Anda di halaman 1dari 21

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIAL BEDAH

LAPORAN PENDAHULUAN
KONSEP DASAR MEDIS PENGERTIAN. Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya tulang, dan porous berarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaitu penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang ( Tandra, 2009). Osteoporosis adalah gangguan metabolisme tulang sehingga massaa tulang menurun, komponen matrik yaitu mineral dan protein berkurang, reabosorbsi terjadi lebih cepat daripada formasi tulang sehingga tuang menjadi tipis. Pada tulang dengan osteoporosis terjadi penurunan ketebalan tulang kompakta dan peningkatan diameter rongga madulary. Kondisi di ataas menyebabkan terjadinya pelebaran rongga sumsum tulang dan saluran havers, trapekula berkurang dan menjadi tipis akibatnya tulang mudah retak. Tulang yang mudah terkena adalah vertebra, pelipis dan tengkorak. Klasifikasi Osteoporosis Dalam terapi hal yang perlu diperhatikan adalah mengenali klasifikasi osteoporosis dari penderita. Osteoporosis dibagi 3, yaitu : Osteoporosis primer Tipe 1 adalah tipe yang terjadi pada wanita pascamenopause. Tipe 2 adalah tipe yang terjadi pada orang usia lanjut baik pria maupun wanita. Osteoporosis primer berhubungan dengan kelainan pada tulang, yang menyebabkan peningkatan proses resorpsi di tulang trabekula sehingga meningkatkan resiko fraktur vertebra dan Colles. Pada usia dekade awal pasca menopause, wanita lebih sering terkena daripada pria dengan perbandingan 6-8: BY: FADLEY ERASTUS L.A S.Kep

1 pada usia rata-rata 53-57 tahun. Osteoporosis sekunder Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit atau sebab lain di luar tulang. Osteoporosis sekunder terutama disebabkan oleh penyakit-penyakit tulang erosif misalnya mieloma multiple, hipertirodisme, hiperparatiroidisme dan akibat obat-obatan yang toksik untuk tulang (misalnya : glukokortikoid). Osteoporosis idiopatik Osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya dan ditemukan pada : Usia kanak-kanak (juvenile) Usia remaja (adolesen). Wanita pra-menopause. Pria usia pertengahan ETIOLOGI. Beberapa penyebab osteoporosis, yaitu: Osteoporosis pascamenopause terjadi karena kurangnya hormon estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium kedalam tulang. Biasanya gejala timbul pada perempuan yang berusia antara 51-75 tahun, tetapi dapat muncul lebih cepat atau lebih lambat. Hormon estrogen produksinya mulai menurun 2-3 tahun sebelum menopause dan terus berlangsung 3-4 tahun setelah menopause. Hal ini berakibat menurunnya massa tulang sebanyak 1-3% dalam waktu 5-7 tahun pertama setelah menopause. Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan antara kecepatan hancurnya tulang (osteoklas) dan pembentukan tulang baru (osteoblas). Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang-orang berusia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita.Wanita sering kali menderita osteoporosis senilis dan pasca menopause. Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder yang

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIAL BEDAH

disebabkan oleh keadaan medis lain atau obat-obatan. Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid, dan adrenal) serta obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, antikejang, dan hormon tiroid yang berlebihan).Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok dapat memperburuk keadaan ini. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal, dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang ( Junaidi, 2007). Faktor Risiko Osteoporosis Osteoporosis dapat menyerang setiap orang dengan faktor risiko yang berbeda.Faktor risiko Osteoporosis dikelompokkan menjadi dua, yaitu yang tidak dapat dikendalikan dan yang dapat dikendalikan. Berikut ini faktor risiko osteoporosis yang tidak dapat dikendalikan: Jenis kelamin Kaum wanita mempunyai faktor risiko terkena osteoporosis lebih besar dibandingkan kaum pria. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun. Usia Semakin tua usia, risiko terkena osteoporosis semakin besar karena secara alamiah tulang semakin rapuh sejalan dengan bertambahnya usia. Osteoporosis pada usia lanjut terjadi karena berkurangnya massa tulang yang juga disebabkan menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium. Ras Semakin terang kulit seseorang, semakin tinggi risiko terkena osteoporosis. Karena itu, ras Eropa Utara (Swedia, Norwegia, Denmark) dan Asia berisiko lebih tinggi terkena osteoporosis dibanding ras Afrika hitam. Ras Afrika memiliki massa tulang lebih padat dibanding ras kulit putih Amerika. Mereka juga BY: FADLEY ERASTUS L.A S.Kep

mempunyai otot yang lebih besar sehingga tekanan pada tulang pun besar. Ditambah dengan kadar hormon estrogen yang lebih tinggi pada ras Afrika. Pigmentasi dan tempat tinggal Mereka yang berkulit gelap dan tinggal di wilayah khatulistiwa, mempunyai risiko terkena osteoporosis yang lebih rendah dibandingkan dengan ras kulit putih yang tinggal di wilayah kutub seperti Norwegia dan Swedia. Riwayat keluarga Jika ada nenek atau ibu yang mengalami osteoporosis atau mempunyai massa tulang yang rendah, maka keturunannya cenderung berisiko tinggi terkena osteoporosis. Sosok tubuh Semakin mungil seseorang, semakin berisiko tinggi terkena osteoporosis.Demikian juga seseorang yang memiliki tubuh kurus lebih berisiko terkena osteoporosis dibanding yang bertubuh besar. Menopause Wanita pada masa menopause kehilangan hormon estrogen karena tubuh tidak lagi memproduksinya. Padahal hormon estrogen dibutuhkan untuk pembentukan tulang dan mempertahankan massa tulang. Semakin rendahnya hormon estrogen seiring dengan bertambahnya usia, akan semakin berkurang kepadatan tulang sehingga terjadi pengeroposan tulang, dan tulang mudah patah. Menopause dini bisa terjadi jika pengangkatan ovarium terpaksa dilakukan disebabkan adanya penyakit kandungan seperti kanker, mioma dan lainnya.Menopause dini juga berakibat meningkatnya risiko terkena osteoporosis. Berikut ini faktor faktor risiko osteoporosis yang dapat dikendalikan.Faktorfaktor ini biasanya berhubungan dengan kebiasaan dan pola hidup.

Aktivitas fisik

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIAL BEDAH

Seseorang yang kurang gerak, kurang beraktivitas, otot-ototnya tidak terlatih dan menjadi kendor. Otot yang kendor akan mempercepat menurunnya kekuatan tulang. Untuk menghindarinya, dianjurkan melakukan olahraga teratur minimal tiga kali dalam seminggu (lebih baik dengan beban untuk membentuk dan memperkuat tulang). Kurang kalsium Kalsium penting bagi pembentukan tulang, jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang. Kebutuhan akan kalsium harus disertai dengan asupan vitamin D yang didapat dari sinar matahari pagi, tanpa vitamin D kalsium tidak mungkin diserap usus. Merokok Para perokok berisiko terkena osteoporosis lebih besar dibanding bukan perokok. Telah diketahui bahwa wanita perokok mempunyai kadar estrogen lebih rendah dan mengalami masa menopause 5 tahun lebih cepat dibanding wanita bukan perokok. Nikotin yang terkandung dalam rokok berpengaruh buruk pada tubuh dalam hal penyerapan dan penggunaan kalsium.Akibatnya, pengeroposan tulang/osteoporosis terjadi lebih cepat. Minuman keras/beralkohol Alkohol berlebihan dapat menyebabkan luka-luka kecil pada dinding lambung. Dan ini menyebabkan perdarahan yang membuat tubuh kehilangan kalsium (yang ada dalam darah) yang dapat menurunkan massa tulang dan pada gilirannya menyebabkan osteoporosis. Minuman soda Minuman bersoda (softdrink) mengandung fosfor dan kafein (caffein). Fosfor akan mengikat kalsium dan membawa kalsium keluar dari tulang, sedangkan kafein meningkatkan pembuangan kalsium lewat urin. Untuk menghindari bahaya osteoporosis, sebaiknya konsumsi soft drink harus dibarengi dengan minum susu atau mengonsumsi kalsium ekstra (Tandra, 2009) BY: FADLEY ERASTUS L.A S.Kep

Stres Kondisi stres akan meningkatkan produksi hormon stres yaitu kortisol yang diproduksi oleh kelenjar adrenal. Kadar hormon kortisol yang tinggi akan meningkatkan pelepasan kalsium kedalam peredaran darah dan akan menyebabkan tulang menjadi rapuh dan keropos sehingga meningkatkan terjadinya osteoporosis. Bahan kimia Bahan kimia seperti pestisida yang dapat ditemukan dalam bahan makanan (sayuran dan buah-buahan), asap bahan bakar kendaraan bermotor, dan limbah industri seperti organoklorida yang dibuang sembarangan di sungai dan tanah, dapat merusak sel-sel tubuh termasuk tulang. Ini membuat daya tahan tubuh menurun dan membuat pengeroposan tulang (Waluyo, 2009). PATOFISIOLOGI Patogenesis osteoporosis mempunyai faktor etiologi multipel sebagai akibat bertambahnya usia, yang merupakan perpaduan antara turunnya pembentukan tulang dan peningkatan reapsorpsi tung yang hasil akhirnya ialah hilangnya massa tulang. Beberapa hipotesis yang diajukan antara lain : kegagalan relatif osteoblast, defisit vitamin D dan kalsium akibat perubahan diet. Penurunan efisiensi absorpsi kalsium di usus ddan efisiensi kalsium di ginjal, penurunan kadar kalsitonin dan estrogen dan kenaikan kadar PTH. Selain itu kemungkinan pengaruh dari pertumbuhan aktifitas osteoklas yang berfungsi membentuk tulang. Jika sudah mencapai umur 30 tahun struktur tulang sudah tidak terlindungi karena adanya penyerapan mineral tulang. Dalam keadaan normal terjadi proses yang terus menerus dan terjadi secara seimbang yaitu proses resorbsi dan proses pembentukan tulang (remodelling). Setiap ada perubahan dalam keseimbangan ini, misalnya proses resorbsi lebih besar dari proses pembentukan, maka akan terjadi penurunan massa tulang .Proses konsolidasi secara maksimal akan dicapai pada usia 30-35 tahun untuk tulang bagian korteks dan lebih dini pada bagian trabekula. Pada usia 40-45 tahun, baik wanita maupun pria akan

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIAL BEDAH

mengalami penipisan tulang bagian korteks sebesar 0,3-0,5 %/tahun dan bagian trabekula pada usia lebih muda .Pada pria seusia wanita menopause mengalami penipisan tulang berkisar 20-30 % dan pada wanita 40-50 %. Penurunan massa tulang lebih cepat pada bagian-bagian tubuh seperti metakarpal, kolum femoris, dan korpus vertebra Bagian-bagian tubuh yg sering fraktur adalah vertebra, paha bagian proksimal dan radius bagian distal MANIFESTASI KLINIS. Osteoporosis mungkin tidak memberikan gejala kinis sampai terjadi patah tulang, nyeri dan deformitas biasanya menyertai patah tulang. Nyeri tulang akut terutama terasa pada tulang belakang, nyeri dapat dengan atau tanpa fraktur yang nyata dan nyeri timbul mendadak. Nyeri berkurang pada saat beristirahat di tempat tidur. Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah bila melakukan aktivitas. Deformitas tulang dapat terjadi fraktur traumatik pada vertebra dan menyebabkan kifosis angular yang menyebabkan medulla spinalis tertekan sehingga dapat terjadi paraparesis. Dengan melemah dan kolapsnya korpus vertebra, tinggi seseorang dapat berkurang atau timbul kifosis dan individu menjadi bungkuk (kadang-kadang disebut dowagers hamp). Adanya osteopenia gigi ditandai dengan gejala gigi mudah tanggal yang disertai reapsorpsi gusi ata banyak gusi yang goyah, dapat digunakan sebagai patokan kemungkinan adanya osteoporosis tulang. Tinggi badan berkurang

Stadium Osteoporosis Pada stadium 1, tulang bertumbuh cepat, yang dibentuk masih lebih banyak dan BY: FADLEY ERASTUS L.A S.Kep

lebih cepat daripada tulang yang dihancurkan. Ini biasanya terjadi pada usia 3035 tahun. Pada stadium 2, umumnya pada usia 35-45 tahun, kepadatan tulang mulai turun (osteopenia). Pada stadium 3, usia 45-55 tahun, fraktur bisa timbul sekalipun hanya dengan sentuhan atau benturan ringan. Pada stadium 4, biasanya diatas 55 tahun, rasa nyeri yang hebat akan timbul akibat patah tulang. Anda tidak bisa bekerja, bergerak , bahkan mengalami stres dan depresi PENATALAKSANAAN Diet kaya kalsium dan vitamin D yang mencukupi sepanjang hidup, dengan peningkatan asupan kalsium pada permulaan umur pertengahan dapat melindungi terhadap demineralisasi tulang. Pada menopause dapat diberikan terapi pengganti hormone dengan estrogen dan progesterone untuk memperlambat kehilangan tulang dan mencegah terjadinya patah tulang yang diakibatkan. Medical treatment, oabt-obatan dapat diresepkan untuk menangani osteoporosis termasuk kalsitonin, natrium fluoride, dan natrium etridonat. KOMPLIKASI. Fraktur tulang panggul. Fraktur pergelangan tangan. Fraktur columna vertebaralis dan paha. Fraktur tulang iga. Fraktur radius. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK. Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengukur kepadatan mineral tulang

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIAL BEDAH

adalah sebagai berikut Pemeriksaan Densitas Massa tulang ( Densitometri ) Densitas massa tulang berhubungan dengan kekuatan tulang dan resiko fraktur . untuk menilai hasil pemeriksaan Densitometri tulang, digunakan kriteria kelompok kerja WHO, yaitu: Normal bila densitas massa tulang di atas -1 SD rata-rata nilai densitas massa tulang orang dewasa muda (T-score) Osteopenia bila densitas massa tulang diantara -1 SD dan -2,5 SD dari T-score. Osteoporosis bila densitas massa tulang -2,5 SD T-score atau kurang. Osteoporosis berat yaitu osteoporosis yang disertai adanya fraktur. Adapun metode pemeriksaan densitas massa tulang dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya : Dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA), menggunakan dua sinar-X berbeda, dapat digunakan untuk mengukur kepadatan tulang belakang dan pangkal paha. Sejumlah sinar-X dipancarkan pada bagian tulang dan jaringan lunak yang dibandingkan dengan bagian yang lain. Tulang yang mempunyai kepadatan tulang tertinggi hanya mengizinkan sedikit sinar-X yang melewatinya.DEXA merupakan metode yang paling akurat untuk mengukur kepadatan mineral tulang.DEXA dapat mengukur sampai 2% mineral tulang yang hilang tiap tahun.Penggunaan alat ini sangat cepat dan hanya menggunakan radiasi dengan dosis yang rendah tetapi lebih mahal dibandingan dengan metode ultrasounds. Peripheral dual-energy X-ray absorptiometry (P-DEXA), merupakan hasil modifikasi dari DEXA. Alat ini mengukur kepadatan tulang anggota badan seperti pergelangan tangan, tetapi tidak dapat mengukur kepadatan tulang yang berisiko patah tulang seperti tulang belakang atau pangkal paha.Jika BY: FADLEY ERASTUS L.A S.Kep

kepadatan tulang belakang dan pangkal paha sudah diukur maka pengukuran dengan P-DEXA tidak diperlukan.Mesin P-DEXA mudah dibawa, menggunakan radiasi sinar-X dengan dosis yang sangat kecil, dan hasilnya lebih cepat dan konvensional dibandingkan DEXA. Dual photon absorptiometry (DPA), menggunakan zat radioaktif untuk menghasilkan radiasi. Dapat mengukur kepadatan mineral tulang belakang dan pangkal paha, juga menggunakan radiasi sinar dengan dosis yang sangat rendah tetapi memerlukan waktu yang cukup lama. Ultrasounds, pada umumnya digunakan untuk tes pendahuluan. Jika hasilnya mengindikasikan kepadatan mineral tulang rendah maka dianjurkan untuk tes menggunakan DEXA. Ultrasounds menggunakan gelombang suara untuk mengukur kepadatan mineral tulang, biasanya pada telapak kaki.Sebagian mesin melewatkan gelombang suara melalui udara dan sebagian lagi melalui air. Ultrasounds dalam penggunaannya cepat, mudah dan tidak menggunakan radiasi seperti sinar-X.Salah satu kelemahan Ultrasounds tidak dapat menunjukkan kepadatan mineral tulang yang berisiko patah tulang karena osteoporosis. Penggunaan Ultrasounds juga lebih terbatas dibandingkan DEXA. Quantitative computed tomography (QTC), adalah suatu model dari CT-scan yang dapat mengukur kepadatan tulang belakang. Salah satu model dari QTC disebut peripheral QCT (pQCT) yang dapat mengukur kepadatan tulang anggota badan seperti pergelangan tangan. Pada umumnya pengukuran dengan QCT jarang dianjurkan karena sangat mahal, menggunakan radiasi dengan dosis tinggi, dan kurang akurat dibandingkan dengan DEXA, PDEXA,atauDPA Pemeriksaan laboratorium (misalnya : kalsium serum, fosfat serum, fosfatase alkali, eksresi kalsium urine,eksresi hidroksi prolin urine, LED).Pemeriksaan ini untuk menilai kecepatan bone turnover.

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIAL BEDAH

Pemeriksaan radiologi vertebra torakalis dan lumbalis AP dan lateral dilakukan untuk mencari adanya fraktur. Nilai diagnostik pemeriksaan radiologi biasa untuk mendeteksi osteoporosis secara dini kurang memuaskan karena pemeriksaan ini baru dapat mendeteksi osteoporosis setelah terjadi penurunan densitas massa tulang lebih dari 30%. PENCEGAHAN. Pencegahan osteoporosis dimulai sejak masa anak-anak dan remaja yaitu kebiasaan berolahraga dan nutrisi yang adekuat untuk memperkuat tulang. Olahraga beban bahkan pada usia lanjut (>85 tahun), telah dibuktikan dapat meningkatkan kepadatan tulang dan massa otot dan memperbaiki daya tahan fisik dan keseimbangan. Terapi estrogen-progesteron pengganti selama dan setelah menopouse dapat mengurangi pembentukan osteoporosis pada wanita. Kontra indikasi terapi penggantian estrogen adalah riwayat kanker payudara pada individu atau keluarga atau riwayat individu mengidap pembentukan pembekuan darah. Terapi testosteron dapat mengurangi osteoporosis pada pria. Suplemen kalsium dan vitamin D melalui makanan dapat mengurangi pembentukan osteoporosis baik pada pria maupun wanita. Hindari merokok. KONSEP KEPERAWATAN PENGKAJIAN KEPERAWATAN. Riwayat Keperawatan Perawat perlu menanyakan adanaya : Rasa sakit/nyeri pada tulang punggung (bagian bawah), nyeri leher, merasakan berat badan menurun. Umur dan jenis kelamin biasanya diataas usia 50 tahun dan sering pada wanita, kurangnya aktifitas atau Imobilisasi. keadaan nutrisi misal kurang vitamin D, C dan kalsium. Mengkonsumsi alkohol dan kafein, merokok. Adanya penyakit endokrin : Diabetes melitus, Hipertiroidisme, hiperparatiroidisme, chusings BY: FADLEY ERASTUS L.A S.Kep

syndom, acromegali, hypogonadism. Data dasar pengkajian pasien menurut Doenges (2001) adalah : Aktivitas / Istirahat. Gejala : Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.Tanda :Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea. Sirkulasi Gejala : Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katupdan penyakit cebrocaskuler, episodepalpitasi. Tanda : Kenaikan TD, Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis,radialis, tikikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis,kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisiankapiler mungkin lambat/ bertunda. Integritas Ego. Gejala: Riwayat Tanda : Letupan perubahan suasana kepribadian, hati, gelisah, ansietas, faktor stress continue

multiple(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan). penyempitan perhatian,tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola bicara. Eliminasi Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayatpenyakit ginjal pada masa yang lalu).

Makanan/cairan Gejala: Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir akhir ini(meningkat/turun) Riwayat penggunaan diuretic.

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIAL BEDAH

Tanda: Berat badan normal atau obesitas,, adanya edema, glikosuria. Neurosensori Gejala: Keluhan pening pening/pusing, berdenyu, sakit kepala,subojksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontansetelah beberapa jam) Gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur,epistakis). Tanda: Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara,efek, proses pikir, penurunan keuatan genggaman tangan. Nyeri/ketidaknyaman Gejala: Angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung),sakitkepala. Pernafasan Gejala : Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea,ortopnea,dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok. Tanda: Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan bunyinafas tambahan (krakties/mengi), sianosis. Keamanan Gejala: Gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural Pembelajaran/Penyuluhan Gejala: Faktor resiko keluarga: hipertensi, aterosklerosis, penyakitjantung,DM.Faktor faktor etnik seperti: orang Afrika-amerika, Asia Tenggara, penggunaan pil KB atau hormone lain, penggunaan alcohol/obat. Pemeriksaan fisik Lakukan penekanan pada tulang punggung apakah terdapat nyeri tekan, nyeri pergerakan. Periksa mobilitas amati posisi pasien yang nampak membungkuk. BY: FADLEY ERASTUS L.A S.Kep

Riwayat psikososial Penyakit ini terjadi pada usia tua dan lebih banyak pada wanita. Biasanya sering timbul kecemasan, takut melakukan aktifitas, dan perubahan konsep diri. DIAGNOSA KEPERAWATAN. Diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien osteoporosis, pada umumnya adalah: Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan dengan proses penyakit akibat osteoporosis. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya asupan kalsium dan vitamin D. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan perubahan bentuk tubuh (perubahan body image). Risiko terhadap cedera : fraktur, yang berhubungan dengan tulang osteoporotik . Nyeri berhubungan dengan fraktur dan spasme otot Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi perawatan dirumah INTERVENSI KEPERAWATAN. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hubungan dengan proses penyakit akibat osteoporosis. Tujuan : Pasien dapat meningkatkan mobiltas dan aktifitas Kriteria Hasil : Dapat melakukan ROM dengan baik Intervensi : Gunakan matress dengan tempat tidur papan. Rasional :Hal ini untuk memperbaiki posisi tulang belakang Bila ada indikasi, bantu pasien dengan menggunakan walker atau tongkat Rasional : Membantu klien dalam beraktivitas

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIAL BEDAH

Bantu dan ajarkan untuk latihan ROM setiap 4 jam Rasional : Untuk meningkatkan fungsi persendian dan mencegah kontraktur Bila pasien dianjurkan menggunakan brace punggung atau korset, perlu dilatih penggunaan dan jelaskan tujuannya Rasional : Untuk menunjang tubuh/anggota badan. Kolaborasi : Berikan analgetik, estrogen, kalsium dan vitamin D sesuai terapi dokter Rasional : Mengurangi nyeri dan memenuhi kebutuhan kalsium Kolaborasi : Berikan diet tinggi kalsium dan vitamin D sesuai terapi dokter Rasional : Memenuhi kebutuhan kalsium pasien Kolaborasi : Monitor kadar kalsium. Rasional : Mengetahui perkembangan kesehatan pasien Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh kurangnya asupan kalsim dan vitamin D. Tujuan : Memenuhi kebutuhan kalsium pasien Kriteria Hasil : Pesien menunjukkan masukan kalsium dan vitamin D yang adekuat, merencanakan menu 3 hari yang memberikan masukan yang cukup dari keduanya Intervensi : Pantau intake makanan dan makanan kesukaan pasien Rasional : Mengetahui jumlah nutrisi yang masuk kedalam tubuh pasien Pastikan bahwa pasien memperhatikan pengetahuan tentang makanan tinggi kalsium Rasional : Meningkatkan pengetahuan tentang makanan yang kaya kalsium BY: FADLEY ERASTUS L.A S.Kep

Berikan pasien daftar makanan misalnya : keju, susu, sayuran hijau, talur, kacang, biji wijen, tiram yang mengandung jumlah kalsium tinggi Rasional : Membantu dalam memeperoleh makanan yang kaya kalsium Ajarkan pasien bagaimana merencanakan menu yang memberikan masukan kalsium dan makanan diperkaya vitamin D yang cukup setiap hari Rasional : Agar pasien dapat menyusun menu makanan seimbang sesuai angka kecukupan gizi Timbang Berat badan Rasional : Mengetahui keefektifan intervensi yang diberikan Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan perubahan bentuk tubuh (perubahan body image). Tujuan : Pasien dapat mengekspresikan perasaan, pasien dapat mengungkapkan koping yang positif. Kriteria Hasil : Koping efektif Intervensi Bantu pasien untuk mengekspresikan perasaannya dan dengarkan dengan penuh perhatian. Rasional : Menciptakan hubungan harmonis sehingga timbul koordinasi Klarifikasi bila terjadi kesalahan pemahaman tentang proses penyakit dan pengobatan serta perawatan yang diberikan. Rasional : Meningkatkan koordinasi selama keperawatan Identifikasi bersama pasien tentang alternatif pemecahan masalah yang positif. Rasional : Dapat mengembalikan rasa percaya diri Bantu untuk meningkatkan komunikasi dengan keluarga dan teman Rasional : Memberikan ruang pada pasien untuk berinteraksi Berikan dukungan mental kepada pasien untuk meningkatkan koping individu

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIAL BEDAH

Rasional : Meningkatkan rasa percaya diri dan menurunkan stresor Risiko terhadap cedera : fraktur, yang berhubungan dengan tulang osteoporotik. Tujuan : Mencegah terjadinya cedera pada tulang Kriteria Hasil : Tidak terjadi trauma pada tulang Intervensi Anjurkan melakukan Aktivitas fisik secara teratur. Rasional : Mencegah terjadinya imobilisasi Anjurkan untuk Berjalan, mekanika tubuh yang baik, dan postur yang baik. Rasional : Meningkatkan kesembuhan dan fungsi organ Hindari Membungkuk mendadak, melenggok dan mengangkat beban lama. Rasional : Memperberat keadaan osteoporosis Anjurkan keluarga pasien umtuk membantu aktivitas pasien dan mengawasi kegiatan sehari-hari Rasional : Mencegah pasien terjatuh yang dapat mengakibatkan cedera Anjurkan pasien untuk menggunakan alat bantu dalam beraktivitas misalnya menggunakan kursi roda atau tongkat Rasional : Membantu pasien dalam menjalankan aktivitas Nyeri berhubungan dengan fraktur dan spasme otot Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang Kriteria Hasil: Klien akan mengekspresikan perasaan nyerinya Klien dapat tenang dan istirahat yang cukup Klien dapat mandiri dalam perawatan dan penanganannya secara sederhana BY: FADLEY ERASTUS L.A S.Kep

Intervensi Anjurkan pasien istirahat di tempat tidur dengan posisi telentang atau miring ke samping selama beberapa hari. Rasional : Untuk mengurangi rasa tak nyaman dan mengurangi stres akibat postur abnormal pada otot yang melemah. Gunakan kasur harus padat dan tidak lentur dan fleksi lutut Rasional : Dapat meningkatkan rasa nyaman dengan merelaksasi otot. Kompres hangat intermiten dan pijatan punggung Rasional : Memperbaiki relaksasi otot. Pasien diminta untuk menggerakkan batang tubuh sebagai satu unit dan hindari gerakan memuntir. Rasional : Mencegah terjadinya fraktur Pasang korset lumbosakral meskipun alat serupa kadang terasa tidak nyaman dan kurang bisa ditoleransi oleh kebanyakan lansia Rasional : Untuk menyokong dan imobilisasi sementara, Kolaborasi : Berikan Opioid oral mungkin diperlukan untuk hari-hari pertama setelah awitan nyeri punggung. Setelah beberapa hari, analgetika non opoid dapat mengurangi nyeri. Rasional : Opioid oral dan analgetika non opioid dapat mengurangi rasa nyeri Kurang pengetahuan tentang kurangnya informasi cara perawatan dirumah. Tujuan: Pasien dan keluarga dapat memahami cara perawatan dirumah dengan benar Kriteria Hasil : Pasien mengetahui cara perawatan diri dirumah berkaitan dengan penyakitnya Intervensi

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIAL BEDAH

Jelaskan pentingnya diit yang tepat, aktifitas yang sesuai serta istirahat yang cukup Rasional : Pengaturan makanan dan aktivitas dapat mencegah timbulnya awitan penyakit Jelaskan penggunaan obat yang diberikan secara detail Rasional : Menambah pengetahuan tentang fungsi obat yang diberikan Jelaskan pentingnya lingkungan yang aman misal lantai tidak licin, menghindari jatuh, menggunakn pegangan, menghindari gerakan cepat dan tiba-tiba Rasional : Mencegah terjadinya cedera pada tulang Anjurkan untuk mengurangi kafein, alkohol, dan merokok bila pasien sebelumnya mengkonsumsi atau menghindarinya Rasional : Agar pasien dapat mengurangi makanan yang dapat membuat keroposnya tulang maupun menghambat absorbsi kalsium Jelaskan pentingnya follow-up Rasional : Memantau kperkembangan kesehatan pasien dan menilai kepatuhan pasien terhadap terapi pengobatan.

BY: FADLEY ERASTUS L.A S.Kep

DAFTAR PUSTAKA
Brunner, Suddarth, 2001, Buku Ajar Keperawatan-Medikal Bedah, Edisi 8 Volume 3, EGC : Jakarta. Corwin, Elizabet. J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. EGC: Jakarta Doenges, Marilynn E, dkk, 2000, Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan , EGC : Jakarta. http://nersqeets.blogspot.com/2009/10/askep-osteoporosis.html. Diakses 21 November 2012. http://alvianminazuki.blogspot.com/2012/04/asuhan-keperawatan-klien-dengan.html#. Diakses 21 November 2012. http://cutenurse-sakura.blogspot.com/2010/04/osteoporosis.html. Diakses 21 November 2012. Suzanne, C, Smeltzer, Brenda G Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Bruner and Suddarth. Ali Bahasa Agung Waluyo. ( et,al) Editor bahasa Indonesia :Monica Ester. Edisi 8 jakarta : EGC,2001.

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIAL BEDAH

BY: FADLEY ERASTUS L.A S.Kep