Anda di halaman 1dari 23

CASE REPORT Keratitis dendritik

Disusun untuk memenuhi tugas Departemen Ilmu Kesehatan Mata

Pembimbing : Dr. Diantinia Sp.M

Disusun oleh : Irna Kania Sari (110.2007.152)

Departemen Ilmu Kesehatan Mata RSUD SOREANG BANDUNG Universitas YARSI 2012

CASE REPORT

I. IDENTITAS PASIEN Nama : Tn. A. L

Jenis Kelamin : Laki-laki Umur Pekerjaan Alamat Tgl. Periksa No. RM : 32 tahun : Wiraswasta : Ciborerang 1/20 sangkanhurip Kec. Katapang Kab. Bandung : 18 April 2012 : 392282

II. ANAMNESA (Autoanamnesis)

Keluhan Utama Anamnesa

: Mata kanan nyeri :

Sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluhkan nyeri pada mata kanan pasien yang dirasakan terus menerus. Keluhan juga disertai dengan mata kanan menjadi merah, merasa gatal, silau dan sering berair, akan tetapi tidak disertai dengan kotoran mata yang menjadi banyak ataupun seperti ada yang mengganjal pada mata. Pasien juga mengeluhkan kelopak mata nya menjadi sakit terutama bila di tekan. Pasien mengatakan bahwa sejak timbul keluhan tersebut penglihatanya menjadi lebih buram dari biasanya. Riwayat trauma, terkena benda asing, atau bahan kimia pada mata disangkal oleh pasien.

Riwayat penyakit seperti diabetes, hipertensi, ataupun alergi disangkal oleh pasien. Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien.
III. PEMERIKSAAN FISIK

Status generalis: Keadaan umum Kesadaran Tanda Vital Tekanan darah Nadi Respirasi Suhu Kepala Mata Mulut : lihat status lokalis : Sianosis (-), Mukosa bibir lembab Hidung : Deformitas (-) , Krepitasi (-) , Nyeri tekan (-), PCH (-) Telinga : Sekret -/Leher Trakea Deviasi (-) Pembesaran KGB (-) JVP tidak meningkat : 120/80 : 88 x/ mnt : 20 x/ mnt : 36,4 C : Tampak Sakit Ringan : Compos Mentis

Thorax Pulmo

I : Pergerakan hemitorak kanan-kiri simetris saat keadaan statis maupun dinamis P : Fremitus taktil dan vokal, hemitorak kanan- kiri simetris P : Sonor pada seluruh lapang paru A : VBS kanan = kiri, Ronkhi -/-, Wheezing -/3

Cor

I : Ictus cordis tidak terlihat P : Ictus cordis tidak teraba P : Batas atas jantung ICS III linea parasternal sinistra Batas kanan jantung ICS V linea sternalis dextra Batas kiri jantung ICS VI linea mid clavicula sinistra A : BJ I-II reguler, Gallop (-), Mur-mur (-) Abdomen I : Datar, tidak tegang P : Lembut, tidak teraba massa, hepar dan lien tidak teraba pembesaran NT(-), NTE (-), acites (-) P : Timpani keempat kuadran abdomen A : Bising usus (+) normal Extremitas Akral hangat, deformitas (-/-) Edema tungkai -/Status optalmikus Pemeriksaan Visus VOD = 6/12 VOS = 6/6 Pemeriksaan Objektif Mata Kiri Mata Kanan

Infiltrat, dendrit INSPEKSI OD OS


4

Muscle balance Gerakan bola mata Palpebra Superior Palebra inferior Apparatus Lakrimalis Konjungtiva Superior Konjungtiva Inferior Konjungtiva Bulbi Kornea COA Pupil Iris Lensa Tarsalis Tarsalis

Orthotrophia Normal ke segala arah edema (-) edema (-) Lakrimasi(-) Hiperemis (+) Normal ke segala arah edema (-) edema (-) Lakrimasi (-) Hiperemis (-)

Hiperemis (+) Injeksi Konjungtiva (-) Injeksi Siliar (+) Infiltrate (+), dendrite(+) Sedang Bulat Refleks direk + Refleks indirek + Sinekia (-) Jenih

Hiperemis (-) Tenang Jernih Sedang Bulat Refleks direk + Refleks indirek + Sinekia (-) Jernih

IV.

RESUME

Seorang laki-laki beumur 32 tahun datang ke poliklinik mata RSUD Soreang dengan keluhan mata kanan terasa nyeri yang terus-menerus, keluhan ini dirasakan sejak 2 minggu SMRS. Keluhan juga disertai dengan mata kanan menjadi merah, merasa gatal, silau dan sering berair , akan tetapi tidak disertai dengan kotoran mata yang menjadi banyak ataupun seperti ada yang mengganjal pada mata. Pasien juga mengeluhkan kelopak mata nya menjadi sakit terutama bila di tekan. Pasien mengatakan bahwa sejak timbul keluhan tersebut penglihatanya menjadi lebih buram dari biasanya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan CTS hiperemis (+), CTI hiperemis (+), Cb injeksi siliar (+), cornea didapatkan adanya infiltrate (+) dendrit (+). V. DIAGNOSA KERJA
5

Keratitis dendritik OD PENATALAKSANAAN Debridement Acyclovir 5x400 mg Acyclovir salep OD PROGNOSIS Quo Ad Vitam : Ad Bonam

VI. -

VII.

Quo Ad fungsionam : Dubia Quo Ad sanactionam : Dubia Ad Bonam

TINJAUAN PUSTAKA Anatomi kornea Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata bagian depan. (Ilyas, 2006) Kornea terdiri dari lima lapis, yaitu : 1. Epitel
Tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang

saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng.
Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke

depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depanya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit, dan glukosa yang merupakan barrier.
epitel berasal dari ektoderm permukaan. (Ilyas, 2006)

2.

Membran Bowman kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.

Terletak dibawah membran basal epitel kornea yang merupakan

Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi. (Ilyas, 2006)

3.

Stroma dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu yang lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara seratkolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma. (Ilyas, 2006)

Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu

4.

Membrane descement kornea dihasilkan selendotel dan merupakan membran basalnya.

Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma Bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai

tebal 40m. (Ilyas, 2006) 5. Endotel 40m. endotel melekat pada membrane descement melalui
Berasal dari mesotellium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-

hemidesmosom dan zonula okluden. (Ilyas, 2006)

Kornea dipersyarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membrane bowman melepaskan selubung schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan. (Ilyas, 2006) Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan system pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel tidak mempunyai daya regenarasi. (Ilyas, 2006)
8

Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea. (Ilyas, 2006) KERATITIS Definisi Keratitis adalah infeksi pada kornea yang biasanya diklasifikasikan menurut lapisan kornea yang terkena yaitu keratitis superfisialis apabila mengenal lapisan epitel atau bowman dan keratitis profunda atau interstisialis (atau disebut juga keratitis parenkimatosa) yang mengenai lapisan stroma (Ilyas, 2006). Etiologi Penyebab keratitis bermacam-macam. Bakteri, virus dan jamur dapat menyebabkan keratitis. Penyebab paling sering adalah virus herpes simplex tipe1. Selain itu penyebab lain adalah kekeringan pada mata, pajanan terhadap cahaya yang sangat terang, benda asing yang masuk ke mata, reaksi alergi atau mata yang terlalu sensitif terhadap kosmetik mata, debu, polusi atau bahan iritatif lain, kekurangan vitamin A dan penggunaan lensa kontak yang kurang baik (Mansjoer, 2001). Tanda dan Gejala Umum Tanda patognomik dari keratitis ialah terdapatnya infiltrat di kornea. Infiltrat dapat ada di seluruh lapisan kornea, dan menetapkan diagnosis dan pengobatan keratitis. Pada peradangan yang dalam, penyembuhan berakhir dengan pembentukan jaringan parut (sikatrik), yang dapat berupa nebula, makula, dan leukoma.

Adapun gejala umum adalah : Keluar air mata yang berlebihan Nyeri Penurunan tajam penglihatan Radang pada kelopak mata (bengkak, merah) Mata merah Sensitif terhadap cahaya (Mansjoer, 2001).

Berdasarkan mikroorganisme penyebab, secara umum keratitis dibedakan menjadi tiga bentuk : Keratitis Faktor risiko bakterialis *pemakaian kontak lens *trauma mata Keratitis virus Keratitis jamur *pemakaian steroid panjang *trauma Sekret Visus Infiltrat Purulen Turun perlahan Batas kabur bahan tumbuhan Serosa Mukoid Turun perlahan Turun mendadak Lesi dendritik / Lesi satelit, lesi disiformis, Lesi kulit tegas (+) HVZ batas kornea indolen , jangka

10

unilateral (+) Pembesaran KGB preaurikular Fotofobia Hipopion Sensasi kornea Klasifikasi Keratitis biasanya diklasifikasikan berdasarkan lapisan kornea yang terkena : yaitu keratitis superfisialis apabila mengenai lapisan epitel dan bowman dan keratitis profunda apabila mengenai lapisan stroma. ++ -/+ + HSV, lesi ++ + + vesikel + + -

Bentuk-bentuk klinik keratitis superfisialis antara lain adalah (Ilyas, 2006): 1. Keratitis punctata superfisialis Berupa bintik-bintik putih pada permukaan kornea yang dapat disebabkan oleh sindrom dry eye, blefaritis, keratopati logaftalmus, keracunan obat topical, sinar ultraviolet, trauma kimia ringan dan pemakaian lensa kontak. 2. Keratitis flikten Benjolan putih yang yang bermula di limbus tetapi mempunyai kecenderungan untuk menyerang kornea. 3. Keratitis sika Suatu bentuk keratitis yang disebabkan oleh kurangnya sekresi kelenjar lakrimale atau sel goblet yang berada di konjungtiva. 4. Keratitis lepra Suatu bentuk keratitis yang diakibatkan oleh gangguan trofik saraf, disebut juga keratitis neuroparalitik. 5. Keratitis nummularis

11

Bercak putih berbentuk bulat pada permukaan kornea biasanya multiple dan banyak didapatkan pada petani. Bentuk-bentuk klinik keratitis profunda antara lain adalah : 1. Keratitis interstisialis luetik atau keratitis sifilis congenital 2. Keratitis sklerotikans.

Patofisiologi Gejala Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak segera datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi. Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma, leukosit polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbulah ulkus kornea (Vaughan, 2009). Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada kornea baik superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit juga diperberat dengan adanaya gesekan palpebra (terutama palbebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat menimbulkan fotofobia, sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan fenomena reflek yang berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris. Fotofobia, yang berat pada kebanyakan penyakit kornea, minimal pada keratitis herpes karena hipestesi terjadi pada penyakit ini, yang juga merupakan tanda diagnostik berharga. Meskipun berair mata dan fotofobia umumnya menyertai penyakit kornea, umumnya tidak ada tahi mata kecuali pada ulkus bakteri purulen (Vaughan, 2009).

12

Karena kornea berfungsi sebagai jendela bagi mata dan membiaskan berkas cahaya, lesi kornea umumnya agak mengaburkan penglihatan, terutama kalau letaknya di pusat (Vaughan, 2009). Diagnosa Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea. Sering dapat diungkapkan adanya riwayat trauma kenyataannya, benda asing dan abrasi merupakan dua lesi yang umum pada kornea. Keratitis akibat infeksi herpes simpleks sering kambuh, namun karena erosi kambuh sangat sakit dan keratitis herpetik tidak, penyakitpenyakit ini dapat dibedakan dari gejalanya. Hendaknya pula ditanyakan pemakaian obat lokal oleh pasien, karena mungkin telah memakai kortikosteroid, yang dapat merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri, fungi, atau oleh virus, terutama keratitis herpes simpleks. Juga mungkin terjadi imunosupresi akibat penyakit-penyakit sistemik, seperti diabetes, AIDS, dan penyakit ganas, selain oleh terapi imunosupresi khusus (Vaughan, 2009). Dokter memeriksa di bawah cahaya yang memadai. Pemeriksaan sering lebih mudah dengan meneteskan anestesi lokal. Pemulusan fluorescein dapat memperjelas lesi epitel superfisialis yang tidak mungkin tidak telihat bila tidak dipulas. Pemakaian biomikroskop (slitlamp) penting untuk pemeriksaan kornea dengan benar; jika tidak tersedia, dapat dipakai kaca pembesar dan pencahayaan terang. Harus diperhatikan perjalanan pantulan cahaya saat menggerakkan cahaya di atas kornea. Daerah kasar yang menandakan defek pada epitel terlihat dengan cara ini (Vaughan, 2009). KERATITIS VIRUS Keratitis Herpes Simplek Keratitis herpes simpleks merupakan salah satu infeksi kornea yang paling sering ditemukan dalam praktek. Disebabkan oleh virus herpes simpleks, ditandai dengan adanya infiltrasi sel radang dan edema pada lapisan kornea manapun. Pada mata, virus herpes simplek dapat diisolasi dari kerokan epitel kornea penderita keratitis herpes simpleks. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan cairan
13

dan jaringan mata, rongga hidung, mulut, alat kelamin yang mengandung virus (Ilyas, 2006).

14

Tanda klinis Kelainan mata akibat infeksi herpes simpleks dapat bersifat primer dan kambuhan. lnfeksi primer herpes simplek primer pada mata jarang ditemukan ditandai oleh adanya demam, malaise, limfadenopati preaurikuler, konjungtivitis folikutans, bleparitis, dan 2/3 kasus terjadi keratitis epitelial. Kira-kira 94-99% kasus bersifat unilateral, walaupun pada 40% atau lebih dapat terjadi bilateral khususnya pada pasien-pasien atopic (Vaughan, 2009). Bentuk ini umumnya dapat sembuh sendiri, tanpa menimbulkan kerusakan pada mata yang berarti. Terapi antivirus topikal dapat dipakai unutk profilaksis agar kornea tidak terkena dan sebagai terapi untuk penyakit kornea. Infeksi primer dapat terjadi pada setiap umur, tetapi biasanya antara umur 6 bulan-5 tahun atau 16-25 tahun. Keratitis herpes simpleks didominir oleh kelompok laki-laki pada umur 40 tahun ke atas (American academy, 2006). Infeksi herpes simpleks laten terjadi setelah 2-3 minggu pasca infeksi primer. Dengan mekanisme yang tidak jelas, virus menjadi inaktif dalam neuron sensorik atau ganglion otonom. Dalam hal ini ganglion servikalis superior, ganglion n.trigeminus, dan ganglion siliaris berperan sebagai penyimpan virus. Namun akhir-akhir ini dibuktikan bahwa jaringan kornea sendiri berperan sebagai tempat berlindung virus herpes simpleks. Beberapa kondisi yang berperan terjadinya infeksi kambuhan antara lain: demam, infeksi saluran nafas bagian atas, stres emosional, pemaparan sinar matahari atau angin, h, renjatan anafilaksis, dan kondisi imunosupresi (Vaughan, 2009). Walaupun diobati, kira-kira 25% pasien akan kambuh pada tahun pertama, dan meningkat menjadi 33% pada tahun kedua. Peneliti lain bahkan melaporkan angka yang lebih besar yaitu 46,57% keratitis herpes simpleks kambuh dalam kurun waktu 4 bulan setelah infeksi primer. Penelitian di Yogyakarta mendapatkan angka kekambuhan hanya 11,5% dalam kurun waktu 6 bulan pengamatan setelah penyembuhan. Perbedaan angka-angka tersebut dimungkinkan oleh perbedaan cara pengobatan (American academy, 2007).

15

Kebanyakan infeksi HSV pada kornea disebabkan HSV tipe 1 namun beberapa kasus pada bayi dan dewasa dilaporkan disebabkan HSV tipe 2. Lesi kornea kedua jenis ini tidak dapat dibedakan. a. Gejala Klinis Gejala utama umumnya iritasi, fotofobia, mata berair. Bila kornea bagian pusat yang terkena terjadi sedikit gangguan penglihatan. Karena anestesi kornea umumnya timbul pada awal infeksi, gejala mungkin minimal dan pasien mungkin tidak datang berobat. Sering ada riwayat lepuh lepuh, demam atau infeksi herpes lain, namun ulserasi kornea kadang kadang merupakan satu satunya gejala infeksi herpes rekurens (Vaughan, 2009). Berat ringannya gejala-gejala iritasi tidak sebanding dengan luasnya lesi epitel, berhubung adanya hipestesi atau insensibilitas kornea. Dalam hal ini harus diwaspadai terhadap keratitis lain yang juga disertai hipestesi kornea, misalnya pada: herpes zoster oftalmikus, keratitis akibat pemaparan dan mata kering, pengguna lensa kontak, keratopati bulosa, dan keratitis kronik. Gejala spesifik pada keratitis herpes simpleks ringan adalah tidak adanya foto-fobia (Ilyas, 2000). b. Lesi Keratitis herpes simplek juga dapat dibedakan atas bentuk superfisial, profunda, dan bersamaan dengan uveitis atau kerato uveitis. Keratitis superfisial dapat berupa pungtata, dendritik, dan geografik. Keratitis dendritika merupakan proses kelanjutan dari keratitis pungtata yang diakibatkan oleh perbanyakan virus dan menyebar sambil menimbulka kematian sel serta membentuk defek dengan gambaran bercabang. Lesi bentuk dendritik merupakan gambaran yang khas pada kornea, memiliki percabangan linear khas dengan tepian kabur, memiliki bulbus terminalis pada ujungnya. Pemulasan fluoresein memudahkan melihat dendrit, namun sayangnya keratitis herpes dapat juga menyerupai banyak infeksi kornea yang lain dan harus dimasukkan dalam diagnosis diferensial (Vaughan, 2009).

16

Ada juga bentuk lain yaitu bentuk ulserasi geografik yaitu sebentuk penyakit dendritik menahun yang lesi dendritiknya berbentuk lebih lebar hat ini terjadi akibat bentukan ulkus bercabang yang melebar dan bentuknya menjadi ovoid. Dengan demikian gambaran ulkus menjadi seperti peta geografi dengan kaki cabang mengelilingi ulkus. Tepian ulkus tidak kabur. Sensasi kornea, seperti halnya penyakit dendritik, menurun. Lesi epitel kornea lain yang dapat ditimbulkan HSV adalah keratitis epitelial blotchy, keratitis epitelial stelata, dan keratitis filamentosa. Namun semua ini umumnya bersifat sementara dan sering menjadi dendritik khas dalam satu dua hari (Vaughan, 2009).

Lesi dendritik

Lesi geografik

Keratitis herpes simpleks bentuk dendrit harus dibedakan dengan keratitis herpes zoster, pada herpes zoster bukan suatu ulserasi tetapi suatu hipertropi epitel yang dikelilingi mucus plaques; selain itu, bentuk dendriform lebih kecil (Ilyas, 2006). Keratitis diskiformis adalah bentuk penyakit stroma paling umum pada infeksi HSV. Stroma didaerah pusat yang edema berbentuk cakram, tanpa infiltrasi berarti, dan umumnya tanpa vaskularisasi. Edemanya mungkin cukup berat untuk membentuk lipatan-lipatan dimembran descement. Mungkin terdapat endapan keratik tepat dibawah lesi diskiformis itu, namun dapat pula diseluruh endotel karena sering bersamaan dengan uveitis anterior. Seperti kebanyakan lesi herpes pada orang imunokompeten, keratitis disciformis normalnya sembuh sendiri, setelah berlangsung beberapa minggu sampai bulan. Edema adalah tanda
17

terpenting, dan penyembuhan dapat terjadi dengan parut dan vaskularisasi minimal (Vaughan, 2009). Keratitis HSV stroma dalam bentuk infiltrasi dan edema fokal yang sering disertai vaskularisasi, agaknya terutama disebabkan replikasi virus. Kadang-kadang dijumpai adanya infiltrat marginal atau lebih dikenal sebagai Wessely ring, diduga sebagai infiltrat polimorfonuklear disertai reaksi antigen antibodi virus herpes simpleks. Penipisan dan perforasi kornea dapat terjadi dengan cepat, apalagi jika dipakai kortikosteroid topikal. Jika terdapat penyakit stroma dengan ulkus epitel, akan sulit dibedakan superinfeksi bakteri atau fungi pada penyakit herpes. Pada penyakit epitelial harus diteliti benar adanya tanda tanda khas herpes, namun unsur bakteri atau fungi dapat saja ada dan dapat pula disebabkan oleh reaksi imun akut, yang sekali lagi harus mempertimbangkan adanya penyakit virus aktif. Mungkin terlihat hipopion dengan nekrosis, selain infeksi bakteri atau fungi sekunder (Vaughan, 2009).

Lesi dengan Wessely Ring c. Patogenesa

Keratitis Diskiformis

Keratitis herpes simplek dibagi dalam 2 bentuk yaitu epitelial dan stromal Kerusakan terjadi pada pembiakan virus intraepitelial, mengakibatkan kerusakan sel epitelial dan membentuk tukak kornea superfisial. Pada yang stromal terjadi reaksi imunologik tubuh terhadap virus yang menyerang yaitu reaksi antigen antibodi yang menarik sel radang kedalam stroma. Sel
18

radang ini mengeluarkan bahan proteolitik untuk merusak virus tetapi juga akan merusak jaringan stroma disekitarnya. Hal ini penting diketahui karena manajemen pengobatan pada yang epitelial ditujukan terhadap virusnya sedang pada yang stromal ditujukan untuk menyerang virus dan reaksi radangnya. Perjalanan klinik keratitis dapat berlangsung lama karena stroma kornea kurang vaskuler, sehingga menghambat migrasi limfosit dan makrofag ke tempat lesi. Infeksi okuler HSV pada hospes imunokompeten biasanya sembuh sendiri, namun pada hospes yang secara imunologik tidak kompeten, perjalanannya mungkin menahun dan dapat merusak (Vaughan, 2009). d. Terapi Bertujuan
1.

menghentikan

replikasi

virus

didalam

kornea,

sambil

memperkecil efek merusak akibat respon radang. Debridement Cara efektif mengobati keratitis dendritik adalah debridement epitelial, karena virus berlokasi di dalam epitel. Debridement juga mengurangi beban antigenik virus pada stroma kornea. Epitel sehat melekat erat pada kornea, namun epitel terinfeksi mudah dilepaskan. Debridement dilakukan dengan aplikator berujung kapas khusus. Yodium atau eter topikal tidak banyak manfaat dan dapat menimbulkan keratitis kimiawi. Obat siklopegik seperti atropi 1 % atau homatropin5% diteteskan kedalam sakus konjugtiva, dan ditutup dengan sedikit tekanan. Pasien harus diperiksa setiap hari dan diganti penutupnya sampai defek korneanya sembuh umumny adalah 72 jam. Pengobatan tambahan dengan anti virus topikal mempercepat pemulihan epitel. Terapi obat topikal tanpa debridement epitel pada keratitis epitel memberi keuntungan karena tidak perlu ditutup, namun ada kemungkinan pasien menghadapi berbagai keracunan obat (Vaughan, 2009). 2. Terapi obat Agen anti virus topikal yang di pakai pada keratitis herpes adalah idoxuridine, trifluridine, vidarabine, dan acyclovir. Trifluridine dan acyclovir jauh lebih efektif untuk penyakit stroma dari pada yang lain.
19

Idoxuridine dan trifluridine sering kali menimbulkan reaksi toxik. Acyclovir oral ada mamfaatnya untuk pengobatan penyakit herpes mata berat, khususnya pada orang atopik yang rentan terhadap penyakit herpes mata dan kulit agresif (eczema herpeticum). Study multicenter terhadap efektivitas acyclovir untuk pengobatan kerato uveitis herpes simpleks dan pencegahan penyakit rekurens kini sedang dilaksanakan (herpes eye disease study) (Vaughan, 2009). Replikasi virus dalam pasien imunokompeten, khususnya bila terbatas pada epitel kornea, umumnya sembuh sendiri dan pembentukan parut minimal. Dalam hal ini penggunaan kortikosteroid topikal tidak perlu, bahkan berpotensi sangat merusak. Kortikosteroid topikal dapat juga mempermudah perlunakan kornea, yang meningkatkan risiko perforasi kornea. Jika memang perlu memakai kortikosteroid topikal karena hebatnya respon peradangan, penting sekali ditambahkan obat anti virus secukupnya untuk mengendalikan replikasi virus (Vaughan, 2009). 3. Bedah Keratoplasti penetrans mungkin diindentifikasi untuk rehabilitasi penglihatan pasien yang mempunyai parut kornea berat, namun hendaknya dilakukan beberapa bulan setelah penyakit herpes non aktif. Pasca bedah, infeksi herpes rekurens dapat timbul karena trauma bedah dan kortikosteroid topikal yang diperlukan untuk mencegah penolakan transplantasi kornea. Juga sulit dibedakan penolakan transplantasi kornea dari penyakit stroma rekurens (Vaughan, 2009). Perforasi kornea akibat penyakit herpes stroma atau superinfeksi bakteri atau fungi mungkin memerlukan keratoplasti penetrans darurat. Pelekat jaringan sianokrilat dapat dipakai secara efektif untuk menutup perfosi kecil dan graft petak lamelar berhasil baik pada kasus tertentu. Keratoplasi lamelar memiliki keuntungan dibanding keratoplasti penetrans karena lebih kecil kemungkinan terjadi penolakan transparant. Lensa kontak lunak untuk terapi atau tarsorafi mungkin
20

diperlukan untuk pemulihan defek epitel yang terdapat pada keratitis herpes simplek (Vaughan, 2009).
4.

Pengendalian mekanisme pemicu yang mengaktifkan kembali

infeksi HSV Infeksi HSV rekurens pada mata banyak dijumpai kira kira sepertiga kasus dalam 2 tahun serangan pertama. Sering dapat ditemukan mekanisme pemicunya. Setelah denga teliti mewawancarai pasien. Begitu ditemukan, pemicu itu dapat dihindari. Aspirin dapat dipakai untuk mencegah demam, pajanan berlebihan terhadap sinar matahari atau sinar UV dapat dihindari. Keadaan keadaan yang dapat menimbulkan stres psikis dapat dikurangi. Dan aspirin dapat diminum sebelum menstruasi (Vaughan, 2009). e. Prognosis Prognosis baik apabila tidak terjadi parut atau vaskularisasi pada kornea. Bila tidak diobati, penyakit ini berlangsung 1-3 tahun dengan meninggalkan gejala sisa.

21

PEMBAHASAN KASUS Pada penderita dari anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan keluhan mata kanan terasa nyeri sejak 2 minggu, , penglihatan pasien silau serta pasien juga mengeluh mata kanannya sering berair namun tidak terdapat kotoran pada mata. Pasien mengatakan bahwa mata os terasa gatal dan berwarna merah, dan juga pandangan mata sebelah kanan terganggu. Pasien mengaku tidak ada riwayat trauma pada mata. Dari anamnesis menunjukkan diagnosis mengarah ke keratitis, karena hal ini sesuai dengan gejala dari keratitis yaitu mata merah, silau (fotofobia), berair dan penurunan visus (kabur). Pada pemeriksaan visus didapatkan VOD = 6/12, VOS = 6/6. Hal ini sesuai dengan literature bahwa pada keratitis, kornea akan terdapat infiltrat berwarna putih keruh yang menyebabkan penglihatan pasien menjadi terganggu sehingga terjadi penurunan visus. Terapi yang diberikan yaitu cendo xytrol. Obat ini memiliki kandungan dexamethason, neomysin sulfat dan polymiksin B sulfat. Cendo xytrol penggunaannya diindikasikan untuk Pengobatan infeksi mata yang meradang seperti: Konjungtivitis (radang selaput ikat mata) akut atau kronis yang tak bernanah, Blefarokonjungtivitis dan keratokonjungtivitis, Keratitis superfisial (radang pada permukaan kornea/selaput bening mata) non-spesifik, radang pada kornea bagian dalam, Keratitis akne rosase, Iridosiklitis (radang selaput pelangi dan badan siliar), Iritis (radang iris/selaput pelangi) akut yang ringan, Blefaritis (radang kelopak mata) yang tak bernanah, Skleritis (radang selaput mata keras), Epiekleritis (radang permukaan selaput mata keras), Sklerokonjungtivitis, Herpes zoster pada mata, pencegahan infeksi setelah operasi mata.

22

DAFTAR PUSTAKA
1. American Academy of Ophthalmology. Externa disease and cornea. San

Fransisco 2007
2. Duane, D Thomas : Clinical Ophthalmology, Volume 4, Philadelphia, Harper

& Row Publisher, 1987.


3. Grayson, Merrill : Diseases of The Cornea, Second Edition, London, The C. V.

Mosby Company, 1983.


4. Ilyas, Sidarta. 2000.Sari Ilmu Penyakit Mata. Balai Penerbit FKUI Jakarta :52. 5. Ilyas, Sidarta. 2005. Ilmu penyakit Mata. Edisi ketiga. FKUI. Jakarta. Hal

(118-120) (147-167)
6. Ilyas, Sidarta. 2006. Ilmu Penyakit Mata, Edisi 3. Balai Penerbit FKUI Jakarta. 7. Mansjoer, Arif M. 2001. Kapita Selekta edisi-3 jilid-1. Jakarta: Media

Aesculapius FKUI. Hal: 56 8. Srinivasan M, et al. Distinguishing infectious versus non infectious keratitis. INDIAN Journal of Opthalmology 2006 56:3;50-56 9. Vaughan, Daniel. Oftalmologi Umum. Edisi 14 Cetakan Pertama. Widya Medika Jakarta, 2009

23