Anda di halaman 1dari 21

DAFTAR ISI BAB I Pendahuluan........................................................................................................ 2 1.1 Latar Belakang Masalah................................................................................... 3 1.2 Tujuan dan Sasaran .......................................................................................... 3 1.

3 Ruang lingkup subtansi dan wilayah ............................................................... 3 1.4 Metodologi ....................................................................................................... 3 1.5 Sistematika penulisan ....................................................................................... 3 BAB 2 Tinjauan Teori ..................................................................................................... 4 2.1 Jenis banjir dan sebab-sebab timbulnya banjir ............................................... 4 2.2 Andil manusia dalam memicu banjir .............................................................. 5 2.3 Ciri-ciri umum banjr ....................................................................................... 6 2.4 Kerawanan terhadap banjir ............................................................................. 7 2.5 Dampak-dampak banjir .................................................................................. 8 2.6 Langkah-langkah peminimalan dampak negatif banjir .................................. 10 2.7 Pengendalian banjir ........................................................................................ 12 BAB 3 Analisis Kejadian Banjir Wilayah Pandeglang Tanggal 27 September 2010 ................................................................................ 13 3.1 Pendahuluan .................................................................................................... 13 3.2 Analisis dan Pembahasan ............................................................................... 13 3.3 Data Curah Hujan ........................................................................................... 14 3.4 Sebaran Curah Hujan ...................................................................................... 15 BAB 4 Penutup ................................................................................................................. 18 4.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 18 4.2 Saran ............................................................................................................... 18 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 19 LAMPIRAN ...................................................................................................................... 20

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah Secara geografis Indonesia terletak di zona tropis yang memilik dua musim yaitu musim panas dan musim hujan yang ditandai dengan perubahan ekstrim cuaca, suhu dan arah angin. Kondisi ini memiliki potensi untuk menciptakan bahaya hidrometeorologi seperti banjir dan kekeringan. Di Indonesia banjir merupakan bencana yang selalu terjadi setiap tahun terutama pada musim hujan. Banjir pada umumnya terjadi di wilayah Indonesia bagian barat yang menerima curah hujan lebih banyak dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian Timur. Populasi penduduk Indonesia yang semakin padat yang dengan sendirinya membutuhkan ruang yang memadai untuk kegiatan penunjang hidup yang semakin meningkat secara tidak langsung merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya banjir. Bencana banjir merupakan kejadian alam yang dapat terjadi setiap saat dan sering mengakibatkan hilangnya nyawa, kerugian harta, dan benda. Bencana memiliki sifat tidak dapat diprediksi serta dapat menimbulkan jatuhnya banyak korban dan bila tidak ditangani dengan tepat akan menghambat, mengganggu dan merugikan masyarakat, pelaksanaan dan hasil pembangunan. Menurut BNPB selama tahun 2011 bencana di Indonesia terjadi sekitar 1.598 kejadian, dimana sekitar 89% adalah bencana hidrometerologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, puting beliung dan gelombang pasang, dimana yang paling banyak adalah banjir (403 kejadian). Korban jiwa yang meninggal akibat banjir adalah 160 orang dan jumlah orang yang mengungsi akibat banjir mencapai 279.523 orang (www.centroone.com, 2011). Berdasarkan nilai kerugian dan frekuensi kejadian bencana banjir terlihat adanya peningkatan yang cukup berarti. Kejadian bencana banjir tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor alam berupa curah hujan diatas normal dan adanya pasang naik air laut. Disamping itu faktor ulah manusia juga berperan penting seperti penggunaan lahan yang tidak tepat (pemukiman di daerah bantaran sungai dan daerah resapan air) penggundulan hutan, pembuangan sampah kedalam sungai dsb. Bencana pada dasarnya karena gejala alam dan akibat ulah manusia. Untuk mencegah terjadinya akibat dari bencana, khususnya untuk mengurangi dan menyelamatkan korban bencana, diperlukan suatu cara penanganan yang jelas (efektif, efisien dan terstruktur) untuk mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana.
2

Ditingkat nasional ditetapkan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), di tingkat daerah BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) tingkat I untuk provinsi dan tingkat II untuk Kabupaten, dimana unsur kesehatan tergabung didalamnya.

1.2.

Tujuan dan sasaran

Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan dan sasarannya adalah mengindetifikasi definisi banjir, jenis-jenis bencana banjir dan cara

penanggulangannya dan diharapkan penulisan makalah ini bermanfaat bagi kita semua

1.3.

Ruang lingkup substansi dan wilayah

Ruang lingkup penulisan makalah ini adalah manajemen bencana banjir di Indonesia.

1.4.

Metodologi

Adapun metodologi penelitian yang kami gunakan yaitu studi pustaka: melalui internet.

1.5.

Sistematika penulisan

Sistematika penulisan pada makalah ini adalah 1.5.1. Bab 1 : Pendahuluan, yang mencakup latar belakang masalah , tujuan penulisan dan sasaran, ruang lingkup penulisan, metodologi, dan sistematika penulisan 1.5.2. Bab 2 : Tinjauan Teori 1.5.3. Bab 3 : Analisis dan Pembahasan 1.5.4. Bab 4 : Penutup yang mencakup kesimpulan dan saran

BAB 2 TINJAUAN TEORI

Manajemen bencana alam, termasuk bencana geologi, yang berbasis komunitas merupakan sesuatu yang baru. Setidaknya hal yang jarang diperhatikan. Ini terlihat dari pola pengembangan manajemen bencana yang cenderung eksternal. Dipahami bahwa manajemen bencana suatu daerah merupakan tanggung jawab suatu komunitaas. Oleh karena itu, manajemen bencana berbasis komunitas merupakan pilihan terbaik. Untuk keberhasilan itu, diperlukan pengetahuan masyarakat yang memadai dalam hal mengetahui bencana. 2.1 Jenis banjir dan sebab-sebab timbulnya banjir A. Banjir kilat. Banjir ini biasanya didefinisikan sebagai banjir yang terjadi hanya dalam waktu 6 jam sesudah hujan lebat mulai turun. Biasanya juga dihubungkan dengan banyaknya awan kumulus yang menggumpal di angkasa, kilat atau petir yang keras, badai tropis atau cuaca dingin. Karena banjir ini sangat cepat datangnya, peringatan bahaya kepada penduduk sekitar tempat itu harus kilat pula, dan segera dimulai upaya penyelamatan dan persiapan penanganan dampak-dampaknya. Umumnya banjir kilat akibat meluapnya air hujan yang sangat deras, khususnya bila tanah bantaran sungai rapuh dan tak mampu menahan cukup banyak air. Penyebab lain adalah 1. kegagalan bendungan menahan volume air (debit) yang meningkat, 2. berbagai perubahan besar lainnya di hulu sungai.

B. Banjir luapan sungai. Jenis banjir ini berbeda dari banjir kilat karena banjir ini terjadi setelah proses yang cukup lama, meskipun proses itu bisa jadi lolos dari pengamatan sehingga datangnya banjir terasa mendadak dan mengejutkan. Selain itu banjir luapan sungai kebanyakan bersifat musiman atau tahunan dan bisa berlangsung selama berhari-hari atau berminggu-minggu tanpa berhenti. Penyebabnya adalah kelongsoran daerah-daerah yang biasanya mampu menahan kelebihan air, Banjir terjadi sepanjang sistem sungai dan anak-anak sungainya,
4

mampu membanjiri wilayah luas dan mendorong peluapan air lembah-lembah sungai yang mandiri (yang bukan merupakan anak sungainya) banjir yang meluap dari sungai-sungai selain induk sungai biasa disebut banjir kiriman. Besarnya banjir tergantung kepada beberapa faktor. Di antaranya kondisi-kondisi tanah (kelembapan dalam tanah, tumbuhtumbuhan di atas tanah, Keadaan permukaan tanah seperti tanah telanjang, yang ditutupi batu bata, blok-blok semen,beton, dsb). Terjadi dari sungai-sungai kering itu bermingguminggu setelah terjadi angin topan dari lautan atau setelah terjadi hujan badai. Sungai bermuara ke laut, karenanya topan laut mampu mengarahkan air ke sungai kering itu hingga terjadi arus air sampai ratusan kilometer sampai ke arah darat. C. Banjir pantai. Sebagai banjir dikaitkan dengan terjadinya badai tropis (juga disebut angin puyuh laut atau taifun). Banjir yang membawa bencana dari luapan air hujan sering makin parah akibat badai yang dipicu oleh angin kencang sepanjang pantai. Air garam membanjiri daratan akibat satu atau perpaduan dampak gelombang pasang, badai, atau tsunami (gelombang pasang). Sama seperti banjir luapan sungai, hujan lebat yang jatuh di kawasan geografis luas akan menghasilkan banjir besar di lembah-lembah pesisir yang mendekati muara sungai.

2.2

Andil manusia dalam memicu banjir Banjir sering dianggap termasuk bencana alam, artinya terjadi secara alamiah. Banjir

dianggap sebagai bencana bila manusia mendiami daerah-daerah rawan banjir,yakni dekat sungai atau pantai. Pertumbuhan penduduk yang kian pesat telah menyebabkan daerahdaerah rawan bencana cukup padat penduduk dan risiko banjir terpaksa diterima lantaran sulit menemukan wilayah lain yang aman untuk hidup, mengingat daerah-daerah aman sudah penuh sesak. Negara-negara maju terpaksa menghadapi asalah yang dipicu oleh kepadatan penduduk ini. Amerika Serikat ini misalnya, terpaksa merogoh kocek negara sampai miliyaran dolar sejak tahun 1936 untuk membiayai program perlindungan pendudukan dari bencana banjir yang kemungkinan tak terelakkan namun semua dampaknya harus ditanggulangi. Toh tetap saja risiko banjir tahunan menghadang penduduk daerah rawan. Bahkan ancaman banjir kian membesar karena penduduk membangun daerah-daerah rawan banjir kian membesar karena penduduk membangun daerah-daerah rawan banjir secara lebih cepat ketimbang kecepatan para insinyur dalam merancang perlindungan yang lebih baik bagi untuk mereka.
5

Pertumbuhan penduduk yang pesat sejalan dengan pengelolaan sumberdaya yang kurang efektif telah menyebabkan timbunya jenis-jenis banjir baru. Daerah hulu sungai yang berhutan untuk meresap lebihannya air sudah diubah menjadi padang rumput pakan ternak atau menjadi lahan pertanian, sehingga lembah penampung itu menjadi jauh berkurang dayanya untuk menahan air yang datang. Tanah yang kini tak lagi terikat oleh akar-akar pepohonan jadi mudah longsor, menambah risiko bencana ganda dan tebing-tebing sungai yang dahulu dipenuhi tumbuhan sebagai pengaman daerah sekitarnya telah gundul, lalu runtuh, menyebabkan air sungai lebih mudah mengalir ke arah yang tingginya sama atau lebih rendah dari sungai. Banjir pun menjadi makin sering, makin mendadak dan makin parah dampaknya.

2.3

Ciri-ciri umum banjir Analisa terhadap banjir dan pengukuran banjir dapat dilakukan dengan : kedalaman

air, pondasi bangunan memiliki derajat toleransi terhadap penggenangan air yang berlainan dengan derajat 3 toleransi akar tumbuh-tumbuhan, lamanya penggenangan air, kerusakan atau derajat kerusakan bangunan, infrastruktur dan tumbuh-tumbuhan sering berkaitan dengan jangka waktu berlangsungnya penggenangan air. Arus air yang sangat kencang akan berbahaya, mengakibatkan daya pengikisnya sangat besar (menerjang apa saja yang menghadang) serta peningkatan tekanan dinamika air sehingga pondasi bangunan dan infrastruktur melemah. Ini bisa terjadi dilembah bantaran sungai, pantai yang rendah dan daerah jalur induk sungai. Perkiraan tentang tingkat kenaikan permukaan air sungai penting sebagai dasar peringatan bahaya banjir, rencana pengungsian dan pengaturan tata ruang daerah. Dampak -dampak komulatif dan kekerapan terjadi banjir yang diukur dalam jangka waktu cukup panjang akan menentukan corak pembangunan apa dan kegiatan pertanian apa yang boleh berlangsung di bantaran sungai atau daerah-daerah rawan banjir lainnya. Peramalan banjir yang berasal dari luapan air sungai melibatkan perkiraan-perkiraan tentang: tinggi permukaan air sungai, debit air sungai, waktu kejadian, lamanya kejadian, debit air tertinggi di titik-titik tertentu sepanjang jalur sungai (induk maupun anak sungai). Ramalan yang dikeluarkan untuk disebarluaskan kepada masyarakat dihasilkan dari pemantauan rutin ketinggian permukaan air sungai serta pemantauan curah hujan setempat. Peringatan akan terjadi banjir kilat hanya bisa bergantung pada ramalan-ramalan cuaca (meteorologis) serta pengetahuan tentang kondisi kondisi geografis setempat, tidak bisa disusun ramalan tersendiri

berdasarkan data-data lapangan. Mengingat singkatnya waktu antara tahap pendahuluan dengan tahap kejadian, banjir kilat tak memungkinkan pemantuan tingkat ketinggian air sungai di lapangan. Dalam bencana apapun, data sejarah suatu kawasan rawan atau sumber bencana harus selalu ada, dipelajari dan diperbaharui terus menerus tiap kali ada kejadian baru. Untuk kajian perbandingan dengan peristiwa-peristiwa banjir terdahulu dan sebagai dasar informasi peringatan yang akan disampaikan kepada masyarakat yang beresiko terlanda banjir harus diingat unsur unsur sebagai berikut : 1. Analisis kekerapan banjir. 2. Pemetaan tinggi rendah permukaan tanah (topografi). 3. Pemetaan bentangan daerah seputar sungai (kontur sekitar sungai) lengkap dengan perkiraan kemampuan sungai itu untuk menampung lebihan air. 4. Catatan pemantauan kelongsoran tebing / daerah hulu. Kemampuan tanah untuk menyerap air. 5. Catatan pasang surut gelombang laut (untuk kawasan pantai/pesisir). 6. Geografi pesisir / pantai. 7. Ciri-ciri banjir. Cara efektif untuk memantau jalur banjir adalah lewat teknik-teknik penginderaan jauh, misalnya Landsat.

2.4

Kerawanan terhadap banjir Di daerah dekat sungai, utamanya bantaran serta lembah-lembah yang paling berisiko

terhadap terjangan banjir adalah : 1. Bangunan dari bahan tanah atau bata bisa pecah / meleleh bila kena air, 2. Bangunan dengan pondasi dangkal, 3. Bangunan dengan pondasi yang tidak kedap air, 4. Sistemsistem pembuangan air (selokan pipa) saluran pasokan air, saluran listrik, mesinmesin dan semua barang elektronik (terutama industri dan telekomukasi), 5. Lumbung pangan, tanaman di lahan, ternak dalam kandang, 6. Benda-benda bersejarah / artefak budaya yang tak tergantikan seandainya hancur atau rusak berat,
7

7. Industri kelautan, termasuk galangan kapal, kapal-kapal itu sendiri, pelabuhan, gudang pelabuhan, dan sebagainnya.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi kerawanan adalah : 1. Kurang / tak tersedianya tempat-tempat penampungan pengungsi lengkap dengan fasilitas yang dibutuhkan, di ketinggian yang melebihi ketinggian luapan air 2. Kurang / tidak adanya informasi yang diterima masyarakat tentang jalur-jalur pengungsian, 3. Kurang / tidak efektifnya kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana. Banjir besar kemungkinan akan menyebabkan banyak korban tewas akibat tenggelam, khususnya anak-anak dan orang-orang berusia lanjut/ cacat/lemah. Namun sebagaian besar hanya mengakibatkan cedera parah yang tidak sampai fatal, sehingga pertolongan medis harus selalu tersedia dan korban yang parah harus segera dilarikan ke rumah sakit, lebih-lebih jika membutuhkan operasi.

2.5

Dampak-dampak banjir Bangunan-bangunan akan rusak atau hancur akibat : daya terjang air banjir, terseret

arus, daya kikis genangan air, longsornya tanah di seputar / di bawah pondasi, tertabrak terkikis oleh benturan dengan benda-benda berat yang terseret arus. Kerugian fisik cenderung lebih besar bila letak bangunan di lembah-lembah pegunungan dibanding di dataran rendah terbuka. Banjir kilat akan menghantam apa saja yang dilaluinya. Di wilayah pesisir, kerusakan besar terjadi akibat badai yang mengangkat gelombang-gelombang air laut kerusakan akan terjadi tatkala gelombang datang dan pada saat gelombang itu pergi atau kembali ke laut. Lumpur, minyak dan bahan-bahan lain yang dapat mencemarkan tanah, udara dan air bersih akan terbawa oleh banjir dan diendapkan di lahan yang sudah rusak atau di dalam bangunan. Tanah longsor kemungkinan terjadi bila tanah itu tak kuat diterjang air dan terkikis / runtuh.. Untuk tanah pertanian, banjir memberi manfaat sekaligus masalah. Bila terjadi pengikisan lapisan bunga tanah (humus), atau lahan dilanda air garam, selama bertahun-tahun petani tidak bisa lagi mengolah tanah itu untuk budidaya pertanian. Namun pengendapan
8

lumpur banjir juga bisa sangat meningkat kesuburan tanah. Di pesisir di antara para nelayan, kerugian besar mungkin terjadi akibat peralatan dan piranti hilang atau rusak. Maka pasokkan pangan dari laut terhenti atau merosot. Di sisi lain, banjir bisa menguntungkan karena: 1. Banjir bisa menggelontor bahan-bahan pencemar air yang mengendap

menyumbat saluran air. 2. Banjir bisa menjaga kelembaban tanah dan mengembalikan kelembaban tanah tandus / kering. 3. Banjir bisa menambah cadangan air tanah. Banjir bisa menjaga lingkungan hayati (ekosistem) sungai dengan cara menyediakan tempat bersarang, berbiak dan makan bagi ikan, burung dan binatang-binatang liar.

2.6 a.

Langkah-langkah peminimalan dampak negatif Pemetaan unsur-unsur rawan atau rentan. Dengan memetakan daerah rawan serta menggabungkan data itu dengan rancangan

kegiatan persiapan dan penanganan. Suatu strategi dapat di daerah-daerah luapan air dengan langkah-langkah pengendalian banjir. Para perencana dapat meminta masukan dari berbagai bidang keilmuan untuk menilai risiko-risiko, tingkat risiko yang masih diterima/dianggap cukup wajar (ambang risiko) dan kelayakan kegiatan-kegiatan lapangan yang direncanakan. Informasi dan bantuan dapat diperoleh dari berbagai sumber, dari badan-badan internasional hingga ke tingkat masyarakat. b. Pemetaan daerah-daerah luapan air/jalur banjir. Dalam memaparkan banjir, biasanya dipakai frekuensi statistik, menggunakan parameter kejadian dalam 100 tahun. Paparan ini menjadi pedoman pemrograman penanggulangan banjir. Parameter kejadian banjir 100 tahun itu memaparkan areal yang memiliki kemungkinan 1% terlanda banjir dengan ukuran tertentu pada tahun tertentu. Frekuensi-frekuensi lain mungkin bisa juga dipakai, misalnya 5, 20,50 atau 500 tahun, tergantung kepada ambang risiko yang ditetapkan untuk suatu evaluasi. Peta dasar dipadukan dengan peta-peta lain dan data-data lain, membentuk gambaran lengkap/utuh tentang jalur banjir. Masukan-masukan lain yang menjadi bahan pertimbangan diantaranya : Analisis kekerapan banjir. Peta-peta pengendapan. Laporan kejadian dan kerusakan. Peta-peta kemiringan / lereng. Peta-peta vegetasi (lokasi tumbuh tanaman, jenis dan kepadatannya). Peta-peta lokasi pemukiman, industri dan kepadatan penduduk. Peta-peta infrastruktur.
9

c.

Pemetaan silang bencana-bencana. Banjir sering terjadi bersamaan dengan atau menjadi akibat dari bencana-bencana

lain. Agar daerah-daerah yang rawan terhadap lebih dari satu jenis bencana bisa diketahui, dilakukan penyusunan peta silang, sintetis atau terpadu. Peta ini merupakan alat yang sangat bagus untuk panduan perancangan program pertolongan dan penanggulangan. Namun peta ini masih memiliki kekurangan, yakni tidak memadai jika digunakan sebagai pedoman kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan bencana yang hanya mencakup satu daerah tertentu saja atau bencana tertentu saja. d. Pengaturan tata guna tanah. Tujuan pengaturan tata guna tanah melalui undang-undang agraria dan peraturanperaturan lainnya adalah untuk menekan risiko terhadap nyawa, harta benda dan pembangunan di kawasan-kawasan rawan bencana. Dalam kasus banjir, suatu daerah dianggap rawan bila daerah itu biasanya dan diperkiraakan akan terlanda luapan air dengan dampak-dampak negatifnya; penilaian ini didasarkan sejarah banjir dan kondisi daerah. Bantaran sungai dan pantai seharusnya tak boleh dijadikan lokasi pembangunan fisik dan jangan ditinggali. e. Pengurangan kepadatan penduduk dan bangunan. Di daerah-daerah rawan banjir, jumlah korban tewas maupun cedera akan langsung terkait dengan kepadatan penduduk. Bila daerah itu masih dalam tahap perencanaan

pembangunan atau perluasan kawasan, rencana itu harus mencakup pula kepadatan. Bila daerah itu sudah terlanjur mapan, khususnya jika digunakan sebagai lokasi pemukiman liar oleh pendatang yang tergolong miskin, pengaturan kepadatan biasa menjadi isu yang rawan dan peka, penduduk harus dimukimkan kembali di tempat lain yang lebih aman dengan mempertimbangkan dampak-dampak sosial dan ekonomis perpindahan itu. f. Larangan penggunaan tanah untuk fungsi -fungsi tertentu. Jika suatu daerah menjadi ajang banjir sedikitnya rata-rata 1 kali tiap 10 tahun, tidak boleh ada pembangunan skala besar di daerah itu. Pabrik, perumahan dan sebagainya tidak diizinkan di bangun di sana demi kepentingan ekonomis, sosial dan keselamatan para penghuninya sendiri. Daerah itu bukan berarti sama sekali tak bisa dimanfaatkan, pemanfaatannya antara lain untuk kegiatan-kegiatan dengan potensi risiko lebih kecil misalnya arena olah raga atau taman. Prasarana yang bila sampai rusak akan membawa akibat buruk yang besar, misalnya rumah sakit hanya boleh didirikan di tanah yang aman.
10

Pengaturan tata guna tanah akan menjamin bahwa daerah-daerah rawan banjir tidak akan menderita dua kali lipat akibat kebanjiran sekaligus pemakaian tanah yang memperparah dampakdampak bencana itu dengan kerugian fisik, sosial, ekonomis dan korban jiwa yang lebih besar lagi. g. Pemindahan lokasi unsur-unsur yang menghalangi arus banjir. Bangunan-bnangunan yang menghadang di tengah jalur banjir selalu beresiko terhantam dan tenggelam atau hanyut akibat arus banjir. Selain itu, ada bahaya pemerangkapan dan pemblokiran jalannya banjir yang lants berbelok menggenangi daerahsaerah yang semestinya bebas banjir. h. Pengaturan tentang bahan-bahan bangunan yang boleh digunakan. Di zona-zona tertentu yang paling rawan, bangunan dari bahan kayu atau bahanbahan lain yang ringan harus dilarang didirikan.Ada kalanya boleh dibangun rumah atau gedung dari tanah liat atau cetak, tetapi izin hanya diberikan bila telah diambil langkahlangkah perlindungan. i. Penepatan jalur pengungsian yang aman. Tiap lingkungan pemukiman yang rawan banjir harus punya rute penyelamatan yang aman, serta penampungan sementara dilokasi yang letaknya lebih tinggi dari permukaan air banjir. Dilaksanakan penganekaragaman produksi pertanian, misalnya menanam pangan yang tahan akan banjir atau menambahkan pepohonan di lahan atau menyesuaikan musim tanam dengan musim banjir. Juga dilaksanakan upaya membangun lumbung pangan cadangan dan penyimpanan yang aman untuk produk produk pertanian. Penghijauan, pengelolaan ruang bududaya dan pengaturan areal merumput ternak untuk mencegah pengguguran dan penggundulan, agar tanah lebih mampu menyerap serta menahan air. Pembangunan gedunggedung atau bukit-bukit buatan yang cukup tinggi yang akan dipakai sebagai tempat penampungan sementara para pengungsi seandainya penyelamatan ke lokasi lain tak mungkin dilaksanankan. 2.7 Pengendalian banjir Sebagaimana telah disebutkan di muka, pengendalian pemakaian lahan akan dilakukan di daerah daerah jalur banjir yang baur dalam tahap pengembangan maupun yang sudah terlanjur dibangun. Namun masih tetap harus dilaksanakan perubahan-perubahan untuk menekan. Pilihan pilihan pengendalian banjir adalah :

11

a.

Perbaikan saluran yang sudah ada.

Dasar sungai yang sudah dangkal akibat pengendapan harus dikeruk, diperdalam sementara batas tebing sungai di kanan-kirinya harus pula diperlebar. Metode-metode ini meningkatkan kemampuan penampungan lebihan air dan menurunkan peluang ke sekitar sungai. b. Pengalihan arus dan pembangunan saluran pembantu.

Bila dibandingkan dengan biaya memungkinkan kembali penduduk dan industri ke daerah yang lebih aman, mungkin biaya membangun saluran pembantu (membantu memecah aliran sungai) atau mengalihkan arus lebih murah. Ada bebarapa pilihan, diantaranya selokanselokan besar dan dalam dengan kisi kisi rerumputan atau padang terbuka atau saluran dengan dinding batu atau beton. c. Pembangunan bendungan dan tanggul.

Bendungan dan tanggul mampu menyimpan cadangan air sekaligus elepasinya dengan tingkat yang masih bisa dikelola. Pembanguannya harus hati-hati, memakai patokan tingkat tertinggi permukaan air sewaktu banjir. Bila banjir ternyata lebih tinggi dan lebih kuat ketimbang bendungan, bahayanya justru lebih besar ketimbang kalau tak ada bendungan. d. Penguatan bangunan yang sudah ada.

Para pemilik bangunan bisa mengusahakan menekan risiko kerusakan dengan cara memperkuat bangunannya untuk menahan hantaman atau terjangan air. Bangunan baru harus diberi pondasi yang tak mudah keropos atau longsor. Perlindungan dari pengikisan tanah. Ini merupakan unsur penting perlindungan menghadapi bencana banjir.

12

BAB 3 ANALISIS KEJADIAN BANJIR WILAYAH PANDEGLANG TANGGAL 27 SEPTEMBER 2010


Oleh :Stasiun Klimatologi Pondok Betung Tangerang

3.1

Pendahuluan Pada Tanggal 27 September 2010 dilaporkan telah terjadi Banjir di Wilayah

Pandeglang Banten. Menurut sumber media (Metro TV), banjir yang terjadi di wilayah padeglang ini telah merendam sebanyak tiga ribu (3.000) rumah warga di empat (4) wilayah Kecamatan antara lain: Kecamatan Patia, Kecamatan Pagelaran, Kecamatan Panimbang dan Kecamatan Labuan. Ketinggian air dilaporkan mencapai satu meter, selain akibat dari hujan deras juga terjadi luapan air sungai yaitu Sungai Ciliman, Sungai Cilemer, Sungai Cipunten Agung dan Sungai Citanggulum. Menurut laporan salah seorang warga, Suryani 45 tahun, yang dilansir menyebutkan bahwa banjir yang terjadi kali ini merupakan banjir yang paling besar. Banjir hampir terjadi setiap tahun di tempatnya, namun kali ini merupakan banjir yang paling parah. Pada laporan ini kami coba untuk menganalisis terjadinya banjir di wilayah tersebut berdasarkan sebaran data-data curah hujan dan analisis berdasarkan kondisi dinamika atmosfernya.

3.2

Analisis dan Pembahasan

Satelit Cuaca dan TLAPS

13

Gambar 1. Analisis Satelit Cuaca Tanggal 27 September 2010 Sumber : http://weather.is.kochi-u.ac.jp

Berdasarkan gambar satelit cuaca di atas pada tanggal 27 September 2010 mulai pukul 13.00 sampai 17.00 WIB terlihat bahwa sebaran awan-awan hujan di wilayah Banten dimulai dari sekitar Wilayah Sumatera bagian selatan kemudian menyebar cepat menutupi seluruh Jawa bagian barat khususnya wilayah Banten pada pukul 15.00 s/d 17.00 WIB. Awan-awan tersebut merupakan awan-awan memiliki warna-warna yang kontras sehingga dapat diasumsikan sebagai awan hujan seperti Cumulus, Cumulunimbus (Cb) serta AltoStratus (As), sehingga hal tersbut mengakibatkan hujan yang terjadi memiliki sifat hujan yang sifatnya cepat pertumbuhan awannya dan memiliki durasi yang cukup cepat (1 Jam).

Gambar 2. Analisis Stream Line dan Satelit Global Sumber : www.bmkg.go.id dan www.bom.gov.au

Berdasarkan Hasil Analisis TLAPS (Tropical Limited Area Prediction System) berupa gambar Stream Line dan Satelit Infra Merah Global terlihat adanya daerah Shear atau area pembelokan angin yang memanjang dari pusat tekanan rendah diwilayah Filipina hingga barat daya Lampung, sehingga mengasumsikan adanya wilayah kumpulan awan-awan hujan diwilayah tersebut, awan-awan hujan dapat dilihat pada gambar satelit cuaca yang didapatkan dari Bom Australia

3.3

Data Curah Hujan

1. Intensitas Curah Hujan


14

Berdasarkan pengukuran curah hujan menggunakan penakar hujan obs yang tersebar diwilayah Pandeglang Banten DKI Jakarta berupa pos hujan kerjasama dapat terlihat dalam Tabel 1, sebagai berikut:

Tabel 1. Data Curah Hujan Wilayah Pandeglang Tanggal 27 September 2010 No Pos Hujan 1 2 3 4 5 6 7 8 Menes Pandeglang Cimanuk Jiput Cibaliung Munjul Labuan Ciliman Curah Hujan (mm) 217.0 10.0 27.0 144.0 45.0 52.0 148.0 23.0

Sumber : Stasiun Klimatologi Pondok Betung

Berdasarkan data diatas maka curah hujan tanggal 27 September 2010 yang paling ekstrim (> 200 mm/hari) yaitu yang tercatat di wilayah Menes sebesar 217.0 mm, kemudian yang > 100 mm yaitu Labuan 148 mm dan Jiput 144 mm. Sedangkan yang memiliki kategori sedang-lebat (50-100 mm) yaitu Munjul sebesar 52 mm.

3.4 Sebaran Curah Hujan

15

Gambar 3. Sebaran Spasial Curah Hujan Wilayah Pandeglang Sumber : Staklim Pondok Betung

Berdasarkan sebaran spasial dari gambaran distribusi curah hujan wilayah Pandeglang tanggal 27 September 2010 terlihat wilayah yang terjadi hujan ekstrim (> 100mm/hari) berada diwilayah Pandeglang bagian utara disekitar Kecamatan Labuan, Kecamatan Pagelaran, Kecamatan Patia dan Panimbang. Wilayah kecamatan tersebut dilewati oleh sungai Cilemer dan Ciliman

PROSPEK CUACA HINGGA 03 OKTOBER 2010 1. Pertimbangan Dinamika Secara Umum Posisi Matahari per tanggal 27 September 2010 berada pada posisi 0132 LS dan posisinya sudah berada pada wilayah selatan ekuator, dan posisi semunya akan terus bergerak ke arah Selatan sampai posisi maksimumnya di 23,5 LS. Wilayah yang dilewatinya saat ini berada disekitar perairan Indonesia di wilayah ekuator, sehingga pemanasan maksimum masih berada pada sekitar wilayah Indonesia. Konsekuensi dari hal tersebut adalah masih dimungkinkan terjadinya penguapan yang mendukung terbentuknya awan-awan konvektif yang cepat yang mengakibatkan terjadinya hujan. Berbagai bentuk vortek berupa pusat tekanan rendah mulai terbentuk di perairan Indonesia yang disebabkan akibat dari suhu muka laut yang menghangat di wilayah tersebut sehingga menyebabkan terjadinya penumpukkan massa udara basah yang menyebabkan konsentrasi awan banyak tersebar disepanjang wilayah Indonesia. Pusat tekanan rendah pada minggu ini diprakirakan akan tumbuh di wilayah sekitar Samudera Hindia sebelah barat daya Sumatera hingga selatan Nusa Tenggara seiring masih menghangatnya suhu muka laut di wilayah tersebut.

2. Pertimbangan Dinamika Atmosfer Global Wilayah letak terjadinya penguapan maksimum yang dilihat dari Phase MJO (Madden Julian Oscillation) diprakirakan berada pada phase yang tidak aktif. Suhu muka laut per tanggal 27 September 2010 mengalami anomali yang positif secara signifikan di wilayah perairan Indonesia, khususnya di perairan Laut Jawa serta perairan selatan Jawa bagian barat dan dampaknya secara langsung banyaknya uap air disekitar wilayah-wilayah tersebut. Perairan Samudera Pasifik Tengah yang di indikasikan dengan nilai pada indek nino 3.4 masih mengalami pendinginan suhu (Nino 3.4), dimana memiliki nilai anomali yang negatif

16

mencapai -3.0 C, disatu sisi nilai Dipole Mode juga memiliki nilai yang negatif dan cenderung bergerak konstan ke arah negatifnya tetapi saat ini diprakirakan masih dalam batas nilai normalnya (0 0.4).

3. Prospek cuaca Melalui kedua pertimbangan dinamika atmosfer diatas maka wilayah Banten dan DKI Jakarta dalam satu minggu ke depan secara umum didominasi oleh potensi terjadinya cuaca yang yang didominasi oleh keadaan berawan serta hujan seiring mulai masuknya musim hujan yang diprakirakan pada bulan ini dan berangsur-angsur akan masuk musim hujan kewilayah DKI Jakarta pada bulan Oktober-November dengan sifat musim rata-rata di Atas Normal (AN), kondisi cerah berawan mendominasi mulai pagi hingga menjelang siang hari dan berubah menjadi berawan pada siang hari, terkadang akan terjadi hujan pada siang hari tetapi tetap dominasi hujan akan mulai terjadi pada sore dan malam hari. Sesekali dimungkinkan terjadi hujan dengan intensitas sedang kadang lebat dalam waktu yang singkat, tetapi masih dimungkinkan terdapat potensi pemanasan maksimum pada pagi hingga siang hari menyebabkan cuaca berubah cepat dari kondisi cerah menjadi hujan.

17

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Penanggulangan bencana banjir di Indonesia hendaknya tidak lagi bersifat responsif namun perlu bergeser menjadi tindakan preventif. Tindakan ini perlu dilakukan karena sifat bencana yang tidak dapat diprediksi, sehingga masyarakat yang berada didaerah rawan banjir akan lebih siap dan dapat mengantisipasi timbulnya bencana. Sehingga dalam penanggulangannya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun perlu melibatkan peran dari masyarakat serta Pemerintah. Dengan melibatkan semua sektor maka jatuhnya korban akibat bencana banjir dapat diminimalisir. Dan meminimalisirkan pembangunan skala besar disuatu daerah, Dasar sungai yang sudah dangkal akibat pengendapan harus dikeruk, diperdalam sementara batas tebing sungai di kanan kirinya harus pula diperlebar serta membangun saluran pembantu (membantu memecah aliran sungai) atau mengalihkan arus.

4.2 Saran Sebagai masyarakat perlu untuk ikut terlibat dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana, karena dengan demikian kita ikut berkontribusi dalam memandirikan semua masyarakat dan memajukan bangsa Perlu dilakukan pembangunan saluran drainase pada beberapa ruas yang belum memiliki saluran drainase Pada daerah yang sudah memiliki saluran drainase perlu dilakukan usaha peningkatan kapasitas saluran dengan cara memperlebar, memperdalam, atau merubah slope saluran sehingga kapasitas saluran drainase yang ada bisa memenuhi untuk mengalirkan air yang ada. Pada lokasi yang memiliki kapasitas drainase mencukupi, perlu dilakukan pemeliharaan sebaik mungkin, agar kapasitas drainase yang ada tidak berkurang akibat adanya pengendapan/sedimentasi. Demikianlah makalah tentang Kejadian Banjir di Wilayah Pandeglang ini kami buat berdasarkan data-data sebaran curah

18

hujan dan analisis dinamika atmosfer yang terjadi pada tanggal 27 September 2010, semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca maupun penulis, terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (2012). Banjir. Diakses dari http:/

/www.bnpb.go.id/ Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat UI. (2003). Kajian Kebijakan

Penanggulangan Banjir: Partisipasi Masyarakat. http://www. air.bappenas.go.id/ IDEP. 2007. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis

Masyarakat.http://www.idepfoundation.org/pbbm www.centroonecom. 2011. Indonesia dihajar1.598 Bencana

http://www.staklimpondoketung.net

19

LAMPIRAN

20

21