Anda di halaman 1dari 18

MODUL II PENGUKURAN VISKOSITAS DENGAN REDWOOD VISCOMETER RESUME PRAKTIKUM

Nama Kelompok Tanggal Praktikum Tanggal Penyerahan Dosen Asisten Modul : Rizky Veronica Widya : Kamis 2 : 4 September 2012 : 11 Oktober 2012 : Dr. Ir. Taufan : Irsyad Geovani Aulia Rizky Pratama 12209063 12209064 12211004

LABORATORIUM ANALISA FLUIDA RESERVOIR PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2012

I. JUDUL

: Pengukuran Viskositas dengan Redwood Viscometer

II. TUJUAN DAN PRINSIP PERCOBAAN 1. Tujuan Percobaan Mengetahui pemakaian Redwood viscometer untuk : 1. Mengukur keengganan suatu minyak untuk mengalir yang diperoleh sebagai fungsi dari waktu pengaliran (dalam detik). 2. Menghitung Index Viscosity suatu sample minyak. 2. Prinsip Percobaan Menentukan viskositas kinematik menggunakan persamaan konversi Viskositas Kinematik sebagai fungsi waktu dalam detik yang dibutuhkan bagi 50 cc sampel minyak untuk mengalir / menetes dari oil cup ke dalam flask menggunakan Redwood

Viscometer pada temperature tertentu dan tekanan konstan. Selain itu menentukan viskositas dinamik yang merupakan hasil perkalian antara viskositas kinematik dan densitas dari sampel minyak tersebut, dimana densitas dari suatu sampel minyak ditentukan menggunakan picnometer dengan membandingkan massa sampel minyak yang diperoleh dengan mengurangi massa picnometer yang telah terisi sampel minyak dikurangi massa picnometer yang masih kosong lalu dibandingkan dengan volume dari picnometer. Dengan menggunakan picnometer dapat ditentukan juga spesific gravity (SG) dari suatu sampel minyak dengan membandingkan antara densitas sampel minyak dengan densitas air. Kemudian menentukan Viscosity Index (VI) dari viskositas kinematik sampel minyak tersebut.

III. Data Hasil Percobaan 1. Sampel Minas V (ml) m picnometer kosong m picnometer+air Temperatur 50 50 Waktu(t) m1 (gram) 25.10 75.68 mpicnometer+oil m2 (gram) 25.10 75.68 m3(gram) 25.10 75.68

F 100 140 180 2. Sampel Jene

(sekon) 32.36 30.54 29.43 V (ml)

(gram) 67.15 66.87 66.66 m1 (gram) 18.94 44.79 m2 (gram) 18.95 44.77 m3(gram) 18.95 44.80

37.78 60 82.22

m picnometer kosong m picnometer+air

25 25

Temperatur o F C 100 140 180 37.78 60 82.22

Waktu(t) (sekon) 33.91 28.91 29.92

mpicnometer+oil (gram) 39.63 39.44 39.28

IV. Pengolahan Data 1. Perata-rataan data

Datarata rata

Data1 Data2 Data3 3

Sampel Minas Perhitungan untuk mpicnometerkosong: mrata-rata=


25,10 + 25,10 + 25,10 = 25,10 g

3 Perhitungan untuk mpicnometer+air: mrata-rata=


75,68 + 75,65 + 75,65 = 75,65 g

3 Sampel Jene Perhitungan untuk mpicnometerkosong: mrata-rata=


18.94 + 18.95 + 18.95 = 18.9467 g

Perhitungan untuk mpicnometer+air: mrata-rata=


44.79 + 44.77 + 44.80

= 44.7867 g

3 mpicnometerkosong (gram) 25.10 18.9467 mpicnometer+air (gram) 75.65 44.7867

Sampel Minas Sampel Jene

2. Densitas air dan minyak air = mpicnometer+air - mpicnometerkosong Vpicnometer Faktor koreksi : air hitung airsebenarnya Sampel Minas air hitung = 75.65 g - 25.10 g = 1.011 g/ml 50ml untuk T = 100oF oil hitung = 67.15 g - 25.10 g = 0.841 g/ml 50ml untuk T = 140oF oil hitung = 66.87 g - 25.10 g = 0.835 g/ml oil sebenarnya= 0.835 g/ml x 1 g/ml = 0.826 g/ml 50ml untuk T = 180oF oil hitung = 66.66 g - 25.10 g = 0.831 g/ml oil sebenarnya= 50ml 0.831 g/ml x 1 g/ml = 0.822 g/ml 1.011 g/ml 1.011 g/ml oil sebenarnya= 0.841 g/ml x 1 g/ml = 0.832 g/ml 1.011 g/ml = oil hitung oil sebenarnya oil = mpicnometer+oil - mpicnometerkosong Vpicnometer

Sampel Jene air hitung = 44.7867 g - 18.9467 g = 1.0336 g/ml 25ml untuk T = 100oF oil hitung = 39.63 g - 18.9467 g = 0.827 g/ml oil sebenarnya= 0.827 g/ml x 1 g/ml = 0.800 g/ml 25ml untuk T = 140oF oil hitung = 39.44 g -18.9467 g = 0.819 g/ml oil sebenarnya= 0.819 g/ml x 1 g/ml = 0.793g/ml 25ml untuk T = 180oF oil hitung = 39.28 g -18.9467 g = 0.813 g/ml oil sebenarnya= 0.813 g/ml x 1 g/ml = 0.787g/ml 25ml T (oF) Sampel Minas 100 140 180 100 140 180 air hitung (g/ml) 1.011 air sebenarnya (g/ml) 1 1.0336 g/ml oil hitung (g/ml) 0.841 0.835 0.831 0.827 0.819 0.813 oil sebenarnya (g/ml) 0.832 0.826 0.822 0.800 0.793 0.787 1.0336 g/ml 1.0336 g/ml

Sampel Jene

1.0336

3. Viskositas kinematik (Vk) Pada saat t < 43 s, maka berlaku Persamaan Engler : te = 1.8645 t0.9923 Vk = 0.00147 te 3.74 te Sampel Minas untuk T = 100oF te = 1.8645 x (32.36)0,9923 = 58.74133807 Vk = 0.00147 x 58.74133807 3.74 = 0.022681 St 58.74133807 o untuk T = 140 F

te = 1.8645 x (30.54)0.9923 = 55.4623068 Vk = 0.00147 x 55.4623068 3.74 = 0.014096 St 55.4623068 o untuk T = 180 F te = 1.8645 x (29.43)0.9923 = 53.46172465 Vk = 0.00147 x 53.461724653.74 = 0.008632 St 53.46172465 Sampel Jene untuk T = 100oF te = 1.8645 x (33.91)0.9923 = 61.53279656 Vk = 0.00147 x 61.532796563.74 = 0.029673 St 61.53279656 o untuk T = 140 F te = 1.8645 x (28.91)0.9923 = 52.52431643 Vk = 0.00147 x 52.524316433.74 = 0.006006 St 52.52431643 o untuk T = 180 F te = 1.8645 x (29.92)0.9923 = 54.34493488 Vk = 0.00147 x 54.344934883.74 = 0.011067 St 54.34493488 T (oF) 100 140 180 210 100 140 180 210 Vk (St) 0.022681 0.014096 0.008632 0.002642 0.029673 0.006006 0.011067 -0.013653

Sampel Minas

Sampel Jene

4. Viskositas dinamik () = Vk Sampel Minas untuk T = 100oF = 0.022681 x 0.841 = 0.019107 P untuk T = 140oF = 0.014096 x 0.835 = 0.011770 P untuk T = 180oF = 0.008632 x 0.831 = 0.007175 P Sampel Jene

untuk T = 100oF = 0.029673 x 0.827 = 0.024539 P untuk T = 140oF = 0.006006 x 0.819 = 0.004923 P untuk T = 180oF = 0.011067 x 0.813 = 0.008997 P T (oF) 100 140 180 210 100 140 180 210 (P) 0.019107 0.011770 0.007175 0.002767 0.024539 0.004923 0.008997 -0.011183

Sampel Minas

Sampel Jene

5. Spesifik Gravity (SG) SG = oil hitung air hitung Sampel Minas untuk T = 100oF SG = 0.841 g/ml = 0.832 1.011 g/ml untuk T = 140oF SG = 0. 835 g/ml = 0.826 1.011 g/ml untuk T = 180oF SG = 0.831 g/ml = 0.822 1.011 g/ml Sampel Jene untuk T = 100oF SG = 0.827 g/ml = 0.800 1.0336 g/ml untuk T = 140oF SG = 0.819 g/ml = 0.793 1.0336 g/ml untuk T = 180oF SG = 0.813 g/ml = 0.786 1.0336 g/ml

Sampel Minas

Sampel Jene

T (oF) 100 140 180 210 100 140 180 210

SG 0.832 0.826 0.822 0.818 0.800 0.793 0.786 0.781

6. Viscositas Index
Untuk minyak dengan VI antara 0 sampai 100 berlaku:

VI

LU x100 LH

Untuk minyak dengan VI di atas 100 berlaku:

(antiLogN) 1 100 0.00715 log H log U di mana: N log Y VI


Sampel Minas U = 0.022681 St = 2.2681 cSt Y = 0.002642 St = 0.2642 cSt Karena untuk minyak dengan viskositas kinematik pada 210oF dibawah 2.0 cSt berlaku :
L = Y (1.655 + 1.2665Y) H = Y (0.1725 + 0.34984Y)

Maka, L = 0.2642 (1.655 + 1.2665 x 0.2642) = 0.5256 H = 0.2642 (0.1725 + 0.34984 x 0.2642) = 0.0699 VI = 0.5256 2.2681 x 100 = -382,378 0.5256 0.0699 Sampel Jene U = 0.029673 St = 2.9673 cSt Y = -0.013653 St = -1.3653 cSt Karena untuk minyak dengan viskositas kinematik pada 210oF dibawah 2.0 cSt berlaku :
L = Y (1.655 + 1.2665Y) H = Y (0.1725 + 0.34984Y)

Maka, L = -1.3653 (1.655 + 1.2665 x -1.3653) = 0.1012 H = -1.3653 (0.1725 + 0.34984 x -1.3653) = 0.4166 VI = 0.1012 2.9673 x 100 = 908.719 0.1012 0.4166

Karena VI = 908.719 > 100, maka berlaku : (antiLogN) 1 VI 100 0.00715


di mana: N

log H log U
log Y

Akan tetapi tidak dapat dilakukan karena log Y berharga negatif. Grafik Vk vs T
0.035 0.03 0.025 0.02 0.015 0.01 0.005 0 -0.005 0 -0.01 -0.015 -0.02 100 200 300 Vk vs T (Minas) Vk vs T (Jene)

Grafik vs T
0.03 0.025 0.02 0.015 0.01 0.005 0 -0.005 -0.01 -0.015 0 50 100 150 200 250 vs T (Minas) vs T (Jene)

Grafik SG vs T
0.84 0.83 0.82 0.81 0.8 0.79 0.78 0.77 0 100 200 300 SG vs T (Minas) SG vs T (Jene)

V. Analisis dan Pembahasan Asumsi Percobaan 1. Semua alat berfungsi dengan baik. 2. Tekanan konstan selama percobaan berlangsung, sehingga tidak ada pengaruh tekanan terhadap viskositas. 3. Temperatur sampel minyak konstan saat pengukuran waktu pengaliran dan saat pengukuran massa dengan picnometer, serta temperatur yang terukur benar-benar temperatur yang dikehendaki yaitu 100 0F, 140 0F dan 180 0F. 4. Sampel minyak telah dipanaskan terlebih dahulu pada 210oF selama 1 jam sehingga sampel minyak yang digunakan terbebas dari air. 5. Tidak ada zat pengotor dalam oil cup dan orifice karena zat pengotor akan menyumbat aliran sehingga waktu alir akan bertambah. 6. Arah aliran sudah tegak lurus karena jika arah aliran miring akan menambah waktu alir dan menghasilkan resultan gaya mempengaruhi hasil perhitungan. 7. Volume sampel minyak termasuk buihnya adalah tepat 50 cc. 8. Tidak ada titik air di dalam picnometer yang dapat mengurangi ketepatan pengukuran massa. gesek terhadap sumbu horizontal dan dapat

9. Sebelum diisi sampel minyak, oil cup dalam keadaan benar-benar bersih, sehingga oil cup 100% diisi oleh sampel minyak.
10. Tidak terjadi kesalahan paralaks dalam penentuan temperatur, massa atau pun waktu alir

dari sampel minyak. Analisis Alat 1. Picnometer adalah alat yang digunakan untuk menentukan densitas suatu fluida dengan mengukur massa fluida yang ada di dalam picnometer yang diperoleh dari selisih antara massa picnometer yang telah terisi fluida dengan massa picnometer yang masih kosong lalu dibagi dengan volume picnometer yang digunakan. Pengukuran massa fluida dengan picnometer bisa sangat akurat jika pengisian fluida dilakukan dengan tepat. Penggunakan picnometer yang lebih besar menghasilkan pengukuran densitas fluida yang lebih akurat dibanding picnometer yang lebih kecil karena galat yang diperoleh lebih kecil dengan menggunakan ukuran picnometer yang lebih besar dibanding picnometer yang lebih kecil. 2. Redwood Viscometer adalah alat yang digunakan untuk menentukan viskositas suatu fluida pada temperatur tinggi, sehingga amat baik untuk mengukur fluida yang memiliki viskositas tinggi, yang biasanya berupa crude oil dengan struktur komponen berat. Dibanding alat pengukur viskositas yang lainnya, kelebihan Redwood Viscometer ini adalah terletak pada ukuran water bath yang lebih kecil, sehingga waktu yang dibutuhkan air untuk mencapai temperatur pemanasan yang dikehendaki akan semakin cepat, serta pengontrolan temperatur lebih mudah dilakukan. Media pemanas yang digunakan

Redwood Viscometer adalah fluida air. Kelebihan penggunaan media air sebagai media pemanas yaitu perubahan suhu fluida air pada saat penentuan waktu alir sampel tidak berubah drastis dan signifikan. Untuk keakuratan data perhitungan selama waktu pengaliran sampel berlangsung, perubahan suhu harus dijaga konstan dan tidak boleh mengalami perubahan lebih dari 1%. Namun kekurangan penggunaan media air sebagai media pemanas yaitu terbatasnya suhu pengamatan yang dapat dilakukan pada saat percobaan, yaitu hanya sampai 212oF (100oC) karena pada suhu tersebut fluida air akan berubah fasa menjadi uap. Dengan kata lain, kelebihan dari penggunaan Redwood Viscometer dalam menentukan viskositas suatu fluida adalah waktu alir minyak relatif

cepat, tidak seperti pada Ostwald Viscometer, kenaikan temperaturnya sangat cepat, tidak perlu menentukan konstanta alat, fluida pemanasnya mudah diganti ( bisa menggunakan fluida selain air), dapat menentukan viskositas crude oil yang berfraksi berat, penggunaan alatnya sederhana, tidak rumit. Sedangkan kelemahan dari alat ini adalah tidak bisa mengukur pada kondisi temperatur dan tekanan reservoir, tingkat ketelitian kurang tinggi, hanya bagus untuk fluida dengan waktu alir > 43 second, penguapan fluida pemanas cukup tinggi dan tidak memiliki control temperatur sehingga sulit menentukan temperatur (tidak stabil). Hal yang perlu diperhatikan pada saat kita mengukur waktu alir sampel yang mengalir melalui Redwood Viscometer adalah saat pertama kali kita mengukur waktu alir. Kita mulai mengukur waktu alir sampel ketika valve diangkat dan sampel mulai keluar dari orifice bukan ketika sampel jatuh di dalam flask. Hal ini dikarenakan jika kita mengukur waktu alir sampel ketika sampel tersebut jatuh di flask maka sampel tersebut telah memiliki kecepatan saat tepat menumbuk flask yang berarti sampel tersebut telah memiliki suatu energi yaitu energi kinetik sehingga dalam perhitungannya nanti kita harus mengkoreksi energi yang dimiliki oleh sampel tersebut dan itu tidak praktis.

Analisis Data dan Pengolahan Data Viskositas dari suatu fluida merupakan parameter yang perlu diperhatikan oleh seorang petroleum engineer, karena sangat erat sekali hubungannya pada proses liaran fluida pada media berpori, yaitu reservoir atau aliran fluida pada pipa setelah minyak diproduksi. Viskositas merupakan parameter penting untuk memaksimalkan produksi suatu reservoir. Viskositas yang tinggi dari fluida menyebabkan fluida sulit untuk mengalir, oleh karena itu diperlukan metode maupun disain alat yang khusus. Viskositas juga dapat digunakan untuk memprediksi umur dari suatu sumur, artinya dengan mengetahui viskositas fluida pada sumur tersebut, kita dapat memperkirakan sampai berapa lama reservoir tersebut dapat terus diproduksi secara optimal. Reservoir dengan viskositas yang rendah, maka laju produksinya tinggi sehingga dapat menghemat biaya alatalat dan produksi. Selain itu nilai viskositas dapat memberikan informasi mengenai kandungan fluida dan fraksi yang ada pada fluida reservoir. Fluida reservoir yang memiliki viskositas yang tinggi, fluida tersebut memiliki kandungan hidrokarbon fraksi berat yang

lebih banyak dibanding fraksi ringannya, sebaliknya fluida yang memiliki viskositas yang rendah, maka kandungan hidrokarbonnya lebih banyak dibanding fraksi ringannya. Dengan kata lain di dalam industi perminyakan, viskositas termasuk salah satu sifat minyak yang sangat penting untuk dipelajari karena berhubungan dengan pengaliran fluida dan dapat digunakan untuk menentukan keekonomisan dan nilai komersial dari suatu resevoir. Hal yang penting untuk diketahui adalah cara menentukan viskositas fluida, sifat viskositas dan faktor yang mempengaruhi viskositas. Dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini banyak alat yang telah ditemukan untuk menentukan besarnya viskositas suatu fluida. Salah satunya adalah Redwood Viscometer yang digunakan pada percobaan kali ini. Di percobaan kali ini, praktikan menentukan viskositas satu sampel minyak pada temperatur 100 0F, 140 0F dan 180 0F dengan menghitung terlebih dahulu waktu yang dibutuhkan oleh 50 mL sampel minyak bernama Minas untuk mengalir dari oil cup ke flask sesuai dengan suhu yang diinginkan. Praktikan juga mengolah satu data sampel minyak bernama JENE yang datanya diperoleh dari hasil percobaan praktikan shift Jumat 1. Kemudian, dengan menggunakan persamaan Engler karena waktu alir sampel < 43s untuk menentukan viskositas kinematik, viskositas dinamik, dan terakhir menentukan Viscosity Index (VI) masing-masing sampel pada suhu yang telah ditentukan. Dari hasil percobaan terlihat bahwa viskositas semakin kecil dengan membesarnya temperatur,yakni pada sampel Minas viskositas kinematik berturut bernilai 0.022681, 0.014096, 0.008632, 0.002642, mengecil seiring dengan pertambahan suhu dari 100 0F, 140
0

F, 180 0F dan terakhir 210 0F yang diperoleh dari hasil regresi ketiga data percobaan. Hal

ini sesuai dengan teori yang ada mengenai pengaruh temperatur terhadap viskositas suatu fluida bahwa kenaikan temperatur akan mengakibatkan jarak antar molekul bertambah besar yang menybabkan pertambahan volume sehingga molekul lebih leluasa bergerak dan fluidititasnya pun meningkat (fluida semakin mudah mengalir). Namun, terdapat satu anomali dari teori dan hasil percobaan, yakni pada sample minyak JENE yang diukur pada suhu 140 0F. Data tersebut menghasilkan viskositas kinematik yang lebih kecil dari sampel minyak serupa pada suhu yang lebih tinggi (180 0F). Hal ini mungkin disebabkan oleh penghitungan waktu alir terjadi sebelum sampel temperatur sampel minyak konstan, penggunaan sampel minyak yang sama dengan percobaan untuk 100 0F tanpa terebih dahulu

mengganti sampel minyak ataupun disebabkan oleh kesalahan dari praktikan dalam membaca temperatur sampel, dan juga dalam pengukuran waktu alir dari oil cup ke flask. Sehingga viskositas kinematik sampel pada suhu 210oF yang diperoleh dari hasil regresi ketiga data percobaan memberikan nilai negatif. Dari hasil perhitungan diperoleh Viscosity Index pada kedua sampel tidak dapat tentukan dengan persamaan yang ada. Untuk sampel Minas, Viscositas Index (VI) yang diperoleh bernilai negatif. Sedangkan untuk sampel JENE, Viscositas Index (VI) yang diperoleh >100 sehingga digunakan persamaan koreksi untuk VI>100. Namun persamaan koreksi tersebut tidak dapat digunakan untuk sampel JENE. Hal ini mungkin disebabkan oleh kerja dari redwood yang lebih cocok untuk menghitung fluida dengan viskositas yang tinggi, yang banyak memiliki fraksi berat pada komponen. Sehingga di perhitungan minyak yang berviskositas rendah, redwood tidak bekerja dengan baik. Selain itu mungkin disebabkan penggunaan hasil regresi untuk memperoleh viskositas kinematik pada suhu 210 oF yang hasilnya kurang efektif untuk perhitungan Viscositas Index (VI), sehingga dibutuhkan alat lain yang bisa melakukan pengamatan hingga suhu 210oF agar agar hasilnya lebih akurat. Dalam perhitungan densitas air yang dilakukan dengan menggunakan picnometer, densitas yang diperoleh bukanlah densitas air yang sebenarnya. Seperti yang kita ketahui densitas air yang sebenarnya adalah 1 g/ml, namun pada percobaan yang dilakukan ketika kita mengukur densitas air dengan menggunakan picnometer 50 ml memberikan densitas air sebesar 1,011 g/ml dan picnometer 25 ml memberikan densitas air sebesar 1,0336 g/ml. Perbedaan densitas yang diperoleh antara penggunaan ukuran picnometer menunjukan picnometer yang berukuran besar memberikan nilai densitas air yang lebih mendekati densitas air yang sebenarnya dibandingkan picnometer yang berukuran kecil. Hal ini menunjukan galat yang diberikan picnometer dengan ukuran besar lebih kecil dibandingkan picnometer dengan ukuran yang kecil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa picnometer besar memberikan nilai yang lebih akurat dibandingkan picnometer kecil. Sama halnya dalam perhitungan densitas sampel minyak yang dilakukan menggunakan picnometer, densitas yang diperoleh bukanlah densitas sampel minyak yang sebenarnya. Untuk memperoleh densitas minyak yang sebenarnya dapat digunakan faktor koreksi dengan menyamakan perbandingan antara densitas air yang diperoleh dengan densitas air sebenarnya dengan perbandingan

anatara densitas sampel minyak yang diperoleh dengan densitas sampel minyak sebenarnya. Dari hasil yang diperoleh menunjukan bahwa densitas sampel minyak yang sebenarnya merupakan spesific gravity (SG) dari sampel minyak tersebut. Hal lain yang dapat disimpulkan dari percobaan ini adalah nilai komersial dari dua sampel minyak tersebut, dengan menentukan minyak mana yang memiliki kualitas yang lebih bagus dan lebih benefit. Secara teori, minyak yang mempunyai komponen berat lebih banyak mempunyai nilai jual yang lebih rendah. Hal itu disebabkan karena yang nantinya akan menghasilkan bahan bakar minyak dalah fraksi ringan. Pada percobaan ini, dari kedua sampel yang telah diukur oleh praktikan, sampel yang memiliki kualitas lebih baik adalah sampel minyak JENE karena memiliki SG yang lebih rendah pada suhu tertentu yang sama. Berturut-turut ditunjukkan bahwa SG sampel JENE lebih rendah dibandingkan SG sampel Minas pada suhu 100 0F, 140 0F, 180 0F yakni 0.800 < 0.832, 0.793 < 0.826 dan 0.786 < 0.822. SG menunjukkan jumlah fraksi dalam minyak, sehingga semakin rendah SG minyak, maka semakin banyak fraksi ringan yang dapat diubah menjadi bahan bakar minyak dalam sampel minyak itu. Sehingga dalam industry perminyakan, minyak dengan SG yang lebih rendah lebih diinginkan karena dapat menghasilkan bahan bakar yang lebih banyak. VI. Kesimpulan 1. Hasil pengukuran viskositas, baik kinematik dan dinamik dari sampel minyak yang diuji dengan terlebih dahulu menghitung waktu alir sampel minyak tersebut dengan menggunakan redwood viscometer disajikan dalam tabel berikut : Sampel Minas Temperatur (F) 100 140 180 Waktu (s) 32.36 30.54 29.43 v (St) (P) Waktu (s) 33.91 28.91 29.92 Sampel ZRD v (St) (P)

0.022681 0.019107 0.014096 0.011770 0.008632 0.007175

0.029673 0.024539 0.006006 0.004923 0.011067 0.008997

2. Viskositas Index tidak dapat dihitung, baik dari sampel minyak Minas maupun minyak JENE pada suhu 100 0F.

VII. Kesan dan Pesan Kesan Lebih menegangkan waktu nunggu hasil tes awal dan tes alat yang super lama buat tahu kita dikick apa engga meski akhirnya kita dikasih tugas resume paper, tapi praktikum modul ini lebih seru soalnya lebih dimengerti. Asistennya juga seru pas praktikum bisa diajak ngobrol, tapi akhirnya kebanyakan ngobrol praktikannya malah ada yang gabut ga ngelakuin percobaan pas akhir-akhir. Penjelasan dari asisten detail dan mudah dimengerti jadi mempermudah saya membuat laporan. Pesan Tes awal sama tes alatnya jangan susah-susah dong bang, beberapa diluar ekspektasi. Terus jangan banyak-banyak ngekick praktikan shift sebelumnya bang, jadi kita lama banget deh tes alatnya meski kita selesai lebih cepet dari shift sebelumnya.

VIII. Referensi McCain, William D. 1990. Petroleum Fluids. Oklahoma : PennWell Books Marhaendrajana, Taufan. 2005. Diktak Kuliah Fluida Reservoir. Bandung : TM ITB Siagian, Ucok. 2002. Diktat Kuliah Fluida Reservoir. Bandung : TM ITB IX. Resume Paper A Viscosity Correlation for Gas-Saturated Crude Oil Paper ini mempresentasikan korelasi untuk memprediksi minyak mentah yang tersaturasi gas. Korelasi ini berdasrkan jumlah gas yang larut viskositas dead oil pada temperatur yang diinginkan. Penelitian yang ada menunjukkan bahwa baik perbedaan formation volume vaktor cairan dan GOR pada gas-saturated crude oil dapat digunakan sebagai parameter korelasi. Dalam usaha penyempurnaan korelasi ini ditemukan bahwa pada GOR larutan yang tetap, hubungan antara viskositas gas-saturated crude oil dengan viskositas dead oil adalah garis lurus pada koordinat algoritmik. Data yang diolah adalah data viskositas 457 sampel crude oil yang didapat dari rolling ball-type viscometer dan masing-masing viskositas sampel pada tiap proses diffrential

liberation diplot terhadap solution GOR pada kertas semi-logaritmik. Kemudian diplot

terhadap masing-masing GOR pada kertas logaritmik dimulai pada saat GOR =0.Garis yang terbentuk dihitung perpotongan dan kemiringannya.Kemiringan ini tidak halus dan tidak konsisten karena data tiap GOR diproses terpisah dan ditambah kekurangan data pada GOR yang tinggi. Karena tidak ada alasan teoritikal untuk ketidakkonsistenan kemiringan maka kurva terbaik digambar melalui titik yang telah dihitung. Kedua bentuk kurva memberikan relasi yang sama antara tiga variabel : (1)viskositas dead oil pada Treservoir dan Patmospheric. (2)viskositas gas-saturated oil pada P dan T yang sama, (3)Solution GOR pada gas-saturated oil. Jika dua variabel diketahui maka satu variabel dapat dihitung melalui persamaan berikut :

log gas saturatedoil log A b log deadoil

gas saturatedoil A( deadoil )b


Persamaan ini dapat dibalik untuk mencari variabel yang lain. Korelasi ini dapat digunakan pada sejumlah besar area produksi.