Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum

Evaluasi Nilai Biologis Komponen Pangan

NPR PROTEIN RANSUM DAN PENGARUH PROTEIN RANSUM TERHADAP PERTUMBUHAN


TIKUS DAN BERAT ORGAN
1) 2)
Ir. Sutrisno Koeswara, M.Sc dan Desty Gita Pratiwi,S.TP
1)
PJP Praktikum
2)
Asisten Praktikum

Kelompok/Golongan: D/4
Hurry Zamhoor P. (F24052173), Riska Rudiyanti Dewi (F24051879), Kamalita Pertiwi
(F24052300), Galih Nugroho (F24052308)

PENDAHULUAN vitro dilakukan di luar tubuh, berupa simulasi


pencernaan dalam wadah menggunakan
Protein adalah senyawa organik buffer enzim pencernaan yaitu pepsin secara
kompleks berbobot molekul tinggi yang tunggal atau diikuti dengan tripsin. Metode in
merupakan polimer dari monomer-monomer vivo dilakukan di dalam tubuh makhluk hidup,
asam amino yang dihubungkan satu sama lain berupa hewan percobaan atau manusia
dengan ikatan peptida. Molekul protein (Palupi dan Prangdimurti, 2008).
mengandung karbon, hidrogen, oksigen, Metode in vivo merupakan metode
nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. evaluasi nilai biologis pangan yang sensitif
Protein berperan penting dalam struktur dan dan dapat memberikan informasi yang akurat
fungsi semua sel makhluk hidup dan virus mengenai manfaat dan keamanan pangan
a
(Anonim , 2009) karena dilakukan dengan menggunakan
Protein ditemukan oleh Jöns Jakob organisme hidup secara utuh. Prinsip dari
Berzelius pada tahun 1838. Protein yang metode ini adalah melakukan pemberian
terkandung dalam bahan pangan setelah makan pada hewan atau manusia untuk
dikonsumsi akan mengalami pencernaan melihat manfaat suatu bahan pangan terhadap
(pemecahan/ hidrolisis) oleh enzim-enzim tubuh (Zakaria dkk, 2007).
protease menjadi unit-unit penyusunnya Penggunaan hewan percobaan
(Muchtadi, 1993). dilaksanakan secara sangat hati-hati dan
Struktur protein dapat dilihat sebagai tanpa penyiksaan. Di Amerika, laboratorium
hirarki, yaitu berupa struktur primer (tingkat yang menggunakan hewan percobaan
satu), sekunder (tingkat dua), tersier (tingkat senantiasa diperiksa petatutannya dalam
tiga), dan kuartener (tingkat empat). Struktur memanfaatkan hewan oleh federal
primer protein merupakan urutan asam amino government melalui peraturan the Animal
penyusun protein yang dihubungkan melalui Welfare Act and its amendments, yang
ikatan peptida (amida). Sementara itu, struktur dikeluarkan semenjak tahun 1966 (Zakaria
sekunder protein adalah struktur tiga dimensi dkk, 2007).
lokal dari berbagai rangkaian asam amino Metode yang digunakan dalam
pada protein yang distabilkan oleh ikatan praktikum ini adalah metode in vivo dengan
a
hidrogen (Anonim , 2009). menggunakan tikus percobaan. Tikus
Kekurangan Protein dapat percobaan yang digunakan adalah tikus putih
menyebabkan penyakit kwasiorkor. Sprague Dawley. Ransum yang diberikan
Kekurangan yang terus-menerus akan berbeda untuk masing-masing kelompok tikus,
menyebabkan marasmus dan berakibat yaitu ransum standar yang mengandung
kematian. Beberapa makanan sumber protein, kasein, ransum non-protein, dan ransum
yaitu : daging, ikan, telur, susu, tumbuhan sampel yang mengandung isolat protein
berbji,suku polong-polongan, dan lain-lain. kedelai. Kasein termasuk sumber protein
Metode yang dapat digunakan dalam hewani, sedangkan isolat protein kedelai
teknik evaluasi nilai gizi protein terdiri dari termasuk sumber protein nabati.
metode in vitro dan metode in vivo. Metode in
Kedelai merupakan komoditi yang Metode
sangat penting karena mengandung protein
dan lemak yang tinggi (Liang, 1999). Isolat 1. Perhitungan jumlah ransum yang harus
Protein Kedelai (Soy Protein Isolate) adalah ditimbang
protein kedelai yang dimurnikan hingga
b
kandungan proteinnya 90% (Anonim , 2009 ). Tabel 1. Komposisi Proksimat Ransum
Analisis untuk mengetahui pengaruh Tikus
protein ransum adalah melalui penentuan nilai
NPR (Net Protein Ratio), PER (Protein Parameter Kasein (%) ISP (%)
Efficiency Ratio), Biological Value (BV), Net
Kadar Protein 78,80 76,80
Protein Utilization (NPU), Protein Retention
Efficiency (PRE), Relative Protein Value Kadar Lemak 0,47 3,46
(RPV), Chemical score, dan Protein score. Kadar Air 11,19 9,83
Dalam praktikum ini, digunakan penentuan Kadar Serat Kasar 0,32 0,61
NPR dan PER untuk mengetahui pengaruh Kadar Abu 3,47 5,76
protein ransum terhadap pertumbuhan tikus Kadar Karbohidrat 5,75 3,54
dan berat organnya (Bender dan Doell, 1957).
PER (Protein Efficiency Ratio) adalah
suatu pengujian 28 hari untuk mengetahui Tabel 2. Komposisi Ransum Tikus (%)
pertambahan berat badan per satu gram
protein yang dikonsumsi (Muchtadi, 1993).
Komposisi Kasein Non
FDA menggunakan PER sebagai dasar untuk
Ransum (gr) (g) ISP (g) Protein (g)
persentase USRDA (US recommended daily
allowance (USRDA) untuk protein yang Protein 126,9 110,7 0
tampak pada label. Lemak
NPR (Net Protein Ratio) adalah suatu (minyak) 79,4 64,2 64
pengujian selama 10 hari untuk mengetahui Mineral Mix 45,6 36,1 40
jumlah protein yang digunakan untuk Air 35,8 31,6 40
pemeliharaan tubuh, jadi digunakan hewan Serat 9,6 7,8 8
percobaan yang diberi ransum non-protein. Vitamin 10 8,5 8
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui Pati 692,7 791,1 640
pengaruh pemberian beberapa jenis ransum
Basis 1000 850 800
terhadap nilai gizi protein dengan perhitungan
nilai PER (Protein Efficiency Ratio), NPR (Net
Protein Ratio), dan berat organ tikus Contoh perhitungan :
percobaan. ▪ Jumlah yang harus ditimbang dalam
basis 1000 g ransum kasein :
1. Protein = (1,6 x 100)/ (78,8 :
6,25)= 12,69 g x 10 = 126,9 g
BAHAN DAN METODE 2. lemak = 8 – (12,69 x 0,47)/100 =
7,94 g x 10 = 79,4 g
Bahan dan Alat 3. mineral = 5 – (12,69 x 3,47)/100 =
4,56 g x 10 = 45,6 g
Dalam praktikum ini digunakan tikus 4. serat = 1 – (12,69 x 0,32)/100 =
percoban dari galur Wistar sebanyak 26 ekor. 0,96 g x 10 = 9,6 g
Bahan-bahan yang digunakan sebagai ransum 5. vitamin = 10 g
tikus meliputi selulosa, minyak, tepung 6. air = 5 – (12,69 x 11,19)/100
kasein, tepung kedelai, isolat protein kedelai, =3,58 g x 10 = 35,8 g
vitamin, garam, dan air. Bahan kimia yang 7. pati = 1000 – (126,9 + 79,4 + 45,6
digunakan antara lain : eter dan alkohol. + 9,6 + 10 + 35,8) = 692,7 g
Alat-alat yang digunakan dalam
praktikum ini adalah : kandang pemeliharaan, 2. Pemberian Ransum
toples berisi kloroform, alat bedah (pisau,
gunting, pinset), alas/media bedah, kertas Jumlah total tikus yang digunakan
saring, aluminium foil, dan neraca analitik. dalam percobaan ini adalah 16 ekor yang
dibagi dalam 3 kelompok, yaitu :
1. Kelompok CAS (6 ekor) yang diberi
ransum standar protein (kasein) dan
air putih
2. Kelompok SOY (5 ekor) yang diberi diubah menjadi karbohidrat melalui
ransum isolat protein kedelai dan air glukoneogenesis.
putih Struktur protein dapat dilihat sebagai
3. Kelompok NON (5 ekor) yang diberi hirarki, yaitu berupa struktur primer (tingkat
ransum yang tidak mengandung satu), sekunder (tingkat dua), tersier (tingkat
protein dan air putih tiga), dan kuartener (tingkat empat). Struktur
primer menyangkut urutan asam amino yang
Kelompok Tikus menyusun protein dalam ikatan tulang
(CAS,SOY,NON) punggung peptida. Urutan asam amino yang
menyusun protein berpengaruh dalam bentuk
tiga dimensi dan sekaligus fungsi protein.
diberi ransum Struktur sekunder menyangkut pelipatan
ikatan peptida, sebagai akibat ikatan hidrogen
antara O gugus karboksil dengan H dari NH
ditimbang berat badan dan sisa ransum pada ikatan peptida (Umland dan Belama,
setiap hari selama 10 hari 1999). Struktur sekunder yang terbentuk,
dapat berupa :
3. Pembedahan dan penimbangan organ  alpha helix (α-helix, "puntiran-alfa"),
berupa pilinan rantai asam-asam
Tikus dimasukkan ke dalam toples yang amino berbentuk seperti spiral;
didalamnya terdapat kapas yang ditetesi  beta-sheet (β-sheet, "lempeng-beta"),
kloroform berupa lembaran-lembaran lebar yang
tersusun dari sejumlah rantai asam
amino yang saling terikat melalui ikatan
setelah pingsan, segera dikeluarkan, dan hidrogen atau ikatan tiol (S-H);
disemprot dengan alkohol  beta-turn, (β-turn, "lekukan-beta"); dan
 gamma-turn, (γ-turn, "lekukan-
gamma").
tikus diletakkan di atas talenan berlapis Struktur alpha helix terjadi karena pelipatan
alumunium foil dalam satu rantai polipeptida akibat ikatan
hidrogen (intramolekuler), sedangkan struktur
beta-sheet terjadi ikatan hidrogen atau
kulit perut tikus ditarik dengan pinset dan interaksi antara dua rantai polipeptida atau
dibedah dengan gunting/pisau lebih (Yudkin dan Offord, 2000)
Gabungan dari aneka ragam dari
struktur sekunder akan menghasilkan struktur
pembedahan dilakukan dari bagian tiga dimensi yang dinamakan struktur tersier.
bawah tubuh menuju bagian atas Struktur tersier biasanya berupa gumpalan.
Beberapa molekul protein dapat berinteraksi
secara fisik tanpa ikatan kovalen membentuk
organ tikus dikeluarkan (ginjal, hati dan oligomer yang stabil (misalnya dimer, trimer,
limfa) atau kuartomer) dan membentuk struktur
kuartener. Contoh struktur kuartener yang
terkenal adalah enzim Rubisco dan insulin
a
ditimbang (Anonim , 2009).
Metode pengukuran kualitas protein
dapat menggunkan 2 cara, yaitu:
(a) Biological assays
PEMBAHASAN (b) Analisis kimia
Sejak tahun 1919 hingga saat ini, PER
Protein memegang peranan yang telah banyak digunakan untuk mengevaluasi
sangat penting dalam semua sel hidup untuk kualitas dari protein dalam pangan. PER
menjalankan berbagai fungsi dan mengatur (Protein Efficiency Ratio) adalah suatu
sebagian besar aktivitas fisik dan kimia yang pengujian 28 hari untuk mengetahui
penting bagi tubuh (MacGregor, 2000). Dalam pertambahan berat badan per satu gram
tubuh, protein digunakan sebagai zat protein yang dikonsumsi (Muchtadi, 1993).
pembangun, menjaga dan memperbaiki FDA menggunakan PER sebagai dasar untuk
jaringan. Jika karbohidrat tidak mencukupi persentase USRDA (US recommended daily
sebagai sumber energi, maka protein dapat allowance (USRDA) untuk protein yang
tampak pada label.
Selain NPR dan PER, dapat juga lebih, dan produk ini hampir bebas dari
digunakan Biological Value (BV), Net Protein karbohidrat, serat dan lemak sehingga sifat
Utilization (NPU), Protein Retention Efficiency fungsionalnya jauh lebih baik daripada bentuk
(PRE), Relative Protein Value (RPV), protein lainnya (Wolf, 1975). Prinsip yang
Chemical score, dan Protein score. digunakan untuk mengisolasi protein total
Isolat protein merupakan bentuk protein adalah pengendapan seluruh protein kacang
yang paling murni. Dibuat dengan proses pada titik isoelektriknya, yaitu pH dimana
penghilangan kulit dan komponen non protein. seluruh protein menggumpal (Suwarno, 2003).
Kandungan proteinnya sebesar 90% atau

Tabel 3. Rekapitulasi Pertambahan Berat Badan, Konsumsi Ransum, Konsumsi Protein dan
Perhitungan NPR dan PER (10 hari)
Perlakuan Ulangan ∆ Berat Konsumsi Konsumsi NPR PER
Badan (g) Ransum Protein
Total (g) Total (g)
Kasein 1 15 87.5251 8.7525 2.9477 1.7138
2 37 134.8223 13.4822 3.5454 2.7444
3 15 94.4554 9.4455 2.7315 1.5881
4 20 89.5422 8.9542 3.4397 2.2336
5 0 90.6556 9.0656 1.1913 0.0000
6 18 77.3805 7.7380 3.7219 2.3262
Rata-rata 2.9296 1.7677

Non Protein 1 -11 52.3027 5.2303


2 -17 55.0214 5.5021
3 -7 63.3367 6.3337
4 -9 47.0519 4.7052
5 -10 49.0746 4.9075
x = -10,8

ISP 1 27 90.6953 9.0695 4.1678 2.9770


2 12 79.7416 7.9741 2.8592 1.5049
3 27,5 100.5503 10.0550 3.8091 2.7350
4 12 61.1519 6.1152 3.7284 1.9623
5 14 72.7162 7.2716 3.4105 1.9253
Rata-rata 3.5950 2.2209

Contoh perhitungan : NPR = ∆ Berat Badan (protein yang


∆ Berat Badan = Berat Badan Akhir – Berat diuji) - ∆ Berat Badan (non protein)
Badan Awal Konsumsi
Protein
Untuk Perlakuan Kasein Ulangan 1. = 15-(-10,8)
Konsumsi Protein = 10% x Konsumsi Ransum 8.7525
= 10% x 87.5251 = 2.9477
= 8.7525

PER = ∆ Berat Badan/ Konsumsi


Protein
= 15/ 8.7525
= 1.7138
Tabel 4. Rekapitulasi Berat dan Berat Relatif Organ Ginjal, Hati dan Limfa

Perlakuan Ulangan Berat Ginjal Hati Limfa


Badan
Akhir
Berat Berat Berat Berat Berat Berat
ginjal Relatif Hati Relatif Limfa Relatif
Ginjal Hati Limfa
Kasein 1 88 0.9583 0.0109 5.2276 0.0594 0.3303 0.0038
2 102 0.8470 0.0083 3.9281 0.0385 0.1145 0.0011
3 83 0.8470 0.0102 3.9281 0.0473 0.1145 0.0014
4 81 0.7841 0.0097 2.8481 0.0352 0.4012 0.0050
5 56 0.7721 0.0138 3.2837 0.0586 0.3713 0.0066
6 90 0.9583 0.0106 5.2276 0.0581 0.3303 0.0037
Rata-rata 0.8611 0.0106 4.0739 0.0495 0.2770 0.0036

Non 1
Protein 57 0.5842 0.0102 2.8509 0.0500 0.1760 0.0031
2 50 0.6153 0.0123 2.9277 0.0586 0.0737 0.0015
3 63 0.6953 0.0110 3.5584 0.0565 0.6953 0.0110
4 55 0.5458 0.0099 2.9458 0.0536 0.2871 0.0052
5 47 0.5154 0.0110 2.0814 0.0443 0.1832 0.0039
Rata-rata 0.5912 0.0109 2.8728 0.0526 0.2831 0.0049

ISP 1 88 0.3023 0.0034 4.0234 0.0457 0.2502 0.0028


2 78 0.7281 0.0093 3.1762 0.0407 0.2304 0.0030
3 96 0.8633 0.0090 4.5058 0.0469 0.1707 0.0018
4 65 0.6942 0.0107 3.4179 0.0526 0.2216 0.0034
Rata-rata 0.6470 0.0081 3.7808 0.0465 0.2182 0.0028

percobaan sebesar 1.7677 gram. Nilai PER


Grafik Perbandingan Nilai NPR dan PER kelompok tikus SOY adalah (2.2209). Dari
Perbandingan nilai PER dan NPR
4.0000 antarmasing-masing kelompok dapat dilihat
3.5000 pada Gambar 1.
3.0000
Hasil yang diperoleh tidak sesuai
2.5000
NPR dengan literatur. Seharusnya nilai PER dan
N il a i

2.0000
PER NPR kelompok CAS lebih besar dari kelompok
1.5000
SOY. Isolat protein kedelai memiliki skor asam
1.0000 c
amino 108, sedangkan kasein 136 (Anonim ,
0.5000
2009). Artinya, penggunaan asam amino
0.0000
untuk sintesis protein tubuh dari kasein lebih
CAS ISP
baik daripada dari isolat protein kedelai. Hal
Kelompok
lain yang mendukung lebih tingginya kualitas
protein kasein, karena kasein berasal dari
Gambar 1. Grafik Perbandingan Nilai NPR hewan. Protein hewani lebih mudah dicerna
dan PER daripada protein nabati, sehingga
bioavailabilitasnya lebih tinggi.
Berdasarkan hasil perhitungan NPR, Penyebab tidak sesuainya hasil dengan
dapat diketahui bahwa NPR kelompok tikus literatur adalah karena adanya satu tikus
SOY(=3.5950) bernilai lebih tinggi dari dalam kelompok CAS yang sakit, sehingga
kelompok tikus CAS (=2.9296). Begitu pun tidak mengalami pertumbuhan dan
hasil perhitungan nilai PER, PER rata-rata berpengaruh terhadap rataan. Jika tikus yang
untuk kelompok tikus CAS adalah 1.7677. Hal sakit tersebut tidak diikutsertakan dalam
ini berarti bahwa konsumsi protein sebanyak 1 perhitungan, maka nilai PER dan NPR
gram dapat menaikkan berat badan tikus
kelompok CAS akan lebih tinggi dari kelompok memperoleh protein nabati, lebih sehat dan
SOY. hidup dua kali lebih lama.

Grafik Laju Pertambahan Berat Badan selama 10 Hari Grafik Perbandingan Berat Organ

90.00 4.5
80.00 4
70.00 3.5

B erat O rg a n (g )
B e r a t B a d a n (g )

60.00 3
CAS ginjal
50.00 2.5
NON hati
40.00 2
SOY limfa
30.00 1.5
20.00 1
10.00 0.5
0.00 0
0 2 4 6 8 10 12 CAS NON SOY
Hari ke- Kelompok

Gambar 2. Grafik laju pertambahan berat Gambar 3. Grafik Perbandingan Berat


badan tikus selama 10 hari Organ

Berdasarkan Gambar 2, dapat diketahui Berdasarkan grafik perbandingan berat


bahwa laju pertumbuhan berat badan tikus organ antarkelompok, rataan berat organ
kelompok CAS dan SOY meningkat dengan ginjal dan hati untuk kelompok NON paling
rata-rata pertambahan berat badan masing- kecil diantara dua kelompok lainnya,
masing 17,5 dan 18,5. Jadi, pertambahan sedangkan organ limfa memiliki berat organ
berat badan kelompok SOY lebih tinggi yang cenderung sama. Berat relatif organ,
daripada kelompok protein. Total ransum yang diperoleh dari perbandingan berat organ
dikonsumsi oleh kelompok tikus SOY selama dengan berat badan tikus. Hal ini dilakukan
10 hari rata-rata adalah 83.3711 gram/tikus, untuk menghilangkan bias karena berat badan
sedangkan kelompok CAS adalah 97.7922 (ukuran tubuh) tikus yang beragam.
gram/tikus. Diketahui bahwa konsumsi ransum
kelompok tikus SOY lebih kecil dari konsumsi Grafik Perbandingan Berat Relatif Organ
ransum standar kasein, tetapi pertambahan
berat badan yang lebih tinggi dihasilkan dari 0.06

kelompok SOY. 0.05


Berat Relatif O rgan

Hal ini tidak sesuai dengan literatur yang 0.04


ginjal
diperoleh bahwa semakin tinggi konsumsi
0.03 hati
ransum, maka semakin tinggi protein yang limfa
diperoleh. Jumlah konsumsi protein adalah 0.02

10% dari konsumsi ransum total. Seperti telah 0.01


dijelaskan sebelumnya, bahwa terdapat satu 0
tikus dari kelompok CAS yang sakit, sehingga CAS NON SOY
menurunkan rataan pertambahan berat badan Kelompok
rata-rata. Tikus tersebut sama sekali tidak
mengalami kenaikan berat badan. Oleh Gambar 4. Grafik Perbandingan Berat
karena itu, jika tidak diperhitungkan, maka Relatif Organ
pertambahan berat badan kelompok CAS
akan lebih besar dari pertambahan berat Berdasarkan grafik perbandingan berat
badan kelompok SOY. Kelompok tikus NON relatif organ, dapat diketahui bahwa kelompok
mengalami penurunan berat badan karena NON memiliki nilai berat organ relatif tertinggi
tidak mendapat asupan protein dalam dibandingkan dua kelompok lainnya. Hal ini
ransumnya. disebabkan karena berat badan tikus
Protein hewani lebih mudah dicerna kelompok NON tidak mengalami kenaikan
sehingga bioavailabilitasnya dalam tubuh lebih berat badan, sebaliknya berat badannya
tinggi (Zakaria dkk, 2007). Hal ini menyusut karena tidak ada asupan protein.
menyebabkan kecepatan tumbuh atau Oleh karena itu, perbandingan berat organ :
bertambah beratnya lebih cepat daripada berat badan menjadi lebih tinggi karena nilai
konsumsi protein nabati. Selain itu, terbukti berat badannya lebih kecil dari kelompok
dalam suatu penelitian bahwa kelinci yang lainnya.
KESIMPULAN
c
Anonim . 2009. Nutrition Data.
Hasil praktikum menunjukkan bahwa http://www.nutritiondata.com
NPR dan PER kelompok tikus SOY bernilai [14 Januari 2009]
lebih tinggi dari kelompok tikus CAS. Hasil
tersebut tidak tidak sesuai dengan literatur. Bender A E, Doell B H 1957 Biological
Seharusnya nilai PER dan NPR kelompok evaluation of protein:
CAS lebih besar dari kelompok SOY karena A new aspect. Br J Nutr 11 139-
kualitas protein kasein yang berasal dari 148.
hewan lebih tinggi. Selain itu, protein hewani
lebih mudah dicerna daripada protein nabati, Liang, JH. 1999. Flourescence due to
sehingga bioavailabilitasnya lebih tinggi. interactions of oxidizing soybean oil
Total ransum yang dikonsumsi oleh and soy proteins. J. Food Chem.,
kelompok tikus SOY selama 10 hari rata-rata 66: 103-108
adalah 83.3711 gram/tikus, sedangkan
kelompok CAS adalah 97.7922 gram/tikus. Hal MacGregor, EA. 2000. Polymers in Nature.
ini tidak sesuai dengan literatur yang diperoleh John Wiley & Sons, New York.
bahwa semakin tinggi konsumsi ransum, maka
semakin tinggi protein yang diperoleh. Jumlah Muchtadi, D. 1993. Teknik Evaluasi NIlai
konsumsi protein adalah 10% dari konsumsi Gizi Protein. ITP-IPB, Bogor.
ransum total.
Penyebab tidak sesuainya hasil dengan Palupi, NS dan E Prangdimurti. 2008.
literatur adalah karena adanya satu tikus Modul Teknik Evaluasi Nilai
dalam kelompok CAS yang sakit, sehingga Biologis Vitamin dan Mineral. ITP-
tidak mengalami pertumbuhan dan IPB, Bogor.
berpengaruh terhadap rataan. Jika tikus yang
sakit tersebut tidak diikutsertakan dalam Suwarno, M. 2003. Potensi Kacang Komak
perhitungan, maka nilai PER dan NPR (Lablab purpureus (L)sweet)
kelompok CAS akan lebih tinggi dari kelompok sebagai bahan baku isolat protein.
SOY. Pengaruh tikus sakit terhadap berat [Skripsi]. Fateta, IPB, Bogor.
organ dapat menurunkan rataan pertambahan
berat badan rata-rata. Tikus tersebut sama Umland, JB, JM Belama. 1999. General
sekali tidak mengalami kenaikan berat badan. Chemistry. Third Ed. Brooks/ Cole
Oleh karena itu, jika tidak diperhitungkan, Publishing Company, USA.
maka pertambahan berat badan kelompok
CAS akan lebih besar dari pertambahan berat Zakaria, FR, NS Palupi, E Prangdimurti.
badan kelompok SOY. Kelompok tikus CAS 2007. Modul Prinsip Dasar Metode
dan SOY mengalami kenaikan berat badan, Evaluasi In Vivo: Penggunaan
sedangkan kelompok tikus NON mengalami Hewan Percobaan. ITP-IPB, Bogor.
penurunan berat badan karena tidak
mendapat asupan protein dalam ransumnya. Wolf, WJ. 1975. Soy Protein for fabricated
foods. Di dalam : Inglet, GE (ed).
DAFTAR PUSTAKA Fabricated foods. AVI Publishing
Company, Inc., Westport,
a
Anonim . 2009. Protein. Connecticut.
http://id.wikipedia.org/wiki/protein/
[12 Januari 2009] Yudkin, M dan R Offord. 2000.
biochemistry. Hougton Mifflin
b
Anonim . 2009. Protein. Company, Boston.
http://id.wikipedia.org/wiki/soyprotei
nisolate [12 Januari 2009]