BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan pada hakikatnya adalah usaha untuk menciptakan kesejahteraan rakyat. Di Negara – Negara berkembang pembangunan lebih difokuskan pada pembangunan ekonomi, hal ini disebabkan terjadinya keterbelakangan ekonomi. Pembangunan di bidang ekonomi dapat mendukung pencapaian tujuan atau mendorong perubahan – perubahan atau pembaruan bidang kehidupan lainnya (Zuhairan, 2010:60). Salah satu indicator keberhasilan pelaksanaan pembangunan yang dapat dijadikan tolak ukur secara makro adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi adalah sebagian dari perkembangan kesejahteraan masyarakat yang diukur dengan besarnya pertumbuhan produk domestic regional bruto per kapita (PDRB per kapita) (Zaris, 1987:82). Tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan dengan tingginya nilai PDRB menunjukkan bahwa daerah tersebut mengalami kemajuan dalam perekonomian. Akan tetapi, meskipun demikian telah digunakan sebagai indicator pembangunan, pertumbuhan ekonomi masih bersifat umum dan belum mencerminkan kemampuan masyarakat secara individual. Pertumbuhan ekonomi suatu daerah dapat dicerminkan dari PDRB, baik atas dasar harga yang berlaku ataupun atas dasar harga konstan.

1

PDRB atas dasar harga yang berlaku di mana nilai dari PDRB tersebut masih dipengaruhi oleh tingkat inflasi. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan di mana nilai PDRB sudah tidak dipengaruhi oleh tingkat inflasi. Banten sebagai salah satu provinsi yang dekat dengan ibukota Jakarta menjadikannya suatu daerah yang menarik sebagai bahan penelitian. Dengan luas wilayah seluas 9.662,92km2 Provinsi ini memiliki jumlah penduduk yang tergolong cukup banyak yakni sebesar 10.632.166 jiwa, namun jika dilihat sekilas kondisi ini lebih baik dibandingkan provinsi DKI Jakarta yang memiliki luas wilayah yang lebih kecil (hanya 664,01km2) dengan jumlah penduduk sebanyak 9.607.787 jiwa (seperti yang terlihat pada tabel 1.1)
Tabel 1.1 Perbandingan Luas Wilayah dengan Jumlah Penduduk Provinsi se-Jawa Tahun 2010

Luas Wilayah No 1 2 3 4 5 6 Wilayah DKI Jakarta Jogja Banten Jawa Tengah Jawa Barat Jawa Timur (km2) 664,01 3.185,80 9.662,92 32.800,69 35.377,76 47.799,75

Jumlah Penduduk (jiwa) 9.607.787 3.457.491 10.632.166 32.382.657 43.053.732 37.476.757

Sumber: BPS-Statistik Indonesia 2011

Pertumbuhan ekonomi provinsi Banten selama periode 2004-2007 mengalami kenaikan ( seperti yang terlihat pada tabel 1.2).

2

Tabel 1.2 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Provinsi Banten 2007 – 2010
Sumber: BPS, Provinsi Banten Tahun 2007 – 20010 (diolah) Ket. Dalam satuan juta *): Angka Sementara

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa pada tahun 2007 total PDRB atas dasar harga konstan yang dimiliki oleh Banten adalah yang terendah dibanding Sektor 2007 2008 2009 2010* Pertanian 5.242.350,48 5.408.861,73 5.641.900,50 5.974.000 Pertambangan& 69.292,77 79.151,12 90.195,51 98.000 Penggalian Industri 31.496.751,75 32.225.075 32.707.531,26 33.779.000 Pengolahan Listrik, Gas & 2.629.581,32 2.805.792,50 2.922.549,08 3.280.000 Air Bersih Bangunan 1.880.273,94 2.010.388,56 2.204.523,41 2.360.000 Perdagangan, 12.800.800,86 14.202.996,50 15.127.918,26 16.277.000 Hotel, & Restoran Pengangkutan 5.780.569,93 6.200.675,31 6.877.187,61 7.719.000 & Komunikasi Keuangan, 2.138.061,77 2.489.875,78 2.822.560,19 3.014.000 Persewaan, & Jasa Perusahaan Jasa – jasa 3.009.092,96 3.380.093,59 3.636.754,80 3.806.000 Total PDRB 65.046.775,77 68.802.910,30 72.031.120,61 76.307.000 ADHK periode lainnya dan tahun 2010 merupakan periode dengan total PDRB tertinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya. Pada tahun 2007 total PDRB yang dimiliki oleh Banten adalah sebesar Rp. 65.046.775,78 juta di mana industry pengolahan merupakan sector terbesar penyumbang PDRB dan sector pertambangan dan penggalian merupakan sector dengan kontribusi terkecil pada periode tersebut. Dan pada tahun 2010 total PDRB Banten adalah sebesar Rp. 76.307.000 juta dengan kontribusi tertinggi disumbang oleh sector industry dan pengolahan sedangkan sector dengan kontribusi terendah adalah sector pertambangan dan penggalian. Ini menunjukkan bahwa dari tahun 2007-2010

3

telah terjadi peningkatan pada PDRB Provinsi Banten meskipun tidak terjadi perubahan struktur ekonomi pada provinsi Banten. Dengan diberlakukannya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, dan UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Yang pada perjalanannnya diganti menjadi UU No. 32 dan UU No. 33 Tahun 2004, maka pemerintahan daerah di Indonesia memiliki kewenangan yang seluas-luasnya dalam pelaksanaan pemerintahan dan

pengaturan keuangan daerahnya masing-masing. Dengan demikian, pertumbuhan daerah diharapkan menjadi lebih optimal dan mampu mengurangi disparitas yang terjadi antara daerah. Berkaitan dengan hal tersebut, Kota Tangerang Selatan merupakan sebuah kota yang terbentuk karena terjadinya pemekaran dari wilayah sebelumnya (wilayah Kabupaten Tangerang). Kota Tangerang Selatan terletak di bagian timur Provinsi Banten dan secara administratif terdiri dari 7 (tujuh) kecamatan. Pertama, kecamatan Serpong. Kedua, kecamatan Serpong Utara. Ketiga, kecamatan Setu. Keempat, kecamatan Pamulang, Kelima, kecamatan Ciputat. Keenam, kecamatan Ciputat Timur. Ketujuh, kecamatan Pondok Aren. Pertumbuhan ekonomi di kota Tangerang Selatan selama kurun waktu beberapa tahun terakhir ini selalu mengalami kenaikan, walaupun kenaikan itu tidak signifikan. Kondisi tersebut dapat dilihat dari tabel 1.3.
Tabel 1.3 Produk Domestik Regional Bruto A.D.H Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007 - 2010 (Juta Rupiah)

Sektor

Tahun

4

Pertanian Pertambangan &Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel, & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan, & Jasa Perusahaan Jasa – jasa Kota Selatan

2007 47.079 1.191 808.724 183.109 298.779 1.321.093 420.974 455.298 632.653

2008 46.816,15 1.198,72 822.793,85 186.348,60 335.232,29 1.495.790,80 461.500,81 513.390,46 697.434,80 4.560.506,50

2009 47.592,92 1.336,74 836.534,51 194.546,29 377.739,75 1.630.458,24 524.725,99 575.576,65 759.355,80 4.947.866,89

2010 48.635.97 1.395,46 850.893,62 204.312,40 426.724,19 1.790.253,82 597.492,96 656.442,81 802.265,97 5.378.417.19

Tangerang 4.168.900

Sumber: Pemerintah Kota Tangerang Selatan, diolah

Pada Tabel 1.3 terlihat bahwa kenaikan PDRB atas dasar harga konstan dari tahun ke tahun setiap sector ekonomi mengalami peningkatan. Ini juga menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di kota Tangerang Selatan selalu mengalami peningkatan. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 Kota Tangerang Selatan pada tahun 2007 adalah sebesar Rp.4.168.900, dengan jumlah penduduk pertengahan tahun 2007 mencapai 1.042.682 orang.

Perkembangan PDRB Kota Tangerang Selatan cenderung menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun demikian juga dengan PDRB per kapita. Laju pertumbuhan PDRB kota Tangerang Selatan disumbang oleh 9 (sembilan) sector, yaitu: pertanian; pertambangan dan penggalian; industry pengolahan; listrik, gas, dan air minum; bangunan dan konstruksi; perdagangan, hotel, dan restoran; angkutan dan komunikasi; bank dan lembaga keuangan lainnya; jasa-jasa.

5

Sektor Pertanian terbagi menjadi 5 (lima) subsector, yaitu: (1) Subsektor Tanaman Pangan, (2) Subsektor Tanaman Perkebunan, (3) Subsektor Peternakan dan hasil-hasilnya, (4) Subsektor Kehutanan dan Perburuan, dan (5) Subsektor Perikanan. Sektor Pertambangan dan Penggalian terdiri dari 4 (empat), yaitu: (1) Subsektor penggalian tanah urug, (2) Subsektor Penggalian Tanah Liat, (3) Subsektor Penggalian Tanah Kapur, (4) Subsektor Penggalian Batu Kali dan Tanah Kapur. Sektor Industri dan Pengolahan terdiri dari 3 (tiga) subsector, yaitu: (1) Subsektor industry besar/sedang, (2) Subsektor industry kecil, dan (3) Subsektor industry rumah tangga. Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih terdiri dari 2 (dua), yaitu: (1) Subsektor Listrik, dan (2) Subsektor Air Minum. Sektor Perdagangan terdiri dari 3 (tiga), yaitu: (1) Subsektor Perdagangan besar dan eceran, (2) Subsektor restoran dan rumah makan, (3) Subsektor hotel dan akomodasi lainnya. Sektor Angkutan dan Perhubungan terdiri dari 3 (tiga), yaitu: (1) Subsektor angkutan darat, (2) Subsektor jasa penunjang angkutan, dan (3) Subsektor pos dan telekomunikasi. Sektor Lembaga Keuangan, Persewaan dan jasa perusahaan terdiri dari 3 (tiga), yaitu: (1) Subsektor bank dan lembaga keuangan bukan bank, (2) subsector sewa bangunan, dan (3) subsector perusahaan.

6

Berdasarkan data PDRB tahun 2007, struktur ekonomi Kota Tangerang Selatan didominasi oleh sektor lapangan usaha perdagangan hotel dan restoran dan industry pengolahan. Sektor lain yang juga memberikan kontribusi cukup besar adalah jasa-jasa, bank, persewaan dan jasa perusahaan, dan pengangkutan dan komunikasi. Lima sektor lain masing-masing memberikan kontribusi di bawah 10%. Struktur ekonomi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Tangerang Selatan didominasi oleh sektor tersier, yaitu pengangkutan dan komunikasi; perdagangan hotel dan restoran; jasa-jasa; dan bank, persewaan dan jasa perusahaan, yang memberikan kontribusi hampir 90%. Sektor sekunder (industri pengolahan; listrik, gas dan air bersih; dan konstruksi) memberikan kontribusi 8,76%, dan sektor primer (pertanian; pertambangan dan penggalian) hanya memberikan kontribusi kurang dari 2%. Jika dilihat kecenderungan sejak tahun 2007 hingga tahun 2010, sektor primer dan sekunder mengecil kontribusinya secara signifikan sedangkan sektor tersier meningkat kontribusinya. Jika membandingkan total PDRB Provinsi Banten dan Kota Tangerang Selatan tahun 2007 atas dasar harga konstan, kita dapat melihat bahwa nilai PDRB Kota Tangerang Selatan lebih kecil dibandingkan dengan nilai PDRB Provinsi Banten. Hal ini menunjukkan anggapan bahwa Provinsi Banten lebih makmur dan sejahtera dibandingkan dengan Kota Tangerang Selatan. Di mana Banten memiliki Industri Pengolahan sebagai sector dengan kontribusi terbesar sedangkan Kota Tangerang Selatan memiliki sector Perdagangan, hotel dan restoran sebagai ujung tombaknya.

7

Berdasarkan data-data yang didapat maka dapat diperoleh materi yang menguatkan penulis untuk melakukan penelitian tentang analisis sector perekonomian yang mempengaruhi Pendapatan Domestik Regional Bruto di kota Tangerang Selatan. Dengan adanya data yang menguatkan tentang Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) seperti di atas maka penulis ingin menganalisis data yang diperoleh dari BPS dan PemKot Tangerang Selatan, sehingga penulis mengambil judul “ANALISIS POTENSI EKONOMI KOTA TANGERANG SELATAN (DENGAN PENDEKATAN LOCATION QUOTIENT DAN SHIFT SHARE) PERIODE 2007-2010”.

B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diberikan di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Sektor – sektor apakah yang menjadi sector basis dan non basis dalam perekonomian Kota Tangerang Selatan. 2. Bagaimanakah perubahan sektor perekonomian kota Tangerang Selatan pada periode 2007-2010. 3. Sektor – sector ekonomi manakah yang potensial untuk lebih dikembangkan sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi di Kota Tangerang Selatan.

C. Tujuan Penelitian

Atas dasar latar belakang dan permasalahan seperti dikemukakan di atas, maka penelitian ini dimaksudkan untuk:

8

1. Mengetahui dan menggolongkan antara sector basis dan non basis yang ada di Kota Tangerang Selatan.
2. Mengetahui perubahan struktur ekonomi yang terjadi pada sector – sector

perekonomian selama periode 2007 – 2010 di Kota Tangerang Selatan. 3. Mengetahui sector – sector ekonomi yang potensial untuk dikembangkan sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi di Kota Tangerang Selatan.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk: 1. Sebagai bahan evaluasi dan masukan untuk pemerintah daerah dalam rangka penetapan kebijakan yang akan datang yang berkaitan dengan pembangunan regional. 2. Sebagai tambahan informasi atau gambaran mengenai potensi pertumbuhan ekonomi di Kota Tangerang Selatan, sehingga pemerintah daerah dapat lebih mengembangkan potensi daerahnya secara optimal. 3. Sebagai bahan penelitian terkait untuk yang selanjutnya.

9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Teori Pertumbuhan Ekonomi Pengertian pertumbuhan ekonomi (economic growth) dan pembangunan ekonomi (economic development) masih sering menjadi sebuah perdebatan di antara para ekonom. Pertumbuhan ekonomi menurut beberapa ekonom mengartikannya sebagai berikut: Menurut Prof. Boediono, teori pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai penjelasan mengenai factor-faktor apa yang menentukan kenaikan output perkapita dalam jangka panjang, dan penjelasan mengenai bagaimana factor-faktor tersebut menyebabkan terjadinya proses pertumbuhan. Analisis yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi semata dianggap kurang sempurna. Hal ini disebabkan apabila terjadi peningkatan output dan pendapatan belum tentu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat, Setiawan dalam penelitian Zuhairan (2010). Dalam teori klasik Adam Smith dalam Purwaningsih (2009:24) menyatakan bahwa salah satu factor yang menentukan pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan penduduk. Jumlah penduduk yang bertambah akan memperluas pangsa pasar, dan perluasan pasar akan meningkatkan spesialisasi dalam perekonomian tersebut. Lebih lanjut, spesialisasi akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja sehingga meningkatkan upah dan keuntungan. Dengan

10

demikian, proses pertumbuhan akan terus berlangsung sampai seluruh sumber daya termanfaatkan. Sementara itu David Ricardo dalam Purwaningsih (2009:24),

mengemukakan pandangan yang berbeda dengan Adam Smith. Menurutnya, perkembangan penduduk yang berjalan cepat pada akhirnya akan menurunkan kembali tingkat pertumbuhan ekonomi ke taraf yang rendah. Pola pertumbuhan ekonomi menurut Ricardo berawal dari jumlah penduduk rendah dan sumber daya alam yang relative melimpah. Keynes melihat pertumbuhan dalam kondisi jangka pendek dan menyatakan bahwa pendapatan total merupakan fungsi dari pekerjaan total suatu Negara. Semakin besar volume pekerjaan yang dihasilkan, semakin besar pendapatan nasional yang diperoleh, demikian juga sebaliknya. Volume pekerjaan tergantung pada permintaan efektif. Permintaan efektif ditentukan pada titik saat harga permintaan agregat sama dengan harga penawaran agregat. Keynes juga menyatakan untuk menjamin pertumbuhan ekonomi yang stabil pemerintah perlu menerapkan kebijakan fiscal dan kebijakan moneter serta pengawasan secara langsung. Proses pertumbuhan ekonomi menurut Schumpeter adalah proses peningkatan dan penurunan kegiatan ekonomi yang berjalan secara siklikal. Pembaruan – pembaruan yang dilakukan oleh para pengusaha berperan dalam peningkatan kegiatan ekonomi. Dalam proses siklikal tersebut, tingkat keseimbangan yang baru akan selalu berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada tingkat keseimbangan sebelumnya.

11

2. Teori Pertumbuhan Ekonomi Regional

a. Model Basis Ekspor Model ini diperkenalkan oleh Douglas C. North pada tahun 1956. Menurut model ini, pertumbuhan ekonomi suatu daerah ditentukan oleh keuntungan kompetitif (Competitive Advantage) yang dimiliki oleh daerah bersangkutan. Bila daerah yang bersangkutan dapat mendorong pertumbuhan sector – sector yang mempunyai keuntungan kompetitif sebagai basis untuk ekspor, maka

pertumbuhan daerah yang bersangkutan akan dapat ditingkatkan. Hal ini akan terjadi karena peningkatan ekspor tersebut akan memberikan dampak berganda (Multiplier Effect) kepada perekonomian daerah. 1 b. Model Interregional Income Perluasan dari model basis ekspor dapat dilakukan dengan memasukkan unsur hubungan ekonomi antar wilayah yang dikenal Interregional Income Model yang dikembangkan oleh Harry W. Richardson (1978). Berbeda dengan Model Basis Ekspor, yang mengasumsikan ekspor sebagai exogenous variable, maka dalam model interregional ini, ekspor diasumsikan sebagai factor yang berada dalam system (endogenous variable) yang ditentukan oleh perkembangan kegiatan perdagangan antar wilayah. Selanjutnya, kegiatan perdagangan antar daerah tersebut dibagi atas barang konsumsi dan barang modal. Di samping itu, agar analisis menjadi lebih realistis, maka pada model antar region ini dimasukkan pula unsur pemerintah yang ditampilkan dalam bentuk penerimaan dan pengeluaran pemerintah daerah serta kegiatan investasi sesuai dengan prinsip Teori Ekonomi Keynes (Sjafrizal, 2008:93).
1

Sjafrizal. 2008. Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi. Padang: Baduose Media, hal. 87

12

3.

Teori Pembangunan Daerah

Pembangunan daerah adalah bagian integral dari pembangunan Nasional yang pada hakikatnya merupakan upaya terencana untuk meningkatkan kapasitas pemerintah daerah sehingga tercipta suatu kemampuan yang andal dan professional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, serta kemampuan untuk mengelola sumber daya ekonomi daerah secara berdaya guna dan berhasil guna untuk kemajuan perekonomian daerah dan kesejahteraan daerah (Depdagri, 2009). Pembangunan daerah juga merupakan upaya untuk memberdayakan masyarakat di seluruh daerah sehingga tercipta suatu lingkungan yang memungkinkan masyarakat untuk menikmati kualitas kehidupan yang lebih baik, maju tentram dan sekaligus memperluas pilihan yang dapat dilakukan masyarakat bagi peningkatan harkat, martabat, dan harga diri. Pembangunan daerah dapat dilihat dari beberapa segi. Pertama, segi pembangunan sektoral. Pencapaian sasaran pembangunan Nasional dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan sektoral yang dilakukan di daerah. Pembangunan sektoral disesuaikan dengan kondisi dan potensi daerah. Kedua, dari segi pembangunan wilayah yang meliputi perkotaan dan pedesaan sebagai pusat dan lokasi kegiatan social ekonomi dari wilayah tersebut. Ketiga, pembangunan daerah dilihat dari segi pemerintahan. Tujuan pembangunan daerah hanya dapat dicapai apabila pemerintah daerah dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu, pembangunan daerah merupakan suatu usaha mengembangkan dan memperkuat pemerintahan daerah dalam rangka makin mantapya otonomi daerah yang nyata, dinamis, serasi dan bertanggungjawab (Sjafrizal, 2008).

13

Dengan pemahaman pembangunan daerah sebagai penjabaran dari pembangunan nasional, kinerja pembangunan nasional merupakan agregat dari kinerja pembangunan seluruh daerah. Pencapaian tujuan dan sasaran

pembangunan nasional merupakan agregasi dari pencapaian semua provinsi, dan pencapaian tujuan pembangunan di tingkat provinsi merupakan agregasi pencapaian kabupaten/kota. Dengan demikian tanggung jawab untuk mencapai tujuan dan sasaran – sasaran dalam pembangunan nasional menjadi kewajiban bersama antar pemerintah pusat dan daerah. Perencanaan pembangunan daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari system perencanaan pembangunan nasional. Sinkronisasi kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan sangat penting untuk mengoptimalkan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya yang terbatas. 4. Pendapatan Domestik Regional Bruto

Produk domestic adalah semua barang dan jasa sebagai hasil dari penelitian – penelitian ekonomi di wilayah domestic, tanpa memperhatikan apakah factor produksinya berasal atau dimiliki oleh penduduk daerah tersebut. Yang dimaksud produk regional adalah produk domestic ditambah dengan pendapatan yang diterima dari luar daerah/negeri dikurangi pendapatan yang dibayarkan ke luar daerah/negeri tersebut. Jadi produk regional merupakan produk yang ditimbulkan oleh factor produksi yang dimiliki oleh penduduk suatu daerah (BPS Provinsi Lampung, 2009). Data PDRB tersebut menggambarkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki. Unsur-

14

unsur pokok dalam Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah sebagai berikut: • Output Output adalah nilai barang atau jasa yang dihasilkan dalam suatuu periode tertentu, biasanya satu tahun. Jenis output ada 3 macam, yaitu: (1) output utama, yaitu output yang menjadi tujuan utama produksi; (2) output sampingan, yaitu bukan menjadi tujuan utama produksi, dan (3) output ikutan, yaitu output yang terjadi bersama-sama atau tidak dapat dihindarkan dengan output utamanya. • Biaya Antara Biaya antara adalah barang – barang tidak tahan lama dan jasa yang digunakan/habis dalam proses produksi. Barang – barang yang tahan lama umumnya lebih dari satu tahun, dan tidak habis dalam proses produksi tidak termasuk sebagai biaya antara. • Nilai Tambah 1) Nilai Tambah Bruto

Nilai tambah bruto merupakan selisih antara output dan biaya antara, dengan kata lain merupakan produk dari proses produksi. Produk ini terdiri atas: a) Pendapatan factor, yang terdiri atas: (1) (2) Upah/gaji sebagai balas jasa pegawai Surplus usaha (sewa tanah, bunga modal, dan

keuntungan)

15

b)

Penyusutan barang modal tetap (turunnya nilai barang

modal) c) Pajak tak langsung netto

Pajak tak langsung netto adalah selisih antara pajak langsung dengan subsidi. (BPS Provinsi Lampung. 2009. Hal 3) Rumus yang digunakan sebagai berikut: Produk Domestik = NP-NBA Keterangan: NP = Nilai Produksi NBA = Nilai Biaya Antara 2) Nilai Tambah Netto

Apabila penyusutan dikeluarkan dari nilai tambah bruto akan diperoleh nilai tambah netto. • PDRB Menurut Lapangan Usaha

PDRB sektoral adalah jumlah seluruh nilai tambah bruto dari sector/subsector di suatu wilayah. Sektor/lapangan usaha ini terdiri dari: 1) Sektor Pertanian 2) Sektor Pertambangan dan Penggalian 3) Sektor Industri Pengolahan 4) Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih 5) Sektor Bangunan 6) Sektor Perdagangan

16

7) Sektor Angkutan dan Perhubungan 8) Sektor Lembaga Keuangan, Persewaan dan jasa perusahaan 9) Sektor jasa – jasa Agregat – agregat PDRB disajikan dalam bentuk distribusi persentase, indeks perkembangan, indeks berantai, dan indeks harga implisit. a. Distribusi Persentase Besar masing – masing subsector/sector diperloeh dengan cara membagi nilai subsector/sector dengan nilai PDRB dikali 100 persen. Persentase ini mencerminkan besarnya peranan masing – masing subsector/sector dalam perekonomian daerah, serta menunjukkan perekonomian daerah tersebut. b. Indeks Perkembangan Indeks perkembangan diperoleh dengan cara membagi nilai subsektor/sector/PDRB pada tahun dasar, dikalikan dengan 100. Dengan indeks perkembangan pada tahun dasar sama dengan 100. c. Indeks Berantai Indeks berantai diperoleh dengan cara membagi nilai subsector/sector/PDRB tahun berjalan dengan nilai

subsector/sector/PDRB tahun sebelumnya, dikalikan 100 (tahun sebelumnya = 100). Angka indeks berantai PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan pertumbuhan ekonomi untuk tahun berjalan. d. Indeks Harga Implisit

17

Indeks harga implisit diperoleh dengan cara membagi PDRB atas dasar harga berlaku dengan PDRB atas dasar harga konstan dikalikan 100. a. Metode Perhitungan PDRB atas Dasar Harga Berlaku PDRB atas dasar harga berlaku diihitung melalui dua metode, yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Metode langsung dapat dilakukan dengan menggunakan 3 macam pendekatan. 1) Pendekatan Produksi Yaitu dengan menghitung nilai tambah barang dan jasa yang diproduksi oleh seluruh kegiatan ekonomi dengan cara mengurangkan biaya antara dari masing – masing nilai produksi bruto tiap – tiap sector atau subsector. Pendekatan ini biasa juga disebut dengan pendekatan nilai tambah. 2) Pendekatan Pendapatan Dalam pendekatan pendapatan, nilai tambah dari setiap kegiatan ekonomi dihitung dengan menjumlahkan semua balas jasa factor produksi, yaitu upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan, dan pajak tak langsung netto. 3) Pendapatan Pengeluaran Pendekatan dari segi pengeluaran bertitiktolak pada penggunaan akhir dari barang dan jasa. Sedangkan metode tidak langsung adalah dengan

menghitung pendapatan regional kabupaten dengan cara

18

mengalokir angka pendapatan regional Provinsi untuk tiap – tiap kabupaten dengan menggunakan alokator nilai produksi bruto, jumlah produksi, tenaga kerja dan penduduk. Pemakaian masing-masing metode pendekatan sangat tergantung pada data yang tersedia. Pada kenyataannya, pemakaian kedua metode tersebut akan saling menunjang satu sama lain, karena metode langsung akan mendorong

peningkatan kualitas data daerah, sedangkan metode tidak langsung akan merupakan koreksi dalam pembanding bagi data daerah.2 b. Metode Perhitungan PDRB atas Dasar Harga Konstan Secara konsep nilai atas dasar hharga konstan dapat juga mencerminkan kuantum produksi pada tahun yang berjalan yang dinilai atas dasar harga pada tahun dasar. Dari segi metode statistic, suatu nilai atas dasar harga konstan dapat diperoleh dengan cara: 1) Revaluasi, dilakukan dengan cara menilai produksi dan biaya antara masing-masing tahun dengan harga pada tahun dasar. Hasilnya merupakan output dan biaya antara atas dasar harga konstan. Selanjutnya nilai tambah atas dasar harga konstan, diperoleh dari selisih antara output dan biaya antara atas dasar harga konstan. Dalam praktek,

sangat sulit melakukan revaluasi terhadap biaya antara yang digunakan, karena mencakup komponen input yang sangat
2

http://bunawolo.wordpress.com/pdrb/, diakses pada 10 April 2012 pukul 11.51 wib

19

banyak disamping itu data harga yang tersedia tidak dapat memenuhi semua keperluan tersebut. Oleh karena itu biaya antara atas dasar harga konstan biasanya diperoleh dari perkalian antara output atas dasar harga konstan masingmasing tahun dengan ratio tetap biaya antara terhadap output pada tahun dasar. 2) Ekstrapolasi, nilai tambah masing – masing tahun atas dasar harga konstan diperoleh dengan cara mengalikan

nilai tambah pada tahun dasar dengan indeks produksi. Indeks produksi sebagai ekstrapolator dapat merupakan indeks dari masing – masing produksi yang dihasilkan ataupun indeks dari berbagai indicator produksi seperti tenaga kerja, jumlah perusahaan dan lainnya, yang dianggap cocok dengan jenis kegiatan subsector, dan sector yang dihitung. Ekstrapolasi juga dapat dilakukan terhadap output atas dasar harga konstan, kemudian dengan menggunakan rasio tetap nilai tambah terhadap output akan diperoleh perkiraan nilai tambah atas dasar harga konstan. 3) Deflasi, nilai tambah atas dasar harga konstan diperoleh dengan cara membagi nilai tambah atas dasar harga berlaku masing-masing tahun dengan indeks harga. Indeks harga yang digunakan sebagai deflator biasanya merupakan indeks harga konsumen (IHK), indeks harga perdagangan

20

besar (IHPB) dan sebagainya, tergantung mana yang lebih cocok. Indeks harga di atas dapat pula dipakai sebagai inflator, dalam keadaan dimana nilai tambah atas harga berlaku justru diperoleh dengan mengalikan nilai tambah atas dasar harga konstan dengan indeks harga tersebut

Perkiraan produk/pendapatan domestic atas dasar harga konstan dapat dilakukan pada PDRB menurut lapangan usaha dengan cara menghitung nilai tambah atas dasar harga konstan untuk berbagai lapangan usaha. Nilai tambah bruto sektoral atas dasar harga konstan dihitung dengan cara menggunakan dua teknik, yaitu teknik indicator ganda dan teknik indicator tunggal. Pada teknik indicator ganda perkiraan atas dasar harga konstan untuk masing – masing nilai produksi dan biaya antara dilakukan secaara terpisah. Perhitungan atas dasar harga konstan bagi masing – masing nilai produksi dan biaya antara dapat dilakukan dengan cara revaluasi, cara ekstrapolasi, dan cara deflasi. Setelah perkiraan atas dasar harga konstan diperoleh, maka nilai output atas dasar harga konstan akan menghasilkan nilai tambah atas dasar harga konstan atau dengan rumus: NTBk = NPk - NBAk (Sumber: BPS Provinsi Lampung. 2009. Hal 15) di mana; NTBk = nilai tambah bruto atas dasar harga konstan NPk= nilai produksi atas dasar harga konstan NBAk= nilai biaya antara atas dasar harga konstan

21

Pada teknik indicator tunggal, maka perkiraan nilai tambah atas dasar harga konstan diperoleh secara langsung dengan menggunakan metode deflasi dan metode ekstrapolasi. Dengan metode deflasi, nilai tambah bruto atas dasar harga konstan diperoleh dengan cara membagi nilai tambah bruto tahun yang berjalan dengan indeks harga pada masing – masing tahun dibagi 100. Dengan metode ekstrapolasi, nilai tambah bruto atas dasar harga konstan diperoleh dengan cara mengalikan nilai tambah bruto pada tahun dasar dengan indeks kuantum masing – masing tahun dibagi 100. c. Kegunaan Data PDRB Dari data PDRB, dapat juga diturunkan beberapa indikator ekonomi penting lainnya, seperti : 1. Produk Domestik Regional Neto Atas Dasar Harga Pasar , yaitu PDRB dikurangi dengan seluruh penyusutan atas barang-barang modal tetap yang digunakan dalam proses produksi selama setahun. 2. Produk Domestik Regional Neto Atas Dasar Biaya Faktor Produksi, yaitu produk domestik regional neto atas dasar harga pasar dikurangi dengan pajak tidak langsung neto. Pajak tidak langsung neto merupakan pajak tidak langsung yang dipungut pemerintah dikurangi dengan subsidi yang diberikan oleh pemerintah. Baik pajak tidak langsung maupun subsidi, kedua-duanya dikenakan terhadap barang dan jasa yang diproduksi atau dijual. Pajak tidak langsung bersifat

22

menaikkan harga jual sedangkan subsidi sebaliknya. Selanjutnya, produk regional neto atas dasar biaya faktor produksi disebut sebagai Pendapatan Regional. 3. Angka-angka per kapita, yaitu ukuran-ukuran indikator ekonomi sebagaimana diuraikan diatas dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Data pendapatan regional adalah salah satu indikator makro yang dapat menunjukkan kondisi perekonomian regional setiap tahun. Manfaat yang dapat diperoleh dari data ini antara lain adalah : 1. PDRB harga berlaku nominal menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu wilayah regional. Nilai PDRB yang besar menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang besar, begitu juga sebaliknya. 2. Pendapatan regional harga berlaku menunjukkan pendapatan yang memungkinkan untuk dinikmati oleh penduduk suatu wilayah. 3. PDRB harga konstan (riil) dapat digunakan untuk menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan atau setiap sektor dari tahun ke tahun. 4. Distribusi PDRB harga berlaku menurut sektor menunjukkan struktur perekonomian atau peranan setiap sektor ekonomi dalam suatu wilayah. Sektor-sektor ekonomi yang mempunyai peran besar menunjukkan basis perekonomian suatu wilayah.

23

5. PDRB dan Pendapatan Regional Perkapita atas dasar harga berlaku menunjukkan nilai PDRB dan Pendapatan Regional per kepala atau per satu orang penduduk. 6. PDRB dan Pendapatan Regional Perkapita atas dasar harga konstan berguna untuk mengetahui pertumbuhan nyata ekonomi per kapita penduduk suatu wilayah. 5. Model Basis Ekonomi

Menurut Sjafrizal (2008:89) penjelasan sector basis dan non basis, yaitu: “Sektor basis adalah sector yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah karena mempunyai keuntungan kompetitif yang cukup tinggi. Sedangkan sector non basis merupakan sector – sector lainnya yang kurang potensial tetapi berfungsi sebagai penunjang Sektor Basis atau Service Industries”. Adapun menurut Glasson (1990:63-64), konsep dasar basis ekonomi membagi perekonomian menjadi 2 (dua) sector yaitu: Pertama, sector – sector basis adalah sector – sector yang mengekspor barang – barang dan jasa ke tempat di luar batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan atas masukan barang dan jasa mereka kepada masyarakat yang datang dari luar perbatasan perekonomian masyarakat yang bersangkutan. Kedua, Sektor – sector bukan basis adalah sector – sector yang menjadikan barang – barang yang dibutuhkan oleh orang yang bertempat tinggal di dalam batas perekonomian masyarakat bersangkutan. Sektor – sector tidak mengekspor barang – barang. Ruang lingkup mereka dan daerah pasar terutama adalah bersifat local.

24

Dalam model basis ekonomi dinyatakan bahwa factor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah keuntungan kompetitif yang berhubungan langsung dengan permintaan barang dan jasa dari luar daerah. Berdasarkan teori ini perekonomian suatu wilayah dibagi menjadi dua yaitu sector basis dan sector non basis. Sektor basis adalah sector yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah karena mempunyai keuntungan kompetitif yang cukup tinggi, sehingga mampu mengekspor barang dan jasa ke luar batas-batas perekonomian wilayah yang bersangkutan. Sedangkan sector non basis merupakan kegiatan-kegiatan yang menyediakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang bertempat tinggal di dalam batas-batas

perekonomian wilayah tersebut. Sektor non basis ini berfungsi sebagai sector penunjang sector basis basis atau service industries (Sjafrizal, 2008). Adanya permintaan barang dan jasa dari luar daerah akan meningkatkan proses produksi di sector industry. Proses produksi di suatu daerah yang menggunakan sumber daya produksi local, termasuk tenaga kerja dan bahan bakunya, yang hasil output akhirnya diekspor akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan per kapita, dan penciptaan peluang kerja di daerah tersebut. Pengertian basis ekonomi di suatu wilayah tidak bersifat statis melainkan dinamis, maksudnya pada tahun tertentu mungkin saja sector basis tersebut bisa beralih ke sector lain. Sektor basis bisa mengalami kemajuan atau kemunduran. Penyebab kemajuan sector basis adalah perkembangan jaringan transportasi dan komunikasi, perkembangan teknologi, perkembangan pendapatan dan penerimaan

25

daerah, dan adanya perkembangan prasarana ekonomi dan social. Sedangkan penyebab kemunduran sector basis adalah adanya perubahan permintaan dari luar daerah dan kehabisan cadangan sumber daya. a. Location Quotient Untuk menganalisis basis ekonomi suatu wilayah, salah satu teknik yang lazim digunakan adalah kuosien lokasi (Location Quotient, LQ). Analisis Location Quotient (LQ) digunakan untuk menentukan sector basis dan non basis dalam perekonomian kota Tangerang Selatan. Apabila hasil perhitungannnya menunjukkan angka lebih dari satu (LQ > 1) berarti sector tersebut merupakan sector basis. Sebaliknya, apabila hasilnya menunjukkan angka kurang dari satu (LQ < 1) berarti sector tersebut bukan sector basis. Untuk mendapatkan indeks LQ dapat dilakukan dengan dua cara, yang pertama adalah dengan pendekatan tenaga kerja dan yang kedua adalah dengan pendekatan nilai tambah, formulasinya dapat dilihat sebagai berikut:

LQ = Li/Lt : Ni/Nt

di mana Li adalah Jumlah tenaga kerja sector i wilayah rendah (dalam hal ini kota Tangerang Selatan); Lt adalah Jumlah tenaga kerja total wilayah rendah; Ni adalah Jumlah tenaga kerja sector i wilayah tinggi ( dalam hal ini provinsi Banten); dan Nt adalah jumlah tenaga kerja total wilayah tinggi.

LQ = Si/St : Yi/Yt

di mana Si adalah PDRB sector i wilayah rendah; St adalah PDRB total wilayah rendah; Yi adalah PDRB sector i wilayah tinggi; dan Yt adalah PDRB total wilayah tinggi.

26

b. Analisis Shift Share Analisis Shift Share (SS) merupakan teknik yang sangat berguna dalam menganalisis perubahan struktur ekonomi di daerah dibandingkan dengan perekonomian Nasional. Tujuan analisis ini sendiri adalah untuk menentukan kinerja atau produktivitas kerja perekonomian daerah dengan membandingkannya dengan daerah yang lebih besar (region/Nasional). Analisis SS, memberikan data tentang kinerja perekonomian dalam tiga bidang yang berhubungan satu sama lainnya, yaitu: • Pertambahan ekonomi daerah diukur dengan cara menganalisis perubahan agregat secara sektoral dibandingkan dengan perubahan pada sector yang sama di perekonomian yang dijadikan acuan. • Pergeseran proporsional merupakan perbedaan antara pertumbuhan daerah dengan menggunakan pertumbuhan nasional sektoral dan pertumbuhan daerah dengan menggunakan pertumbuhan nasional. Daerah dapat tumbuh lebih cepat/lebih lambat dari rata-rata nasional jika mempunyai sector atau industry yang tumbuh lebih cepat/lambat dari Nasional. Dengan demikian, perbedaan laju pertumbuhan dengan nasional disebabkan oleh komposisi sector yang berbeda. Pergeseran diferensial, digunakan untuk menentukan seberapa jauh daya saing industry daerah (local) dengan perekonomian yang dijadikan acuan.

27

B. Penelitian Terdahulu Di samping pembahasan teori-teori, pengkajian terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan para peneliti perlu dilakukan. Pengkajian atas hasil-hasil terdahulu akan sangat membantu dalam menelaah masalah yang yang dibahas dengan berbagai pendekatan spesifik. Selain itu juga memberikan pemahaman mengenai posisi peneliti, untuk membedakan penelitian terdahulu yang telah dilakukan. Berikut ini beberapa hasil penelitian terdahulu.
1.

Muhammad Averroes Fadlan dalam skripsinya yang berjudul

“Analisis Potensi Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Lampung Periode 2004-2009 (Analisis Location Quotient dan Shift Share)”, menjelaskan tentang pertumbuhan ekonomi suatu sector perekonomian yang terjadi di suatu wilayah akan berdampak terhadap pertumbuhan secara Nasional. Pertambahan pendapatan yang diambil salah satunya adalah

pertambahan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) suatu daerah yang memiliki 9 sektor utama, yaitu: (1) pertanian; (2) pertambangan dan penggalian; (3) industry pengolahan; (4) listrik, gas, dan air minum; (5) bangunan dan konstruksi; (6) perdagangan, hotel, dan restoran; (7) angkutan dan komunikasi; (8) bank dan lembaga keuangan lainnya; (9) jasa-jasa. Data yang dipergunakan adalah data sekunder berupa PDRB Provinsi Lampung atas dasar harga berlaku dengan sector ekonomi yang paling dominan adalah sector pertanian yang memiliki subsector yaitu: (1) Subsektor Tanaman Pangan, (2) Subsektor Tanaman Perkebunan, (3)

28

Subsektor Peternakan dan hasil-hasilnya, (4) Subsektor Kehutanan dan Perburuan, dan (5) Subsektor Perikanan. Hasil penelitiannya menemukan bahwa terdapat subsector unggulan yang dapat diijadikan komoditas ekspor dan juga yang mengalami

pertumbuhan cepat, yaitu subsector perkebunan yang menjadi potensi unggulan dari Provinsi Lampung walaupun masih di bawah dari Subsektor Tanaman Pangan akan sumbangannya terhadap PDRB Sektor Pertanian tetapi membuktikan bahwa Subsektor Perkebunan adalah satusatunya Subsektor yang dapat bersaing dengan Subsektor lainnya dalam sumbangan terhadap Nasional. Dan Subsektor lainnya masih berpotensi untuk ditingkatkan di dalam Provinsi Lampung sendiri.
2.

Zuhairan Y. Yunan dalam jurnalnya yang berjudul “Analisis Sektor Unggulan Perekonomian Wilayah Kotamadya

Penentuan

Tangerang Selatan Dengan Pendekatan Sektor Pembentuk PDRB”, tujuan dari penelitian ini adalah pemecahan masalah dengan perlu adanya kemampuan di bidang ekonomi di daerah analisis, dengan populasi adalah PDRB sektoral kota Tangerang Selatan dan Propinsi Banten yang dihitung berdasarkan harga konstan tahun 2000. Data yang digunakan merupakan data sekunder, dengan menggunakan metode analisis yaitu Analisis Location Quotient (LQ) serta Analisis Shift Share. Penelitian yang dilakukan menyimpulkan bahwa sector bank; keuangan; perusahaan merupakan sector basis yang memiliki indeks terbesar dibandingkan dengan sector basis lainnya dan memberikan nilai

29

sumbangan tertinggi dalam perkembangan PDRB kota Tangerang Selatan. Sektor basis lainnya yang tidak kalah penting dengan ketiga sector basis di atas adalah sector perdagangan, hotel, restoran; sector pengangkutan dan komunikasi; dan sector listrik, gas, dan air bersih. Selain itu keenam sector tersebut juga merupakan sector basis ekonomi yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah kota Tangerang Selatan karena memiliki nilai LQ lebih dari satu. Hasil analisis Shift Share menunjukkan bahwa sector yang merupakan sector kompetitif, yaitu sector bangunan; dan sector pengangkutan dan komunikasi.
3.

Irman dan Fachrizal Bachri dalam jurnalnya yang berjudul

“Analisis Potensi Sektoral Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan”. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sector-sektor ekonomi yang potensial untuk dikembangkan guna memacu pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Lahat; menegtahui pengaruh sector-sektor yang potensial tersebut terhadap penciptaan kesempatan kerja; mengetahui besarnya nilai ICOR Kabupaten Lahat. Data sekunder sebagai data yang digunakan dalam penelitiannya, di mana data tersebut diperoleh dari instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik, Kantor Statistik, Bank Indonesia, dan sumber lainnya yang berkaitan dengan penelitian. Data dianalisis melalui metode: 1) LQ, 2) Analisis Shift Share, 3) CobbDouglas, 4) Analisis ICOR.

30

Dengan hasil analisis 1) LQ, terdapat empat sector yang potensial/unggul yaitu sector pertanian, sector bangunan, sector keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sector jasa-jasa. 2) Hasil analisis Shift Share, sector ekonomi yang potensial di Kabupaten Lahat hanya tiga sector yaitu sector industry pengolahan, sector bangunan dan sector keuangan, persewaan dan jasa-jasa perusahaan. 3) Hasil analisis Cobb-Douglas, ternyata peningkatan nilai produksi sector pertanian, sector bangunan dan sector jasa-jasa mempunyai pengaruh positif terhadap peningkatan kesempatan kerja sedangkan sector keuangan, persewaan dan jasa perusahaan mempunyai pengaruh negative terhadap penciptaan

kesempatan kerja. 4) Dari analisis ICOR ternyata ICOR Kabupaten Lahat secara total adalah 11,32%.
4.

Nazeli Adnan dalam jurnalnya yang berjudul “Potensi Ekonomi

Sektoral Kota Palembang”. Penelitiannya bertujuan untuk menganalisis sector-sektor ekonomi yang potensial dan perubahan struktur ekonomi terhadap pertumbuhan ekonomi Palembang. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait periode 1993-2002, dengan alat analisis location quotient and shift share. Berdasarkan analisis LQ diketahui bahwa terdapat 6(enam) sector basis di Kota Palembang, yaitu sector industry pengolahan, sector

perdagangan, hotel dan restoran, sector listrik, gas dan air bersih, sector pengangkutan dan komunikasi, sector keuangan, serta sector jasa-jasa.

31

Pertumbuhan ekonomi di kota Palembang banyak ditentukan oleh nasional share.
5.

Wali I. Mondal, dengan penelitinnya yang berjudul “An Analysis

of the industrial development potensial of Malaysia: A shift share Approach. Alat analisis yang digunakan adalah shift share. Dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa Malaysia mempunyai sector basis di wilayah Klantan, Terengannu, Pahong dan Johar Utara di mana ke empat wilayah tersebut mempunyai mix industry yang unik dibandingkan dengan wilayah lainnya yang ada di Malaysia, hal tersebut didukung dengan kekayaan alamnya yang melimpah. Pada semenanjung Malaysia kaya akan sector pertanian dan sector perikanan, selain itu kontribusi sector pariwisata memiliki peranan penting dalam perekonomian Malaysia. Secara lengkap penelitian terdahulu dapat dilihat dalam tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1 Penelitian-Penelitian terdahulu yang sudah dilakukan

No
1 (2011)

Peneliti
Muhammad Averroes Fadlan

Alat Analisis
- LQ - Shift Share

Hasil Penelitian
Hasil Penelitian:terdapat subsector unggulan yang dapat diijadikan komoditas ekspor dan juga yang mengalami pertumbuhan cepat, yaitu subsector perkebunan yang menjadi potensi unggulan dari Provinsi Lampung walaupun masih di bawah dari Subsektor

32

Tanaman Pangan akan sumbangannya terhadap PDRB Sektor Pertanian tetapi membuktikan bahwa Subsektor Perkebunan adalah satu-satunya Subsektor yang dapat bersaing dengan Subsektor lainnya dalam sumbangan terhadap Nasional. Dan Subsektor lainnya masih berpotensi untuk ditingkatkan di dalam Provinsi Lampung 2 Zuhairan Y. Yunan (2010) - LQ - Shift Share sendiri. Hasil penelitian: sector bank; keuangan; perusahaan

merupakan sector basis yang memiliki dibandingkan indeks dengan terbesar sector

basis lainnya dan memberikan nilai sumbangan tertinggi dalam perkembangan PDRB kota

Tangerang Selatan. Sektor basis lainnya yang tidak kalah penting dengan ketiga sector basis di atas adalah sector perdagangan, hotel, restoran; sector

pengangkutan dan komunikasi;

33

dan sector listrik, gas, dan air bersih. Selain itu keenam sector tersebut juga merupakan sector basis ekonomi yang berpotensi meningkatkan ekonomi Tangerang pertumbuhan wilayah Selatan kota karena

memiliki nilai LQ lebih dari satu. Hasil analisis Shift Share

menunjukkan bahwa sector yang merupakan yaitu sector 3 Irman dan Fachrizal Bachri (2003) - LQ - Shift Share - Cobb-Douglas - ICOR. sector kompetitif, bangunan; dan dan

sector

pengangkutan

komunikasi. 1) LQ, terdapat empat sector yang potensial atau unggul yaitu sector bangunan, pertanian, sector sector keuangan,

persewaan dan jasa perusahaan dan sector jasa-jasa. 2) Hasil analisis ekonomi Shift yang Share, sector di

potensial

Kabupaten Lahat hanya tiga sector yaitu sector sector industry bangunan

pengolahan,

34

dan sector keuangan, persewaan dan jasa-jasa perusahaan. 3) Hasil analisis Cobb-Douglas, nilai

ternyata

peningkatan

produksi sector pertanian, sector bangunan dan sector jasa-jasa mempunyai terhadap kesempatan kerja pengaruh positif

peningkatan sedangkan

sector keuangan, persewaan dan jasa perusahaan negative mempunyai terhadap

pengaruh

penciptaan kesempatan kerja. 4) Dari analisis ICOR ternyata ICOR Kabupaten Lahat secara total adalah 11,32%. 4 Nazeli Adnan - LQ - Shift Share Hasil penelitian menyimpulkan bahwa terdapat 6(enam) sector basis di Kota Palembang, yaitu sector industry pengolahan, sector perdagangan, hotel dan restoran, sector listrik, gas dan air bersih, sector pengangkutan dan komunikasi, sector keuangan, serta sector jasa-jasa.

35

Pertumbuhan ekonomi di kota Palembang banyak ditentukan 5 Wali I. Mondal (2010) Shift Share oleh nasional share. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Malaysia mempunyai sector basis di wilayah Klantan, Terengannu, Pahong dan Johar Utara di mana ke empat wilayah tersebut mempunyai mix industry yang unik dibandingkan dengan wilayah lainnya yang ada di Malaysia, hal tersebut didukung dengan kekayaan alamnya yang melimpah. Pada semenanjung Malaysia kaya akan sector pertanian dan sector perikanan, selain itu kontribusi sector pariwisata memiliki peranan penting dalam perekonomian Malaysia.

C. Kerangka Pemikiran Teoritis Dalam suatu struktur ekonomi Produk Domestik Regional Bruto adalah yang paling penting karena untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu wilayah ditunjukkan oleh data Produk Domestik Regional Bruto. Produk Domestik

36

Regional Bruto atas dasar harga berlaku digunakan untuk mengetahui struktur ekonomi. Di mana dalam perhitungan tersebut diperlukan suatu data yang mendukung adanya pertumbuhan ekonomi suatu daerah atau Negara. Data yang diperlukan dalam menganalisis Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) suatu daerah adalah dengan mengetahui daerah mana yang mempunyai kemampuan dalam menciptakan lapangan usaha ataupun sumbangan yang diberikan dalam sector – sector perekonomian dalam suatu daerah tertentu. Sumbangan tersebut memiliki sembilan sector yang dapat mempengaruhi

perubahan ekonomi suatu daerah tersebut, yaitu: pertanian; pertambangan dan penggalian; industry pengolahan; listrik, gas, dan air minum; bangunan dan konstruksi; perdagangan, hotel, dan restoran; angkutan dan komunikasi; bank dan lembaga keuangan lainnya; jasa-jasa. Di dalam sector perdagangan, hotel, dan restoran terdapat beberapa sector lagi yang menjadi fondasi dari sector tersebut seperti di antaranya adalah Subsektor Perdagangan besar dan eceran, Subsektor restoran dan rumah makan, Subsektor hotel dan akomodasi lainnya. Dengan adanya data tersebut sehingga dapat kita buat suatu kerangka berpikir yang membantu kita untuk mempermudah apa saja yang menjadi pembahasan dalam penelitian.

Gambar 2.1

Kerangka Berpikir Analisis Potensi Pertumbuhan Ekonomi di Kota Tangerang Selatan periode 2007 – 2010

PDRB Provinsi Banten

PDRB Kota Tangerang Selatan

37 Analisis Data: 1. Location Quotient 2. Shift Share Hasil dan 3. Tipologi Penelitian Perumusan Masalah Tujuan

Sector Perdagangan, hotel, dan restoran: 1. Subsektor Perdagangan besar dan eceran 2. Subsektor restoran dan rumah makan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

38

Metode penelitian merupakan suatu cara bagaimana urutan penelitian dilakukan, yaitu dengan menentukan sifat penelitian dan bagaimana prosedur penelitian dilakukan.

A. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kota Tangerang Selatan. Pemilihan lokasi di kota Tangerang Selatan dengan pertimbangan bahwa wilayah ini merupakan daerah yang relative berusia muda dan bersentuhan dengan jalur perdagangan dari pulau Jawa menuju Pulau Sumatera ataupun sebaliknya. Sementara periode yang digunakan pada penelitian ini meliputi tahun 2007-2010.

B. Metode Penentuan Sampel

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dengan menggunakan pertimbangan-pertimbangan tertentu dari peneliti. Pemilihan lokasi ini ditetapkan secara sengaja (purposive), di mana pengambilan lokasi berdasarkan criteria yang dianggap mempunyai keterkaitan dengan karakteristik populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Sampel dalam penelitian ini adalah kota Tangerang Selatan. Sedangkan populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Provinsi Banten.

C. Metode Pengumpulan Data

39

Metode pengumpulan data menjadi sangat penting karena diperlukan untuk mempertanggungjawabkan kebenaran ilmiah dan orisinalitas suatu penelitian, di samping itu metode penelitian juga diperlukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan tujuan penelitian yang sudah direncanakan. Dalam penelitian ini data yang dipergunakan adalah: 1. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data Sekunder, yaitu data yang tidak diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti. Data ini diambil dengan tujuan untuk melengkapi informasi yang akan disajikan pada penyusunan skripsi. Data diperoleh dari literature – literature yang ada serta badan – badan terkait yang sesuai dengan tema penelitian, seperti: BPS dan pemerintah kota Tangerang Selatan.
2.

Jenis Data

Data yang dikumpulkan untuk mendukung penelitian ini diperoleh melalui telaah kepustakaan dan hasil publikasi, adapun di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Banten Atas Dasar Harga

Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha 2007 – 2010.
b. Produk Domestik Regional Bruto Kota Tangerang Selatan A.D.H

Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007 - 2010

D. Metode Analisis Data Analisis yang digunakan mengacu pada rumusan dan tujuan penelitian.

40

1.

Untuk mengetahui dan menggolongkan antara sector basis dan non

basis terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB Kota Tangerang Selatan) maka metode analisis data yang digunakan adalah Location Quotient(LQ). a. Location Quotient Analisis Location Quotient (LQ) digunakan untuk menentukan sector basis dan non basis dalam perekonomian kota Tangerang Selatan. Apabila hasil perhitungannnya menunjukkan angka lebih dari satu (LQ > 1) berarti sector tersebut merupakan sector basis. Sebaliknya, apabila hasilnya menunjukkan angka kurang dari satu (LQ < 1) berarti sector tersebut bukan sector basis. Untuk mendapatkan indeks LQ dapat dilakukan dengan dua cara, yang pertama adalah dengan pendekatan tenaga kerja dan yang kedua adalah dengan pendekatan nilai tambah, formulasinya dapat dilihat sebagai berikut:

LQ = Li/Lt : Ni/Nt

di mana Li adalah Jumlah tenaga kerja sector i wilayah rendah (dalam hal ini kota Tangerang Selatan); Lt adalah Jumlah tenaga kerja total wilayah rendah; Ni adalah Jumlah tenaga kerja sector i wilayah tinggi ( dalam hal ini provinsi Banten); dan Nt adalah jumlah tenaga kerja total wilayah tinggi.

LQ = Si/St : Yi/Yt

di mana Si adalah PDRB sector i wilayah rendah; St adalah PDRB total wilayah rendah; Yi adalah PDRB sector i wilayah tinggi; dan Yt adalah PDRB total wilayah tinggi.

41

2.

Untuk mengetahui perubahan struktur ekonomi yang terjadi pada

sector – sector perekonomian selama periode 2007 – 2010 di Kota Tangerang Selatan dengan metode Shift Share. a. Shift Share Analisis SS digunakan untuk mengetahui proses pertumbuhan ekonomi suatu daerah dalam kaitannya dengan perekonomian daerah acuan yaitu wilayah yang lebih luas. Untuk mengetahui proses pertumbuhan ekonomi suatu daerah dengan menggunakan analisis SS digunakan variabel penting seperti tenaga kerja, penduduk dan pendapatan. Pertumbuhan PDRB total (G) dapat diuraikan menjadi komponen Shift dan komponen Share, yaitu:
1) Komponen nasional Share (N) adalah banyaknya pertambahan

PDB

seandainya

pertumbuhannya

sama

dengan

laju

pertumbuhan PDRB Provinsi selama periode yang tercakup dalam studi. 2) Komponen proportional Shift (P), mengukur besarnya net shift wilayah rendah yang diakibatkan oleh komposisi sector – sector PDRB pada wilayah rendah yang bersangkutan berubah. Apabila PJ > 0 artinya wilayah rendah yang bersangkutan berspesialisasi pada sector – sector yang pada tingkat wilayah tinggi tumbuh relative cepat dan apabila PJ < 0 berarti wilayah rendah yang berspesialisasi pada sector – sector yang di tingkat

42

wilayah tinggi pertumbuhannya dengan lambat atau bahkan sedang turun. 3) Komponen differential Shift (D), mengukur besarnya net shift yang diakibatkan oleh sector – sector tertentu yang tumbuh lebih cepat atau lebih lambat di wilayah rendah dibandingkan dengan tingkat wilayah tinggi yang disebabkan oleh factor – factor lokasional intern. Daerah yang mempunyai keuntungan lokasional, seperti sumber daya yang baik akan mempunyai differential shift component postif (DJ > 0), sebaliknya wilayah rendah yang secara lokasional tidak menguntungkan akan mempunyai differential shift component yang negatif (DJ< 0). Shift Share: Formulasi SS dapat dilihat sebagai berikut: GJ = = Nj = Yjt – Yjo (Nj + Pj + Dj) Yjo (Yt/Yo) – Yjo Yjt – (Yt/Yo)Yjo (Gj – Nj) Ʃi [(Yit/Yio) - (Yt/Yo)]Yijo Ʃt [Yijt – (Yit/Yio)Yijo] (P + D)j – Pj

(P+D)j = = Pj Dj = = =

di mana Gj merupakan pertumbuhan PDRB total wilayah rendah; Nj merupakan komponen share di wilayah rendah; (P+D)j merupakan

43

komponen net shift di wilayah rendah; Pj merupakan proportional shift wilayah rendah; Dj merupakan differential shift wilayah rendah; Yj merupakan PDRB total kota wilayah rendah; Y merupakan PDRB total wilayah tinggi; o,t merupakan periode awal dan periode akhir perhitungan; dan I merupakan subskripsi sector (subsector) pada PDRB.
3.

Untuk menguji apakah ada pengaruh subektor – subsector

perekonomian serta potensi penunjang pertumbuhan ekonomi terhadap PDRB di Kota Tangerang Selatan dapat menggunakan metode Tipologi Sektoral. a. Tipologi Sektoral Analisis ini mengembangkan hasil perhitungan indeks Location Quotient (LQ>1), komponen differential shift (Dj>0) dan komponen proporsional shift (Pj>0) untuk ditentukan tipologi sektoral. Tipologi ini mengklasifikasikan sector basis dan non basis serta komponen

pertumbuhan internal dan eksternal. Dengan menggabungkan indeks LQ dengan komponen Dj dan Pj dalam analisis Shift Share. Tipologi sector tersebut adalah sebagai berikut: - Tipologi I : Sektor tersebut adalah sector basis dengan LQ rata-rata >1 dan pertumbuhan di wilayah rendah lebih cepat dibandingkan wilayah tinggi (Dj rata-rata>0) meskipun di wilayah tinggi pertumbuhannya cepat (Pj rata-rata>0). - Tipologi II : Sektor tersebut adalah sector basis dengan LQ rata-rata>1 dan pertumbuhan di wilayah rendah lebih cepat dibandingkan wilayah

44

tinggi (Dj rata-rata >0) karena di wilayah tinggi pertumbuhannya lambat (Pj rata-rata<0). - Tipologi III : Sektor tersebut adalah sector basis dengan LQ ratarata>1 dan pertumbuhan di wilayah rendah lebih lambat dibanding dengan wilayah tinggi (Dj rata-rata<0) karena di wilayah tinggi pertumbuhannya tergolong cepat (Pj rata-rata>0). - Tipologi IV : Sektor tersebut adalah sector basis dengan LQ ratarata>1 dan di wilayah rendah pertumbuhannya lebih lambat dibanding wilayah tinggi(Dj rata-rata<0) meskipun di wilayah tinggi

pertumbuhannya juga lambat(Pj rata-rata<0) - Tipologi V : Sektor tersebut adalah sector non basis dengan LQ ratarata<1 dan pertumbuhan di wilayah rendah lebih cepat dibanding pertumbuhan di wilayah tinggi (Dj rata-rata>0) padahal di wilayah tinggi sendiri pertumbuhannya juga cepat(Pj rata-rata>0). - Tipologi VI : Sektor tersebut adalah sector non basis dengan LQ ratarata<1 dan pertumbuhan di wilayah rendah lebih cepat dibanding pertumbuhan di wilayah tinggi(Dj rata-rata>0) walaupun di wilayah tinggi pertumbuhannya lambat(Pj rata-rata<0). - Tipologi VII : Sektor tersebut adalah sector non basis dengan LQ ratarata<1 dan pertumbuhan di wilayah rendah lebih lambat dibanding pertumbuhan di wilayah tinggi (Dj rata-rata<0) karena di Provinsi pertumbuhannya tergolong cepat(Pj rata-rata>0).

45

- Tipologi VIII : Sektor tersebut adalah sector non basis dengan LQ rata-rata<1 dan pertumbuhan di wilayah rendah lebih lambat dibanding pertumbuhan di wilayah tinggi (Dj rata-rata<0) meski di Provinsi sendiri pertumbuhannya tergolong lambat(Pj rata-rata<0).
Tabel 3.1 Tipologi Sektoral

Tipologi I II III IV V VI VII VIII

LQ Basis Basis Basis Basis Bukan Basis Bukan Basis Bukan Basis Bukan Basis

Dj(Kabupaten/Kota Pj(Provinsi) Cepat Cepat Lambat Lambat Cepat Cepat Lambat Lambat Cepat Lambat Cepat Lambat Cepat Lambat Cepat Lambat

Tingkat Kepotensialan Istimewa Baik Sekali Baik Lebih dari Cukup Cukup Hampir Cukup Kurang Sangat Kurang

E. Definisi Operasional Variabel Penelitian Pada bagian ini akan diuraikan definisi dari masing – masing variabel yang digunakan. Variable adalah atribut dari sekelompok orang atau oobjek penelitian yang mempunyai criteria yang sama, Sugiyono (2005:2). Penjelasan variabel yang terlibat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

46

1. Laju pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan PDRB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari pertumbuhan penduduk, atau apakah perubahan struktur ekonomi berlaku atau tidak. Laju pertumbuhan ekonomi diukur dengan indicator perkembangan PDRB dari tahun ke tahun yang dinyatakan dalam persen per tahun. Analisis ini digunakan untuk mengetahui pembangunan daerah dilihat dari besarnya pertumbuhan PDRB setiap tahunnya. 2. Sektor ekonomi adalah lapangan usaha yang terdapat pada PDRB, yang mencakup 9 (Sembilan) sektor. 3. Pertumbuhan sector ekonomi adalah pertumbuhan nilai barang dan jasa dari setiap sector ekonomi yang dihitung dari angka PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) tahun 2000 dan dinyatakan dalam persentase. PDRB (ADHK) merupakan nilai produksi barang dan jasa akhir dalam suatu kurun waktu tertentu orang – orang dan perusahaan. Dinamika bruto karena memasukkan komponen penyusutan. Disebut domestic karena menyangkut batas wilayah. Disebut konstan karena harga yang digunakan mengacu pada tahun tertentu (tahun dasar=2000).

47

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.