Anda di halaman 1dari 8

TUGAS INDIVIDU

UNIT PEMBELAJARAN 2

ANGGORA STAMBUM SEHARGA 20 JUTA RUPIAH

BLOK 12 SAIN DAN METODOLOGI VETERINER

Oleh: Kandi Kurnia Utami 08/269044/KH/5987 Kelompok 06

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

2010
Unit Pembelajaran 2 Anggora Stambum Seharga 20 Juta Rupiah

a. Learning Objective 1. 2. 3. Mempelajari cara handling dan restrain kucing. Mengetahui perbedaan pemeriksaan fisik anjing dan kucing. Mempelajari cara diagnosis dari hasil pengambilan sampel untuk identifikasi

ektoparasit pada kucing. b. Pembahasan 1. Handling dan Restrain Kucing Restrain merupakan metode menguasai hewan sebelum pemeriksaan dengan cara membatasi atau menghalangi gerak aksi hewan dengan tujuan untuk mengurangi bahaya bagi operator, pembantu operator, maupun hewan itu sendiri. Restrain sangat perlu untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang valid. Handling merupakan teknik menangani hewan (Dharmonojo, 2002). Teknik dan cara menguasai hewan dapat dilakukan dengan restrain secara fisik (physical restraint) dan restrain secara farmakologik/ medikamentosa (chemical restraint). a. Restrain secara Fisik (physical restraint) Pada umumnya, kucing dapat direstrain seperti anjing yang berukuran kecil, tetapi kucing yang agresif dapat menyebabkan masalah karena mereka tidak hanya dapat menggigit tetapi dapat juga menggunakan cakar mereka. Restraint dengan bahan kimia sering dibutuhkan untuk menangani kucing yang agresif, namun terdapat teknik yang dapat digunakan untuk restrain secara fisik, yaitu: 1. sepatu. 2. 3. 4. 5. Bungkus menggunakan handuk Menggunakan gauntlet Tekan dengan selimut ke kotak untuk memudahkan penggunaan sedative Pastikan pintu / jendela dalam keadaan tertutup untuk menghindari kucing Memegang tengkuk kucing dan memastikannya masuk ke dalam kantung

melarikan diri (Rahardjo, 2009).

Sumber: http://www.vetmed.wsu.edu/ClientED/cat_restraint.aspx

Peralatan khusus yang dapat dibutuhkan untuk handling kucing agresif 1. Crush cage Memudahkan untuk intramuscular injeksi. Dinding dalam kandang yang dapat digerakan memudahkan untuk menahan pasien pada salah satu sisi kandang. 2. Cat restaining bag Terdapat retsleting disepanjang kantung sehingga hanya kepala kucing yang dapat terlihat.

3. Cat muzzles 3

4. Cat grabbers (Rahardjo, 2009). Hampir semua tindakan handling menggunakan kekuatan tangan, karena itu pelaksana harus melindungi tangannya. Pelaksana harus tahu di mana harus mencekal bagian tubuh hewan yang aman sekaligus melindungi tangannya sendiri dari cedera (Dharmonojo, 2002; Aspinall, 2006). 5. Restrain secara Farmakologik/ Medikamentosa (chemical restraint) Dengan ditemukannya obat-obatan yang mempunyai efek sedasi, mauscle relaxant, transquilizer, anasthesia, maka teknik menguasai hewan dengan menggunakan obat-obatan tersebut disebut chemical restraint. (Dharmonojo, 2002). Restraint kimia (sedasi) dapat digunakan pada kucing. Bahan kimia yang dapat digunakan untuk kucing dapat dikombinasikan yaitu xylazine dan ketamine, atau midzolam dan ketamine (Rahardjo, 2009). 2. Perbedaan Pemeriksaan Fisik Anjing dan Kucing 1. 2. 3. 4. Perbedaan Nafas Pulsus Suhu Conjunctiva Kucing 26 48 x / menit 92 150 x / menit 37,6o 39.40 C Merah muda pucat (hamper putih) Restrain mengamankan cakar dan mulut.serta mengurangi gerakan kucing.dan ruangan harus ditutup untuk mencegah 6. Palpasi ginjal 7. Suara nafas lari. Cenderung ke abdomen Bronchial Pada darah lumbal Bronchial dan vesikuler Anjing 24 42 x / menit 70 148 x / menit 37,8o 39.50 C Merah muda Restrain lebih mengamankan mulut.

5. Restrain

3. Identifikasi Ektoparasit a. Otodectes cynotis Tungau Otodects cynotis merupakan fauna normal pada saluran eksternal telinga kucing. Pada jumlah populasi yang masih mampu ditoleransi oleh tubuh, tungau tersebut tidak akan menyebabkan infeksi. Tetapi jika jumlah populasi melebihi ambang batas dan kemampuan tubuh untuk mentolerir rendah, gejala klinis baru akan terlihat seperti iritasi. Otodectes cynotis memiliki ukuran tubuh sangat kecil, panjangnya dibawah 1mm, dengan rata-rata 450 m. Kasus otodectic mange bisa terjadi pada satu telinga (unilateral) maupun kedua te1inga (bilateral). Kasus ini paling umum ditemukan pada kucing terutama kucing muda dan anak kucing dibawah satu tahun. Hal ini disebabkan system imunitas anak kucing dan kucing muda tersebut kurang resisten terhadap infestasi tungau O. cynotis O. cynotis hidupnya di permukaan kulit dan bersifat obligat terutama di saluran telinga. O. cynotis kadang-kadang juga ditemukan pada bagian tubuh lain, khususnya kaki, wajah, leher, dan ekor. Tungau ini sering ditemukan pada bagian ekor kucing, karena sifat kucing yang sering mengibas-ngibas bagian ekomya ke bagian kepala dan telinga untuk mengusir parasit yang ada atau saat telinga gatal. Keadaan ini dapat mengakibatkan bagian ekor menjadi rentan terhadap infestasi tungau setelah saluran telinga. Mekanisme timbulnya otitis yang disebabkan oleh O. cynotis adalah kontroversial Beberapa ahli menyatakan bahwa tungau hanya hidup pada reruntuhan epitel, sedangkan yang lainnya menyatakan bahwa tungau menusuk sel-sel epitel dan menghisap pembuluh kapiler serta pembuluh limfe. Pendapat terakhir tersebut didukung oleh adanya komponen-komponen serum yang bersifat host specific tungau. Tungau O. cynotis juga mampu menembus garis membran, menghisap pembuluh limfe yang akhirnya menghasilkan kerak pada kulit yang kadang-kadang kering, berwarna coklat, dan rapuh. Infestasi yang lebih hebat dapat menyebabkan timbulnya eksudasi yang bersifat purulen (cairan nanah) dan inflamasi yang akut. Selain itu juga dapat menyebabkan gangguan fungsi saluran telinga, luka-luka traumatik serta reaksi hipersensitif. Hewan terlihat mengalami kegatalan pada bagian telinga, menggelenggelengkan kepalanya yang kadang disertai cairan nanah dan hematoma. Beberapa kasus memperlihatkan gejala tortikolis dan konvulsi. Seorang dokter hewan dapat memastikan dengan baik bahwa kucing terinfestasi tungau O. cynotis jika kucing itu muda, kanal 5

telinga dipenuhi lapisan tilin dan timbul bau yang tidak menyenangkan. Tanda klinis lain yang mendukung diagnosis adalah adanya cairan telinga yang berwarna hitam seperti gilingan kopi (coffee grounds) (Heather & Rinnie, 1999). Pemeriksaan O.cynotis dapat dilakukan dengan otoskope atau dengan mikroskop bahkan dapat secara visual. Cahaya otoskope menyebabkan tungau keluar dari lapisan lilin telinga dan pindah ke permukaan yang gelap sehingga tungau mudah membentuk titik (spot). Pada pemeriksaan dengan otoskope dapat digunakan pisau yang tajam sebagai alat bantu untuk mengikis kulit (Anonim, 2001). Pemeriksaan mikroskop yaitu pemeriksaan reruntuhan kulit terhadap adanya O. cynotis dibawah mikroskop. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara menggunakan cotton tipped yang telah dibasahi karbo gliserin atau propilen glikol, kemudian dimasukkan ke dalam saluran telinga dengan cara dimiringkan dan diputar-putar. Selanjutnya sampel tersebut diamati di bawah mikroskop (Colville, 1991).

b. Ctenocephalides felis Pinjal ini yang sering terdapat pada kucing dan paling sering disebut kutu kucing. Pinjal berukuran kecil 1-2 mm, berwarna coklat tua atau hitam, tubuh pipih, suka meloncat-loncat, sering terlihat di sela rambut kucing ( Waluyo, 2007 ). Diagnosis Ctenocephalides felis pada kucing dapat dilakukan dengan melihat adanya kotoran seperti butiran pasir diantara bulu kucing, dan biasanya Ctenocephalides felis dapat ditemukan pada daerah yang berambut lebat seperti pada bagian leher. c. Sarcoptes scabei Sarcoptes scabei betina yang berada di lapisan kulit stratum corneum dan stratum lucidum membuat terowongan ke dalam lapisan kulit. Di dalam terowongan inilah Sarcoptes betina bertelur dan dalam waktu singkat telur tersebut menetas menjadi hypopi yakni sarcoptes muda dengan tiga pasang kaki. Akibat terowongan yang digali Sarcoptes betina dan hypopi yang memakan sel-sel di lapisan kulit itu, penderita mengalami rasa gatal, akibatnya penderita menggaruk kulitnya sehingga terjadi infeksi ektoparasit dan terbentuk kerak berwarna coklat keabuan yang berbau anyir. Sarcoptes tidak tahan dengan udara luar. karena kerak yang copot dari kulit memproteksi (jadi payung) tungau terhadap udara luar. Akibat lain kegiatan menggaruk tadi adalah

mundulnya infeksi sekunder, dengan munculnya nanah (pus) dalam luka tadi. Hal ini akan menyulitkan pengobatan. Gejala yang ditunjukkan adalah warna merah, iritasi dan rasa gatal pada kulit. Gejala lain adalah munculnya garis halus yang berwarna kemerahan di bawah kulit yang merupakan terowongan yang digali Sarcoptes betina. Gejala lainnya muncul gelembung berair pada kulit. Diagnosa pasti scabies dilakukan dengan membuat kerokan kulit pada daerah yang berwarna kemerahan dan terasa gatal. Kerokan yang dilakukan sebaiknya dilakukan agak dalam hingga kulit mengeluarkan darah karena Sarcoptes betina bermukim agak dalam di kulit dengan membuat terowongan. Untuk melarutkan kerak digunakan larutan KOH 10 persen. selanjutnya hasil kerokan tersebut diamati dengan mikroskop dengan perbesaran 10-40 kali.

DAFTAR PUSTAKA Anonimous. 2001. Ear Mites. Felin. Http://www.Vetcentric.com!privacy. Cfm. Aspinall, Victoria. 2006. The Complete Textbook of Veterinary Nursing. Elsevier, UK
Colville, 1. 1991. Diagnostic Parasitology for Veterinary Tehnicans. Americans Veterinary. Inc. United States of America. 4S1 him. Dharmojono, H., 2002. Kapita Selekta Kedokteran Veteriner (Hewan Kecil) buku 2. Pustaka Populer Obor. Jakarta.

Heather & K. Rinnie. 1999. Otodectic Mange. Http://www.oznvoo.Com/parasites. Html. Lane, D. R., 2003. Veterinary Nursing. Butterworth & Heinemann, UK. Rahardjo, S. 2009. Handling and Restraint Cat. Yogyakarta : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada.