Anda di halaman 1dari 10

SISTEM SISTEM RAPID PROTOTYPING

1. SISTEM RAPID PROTOTYPING BERBASIS CAIRAN


Sistem ini umumnya membangun prototipe dalam suatu bak yang berisi resin cair photocurable yaitu suatu resin anorganik yang akan menjadi solid apabila diberi radiasi laser , umumnya sinar laser yang digunakan mempunyai panjang gelombang didaerah panjang gelombang sinar UV Variasi dari teknik ini tergantung pada : Metoda laser Jenis resin cair Sistem naik turunnya meja elevator Sistem optik yang digunakan

1.1. 3D Systems Stereolithography Apparatus (SLA)


a. Tipe mesin : SLA 190, SLA 250, SLA 350, SLA 500

Gambar 1.1 Skematik Mesin Stereolithography Apparatus

b. Semua mesin SLA menggunakan resin cair photocurable (dapat menjadi solid setelah mengalami fotopolimerisasi) setelah diberi energi sebagai material prototipe. Ada beberapa grade dari resin yang dapat digunakan, dimana penggunaannya tergantung pada jenis laser yang ada dimesin dan kebutuhan sifat mekanik dari prototipe c. Proses ini membutuhkan pasca proses yang berupa pembersihan resin cair yang tertinggal dibagian prototipe. d. Proses pembuatan dengan 3D SLA ini dimulai dengan mengisi bak dengan resin cair dan mengatur meja elevator tepat dibawah permukaan cairan resin. Operator memasukkan file 3D CAD model solid kedalam system RP. Penyangga / pemegang mulai didisain untuk menjaga kestabilan prototipe selama proses pembuatannya. Translator akan mengkonversikan data CAD menjadi file STL . Unit kontrol kemudian memotong model dan penyangga menjadi serangkaian layer penampang yang mempunyai ketebalan 0,1 sampai dengan 0,5 mm (0,004 sampai dengan 0,020 in). Sistem optik scanning yang dikontrol oleh komputer kemudian memfokuskan laser beam secara langsung sehingga cairan resin photocurable pada layer penampang 2D yang akan dibentuk menjadi solid. Kemudian meja elevator akan turun sehingga cairan resin dapat menutupi lapisan resin solid tadi setebal layer yang berikutnya. Sebuah rol perata bergerak melintasi permukaan untuk meratakan lapisan resin cair berikutnya, kemudian laser akan membuat solid lapisan tersebut kembali. Proses ini berlangsung terus
2

menerus sampai prototipe secara utuh terbentuk.

e. Komponen utama mesin SLA : i.Komputer kontrol ii.Panel Kontrol iii.Laser iv.Sistem Optik v.Bak f. Software yang digunakan i.3D Verify Module Software ini dipergunakan untuk memperbaiki file STL ii.View module Software ini digunakan untuk membuat irisan penampang /layer dari solid model, pengecekan visual dan orientasi model solid untuk mencapai proses yang optimal . iii.Merge Module Dengan menggunakan software ini beberapa file SLI dapat digabungkan kedalam sebuah group dan digunakan bersama-sama. iv.Vista Module Software digunakan untuk mendisain penyangga v.Part Manager Module Software module ini adalah tahap awal untuk mempersiapkan proses pembuatan prototype. Software ini membuat suatu format spreadsheet yang mana file STL dimasukkan dan di set up dengan pendekatan proses dan penambahan parameter proses .

vi.Slice Module Ini merupakan tahap kedua dalam persiapan proses. Software ini mengkonversi spreadsheet dari part manager module menjadi suatu model yang terdiri dari irisan penampang 3D atau layer vii.Converge Module Tahap ini merupakan tahap ketiga/akhir persiapan Proses dimana file akhir yang digunakan oleh SLA dibuat

g. Prinsip dasar SLA: i.Prototipe dibuat dari resin cair photocurable yang menjadi solid apabila suatu laser beam dengan mencukupi ii.Proses kekuatan yang melintasi pembentukan

permukaan dari resin. dilakukan secara layer per layer , masing-masing layer di scan oleh sistem optik scan dan dikontrol oleh suatu meja mekanisme turunnya

elevator setelah proses solid resin cair per layernya selesai. h. Fotopolimerisasi :

Resin Fotopolimer UV curable adalah suatu resin yang diformulasikan dari fotoinitiator dan cairan monomer reaktif. Polimerisasi yaitu proses penggabungan molekul-molekul kecil (monomer) menjadi suatu rantai molekul yang lebih besar (polimer) . Fotopolimerisasi adalah polimerisasi yang ditandai dengan suatu proses fotokimia merupakan reaksi dimana reaksi terjadi karena adanya eksoterm . Formulasi dari energi induksi dari sumber radiasi. Polimerisasi dari polimer umumnya fotopolimer distabilkan sehingga tidak dapat bereaksi pada temperatur ruang. Suatu katalis diperlukan untuk polimerisasi pada harga yang memungkinkan. Katalis ini umumnya merupakan radikal bebas yang dapat dibangkitkan secara panas atau fotokimia. Sumber dari suatu radikal yang dibangkitkan secara fotokimia adalah photoinitiator, yang bereaksi dengan suatu actinic photon untuk memproduksi radikal - radikal yang merupakan katalis dari proses polimerisasi. Polimerisasi radikal bebas dapat digambarkan sebagai berikut, molekul photoinitiator , Pi, yang dicampurkan dengan monomer, M dipanasi dengan sinar UV dari actinic photon , dengan energi sebesar hv. Photoinitiator menyerap beberapa photon dan dinaikkan ke keadaan tereksitasi . Beberapa dari photon yang tereksitasi tadi dikonversi menjadi molekul yang reaktif, P , setelah melalui beberapa tahap transformasi energi kimia yang kompleks, molekul-molekul ini kemudian bereaksi dengan suatu molekul monomer untuk membentuk polimerisasi molekul awal, PM , ini adalah rantai tahap awal. Suatu saat rantai ini diaktifkan, penambahan molekul monomer berlangsung terus sampai ke reaksi rantai tahap pembangkitan (pembentukan rantai molekul yang lebih
5

panjang), PMMM sampai batas pembentukan

rantai terhenti.

Reaksi yang lebih panjang dipertahankan, yang akan dinaikkan hanya berat molekul dari polimer hasil. Juga, apabila molekul monomer mempunyai tiga atau lebih kelompok kimia reaktif, polimer hasil akan berhubungan silang, dan ini akan membentuk suatu jaringan molekul kontinyu yang tak dapat dipecahkan . Selama polimerisasi sangat penting polimer- polimer cukup saling berhubungan silang sehingga molekul-molekul yang dipolimerisasi tidak menjadi putus kembali menjadi monomer cair. Molekul-molekul yang di fotopolimerisasi harus juga memiliki kekuatan yang cukup untuk menjaga strukturnya sementara lapisan resin yang sudah menjadi solid mengalami beberapa gaya selama pelapisan kembali. Sementara radikal bebas fotopolimerisasi menjaga kestabilan dengan baik dan yield adalah berdasarkan acrylate , yaitu kimia lain yang lebih baru yang dikenal dengan fotopolimerisasi cationic yang terletak dalam cationic initiator , umumnya iodinium atau garam sulfonium, untuk memulai polimerisasi. Secara komersil monomer cationic sudah termasuk epoksi, monomer yang dapat dipolimerisasi secara cationic, dan vinylethers. Resin cationic adalah merupakan material yang paling menarik karena mempunyai sifat fisik dan mekanik yang baik, tetapi umumnya proses ini memerlukan waktu pencahayaan yang lama atau daya laser yang tinggi i. Teknologi Layering ( pelapisan ) , Laser, dan Laser Scanning. Hampir semua system RP menggunakan teknologi layering dalam pembuatan komponen prototipe. Prinsip dasarnya adalah
6

tersedianya software komputer untuk memotong/mengiris modelmodel CAD menjadi layer-layer (lapisan lapisan) dan mereproduksinya kedalam suatu alat keluaran seperti sebuah sistem scanning laser Ketebalan layer dikontrol oleh suatu mekanisme elevasi landasan yang akurat. Mekanisme ini akan berkaitan secara langsung pada ketebalan irisan dari model CAD dan menjaga ketebalan dari resin. Aspek batas dari system RP mempunyai kecenderungan untuk menjaga ketebalan dari pada resolusi dari mekanisme elevasi landasan Komponen kekuatan SLA adalah yang penting dari proses pembentukan kemampuannya untuk radiasi yang prototipe adalah laser dan system optical scanningnya. Kunci dari difokuskan langsung secara cepat dari daya yang tepat dan panjang gelombang pada permukaan cairan resin fotopolimer, membentuk pola dari fotopolimer yang akan disolidkan sesuai dengan data penampang potong yang dibangun oleh komputer. Sistem optical scanning pada SLA adalah sebagai berikut; suatu laser beam dengan daya dan panjang gelombang yang spesifik dikirimkan melalui sebuah teleskop expanding beam melewati sepasang lensa yang bersilangan sumbunya , galvanometer pengarah, dan kaca scanning beam. Beam tiba pada suatu fokus dipermukaan cairan resin fotopolimer , resin dengan suatu ketebalan yang ditentukan sebelumnya menjadi solid sesudah suatu pencahayaan yang dikontrol waktunya (berbanding terbalik dengan kecepatan scanning dari spot laser) Solidifikasi dari cairan resin tergantung pada energi per unit luas ( atau pencahayaan) yang ditempatkan selama gerakan dari spot yang difokuskan pada permukaan dari fotopolimer. Untuk menjaga keakurasian dan konsistensi selama pembuatan prototipe yang menggunakan SLA , kedalaman dan
7

lebar garis pen-solid-an harus dikontrol , seperti juga keakuratan pencahayaan penting.sekali Parameter-parameter yang mempengaruhi performa dan fungsi dari komponen adalah sifat fisika dan kimia dari resin ; kecepatan dan resolusi dari system scanning optik ; daya , panjang gelombang , ukuran spot , dan tipe dari laser yang digunakan, system pelapisan ulang, dan pasca proses pen-solid-an. dan ukuran spot yang difokuskan menjadi

j. Pemakaian Teknologi SLA menyediakan metode perusahaan manufaktur untuk yang dibenarkan bagi waktu untuk mengurangi

pemasaran , menurunkan biaya pengembangan produk , mencapai kontrol yang lebih besar pada disain prosesnyadan disain pengembangan produk . Daerah pemakaian meliputi : 1. Modelmodel untuk konseptu alisasi an, i. 2. Prototipe untuk disain,
8

, dan

pengepak presentas

analisis , verifikasi , dan uji fungsiona l 3. Master untuk tooling prototype dan produksi tooling volume rendah. 4. Pola untuk investme nt casting, sand casting , dan molding 5. Tool untuk fixture dan disain tooling
9

dan produksi tooling. Software dikembangkan untuk mendukung pemakaian ini termasuk Quickcast, suatu tool software yang mampu membuat pola resin yang memiliki keakuratan tinggi sehingga investment casting dapat secara cepat memproduksi benda coran yang memiliki kualitas tinggi.

10