Anda di halaman 1dari 101

Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Namaku Izrail!______________________________________________________2
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Namaku Izrail !
Risalah Mawas Diri
Atmonadi

Namaku Izrail!______________________________________________________3
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Prakata

Bismillahirrahmaannirraahiim

Segala puji dan syukur sepatutnya hanya ditujukan untuk Allah SWT, Sang Maha
Pencipta yang menebarkan kasih sayang untuk semua makhluk-Nya, yang maujud
dalam bentuk materi fisik maupun yang diselimuti kegaiban-Nya dan yang
menggenggam kehidupan semua makhluk-Nya. Al-Iradah-Nya adalah kehendak dan
keinginan-Nya yang tak terbantahkan, al-Qudrah-Nya adalah Arasy
Kemahakuasaan-Nya yang menopang semua alam yang ada beserta isinya, yang
menghendaki Keserbarahasian-Nya terungkap dari Perbendaharaan-Nya yang
tersembunyi dalam maujud al-Haba (gelombang gravitasi) dan Nur Muhammad
(gelombang elektromagnetik) dengan perintah “Kun Fa Yakuun”.

Shalawat dan salam kusampaikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai maujud
Af’al, Asma-asma dan Sifat-sifat-Nya yang paripurna, Adimanusia, Insan Kamil dan
Gurujati semua manusia, keluarga dan kerabatnya, para sahabatnya, para aulia dan
para pewaris serta penyampai ilmunya, yang meneruskan rahmatnya kepada seluruh
alam dan penghuninya, yang merentang menembus batas-batas ruang-waktu : dulu,
kini dan nanti.

Kematian pastilah akan datang, kepada semua makhluk yang bernyawa, dimanapun
ia berada, dan dalam keadaan apapun. Maka dalam banyak kesempatan, Nabi
Muhammad SAW selalu mengingatkan kepada umatnya untuk mewaspadai setiap
saat gerak-geriknya. Bahkan, ia yang menjadi Habib Allah (Kekasih Allah) penutup
para Nabi dan Rasul pun tidak luput dari datangnya ajal, lengkap dengan segala rasa
takut , kengerian, dan penderitaannya. Kematian yang dialami oleh Nabi SAW adalah
suatu hikmah dan pelajaran bagi kita semua, bahwa Allah SWT Maha Berkehendak,
sehingga dahsyatnya sakratul maut dan datangnya Malaikat Maut tak akan dapat
dielakkan oleh semua makhluk-Nya.

Namaku Izrail!______________________________________________________4
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Dalam literatur Islam, malaikat maut dikenal dengan nama Izrail, dialah yang
merupakan salah satu malaikat utama Allah yang bertugas mencabut nyawa semua
makhluk yang bernyawa. Izrail yang akan datang setiap saat kepada manusia, adalah
suatu peringatan yang nyata, bahwa manusia semestinya lebih mawas diri atas segala
perilakunya sendiri selama ia hidup di dunia. Risalah tentang Izrail ini, yang saya beri
judul “Akulah Izrail!”, kurang lebih dimaksudkan untuk mengingatkan saya dan kita
semua, bahwa Izrail pasti akan datang. Ia adalah pelaksana kiamat kecil yang
nampaknya saat ini banyak tidak disadari oleh kita semua. Sehingga, seringkali kita
alpa dan lalai untuk mengingat mati. Risalah ini memang risalah mawas diri tentang
kematian, tentang berakhirnya semua peluang kita untuk mengumpulkan bekal guna
kembali kepada-Nya. Apakah kita kembali dengan meniti Shiraatal Mustaqim atau
terpelanting dari jembatan itu, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mengingat
kematian.

Tak ada bekal yang dapat kita bawa saat kematian kita, kecuali amal shaleh sebagai
orang yang beriman kepada-Nya dan kain kafan, tidak harta benda, intan, emas,
permata, tidak juga istri yang kita cinta, ataupun anak-anak kita, kecuali amal shaleh
yang diridhai oleh-Nya. Maka ingatlah kematian, dan bersiap-siaplah dengan bekal
yang dapat Anda bawa.

Akhir kata, semoga risalah tentang kematian ini dapat menjadi pelajaran bagi kita
semua.

Wassalammu’alaikum Wr. Wb

Lebak Bulus, 27 November 2004


Atmonadi

Namaku Izrail!______________________________________________________5
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

“Wahai anakku! Jika ada sesuatu yang tak bisa kau pastikan bila dia datang,maka
persiapkan dirimu untuk menghadapinya sebelum dia mendatangimu sedang engkau
dalam keadaan lengah” (Nasihat Luqman kepada anaknya)

Namaku Izrail!______________________________________________________6
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

1. Prolog

"Namaku Izrail".
Tiba-tiba saja ia berdiri dihadapanku. Memperkenalkan diri entah dari mana. Terus
terang, aku melongo ketika orang atau lebih tepatnya mahluk itu ada dihadapanku.
Entah kenapa, aku tidak terlalu kaget. Hanya saja, memang muncul rasa heran dan
takut. Tubuhku yang sedang berbaring setengah terangkat. Aku menatap bengong
melihatnya berdiri di hadapanku. Meski rasa takut menyergapku, aku seakan-akan
tidak merasa asing dengan sosok ini. Kayanya pernah kenal, tapi dimana gitu. Dalam
beberapa saat aku seperti pikun. Lupa. Tepatnya nggak tau apakah pernah bertemu
dengannya atau tidak. Sepertinya aku mengalami dejavu, pikirku.

Cukup lama ia memandangku dengan diam, setelah dia menyebutkan namanya


begitu saja. Padahal aku nggak minta diperkenalkan. Boro-boro perkenalan, dia begitu
saja mengada, makanya siapa diapun aku nggak ngeh. Izrail katanya. Siapa ya?
Rasanya nama itu pernah kudengar dengan baik. Tapi aku lagi-lagi tidak mampu
menggali memori dari otakku yang tiba-tiba menjadi beku.

Ia nampaknya termasuk mahluk yang tak mau tau. Tepatnya super cuek. Apakah aku
mau atau tidak, nampaknya ia memang tak peduli. Bilamana ia mau, ia akan
memperkenalkan diri. Bila tidak, ya sudah lewat begitu saja. Tak peduli orang yang
disapanya mau atau tidak. Apakah yang di datanginya jantungan atau tidak. Baginya
itu nampaknya tidak menjadi soal benar. Apalagi kemunculannya yang tiba-tiba begitu.
Seperti menyergap dari ketiadaan, muncul begitu saja. Bagi yang penakut, mungkin
kemunculannya bisa membuat semaput. Dia seperti hantu. Untungnya aku termasuk
bukan manusia yang kagetan. Sehingga kemunculannya yang tiba-tiba itu tidak terlalu
membuatku semaput. Tapi yang jelas memang otakku jadi beku. Seperti sekarang ini.
Memandang dengan bodoh kesosok yang luar biasa ganteng ini.

Kupikir-pikir, memang aku belum pernah melihat wajah seperti dia ini. Wajahnya lebih
mirip manekin yang dipajang ditoko-toko ketimbang manusia. Halus, berkulit bersih,
bahkan seperti menimbulkan pendar sinar. Meskipun, kebersihan kulitnya agak sedikit

Namaku Izrail!______________________________________________________7
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

tidak lazim dengan warna bersih yang memerah dadu seperti pipi bayi itu. Dia
senyam-senyum dikulum, seperti seorang teman lama yang sedang menggoda. Wah,
pikirku, ni orang kalau ikut kontes Indonesian Idol atau AFI 1 barangkali langsung
menang, yang lainnya langsung bertumbangan.

"Sudah tau siapa aku?", lanjutnya memecahkan kebingunganku.


"Eh..emmmm yyyaa...siapa ya", dengan sedikit gemetaran dan tergagap-gagap aku
menjadi grogi, tapi lagi-lagi aku masih belum ngeh siapa dia, padahal dia sudah
menyebutkan namanya. Nama itu memang terdengar tidak asing. Cuma, aku lagi-lagi
lupa dimana pernah mendengar nama itu.

Dia tersenyum simpul. Swear, senyumnya termasuk kategori senyum manis bagi
makhluk berjenis kelamin laki-laki (terus terang saja gender ini perlu saya buat dengan
font italyc karena saya sendiri bingung ni orang laki-laki atau perempuan).

Kemudian dengan perlahan ia berkata" Aku diminta menjemputmu...".


"Siapa?", tanyaku masih setengah bingung.
"Dia...", katanya pendek.
"Dia siapa ya?", tanyaku lagi, otakku masih beku, tak bisa menduga dan tak tahu
dengan yang ia maksud.

"Kkkamu sendiri siapa?", tanyaku dengan sedikit gagap tetapi lebih mantap.

Keberanianku muncul begitu saja. Nampaknya, ia tidak kaget dengan reaksiku yang
nampaknya masih belum begitu jelas. Aku sendiri masih mencoba mengingat –ingat.
Tapi, rasanya memang sel-sel kelabu otakku jadi tumpul tak bisa berpikir. Entah
kenapa, kemampuan berpikirku jadi mandeg. Daya ingatku seperti berputar-putar tak
menentu, tak bisa mengatur alur logis yang benar. Melompat-lompat dan
terputus-putus begitu saja seperti komputer yang perangkat lunaknya error karena
kerusakan prosesornya . Kira-kira pernah kenal dimana dengan sosok aneh ini. Tanpa

1
AFI = Akademi Fantasi Indonesia

Namaku Izrail!______________________________________________________8
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

ba bi bu lagi nongol dan langsung memperkenalkan diri. Kucoba mengingat-ingat


sekiranya aku pernah bertemu dengannya. Disuatu tempat, di suatu waktu.

Disela-sela kepikunannku, aku mencoba mengingat-ingat. Apakah teman sekolahku


dulu pikirku. Ah, kelihatannya bukan. Tapi tetap tak bisa kuingat, siapakah pemilik
sosok ganjil dihadapanku ini. Lagi pula kami masih sering kumpul-kumpul satu sama
lain, meskipun sudah hampir 10 tahun angkatan kami habis alias pada lulus dari
bangku kuliah. Ah, nampaknya bukan. Pelan-pelan kuhimpun daya ingatku, sedikit
demi sedikit aku merasakan otakku melumer.

Tak ada dari temanku yang penampilannya mirip dia ini. Meskipun dari lain jurusan,
aku masih ingat satu persatu beberapa temanku semasa kuliah dulu. Frame demi
frame aku mencoba memutar kembali wajah-wajah temanku. Si Bambang yang
pernah dipenjara dulu karena aksi bakar ban di kampus. Atau si Nirwan yang jadi
budayawan. Walaupun aku cuma satu dua kali ketemu dengan dia toh aku masih
mengingat wajahnya. Bahkan beberapa teman satu kampus yang cuma kenal muka
pun aku masih rada-rada ingat. Lha yang ada didepanku ini benar-benar asing banget.
Walaupun samar-samar wajah itu seperti familiar dengan ku.

Wajah sesosok wanita melintas sekilas, Ah tapi bukan dia, bukan dia, dia sudah lama
pergi. Aku tepiskan bayangan yang melintas dari masa lalu itu. Entah kapan
ketemunya akupun tidak tau. Tapi memang ada satu wajah yang sempat melintas
dikepalaku, tapi tidak mungkin dia, soalnya dia memang cewek. Tapi, yah yang berdiri
di hadapanku ini memang susah kujelaskan apakah cewek atau cowok. Ahhh,
mungkin kawan se SMA dulu pikirku. Mencoba tidak menyerah, untuk mengingat dia
yang tiba-tiba berdiri didepanku. Ingatanku pun melayang ke SMA dulu untuk
mencari-cari dan mencocokkan siapa gerakan teman SMA yang mirip-mirip dia ini.
Lagi-lagi aku tidak menemukan sesorang pun yang mirip dia. Kemudian kujelajahi
kenangan SMP dan sekolah dasar.

Blank...

Namaku Izrail!______________________________________________________9
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Benar-benar blank nih pikirku, persis komputer yang tidak ada BIOS-nya. Siapa dia
ini ya. Aku membatin, sambil menatap sosoknya. Mereka-reka, mencoba mengingat
dan menggali dari sel-sel kelabu diotakku. Uhh..., rasanya...nggak ada ingatan sama
sekali tentang sosok yang satu ini.

"Ngomong-ngomong sebenarnya kamu ini siapa...", kegugupan dan kebengonganku


sudah hampir lenyap. Ganti keingintahuanku muncul tentang dia sendiri.

Sejenak ia menatapku lekat-lekat, kemudian "Ehm..aku sebenarnya pernah kamu


kenal duluuuuu sekali". Ia malah menjadi sedikit grogi. Ia mencoba memberi
penekanan pada kata dulu. Jadinya terdengar sedikit aneh. Dan terus terang, senyum
dikulumnya itu membuat beberapa bulu-bulu halus ditekukku mulai meremang.

"Dddulu kapan yyya?" lanjutku setengah gemetar menuntaskan keingintahuanku.


"Ya dulu, sewaktu kamu baru mau disinari oleh Dia".
Ha....apa maksudnya "disinari". Disinari apaan ya.

(Sepotong ayat tiba-tiba melintas, membuka suatu kenangan asosiatif masa yang
telah lama sekali berlalu, Alif Laam Mim Raa,(QS 13:1).

Lagi pula, kok ucapannya sangat takzim sewaktu ia ucapkan "Dia". Bahkan setengah
takut-takut.

"Aku diminta segera menjemputmu", katanya sedikit lebih takzim kepadaku.


"Haaa".
Aku melongo antara bingung, heran, takut, dan takjub menjadi satu .

Namaku Izrail!______________________________________________________10
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

2. Post Mortalitas

Entah kenapa beberapa hari ini aku agak lemes. Ya bener lemes banget. Padahal aku
nggak merasa lelah lho. Santai-santai aja malah. Beberapa kawanku dikantor malah
melihatku sedikit lebih tenang.

"Kok tumben lu rada alim sekarang", ujar Andi yang biasanya memulai obrolan dengan
ledekan dulu. Cengar-cengir aku menanggapinya dengan malas-malasan.
"Iya Nih. Gue juga nggak tau beberapa hari ini gue kayanya lebih tenang. Santai BGT.
Ndak risau apapun. Walaupun proyek bejibun gini...". Kuhisap Djisamsoe-ku lalu
kuhembuskan asapnya kemukanya. Dia batuk-batuk.
“Brengsek lu...!”, umpatnya. Aku nyengir jahil.

Mulanya aku sendiri tidak terlalu menyadari kediamanku ini. Dirumah pun aku
cenderung berdiam diri atau melakukan aktivitas yang jarang-jarang kulakukan
dengan rutin. Beberes buku lah, merapikan lemari lah, menyapu kolong lah. Atau
jalan-jalan seputar kampung sambil sesekali menyapa tetangga yang lama tak ketemu.
Padahal biasanya aku rada cuek juga. Keluarpun kalau bukan untuk makan, ke kantor,
ya kalau ada keperluan lain seperti ke warnet atau ke toserba. Selain itu, belakangan
ini kata si Bibi aku kok kaya orang dapet rejeki. Menghamburkan uang dengan murah
hatinya.

“Hehehe...tumben nih dapet rejeki nomplok ya”, kata bi Ida cengengesan sewaktu aku
memberikan tip 50 ribu dengan tiba-tiba. Padahal aku nggak minta tolong apa-apa
kepadanya. Terus sewaktu ada pengamen atau tukang minta-minta, akupun merogoh
kocek dengan enteng. Bukan 500 atau 1000 perak seperti biasanya kalau memberi.
Namun 10 ribu, 5 ribu. Bi Ida cuma bisa melongo saja melihat kemurah hatianku yang
mendadak itu. Ngiri juga kali. 10 ribu buat dia akan berarti juga. Biasanya dia cuma
akan berkata, "Lumayan, untuk jajan anak-anak", katanya setiap kali aku beri 10 ribu
perak karena mau membelikan makanan untukku atau sekedar mengambilkan cucian
jasku di binatu.

Namaku Izrail!______________________________________________________11
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Aku sendiri sejauh ini merasa biasa-biasa saja, walaupun orang lain melihatnya
sedikit bingung. Yang kupikir-pikir agak aneh malah aku melihat segala benda menjadi
tanpa makna, tanpa arti. Koleksi bukuku yang kubiarkan bertumpuk akhir-akhir ini, kok
kelihatannya seperti onggokan sampah yang menggunung. Isinya kok kayanya
sampah dan salah tulis semua. Demikian juga tumpukan baju dan jasku, aku
melihatnya seperti gombal biasa saja. Padahal jangan salah lho, aku ini termasuk
orang yang cukup berselera juga kalau membeli buku atau pakaian. Bukan nyombong.
Cuma memang aku ini termasuk selektif dalam memilih buku, baju, kaos atau celana
panjang. Pokoknya kalau nggak pas benar dengan seleraku, nggak bakal kubeli,
walaupun murah banget. Begitu juga kalau pun itu berharga cukup mahal, tapi kalau
sudah pas seleraku pasti kubeli. Berapapun harganya. Meskipun aku harus
menggesekkan duit plastikku yang tagihannya masih lumayan banyak. Tapi begitulah,
namanya juga selera. Apapun akan dilakukan walau nantinya aku mesti sedikit
berhemat dengan uang gajiku.

Selain itu, pulsa hp-ku pun belakangan ini cepat habis. Baru dua minggu sebenarnya
aku mengisi hp-ku dengan sejuta pulsa.Ya satu juta padahal biasanya cuma 100 ribu.
Biasanya sih ini cukup untuk satu setengah bulan. Tapi seminggu ini aku getol banget
menelpon kawan-kawan yang nomernya ada di hp. Bahkan yang tak pernah ku telpon
pun iseng-iseng kutelpon juga. Ber-haha-hihi-hehe atau cuma sekedar nanya
keluarganya.

Apalagi ke Mimi2 di Cirebon, hampir tiap hari pagi, siang, sore atau malam kutelpon
menanyakan kabarnya. Mimiku yang di Cirebon cuma terbengong-bengong saja
melihat ulahku yang seperti Miss Ring-ring3. SMS apalagi, entah berapa ratus SMS
belakangan ini dengan gencar kukirimkan ke semua orang. Ada saja yang kukirim.
Kalau bukan SMS lucu, SMS cinta, SMS iseng ya SMS hikmah. O iya, SMS Hikmah,
aku jadi ingat kok ini SMS yang paling sering kukirimkan ke teman-teman. Ke mantan
cewekku dan teman-teman cewekku pun begitu. Aku tiba-tiba saja rajin ber-SMS dan
bertelpon ria menanyakan kabarnya. Mantan cewekku baru saja dua bulan
kuputuskan jadi mantan. Kami berpisah dengan baik-baik sih sebenarnya. Soalnya dia
ragu dan aku jadi ragu setelah kali ketiga ia masih bimbang sewaktu kuajak menikah

2
Mimi = Bahasa Cirebon untuk Ibu atau Mama
3
Miss Ring-ring, julukan untuk orang yang hobbi menelpon via hp

Namaku Izrail!______________________________________________________12
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

tahun ini. Ahhh..., secara teknis belakangan ini memang aku lagi patah hati walaupun
tidak terlalu menyakitkan. “Mungkin memang bukan jodoh”, ujar mamanya sewaktu
aku informasikan bahwa kami memutuskan untuk berpisah. Akupun cuma bisa
mengiyakan. Pasrah.

Juga baru sebulan yang lalu aku mengunjungi pernikahan orang yang pernah begitu
lekat di pikiranku. Mengucapkan selamat dan menyerahkan kado yang ia inginkan.
Gelang emas 22 karat berukir "Dariku, Untukmu". Well, semuanya itu seperti mimpi,
begitu saja berlalu. Tanpa sesal ataupun kehilangan yang terlalu mendalam. Mungkin,
beda sekali kalau kejadian yang terlihat seeprti "menyedihkan" ini terjadi beberapa
bulan yang lalu. Barangkali aku akan kelimpungan layaknya lelaki kehilangan cinta.
Tapi belakangan ini kok aku nampaknya cuek-cuek saja tuh.

Swear, aku merasa tidak kehilangan apapun.

Khususnya dua minggu terakhir ini.

Namaku Izrail!______________________________________________________13
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

3. Namanya Izrail

"Ya Allah", ujarku setengah tak percaya.


"Engkau...engkau...Izrail malaikat?", tanyaku.
Ia mengangguk.

Baru kusadari ia yang berdiri dihadapanku ini memang berkulit sangat bersih. Bahkan
bisa kubilang bersinar. Persis seperti gambaran buku-buku tentang orang-orang yang
ahli ibadah. Halus, nyaris tanpa otot dan bulu. Ya mirip kulit bayilah.Ya bulu, sama
sekali tidak ada bulu dikulitnya. Wajahnya ganteng, bahkan nyaris cantik. Mungkin
kenyal-kenyal dikit kalau dipegang-pegang seperti bunyi iklan sabun mandi “Dove”,
pikirku. Aku yakin, ia bisa menjadi Casanova nomor wahid kalau ia mau. Atau kalau
mau jadi iklan sabun mandi, mungkin cocok untuk sabun mandi apapun. Dalam arti
sabun mandi kecantikan atau kegantengan. Soalnya memang sampai saat ini, kalau
saja ia tidak bersuara, sulit sekali membedakan antara laki-laki atau wanita.
Rambutnya teratur rapi tidak panjang dan tidak terlalu pendek, lurus tergerai.
Sedang-sedang saja, tidak seperti orang yang habis bercukur maupun tidak bercukur
lama. Malah nampaknya tidak pernah ditumbuhi kumis. Alisnya nyaris bertemu diatas
hidungnya yang bangir. Dengan sorot mata yang lembut namun dingin. Bibirnya
seolah terus-menerus tersenyum simpul, setengah meledek melihat kebingungan dan
sekarang kekagetanku. Bahkan, sebenarnya lebih mirip bibir joker musuh
bebuyutannya tokoh komik Batman dan Robin atau salah satu bintang film yang
menjadi ikon sabun mandi terkenal. Walah..., senyumnya memang mirip Tamara
Blezinky.

Tidak ada yang aneh sebenarnya kalau saja orang tidak berada dalam jarak dekat
dengannya. Aku yang cuma beberapa puluh senti darinya bisa melihat keganjilan
sosok yang jangkung dan tampan ini. Bau harum yang tak pernah kucium dari bunga
atau pewangi manapun dihirup hidungku. Rasanya bau harum, manis, dan
menenangkan. Kok ya, si Izrail ini pake minyak wangi darimana pikirku. Bisa membuat
aroma terapi seperti itu. Mungkin efek wewangian ini juga yang menenangkan diriku,
Entahlah, aku sendiri masing dipengaruhi kebengongan dan kebingungan.

Namaku Izrail!______________________________________________________14
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Aku masih membanding-bandingkan sosoknya dengan beberapa public figure yang


sering kulihat di bioskop dan televisi. Seingatku tidak ada peragawan ataupun bintang
film yang mirip dengan dia ini. Leonardo Di Caprio yang tampan imut-imut pun tidak
seperti dia, atau Pau Min Che yang aktor F4 pun jauh banget. Entah suku apa si Izrail
ini. Dari melongo, kaget, bingung sekarang ada yang merambat pelan-pelan disekujur
tubuhku. Bulu-bulu kudukku berdiri serentak, meremang diantara keringatku yang
mulai merembes dan terasa dingin disekujur tubuhku. Aku mendadak disergap rasa
takut amat sangat.

Namun itu tak berlangsung lama. Entah darimana datangnya, perasaanku yang
campur aduk itu menemukan titik keseimbangannya manakala mencermati sosok
yang berdiri dihadapanku ini. Wah, memang efek wewangian ini yang membuatku
tenang pikirku. Tubuhku sudah kembali ke posisi rebahan di pembaringan. Tanpa
daya. Kuamati lagi sosok Izrail yang ada di hadapanku. Tepatnya bukan dihadapanku.
Tapi diujung ranjangku.

Ya, saat itu aku sebenarnya lagi terbaring lemes dipembaringanku. Bukan sakit atau
pun meriang. Cuma seperti kurang gairah. Waktu itu sudah menjelang tengah malam.
Jadi sebenarnya aku sudah bersiap-siap mau rebahan untuk tidur setelah
membolak-balik beberapa lembar surat dari Al Qur'an versi H.B. Jassin yang diberi
judul “Bacaan Mulia”4. Namun kedatangannya yang tiba-tiba membuyarkan kantukku.
Tak ada yang bisa kukatakan saat itu. Pelan-pelan, karena kulihat ia juga cuma berdiri
disitu, aku mulai mencoba menenangkan diri. Menatapnya dengan tolol. Lalu
kuberanikan diri membuka dialog lagi setelah beberapa detik kebisuan melanda kami
berdua. Aku mulai menyadari datangnya sesuatu.

"Sudah waktunyakah aku", tanyaku pelan.


Sangat pelan sekali. Kupikir ia tak mendengar ucapanku.
"Ya, sudah saatnya menghadap Dia", katanya.

4
H.B. Jassin , “Bacaan Mulia”, Penerbit Halco Jaya

Namaku Izrail!______________________________________________________15
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Beberapa jenak aku pun cuma bisa menatapnya lagi. Tanpa komentar dan rasa
apapun. Hambar. Lalu entah bagaimana tiba-tiba saja aku nyeletuk tenang. Lagi-lagi,
kurasakan ketenanganku karena pengaruh wewangiannya.

" Boleh aku meminta sesuatu sebelum engkau mengambilku...", harapku.


Ia tidak kelihatan bimbang, malah sepertinya sudah tau kalau aku akan sedikit rewel.
Ia cuma mengangguk. Lalu, entah ide darimana, lidahku fasih bertanya.

"Ceritakan tentang kamu...".

Namaku Izrail!______________________________________________________16
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

4. Hikayat Izrail

Begitu saja.
Ketika Ia Berkehendak melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya,
maka aku mengada seperti yang lainnya dari jenisku.
Tercipta begitu saja dari al-Haba dan Nur Muhammad,
berkas-berkas debu dan cahaya yang memanifestasikan Kun Fa Yakuun.
Aku adalah satu diantara yang tak terhitung,
yang Dia ciptakan untuk menjaga kelangsungan Kun Fa Yakuun.
Aku adalah bagian dari Kehendak dan Kemahakuasaan-Nya.
Ada milyaran proses yang menyertai Kuasa-Nya.
Sejumlah itulah kami ada.
Baik yang nyata maupun yang kasat mata.
Baik yang terasa maupun tidak terasa.
Baik di dalam maupun di tapal batas semesta.

Masing-masing dari kami mempunyai tugas-tugas yang spesifik.


Aku adalah salah satunya yang bertugas setiap saat,
bersiap sedia bilamana semua makhluk sudah tiba untuk dikembalikan kepadaNya.
Karena aku dari jenis makhluk yang mengikuti kepatuhan-Nya,
maka aku sebenarnya tidak pernah terikat oleh ruang dan waktu,
kendati aku selalu mengikuti arus Sang Waktu,
seperti layaknya mahluk lain yang berada dalam kisaran tersebut.
Jadi pendeknya aku tak pernah mati,
sebelum yang lainnya kumatikan atas kehendak-Nya.
Atau makhluk semacam itulah;
Yang bertasbih tanpa kenal lelah, tak kenal waktu
ataupun pengertian-pengertian relativistik seperti yang dinisbahkan kepada kaummu.

Tugasku ya seperti yang kamu rasakan ini, mengembalikan serpihan-serpihan cahaya


kembali ke asalnya, ke awal mula penyaksian-Nya, ketika kalian bersaksi “Ya, Kami
bersaksi!”5.

5
QS 7:172 “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka

Namaku Izrail!______________________________________________________17
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Aku biasanya cuma sekedar menerima catatan dari Lauh Mahfuzh, siapa-siapa yang
harus kujemput saat itu. Hanya saja, karena aku tak pernah mengenal waktu, aku bisa
berada dimana saja, kapan saja, tapi bukan Coca Cola lho.

O ya, ngomong-nomong soal debu & cahaya.


Memang aku terbuat dari serpihan-serpihan debu & cahaya yang menjaga proses Kun
Fa yakuun.
Sebenarnya, aku dan yang lainnya ada karena Dia mempunyai Kehendak dan
Keinginan Yang Tak Terbantahkan;
Dia ada karena Kekekalan diri-Nya,
kemandirian-Nya,
sehingga bagi selain-Nya,
maka Dia adalah Perbendaharaan Tersembunyi.
Aku ada, makhluk lainnya juga ada, semata-mata karena limpahan rahmat dan kasih
sayang-Nya, sehingga ketika Dia mendeklarasikan Kekekalan-Nya dan
Kemandirian-Nya yang Absolut maka Dia berkata:

“Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u'rafa fa khalaqtu


al-khalqa fabi 'arafu-ni
--Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi,
kemudian Aku ingin dikenal,
Kuciptakanlah makhluk
maka melalui Aku mereka kenal Aku.

Dia ucapkan Basmalah sebagai Rahmat dan Kasih Sayang yang Dia limpahkan,
sebagai bagian dari Perbendaharaan-Nya yang tak akan ternilai oleh semua
makhluk-Nya, tak akan terbalaskan kecuali oleh rahmat dan hidayah-Nya sendiri.

Maka, dalam pemeliharaan Asma Ar-Rahmaan dan ar-Rahiim, Dia firmankan


kehendak-Nya “Jadilah!” dan muncullah cahaya kemegahan-Nya sebagai Nur

menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari
kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini
(keesaan Tuhan)"

Namaku Izrail!______________________________________________________18
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Muhammad, sebagai citra awal mula-Nya yang sempurna; kemudian aku mengetahui
bahwa melaluinya aku akan mengenal-Nya.

Dalam pusaran wawu,


yang berputar melawan detak Sang Waktu,
Nur Muhammad adalah cahaya-Nya yang tidak tercitrakan di alam nyata;
kecuali bagi mereka yang memiliki qolbu Mukminin dan mereka yang menempatkan
dirinya sebagai bagian darinya.

Ketika Nur Muhammad menyinari zarah tanpa massa,


yang kelak ditakdirkan menjadi al-Haba,
maka dalam kuatnya pusaran wawu,
Thaasin adala firman-Nya yang mamujudkan kekuasaan-Nya,
terciptalah minyak zaitun yang diberkahi,
yang kilau kemilaunya mampu menerangi, kendati tanpa disentuh api6;
Simetri Kegaiban Mutlak-Nya pecah mandiri
karena kehendak-Nya semata;
Maka dari Kegaiban Mutlak-Nya,
melimpah dengan Rahmat dan Kasih Sayang-Nya,
al-Iradah-Nya goncangkan kegaiban sehingga
gelombang al-Qudrah-Nya maujud mencapai batas-batas
untuk segera munculkan al-Haba sebagai debu awal mula dan
semburat cahaya Nur Muhammad meneranginya,
hingga “Jadilah!” lelehan minyak zaitun itu seperti minyak tak tembus cahaya,
lantas kehendak-Nya terkonfirmasikan sebagai plasma awal mula
yang meledak-ledak dengan sendirinya,
ciptakan gelombang Dentuman Awal Mula (Big-Bang),
yang lontarkan al-Haba sebagai debu-debu materi pemula,
yang luaskan ruang awal-mula dalam ketakberhinggaan Sang Waktu yang mengada

6
QS 24:35 Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah
lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan
bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya,
(yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang
minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),
Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat
perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Namaku Izrail!______________________________________________________19
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

menjadi fondasi alam nyata;


darinya muncul salah satu kaumku yang mampu menjangkau setiap
sudut-sudut semesta; membangun superspace7 awal mula;

Dari Nur Muhammad,


maujud salah satu kaumku mengikat semua maujud al-Haba menjadi semua makhluk,
baik sendiri-sendiri sebagai gelembung-gelembung kuantum,
maupun sintesa dari banyak zarah menjadi citarasa-citarasa8,
inti-inti, atom-atom,
molekul-molekul, sel-sel, jaringan-jaringan,
organ-organ, obyek-obyek,
menjadi galaksi-galaksi,
menjadi bintang-bintang,
menjadi planet-planet, batuan, pegunungan, lautan, tumbuhan, binatang, manusia,
dan menjadi dirimu.

Kaum mu, tercipta dari proses setelah milyaran tahun Kun Fa Yakuun berjalan. Itulah
tanah lempung dari seluruh penjuru bumi, yang pernah kuambil dulu. Lantas kemudian
Dia tiupkan Ruh dari cahaya-Nya. Dia berfirman ketika itu,

Alif Laam Ra, (Qs 2:1)


Alif Laam Mim Ra (Qs 13:1)

Cahayamu Dia ciptakan dengan penuh rahmat, kasih sayang dan kemuliaan-Nya.
Maka “Jadilah!” kaummu yang mengemban semua amanat kesempurnaan citra-Nya;
Amanat yang tak sanggup diemban kaumku, amanat yang tak sanggup diemban oleh
semua makhluk kecuali kaummu. Adam yang diciptakan sebagai manusia sempurna
pertama, adalah moyangmu, yang memahami asmaa-a-kullahaa, yang menjadi
khalifah pertama mengemban amanat itu.

7
Superspace, struktur ruang-waktu alam semesta
8
Quark, dikenal sebagai materi elementer terkecil dalam fisika teoritis yang hanya dapat dimengerti dengan
citarasa-citarasa keatas, kebawah, menyenangkan, dan ungkapan metafisi lainnya.

Namaku Izrail!______________________________________________________20
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Kamu mungkin heran, kalau aku sendiri sebenarnya mahluk yang sangat tak kasat
mata. Serpihan al-Haba dan Nur Muhammad adalah bahan bakuku, yang terhalus
ciptakan diriku. Disaat tertentu kaumku jadi sangat nyata dan bisa berbentuk apa saja.

Persis seperti cahaya yang memantul atau bayang-bayang yang timbul dari setiap
makhluk dibawah cahaya. Karena aku dekat dengan esensi dirimu, maka
penampakkanku sebenarnya sangat tergantung pada apapun yang menggerakkan
tindakanmu, motivasimu, dan niat-niatmu. Bagi kaum sejenis ku, bentuk tak berarti
apa-apa.

Selama milyaran tahun, Dia telah menetapkan masing-masing dari kami dengan
urusan-urusan yang spesifik. Dia telah berfirman,

Thaahaa (QS 20:1)

Untuk menyingkapkan segala sesuatu, dari Asma-asma-Nya yang menjadi


ketentuannya. Yang kelak engkau kenal sebagai,

Alif, Ba, Jim, Da (ABJAD)l


1,2,3,4 (desimal)
10101010....(biner)

Kami adalah kaum spesialis, dengan perintah-perintah-Nya, yang tak bisa kami
bantah. Kami menyertai setiap gerak-gerik segala makhluk selain kaum kami. Karena
tugas kami memang begitu. Kami awasi segala perilaku dan tindak tanduk kaummu,
kesesatanmu, kemuliaanmu.

Kami bukan memata-matai, tetapi sekedar mencatat atau tugas-tugas khusus lainnya.
Semuanya kami catat sesuai dengan yang kami ketahui. Tapi lebih tepatnya menjadi
saksi atas proses kesempurnaanmu, dengan rahmat, anugerah, kasih sayang, hikmah,
keadilan dan kebijaksaan-Nya. Dia telah berfirman dengan kelembutan sebelum
semuanya ditampilkan dengan Basmalah,

Kaf ha ya Ain Shaad (Qs 19:1)

Namaku Izrail!______________________________________________________21
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Kelembutan itu adalah “yatalaththaf” (Qs 18:19) yang memunculkan Rahmat dan
Kasih Sayangnya ketika Kun fa Yakuun (Qs 36:82) dicetuskan sebagai perintah
penciptaan dengan ketentuan yang pasti terjadi (QS 69:1) .

Tugas yang kuemban entah sampai kapan, aku sendiri tidak pernah diberi tahu.
Seperti aku misalnya. Tugasku sangat spesifik untuk mengembalikan ruh segala
mahluk kembali kepada-Nya. Setelah itu, ya sudah, petugas yang lain dari jenisku
akan meneruskan proses itu. Begitu saja setiap saat dari waktu ke waktu. Monoton
memang. Tapi entah kenapa aku senang-senang saja menjalankan titah-Nya itu.
Bagiku menjalankan perintah-Nya bukan sekedar tugas atau perintah. Tapi
menggairahkan unsur-unsur pembentukanku.

Entah sudah berapa banyak aku mengembalikan ruh setiap mahluk di semesta ini.
Dari kaum apa saja, dari ras apa saja. Yang baik-baik ataupun yang durhaka. Yang
sedang sekarat ataupun yang sehat-sehat saja. Pokoknya, yang berdiam disetiap
sudut semesta, yang mengikuti proses sejak Kun Fa yakuun difirmankan.

Aku sendiri, tentu saja menjadi bagian dari proses itu. Tapi karena kuasa-Nya, tugas
kami memang cuma menjaga agar proses itu berjalan seperti yang Ia Kehendaki.
Kehendak-Nya adalah Kemutlakkan-Nya. Maka kaum kami seringkali merupakan
bagian dari apa yang disebut sunnatullah. Aturan dan ketetapan-ketetapan yang
menyertai kun fa yakuun, baik yang pasti atau tidak pasti.

Kenapa Aku?
Kenapa aku yang ditugasi begitu?

Ini ada sejarahnya.


Kan tadi sudah kukatakan, bahwa aku dulu pernah mengambil debu dari bumi. Ketika
Dia hendak menciptakan Adam, moyangmu itu, Dia mengutus satu malaikat yang
sebenarnya tugasnya memikul 'Arsy untuk membawa debu dari bumi.

Ketika dia ngotot ingin mengambil debu dari bumi, Bumi berkata "Aku memintamu
demi Zat Yang telah mengutusnya agar engkau tidak mengambil apa pun dariku

Namaku Izrail!______________________________________________________22
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

sekarang yang neraka memiliki bagian darinya". Malaikat pemikul Arsy terkejut, maka
dia pun batal mengambil debu bumi.

Ketika ia melaporkan kepada-Nya, Dia berfirman "Apa yang mencegahmu untuk


membawa apa yang telah aku perintahkan kepadamu?".

Dia menjawab, "Bumi telah meminta kepadaku demi keagungan-Mu, sehingga aku
merasa berat untuk menolak sesuatu yang meminta demi Keagungan-Mu". Maka
Allah kemudian mengutus malaikat lainnya kepada bumi, tetapi bumi mengatakan
alasan yang persis sama seperti sebelumnya.

Demikian sampai entah berapa milyar tahun dalam ukuranmu sampai Allah mengutus
semuanya.

Akhirnya Allah mengutusku untuk mengambil debu. Bumi pun mengatakan seperti
sebelumnya. Tapi, sudah menjadi kehendak-Nya kalau segala sesuatu yang
berhubungan dengan debu dan tanah liat akan ditugaskan kepadaku.

Aku berkata kepada bumi,"Sesungguhnya Dia yang mengutusku lebih berhak untuk
ditaati daripada kamu".

Bumipun bungkam seribu bahasa dan pasrah atas kehendak-Nya. Akupun mengambil
dari permukaan bumi seluruh tanah yang baik dan buruk, semua unsur yang ada di
Bumi yang mengandung Carbon, Hidrogen dan Oksigen, dan membawanya
kepada-Nya. Lalu Dia mengucurkan air surga kekumpulan debu bumi itu sehingga
menjadi lumpur hitam yang diberi bentuk yaitu minthiin (Qs 23:12), dan darinya Ia
9
menciptakan Adam." Itulah sebabnya kenapa aku ditugaskan untuk mengambil ruh
manusia dan mengembalikannya ke Yang Berhak Menentukan Nasib.

Aku tak mengenal belas kasihan. Dulu, aku pernah berbelas kasih kepada manusia
yang hendak kucabut nyawanya. Namun, kehendak Allah mengandung
rahasia-rahasia yang tersembunyi, sehingga akupun malu melakukan penentangan

9
Diriwayatkan oleh Said bin Manshur, Ibnul Munzir, dan Ibn Abi Hatim dari Abu Hurairah, ref 10, hal 50-51

Namaku Izrail!______________________________________________________23
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Kehendak-Nya. Suatu hari, aku diperintahkan mencabut nyawa seorang perempuan


di padang pasir yang panas. Ketika kudatangi, dia baru saja melahirkan anak laki-laki.
Aku menaruh belas kasihan kepada perempuan itu karena keterpencilannya, dan juga
kasihan terhadap anak laki-laki perempuan itu karena masih bayi namun tidak terawat
di tengah padang pasir yang buas. Namun fatal akibatnya, karena anak kecil dimana
aku menaruh belas kasih itu ternyata adalah penguasa lalim dan tiran yang tak ada
duanya di bumi. Dari situ, aku memahami bahwa “Mahasuci Dia yang memperlihatkan
kebaikan kepada yang dikehendaki-Nya!”. Ketika aku berbelas kasihan, maka aku
tidak mencabut nyawa bayi itu, tapi aku kemudian menyesalinya karena apa yang
kuanggap kebaikan ternyata benih kejahatan yang kubiarkan tumbuh karena aku
salah menafsirkan kehendak Tuhan.

Izrail terdiam sejenak. Agaknya ia masih mengenang apa yang dilakukannya dulu.
Kemudian ia melanjutkan.

Jangan tanya siapakah ibu bapakku, seperti layaknya makhluk lainnya yang beribu
bapak. Katakan saja, aku manifestasi Kehendak Yang Kuasa. Manifestasi al-Qudrah
setelah Ia memfirmankan “kun!”. Seperti saya bilang tadi, kaum sejenisku tercipta
begitu saja karena Ia Berkehendak. Kalau kamu bertanya berapakah banyak tugas
yang telah kulakukan? Aku sendiri tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. Karena
pengetahuan tentang itu tidak kami miliki.

Ada yang lain dari jenisku yang melakukan hitung menghitung. Itu bukan tugasku. Aku
jadinya memang mahluk yang sangat spesifik. Sebenarnya kalau soal spesialisasi
begini, kami tidak ada apa-apanya dibanding kalian manusia. Soalnya, hanya kaum
kalianlah yang diberi kehendak bebas untuk berpikir, memilah dan memilih dengan
bertanggung jawab. Kaum kami tak sanggup memikulnya, karena kami telah melihat
dampak-dampaknya yang mengerikan.

Dia pun menghendaki kami bertasbih dan sujud dihadapan Nenek Moyangmu.
Pernah kami protes begini-begitu sewaktu kami diberitahu bahwa Dia Berkehendak
menciptakan mahluk manusia. Namun, Dia Maha Mengetahui atas apapun yang
terjadi sejak Awal dan Akhir.

Namaku Izrail!______________________________________________________24
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Kami sebenarnya terikat Sang Waktu seperti kaummu. Sang Waktu adalah kaum
sejenisku. Ialah yang memungkinkan perubahan. Kami sebenarnya pun tau kalau
manusia akan selalu begini begitu di semesta yang Dia ciptakan dengan rahmat dan
kasih Sayang-Nya yang tak terbalaskan. Yang tidak kami miliki ada pada makhluk
yang satu ini. Keinginan, akal, dan atribut lain yang kami tau bakal jadi masalah nanti.
Kami memang sedikit iri, sampai Dia menunjukkan kuasaNya atas semua makhluk
manusia. Kalian sebenarnya lebih tahu dari kami atas segala mahluk yang pernah Ia
ciptakan.

Kami pun lalu sujud dihadapan nenek moyangmu, Adam. Cuma satu makhluk yang
tak mau sujud. Ialah Iblis yang kemudian akan selalu mendampingi kalian dalam
proses Kun Fa yakuun. Maka, iapun terkutuk. Allah berfirman :

“Keluarlah engkau dari padanya, karena sesungguhnya engkau terkutuk, dan


sesungguhnya laknat atasmu sampai hari kemudian.”10

Begitulah, Iblispun menjadi musuh abadimu dan musuhmu yang sejati. Ia menyusup di
kumpulan-kumpulan debu al-Haba yang sekarang maujud menjadi semua bentuk,
karena keinginan, karena hasrat, karena syahwat, karena ketamakan, kerakusan,
kesombongan, dan penyakit-penyakit Sang Iblis lainnya. Aku tak kuasa mengusirnya
dari sekitarmu, soalnya memang bukan tugasku. Kan tadi sudah kubilang kaumku
adalah kaum spesialis. Begitulah aku.

Izrail mengakhiri kisahnya. Aku terdiam. Kemudian, karena tugas-tugasnya itu aku
bertanya tentang cara dia mengakhiri kehidupan seseorang, cara dia mengambil ruh
makhluk bernyawa.

“Proses pengambilan ruh? “, dia mengangkat alisnya.

Sebenarnya bagaimana caraku mengambil ruhmu itu tergantung dari banyak hal. Dan
semuanya ada didiri kamu sendiri. Ada yang mungkin menurutmu kelihatan mudah,
ada juga yang sulit. Ada yang berkesan ada juga yang tidak menyimpan kesan

10
QS 15: 34-35

Namaku Izrail!______________________________________________________25
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

apa-apa. Aku sendiri tidak tau kenapa bisa tidak berkesan sama sekali. Ia maunya
begitu kok.

Cara mengambilnya pun macam-macam. Kan sudah kubilang kalau bahan dasarku
adalah cahaya. Penampakanku sebenarnya tergantung dari kamu sendiri. Ada banyak
hal yang mempengaruhi penampakan ku. Tapi, yang utama memang segala gerak
gerik dan tingkah laku yang pernah kamu lakukan di semesta ini, akan mempengaruhi
wujud penampakkanku. Demikian juga cara mengambil ruh kehidupan yang
bersemayam di wujud fisikmu, tergantung pada kebandelan dan kepatuhanmu.
Memang kaum mu ini termasuk makhluk yang diistimewakan-Nya. Sangat disayang,
sangat sempurna dibanding makhluk lainnya. Hanya, seringkali kaum kamu itu ngeyel.
Kalau tidak, malah bisa dibilang pin-pinbo alias pintar pintar bodoh.

Dan yang paling menjengkelkan, kalau kaum kamu ini sudah dikuasai oleh
penyakitnya Sang Iblis yang terusir. Walah, susahnya minta ampun. Padahal
pengambilan ini sebenarnya proses yang biasa-biasa saja. Kamu sendiri kan tahu tiap
saat ada saja yang kuambil. Dengan baik-baik atau dengan paksa, dengan
sendiri-sendiri atau berkelompok, dengan senang atau dengan ketakutan.

Memang sih aku sering datang tiba-tiba. Maklum namanya cuma makhluk yang cuma
menjalankan perintah. Aku sendiri tidak tahu kapan harus segera menemuimu. Itu
rahasia Dia Yang Penuh Rahasia.

Kaum kamipun, yang bisa dibilang 100 % patuh dan selalu beribadah kepada-Nya, tak
tau apa-apa kalau menyangkut urusan takdir makhluk. Sungguh, tugas kaum kami
cuma memenuhi perintah Dia. Memang sih seringkali ada delay sewaktu kami
menjalankan tugas. Biasanya kalau ada delay, kehadiran kami akan didahului aura
yang mempengaruhi kelakukan mahluk yang akan kami ambil. Mungkin kamu sendiri
tidak menyadari hal itu.

Tapi begitulah. Kaum kamu sebenarnya ada di dalam genggaman-Nya dengan ketat.
Ada yang digenggam erat-erat. Ada yang direnggangkan, sampai kesombongan
menyergapnya. Dan mengira, dirinya sangat hebat dan berkuasa, sampai-sampai
diapun menafikan peran Tuhannya. Padahal, semua malapetaka, semua kehinaan,

Namaku Izrail!______________________________________________________26
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

semua hal yang buruk-buruk dapat terhindar dari dia semata-mata karena Dia sangat
menyayanginya. Akhirnya, kesombongan itu menjerumuskan dirinya dalam banyak
kesesatan dan kebodohan. Benar, sombong, bodoh dan sesat itu sebenarnya hampir
beriringan, karena itulah karakter Azazil, sang Iblis yang mengira dirinya pantas
disujudi karena ilusi kesuciannya. Banyak kaummu yang terkena ilusi palsu itu. Maka
berhati-hatilah, sebenarnya semua manusia mempunyai peluang untuk tergelincir ke
dalam perangkap tipu daya Sang Durjana yang dikutuk oleh-Nya.

Kami yang mempunyai tugas mengambil sebenarnya cuma satu. Berhubung kami
tidak terikat dalam proses yang kalian jalani, tidak oleh ruang maupun waktu, sepintas
kami kelihatan ada banyak. Memang begitulah kejadiannya. Dalam satu waktu ukuran
kalian, kami bisa serentak mengambil banyak ruh dengan berbagai cara, dimana saja.

Sudah tak terbilang, berapa milyar ruh yang kuputuskan


dari semua harapan dan impiannya,
dari semua angan-angan dan cita-citanya,
dari semua keasyikannya,
dari semua kesenangannya,
hartanya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya,
rumah-rumahnya,
mobil-mobilnya,
perusahaan-perusahaannya,
jabatan-jabatannya,
pacar-pacar gelapnya, dan lain-lainnya.
Tapi, itu tak cukup untuk mengingatkan manusia.
Hingga iapun seperti keledai dipenggilingan masa,
terperosok di lubang yang sama dari masa ke masa.

Kelalaian manusia dari mengingat kedatanganku nampaknya sudah menjadi penyakit


zaman. Dari waktu ke waktu melakukan tugasku, kelalaian mereka terhadap
kedatanganku menimbulkan rasa sombong dan berpanjang angan-angan. Entah
sudah berapa banyak aku menghanguskan “business plan” mereka. Kaummu
semestinya mengingat syair yang dibuat oleh seorang arif ini,

Namaku Izrail!______________________________________________________27
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Kita lalai dari mati di pagi dan sore hari


Seperti penghuni dunia yang lalai
Dari kematian di sore dan pagi hari
Seseorang berjalan di suatu hari seperti tubuh tanpa ruh
Didepan mataku, setiap yang hidup adalah isyarat kematian
Merintihlah jiwamu wahai orang miskin, bila engkau merintih
Sungguh, kau akan mati meski kau berumur seperti Nuh.[17]

Aku rasanya sudah kebal dengan semua keadaan ruh yang kutarik dalam keadaan
apapun. Pembantu-pembantuku sejumlah mahluk berruh yang ada di semesta ini.
Jadi, setiap saat sebenarnya aku mengintip semua makhluk, mengincar semua
makhluk. Begitu sinyal terakhir diisyaratkan Allah SWT maka akupun akan beraksi
memadamkan semua kepongahan dan harapan manusia.

Ketahuilah, sesungguhnya ruh dalam keadaan telanjang dalam tubuh seorang hamba,
ia akan diambil apabila dikehendaki dan dilepaskan apabila dikehendaki oleh-Nya.
Maka [17],

Bersiaplah untuk mati wahai jiwa dan berusahalah untuk selamat,


orang bijak yang siap meyakini bahwa
tak ada keabadian bagi kehidupan dan tak ada tempat pelarian dari kematian.
Engkau hanya peminjam apa yang mesti dikembalikan.
Kita bukanlah pemilik kehidupan ini, juga bukan pemilik tempat hidup ini.
Kita tak berharta, tak berkeluarga, tidak juga anak-anak kita miliki.
Semuanya orang-orang telanjang
Jiwa kita menuju masa yang dekat,
Yang Meminjamkan akan mengambil yang dipinjamkan.

Sebenarnya aku juga ditugaskan untuk mematikan malaikat, setan, iblis, pohon,
binatang, dan makhluk bernyawa lainnya. Maka ia yang bernyawa, pastilah akan
gemetar melihat kedatanganku.

Namaku Izrail!______________________________________________________28
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Sebenarnya, ada banyak cara aku menarik ruh dari tubuh atau jasad mahluk
bernyawa. Hal itu sebenarnya tergantung dari segala hal yang membentuk kamu,
amal-amal kamu, dan kelakukan kamu. Mau tau bagaimana aku menarik ruh dari
tubuh manusia? Aku menariknya langsung dari jasad yang hidup melalui ubun-ubun
kepala.

Kamu seringkan menyedot minuman dari dalam botol? Persis! Seperti itulah aku
menarik ruh manusia dari tubuhnya. Saat itu kulakukan, seluruh sel-sel genetis
tubuhmu mulai dari ujung kaki, sedikit demi sedikit akan mati. Maka, jemari kakilah
yang akan mengalami kematian pertama kali, baru kemudian bergerak ke telapak kaki,
tungkai, kemudian ke betis, lalu paha dan seterusnya. Pada keadaan ruh kutarik,
ujung-ujung kaki akan mengejang, kaku. Dengan cara yang sama setiap bagian tubuh
pelan-pelan akan kesakitan amat sangat dan kemudian mati rasa, bertanda ruh sudah
melalui bagian itu. Maka, berpisahnya tubuh dengan ruh akan terjadi setelah ruh dan
tubuh merasakan sakit yang sangat dahsyat.

Bagaimana rasanya. Susah kugambarkan, karena aku cuma melihat saja, kan aku
yang mencabut nyawa. Aku cuma melihat saja bagaimana manusia yang kucabut
nyawanya berkelojotan dengan berbagai ekspresi rasa sakit yang dia rasakan saat itu.
Jadi aku sendiri ndak tahu bagaimana rasanya ketika ruh kutarik dari jasad manusia.

Tapi, baiklah, dari pengalamanku mungkin gambarannya bisa kusimpulkan demikian :


Rasanya seperti disayat-sayat karena ruh kehidupanmu11, yang menempel disetiap
atom tubuhmu, sel-sel genetismu yang menjadi jaringan syaraf, otot, pembuluh darah,
persendian, rambut, kulit kepala, kulit yang membungkus tubuhmu, dan semua bagian
tubuhmu kutarik-tarik, kubetot-betot dengan keras. Bayangkan saja jika ruhmu
enggan meninggalkan dunia, maka semakin enggan, semakin sakitlah rasanya. Kalau
ndak percaya, coba saja kamu cubit kulitmu keras-keras. Sakit kan!

Kamu pernah kan mengalami luka disayat. Perih! Begitulah teriakan sebagian dari
mereka yang kucabut ruhnya. Tapi luka tersayat yang sering dialami manusia tidak
seberapa dibandingkan dengan tercabutnya ruh dari jasadmu dengan paksa. Kalau

11
Dalam istilah Al-Ghazali, ruh kehidupan terdiri dari hayat atau ruh yang memberi energi kehidupan dan Ruh
Ilahiah yang mengenal Ilahi

Namaku Izrail!______________________________________________________29
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

sayatan luka kan cuma terjadi di sekitar luka saja, itupun sakitnya sudah luar biasa
dan terasa di bagian tubuh lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana kalau seluruh sel
tubuh terasa disayat-sayat. Jangan heran kalau manusia akan berkeringat, menjerit,
melolong-lolong, meraung-raung, dan menggeliat-geliat berkelojotan ketika ruh ditarik
keluar dari kepompong tubuhnya. Manusia akan terkuras tenaganya, akibat
kelelahannya, ia bahkan tak lagi dapat bernafas, ia akan merasakan seperti tertimpa
beban berat kesombongan, kedengkian, ketamakan, kemaksiatan, dan kejahilan
lainnya. Namun demikian, apabila tubuh kuat, suara yang dikeluarkan ketika bernafas
akan berbeda-beda. Ada yang dengan susah payah, ada yang mudah. Sesuai dengan
amal yang pernah dilakukan tubuhnya.

Rasa sakit yang tak terkira muncul karena ruh yang lembut menjadi jinak dan menyatu
setelah berhubungan dengan tubuh. Keduanya kemudian bercampur dan saling
merasuki satu sama lain, sehingga keduanya seperti menjadi sesuatu yang satu. Ruh
dan jasad menjadi melekat. Keduanya tak akan terpisahkan, kecuali dengan suatu
upaya penarikan yang kuat, sehingga manusia merasakannya sebagai suatu
kepayahan yang amat sangat dan sakit yang luar biasa.

Ketahuilah, kesukaanmu akan syahwat, nafsu dan materi serta keduniawian


cenderung akan semakin melekatkan ruhmu dalam jasadmu. Kenapa demikian, ini
karena atom-atom tubuhmu semakin memiliki energi yang tinggi, sehingga
ikatan-ikatan atomis dalam tubuhmu akan semakin kuat. Dikatakan bahwa tubuhmu
menyimpan energi dalam yang berlebihan, sehingga seringkali energi berlebihan ini
melonjak-lonjak dengan liar dan menumbuhkan berbagai syahwat dan nafsu.
Kromosom-kromosommu akan terganggu, kode-kodenya yang asli akan jungkir balik,
bahkan akibat langsungnya akan muncul menjadi berbagai penyakit yang payah
seperti kanker, jantung, atau pikun. Itulah yang akan mencelakakanmu, akan
menyiksamu. Jadi semakin lekat ruh dalam jasad maka semakin sakitlah engkau
rasakan ketika aku menarik-nariknya karena keengganan ruhmu meninggalkan
jasadmu. Setelah rasa sakit tak terkira dan kekuatan jasad menurun, suara akan
berangsur hilang, dan setiap bagian tubuh perlahan-lahan akan menjadi kaku.

Sakitnya penarikan ruh memang menggentarkan siapapun juga. Jangankan manusia


biasa, para nabi dan rasul pun menggigil ketakutan manakala aku datang. Karena

Namaku Izrail!______________________________________________________30
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

alasan itulah, seorang nabi yang paling dimuliakan diantara nabi-nabi dan rasul-rasul,
Muhammad SAW, memohon kepada Allah SWT agar membebaskan beliau dari
penderitaan dan kepedihan kematian. Beliaupun sudah mengingatkan, “Perbanyaklah
mengingat sesuatu yang menghancurkan kelezatan, yakni kematian.”12 Banyak orang
arif dan ulama yang membuat syair tentang hilangnya kelezatan ketika aku datang.
Kata mereka,

Ingatlah kematian yang menghancurkan kelezatan


Dan bersiaplah untuk kematian yang akan datang
Wahai yang hatinya lalai dari mengingat kematian
Ingatlah tempatmu sebelum tiba saat perjumpaan

Bertobatlah kepada Allah dari kelalaian dan segala yang lezat


Sesungguhnya kematian sangatlah dekat
Ingatlah musibah hari-hari dan saat-saat yang terlewat
Jangan merasa tenang dengan dunia dan perhiasannya yang melekat [17].

Dalam Al Qur’an, Allah menggambarkan kesakitan saat penarikan ruh dalam firman
dengan gambaran berikut “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan) (QS 75:29)”,
yang banyak ditafsirkan oleh ulama sebagai berhimpunnya rasa sakit sakratul maut
dengan kerugian karena melepaskan ridha Allah. Allah menyebut keadaan tersebut
dengan “sakrah”, karena sakitnya kematian disertai dengan keburukan yang dihimpun
akan membuat semaput pemiliknya, sehingga biasanya kesadarannya hilang. Allah
berfirman, “Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu
selalu lari daripadanya (QS 50:19)”[17].

Bagaimana gambaran yang jelas mengenai rasa sakit dan penderitaan kematian
memang bermacam-macam. Sehingga terdapat gambaran yang tidak persis sama,
namun intinya serupa yaitu suatu rasa sakit yang tak terkirakan. Kamu mungkin dapat
menyimak dari beberapa kisah tentang kematian berikut ini. Hasan bin Ali pernah
mendengar sabda Nabimu yang mulia yang mengatakan padanya bahwa “pedihnya
kematian setara dengan luka-luka tiga ratus tusukan pedang”. Ali Bin Abu Thalib kwj

12
HR Tirmidzi no 2307, dikutip dari ref 17

Namaku Izrail!______________________________________________________31
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

bahkan menyebutkan setara dengan seribu pukulan pedang. Bisa kamu bayangkan
bukan bagaimana sakitnya. Jangankan dipukul pedang, lha luka tergores silet saja
bisa membuat manusia mengaduh-aduh nggak karuan, apalagi dipukul-pukul seribu
kali dengan pedang. Gambaran lain menyebutkan, kalau pedihnya kematian itu lebih
tajam dari gigi gergaji, lebih tajam dari mata gunting, lebih menyakitkan daripada
dipanggang diatas kawah panas gunung berapi. Makanya ada pepatah yang
mengatakan bahwa “maut lebih menyakitkan daripada tusukan pedang, gergaji, atau
sayatan gunting”.

Para nabi dan rasulpun mempunyai gambaran yang menakutkan betapa pedihnya
ketika aku datang. Dikisahkan ketika Nabi Musa meninggal dunia dan ditanya Allah
bagaimana rasa sakitnya kematian yang ia rasakan, ia menjawab bahwa kejadian itu
seperti seekor burung yang dipanggang hidup-hidup, tapi nyawanya tidak juga lepas
dan ia tidak menemukan cara untuk melepaskan diri. Musa juga menggambarkan
peristiwa itu seperti kambing hidup yang sedang dikuliti.

Bukankah Aisyah r.a pernah juga mengatakan bahwa ketika Nabi SAW akan
meninggalkan dunia fana ini, ada secangkir air penuh tergeletak didekat beliau. Beliau
mencelupkan tangannya kedalam cangkir berulang-ulang dan membasahi dan
membasuh wajahnya. Beliau berdoa kepada Allah supaya dibebaskan dari sakratul
maut.

Demikian juga, khalifah kedua Umar bin Khatab r.a. meminta Ka'ab menggambarkan
keadaan ketika seseorang dalam sakratul maut . Dia menjawab "Pencabutan nyawa
dari badan dapat dibandingkan dengan pencabutan duri-duri dari tubuh manusia
sedemikian rupa sehingga seluruh tubuh merasakan cengkeraman rasa sakit yang
amat sangat."

Itulah sekelumit gambaran bagaimana kami melakukan tugas pencabutan ruh dari
tubuh manusia dan rasa sakit yang dirasakannya. Perlu kamu ketahui juga, kalau
pengaruh pencabutan ruh, atau kematian itu tidak cuma sekedar ketika ruh dicabut
dari jasadmu. Namun pengaruhnya akan terus-menerus dirasakan sampai keliang
lahat.

Namaku Izrail!______________________________________________________32
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Akan kuceritakan sebuah riwayat lama yang menginformasikan hal ini. Pernah
sekelompok orang datang kekuburan dan berdoa kepada Allah untuk menghidupkan
seseorang yang telah meninggal. Maksud mereka adalah ingin mengetahui
bagaimana penderitaan yang dialami si mati pada saat aku beraksi. Atas idzin Allah , si
mati yang kebetulan seorang yang bertakwa pun hidup kembali. Ia berkata, "Aku
meninggal 50 tahun yang lalu, namun hingga kini rasa pedihnya belum hilang dari
hatiku!”. Bayangkan! Rasa sakit yang dialami ruh si mati yang nampaknya tidak hilang
begitu saja, namun terasakan hingga puluhan tahun.

Aura kedatanganku yang menguat biasanya kalian sebut sebagai Sakratul Maut.
Dalam keadaan sakratul maut, setiap saat sekarat demi sekarat akan manusia lalui,
penderitaan demi penderitaan akan dirasakan, sakit demi sakit akan mengingatkan
manusia pada semua perbuatannya, dan hal itu terus akan terjadi sampai ruhnya
mencapai kerongkongannya.

Pada titik kritis ini, berhentilah perhatian manusia kepada dunia dan semua yang ada
di dalamnya. Berhentilah semua harapan-harapan dan angan-angan mereka. Saat itu,
simetri kegaiban pun terkuak dihadapannya, pemandangan alam akhirat pun muncul
begitu saja. Pintu tobatpun ditutup dan manusia pun diliputi oleh kesedihan dan
penyesalan. Ia mungkin akan teringat sabda Rasulullah SAW “Tobat seorang
manusia tetap diterima selama dia belum sampai pada kondisi sakratul maut (yaitu
sampainya nyawa di kerongkongan) 13”. Maka semakin menyesallah ia. Tapi semua itu
terlambat dan ketika aku menampakkan diriku semakin nyata, maka saat itu jangan
pernah bertanya tentang pahit getirnya kematian ketika sakratul maut tiba. Pendek
kata karena kengerian tentang kedatanganku maka rasulullah SAW pernah bersabda
tentang aku, dengan sabdanya beliau sebenarnya hanya ingin mengingatkan manusia,
katanya:

“Kalau kalian melihat ajal dan perjalanannya,


pastilah kalian akan membenci angan-angan dan tipu dayanya.
Tak seorangpun penghuni rumah kecuali ada Malaikat Maut

13
QS 4:18

Namaku Izrail!______________________________________________________33
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

yang memperhatikan mereka dua kali sehari.


Orang yang didapati ajalnya telah habis, maka dia cabut nyawanya.
Bila keluarganya menangis sedih, dia bertanya ‘Mengapa kalian menangis?’
Dan mengapa kalian bersedih?
Demi Allah, Aku tidak mengurangi umur kalian,
tidak pula mengekang rezeki kalian,
dan akupun tidak berdosa.
Sesungguhnya aku benar-benar akan kembali
kepada kalian (yang masih hidup saat itu),
kemudian kembali,
dan kemudian kembali,
sehingga aku tidak menyisakan seorangpun dari kalian.’ ”14

Demikianlah, aku akan datang tanpa diundang dan pergi tanpa diantar. Ia yang
saatnya sudah ditentukan, maka ia akan menghadapi aku sesuai dengan keadaannya,
rasa sakitnya, dan kengeriannya.

Banyak ungkapan yang menggambarkan bagaimana rasa sakit ketika aku mencabut
nyawa manusia. Namun, percayalah itu semua tidaklah lengkap benar karena
keluarbiasaan sakratul maut tidak dapat diketahui dengan pasti, kecuali oleh orang
yang merasakannya sendiri. Tahukah kamu, bahwa pencabutan nyawa termasuk
kondisi spiritual yang cuma bisa dirasakan oleh orang yang kucabut nyawanya. Jadi,
orang lain mungkin menggambarkan dengan ungkapan yang berbeda-beda. Tapi,
begitulah kematian, ia hanya bisa dirasakan oleh yang meregang nyawanya sendirian.
Karena kematian termasuk keadaan ruhani, maka menjadi jelas bahwa keadaan
ruhanimu sangat mempengaruhi bagaimana rasanya mati. Orang lain cuma bisa
mengira-ngira saja dengan menganalogikannya dengan rasa sakit yang benar-benar
pernah dialaminya, atau dengan cara mengamati orang lain yang sedang meregang
nyawa. Lewat analogi pula akan diketahui bahwa setiap anggota badan yang tidak
bernyawa, tidak bisa lagi merasakan rasa sakit.

14
Diriwayatkan oleh ad-Dailami dari Zaid bin Tsabit, ref 10 hal 51

Namaku Izrail!______________________________________________________34
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Akan kuperjelas lagi bagaimana rasa sakitnya kematian. Gambarkan saja satu
bagian dirimu terbakar api, maka rasa sakit yang dialami akan menjalar keseluruh
tubuh dan jiwa. Dan sesuai dengan kadar yang menjalar ke jiwa, maka sebesar itu
pula kadar yang dialami oleh seseorang. Akan tetapi, rasa sakit yang dirasakan
selama sakratul maut menghunjam jiwa dan menyebar keseluruh tubuh. Sehingga
bagi yang sedang sekarat, maka ia merasakan dirinya ditarik-tarik, dibetot, dan
dicerabut dari setiap sel, urat nadi, syaraf, persendian, dari setiap akar rambut yang
tumbuh dibadannya dan kulit kepala, hingga kaki. Jadi, jangan Anda tanyakan lagi
bagaimana derita dan rasa sakit yang tengah dialami oleh mereka yang dijemput
olehku!

Maka, perhatikanlah sekiranya kamu mengalami suatu peristiwa yang berhubungan


dengan kematian, apakah itu kematian salah satu keluargamu, tetanggamu, atau
teman-temanmu. Perhatikan bagaimanakah keadaannya! Gunakan pengalamanmu
dalam mengiringi kematian sebagai pelajaran dan peringatan bagimu, bahwa tak ada
yang abadi, semua pasti akan mati!

Namaku Izrail!______________________________________________________35
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

5. Portofolio Izrail

“Pengalamanku? Wah kan sudah kukatakan banyakkk sekali. Aku tak bisa
menghitungnya.”, Izrail masih tersenyum ditepi ranjangku ketika kutanyakan
pengalamannya. Kemudian dia melanjutkan.

“Memang banyak peristiwa yang bisa kuingat sewaktu aku menjalankan tugasku. Dari
banyak ragam manusia. Mulai dari yang gila, sehat, sakit, yang soleh, yang bejat dan
durjana, yang menjadi wali, nabi, dan rasul. Pokoknya sebanyak jenis manusia yang
pernah ada di muka bumi ini, pernah aku alami. Nah apa pengalaman yang
bagaimana yang ingin kau ketahui?” Dia balik bertanya kepadaku.

Sejenak aku merenung, menghimpun daftar pengalaman Izrail yang ingin kuketahui.

Seringkali, saat menuju kantor atau sekedar jalan-jalan, aku melihat banyak sekali
orang-orang yang gila baik secara fisik dan psikologis, ataupun yang nampak sebagai
orang gila beneran maupun secara tersamar, aku melihat aspek-aspek tekanan
psikologis yang menuju kegilaan pada beberapa orang yang kutemui. Psst.., asal tahu
saja, salah satu keahlianku memang membaca karakter seseorang baik dari perilaku,
gaya bertutur, wajah, maupun berbagai aspek perilaku lainnya. Jadi, analisaku pada
orang-orang yang sering kutemui seringkali tidak meleset jauh dari kesimpulan umum
yang kuambil, kendati baru sekali bertemu.

Salah satu yang menarik adalah kegilaan ini. Khususnya orang yang gila secara total :
psikis dan fisiologis, sehingga ia sama sekali tidak sadar akan kemanusiaannya,
kemudian menggelandang di jalanan dalam keadaan yang menyedihkan; maupun
kegilaan jenis lain seperti gila wanita, gila harta, gila kehormatan, gila jabatan, gila
uang, gila kekuasaan, gila karena syarafnya error, gila karena Allah, dan kegilaan
lainnya.

Gila dunia sudah jelas menjadi penyakit kronis dari sebagian orang yang gelagapan
diterjang derasnya gelombang peradaban. Mereka belum siap menghadapi ganasnya
dan kuatnya peradaban yang datang menggelombang berupa kemajuan, kekayaan,
kebudayaan, pemikiran, dan lain sebagainya sehingga akal dan pikirannya menjadi

Namaku Izrail!______________________________________________________36
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

gelap gulita. Akhirnya dalam kegelapan akal pikirannya itu, maka kegilaan duniawilah
yang muncul karena akal pikirannya tidak sanggup merespon gelombang yang datang
dengan wajar.

Gila karena Allah adalah yang nampak pada orang-orang tertentu sebagai kegilaan
spiritual yaitu orang yang gila karena cintanya kepada Allah SWT. Gila yang demikian
memang sedikit tidak masuk akal bagi orang-orang yang ada di setiap zaman, kendati
dari mulutnya meluncur kata-kata bijak penuh hikmah. Nah, ini saja kali yang akan
kutanyakan pertama kali. Akupun kemudian bertanya, ”Bagaimana sebenarnya kamu
mencabut nyawa orang yang gila beneran dan gila karena Allah?”

Izrail sekilas mengernyitkan alisnya yang rapih kemudian bertutur dengan cueknya.
Orang gila sebenarnya terbebas dari beban syariat Allah. Kalau kegilaannya itu karena
kerusakan fisik seperti syaraf yang rusak, maka syariatnya hanya sebatas dia waras
saja. Sedangkan orang yang gila karena dunia maka dia tetap menanggung semua
amal perbuatan karena kegilaan yang condong kepada keduniawian itu. Maka
hati-hatilah, karena kegilaan yang disebabkan hasrat keduniawian yang tak
terkendalikan sangat membahayakan. Inilah kegilaan si Iblis yang akhirnya terjebak
dalam kebutaan hati, ia menjadi takabur, sombong, dan membangun ilusi dengan
kesucian diri, merasa paling patut untuk dihormati, sehingga iapun akhirnya
menentang perintah Allah untuk menghormati nenek moyangmu. Bagi dia yang gila
karena mencintai Allah, maka Allah akan menggenggam kehidupannya. Ia kekal
dalam genggaman cinta-Nya. Maka iapun tidak pernah menoleh kembali kepada
dunia.

Kegilaan sebenarnya memang identik dengan mereka yang tertutup akal pikiran dan
kesehatan kejiwaannya. Gila secara fisis dan psikologis dapat disebabkan berbagai
hal. Seperti kamu sebutkan tadi, ada gila harta, gila wanita, gila hormat, penyakit
syaraf, dan yang lainnya. Disini, kamu harus melihat bagaimana Allah sebenarnya
menciptakan semua makhluk dengan awal mula yang sempurna. Ketika makhluk
ditempatkan dalam ruang waktu, maka makhluk sebenarnya diharuskan untuk selaras
dengan semua Kehendak Allah SWT, baik yang berupa perintah-perintah,
larangan-larangan, hukum-hukum alam, maupun berbagai petunjuk yang
diungkapkan oleh para Nabi dan Rasul.

Namaku Izrail!______________________________________________________37
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Tapi, gudang alpa adalah manusia, kendati semua itu sudah terhampar dalam dirinya
dan di alam semesta, tetap saja manusia tergelincir. Ketika manusia mengabaikan
semua petunjuk-petunjuk itu, maka berbagai ketentuan Allah pun terabaikan.
Pengabaian inilah yang menyebabkan potensi manusia berubah tidak sesuai dengan
aslinya. Percayalah ini semua proses dalam ruang-waktu, semua makhluk bila tidak
selaras dengan Kehendak Allah akan menerima konsekuensi, baik dirasakannya di
dunia maupun di akhirat; baik saat itu juga ataupun nanti.

Ketika seseorang terlahir dengan wujud fisik yang tidak sempurna, katakanlah cacat
mental, maka ruh yang ditiupkan Allah SWT yang memiliki kesempurnaan ditiupkan ke
dalam jasad. Ketika jasad terintegrasi dengan ruh, maka keseimbangan yang gaib dan
yang nyata terjadi. Ia yang terlahir cacat fisik, mungkin tidak akan memiliki
keseimbangan yang optimum. Boleh jadi dalam pandangan manusia, ia disebut cacat
mental atau bahkan tidak waras.

Tapi, kenapa bisa tidak waras, bukankah Allah selalu menciptakan dengan
kesempurnaan?

Itulah makna penting dari keselarasan dengan Kehendak Allah. Jasad biologis adalah
produk ikhtiar manusia. Dalam arti, kendati Allah melakukan intervensi langsung
dalam proses penciptaan, maka manusia sebenarnya berperan dalam penciptaan
keturunannya. Maka seringkali Allah menyebutkan diri-Nya sebagai “Kami” di dalam Al
Qur’an untuk menjelaskan adanya peran makhluk di dalam penciptaan itu. Ketika
manusia lalai atas kenyataan ini, dan kemudian ia tidak mematuhi perintah Allah,
maka boleh jadi apa yang menjadi salah satu ciri alamiahnya di dunia, meneruskan
keturunan akan mengikuti alur yang tidak menyenangkan.

Ketika engkau diperintahkan untuk tidak berzinah, tapi engkau membangkang, maka
potensi-potensi biologismu akan berubah. Boleh jadi dari dirimu akan lahir
makhluk-makhluk yang tidak sempurna, baik dari segi jasmani maupun ruhani.
Ketahuilah, kendati manusia pada akhirnya memiliki berbagai bentuk fisik yang
biasanya kalian sebut sempurna dan tidak sempurna, Allah sebenarnya

Namaku Izrail!______________________________________________________38
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

menginformasikan bahwa pembawaan fisik manusia tidak berpengaruh pada


jatidirimu yang halus dan lembut (lathifah15, yaitu qolbu). Allah berfirman bahwa ”Lalu
kami jadikan ia makhluk yang lain (QS 23:14)” berarti memanusiakan dirimu dari jasad
yang hanya terdiri dari daging dan urat-urat syaraf dengan susunan unsur-unsur dan
tabiat, keadaan, dan kecenderungan tubuh yang paduannya menyebabkan pengaruh
[22]
pada kesehatan seseorang , baik lahir maupun batin . Maka ketika ruh ditiupkan
kedalam jasad difirmankan oleh Allah bahwa “Dia membentukmu, lalu
menyeimbangkanmu (QS 82:7)”. Jadi, dalam firman ini Allah menginformasikan
bahwa asal muasalmu yang diciptakan dari min thiin menjadi segumpal darah (QS
23:12) dalam naik-turunnya tahapan-tahapan perkembangan manusia (QS 23:14);
dan ketika ruh ditiupkan maka terjadilah sinkronisasi antara unsur material dan
immaterial manusia sehingga dari integrasi dan sintesis kedua unsur pembentuk
manusia tersebut muncullah apa yang disebut sebagai watak atau tabiat manusia,
yang pada akhirnya mempengaruhi akhlak dan perilakunya. Apakah itu berakhir
dengan sempurna atau tidak sempurna, maka faktor-faktor yang mempengaruhi
manusia secara utuhlah yang lebih banyak mempengaruhinya. Sehingga dikatakan
oleh sabda Nabi SAW bahwa manusia terlahir dengan fitrah yang suci, namun
lingkunganlah (ibu bapaknya, pengasuhnya, teman-temannya, dll.) akhirnya yang
akan membentuknya menjadi ini atau itu. Jadi, perhatikanlah bahwa aspek-aspek
biologis dan psikis manusia pada akhirnya tergantung dari keselarasannya dengan
sunnatullah, baik dalam pembentukannya maupun dalam pendidikannya setelah
dilahirkan ke dunia, jadi akhlak manusia dipengaruhi aspek genetis dan
lingkungannya.

Kebolehjadian adalah manifestasi dari Kehendak Allah yang nyata terekam dalam
sel-sel genetis (gnome) manusia. Karena disitu tersimpan sejarah tentang nenk
moyangmu, kehidupanmu, takdirmu, dan qadā dan qadar anak cucumu. Ketika
anakmu cacat mental atau fisik, maka boleh jadi ada sesuatu yang salah dalam dirimu,
ayahmu, kakekmu atau moyangmu. Ini bukan dosa turunan, karena fitrah asal
manusia sebagai ruh yang ditiupkan didalam jasad adalah tersucikan dari dosa. Boleh
jadi ini karena aktivitas fisikmu di dunia, jasad biologismu yang mengendalikan dirimu,

15
Lathifah dalam istilah sufi mengacu kepada suatu makna yang lebih mendalam, sedangkan lathifah manusia
adalah jiwa rasional yaitu qolbu. Qolbu pada hakikatnya berperan “menurunkan” derajat atau kualitas ruh pada

Namaku Izrail!______________________________________________________39
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

sehingga segala nafsu syahwat merajalela. Ketika keturunanmu cacat fisik, cacat
mental, ada apakah ini? Kenapakah demikian? Apakah Allah tidak adil? Maka,
sebelum melontarkan pertanyaaan ini, lihatlah ke dirimu sendiri? Apa yang salah
dengan diriku, kehidupanku, apa yang aku makan dan minum, cara aku memperoleh
makanan dan minuman, cara aku menyikapi kehidupan?

Renungkanlah dengan pikiran yang terbuka, bukan dengan pikiran yang terbelenggu
oleh nafsu. Karena pikiran yang terbelenggu hawa nafsu adalah manifestasi Iblis yang
bersemayam dalam jiwa dan ragamu. Ia akan membisikkan dirimu dengan buruk
sangka dan berkata “Tuhanmu tidak adil maka ikutlah aku (Iblis)”. Ketika engkau ikuti
bisikan Sang Durjana itu, maka engkau menjadi budaknya, yang menepiskan realitas
hakiki akan Tuhanmu yang menciptakan semua makhluk dengan limpahan rahmat
dan kasih sayang-Nya.

Ketika kegilaan fisis-biologis menimpa seseorang, tekanan mental yang dahsyat


muncul karena potensi jasad dan ruhanimu tidak terolah dengan benar, sehingga
semua fakta yang tercerap inderawi menjadi suatu beban yang tidak tertahankan.
Ibarat cangkir, maka cangkirmu terlalu kecil sehingga tidak mampu menampung
semua limpahan rahmat dan kasih sayang Allah yang terus menerus, baik berupa
kemajuan-kemajuan zaman, peradaban, keduniawian, maupun limpahan-limpahan
ruhaniah. Maka pecahlah cangkir itu. Ia yang kemudian menjadi gila secara fisis
biologis, adalah ia yang terenggut dalam genggaman Allah dan mati sebelum
dimatikan.

Aku biasanya tidak terlalu dipusingkan dengan keadaan lahir seseorang ketika
mencabut nyawanya. Hanya saja, dampak-dampak perilaku yang menyebabkan
kegilaannya seringkali membuatku terpaku, maka si gila yang meregang maut adalah
ia yang meregang dalam genggaman Allah. Hanya Dialah yang tahu bagaimana si gila
akan diperlakukan, kecuali kegilaannya itu jelas sebagai kegilaan si Iblis yang
terhalusinasi akan kesucian diri dan kesombongannya.

tingkat yang lebih mendekati dan sesuai dengan diri manusia di satu sisi , yaitu jasadnya, akan tetapi tetap sesuai
dengan ruh di sisi lain, catatan kaki raf 22 hal 34

Namaku Izrail!______________________________________________________40
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Si gila karena cintanya kepada Allah adalah si gila yang menjadi tenggelam dalam
genggaman Allah. Entah kenapa, Allah sepertinya membiarkan kegilaan kepada-Nya
bagaikan memberikan contoh kepada manusia bagaimana kegilaan makhluk yang
ter-baqa-kan dalam diri-Nya. Ia yang majnun16 dalam genggaman Allah kurenggut
dengan citarasa kegilaan karena cinta-Nya. Maka seringkali akan engkau temui
syair-syair penuh kerinduan kepada-Nya dan mayat-mayat yang menggeletak di
sembarang tempat dengan senyum keabadian Sang Pecinta yang terlampiaskan
kerinduannya.

Sejenak aku masih menatap Izrail menyelesaikan kisah tentang si gila. Pikiranku
masih mengambang tanpa memikirkan apa-apa kecuali cerapan rasa takut yang
makin meliputi diriku. Kemudian terlintas seorang teman yang telah mendahuluiku. Ia
meninggal dalam keadaan yang biasa-biasa saja. Tanpa tanda-tanda ataupun
firasat-firasat, baik kesehatan maupun yang sifatnya spiritual. Entah kalau ia sendiri
mengalaminya. Aku tidak tahu. Yang jelas, ia sedang berolah raga kegemarannya
ketika Sang Maut menjemput dengan tiba-tiba di usianya yang masih muda. Lalu,
tercetus pertanyaanku, ”Bagaimanakah untuk orang sehat walafiat yang mendadak
meninggal?”

“Haa, kamu teringat temanmu ya, atau dirimu sendiri yang merasakan kedatanganku
yang tiba-tiba”, ia melihat kepadaku dan tersenyum dikulum. Aku menganguk perlahan.
“Oke, akan aku ceritakan bagaimana aku mencabut yang sehat”, ujarnya.

Banyak orang yang masih mengira bahwa kesehatan yang baik akan membawa umur
panjang. Pendapat ini , kalau ditinjau dari sisi manusia, memang benar adanya.
Setidaknya, ia yang menjaga kesehatannya berupaya untuk selaras dengan
sunnatullah. Tetapi, ketahuilah bahwa masalah “hidup dan mati” adalah kehendak
Allah yang penuh ketidakpastian dan keserbamungkinan. Aku sendiri tidak tahu kapan
si A, si B, atau si C mati. Akan tetapi, yang jelas aku pasti mendatangi setiap makhluk
kalau sudah diinginkan-Nya, karena kematian adalah suatu kepastian. Namun, kapan
aku akan datang, itu tergantung kehendak-Nya semata.

16
Majnun adalah tokoh fiksi dalam sastra Arab Kuno yang tergila-gila kepada seorang gadis cantik bernama Laila,
sehingga ia menjadi sedemikian gilanya. Maka muncul istilah Majnun ynag identik dengan gila karena cinta.

Namaku Izrail!______________________________________________________41
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Tetapi, sadarilah!

Aku selalu mengikuti setiap makhluk dalam setiap detik sang waktu berjalan.
Percayalah, Sang Waktu dan aku sebenarnya selalu beriringan, sehingga dalam
setiap saat “hidup dan mati” sebenarnya sekedar anugerah Allah semata. Ketika Dia
perintahkan aku untuk beraksi, maka saat itu juga aku beraksi. Maka manusia
sebenarnya harus berhati-hati, karena setiap saat aku selalu mengincar dirinya. Ketika
Dia berkehendak padaku untuk mengambil si A atau si B saat itu, aku tinggal
mengiyakan dan saat itu juga dia yang dikehendaki-Nya mati akan mati.

Jadi, ingatlah selalu bahwa posisi semua makhluk sebenarnya sangat kritis sekali.
Bagi yang bertasbih setiap saat maka tasbihnya adalah penghambaannya yang
mutlak, seperti kaumku yang selalu bertasbih kepada-Nya. Bagi manusia maka
bertasbihlah setiap saat dengan selalu “mengingat-Nya”, lakukan dzikir. Tanpa itu
maka boleh jadi engkau akan mati dalam keadaan “bermaksiat kepada-Nya”. “Na udzu
billah min dzalik”. Sekiranya semua manusia menyadari hal ini, aku yakin bahwa bumi
ini akan sepi dari semua aktivitas karena rasa takut akan kedatanganku. Karena itu
dalam keadaan sehat, selalu ingatlah kepada-Nya, bertasbihlah selalu dengan
dzikir-dzikir qolbu yang ikhlas dan ridha bahwa kehidupan dan kesehatanmu
sebenarnya sekedar anugerah-Nya semata. Ia yang kucabut dalam keadaan sehatnya,
akan mati sesuai dengan kondisinya saat itu. Aku sekedar melempangkan perintah
dan kehendak-Nya, sehingga seringkali dia yang kucabut nyawanya tidak merasakan
kedatanganku.

Seringkali, aku beraksi ketika ia sedang duduk minum kopi, membaca koran, di bis
kota, di jalanan, ketika manusia sedang giat-giatnya berolah raga, sedang bermaksiat,
dan sebagainya. Makanya, seringkali kamu akan temui nasihat-nasihat dari si bijak
untuk berhati-hati dalam setiap tindak tandukmu. Namun, hal ini rupanya tidak disadari
oleh banyak manusia bahwa “hidup dan matinya” tak lebih sekedar Kehendak-Nya
semata. Maka waspadalah dan ingatlah sabda Nabi berikut “Kematian yang tiba-tiba
adalah rahmat bagi orang yang beriman, dan nestapa bagi pendosa (HR Abu
Daud)[11]”.

Namaku Izrail!______________________________________________________42
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

“Dia yang selalu mengingat Allah SWT, menyadari dirinya adalah hamba-Nya semata,
maka iapun menjalankan kesolehan seperti yang dijelaskan oleh para nabi, rasul, wali,
dan para pewaris ilmu Nabi. Ikutilah kesolehannya, berkumpullah dengan mereka baik
dalam keadaan senang maupun susah. Ia yang soleh sebenarnya dititipi cahaya
ilahiah sehingga dalam setiap langkahnya adalah ibadahnya.” Ujar Izrail, kemudian dia
menyitir salah satu firman Tuhan,”Dan sembahlah Tuhanmu sehingga datang
kepadamu yang diyakini (ajal) (QS 15:99)”. Semua bulan, tahun, malam dan siang hari
merupakan ketentuan ajal dan waktu untuk beramal. Semua akan berakhir dan berlalu
dengan cepat. Maka, dalam setiap detik waktu yang berjalan, sesungguhnya bagi
mereka yang beriman terdapat amal-amal ketaatan yang ditetapkan oleh Allah. Maka,
jangan sia-siakan waktumu!

Aku belum sempat bertanya lagi ketika Izrail bertutur meneruskan ceritanya tanpa
kuminta. Kemudian ia melanjutkan kisahnya tentang bagaimana ia seringkali merasa
malu kalau mendatangi orang yang soleh, oleh karena kesolehannya.

Dia yang mematuhi semua perintah Allah, dalam keadaan apapun, sebenarnya contoh
yang indah bagaimana aku dengan kelembutan mengantarkan dirinya memasuki
keabadian. Kesolehannya akan menjadi penerang dirinya di alam barzakh yang luas.
Disana, ia akan menanti keputusan, bahkan sebenarnya tidak menanti, sebab
penantiannya tidak memiliki makna temporal yang berarti baginya. Sehari serasa
seribu tahun17. Dan ia merasakan kebahagiaan yang hakiki ketika berkumpul dengan
orang-orang yang soleh juga. Mereka bergerombol dalam kesolehannya. Sekali-sekali,
iapun bisa berkomunikasi dengan karib kerabatnya yang masih ada di dunia, melalui
mimpi, melalui getaran-getaran qolbu mukminin yang soleh, yang mampu menembus
batas-batas kegaiban alam barzakh. Semuanya terjadi atas kehendak-Nya semata,
karena semua hasrat dan keinginan dirinya telah terbaqakan dengan Kehendak-Nya
semata.

Aku mendatangi mereka yang soleh dengan kesantunan yang sebisa mungkin tidak
mengagetkan dirinya. Bahkan aura kedatanganku sebenarnya sudah ia cium

17
QS 32:5 Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang
kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.

Namaku Izrail!______________________________________________________43
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

jauh-jauh hari sebelum aku dikehendaki oleh-Nya untuk melakukan penarikan ruhnya
yang tercerahkan.

Ahhh, seringkali aku merasakan kerinduan-kerinduan mereka kepada-Nya. Biasanya


auraku yang mendatanginya akan menyebabkan dirinya tergerak dengan
Kehendak-Nya semata. Ia berbuat sesuai dengan Kehendak Allah. Ia menjadi asing
atas perbuatan dirinya, kalau ia sadari hal itu. Namun, biasanya mereka sendiri tidak
sadar bahwa semua gerak-geriknya sudah bukan lagi gerak-gerik yang disebabkan
keinginan dirinya. Bisa dikatakan, bahwa si soleh yang menjelang kematiannya sudah
terfanakan dan terbaqakan dalam semua Kehendak-Nya.

Bagi yang matahatinya awas, boleh jadi gerak geriknya akan terpahami sebagai bukan
gerak gerik dirinya. Bagi yang tidak memahami, keasingan dirinya baru akan tersadari
setelah kematiannya. Tidak disadari oleh semua orang kalau gerak-geriknya adalah
kehendak Allah semata. Ketika aku datang, maka aku biasanya datang diam-diam
supaya tidak mengagetkannya. Maka kucabut ia dalam sujud shalat lima waktunya,
dalam shalat malamnya, dalam tafakkurnya, dalam tidurnya, dalam sakitnya, dalam
sehatnya, dan dalam keadaan apapun ia berada saat itu. Kewaspadaannya akan
kedatanganku, menyebabkan ia tidak lalai mengingat Allah, ia tidak alpa untuk
waspada terhadap kedatanganku yang mendadak. Hal ini menyebabkan aku malu
menemuinya langsung. Maka akupun datang diam-diam dalam setiap keadaan dirinya.
Maka iapun akan kucabut dengan keselamatan akhirat yang selalu melingkupinya.

Boleh jadi kematian bagi mereka yang soleh akan dirasakan sangat ringan dan juga
sangat berat. Bagi yang berat maka boleh jadi ia masih mempunyai hajat untuk
mencapai derajat tertentu, yang belum berhasil dicapainya melalui amal perbuatannya,
maka kematian baginya sangat menyakitkan karena lepasnya peluang untuk
mencapai derajatnya di surga.

Bagi yang kurang iman, katakanlah si kafir, terjadi sebaliknya khususnya bagi si kafir
yang mempunyai amal baik yang belum memperoleh balasan. Maka ia akan
dimudahkan dalam kematian sebagai balas jasa kebaikannya dan nanti ia akan
langsung mendapatkan tempatnya di neraka. Jadi, jangan merasa selamat kalau ada
amal kebaikan yang belum terbalas. Karena boleh jadi balasan itu hanya akan

Namaku Izrail!______________________________________________________44
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

diterimanya sebatas saat kematiannya saja. Setelah itu, semua amal akan dihisab
sesuai kadarnya masing-masing.

“Tapi, kesolehan bukanlah mutlak keselamatan dariku. Maka engkau harus hati-hati.”
Tiba-tiba ia berkata begitu. Kemudian ia terus menuturkan.

Yang soleh sekalipun sebenarnya masih rentan terhadap dua jenis keadaan
menentukan yang berujung pada “akhir yang buruk”. Salah satunya yang berbahaya
adalah “pada saat sekarat dan mengalami kengerian maut, hatinya mungkin diliputi
oleh keraguan atau pun kekufuran, hingga ketika ruhnya dicabut, dia masih berada
dalam keadaan seperti itu”, Yang kedua adalah, “pada saat kematian, kecintaan pada
materi atau kesenangan duniawi mungkin telah menguasai hatinya....maka diapun
akan menghadapkan wajahnya ke dunia, dan sebanding dengan kecondongan
seseorang kepada dunia, itu semua akan menyebabkan tabir, yang menyebabkan
turunnya siksa”.

Aku menggigil mengingat Izrail berkata seperti itu. Lha..., yang soleh saja belum tentu
selamat dalam menghadapi kematian, bagaimana dengan yang setengah hati
solehnya, atau yang sama sekali keblinger?

“O ya, aku akan perdengarkan untaian nasihat dari sufi generasi terdahulu”. Katanya
tiba-tiba saja ia menjadi romantis. Judulnya “Delapan Nasihat Hatim”18. Izrail pun pun
bersenandung [21].

Cintailah amal saleh,


ia dapat memutuskan rantai kepemilikanmu kepada dunia,
ia akan menjadi penerang kuburmu,
pendampingmu disana dan
tidak meninggalkanmu sendirian.

Taatilah perintah Allah dengan ridha,

18
Abu Abdur Rahman Hatim bin Unwan Al Ashamm (“si Tuli”), seorang sufi generasi awal dari pribumi Balkh,
adalah murid Syaqiq al-Bakhi. Hatim mengunjungi Baghdad dan meninggal dunia di Wasyjard di dekat Tirmiz
pada tahun 237 H/852 M, lihat ref. 23, hal 190

Namaku Izrail!______________________________________________________45
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

karena dengan keridhaan pada ketaatan-Nya maka


keinginan hawa nafsumu akan terbelenggu (QS 79:40).

Sedekahkanlah bagian duniamu kepada Allah Ta'ala,


karena apa yang ada disisimu semua akan lenyap,
sedekah adalah tabunganmu disisi Allah,
dan apa yang ada disisi-Nya adalah kekal (QS 16:96)

Bertaqwalah kepada Allah SWT,


karena disitu tersimpan Kemuliaan dan Keagunganmu (QS 49:13)
sebagai suatu anugerah ketaqwaanmu kepada-Nya.

Ridhalah kepada semua ketentuan Allah SWT,


karena pembagian dari Allah sudah ditentukan sejak azali (Qs 43:32).
Tanpa keridhaan pada semua ketentuan Ilahi,
maka engkau akan dihinggapi hasud,
penyakit Iblis yang timbulkan iri dan dengki
karena harta, kedudukan, dan ilmu
yang akan timbulkan saling cela dan gunjing diantaramu.

Musuhilah syeitan, ia adalah musuh yang sangat nyata bagimu (QS 35:6).
Ia mewujud dari semua hasrat , keinginan, penguasaan, dan kepemilikanmu;
Ia muncul menjadi berbagai bentuk nafsu dan syahwat,
yang akan mengikatkanmu kepada materi, duniawi, dan segala maksiat.

Putuskan semua harapanmu dari selain Allah,


jangan terpedaya dengan rasa takut akan rezekimu,
Dia yang maha Pemberi telah menjamin dan menanggung
semua rezeki makhluk-Nya (Qs 11:6), tanpa kecuali.
Karena itu, perhatikan pencarian kehidupanmu
dari syubhat,
dari halal dan haram,
dari yang menghinakan dirimu,

Namaku Izrail!______________________________________________________46
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

dari yang merendahkan kedudukanmu.

Bertawakkalah kepada Allah SWT semata (QS 65:3).


Dialah yang akan menjaminmu, mencukupkan keperluanmu,
dimanapun kamu berada, dalam keadaan apapun.
Jangan gantungkan dirimu pada tali gantungan syeitan
yaitu uang, kekayaan, kekuasaan, kerajaan, pekerjaan,
dan bergantung kepada makhluk lainnya.

Gantungkan dirimu hanya pada Kehendak Allah SWT semata.

Izrail tersenyum, alunan suara dan makna-makna yang terkandung dalam puisi
“Delapan Nasihat Hatim” itu benar-benar semakin menggigilkan diriku, seolah
mengingatkan bahwa aku masih jauh dari gambaran yang disampaikan Hatim.

Aku masih tercenung di hadapan Izrail yang kulihat menatapku dengan lebih lembut
seolah menenangkan diriku. Lantas, aku teringat Malin Kundang si anak durhaka.
Bagaimanakah orang-orang seperti itu menghadapi sakratul maut sedangkan yang
soleh saja masih bisa dikatakan belum tentu bisa selamat melaluinya. Aku
beratnya, ”Pernahkah engkau mendengar kisah Malin Kundang?” , kataku kepada
Izrail. Ia menjawab, “Ya, aku mengetahuinya. Bahkan di banyak belahan dunia, di
setiap zaman, kisah-kisah si anak durhaka semacam itu cukup dikenal”.

Izrail melanjutkan bagaimana ia menghadapi anak durhaka semacam itu, baik yang
terhitung soleh maupun tidak.

Banyak kisah yang mengerikan bagi manusia yang durjana. Namun, barangkali tidak
ada yang paling mengerikan bagi ia yang durhaka kepada orang tuanya sendiri.
Silaturahim adalah kaitan fundamental yang membangun suatu masyarakat dan
peradaban yang sebenarnya aktualisasi dari Rahmaatan Lil Aalamin. Bila silaturahim
ini rusak maka bisa diprediksikan bahwa semua tatanan masyarakat cepat atau
lambat akan mengalami kerusakan. Dan keluarga adalah tatanan masyarakat terkecil
yang melibatkan lebih dari satu orang. Maka pemutusan silaturahim, apalagi kalau hal
itu melibatkan keluarga antara anak dan orang tua, maka bayang-bayang malapetaka

Namaku Izrail!______________________________________________________47
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

seperti menaungi kehidupan seseorang. Maka hati-hatilah dalam menjaga hubungan


demikian. Tanpa alasan yang pasti, bahwa silaturahim itu mesti terputus karena Allah
semata, maka hati-hatilah karena pemutusan itu akan menyebabkan terputusnya
barokah Allah kepadamu.

Bukankah dongeng klasik dari negerimu tentang si Malin Kundang yang membatu
berhubungan dengan kedurhakaan karena menyia-nyiakan ibundanya. Ingat sajalah
cerita-cerita kearifan bagaimana sakit hati orang tua akan mencegah si anak
memasuki kematian dengan wajar. Ada ancaman Allah disana, karena ridha ibunda
adalah ridha Allah. Hati-hatilah dengan hal ini. Seburuk apapun hubunganmu dengan
ibumu, Nabi SAW menyebutkannya sebanyak tiga kali berurutan ketika seseorang
bertanya tentang keutamaan bakti anak terhadap orang tua, khususnya ibundanya.

Dalam banyak kesempatan, hubungan keluarga memang sangat fundamental untuk


membangun masyarakat dan peradaban. Namun, tanpa pijakan akan kebenaran,
maka mempertahankan silaturahim yang membuta akan membahayakan karena yang
lahir adalah fanatisme yang dungu maujud niat busuk Iblis yang menelusup kedalam
dada manusia yang tidak waspada. Oleh karena itu, bila memang diperlukan,
silaturahim dapat diputuskan karena Allah semata. Dalam era awal Islam, Nabi SAW
menyadari hal ini sehingga ketika keputusan untuk berperang ditetapkan, maka
sebagian dari pengikut Nabi SAW (bahkan Nabi sendiri) mengalami dilema ini, yaitu
terputusnya tali silaturahim. Namun, kehendak Allah sudah demikian jelas bahwa bila
putusnya silaturahim itu karena mempertahankan akidah yang benar, maka belalah
Allah SWT. Allah memang patut dibela, oleh karena keberadaan dirimu di dunia
sebenarnya bagian dari proses yang memaujudkan Kehendak-Nya. Dan ketika satu
keluarga berselisih mempertahankan akidah kebenaran dari Yang Maha Benar, maka
pilihlah jalan Allah.

Ketahuilah bahwa kekafiran atau kesesatan seseorang adalah pilihannya sendiri,


karena ia telah menutup dirinya dari Kebenaran Mutlak (al-Haqq). Namun, ingatlah
juga, keimanan dan kesolehan seseorang semata-mata adalah hidayah dan
anugerah-Nya. Manusia tidak mampu memberikan hidayah dan anugerah, sehingga
ketika engkau sudah menyampaikan apa yang benar dari Allah, maka suatu kewajiban

Namaku Izrail!______________________________________________________48
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

untuk mempertahankannya meskipun hal itu akan memutuskan semua ikatan-ikatan


silaturahim. Tetapi sekali lagi bila memang itu diperlukan dan tidak bisa dihindari.

Ingat saja kisah Nabi Nuh yang tidak mampu menyelamatkan istri dan anaknya ketika
banjir tiba, kendati mereka istri dan anak seorang Nabi, namun tanpa hidayah Allah
maka tidaklah akan hadir keimanan meskipun sekecil zarah atom. Ingat juga kisah
anak-anak Nabi Yaqub yang menipu orang tuanya sehingga nabi Yusuf, yang nota
bene adiknya saudara sekandungnya sendiri, mereka celakakan sampai Allah
menetapkan keputusan bahwa mereka akan dihadirkan kehadapan Yusuf dalam
kehinaan karena kelaparan. Namun, Yusuf Yang Nabi maha pemaaf sehingga mereka
yang menghianati dirinya dimaafkannya. Ingat juga paman Nabi SAW, Abu Thalib,
kendati ia begitu sayang dan mati-matian melindungi Nabi, namun tanpa hidayah Allah
SWT, Nabi SAW pun tidak dapat berbuat banyak untuk mengislamkannya.

Akan tetapi, sekali lagi, perlu kehati-hatian dalam menjaga hubungan silaturahim,
kendati orang tuamu sesat dan sangat tersesat, maka nasihatilah dengan perkataan
yang baik-baik. Setelah itu, berserah dirilah kepada Allah SWT, karena hanya Allah lah
yang berhak memberikan hidayah dan anugerah kepada orang tuamu berupa
keimanan yang benar kepada-Nya.

Hindarilah kedurhakaan kepada orang tua yang berkepanjangan, apalagi kalau orang
tuamu adalah orang tua yang solehah dan penuh kasih sayang kepadamu. Maka
celakalah anak yang mendurhakai orang tua yang solehah. Tidak saja berdosa secara
harfiah sebagai orang yang mendurhakai orang tua, tetapi kutukan Tuhan akan
melingkupi dirinya dalam setiap kehidupannya. Tanpa ridha orang tua, maka semua
perbuatannya akan sia-sia, shalatnya tidak bermakna, puasanya tidak berguna,
semua amaliahnya musnah tanpa guna. Sesoleh apapun kamu kelihatannya, ketika
engkau sakiti orang tuamu yang seiman, yang selalu berdoa dan memohon ampunan
dari Tuhan, maka semua ibadahmu sia-sia. Jadi, berupayalah dengan kesabaran dan
kerelaan ketika engkau berselisih dengan kedua orang tuamu. Jangan tanggapi
perselisihan itu dengan percikan-percikan api syeitan sehingga ia akan
menjerumuskan dirimu dalam penyesalan yang tidak berkesudahan.

Namaku Izrail!______________________________________________________49
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Akan kuceritakan sebuah kisah lama sebagai rujukan untuk manusia. Kisah ini
memang bisa dibilang contoh umum bagaimana seseorang yang durhaka kepada
orang tuanya akan mengalami kesulitan ketika aku menjemputnya. Diceritakan bahwa
suatu hari seseorang mendatangi Nabi SAW dan memberitahu seseorang bahwa
seorang pemuda membutuhkan bantuan untuk dituntun mengucapkan kalimat
tayyibah19 menjelang kematiannya. Nabi mengatakan apakah anak muda tersebut
sudah terbiasa mengucapkan kalimat tayyibah selama ia hidup sehat. Orang-orang
kemudian menjawab bahwa si pemuda sudah terbiasa mengucapkan kalimat
tayyibah.

Nabi keheranan karena orang tersebut terbiasa mengucapkan kalimat tayyibah, tetapi
mengalami kesulitan untuk mengucapkannya menjelang detik terakhir kehidupannya.
Nabi kemudian mendatangi pemuda tersebut dan memandunya untuk mengucapkan
kalimat tayyibah, namun dia tetap tidak mampu mengucapkannya. Nabi kemudian
berkata kenapa dia seperti itu. Anak muda itu memberitahukan bahwa hal itu terjadi
karena dia tidak patuh kepada ibunya karena dipengaruhi istrinya. Nabi bertanya
apakah ibunya masih hidup. Dia membenarkan. Nabi kemudian meminta orang-orang
untuk memanggil ibu pemuda tersebut. Ketika perempuan itu datang, beliau bertanya
kepadanya, apakah pemuda itu anaknya. Dia membenarkan. Kemudian bertanya apa
yang akan dia lakukan jika anaknya itu dibakar hidup-hidup di dalam api yang
menyala-nyala. Perempuan itu menangis. Ia memahami maksud Nabi SAW untuk
memaafkan anaknya. Ia lalu menjawab bahwa ia akan memaafkan anaknya itu.
Perempuan itu lalu melakukannya. Kemudian Nabi memerintahkan pemuda itu
mengucapkan kalimat tayyibah. Dengan mudah, pemuda itu melakukannya. Nabi
merasa senang dan berkata bahwa Tuhan telah menyelamatkan pemuda itu dari
hukuman neraka20.

Begitulah bagaimana hubungan anak dan orang tuanya sangat berperan untuk
memperoleh ridha Allah dalam setiap keadaan. Bukan saja ketika masih hidup, namun
menjelang kematian pun, hubungan anak dan orang tua yang kurang harmonis akan
berakibat fatal. Kesusahan yang muncul ketika nyawa di ujung kehidupan sebenarnya
bukan keenggananku untuk mencabut nyawa pemuda itu. Tetapi semata-mata hanya

19
Laa Ilaaha Ilallaah
20
HR Baihaqi dan Thabrani

Namaku Izrail!______________________________________________________50
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

kasih sayang Allah SWT kepada pemuda tersebut, mengingat kesolehannya di dunia.
Namun, ketika ia menyakiti orang tuanya, yaitu ibunya, maka semua amalnya seolah
tanpa guna, sehingga Allah masih memberikan suatu peluang terakhir kepada dirinya
agar ibunya mau memaafkannya. Kalau tidak, maka sia-sialah semua upaya amal
pemuda itu selama ia hidup di dunia. Sesoleh apapun pemuda itu, tanpa maaf orang
tua maka akupun akan sejenak menunggu sampai ibunya memaafkannya. Apakah hal
ini adzab atau kemurahan Allah? Maka jelaslah hal ini merupakan kemurahan Allah
untuk memberikan kesempatan bagi ibu pemuda tersebut untuk memberikan maafnya.
Kendati si anak berdosa, sebagai orang tua, maka diapun memiliki tanggung jawab
untuk memaafkannya. Orang tua bagaimanapun juga memiliki tanggung jawab
kenapa seorang anak bisa begini atau begitu. Karena, sebagai orang tua yang
bertanggung jawab, ia sebenarnya menjadi bagian kenapa si anak menjadi tersesat,
atau terhalang amalnya. Yang dibutuhkan sebenarnya adalah ridha orang tua sebagai
orang tua, dan menyadari bahwa orang tualah yang berperan dalam menentukan
apakah seorang anak dikemudian hari menjadi majusi, nasrani, atau yang lainnya.

Aku masih meresapi cerita Izrail tentang hubungan anak dan orangtua, serta
akibat-akibatnya di kemudian hari. Bayang-bayang keretakan dalam keluarga yang
makin hari makin sering kudengar atau kulihat sendiri menjadi jelas, bahwa dalam
keadaan apapun, silaturahim harus tetap dijaga. Dalam skala yang luas, retaknya
silaturahim adalah retaknya suatu jalinan sosial. Maka, bila silaturahim sudah terjadi
dalam skala yang luas, ancaman keretakan akan terlihat dipermukaan sebagai
jatuhnya masyarakat ke dalam cengkeraman ketimpangan sosial dan ketidakadilan.
Ketimpangan sosial dan ketidakadilan adalah sumber dari segala angkara murka,
sumber dari iri dan dengki, sumber permusuhan yang memperlebar jurang antara
yang kaya dan yang miskin, yang berpangkat dan yang tidak berpangkat, sehingga
yang nampak hanyalah kesombongan-kesombongan yang dikenakan untuk menutupi
kekurangan-kekurangan; yang kaya akan mengenakan kekayaannya untuk menutupi
kekurangannya; yang miskin akan menutupi kemiskinannya dengan kesombongan
sebagai si miskin untuk menutupi kekurangannya. Banyak masalah sosial yang terjadi
di negeri ini dan di zaman ini muncul karena ketidakadilan, ketika yang satu
mengabaikan yang lainnya, yang satu menelantarkan hak-hak hidup yang lainnya,
maka jangan heran bila selalu akan terjadi pergesekan-pergesekan sosial yang
menghancurkan tali-tali silaturahim.

Namaku Izrail!______________________________________________________51
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Ketidakadilan adalah juga ketidakseimbangan. Maka ketika hal itu terjadi juga kepada
alam lingkungan dimana manusia hidup, maka ketidakadilan itu akan menimbulkan
ketidakselarasan dengan hukum-hukum alam (sunnatullah) sebagai suatu kehendak
Allah. Maka hati-hatilah, ketika ketidakadilan bersinggungan dengan alam lingkungan
yang kadarnya tidak mungkin diubah manusia, maka bencana-bencana alam akan
mengintai sebagai gempa bumi, kehancuran fisik, longsor, banjir, kebakaran, kabut
asap, penyakit, dan bencana-bencana alam lainnya. Ketika bencana alam itu
mengharubirukan semua manusia di muka Bumi, maka jangan salahkan keadilan
Tuhan. Dia Maha Adil dan Bijaksana sesuai dengan apa yang sudah Dia firmankan
dalam kitab wahyu Al Qur’an. Tinjaulah alam semesta dan dirimu sendiri dan
selaraslah dengan kehendak Allah dengan ridha, sehingga sebuah bencana ataupun
malapetaka yang memutuskan semua harapan dan angan-angan-mu, yang
membangkitkan semua rasa takutmu akan adzab yang menimpa suatu kaum, tak lebih
dari suatu peringatan atas kelalaian dan kebodohanmu karena mengabaikan keadilan
yang sudah ditetapkan sebagai hukum-hukum alam yang mestinya dipahami oleh
manusia.

Tiba-tiba Izrail menyela lamunanku. Ia sepertinya memang bisa membaca apa yang
kupikirkan.

Ada kalanya aku mencabut nyawa orang yang disesatkan Allah SWT dalam keadaan
yang mengerikan. Seolah adzab neraka disegerakan terhadap orang-orang yang
sesat dan murtad. Mereka termasuk golongan yang disesatkan Iblis semata-mata
karena kesombongan dirinya. Biasanya orang yang demikian, menurut tolok ukuran
kamu dianggap sukses dan pandai, padahal itulah manusia yang paling bodoh yang
termanifestasikan dari kebodohan dan kesombongan Iblis. Kebodohan dan
Kesombongan adalah dua sisi mata uang yang sama, yaitu mata uang Iblis Sang
pendurhaka. Orang yang demikian dikatakan sebagai orang yang benar-benar sakit
jiwa dan terpenjara dalam rumah sakit jiwa yang disebut dunia. Ia sakit jiwa karena
terbelenggu oleh akalnya. Sementara, dirinya terbelenggu akalnya, nafsu nya pun
membentengi dirinya sehingga iapun mengisolasi diri, jauh dari fitrah asal dan
mengira akalnya adalah tuhannya.

Namaku Izrail!______________________________________________________52
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah
mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah
(membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS
45:23)”

Hati-hatilah dengan orang yang seperti itu, karena mereka biasanya menebar bau
busuknya neraka dalam kehidupan kamu. Mereka tidak segan untuk bermanis muka,
namun menikammu dari belakang, memfitnah, dan menebarkan kejahatan dalam
kehidupan kamu. Kendati akalnya seperti berjalan, ia sebenarnya makhluk bodoh
seperti robot yang hanya digerakkan oleh nafsu syahwatnya, yang sudah menjadi
tuhannya. Ia termasuk manusia yang menjadi syeitan karena menuhankan nafsu dan
syahwatnya, merobohkan sendi-sendi agama, dan tidak segan untuk berdusta. Ia
dapat berada disekitar kehidupanmu sebagai kawan, sebagai boss-mu, teman
mainmu, sebagai lawan, sebagai pejabat, sebagai guru, sebagai kiai, sebagai ustad,
sebagai pengusaha, sebagai pengacara, sebagai dukun, sebagai artis, sebagai
penyiar, sebagai pedagang, sebagai petani, sebagai pengemis, sebagai maling,
sebagai polisi, sebagai tentara, dan banyak lagi yang lainnya.

Aku mencabut mereka sesuai dengan keadaanya. Maka ia yang kucabut dalam
kesesatan dan kemurtadan adalah ia yang merasakan hawa panas dan busuknya api
neraka. Akan sering kautemui bagaimana mereka akhirnya. Mata melotot, tubuh
disana-sini meregang kaku, bau yang busuk, kadang disertai keganjilan, mayat yang
sangat berat karena jasadnya menyimpan beban perbuatannya, dan
keadaan-keadaan lainnya yang mengerikan. Kalau saja engkau mampu mendengar
dan melihat sesuai dengan keadaan mereka, maka akan kau lihat kengerian paling
mengerikan yang dihadapi mereka ketika aku temui dengan tanpa basa-basi. Lantas,
kuhempaskan dia dalam kubur dengan kerelaan bumi ataupun tidak. Disana, ia akan
menghadapi siksa kubur yang tak pernah berhenti sampai kiamat tiba. Dalam barzakh
yang sempit, maka penantiannya sampai kiamat tiba adalah kengerian abadi yang
akan disesalinya.

Namaku Izrail!______________________________________________________53
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Ketahuilah, ketika aku mencabut mereka yang sesat dan murtad, aku mewujud
sesuai dengan perbuatan mereka yang bodoh. Manusia yang paling kuat dan
beranipun tak akan akan sanggup melihat wujudku ketika aku mencabut orang yang
penuh dosa. Dulu, Nabi Ibrahim a.s pernah juga ingin mengetahui rupa asliku ketika
aku mencabut nyawa si pendosa. Kendati aku memperingatkannya bahwa dia tidak
akan sanggup melihat wujudku, namun ia memaksaku. Akhirnya akupun
menampakkan wujudku kepadanya dalam bentuk seorang yang berkulit hitam legam,
dengan rambut berdiri, berbau busuk, dengan pakaian berwarna hitam. Dari mulut dan
lubang hidungku keluar jilatan api . Melihat wujudku yang mengerikan itu, Nabi Ibrahim
a.s. pun klenger 21 . Ketika sadar kembali, ia kemudian berkata, “Wahai Izrail,
seandainya seorang pelaku kejahatan pada saat kematiannya tidak menghadapi
sesuatu yang lain kecuali wajahmu, niscaya cukuplah itu sebagai hukuman atas
dirinya.”

Itu baru melihat rupa asliku untuk si pendosa. Ketika aku mencabut ruh si pendosa,
kamu tidak akan bisa membayangkan bagaimana siksaku ketika sakratul maut
sebelum aku cabut nyawanya, siksa kubur yang akan diembannya, dan siksa neraka
yang akan dialaminya.

Tubuhku bergetar membayangkan kengerian dari mereka yang sesat dan murtad
ketika Izrail mendatanginya. Aku masih menggigil ketika kulihat wajah Izrail tampak
seperti udang direbus, kemerahan menahan gejolak saat-saat ia mencabut manusia
yang sesat dan murtad. Kemudian, dia menoleh kepadaku dan berkata “apalagikah
yang ingin kau tanyakan”, katanya.

Aku masih berfikir, kira-kira apalagikah yang ingin kuketahui. Selama ini, apa yang
selalu kukhawatirkan di dunia adalah menyusupnya hal-hal yang diharamkan dalam
kehidupanku. Salah satunya adalah melalui profesi yang kugeluti. Menurutku, profesi
yang sebenarnya ideal untuk mendapatkan rezeki halal adalah berdagang. Karena
dengan berdagang orang sebenarnya dapat menentukan sendiri tingkat kehalalan
yang ia jual belikan. Tentunya dengan norma-norma yang sesuai dengan ajaran Islam.
Namun, anehnya, banyak pedagang kulihat tidak mau tahu dengan hal ini, sehingga

21
klenger=pingsan

Namaku Izrail!______________________________________________________54
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

dalam banyak aspek, apa yang semestinya halal menjadi haram karena praktek
perdagangannya yang tidak jujur dan tidak wajar. Seolah hanya keuntunganlah yang
dipikirkan sehingga tega-teganya ia menaikkan harga komoditas dan barang ketika
bulan Ramadhan, lalu kemudian ia turunkan lagi setelah lebaran usai, kemudian ia
naikkan lagi. Ah demikian bodohnya para pedagang itu sehingga tanpa sadar ia
meracuni dirinya dan keluarganya dengan hal-hal yang semestinya dijauhi dan
dihindari. Nah aku mau menanyakan hal ini sajalah. “Bagaimana dengan pedagang
yang curang? “, lanjutku.

Yang mati dengan mengerikan salah satunya adalah mereka yang curang dalam
berdagang. Aku akan ceritakan sebuah kisah bagaimana aku mencabut nyawa
pedagang yang menggunakan dua timbangan, yaitu timbangan saat menjual dan saat
membeli. Ini juga berlaku untuk mereka yang berdagang dengan keuntungan yang
semena-mena yang sering terjadi di zamanmu. Contohnya ketika gaji pegawai
pemerintah naik, pedagang dengan seenaknya menaikkan harga bahan pokok. Tanpa
pernah turun lagi. Ketika Ramadhan atau Lebaran tiba, harga-harga komoditas yang
dibutuhkan masyarakat naik tanpa kompromi. Demikian juga, ini berlaku bagi mereka
yang menipu dalam berdagang, menimbun barang sehingga harga melonjak,
menggoreng saham, calo-calo yang menaikkan harga seenaknya, menjual komoditas
yang jelas-jelas haram, menimbun minyak, atau aktivitas perdagangan yang curang
lainnya. Bagi pedagang yang demikian, maka segala perbuatannya itu akan tampak
sebagai dua gunung api dari neraka yang sangat panas dan menyala-nyala, sehingga
akan membuat yang melihatnya menggigil ketakutan. Pedagang yang sekarat akan
disuruh untuk mendaki kedua gunung itu. Setelah itu barulah aku mencabut
nyawanya tanpa ampun.

Membayangkan dua gunung api yang menyala-nyala memang mengerikan. Lha wong
kita sering melihat tukang sulap berjalan di atas bara-bara api saja membuat kita
meringis, maka membayangkan kondisi seperti berjalan di atas gunung api sebelum
nyawa dicabut Izrail benar-benar tidak habis pikir bagaimana rasanya. Mungkin panas
yang tidak berkesudahan, badan yang kelojotan menahan panas seperti ikan
dipanggang, lidah yang mengelu, hidung seperti tersumbat asap yang tidak bisa keluar,
persis ketika kita flu burung dan hidung kita tersumbat, betapa tersiksanya. Entah
berapa lama siksaan itu akan berlangsung. Mungkin dalam bentuk sakit yang tidak

Namaku Izrail!______________________________________________________55
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

berkesudahan, yang tidak tersembuhkan bahkan dengan dokter termahal maupun


dukun tersakti sekalipun. Aku tidak bisa membayangkan lebih jauh kondisi mereka
yang curang dalam berdagang ini ketika Izrail mulai mengincarnya.

“Mungkin kamu pernah mendengar cerita bagaimana susahnya orang dalam sakratul
maut mengucapkan syahadat”, Izrail meneruskan ceritanya tanpa kuminta. Aku masih
tetap mendengarkannya dengan takjub.

Ya, mereka yang kelu lidah saat aku akan mencabut nyawanya umumnya
dikarenakan sifat mereka selama ini yang suka bergunjing, memfitnah, iri dan
pemabuk. Berkali-kali sebenarnya kitab-kitab suci mengingatkan penyakit-penyakit
iblis yang satu ini. Tapi, entahlah, barangkali kaummu memang susah dibilangin.
Kegiatan yang merupakan warisan penyakit Iblis itu malah akhir-akhir ini menjadi
semacam profesi saja. Wartawan, tukang gunjing di radio, televisi, di pasar dan di
rumah, malah disukai. Padahal aktivitas itu sangat berpotensi untuk menggelincirkan
manusia kedalam dosa seperti di atas.

Dulu pernah ada seorang murid alim ulama terkenal yaitu Imam Fudhail Bin Iyad yang
sedang menghadapi sakaratul maut. Terdorong oleh rasa sayang dan tanggung
jawabnya, Sang Guru mengunjungi muridnya yang nampak sedang kepayahan
tersebut. Iapun kemudian membacakan surah Yasin. Tapi bukannya bacaan itu
menentramkannya malah bacaan surah Yasin itu membuat si murid menjadi gelisah
dan susah meninggal dengan tenang. Fudhail pun kebingungan. Kemudian si guru
pun membacakan syahadat. Namun, bacaan tauhid tersebut tetap tidak bisa
menolongnya.

Begitulah, telinga terasa budeg, lidah kelu dan mata membuta ketika aku mulai
bertugas. Setelah dengan susah payah, akhirnya aku pun mencabut nyawanya dan
menyerahkannya ke pada malaikat yang bertanggung jawab dalam penghisaban di
kuburan. Sang Guru menangis tersedu-sedu karena muridnya ternyata telah
kehilangan keimanannya karena suka memfitnah, bergunjing, iri dan minum arak.

Aku masih menatapnya dalam diam sambil melayangkan imajinasi pada berbagai
infotainment yang sepertinya sudah menjadi komoditas hiburan. Membuang waktu

Namaku Izrail!______________________________________________________56
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

dengan membicarakan aib orang lain. Wah, repot juga. Padahal, hampir sebagian
besar acara televisi yang disukai tidak lepas dari membicarakan orang lain. Apakah itu
suatu kebenaran, atau cuma sekedar bumbu penyedap untuk mendongkrak rating
sebuah acara yang membuat orang lain naik pitam. Namun, dilain pihak mungkin akan
membuat orang lain meraih kekayaan, hidup makmur diatas penderitaan orang lain
atau dengan mempermainkan hidup orang lain. Aku menggigil ngeri.

Ah, betapa lalainya manusia kalau sudah menyinggung yang satu ini. Kekayaan.
Sehingga iapun lupa bahwa kekayaan yang diraihnya dari membicarakan orang lain
seperti orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Hmm, aku masih
memikirkan mereka yang meraih kekayaan dengan cara-cara yang tidak etis seperti
itu. Di negeri ini, menjadi kaya memang jadi impian banyak orang. Sehingga seringkali
tidak peduli lagi bagaimana kekayaannya itu ia kumpulkan, ia raih, dan kemudian
menjerumuskan dirinya sendiri.

Aku menatap Izrail sekali lagi, seolah masih tidak percaya bahwa aku dapat
bercengkerama dengannya seperti ini. Kemudian aku bertanya, “Wahai Izrail
bagaimanakah engkau mencabut nyawa orang yang kaya raya?”

“Orang kaya?”, Izrail sedikit mengernyitkan keningnya. Alisnya terangkat sedikit,


amboi indahnya alis itu.

Yah orang kaya tidak beda sebenarnya dengan makhluk Allah lainnya. Saat kematian
menjemput, maka kekayaannya tidak akan berarti apa-apa. Sebab, kekayaan yang
akan dinilai oleh-Nya adalah amaliah yang muncul dari dasar hatinya. Kekayaan
duniawi hanya berguna untuk anak cucu dan jandanya (dudanya) saja.

“Yang paling menyebalkan adalah kalau aku mencabut nyawa orang yang kaya
karena menggadaikan kemanusiaannya”, Izrail menegaskan. Kelihatan benar dia
geregetan dan gemas.

Itulah kekayaan yang diraih dari jalan yang diharamkan Allah. Mereka yang korupsi,
menipu, merampas harta anak yatim, membohongi publik, pura-pura membangun

Namaku Izrail!______________________________________________________57
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

yayasan, karena riba, dan cara-cara lain pengambilan kekayaan yang tidak sah.
Mereka sebenarnya sebodoh-bodohnya manusia. Mereka bisa dikatakan terkelabui.

Mungkin kaummu sering mengucapkan pepatah “Muda Foya-foya, Tua Kaya Raya,
Mati masuk Surga”. Itulah peribahasa kaum hedonis yang mengira dengan tipu
muslihatnya bisa menipu Allah SWT. Mereka lupa bahwa dari mulai bapak-ibunya
bertemu sampai ajal menjemput, Allah menggenggam kehidupan mereka, baik
digenggam dalam Kebaikan-Nya maupun Kemurkaan-nya. Bodohlah manusia yang
mengira kekayaaan yang diperoleh dengan jalan haram, bisa ditebus dengan aktivitas
amal-amal lahir, apakah itu dengan berzakat , berumroh dan berhaji, mendirikan
rumah yatim piatu, atau mendirikan masjid-masjid dengan tiang-tiang yang besar.
Selama kesyirikan dan riya masih menempel dalam lubuk hati mereka yang terdalam,
meskipun sebesar zarah atom sekalipun (QS 99:7-8), kesyirikannya dan kekurang
ajarannya dengan menyogok Allah akan berdampak mengerikan. Orang yang kaya
seperti ini, seakan membawa kesombongannya selama di dunia dengan menganggap
Allah pun bisa disogok. Padahal Kesombongan adalah Selendang-Nya.

Karena itu, akupun tidak sungkan untuk menampakkan diri dalam bentuk yang paling
mengerikan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku akan cabut nyawa
mereka sesuai dengan tindakan-tindakan mereka. Aku akan menyeret roh mereka dari
dalam tubuhnya yang membusuk secara perlahan-lahan. Agar ia bisa mencium sendiri
kebusukannya itu sebelum sakratul maut tuntas menunaikan tugasnya. Rohnya akan
kuseret seperti diseretnya tubuh melalui dinding bergerigi, yang sakit dan sangat
menyakitkan. Banyak yang tidak kuat melalui fase ini, dan menangis meraung-raung,
tidak saja dalam wujud jasadnya yang membusuk. Namun, juga ruhnya akan meraung
dan bersedih, sekaligus juga tidak rela meninggalkan kekayaannya yang tersisa yang
tidak sempat dinikmatinya.

Keringat dingin meleleh didahiku, ketakutanku muncul. Lalu terbata-bata aku


berkata, ”Tttapi kan tidak semua orang kaya diperoleh dari tipu menipu dan kejahatan,”
protesku.

Namaku Izrail!______________________________________________________58
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

“O, ya jelas. Ada juga orang kaya yang tidak seperti itu. Tapi kebanyakan, kekayaan
telah membutakan matahati seseorang sehingga alpa dari menelusuri dan
menggunakan kekayaannya.” Ujar Izrail menjelaskan.

Dia melanjutkan,” Hanya sedikit orang kaya yang menyadari apa arti kekayaannya itu.”.
“Dari yang sedikit itu, lebih sedikit lagi yang lolos dengan mulus”, tegasnya.
“Kekayaan cenderung menghalangi tugas-tugasku.” Ucap Izrail sedikit iba.

Pernah suatu ketika aku mendatangi orang kaya raya. Karena ia tahu kedatanganku,
maka ia pun gemetar dan memerintahkan semua harta bendanya untuk dikumpulkan
dihadapanku. Setelah semua hartanya berada didepan matanya, dia berkata mencaci
maki harta bendanya ”Semoga Allah mengutukmu sebab engkau telah memalingkan
aku dari beribadah kepada Tuhanku dan menghalang-halangi aku dari pengabdian
kepada-Nya”.

Allah kemudian membuat harta bendanya berbicara,

”Mengapa engkau menghinaku, sedangkan karena akulah engkau bisa


diterima oleh presiden, para pejabat, pengusaha, selebritis, kalangan jet-set,
dan golongan yang mengandalkan kekayaan dunia lainnya, padahal
orang-orang yang bertakwa kepada Allah malah diusir dari pintu rumahmu?

Karena akulah engkau bisa mengawini wanita-wanita lacur, duduk bersama


raja-raja, pelesiran ke tempat-tempat yang hina, dan membelanjakan aku di
jalan keburukan. Namun, aku tidak pernah membantah.

Seandainya saja engkau membelanjakan aku di jalan kebajikan, niscaya aku


akan memberi manfaat kepadamu. Engkau dan semua anak Adam diciptakan
dari tanah, kemudian sebagian dari mereka memberikan sedekah, sedang
yang lain berbuat keji seperti dirimu yang bodoh dan terkelabui oleh gemerlap
diriku.”

Aku pun tanpa basa-basi lagi mencabut orang kaya yang bodoh itu, maka robohlah ia
ke tanah dengan penyesalan yang mendalam.

Namaku Izrail!______________________________________________________59
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

“Lalu bagaimana dengan orang yang miskin secara duniawi, secara materi?”, lanjutku
menanyakan.

“Ketahuilah, dimata Rabb-mu, kekayaan dan kemiskinan tidak dapat dijadikan alasan
dari lalai terhadap-Nya”, Izrail berkata sebelum melanjutkan ceritanya.

Orang miskin, sebenarnya memiliki peluang besar untuk merasakan nikmatnya kasih
sayang Allah. Tapi, kemiskinan tidak jarang juga menyebabkan kekufuran. Di
zamanmu ini, kemiskinan sudah seperti kekayaan, mereka yang merasa miskin
kebanyakan jatuh ke dalam kekufuran karena kemiskinannya tidak identik dengan
kezuhudan dan kejujuran, tidak identik dengan ridha terhadap semua ketentuan Allah
SWT.

Bila kekufuran menimpa si miskin, maka ini tak ubahnya si orang kaya yang mencari
kekayaan dengan cara-cara yang tidak halal. Disinilah pentingnya mereka yang miskin
mengetahui. Jangan sampai sudah miskin di dunia, di akhirat jauh lebih miskin lagi.
Nabi Muhammad Yang Ummi mengatakannya sebagai “orang yang bangkrut total”. Ini
ibarat merubuhkan rumah di dunia dan rumah diakhirat. Dunia tak dapat, akhirat tak
selamat. Sangat merugi, sangat merugi, benar-benar sangat merugi.

Maka, jangan jadikan kemiskinan menjadi alasan dan tameng kekufuran dan
kemungkaran. Ia yang miskin dan terikat dengan kemiskinannya, akan cenderung
tergelincir dalam jerat-jerat nafsu si bodoh Iblis. Jadi, gunakankah kemiskinamu pada
materi untuk memupuk kekayaanmu disisi-Nya. Engkau boleh jadi si fakir dunia, tapi
disisi-Nya semua itu tidak berarti apa-apa. Maka dekatilah Dia dengan kehambaanmu,
jangan dekati Dia dengan kesombonganmu atau keluh kesahmu. Jangan jadikan
kemiskinan menjadikan dirimu lalai atas semua perintah Allah, larangan-larangan-Nya,
sunnatullah-Nya, dan petunjuk dari Nabi Muhammad SAW.

Jangan dikira bahwa kemiskinan manusia itu menjadi belenggu sehingga ia harus
bertahan hidup dengan melupakan Allah. Jangan dikira bahwa kemiskinan menjadi
alasan yang bagus untuk menghadapi murka Allah. Percayalah, kalau mau
dibandingkan dengan kehidupan Nabi SAW dan sebagian sahabat yang berbaju bulu

Namaku Izrail!______________________________________________________60
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

domba, yang hidup di emperan masjid Nabi dahulu (Asy Shufa), menggelandang di
padang pasir nan panas, maka kemiskinan yang dialami oleh masyarakat di zamanmu
saat ini tidak seberapa. Galilah hikmah dari kehidupan Nabi SAW yang bersahaja. Ia
yang pernah mengganjal perutnya dengan batu selama tiga hari dua malam, tidak
pernah mengeluh atas kelaparannya. Lha, manusia di zaman ini memang aneh.
Kendati peradaban mampu memberikan kemudahan-kemudahan, namun seringkali
ini malah menjadi godaan kesenangan. Maunya serba instan, sehingga ketika Allah uji
dengan kepapaan, kemiskinan, kemelaratan, dan kekurangan lainnya, sebagian besar
manusia semakin jatuh ke dalam kemiskinan dan kekufuran. Sebagian lagi malah
benar-benar jadi seperti binatang, menghalalkan segala cara, demi isi perut belaka.
Sungguh ini sangat bodoh, seolah hidup sekedar untuk makan saja. Padahal, kalimat
bijak sering mampir di telinga bahwa makanlah secukupnya hanya untuk menegakkan
tubuh dan meneruskan kehidupan.

Aku yang mencabut nyawa si miskin, kadangkala tidak habis mengerti. Kenapa
manusia bisa begitu bodoh. Padahal, kemampuannya melebihi kemampuan kaumku
(malaikat). Yah, akhirnya sering sekali aku mencabut nyawa si miskin dalam
kebusukan dunia dan kebusukan akhirat. Benar-benar orang yang merugi.

Izrail mengakhiri cerita bagaimana mengurus si kaya dan si miskin yang terkelabui
oleh bedak-bedak duniawi. Ia sekarang sudah duduk disampingku, menatap dengan
kelembutan malaikatnya. Pertanyaan selanjutnya bergulir begitu saja menyambung
dari kekayaan, kemiskinan, dan kekuasaan. Ketiganya dapat menjadi berkah bagi
manusia, namun dapat juga dapat menjadi pembawa bencana. “Bagaimana penguasa
yang meninggal?”, lanjutku, meneruskan pertanyaan.

Penguasa sebenarnya diberi mandat oleh Allah untuk membawa rakyatnya ke jalan
yang diridhai-Nya. Ia yang mampu menjalankan kekuasaanya di bawah naungan
Cahaya Ilahi, maka ia sebenarnya khalifah Allah.

Akan tetapi, kalau penguasa lupa diri, cenderung memperkaya diri, lebih
mementingkan keluarganya, kelompoknya daripada kepentingan rakyat banyak, maka
Allah sebenarnya menyiapkan adzab yang menyengsarakan sebelum aku mencabut
rezekinya yang terakhir baginya dan seluruh rakyatnya. Itulah saat kematian.

Namaku Izrail!______________________________________________________61
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Penguasa yang lalim, akan tersiksa oleh kelalimannya yang maujud dalam bentuk
rasa takut mati, kepikunan yang berlarut-larut, sakit yang menahun, sampai tubuhnya
yang tak lebih dari bangkai membusuk yang menunggu tebasan pedang waktu. Saat
itulah, akupun harus menutup hidung ketika ruhnya kucabut degan paksa. Dan
dikembalikan kepada-Nya, lantas dihempaskan-nya ke dalam adzab akhirat yang
kekal.

Ketahuilah, aku berjalan bersama Sang Waktu, melihat banyak kerusakan di muka
bumi karena penguasa yang lupa diri. Dahulu, sepeninggal nabi yang Ummi,
kepongahan jahiliyah muncul kembali dalam bentuk ketamakan atas kekuasaan,
kesombongan atas kesukuan, dan kejahilan jahiliyah yang sebenarnya ingin di
hapuskan oleh Nabi Muhammad SAW. Maka, kehancuran Umat Islam pun kemudian
dimulai ketika sebagian mencela sebagian lainnya, sebagian merasa diri paling benar,
sebagian sangat buta mata hati sehingga tidak mampu berfikir jernih tentang
kebenaran yang sudah di ajarkan Nabi Muhammad SAW.

Sudah banyak zaman kulalui, maka keruntuhan peradaban karena lemahnya


penguasa sering aku lihat. Dan selama itu pula berbagai jenis penguasa yang lalai dan
lupa diri sering kucabut nyawanya dalam penderitaan dirinya. Lucunya, banyak juga
yang masih buta matahati, kendati kucabut nyawanya dalam kesesatannya, anak
cucunya makin terjebak ilusi dengan membangun istana-istana kesia-siaan. Mereka
bangun kuburan-kuburan yang megah untuknya, mereka kira kemegahan kuburan itu
dapat menyelamatkan si mati. Tidak tahukah mereka bahwa hanya amal salehlah
yang dapat menerangi ruh simati di alam kubur sana? Dungu, sungguh dungu
perilaku penguasa yang lupa diri itu. Ia kira bisa menyogok Ilahi dengan membangun
tiang-tiang besar di kuburannya.

Izrail kemudian bercerita tentang tugasnya mencabut penguasa lalim Bani Israil.

Ketika itu Sang Tiran sedang duduk-duduk seorang diri di istananya tanpa ditemani
oleh salah seorang istrinya. Aku kemudian masuk melalui istananya dengan tiba-tiba.
Penguasa Tiran itu marah dan berkata dengan pongah, ”Siapakah Engkau? Siapa
yang mengizinkanmu masuk kedalam istanaku?”

Namaku Izrail!______________________________________________________62
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Aku menjawab,

”Yang mengizinkanku masuk kedalam rumah ini adalah pemilik istana ini.
Sedangkan aku adalah yang tak bisa dihalangi oleh seorang pengawalpun
dan tidak butuh izin apapun untuk masuk kesini.
Bahkan terhadap raja-raja sekalipun,
aku tak perlu izin apapun,
tidak pernah takut pada kekuatan raja-raja yang perkasa,
dan tidak pernah diusir oleh penguasa tiran yang keras kepala
atau setan pembangkang sekalipun.”

Mendengar seruanku, penguasa lalim itu menutup mukanya. Agaknya ia sadar siapa
yang dihadapinya. Dia pun jatuh tersungkur. Kemudian bangkit dengan memelas dan
mengiba-iba.
”Jadi Engkau adalah Malaikat Maut?” , katanya.
Aku menjawab “Ya”.
Kemudian dia menawar dengan cengeng, ”Sudikah engkau memberiku kesempatan
agar aku bisa memperbaiki kelakukanku?”.
Aku menjawab, ”Alangkah bodohnya engkau ini; waktumu telah habis; nafas dan
masa hidupmu telah berakhir; tidak ada jalan lagi untuk memperoleh penangguhan.”

Penguasa tiran itu menangis tersedu-sedu, lalu ia bertanya,”kemana engkau akan


membawaku?”
Aku menjawab, “Kepada amal-amalmu yang telah engkau kerjakan sebelumnya dan
juga ke tempat tinggal yang telah engkau dirikan sebelumnya.”

Sang tiran menjawab bingung, “Bagaimana mungkin? Aku belum pernah


mempersiapkan amal baik dan rumah baik apapun juga.”
Aku menjawab, ”Kalau begitu, ke neraka, yang menggigit hingga ke pinggir-pinggir
tulang kamu akan ditempatkan.”

Akupun kemudian mencabut nyawa penguasa tiran itu yang jatuh mati
ditengah-tengah keluarganya dengan mata melotot penuh penyesalan, di
tengah-tengah mereka yang kemudian meratap-ratap dan menjerit-jerit. Andai saja

Namaku Izrail!______________________________________________________63
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

mereka mengetahui bagaimana buruknya neraka bagi si lalim itu, mungkin mereka
akan menangis lebih keras lagi.

Keringat dingin tanpa terasa makin menderas, membasahi dahi dan leherku. Izrail
kulihat masih berdiam diri seolah tahu aku masih mempunyai beberapa pertanyaan
lain yang menggelayut di pikiranku.

“Ketika engkau mencabut nyawa seseorang, baik dalam waktu yang berlainan
maupun bersamaan, engkau nampaknya tidak memiliki kesukaran apapun juga.
Bagaimanakah dengan kematian di medan perang dimana terdapat puluhan bahkan
mungkin puluhan ribu nyawa yang secara bersamaan melayang?”, pertanyaanku
meluncur begitu saja. Izrailpun nampaknya masih tenang-tenang saja dan tidak
terburu-buru. Ia merapikan rambutnya yang berkilauan, setelah melontarkan
senyumnya, ia kembali bercerita.

Peperangan adalah bagian dari sunnatullah Tuhan. Bagian dari keseimbangan


alamiah karena kaummu seringkali overdosis dalam banyak hal. Itulah senyatanya
kejelekan manusia yang utama karena dicengkeram ketidakadilan dan
keangkaramurkaan.

Peperangan, meskipun kamu seringkali tidak terima akan adanya peperangan, tapi
Tuhan punya timbangan sendiri, yang semestinya diperhatikan oleh umat manusia.
Namun, sudah menjadi ketentuan sejak awal penciptaan bahwa manusia pada
akhirnya terbelenggu dengan berbagai persoalan karena ketidakmampuannya
mengenal dirinya sendiri. Belenggu kepemilikan, penguasaan, keserakahan, dan
nafsu ingin menguasai lainnya akhirnya akan menyeret umat manusia ke dalam
peperangan demi peperangan.

Peperangan jangan ditangisi. Kalau timbangan sunnatullah sudah bergeser ke titik


yang tak dapat balik, maka setekun apapun doa-doamu, sunnatullah tetap terjadi.
Ambil saja contoh di Afghanistan, Irak, Palestina, atau di belahan dunia lainnya.
Kendati di situ banyak Umat Islam, namun sunnatullah tidak pernah bisa dikelabui, ia
akan berjalan apa adanya, sesuai ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkannya.
Ketika umat lalai akan arti pentingnya peradaban, ukhuwah, ilmu pengetahuan,

Namaku Izrail!______________________________________________________64
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

keadilan, lupa arti pentingnya kesatuan, maka peperangan dapat menjadi guru untuk
mengingatkan manusia, bahwa itulah akibat kalau umat menjadi bodoh dan bercerai
berai. Mereka seperti buih-buih yang akan mudah menjadi bulan-bulanan gelombang
zaman yang tidak menentu. Apakah engkau lupa kalau dulupun adzab peperangan
menimpa Umat Islam ketika Jenghis Khan dan tentara Mongolnya mengamuk di
kawasan Jazirah Arab, menghancurleburkan negeri-negeri Islam dari India sampai
Baghdad karena kelemahan umat? Manusia mungkin berkewajiban meminimalisir
dampak-dampak perang, itu perbuatan mulia. Tapi apakah perang lantas berhenti,
serahkan saja kepada-Nya. Karena justru dengan peperangan manusia semestinya
akan mengerti bagaimana dampak-dampak perbuatannya, kebodohannya,
keangkaramurkaan, dan kesombongannya. Namun, manusia itu seringkali mirip
keledai. Meskipun, perang demi perang dilalui. Toh tetap saja terjadi dan celakanya
dianggap sebagai solusi.

Dalam peperangan, manusia itu seperti onggokan kacang yang dimasukkan ke dalam
kuali. Aku lebih mudah melakukan tugas saat itu, karena sekali sentil dengan kedua
jariku maka ribuan orang akan mati. Persis kacang dalam kuali, dengan sekali pukul
puluhan kacang dalam kuali remuk redam. Wujud pukulanku bermacam-macam.
Seringkali peluru, meriam, roket, rudal, bahkan pernah juga bom Atom.

Tapi, peperangan zaman sekarang lebih kejam dari dahulu. Dahulu, sekali tebas
badan terbelah atau leher terputus mempercepat kematian. Memang bagi manusia
terlihat kejam. Tapi manusia sudah mengembangkan kekejaman dalam beberapa
format yang terlihat halus, berbudi, namun sebenarnya lebih kejam dan mengerikan.
Lha sekarang, peperangan di satu tempat memberikan dampak di tempat lain dimana
orang tidak tahu menahu masalah yang terjadi. Belum lagi penderitaan rakyat tak
berdosa. Apalagi kalau para spekulan ekonomi mulai bermain mata, seperti
menggoreng saham, melambungkan harga bahan pangan, minyak, menjual senjata,
dan lain sebagainya. Maka penderitaan peperanganpun akan menjalar ke seluruh
dunia.

Nyawa yang kucabut saat perang di masa kamu tidak seberapa dibandingkan
peperangan jaman dulu. Tapi nyawa yang meregang-regang di telan penderitaan
akibat dampak perang dan pasca perang seperti keracunan, kelaparan, kemiskinan,

Namaku Izrail!______________________________________________________65
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

penyakit, cacat, sakit mental, dan lain-lainnya malah tumbuh subur, memperpanjang
usia penderitaan banyak orang.

Perang sekarang sudah menjadi komoditas. Alasan perang pun kebanyakan tak lagi
berhubungan dengan kebenaran di Jalan Allah. Tapi sekedar memenuhi kebutuhan
ekonomi semata. Jadi sebenarnya tidak jauh-jauh dari urusan perut. Bahkan tidak
jarang perang muncul karena kedunguan manusia, hingga perangpun berkecamuk
karena adu domba dan fitnah. Urusan perut yang sederhana bisa menjadi bencana
perang yang membuat merana.

Maka, sudah jarang sebenarnya prajurit-prajurit yang berperang dijalan Tuhan.


Padahal, ada kemuliaan bagi mereka yang murni berjihad di jalan Tuhan. Meski
mereka disebut mati, tetapi mereka sebenarnya hidup dan sudah memilih kehidupan
yang lain.

Aku pun seringkali trenyuh, penderitaan manusia semakin memanjang dari satu nasib
ke nasib lainnya. Dari takdir buruk yang satu ke takdir buruk lainnya. Seolah keledai di
penggilingan masa. Tapi, semua itu adalah takdir dan sunnatullah.

Dan semua itu bukan lagi menjadi tugasku, karena sebenarnya itu adalah karena
kebodohan kaummu sendiri. Tuhan cuma sekedar menetapkan hukum-hukumNya.
Manusia menjalaninya, kalau mereka berbuat kebaikan, selaras dengan ruang dan
waktunya, dalam arti selaras dengan kehendak Allah, maka hasilnya pun baik dan
semata-mata karena anugerah-Nya. Tapi ketika kalian berbuat tanpa keselarasan,
menolak harmoni dalam kedinamisan alam semesta, dirinya dan dengan Tuhannya,
maka itulah akibat ulah kalian sendiri. Sama halnya dengan mereka yang tidak
mempercayai akhirat setelah aku datang. Mereka memang pastas dijuluki “penjudi
yang bodoh”, yang berspekulasi dapat menciptakan kesejahteraan dengan
peperangan demi isi perut sendiri.

Aku setengah terpana mendengar uraiannya tentang peperangan. Sebagai pencabut


nyawa, aku sendiri tidak pernah mengira bahwa Izrail dapat menangkap banyak
makna-makna tersembunyi di balik peperangan, mulai dari keseimbangan alam,
sebagai suatu contoh buat manusia, maupun sebagai suatu pengajaran bagi manusia

Namaku Izrail!______________________________________________________66
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

untuk menarik hikmah tentang kehidupan. Yah, peperangan memang sepertinya


sudah menjadi bagian dari peradaban manusia sejak dahulu kala, apapun alasannya,
peperangan sepertinya sudah menjadi bagian solusi manusia. Aku membatin.

Seberapa berharga sebenarnya manusia menghargai kehidupannya, memang suatu


misteri. Di satu sisi ada yang mati-matian tidak menyerah dengan kehidupannya,
bahkan dengan jalan peperangan sekalipun, namun ada juga sebenarnya yang malah
menyia-nyiakan kehidupannya. Seolah dirinya sudah menjadi Tuhan untuk
menentukan nasib sendiri. Sehingga dalam titik yang ekstrim, maka bunuh diri
kadangkala menjadi suatu solusi. “Bagaimanakah engkau mencabut nyawa orang
yang bunuh diri?”, setengah nyeletuk aku kembali bertanya kepada Izrail.

Bunuh diri sangat dicela oleh Tuhan. Karena tidak saja mengabaikan tugas dan
amanat, tetapi selemah-lemahnya manusia. Bahkan binatang yang tak berakal pun
jauh lebih mulia dari mereka yang mengambil jalan pintas untuk bunuh diri. Tidak ada
ampun untuk mereka yang bunuh diri dengan semena-mena. Kenapa begitu? Karena
Tuhan tidak menginginkan ruh manusia yang bunuh diri. Senyatanya, bunuh diri
adalah perbuatan Setan dan Iblis. Oleh karena itu, sebenarnya aku tidak segan-segan
mengambilnya, dan mencampakkannya kedalam jahanam yang kekal. Tetapi karena
kebodohan manusia saja maka ia melakukan bunuh diri. Aku cuma instrumen yang
digerakkan oleh kehendak Allah. Ruh yang bunuh diri tidak akan pernah menjadi ruh
penasaran, tapi ia akan ditempatkan di alam barzakh yang sempit dan gelap. Itulah
alam kegaiban tempatnya semua arwah yang melupakan Tuhan. Orang yang bunuh
diri adalah mereka yang tidak saja menyalahi amanat Ilahi. Tetapi, menjadi sangat
dimurkai Allah SWT. Bunuh diri ibarat kebodohan dan pembangkangan Iblis yang
menolak perintah-Nya untuk bersujud kepada Adam. Dalam konteks demikian
kemurkaan Allah SWT begitu besar sehingga Ia tidak lagi menerima arwah atau roh
ditempat semestinya. Ketahuilah, Allah telah berfirman tentang mereka yang bunuh
diri, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu (QS 4:29)”.

“Aku tidak dapat bercerita banyak tentang orang bunuh diri”, Ujar Izrail setengah
bersedih. Ia kemudian melanjutkan.

Namaku Izrail!______________________________________________________67
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Karena sudah bukan lagi menjadi tanggung jawabku sejak ia memutuskan untuk
mematikan diri sendiri. Yang patut kamu ketahui adalah, bunuh diri adalah buah dari
kesesatan manusia yang sesesatnya. Amal ibadah dan kebaikannya akan musnah
seperti debu-debu beterbangan. Persis seperti musnahnya amal dan ibadah Iblis yang
sudah mengabdi kepada-Nya selama ribuan tahun.

Bagi yang bunuh diri, maka di akhirat ia akan mengalami siklus bunuh diri yang terus
menerus tanpa henti sebagai wujud siksaannya di akhirat. Ia yang minum racun akan
terus menerus minum racun, ia yang bunuh diri dengan belati akan disiksa sesuai
dengan cara bagaimana ia bunuh diri. Akibatnya, siklus penyiksaan dengan cara
bunuh dirinya akan terus menerus dialami sebagai siksa yang tidak pernah berhenti.
Ia yang bunuh diri, akan abadi dengan siklus bunuh dirinya di akhirat, namun dengan
siksa yang lebih berat.

Izrail mengakhiri penjelasan tentang orang yang bunuh diri dengan sedikit masgul,
kemudian ia mengatakan, ”Aku akan meneruskan bagaimana aku mencabut nyawa
mereka yang dibunuh, baik dalam kesesatannya, mempertahankan kehormatannya,
maupun dalam keadaan yang tidak diinginkannya.”

Pembunuhan tanpa alasan yang jelas merupakan tindakan manusia yang dimurkai
oleh Allah. Dimurkai dalam arti bukan saja menghilangkan nyawa manusia tetapi
dalam arti merusak makhluk ciptaan-Nya yang merupakan citra diri-Nya yang
sempurna. Pembunuhan di luar arena peperangan sangat diharamkan, bahkan Allah
mengatakan harus menebusnya dengan taubatan nasuha.

Bila si pembunuh sadar. Ia harus menebusnya dengan penghambaan kepada-Nya


sepanjang hidupnya. Bila ia semakin tersesat, menganggap nyawa manusia seperti
miliknya sendiri, maka ia akan dihempaskan kedalam kenestapaan neraka dunia. Ia
akan semakin diselimuti nafsu ammarah yang sudah menjelma menjadi Iblis sang
Durjana. Yang menafikan semua perintah-Nya, yang membangkang karena
kesombongan dirinya. Ia pun sudah menjadi budak si Iblis.

Mereka yang dibunuh akan mati dalam banyak keadaan. Ada yang dibunuh karena
kesesatannya, dan ini merupakan hukuman Allah yang disegerakan. Ada yang

Namaku Izrail!______________________________________________________68
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

dibunuh karena kesewenang-wenangan, ada yang dibunuh karena membela


kehormatan, ada pula yang dibunuh karena membela keluarganya, atau agamanya
bukan dalam peperangan. Mereka yang dibunuh dalam rangka membela agama,
keluarga, kehormatannya, tanah air, dan dibunuh karena memegang keyakinan di
jalan Allah akan menjadi syahid. Dia akan hidup disisi Allah.

Demikian juga, hati-hatilah dalam bersikap. Sebenarnya makhluk lain tidak berhak
untuk menentukan hidup makhluk lainnya. Temasuk disini meminta kematian atas
makhluk lainnya. Di zamanmu, keinginan untuk meminta kematian22 terlihat seperti
sesuatu yang wajar, lumrah dan manusiawi. Tapi hati-hatilah, kematian yang
dipaksakan tanpa alasan tidaklah dibenarkan oleh Islam. Semenderita apapun engkau
rasakan suatu penderitaan, tanpa kesadaran diri bahwa itu semua adalah ujian
dari-Nya, maka celakalah bagi mereka yang meminta kematian baik untuk dirinya
maupun orang lain. Ketahuilah bahwa Allah tidak akan melewati batas dalam menguji
semua manusia (QS 2:286). Dia sudah menentukan suatu keadaan yang optimum
bahwa penderitaan yang ditanggung oleh seseorang adalah ujian yang masih dalam
batas-batas kemampuannya. Ketika kamu menyerah, dengan alasan tidak sanggup
lagi, maka ketahuilah bahwa apa yang muncul di pikiranmu senyatanya
bisikan-bisikian syeitan yang akan membawamu kepada penyangkalan atas
kebijaksanaan Tuhan Yang Maha Bijaksana. Ketika engkau menyerah dengan alasan
tidak sanggup menanggung derita yang engkau alami, maka waspadailah atas
keputusan yang akan membawa penyesalan di kemudian hari. Sesungguhnya apa
yang engkau sebut penderitaan adalah suatu ujian. Ketika engkau menyadari hal ini,
dan lolos dari ujian yang berupa penderitaan, maka engkau sebenarnya telah
melewati suatu fase kritis dalam kehidupanmu, yaitu fase bertambahnya keimananan
dirimu akan Keadilan dan Kebijaksaaan Tuhan, Rahmat, dan Kasih Sayang-Nya.

Ingatlah penderitaan seorang anak manusia bernama “Ahad”23, seorang anak berkulit
hitam yang hidup di Amerika sana, yang kehilangan setengah dari otaknya karena
letusan Magnum kaliber 3,2. Setengah dari batok kepala sebelah kanannya hancur
karena letusan peluru. Namun, semangatnya untuk hidup tak pernah padam. Bahkan

22
Eutanasia
23
Kisah tentang Ahad, seorang kulit hitam dari keluarga muslim Amerika, pernah ditayangkan stasiun TV Indosiar
dalam acara Guinness Book Of Records pada tanggal 28 November 2004, pagi hari seusai subuh.

Namaku Izrail!______________________________________________________69
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

semangat hidupnya tidak pernah padam kendati para dokter ahli yang merawatnya
memperkirakan harapan hidupnya sangat kecil. Pernahkah engkau bayangkan
seorang manusia dapat hidup tanpa otak kanannya dengan sebelah batok kepalanya
menganga lebar-lebar. Namun, itulah buah dari mentalitas tahan ujian seorang anak
manusia. Kendati tanpa tanpa otak kanan, yang menyebabkan tubuh sebelah kirinya
lumpuh, ia berhasil melalui suatu fase krisis dalam kehidupannya. Ia mampu menjalani
semua itu dengan ketabahan seorang manusia yang berakal, yang mampu
menyelaraskan diri dengan sunnatullah, mampu memahami pengetahuan, dengan
dukungan tim-medis pemerintahnya yang menghargai kehidupan, dengan bantuan
kasih sayang orang tua dan kerabatnya yang tak pernah padam. Maka Ahad yang
malang pun menjalani kehidupan kembali dengan normal, dengan kepala yang
setengah darinya telah digantikan dengan batok kepala buatan. Ia, keluarganya, dan
mereka yang bertangguh jawab terhadap kesehatan masyarakatnya, menghargai
kehidupan yang telah dianugerahkan Allah kepadanya, sehingga dengan ikhtiar dan
keyakinan dirinya akan kasih sayang Tuhan yang melimpah tanpa batas, Ahad dapat
menjalani kehidupan seperti manusia normal umumnya. Aku saat itu, terus terang saja,
bersiap-siap untuk menjemputnya. Tetapi, Allah berkehendak lain, maka Ahad pun
tetap menjalani kehidupannya dengan hikmah yang lebih mendalam tentang arti
rahmat dan kasih sayang Tuhan.

Ingat juga penderitaan seseorang yang berada dalam keadaan antara hidup dan mati,
yang koma selama berbulan-bulan. Namun, dengan ketabahan seseorang yang
menyadari arti upaya manusia dan kasih sayang Tuhan. Hanya keridhaanlah yang
akhirnya mengakhiri kehidupan seorang anak manusia dalam rengkuhan kasih
sayang Tuhan. Jadi, jangan cengeng menyikapi semua penderitaanmu. Engkau dan
kaummu yang sudah dianugerahi akal dan pikiran, semestinya dapat memahami
hikmah-hikmah kehidupan. Bukannya menyerah dan meminta kematian, sedangkan
Dia yang memberikan dan memiliki kehidupan belum menetapkan kematian pada
mereka yang mengalami penderitaan seberat apapun menurut ukuran kamu. Jangan
pernah merasa bahwa keinginan untuk mematikan adalah suatu jalan terbaik. Selama
Dia belum menetapkan, maka keinginanmu tidak lebih dari putusnya harapanmu atas
rahmat dan anugerah-Nya. Ketika engkau menginginkan kematian untuk dirimu atau
pun orang lain, maka ketahuilah bahwa engkau tak lebih dari pengecut yang lari dan
lalai bahwa rahmat dan anugerah-Nya melimpah tanpa batas.

Namaku Izrail!______________________________________________________70
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Ada banyak hikmah ketika seseorang mesti mati dalam peristiwa-peristiwa yang
disebut manusia sebagai tragedi. Banyak hikmah yang tersembunyi disana. Aku tidak
mengetahui apakah hikmah yang dirahasiakan Allah dariku. Itu adalah hak
prerogatif-Nya yang cuma Dialah yang mengetahuinya. Ada kematian tragis di usia
muda, di usia remaja, di usia paruh baya, dalam sakit yang tak terkira, sampai di usia
tua, atau kematian masal karena bencana-bencana alam atau keteledoran manusia.
Aku sekedar menjalankan perintah-Nya sehingga aku pun tak tahu kenapa si A mati
muda, mati remaja, kenapa seseorang harus koma, atau kematian lainnya. Bagiku
semuanya sama saja, karena tugasku sekedar mencabut nyawa.

“Pernahkah engkau dapati mereka yang ingin kau habisi berusaha bersembunyi”,
tanyaku. Izrail, mengernyitkan alisnya yang rapih. Lucu juga melihat wajahnya dalam
posisi itu. Persis tokoh-tokoh game animasi Jepang “Final Fantasy”.

“Hmm, ya rasanya pernah juga tuh. Dulu sekali sewaktu aku mengunjungi Nabi
Sulaiman setiap hari”, ujarnya kalem. Dia sekarang sudah duduk disamping ranjangku,
seperti seorang Bapak mendongeng disamping tempat tidur anaknya.

Ya dulu aku setiap hari diperintahkan oleh Allah untuk mengunjungi Sulaiman. Setiap
hari, aku tanyakan kepadanya apakah ada yang bisa kubantu sekedar ini atau itu.
Kalau dia bilang “ya”, maka aku menyelesaikan perintahnya dengan tuntas. Kalau
“tidak”, ya aku cuma celingukan saja jalan-jalan di istananya yang indah. Terus balik
kembali ketempatku. Begitu saja setiap hari.

Suatu hari, seperti biasanya aku mengunjungi dia. Di balairung, ia sedang


bercengkerama dengan rakyatnya. Tiba-tiba pandanganku tertuju kepada seseorang
yang hadir di balairung itu. Lama sekali kuperhatikan orang itu. Orang itu pun menoleh
kepadaku, dan terlihat makin lama dia semakin tegang dan ketakutan. Akupun
kemudian mengalihkan perhatian darinya, supaya dia tidak terlalu tegang. Setelah
seharian di istana Sulaiman, aku kemudian berpamitan.

Namaku Izrail!______________________________________________________71
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Esoknya, aku pun kembali ke kerajaan Sulaiman, dan melihat pada keramaian di
balairung seperti kemarin. Aku mencari-cari orang yang kemarin kutatap itu, namun
tidak ketemu juga. Setelah pertemuan usai, kutemui Nabi Sulaiman a.s.
“Wahai Nabi Allah, siapakah orang yang kemarin kulihat ada di balairung”.
“Ohh si Polan yang kamu pelototin itu...”, ujar Nabi Sulaiman.
“Ya benar, si Polan kemanakah dia perginya?”.
“Lho memang kenapa kamu tanyakan orang itu.”, ujar Nabi Sulaiman tidak menjawab
pertanyaanku.
“Lusa kemarin, aku diperintahkan oleh Allah untuk mengambilnya hari ini, tapi kok
aneh dia kemarin masih disini.”, aku bertanya sedikit bingung.
“Ya, memang dia ketakutan melihatmu dan menanyakan kamu.” Nabi menjawab.
“Lalu, ketika kuberitahu bahwa kamu adalah malaikat pencabut nyawa, dia memohon
kepadaku untuk dikirimkan ke India.”
“Maka dengan ilmuku, kukirimlah dia ke suatu tempat di India sesuai dengan
permintaannya.” Nabi Sulaiman menjelaskan.
“O, ya benar India, aku memang heran kemarin itu. Karena Allah memerintahkan aku
untuk mencabut nyawa si Polan itu di India hari ini”, kemudian akupun segera
berpamitan kepada Nabi Sulaiman a.s. Dalam sekejap aku berada di India. Kulihat si
Polan sedang sekarat menggelepar-gelepar di suatu dataran tinggi di India. Lantas
akupun mencabut nyawanya. Begitulah, kalau ajal sudah mendekat, tak ada tempat
untuk sembunyi.

“Bagaimana dengan wali Allah?” Aku kembali bertanya padanya. Ia melihat kepadaku.
Tersenyum.

“Seorang wali mempunyai kedudukan yang istimewa di mata Allah”, ia mengawali


ceritanya.

Setelah Nabi Muhammad SAW menutup era para Nabi dan rasul. Tidak ada lagi
nabi-nabi dan rasul-rasul lainnya, maka akupun sudah tidak pernah lagi mencabut
nyawa dengan kebahagiaan seperti saat mengantarkan ruh para nabi kepada-Nya.
Kecuali para kekasih Allah yang gugur dan berjihad di jalan-Nya dan yang menjadi
guru manusia dengan keikhlasan tanpa batas. Itulah para Wali Allah yang jumlahnya
dalam setiap zaman beribu-ribu. Kadang ada yang kaya, yang miskin, yang jadi

Namaku Izrail!______________________________________________________72
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

penguasa, yang jadi karyawan, yang jadi tukang sapu, yang jadi gembel, yang jadi
prajurit, yang jadi tukang sol sepatu, yang jadi pemelihara makhluk-Nya yang
disia-siakan manusia, yang diperkenalkan kepada umum, yang tersembunyi, dan lain
sebagainya.

Merekalah yang menegakkan warisan Nabi terakhir Muhammad SAW. Meneruskan


rahmatnya kepada semua makhluk. Biasanya aku dititipin sesuatu oleh yang Maha
Kuasa kalau aku menerima daftar wali-wali-Nya yang harus kucabut nyawanya. Allah
biasanya menitipkan salam seperti ini,

”Salam kesejahteraan bagimu, wahai wali Allah.


Berdiri dan keluarlah dari rumahmu yang engkau robohkan
menuju rumahmu yang engkau makmurkan!”

Biasanya para wali itu bergegas-gegas kalau aku sudah berteriak-teriak di halaman
rumahnya seperti itu. Dan begitulah, akupun kemudian masuk dengan senyum
sumringah Wali Allah. Seringkali, aku mencabut nyawa Sang Wali dalam berbagai
keadaan. Ada kalanya aku mencabut dalam kegilaannya kepada Allah. Seringkali juga
ada yang kucabut dalam kefakirannya terhadap dunia, menggelandang di
emper-emper toko atau masjid. Ada pula yang telanjang bulat dan tanpa pakaian,
kecuali cintanya kepada Allah yang membuatnya menjadi majnun. Ada juga yang
sedang enak-enaknya membaca ayat-ayat suci kucabut. Juga ada yang sedang
istirahat dengan tenang sambil duduk-duduk minum kopi seusai subuh. Ada juga yang
melalui sakit menahun yang dinikmatinya karena semata-mata ridhanya atas semua
ketentuan Allah SWT.

Demikian juga dalam peperangan. Wali yang langsung kuraih dengan lemparan peluru
atau dentuman meriam sang maut. Badannya hancur lebur, tapi ruhnya terbang
bersamaku dengan kegembiraan tak terkira.

Yang sadispun ada. Seperti terpotong-potong tubuhnya di tiang gantungan karena


sudah tidak merasakan lagi segala macam kesakitan yang menimpanya. Itulah si
Mansyur al-Hallaj yang gelagapan di telan kebaqaan-Nya. Darah yang muncrat

Namaku Izrail!______________________________________________________73
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

berceceran dari tubuh Wali Allah kadangkala, dengan kehendak-Nya, seperti menjadi
saksi dan menuliskan lafaz Allah ..Allah..Allah...

Mencekam memang, tapi begitulah keadaan wali-wali yang sering kutemui saat Allah
sudah menghendakinya kembali kepada-Nya. Bagiku, mencabut nyawa Sang Wali
seperti mendapat kehormatan dan barokah Allah, karena dari situ aku bisa merasakan
gairah cintanya pada Allah SWT.

Hamba Allah yang diridhai Allah mengalami kondisi yang menakjubkan. Seperti
pernah disabdakan oleh Nabi SAW ketika menceritakan bagaimana hamba Allah
yang diridahi Allah menjelang kematiannya. “Jika Allah SWT ridha terhadap
hamba-Nya, maka Dia kan berfirman, ’Wahai Malaikat Maut, pergilah kepada si Anu
dan bawalah kepadaku ruhnya untuk kuanugerahi kebahagiaan. Amalnya kupandang
sudah mencukupi: Aku telah mengujinya dan mendapatinya seperti yang kuinginkan.’”
Kalau Allah sudah menghendaki begitu, maka akupun turun dengan limaribu malaikat
lain. Semuanya membawa tongkat yang terbuat dari kayu manis dan akar-akar
tanaman safron, setiap malaikat itu menyampaikan pesan dari Tuhannya. Kemudian,
para malaikat itu membentuk dua barisan untuk mempersiapkan keberangkatan
ruhnya. Ketika setan melihat mereka, dia meletakkan tangannya di atas kepala
mereka dan menjerit keras-keras. Para bala tentaranya bertanya, “Ada apa Tuanku?”
Setan menjawab, “Tidakkah kamu melihat kehormatan yang telah diberikan manusia
ini?”. Mereka menjawab, ”Kami telah berusaha sekeras-kerasnya terhadapnya, tapi
dia tak bisa dipengaruhi.”

Ketahuilah, ketika aku hendak mengambil nyawa orang arif, maka Allah Ta’ala
menampakkan pada telapak tanganku “Bismillahirrrahmaanirrahiim”, dengan tulisan
dari cahaya yang berpendar dan bersinar, lalu Dia memerintahkan aku untuk
membentangkan tanganku kepada orang arif itu, sehingga iapun melihat tulisan itu.
Bila ruh orang arif itu melihatnya, tulisan itu terbang kepadanya lebih cepat dari
kejapan mata. Itulah tanda Rahmat dan Kasih Sayang Allah kepadanya. Al Hasan
berkata,

Tidak ada yang kebahagiaan bagi mereka yang beriman


kecuali perjumpaan dengan Allah,

Namaku Izrail!______________________________________________________74
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

dan barangsiapa dianugerahi perjumpaan tersebut,


maka hari kematiannya adalah
hari kegembiraannya,
kebahagiaannya,
keterpesonaannya,
keagungannya,
dan kehormatannya

Itulah sekelumit kemuliaan yang diperoleh para Wali Allah yang bisa kuceritakan. Ada
banyak kemuliaan disana, baik yang dapat kamu tangkap dengan tanda-tanda lahiriah,
maupun batiniah, gaib maupun nyata.

Sedangkan bagi yang bukan wali, atau mengaku-ngaku wali, akupun akan berteriak
kepadanya,

”Berdiri! Keluarlah dari rumahmu yang engkau makmurkan


menuju rumahmu yang engkau robohkan!”

Kalau sudah kuteriakkan begitu, maka mereka yang mengaku wali, atau ulama yang
lupa diri, akan menggigil, gemetaran dan pucat pasi di ranjangnya. Tapi aku tak peduli
dan aku akan menampakkan diri sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, yaitu
menipu manusia atas nama Tuhan.

Kendati para wali dan kaum arifin merasakan kengerian juga menjelang ajal tiba,
namun bagi mereka saat kematian merupakan undangan yang ditunggu-tunggu,
sehingga banyak diantara mereka malah membuat syair-syair yang syahdu tentang
aku.

Izrail nampak terlihat sumringah. Senyum di wajahnya yang halus dan luar biasa
terlihat mengembang. Sesekali ia mengerlingkan matanya keatas, kemudian ia
menatapku dan bersyair dengan untaian syair kaum arifin :

Kerinduan hati para arifin adalah kepada zikir,


dan zikir mereka ada dalam kesunyian munajat.

Namaku Izrail!______________________________________________________75
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Cangkir takdir diedarkan diantara mereka,


dan mereka berpaling dari dunia bagai orang mabuk.
Rasa rindu mereka berkeliling di perkemahan,
Jika ada pecinta Tuhan yang bersinar bagai bintang gemilang.
Jasad mereka terbujur karena cinta-Nya,
dan ruh ruh mereka yang tertabir,
pergi di malam hari menuju keagungan.
Perhentian mereka hanyalah disisi Sang Kekasih;
Dan mereka tak lagi disimpangkan kesengsaraan atau bahaya
(Abu Said al-Kharraz)

Demi kebenaranMu, tak akan kupandang selain Engkau


dengan mata cinta
Hingga aku bertemu denganMu
Aku melihat-Mu sebagai Penyiksaku,
Yang melemahkan penglihatanku,
Dan membuat pipiku merah karena rasa malu pada-Mu.
(Abu Ali Al-Rudzbari)

Rumah yang kau tempati, tak lagi perlu lentera.


Wajah-Mu yang kami harap jadi bukti
Di hari ketika manusia memerlukan bukti.
Semoga Tuhan tidk memberikan kebahagiaan kepadaku
Jika baru hari ini aku bersimpuh memohon.
(Al-Syibli)

Ketika hatiku mengeras dan jalanku menyempit,


Kujadikan harapan-harapanku sebagai titian menuju ampunan-Mu
Dosaku begitu besar, namun, kubandingkan dengan ampunan-Mu,
Ternyata ampunan-Mu lebih besar.
Engkau selalu mengampuni dosa,
Dan Engkau selalu bermurah hati
dan pemaaf karena sifat-Mu yang Pemurah.
Tetapi, seandainya bukan karena Engkau,

Namaku Izrail!______________________________________________________76
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Tak seorangpun yang akan digoda Iblis;


Maka bagaimana,
sedangkan dia telah menggoda insan pilihan-Mu,
Adam?
(Al-Syafii)

Lucu juga melihat malaikat bersyair, ia terbang mengelilingi kamarku, meliuk-liuk dan
menari-nari dengan gemulai seolah alunan nada syair itu mengombak dan
menggelombang seirama dengan gerakan tubuhnya. Pakaiannya yang putih kemilau
dibawah sinar lampu kamarku semakin cemerlang dengan diikuti percikan
bintang-bintang.

Aku tersenyum-senyum bahagia terbawa arus syair yang ia lantunkan. Beberapa


jenak kemudian, ia sudah kembali disampingku, sambil memegang tanganku yang
lemas seperti tanpa tenaga.

“Kalau para Nabi bagaimana?”, tanyaku sedikit merajuk seperti masa kanak-kanak
dulu aku merajuk minta dongengan pada ibundaku dulu.

“Para Nabi mempunyai kisah yang berbeda-beda”, tuturnya melanjutkan seolah ingin
memuaskan rasa ingin tahuku yang tak pernah berhenti.

Nabi Musa misalnya, galaknya minta ampun. Dulu aku mendatangi manusia
terang-terangan. Aku mendatangi Musa waktu itu. Aku kira Allah sudah
menginformasikan Musa akan kudatangi. Tidak tahunya, dia menempeleng dan
mencungkil mataku.

Akupun lalu kembali dan mengadu kepada-Nya, ”Wahai Tuhanku, Musa telah
mencungkil mataku. Kalau bukan kemuliaan atas-Mu, pastilah aku akan
menyusahkannya.”

Allah kemudian berfirman, ”Pergilah kepada hamba-Ku (Musa) dan katakan padanya
agar meletakkan tangannya di atas kulit sapi, maka setiap rambut yang disentuh
tangannya umurnya akan bertambah selama setahun”.

Namaku Izrail!______________________________________________________77
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Akupun kemudian kembali dan menyampaikan firman Allah itu kepada Musa.
Lalu Musa bertanya,”Lalu apakah setelah itu?”.
Aku menjawab , “Kematian”.
Musa kemudian tergesa-gesa berkata, ”Kalau begitu, sekarang saja.”

Lalu aku menciumnya dan mencabut nyawanya. Allah pun kemudian mengembalikan
mataku. Setelah kejadian itu, aku pun kemudian mendatangi manusia secara
diam-diam. Maka akupun menyamar jadi bermacam-macam hal. Ada wabah penyakit,
kecelakaan, peperangan, kegembiraan, kesedihan, dan lain sebagainya. Disetiap
kesempatan, di setiap waktu, aku bisa saja membuka penyamaranku, dan mencabut
nyawa setiap makhluk.

Nabi Ibrahim a.s juga mempunyai jalinan kisah yang menarik ketika aku
mendatanginya. Aku datang kepada Ibrahim a.s. dengan mengatakan kepadanya
bahwa Tuhan sudah memerintahkan diriku untuk mencabut nyawanya dengan cara
yang paling ringan, seperti ketika aku mencabut nyawa seorang Mukmin.

Ibrahim kemudian menjawab,”Sesungguhnya aku memintamu dengan hak Yang


Mengutusmu untuk memohon pertimbangan kepada-Nya tentang penundaan
kematianku”.

Mendengar ia berkata begitu, akupun kembali menghadap Allah SWT dan berkata
pada-Nya, “Sesungguhnya kekasih-Mu meminta agar aku meminta pertimbangan
kepada-Mu tentang menunda kematiannya.”

Allah kemudian berfirman, “Datangilah dia dan katakan padanya, ‘Sesungguhnya


Sang Kekasih sangat ingin bertemu dengan kekasih-Nya’.”
Aku kemudian kembali kepada Ibrahim a.s. dan menyampaikan firman Allah tersebut.
Ibrahim a.s kemudian berkata, ”Laksanakanlah apa yang diperintahkan-Nya!”.
Aku juga kemudian bertanya padanya, ”Wahai Ibrahim, pernahkah engkau minum
minuman keras?”
Dia menjawab, ”Belum pernah sama sekali”.

Namaku Izrail!______________________________________________________78
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Aku kemudian menciumkan bau wanginya arak dari surga dan mencabut nyawa
Ibrahim Khalil Allah dalam keadaan seperti itu. Mabuk oleh harumnya bau wangi arak
surgawi. 24

“Adakah saat-saat yang mengesankan ketika engkau menunaikan perintah-Nya?”,


aku masih melanjutkan pertanyaan tentang caranya mengambil ruh para nabi.

Yang paling berkesan? Wah apa ya yang paling berkesan. Barangkali kalau kuingat -
ingat ada tiga peristiwa pengambilan yang paling berkesan sepanjang karirku. Yang
pertama mungkin sewaktu aku mengambil nenek moyangmu, Adam.

Ya, aku ingat saat itu.

Itulah tugas resmiku yang pertama kali dilakukan saat mencabut manusia sempurna
yang pertama. Adam yang malang, kelalaianya menyebabkan Dia mengusirnya dari
Alam Surgawi yang tak terkira indahnya. Padahal, dulu kami pernah bersama-sama
disana. Aku pernah melihatnya ketika awal mula, sejenak setelah materi
pembentuknya selesai dibuat oleh-Nya.

Ia diajar langsung oleh-Nya, dari perbendaharaan-Nya yang tersembunyi. Tentang


nama-nama, hukum-hukum alam, dan tentang manusia itu sendiri. Itulah
asmaa-a-kulahaa yang ia pelajari dari Dia Yang Memiliki Perbendaharaan
Tersembunyi. Dan dengan pengetahuan-Nya itu, Adam mengalahkan semua
pengetahuan kami.

Ketika kami protes pada-Nya, dan kamipun harus tahu diri dengan keluasan
pengetahuannya, kami pun mengerti, Dia lebih tahu segalanya. Karena kami
sesungguhnya tidak tahu apa-apa atas keluasan Ilmu-Nya. Itupun lebih banyak
disebabkan karena kadar yang sudah kami terima sebagai penyampai pengetahuan
belaka atau sebagai spesialis untuk tugas-tugas tertentu. Kami tidak memiliki memori
yang mampu dikembangkan lebih jauh. Menthok! Cuma sebatas kadar saya sebagai
malaikat semata – sebagai pencabut nyawa. Lebih dari itu, cuma Adamlah yang

24
Diriwayatkan oleh Abu Asy Syaikh dari ref 10, hal. 62

Namaku Izrail!______________________________________________________79
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

memilikinya, namun karena itu pula Adam dan anak cucunya memerlukan
ruang-waktu. Tanpa ruang waktu, Adam tak bedanya dengan kami. Sebab itulah
Adam yang merupakan tajali-Nya yang sempurna, harus menanggung beban karena
ilmu dan kelemahannya. Dan lalai, rupanya bakal menjadi sifat anak cucunya di dunia.
Itulah tugasku yang terberat, sekaligus menjadi kewajibanku.

Oh terkutuklah si Iblis yang membangkang. Ia jerumuskan Adam dan Hawa untuk


menanggung beban di dunia. Ketika ilusi kesombongannya mencuat, Iblis berkata:
"Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia
Engkau ciptakan dari tanah"(QS 38:76). Allah pun mengusirnya dari surga, Allah
berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang
terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan" (QS
38:77-78). Iblis yang ngeyel putus asa, karena ia tahu kutukan-Nya adalah tak
terbantahkan, maka Iblis kembali berkata: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai
hari mereka dibangkitkan" (QS 38:79). Allah yang Maha Bijaksana kemudian
berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai
kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)" (QS 38:80-81). Iblis
menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,
kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. (QS 38:82-83). Allah Yang
Maha Benar berfirman: "Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran
itulah yang Ku-katakan". (QS 38:84). Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka
Jahanam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara
mereka kesemuanya (QS 38:85). Begitulah, Iblis pun terusir dari surga dengan
mengancam anak cucu Adam sampai kiamat, katanya "Karena Engkau telah
menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari
jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari
belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati
kebanyakan mereka bersyukur (taat)” (QS 7:16-17)

Tapi, Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, pemberi rahmat bagi semua
25
makhluknya, kemudian membukakan pintu-pintu ampunan-Nya setiap saat ,
walaupun kemudian banyak manusia-manusia bodoh yang mengabaikannya. Padahal

25
QS 2:37 Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Namaku Izrail!______________________________________________________80
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

pintu itu selalu Dia buka, dan terus terbuka, sampai aku diperintahkan-Nya untuk
menutupnya. Itu terjadi kalau ruh manusia sudah berada dalam genggamanku,
dikerongkongannya, dimana ia meregang nyawa, mempertahankan nafas terakhirnya.
Maka pintu tobat itupun akan menutup, menghapus semua harapan.

Manusia paling bodoh sajalah yang menyia-nyiakan hidayah Dia Yang Maha Memberi.
Hingga senjata pamungkas untuk melawan tipu daya Iblis pun di sia-siakannya.
Malang benar nasib anak cucu Adam, dan Adam pun seringkali menangis manakala ia
menengok kesebelah kirinya. Ia melihat milyaran manusia menjadi arang bara
Jahanam. Tapi itulah jalan ceritanya, yang akupun tak sanggup mencerna
Kebijaksaan-Nya. Hanya mereka yang ingat jalan kembalilah yang akan mengetahui
rahasia-rahasia penciptaan makhluk-Nya.

Diusianya yang keseribu, aku kemudian diperintahkan-Nya untuk mencabut nyawa


manusia sempurna yang pertama. Itulah Adam. Moyang semua manusia.

Ia yang kudatangi saat itu, sudah tua renta. Guratan nasib menghiasi wajahnya. Disitu
aku melihat guratan kesedihan seorang makhluk, yang karena kelalainya terpaksa
menjalani kehidupan di ruang terbatas yang ilutif. Disitu aku lihat jejak kesedihan
tragedi Qabil dan Habil, yang menjadi drama pembunuhan pertama, yang terekam
dalam ingatan sejarah manusia yang pelupa, yang menghitamkan bulu-bulu si gagak,
manakala ia menjadi saksi muncratnya darah anak Adam yang pertama, oleh
sudaranya sendiri. Si gagak adalah Utusan Allah yang menjadi saksi melihat
kengerian pertama kalinya, dari makhluk yang membuas bernama manusia. Ia pun
seperti memperoleh kutukan, untuk mengikuti setiap langkahku, ketika nyawa harus
dicabutkan dari tubuh anak cucu Adam.

Di wajah Adam, aku melihat guratan-guratan nasib anak cucunya dimasa depan,
seolah Dia telah mewaskitakan kepadanya, bahwa milenium demi milenium akan
terlewati dengan simbahan darah. Persis seperti apa yang pernah kami lihat dan kami
khawatirkan sebelumnya. Kami melihat ke masa depan dan kemasa lalu tak ada
bedanya, makanya bagi kami apa yang akan terjadi pada manusia cuma sekedar
sekelebatan saja. Kami telah melihat simbahan darah manusia di muka bumi sebelum
bumi itu sendiri terbentuk menjadi planet kehidupan. Abad demi abad, anak cucunya

Namaku Izrail!______________________________________________________81
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

mandi darah dengan peperangan, dengan penyakit, dengan khayal dan angan-angan
akal, dengan kesombongan Iblis dan kebodohan-kebodohannya sendiri. Iblis yang
telah bersumpah menyesatkan anak cucunya dari depan, belakang, kiri, dan
kanannya berpesta pora. Ketika kesuksesan demi kesuksesan diraihnya.
Menjerumuskan anak cucu Adam dan Hawa. Virus kesombongan yang ia buat
pertama kali, akhirnya menyebar menjadi benih-benih penyakit hati, yang mengendap
ke banyak dada manusia; yang menumbuhkan rantai kepemilikan, kesombongan,
kedengkian, keserakahan, kemaksiatan, diseluruh penjuru dada anak cucunya.

Tapi, diantara anak cucunya pula muncul pahlawan-pahlawan kemanusiaan, yang


menjadi petunjuk jalan, menjadi guru manusia, untuk kembali mengingatkan bahwa
asal dari manusia adalah dari Kehendak-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Hanya ia
yang berpikir dan berakal sesuai fitrahnya saja yang kemudian akan tersadar akan
dirinya; ia yang membukakan matahatinya dihening malam, memikirkan penciptaan
dirinya, memikirkan penciptaan alam semesta, memikirkan Tuhannya, akan
menemukan jalan kembali kepada-Nya, dengan ridha dan ridha-Nya.

Adam masih tercenung ketika aku hadir dihadapannya. Sekilas, aku melihat air mata
kesedihan meleleh di pipinya. Nenek moyang manusia itu menangis. Rupanya ia
sudah mendapat waskita, kalau kemanusiaanya dibatasi oleh sangkar ruang-waktu.
Ia tak lagi bisa abadi di dunia. Ia harus kembali.

Takdir-Nya akan berjalan sesuai dengan ketetapan-Nya. Ketika aku memperkenalkan


diri kepadanya, ia pelan-pelan menganggukkan kepalanya, kemudian ia berkata
“innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kami milik Allah dan
sesungguhnya kepada-Nya kami kembali) (QS 2:156 )”

Akupun mengiringi ruhnya untuk kembali kepada-Nya. Di surga sana, Adam tinggal di
langit pertama, sebagai pintu gerbang menuju keabadian al-malakut.

Setelah Adam, tinggalah Hawa yang dicekam kesedihan. Ia yang selama ini dibimbing
oleh Adam menjadi pemurung. Hari demi hari ia lalui dengan merenungkan perjalanan
kehidupannya. Adam yang ia cinta, yang ia jadikan pendampingnya, yang

Namaku Izrail!______________________________________________________82
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

membimbingnya, yang memperkenalkannya tentang ini dan itu, telah kembali


kepada-Nya. Air matanya perlahan jatuh meleleh. Sunyi dan sepi alam ini tanpanya.
Ia yang sudah menjadi Ibu dari puluhan anak-anak zaman, mengingat kembali
masa-masa awalnya dulu. Disana, di suatu taman yang tertutup, yang keindahannya
tidaklah ia bisa lupakan begitu saja.

Kesedihan Hawa berimbas kelingkungannya, angin seolah enggan berhembus


mengiringi kesendiriannya, pohon enggan berbisik, daun-daunnya diam, kuda, lembu,
rusa, kodok, kadal, ular, kalajengking enggan beringsut seolah ingin meresapi
kesedihan alam atas kembalinya Bapak Para Manusia Adam. Ia terawangkan kembali
kebodohannya dulu, kemanjaannya dan bujuk rayunya dulu yang memaksa Adam
untuk melahap buah yang terlarang, karena bujuk rayu, khayal dan angan-angan
kekekalan, tapi itulah yang ciptakan kesengsaraan.

Ohhh, menyesalnya dia. Ular yang terkutuk desisnya. Iblis dajal pendengki, yang telah
menjerumuskan aku. Ia membujuk dengan kemalaikatan dan kekekalan. Ia pun
mengaku-ngaku sebagai penasehat buat kami. “Sesungguhnya aku ini adalah
penasehat bagi kamu bedua (QS 2:21)”, begitu bujuknya. Dan akupun termakan tipu
dayanya. Sang penipu itu telah lari begitu dahan buah terlarang ia sentuh. Seolah
takut diciprati getah dahan pohon terlarang, yang sudah terlanjur ia petik. Begitulah
perilakunya di setiap zaman, menjadi ciri dari setiap tipu daya yang ia ciptakan. Bagai
kutukan, Iblis dan sekutunya selalu akan berkata :

"Ya Tuhan kami, mereka inilah orang-orang yang kami sesatkan itu;
kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri) sesat,
kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau,
mereka sekali-kali tidak menyembah kami". (QS 28:63)

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan


ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu",
maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata:
"Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut
kepada Allah Tuhan semesta alam". (QS 56:19)

Namaku Izrail!______________________________________________________83
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

...setan itu balik ke belakang seraya berkata:


“Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat
melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut
kepada Allah.” Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (QS 8:48)

Itulah yang mereka katakan setelah berhasil menyesatkan manusia. Maka hati-hatilah
manusia terhadap siapa dan kepada siapa kamu bertaklid dengan membuta.
Waspadalah!

Ohh, benih kesombongan dan kedengkian itu, merasuk begitu dalam, begitu dahsyat,
menggoncangkan keseimbangan jagat. Disetiap waktu, di setiap tempat. Manusia
yang tidak waspada akan masuk ke dalam perangkap Iblis dan sekutunya.

Hawa yang malang, kesedihannya adalah kesedihan dari keindahan. Keindahan yang
seringkali begitu gampang memurukkan dan melupakan. Hawa yang malang, ia
mengingat kembali serbuk-serbuk buah terlarang yang kadangkala diam-diam masih
ia gunakan. Menjadi bedak, menjadi permata, menjadi perhiasan dunia lainnya. Ia
terawangkan matanya menembus ke masa depan. Disana, ia melihat anak cucu dari
kaum sejenisnya masih menyukai pahitnya buah terlarang.

Ia melihat pemandangan yang membuatnya makin bersedih. Ia lihat melihat Cleopatra,


Matahari, Marylin Monroe, Madonna, Britney Spear, dan lain-lainnya yang masih
melekatkan serbuk-serbuk buah terlarang ketubuhnya. Ia melihat kaumnya mengikuti,
mencintai, menyukai, bahkan sampai-sampai menggadaikan kemanusiaannya,
akidahnya, berlomba-lomba mengecap pahitnya sisa-sisa racun buah terlarang. Ilusi
tentang keabadian.

“Ohhh, kaumku yang malang”, Hawa mengeluh iba. Iblis yang terusir, telah membuat
tipu daya dengan memulas pahitnya buah terlarang itu dengan ilusi kemewahan. Yang
berubah wujud menjadi kesenangan, kemaksiatan, keangkuhan, kesombongan,
bahkan dengan kecantikan. Ia melihat anak cucunya semakin tertutup bedak-bedak
pohon terlarang, ia melihat pantat bergoyang, ia melihat aurat tergelar dimana-mana,
di televisi, di jalanan, di bioskop, di mall-mall, diwarung-warung, diremang-remang

Namaku Izrail!______________________________________________________84
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

malam; bahkan ia melihat di rumah-rumah, bahkan di rumah-rumah Tuhanpun,


kaumnya masih suka berbedak pohon terlarang.

Hawa menangis. Disela tangisnya ia kadang tersenyum dan tertawa ketika melihat
Siti Khadijah, Aisyah, Fatimah Az Zahra, Rabiah, Joan D’Arc, Kartini, Bunda Teresa,
dan yang lainnya. Lalu ia kembali hanyut dalam kesedihannya.

Sedih, siapa lagikah yang akan membimbingku? Kepergianmu bagaikan lenyapnya


separoh dari hatiku. Hawa menangis kembali dan terus menangis.

Aku masih berdiri dihadapan Hawa. Melihatnya menangis, melihatnya bersedih,


melihatnya ketakutan, dicekam kengerian, akan kesendiriannya di dunia ini. Setelah
tangis dan kesedihan itu kulihat mereda, kuhampiri Ibu semua manusia itu.
“Wahai Hawa, Aku akan membawamu juga”, sapaku dengan lembut.
Hawa menoleh, matanya yang menua masih memperlihatkan pesonanya yang
menundukkan Adam sehingga ia pun petik buah terlarang untuknya.
“Engkaukah Izrail?”, tanyanya.
“Ya.”, aku menjawab pendek.
Senyumnya mengembang. Seketika itu, ia meraih tanganku.
“Bawalah aku pergi.”, mohonnya.
Akupun mengangguk. Lalu kubawalah Hawa pergi.
Kembali ke Sang Kekasih, kepada Adam di alam tinggi sana.

Bumi serasa berhenti berputar kala itu. Anak-anak dan cucu-cucunya meraung,
getarkan semua dahan dan ranting tumbuhan di muka bumi, sebagian menangis sedih,
sebagian lagi marah, sebagian lagi bergembira, karena lepas sudah kekang terakhir
atas tingkah lakunya, Ibunda Semua Manusia.

Aku termenung, melihat kepada Izrail yang juga termenung mengenang


pengalamannya membawa Adam dan Hawa kepada sang Khaliq. Kemudian, ia
memecahkan keheningan :

“Sekali waktu, aku ditugaskan untuk mengambil ruh paling mulia, yang sebenarnya
menyebabkan aku dan alam semesta ada. Dialah benih kun yang sebenarnya,

Namaku Izrail!______________________________________________________85
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Muhammad SAW – Utusan Allah, yang cahayanya sudah ditakdirkan


mengguncangkan kelahiran semesta sejak awal mula”. Izrail meneruskan seolah-olah
mencabut pertanyaan yang masih menggantung di kepalaku.

Pemimpin orang-orang yang baik itu diperintahkan untuk mengakhiri usianya dengan
kebaikan. Kulihat ia dikelilingi sahabat dan keluarganya. Makhluk yang sempurna
itupun terbujur menanti diriku. Di pembaringan, sekilas ia masih terlihat ragu dan
melihat kesekelilingnya. Seakan, ia khawatir akan umat yang ditinggalkannya.
“Umatku...umatku..umatku..”, sesekali ia seperti ngeri melihat umatnya di masa
depan.

Ketahuilah, bahkan Nabi Muhammad pun menghadapi kematian sebagai manusia


biasa, dengan kegelisahan, rasa takut, dan kengerian. Allah seperti hendak
menunjukkan kepada manusia bahwa bahkan seorang Nabi Yang Paling Sempurna
diantara semua Nabi pun kematian menjadi suatu hal yang memang sepantasnya
ditakuti. Apalagi bagi manusia biasa. Maka sungguh lalai bila manusia mengabaikan
hal ini. Ketahuilah bahwa dalam kematian Nabi Muhammad SAW terdapat suri
tauladan tentang kehidupan dan kematian, tentang perkataan dan perbuatan. Tidak
ada manusiapun yang lebih mulia dibandingkan dengan Nabi Muhammad SAW yang
menjadi Habib Allah (Kekasih Allah), sehingga pada kematiannya tidak ada
keistimewaan tertentu kecuali dari keagungannya yang ditangisi oleh seluruh alam
dan seisinya.

Allah menugaskan malaikat-malaikat yang mulia untuk menjemput ruh beliau yang
suci dan membawanya keridhaan-Nya, puncak kebaikan, kesempurnaan, kepada
Singhasana Kebenaran di Hadirat Yang Pengasih. Namun, bersamaan dengan itu
penderitaan yang dirasakan beliau saat sakratul maut sangatlah berat. Apa yang dia
rasakan saat itu, penderitaan yang dia alami sangat terdengar jelas bagi semua yang
melihatnya. Kegelisahannya memuncak dan suaranya mengeras ketika mengerang.
Menahan rasa takut dan sakit, yang tak seorangpun boleh menanggungnya kecuali
dirinya sendiri, sebagai suatu pelajaran bahwa kematian dan sakratul maut tak boleh
diabaikan. Warna kulitnya berubah, dahinya basah oleh keringat dan tarikan maupun
hembusan nafasnya mengguncangkan tulang-tulang rusuk kiri dan kanannya,

Namaku Izrail!______________________________________________________86
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

sehingga siapapun yang hadir ketika itu menangis menyaksikan beliau berjuang
menahan rasa sakit [11].

Perhatikanlah, bahwa jabatan kenabian tidak mengecualikan beliau dari ketentuan


Ilahi, dari dahsyatnya sakratul maut menjelang kematian. Semua yang dirasakannya,
tidak mendorongnya untuk memohon kekecualian dari Allah SWT karena beliau
adalah penolong Kebenaran dan pembawa kabar gembira dan peringatan kepada
umat manusia. Beliau melaksanakan yang telah diperintahkan dan mengikuti yang
tertulis pada Lauh Mahfuzh. Demikianlah keadaan Nabi SAW ketika menjelang
kematiannya, meskipun beliau memiliki tempat terpuji – Al-Maqam al-Mahmūd (QS
17:79) - di sisi Allah, dan telaga kemuliaan yang tak pernah surut - Al-Haudh al-Maurūd.
Maka ketahuilah bahwa apa yang dialami Nabi SAW saat-saat menjelang
meninggalkan kefanaan dunia adalah suatu pelajaran bagi semua manusia, bahwa
semua amaliah kita tidak menjamin keistimewaan tertentu saat-saat maut mendekat.
Jadi cermatilah, mawas dirilah atas apa yang telah dilakukan di dunia, sadarilah
bahwa betapa sulitnya perjalanan menuju Surga Abadi.

Tapi Sang Kekasih sudah lama menunggu. Akupun turun kebumi saat itu. Langit yang
cerah mendadak sepi dan hening, awan berhenti berarak, semesta seakan berhenti
bernafas, dengusnya yang biasanya kudengar menderu-deru, saat itu terlihat diam
terhenyak. Hari ini aku ditugaskan mencabut nyawa makhluk pembawa rahmat bagi
seluruh alam. Bahkan dari semua jenis makhluk yang hidup di semua alam,
rahmatnya itu tak akan pernah berhenti sepanjang waktu, sepanjang zaman.

Muhammad Utusan Allah, hamba Allah yang Insan Kamil, Maujud sempurna dari
semua penampakkan Af’al, Asma-asma dan Sifat-sifatNya, Harus kembali juga
kepada-Nya. Tak ada yang perlu ditangisi, apalagi keagungannya disalahgunakan
dengan mengkultuskannya. Ia tetaplah manusia. Hanya dalam format kesempurnaan,
menjadi Insan Kamil, menjadi Adimanusia, menjadi Logos, menjadi Gurujati.

Ia menjadi hamba Allah sejati, menjadi guru semua manusia, menjadi khalifah semua
makhluk; Ia adalah maujud tentang segala sesuatu yang terjadi di semesta. Yang
mengikutinya akan selamat sampai akhirat. Karena ia sebenarnya menjadi petunjuk
dalam membangun titian kehidupan yang setipis rambut dibelah tujuh. Titian Shiraat

Namaku Izrail!______________________________________________________87
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

al Mustaqiim. Jalan yang lurus, jalan Ilahiah, jalan para Nabi dan Rasul yang
berserah diri, jalan yang diridhai oleh-Nya. Siapa yang mengabaikan fakta-fakta ini,
maka ia akan menyia-nyiakan suatu peluang untuk menemukan jalan kehidupan yang
sebenarnya.

Izrail terdiam sejenak seperti mengenang apa yang sudah ia laksanakan. Kemudian ia
melanjutkan.

Ketika aku akan menjemputnya, di hari-hari akhirnya di dunia, aku mendatanginya.


Cukup lama aku bercakap-cakap dengannya. Akupun mengatakan kepadanya bahwa
Allah telah mengutusku dan kukatakan bahwa aku diperintahkan oleh-Nya agar tidak
masuk ke rumahnya tanpa seizinnya. Jika beliau tidak mengizinkan maka aku akan
kembali, tetapi jika dia mengizinkan maka aku akan masuk. Allah juga
memerintahkanku untuk tidak mencabut nyawanya bila beliau tidak berkenan. Jadi
aku tanyakan saja apa yang dia inginkan sekarang. Kemudian Nabi SAW berkata
untuk menunggu kedatangan Jibril, karena di waktu itulah dia biasanya datang
mengunjunginya.

Saat itu, tak seorangpun sanak saudara Rasulullah SAW yang berbicara karena
peliknya persoalan itu dan rasa takut yang hinggap dihati mereka. Kemudian Jibril
datang dan menyampaikan salam Allah kepada-Nya serta menanyakan keadaannya.
Apa yang dirasakan Rasulullah saat itu kemudian dijelaskan Jibril bahwa keadaannya
itu adalah suatu kehormatan baginya karena derajatnya berada jauh di atas semua
makhluk lainnya, agar beliau menjadi suri tauladan bagi umatnya. Nabi merasakan
kesakitan. Lantas, dijelaskan oleh Jibril bahwa beliau harus bergembira karena Allah
telah berkehendak untuk membawanya kepada yang telah dipersiapkan-Nya.

Beliau kemudian menceritakan kedatanganku kepada Jibril. Kemudian Jibril


berkata, ”Wahai Muhammad! Tuhanmu merindukanmu! Apakah dia tidak
memberitahukan maksud-Nya kepadamu? Sesungguhnya Izrail (Malaikat Maut) sama
sekali belum pernah meminta izin dari siapapun kalau hendak melaksanakan
tugasnya. Hal itu semata-mata karena Tuhanmu berkehendak menyempurnakan
kehormatanmu dan ia merindukanmu”.

Namaku Izrail!______________________________________________________88
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Lalu Nabi SAW berkata supaya Jibril jangan meninggalkannya sampai aku datang
kembali kepadanya. Setelah Nabi SAW memberikan izin kepada sanak saudaranya
masuk dan bercakap-cakap beberapa waktu lamanya, akupun datang kepadanya
dengan mengucapkan salam dan meminta izin untuk masuk. Beliau mengizinkannya,
dan akupun masuk kemudian bertanya kepadanya sekiranya beliau menginginkan
sesuatu. “Bawalah aku sekarang kepada Tuhanku”, katanya kepadaku. “Ya”, jawabku
singkat.

Kemudian aku berkata kepadanya, ”Hari ini, sungguh Tuhan Anda rindu kepadamu.
Belum pernah Dia memperhatikan seorang manusia seperti ia memperhatikan Anda.
Belum pernah pula Dia melarang saya masuk tanpa izin untuk menemui siapapun
yang lain. Tapi sekarang, saat kematian Anda berada di depan Anda.” Kemudian aku
keluar lagi dari kamarnya. Lalu Jibril kembali masuk, dia berkata, ”Assalamualaikum,
wahai Rasulullah! Ini adalah kali yang terakhir saya turun ke dunia. Wahyu telah
ditutup, dunia telah dilipat, dan saya tidak punya urusan lagi selain dengan Anda. Saya
tidak punya tujuan apa-apa kecuali hadir di dekat Anda. Setelah itu saya akan tetap
berada di tempat saya. Tidak! Demi Dia yang telah mengutus Muhammad dengan
kebenaran, tak seorangpun di dalam rumah ini yang dapat mengubah satu katapun
dari yang telah saya sampaikan. Dia tidak akan pernah diutus kembali kepada
umatnya betapapun pentingnya berita yang akan disampaikannya dan meskipun
dengan adanya kasih sayang maupun simpati kami.”

Saat itu aku dapat melihat bagaimana manusia yang disempurnakan oleh-Nya itu
akhirnya pingsan di dada Aisyah. Dari keningnya keringat mengucur dengan deras.
Bau harum keringatnya semerbak memenuhi kamarnya. Ketika beliau sadar kembali,
dia berkata kepada Aisyah, ”Wahai Aisyah, ruh orang beriman keluar bersama
keringatnya, sedangkan ruh orang kafir keluar melalui kedua rahangnya seperti nyawa
keledai”.

Mendengar itu Aisyah takut dan memanggil keluarganya. Namun sebelum semuanya
berdatangan, aku melakukan tugasku. Ketahuilah, Rasulullah wafat sebelum
kedatangan siapapun kecuali Aisyah karena Tuhan telah menahan mereka dari beliau
dan telah menyerahkan beliau ke tangan Jibril dan Mikail. Sebelum pingsan, masih
kuingat beliau selalu mengatakan,”Bahkan, sahabat tertinggi!”, seolah-olah pilihan

Namaku Izrail!______________________________________________________89
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

telah dijatuhkan kepada-Nya. Dan ketika beliau mampu berbicara kembali, beliau
mengatakan “Shalat!shalat!Kalian semua akan bersatu jika kalian senantiasa shalat
bersama-sama”. “Shalat! Shalat! ”, beliau terus berpesan mengenai hal itu hingga
ruhnya kucabut dalam keadaan mengatakan “Shalat!Shalat!”[11].

Maka menjelang tengah hari, pada hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal 1 H, dengan
usia enam puluh tiga tahun lebih empat hari, kubawalah Muhammad SAW pergi
kembali kepada Sang Kekasih Yang Maha Tinggi. Kulihat, ia sekilas melihat
kedatanganku. Kemudian ia tersenyum.

Kematian Nabi Yang Ummi, yang membawa rahmat bagi seluruh alam memang
menggoncangkan Umat Islam saat itu. Sehingga umat saat itupun kebingungan dan
meratap kehilangan. Sampai kedatangan Al-Khidhr a.s dan Alyasa (Elias) a.s yang
kemudian berkata [11]:

“Assalammualaikum, wahai Ahli Bait!26.


Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.
Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga,
maka sungguh ia telah beruntung.

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan


yang memperdayakan.(QS 3:185).
Sesungguhnya Allah menyediakan pengganti bagi setiap orang,
pencapaian setiap keinginan,
dan keterbebasan dari setiap rasa takut.
Oleh karena itu, pautkanlah harapanmu
dan sikap tawakalmu kepada Allah.”
“Wahai Ahli Bait! Ingatlah kepada Allah
dan pujilah Dia dalam setiap keadaan.
Sesungguhnya, disisi Allah terdapat pelipur lara
dan penggant ibagi kekasih yang hilang.

26
Ahli Bait, sebutan untuk sanak keluarga Nabi Muhammad SAW

Namaku Izrail!______________________________________________________90
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Oleh karena itu, taatilah Allah.


Bekerjalah atas dasar perintah-Nya.”

“Demikilanlah ceritaku ketika aku menjemput Nabi Muhammad SAW”, Izrail


mengakhiri ceritanya.

Namaku Izrail!______________________________________________________91
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

6. Kematian Izrail

Aku masih termangu-mangu mendengar semua kisahnya. Kematian, betapapun juga


pada akhirnya memang akan menghampiri semua makhluk. Secara tabiat, manusia
memang membenci bahkan takut dengan kematian. Saking takutnya maka
manusiapun kemudian berangan-angan bahwa akhirat itu tidak ada. Merekapun
kemudian menjadi ateis. Mereka berangan-angan kosong dan mengira Tuhan tidak
ada. Sungguh bodoh sekali manusia seperti itu. Bahkan, saking bodohnya manusia
yang menafikan akhirat dan ateis, Sayyidina Ali bin Abu Thalib pernah berkata bahwa
“Jika apa yang Anda katakan tentang tidak adanya akhirat itu benar, maka Anda akan
selamat begitu pula kami. Tetapi jika yang kami katakan bahwa akhirat itu benar
adanya, maka kami akan selamat, sedangkan Anda akan binasa.” Mereka memang
seperti penjudi yang bodoh. Disebut demikian karena mereka berani bertaruh “untuk
tidak mendapatkan apa-apa” atau “doing for nothing” atau untuk kesia-siaan. Padahal,
keimanan sekecil apapun akan tetap diakui sebagai tanda pengakuan atas
keberadaan Realitas Absolut yaitu Tuhan Yang Maha Esa[21].

Kematian memang sudah ketentuan Allah. Seperti pernah diriwayatkan oleh Nabi
SAW melalui Abu Hurairah bahwa Allah berfirman : “Aku tidak pernah ragu dalam
sesuatu yang Kukerjakan, seperti halnya ketika mencabut jiwa hamba-hamba-Ku
yang beriman yang membenci kematian dan Aku benci untuk menyakitinya. Tetapi hal
itu meskti kulakukan.” Sehingga kematian adalah suatu realitas sebenarnya bagi
semua orang, baik dia nabi, rasul, wali, dan manusia lainnya. Kematian adalah kiamat
sebenarnya bagi manusia yang sadar akan hal ini. Kiamat yang pasti datang dalam
waktu yang sangat dekat. Berapa lamakah usia manusia? 1,5,10, 20, 63, 75, 80,
ataupun seribu tahun, Izrail pastilah akan datang. Maka risaukanlah kedatangan Izrail.
Ucapku membatin, mengenang peran dan tugas malaikat Izrail yang seringkali
dilupakan banyak orang.

Aneh, pikirku, seringkali kulihat manusia ketakutan pada datangnya kiamat besar yang
juga pasti datang. Namun entah kapan. Namun, manusia seringkali lupa pada kiamat
kecil yang nyata sekali pasti datang setiap saat kalau memang sudah diinginkan Allah.

Namaku Izrail!______________________________________________________92
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Kematian. Jadi sungguh aneh bila manusia makin lama kok makin tidak takut mati,
lupa diri, seolah dirinya akan hidup selamanya. Padahal, sudah jelas bahwa semua
orang diperingatkan tentang dekatnya ajalnya oleh uban dan keriputnya kulit disekujur
tubuhnya, itulah tanda-tanda perubahan masa karena akan datangnya kematian.

Cukuplah, ajal yang mendekat ditunjukkan dengan hilangnya masa muda


dan bertambahnya uban di kepala, juga berubahnya masa
Dan apakah setelahnya, orang-orang yang berakal menghendaki kekekalan
Ketika kebeliaan terus berubah dan keadaan hidup terus berputar [17].

Makin anehlah aku kalau melihat manusia yang dengan kesombongan dan
kepongahan Iblis berbuat semena-mena dengan mengabaikan apa yang sudah begitu
jelas menjadi petunjuk kepada jalan keselamatan : mengabaikan perintah Allah,
melanggar larangan-larangan-Nya, melanggar sunnatullah, mengabaikan apa yang
sudah dicontohkan oleh Rasulullah berupa akhlak yang mulia. Manusia tidak
segan-segan melakukan berbagai kemaksiatan dan tidak malu-malu pula
mempertontonkannya tanpa takut mati, seolah dirinya akan selamat dari sergapan dan
siksa sakratul maut dan sergapan Izrail Sang Maut. Aku menghela nafasku yang
kurasakan semakin berat. Keringat dinginku sudah membasahi bajuku. Semilir
hembusan angin malam yang masuk ke kamarku menyebabkan tubuhku semakin
mendingin.

Lantas aku memberanikan diri untuk bertanya “Bagaimanakan kamu mati?”

“Semua makhluk pastilah akan binasa, karena hanya Allah lah yang kekal. Akupun
demikian pula, akan binasa ketika waktunya tiba. Aku termasuk makhluk paling akhir
yang akan dibinasakan oleh-Nya”, ujar Izrail mengawali cerita bagaimana iapun akan
binasa.

Aku (Izrail), Jibril, Mikail, dan Israfil adalah makhluk-makhluk Allah yang pertama kali
diciptakan-Nya, terakhir kali dimatikan-Nya, dan pertama kali dihidupkan-Nya kembali.
Karena kamilah yang membagi-bagi segala urusan. Kami termasuk kelompok
malaikat yang dimuliakan Allah. Jibril adalah pengurus peperangan dan para rasul,

Namaku Izrail!______________________________________________________93
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Mikail adalah pengurus setiap tetesan hujan dan daun yang tumbuh dan jatuh, yang
membawa rezeki kepada semua makhluk-Nya di dunia. Israfil adalah malaikat
kepercayaan Allah antara-Nya dan para malaikat lainnya, sedangkan aku ditugasi
mencabut nyawa setiap hamba, di manapun ia berada27.

Sesuai dengan tugas yang kuemban, maka aku akan ada di setiap saat Sang Waktu
lewat, mengintip setiap rumah kalau-kalau ada seseorang yang harus kucabut
nyawanya. Tugasku memang berat, kadang-kadang akupun merasa menzalimi
semua yang bernyawa. Namun apa daya, aku hanya makhluk yang tidak menzalimi ,
tidak bisa menangguhkan ajal, tidak mempercepat takdir, dan kamipun tidak berdosa
dalam mencabut nyawa semua yang mesti kucabut ketika saatnya tiba. Bahkan untuk
mencabut nyawa seekor nyamukpun aku sebenarnya tidak kuasa sebelum Allah
memberi izin mencabutnya. Ketahuilah, aku sendiri sebenarnya tidak mengetahui
siapa-siapa yang akan kucabut. Aku hanya diberi sebuah buku catatan yang di
dalamnya ada beberapa nama.

Izrail kemudian mengeluarkan sebuah lembaran dimana disitu kulihat daftar


nama-nama yang akan dihampirinya. Kemudian ia melanjutkan.

Aku biasanya menerima lembaran kematian pada pertengahan bulan Sya’ban, Allah
mewahyukan kepadaku untuk mencabut setiap nyawa manusia yang diinginkan-Nya
pada tahun itu 28 . Maka jangan heran kalau Nabi Muhammad SAW seringkali
berpuasa di bulan itu.

Setelah semua makhluk mati, termasuk semua malaikat pun dimusnahkan, maka
akulah yang akan terakhir dimatikan langsung oleh Allah SWT. Dalam arti yang harfiah,
maka semua yang mewujud di alam semesta, yang masih memerlukan intervensi
kaumku akan dimusnahkan. Setelah itu, adalah hal yang menentukan bagaimana
semua makhluk akan kembali dalam penghisaban. Ketika saat kematianku tiba, maka

27
Diriwayatkan oleh Abu asy-Syaikh dari Ikrimah bin Khalid bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasul,
kemudian ia menjelaskannya seperti itu. Dikutip dari Ref 10 hal 29
28
Diriwayatkan oleh ad-Dainuri di dalam al-Mujasalah dari Rasyid bin Said, ref 10 hal. 60

Namaku Izrail!______________________________________________________94
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Dia berkata “Wahai Malaikat Maut, matilah engkau!” Akupun berteriak keras, yang
bila penghuni langit penghuni langit dan bumi mendengarnya, pastilah mereka akan
mati ketakutan. Akupun kemudian matilah. Kematian yang menimpa diriku bisa
dikatakan sebagai kematian terdahsyat dari kematian semua makhluk29.

29
Diriwayatkan oleh Ibnu Amid Dunya, ref. 10 hal. 63

Namaku Izrail!______________________________________________________95
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

7. Epilog

Kami berdua terdiam. Mungkin cuma sejenak, tapi keheningan yang mencekam
seperti keheningan berhentinya detik sang waktu. Khususnya bagi diriku yang tergolek
tanpa daya dihadapannya. Akhirnya nuansa keheningan itu seperti tanpa makna,
kekosongan yang maha luas dan hamparan tak bertepi seperti menyelimuti diriku.
Kehampaanku terhadap dunia makin terasa. Tanpa sadar aku berguman
pelan, ”Bawalah aku..”, lalu syahadat meluncur begitu saja “La iIlaaha Illaa Allaah,
Muhammadurrasulullah”.

Sesaat aku cuma merasakan betotan dahsyat yang diceritakannya tentang kematian,
lalu tidak kurasakan lagi aksi dan reaksi dari ujung kakiku. Aku seperti buntung tanpa
kaki, kemudian tanpa paha, kemudian tanpa tubuh, kemudian tanpa tangan, kemudian
tanpa leher, dan akhirnya semua kesadaran tentang ruang-waktu lenyap sama sekali.

Kulihat berkas-berkas cahaya melesat dan meluas dalam sekejap, kemudian padam
dan memasuki zona tanpa batas-batas yang jelas, apakah aku berada dalam suatu
ruang, aku tidak tahu. Sejenak kesadaran yang kurasakan kembali tanpa nuansa
duniawi menggugah diriku, aku masih celingukan mencari Izrail. Kudengar lagi
suaranya tanpa rupa “Aku cuma mengantarmu sampai disini, selamat jalan, temuilah
Rabb-Mu yang mengasihimu”. Sayup-sayup masih kudengar suaranya bersenandung

Akulah Izrail Sang Elmaut,


datang tanpa diundang,
pulang tanpa diantar.

Aku jemput siapa pun yang harus kujemput.


Aku antar siapa pun yang harus kuantar.
Dengan kelembutan-Nya.
ataupun dengan Kemurkaan-nya.

Hanya ia yang berjalan di jalan-Nya


saja akan selamat dari kedahsyatanku,
rasa takutnya akan hadir menjadi rindunya

Namaku Izrail!______________________________________________________96
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

karena hanya si perindu saja yang akan


menganggap diriku berkah keabadian dalam rengkuhan keabadian cinta-Nya.

Dia yang menyia-nyiakan waktunya didunia,


terlena dalam ilusi dan kesombongan Sang Durjana,
akan merana dalam keabadian Murka-Nya.

Sebelum ia lenyap dari kesadaranku, aku sempat meneriakkan pertanyaan terakhir


kepadanya, “kamu mau kemana setelah aku?”. Suaraku langsung lenyap dalam
gaung yang menjauh senyap. Sayup-sayup masih kudengar suara Izrail menjawab,
“Menemui salah satu pembaca risalahmu ini”.

“innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (QS 2:156)”

Cintailah siapa saja yang ingin engkau cintai,


namun ingatlah bahwa pasti engkau akan berpisah dengannya;
hiduplah dengan gaya kehidupan yang engkau inginkan,
namun ingatlah bahwa engkau akan mati;
dan berbuatlah apa saja yang engkau kehendaki,
namun ingatlah bahwa engkau pasti dibalas

[Sabda rasullullah SAW; HR Hakim, Thabrani]

Atmonadi, atmoon.geo@yahoo.com
Lebak Bulus, 27 November 2004

Namaku Izrail!______________________________________________________97
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Referensi :

1. Al Qur’an Terjemahan Departemen Agama, 1984


2. Al Qur’an Terjemah Indonesia, PT Sari Agung, Cetakan ke-13, 1999
3. HB Yassin, “Al Qur’an Bacaan Mulia”, Yalco Jaya, Cetakan ke-4, 2002
4. Choiruddin Hadhiri SP, “Klasifikasi Kandungan Al Qur’an”, Gema Insani Press,
1999
5. Syaikh Hamami Zadah, “Menyelami Lubuk Al Qur’an: Tafsir Surah Yasiin”,
Penerbit IIMAN & Penerbit Hikmah, Februari 2003.
6. M. Quraish Shihab, “Tafsir Al Mishbah”, Jilid 1 & 11, Lentera Hati, 2003
7. Imam Az-Zabidi, “Ringkasan Shahih Al-Bukhari”, Mizan, Cetakan ke-4, 2000
8. Rachmat Taufik Hidayat et al, ”Almanak Alam Islami”, Pustaka Jaya, 2000
9. Faruq Sherif, “Al Quran Menurut Al; Quran”, Serambi, November, 2001
10. Imam Jalaludin as-Suyuthi, “Menjelajah Alam Malaikat”, Pustaka Hidayah,
Januari 2003
11. Al Ghazali, “Metode Menjemput Maut”, Mizan, 2001
12. Ahmad Barizi, “Malaikat Diantara Kita”, Hikmah, Januari 2004
13. Khawaja Muhammad Islam, “Mati Itu Spektakuler”, Serambi, April, 2001
14. Al-Harits bin Assad al-Muhasibi, “Menuju Hadirat Ilahi”, Al bayan-Mizan, 2003
15. Al-Harits bin Assad al-Muhasibi, “Menjelajah Alam Akhirat”, Arasy-Mizan, Mei,
2003
16. Ibnu Qayyim Al jauziyah,”Roh”, Pustaka Al Kautsar, 1999
17. Ibnu Rajab Al Hanbali, “Setahun Bersama Nabi”, Pustaka Hidayah, 2002
18. Yunasril Ali, “Ruh dan Jenjang-jenjang Ruhani”, Serambi, 2003
19. Salim Said Bawazier, “Memahami Hakikat Takdir”, Iqra Insan Press, 2003
20. M. Quraish Shihab, “Yang Tersembunyi : Jin, Iblis, Setan dan Malaikat”,
Lentera Hati, 1999
21. Atmonadi, “Kun fa Yakuun: Mengenal Diri, Mengenal Ilahi”, Kunfayakuun
Publishing, e-Book Release 3, Oktober, 2004
22. Ibnu Arabi, “Menghampiri Sang Mahakudus”, Mizan, Maret 2002
23. Fariduddin Al-Attar, “Warisan Para Awliya”, Penerbit Pustaka, Cetakan ke III,
2000 M

Namaku Izrail!______________________________________________________98
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Riwayat Hidup Penulis

Atmonadi, sehari-hari biasa dipanggil “Atmo” atau nickname di Internet “Atmoon”, di


situs myquran memperkenalkan diri sebagai "myQadmin" karena memang yang
membuat dan menggagasnya pada pertengahan 1999. Dilahirkan kurang lebih 4
dasawarsa yang lalu di sebuah kota yang dulu dikenal sebagai Kota Udang, pada
tanggal sebelas bulan lima di tahun yang kemudian menjadi tahun duka cita bagi
Bangsa Indonesia, tahun dimana disebut oleh seorang sineas asing menjadi “The
Years Living Dangerously”, 1965. Saat ini, berprofesi sebagai konsultan Teknologi
Informasi dan Internet independen.

Dalam segmen-segmen kehidupan yang dilalui, menulis memang bukan sesuatu yang
asing. Pengalaman menulis yang intensif sebenarnya terjadi selama periode menjadi
mahasiswa pada sekitar tahun 1988 sampai 1992, sebagai penulis lepas untuk bidang
teknologi penerbangan dan militer. Selama periode tersebut, tulisan yang dibuat
umumnya berhubungan dengan desain pesawat udara penumpang, pesawat tempur
siluman, pesawat mata-mata tanpa awak, sistem radar, telekomunikasi, dan sistem
persenjataan yang dimuat di rubrik iptek pada beberapa harian nasional seperti
Kompas, Bisnis Indonesia, Pikiran Rakyat, majalah Teknologi, dan majalah Teknologi
& Strategi Militer (TSM). Dalam urusan tulis menulis, pernah mendapatkan
penghargaan karya tulis dari PT Telkom Indonesia dengan judul “Menuju Perusahaan
Adaptif Menjadi Urat Nadi Globalisasi” (1990). Kemudian, bersama salah satu rekan
kuliahnya, menulis artikel iptek populer dan tulisannya meraih penghargaan karya tulis
populer Ristek (1991) yang membahas masalah pesawat N-250. Setelah bosan
menjadi mahasiswa, ia menyelesaikan kuliahnya dan meraih gelar kesarjanaan dari
jurusan Teknik Aeronautika ITB (1992); setengah tahun kemudian (1993) bekerja di
Sempati Air sebagai Engineer; tiga tahun kemudian (1995) ia memutuskan beralih
profesi menjadi software development supervisor di perusahaan yang sama.

Tahun 1996 internet mulai marak di Tanah Air. Terpesona dengan kemampuan
hyperlink jejaring global tersebut, iapun memutuskan mengundurkan diri dari Sempati
Air dan bekerja sebagai web developer di sebuah perusahaan yang dibangun oleh
kenalannya di Internet yaitu Bubu Internet. Akhir dasawarsa sembilan puluhan,

Namaku Izrail!______________________________________________________99
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Internet semakin populer dan bisnis dot.com booming, komunitas gaul di internet
bermunculan, namun sayangnya belum ada komunitas gaul yang khusus untuk
remaja Islam, maka ia pun nekat membangun Komunitas Islam Online myQuran.com
(1999, http://www.myquran.com) dan kemudian setidaknya mampu menggugah
banyak orang bahwa Umat Islam perlu memanfaatkan Internet baik untuk tujuan
pergaulan maupun dakwah. Setelah beberapa tahun mengelola situs independen
myQuran, dibantu dengan pengunjung yang rajin menulis artikel, puisi ataupun
sekedar numpang nulis, iapun kemudian menjadi tidak terlalu aktif mengelola myquran
karena kesibukkannya. Sebagai gantinya, pengelolaan myQuran diserahkan ke salah
satu anggota dan fans beratnya Hasanudin.

Pada tahun 2000 ia mengundurkan diri dari Bubu Internet dan bekerja di beberapa
proyek perusahaan sebagai Technology Advisor, menjadi nara sumber tetap di radio
MSTRI FM Jakarta (2000-2002), radio Ramako Jakarta, dan Metro TV untuk acara
yang berhubungan dengan teknologi informasi dan internet. Akhir tahun 2001 kembali
bekerja di Bubu untuk menangani Production & Development, kemudian
mengundurkan diri pada akhir tahun 2003 dan awal 2004 mendirikan Getwo Advanced
sebuah biro konsultan teknologi informasi, internet dan multimedia.

Sejak akhir tahun 2002 sampai sekarang ikut aktif dalam majelis pengajian tasawuf
Al-Hikam tarekat Syadziliyah Jakarta dengan ustad Bapak M. Luqman Hakiem dan
Guru mursyid almarhum Syeik KH Abdul Djalil Mustaqiim dan Syeikh Hadlir
Shalahuddin Al Ayyubi Pengasuh Pondok Pesatren Thariqot Agung (Peta)
Tulungagung Jawa Timur. Dalam perjalanannya kemudian menulis risalah "Kun Fa
Yakuun" sebagai sebuah perenungan panjang tentang diri, perjalanan kehidupan,
alam semesta, dan Penciptanya. Risalah “Kun!” kemudian menjadi sebuah Risalah
Mawas Diri bagi seorang hamba dan juga sebuah risalah yang dimaksudkan untuk
semua Umat Islam (tentunya bagi yang mau membacanya), khususnya yang menjadi
bagian dari Bangsa Indonesia yang memang masih perlu banyak belajar dan
istiqamah (konsisten dan teguh) di jalan yang lurus, atau Shiraat al-Mustaqiim, agar
tidak mudah “Digoda” oleh goyangan ke kiri dan ke kanan yang memabukkan, yang
dapat menyelewengkannya dari jalan lurus yang di ridhai Ilahi. Setelah itu
tulisan-tulisan lainnya meluncur begitu saja yang baru berani didistribusikan kepada
teman-temannya saja karena berbagai masalah yang dibahas terhitung sangat pelik.

Namaku Izrail!______________________________________________________100
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!

Risalah yang beredar di kalangan terbatas antara lain “Prima Kausa: Al Qur’an
sebagai Kosmos Islam”, “Superunifikasi (Kajian tentang huruf-huruf hijaiah dan makna
simbolis geometrisnya)”, “Komposisi Dan Kodefikasi Al Qur’an”, dan beberapa risalah
lainnya yang umumnya bercorak tasawuf dengan perpektif perkembangan ilmu
pengetahuan manusia saat ini, khususnya berkaitan dengan perkembangan Abad
Dijital yang dianggapnya sebagai Abad Pemurnian Tauhid karena basis dijital
sejatinya basis dari Pengetahuan Tauhid yaitu kaidah Biner atau huruf Ba alias 1001
(seribu satu malam).

“Namaku Izrail” adalah tulisan singkat yang bercorak populer yang menggambarkan
pertemuan imajiner dengan Malaikat Elmaut yang ditakuti yaitu Izrail, berdialog
dengannya dengan merujuk pada gambaran tentang malaikat Izrail dari berbagai
bacaan yang menjadi sumber-sumber inspirasinya. “Namaku Izrail” bukan
dimaksudkan untuk menakut-nakuti pembacanya, namun lebih tepat dikatakan
sebagai suatu mawas diri akan keterbatasan manusia terhadap takdirnya yang pasti
terjadi yaitu “kematian”, sebagai kehidupan yang sebenarnya. Dengan mengulas
gambaran malaikat Izrail yang mengambil debu bumi untuk kemudian dengan tanah
lempung Allah menciptakan makhluk yang hidup di sistem tatasurya, gambaran yang
ditampilkan bukan sekedar kisah tentang Izrail Sang Malaikat sebagai Pencabut
Nyawa yang menyeramkan, namun gambaran yang lebih utuh tentang akibat dari
semua akhlak dan perilaku manusia ketika ia hidup sampai akhirnya kematian dapat
datang menjemput tanpa diduga, dimana saja, dan kapan saja. Kemudian kondisi
demikian diproyeksikan kepada diri sendiri, sudah siapkah kita menghadapinya untuk
kemudian mempertanggungjawabkan semua perbutan kita di dunia?

Namaku Izrail!______________________________________________________101