Anda di halaman 1dari 20

Case Report Session

OTITIS EKSTERNA

Oleh:

Febri Arvia Sari Ferdy Moreza Vika Cikita

07120030 07120102 07120120

Preseptor:

dr. Effy Huriyati, Sp.THT-KL

BAGIAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS RS DR. M. DJAMIL PADANG 2011

OTITIS EKSTERNA Abstrak Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis yang disebabkan infeksi bakteri, jamur dan virus. 1,2 Faktor penyebab timbulnya otitis eksterna ini diantaranya adalah kelembaban, penyumbatan liang telinga, trauma lokal dan alergi. Penyakit ini sering ditemukan pada pasien di bidang telinga, hidung dan tenggorokan. Umumnya penderita datang ke Rumah Sakit dengan keluhan rasa sakit pada telinga, terutama bila daun telinga disentuh dan waktu mengunyah. Bila peradangan ini tidak diobati secara adekuat, maka keluhan-keluhan seperti rasa sakit, gatal dan mungkin sekret yang berbau akan menetap.3Dilaporkan satu kasus otitis eksternapada wanita usia 23 tahun yang ditatalaksana dengan pemasangan tampon telinga dengan antibiotik. Kata kunci: otitis eksterna, liang telinga, tampon antibiotik.

TINJAUAN PUSTAKA Defenisi Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis yang disebabkan infeksi bakteri, jamur dan virus. 1,2 Anatomi Telinga Luar

Gambar. Aurikula 4

Gambar: pembagian telinga 5

Gambar: liang telinga 6

Gambar: serumen 7 Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membrane timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan (kartilago) pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 sampai 3 sentimeter.1 bagian yang tersempit dari liang telinga adalah dekat perbatasan tulang dan tulang rawan. Hanya sepertiga bagian luar atau bagian kartilaginosa dari liang telinga yang dapat bergerak. Jika menggunakan otoskop, aurikula biasanya harus ditarik ke posterolateral untuk dapat melihat bagian tulang dan membrane timpani. Bersama dengan lapisan luar membrane timpani, liang telinga membentuk suatu kantong berlapis epitel yang dapat memerangkap kelembaban, sehingga daerah ini menjadi rentan infeksi pada keadaan tertentu.2 Kulit yang melapisi bagian kartilaginosa lebih tebal daripada kulit bagian tulang, selain itu juga mengandung folikel rambut yang banyaknya bervariasi antar individu namun ikut membantu menciptakan suatu sawar dalam liang telinga. Anatomi liang telinga bagian tulang sangat unik karena merupakan satu-satunya tempat dalam tubuh dimana kulit langsung

terletak di atas tulang tanpa adanya jaringan subkutan. Dengan demikian daerah ini sangat peka, dan tiap pembengkakan akan sangat nyeri karena tidak terdapat ruang untuk ekspansi.2 Telinga luar berfungsi mengumpulkan dan menghantarkan gelombang bunyi ke strukturstruktur telinga tengah. Karena keunikan anatomi aurikula serta konfigurasi liang telinga yang melengkung atau seperti spiral, maka telinga luar mampu melindungi membrane timpani dari trauma, benda asing dan efek termal.2 Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (kelenjar keringat) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada dua pertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen. 1 Sendi temporomandibularis dan kelenjar parotis terletak didepan terhadap liang telinga sementara prosesus mastoideus terletak di belakangnya. Saraf fasialis meninggalkan foramen stilomastoideus dan berjalan ke lateral menuju prosessus stiloideus di postero inferior liang telinga, dan kemudian berjalan dibawah liang telinga untuk memasuki kelenjar parotis. 2 Faktor Predisposisi Faktor predisposisi dari otitis eksterna adalah 1,2
-

Perubahan pH kulit kanalis yang biasanya asam menjadi basa Pengaruh lingkungan yang menyebabkan perubahan suhu dan kelembaban Trauma ringan seperti berenang atau membersihkan telinga secara berlebihan

Otitis Eksterna Sirkumskripta (Furunkulosis)

Gambar: otitis eksterna 8 Infeksi pada folikel rambut, kelenjar sebasea, kelenjar serumen di 1/3 luar liang telinga sehingga membentuk furunkel.1

Kuman penyebab biasanya adalah Staphylococcus aureus atau Staphylococus albus.1,2 Gejala klinisnya yaitu rasa nyeri yang hebat karena terbatasnya ruangan untuk perluasan edema dikarenakan kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar dibawahnya, sehingga terjadi penekanan langsung pada perikondrium.1,2 Selain itu, rasa nyeri juga dapat timbul pada waktu membuka mulut. Terdapat juga gangguan pendengaran apabila furunkel besar dan menyumbat liang telinga.1 Terapi tergantung pada keadaan furunkel. Bila sudah menjadi abses, di aspirasi dengan cara steril untuk mengeluarkan nanahnya. Lokal diberikan antibiotika dalam bentuk salep, seperti polimixyn B atau bacitracin, atau antiseptic asam asetat 2-5% dalam alkohol. Tidak perlu diberikan antibiotika secara sistemik, hanya diberikan obat simptomatik seperti analgetik.1 Otitis Eksterna Difus Infeksi mengenai liang telinga dua pertiga dalam. Tampak kulit liang telinga hiperemis dan edema yang tidak yang jelas batas-batasnya. Kuman penyebab biasanya golongan pseudomonas. Kuman lainnya yaitu staphylococcus albus, Escherichia coli dan sebagainya. Otitis eksterna difus dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supuratif kronis.1 Gejalanya adalah nyeri tekan tragus, liang telinga sangat sempit, kadang kelenjar getah bening membesar dan nyeri tekan, terdapat secret yang berbau. Secret ini tidak mengandung lender (musin) seperti secret yang keluar dari kavum timpani pada otitis media. 1 Pengobatannya dengan membersihkan liang telinga, memasukkan tampon yang mengandung antibiotika ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara obat dengan kulit yang meradang. Kadang-kadang diperlukan obat antibiotic sistemik. 1 Otomikosis Infeksi jamur di liang telinga dipermudah oleh kelembaban yang tinggi di daerah tersebut. Yang tersering adalah Pytirosporum, Aspergilud. Kadang-kadang ditemukan juga kandida albikan atau jamur lain. Pytirosporum menyebabkan terbentuknya sisik yang menyerupai ketombe dan merupakan predisposisi otitis eksterna bakterialis. 1 Gejala biasanya berupa rasa gatal dan rasa penuh di liang telinga, tetapi sering pula tanpa keluhan. 1 Pengobatannya ialah dengan membersihkan liang telinga. Larutan asam asetat 2% dalam alcohol, larutan iodium povidon 5% atau tetes telinga yang mengandung campuran antibiotic dan steroid yang diteteskan ke liang telinga biasanya dapat menyembuhkan. Kadang-kadang diperlukan obat anti jamur (sebagai salep) yang diberikan secara topical yang mengandung nistatin , klotrimazol. 1 Herpes Zoster Otikus Herpes Zoster Otikus adalah penyakit yang disebabkan oleh virus varisela zoster. Virus ini menyerang satu atau lebih dermatom saraf cranial. Dapat mengenai saraf trigeminus,

ganglion genikulatum dan radiks servikalis bagian atas. Keadaan ini disebut juga sindroma ramsay hunt. Tampak lesi kulit yang vesikuler pada kulit di daerah muka sekitar liang telinga, otalgia dan terkadang disertai paralisis oto wajah. Pada keadaan yang berat ditemukan gangguan pendengaran berupa tuli sensorineural. 1 Pengobatan sesuai dengan tatalaksana herpes zoster. 1 Infeksi Kronis Liang Telinga Infeksi bakteri maupun jamur yang tidak diobati dengan baik, iritasi kulit yang disebabkan cairan otitis media, trauma berulang, adanya benda asing, penggunaan cetakan (mould) pada alat bantu dengar (hearing aid) dapat menyebabkan radang kronis. Akibatnya, terjadi stenosis atau penyempitan liang telinga karena terbentuknya jaringan parut atau sikatriks. 1 Pengobatannya memerlukan operasi rekonstruksi liang telinga. 1 Keratosis Obturans dan Kolesteatoma Eksterna Dulu keratosis obturans dan kolesteatoma eksterna dianggap sebagai penyakit yang sama proses terjadinya, oleh karena itu sering tertukar penyebutannya. 1 Pada keratosis obturans ditemukan epidermis di liang telinga yang disebabkan oleh terbentuknya sel epitel yang berlebihan yang tidak bermigrasi ke arah telinga luar. 1 Pada pasien dengan keratosis obturans terdapat tuli konduktif akut, nyeri yang hebat, liang telinga yang lebih lebar, membran timpani yang utuh tapi lebih tebal dan jarang ditemukan adanya sekresi telinga. Gangguan pendengaran dan rasa nyeri yang hebat disebabkan oleh desakan gumpalan epitel berkeratin di liang telinga. Keratosis obturans sering bilateral sering ditemukan pada usia muda. Sering dikaitkan dengan sinusitis dan bronkiektasis. Erosi tulang liang telinga ditemukan pada keratosis obturan dan pada kolesteatoma eksterna. Hanya saja pada keratosis obturans, erosi tulang yang terjadi menyeluruh sehingga tampak liang telinga menjadi lebih luas. Sementara pada koleteatoma eksterna erosi tulang terjadi hanya di daerah posteroinferior. 1 Otore dan nyeri tumpul menahun ditemukan pada koleteatoma eksterna. Hal ini disebabkan oleh invasi kolesteatoma eksterna. Hal ini disebabkan oleh karena invasi kolesteatoma ke tulang yang menimbulkan periosteitis. Pendengaran dan membrane timpani biasanya normal. Kolesteatoma eksterna ditemukan hanya pada satu sisi telinga dan lebih sering pada usia tua. Oleh karena keratosis obturans disebabkan oleh proses radang yang kronis, serta sudah terjadi gangguan migrasi epitel maka setelah gumpalan keratin dikeluarkan, debris akibat radang harus dibersihkan secara berkala. 1 Pada kolesteatoma eksterna perlu dilakukan operasi agar kolesteatoma dan tulang yang nekrotik bisa diangkat sempurna. Tujuan operasi mencegah berlanjutnya penyakit yang mengerosi tulang. Indikasi operasi adalah bila destruksi tulang sudah meluas ke telinga tengah, erosi tulang pendengaran, kelumpuhan saraf fasialis, terjadi fistel labirin atau otore

yang berkepanjangan. Pada operasi, liang telinga bagian luar diperluas agar mudah dibersihkan. 1 Bila kolesteatoma masih kecil dan terbatas dapat dilakukan tindakan konservatif. Kolesteatoma dna jaringan nekrotik di angkat sampai bersih, di ikuti pemberian antibiotik topical secara berkala. 1 Pemberian obat tetes telinga dari campuran alcohol atau gliserin dalam H2O2 3%, tiga kali seminggu seringkali dapat menolong. 1 Otitis Eksterna Maligna (Nekrotikans) Otitis eksterna maligna adalah infeksi difus di liang telinga luar dan struktur lain disekitarnya. Biasanya terjadi pada orang tua dengan penyakit diabetes mellitus. Pada penderita diabetes, pH serumen lebih tinggi disbanding pH serumen non diabetes. Kondisi ini menyebabkan penderita diabetes lebih mudah terjadi otitis eksterna. Akibat adanya factor imunokompromise dan mikroangiopati, otitis eksterna berlanjut menjadi otitis eksterna maligna. Pada otitis eksterna maligna, peradangan meluas secara progresif ke lapisan sub kutis, tulang rawan dan ke tulang sekitarnya, sehingga timbul kondritis, osteitis dan osteomielitis yang menghancurkan tulang temporal. 1 Gejala otitis eksterna maligna adalah rasa gatal di liang telinga yang dengan cepat di ikuti oleh nyeri, sekret yang banyak serta pembengkakan liang telinga. Kemudian rasa nyeri tersebut akan semakin hebat, liang telinga tertutup oleh jaringan granulasi yang cepat tumbuhnya. Saraf fasial dapat terkena, sehingga menimbulkan paresis atau paralisis fasialis. 1 Kelainan patologik yang penting adalah osteomielitis yang progresif, yang disebabkan kuman Pseudomonas aerogenosa. Penebalan endotel yang mengiringi diabetes melitus berat, kadar gula darah yang tinggi yang diakibatkan oleh infeksi yang sedang aktif, menimbulkan kesulitan pengobatan yang adekuat. 1 Pengobatan harus cepat diberikan. Sesuai dengan hasil kultur dan resistensi. Mengingat kuman penyebab tersering adalah Pseudomonas aerogenosa, diberikan antibiotika dosis tinggi yang sesuai dengan Pseudomonas aerogenosa. Sementara menunggu hasil kultur dan resistensi, diberikan golongan fluoroquinolone (ciprofloxasin) dosis tinggi peroral. Pada keadaan yang lebih berat diberikan antibiotika parenteral kombinasi dengan antibiotika golongan aminoglikosida yang diberikan selama 6-8 minggu. 1 Antibiotika yang sering digunakan adalah ciprofloxasin, ticarcilin-clavulanat, piperacilin (dikombinasi dengan aminoglikosida), ceftriaxon, ceftazidine, cefepime (maxipime), tobramicin (kombinasi dengan aminoglikosida), gentamicin (kombinasi dengan golongan penicilin). 1 Disamping obat-obatan, seringkali diperlukan juga tindakan membersihkan luka (debrideman) secara radikal. Tindakan membersihkan luka (debrideman) yang kurang bersih akan dapat menyebabkan makin cepatnya penjalaran penyakit. 1

ILUSTRASI KASUS IDENTITAS PASIEN Nama Umur : OM : 23 tahun Tanggal pemeriksaan : 22-06-2011 RM: 244861

Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Guru

Suku Bangsa : Minang Alamat : Garegeh

ANAMNESIS Seorang pasien perempuan berumur 23 tahun datang berobat ke poliklinik THT RS Dr. Ahmad Mochtar Bukittinggi pada tanggal 22 Juni 2011, dengan : Keluhan Utama : Nyeri pada telinga kiri sejak 3 hari yang lalu. Riwayat Penyakit Sekarang : Nyeri pada telinga kiri sejak 3 hari yang lalu, terus menerus, nyeri bertambah saat

menelan, nyeri meluas sampai ke pipi kiri dan ke belakang telinga, dan teraba panas.

Telinga kiri pernah kemasukan air 1 tahun yang lalu. Pasien mengeluhkan gatal pada

telinga kiri, hilang timbul, sehingga pasien mengorek telinga dengan cotton bud tiap 3 hari sekali.

Riwayat telinga kiri pernah berair 1 tahun yang lalu, sekret kental dan berbau. Sudah

berobat ke dokter spesialis THT-KL dan mendapat pengobatan H2O2 3% selama 4 bulan.

Riwayat telinga kiri berdenging 1 tahun yang lalu.

Riwayat penurunan pendengaran tidak ada. Riwayat pusing berputar tidak ada. Riwayat telinga terasa penuh tidak ada. Demam ada, tidak tinggi, hilang timbul. Sakit kepala disangkal oleh pasien. Batuk pilek tidak ada. Riwayat sumbatan pada hidung tidak ada. Riwayat rasa cairan mengalir di tenggorok tidak ada. Rasa nyeri di daerah muka tidak ada. Riwayat gangguan penghidu tidak ada. Riwayat nyeri tenggorok tidak ada. Riwayat sukar menelan ataupun nyeri saat menelan tidak ada.

Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien belum pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan yang sama seperti pasien. Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi, dan Kebiasaan:

Pasien bekerja sebagai guru di salah satu sekolah menengah tingkat pertama di Pasien suka mengorek telinga dengan cotton bud tiap 3 hari sekali.

Bukittinggi.

PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan Umum : sedang

Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu Pemeriksaan sistemik Kepala Mata

: CMC : 120/80 mmHg : 81 x/menit : 17 x/menit : 36,7 oC

: normosefal : Konjungtiva : tidak anemis Sklera : tidak ikterik

Toraks

: Jantung : dalam batas normal Paru : dalam batas normal

Abdomen Extremitas

: dalam batas normal : dalam batas normal

STATUS LOKALIS THT Telinga Pemeriksaan Kelainan Kel. Kongenital Trauma Daun Telinga Radang Kel. Metabolik Nyeri tarik Nyeri tekan Liang Telinga Cukup lapang (N) Sempit Hiperemi Dekstra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Cukup Lapang Tidak ada Sinistra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Ada Sempit Ada

Edema Massa Bau Sekret/ Serumen Warna Jumlah Jenis Membran timpani Warna

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Putih mengkilat seperti mutiara

Sukar dinilai

Refleks cahaya Utuh Bulging Retraksi Atrofi Jumlah perforasi Perforasi Jenis Kwadran Pinggir

Ada, arah jam 5 Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Sukar dinilai Sukar dinilai Sukar dinilai Sukar dinilai Sukar dinilai Sukar dinilai Sukar dinilai Sukar dinilai

Gambar

Tanda radang Fistel Mastoid Sikatrik Nyeri tekan Nyeri ketok Tes Garpu tala Rinne Schwabach

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Positif Sama dengan

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Positif Memanjang

pemeriksa Weber Kesimpulan Audiometri Lateralisasi ke kiri Tuli konduktif AS Tidak dilakukan

Hidung Pemeriksaan Kelainan Deformitas Kelainan congenital Hidung luar Trauma Radang Massa Dextra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Sinistra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Sinus Paranasal Pemeriksaan Nyeri tekan Nyeri ketok Dextra Tidak ada Tidak ada Sinistra Tidak ada Tidak ada

Rinoskopi Anterior Vestibulum Vibrise Radang Kavum nasi Sekret Cukup lapang (N) Sempit Lapang Lokasi Jenis Jumlah Bau Konka inferior Ukuran Warna Permukaan Edema Ukuran Warna Ada Tidak ada Cukup lapang Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Eutrofi Merah muda Licin Tidak ada Eutrofi Merah muda Ada Tidak ada Cukup lapang Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Eutrofi Merah muda Licin Tidak ada Eutrofi Merah muda

Konka media

Septum

Permukaan Edema Cukup lurus/deviasi Permukaan Warna Spina Krista Abses Perforasi

Licin Tidak ada Cukup lurus Licin Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Licin Tidak ada Licin Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Massa

Lokasi Bentuk Ukuran Permukaan Warna Konsistensi Mudah digoyang Pengaruh vasokonstriktor

Gambar

Rinoskopi Posterior Pemeriksaan Kelainan Cukup lapang (N) Koana Sempit Lapang Warna Mukosa Edem Jaringan granulasi Ukuran Merah muda Tidak Tidak ada Eutrofi Merah muda Tidak Tidak ada Eutrofi Cukup lapang Cukup lapang Dekstra Sinistra

Konka inferior Warna Permukaan Edem Adenoid Muara Tuba Eeustachius Ada/tidak Tertutup sekret Edem mukosa Lokasi Massa Ukuran Bentuk Permukaan Post Nasal Drip Ada/tidak Jenis Merah muda Licin Tidak Tidak ada Tidak Tidak Tidak ada Tidak ada Merah muda Licin Tidak Tidak ada Tidak Tidak Tidak ada Tidak ada -

Gambar

Orofaring dan Mulut Pemeriksaan Kelainan Palatum mole + Simetris/tidak Warna Arkus faring Edema Bercak/eksudat Dinding Faring Warna Permukaan Tonsil Ukuran Warna Permukaan Kripti Detritus Dekstra Simetris Merah muda Tidak ada Tidak ada Merah muda Licin T1 Merah muda Licin Tidak melebar Tidak ada Sinistra Simetris Merah muda Tidak ada Tidak ada Merah muda Licin T1 Merah Muda Licin Tidak melebar Tidak ada

Eksudat

Tidak ada

Tidak ada

Perlengketan dg pilar Peritonsil Warna Edema Abses Lokasi Bentuk Ukuran Permukaan Konsistensi Karies/radiks Kesan Warna Bentuk Deviasi Massa

Tidak ada Merah muda Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Tumor

Tidak ada Tidak ada Hygiene baik Merah muda Normal Tidak ada Tidak ada Tidak ada Hygiene baik Merah muda Normal Tidak ada Tidak ada

Gigi

Lidah

Gambar

Laringoskopi Indirek Sukar Dinilai Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening Leher Tidak ditemukan pembesaran KGB leher

RESUME (DASAR DIAGNOSIS) Anamnesis : Seorang pasien perempuan berumur 23 tahun mengeluhkan nyeri pada telinga kiri sejak 3 hari yang lalu. Nyeri pada telinga kiri sejak 3 hari yang lalu, terus menerus, nyeri bertambah saat menelan, nyeri meluas sampai ke pipi kiri dan ke belakang telinga, dan teraba panas. Gatal pada telinga kiri sejak 1 tahun yang lalu, hilang timbul. Kebiasaan mengorek telinga dengan cotton bud tiap 3 hari sekali. Riwayat telinga pernah kemasukan air 1 tahun yang lalu.

Pemeriksaaan fisik :

Telinga kiri dan edema

: terdapat nyeri tekan tragus, nyeri tarik aurikel, liang telinga sempit

Tes garpu tala : kesan tuli konduktif AS

Diagnosis Kerja Diagnosis Banding

: Otitis Eksterna difus : Otitis Eksterna sirkumskripta

Pemeriksaan Anjuran : Terapi

: Pemasangan tampon telinga dengan obat tetes antibiotik :-

ofloxacin Terapi Anjuran Prognosis -

Quo ad Vitam Quo ad Sanam

: bonam : bonam : jangan mengorek-ngorek telinga dengan cotton bud

Nasehat

Follow up 24 Juni 2011: S/ nyeri telinga berkurang gatal ada rasa tidak nyaman telinga ada O/ Liang telinga tampak lebih lapang dari sebelumnya hiperemis tidak ada T/ Lanjutkan obat tetes ofloxacin 3 kali sehari sebanyak 5 tetes. Kontrol kembali setelah obat tetes habis

Diskusi Telah dilaporkan seorang pasien perempuan berumur 23 tahun datang ke poliklinik THT RS. Achmad Muchtar Bukittinggi pada tanggal 22 Juni 2011 dengan keluhan utama nyeri pada telinga kiri sejak 3 hari yang lalu, terus menerus, nyeri bertambah saat menelan, nyeri meluas sampai ke pipi kiri dan ke belakang telinga, dan teraba panas. Berdasarkan literatur, nyeri telinga yang terus menerus, bertambah saat menelan dan meluas sampai ke pipi kiri dan belakang telinga serta teraba panas merupakan salah satu gejala dari otitis eksterna. Nyeri dan perabaan yang panas menandakan telah terjadi infeksi pada liang telinga pasien. Nyeri yang bertambah saat menelan dan meluas sampai ke pipi kiri dan belakang telinga menandakan telah menyebarnya infeksi ke sendi temporomandibula. Pada pasien ini terdapat juga keluhan gatal pada telinga kiri sejak 1 tahun lalu yang hilang timbul. Keluhan gatal telinga kiri sejak 1 tahun ini dapat menerangkan penyebab yang mungkin dari otitis eksterna yang diderita pasien. Gatal menyebabkan pasien terlalu sering mengorek telinga dengan cotton bud, hal ini dapat menimbulkan trauma pada liang telinga yang selanjutnya dapat menjadi tempat masuk kuman yang dapat menimbulkan otitis eksterna. Pada pemeriksaaan fisik, didapatkan pada telinga kiri nyeri tekan tragus, nyeri tarik aurikel dan liang telinga sempit. Hasil pemeriksaan fisik paling khas untuk otitis eksterna adalah adanya nyeri tekan tragus, nyeri tarik aurikel dan liang telinga sempit. Hal ini disebabkan anatomi liang telinga bagian tulang sangat unik karena merupakan satu-satunya tempat dalam tubuh dimana kulit langsung terletak di atas tulang tanpa adanya jaringan subkutan. Dengan demikian daerah ini sangat peka, dan tiap pembengkakan akan sangat nyeri karena tidak terdapat ruang untuk ekspansi. Pada pemeriksaan dengan garpu tala didapatkan kesan pasien mengalami tuli konduktif pada telinga kiri. Ini dikarenakan pembengkakan pada liang telinga oleh otitis eksterna ini dapat menyebabkan terhambatnya hantaran bunyi melalui udara yang melalui liang telinga. Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan untuk memastikan kuman penyebab, diperlukan pemeriksaan penunjang kultur kuman dan diperrlukan juga uji resistensi untuk menentukan terapi medikamentosa yang tepat untuk pasien. Penatalaksanaan pasien ini yaitu pemasangan tampon telinga dengan antibiotik. Tampon didiamkan di dalam liang telinga selama 2 hari dan secara rutin diteteskan obat otopain 3 kali sehari sebanyak 5 tetes kemudian kontrol ulang ke poliklinik setelah 2 hari. Pasien juga dinasehati untuk selanjutnya tidak mengorek telinga terlalu sering.

DAFTAR PUSTAKA 1. Soepardi EA et al, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi keenam. Jakarta: FKUI; 2007.
2. Boies. Buku ajar Penyakit THT. Edisi keenam.EGC. Jakarta: EGC; 1997:75-84. 3. Abdullah, F. Uji Banding Klinis Pemakaian Larutan Burruwi Saring dengan Salep

Ichthyol

(Ichthammol)

pada

Otitis

Eksterna

Akut.

2003.

Diakses

dari

http://www.usudigitallibrary.com.
4. Aurikula

[image

on

the

internet].

Diakses

dari

http://gurungeblog.wordpress.com/2008/12/11/indera-pendengar-telinga/.
5. Ear

anatomy

[image

on

the

internet].

Diakses

dari

http://biologinyanuris.blogspot.com/2009/05/sistem-indra-indra-pendengar.html
6. Outer

ear

[image

on

the

internet].

Diakses

dari

http://rudyhilkya.wordpress.com/2007/12/22/ngorek-telinga-bikin-candu/
7. Cerumen

[image

on

the

internet].

Diakses

dari

http://secondking.wordpress.com/2009/10/25/sumbatan-serumen/
8. Radang telinga luar pada manusia [image on the internet]. Diakses dari

http://id.wikipedia.org/wiki/Radang_telinga_luar

Anda mungkin juga menyukai