Anda di halaman 1dari 18

MODUL PRAKTIKUM TEKNIK ARUS DAN TEGANGAN TINGGI

LABORATORIUM TEGANGAN TINGGI DAN PENGUKURAN LISTRIK

DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS INDONESIA

[MODUL PRAKTIKUM TEGANGAN DAN ARUS TINGGI] 2012 PERCOBAAN 1 PENGUJIAN ISOLASI UDARA I. TUJUAN 1. Mempelajari pengaruh bentuk elektroda pada kegagalan isolasi udara dengan tegangan tinggi bolak balik 2. Mempelajari pengaruh jarak elektroda pada kegagalan isolasi udara dengan tegangan tinggi bolak balik 3. Mengukur tegangan tinggi arus bolak balik (AC) dengan menggunakan prinsip pembagi kapasitas 4. Mengukur tegangan tinggi searah dengan menggunakan prinsip pembagi resistor 5. Mempelajari pengaruh jarak elektroda pada kegagalan isolasi udara dengan tegangan tinggi searah

II. DASAR TEORI A. TEGANGAN TINGGI BOLAK BALIK Yang dimaksud dengan Tegangan Tinggi dalam dunia teknik tenaga listrik adalh semua tegangan yang dianggap cukup tinggi oleh para teknisi listrik sehingga diperlukan pengujian dan pengukuran dengan tegangan tinggi yang semuanya bersifat khusus dan memerlukan teknik-teknik tertentu atau dimana gejala-gejala tegangan tinggi mulai terjadi. Batas yang menyatakan kapan suatu tegangan dapat dikategorikan dalam Tegangan Tinggi (High Voltage), Tegangan Tinggi Sekali (Extra High Voltage), atau Ultra Tegangan Tinggi (Ultra High Voltage) berbeda-beda untuk setiap negara atau perusahaan tenaga listrik di negara-negara tersebut dan biasanya tergantung pada kemajuan tekniknya masing-masing. Tegangan Tinggi Arus bolak balik dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu Tegangan Tinggi Arus bolak balik dengan frekuensi rendah dan Tegangan Tinggi arus bolak balik dengan frekuensi tinggi. Tujuan dari pembangkita Tegangan Tinggi yang paling utama adalah untuk kepentingan penyaluran (transmisi) tenaga listrik dari Pusat Pembangkit ke Beban. Dengan menggunakan sistem transmisi Tegangan Tinggi maka rugi-rugi yang terjadi pada sistem transmisi dapat dikurangi karena arus yang mengalir menjadi lebih kecil, sehingga

[MODUL PRAKTIKUM TEGANGAN DAN ARUS TINGGI] 2012 rugi-rugi tembaga yang terjadi pada kawat transmisi juga menjadi lebih kecil. Pada sistem transmisi arus bolak balik tiga fasa hal tersebut dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :

Dan

Dengan Pt P Vr R Cos = rugi-rugi daya pada saluran transmisi (Watt) = Daya beban pada ujung penerima trasmisi (Watt) = Tegangan antar fasa ujung penerima transmisi (Volt) = Tahanan kawat transmisi per Fasa (Ohm) = Faktor Daya Beban

Selain itu tegangan tinggi arus bolak balik frekuensi rendah juga diperlukan untuk menyelidiki apakah peralatan listrik yang terpasang pada jaringan tegangan tinggi dapat menahan tegangan yang melebihi tegangan operasinya untuk waktu terbatas karena kenaikan tegangan dengan frekuensi rendah dapat terjadi karena berbagai sebab, diantaranya adalah putusnya kawat tegangan tinggi yang panjanganya melebihi suatu batas tertentu atau karena adanya hubung singkat antara kawat transmisi tersebut yang pada kondisi tersebut tegangannya dapat mencapai 200% atau lebih dari tegangan nominal. Tegangan Tinggi Arus bolak balik dengan frekuensi tinggi juga diperlukan untuk berbagai macam pengujian, diantaranya adalah untuk menguji adanya kerusakan-kerusakan mekanis (keretakan, kantong udara, dsb) pada isolator terutama isolator porselen. Tegangan tinggi diperlukan untuk memungkinkan adanya lompatan api sementara frekuensi tinggi bertujuan untuk memungkinkan terjadinya rambatan pada kulit isolator yang diuji (phenomena skin effect). Apabila pada isolator yang diuji tidak terdapat kerusakan mekanis

[MODUL PRAKTIKUM TEGANGAN DAN ARUS TINGGI] 2012 seperti telah disebutkan diatas, dengan adanya frekuensi yang tinggi maka kegagalan tidak akan terjadi pada bagian dalam isolator tersebut tetapi akan melalui permukaan isolator, akan tetapi apabila pada isolator tersebut terdapat kerusakan pada bagian dalamnya maka kegagalan akan terjadi melalui bagian dalam dari isolator tersebut atau dengan kata lain apabila pada saat pengujian terlihat api pada bagian kulit isolator maka isolator tersebut tidak terdapat kerusakan mekanis atau dalam keadaan baik akan tetapi apabila tidak terlihat percikan api pada bagian kulitnya maka isolator tersebut terdapat kerusakan mekanis atau rongga udara pada bagian dalamnya yang berarti bahwa isolator tersebut tidak dalam keadaan yang baik. Peralatan yang digunakan untuk membangkitkan tegangan tinggi bolak balik adalah dengan menggunakan transformator, yang biasanya disebut transformator penguji (Testing Transformator). Trafo pengujian yang digunakan memiliki perbandingan jumlah lilitan lebih besar dibandingkan dengan Trafo Daya ( Power Transformer ) dan kapasitas kVA-nya kecil dibandingkan dengan kapasitas Trafo Daya. Biasanya dipakai transformator satu fasa, karena pengujian dilakukan fasa demi fasa. Untuk menjamin variabilitas, maka tegangan yang dihasilkan harus dapat diatur secara kontinu mulai dari nol sampai tegangan nominal. Untuk itu arus primer biasanya disulang dengan menggunakan auto trafo yang dipasang antara sumber tenaga dengan trafo penguji.

II. 1. Kegagalan pada Isolasi Udara Pada umumnya, kegagalan peralatan listrik pada waktu sedang dipakai disebabkan oleh kegagalan isolasi dalam menjalankan fungsinya sebagai isolator tegangan tinggi. Kegagalan isolasi disebabkan oleh beberapa faktor antara lain isolasi tersebut sudah dipakai untuk waktu yang lama, kerusakan mekanis, berkurangnya kekuatan dielektrik, dan karena tegangan lebih. Udara merupakan media isolasi yang paling banyak digunakan dalam teknik tegangan tinggi. Sehingga, perilaku udara akibat kenaikan tegangan harus diketahui dalam merencanakan penggunaan udara sebagai isolasi dalam instalasi. Oleh karen fenomena fisik kegagalan listrik di udara, tipe tegangan dan bentuk medan listrik yang diberikan oleh bentuk elektroda, adalah yang berpengaruh besar atas tegangan ketahanan.

[MODUL PRAKTIKUM TEGANGAN DAN ARUS TINGGI] 2012 II. 2. Pengukuran Tegangan Tinggi Bolak-Balik Metode pengukuran pada Tegangan Tinggi Arus bolak balik ialah dengan menggunakan pembagi kapasitor (capacitor divider), yakni dengan menghubungkan kapasitor dengan sebuh voltmeter, sehingga tegangan tinggi yang hendak diukur tegangannya tidak diukur langsung oleh voltmeter tersebut. Dalam hal ini:

Diamana: V1 V2 Cs = tegangan tinggi yang hendak diukur besarnya = tegangan di voltmeter = kapasitansi voltmeter

III. PERALATAN PERCOBAAN 1. 1 buah Transformator Penguji 100kV / 10 kVA ( TEO 100 / 10 ) 2. 3 buah Connecting Rod ( V ) 3. 2 buah Connecting Cup ( K ) 4. 2 buah Floor Pedestial ( F ) 5. 1 buah Support Insulator ( IS ) 6. 1 buah measuring Spark Gap ( MF ) 7. 1 buah Earthing / Grounding Switch ( ES ) 8. 1 buah Measuring capacitor 100 kV, 100 pF ( CM ) 9. 1 buahy Electrode ( EL ) 10. 2 buah Elektroda tipe jarum 11. 2 buah Elektroda tipe lempengan ( flat ) 12. Kabel pengontrol jarak antar elektroda OT 271 AKF 13. Instrumen Pengukuran Digital ( DMI 551 )

[MODUL PRAKTIKUM TEGANGAN DAN ARUS TINGGI] 2012 IV. RANGKAIAN PERCOBAAN

V. PROSEDUR PERCOBAAN 1. Susunlah rangkaian seperti gambar 2 2. Gunakanlah elektroda tipe flat tipe flat ( dibumikan ), pada MF Ukurlah tegangan kegagalan yang terjadi pada elektroda tersebut dengan tegangan bolak balik. Pengukuran dilakukan pada jarak antar elektroda sebesar 5, 10, 20, dan 30 mm 3. Catat besarnya tegangan kegagalan yang terjadi 4. Ulangi percobaan seperti diatas untuk bermacam bentuk elektroda, yakni : A. Tipe jarum tipe flat ( dibumikan ) B. Tipe bola tipe flat ( dibumikan ) C. Tipe jarum tipe jarum ( dibumikan ) 5. Catat kembali besarnya tegangan kegagalan tuntuk bermacam bentuk elektroda tersebut pada asing-masing jarak VI. PERTANYAAN DAN TUGAS 1. Buatlah grafik hubungan antara jarak antar elektroda dengan tegangan kegagalan yang didapat dari hasil percobaan untuk masing-masing bentuk elektroda tersebut 2. Mengapa tegangan gagal dengan plat jarum ? 3. Bandingkan tegangan tembus AC dan DC pada bentuk elektroda yang sama! antara jarum-jarum terkadang lebih tinggi dibandingkan

[MODUL PRAKTIKUM TEGANGAN DAN ARUS TINGGI] 2012 B. TEGANGAN TINGGI SEARAH Pemanfaatan tegangan tinggi searah dalam kehidupan sehari-hari memang belum banyak dikenal secara umum bila dibandingkan dengan tegangan tinggi bolak-balik, sebagai contohnya adalah penggunaan tegangan bolak balik pada sistem transmisim hal ini dikarenakan kesulitan untuk membangkitkan ataupun mentrasformasikan tegangan tinggi searah karena diperlukan perangkat inverter yang dilihat dari segi ekonomis memiliki harga yang mahal, akan tetapi dengan menggunakan sistem transmisi diperoleh keuntungan-keuntungan antara lain : 1. Dengan tegangan puncak dan rugi daya yang sama kapasitas penyaluran dengan tegangan searah lebih tinggi diibandingkan dengan tegangan bolak balik 2. Pengisolasian tegangan searah lebih sederhana 3. Daya guna (efisiensi) lebih tinggi karena faktor dayanya = 1 4. Pada penyaluran jarak jauh dengan tegangan searah tidak ada persoalan perubahan frekuensi dan stabilitas 5. Untuk rugi korona dan radio interferensi tertentu tegangan searah dapat dinaikkan lebih tinggi daripada tegangan bolak balik Pembangkitan tegangan searah dilakukan dengan menggunakan penyearah yang sama dengan penyearah pada rangkaian elektronika biasa akan tetapi tentu saja dengan komponen yang telah didesain untuk dapat menahan tegangan tinggi. Dioda yang digunakan pada rangkaian pembangkitan tegangan tinggi searah dapat berupa dioda tabung hampa ataupun dioda semi konduktor yang terpasang seri dengan sumber (tegangan AC) seperti terlihat pada gambar dibawah ini :

a. Diode tabung hampa

b. semikonduktor

[MODUL PRAKTIKUM TEGANGAN DAN ARUS TINGGI] 2012 Ditambah dengan kapasitor yang dipasang secara paralel. Dalam percobaan ini digunakan penyearah setengah gelombang, rangkaian yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah sebagai berikut.

Gambar 2. Rangkaian penyearah setengah gelombang Prinsip kerja dari rangkaian penyearah setengah gelombang adalah sebagai berikut: Dioda merupakan bahan semikonduktor yang terdiri dari anoda dan katoda. Prinsip kerja dari Dioda dapat digambarkan secara umum adalah Dioda akan ON apabila tegangan di anoda lebih besar daripada tegangan di katoda, pada saat ON dioda bekerja seperti rangkaian short circuit, sedangkan pada saat OFF dioda bekerja seperti rangkaian open, sehingga apabila diberi tegangan sinusoidal, maka dioda hanya akan ON (melewatkan) tegangan pada saat setengah perioda positifnya, sedangkan pada saat setengah perioda negatifnya maka dioda akan OFF (open).

[MODUL PRAKTIKUM TEGANGAN DAN ARUS TINGGI] 2012

Gambar 3. Pembentuk Gelombang DC Adapun fungsi penambahan kapasitor secara paralel adalah, pada saat setengah perioda positif dioda ON, sehingga menghubungkan sumber secara langsung pada kapasitor, dimana kapasitor akan dimuati sampai tegangan puncak, setelah gelombang sumber sedikit saja melewati puncak positif, maka dioda OFF, hal ini terjadi karena kapasitor mempunyai tegangan Vp volt, sedangkan sumber tegangannya mulai menurun, sehingga dengan tegangan sumber sedikit kurang dari Vp volt maka dioda akan OFF(katoda memiliki tegangan lebibh tinggi dari anoda), sehingga dengan OFFnya dioda, kapasitor mulai mengosongkan diri melalui resistansi beban, sehingga tegangan pada beban yang sama dengan kapasitor. Karen

[MODUL PRAKTIKUM TEGANGAN DAN ARUS TINGGI] 2012 konstanta wakto RC jauh lebih besar daripada periode gelombang sumber, maka kapasitor akan kehilangan hanya sedikit dari muatannya, apaila sumber mulai pada periode positif berikutnya maka pada saat tegangan sumber lebih besar dari tegangan sisa kapasitor, maka dioda akan ON kembali dan tegangan pada beban akan sama dengan tegangan pada sumber (sedangkan kapasitor akan mengisi muatan kembali hingga penuh) begitu seterusnya, sehingga tegangan yang didapatkan mempunyai penyearahan puncak yang lebih baik (gambar 3).

II.1. Pengukuran Tegangan Tinggi Searah Salah satu cara pengukuran tegangan tidak langsung tegangan tinggi searah ialah dengan mengunakan pembagi resistor ( resistor divider), yakni dengan menghubungkan resistor dengan voltmeter, sehingga tegangan tinggi yang hendak diukur tegangannya tidak diukur langsung oleh voltmeter tersebut.

Gambar 4. Prinsip Pembagi Resistor

[MODUL PRAKTIKUM TEGANGAN DAN ARUS TINGGI] 2012 Besarnya tahanan R1 jauh lebih besar dari tahanan R2, hal ini dimaksudkan agar kita dapat mengukur tegangan pada resistor R2 (dimana tegangannya kecil), kemudian dari tegangan R2 ini kita dapatkan besarnya tegangan V1 dengan rumus:

III. PERALATAN PERCOBAAN 1. 1 buah Transformer Penguji 100Kv / 10kVA (TEO 100/10) 2. 3 buah connecting Rod( V) 3. 4 buah Connecting Cup (K) 4. 4 buah Floor Pedestal (F) 5. 1 buah Support Insulator(IS) 6. 1 buah Measuring Spark Gap (MF) 7. 1 buah Earthing / Ground Switch (ES) 8. 1 buah Measuring Resistor 140kV dc,280 M (RM) 9. 1 buah Electrode (EL) 10. 1 buah Impulse Capasitor 140 kV, 2500Pf(cs) 11. 2 buah Dioda Penyearah 140 kV, 20mA(GS) 12. 2 buah Elektrode tipe jarum 13. 2 buah elektrode tipe lempengan(flat) 14. Kabel pengontrol jarak antar elektrode OT 275-AKF 15. Instrumen Pengukuran Digital(DMI 551) IV. RANGKAIAN PERCOBAAN

10

[MODUL PRAKTIKUM TEGANGAN DAN ARUS TINGGI] 2012

Gambar 5. Rangkaian Percobaan V. PROSEDUR PERCOBAAN 1. Susunlah rangkaian seperti pada gambar 5. 2. Gunakan elektrode tipe flat-tipe flat( dibumikan), pada MF. Ukurlah tegangan kegagalan yang terjadi pada elektrode tersebut dengan tegangan tinggi arus searah. Pengukuran dilakukan pada jarak elektroda sebesar 5; 10; 20; dan 30 mm. 3. Catat besarnya tegangan kegagalan yang terjadi. 4. Ulangi percobaan diatas dengan bermacam bentuk elektroda tipe Jarum-tipe flat (dibumikan) 5. Catat kembali besarnya tegangan kegagalan untuk bermacam bentuk elektrode tersebut pada masing-masing jarak. VI. PERTANYAAN DAN TUGAS (EVALUASI) Buatlah grafik hubungan antara jarak elektrode dengan tegangan kegagalan yang didapat dari hasil percobaan untuk masing-masing bentuk elektrode tersebut

11

[MODUL PRAKTIKUM TEGANGAN DAN ARUS TINGGI] 2012

PERCOBAAN II PENGUJIAN ISOLASI ZAT CAIR

I. 1. 2. 3.

TUJUAN Mengetahui karakteristik kegagalan isolasi zat cair Mengetahui pengaruh ketidakmurnian padat terhadap tegangan gagal pada isolator zat cair Mengetahui pengaruh ketidakmurnian cair terhadap tegangan gagal pada isolator zat cair

II. DASAR TEORI Isolasi berfungsi untuk memisahkan bagian-bagian yang mempunyai beda tegangan agar diantara bagian-bagian tersebut tidak terjadi lompatan listrik (flash over) atau percikan (spark over). Kegagalan isolasi pada peralatan tegangan tinggi yang terjadi pada saat peralatan sedang beroperasi bisa menyebabkan kerusakan alat sehingga kuntinuitas sistem menjadi terganggu. Dari beberapa kasus yang terjadi menunjukkan bahwa kegagalan isolasi ini berkaitan dengan adanya partial discharge. Partial discharge ini dapat terjadi pada material isolasi padat, material isolasi cair, dan juga material isolasi gas. Kegagalan pada material isolasi cair ini disebabkan oleh : 1. Teori kegagalan murni atau elektronik (yang merupakan perluasan teori kegagalan dalam gas), artinya dalam proses kegagalan yang terjadi dalam zat cair dianggap serupa dengan yang terjadi dalam gas. 2. Teori kegagalan gelembung udara atau kavitasi. Adanya gelembung udara dalam cairan merupakan awal dan penyebab kegagalan total dari zat cair dengan adanya gelembung pada zat cair dan tercampurnya material isolasi cair. 3. Teori kegagalan bola cair Ketidakmurnian yang tidak stabil dalam medan listrik (misalnya bola-bola air) dapat merupakan jembatan bertahanan rendah diantara elektroda dan dapat mengakibatkan kegagalan. 4. Teori kegagalan ketidakmurnian padat

12

[MODUL PRAKTIKUM TEGANGAN DAN ARUS TINGGI] 2012 5. Ketidakmurnian (misalnya butiran penghantar padat) dapat menyebabkan pembesaran medan listrik setempat. Apabila medan dalam zat cair melebihi nilai kritis titik tertentu maka di tempat itu zat cair akan gagal dan dapat menyebabkan kegagalan total. Beberapa sifat yang harus dipunyai oleh suatu isolasi zat cair adalah sebagai berikut: 1. Viskositas yang rendah Viskositas harus rendah sehingga isolasi zat cair dapat bersirkulasi dengan mudah dan air yang muncul pada perubahan suhu dari hawa mengembun dalam minyak dapat mengendap dengan cepatnya (sebagai sifat pendingin) 2. 3. Zat cair tersebut harus mempunyai sifat-sifat elektris yang baik (tegangan tembus yang tinggi sebagai parameter isolasi) Zat cair tersebut harus stabil.

Mekanisme Kegagalan Isolasi Cair Ada beberapa alasan mengapa isolasi cair digunakan antara lain: 1. Isolasi cair memiliki kerapatan 1000 kali atau lebih dibandingkan dengan isolasi gas, sehingga memiliki kekuatan dielektrik yang lebih tinggi menurut hukum paschen. 2. Isolasi cair akan mengisi celah atau ruang yang akan diisolasi dan secara serentak melalui proses konversi menghilangkan panas yang timbul akibat rugi energi. 3. Isolasi cair cenderung dapat memperbaiki diri sendiri (self healing) jika terjadi pelepasan muatan (discharge). Namun kekurangan utama isolasi cair adalah mudah terkontaminasi. Kegagalan isolasi (insulation breakdown, insulation failure) disebabkan karena beberapa hal antara lain: 1. 2. 3. Isolasi tersebut sudah lama dipakai Berkurangnya kekuatan dielektrik Karena isolasi tersebut dikenakan tegangan lebih Pada prinsipnya tegangan pada isolator merupakan suatu tarikan atau tekanan (stress ) yang harus dilawan dengan gaya dalam isolator itu sendiri agar supaya isolator tidak gagal. Dalam struktur molekul material isolasi, elektron-elektron terikat erat pada molekulnya, dan ikatan ini mengadakan perlawanan terhadap tekanan yang disebabkan oleh adanya tegangan. Bila ikatan ini putus pada suatu tempat maka sifat isolasi pada tempat itu hilang. Bila pada bahan isolasi tersebut diberikan tegangan akan terjadi perpindahan elektron-elektron dari

13

[MODUL PRAKTIKUM TEGANGAN DAN ARUS TINGGI] 2012 suatu molekul ke molekul lainnya, sehingga timbul arus konduksi atau arus bocor. Krakteristik isolator akan berubah bila material tersebut bercampur dengan bahan pengotor (impurity), seperti adanya arang atau kelembaban dalam isolasi yang dapat menurunkan tegangan gagal. III. PERALATAN PERCOBAAN 1. 1 buah Transformer Penguji 100kV/10kVA (TEO 100/10) 2. 3 buah Connecting Rod (V) 3. 2 buah Connecting Cup (K) 4. 2 buah Floor Pedestal (F) 5. 1 buah Support Insulator (IS) 6. 1 buah bejana pengujian dengan elektroda Rogohwski (MF) 7. 1 buah Earthing / Grounding Switch (ES) 8. 1 buah Measuring Capacitor 100kV, 100pF (CM) 9. 1 buah Electrode (EL) 10. 2 buah Elektrode tipe jarum 11. 2 buah Elektrode tipe lempengan (flat) 12. Kavel pengontrol jarak antar electrode OT 275-AKF 13. Instumen Pengukuran Digital (DMI 551) 14. Isolator zat cair (minyak trafo, minyak torsi, minyak kelapa, dll) 15. Pengotor/ketakmurnian padat (arang bubuk,dll) 16. Pengotor/ketakmurnian cair (air)

14

[MODUL PRAKTIKUM TEGANGAN DAN ARUS TINGGI] 2012 IV. RANGKAIAN PERCOBAAN

V. PROSEDUR PERCOBAAN A. Percobaan Kegagalan Isolasi Zat Cair 1. Susun rangkaian seperti gambar 1. 2. Tuangkan isolator zat cair pada bejana pengujian dengan hati-hati agar tidak menimbulkan gelembung pada minyak. 3. Diamkan selama beberapa saat agar menghilangkan gelembung udara yang masih mungkin terjadi. 4. Atur jarak antara celah elektroda sejauh 0.5cm. 5. Hubungan bejana berisi isolator zat cair dengan rangkaian percobaan. 6. Naikkan tegangan hingga mencapai tegangan gagalnya. 7. Catat besarnya tegangan gagal. 8. Matikan alat percobaan. 9. Aduk isolator zat cair dalam bejana secara perlahan, untuk menghilangkan gelembung udara sewaktu terjadi kegagalan. 10. Ubah jarak antar celah elektroda menjadi 1 cm dan 1.5 cm. 11. Ulangi percobaan mulai dari point 5 hingga point 9.

15

[MODUL PRAKTIKUM TEGANGAN DAN ARUS TINGGI] 2012

B. Percobaan Pengaruh Ketakmurnian Padat Pada Isolasi Zat Cair Terhadap Tegangan Gagal 1. Susun rangkaian seperti gambar 1. 2. Tuangkan isolator zat cair pada bejana pengujian dengan hati-hati agar tidak menumbulkan gelembbung pada minyak. 3. Masukkan satu cup arang bubuk sebaggai partikel ketakmurnian padat pada isolator zat cair dalam bejana, aduk hingga rata. 4. Atur jarak antara celah elektroda sejauh 0.5 cm. 5. Hubungkan bejana berisi minyak dengan rangkaian percobaan. 6. Naikkan tegangan hingga mencapai tegangan gagalnya. 7. Catat besarnya tegangan gagal. 8. Matikan alat percobaan. 9. Aduk isolator zat cair dalam bejana secara perlahan, untuk menghilangkan gelembung udara sewaktu terjadi kegagalan. 10. Ubah jarak antar celah elektroda menjadi 1 cm dan 1.5 cm. 11. Ulangi percobaan mulai dari point 5 hingga point 9. 12. Ulangi percobaan untuk jumlah partikel ketakmurnian padat (bubuk arang) sebanyak 2 dan 3 cup (isi ulang bejana dengan isolator zat cair yang baru).

VI.

PERTANYAAN DAN TUGAS Buat grafik jarak celah electrode vs tegangan gagal untuk isolator zat cair tanpa

pengotor dan untuk variasi ketakmurnian pada zat cair!

16