III.

HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN

A. TANAMAN CENGKEH Tanaman cengkeh (Syzygium aromaticum), termasuk dalam family Myrtaceae. Daunnya bundar telur sungsang, dan daun yang masih muda berwarna merah jambu kekuning-kuningan, buahnya berupa buni, berbentuk lonjong, dan berwarna merah tua (Gambar 1).

Gambar 1. Tanaman Cengkeh Cengkeh merupakan tanaman tropis berakar tunggang, bercabang dan kuat. Tinggi tanaman dapat mencapai 15 meter dan dapat mencapai umur sampai lebih dari 100 tahun, mempunyai daun berbentuk lonjong yang berbunga pada pucukpucuknya. Tangkai buah pada awalnya berwarna hijau, dan berwarna merah jika

bunga sudah mekar. Cengkeh akan dipanen jika sudah mencapai panjang 1,5 - 2 cm (Anonim, 2002). Tanaman cengkeh memiliki kandungan minyak atsiri yang cukup tinggi. Setiap bagian pohon mengandung minyak, mulai dari bunga, daun, gagang hingga akar. Kandungan minyak cengkeh pada tanaman cengkeh bervariasi jumlahnya, namun yang tertinggi terdapat pada bagian bunga yaitu sekitar 14 – 21%, sedangkan pada gagang cengkeh yaitu sekitar 5 – 6% (Guenther, 1987). Semua bagian dari tanaman cengkeh mempunyai kandungan yang relatif sama, yang berbeda hanya jumlahnya saja. Di bawah ini Tabel yang menunjukkan sifat atau karakteristik dari minyak gagang cengkeh. Tabel 1. Karakteristik Minyak Gagang Cengkeh Karakteristik Nama botani Metode ekstraksi umumnya Warna Konsistensi Catatan keharuman Kekuatan dari aroma Gambaran keharuman Keterangan Syzygium aromaticum Penyulingan uap

Kuning emas bercahaya Medium, sedikit berminyak Menengah Kuat Pedas, mempunyai rasa getir, berbau wangi sesuai dengan bau tanaman. Kegunaan Arthritis, asma, bronchitis, rematik, sprains, nyeri otot, sakit gigi. Unsur utama Eugenol, eugenyl asetat, caryophyllene, isocaryophyllene. (Sumber: www.aromaweb.com).

11

B. MINYAK ATSIRI 1. Sejarah Perkembangan Minyak Atsiri Minyak atsiri pertama kali dibuat oleh bangsa Mesir, Persia, dan India. Sebenarnya penyulingan minyak atsiri waktu itu terbatas pada terpenten dan kamfor. Perdagangan minyak wangi dan salep telah sejak lama di Negara-Negara Timur, Yunani, Roma Kuno. Bahan yang digunakan bukan minyak atsiri melainkan bunga, akar-akaran tanaman yang wangi, kemudian dimasukkan kedalam botol yang telah berisi minyak. Selanjutnya botol yang telah berisi minyak serta bunga dan akar-akaran tersebut dijemur (Anonim, 1999). Penyulingan minyak atsiri pada zaman tersebut, belum menggunakan sistem pencataan yang sistematis. Sehingga, data-data tentang metode-metode, tujuan dan hasil penyulingan tersebut, hampir tak ada lagi dan sangat kabur. Penelitian sistematis tentang sejumlah minyak atsiri dapat dikatakan dimulai oleh ahli kimia Prancis J. B. Dumas (1800-1884), perkembangan penting dalam ilmu kimia tentang minyak atsiri selanjutnya adalah penyelidikan oleh ahli kimia Prancis M. Barthelot (1827-1907), yaitu mengenai kandungan hidrokarbon pada minyak atsiri. Penelitian berikutnya di bidang minyak atsiri meliputi penemuan minyak atsiri baru dan penelitian terhadap komponennya. Minyak atsiri merupakan komoditas ekspor cukup penting bagi Indonesia. Beberapa komoditas seperti minyak nilam, pala, dan minyak cengkeh merupakan pemasok terbesar ke pasar dunia. Minyak atsiri hampir seluruhnya diproduksi oleh petani dalam usaha skala kecil dengan teknologi sederhana, mulai dari teknik

12

budidaya sampai pengolahan. Dengan demikian, produktivitas tanaman dan mutu minyak umumnya lebih rendah dari harga produk yang sama dari negara produsen lainnya (Hobir dan Emmyzar, 1995). 2. Sumber Minyak atsiri yang dikenal juga dengan nama minyak eteris atau minyak terbang (essential oil, volatile oil) adalah minyak mudah menguap dan diperoleh dari tanaman dengan cara penyulingan uap atau suatu hasil reaksi hidrolisis bahan tanaman yang mudah menguap dari kandungan senyawa esensi tanaman itu (Zulchi dan Aisni., 2002). Minyak tersebut menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir, berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya. Umumnya larut dalam pelarut organik dan tak larut dalam air (Anonim, 2002). Tanaman yang menghasilkan minyak atsiri diperkirakan berjumlah 150-200 spesies tanaman, yang termasuk dalam family Pinaceae, Labiateae, Compositae, Lauraceae, Myrtaceae dan Umbelliferaceae. Minyak atsiri dapat bersumber pada setiap bagian tanaman yaitu dari daun, bunga, buah, biji, batang atau kulit, dan akar. Ditinjau dari segi bahan bakunya, minyak atsiri dapat dibedakan atas minyak atsiri primer dan sekunder. Minyak atsiri produk primer adalah minyak atsiri sebagai hasil utama dari suatu bahan, misalnya nilam, dan akar wangi; sedangkan produk sekunder adalah hasil tambahan atau limbah dari suatu bahan misalnya minyak lada, pala, cengkeh, kunyit, dll. (Adriani, 2001).

13

3. Komposisi Kimia Pada umumnya variasi komposisi minyak atsiri disebabkan oleh perbedaan jenis tanaman penghasil, kondisi iklim, tanah tempat tumbuh, umur panenan, metode ekstraksi yang dipergunakan dan cara penyimpanan minyak. a. Komposisi Kimia Minyak Atsiri Secara Umum Minyak atsiri umumnya terdiri dari berbagai campuran persenyawaan kimia yang terbentuk dari unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O) serta beberapa persenyawaan kimia yang mengandung unsur nitrogen (N) dan belerang (S). Pada umumnya komponen kimia dalam minyak atsiri dibagi menjadi 2 golongan yaitu: 1. Hidrokarbon Persenyawaan yang termasuk golongan hidrokarbon terbentuk dari unsur hidrogen (H) dan karbon (C). Komponen kimia yang termasuk golongan hidrokarbon yang dominan menentukan bau dan sifat khas setiap jenis minyak yaitu persenyawaan terpen. Persenyawaan terpen berbau kurang wangi, sukar larut dalam alkohol encer, terutama jika terkena cahaya matahari dan oksigen udara. Minyak yang mengandung terpen jika disimpan dalam waktu lama akan membentuk sejenis resin dan sukar larut dalam alkohol. Untuk tujuan tertentu misalnya untuk pembuatan parfum, fraksi terpen perlu dipisahkan sehingga didapatkan minyak atsiri yang bebas terpen.

14

Tujuan dari pemisahan fraksi terpen dari minyak atsiri yaitu 1). memperbesar kelarutan minyak dalam alkohol, 2). memperbesar resistensi minyak terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh proses oksidasi cahaya dan 3) memperbesar konsentrasi senyawa kimia golongan “oxygenated hydrocarbon” yang berbau lebih wangi. 2. “Oxygenated hydrocarbon” Komponen kimia dari golongan ini terbentuk dari unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Persenyawaan kimia yang merupakan golongan ini yaitu alkohol, aldehid, keton, ester, dan eter. Pada umumnya sebagian besar minyak atsiri terdiri dari campuran persenyawaan golongan hidrokarbon dan “oxygenated hydrocarbon”. Disamping itu, minyak atsiri mengandung resin dan lilin dalam jumlah kecil yang merupakan komponen tidak menguap (Guenther, 1987). Di bawah ini merupakan Tabel golongan persenyawaan kimia yang terdapat dalam minyak atsiri (Tabel 2).

15

Tabel 2. Persenyawaan Kimia yang Terkandung Dalam Minyak Atsiri Golongan 1). Hidrokarbon (C5H8)n Persenyawaan kimia Ocimene, myocene, cyonene pinere, syslvestrene, limonene, camphene, phelanddrene, fenchene, geraniolene, endesniol, caryophilene dan santalene.

2). “Oxygenated hydrocarbon” a. Alkohol (R-OH) - Alkohol alifatis

- Alkohol siklis c. Keton (R-CO-R) d. Ester (R-COOR) e. Eter (R-O-R) (Sumber: Ketaren, 1990)

Geraniol, nerol, sitronellol, terpineol, borneol, linaleol, menthol, santalol, isopulegol, penchil alkohol, sedrol, farnesol, fenil etil alkohol, sinnamil alkohol, metil alkohol Thimol, carvacrol, eugenol, vanilin Camphor, vione, carvone, menthone, pulegone, fenchone, piperitone, dan asetofennon. Ester-ester dari asam aseta, butirat, siglat, salisilat, benzoat. Anethole, metil cavicole, safrole, eucalyptole, ascaridole.

b. Sifat Fisiko Kimia Minyak Atsiri 1. Sifat fisik Biasanya minyak atsiri tak berwarna atau berwarna kekuning-kuningan dan beberapa minyak atsiri berwarna kemerah-merahan, jika lebih lama di udara akan mengabsorbsi oksigen hingga berwarna lebih gelap dan berubah baunya serta menjadi lebih kental. 2. Sifat kimia Sifat kimia minyak atsiri ditentukan oleh persenyawaan kimia yang terdapat didalamnya terutama terpen, aldehid, ester, asam. Perubahan kimia yang terjadi pada senyawa-senyawa tersebut dapat mengakibatkan kerusakan pada minyak atsiri.

16

C. MINYAK CENGKEH 1. Komposisi Kimia Minyak cengkeh merupakan minyak atsiri yang diperoleh dari tanaman cengkeh (Syzygium aromaticum). Minyak atsiri ini dapat diperoleh dari bunga, gagang, dan daun tanaman cengkeh. Kualitas minyaknya dievaluasi dari kandungan fenol, terutama eugenol. Kadar eugenol dalam minyak cengkeh dipengaruhi oleh asal minyaknya. Kadar terbanyak dan kualitas yang baik dapat dihasilkan oleh minyak yang diperoleh dari bunga dan gagang cengkeh. Kualitas minyak daun cengkeh hanya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan minyak bunga atau gagang cengkeh (Aksan, 2007). Perbandingan kadar eugenol dalam minyak cengkeh berdasarkan asalnya, tersaji pada Tabel 3. Tabel 3. Kandungan Eugenol Dalam Minyak Cengkeh Asal Minyak Bunga Gagang Daun (Sumber: Guenther, 1990) Kandungan minyak cengkeh pada bagian tanaman tersebut bervariasi jumlahnya. Bunga mengandung sekitar 20% minyak, sedangkan bagian gagang dan daun sekitar 4-6% minyak (Guenther, 1990). Selain itu, kandungan minyak saat ekstraksi dipengaruhi oleh lamanya proses penyulingan (Zulchi dan Aisni, 2002). Minyak atsiri dalam bunga dan gagang cengkeh mengandung eugenol dan kariofilen, yang merupakan komponen kimia yang memberikan rasa getir dan bau Kadar Eugenol 90 - 95% 83 - 95% 82 - 87%

17

pedas dari cengkeh. Di bawah ini merupakan Tabel perbandingan komposisi kimia bunga dan gagang cengkeh. Tabel 4. Komposisi Kimia Bunga dan Gagang Cengkeh Komponen Bunga cengkeh (%) Air 5, 0 – 8,3 Abu 5,3 – 7,6 Minyak atsiri 14,0 – 21,0 “Fixed oil” dan resin 5,0 – 10,00 Protein 5,0 – 7,0 Serat kasar 6,0 – 9,0 Tanin 10,0 – 18,0 (Sumber: Ketaren, 1989) Gagang cengkeh (%) 8,7 – 10,2 6,9 – 9,0 5,0 – 6,0 3,5 – 4,0 5,8 – 6,0 13,0 – 19,0 Sekitar 10

Pada umumnya minyak cengkeh terdiri dari campuran berbagai persenyawaan kimia, yaitu: a. Eugenol [CH2=CHCH2C6H3(OCH3)OH)] Eugenol merupakan persenyawaan kimia yang paling penting di dalam minyak cengkeh dan jumlahnya dapat mencapai 83-95%. Eugenol bersifat mudah menguap, tidak berwarna atau berwarna agak kuning dan mempunyai rasa getir (Guenther, 1990). Karakteristik eugenol dapat dilihat pada Tabel (Lampiran 5). Eugenol dapat diisolasi dari minyak dengan menambahkan NaOH atau KOH 3%, sehingga menghasilkan natrium atau kalium eugenolat (Anonim, 2006). Gambar di bawah ini menggambarkan reaksi antara eugenol dan penambahan NaOH, sehingga menghasilkan natrium eugenolat (Gambar 2).

18

Gambar 2. Reaksi Antara Eugenol dengan NaOH Eugenol digunakan sebagai bahan baku parfum, pemberi flavor, dan dalam bidang pengobatan sebagai antiseptik dan anestesi. Eugenol juga digunakan pada pembuatan isoeugenol untuk memproduksi vanilin sintetis. Saat ini, kebanyakan vanilin sintetis dibuat dari fenol atau dari lignin (Anonim, 2002). b. Eugenol asetat [CH3CH=CHC6H3(OCH3)COOCH3] Eugenol asetat terdapat juga pada minyak gagang cengkeh, tetapi dalam jumlah yang sangat kecil. Eugenol asetat dapat dibuat dari eugenol dengan cara asetilasi eugenol, menggunakan asetat anhidrit. c. Kariofilen (Caryophyllene) C15H24 Di dalam minyak cengkeh terdapat alpha dan betha kariofilen dengan jumlah 5-12%. Kariofilen dapat dipisahkan dari minyak dengan menambahkan larutan soda 70%, kemudian diekstraksi dengan ester. Selanjutnya, diuapkan di atas penagas air.

19

d. Metil n-amil keton Senyawa dalam minyak daun cengkeh yang terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit, dan merupakan senyawa yang menimbulkan bau khas minyak daun cengkeh. 2. Mutu Minyak Gagang Cengkeh (Clove Steam Oil) Mutu minyak gagang cengkeh, ditentukan oleh kadar eugenol. Kadar eugenol dalam minyak gagang cengkeh ditentukan oleh kondisi gagang sebelum disuling (dirajang atau tanpa rajang) dan metode penyulingan (Ketaren, 1985). Di Indonesia belum ada suatu standar mutu yang pasti untuk minyak gagang cengkeh. Di bawah ini Tabel standar mutu dari minyak gagang cengkeh menurut Essensial Oil Association of USA (EOA). Tabel 5. Standar Mutu Minyak Gagang Cengkeh Karakteristik Penampakan dan odor Putaran optik Kadar eugenol Kelarutan dalam alkohol Indeks bias pada suhu 20 oC (Sumber: EOA, 2006). Nilai Kuning sampai berwarna coklat terang 0o sampai -1o30o 89% sampai 95% Larut dalam 2 bagian/lebih dari alkohol 70% 1.5340 sampai 1.5380

Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu minyak sangat ditentukan oleh sifat dan senyawa kimia yang terkandung di dalamnya. Sifat fisik seperti bobot jenis, indeks bias, putaran optik, dan kelarutan dalam etanol 70% dapat dijadikan kriteria untuk menentukan kemurnian minyak.

20

Apabila bobot jenis, indeks bias, dan putaran optik menunjukkan angka yang tertinggi, kemungkinan minyak cengkeh tersebut mengandung bahan-bahan lain seperti mineral dan lemak. Apabila sifat itu menunjukkan angka yang rendah, maka kemungkinan minyak tersebut mempunyai kadar eugenol yang rendah (Rusli dkk., 1979). 3. Manfaat Minyak cengkeh ternyata punya khasiat yang cukup besar dan merupakan baku industri farmasi dan pestisida nabati. Hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah (BALITTRO) menunjukan bahwa, minyak cengkeh juga dapat dipakai sebagai bahan baku pembuatan balsam yang dapat menghilangkan rasa sakit, terutama reumatik. Di samping itu dapat digunakan juga sebagai obat kumur dan permen. Bukan itu saja, hasil penelitian BALITTRO juga menunjukkan eugenol yang terdapat dalam minyak cengkeh ternyata dapat mengendalikan jamur patogen pada tanaman. Contohnya, jamur Fusarium oxysporum yang menyebabkan penyakit busuk batang pada tanaman vanili dan jamur tular tanah yang umumnya menjadi penghambat produksi tanaman hortikultura dan perkebunan.

21

D. PROSES PENYULINGAN MINYAK GAGANG CENGKEH Penyulingan dapat didefinisikan sebagai pemisahan komponen-komponen suatu campuran dari dua jenis cairan atau lebih berdasarkan perbedaan tekanan uap dari masing-masing zat tersebut (Guenther, 1990). Mekanisme penyulingan yaitu sebagai berikut: pada suhu air mendidih, sebagian minyak atsiri akan larut dalam air yang terdapat dalam kelenjar. Campuran minyak dalam air ini akan berdifusi ke luar dengan peristiwa osmosis melalui selaput membran yang sedang mekar sampai di permukaan bahan, dan selanjutnya menguap. Dengan pemanasan oleh uap atau air, minyak atsiri akan dibebaskan dari kelenjar minyak dalam jaringan tanaman. Untuk mengganti minyak yang diuapkan ini, sejumlah minyak masuk ke dalam larutan dan menembus membran sel bersamaan dengan masuknya air. Proses ini berlangsung terus sampai seluruh zat menguap didifusikan dari dalam kelenjar minyak dan diuapkan oleh uap air panas (Guenther, 1987). 1. Pengeringan Proses penyulingan gagang cengkeh ini dimulai dari proses penjemuran. Tujuan dari penjemuran ini adalah menguapkan sebagian air dalam bahan sehingga proses penyulingan mudah dan lebih singkat, serta untuk menguraikan zat tidak berbau sehingga berbau wangi. Proses penjemuran dilakukan diatas lantai beton atau tikar, selama 6 hari dibawah sinar matahari. Penjemuran tersebut dilakukan hingga gagang cengkeh berwarna coklat tua. Mutu cengkeh kering yang baik yaitu berwarna coklat kekuning-

22

kuningan, dan berat cengkeh yang dihasilkan sekitar 31 - 35% dari berat basah (Ketaren, 1985). Kehilangan minyak selama proses pengeringan lebih besar dari kehilangan minyak selama proses penyimpanan. Hal ini terjadi karena pada proses pengeringan, air dalam tanaman akan berdifusi sambil mengangkut minyak atsiri dan akhirnya menguap (Guenther, 1990). Sehingga, minyak atsiri yang berada dalam tanaman akan berkurang karena sebagian minyak atsiri telah ikut menguap bersama air yang menguap akibat proses pengeringan. 2. Pengukuran Kadar Air Prinsip: Penentuan banyaknya air dengan cara destilasi dengan suatu cairan organik yang tak bercampur dengan air, dan dikumpulkan dalam suatu tabung berukuran (Gambar 3).

Gambar 3. Tabung Pengukuran Kadar Air Tujuan dilakukannya pengukuran kadar air yaitu untuk menentukan berapa kadar air optimum yang terdapat dalam bahan, sebelum di suling. Prosedur:

23

1) Gagang cengkeh kering sebanyak 10 g dirajang, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur. 2) Menambahkan toluen hingga terendam seluruhnya. 3) Labu tersebut digabungkan dengan tabung esktraktor destilasi. 4) Memanaskan selama 3-4 jam dengan menggunakan hotplate. 5) Mengamati hasilnya. Hasil: Pengukuran kadar air ini dilakukan pemanasan selama 2,5 jam. Hasilnya, air yang didapat yaitu sebanyak 1,1 mL. Perhitungan: Rumus perhitungan kadar air: Kadar air = Keterangan: V M = Volume air yang ditampung (mL) = Massa bahan yang diuji (g) V × 100% M

Dengan anggapan rapat massa air tepat 1 g/mL. 1,1ml × 100% 10 g

Kadar air bahan =

= 11%

Pembahasan:

24

Pengukuran kadar air dilakukan untuk mengetahui berapa kadar air yang terdapat dalam bahan. Sehingga kita bisa mengetahui berapa kadar air yang optimal dalam penyulingan minyak Pada saat pemanasan, minyak dalam bahan akan larut bersama toluen sedangkan air yang tidak larut dengan toluen akan menguap dan masuk kedalam tabung ekstraktor destilasi. Pengujian ini berdasarkan berat jenis dari air. Berat jenis Toluen lebih ringan daripada air. Sehingga pada saat pemanasan, air yang menguap serta menetes ke penampung akan berada di bagian bawah toluen. Setelah pemanasan selama 2,5 jam didapatkan kadar air sebesar 1,1 ml. Kadar air pada bahan mempengaruhi kadar minyak cengkeh pada saat penyulingan. Semakin tinggi kadar air, maka kadar rendemennya akan semakin kecil, sehingga menghasilkan minyak yang sedikit. Oleh karena itu, bahan yang akan disuling harus cukup kering, agar menghasilkan minyak yang cukup banyak. Menurut Ketaren (1989), gagang cengkeh yang baik untuk disuling mempunyai kadar air 8,7 – 10,2%. Jadi kadar air dalam gagang cengkeh tersebut (11%), kurang kering dan kurang baik untuk disuling. 3. Penyulingan Minyak Gagang Cengkeh Secara garis besar proses penyulingan minyak atsiri yaitu secara perlahan-lahan cairan dalam alat penyuling didihkan, sehingga campuran uap terdiri dari uap air dan uap minyak. Campuran tersebut mengalir melalui pipa kondensor, sehingga uap tersebut dicairkan kembali dengan sistem pendinginan dari luar, yaitu biasanya dengan air dingin. Dari kondensor, kondensat tersebut ditampung dalam

25

tabung pemisah (receiver); dan dalam tabung tersebut minyak atsiri akan terpisah dari air suling (Guenther, 1987). Proses penyulingan ini menggunakan tipe air dan uap (skala lab). Hal itu di karenakan, bahan yang akan disuling berjumlah sedikit. Ketel tersebut dapat menampung gagang cengkeh sebanyak 2,1 kg. Alat-alat seperti ketel, kondensor, yang digunakan pada penyulingan ini hampir sama dengan menggunakan ketel besar. Perbedaannya hanya pada bentuk alat dan kapasitas. Di bawah ini merupakan Gambar alat penyulingan tipe air dan uap (skala lab).

Gambar 4. Alat Penyulingan Tipe Air dan Uap

a). Peralatan Penyulingan Peralatan penyulingan minyak atsiri umumnya terdiri dari: 1. Ketel suling (retort) Ketel suling adalah tempat bahan yang akan disuling. Ketel suling umumnya berbentuk suatu silinder yang terbuat dari seng tebal (galvanized sheed metal) yang dilengkapi dengan penutup yang dapat

26

ditutup rapat (Gambar 5). Pada tutup tersebut dipasang pipa untuk mengalirkan uap ke kondensor.

Gambar 5. Ketel Penyulingan Tipe Air dan Uap Ketel dapat dibuat dari plat tembaga, alumunium, plat besi (galvanized iron), baja dan stainless steel. Stainless steel merupakan bahan logam yang paling baik, namun harganya cukup mahal. Masalah dalam penggunaan logam tersebut sebagai bahan dasar ketel adalah karena ia dapat bereaksi dengan minyak atsiri, atau berfungsi sebagai katalisator dalam proses oksidasi minyak atsiri. Dengan demikian jenis logam yang digunakan berpengaruh terhadap mutu minyak atsiri yang dihasilkan (Ketaren, 1985). 2. Tabung pendingin (condensor) Condensor merupakan suatu alat yang berupa tabung silinder dan di dalamnya terdapat pipa lurus (tubular condensor) atau berbentuk spiral (coil condensor) yang berfungsi untuk mengubah uap menjadi bentuk cair (Gambar 6). Pengeluaran panas lebih efektif menggunakan tubular

27

condensor, karena mempunyai permukaan yang lebih luas (Ketaren, 1985).

Gambar 6. Pipa Condensor Aliran air dalam kondensor harus berlawanan dengan aliran uap air dan minyak, sehingga kondensat yang akan keluar dari suatu kondensor mempunyai suhu yang hampir sama dengan suhu air pendingin yang masuk ke kondensor. Kondensor umumnya terbuat dari tembaga yang dilapis timah, alumunium atau stainless steel. Besi dan tembaga tanpa lapisan tidak baik dipakai karena komposisi minyak akan bereaksi pada logam tersebut sehingga warna minyak berubah. Pada proses penyulingan minyak cengkeh skala industri, kondensor yang digunakan yaitu berupa kolam atau air sungai yang mengalir Bagan proses pengolahan minyak daun cengkeh skala industri dapat dilihat pada Lampiran 4. 3. Alat pemisah minyak (oil separator) Hasil kondensasi (kondensat) dari kondensor ditampung dengan alat pemisah minyak dan air, disebut “florentine flask”. Alat ini di desain

28

sedemikian rupa, sehingga dapat langsung memisahkan minyak dan air yang keluar dari kondensor. Bila berat jenis minyak lebih ringan daripada air, maka minyak tersebut akan berada dibagian atas air. Minyak gagang cengkeh mempunyai berat jenis yang lebih besar daripada air (Bj minyak > Bj air), sehingga mengendap di bagian bawah tabung. Di bawah ini merupakan Gambar dari oil separator.

Gambar 7. Oil Separator b). Metode-Metode Penyulingan 1) Penyulingan dengan air (water distilation) Pada sistem penyulingan dengan air, bahan yang akan disuling langsung kontak dengan air mendidih. Keuntungan dari penggunaan sistem penyulingan ini adalah baik digunakan untuk menyuling bahan yang berbentuk tepung dan bunga-bungaan yang mudah membentuk gumpalan jika terkena panas.

29

Kelemahan dari penyulingan ini adalah pengekstraksian minyak atsiri tidak dapat berlangsung dengan sempurna, walaupun bahan dirajang. Penyulingan air memerlukan ketel penyulingan yang lebih besar, ruangan yang lebih luas dan jumlah bahan bakar yang lebih banyak. Kelemahan lainnya adalah akibat komponen minyak yang bertitik didih tinggi dan bersifat larut dalam air tidak dapat menguap secara sempurna, maka komponen minyak yang dihasilkan tidak lengkap (Guenther, 1987). 2) Penyulingan dengan air dan uap (water and steam distilation) Pada sistem penyulingan ini, bahan diletakkan di atas saringan berlubang yang terletak beberapa sentimeter di atas permukaan air dalam ketel penyuling. Kemudian ketel tersebut dipanaskan, hingga airnya menguap. Keuntungan menggunakan sistem penyulingan ini adalah karena uap berpenetrasi secara merata ke dalam jaringan bahan dan suhu dapat dipertahankan sampai 100 oC. Lama penyulingan relatif lebih singkat, rendemen minyak lebih besar dan mutunya lebih baik jika dibandingkan dengan minyak hasil sistem sulingan dengan air, serta bahan yang disuling tidak dapat menjadi gosong. Kelemahan dari sistem penyulingan ini yaitu jumlah uap yang dibutuhkan besar. Dalam hal ini sejumlah besar uap akan mengembun dalam tumpukan bahan, sehingga bahan bertambah basah, mengalami aglutinasi, dan menghasilkan minyak dalam waktu yang lama (Guenther, 1987). Di bawah ini, merupakan Gambar dari alat penyulingan dengan uap dan air.

30

Gambar 8. Alat Penyulingan Dengan Uap dan Air 3) Penyulingan dengan uap langsung (steam distilation) Pada sistem ini, air sebagai sumber uap panas terdapat dalam “boiler” yang letaknya terpisah dari ketel penyuling, dan kemudian dialirkan kedalam tumpukan bahan didalam ketel. Di bawah ini merupakan Gambar dari penyulingan dengan uap langsung.

Gambar 9. Alat Penyulingan Dengan Uap Langsung Sistem penyulingan ini baik digunakan untuk mengekstraksi minyak dari biji-bijian, akar dan kayu-kayuan yang umumnya mengandung komponen

31

minyak yang bertidik didih tinggi serta bertekstur keras, misalnya minyak gagang cengkeh. c). Proses Penyulingan minyak gagang cengkeh Prosedur penyulingan: 1) Mengisi ketel dengan air hingga sepertiganya. 2) Meletakkan saringan di atasnya, dan mengisikan gagang cengkeh kering yang telah ditimbang ke dalamnya. 3) Menutup dan mengencangkan tutup ketel dengan baut. 4) Meletakkan ketel tersebut di atas pemanas dan memasangkan kondensor dan tabung penampung minyak. 5) Memanaskan ketel hingga air yang menguap menetes dari kondensor. 6) Pemanasan sampai kira-kira minyak tak ada lagi yang menetes. Hasil: Pada proses penyulingan ini selama ± 14 jam pemanasan, didapatkan minyak gagang cengkeh sebanyak 62 ml (2,95% dari 2,1 Kg). Minyak gagang cengkeh yang dihasilkan berwarna kuning transparan, beraroma khas cengkeh, serta pedas. Pembahasan: Proses penyulingan ini dilakukan selama 2 hari, yaitu hari pertama selama 9 jam dan hari kedua selama 5 jam. Hal tersebut dilakukan, karena diperkirakan masih ada minyak yang terdapat dalam gagang cengkeh tersebut. Sehingga setelah dilakukan penyulingan pertama, dilakukan kembali penyulingan kedua hingga tak ada lagi minyak yang menetes dari kondensor. Penyulingan gagang cengkeh

32

dengan menggunakan alat penyuling yang baik, membutuhkan lama penyulingan sekitar 8-24 jam, dan hal ini tergantung dari ukuran dan jenis insolasi ketel (Ketaren, 1985). Setelah 14 jam pemanasan, didapatkan minyak sebanyak 62 ml (2,95% dari 2,1 Kg). Menurut Sofyan dkk. (1979), penggunaan api yang besar akan meningkatkan rendemen, kadar eugenol, bobot jenis, indeks bias, dan putaran optik. Menurut Guenther (1989), kadar minyak dalam gagang cengkeh sebanyak 4 – 6 persen. Tetapi hasil yang didapat yaitu sebanyak 2,95%, yang berarti berbeda dengan teori. Hal itu bisa disebabkan beberapa faktor yaitu: a. Pada proses penjemuran, gagang cengkeh kurang kering sehingga masih banyak kadar air dalam bahan, sehingga minyak sulit menguap pada saat penyulingan. b. Gagang cengkeh tidak dirajang terlebih dahulu, sehingga kelenjar minyak tidak dapat terbuka dengan sebanyak mungkin sehingga mempersulit penguapan minyak atsiri dalam bahan mentah yang akan diolah. c. Waktu penyulingan yang kurang lama, sehingga menghasilkan rendemen yang kurang banyak. Kesimpulan: Hasil dari penyulingan gagang cengkeh sebanyak 2,1 kg, menghasilkan minyak gagang cengkeh sebanyak 62 ml. Nilai tersebut jauh dibawah nilai standar dari minyak gagang cengkeh yaitu sekitar 5,0 – 6,0% (Ketaren, 1985). Hal tersebut dapat disebabkan pada proses penjemuran yang kurang baik, tak adanya

33

perajangan terhadap gagang cengkeh sebelum disuling, serta penggunaan api yang kurang besar. Dengan demikian, setelah didapatkan minyak gagang cengkeh berarti proses penyulingan telah selesai. Proses selanjutnya yaitu proses pengawasan mutu minyak gagang cengkeh. (Skema proses penyulingan dan pengawasan mutu minyak gagang cengkeh seperti terlihat pada Lampiran 3).

E. PENGAWASAN MUTU MINYAK GAGANG CENGKEH Pengawasan mutu minyak gagang cengkeh bertujuan untuk mengetahui kemurnian dan komposisi dari minyak gagang cengkeh, apakah telah sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan sebelumnya. 1. Penentuan Bobot Jenis/Berat Jenis Prinsip: Metode ini didasarkan pada perbandingan antara berat minyak pada suhu yang ditentukan dengan berat air pada volum yang sama dengan volum minyak pada suhu tertentu. Prosedur: 1. Mencuci dan membersihkan piknometer kemudian membasuh secara berturut-turut dengan etanol dan dietil eter. 2. Mengeringkan bagian dalamnya dengan arus udara kering 3. Mengisi piknometer dengan minyak gagang cengkeh. 4. Menimbang piknometer dalam neraca analitik.

34

5. Mencuci kembali piknometer, kemudian membasuh kembali secara berturut-turut dengan etanol dan dietil eter. Hasil:  Piknometer kosong : 8,7981 g

 Piknometer + minyak : 14,0214 g  Piknometer + air Perhitungan: Bobot jenis dt25 dicari dengan menggunakan rumus: dt25 = Keterangan: dt25 = Bobot jenis pada suhu 25 oC. m m1 m2 = Berat piknometer kosong (g). = Piknometer + minyak (g). = Piknometer + air (g). 14,0214 ⋅ 8,7981 × 100% 13,7818 ⋅ 8,7981 5,2233 × 100% 4,9837
m2 ⋅ m × 100% m1 ⋅ m

: 13,7818 g

Sehingga, dt25 =

=

= 1,0480 Bobot jenis dt125 dicari dengan menggunakan rumus: dt125 = dt1 + 0,0007 (t1-t)

35

Keterangan: dt125 t1 t = Bobot jenis pada suhu pengerjaan. = Suhu ruangan pengerjaan (oC). = Suhu standar (25 oC).

0,0007 = Koefisien perhitungan standar. Sehingga, bobot jenis minyak pada dt125 yaitu: dt125 = 1,0480 + 0,0007 (26-25) = 1,0487 Kesimpulan: Nilai bobot jenis dari minyak gagang cengkeh yang didapat yaitu sebesar 1,0487. Berdasarkan standar mutu minyak gagang cengkeh dari EOA, nilai tersebut telah sesuai dengan standar yaitu 1,018 sampai 1,056. 2. Penentuan Indeks Bias Prinsip: Bila seberkas sinar mengenai sebuah bidang batas dari 2 zat yang transparan maka cahaya tersebut sebagian akan dipantulkan, diabsorbsi dan diteruskan. Tergantung pada besarnya sudut jatuh maka sinar yang diteruskan mungkin searah dengan sinar jatuh atau ditentukan dengan arah yang dibelokkan/dibiaskan. Rumus penentuan indeks bias: Indeks bias = Nt + 0,0004 (t – 25 oC) Keterangan: Nt = Pembacaan yang dilakukan pada suhu pengerjaan t1

36

0,0004 = Faktor koreksi t Prosedur kerja: 1. Prisma refraktometer dibersihkan dengan alkohol. 2. Membersihkan prisma tersebut dengan tissue hingga kering. 3. Meneteskan minyak cengkeh di atas prisma menggunakan pipet tetes. 4. Menutup prisma dan mengatur slide, sehingga memperoleh garis batas yang jelas antara terang dan gelap. 5. Mengatur saklar sampai garis ini berimpit dengan titik potong dari 2 garis yang bersilangan. 6. Membaca nilai indeks bias pada skala yang terdapat di refraktometer. = Suhu ruangan pengerjaan (oC)

Gambar 10. Refraktometer Hasil: Pada suhu ruangan pengerjaan 29 oC didapatkan nilai indeks bias sebesar 1,5360. Perhitungan: Indeks bias = 1,5310 + 0,0004 (29 - 25) = 1,5310 + 0,0016 = 1,5326

37

Pembahasan: Pada pengujian indeks bias, didapat hasil yaitu 1,5326. Berdasarkan standar mutu minyak gagang cengkeh dari EOA, nilai tersebut kurang sesuai dengan standar mutu dari EOA yaitu 1,5340 sampai 1,5380. Karena nilai yang didapat hampir mendekati nilai tersebut, dapat diperkirakan perbedaan tersebut terjadi karena kekurang telitian dari pengamat dalam mengamati skala yang terdapat pada refraktometer. Angka indeks bias menunjukkan sifat fisik dari minyak cengkeh yang diukur berdasarkan penyimpangan atau bias dari sinar yang melewatinya pada suhu tertentu (Samsoeqi T. dan Nanan N., 1987). Sifat fisik ini erat hubungannya dengan komponen-komponen kimia penyusun minyak gagang cengkeh. Kesimpulan: Nilai indeks bias minyak gagang cengkeh yang didapat yaitu sebesar 1,5326. Berdasarkan standar mutu minyak gagang cengkeh dari EOA, nilai tersebut kurang sesuai dengan standar mutu dari EOA yaitu 1,5340 sampai 1,5380. 3. Uji Eugenol Prinsip: Kadar eugenol dapat diketahui dengan penambahan KOH atau NaOH dimana eugenol bereaksi dengan NaOH menjadi natrium eugenolat. Dari sisa minyak yang tak bereaksi, kadar eugenol dapat diketahui. Prosedur kerja: 1. Mengisi labu cassia dengan KOH 4% sebanyak ± 80 ml. 2. Menambahkan ± 10 ml minyak cengkeh ke dalamnya.

38

3. Mengocok dengan shaker selama 30 menit. 4. Menambahkan NaOH sebanyak ± 4ml. 5. Mengocok labu, sehingga gelembung didalam labu tersebut naik. 6. Menutup dan mendiamkannya semalam. 7. Mengamati dan mencatat nilai yang terdapat pada labu.

Gambar 11. Labu Cassia Hasil: Nilai yang tertera pada labu cassia yaitu 0,8 ml. Perhitungan: Kandungan eugenol pada minyak gagang cengkeh dihitung menggunakan rumus: Kadar Eugenol = Keterangan: 10 = Volume minyak yang diukur. 0,8 = Nilai yang didapat dari pembacaan pada labu cassia. 10 − pembacaan × 100% 10

39

Jadi, kadar eugenol minyak gagang cengkeh ini yaitu: Kadar Eugenol = 10 − 0,8 × 100% 10

= 92% Pembahasan: Uji eugenol ini bertujuan untuk menentukan kadar eugenol dalam minyak gagang cengkeh yang diuji. Dari hasil pengujian, kadar eugenol yang didapat yaitu sebesar 92%. Nilai tersebut telah sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan EOA yaitu sebesar 89% sampai 95%. Semakin tinggi kadar eugenol dalam minyak gagang cengkeh, maka mutu minyak atsiri akan semakin baik (Ketaren, 1985). Kesimpulan: Kadar eugenol minyak gagang cengkeh yang didapat yaitu sebesar 92%. Berdasarkan standar mutu minyak gagang cengkeh dari EOA, nilai tersebut telah sesuai dengan standar dari EOA yaitu sebesar 89% sampai 95%. 4. Uji Kromatografi Gas Prinsip: Kromatografi merupakan suatu teknik pemisahan campuran berdasarkan pada distribusi zat sampel diantara dua fasa. Tujuan dari pengujian minyak atsiri menggunakan kromatografi gas ini yaitu untuk mengetahui kemurnian dari komponen-komponen minyak gagang cengkeh yang diuji secara akurat (sistem komputer)

40

Prosedur kerja: 1. Memasukkan sampel sebanyak 1 ml kedalam tabung 2. Meletakkan tabung tersebut pada lubang yang terdapat pada injector. 3. Mengatur variabel-variabel pengujian pada komputer. 4. Menekan tombol start pada komputer untuk memulai proses. 5. Menunggu selama 60 menit, hingga proses selesai. 6. Mengamati nilai yang tampil pada monitor.

Gambar 12. Alat Kromatografi Gas

Gambar 13. Bagan Peralatan Kromatografi Gas

41

Bagian-bagian alat kromatografi gas: a. Gas pembawa Gas pembawa berfungsi sebagai fasa bergerak. Umumnya helium dan nitrogen digunakan sebagai gas pembawa. Tekanan gas yang berada dalam tangki gas dengan sendirinya membantu menggerakkan gas tersebut melalui komponen-komponen kromatografi gas.

Gambar 14. Gas Pembawa b. Sistem penyuntikan sampel (Injector) Tujuan penyuntik sampel dalam kromatografi gas untuk memasukkan sampel ke dalam turus. Sampel disuntik melalui septum yang segera tertutup setelah jarum tersebut dicabut. Sampel yang disuntik akan masuk ke dalam liner dan dipanaskan serta hingga menguap. Sampel yang telah menguap kemudian akan digerakkan masuk ke dalam turus/kolom.

42

Gambar 15. Injector c. Kolom/turus Turus digunakan untuk memisahkan sampel dari komponenkomponennya. Turus yang digunakan untuk kromatografi gas biasanya turus kapilari dengan kebiasaannya panjang melebihi 10 meter malah ada yang mencapai 30 dan 50 meter, bergantung kepada keperluan analisis. Turus kromatografi gas dapat dibedakan berdasarkan jenis padatannya. Ada yang dari jenis polar, non polar dan intermediate. Komponenkomponen yang telah terpisah di dalam turus kapilari tersebut, akan bergerak masuk ke dalam detektor.

Gambar 16. Kolom

43

d. Detektor Detektor mengukur kepekatan sesuatu komponen yang telah keluar dari turus. Detektor kemudian akan mengantarkan isyarat kepada sistem pengendalian data. Terdapat berbagai jenis detektor untuk kromatografi gas contohnya, TCD dan FID. e. Sistem pengendalian data Sistem pengendalian data berfungsi untuk menerjemahkan isyarat yang diterima dari pengesan, menjadi bentuk grafik atau data. Grafik biasanya berbentuk puncak. Data yang diperoleh biasanya tentang ketinggian puncak. Dari grafik dan data tersebut nilai-nilai seperti kepekatan sampel dan profail sampel yang dianalisis dapat diketahui. Alat perekam (chromatopac) dan komputer yang dilengkapi program penganalisis data adalah dua contoh sistem pengendalian data.

Gambar 17. Alat Sistem Pengendalian Data Hasil: Pemrosesan ini dilakukan selama 60 menit. Setelah 60 menit, nilai kandungan eugenol yang terlihat setelah 26, 255 menit sebesar 89,23822%. Grafik hasil pengujian kromatografi gas ini terdapat pada Lampiran 7.

44

Pembahasan: Kromatografi merupakan suatu teknik pemisahan campuran berdasarkan pada distribusi zat sampel diantara dua fasa. Terdapat berbagai jenis alat kromatografi, pada pengujian kromatografi ini dilakukan dengan menggunakan alat kromatografi gas. Pengujian kromatografi bertujuan untuk mengetahui kemurnian dari komponen-komponen dari minyak atsiri yang diuji. Komponen pada minyak gagang cengkeh yang paling menentukan kualitas suatu minyak cengkeh yaitu eugenol. Nilai-nilai dari komponen-komponen yang lain tidak terlalu mempengaruhi mutu. Menurut Guenther (1990), kadar eugenol pada minyak gagang cengkeh yaitu sebanyak 83 - 95%. Pada pengujian ini, didapat nilai eugenol sebesar 89,23822%. Nilai berarti telah sesuai dengan teori. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa minyak gagang cengkeh tersebut cukup murni. Kesimpulan: Kadar eugenol yang didapat yaitu (89,23822%). Berdasarkan standar mutu minyak gagang cengkeh dari EOA, nilai tersebut (89,23822%) telah sesuai dengan standar mutu dari EOA yaitu 89% sampai 95%. 5. Penentuan Putaran Optik Prinsip: Suatu sudut yang melalui bidang dari sinar terpolarisasi diputar oleh suatu lapisan minyak yang tebalnya ± 10 cm pada suhu tertentu. Tiap minyak mempunyai kemampuan menutupi bidang polarisasi kekanan dan ke kiri.

45

Prosedur kerja: 1. Memasukkan minyak cengkeh dalam tabung polarimeter hingga penuh. 2. Menutup dengan rapat tabung polarimeter. 3. Memasukkan tabung tersebut kedalam polarimeter. 4. Menyalakan polarimeter dan mengamati minyak melalui lubang intip. 5. Membaca nilai putaran optik pada skala yang terdapat pada alat.

Gambar 18. Polarimeter Hasil: Nilai yang tercantum pada skala polarimeter yaitu sebesar 179o. Perhitungan: Putara optik = Nilai skala pada polarimeter – 180o = 179o –180o = -1o Pembahasan: Sebagian besar minyak atsiri jika ditempatkan dalam sinar atau cahaya yang dipolarisasikan mempunyai sifat memutar budang polarisasi ke kanan

46

(dextrorotation) atau ke kiri (laevorotation). Sifat optis aktif suatu minyak ditentukan dengan polarimeter dan nilainya dinyatakan dalam derajat rotasi. Sudur rotasi tergantung dari sifat cairan, panjang tabung yang dilalui sinar, panjang gelombang sinar yang digunakan dan suhu (Guenther, 1987). Derajat rotasi dan arahnya, penting untuk menentukan kriteria kemurnian. Arah perputaran bidang polarisasi (rotasi) biasanya menggunakan tanda (+) untuk menunjukkan dextrorotation (rotasi ke arah kanan), dan tanda (-) untuk laevorotation (rotasi ke kiri). Kesimpulan: Nilai putaran optik yang didapat yaitu –1o. Berdasarkan standar mutu minyak gagang cengkeh dari EOA, nilai tersebut telah sesuai dengan standar dari EOA yaitu ± 0o sampai –1o30o. 6. Kelarutan Alkohol Istilah-istilah yang digunakan untuk menyatakan kelarutan minyak atsiri adalah sebagai berikut:  Larut atau larut seluruhnya, berarti minyak tersebut membentuk larutan yang bening dan arah perbandingan-perbandingan seperti dinyatakan.  Larut dengan kekeruhan, berarti bahwa kelarutan yang dihasilkan tak sepenuhnya bening dan cerah, akan tetapi kekeruhannya tak melebihi kekeruhan dari pembanding yang dibuat. Prosedur kerja: 1. Memasukkan 1 ml minyak cengkeh kedalam tabung reaksi.

47

2. Memasukkan etanol 70% kedalam buret. 3. Menambahkan setetes demi setetes alkohol kedalam tabung sambil dikocok sampai menjadi jenuh. 4. Membaca berapa volume etanol 70% yang digunakan sampai larutan tersebut menjadi bening. Hasil: Etanol 70% berkurang sebanyak 2 ml. Pembahasan: Salah satu sifat dari minyak atsiri yaitu larut dalam alkohol 70%. Dalam hal ini minyak gagang cengkeh menurut EOA, larut dalam 2 bagian atau lebih dari etanol 70%. Dari hasil pengujian, nilai kelarutan minyak gagang cengkeh yang diuji telah sesuai dengan standar yang ditetapkan EOA. Kesimpulan: Nilai kelarutan terhadap etanol 70% yaitu sebanyak 1 ml, yang berarti larut dengan perbandingan kelarutan 1:2. Berdasarkan standar mutu minyak gagang cengkeh dari EOA, nilai tersebut sesuai dengan standar dari EOA yaitu larut dalam 2 bagian atau lebih dari etanol 70%. Dari hasil pengujian mutu minyak gagang cengkeh, secara skematis dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

48

Tabel 6. Nilai Mutu Minyak Gagang Cengkeh yang Diuji Karakteristik Bobot jenis pada 25 oC Putaran optik Indeks bias pada 29 oC Eugenol (%) Kelarutan dalam etanol 70% Nilai Uji 1,047 -1o 1,5329 92 1:2 bening Nilai Standar (EOA) 1,018 – 1,056 ± 0o – 1o30o 1,5340 – 1,5380 (Pada 20 oC) 89% – 95%. 1 : 2 atau lebih Keterangan Sesuai standar Sesuai standar Kurang sesuai Sesuai standar Sesuai standar

F. PENANGANAN MINYAK ATSIRI Penanganan minyak atsiri perlu mendapat perhatian dalam rangka menjaga kestabilan mutu minyak tersebut. 1. Penjernihan Minyak atsiri yang baru disuling biasanya masih mengandung sejumlah kecil air suling, yang terdispersi dalam minyak dan sejumlah kotoran lainnya, sehingga akan terjadi reaksi yang lambat antara air dan minyak atsiri (Guenther, 1990). Pemisahan air dalam minyak dapat dilakukan dengan penambahan garam natrium sulfat anhidrit, selanjutnya dikocok dan disaring dengan kertas saring. Perjernihan minyak atsiri ini merupakan salah satu usaha dalam meningkatkan stabilitas mutu minyak atsiri selama penyimpanan dan pengangkutan.

49

2. Pengemasan Minyak atsiri Persyaratan bahan kemasan untuk produk yang diperdagangkan adalah sebagai berikut: 1. Dapat menjamin mutu produk yang dikemas. 2. Mudah dipakai. 3. Tak mempersulit penanganan. 4. Dapat melindungi isi pada waktu pengangkutan. 5. Tak beracun dan tak bereaksi dengan isi. 6. Mempunyai bentuk dan rupa yang menarik. Khusus untuk minyak atsiri, bahan kemasan harus memenuhi persyaratan tertentu yaitu: 1. Tidak dapat bereaksi dengan minyak atsiri. 2. Tidak dapat dilalui cahaya. 3. Tidak dipengaruhi oleh oksigen udara, air dan akan lebih baik jika bersifat insulator panas. Minyak atsiri dalam jumlah kecil baik disimpan dalam botol berwarna, sedangkan dalam jumlah besar disimpan dalam drum dilapisi dengan bahan yang tak bereaksi dengan minyak.  Gelas Warna botol yang paling baik digunakan untuk penyimpanan minyak atsiri adalah botol resisten terhadap cahaya (yaitu botol berwarna biru, amber, dan hijau). Botol tersebut sebaiknya ditutup dengan gabus. Gelas

50

merupakan wadah kemasan yang baik untuk minyak atsiri, karena minyak tak bereaksi dengan gelas. Namun tidak praktis, karena mudah pecah, sehingga menyulitkan dalam pengangkutan.  Drum Pada umumnya, minyak atsiri untuk tujuan ekspor dikemas dalam drum yang terbuat dari logam. Drum tersebut biasanya terbuat dari alumunium, seng dan besi (yang dilapisi dengan bahan yang tak bereaksi dengan minyak atsiri, misalnya timah putih). Alumunium dan stainless steel baik digunakan untuk wadah kemasan, namun jarang digunakan karena harganya mahal.  Plastik atau film Berbagai jenis plastik telah dikenal sebagai bahan kemasan, namun belum umum digunakan sebagai wadah kemasan minyak atsiri. Karena berbagai pertimbangan antara lain, sebagian plastik dapat larut dalam minyak atsiri dan kurang praktis selama pengangkutan. Kondisi ruangan selama penyimpanan, pengapalan (pengangkutan), dan pemasaran merupakan faktor yang dapat menurunkan mutu minyak, terutama jika disimpan dalam waktu yang cukup lama. Penyimpanan sebaiknya dilakukan dalam gudang atau ruangan dingin dan tidak dikenai oleh cahaya matahari langsung. Secara skematis penanganan minyak atsiri dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

51

Tabel 7. Penanganan Minyak Atsiri Cara Penanganan Keterangan 1. Penjernihan a. Air, dihilangkan dengan penambahan Na2SO4 anhidrit (natrium sulfat tak larut air) . b. Ion logam, dihilangkan dengan penambahan asam sitrat atau tartarat (ion logam larut dalam asam). 2. Pengemasan a. Pengisian Ruang kosong (head space) ± 5%; atau ruang kosong diisi gas CO2 atau N2. b. Bahan kemasan: Gelas : 1) Tidak bereaksi (baik). 2) Tidak praktis. Plastik: P.V.C, P.V.D.C., dsb. (minyak atsiri tertentu dapat bereaksi). Drum: 1). Besi, galvanis (baik). 2). Alumunium (baik, tidak tahan terhadap fenol). 3). Stainless steel (baik, mahal). 4). Tembaga (buruk). 5). Besi dilapisi zat coating (kemungkinan minyak dapat bereaksi). 3. Penyimpanan a. Suhu dibawah 20 oC. b. Tidak kena cahaya. c. Terpisah dari bahan berbau. (Sumber: Guenther, 1990).

52

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful