Anda di halaman 1dari 3

Hasil Diskusi Pemikiran Emerich de Vattel Selasa, 27 November 2012 Kelompok: Cempaka Inisiator: Dyah Dwi Astuti

Anggota: Alifa Alwan Azra Jenni Illona Ryan Muhamman Fahd Diah Nikmahayati Reza Wali Amrullah Febe Maryona Tahitu Virgina Maulita Putri Ezka Amalia Ananta Aldi Ariffianto

Diskusi pagi ini cenderung kurang menarik karena peserta yang berdiskusi hanya dua orang saja, yaitu Ezka dan Ananta. Sedikitnya peserta diskusi disebabkan adanya acara PNMHII sehingga sebagian besar peserta yang seharusnya terlibat berhalangan untuk mengikuti diskusi. Meski peserta diskusi hanya sedikit, diskusi tetap berlangsung seperti biasa. Diskusi dimulai agak terlambat karena menunggu peserta yang lain, meskipun hingga akhir tidak bertambah juga. Diskusi dimulai pada pukul 07.45.Terdapat empat pertanyaan untuk diskusi pagi ini, masing masing pertanyaan diberi waktu 20 menit untuk menjawab. 07.45-08.05, 08.05-08.25, 08.2508.45, 08.45-09.05. Awal diskusi kami membahas mengenai sumbangsih pemikiran Emerich de Vattel terhadap hukum internasional. Pemikiran de Vattel penting dalam hukum internasional karena de Vattel menambahkan dan menolak beberapa ide dari pemikir-pemikir sebelumnya. Yang membedakan Vattel dengan pemikir sebelumnya adalah dasar pemikiran yang lebih berkembang mengenai nature of law. Selain itu, de Vattel memperjelas pemikiran pemikir sebelumnya yang belum melakukan spesifikasi dan mekanisme yang terukur mengenai law of nature. Tambahan

de Vattel membuat hukum internasional menjadi mudah dipahami, khususnya hukum humaniter yang sebelumnya telah dijabarkan oleh Grotius. Misalnya saja dalam apa yang harus dilakukan saat perang. Beberapa pemikir sebelum de Vattel sama sekali tidak menyebutkan bangunanbangunan apa yang dilarang untuk diserang. Misalnya Grotius, beliau hanya menyebutkan bahwa ada pihak-pihak yang harus dilindungi yang jika di dalam pemikiran de Vattel disebut sebagai non-combatant. Selain itu, de Vattel melarang adanya penggunaan alasan agama dalam peperangan. Alasan perang haruslah didasarkan pada alasan humaniter. Karya de Vattel sendiri juga sangat sekuler dibandingkan dengan karya-karya pemikir lainnya karena dalam karya de Vattel sam asekali tidak ada pengaruh agama atau kekristenan. Diskusi kami selanjutnya adalah menurut de Vattel men are equal, begitu pula kedudukan negara. Kekuatan maupun kelemahan tidak akan berdampak apapun.

Pengimplikasiaan prinsip ini dalam tatanan internasional tampaknya hanya normatif saja, yaitu negara itu sama kedudukannya di dunia internasional, terutama di dalam hukum internasional. Tidak peduli apakah dia kuat secara militer, ekonomi, mempunyai pengaruh yang besar di dunia internasional, mereka berkedudukan sama. Hal ini penting bagi terselenggaranya keadilan di dunia internasional dengan tidak adanya pembedaan di mata hukum internasional. Jika negara dianggap tidak sama karena kekuatannya, maka hukum tidak akan pernah bisa berlaku karena nantinya hukum dinilai akan berada di pihak yang kuat. Namun, pemikiran ini sulit diterapkan dalam realita tatanan internasional. Pertanyaan ketiga hanya satu anggota menjawab. Menurut de Vattel Law of nations bersifat kekal abadi, negara tidak dapat merubahnya dengan cara apapun. Peserta diskusi berpendapat bahwa pendapat de Vattel tidak sepenuhnya benar karena dua-duanya harus beradaptasi satu sama lain agar selaras. Selalu ada kemungkinan muncul hal-hal baru yang belum diatur oleh hukum yang ada. Selalu ada hukum baru yang mengatur tindakan-tindakan suatu negara. Hukum harus menyesuaikan diri dengan hal-hal baru yang muncul sehingga tidak timbul masalah terkait bagaimana hal tersebut diatur dalam hukum atau bagaimana hal tersebut diinterpretasikan jika dikaitkan dengan hukum yang sudah ada. Akan lebih baik jika hukum untuk hal-hal baru tersebut ada sendiri sehingga tidak menimbulkan misinterpretasi. Negara sendiri juga perlu menyesuaikan diri dengan hukum karena hukumlah yang mengatur negara dan

membatasi sejauh mana negara bisa bertindak agar tercipta dunia internasional yang damai dan adil. Secara umum peserta diskusi menyetujui pemikiran de Vattel karena pemikirannya memperluas pandangan mengenai hubungan internasional. Melalui pemikiran de Vattel kita bisa melihat dan berharap bagaimana hubungan internasional lebih beradab, damai. Pemikiran Vattel ini yang kemudian merefleksikan tatanan internasional dewasa ini agar negara-negara dapat senantiasa bekerjasama satu sama lain dengan framework hukum internasional sebagai dispute settlement mechanism-nya. Namun, pandangan mengenai keseimbangan negara-negara tanpa mempertimbangkan kelemahan dan kekuatan kurang rasional dan susah untuk

diimplementasikan pada tatanan internasional saat ini, begitu pula konsep just war.