Anda di halaman 1dari 11

KOMPETENSI INTI o Menggunakan ketrampilan komunikasi yang baik (verbal-tertulis dan oral, nonverbal, dan mendengar dengan konsentrasi)

yang dikembangkan berdasarkan paradigma komunikasi ilmiah untuk membantu pengelolaan pasien. o Memperoleh dan mencatat riwayat penyakit secara lengkap dan kontekstual serta melakukan pemeriksaan secara komprehensif pada berbagai keadaan o Memilih, melakukan secara lege artis, dan menafsirkan hasil berbagai prosedur klinik dan laboratorium o Menjelaskan masalah demam tifoid berdasarkan pengertian ilmu biomedik, klinik, perilaku dan komunitas terkini o Mengelola masalah kesehatan individu melalui ketrampilan clinical reasoning untuk menjamin hasil maksimal KOMPONEN KOMPETENSI o Menerapkan prinsip-prinsip komunikasi (berdasarkan paradigma yang berlaku) untuk menetapkan dan mempertahankan pengobatan lengkap dan hubungan dokter pasien yang etikal o Mendapatkan dan mencatat informasi yang akurat serta penting tentang pasien o Melakukan pemeriksaan fisik umum o Melakukan pemeriksaan fisik sesuai masalah pasien o Melakukan prosedur klinik rutin o Melakukan prosedur laboratorium dasar dan prosedur diagnostik o Menentukan dan menilai hasil pemeriksaan laboratorium dan diagnostik yang relevan o Merangkum dari interpretasi anamnesis, pemeriksaan fisik, uji laboratorium dan prosedur yang sesuai o Menjelaskan masalah demam tifoid dan potensi ancamannya o Menjelaskan konsep proses patogenesis demam tifoid o Menyusun dan menjelaskan rencana pengobatan demam tifoid o Mendiagnosis dan mengelola masalah kesehatan individu yang umum o Mendiagnosis dan mengelola penyebab yang terdapat pada lingkungan pasien SASARAN PENUNJANG o Menerapkan prinsip-prinsip komunikasi (berdasarkan paradigma yang berlaku) untuk menetapkan dan mempertahankan pengobatan lengkap dan hubungan dokter pasien yang etikal - Menerapkan prinsip kerahasiaan, otonomi pasien, reaksi positif dan aspek pengobatan dalam hubungan pasien-dokter dalam hal anamnesis dan negosiasi pembuatan keputusan dengan keluarga o Mendapatkan dan mencatat informasi yang akurat serta penting tentang pasien yang didapat melalui anamnesis lengkap o Melakukan pemeriksaan fisik umum : gambaran umum, tanda vital, denyut nadi, kulit, suhu tubuh, kepala, mata,

leher, jantung, paru-paru dan abdomen o Melakukan pemeriksaan fisik sesuai masalah pasien : pemeriksaan fungsi umum o Melakukan prosedur klinik rutin : punksi vena, termasuk untuk biakan darah dan memulai tindakan IV, kontrol/pemeriksaan perdarahan masif dan hati-hati serta waspada terhadap infeksi o Melakukan prosedur laboratorium dasar dan prosedur diagnostik : Pewarnaan Gram Pemeriksaan Darah Pemeriksaan urin Sediaan apus darah Pemeriksaan tinja o Melakukan prosedur klinik kegawatdaruratan dengan pasien tidak sadar o Menjelaskan masalah demam tifoid dan potensi ancamannya Menentukan dasar ilmiah yang relevan yang berhubungan dengan pengertian patofisiologi masalah demam tifoid Menentukan masalah klinik yang timbul dalam pembelajaran berdasar kasus (case-based learning) yang berhubungan dengan masalah demam tifoid Mencari informasi untuk menjawab masalah klinik yang timbul pada kasus demam tifoid o Menjelaskan konsep proses patofisiologi tumor abdomen : - Menjelaskan etiologi, patogenesis dan progresifitas kasus kesehatan yang berhubungan dengan demam tifoid - Menjelaskan manifestasi dan konsekuensi masalah demam tifoid secara molekuler, seluler, dan fisiologi o Menyusun dan menjelaskan rencana pengobatan - Mengembangkan strategi untuk menghentikan etiologi, patogenesis dan ancaman spesifik dan konsekuensinya - Menjelaskan tujuan pengobatan dalam konsep fisiologi dan molekuler - Mengenal semua kemungkinan pengobatan yang ada - Mengerti logika ilmiah dalam memilih intervensi baik dalam farmakologi, fisiologi, gizi ataupun perubahan tingkah laku - Mengenal dan menjelaskan indikasi obat yang dipilih, mekanisme kerja, dosis dan

waktu paruh dan penggunaan di klinik - Mengerti kemungkinan interaksi obat o Mendiagnosis masalah kesehatan individu yang umum - Menilai data hasil pemeriksaan dasar (anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium) secara benar - Berdasarkan data menyusun diagnosis banding yang sesuai serta urutan masalah - Berdasarkan diagnosis banding, urutan masalah dan berdasarkan diskusi dengan pasien memilih, melaksanakan dan menilai pemeriksaan penunjang o Menentukan efektivitas suatu tindakan - Menerapkan parameter dan indikator keberhasilan pengobatan o Mengelola masalah kesehatan individu yang umum - Memilih pengobatan yang sesuai didasarkan pada hasil pemeriksaan pasien - Melakukan konsultasi dan merujuk apabila dibutuhkan - Menentukan tujuan pengobatan yang sesuai dengan situasi dan kondisi - Melibatkan pasien dan keluarga secara optimal o Memonitor kemajuan pengobatan dan memodifikasi pengelolaan sesuai situasi dan kondisi - Menindak lanjuti rancangan penatalaksanaan selama pengelolaan penyakit, penyembuhan dan selama sehat SASARAN PEMBELAJARAN o Mampu menjelaskan definisi dari demam dan patofisiologinya (K) o Mampu menjelaskan definisi, etiologi dan patogenesis terjadinya demam tifoid (K) o Mampu melakukan anamnesis dengan menerapkan prinsip-prinsip komunikasi sesuai paradigma yang berlaku (S,A) o Mampu melakukan pemeriksaan fisik umum : gambaran umum dan tanda vital (S) o Mampu melakukan pemeriksaan fisik umum (S) o Mampu melakukan prosedur laboratorium pewarnaan gram dan menginterpretasi hasilnya (S)

o Mampu melakukan prosedur laboratorium pemeriksaan darah (rutin, widal, kultur) dan menginterpretasi hasilnya (S) o Mampu melakukan prosedur laboratorium pemeriksaan urin (rutin, kultur) dan menginterpretasi hasilnya (S) o Mampu melakukan prosedur laboratorium sediaan apus darah dan menginterpretasi hasilnya (S) o Mampu melakukan prosedur laboratorium pemeriksaan tinja (rutin, kultur) dan menginterpretasi hasilnya (S) o Mampu merangkum dan menilai hasil dari interpretasi anamnesis, pemeriksaan fisik, uji laboratorium dan prosedur yang sesuai (S) o Mampu mendiagnosis berdasarkan data yang ada (K,S) o Mampu menyusun diagnosis banding yang sesuai serta urutan masalah berdasarkan data yang ada (K,S) o Mampu menjelaskan semua kemungkinan pengobatan yang ada (K) o Mampu menyusun dan menjelaskan rencana pengobatan, serta memilih pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi pasien (K,S) o Mampu menjelaskan kemungkinan komplikasi dari penyakit demam tifoid (K) SKENARIO Seorang wanita, 30 tahun berobat kedokter dengan keluhan panas naik turun selama 7 hari. Penderita minum antibiotik amoxicillin dan paracetamol (anjuran dari temannya) selama 3 hari ada perbaikan tapi tidak sampai sembuh. Keluhan lainnya mual tidak sampai muntah, kembung, nafsu makan turun, kepala pusing dan susah buang air besar sedangkan buang air kecil tidak ada gangguan. TUGAS MAHASISWA Berdasarkan skenario di atas, ikutilah langkah-langkah berikut ini: 1. Jelaskan terminologi yang belum anda ketahui. 2. Jelaskan masalah yang harus anda selesaikan. 3. Analisis masalah tersebut dengan brainstorming agar kelompok memperoleh penjelasan yang beragam mengenai fenomena yang didiskusikan. 4. Cobalah untuk menyusun penjelasan yang sistematis mengenai fenomena atau masalah yang diberikan kepada anda. 5. Susunlah persoalan-persoalan yang tidak bisa diselesaikan dalam diskusi tersebut menjadi tujuan pembelajaran kelompok (learning issues/learning objectives). 6. Lakukan belajar mandiri untuk mencari informasi yang

anda butuhkan guna menjawab learning issues yang telah anda tetapkan. 7. Jabarkan temuan informasi yang telah dikumpulkan oleh anggota kelompok, sintesakan dan diskusikan temuan tersebut agar tersusun penjelasan yang komprehensif untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah. PERTANYAAN TEORITIS MINIMAL DAN ALTERNATIF JAWABAN : 1.Apa anamnesis yang harus anda lengkapi ? Anamnesis harus memenuhi sacred seven dan fundamental four : Riwayat Penyakit Sekarang : Awitan : Kronik atau akut Kronologis : baru atau lama, mendadak atau berangsur Lokasi : Kualitas : menggigil atau tidak, tinggi atau tidak Kuantitas : terus-menerus atau naik turun Faktor-faktor yang mempengaruhi : (makanan, minuman, dll) Memperingan : minum obat Memperberat : kelelahan Gejala penyerta : mual, anoreksia, kembung, konstipasi, sakit kepa;adll Riwayat Penyakit Dahulu : Berapa kali sakit seperti ini atau adakah penyakit-penyakit lainnya Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Pribadi Dan Sosial Ekonomi 2.Apa definisi dari demam ? Sebutkan tipe-tipe demam dan jelaskan patofisiologi demam ! Panas atau demam adalah peningkatan suhu tubuh diatas 37,2 C (suhu tubuh Normal 35,5 -27,2 C). Hiperpireksia adalah suatu keadaan kenaikan suhu tubuh sampai setinggi 41,2 C atau lebih. Perbedaan pengukuran suhu diaksila dan oral maupun rectum berkisar sekitar 0,5 C; suhu rectal lebih tinggi daripada suhu oral. Tipe Demam : Demam Continue : peningkatan suhu tubuh secara persisten tanpa atau sedikit menunjukan variasi suhu dan tidak pernah sampai normal dalam waktu 24 jam. Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia. Demam Intermitten : peningkatan suhu tubuh yang naik turun sampai ke suhu tubuh normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi setiap dua hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari bebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana. Demam Remiten : Peningkatan suhu tubuh yang naik turun dengan variasi 1 C atau lebih tapi tidak mencapai ke suhu tubuh normal Demam Septik : Peningkatan suhu tubuh oleh karena sepsis, suhu tubuh berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal disebut demam hektik. Patofisiologi Demam :

Sitokin-sitokin Agen infeksius pirogenik Monosit/makrofag Il-1, TNF, IL-6, IFN Toksin Sel-sel endotel Mediator inflamasi Jenis-jenis sel lain

Aksi antipiretik DEMAM Peningkatan konversi panas Peningkatan produksi panas

Penigkatan titik termoregulasi yang sudah ditentukan 0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b0200000000 050000000c0243061d1c040000002e0118001c000000fb021000070000000000bc020000 00000102022253797374656d00061d1c000068c8120072edc630002b17000c0200001d1c 0000040000002d01000004000000020101001c000000fb0238ff000000000000900100000 0000440001254696d6573204e657720526f6d616e0000000000000000000000000000000 000040000002d010100050000000902000000020d000000320ab80000000100040000000 000201c400620355b00040000002d010000030000000000 4.Apa Diagnosis Banding Saudara ? Demam Tifoid Demam Dengue Leptospirosis Demam Malaria 5.Apa definisi dari demam tifoid ? Demam tifoid merupakan penyakit infeksi demam sistemik akut akut yang nyata pada fagosit mononuklear. 6.Apa etiologi penyakit ini ? Gambar : Infeksi ini disebabkan oleh bakteri : Famili : Enterobacteriaceae Genus : Salmonella Spesies : Salmonella typhi Morfologi : Bentuk bakteri batang (basil), ukuran 0,5x0,3m, bersifat gram (-) dan tidak berspora, motil oleh karena mempunyai flagel peritrik, tidak berkapsul, mempunyai fimbria atau pili yang bertanggung jawab sebagai perlekatan antar bakteri, perlekatan dengan sel hospesdan bakteriofaga.

Dinding selnya terdiri atas : murein dan lipoprotein (20%) bertanggung jawab pada rigiditas seluler, fosfolipid dan protein (80%) untuk membentuk lipid bilayer, dan lipopolisakarida (LPS) yang mengandung polisakarida khusus yang menentukan antigenisitas serta bertanggung jawab pada aktivitas endotoksik. Bakteri ini bersifat aerob fakultatif. Jika ditumbuhkan dalam keadaan anerob atau rendah oksigen, bakteri ini dapat meragikan karbohidrat ; tetapi bila diberi cukup oksigen akan menggunakan siklus asam trikarboksilat dan sistem transpor elektron untuk memperoleh energi. Bakteri dapat meragikan glukosa, merudki nitrat menjadi nitrit, tetapi tidak dapat mencairkan alginat dan tes oksidasenya negatif. Struktur Antigen : Antigen Vi (virulensi) merupakan bentuk antigen K (kapsuler) yang dipercaya sebagai penentu virulensi dengan cara mencegah destruksi intraselluler didalam sel hospes. Antigen H (flagel), bahasa jerman : Hauch, adalah protein yang dapat didenaturasi atau dihilangkan dengan pemanasan atau alkohol. Ag ini dapat diaglutinasikan oleh anti-H antibodies terutama IgG. Penentu dari antigen H adalah fungsi dari rantai asam amino dalam protein flagela yang disebut flagellin. Antigen H ini bisa mengganggu aglutinasi oleh antibodi terhadap antigen O. Antigen O (somatik), bahasa jerman : Ohne, tersusun atas senyawa LPS yang terdiri atas tiga region : Region I : adalah antigen O-spesifik atau antigen dinding sel, merupakan polimer dari unit-unit oligosakarida yang terdiri atas 3 / 4 monosakarida. Polimer ini dapat berbeda antara satu isolat dengan isolat lainnya sehingga dapat digunakan untuk menentukan subgrup secara serologis. Region II : yang melekat pada antigen O, terdiri atas core polysaccharide yang konstan terdapat dalam genus tertentu tetapi berbeda antar spesies. Region III : merupakan lipid A, melekat pada region II melalui 2-keto-3deoksioktonat (KDO). Unit dasar dari lipid A adalah disakarida yang melekat pada 5 / 6 asam lemak. Secara struktural, lipid A mengikatkan LPS ke lapisan mureinlipoprotein dari dinding sel. Selain bisa untuk petanda serologik, LPS dapat berperan sebagai faktor virulensi penting karena toksik (endotoksin). Disamping itu antigen O dapat meningkatkan perlekatan organisme pada hospes. Daya tahan : Salmonella memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap empedu dengan konsentrasi yang relatif tinggi dibanding bakteri enterik lain. Penentu patogenisitas : = fakultatif intra-cellular = kemampuan untuk hidup secara intraseluler dan juga mampu untuk hidup dalam lingkungan ekstraseluler. Faktor Permukaan O antigenic side chain dan antigen Vi dapat menempel pada reseptor sel hospes dan bertahan hidup secara intraseluler. Organisme yang tidak memiliki antigen Ospesific side chain avirulen, sedangkan yang memiliki antigen Vi lebih virulen dibanding yang tidak memiliki. Daya Invasi

Endotoksin Faktor-faktor lain 7.Bagaimana patogenesis dari penderita demam tifoid ? Salmonella typhi masuk ketubuh manusia melalui makanan dan air yang tercemar, kemudian kuman dihambat oleh asam lambung (dibutuhkan 105-109 bakteri untuk menimbulkan infeksi). Bila kuman dapat masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plak peyeri di ileum terminalis yang hipertropi. Kuman dapat menembus ke lamina propia, masuk ke aliran limfe mencapai kelenjar limfe mesenterial, dan masuk kealiran darah melalui duktus torasikus (bakteriemia primer). S. typhi lain dapat mencapai hati melalui siklus portal dari usus. S. typhi bersarang di plak peyeri, limpa, hati dan bagian-bagian lain sistem retikuloendotelial (bakteriemia skunder). Kandung empedu merupakan organ yang sensitif terhadap infeksi S. typhi. Endotoksin S. typhi berperan dalam proses inflamasi lokal pada jaringan tempat kuman tersebut berkembang biak. S. typhi dan endotoksinnya merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen dan lekosit pada jaringan meradang, sehingga terjadi demam. 8.Apa gejala dan tanda pada penderita tersebut ? Masa inkubasi antara 3-60 hari. Gejala yang timbul bervariasi. Pada minggu pertama, keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya, yaitu demam seperti naik tangga setiap hari sampai dengan 40 / 41 oC, nyeri kepala, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak diperut, batuk. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan demam. Pada minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardi relatif, lidah tifoid (kotor ditengah, tepi dan ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan kesadaran berupa somnolen sampai koma, sedangkan roseolae jarang ditemukan di Indonesia. 9.Apa pemeriksaan penunjang yang anda lakukan ? Darah rutin : Lekosit : N / leukopenia (sampai dengan <2000 sel / mikroliter), neutropenia, limfositosis relatif, aneosinofilia. Mungkin terdapat anemia dan trombositopenia ringan. Biakan darah pada minggu pertama / feses pada minggu ketiga (kultur kuman) dengan : Widal tes : peningkatan titer 4 kali lipat selama 2-3 minggu reaksi widal tunggal dengan titer antibodi O 1:320 atau titer antibodi H 1:640 Pada anak : widal tes titer antibodi O >sama dengan 1:200 10.Bagaimana penatalaksanaan demam Tifoid ? Sampai saat ini masih dianut trilogi penatalaksanaan demam tifoid, yaitu : 1.pemberian antibiotik, untuk menghentikan dan memusnahkan penyebaran kuman. Antibiotik yang dapat digunakan : a. Chlorampenicol, 3-4 mg/hari atau dosis hari pertama 4x250 mg, hari kedua 4x500 mg, diberikan selama demam dilanjutkan sampai 2 hari

bebas demam, kemudian dosis diturunkan menjadi 4x250 mg selama 5 hari kemudian. b. Ampisilin/Amoxicillin, dosis 50-150 mg/KgBB, diberikan selama 2 minggu c. Cotrimaksazol, 2x2 tablet ( 1 tablet mengandung 400 mg sulfametaksazol80 mg trimetropim), diberikan selama 2 minggu pula. d. Sefalosporin generasi II dan III. Regimen yang dapat dipakai : - seftriakson 4 gr/hari selama 3 hari. - Norfloksazin 2x400 mg/hari selama 14 hari - Ciprofloksazin 2x500 mg/hari selama 6 hari - Ofloksazin 600 mg/hari selama 7 hari - Pefloksazin 400 mg/hari selama 7 hari - Fleroksazin 400 mg/hari selama 7 hari 2.Istirahat dan perawatan profesional, bertujuan mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas panas atau kurang lebih selama 14 hari. Mobilisasi dilakukan bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien. Dalam perawatan perlu dijaga hiegene perseorangan, kebersihan tempat tidur, dan peralatan yang dipakai pasien. Pasien dengan kesadaran menurun, posisinya perlu diubahubah untuk mencegah dekubitus dan pneumonia hipostatik. Defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan, karena kadang-kadang terjadi obstipasi dan retensi urin. 3.Diet dan terapi penunjang (simptomatis dan suportif) Pertama pasien diberi diet bubur saring, kemudian bubur kasar, dan akhirnya nasi sesuai tingkat kesembuhan pasien. Namun beberapa penelitan menunjukkan bahwa pemberian makanan padat dini, yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar), tidak merangsang maupun menimbulkan banyak gas dapat diberikan dengan aman. Pemberian vitamin dan mineral yang cukup dan menjaga keseimbangan dan homeostasis, sistem imun akan tetap berfungsi dengan optimal. Pada kasus perforasi intestinal dan rejatan septik diperlukan perawatan intensif dengan nutrisi parenteral total. Spektrum antibiotik maupun kombinasi beberapa obat yang bekerja secara sinergis dapat dipertimbangkan. Kortikosteroid selalu perlu diberikan pada rejatan septik. Pada Anak : Obat terpilih Chloramphenicol 100 mg/KgBB/hari dibagi dalam 4 dosis selama 10 hari (maksimal 2 gram/hari). Chloramphenicol tidak boleh diberikan bila jumlah leukosit < sama dengan 2000 sel/mikroliter. 11.Komplikasi apa yang dapat terjadi pada penderita tersebut ? Komplikasi demam tifoid dibagi menjadi : 1.Komplikasi intestinal Perdarahan usus, perforasi usus dan ileus paralitik 2.Komplikasi ekstraintestinal e. kardiovascular : kegagalan sirkulasi perifer (sepsis, rejatan), miokarditis, trombosis, dan tromboflebitis f. darah : anemia hemolitik, trombositopenia dan/atau DIC dan sindrom

g. h. i. j. k.

uremik hemolitik paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis hepar dan kandung empedu: hepatitis dan kolelitiasis ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis tulang : osteomielitis, periostitis, spondilitis dan artritis neuropsikiatrik : delirium, meningismus, meningitis, polineuritis perifer, sindrom Guillain-Barre, psikosis dan sindrom katatonia

STRATEGI BELAJAR 1. Diskusi kelompok tanpa tutor untuk tahap identifikasi pertanyaan teori, curah pendapat secara bebas diantara para mahasiswa. 2. Diskusi kelompok dibimbing tutor untuk mengarahkan pertanyaan lain menuju masalah yang spesifik. 3. Konsultasi dengan nara sumber untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh dan mendalam. 4. Kuliah khusus didalam ruang kelas. 5. Kegiatan belajar mandiri di perpustakaan menggunakan buku - buku teks dan jurnal, video dan komputer. 6. Melakukan praktikum di laboratorium ketrampilan. STRATEGI PENGAJARAN & PENGALAMAN PEMBELAJARAN Judul LBM : Demam Tifoid Kuliah Integrasi Judul/Tema 1 : Kuman Bentuk Batang Gram (-) Judul/Tema 2 : Gejala Klinis Demam Tifoid Judul/Tema 3 : Penatalaksanaan Demam Tifoid Judul/Tema 4 : Pemeriksaan Penunjang Demam Tifoid

Praktikum Laboratorium Praktikum 1 : Patologi Klinik Praktikum 2 : Mikrobiologi Laboratorium Ketrampilan Laboratorium Ketrampilan 1 : Pengecatan dan Kultur Kuman Laboratorium Ketrampilan 2 : Pemeriksaan Darah Rutin dan Sediaan Apus Darah Panel Ahli Bagian : Ilmu Penyakit Dalam Bagian : Ilmu Kesehatan Anak Bagian : Farmakologi

Bagian : Mikrobiologi Bagian : Patologi Klinik SARANA & PRASARANA SDM Buku / Bahan Rancangan Pengajaran (Pustaka & Alat) yang dapat berupa : Paper based clinical scenarios Experimental or clinical laboratory data Photographs Newspaper articles All or part of an article from a scientific journal Ruangan diskusi pleno Ruangan diskusi kelompok Ruangan Laboratorium Sarana Audio visual Biaya operasional Administrasi pendidikan KEGIATAN Pengarahan bagi fasilitator/tutor dan narasumber oleh penanggung jawab modul Kuliah pengantar dan orientasi bagi mahasiswa Pembagian kelompok Diskusi kelompok Presentasi hasil diskusi oleh mahasiswa EVALUASI Observasi (Generic skill implementation) Formatif (Tutors feed back) Summatif (MCQ,OSCE) REFERENSI DAN SUMBER INFORMASI : 1.Mansjoer A, Triyanti K, Rakhmi S, Wardhani Wahyu I, Setiowulan W. Demam Tifoid dalam Infeksi Tropik. Kapita Selekta Kedokteran Ed. 3 Jilid 1 ; 1999 : 421-5. 2.Mansjoer A, Triyanti K, Rakhmi S, Wardhani Wahyu I, Setiowulan W. Tifus Abdominalis dalam Penyakit Tropik dan Infeksi Anak. Kapita Selekta Kedokteran Ed. 3 Jilid 2 ; 1999 : 433. 2.Dorlan's Illustrated Medical Dictionary : Ed 30th ; 685-7. 3.Isselbacher K. J, Braunwald E, Wilson J. D, etc. Salmonellosis. Harrison dalam PrinsipPrinsip Ilmu Penyakit Dalam Ed 13 Vol 2 : 1999 ; 755-8. 4.Nelwan R. H. H. Demam : Tipe dan Pendekatan. Buku Ajar Penyakit Dalam Ed 3 Jilid 1 : 1996 ; 407-8. 5.Juwono R. Demam Tifoid. Buku Ajar Penyakit Dalam Ed 3 Jilid 1 : 1996 ; 435-42. 6.Tortora G. J, Funke B. R, Case C. L. Salmonellosis. Microbiology an Introduction : 2001 ; 692-5.