.

1.3

Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk merancang sistem informasi

perencanaan kebutuhan barang milik daerah di DPPKA Kabupaten Garut.


1.4

Batasan Masalah

78

Agar pada kajian ini tidak melebar atau keluar dari ruang lingkup masalah, maka pembahsan perlu dibatasi pada:
1. Sistem informasi yang dibuat adalah sistem yang didasarkan hanya pada

aktifitas bisnis perencanaan kebutuhan barang milik daerah di DPPKA kab. Garut.
2. Bahasa pemrograman yang digunakan adalah VisualBasic dan untuk

databasenya menggunakan MicrosoftAccess.


3. Penggunaan metode perancangan sistem informasi perencanaan kebutuhan

barang menggunakan metode Traditional (Waterfall) System Development Methodology - Sandra D. Dewitz dan hanya sampai pada tahapan simulasi 1.5 Metodologi Penelitian Adapun metodologi penelitian yang dilakukan mencakup 2 metode yaitu metode pengumpulan data dan metode perancangan perangkat lunak, diantaranya: 1.5.1 Metode Pengumpulan Data Langkah awal dalam perancangan sistem adalah masalah pengumpulan dan penganalisaan data yang berguna untuk memahami sistem yang ada dan permasalahannya. Ada beberapa macam metode pengumpulan data yang digunakan yakni :
a. Teknik Wawancara, Yaitu suatu teknik pengumpulan data yang

dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung kepada staf Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset yang ada sesuai dengan tujuan yang dilakukan.
b. Studi Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara

mempelajari beberapa dokumen,

literature,

atau file-file yang

berhubungan dengan penelitian yang dilakukan.


c. Observasi, yaitu teknik pengumpulan data yang bersifat langsung.

Dimana peneliti langsung mengamati kinerja yang ada di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset. Penelitian ini

79

dimaksudkan untuk melihat langsung segala sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang akan dibahas.
d. Studi Kepustakaan, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan

dengan cara mempelajari dan menganalisa beberapa referensi buku yang berkaitan dengan masalah-masalah yang ada dalam ruang lingkup penelitian ini.
1.5.2 Metode Pengembangan Sistem

Metodologi dan perancangan sistem terdiri dari sederetan kegiatan yang dikelompokan menjadi beberapa tahapan, yang membantu kita dalam perancangan sistem. Metodologi perancangan perangkat lunak yang akan digunakan adalah Waterfall yang dikemukakan oleh Sandra Donalson Dewitz pada tahun 1996, yaitu Traditional (Waterfall) System Development Methodology. Adapun tahapantahapan yang dilakukan yaitu :
a.

Preliminary

Investigation,

yaitu

tahap

permulaan

dan

persiapan dimana dilakukan identifikasi objek, melakukan batasan pada objek dan juga ruang lingkup objek di DPPKA Kabupaten Garut.
b.

System Analysis, yaitu tahap menganalisis dan menginvestigasi

current system untuk memahami lingkungan, komponen dan fungsi serta untuk mengidentifikasi masalah. Menganalisis konteks dan kebutuhan organisasi, mengumpulkan data maka digabungkan atau diklasifikasikan data tersebut dan di analisis dengan menggunakan beberapa pemodelan dan pemrosesan yang akan dirancang untuk sistem baru.
c.

System Design, yaitu tahap merancang sistem, dimana

dilakukan dengan pemilihan data atau peralatan perangkat lunak (Software) dan perangkat keras (Hardware) yang digunakan sebagai pendukung perancangan sistem untuk merinci program, merinci basis data dan membuat rancangan sistem baru.

80

d.

System Implementation, yaitu tahap setelah merancang

dilanjutkan dengan membuat program dengan pengimpelementasiannya menggunakan bahasa pemrograman yang telah ditentukan.
- General Problem Definition - Objectives Constraints - Feasibility

Preliminary Inves ation, tig

S m yste Analysis

- System Environment - IPOSC requirements - Chosen Solution

S m yste D sig e n
Feedback Loop

- Specifications Of PPDSH component

S m yste Im m ple entation ,

Operational System

Gambar 1.1 Traditional (Waterfall) System Development Methodology (Dewitz, 1996)

1.6.

Kerangka Pemikiran
Untuk dapat merancang Sistem Informasi Perencanaan Kebutuhan Barang

Daerah, maka terlebih dahulu melakukan analisis system. Untuk lebih memperjelas maka di gambarkan kerangka pemikiran sebagai berikut: Pihak terkait Pengelolaan barang daerah

81

Kepala Daerah

DPRD

Kabag Perlengkapan umum /DPPKAD Pembantu pengelola

dibantu

Sekda Pengelola barang

Para Kepala SKPD Pengguna Barang

Ka SKPD/Sekwan Pengguna Barang

Para Kuasa Pengguna Barang

Gambar 1.2 Pihak terkait pengelolaan barang Pada gambar diatas dapat kita lihat pihak pihak yang terkait dengan pengelolaan barang milik daerah. Kepala daerah dibantu Sekda selaku Pengelola Barang serta para Kepala SKPD selaku pengguna barang. Sekda selaku pengelola barang dibantu oleh Pembantu Pengelola/DPPKA. DPPKAD sendiri secara garis besar memiliki 2 peran dalam hal pengelolaan barang milik daerah yaitu sebagai pengguna barang/pengguna anggaran serta sebagai pembantu pengelola barang daerah.

Sistem yang berjalan

82

Mengusulkan rencana kebutuhan barang

RK BMD

Kepala Daerah

mengusulkan
Kuasa Pengguna Barang

RKP BMD

diserahkan
Pengelola Barang / Pembantu Pengelola Barang menetapkan Standar Sarana dan Prasarana menetapkan

SKPD

melakukan
Pengelola barang /Pembantu pengelola barang melakukan verifikasi dan koreksi RK BMD dan RKP BMD Verifikasi

RK BMD RKP BMD

Verifikasi harus sesuai dengan Standar sarana dan Prasarana serta Standar harga yang ditetapkan oleh kepala daerah

Standar harga

Gambar 1.3 Alur sistem perencanaan Pada gambar di atas dapat dijelaskan/ diuraikan sebagai berikut: o Pengguna barang (Satuan Kerja Perangkat Daerah/SKPD)

menyusun Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah (RK BMD) dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (RKP BMD) dengan memperhatikan: Besaran organisasi (dinas/subbag/bag) Jumlah pegawai Barang rusak Barang dihapus Barang dijual Barang hilang Barang mati Barang yang tidak sesuai dengan teknologi

o Kebutuhan barang dirinci berdasar banyak, nama, waktu dan jumlah biaya. o Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah (RK BMD) dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (RKP BMD) di koreksi dan di verifikasi oleh pengelola/pembantu pengelola dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah dan berdasarkan

83

standarisasi Sarana dan Prasarana & Standar Harga yang ditetapkan oleh Kepala Daerah.
Proses dilanjutkan dengan Pengguna Barang melakukan revisi RK BMD dan RKP BMD Berdasarkan Revisi RK BMD dan RKP BMD Pengguna barang menyusun RK SKPD

revisi
RK BMD RKP BMD

RK SKPD

dibahas Tim APBD

melakukan

Penetapan Perda APBD

Kuasa Pengguna Barang


Berdasarkan DPA SKPD Pengguna Barang Menyusun DK BMD dan DKP BMD

Setelah penetapan Perda APBD disusun DPA SKPD


DPA SKPD

DK BMD DKP BMD

Gambar 1.4 Alur sistem perencanaan lanjutan o Pengguna Barang melakukan revisi Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah (RK BMD) dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (RKP BMD) setelah melakukan revisi berdasarkan revisi RK BMD dan RKP BMD Pengguna Barang menyusun Rencana Kebutuhan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA SKPD). o Rencana Kebutuhan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA SKPD) selanjutnya dibahas oleh Tim Anggaran Belanja Pemerintah Daerah (Tim ABPD). o Setelah menetapkan Perda APBD, Tim APBD mensahkan (Draft Perencanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah) DPA SKPD. Berdasarkan DPA SKPD pengguna barang menyusun Daftar Kebutuhan Barang Milik Daerah (DK BMD) dan Daftar Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (DKP BMD).

84

o Draf kebutuhan barang daerah tersebut dijadikan pedoman dalam pelaksanaan pengadaan dan pemeliharaan barang milik daerah Maka keseluruhan alur perencanaan dapat digambarkan seperti gambar dibawah ini:

Mengusulkan rencana kebutuhan barang mengusulkan

RK BMD RKP BMD

Kepala Daerah

diserahkan

2 menetapkan

Kuasa Pengguna Barang

SKPD
Pengelola barang /Pembantu pengelola barang melakukan verifikasi dan koreksi RK BMD dan RKP BMD

Pengelola Barang / Pembantu Pengelola Barang melakukan

Standar Sarana dan Prasarana menetapkan

RK BMD RKP BMD

Verifikasi Verifikasi harus sesuai dengan Standar sarana dan Prasarana serta Standar harga yang ditetapkan oleh kepala daerah

Pengguna Barang melakukan revisi RK BMD dan RKP BMD

Standar harga

revisi
RK BMD RKP BMD

Berdasarkan revisi RK BMD dan RKP BMD Pengguna Barang menyusun RK SKPD
RK SKPD

dibahas

Penetapan Perda APBD

Tim APBD
Berdasarkan DPA SKPD Pengguna Barang Menyusun DK BMD dan DKP BMD
6 DK BMD DKP BMD

Setelah penetapan Perda APBD disusun DPA SKPD


DPA SKPD

Gambar 1.5 Alur system berjalan keseluruhan Pada proses perencanaan di atas dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Pengguna barang /SKPD menyusun RK BMD dan RKP BMD. 2. RK BMD dan RKP BMD selanjutnya dikoreksi dan di verifikasi oleh pengelola/pembantu Standar Harga. 3. Pengguna Barang melakukan revisi RK BMD dan RKP BMD. Kemudian berdasarkan revisi RK BMD dan RKP BMD Pengguna Barang menyusun pengelola dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah dan berdasarkan standarisasi Sarana dan Prasarana &

85

RKA SKPD. Revisi RK BMD dan RKP BMD itu sebagai bahan penyusunan RKA SKPD. 4. RKA SKPD selanjutnya dibahas oleh Tim Anggaran Belanja Pemerintah Daerah.
5. Setelah menetapkan Peraturan Daerah APBD, Tim APBD mensahkan

DPA SKPD. 6. Berdasarkan DPA SKPD pengguna barang menyusun DK BMD dan DKP BMD. Analisis sistem berjalan Proses pengumpulan data dan verifikasi yang sesuai ketetapan memerlukan waktu yang lama. Diperlukan keakuratan dalam mengolah data data dalam system perencanaan kebutuhan barang daerah.

Sistem yang akan di rancang

86

Mengusulkan rencana kebutuhan barang

mengusulkan Kuasa Pengguna Barang SKPD

RK BMD

diserahkan
Pengelola Barang / Pembantu Pengelola Barang

Dihasilkan RK BMD dan RKP BMD yang telah di koreksi dan diverifikasi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan

Melakukan input data , mengolah data dan mengoreksi serta melakukan verifikasi sesuai dengan standar sarana dan prasarana serta standar harga yang ditetapkan oleh kepala daerah

RK BMD

Gambar 1.6 Alur requirement sistem perencanaan Pada proses di atas menggambarkan alur system perencanaan yang akan di usulkan dan di bangun. o Pengguna barang (Satuan Kerja Perangkat Daerah/SKPD) hanya menyusun Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah (RK BMD. o Kemudian diserahkan kepada Pengelola Barang/Pembantu Pengelola Barang. o Pengelola Barang/Pembantu Pengelola Barang melakukan input data, mengolah data dan mengoreksi serta melakukan verifikasi RK BMD sesuai dengan standar sarana dam prasarana serta standar harga yang telah di tetapkan oleh kepala daerah o Kemudian dihasilkan RK BMD yang telah dikoreksi dan diverifikasi.

87

Proses dilanjutkan dengan Pengguna Barang melakukan revisi RK BMD

revisi
RK BMD

Berdasarkan revisi RK BMD Pengguna barang menyusun RK SKPD

RK SKPD

dibahas

Kuasa Pengguna Barang

Setelah penetapan Perda APBD disusun DPA SKPD


DPA SKPD

Tim APBD
melakukan

Setelah ditetapkan perda APBD berdasarkan DPA SKPD pengguna barang mengedit dan mengolah revisi RK BMD untuk menyusun DK BMD

Penetapan Perda APBD

dihasilkan

DK BMD

Gambar 1.7 Alur requirement system perencanaan lanjutan o Pengguna Barang melakukan revisi RK BMD. o Berdasarkan revisi RK BMD Pengguna barang menyusun RK SKPD (Rencana Kerja Satuan kerja Perangkat Daerah) yang selanjutnya dibahas oleh Tim APBD. o Tim APBD melakukan Penetapan Peraturan Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
o

Setelah menetapkan Peraturan Daerah APBD, Tim APBD

mensahkan (Draft Perencanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah) DPA SKPD. o Selanjutnya setelah ditetapkan Perda APBD, berdasarkan DPA SKPD pengguna barang mengedit dan mengolah revisi RK BMD untuk menyusun DK BMD. Maka keseluruhan alur sistem perencanaan yang akan dibangun dapat digambarkan seperti gambar dibawah ini:

88

Mengusulkan rencana kebutuhan barang

mengusulkan
Kuasa Pengguna Barang

RK BMD

diserahkan
Pengelola Barang / Pembantu Pengelola Barang Melakukan input data , mengolah data dan mengoreksi Serta melakukan verifikasi sesuai dengan standar sarana dan prasarana serta standar harga yang ditetapkan oleh kepala daerah

SKPD
Dihasilkan RK BMD yang telah dikoreksi dan diverifikasi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan
RK BMD

menghasilkan
3

Pengguna Barang melakukan revisi RK BMD


4

revisi
RK BMD

Berdasarkan revisi RK BMD pengguna barang menyusun RK SKPD

RK SKPD

dibahas

Setelah penetapan Perda APBD disusun DPA SKPD


DPA SKPD

Tim APBD
melakukan
6

Setelah ditetapkan perda APBD berdasarkan DPA SKPD pengguna barang mengedit dan mengolah revisi RK BMD untuk menyusun DK BMD

Penetapan Perda APBD

DK BMD 8

Gambar 1.8 Alur keseluruhan requirement system Pada proses system perencanaan yang akan dibangun di atas dapat diuraikan sebagai berikut: 1. 2. Pengguna barang /SKPD menyusun RK BMD. Kemudian diserahkan kepada Pengelola Barang/Pembantu

Pengelola Barang. 3. Pengelola Barang/Pembantu Pengelola Barang melakukan input

data, mengolah data dan mengoreksi serta melakukan verifikasi RK BMD sesuai dengan standar sarana dam prasarana serta standar harga yang telah di tetapkan oleh kepala daerah. 4. Pengguna Barang melakukan revisi RK BMD.

89

5. 6.
7.

Berdasarkan revisi RK BMD Pengguna barang menyusun RK Tim APBD melakukan Penetapan Perda APBD Setelah melakukan Perda APBD, Tim APBD mensahkan DPA

SKPD yang selanjutnya akan dibahas oleh Tim APBD.

SKPD. 8. Selanjutnya setelah ditetapkan Perda APBD, berdasarkan DPA

SKPD pengguna barang mengedit dan mengolah revisi RK BMD untuk menyusun DK BMD. 1.7 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan dari Tugas Akhir ini dibagi menjadi 5 bab yang masing-masing bab telah dirancang dengan satu tujuan tertentu. Tujuan dari sistematika penulisan ini yakni untuk menghasilkan laporan tugas akhir yang mudah dimengerti. Berikut penjelasan tentang masing-masing bab : BAB I PENDAHULUAN Menjelaskan dan menguraikan mengenai fakta-fakta yang diperoleh dari hasil penelitian, serta menentukan sasaran yang ingin dicapai dari hasil penelitian, yang disajikan dalam bentuk latar belakang, identifikasi masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, kerangka pikiran, metodologi penelitian yang digunakan, serta sistematika penulisan. BAB II LANDASAN TEORI Bab ini akan menjelaskan teori-teori yang relevan dan digunakan sebagai dasar acuan pembahasan yang berhubungan dengan masalah penelitian. BAB III PRELIMINARY INVESTIGATION Bab ini menjelaskan tentang tahap persiapan dimana pada tahapan ini dilakukan survey ke lapangan (lokasi) dilakukannya penelitian dengan tujuan untuk mengidentifikasi hal-hal yang berkaitan

90

dengan system yang akan dikembangkan. Pada tahapan ini terdapat beberapa tahapan yaitu sasaran system, batasan system, ruang lingkup system dan ruang lingkup dokumen BAB IV ANALISIS PROSES BISNIS Pada bab ini akan dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan tahap analisis sistem yang mengacu pada metode waterfall yang dikemukakan oleh Sandra Donaldson Dewitz. BAB V PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini menjelaskan tentang Perancangan System (System Design) yang dikemukakan oleh Sandra Donaldson Dewitz, (1996). Tahap ini merupakan tahapan yang berkaitan dengan rancangan umum sistem dan rancangan rinci sistem yang akan dirancang pemrosesan. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Berisikan kesimpulan yang di dapat dalam pengembangan system dan pembahasan sebelumnya serta saran untuk perbaikan system sehingga lebih baik. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN dengan menggunakan beberapa pemodelan dan

91

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Dasar Data dan Informasi 2.1.1. Data Data merupakan bahan utama dari pekerjaan manajemen sistem informasi, tanpa adanya data maka pekerjaan informasi tidak akan pernah ada. Data dapat didefinisikan sebagai berikut: Definisi data adalah data merupakan kenyataan yang menggambarkan suatu kejadiankejadian dan kesatuan nyata. Kesatuan nyata (fact and entity) adalah berupa suatu objek nyata seperti tempat, benda dan orang yang betul betul ada dan terjadi, (Ladjamudin, 2005) Data adalah fakta yang sudah ditulis dalam bentuk catatan atau direkam ke dalam berbagai bentuk media, (Amsyah, 2005). Data adalah kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan nyata, (Jogiyanto, 1999). Dari pengertian pengertian di atas dengan kata lain, data merupakan keterangan atau bukti mengenai suatu kenyataan yang masih mentah, masih berdiri sendiri, belum diorganisasikan dan belum diolah. Berikut ini adalah gambar fakta yang direkam atau ditulis menjadi data:

Fakta Kegiatan: Pelaporan Komunikasi Transaksi Perjanjian Dsb.

Data

Arsip Otentik

Komputer

Informasi

92

direkam / dicatat disimpan diproses keluaran Gambar 2.1 Hubungan Fakta, Data, Arsip dan Informasi, (Amsyah, 2005). 2.1.2. Jenis Jenis Data Dikatakan bahwa data adalah fakta-fakta kegiatan organisasi dengan unitunitnya. Untuk keperluan penulisan data di kertas atau kartu dan pemasukan data ke komputer, maka menurut Amsyah (2005) data dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1. Data statis Data statis adalah jenis data yang umumnya tidak berubah atau jarang berubah, misalnya identitas nama (orang, organisasi, atau tempat), kode-kode nomor ataupun alamat. 2. Data dinamis Data dinamis adalah jenis data yang selalu berubah baik dalam frekuensi waktu yang singkat atau agak lama dan lain-lain. Data tersebut sering dikatakan sebagai peremajaan data. Data tersebut misalnya, data tabungan, data gaji, data nilai mahasiswa, dan sebagainya. Berdasarkan sifatnya, data menurut Amsyah (2005) dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu: 1. Data kuantitatif disimpan

93

Data kuantitatif adalah data dengan hitungan bilangan. Misalnya 5 ekor, Rp.1000, satu juta, dan sebagainya. 2. Data kualitatif Data kualitatif adalah data yang tidak dihitung dengan hitungan bilangan, tetapi diukur dngan kata-kata bernilai. Misalnya banyak, sedikit, kecil, rendah, dan sebagainya. 2.1.3. Sumber Data Berdasarkan 1. sumbernya, data menurut Amsyah (2005) dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: Data internal Data internal adalah data yang berasal dari dalam organisasi itu sendiri, yaitu oraganisasi pusat dan cabang-cabangnya. 2. Data eksternal Data eksternal adalah data yang berasal dari sumber-sumber yang berada di luar organisasi itu sendiri. Berdasarkan isinya maka baik data internal maupun data eksternal dapat dibagi menjadi empat kelompok. DATA INTERNAL EKSTERNAL

Data Kegiatan

Data Penelitian

Gambar 2.2 Pengelompokkan data (Amsyah, 2005). 1. Data kegiatan Setiap organisasi mempunyai kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan baik oleh perorangan maupun unit-unit kerja yang terdapat dalam organisasi bersangkutan. Kegiatan-kegiatan itu perlu direkam, untuk dipergunakan sebagai bahan pengingat, bukti, pengambil keputusan, laporan, informasi, penelitian, perencanaan, penilaian, pengawasan, dan lain-lain.

Data Lingkunga n

Data Peraturan

94

2. Data Hasil penelitian Hasil penelitian merupakan data yang penting bagi organisasi. Hasil penelitian cenderung disebut data, karena untuk dapat digunakan lebih lanjut oleh unitunit (fungsi) organisasi secara spesifik masih harus diubah terlebih dahulu bentuknya sesuai dengan keperluan. 3. Data lingkungan Data penting untuk keperluan pekerjaan manajer dalam membuat keputusan dan mengerjakan fungsi-fungsi manajemen lainnya seperti perencanaan, penganggaran, pengawasan, evaluasi atau lain-lainnya, adalah data lingkungan. Pengertian data lingkungan ini sangat luas, yaitu mengenai semua bidang yang berkaitan dengan kegiatan organisasi dan yang dapat mempengaruhi kegiatan organisasi. Data tersebut banyak terdapat pada media cetak seperti buku, buku referensi, majalah, koran, dan lain-lain. 4. Data peraturan Data penting lainnya yang sangat berguna sebagai alat bantu dalam pekerjaan manajemen dan pekerjaan operasional adalah bahan-bahan peraturan. 2.1.4. Definisi Informasi Sumber informasi adalah data. Informasi merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan di dalam suatu organisasi ataupun instansi berdasarkan kebutuhan manajemen masing-masing. Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya, (Jogiyanto, 1999). Informasi adalah data yang sudah diolah, dibentuk, atau dimanipulasi sesuai dengan keperluan tertentu, (Amsyah, 2005). Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa informasi adalah data yang seteleh diolah atau diproses, menghasilkan informasi yang memiliki nilai dan lebih bermanfaat bagi penggunanya.
2.1.5 Siklus Informasi

95

Data merupakan bentuk yang masih mentah yang belum dapat bercerita banyak, sehingga perlu diolah lebih lanjut. Data diolah melalui suatu model untuk menghasilkan informasi dengan menggunakan suatu model tertentu.

Proses( Model )

Input ( Data ) Dasar Data Data (Ditangkap)

Output (Information)

Penerima

Hasil Tindakan

Keputusan Tindakan

Gambar 2.3 Siklus Informasi, (Jogiyanto, 1999). Data yang diolah melalui suatu model menjadi informasi, penerima kemudian menerima informasi tersebut, membuat suatu keputusan dan melakukan tindakan, yang berarti menghasilkan suatu tindakan yang lain yang akan membuat sejumlah data kembali. Data tersebut akan ditangkap sebagai input, diproses kembali lewat suatu model dan seterusnya membentuk suatu siklus.
2.1.6 Kualitas Informasi

Kualitas dari suatu informasi (quality of information) tergantung dari tiga hal, yaitu:
1. 2. 3.

Informasi harus akurat (accurate) Tepat pada waktunya (timeliness) Relevan (relevance)

Dibawah ini adalah gambaran kualitas dari informasi dengan bentuk bangunan yang ditunjang oleh tiga buah pilar:

96

Kualitas Informasi
T E P A T W A K T U

A K U R A T

R E L E V A N

Gambar 2.4 Pilar kualitas informasi (Jogiyanto, 1999). Akurat, berarti informasi harus bebas dari kesalahan - kesalahan dan tidak bisa atau menyesatkan. Akurat juga berarti informasi harus jelas mencerminkan maksudnya. Informasi harus akurat karena dari sumber informasi sampai ke penerima informasi kemungkinan banyak terjadi gangguan (noise) yang dapat merubah atau merusak informasi tersebut. Sehingga mendukung pihak manajemen dalam mengambil keputusan. Tepat waktu, berarti informasi yang datang pada penerima tidak boleh terlambat. Informasi yang sudah usang tidak akan mempunyai nilai lagi. Karena informasi merupakan Relevan, lainnya berbeda. 2.1.7 Nilai informasi berarti landasan informasi di dalam pengambilan tersebut mempunyai keputusan. manfaat Bila untuk pengambilan keputusan terlambat, maka dapat berakibat fatal. pemakaiannya. Relevansi informasi untuk tiap-tiap orang satu dengan yang

97

Nilai dari informasi (value of information) ditentukan dari dua hal, yaitu manfaat dan biaya mendapatkannya. Suatu informasi dikatakan bernilai bila manfaatnya bisa lebih efektif dibandingkan dengan biaya mendapatkannya. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa informasi yang digunakan di dalam suatu sistem informasi umumnya digunakan untuk beberapa kegunaan. Sehingga tidak memungkinkan dan sulit untuk menghubungkan suatu bagian informasi pada suatu masalah yang tertentu dengan biaya untuk memperolehnya, karena sebagian besar informasi dinikmati tidak hanya satu pihak. Pengukuran informasi biasanya dihubungkan dengan analisis cost effectiveness atau cost benefit. 2.1.8 Pengolahan Data

Pengolahan data adalah masa atau waktu yang digunakan untuk mendeskripsikan perubahan bentuk data menjadi informasi yang memiliki kegunaan. (Ladjamudin, 2005). Ada beberapa operasi yang dilakukan dalam pengolahan data, antara lain sebagai berikut:
-

Data masukan, kumpulan data transaksi ke sebuah pengolahan data medium. Contohnya: pengkodean data transaksi kedalam bentuk lain (contoh, converting atribut female ke huruf F), dan penyortiran data atau informasi untuk pengambilan keputusan.

Data Transformasi, kalkulasi operasi aritmatik terhadap data field, menyimpulkan proses akumulasi beberapa data, melakukan klasifikasi terhadap data grup- grup tertentu, seperti pengelompokan data kedalam grup berdasarkan karakteristik tertentu, misalkan pengelompokan data mahasiswa berdasarkan semester aktif, Sorting (pengurutan) data ke dalam bentuk yang berurutan, misalkan pengelompokan NIM secara ascending, Merging (penggabungan) untuk dua atau lebih set data berdasarkan criteria tertentu, Matching (menyesuaikan) data berdasarkan keinginan pengguna terhadap grup data.

Informasi keluaran, menampilkan hasil merupakan kegiatan untuk menampilkan informasi yang dibutuhkan pemakai melalui monitor atau

98

cetakan, sedangkan reproducing (memproduksi ulang) merupakan kegiatan penyimpanan data yang digunakan untuk pemakai lain yang membutuhkan. Telecommunicating (telekomunikasi) adalah kegiatan penyimpanan data secara electronic melalui saluran komunikasi. 2.2 2.2.1 Konsep Dasar Sistem Informasi

Definisi Sistem Informasi


Berikut ini definisi sistem Informasi: Definisi sistem informasi menurut Jogianto Sistem Informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan, (Jogiyanto, 1999). Definisi Sistem Informasi Menurut Dewitz: Information system: a system that accepts data from its environment (Input) and manipulate the data (processing) to produce information (output). (Dewitz,1996). Definisi sistem informasi menurut Dewitz adalah sistem yang

menerima data dari lingkungannya (input) dan memanipulasi data tersebut (memproses) sehingga menghasilkan informasi (output)

Maka, sistem informasi merupakan suatu sistem yang saling barkaitan dan berintegrasi satu sama lain dan bertujuan untuk menyediakan informasi untuk mendukung operasi, manajemen dan fungsi pengambilan keputusan dalam suatu organisasi. 2.2.2 Komponen Sistem Informasi Dalam sebuah sistem informasi terdapat komponen-komponen yang berfungsi sebagai pendukung, komponen-komponen tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Manusia, seperti operator, pemimpin sistem informasi dan sebagainya.

99

2.

Hardware (Perangkat Keras), terdiri dari komputer, peralatan penyimpanan data, peralatan input dan output, peralatan komunikasi data, periferal dan jaringan.

3.

Software (Perangkat Lunak), merupakan kumpulan perintah/fungsi yang ditulis dengan aturan tertentu untuk memerintahkan komputer melaksanakan tugas tertentu.

4.

Data, merupakan komponen dasar dari informasi yang akan diproses lebih lanjut untuk menghasilkan informasi. Himpunan data akan memiliki sifat unik, yaitu saling berkaitan (interrelated); datadata tersebut akan saling berkaitan/terintegrasi dan tersimpan secara terorganisir di dalam suatu media penyimpanan. Kebersamaan (shared); data yang terintegrasi tersebut dapat di akses oleh berbagai macam pengguna/orang tetapi hanya satu yang dapat merubahnya (DBA) yaitu Database Administrator

5.

Prosedur, seperti dokumentasi prosedur/proses sistem, buku penuntun operasional (aplikasi) dan teknis. Kegiatan Sistem Informasi Kegiatan di Sistem Informasi mencakup: Input, menggambarkan suatu kegiatan untuk menyediakan data untuk diproses. Proses, menggambarkan bagaimana suatu data di proses untuk menghasilkan suatu informasi yang bernilai tambah. Output, suatu kegiatan untuk menghasilkan laporan dari proses diatas tersebut. 4. Penyimpanan, suatu kegiatan untuk memelihara dan menyimpan data.

.3 1. 2. 3.

100

5.

Kontrol, ialah suatu aktivitas untuk menjamin bahwa sistem informasi tersebut berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 2.3 Peraturan dan Tata Cara Pengelolaan Barang Milik Daerah

PERATURAN BUPATI GARUT TENTANG PEDOMAN TEKNIS PELAKSANAAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH

I. UMUM 1. Latar Belakang Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undangundang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 ahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Khususnya dibidang pengelolaan barang milik daerah sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 152 Tahun 2004 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Daerah, perlu disempurnakan.Barang milik daerah sebagai salah satu unsur penting dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan masyarakat harus dikelola dengan baik dan benar, yang pada gilirannya dapat mewujudkan pengelolaan barang milik daerah dengan memperhatikan azas-azas sebagai berikut:

101

a. Azas fungsional, yaitu pengambilan keputusan dan pemecahan masalah dibidang pengelolaan barang milik daerah yang dilaksanakan oleh kuasa pengguna barang, pengguna barang, pengelola barang dan Kepala Daerah sesuai fungsi, wewenangdan tanggungjawab masing-masing; b. Azas kepastian hukum, yaitu pengelolaan barang milik daerah harus dilaksanakan berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan; c. Azas transparansi, yaitu penyelenggaraan pengelolaan barangmilik daerah harus transparan terhadap hak masyarakat dalam memperoleh informasi yang benar; d. Azas efisiensi, yaitu pengelolaan barang milik daerah diarahkan agar barang milik daerah digunakan sesuai batasan-batasan standar kebutuhan yang diperlukan dalam rangka menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pemerintahan secara optimal; e. Azas akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan pengelolaan barang milik daerah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat; f. Azas kepastian nilai, yaitu pengelolaan barang milik daerah harus didukung oleh adanya ketepatan jumlah dan nilai barang dalam rangka optimalisasi pemanfaatan dan pemindahtanganan barang milik daerah serta penyusunan neraca Pemerintah Daerah. 2. Maksud dan Tujuan Maksud penyusunan pedoman teknis ini ialah menyeragamkan langkah dan tindakan yang diperlukan dalam pengelolaan barang daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Tujuan daripada pedoman teknis ini adalah sebagai pedoman pelaksanaan bagi pejabat/aparat pengelola barang milik daerah secara menyeluruh sehingga dapat dipakai sebagai acuan oleh semua pihak dalam rangka melaksanakan tertib administrasi pengelolaan barang milik daerah.

102

3. Landasan Pengelolaan Barang Milik Daerah a. Pengertian barang milik daerah. Barang milik daerah adalah semua kekayaan daerah baik yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah maupun yang berasal dari perolehan lain yang sah baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak beserta bagian-bagiannya ataupun yang merupakan satuan tertentu yang dapat dinilai, dihitung, diukur atau ditimbang termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan kecuali uang dan surat-surat berharga lainnya. b. Landasan pengelolaan barang milik daerah. Barang milik daerah sebagaimana tersebut di atas, terdiri dari: 1) barang yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah yang penggunaannya/ pemakaiannya berada pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)/Instansi/lembaga Pemerintah Daerah lainnya sesuai ketentuan peraturan perundangundangan; 2) barang yang dimiliki oleh Perusahaan Daerah atau Badan Usaha Milik Daerah lainnya yang status barangnya dipisahkan. Barang milik daerah yang dipisahkan adalah barang daerah yang pengelolaannya berada pada Perusahaan Daerah atau Badan Usaha Milik Daerah lainnya yang anggarannya dibebankan pada anggaran Perusahaan Daerah atau Badan Usaha Milik Daerah lainnya. Dasar hukum pengelolaan barang milik daerah, antara lain adalah: 1) Undang - undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok - pokok Agraria; 2) Undang - undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

103

3) Undang - undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah; 4) Undang - undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; 5) Undang - undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara; 6) Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 1971 tentang Penjualan Kendaraan Perorangan Dinas; 7) Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1994 Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2005 tentang Penjualan Rumah Negara; 8) Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai atas Tanah; 9) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan; 10) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; 11) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah; 12) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2006 tentang Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemerintahan Daerah; 13) Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Kepentingan Umum sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2005; 14) Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 49 Tahun 2001 tentang Sistem Informasi Manajemen Barang Daerah;

104

15) Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2002 tentang Nomor Kode Lokasi dan Nomor Kode Barang Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota; 16) Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pedoman Penilaian Barang Daerah; 17) Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 153 Tahun 2004 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Daerah Yang Dipisahkan; dan 18) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pegelolaan Keuangan Daerah

4. Siklus Pengelolaan Barang Milik Daerah Siklus pengelolaan barang milik daerah merupakan rangkaian kegiatan dan/atau tindakan yang meliputi: a) perencanaan kebutuhan dan penganggaran; b) pengadaan; c) penerimaan, penyimpanan dan penyaluran; d) penggunaan; e) penatausahaan; f) pemanfaatan; g) pengamanan dan pemeliharaan; h) penilaian; i) penghapusan; j) pemindahtanganan;

105

k) pembinaan, pengawasan dan pengendalian; I) pembiayaan; m) tuntutan ganti rugi.

5.

Sistematika Penyusunan Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik

Daerah Sesuai dengan maksud dan tujuan penyusunan Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah ini, maka dalam penyusunannya digunakan sistimatika sebagai berikut: a. Umum Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang, maksud dan tujuan, landasan dan siklus pengelolaan barang milik daerah. b. Pejabat Pengelola Barang Milik Daerah Dalam bab ini menetapkan tugas dan fungsi Kepala Daerah sebagai pemegang kekuasaan, Sekretaris Daerah selaku pengelola barang, dan Kepala SKPD selaku pengguna barang/kuasa pengguna barang yang berwenang dan bertanggung jawab atas pengelolaan barang. c. Perencanaan Kebutuhan Dan Penganggaran Dalam bab ini mengatur mengenai rencana kebutuhan barang, rencana pemeliharaan barang, standarisasi sarana dan prasarana kerja Pemerintahan Daerah dan standarisasi harga. d. Pengadaan Dalam Bab ini mengatur mengenai pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (AP BD)

106

dan penerimaan barang yang berasal dari sumbangan dan/atau kewajiban dari pihak ketiga.

e. Penerimaan, Penyimpanan dan Penyaluran Dalam bab ini mengatur mengenai penerimaan, penyimpanan dan penyaluran, tugas dan tanggung jawab penyimpan barang serta administrasi penyimpanan barang. f. Penggunaan Dalam Bab ini mengatur mengenai status penggunaan barang milik daerah baik untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah maupun dioperasikan oleh pihak lain dalam rangka menjalankan pelayanan umum sesuai tugas pokok dan fungsi g. Penatausahaan Dalam Bab ini mengatur mengenai kewajiban dan tanggungjawab Pengelola dan Kepala SKPD sebagai Pengguna dalam pelaksanaan pendaftaran, pencatatan, pembukuan, inventarisasi dengan cara sensus barang daerah, cara pembuatan Buku Inventaris dan Buku Induk Inventaris dan pembuatan Kartu Inventaris Ruangan dan Kartu Inventaris Barang serta sistem pelaporan. h. Pemanfaatan Dalam Bab ini mengatur mengenai pemanfaatan barang daerah melalui pinjam pakai, penyewaan, kerjasama pemanfaatan, bangun guna serah dan bangun serah guna. i. Pengamanan Dan Pemeliharaan

107

Dalam Bab ini mengatur mengenai pengamanan dan pemeliharaan barang milik daerah meliputi pengamanan administrasi, fisik dan hukum serta tertib administrasi pemeliharaan barang. j. Penilaian Dalam Bab ini mengatur mengenai penilaian barang milik daerah baik dilakukan oleh Tim maupun oleh lembaga independent bersertifikat dibidang penilaian aset. k. Penghapusan Dalam Bab ini mengatur mengenai penghapusan dari daftar barang pengguna dan kuasa pengguna barang serta dari daftar barang milik daerah. I. Pemindahtanganan Dalam Bab ini mengatur mengenai pemindahtanganan sebagai tindak lanjut penghapusan meliputi penjualan, tukar menukar, hibah dan penyertaan modal. m. Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian Dalam Bab ini mengatur mengenai pembinaan, pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan barang milik daerah. n. Pembiayaan Dalam Bab ini mengatur mengenai biaya pelaksanaan pengelolaan barang milik daerah dan tunjangan/insentif untuk penyimpan/pengurus barang. o. Tuntutan Ganti Rugi Dalam Bab ini diuraikan mengenai penyelesaian kerugian daerah melalui Majelis Pertimbangan Tuntutan Ganti Rugi.

108

2.4 2.4.1

Traditional (Waterfall) System Development Methodology Pengertian Waterfall Methodology Traditional (Waterfall) System Development Methodology merupakan

sebuah metode pengembangan sistem dimana antara satu fase ke fase yang lain dilakukan secara berurutan. Karakteristik dari model waterfall ini meliputi beberapa bagian, yaitu :

Aktivitas mengalir dari satu fase ke fase lainnya secara berurutan. Setiap fase dikerjakan terlebih dahulu sampai selesai, jika sudah selesai baru mulai menuju fase berikutnya.

2.4.2

Kelebihan dan Kelemahan Waterfall Methodology Keuntungan menggunakan metodologi ini system requirement harus

didefinisikan lebih mendalam sebelum proses coding dilakukan. Disamping itu metodologi ini memungkinkan sesedikit mungkin perubahan dilakukan pada saat proyek berlangsung. Namun, metodologi ini juga mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya desain harus komplit sebelum programming dimulai, serta jika terjadi fase yang terlewati, maka biaya yang akan ditimbulkan akan lumayan besar. 2.4.3 Tahapan Metodologi Waterfall Metodologi dan perancangan sistem terdiri dari sederetan kegiatan yang dikelompokan menjadi beberapa tahapan yang membantu kita dalam perancangan sistem. Metodologi perancangan perangkat lunak yang akan digunakan adalah Waterfall. Pengembangan perangkat lunak dengan metode waterfall dilakukan bertahap dari tahap awal ke tahap berikutnya. Untuk validasi dan verifikasi pola aliran dapat dibalik,dari suatu tahap ke tahap yang lebih awal. Pada penelitian kali ini peneliti mengacu pada metodologi waterfall yang dikemukakan oleh Sandra Donaldson Dewitz pada tahun 1996, yaitu Traditional (Waterfall) System

109

Development

Methodology.

Adapun

tahap-tahap

yang

dilakukan

dalam

metodologi waterfall ditunjukan pada gambar dibawah ini :

Preliminary Inves ation, tig

- General Problem Definition - Objectives Constraints - Feasibility

S m yste Analysis

- System Environment - IPOSC requirements - Chosen Solution

S m yste D sig e n
Feedback Loop

- Specifications Of PPDSH component

S m yste Im m ple entation ,

Operational System

Gambar 2.5 Traditional (Waterfall) System Development Methodology (Dewitz, 1996) Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
e. Preliminary Investigation (Pemeriksaan Pendahuluan):

Preliminary Investigation merupakan tahap persiapan, dimana pada tahapan ini dilakukan survey ke lapangan atau lokasi dilakukannya penelitian dengan tujuan untuk mengidentifikasi hal-hal yang berkaitan dengan system yang akan dikembangkan. Kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan ditahap ini adalah sebagai berikut: i. lingkup a. Mengidentifikasi hasil sasaran adalah memperbaiki kelemahankelemahan serta permasalahan-permasalahan yang timbul pada system yang berjalan. b. Identifikasi batasan adalah untuk membatasi pada hal yang sedang berjalan di current system saja. c. Identifikasi ruang lingkup adalah untuk mengetahui sejauh mana ruang lingkup yang akan kita analisa dan kembangkan sistemnya. ii. Dokumen hasil sasaran, batasan dan lingkup Mengidentifikasi hasil sasaran, batasan, dan ruang

110

Proses ini adalah untuk mengetahui dokumen-dokumen mana saja yang sedang bermasalah di current system
iii.

Mendapatkan persetujuan untuk mulai menganalisis system. (Dewitz, 1996). System Analysis (menganalisis system): Menganalisis konteks organisasi dan kebutuhannya. Proses untuk mengetahui kebutuhan secara umum dari organisasi. Menganalisis konteks fungsi area dan kebutuhannya. Proses ini untuk mengetahui secara detail kebutuhan dari sebagian atau seluruh organisasi yang akan kita analisis sistemnya.

f.

i. ii.

iii.

Menganalisis system yang ada (current system). a. analisis fisik yaitu orang, prosedur, data, software dan hardware (People, Procedure, Data, Software, Hardware/PPSDH). Merupakan gambaran system yang sedang berjalan yang menunjukan bagaimana tugas dilaksanakan secara fisik. Yang dianalisis adalah: people, yaitu siapa yang mengerjakan tugas tersebut procedure, yaitu procedure apa saja yang dikerjakan data, yaitu dokumen apa saja yang digunakan untuk melaksanakan procedure tersebut. software, yaitu perangkat lunak apa yang digunakan untuk melaksanakan prosedur tersebut. hardware, yaitu perangkat keras apa yang digunakan untuk melaksanakan prosedur tersebut. b. analisis logika yaitu masukan, proses, keluaran, penyimpanan, dan control (Input Processing Output Storage Control/IPOSC). Analisis logis merupakan gambaran proses apa pada system yang berjalan. Yang di analisis adalah:

people.

111

input,

yaitu

semua

masukan

system

yang

menunjukan proses input biasanya berupa dokumendokumen.


-

Process, yaitu proses pengolahan terhadap input Output, yaitu keluaran dari pengolahan input oleh Storage, yaitu tempat penyimpanan dokumen data Control, yaitu orang atau organisasi yang

sesuai dengan proses yang akan dijalankan.


-

proses. Output biasanya berupa informasi atau dokumen


-

keluaran
-

mengawasi jalannya proses. iv. Menentukan fungsi system baru a. kebutuhan Input Processing Output Storage Control (IPOSC) untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan Input Processing, Output, Storage, Control. Proses digmabarkan seperti pada table berikut b. karakteristik pengguna (user). c. Antarmuka/menghubungkan dengan system lain.
v.

Kebutuhan dokumen dan mendapatkan persetujuan pengguna untuk memulai desain system. (Dewitz, 1996). System Design (Sistem Perancangan) Desain secara umum : i. Menetapkan perancangan logis (IPOSC) Proses ini menggunakan pemodelan untuk menggambarkan aliran dokumen dan aliran data yang terjadi dalam system yang baru. Seperti menggunakan flowmap dan Data Flow Diagram (DFD) ii. iii. ii. Pemilihan solusi Memilih solusi atau proyek (merancang) Desain secara terperinci: 1. Menetapkan perancangan fisik (PPSDH)

g.

i.

112

perancangan user interface Proses ini untuk merancang tampilan yang akan digunakan dalam system baru.

perancangan basis data Proses ini digunakan untuk merancang basis data untuk menentukan (ERD) entitas dan hubungannya dengan menggunakan pemodelan Entity Relationship Diagram

perancangan atau memperoleh perangkat lunak merundingkan kontrak perangkat keras perancangan latihan

2. Spesifikasi dokumen dan persetujuan pemakai. (Dewitz, 1996).


h.

System Implementation (Implementasi Sistem) Membangun komponen Menulis system manual Pelatihan user Membangun basis data Kode perangkat lunak Siapkan fasilitas untuk perangkat keras Melakukan pengujian unit Melakukan pengujian system.

i.

ii. iii. iv.

2.5

Alat Bantu atau Tools Analisis dan Desain Sistem Untuk mendapatkan langkah-langkah yang sesuai dengan metodologi sistem yang terstruktur, maka dibutuhkan alat untuk

pengembangan

113

melaksanakannya. Alat-alat yang digunakan merupakan alat untuk membantu dalam peningkatan hasil dari pengembangan sistem yang akan didokumentasikan, baik yang digunakan secara manual maupun secara terkomputerisasi.
2.5.1 Flow Map / bagan Alir

Flow map atau bagan air adalah bagan yang menunjukan aliran di dalam program atau prosedur sistem secara logika. Flowmap ini berfungsi untuk memodelkan masukan, keluaran, proses maupun transaksi dengan menggunakan symbol-simbol tertentu. Pembuatan flowmap ini harus dapat memudahkan bagi pemakai dalam memahami alur dari sistem atau transaksi. Adapun pedomanpedoman dalam pembuatan flowmap adalah sebagai berikut : 1. Flowmap sebaiknya digambarkan dari atas ke bawah dan mulai dari bagian kiri dari suatu halaman 2. Kegiatan di dalam flowmap harus ditunjukkan dengan jelas. 3. Harus ditunjukan darimana kegiatan akan dimulai dan dimana akan berakhir. 4. Masing-masing kegiatan didalam flowmap sebaiknya digunakan suatu kata yang mewakili suatu pekerjaan. 5. Masing-masing kegiatan didalam flowmap sebaiknya digunakan suatu kata yang mewakili suatu pekerjaan. 6. Kegiatan yang terpotong dan akan disambung ditempat lain harus ditunjukkan dengan jelas menggunakan symbol penghubung. 7. Gunakan symbol-simbol flowmap yang standar.(Kristanto, 2008) Adapun symbol-simbol yang sering digunakan dalam flowmap dapat dilihat pada table berikut ini :

Table 2.1 : symbol dan keterangan flowmap. Symbol keterangan

114

Symbol proses

yang

digunakan

untuk

menunjukan awal atau akhir dari suatu

Symbol dokumen input dan output baik untuk proses manual mekanik atau komputer Symbol pekerjaan yang dilakukan

secara manual oleh orang terlibat di dalam proses yang dikerjakan Symbol dokumen Symbol dilakukan pengarsipan secara data yang untuk multi dokumen yang

didalamnya terdapat lebih dari satu

manual

penyimpanan dokumen atau berkas yang telah diproses maupun tidak Symbol proses menunjukan bahwa dalam sebuah sistem terdapat lebih dari satu proses Sumber : (Amsyah, 2005)

2.5.2

Data Flow Diagram (DFD)

2.5.2.1 Definisi Data Flow Diagram (DFD) Data Flow Diagram (DFD) atau diagram alir data adalah suatu model logika data atau proses yang dibuat untuk menggambarkan darimana asal data dan kemana tujuan data yang keluar dari sistem, dimana data disimpan, proses apa yang menghasilkan data tersebut dan interaksi

115

antara data yang tersimpan dan proses yang dikenakan pada data tersebut. (Kristanto, 2008) DFD dapat digunakan untuk menyajikan sebuah system atau perangkat lunak pada setiap tingkat abstraksi. Menurut Jogiyanto (2005) melalui teknik analisa data terstruktur yang disebut Diagram Arus Data (DAD), penganalisis system dapat mereprensentasikan proses-proses data di dalam organisasi. Pendekatan aliran data menekankan logika yang mendasari system. Dengan menggunakan kombinasi dari empat symbol, penganalisis dapat menciptakan suatu gambaran proses-proses yang menampilkan dokumentasi system yang solid. Pendekatan aliran data memiliki empat kelebihan utama melalui penjelasan naratif mengenai cara-cara data-data berpindah di sepanjang system. Yaitu: 1. 2. 3. 4. Kebebasan dari menjalankan implementasi teknis sistem. Pemahaman lebih jauh mengenai keterkaitan satu sama lain dalam sistem dan subsistem. Mengkomunikasikan pengetahuan sistem yang ada dengan pengguna melalui diagram aliran data. Menganalisis sistem yang diajukan untuk menentukan apakah data- data dan proses yang diperlukan sudah ditetapkan. Berikut adalah symbol-simbol yang digunakan dalam pembuatan Diagram Aliran Data (DAD).

Tabel 2.2 Simbol-simbol pada DFD Entitas Eksternal = menunjukan entitas yang berhubungan dengan system. Data Flow/objek data (aliran data) = menunjukan arah proses/aliran data Process (proses) = suatu kegiatan yang

116

dilakukan oleh sistem Data Store (penyimpanan data) menunjukan tempat penyimpanan data Sumber: Kristanto, 2008. Keterangan : 1. Kotak persegi panjang (Entitas eksternal) Digunakan untuk menggambarkan suatu entitas eksternal (bagian lain, sebuah perusahaan, seseorang atau sebuah mesin) yang dapat mengirim data atau menerima data dari system. Entitas eksternal, atau hanya entitas, disebut juga sumber atau tujuan data, dan di anggap eksternal terhadap system yang sedang digambarkan. 2. Tanda Panah (Arus Data/Data Flow) Arus data merupakan tempat mengalirnya informasi dan digambarkan dengan garis yang menghubungkan komponen dari sistem. Arus data ditunjukan dengan arah panah dan garis diberi nama atas arus data yang mengalir. Tanda panah menunjukan perpindahan data dari satu titik ke titik yang lain, dengan kepala tanda panah mengarah ke tujuan data. Karena tanda panah menunjukan seseorang, tempat, atau sesuatu maka harus digambarkan dalam kata benda. Arus data ini mengalir diantara proses, data store dan menunjukan arus data dari data yang berupa masukan untuk sistem atau hasil proses sistem. Pedoman pemberian nama aliran data : Nama aliran data yang terdiri dari beberapa aliran kata dihubungkan dengan garis sambung. Tidak boleh ada aliran data yang namanya sama, dan pemberian nama harus mencerminkan isinya. Aliran data yang terdiri dari beberapa elemen dapat dinyatakan dengan grup elemen

117

Hindari penggunaan kata data dan informasi untuk member nama pada aliran data Sedapat mungkin nama aliran data ditulis lengkap Ketentuan lain : Nama aliran data yang masuk ke dalam suatu proses tidak boleh sama dengan nama aliran data yang keluar dari proses tersebut. Data flow yang masuk ke atau keluar dari data store tidak perlu diberi nama bila : Aliran data sederhana dan mudah dipahami Aliran data menggambarkan seluruh data item (satu record utuh).

Tidak boleh ada aliran data dari terminal ke data store atau sebaliknya karena terminal bukan bagian dari sistem hubungan terminal dengan data store harus melalui proses. (Ladjamudin, 2005)

3. Lingkaran (Process) Proses merupakan apa/proses yang dikerjakan oleh sistem. Proses dapat mengolah data atau aliaran data masuk menjadi aliran data ke luar. Proses berfungsi mentransformasikan satu atau beberapa data masukan menjadi satu atau beberapa data keluaran sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Setiap proses memiliki satu atau beberapa mmenghasilkan satu atau beberapa data keluaran. Proses sering pula di sebut bubble. Pedoman pemberian nama proses : Nama proses terdiri dari kata kerja dan kata benda yang mencerminkan fungsi proses tersebut, misalnya hitung bonus, pendapatan karyawan, cetak faktur, dan lain-lain. Jangan mengguanakan kata proses sebagai bagian dari nama suatu Tidak boleh ada beberapa proses yang memiliki nama yang sama proses.

118

Proses harus diberi nomo, urutan nomor sedapat mungkin

mengikuti aliran atau urutan proses, namun demikian urutan nomor tidak berarti secara mutlak merupakan urutan proses secara kronologis Penomoran proses pada tingkat pertama (diagram nol) adalah 1.0, Penomoran proses pada tingkat kedua dari proses 1.0 (rincian dari Context diagram tidak perlu diberi nomor 2.0, 3.0 dan seterusnya proses 1.0) adalah 1.1, 1.2, 1.3, dam setrusnya. (Ladjamudin, 2005) 4. Simpanan Data (Data Store) Simpanan data merupakan tempat penyimpanan data pengikat data yang ada dalam sistem. Data store dapat disimbolkan dengan sepasang dua garis sejajar atau dua garis dengan salah satu sisi samping terbuka. Proses dapat mengambil data dari atau memberikan data ke database. Pedoman pemberian nama data store: Nama harus mencerminkan data store tersebut. Bila namanya lebih dari satu kata maka harus diberi tanda sambung

(Ladjamudin, 2005)

2.5.2.2 Levelisasi DFD Menurut Kendal & Kendal (2007) terdapat beberapa tingkatan dalam pembuatan Diagram Aliran Data. Tingkatan-tingkatan tersebut adalah: 1. Diagram konteks Diagram konteks merupakan diagram yang terdiri dari suatu proses dan menggambarkan ruang lingkup suatu system. Diagram konteks merupakan level tertinggi dari DFD yang menggambarkan seluruh input ke system atau output dari system. Diagram konteks akan memberi gambaran tentang keseluruhan system. Dalam diagram konteks hanya ada

119

satu proses. Tidak boleh ada store dalam diagram konteks. (Ladjamudin, 2005) Diagram konteks adalah tingkatan tertinggi dalam diagram aliran data dan hanya memuat satu proses, menunjukkan sistem secara keseluruhan. Proses tersebut diberi nomor nol. Semua entitas eksternal yang ditunjukkan pada diagram konteks berikut aliran data aliran data utama menuju dan dari sistem. Diagram tersebut tidak memuat penyimpanan data dan tampak sederhana untuk diciptakan, begitu entitas- entitas eksternal serta aliran data aliran data menuju dan dari sistem diketahui penganalisis dari wawancara dengan pengguna dan sebagai hasil analisis dokumen.

2. Diagram nol/zero (overview diagram) Merupakan diagram yang menggambarkan proses dari data flow diagram. Diagram nol memberikan pandangan secara menyeluruh mengenai system yang ditangani, menunjukan tentang fungsi fungsi utama atau proses yang ada, aliran data dan eksternal entity. Pada level ini sudah di mungkinkan adanya/digambarkannya data store yang digunakan. (Ladjamudin, 2005) Diagram 0 adalah pengembangan diagram konteks dan bisa mencakup sampai sembilan proses. Memasukkan lebih banyak proses pada level ini akan terjadi dalam suatu diagram yang kacau yang sulit dipahami. Setiap proses diberi nomor bilangan bulat, umumnya dimulai dari sudut sebelah kiri atas diagram dan mengarah ke sudut sebelah kanan bawah. Penyimpanan data penyimpanan data utama dari sistem dan semua entitas eksternal dimasukkan kedalam diagram 0. 3. Diagram Level n Diagram level n adalah hasil dekomposisi dari diagram zero. Diagram level n menjelaskan proses secara lebih terperinci. Diagram level 1 merupakan turunan langsung dari diagram zero, artinya diagram level 1 berada satu tingkat

120

lebih rendah dari diagram zero. Apabila diagram level 1 ini diuraikan lagi, maka akan terbentuk diagram level 2, dan seterusnya. 2.5.3 Kamus Data (Data Dictionary)

Kamus data adalah suatu aplikasi khusus dari jenis-jenis kamus yang digunakan sebagai referensi kehidupan sehari-hari. Kamus data merupakan hasil referensi data mengenai data, suatu data yang disusun oleh Penganalisis system untuk membimbing mereka selama melakukan analisis dan desain. Sebagai suatu dokumen, kamus data mengumpulkan dan mengkoordinasi istilah-istilah data tertentu, dan menjelaskan apa arti setiap istilah yang ada. (Kendall & Kendall, 2006) Sebagai tambahan untuk dokumentasi serta mengurangi redudansi, kamus data bisa digunakan untuk: 1. 2. 3. 4. Memvalidasi diagram data dalam hal kelengkapan dan keakuratan. Menyediakan suatu titik awal untuk mengembangkan layar da Menentukan muatan data yang disimpan dalam file-file Mengembangkan logika untuk proses-proses diagram aliran data.

laporan-laporan

Kamus data berfungsi membantu pelaku sistem untuk mengartikan aplikasi secara detail dan mengorganisasi semua elemen data yang digunakan dalam sistem secara persis sehingga pemakai dan penganalisis data sistem mempunyai dasar pengertian yang sama tentang masukan, keluaran ,penyimpanan dan proses. Kamus data sering disebut juga dengan sistem data dictionary adalah katalog fakta tentang data dan kebutuhan kebutuhan informasi dari suatu sistem informasi dengan. Dengan menggunakan kamus data, analisis sistem dapat mendefinisikan data yang mengalir di sistem dengan lengkap. Pada tahap analisis,kamus data digunakan sebagai alat komunikasi antara analisis sistem dengan pemakai sistem tentang data yang mengalir di sistem, yaitu tentang data yang masuk ke sistem dan tentang informasi yang dibutuhkan oleh pemakai sistem.

121

Pada tahap perancangan sistem, kamus data digunakan untuk merancang input, merancang laporan-laporan dan database. Kamus data dibuat brdasarkan arus data yang ada di DAD (Diagram Aliran Data). Arus data di DAD sifatnya global, hanya ditunjukan nama arus datanya saja. Keterangan lebih lanjut tentang struktur dari suatu arus data di DAD secara lebih terinci dapat dilihat di kamus data. (Jogiyanto, 2005). Kamus data memuat hal-hal sebagai berikut : a. Nama arus data Nama arus data harus dicatat pada kamus data, sehingga mereka yang membaca DAD memerlukan penjelasan lebih lanjut tentang suatu arus data tertentu dan dapat langsung mencarinya dengan mudah di kamus data. b. Alias Alias atau nama lain dari data dapat ditulis bila ada. Untuk menyatakan nama lain dari suatu data elemen atau data store yang sebenarnya sama dengan data elemen atau data store yang telah ada. Alias terjadi karena kurang koordinasi anatara beberapa analis sistem yang satu menggunakan EMPLOYEE, dan analis sistem yang lain menggunakan KARYAWAN. Namun keduanya memiliki pengertian sama. c. Bentuk Data Bentuk data perlu dicatat di kamus data, karena dapat dipergunakan untuk mengelompokan kamus data ke dalam kegunaannya sewaktu perancangan sistem. d. Arus Data Arus data menunjukkan dari mana data mengalir dan kemana data menuju. Keterangan arus data ini perlu dicatat di kamus data untuk memudahkan mencari arus data di DAD. e. Penjelasan Untuk memperjelas tentang makna dari arus data yang dicatat di kamus data, maka sebagian penjelasan dapat diisi dengan keterangan-keterangan tentang arus data tersebut. (Ladjamudin, 2005) Table 2.3 Hubungan kamus data dengan diagram aliran data

122

Diagram Aliran Data


Aliran Data
Formulir Deskripsi Aliran Data XXX

Kamus Data
Struktur Data XXX
Elem Eleme nElemen-enele eleme elemen n Data Data XXX XXX XXX

Simpanan Data

Formulir Deskripsi Simpanan Data XXX

Struktur Data XXX

Elem Eleme nElemen-enele elem elemenen Data Data XXX XXX XXX

Sumber: Kendall & Kendall, 2006.

Contoh Kamus Data Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama : Pesanan Konsumen Deskripsi : berisikan informasi pesanan konsumen dan digunakan untuk memperbaharui master konsumen dan file-file item serta untuk membuat record pesanan. Sumber : Tujuan : Konsumen Jenis aliran data : Proses 1 Internal Volume / Jam:

File Layar Laporan Formulir Perjalanan Struktur Data dengan Aliran :

Informasi Pesanan 10/jam Komentar : Informasi record pesanan untuk satu pesanan konsumen. Pesanan bisa diterima lewat surat, faks atau melalui

123

telepon. Gambar 2.6 Contoh deskripsi aliran data (Kendall & Kendall, 2006). 2.6 Basis Data

2.6.1 Definisi Basis Data Menurut Fatansyah basis data dapat di definisikan sebagi berikut: Basis data adalah himpunan kelompok data (arsip) yang saling berhubungan yang diorganisasikan sedemikian rupa agar kelak dapat dimanfaatkan kembali dengan cepat dan mudah, (Fatansyah, 2004) Basis Data adalah kumpulan data yang saling berhubungan yang disimpan secara bersama sedemikian rupa dan tanpa pengulangan ( redudansi) yang tidak perlu untuk memenuhi berbagai kebutuhan, (Fatansyah, 2004). Basis Data adalah kumpulan file/tabel/arsip yang saling berhubungan yang disimpan dalam media penyimpanan elektronik, (Fatansyah, 2004) Menurut Kendall and Kendall data dapat didefinisikan sebagai berikut: Basis data adalah simpanan data-data elektronik yang ditetapkan secara formal dan dikontrol secara terpusat untuk digunakan dalam berbagai aplikasi yang berbeda (Kendall and Kendall, 2006) 2.6.2 Kegunaan Basis Data

Penyusunan basis data digunakan untuk mengatasi masalah-masalah pada penyusunan data, (Fatansyah, 2004) yaitu: a. Redudansi dan inkonsistensi data 1. Redudansi adalah penyimpanan dibeberapa tempat untuk data yang sama, dan ini akan mengakibatkan pemborosan ruang penyimpanan. 2. Inkonsistensi (tidak konsisten) adalah penyimpanan data yang sama berulang-ulang dibeberapa file. b. Kesulitan pengaksesan data c. Isolasi data untuk standarisasi d. Multi user (banyak pengguna)

124

e. Masalah keamanan (sequrity) f. Masalah integritas g. Masalah data independence (kebebasan data), (Fatansyah, 2004) 2.6.3 Perancangan Basis Data

Dalam perancangan basis data untuk sistem informasi ini, penyusun menggunakan pemodelan database relational. Perancangan basis data ini dimaksudkan untuk menjelaskan hubungan antar entity yang ada didalam sistem. Entity relational berisi komponen-komponen himpunan entity dan himpunan relasi yang masing-masing dilengkapi dengan atribut-atribut yang merepresentasikan seluruh fakta yang ditinjau. Perancangan basis data diperlukan agar kita bisa memiliki basis data yang kompak dan efisien dalam penggunaan ruang penyimpanan, cepat dalam pengaksesan dan mudah dalam pemanipulasian (tambah, ubah, hapus) data. Dalam merancang basis data kita dapat melakukannya dengan : 1. Menerapkan normalisasi terhadap struktur table yang telah diketahui 2. Membuat model entity relationship 2.6.3.1 Model Entity-Relationship Diagram Model entity relationship merupakan suatu bentuk model yang didasarkan pada persepsi dunia nyata dengan menggambarkan sekumpulan objek. Adapun objek yang dimaksud adalah : Kumpulan (himpunan) relationship dan relasi Atribut Entitas adalah individu yang mewakili sesuatu yang nyata yang dapat dibedakan satu dengan lainnya dengan sifat-sifatnya. Himpunan entitas adalah kumpulan entitas yang mempunyai sifat atau karakteristik yang sama. Relasi adalah asosiasi atau keterhubungan yang menunjukanadanya suatu hubungan antara sejumlah entitas yang berasal dari himpunan entitas yang berbeda. Himpunan relasi merupakan kumpulan semua relasi yang terbentuk. Atribut merupakan deskripsi atau property dari suatu entitas.

125

Entity Relationship Diagram (E-R Diagram) adalah suatu model relasi yang menggunakan susunan data yang disimpan dalam system secara abstrak. Diagram E-R merupakan model E-R yang berisi komponen-komponen himpunan entitas dan himpunan relasi yang masing-masing dilengkapi atribut-atribut yang merepresentasikan seluruh fakta dari dunia nyata yang kita tinjau, dan dapat digambarkan dengan lebih sistematik. Jadi jelaslah bahwa E-R Diagram berbeda dengan DFD, yang menggunakan model jaringan fungsi yang akan dilaksanakan oleh system, sedang E-R Diagram merupakan model data yang menekankan pada struktur-struktur dan relationship data. Komponen ERD yaitu :
Tabel 2.4 Simbol Entity Relationship Diagram

Sumber: Fatansyah, 2004.

1. Entitas (Entity) Entitas adalah suatu obyek yang dapat diidentifikasi dalam lingkungan pemakai, sesuatu yang penting bagi pemakai dalam konteks system yang akan dibuat. Siswa, guru dan lain-lain. Seandainya x adalah seorang siswa maka x adalah isi dari siswa. Sedangkan jika y adalah seorang guru maka

126

y adalah isi dari guru. Karena itu harus dibedakan antara entity (sebagai bentuk dari deskrifsi tertentu) dan isi entity (seperti x dan y dalam contoh diatas.

Gambar 2.7 Simbol entitas (Fatansyah, 2004) 2. Atribut Entitas mempunyai elemen yang disebut atribu. Atribut merupakan sifat atau karakteristik suatu entitas yang menyediakan penjelasan detail tentang entitas tersebut. Atribut yang berfungsi sebagai key yang digaris bawahi. Sebagai contoh atribut nama siswa dari entitas siswa. Dalam hal ini untuk setiap ERD bisa terdapat lebih dari satu atribut.
Nama atribut

Gambar 2.8 Simbol atribut (Fatansyah, 2004) 3. Hubungan (Relationship) Entitas dapat berhubungan satu sama lain. Hubungan ini dinamakan relationship. Relasi merupakan hubungan yang terjadi antara entitasentitas dari satu atau lebih tipe entitas. Sebagaimana halnya entitas maka dalam hubunganpun harus dibedakan antar entitas, dibedakan antar hubungan (bentuk hubungan antar entitas) dan isi hubungan. Misalnya dalam kasus hubungan antara entitas siswa dan entitas mata_kuliah adalah mengikuti, sedangkan isi hubungannya dapat berupa nilai_ujian

127

Gambar 2.9 Simbol relasi (Fatansyah, 2004) Dalam ERD hubungan ini dapat terdiri dari sejumlah entitas yang disebut sebagai derajat hubungan. Tetapi pada umumnya hamper semua model hanya menggunakan hubungan dengan derajat dua (binary relationship). Pada suatu hubungan antar entitas selalu ada tiga jenis hubungan biner, yaitu : a. Unary relationship Unary relationship adalah model relationship yang terjadi diantara entitas yang berasal dari entitas set yang sama. Sering juga disebut recursive relationship atau reflective relationship

Gambar 2.10 Unary relationship (Anonim, 2001) b. Binary relationship Binary relationship adalah model relationship antara instance-instance dari suatu tipe entitas (dua entitas yang berasal dari entitas yang sama). Relationship ini paling umum digunakan dalam pembuatan model data.

128

Gambar 2.11 Binary relationship (Anonim , 2001) c. Ternary relationship Ternary relationship merupakan relationship antara instance-instance dari tiga tipe entitas secara sepihak.

Gambar 2.12 Ternary relationship (Anonim, 2001) 4. Link Link sebagai penghubung antara himpunan relasi dengan himpunan entitas dan himpunan entitas dengan atributnya. 2.6.3.2 Kardinalitas (cardinality)
Kardinalitas Relasi menunjukkan jumlah maksimum entitas yang dapat berelasi dengan entitas pada himpunan entitas yang lain. Dari sejumlah kemungkinan banyaknya hubungan antar entitas tersebut, kardinalitas relasi merujuk kepada hubungan maksimum yang terjadi dari himpunan entitas yang satu ke himpunan entitas yang lain dan begitu juga sebaliknya (Fatansyah, 2004). Kardinalitas relasi yang terjadi diantara dua himpunan entitas (misalnya A dan B) dapat berupa: Satu ke Satu (One to One) Berarti setiap entitas pada himpunan entitas A berhubungan dengan paling banyak dengan satu entitas pada himpunan entitas

129

B, dan begitu juga sebalikanya setiap entitas pada himpunan entitas B berhubungan dengan paling banyak dengan satu entitas pada himpunan entitas A (Gambar 2.13).

Satu ke Banyak (One to Many) Berarti setiap entitas pada himpunan entitas A dapat berhubungan dengan banyak entitas pada himpunan entitas B, tetapi tidak sebaliknya, dimana setiap entitas pada himpunan entitas B berhubungan dengan paling banyak dengan satu entitas pada himpunan A (Gambar 2.14).
A B

Entitas 1 Entitas 2 Entitas 3 Entitas 4

Entitas 1 Entitas 2 Entitas 3 Entitas 4

Gambar 2.13 Kardinalitas Relasi Satu ke Satu (Fatansyah, 2004)


A B
Entitas 1 Entitas 1 Entitas 2 Entitas 3 Entitas 2 Entitas 3 Entitas 4 Entitas 5

Gambar 2.14 Kardinalitas Relasi Satu ke Banyak (Fatansyah, 2004)

Banyak ke Satu (Many to One)

130

Berarti setiap entitas pada himpunan entitas A berhubungan dengan paling banyak dengan satu entitas pada himpunan entitas B, tetapi tidak sebaliknya, dimana setiap entitas pada himpunan entitas B dapat berhubungan dengan banyak entitas pada himpunan entitas A (Gambar 2.15). Banyak ke Banyak (Many to Many) Berarti setiap entitas pada himpunan entitas A dapat berhubungan dengan banyak entitas pada himpunan entitas B, dan demikian juga sebaliknya, dimana setiap entitas pada himpunan entitas B dapat berhubungan dengan banyak entitas pada himpunan entitas A, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.16
A
Entitas 1 Entitas 2 Entitas 3 Entitas 4 Entitas 5 Entitas 1 Entitas 2 Entitas 3

. Gambar 2.15 Kardinalitas Relasi Banyak ke Satu (Fatansyah, 2004)


A B

Entitas 1 Entitas 2 Entitas 3 Entitas 4

Entitas 1 Entitas 2 Entitas 3 Entitas 4

Gambar 2.16 Kardinalitas Relasi Banyak ke Banyak (Fatansyah, 2004)

Kardinalitas relasi satu ke banyak dan banyak ke satu dapat dianggap sama, karena tinjauan kardinalitas relasi selalu dilihat dari dua sisi (dari himpunan

131

entitas A ke himpunan entitas B dan dari himpunan entitas B ke himpunan entitas A). 2.6.3.3 Structured Query Language (SQL) Sistem basis data komersial menghendaki adanya sebuah bahasa query yang lebih user-friendly. Oleh karena itu dikenal SQL sebagai bahasa query yang marketable. SQL menggunakan kombinasi aljabar relasional & kalkulus relasional. Meskipun SQL adalah bahasa query, namun SQL mempunyai banyak kemampuan lain disamping melakukan query terhadap basis data. SQL mempunyai kemampuan untuk mendefinisikan struktur data, modifikasi data dalam basis data dan menentukan konstrain sekuriti. SQL merupakan bahasa basis data relasional standard. Terdapat macam-macam versi SQL. Versi aslinya pertama kali dikembangkan oleh IBM San Jose Research Laboratory. Bahasa SQL mempunyai beberapa bagian yaitu, (Hariyanto, 2004): Data Definition Language (DDL) DDL memberikan perintah untuk mendefinisikan skema relasi,

penghapusan relasi, membuat indeks dan modifikasi skema relasi. Interactive Data-Manipulation Language (DML) DML merupakan bahasa query yang berdasarkan pada aljabar relasi dan kalkulus relasi tuple. Termasuk didalamnya adalah perintah untuk penyisipan, penghapusan dan modifikasi. Embedded DML Bentuk embedded SQL biasanya terdapat dalam bahasa pemrograman multi guna seperti PL/I, Cobol , Pascal dan Fortran.

View Definition DDL SQL memasukkan perintah untuk mendefinisikan view.

132

Authorization DDL SQL memasukkan perintah untuk menentukan hak-hak akses ke relasi dan view.

Integrity DDL SQL memasukkan perintah untuk menentukan konstrain integritas yang harus dipenuhi oleh data yang tersimpan dalam basis data.

Transaction control SQL memasukkan perintah-perintah untuk menentukan awal dan akhir transaksi. Beberapa implementasi juga memungkinkan locking data untuk concurrency control. Struktur dasar dari ekspresi SQL terdiri dari tiga klausa yaitu: select, from dan where.

Klausa Select Berhubungan dengan operasi proyeksi dari aljabar relasional. Operasi ini

digunakan untuk mendaftar semua atribut yang diinginkan sebagai hasil suatu query. Contoh : jika kita ingin menampilkan NIM dan nama mahasiswa yang ada di tabel Mahasiswa, maka dapat menggunakan perintah SQL berikut ini : Select Nim, Nama_Mhs From Mahasiswa Klausa From Klausa ini digunakan untuk menetapkan tabel yang kita dijadikan sebagai sumber (lokasi) pencarian data. Sebagaimana kita ketahui, basis data terdiri atas sejumlah tabel yang saling berhubungan. Karena itu, akan sering kali ada kebutuhan untuk melakukan query tidak hanya dari satu tabel, tetapi dengan merelasikan beberapa tabel sekaligus. Contoh : jika kita ingin menampilkan data kuliah beserta beserta dosen-dosen yang mengajarkannya, maka kita tidak hanya dapat melakukan query dari tabel Kuliah saja, tetapi juga dari tabel Dosen karena seperti data nama dosen tidak tersimpan di tabel Kuliah. Untuk memenuhi kebutuhan itu, kita dapat menggunakan ekspresi SQL sebagai berikut :

133

Select * From Kuliah, Dosen Where Kuliah.Kode_Dosen = Dosen.Kode_Dosen Klausa Where Klausa ini berguna untuk menetapkan predikat atau kriteria yang harus dipenuhi dalam memperoleh hasil query, yang berasosiasi dengan operasi Seleksi dalam Bahasa Query Formal. Contoh : Jika kita akan menampilkan semua atribut untuk mahasiswa dengan NIM = 0606023. Maka untuk memenuhi kebutuhan itu, ekspresi SQL yang digunakan adalah sebagai berikut : Select * From Mahasiswa Where Nim = 0606023 2.6.3.4 Normalisasi Istilah normalisasi berasal dari E. F. Codd, salah seorang perintis teknologi basis data. Selain dipakai sebagai metodologi tersendiri untuk menciptakan struktur tabel (relasi) dalam basis data (dengan tujuan mengurangi redudansi/ kemubaziran data), normalisasi terkadang hanya dipakai sebagai perangkat verifikasi terhadap tabel- tabel yang dihasilkan oleh metodologi lain. Normalisasi memberikan panduan yang sangat membantu bagi pengembang untuk mencegah penciptaan struktur tabel yang kurang fleksibel atau mengurangi ketidakefisienan. Normalisasi dapat didefinisikan sebagai : Proses untuk mengorganisasi file untuk menghilangkan grup elemen yang berulang-ulang. (Kendall & Kendall, 2006). Dalam normalisasi, sebuah basis data dikatakan baik apabila setiap tabel yang menjadi unsur pembentuk basis data juga telah berada dalam keadan baik atau normal. Tabel dapat dikategorikan baik ataupun normal, jika telah memenuhi kriteria sebagai berikut, (Kendall & Kendall, 2006) :

134

1. Jika ada penguraian (dekomposisi) tabel, maka dekomposisinya harus dijamin aman. 2. Terpelihanya ketergantungan fungsional pada saat perubahan data. 3. Tidak melanggar BoyceCode Normal Form (BCNF). Kriteria kriteria di atas merupakan kriteria minimal untuk mendapatkan prediksi efisien/ normal bagi sebuah tabel. Aturan- aturan normalisasi dinyatakan dalam istilah bentuk normal. Bentuk normal adalah suatu aturan yang dikenakan pada tabel dalam basis data dan harus dipenuhi oleh tabel tersebut pada levellevel normalisasi. Suatu tabel dikatakan berada dalam bentuk normal tertentu jika memenuhi kondisi- kondisi tertentu. Adapun bentuk bentuk normal pada database adalah sebagai berikut, (Fatansyah, 2004). 1. Bentuk Normal Tahap Pertama (1NF) Bentuk 1NF terpenuhi jika, sebuah tabel tidak memiliki atribut bernilai banyak atau lebih dari satu atribut dengan domain nilai yang sama.

2.

Bentuk Normal Tahap Kedua (2NF) Bentuk 2NF terpenuhi jika pada sebuah tabel, semua atribut yang tidak termasuk key primer memiliki ketergantungan fungsional (KF) pada key primer secara utuh.

3.

Bentuk Normal Tahap Ketiga (3NF) Bentuk 3NF terpenuhi jika, untuk setiap KF dengan notasi X A, dimana A mewakili semua atribut tunggal didalam tabel yang tidak ada dalam dalam X. Maka X haruslah superkey pada tabel tersebut atau A merupakan bagian dari key primer dari tabel tersebut.

4. Boyce-Code Normal Form (BCNF)

Sebuah tabel dikatakan berada dalam BCNF jika untuk semua KF dengan notasi X Y, maka X harus merupakan superkey pada tabel

135

tersebut. Jika tidak demikian, maka tabel tersebut harus didekomposisi berdasarkan KF yang ada, hingga X menjadi superkey dari tabel-tabel hasil dekomposisi. 2.7 Microsoft Access Micsrosoft Access merupakan program aplikasi basis data komputer relasional yang ditujukan untuk kalangan rumahan dan perusahaan kecil hingga menengah. Aplikasi ini menggunakan mesin basis data Microsoft Jet Database Engine, dan juga menggunakan tampilan grafis yang intuitif sehingga memudahkan para pengguna. Microsoft Acces dapat menggunakan data yang dsimpan dalam format Microsoft Access, Microsoft Jet Database Engine, Microsoft SQL Server, Oracle Database, atau semua kontainer basis data yang mendukung standar ODBC. Para pengguna atau programmer yang handal dapat menggunakan Microsoft Access untuk mengembangkan perangkat lunak aplikasi yang kompleks, sedangkan para programmer yang kurang handal dapat menggunakannya untuk mengembangkan perangkat lunak aplikasi yang sederhana. Microsoft Access juga mendukung teknik-teknik pemrograman yang berorientasi objek, tetapi tidak dapat digolongkan ke dalam perangkat bantu pemrograman yang berorientasi objek. Dalam Microsoft Access terdapat beberapa bagian :
a. Table digunakan untuk menyimpan data b. Query digunakan untuk memanipulasi data c. Form digunakan untuk frontend aplikasi. Biasanya untuk menampilkan

data,

menambah data dll.

d. Report digunakan untuk membuat laporan e. Macro digunakan untuk melakukan satu atau beberapa fungsi.

Switch Board. 2.8 Bahasa Pemrograman Visual Basic Microsoft Visual Basic 6.0 adalah versi BASIC visual yang dikembangkan oleh Microsoft. Bahasa ini berawal dari Quick BASIC yang bersifat procedural

136

namun kemudian diperluas dengan fitur-fitur yang bersifat visual. Microsoft Visual Basic 6.0 merupakan salah satu bahasa pemrograman atau pengembangan aplikasi yang sangat dikenal di dunia. Baik itu karena kemudahannya dalam pengembangan aplikasi maupun kemampuannya yang beragam. Selain itu, Microsoft Visual Basic 6.0 didukung oleh berbagai fasilitas dalam pengembangan aplikasi. Salah satunya adalah pengembangan aplikasi database.

Gambar 2.17 Tampilan Awal Visual Basic 6.0 Pada layar awal akan muncul tampilan seperti di atas, setelah itu akan muncul tampilan seperti berikut ini (tampilan IDE/ Integrated Development Environment):

Gambar 2.18 IDE Visual Basic Beberapa keterangan yang terdapat pada gambar di atas memiliki

137

fungsinya masing-masing. Berikut di bawah ini penjelasannya :


1. Form Designer : Pada form design ini adalah tempat kita

merancang user interface ( antar muka pemakai ).


2. Menu Toolbar : Menu standar pada Windows, dapat digunakan

untuk membuka project, menyimpan project, menjalankan project, dan sebagainya.


3. Toolbox

Disinilah

tempat

komponen-komponen

yang

disediakan untuk merancang user interface. Masing-masing komponen memiliki ciri dan kegunaan masing-masing.
4. Project Explorer : Di sini adalah struktur project yang sedang

kita kerjakan. Suatu project dapat terdiri dari beberapa form.


5. Properties : Pada kolom ini menampilkan properties dari

komponen yang sedang aktif. Property adalah data-data atau karakteristik yang dimiliki oleh suatu objek komponen. Beberapa keunggulan dari Visual Basic 6.0 adalah sebagai berikut :
1. Menggunakan platform pembuatan program yang diberi nama

developer studio.
2. Memiliki compiler handal yang dapat menghasilkan file

executable yang lebih cepat dan lebih efisien dari sebelumnya.


3. Memikili tambahan sarana wizard yang baru. Wizard adalah

sarana yang mempermudah didalam pembuatan aplikasi. 4. Tambahan kontrol-kontrol baru yang lebih canggih serta peningkatan kaidah struktur bahasa Visual Basic.
5. Kemampuan membuat ActiveX dan fasilitas yang lebih banyak.

6. Sarana akses data lebih cepat dan handal untuk membuat aplikasi basis data yang berkemampuan tinggi.
7. Memiliki beberapa versi yang disesuaikan dengan kebutuhan

pemakainya. (anonim,2010) 2.9


I.

Rencana Kerja Preliminary Investigation (Pemeriksaan Pendahuluan):

138

Preliminary Investigation merupakan tahap persiapan, dimana pada tahapan ini dilakukan survey ke Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Garut dengan tujuan untuk mengidentifikasi hal-hal yang berkaitan dengan system yang akan dikembangkan. Kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan ditahap ini adalah sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi hasil sasaran, batasan, dan ruang lingkup a. Mengidentifikasi hasil sasaran adalah memperbaiki kelemahankelemahan serta permasalahan-permasalahan yang timbul pada system perencanaan kebutuhan barang milik daerah yang berjalan di DPPKA Kab Garut. b. Identifikasi batasan adalah untuk membatasi pada hal yang sedang berjalan di current system saja. c. Identifikasi ruang lingkup adalah untuk mengetahui sejauh mana ruang lingkup yang akan kita analisa dan kembangkan pada system perencanaan kebutuhan barang milik daerah di DPPKA kab Garut. 2. Dokumen hasil sasaran, batasan dan lingkup Proses ini adalah untuk mengetahui dokumen-dokumen mana saja yang sedang bermasalah di current system
3. Mendapatkan persetujuan untuk mulai menganalisis system.

II.

System Analysis (menganalisis system):


Tahap analisis ini dilakukan setelah survei, data dari hasil survei tersebut di analisis dengan menggunakan beberapa pemodelan dan pemrosesan yang akan dirancang untuk sistem baru. Adapun kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan pada tahap analisis ini adalah : 1. Menganalisis system yang ada (current system). Analisis sistem berjalan dilakukan untuk mengetahui siapa dan hal apa saja yang berkaitan dengan sistem kemudian menggambarkannya dalam bagan alur sistem / flowmap.

139

Pada tahap ini dilakukan analisa terhadap sistem yang ada yaitu: a. analisis fisik yaitu orang, prosedur, data, software dan hardware (People, Procedure, Data, Software, Hardware/PPSDH). Merupakan gambaran system yang sedang berjalan yang menunjukan bagaimana tugas dilaksanakan secara fisik. Yang dianalisis adalah: people, yaitu siapa yang mengerjakan tugas tersebut procedure, yaitu procedure apa saja yang dikerjakan data, yaitu dokumen apa saja yang digunakan untuk melaksanakan procedure tersebut. software, yaitu perangkat lunak apa yang digunakan untuk melaksanakan prosedur tersebut. hardware, yaitu perangkat keras apa yang digunakan untuk melaksanakan prosedur tersebut. Hasil analisis fisik digambarkan seperti dalam table berikut: people procedure data software hardware

people.

b. analisis logika yaitu masukan, proses, keluaran, penyimpanan,

dan control (Input Processing Output Storage Control/IPOSC). Adapun penggambaran Diagram (DFD). Analisis logis merupakan gambaran proses apa pada system yang berjalan. Yang di analisis adalah:
-

Input, Proses, Output, Storage dan

Control tersebut akan disajikan dengan pemodelan Data Flow

input,

yaitu

semua

masukan

system

yang

menunjukan proses input biasanya berupa dokumendokumen.


-

Process, yaitu proses pengolahan terhadap input

sesuai dengan proses yang akan dijalankan.

140

Output, yaitu keluaran dari pengolahan input oleh Storage, yaitu tempat penyimpanan dokumen data Control, yaitu orang atau organisasi yang

proses. Output biasanya berupa informasi atau dokumen


-

keluaran
-

mengawasi jalannya proses. Adapun hasil proses analisa logis digambarkan pada table dibawah ini: input Process Output Storage Control

2. Menentukan fungsi system baru a. kebutuhan Input Processing Output Storage Control (IPOSC) untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan Input Processing, Output, Storage, Control. Proses digmabarkan seperti pada table berikut input Process Output Storage Control

b. karakteristik pengguna (user). c. Antarmuka/menghubungkan dengan system lain. d. Kebutuhan dokumen dan mendapatkan persetujuan pengguna untuk memulai desain system
III.System Design (Sistem Perancangan)

i.

Desain secara umum : 1. Menetapkan perancangan logis (IPOSC) Proses ini menggunakan pemodelan untuk menggambarkan aliran dokumen dan aliran data yang terjadi dalam system

141

yang baru. Seperti menggunakan flowmap dan Data Flow Diagram (DFD) 2. Pemilihan solusi 3. Memilih solusi atau proyek (merancang) ii. Desain secara terperinci: 1. Menetapkan perancangan fisik (PPSDH) perancangan user interface Proses ini untuk merancang tampilan yang akan digunakan dalam system baru. perancangan basis data Proses ini digunakan untuk merancang basis data untuk menentukan (ERD) perancangan atau memperoleh perangkat lunak entitas dan hubungannya dengan menggunakan pemodelan Entity Relationship Diagram

Bab III Preliminary Investigation


Pada bab ini akan dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan preliminary investigation (tahap persiapan) menurut metode Traditional System Development yang dikemukakan oleh Dewitz [1996]. 3.1 Preliminary Investigation Preliminary Investigation merupakan tahap persiapan dimana pada tahapan ini dilakukan survey ke lapangan (lokasi) dilakukannya penelitian dengan tujuan untuk mengidentifikasi hal-hal yang berkaitan dengan system yang akan dikembangkan. Pada tahapan ini terdapat beberapa tahapan yaitu sasaran system, batasan system, ruang lingkup system dan ruang lingkup dokumen. 3.1.1 Proses Bisnis

142

Dalam mengidentifikasi proses perencanaan kebutuhan barang daerah, hal pertama yang harus dipahami adalah proses bisnis/gambaran umum/global dari proses perencanaan kebutuhan barang daerah. Berikut proses bisnis secara global perencanaan kebutuhan barang milik daerah yang sedang berjalan di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kabupaten Garut:

143

Mengusulkan rencana kebutuhan barang mengusulkan


RK BMD

Kepala Daerah

diserahkan

Kuasa Pengguna Barang

SKPD
Pengelola barang /Pembantu pengelola barang melakukan verifikasi dan koreksi RK BMD
RK BMD

Pengelola Barang / Pembantu Pengelola Barang melakukan

Standar Sarana dan Prasarana

menetapkan

menetapkan Verifikasi

Pengguna Barang melakukan revisi RK BMD

Verifikasi harus sesuai dengan Standar sarana dan Prasarana serta Standar harga yang ditetapkan oleh kepala daerah

Standar harga

revisi
RK BMD

Berdasarkan revisi RK BMD Pengguna Barang menyusun RK SKPD


RK SKPD

dibahas

Penetapan Perda APBD

Tim APBD
Berdasarkan DPA SKPD Pengguna Barang Menyusun DK BMD
6

Setelah penetapan Perda APBD disusun DPA SKPD


DPA SKPD

DK BMD

Gambar 3.1 Proses bisnis/alur perencanaan kebutuhan barang daerah Pada proses perencanaan di atas dapat diuraikan sebagai berikut: 7. Pengguna barang /SKPD menyusun RK BMD. 8. RK BMD selanjutnya dikoreksi dan di verifikasi oleh pengelola/pembantu pengelola dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah dan berdasarkan standarisasi Sarana dan Prasarana & Standar Harga. 9. Pengguna Barang melakukan revisi RK BMD. Kemudian berdasarkan revisi RK BMD Pengguna Barang menyusun RKA SKPD. Revisi RK BMD itu sebagai bahan penyusunan RKA SKPD. 10. RKA SKPD selanjutnya dibahas oleh Tim Anggaran Belanja Pemerintah Daerah.
11. Setelah menetapkan Peraturan Daerah APBD, Tim APBD mensahkan

DPA SKPD. 12. Berdasarkan DPA SKPD pengguna barang menyusun DK BMD

144

3.1.2

Sasaran Sistem Sasaran dari system ini adalah untuk merancang system yang baru,

sehingga

dapat

memperbaiki

kelemahan-kelemahan

serta

permasalahan-

permasalahan yang timbul pada system yang sedang berjalan. System yang akan dirancang yaitu Sistem perencanaan kebutuhan barang milik daerah. Adapun sasaran dari system perencanaan barang milik daerah sebagai berikut:. 1. Sistem yang di bangun dapat memberikan informasi barang yang lolos verifikasi serta barang yang tidak lolos verifikasi. 2. Dapat menyediakan laporan dari hasil verifikasi barang yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. 3. Dapat memudahkan serta mempersingkat pembuatan laporan kebutuhan barang sehingga laporan kebutuhan barang tepat dibuat sesuai dengan jadwal. 4. Membuat system perencanaan kebutuhan barang daerah berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan. 3.1.3 Batasan sistem Batasan sistem yang di analisis mencakup proses perencanaan kebutuhan barang yang sedang berjalan. Adapun batasan sistem pada proses perencanaan kebutuhan barang yang sedang berjalan adalah sebagai berikut:

1. Sistem dibatasi hanya pada sampai perencanaan kebutuhan barang milik daerah yang merupakan bagian dari proses pengelolaan barang milik daerah. 2. System hanya memproses rencana kebutuhan tidak termasuk rencana kebutuhan pemeliharaan barang.

145

3.1.4

Ruang Lingkup System Ruang lingkup penyelenggaraan system perencanaan barang daerah

berdasarkan prosedur adalah sebagai berikut: a. Pengguna barang Adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah (para kepala SKPD) yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap penggunaan, pemeliharaan, inventarisasi, pemanfaatan barang. b. Pengelola barang/pembantu pengelola Adalah Sekda selaku pengelola dan DPPKA selaku pembantu pengelola yang bertugas mengelola perencanaan, pengadaan, inventarisasi dan pendayagunaan barang milik daerah. c. Kuasa pengguna barang Adalah Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah. d. Kepala Daerah Adalah yang menetapkan kebijakan pengelolaan barang milik daerah. 3.2 Dokumen Input dan Output Sistem yang Berjalan Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai dokumen input dan output yang berhubungan dengan system yang berjalan. 3.2.1 Dokumen Input System Berjalan Dokumen yang menjadi input dalam system adalah:

146

3.2.1.1 Peraturan dan Undang-undang Adanya peraturan perundang-undangan yang menjadi acuan dalam perencanaan barang milik daerah. Berikut peraturan yang menjadi acuan dalam perencanaan kebutuhan barang milik daerah. Peraturan Pemerintah, yaitu PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA/DAERAH Peraturan Menteri, yaitu PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI Menimbang : Menimbang bahwa untuk melaksanakan ketentuan pasal 74 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara Daerah, perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 72 Tahun 1957 tentang Penetapan UndangUndang Darurat Nomor 19 Tahun 1955 tentang Penjualan Rumah Negeri kepada Pegawai Negeri sebagai Undang-undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1957 Nomor 158); 2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang PokokPokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2013);

147

3.

Undang-Undang

Nomor

17

Tahun

2003

tentang

Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548); 6. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 7. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 1971 tentang Penjualan Kendaraan Perorangan Dinas Milik Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1971 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2967);

148

8. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1994 tentang Rumah Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3573) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor Nomor 40 Tahun 1994 tentang Rumah 64,Tambahan Lembaran Negara Negara Republik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Indonesia Nomor 4515); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai atas Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3643); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 4503; 11. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 4578); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 20,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4609);

149

13. Keputusan Presiden Nomor 40 Tahun 1974 tentang Tata Cara Penjualan Rumah Negeri; 14. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 120, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4330) sebagaimana telah di ubah beberapa kali, terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 85 Tahun 2006 tentang Perubahan keenam atas keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah; 15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1997 tentang Tuntutan Pembendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi Keuangan dan Materiil Daerah; 16. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 42 Tahun 2001 tentang Pedoman Penyerahan Barang dan Hutang Piutang pada Daerah yang Baru Dibentuk 17. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 49 Tahun 2001 tentang Sistem Informasi Manajemen Barang Daerah; 18. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2002 tentang Nomor Kode Lokasi dan Nomor Kode Barang Daerah Provinsi/Kabupaten Kota; 19. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pedoman Penilaian Barang Daerah; 20. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130 Tahun 2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Dalam Negeri; 21. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.7 Tahun 2006 tentang Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemerintah Daerah;

150

22. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri ini, yang dimaksud dengan : 1. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggaraan pemerintah daerah. 2. Kepala daerah adalah Gubernur bagi daerah Provinsi, Bupati bagi daerah Kabupaten,Walikota bagi daerah Kota. 3. Barang milik daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau perolehan lainnya yang sah. 4. Pengelola barang milik daerah selanjutnya disebut pengelola adalah pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab melakukan koordinasi pengelolaan barang milik daerah. 5. Pembantu pengelola barang milik daerh selanjutnya disebut disebut pembantu pengelola adalah pejabat yang bertanggungjawab mengkoordinir penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah yang ada pada satuan kerja perangkat daerah. 6. Penggunaan barang milik daerah selanjutnya disebut pengguna adalah pejabat pemegang kewenagan penggunaan milik daerah. 7. Kuasa penggunaan barang milik derah adalah kepala satuan kerja atau pejabat yang ditunjuk oleh pengguna untuk menggunakan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya.

151

8. Penyimpanan barang milik daerah adalah pegawai yang diserahi tugas untuk menerima, menyimpan, dan memgeluarkan barang. 9. Pengurus barang milik daerah adalah pegawai yang diserahi tugas untuk mengurus barang daerah dalam proses pemakaian yang ada di setiap satuan kerja perangkat daerah/unit kerja. 10. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disebut SKPD adalah perangkat daerah selaku pengguna barang. 11. Unit Kerja adalah bagian SKPD selaku kuasa pengguna barang. 12. Perencanaan kebutuhan adalah kegiatan merumuskan rincian kebutuhan barang milik daerah untuk menghubungkan pengadaan barang yang telah lalu dengan keadaan yang sedang berjalan sebagai dasar dalam melakukan tindakan pemenuhan kebutuhan yang akan datang. 13. Pengadaan adalah kegiatan untuk melakukan pemenuhan kebutuhan barang daerah dan jasa. 14. Penyaluran adalah kegiatan untuk menyalurkan/pengiriman barang milik daerah dari gudang ke unit kerja pemakai. 15. Pemeliharaan adalah kegiatan atau tindakan yang dilakukan agar semua barang milik daerah selalu dalam keadaan baik dan siap untuk digunakan secara berdaya guna dan berhasil guna. 16. Pengamanan adalah kegiatan tindakan pengendalian dalam pengurusan barang milik daerah dalam bentuk fisik, administratif dan tindakan upaya hukum. 17. Penggunaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pengguna/kuasa pengguna dalam mengelola dan menata usaha kan barang milik daerah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang bersangkutan. 18. Pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik daerah yang tidak dipergunakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam bentuk sewa, pinjam pakai, kerjasama pemanfaatan, bangun guna serah dan bangun serah guna dengan tidak mengubah status kepemilikan.

152

19. Sewa adalah pemanfaatan barang milik daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dengan menerima imbalan uang tunai. 20. Pinjam pakai adalah penyerahan penggunaan barang antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dan antar Pemerintah Daerah dalam jangka waktu tertentu tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu tersebut berakhir diserahkan kembali kepada pengelola. 21. Kerjasama pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dalam rangka peningkatan penerimaan daerah bukan pajak/pendapatan daerah dan sumber pembiayaan lainnya. 22. Bangun guna serah adalah pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati, untuk selanjutnya diserahkan kembali tanah beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya setelah berakhirnya jangka waktu. 23. Bangun serah guna adalah pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, dan setelah selesai pembangunannya diserahkan untuk didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang disepakati. 24. Penghapusan adalah tindakan menghapus barang milik daerah dari daftar barang dengan menerbitkan surat keputusan dari pejabat yang berwenang untuk membebaskan pengguna dan/atau kuasa pengguna dan/atau pengelola dari tanggung jawab administrasi dan fisik atas barang yang berada dalam penguasaannya. 25. Pemindahtanganan adalah pengalihan kepemilikan barang milik daerah sebagai Daerah. tindak lanjut dari penghapusan dengan cara dijual, dipertukarkan, dihibahkan atau disertakan sebagai modal Pemerintah

153

26. Penjualan adalah pengalihan kepemilikan barang milik daerah kepada pihak lain dengan menerima penggantian dalam bentuk uang. 27. Tukar menukar barang milik daerah/tukar guling adalah pengalihan kepemilikan barang milik daerah yang dilakukan antara Pemerintah Daerah dengan Pemerintah Pusat, antar Pemerintah Daerah, atau antara Pemerintah Daerah dengan pihak lain, dengan menerima penggantian dalam bentuk barang, sekurang-kurangnya dengan nilai seimbang. 28. Hibah adalah pengalihan kepemilikan barang dari pemerintah daerah kepada pemerintah pusat, antar pemerintah daerah, atau dari pemerintah daerah kepada pihak lain, tanpa memperoleh penggantian. 29. Penyertaan modal pemerintah daerah adalah pengalihan kepemilikan barang milik daerah yang semula merupakan kekayaan yang tidak dipisahkan menjadi kekayaan yang dipisahkan untuk diperhitungkan sebagai modal/saham daerah pada Badan Usaha Milik Negara/daerah atau badan hukum lainnya. 30. Penatausahaan adalah rangkaian kegiatan yang meliputi pembukuan, inventarisasi dan pelaporan barang milik daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 31. Inventarisasi adalah kegiatan untuk melakukan pendataan, pencatatan, dan pelaporan hasil pendataan barang milik daerah. 32. Penilaian adalah suatu proses kegiatan penelitian yang selektif didasarkan pada data/fakta yang obyektif dan relevan dengan menggunakan metode/teknis tertentu untuk memperoleh nilai barang milik daerah. 33. Daftar barang pengguna yang selanjutnya disingkat dengan DBP adalah daftar yang memuat data barang yang digunakan oleh masing-masing pengguna. 34. Daftar barang kuasa pengguna yang selanjutnya disingkat DBKP adalah daftar yang memuat data barang yang dimiliki oleh masing-masing kuasa pengguna.

154

35. Standarisasi sarana dan prasarana kerja Pemerintahan Daerah adalah pembakuan ruang kantor, perlengkapan kantor, rumah dinas, kendaraan dinas dan lain- lain barang yang memerlukan standarisasi. 36. Standarisasi harga adalah penetapan besaran harga barang sesuai jenis,spesifikasi dan kualitas dalam 1 (satu) periode tertentu. Pasal 2 Pengelolaan barang milik daerah sebagai bagian dari pengelolaan keuangan daerah yang dilaksanakan secara terpisah dari pengelolaan barang milik Negara. Pasal 3 (1) Barang milik Daerah meliputi: a. barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD; dan b. barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah; (2) Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi: a. barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis; b. barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak; c. barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang; atau d. barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Pasal 4 (1) Pengelolaan barang milik daerah dilaksanakan berdasarkan asas fungsional, kepastian hukum, transparansi dan keterbukaan, efisiensi, akuntabilitas, dan kepastian nilai. (2) Pengelolaan barang milik daerah meliputi: a. perencanaan kebutuhan dan penganggaran; b. Pengadaan c. Penerimaan, penyimpanan dan penyaluran; d. Penggunaan e. penatausahaan; f. pemanfaatan; g. pengamanan dan pemeliharaan;

155

h. penilaian; i. penghapusan; j. pemindahtanganan; k. pembinaan, pengawasan dan pengendalian; I. pembiayaan; dan m. tuntutan ganti rugi. BAB II PEJABAT PENGELOLA BARANG MILIK DAERAH Pasal 5 (1) Kepala Daerah sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan barang milik daerah berwenang dan bertanggungjawab atas pembinaan dan pelaksanaan pengelolaan barang milik daerah; (2) Dalam melaksanakan ketentuan pada ayat (1), Kepala Daerah dibantu oleh: a. Sekretaris Daerah selaku pengelola; b. Kepala Biro/Bagian Perlengkapan/Umum/Unit pengelola barang milik daerah selaku pembantu pengelola; c. Kepala SKPD selaku pengguna; d. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah selaku kuasa pengguna; e. Penyimpan barang milik daerah; dan f. Pengurus barang milik daerah. Pasal 6 (1) Kepala Daerah sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan barang milik daerah, mempunyai wewenang : a. menetapkan kebijakan pengelolaan barang milik daerah; b. menetapkan penggunaan, pemanfaatan atau pemindahtanganan tanah dan bangunan; c. menetapkan kebijakan pengamanan barang milik daerah; d. mengajukan usul pemindahtanganan barang milik daerah yang memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;

156

e. menyetujui usul pemindahtanganan dan penghapusan barang milik Daerah sesuai batas kewenangannya; dan f. menyetujui usul pemanfaatan barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan. (2) Sekretaris Daerah selaku pengelola, berwenang dan bertanggungjawab: a. menetapkan pejabat yang mengurus dan menyimpan barang milik daerah; b. meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan barang milik daerah; c.meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan pemeliharaan/perawatan barang milik daerah; d.mengatur pelaksanaan pemanfaatan, penghapusan dan pemindahtanganan Kepala Daerah; e. melakukan koordinasi dalam pelaksanaan inventarisasi barang milik daerah; f. melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan barang milik daerah. (3) Kepala Biro/Bagian Perlengkapan/Umum/Unit pengelola barang milik daerah bertanggungjawab mengkoordinir penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah yang ada pada masing-masing SKPD; (4) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah selaku pengguna barang milik daerah, berwenang dan bertanggung jawab: a. mengajukan rencana kebutuhan barang milik daerah bagi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya kepada Kepala Daerah melalui pengelola; b. mengajukan permohonan penetapan status untuk penguasaan dan penggunaan barang milik daerah yang diperoleh dari beban APBD dan perolehan lainnya yang sah kepada Kepala Daerah melalui pengelola; c. melakukan pencatatan dan inventarisasi barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya; barang milik daerah yang telah disetujui oleh

157

d.menggunakan

barang

milik

daerah

yang

berada

dalam

penguasaannya untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya; e. mengamankan dan memelihara barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya; f. mengajukan usul pemindahtanganan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan yang tidak memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan kepada Kepala Daerah melalui pengelola; g. menyerahkan tanah dan bangunan yang tidak dimanfaatkan untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya kepada Kepala Daerah melalui pengelola; h. melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan barang milik daerah yang ada dalam penguasaannya; dan i.menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) yang berada dalam penguasaannya kepada pengelola. (5) Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah selaku kuasa pengguna barang milik daerah, berwenang dan bertanggung jawab: a. mengajukan rencana kebutuhan barang milik daerah bagi unit kerja yang dipimpinnya kepada Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bersangkutan; b. melakukan pencatatan dan inventarisasi barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya; c. menggunakan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi unit kerja yang dipimpinnya; d. mengamankan dan memelihara barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya;

158

e. melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan barang milik daerah yang ada dalam penguasaannya; dan f. menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran (LBKPS) dan Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan (LBKPT) yang berada dalam penguasaannya kepada kepala satuan kerja perangkat daerah yang bersangkutan. (6) Penyimpan barang bertugas menerima, menyimpan dan menyalurkan barang yang berada pada pengguna/kuasa pengguna; dan (7) Pengurus barang bertugas mengurus barang milik daerah dalam pemakaian pada masing-masing pengguna/kuasa pengguna. BAB III PERENCANAAN KEBUTUHAN DAN PENGANGGARAN Pasal 7 (1) Perencanaan kebutuhan barang milik daerah disusun dalam rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah setelah memperhatikan ketersediaan barang milik daerah yang ada. (2) Perencanaan kebutuhan pemeliharaan barang milik daerah disusun dalam Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan memperhatikan data barang yang ada dalam pemakaian. (3) Perencanaan kebutuhan dan pemeliharaan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), berpedoman pada standarisasi sarana dan prasarana kerja pemerintahan daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah dan standarharga yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah. (4) Peraturan Kepala Daerah dan Keputusan Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dijadikan acuan dalam menyusun Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah (RKBMD) dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (RKPBMD). (5) Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat

159

(1) dan ayat (2), sebagai dasar penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) masing-masing satuan kerja perangkat daerah sebagai bahan penyusunan Rencana APBD. Pasal 8 Pengelola bersama pengguna membahas usul Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah/Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah masing-masing SKPD tersebut dengan memperhatikan data barang pada pengguna dan/atau pengelola untuk ditetapkan sebagai Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah (RKBMD) dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (RKPBMD). Pasal 9 (1) Setelah APBD ditetapkan, pembantu pengelola menyusun Daftar Kebutuhan Barang Milik Daerah (DKBMD) dan Daftar Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (DKPBMD), sebagai dasar pelaksanaan pengadaan dan pemeliharaan barang milik daerah. (2) Daftar Kebutuhan Barang Milik Daerah (DKBMD) dan Daftar Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (DKPBD), ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah. Pasal 10 Kepala Biro/Bagian Perlengkapan/Umum/Unit pengelola barang milik daerah sesuai tugas dan fungsinya duduk sebagai Tim Pemerintah Daerah dalam penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. 3.2.1.2 Kode Barang Milik Daerah. Kode barang daerah diklasifikasikan ke dalam 6 golongan, yaitu Kartu Inventaris Barang (KIB) A, KIB B,KIB C, KIB D, KIB E, KIB F. di bawah ini penjelasan mengenai barang yang termasuk dalam KIB-KIB tersebut.

160

i) KIB A (Tanah) tanah perkampungan pertanian, perkebunan, kebun campuran, hutan, kolam ikan, danau/rawa, sungai, tanah tandus/rusak, alang-alang dan padang rumput, penggunaan lain, bangunan, pertambangan, badan jalan, dan lain-lain ii) KIB B (peralatan dan mesin) Alat-alat besar,
Alat-alat angkutan,

Alat-alat bengkel dan alat ukur, Alat-alat pertanian/peternakan, Alat-alat kantor dan rumah tangga, Alat studio dan alat komunikasi,
Alat-alat kedokteran,

Alat laboratorium,
Alat-alat keamanan dan seterusnya.

iii) KIB C (gedung dan bangunan) Bangunan gedung Bangunan monumen

161

iv) KIB D (jalan, irigasi, dan jaringan) Jalan dan jembatan,


Bangunan air/ irigasi,

Instalasi, dan jaringan. v) KIB E (asset tetap lainnya) Buku perpustakaan Barang bercorak kesenian/kebudayaan Hewan/ternak dan tumbuhan

vi) KIB F (konstruksi dalam pengerjaan) Asset tetap yang masih dalam proses pengerjaan pada tanggal pelaporan digolongkan dan dilaporkan sebagai konstruksi dalam pengerjaan Konstruksi dalam penyelesaian yang sudah selesai dibangun dan telah siap pakai diklasifikasikan ke dalam asset tetap. 3.2.1.3 Dokumen SKPD/pengguna barang Adanya dokumen SKPD dan pembakuan nomor kode SKPD serta unit kerja di lingkungan Pemda Kab. Garut. Berikut dokumen pembakuan nomor kode SKPD.
3.2.1.4 Dokumen Standar Harga Barang Yaitu data data mengenai standar harga barang yang telah ditetapkan oleh kepala daerah

162

3.2.2

Dokumen Output Sistem Yang Berjalan Adapun dokumen output pada system yang berjalan adalah sebagai

berikut: 1. DK BMD, Berikut tabel DK BMD.

163

LAMPIRAN 1 KEPUTUSAN BUPATI GARUT NOMOR : 028/kep. 17 DPPKA/2010 TANGGAL : 20 01 2010 DAFTAR KEBUTUHAN BARANG MILIK DAERAH (DKBMD) PERUBAHAN DILINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN GARUT TAHUN ANGGARAN 2009 Tabel 3.2 Output/ lampiran DK BMD
Merk/ty pe ukuran 4 Uk. 25x15 cm Sebelum perubahan Kode barang 5 02.06.01.01 .12 Jumlah barang 6 120 dus 24 dus Harga satuan (Rp) 7 13.900 13.750 Jumlah biaya (Rp) 8 1.668.0 00 330.000 Setelah perubahan Jumlah barang 9 120 dus 24 dus 5 dus 2 dus Uk. 15x10 cm kabinet kabinet 120 dus 85 buah 16 buah 1 set 10 buku 90 lembar 200 lembar 144 buku 168 buku 36 buku 9.900 1.000 1.100 1.000.00 0 15.000 6.500 25.300 15.900 1.188.0 00 85.000 17.600 1.000.0 00 150.000 936.000 4.250.4 00 572.400 120 dus 85 buah 16 buah 1 set 10 buku 330 buku 168 buku 36 buku Harga satuan (Rp) 10 13.900 13.750 12.000 11.000 9.900 1.000 1.100 1.000.0 00 15.000 6.500 25.300 15.900 Jumlah biaya (Rp) 11 1.668.0 00 330.000 60.000 22.000 1.188.0 00 85.000 17.600 1.000.0 00 150.000 2.145.0 00 4.250.4 00 572.400 1.209.0 00 129.17 % 0.00% 0.00% Bertambah/berku rang Rp 12 60.000 22.000 % 13 0.00 % 0.00% 100.00 % 100.00 % 0.00% 0.00% 14 1.01.015. 2.2 Kode rekening

n o 1 1

SKPD 2

Nama/jenis barang 3 Amplop besar Amplop besar Amplop kecil Amplop kecil amplop amplop amplop aksesori Buku ekspedisi Buku ekpedisi Buku polio Buku kas polio

Dinas pendidik an Golonga n : alat tulis kantor

3.2.3

Dokumen Ruang Lingkup Yang Berhubungan Dengan System Dokumen ruang lingkup yang berhubungan dengan system adalah:

1. Data SKPD, menjelaskan pengguna barang yang memakai, memelihara Barang Milik Daerah dengan nomor kode SKPD. 2. Data RK BMD, menjelaskan rencana kebutuhan barang yang di usulkan.

95

96

BAB IV ANALISIS PROSES BISNIS Pada bab ini akan dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan tahap analisis sistem yang mengacu pada metode waterfall yang dikemukakan oleh Sandra Donaldson Dewitz, tahap analisis ini merupakan tahap penguraian dari suatu sistem informasi yang utuh ke dalam bagian-bagian komponennya dengan maksud untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi permasalahan-permasalahan, kesempatan-kesempatan, hambatan-hambatan dan kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat di usulkan perbaikannya. Dari analisis sistem ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : 4.1 4.1.1 Analisis Organizational Context Peraturan Kepala Daerah tentang DPPKA PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 413 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PENDAPATAN, PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET KABUPATEN GARUT BUPATI GARUT Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Pasal 4 ayat (3) Peraturan Daerah Nomor 23 Tahun 28 tentang Pembentukan Struktur Organisasi Dinas Daerah dipandang perlu penyusunan kembali Tugas Pokok Fungsi dan Tata Kerja Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Kabupaten Garut; b. bahwa untuk maksud tersebut huruf a di atas, perlu ditetapkan dengan Peraturan Bupati. 1. Undang-Undang : Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan

Mengingat

97

Daerah-daerah Kabupaten Dalam lingkungan Provinsi Jawa Barat (Berita Negara Tahun 1950); 2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890); 3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 5. Undang-Undang Nomor 33

98

Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 22); 7. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Propinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741); 9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam NegeriNomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan KeuanganDaerah; 10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penataan

99

Organisasi Perangkat Daerah; 11. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 14 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Daerah Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2008 Nomor 27); 12. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 23 Tahun 2008tentang Pembentukan Dan Susunan Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2008 Nomor 38) MEMUTUSKAN

Menetapkan

: PERATURAN BUPATI GARUT TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PENDAPATAN, PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET KABUPATEN GARUT BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Garut; 2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Garut; 3. Bupati adalah Bupati Garut; 4. Wakil Bupati adalah Wakil Bupati Garut; 5. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Kabupaten Garut; 6. Dinas adalah Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Kabupaten Garut; 7. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Kabupaten Garut; 8. Kelompok Jabatan Fungsional adalah kelompok Pegawai Negeri

100

Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan yang didasarkan pada keahlian dan atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri BAB II TUGAS POKOK, FUNGSI DAN URAIAN TUGAS Bagian Pertama Dinas Pasal 2 (1) Dinas merupakan unsur pelaksana Pemerintah Daerah yang dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah; (2) Tugas Pokok Fungsi Dinas adalah sebagaimana diatur dalam Pasal 4 Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 23 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan susunan Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Garut (lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2008 Nomor 38) Struktur Organisasi Dinas adalah sebagaimana yang diatur pada Pasal 28 dan Lampiran XII Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 23 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan susunan Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2008 Nomor 38). Bagian Kedua Kepala Dinas Pasal 3
(1)

(2)

Kepala Dinas mempunyai tugas pokok memimpin, merumuskan, mengkoordinasikan dan mengendalikan pelaksanaan urusan pemerintah daerah Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset; Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini, Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset mempunyai fungsi: a. penyusunan rancangan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD)dan rancangan perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah (RAPBD); b. penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD); c. pengkoordinasian, pengendalian dan fasilitasi tugas bidang pendapatan, perencanaan dan anggaran, belanja serta kekayaan;

101

(3)

d. pengelolaan sumber daya aparatur, keuangan, sarana dan prasarana pemerintah daerah; e. pelaksanaan koordinasi dan kerjasama dalam rangka penyelenggaraan tugas. Rincian Tugas Kepala Dinas: a. merumuskan kebijakan teknis pengelolaan keuangan daerah berdasarkan visi dan misi serta tugas pokok dan fungsi badan; b. merumuskan sasaran dan program kerja bidang pendapatan, pengelolaandan keuangan dan aset berdasarkan kebijakan teknis dinas; c. mendistribusikan tugas kepada para bawahan secara lisan maupun tertulis sesuai bidang tugas masing - masing; d. mengkoordinasikan pelaksanaan tugas para bawahan melalui rapat rapat intern dan petunjuk langsung untuk keterpaduan pelaksanaan tugas; e. membina para bawahan sesuai ketentuan pendapatan, pengelolaan dankeuangan dan aset untuk peningkatan kualitas dan karier para bawahan; f. mengadakan konsultasi tugas dengan pihak- pihak yang terkait baik teknismaupun administratif, untuk keserasian dan keharmonisan pelaksanaantugas pokok dan fungsi badan; g. memantau pelaksanaan tugas para bawahan berdasarkan program kerjadinas pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset; h. memeriksa konsep naskah dinas yang diajukan oleh bawahan untuk ditandatangani; i. mengevaluasi pelaksanaan tugas para bawahan untuk mengetahui presentasi kerjanya dan upaya tindak lanjut; j. melaporkan pelaksanaan tugas badan baik secara lisan, tertulis, berkala, maupun insidental kepada bupati melalui sekretaris daerah; k. memberi saran dan pertimbangan kepada atasan yang menyangkut bidang tugas; I. melaksanakan tugas - tugas lain yang diberikan oleh atasan, sesuai dengan bidang tugasnnya. Kepala Dinas membawahi: a. Sekretariat; b. Bidang Pendapatan Daerah; c. Bidang Perimbangan; d. Bidang Anggaran; e. Bidang Belanja; f. Bidang Aset; g. Kelompok Jabatan Fungsional. Bagian Ketiga Sekretariat Pasal 4

(4)

102

(1) Sekretariat dipimpin oleh seorang Sekretaris yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas yang mempunyai tugas pokok merumuskan program kegiatan tuntuk pelayanan administrasi bidang umum, keuangan dan perencanaan evaluasi dan pelaporan. (2) Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini, Sekretaris mempunyai fungsi : a. penyusunan dan perumusan kebijakan bidang kesekretariatan; b. pengkoordinasian dalam penyusunan perencanaan program bidang-bidang; c. penyelenggaraan dan pengendalian pelaksanaan kegiatan bidang umum, keuangan, urusan perencanaan evaluasi dan pelaporan; d. pelaksanaan koordinasi dan kerjasama untuk kelancaran pelaksanaan tugas e. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan bidang tugasnya Pasal 23 (1) Seksi Pembukuan dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Kepala Bidang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan Pembukuan. (2) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, Kepala Seksi Pembukuan mempunyai fungsi: a. pengumpulan dan pengolahan data serta penyiapan bahan kebijakan teknis bidang pembukuan; b. penyusunan pedoman teknis untuk pelaksanaan pengelolaan Pembukuan. c. pengumpulan dan pengolahan data untuk melaksanakan pengendalian dan evaluasi; d. penyiapan bahan pembinaan teknis untuk evaluasi dan pelaporan Rincian Tugas Seksi Pembukuan: a. mengumpulkan dan mengolah data urusan pembukuan sebagai bahan penyusunan rencana kegiatan; b. membagi tugas kepada para bawahan sesuai dengan bidang tugas masing-masing; c. memberi petunjuk kepada para bawahan sesuai ketentuan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan tugas; d. memeriksa hasil kerja para bawahan agar sesuai dengan rencana kerja; e: mengevaluasi hasil kerja para bawahan untuk mengetahui prestasi kerjanya dan sebagai bahan pembinaan serta tindak lanjut; f. mengontrol pelaksanaan tugas lingkup bidang pembukuan untuk memperoleh masukan; g. menyusun konsep surat dinas beradasarkan perintah atasan; h. membuat laporan pelaksanaan tugas bidang pembukuan sesuai dengan rencana kerja guna bahan masukan kepada atasan ;

(3)

103

i.

melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan bidang tugasnya. Bagian Kedelapan Bidang Aset Pasal 24

(1)

Bidang Aset dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas mempunyai Tugas Pokok melaksanakan kebijakan Pengelolaan Barang Daerah terdiri dari Analisis Kebutuhan Aset Daerah, Penata Usahaan Barang Daerah, Menginventarisir Barang Bergerak dan Tidak Bergerak, Melakukan Pembinaan dan Pengawasan Pengelolaan Barang/Aset Daerah dan Sensus Barang Daerah. (2) Untuk menyelenggarakan Tugas Pokok sebagaimana dimaksud ayat 1 Pasal ini Kepala Bidang Aset mempunyai fungsi: a. Meyusun dan merumuskan Rencana Kebijakan Pengelolaan Barang Daerah/Aset Daerah; b. Melakukan Penatausahaan Barang/ Aset Daerah meliputi pencatatan,pembukuan, penginventarisasian barang milik daerah dan pelapoaran aset daerah; sesuai peraturan yang berlaku; c. Melakukan koordinasi pelaksanaan pemanpatan, pengahapusan dan pemindahtanganan barang milik daerah;

104

4.1.2

Struktur organisasi DPPKA


K P LA D A E A IN S

KELOMPOK JABATAN FU GSION N AL

SEKR ETAR IS

SU BAGIAN B U M MU

SU BAGIAN B KEU GAN AN

SU BAGIAN PER C AAN B EN AN EVALU ASI D EVALU AN SI

BID G AN PEN APATAN D

BID G AN PER IMBAN GAN

BID G AN AN GGAR AN

BID G AN BELAN JA

BID G AN ASET

SEKSI PEN AFTAR D AN

SEKSI PBB D BPH AN TB

SEKSI PEN SU APBD YU N

SEKSI PER BEN AH AAN D AR

SEKSI AN ALISIS KEBU H TU AN

SEKSI PEN ETAPAN

SEKSI PENG ELOLAAN PENDAPAT AN

SEKSI PEN GEN ALIAN APBD D

SEKSI BELAN PEGAW JA AI

SEKSI IN VEN TAR BAR G IS AN

SEKSI PEN AGIH AN

SEKSI EKSTEN SIFIKASI

SEKSI PEN GOLAH D AN ATA

SEKSI PEMBU AN KU

SEKSI IN VEN TAR IS BAR G TID BER AN AK GER AK

U TD P

Gambar 4.1 Struktur organisasi DPPKA

4.1.3

Visi DPPKA Terwujudnya Peningkatan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset

Daerah yang Akuntabel Tahun 2013. 4.1.4 Misi DPPKA 1. Mewujudkan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah yang Akurat dan Akuntabel. 2. Meningkatkan Profesionalisme Sumber Daya Aparatur Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan Daerah dan Aset. 3. Meningkatkan Pendapatan Daerah Melalui Intensifikasi dan Ekstensifikasi. 4.2 Analisis Sistem Berjalan Analisis sistem berjalan merupakan tahap menganalisa sistem yang sedang berjalan. Pada tahap ini dilakukan analisa mengenai proses bisnis dari sistem perencanaan kebutuhan barang milik daerah yang berjalan, deskripsi proses perencanaan kebutuhan barang mlik daerah ini disajikan melalui pemodelan flowmap. Deskripsi proses pengolahan data perencanaan kebutuhan barang milik daerah ini disajikan melalui pemodelan flowmap sebagai berikut:

116

117

sistem perencanaan barang milik daerah yang berjalan

Pengguna Barang
start

Pengelola/ Pembantu Pengelola Barang

Tim APBD

RK BMD pengumpulan usulan kebutuhan koreksi & verifikasi RK BMD

standarisasi sarana dan prasarana

RKA SKPD

standar harga

penetapan Perda APBD

RKP BMD telah dikoreksi & verifiksi

RKP BMD telah dikoreksi & verifiksi

DPA SKPD

revisi

RKA SKPD

DK BMD

End

Gambar 4.2 Flowmap current system Adapun deskripsi proses bisnis perencanaan kebutuhan barang milik daerah yang sedang berjalan adalah sebagai berikut: 1. Proses pengolahan RK BMD

Pengguna barang melakukan pengumpulan usulan kebutuhan. Pengguna barang menyusun RK BMD.

118

Kebutuhan barang dirinci berdasar banyak, nama, waktu dan jumlah biaya.

2. Proses verifikasi, koreksi dan revisi Pengelola barang melakukan koreksi dan verifikasi RK BMD dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah dan berdasarkan standarisasi sarana dan prasarana serta standar harga yang ditetapkan oleh Kepala Daerah.

Pengguna barang melakukan revisi RK BMD.

3. Proses pengolahan DK BMD. Pengguna Barang menyusun RKA SKPD berdasarkan revisi RK BMD. 4.2.1 Tim APBD membahas RKA SKPD. Tim APBD menetapkan Perda APBD. Tim APBD mensahkan DPA SKPD. Pengguna barang menyusun DK BMD berdasarkan DPA SKPD.

Analisis Fisik (PPDSH) Analisa pisik PPDSH merupakan bagaimana gambaran sistem yang

sedang berjalan yang menunjukan bagaimana tugas dilaksanakan secara fisik. 4.2.1.1 Analisis Fisik Proses Pengolahan RK BMD. Penggambaran physical analysis dari proses pengolahan RK BMD yang sedang berjalan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

119

Tabel 4.1 Analisis fisik PPDSH proses pengolahan RK BMD. People Procedures - Pengguna barang mengumpulkan Pengguna barang usulan kebutuhan barang - Menyusun RK BMD - Melakukan verifikasi dan Pengelola barang koreksi berdasarkan kemampuan keuangan daerah - RK BMD Microsoft Office word CPU Data S/W H/W

4.2.1.2 Analisis Fisik Proses verifikasi, koreksi dan revisi Penggambaran physical analysis dari proses verifikasi, koreksi dan revisi yang sedang berjalan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

120

Tabel 4.2 Analisis fisik proses verifikasi, koreksi dan revisi. People Pengguna barang Procedures - Pengguna barang melakukan revisi - RK BMD RK BMD - Melakukan verifikasi dan koreksi berdasarkan Pengelola barang kemampuan keuangan daerah dan berdasarkan standarisasi sarana dan prasarana serta standar harga RK BMD Data S/W Microsoft Office word CPU H/W

4.2.1.3 Analisis Fisik Proses pengolahan DK BMD Penggambaran physical analysis dari proses proses pengolahan DK BMD yang sedang berjalan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

121

Tabel 4.3 Analisis fisik proses pengolahan DK BMD People Procedures - Pengguna barang Pengguna barang menyusun RKA SKPD menyusun DK BMD - Membahas RKA SKPD Tim APBD - Menetapkan Perda - Mensahkan DPA SKPD RK BMD - RKA SKPD - Pengguna barang - DK BMD Microsoft Office Word CPU Data S/W H/W

4.2.2

Logical Analysis (IPSOC) Analisis logis merupakan gambaran sistem yang menunjukan proses apa

pada sistem yang sedang berjalan. Adapun proses analisa logis pada sistem perencanaan kebutuhan ini adalah sebagai berikut : 4.2.2.1 Analisis logika proses pengolahan RK BMD

122

Pengguna barang

Data usulan kebutuhan

Menyusun RK BMD

RK BMD

Gambar 4.3 Diagram block proses pengolahan RK BMD Berdasarkan block diagram di atas pengguna barang mengumpulkan usulan kebutuhan sebagai bahan untuk menyusun RK BMD. Selanjutnya kebutuhan barang dirinci berdasar banyak, nama, waktu dan jumlah biaya. Adapun analisis logis untuk IPOSC dari proses pengolahan adalah sebagai berikut: Tabel 4.4 IPOSC proses pengolahan RK BMD Input Usulan kebutuhan barang Processing Penyusunan RK BMD Output RK BMD Storage - Data kebutuhan barang - Data rincian barang Control

4.2.2.2 Analisis Logika Proses Verifikasi, Koreksi Dan Revisi

RK BMD

Verifikasi, koreksi dan revisi

Revisi RK BMD

Gambar 4.4 Diagram block proses verifikasi, koreksi Berdasarkan block diagram di atas RK BMD di koreksi dan di verifikasi dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah dan berdasarkan standarisasi sarana dan prasarana serta standar harga yang ditetapkan oleh Kepala

123

Daerah. Kemudian oleh pengguna barang di revisi RK BMD tersebut. Adapun analisis logis untuk IPOSC dari proses verifikasi, koreksi dan revisi adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5 IPOSC proses verifikasi, koreksi dan revisi Input RK BMD Processing Output - Verifik Revisi asi i Revisi Koreks BMD Storage Control RK - Data revisi RK BMD

4.2.2.3 Analisis logika Proses pengolahan DK BMD 1. proses pengolahan RKA SKPD

Revisi RK BMD

Menyusun RKA SKPD

RKA SKPD

Gambar 4.5 Diagram block proses pengolahan RKA SKPD Berdasarkan block diagram di atas, pengguna barang menyusun RKA SKPD berdasarkan RK BMD yang telah direvisi sebelumnya. Selanjutnya tim APBD membahas RKA SKPD tersebut, kemudian tim APBD menetapkan perda APBD yang diteruskan dengan mensahkan DPA SKPD. Adapun analisis logis untuk IPOSC dari proses pengolahan RKA SKPD adalah sebagai berikut: Tabel 4.6 IPOSC proses pengolahan RKA SKPD

124

Input Revisi BMD

Processing RK Menyusun RKA SKPD

Output RKA SKPD

Storage - Data SKPD RKA

Control

2. proses pengolahan DK BMD

DPA SKPD

Menyusun DK BMD

DK BMD

Gambar 4.6 Diagram block proses pengolahan DK BMD Berdasarkan block diagram di atas, DPA SKPD sebagai bahan penyusunan DK BMD. Adapun analisis logis untuk IPOSC dari proses pengolahan DK BMD adalah sebagai berikut: Tabel 4.7 IPOSC proses pengolahan DK BMD Input DPA SKPD Processing Menyusun DK BMD Output DK BMD Storage - Data BMD Control DK

4.2.3

Analisis Permasalahan Setelah melakukan analisis terhadap aktifitas-aktifitas yang terjadi dalam

sistem perencanaan kebutuhan barang milik daerah yang sedang berjalan, pada prosesnya terdapat permasalahan-permasalahan yaitu sebagai berikut:

125

1. Data yang dikelola dan diolah dalam sistem perencanaan kebutuhan barang daerah sangat besar, maka perlu tingkat akurasi data yang tinggi. 2. Dikarenakan data yang dikelola sangat besar kadang kala proses pembuatan laporan sering melebihi dari jadwal yang telah ditentukan.
3. Banyaknya data yang harus dimasukkan sehingga laporan yang terlambat dibuat berkenaan dengan kurang optimalnya pemanfaatan komputer dan sumber daya manusianya. 4. Banyak barang dengan nama yang sama tetapi memiliki atribut yang berbeda sehingga petugas harus mengetik ulang nama barang tersebut beserta atribut barunya.

4.3

Menentukan Fungsional Sistem Baru Berdasarkan gambaran dari IPOSC di atas maka kebutuhan fungsional

yang diperlukan dalam perancangan sistem baru adalah sebagai berikut : Tabel 4.8 Tabel kebutuhan fungsional Fungsional Sistem
1.

Non Fungsional Sistem Sistem


1. Database dalam sistem dapat di

yang ke

dirancang dalam

harus

mampu untuk dari

tambah, dikurangi, di-update, dibackup dengan mudah.

melakukan transformasi dokumen database perpindahan mempermudah

sistem yang lama ke dalam sistem yang baru 2. Sistem yang dikembangkan harus 2. Sistem mengelola dan mengolah data yang sangat besar secara cepat, tepat dan akurat. Sehingga dapat mengoptimalisasi pengolahan data mempunyai tampilan

desain yang menarik.

126

3. Penggunaan database dalam proses 3.Sistem yang dikembangkan juga

penyimpanan data diharapkan dapat harus dapat diandalkan dalam proses mempermudah proses up-date dan kerja. searching data barang milik daerah.

4.4

Analisis Sistem Baru (usulan) Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang terdapat pada current

system, maka akan dibuat sebuah sistem usulan. Adapun pemodelannya disajikan dalam bentuk flowmap sebagai berikut:

127

sistem perencanaan barang milik daerah usulan

Pengguna Barang
start

Pengelola/ Pembantu Pengelola Barang

Tim APBD

RK BMD pengumpulan usulan kebutuhan

koreksi & verifikasi

RKA SKPD

sistem database perencanaan kebutuhan

penetapan Perda APBD standarisasi sarana dan prasarana

RK BMD

RKP BMD telah dikoreksi & verifiksi

RKP BMD telah dikoreksi & verifiksi

DPA SKPD standar harga

revisi

RKA SKPD

DK BMD

End

Gambar 4.7 Sistem baru (usulan) Berdasarkan flowmap diatas maka deskripsi proses dari sistem perencanaan kebutuhan yang di usulkan adalah sebagai berikut: 9. 10. Pengguna barang /SKPD menyusun RK BMD. Kemudian diserahkan kepada Pengelola Barang/Pembantu

Pengelola Barang. 11. Pengelola Barang/Pembantu Pengelola Barang melakukan input

data, mengolah data dan mengoreksi serta melakukan verifikasi RK BMD sesuai dengan standar sarana dam prasarana serta standar harga yang telah di tetapkan oleh kepala daerah.

128

12. 13. 14.


15.

Pengguna Barang melakukan revisi RK BMD. Berdasarkan revisi RK BMD Pengguna barang menyusun RK Tim APBD melakukan Penetapan Perda APBD Setelah melakukan Perda APBD, Tim APBD mensahkan DPA

SKPD yang selanjutnya akan dibahas oleh Tim APBD.

SKPD. 16. Selanjutnya setelah ditetapkan Perda APBD, berdasarkan DPA

SKPD pengguna barang mengedit dan mengolah revisi RK BMD untuk menyusun DK BMD. Pada sistem perencanaan kebutuhan barang daerah yang akan

dikembangkan, sistem menjadi aplikasi berbasis database yang akan mampu mengoptimalisasi pengolahan data yang sangat besar.

129

BAB V PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini menjelaskan tentang Perancangan System (System Design) yang dikemukakan oleh Sandra Donaldson Dewitz, (1996). Tahap ini merupakan tahapan yang berkaitan dengan rancangan umum sistem dan rancangan rinci sistem yang akan dirancang dengan menggunakan beberapa pemodelan dan pemrosesan. Adapun perancangan sistem ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : 5.1 Desain Sacara Umum Tujuan dari perancangan sistem secara umum adalah untuk memberikan gambaran umum kepada user tentang bagaimana konsep dan tata cara kerja dari sistem baru yang akan dikembangkan maupun yang dirancang. Adapun gambaran desain secara umum mengenai proses dari perancangan sistem perencanaan kebutuhan barang milik daerah yang akan dibuat disajikan dalam spesifik secara logis (IPOSC) sebagai berikut: 5.1.1 Spesifik Secara Logis (IPOSC) Pada Spesifik Secara Logis (IPOSC) akan digambarkan bagian dari Input, Proses, Output, dan Storage untuk pengembangan sistem yang baru. Untuk membantu di dalam menggambarkan IPOSC untuk system yang baru maka akan digunakan pemodelan dengan menggunakan diagram block sebagai berikut :
1. Proses Validasi Login
Username & password Menu utama Validasi Login

Gambar 5.1 Diagram block proses validasi login

130

Gambar 5.1 diatas menjelaskan proses login yang dimulai dari input username dan password kemudian dilakukan proses login oleh sistem dalam database. Adapun IPOSC untuk proses registrasi adalah sebagai berikut: Tabel 5.1 IPOSC proses validasi login Input Processing Output Menu utama Storage Database Control Otorisasi keamanan.

Username dan Validasi login password

2. Proses Entry RK BMD

Data usulan kebutuhan

Entry data RK BMD

Informasi RK BMD

Gambar 5.2 Diagram block proses entry data RK BMD Gambar 5.2 diatas menjelaskan proses entry data RK BMD yang dimulai dengan input data usulan kebutuhan sebagai bahan untuk menyusun RK BMD. Kemudian data usulan kebutuhan diolah dengan melakukan entry data Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah (RK BMD). Selanjutnya kebutuhan barang dirinci berdasar banyak, nama, waktu dan jumlah biaya. Selanjutnya menghasilkan informasi RK BMD yang kemudian disimpan dalam database. Adapun analisis logis untuk IPOSC dari proses entry RK BMD adalah sebagai berikut:

131

Tabel 5.2 IPOSC proses entry RK BMD Input Usulan kebutuhan barang Processing Output Storage database Control

Entry data RK RK BMD BMD

3. Proses Update RK BMD


Data RK BMD Informasi Data RK BMD

Data RK BMD

Entry Data RK BMD

Update Data RK BMD

Gambar 5.3 Diagram block update RK BMD Gambar 5.3 diatas menjelaskan proses update yang dimulai dari data RK BMD kemudian di lakukan proses entry data RK BMD serta update RK BMD oleh petuagas/staff dan disimpan dalam database. Adapun analisis logis untuk IPOSC dari proses update RK BMD adalah sebagai berikut: Tabel 5.3 IPOSC proses update RK BMD. Input Data BMD Processing Output Storage Control

RK Entry data RK Informasi RK database BMD BMD

4. Proses Verifikasi, Koreksi Dan Revisi

Input Data RK BMD

Validasi proses verifikasi dan koreksi

revisi RK BMD

Gambar 5.4 Diagram Block Validasi Proses Verifikasi dan Koreksi

132

Gambar 5.4 di atas menjelaskan validasi proses verifikasi dan koreksi yang dimulai dari input data RK BMD kemudian dilakukan validasi proses verifikasi dan koreksi oleh sistem berdasarkan standarisasi sarana dan prasarana serta standar harga yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. Kemudian oleh pengguna barang di revisi RK BMD tersebut. Adapun analisis logis untuk IPOSC dari validasi proses verifikasi dan koreksi adalah sebagai berikut: Tabel 5.4 IPOSC proses verifikasi, koreksi dan revisi Input Data BMD RK Processing Output Storage RK - Database revisi RK BMD Control

- Verifik Revisi asi BMD i Koreks Revisi

5. Proses entry data RKA SKPD

Revisi RK BMD

Entry data RKA SKPD

Informasi RKA SKPD

Gambar 5.5 Diagram block proses entry data RKA SKPD Gambar 5.5 diatas menjelaskan proses entry data RKA SKPD yang dimulai dengan input revisi RK BMD kemudian dilakukan entry data RKA SKPD dan disimpan dalam database. Selanjutnya tim APBD membahas RKA SKPD tersebut, kemudian tim APBD menetapkan perda APBD yang diteruskan dengan mensahkan DPA SKPD. Adapun analisis logis untuk IPOSC dari proses entry data RKA SKPD adalah sebagai berikut:

133

Tabel 5.5 IPOSC proses pengolahan RKA SKPD Input Revisi BMD Processing Output Storage
- Database

Control

RK Entry data Informasi RKA SKPD RKA SKPD

6. Proses pengolahan DK BMD

DPA SKPD

Entry data DK BMD

DK BMD

Gambar 5.6 Diagram block proses entry data DK BMD Gambar 5.6 diatas menjelaskan proses entry data DK BMD yang dimulai dengan input DPA SKPD sebagai bahan penyusunan DK BMD kemudian dilakukan proses entry data DK BMD yang menghasilkan DK BMD. Adapun analisis logis untuk IPOSC dari proses pengolahan DK BMD adalah sebagai berikut: Tabel 5.6 IPOSC proses pengolahan DK BMD. Input DPA SKPD Processing Output Storage database Control

Entry data DK DK BMD BMD

5.2

Rancangan Secara Rinci Rancangan terperinci merupakan rancangan yang dilakukan secara bertahap

dan terperinci, juga sebagai gambaran secara detail dari rancangan umum.

134

Rancangan secara rinci ini meliputi rancangan antar muka, pemodelan data dan rancangan basis data. 5.2.1 Rancangan Antar Muka / Design User Interface Rancangan Antarmuka merupakan gambaran mengenai tampilan-tampilan program yang nanti akan digunakan didalam program aplikasi, adapun tampilan program yang akan digunakan adalah sebagai berikut: a. Form log in

Gambar 5.7 Desain Tampilan Form Login

Tabel 5.7 Langkah-langkah Penggunaan Form Login No 1. 2. Kolom / Field Name User Name Password Keterangan Harus di entry Harus di entry, sistem akan memvalidasi karakter pada kolom password

b. Form Utama/Tampilan Utama

135

F ile L o g In K e lu a r

D a ta M a s te r

V e rifik a s i

D a ta M a s te r L a p o ra n L a p o ra n L a p o ra n L a p o ra n

L a p o ra n D a ta D a ta D a ta D a ta

About

D a ta M a ste r P e n g g u n a B a ra n g D a ta M a ste r B a ra n g D a ta M a ste r S ta n d a r H a rg a

P en g g u n a B a ra n g B ara n g RK BMD DK BMD

Gambar 5.8 Desain Tampilan Form Utama c. Form Pengguna Barang

Gambar 5.9 Desain Tampilan Form Pengguna Barang


Tabel 5.8 Langkah-langkah Penggunaan Form Pengguna Barang

No

Kolom / Field Name

Keterangan

136

1.

Kode SKPD

2. 3.

Nama SKPD Alamat SKPD

Harus di entry, jika data sudah ada, maka data yang sesuai dengan Kode SKPD tertentu akan ditampilkan semua Harus di entry Harus di entry

d. Form Standar Harga

Gambar 5.10 Desain Tampilan Form Standar Harga Tabel 5.9 Langkah-langkah Penggunaan Form Standar Harga No 1. 2. 4. 5 Kolom / Field Name Kode Barang Nama Barang Merk/type Ukuran Harga Satuan Standar Keterangan Harus di entry Harus di entry Harus di entry di entry sesuai standar harga yang ditetapkan oleh Kepala Daerah

137

e. Form RK BMD

Gambar 5.11 Desain Tampilan Form RK BMD Tabel 5.10 Langkah-langkah Penggunaan Form RK BMD No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 9. Kolom / Field Name Nokd RK BMD Kode SKPD Kode Barang Nama Barang Merk/type Ukuran Jumlah Barang Harga Kode Rekening Keterangan Harus Di Entry Harus Di Entry Harus Di Entry Otomatis sesuai dengan kode barang Otomatis sesuai dengan kode barang Harus Di Entry Harus Di Entry sesuai dengan jumlah barang Di entry,

138

f. Form verifikasi

Gambar 5.12 Desain Tampilan Form koreksi,verifikasi Tabel 5.11 Langkah-langkah Penggunaan Form koreksi,verifikasi No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Kolom / Field Name Id verifikasi Kode RK BMD Kode SKPD Nama SKPD Kode Barang Nama Barang Merk/type Ukuran Jumlah Barang Harga Harga Satuan Standar Keterangan Keterangan Harus Di Entry Harus Di Entry Otomatis Otomatis Otomatis Otomatis Otomatis Otomatis Otomatis Otomatis

5.2.2

Struktur Menu Program

139

Form Login Menu Utama

File Form Login Keluar

Data Master Form Data Master Pengguna Barang Form Data Master Standar Harga Form Data Master RK BMD

verifikasi

setting

Laporan Laporan Data Pengguna Barang Laporan Data Barang Laporan Data RK BMD Laporan Data Standar Harga

About

Laporan data koreksi,verifikasi Laporan DK BMD

Gambar 5.13 Struktur Menu Program 5.2.3 Pemodelan Data New System Rancangan aliran data yang digunakan dalam perancangan system perencanaan barang daerah di DPPKAD kab. Garut yaitu dengan menggunakan Data Flow Diagram. Desain aliran data yang digunakan dalam perancangan system ini menggunakan Data Flow Diagram (DFD) sebagai berikut:

5.2.3.1 Diagram Konteks Diagram konteks menunjukan konteks dimana proses bisnis berada, menunjukan semua proses bisnis dalam 1 proses tunggal. Diagram konteks juga menunjukan semua entitas luar yang menerima informasi dari atau memberikan informasi ke sistem. Adapun diagram konteks perencanaan kebutuhan barang daerah adalah sebagai berikut :

140

pembantu pengelola barang

RK BMD telah dikoreksi dan verifikasi

RK BMD 1 data barang standar harga

pengguna barang

data SKPD info RK BMD

info standar harga si stem perenc anaan kebutuhan barang daerah standar sarana dan prasarana kepala daerah

RKA SKPD DK BMD

info standar sarana dan prasarana

info RKA SKPD

laporan hasil RK BM D

DPA SKPD

T im APBD

Gambar 5.14 Diagram konteks perencanaan kebutuhan barang daerah

5.2.3.2 DFD level 0 Adapun DFD Level 0 dari rancangan umum sistem perencanaan kebutuhan barang daerah adalah sebagai berikut :

141

tabel SKPD

tabel RK BMD

pengguna barang

pengguna barang

Tim APBD

data SKPD terinput 1 pengguna barang input data SKPD data RK BMD terinput info SKPD

data SKPD

+
2

3 input RK BMD info data barang

RK BMD dan RKP BMD info RK BMD dan RKP BMD laporan hasil RK BMD

pengguna barang

data barang

input data barang

+
data barang terinput RK BMD d terinput tabel barang kepala daerah kepala daerah kepala daerah kepala daerah

standar sarana dan prasarana

5 pembantu pengelola barang RK BMD telah dikoreksi dan verifikasi koreksi dan verifikasi data standarisasi

4 input standarisasi info standar harga standar harga info standar sarana dan prasarana

info koreksi dan verifikasi

pengguna barang

RKA SKPD info RKA SKPD

6 input RKA SKPD data RK SKPD

7 input DPA SKPD

DPA SKPD

Tim APBD

DK BMD

Tim APBD data RKA SKPD data DK BMD info DK BMD

pengguna barang

tabel RKA SKPD

tabel DK BMD

Gambar 5.15 DFD Level 0 perencanaan barang daerah

Berdasarkan gambar 5.15 di atas maka terdapat 7 proses yaitu :


1. Proses input data SKPD 2. Proses input data barang 3. Proses input RK BMD 4. Proses input standarisasi 5. Proses koreksi dan verifikasi 6. Proses input RKA SKPD 7. Proses DPA SKPD

Untuk lebih memperjelas mengenai proses-proses yang terjadi dalam deskripsi DFD Level 0, maka digambarkan dalam bentuk tabel seperti berikut : Tabel 5.12 : Deskripsi DFD Level 0 No Proses Nama Proses Pada 1
input data SKPD

Deskripsi proses ini pengguna barang

melakukan proses input data SKPD yang kemudian disimpan dalam database table SKPD

input data barang

Seperti proses input data SKPD, proses input data barang juga sama, yaitu pengguna barang melakukan proses input data barang. Kebutuhan barang tersebut dirinci berdasarkan nama/jenis barang, merk/type ukuran, kode barang, banyak

143

barang, jumlah barang. Pada proses ini pengguna barang

menginput Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah dengan 3
input RK BMD

memperhatikan: besaran organisasi/ SKPD (dinas /subbag/ bag), jumlah pegawai, barang rusak, barang dihapus, barang dijual dll. Kemudian pengolahan data RK BMD yang seterusnya disimpan dalam database table RK BMD. Pada proses ini, Kepala Daerah selaku

input standar harga

pemegang kekuasaan barang milik daerah menentukan standarisasi sarana dan prasarana serta standarisasi harga Pada proses ini system melakukan koreksi dan verifikasi RK BMD yang telah diajukan berdasarkan oleh pengguna barang, dan

koreksi dan verifikasi

standarisasi

sarana

prasarana serta standarisasi harga yang ditetapkan oleh kepala daerah. Proses 6
input RKA SKPD

ini

pengguna

menyusun

dan

menginput RKA SKPD berdasarkan revisi RK BMD yang telah dikoreksi dan verifikasi

DPA SKPD

Pada proses ini tim APBD membahas dan mensahkan DPA SKPD. Kemudian menginput DPA SKPD. Berdasarkan DPA

144

SKPD tersebut pengguna barang menyusun DK BMD.

5.2.4

Perancangan Basis Data Dalam merancang basis data untuk system ini yaitu dengan menggunakan

pemodelan database relasional. Perancangan basis data ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antar entitas yang ada didalam 144ystem informasi perencanaan kebutuhan barang daerah. Entitas relasional berisi komponen-komponen himpunan entitas dan himpunan relasi yang masing-masing dilengkapi dengan atribut-atribut yang merepresentasikan seluruh fakta yang ditinjau. Perancangan basis data diperlukan agar kita dapat memiliki basis data yang baik dalam penggunaan ruang penyimpanan, cepat dalam pengaksesan, dan mudah dalam pemanipulasian (tambah, ubah, hapus) data. 5.2.4.1 Entity Relationship Diagram (ERD) Entity Relationship Diagram (ERD) menggambarkan keterhubungan antar entitas yang ada pada system, maka perlu dilakukan desain entity relationship diagram sehingga nantinya diperoleh gambaran setiap fungsi yang ada pada system yang akan dirancang. Adapun ER-D untuk system perencanaan kebutuhan barang daerah adalah sebagai berikut:

145

K d_b r g K d_S K P D N m KPD _S K d_S K P D N o_kd_R K BMD

N m rg _b M e r/k typ e u k u r a n _ Ju m la_b r g h

a la m a t

H a r g_s a tu a n a m Pengguna barang m e n y u su n m R K BM D m

K d_r e ke n in g

m e la lu i N m_S K P D K d_S K P D K d_b r g N m KPD _S N o_k d_D K BMD N m_b r g K d_S K P D 1 K d_b a r a n g N m rg _b K d_b r g N m rg _b

DK BMD

m e n g h a s ilk a n

P r o se s ve r ifika si d a n k o r e k si

se s u a i

S ta n d a r h a r g a

M e r/k ty p e u ku r a n _ harga J u m la h b arang

Ju m la h h a r g a

M e r/k typ e u k u r a n _

H a r g a sa tu a n sta n d a r

H a r g a sa tu a n K e_v e r ifik a s i t

M e r/k ty p e u ku r a n _

H a r g_sa tu a_n a sta n d a r

Gambar 5.16 ER-Diagram perencanaan kebutuhan barang daerah Berdasarkan ER-Diagram sistem perencanaan kebutuhan barang daerah di atas pada gambar 5.16 maka ditemukan entitas dan relasi sebagai berikut :
1. Entitas dari ER-Diagram sistem perencanaan kebutuhan barang daerah :

a. pengguna barang Merupakan pihak yang mengusulkan rencana kebutuhan barang b. RK BMD Merupakan kegiatan perencanaan kebutuhan c. Standar harga Merupakan ketetapan standar harga yang ditetapkan oleh Kepala Daerah d. Proses verifikasi

146

Merupakan proses verifikasi RK BMD yang sesuai dengan standar harga yang ditetapkan. e. DK BMD Merupakan daftar kebutuhan barang hasil verifikasi sesuai standar harga.
2. Relasi dari ER-Diagram sistem perencanaan barang daerah

a. menyusun Merupakan relasi yang terjadi antara pengguna dan RK BMD dimana pengguna barang menyusun RK BMD dan usulan kebutuhan barang b. melalui Merupakan relasi yang terjadi antara entitas RK BMD dan proses verifikasi. c. sesuai Merupakan relasi yang terjadi antara proses verifikasi dan standar harga. d. menghasilkan merupakan relasi yang terjadi antara entitas koreksi dan verifikasi dengan DK BMD dimana hasil tersebut di susun DK BMD yang merupakan hasil atau output dari system perencanaan kebutuhan barang daerah 5.5 Kamus Data Perancangan kamus data diperoleh berdasarkan hasil perancangan diagram aliran data, kamus data dibuat untuk menspesifikasikan muatan aliran data yang telah dibuat yaitu dengan memeperhatikan dan menggambarkan muatan aliran data (atribute), simpanan data (database), dan proses-proses. Untuk lebih jelasnya, dalam perancangan kamus data dari sistem perencanaan kebutuhan barang daerah dapat digambarkan dengan mendeskripsikan tabel diagram aliran data seperti berikut :

147

Tabel 5.13 : Deskripsi alir data SKPD Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi Sumber : Pengguna Barang Jenis Aliran Data: File Layar : Data SKPD : Berisikan data yang memuat pengguna barang/SKPD Tujuan : Proses input data SKPD Laporan Formulir

Internal Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai Data SKPD

Tabel 5.14 : Deskripsi aliran data barang Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi Sumber : Pengguna Barang Jenis Aliran Data: File Layar : Data Barang : Berisikan data yang memuat barang yang diusulkan Tujuan : Proses input data barang Laporan Formulir

Internal Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai Data barang

148

Tabel 5.15 : Deskripsi alir data SKPD terinput Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi Sumber : Proses input data SKPD Jenis Aliran Data: File Layar : Data SKPD terinput : Berisikan data yang memuat SKPD Tujuan : Tabel SKPD Laporan Formulir

Internal Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai SKPD terinput

Tabel 5.16 : Deskripsi alir data barang terinput Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi Sumber : Proses input data barang Jenis Aliran Data: File Layar : Data Barang terinput : Berisikan data yang memuat barang yang diusulkan Tujuan : Tabel data barang Laporan Formulir

Internal Perjalanan Struktur Data dengan aliran :

149

Informasi Mengenai Data barang terinput

Tabel 5.17 : Deskripsi alir data RK BMD Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi Sumber : Pengguna barang Jenis Aliran Data: File Layar : Data RK BMD : Berisikan data yang memuat RK BMD Tujuan : Proses input RK BMD Laporan Formulir

Internal Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai Data RK BMD

Tabel 5.18 : Deskripsi alir data RK BMD terinput Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi Sumber : Proses input RK BMD Jenis Aliran Data: File Layar : Data RK BMD terinput : Berisikan data yang memuat RK BMD Tujuan : Tabel RK BMD Laporan Formulir

150

Internal Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai Data RK BMD terinput

Tabel 5.19 : Deskripsi alir data laporan RK BMD Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi Sumber : Proses input RK BMD Jenis Aliran Data: File Layar : Data Laporan RK BMD : Berisikan data yang memuat RK BMD Tujuan : Tim APBD Laporan Formulir

Internal Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai Laporan RK BMD

Tabel 5.20 : Deskripsi alir data standarisasi Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi Sumber : Kepala Daerah Jenis Aliran Data: : Data Standarisasi : Berisikan data yang memuat ketetapan standarisasi Tujuan : Input standarisasi

151

File

Layar

Laporan

Formulir

Internal Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai Data Standarisasi

Tabel 5.21 : Deskripsi alir data koreksi dan verifikasi Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi Sumber : RK BMD serta Standarisasi Jenis Aliran Data: File Layar : Data Verifikasi dan Koreksi : Berisikan data yang memuat proses verifikasi dan koreksi Tujuan : Koreksi dan verifikasi Laporan Formulir

Internal Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai Proses Koreksi dan Verifikasi

Tabel 5.22 : Deskripsi alir data koreksi dan verifikasi terinput Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi Sumber : : Tabel verifikasi dan koreksi : Berisikan informasi hasil koreksi dan verifikasi Tujuan :

152

Koreksi dan verifikasi Jenis Aliran Data: File Layar

Tabel koreksi dan verifikasi Laporan Formulir

Internal Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai Hasil Koreksi dan Verifikasi

Tabel 5.23 : Deskripsi alir data hasil koreksi dan verifikasi Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi Sumber : Koreksi dan verifikasi Jenis Aliran Data: File Layar : Hasil verifikasi dan koreksi : Berisikan informasi hasil koreksi dan verifikasi RK BMD berdasarkan standarisasi yang ditetapkan Tujuan : Pembantu Pengelola Laporan Formulir

Internal Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai Hasil Proses Koreksi dan Verifikasi

Tabel 5.24 : Deskripsi alir data RKA SKPD Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi : Data RKA SKPD : Berisikan data yang memuat RKA SKPD

153

Sumber : Pengguna barang, Koreksi dan verifikasi Jenis Aliran Data: File Layar

Tujuan : RKA SKPD Formulir

Laporan

Internal Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai Record data RKA SKPD

Tabel 5.25 : Deskripsi alir data RKA SKPD terinput Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi Sumber : RKA SKPD Jenis Aliran Data: File Layar : Data RKA SKPD terinput : Berisikan data yang memuat RKA SKPD terinput Tujuan : Tabel RKA SKPD Laporan Formulir

Internal Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai Record data RKA SKPD

Tabel 5.26 : Deskripsi alir data DPA SKPD Deskripsi Aliran Data Identitas :

154

Nama Deskripsi Sumber :

: Data DPA SKPD : Berisikan data yang memuat DPA SKPD Tujuan : DPA SKPD Laporan Formulir

Tim APBD, RKA SKPD Jenis Aliran Data: File Layar

Internal Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai Record data DPA SKPD

Tabel 5.27 : Deskripsi alir data DK BMD Deskripsi Aliran Data Identitas : Nama Deskripsi Sumber : DPA SKPD Jenis Aliran Data: File Layar : Data dan Laporan DK BMD : Berisikan data dan laporan yang memuat DK BMD Tujuan : Tabel DK BMD Laporan Formulir

Internal Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai data dan laporan DK BMD

Tabel 5.28 : Deskripsi alir data info laporan DK BMD Deskripsi Aliran Data

155

Identitas : Nama Deskripsi Sumber :

: Info laporan DK BMD : Berisikan laporan yang memuat DK BMD Tujuan : Pengguna Barang Laporan Formulir

Tabel DK BMD, DPA SKPD Jenis Aliran Data: File Layar

Internal Perjalanan Struktur Data dengan aliran : Informasi Mengenai laporan DK BMD ke SKPD

5.6

Struktur Data 1. Struktur data SKPD/pengguna barang Struktur Data

Pengguna Barang = Kode_SKPD+ Nama_SKPD + Alamat + Gambar 5.17 Struktur data SKPD

2. Struktur data RK BMD Struktur Data RK_BMD = Kode_RKBMD + Kode_SKPD + Kode_Barang + Nama_Barang +

156

Merk/type_Ukuran + Jumlah_Barang + Harga + Kode_Rekening +

Gambar 5.18 Struktur data RK BMD

3. Struktur data standar harga Struktur Data Standar_Harga = Kode_Barang+ Nama_Barang + Merk/type_Ukuran + Harga_Satuan_Standar + Gambar 5.19 Struktur data standarisasi

4. Struktur data koreksi dan verifikasi Struktur Data Koreksi dan verifikasi = Id_Verifikasi + Kode_RKBMD Kode_SKPD+ Nama_SKPD + Kode_Barang + Nama_Barang + Merk/type_ukuran + Jumlah_Barang + Harga + Harga_Satuan_standar + No_Rekening +

157

Keterangan +

Gambar 5.20 Struktur data koreksi dan verifikasi

5. Struktur data DK BMD Struktur Data DK BMD = Kd_DKBMD + Kd_Barang + Nama_Barang + Nama_SKPD + Nama_Barang + Merk/type_Ukuran + Jumlah_Barang + Harga + Jumlah_Harga + Kode_Rekening + Gambar 5.21 Struktur data DK BMD

5.7

Perancangan Tabel Untuk mendukung sistem yang dibuat maka perlu dibuat desain basis data

secara fisik (physical database design) yaitu berupa desain tabel sebagai alat untuk menyimpan data yang akan dikembangkan dalam aplikasi. Rancangan tabel tersebut dijelaskan pada tabel dibawah ini : 1. Tabel barang Spesifikasi untuk desain tabel barang dapat dilihat pada tabel di bawah ini Nama Tabel Fungsi : Tbl_Barang : Menyimpan data induk barang

158

Primary Key : Kode_Barang Foreign Key : Struktur File :Kode_Barang, Nama_Barang, merk/type_ukuran, jumlah_barang, harga_barang. Tabel 5.29 : Desain tabel barang No 1 2 3 4 5 Nama Field Kd_Brg Nama_Brg Merk/type_ukuran Jmlh_brg Harga_brg Type Number Text Text Text Text Lebar 10 20 20 20 20 Keterangan Kode barang daerah Nama barang Merk/type dan ukuran Jumlah barang Harga barang

2. Tabel SKPD/pengguna barang Spesifikasi untuk desain tabel SKPD dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Nama Tabel Fungsi : Tbl_Pengguna_Barang : Menyimpan data induk pengguna barang

Primary Key : No_Kode_SKPD Foreign Key : Nm_SKPD Struktur File :No_Kode_SKPD, Nama_SKPD, Alamat Tabel 5.30 : Desain tabel SKPD No 1 2 3 Nama Field Kd_SKPD Nama_SKPD Alamat 3. Tabel RK BMD Type Text Text Text Lebar 10 20 20 Keterangan Kode pengguna barang Nama pengguna barang Alamat pengguna barang

Spesifikasi untuk desain tabel RK BMD dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Nama Tabel Fungsi : Tbl_RK_BMD : Menyimpan data induk RK BMD

Primary Key : No_RK_BMD

159

Foreign Key : Struktur File :No_RK_BMD, Nama_Barang, Merk/type_ukuran, jumlah_brg, harga_satuan, jumlah_harga, kode rekening.

Tabel 5.31 : desain tabel RK BMD No 1 2 3 4 5 6 7 8 Nama Field kd_RK_BMD Kd_SKPD Kd_brg Nm_Brg Merk/type_ukuran jumlah_brg harga kode rekening Type Text Text Text Text Text Text Text Text Lebar 10 10 10 20 20 20 20 20 Keterangan kode RK BMD Kode Pengguna Barang Kode barang Nama barang Merk atau type atau Jenis barang Jumlah barang Harga barang No rekening

4. Tabel Standar Harga Spesifikasi untuk desain tabel standar harga dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Nama Tabel Fungsi : Tbl_Standar_Harga : Menyimpan data standar harga

Primary Key : Kd_brg Foreign Key : Harga_satuan_standar Struktur File :Kd_brg, Nama_Barang, Merk/type_ukuran, harga_satuan_standar Tabel 5.32 : Desain tabel Standar harga No Nama Field Type Lebar 1 Kd_brg text 10 2 Nm_brg text 20 3 Merk/type_ukuran text 20 4 Harga_satuan_standar text 20

Keterangan Kode barang Nama barang Merk/type_ukuran Harga standar

160

5. Tabel koreksi dan verifikasi Spesifikasi untuk desain tabel koreksi dan verifikasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Nama Tabel Fungsi : Tbl_Koreksi_Verifikasi : Mengolah data koreksi dan verifikasi RK BMD

Primary Key : Kd_brg Foreign Key : Struktur File :Kd_SKPD, Nm_SKPD, Kd_brg, Nama_Barang, Merk/type_ukuran, harga, harga_satuan_standar.

Tabel 5.33 : Desain tabel koreksi verifikasi No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama Field Id_verifikasi Kd_RKBMD Kd_SKPD Nm_SKPD Kd_brg Nm_brg Merk/type_ukuran Jumlah_brg Harga Type Text Text Text Text Text Text Text Text Text Lebar 10 10 10 20 10 20 20 20 15 20 20 20 Keterangan Identitas verifikasi Kode RK BMD Kode pengguna barang Nama pengguna barang Kode barang Nama barang Merk/type_ukuran barang Jumlah barang Harga barang Harga standar yang ditetapkan Nomor rekening Keterangan verifikasi

Harga_satuan_standar Text Kd_Rekening Keterangan Text Text

161

6. Tabel DK BMD Spesifikasi untuk desain tabel DK BMD dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Nama Tabel Fungsi : Tbl_DK_BMD : Menyimpan data induk DK BMD

Primary Key : No_DK_BMD Foreign Key : Struktur File :No_DK_BMD, merk/type_ukuran, kode_rekening. kode_brg, nama_pengguna_brg, jumlah_brg, harga, nama_brg, jumlah_harga,

Tabel 5.34 : Desain tabel DK BMD No Nama Field Type 1 No_kd_DK_BMD No 2 Nama_Pengguna_Barang text 3 4 5 6 7 8 9 Nama_brg Merk/type_ukuran Kode_brg Jumlah_barang harga Jumlah harga Kode rekening text text text text text text num Lebar Keterangan 10 Nomor DK BMD 20 Nama pengguna 20 20 20 20 20 20 20 barang Nama barang Jenis barang/merk Kode barang Jumlah barang Harga satuan Jumlah harga Kode rekening

5.8

Stucture Query Language (SQL) SQL mempunyai kemampuan untuk mendefinisikan struktur data, modifikasi

data dalam basis data dan menentukan konstrain sekuriti. SQL merupakan bahasa basis data relasional standard.

162

Berikut ini adalah Syntax SQL yang digunakan untuk pembuatan tabel yang berkaitan dengan Perancangan sistem informasi perencanaan kebutuhan barang daerah:
a.

Membuat Tabel SKPD/pengguna Barang

CREATE TABLE TSKPD (kd_SKPD(10) NOT NULL primary key, nm_SKPD VARCHAR(20), alamat_SKPD VARCHAR(20));
b.

Membuat Tabel Barang

CREATE TABLE TBarang (Kd_Brg varchar(10) NOT NULL PRIMARY KEY, nm_brg varchar (20), Merk/type_ukuran varchar(20), jumlah_brg varchar(20), Harga varchar(20));
c.

Membuat Tabel RK BMD

CREATE TABLE TRK_BMD (kd_RKBMD varchar(10) NOT NULL PRIMARY KEY, kd_SKPD varchar(20), kd_brg varhcar(20), nm_brg varchar(20), Merk/type_ukuran varchar(20), jumlah_brg varchar(20), harga varchar(20), kode_rekening varchar(20)); d. Membuat Tabel Standar Harga

CREATE TABLE TBarang (Kd_Brg varchar(10) NOT NULL PRIMARY KEY, nm_brg varchar (20), Merk/type_ukuran varchar(20), Harga_satuan_standar varchar(20));

e.

Membuat Tabel DK BMD

CREATE TABLE TDK_BMD (no_kd_DKBMD varchar(10) NOT NULL PRIMARY KEY, nm_SKPD varchar (10), kd_brg varchar (20), nm_brg varchar (20), Merk/type_ukuran varchar(20), jumlah_brg varchar(20),

163

Harga_satuan varchar(20));

varchar(20),

jumlah_harga

varchar(20),

kode_rekening