Anda di halaman 1dari 53

BAB III KAJIAN UMUM PROSES PRODUKSI GULA

Dalam proses produksi gula di PG. Rejo Agung Baru Madiun dibagi beberapa stasiun antara lain : 1. Stasiun Persiapan (Emplacement) 2. Stasiun Gilingan 3. Stasiun Pemurnian 4. Stasiun Penguapan 5. Stasiun Kristalisasi 3.1 Stasiun Persiapan (Emplacement) Pada stasiun persiapan merupakan bagian paling awal dari proses pembuatan gula pada PG. Rejo Agung Baru Madiun, di stasiun ini bertujuan untuk mempersiapkan tebu yang akan masuk pada penggilingan di stasiun ini juga digunakan untuk mencatat asal tebu. Serta menyeleksi kelayakan tebu dari kebun dan juga memperoleh berat bruto maupun netto tebu. Ada beberapa bagian di St. Persiapan antara lain : 1. Pos gawang 2. Timbangan I 3. Timbangan II 4. Pemindahan tebu dari truk ke lori. 3.1.1 Pos Gawang 6. Stasiun Puteran 7. Stasiun Penyelesaian 8. Stasiun Ketel (Boiler) 9. Stasiun Sentral Listrik

Pada bagian ini tugasnya mencatat asal tebu (dari mana, tebu apa, dan pemiliknya siapa) serta untuk menyeleksi kelayakan tebu yang akan masuk ke gilingan (masuk proses produksi). Untuk kelayakan tebu yang diterima di PG. Rejo Agung Baru Madiun itu harus : 1. Manis artinya kadar gula (brix) di dalam tebu harus lebih dari 15%. Alat yang digunakan untuk mengetahui ukuran brix di 10

dalam tebu menggunakan hand refraktometer yang diambil brix atas. 2. Bersih artinya tebu itu harus bersih dari daduk (daun), tebu pucukan bersih dari akar tanah serta tidak menerima tebu lidi (tebu kecil-kecil). 3. Segar artinya masa rentang dari di tebang di kebun sampai mau diproduksi tidak lebih dari 36 jam, hal ini karena bila melebihi 36 jam yaitu : 1. Berkurangnya kandungan gula di dalam sel-sel tebu 2. Kandungan sukrosa akan pecah karena pengasaman inverse dan sel-sel tebu akan mati akibat dari sinar matahari terlalu lama dan tinggi panasnya. 3. Adanya mikroba yang dapat mengganggu proses pemurnian. Setiap tebu yang akan masuk ke pos gawang setelah melewati proses pemeriksaan kelayakan dan baik untuk diproses maka selanjutnya diberi kartu SPA (Surat Perintah Angkut) kecuali SPA warna putih. Ada beberapa jenis SPA antara lain : 1. SPA KSU (Kerja Sama Usaha) SPA ini berwarna putih dan hijau. 2. SPA TRK (Tebu Rakyat Kemitraan) khusus tebu dari dalam kota dan warna kartu SPAnya adalah kuning. 3. SPA TRK 2 (Tebu Rakyat Kemitraan) tebu dari luar kota khusus dari daerah barat warna kartu SPAnya adalah merah. 4. SPA TRM (Tebu Rakyat Mandiri) ini merupakan tebu rakyat dari luar kota warna kartu SPA adalah biru. Jadi SPA yang diberikan di pos gawang berwarna kuning, biru dan merah sedangkan SPA warna putih diberikan di lahan.

11

3.1.2

Timbangan I

Di timbangan I dilengkapi komputer dan timbangan. Setelah melewati pada pos gawang, maka selanjutnya truk yang berisi tebu tersebut ditimbang dahulu pada timbangan I. Untuk menuju ke timbangan I harus disertai dengan kartu SPA. Bila tidak membawa kartu SPA, maka tebu tidak ditimbang. Untuk itu sopir truk harus meminta dahulu kartu SPA di pos gawang karena kartu SPA salah satu syarat bila masuk di timbangan I. Truk yang sudah mempunyai kartu SPA ditimbang, maka berat tebu dan tebunya akan muncul pada komputer. Oleh operator disimpan di komputer tetapi selain itu juga dicatat untuk menghindari komputer apabila mengalami kerusakan. Data yang dicatat ditimbangan I itu antara lain : 1. 2. 3. No. SPA Plat Nomor Berat Bruto

Pada timbangan ini kapasitas maksimal adalah sebesar 50 ton. Bila melebihi berat maksimal maka komputer tidak akan memunculkan berat brutonya. 3.1.3 Timbangan II

Truk yang kosong yang mana tebunya sudah dipindahkan ke lori atau langsung ke proses gilingan, maka selanjutnya menuju ke timbangan II, di sini juga disertai dengan kartu SPA yang mana sudah ada stempel oleh pos crane. Pada timbangan II untuk menghasilkan berat netto. Di sini juga dilengkapi dengan komputer dan timbangan prosesnya sama dengan timbangan I, yang mana berat netto akan muncul di komputer. Petugas operator menyimpan di komputer dan mencatat untuk menghindari kesalahan. Data yang dicatat antara lain : 1. No. SPA 2. Plat Nomor 3. Berat Netto 12

3.1.4

Pemindahan tebu dari truk ke lori

Di tempat ini tebu dari truk dipindahkan ke lori dengan menggunakan crane translanding. Fungsi dari tempat ini adalah : 1. Antrian tidak terlalu padat ketika tebu akan dimasukkan ke meja tebu. 2. Truk dapat melanjutkan untuk mengangkut tebu lagi dll. Tebu yang telah berada di lori kemudian di angkut ke penampungan dan diatur oleh mandor menurut datangnya tebu. Tebu yang datang lebih dahulu maka digiling lebih dahulu agar tebu masih segar. 3.1.5 Proses di stasiun persiapan Untuk mengangkutkan tebu dari lahan ke pabrik digunakan angkutan truk. Truk yang digunakan ini milik non pabrik yang disewa dengan sistem kontrak di mana honor didasarkan pada jarak dan jumlah tebu yang diangkut. Untuk keperluan pengangkutan tebu. Pabrik mengeluarkan Surat Perintah Angkut (SPA) bagi pabrik. SPA digunakan untuk mengontrol jumlah tebu yang masuk ke pabrik agar tidak lebih dan kurang, sedangkan untuk pemilik truk SPA merupakan bukti aktivitas yang digunakan untuk penukaran honor pengangkutan. Tebu dari lahan yang sudah ditebang di angkut dengan menggunakan truk menuju pos gawang. Di tempat ini diuji kelayakan dari tebu tersebut. Setelah diuji dan layak maka sopir diberi kartu SPA. Kemudian menuju ke timbangan I tebu dipindahkan ke lori dan ada juga yang langsung menuju ke meja tebu. Truk yang kosong menuju ke timbangan II di sini akan ditimbang berat nettonya.

13

3.2 Stasiun Gilingan Stasiun gilingan merupakan stasiun proses awal dalam pembuatan gula. Stasiun ini berfungsi untuk memerahkan nira sebanyak mungkin sehingga nira yang terkandung dalam ampas diharapkan sekecil mungkin. Di PG Rejo Agung Baru Madiun memiliki 2 tempat gilingan : 1. Gilingan Barat 2. Gilingan Timur 3.2.1 Perbedaan antara gilingan timur dan barat Gilingan barat : 1. Memiliki 4 buah meja tebu dan 4 kicker 2. Tenaga uap 3. Terdapat cane cutter 2 buah Gilingan timur : 1. Meja tebu terdapat 3 dan 3 kicker 2. Tenaga motor listrik 3. 1 cane cutter 3.2.2 Proses Penggilingan Tebu dari lori atau truk diangkut oleh crane dengan kapasitasnya maximalnya 10 ton, tetapi bisaanya berat tebu yang diangkut rata-rata 7 ton. Dengan crane tadi, tebu dipindahkan ke meja tebu. Setelah itu tebu yang berada pada meja tebu dijalankan oleh operator menuju cane carrier I setelah melewati kicker. Dari cane carrier I berjalan menuju ke cane catter I. Di sini tebu yang berbentuk batangan dipotong-potong / dicacah. Selanjutnya berjalan menuju ke cane cutter II (khusus gilingan timur hanya memiliki 1 cane cutter). Di sini tebu dipotongpotong lebih halus lagi. Kemudian masuk ke unigrator. Di sini dicacah sangat halus dan lebih halus lagi dibandingkan pada cane cutter II. Setelah itu hasil cacahan dari unigrator berupa serabut dan oleh cane cutter II di bawa menuju ke gilingan I. Untuk memerah nira di dalam ampas tebu, digilingan I juga ditambah air ambibisi. Nira yang dihasilkan akan mengalir ke bak penampungan sedangkan ampasnya 14

ditambahi dengan air ambibisi dengan suhu mencapai 80oC 90oC dan diangkut oleh Intermediate Carrier I menuju ke gilingan II. Hasil nira akan mengalir ke bak penampungan sedangkan ampasnya diberi nira ambibisi dan diangkut oleh Intermediate Carrier II untuk menuju ke gilingan III. Nira yang didapat mengalir ke Intermediate Carrier I. Sedangkan ampasnya ditambahi air ambibisi dan diangkut oleh Intermediate Carrier III ke gilingan IV. Nira yang di dapat akan mengalir ke Intermediate Carrier II, sedangkan ampasnya menuju ke ketel untuk dijadikan bahan pembakaran. Nira yang tertampung pada bak penampung di pompa menuju Dual Screen Medium (DSM) untuk memisahkan antar ampas dengan nira. Nira akan menuju ke timbangan boulogne sedangkan ampasnya akan jatuh ke Intermediate Carrier I. 3.2.4 Bagian-bagian dari Stasiun gilingan 1. Crane Untuk mengangkut tebu dari lori maupun truk untuk dipindahkan ke meja tebu. Crane berjumlah 4 buah. Kapasitas dari crane maximal 10 ton tetapi bisaanya tebu yang diangkut sebesar 7 ton. Crane ini digerakkan oleh motor listrik. 2. Meja tebu Mengatur tebu menuju ke cane carrier I 1. Cane elevator Merupakan rantai berjalan dimana rantai ini dihubungkan dengan poros yang berputar. Fungsi alat ini untuk menarik tebu yang ada di dalam meja tebu agar menuju atau jatuh ke cane carrier I dan menuju ke cane carrier. Kecepatan cane elevator diatur dengan control di tempat pengaturan meja tebu. 2. Kicker Berupa besi silinder yang berputar dengan gigi pada permukaan silinder yang berfungsi untuk mengatur dan menata banyaknya tebu yang masuk ke cane cutter yang sebelumnya

15

diangkut oleh cane carrier I. Kecepatan kicker diatur dengan control di tempat pengaturan meja tebu. 3. Cane carrier Ada cane carrier 1. Cane carrier Berfungsi untuk mengangkut atau memindahkan tebu dari meja tebu menuju ke cane carrier, di cane carrier I tebunya masih berupa batangan-batangan. 2. Cane carrier II Berfungsi untuk membawa serabut hasil dari unigrator ke gilingan I. 4. Cane cutter Cane cutter berfungsi untuk mencacah atau memotong-motong tebu. Cane catter ada 2 buah : 1. 2. Cane cutter I gunanya memotong tebu yang masih Cane cutter II gunanya memotong tebu lebih halus berupa batangan. lagi dibandingkan cane cutter I. Pada cane cutter terdapat 32 pisau yang memiliki : P : 500 mm, L : 200 mm, Tebal : 900 mm. Tiap pisau memiliki 2 buah baut dengan ukuran 1 x 3,5 dim. Sedangkan berat pisaunya 9,6 kg. Cane cutter digerakkan oleh motor. 5. Unigrator Alat ini berfungsi mengubah potongan tebu menjadi serabut. Pada unigrator terdapat 40 buah blok pemukul tipis yang memiliki : P : 500mm, L : 150mm, D : 32mm. Tiap pisau memiliki 3 buah baut dengan ukuran 1 x 3,5 dim. Berat pisau 17,2 kg. Unigrator ini digerakkan oleh turbin uap dengan kecepatan 630 rpm.

16

6. Gilingan Tujuannya untuk menggiling atau memerah serabut tebu atau memisahkan antara nira dengan ampas tebu di PG Rejo Agung Baru Madiun terdapat 8 buah gilingan 4 buah di gilingan timur dan 4 lagi di gilingan barat. 7. Intermediate Carrier Berfungsi untuk mengangkut serabut-serabut tebu dari gilingan satu ke gilingan lainnya. Pada stasiun penggilingan terdapat 6 Intermediate Carrier yang mana 3 Intermediate Carrier di gilingan barat dan 3 Intermediate Carrier di gilingan timur Intermediate Carrier 8. Bak penampung nira Berguna untuk menampung nira hasil perahan gilingan. 9. Saringan Dual Screen Medium (DSM) Untuk menyaring nira gilingan dan memisahkan dengan ampas halus. 10. Pompa nira Memompa nira menuju ke timbangan boulogne yang sebelumnya masuk dahulu ke DSM. 11. Belt Conveyor Membawa ampas tebu hasil gilingan terakhir. 12. Bagasse Carrier Membawa ampas ke ketel atau ke tempat pengeluaran ampas. 3.2.5 Air Imbibisi Air imbibisi merupakan air panas yang mana untuk ditambahkan ke ampas hasil gilingan kecuali pada ampas gilingan 4. Secara umum pemberian air imbibisi ini bertujuan melarutkan zat-zat gula yang terkandung dalam ampas sehingga kandungan gula pada ampas dapat ditekan sekecil mungkin. Agar kadar gula tidak banyak yang hilang maka suhu air ambibisi sekitar 80oC 90oC. 17 di gilingan timur lebih panjang dibandingkan dengan Intermediate Carrier di gilingan barat.

Keuntungannya adalah untuk merusak sel-sel yang menahan keluarnya nira dari ampas sehingga sukrosa dapat diambil semaksimal mungkin. Keuntungan lainnya yaitu untuk melarutkan lebih besar dan membunuh mikroorganisme. 3.3 Stasiun Pemurnian Tujuan dari St. Pemurnian ini adalah untuk menghilangkan kotorankotoran (zat non gula) seperti pasir, tanah, oksidasi logam maupun kotorankotoran lainnya yang terkandung dalam nira mentah, sehingga akan menghasilkan nira yang bersih atau jernih. Pada proses pemurnian dilakukan dengan 2 cara yaitu : 1. Dengan cara fisika yang mana memiliki tujuan yaitu untuk menyaring kotoran-kotoran yang terkandung dalam nira. 2. Dengan cara kimia yaitu dengan menambah bahan kimia meliputi pada proses defekator 1, defekator 2, serta proses sulfitasi. Di PG Rejo Agung Baru Madiun pada proses pemurniannya menggunakan metode defikasi dan diteruskan ke proses sulfitasi. Metode ini dilakukan mulai tahun 2001. Sebelum menggunakan metode ini di PG Rejo Agung Baru Madiun menggunakan metode karbonatasi. Pada proses sulfitasi dan proses karbonatasi memiliki keuntungan dan kelebihan antara lain : 1. Pada proses sulfitasi memiliki kelebihan yaitu biaya yang diperlukan untuk proses lebih murah dan memiliki kualitas produk gula yang baik, sedangkan kekurangannya itu hasil kualitas masih di bawah dari menggunakan metode karbonatasi. 2. Pada proses karbonatasi memiliki kelebihan yaitu kualitas gula yang dihasilkan di atas dari metode sulfitasi sedangkan kekurangannya itu biaya lebih mahal karena pemakaian kapur tohor (CaO) 15 kali lebih banyak disbanding pada proses sulfitasi. 3.3.1 Tahapan-tahapan proses pemurnian ada dua cara : 3.3.1.1 Menggunakan Defikator I dan Defikator II 1. Timbangan Boulogne

18

Tujuannya untuk mengetahui berat nira mentah yang akan diproses dengan diketahui berat nira mentahnya maka dapat diketahui atau ditentukan jumlah kebutuhan bahan pembantu yaitu asam phospat (H3PO4) dengan tujuan agar dapat membentuk kristal phospat yang bercampur dengan nira yang kemudian dapat bereaksi dengan susu kapur serta untuk menaikkan kadar phospat dalam nira sehingga menjadi normal atau berfungsi untuk mengikat butiran koloid. Garam Ca Phospat bila berbentuk dalam nira yang terdapat gumpalan koloid akan bertindak sebagai penghubung butiran koloid sehingga terbentuk butiran besar. Untuk pengikatan butiran koloid terjadi maka saat terbentuk CaSO4 dalam nira sudah terbentuk koloid, jadi nira yang sudah diberi susu kapur dapat bereaksi (terjadi sirkulasi dalam defekator). Proses penimbangannya itu nira mentah dari gilingan di pompa ketimbangan boulogne dengan melewati saringan Dual Screen Medium (DSM). Agar sisa ampas kecil yang terbawa oleh nira tidak ikut diproses, setelah itu nira akan ditimbang secara otomatis dan turun ke bak penampungan dan siap diproses lebih lanjut. 2. Juice Heater I Tujuan : 1. Untuk membunuh mikroorganisme perusak gula. 2. Menggumpalkan koloid organik. 3. Untuk mempercepat reaksi. Cara kerja : Dari bak nira mentah di pompa menuju ke juice heater 1 sebagai catatan nira yang telah ditimbang tadi telah diberi asam phospat. Hal ini diketahui setelah dianalisa di laboratorium. Di dalam juice heater I panasnya mencapai 70oC (ideal) tetapi pada juice heater I ini panasnya mencapai 75oC. Hal ini untuk mencegah kehilangan panas karena terserap oleh pipa sehingga 19

nantinya di dapat panas 70oC. Kemudian nira dari juice heater I dialirkan ke defekator I untuk mengalami proses defekasi I. Tujuan proses ini untuk memanaskan nira dengan maksud untuk mempercepat proses reaksi antara asam phospat dengan susu kapur. Juice heater ini dipanaskan dengan menggunakan uap bekas jumlah pipa pada juice heather yang kecil sekitar 648 buah, sedangkan juice heater yang besar mencapai sekitar 736 buah. 3. Defekator I Tujuan : 1. Untuk mencampur atau untuk mereaksikan antara susu kapur dengan phospat di dalam nira sehingga diperoleh endapan Kalsium phospat. 2. Untuk mendapat Ph 7,0. Cara kerja : Nira dari juice heater I masuk dalam tabung defekator I. Kemudian ditambah dengan susu kapur (Ca (OH)2). Dalam penambahan ini sambil diaduk agar susu kapur (Ca(OH)2) dengan nira cepat bercampur, untuk mengendalikan pHnya dilakukan dengan uji indikator BTB. Kalau ditetesi indicator BTB tidak terjadi perubahan warna berarti kekurangan susu kapur. Kalau nira ditetesi indikator BTB berubah warna biru berarti sudah mencapai pH 7,0. Kemudian nira dari defekator I dialirkan ke defekator II. Untuk mengalami proses defekasi ke II. Sebagai catatan waktu yang dibutuhkan untuk peristiwa reaksi tersebut di dalam defekator I 3 menit. 4. Defekator II Tujuan : 1. Untuk mereaksikan susu kapur dengan asam phospat yang terkandung dalam nira setelah dari defekator I. 2. Untuk merubah pH dari 7,0 menjadi 9.0.

20

3. Untuk membentuk koloid-koloid yang akan mengikat kotoran-kotoran yang flok pada nira yang sebelumnya tidak dapat diikat pada defekator I. Cara kerja : Nira dari defekator I masuk ke dalam defekator II, kemudian nira ditambah dengan susu kapur (Ca(OH)2) sampai menjadi ph 9.0. Dalam penambahan susu kapur (Ca(OH)2) sambil diaduk agar nira dapat tercampur dengan baik dan merata. Untuk mengetahui phnya dilakukan dengan uji indikator PP. Kalau nira ditetesi indikator PP tidak terjadi perubahan berarti kekurangan susu kapur (Ca(OH)2). Tetapi bila ditetesi indicator PP akan berubah warna merah berari pHnya sudah mencapai 9,0. Waktu yang dibutuhkan untuk proses defekasi II ini 1 menit. Kemudian nira dari defikator II akan mengalir ke tower SO2 (peti sulfitasi). Reaksi yang terjadi pada proses defikasi II : 1. Ca(OH)2 + H3PO4 CaH2PO4 (larut) 2. Ca(OH)2 + CaH2PO4 Ca(HPO4)2 (sedikit larut) 3. Ca(OH)2 + Ca(HPO4)2 Ca3(PO4)2 (mengendap) 5. Tower SO2 Tujuan : Untuk menurunkan ph dari 9.0 menjadi 7.0 agar bila didihkan tidak menyebabkan rusaknya atau pecahnya sakarosa. Cara kerja : Nira dari proses defekasi mengalir ke tower SO2. Di sini nira ditambah dengan gas belerang (SO2) yang dialirkan ke sebuah pipa yang dihubungkan ke tower SO2. Waktu yang dibutuhkan pada proses sulfitasi 8 menit. Reaksi yang terjadi pada proses sulfitasi : 1. SO2 + H2O H2SO3 2. H2SO3 2H+ + SO3 21

3. Ca2+ + SO3 CaSO3 Tower SO2 bertujuan untuk mereaksikan kelebihan susu kapur (Ca(OH)2) dari defekator dengan gas belerang (SO2). Agar terbentuk endapan kalsium sulfite (CaSO3) yang mempunyai daya ekstrasi tinggi untuk mengikat kotoran dalam nira selain itu untuk menurunkan pH. Cara melihat ph pada proses sulfitasi : 1. Ambil nira sebagai sample pada peti sulfitasi secukupnya 2. Tetesi dengan indikator PAN 3. Bila warna biru berarti kekurangan gas SO2 4. Bila warna tidak berubah berarti telah mencapai pH 7.0. Endapan dari proses ini akan menjadi menggumpal dan besar. Selama proses pembesaran endapan juga terjadi proses penyerapan koloid butiran. Koloid ini bila tidak diserap dan dipisahkan dari niranya maka nantinya akan masuk ke dalam lapisan kristal gula. Hal ini yang akan menyebabkan warna gula tidak putih dari proses sulfitasi kemudian dialirkan ke reaction tank. 6. Reaction Tank Alat ini bertujuan untuk mengaduk nira agar reaksi sempurna dan merata. Nira dari peti sulfitasi akan tertampung di reaction tank dan disini akan diaduk-aduk niranya. Setelah itu dialirkan ke juice heater II. 7. Juice Heater II Tujuan : 1. Membunuh mikroorganisme yang belum mati 2. Lebih untuk menyempurnakan reaksi 3. Menaikkan suhu nira pada pengendapan optimal 4. Menurunkan kelarutan gas-gas yang terlarut dalam nira. Cara kerja :

22

Nira dari proses sulfitasi dialirkan ke juice heater kemudian dipanaskan hingga suhu 105oC. Hal ini untuk mencegah terjadinya kehilangan uap dan panas. Bila suhu kurang dari 100oC maka dibutuhkan waktu yang lama dalam proses pengendapan, sehingga untuk memudahkan terjadi gula reduksi atau invest kalau dilakukan pada suhu > 105oC. Waktu juga akan lebih cepat. Kemudian nira dari juice heater II akan dialirkan ke flash tank. Pemanasan pada juice heater II itu menggunakan uap bekas dari gilingan dengan suhu 105oC. 8. Flash Tank Tujuan : Melepas gas-gas yang terlarut dalam nira dan mengatur nira untuk masuk ke Single Tray Clarifier (STC). Cara kerja : Dari juice heater II nira akan mengalir ke flash tank. Flash tank merupakan tempat penampungan nira sementara untuk mengatur jalannya nira masuk ke Single Tray Clarifier (STC). Memperkecil aliran nira agar lebih tenang saat menuju ke Single Tray Clarifier (STC). Membuang sisa-sisa gas belerang (SO2) yang tidak bereaksi dengan susu kapur (Ca(OH)2) serta untuk membuang uap air yang terjadi dan akhirnya tidak terjadi kelebihan zat-zat lain dalam proses pengendapan sehingga pengendapan akan sempurna di dalam Single Tray Clarifier (STC). Nira dari flash tank akan mengalir sedikit demi sedikit mengalir ke Single Tray Clarifier (STC). 9. Single Tray Clarifier (STC) Tujuan : Untuk memisahkan antara nira jernih dengan nira kotor. Cara kerja : Dari flash tank nira encer masuk ke dalam Single Tray Clarifier (STC). Di dalam alat ini dipisahkan antara nira encer dengan nira kotor. Untuk membantu pengendapan dalam proses ini ditambah 23

dengan bahan kimia yang berupa flokulant. Flokulant yang digunakan bisaanya adalah super flok. Fungi zat ini adalah untuk mengendapkan kotoran-kotoran gas menjadi gumpalan yang lebih besar dan akhirnya akan mengendap. Pabrik memilih flokulant ini setelah diteliti, flokulant ini lebih cepat mengendapkan kotorankotoran yang terdapat dalam nira sehingga akan menghasilkan. 1. Nira jernih yang akan langsung disaring oleh Dual Screen Medium (DSM) yang mana akan mengalir ke proses stasiun penguapan. 2. Nira kotor ke mixer dan dicampur dengan ampas halus, biasanya alat ini disebut dengan Rotary Vacum Filter. 10. Rotary Vacum Filter Nira kotor dari Single Tray Clarifier (STC) masuk ke dalam bak penampung pada Rotary Vacum Filter dicampur dengan ampas halus dari ketel yang kemudian diaduk oleh mixer. Selanjutnya campuran tersebut masuk pada Rotary Vacum Filter I dan II. Hal ini berfungsi untuk melarutkan nira yang terkandung dalam blotong sehingga nira yang masih terkandung dalam blotong sedikit mungkin. Nira yang dihasilkan masuk ke dalam tangki filter dan akan di pompa menuju bak penampungan boulogne. 3.3.1.2 Menggunakan Proses Sakarat - Penambahan Sakarat Tujuan : 1. 2. 3. 4. 5. nira. Cara kerja : 24 Untuk mencampur atau untuk mereaksikan antara Untuk mendapat pH 11 hingga 12 Membunuh mikroorganisme yang belum mati Menaikkan suhu nira pada pengendapan optimal Menurunkan kelarutan gas-gas yang terlarut dalam sakarat dengan phospat di dalam nira.

Proses penambahan sakarat dilakukan pada pipa nira dari juice heater I menuju ke juice heater II. Sakarat diperoleh dari pencampuran nira kental dan susu kapur. Susu kapur tersebut diperoleh dari dapur susu kapur yang kemudian dicampur pada tangki pencampuran sakarat. 3.3.2 Bahan Pembantu 3.3.2.1 Asam phospat (H3PO4) Asam phospat ini sebagai bahan untuk membantu dalam proses pemurnian. Asam phospat (H3PO4) tujuannya agar dapat membentuk kristal phospat yang bercampur dengan nira yang kemudian dapat bereaksi dengan susu kapur serta untuk menaikkan kadar phospat dalam nira sehingga menjadi normal atau berfungsi untuk mengikat butiran koloid garam (Ca). Phospat bila terbentuk dalam nira yang terdapat gumpalan koloid akan bertindak sebagai penghubung butiran koloid sehingga terbentuk butiran besar untuk pengikatan butiran koloid yang terjadi maka saat terbentuk (CaSO4). Dalam nira sudah terbentuk koloid jadi nira yang sudah diberi susu kapur dapat bereaksi (terjadi sirkulasi dalam defekator), tergantung dari hasil nira perahan dari gilingan, apabila yang dihasilkan sedikit maka dalam 1 shif itu bisa menghabiskan 3 jerigen, tetapi hasil perahan nira dari gilingan tinggi maka bisa menghabiskan 5 jerigen / shifnya. Dalam 1 jerigen berat netto dari phospat (H3PO4) yaitu 35 kg. PG. Rejo Agung Baru Madiun tidak membuat sendiri tetapi membeli. 3.3.2.2. Susu Kapur (Ca(OH)2) Pembuatan Susu Kapur (Ca(OH)2) Bahan dasarnya berupa gamping dengan air panas. Cara kerja : 25

Gamping dimasukkan ke tower dengan tingginya 20 m, gunanya untuk mengatur masuknya gamping ke molen yang berputar gamping yang ada dalam molen ditambah dengan air panas gunanya air panas ini untuk mempercepat pereaksian sehingga akan menghasilkan partikel-partikel Reaksinya : Cao+H2O Ca(OH)2 Dari hasil adukan di molen akan disaring untuk memisahkan batuan kapur yang tidak bisa larut (ampas). Ampasnya kemudian diangkut dengan menggunakan lori untuk menguruk tanah sedangkan hasil saringan berupa susu kapur (Ca(OH)2) dipisahkan lagi pada conveyor ulir, di sini susu kapur (Ca(OH)2) masih dipisahkan lagi dari pasir-pasir atau ampas yang masih ikut tersaring di sini terjadi proses pengendapan. Endapan akan tertahan sedangkan susu kapur (Ca(OH)2) yang dihasilkan masuk ke bak penampungan I. Susu kapur (CA(OH)2) diaduk-aduk agar mengencer dan setelah itu dialirkan ke bak penampungan II. Di sini juga diaduk-aduk gunanya agar lebih encer lagi. Setelah itu dipompa menuju ke defikator I dan defikator II. Kekentalannya diharapkan mencapai antar 5-6oBe. Fungsi susu kapur (Ca(OH)2). 1. Menaikkan Ph nira 2. Membunuh mikroba 3. Pereaksian asam phospat (H3PO4) yang mana digunakan untuk mengikat kotoran menjadi koloid. 3.3.2.3. Gas SO2 Pembuatan Gas Belerang SO2 26 kecil atau meleburkan gampinggamping yang berbentuk bebatuan yang besar.

Kegunaannya untuk menurunkan pH. Pembuatan gas SO2 dilakukan untuk sulfitasi 1 (sulfitasi nira encer) dan pada sulfitasi II. (Sulfitasi nira kental) untuk pembuatan gas SO2 pada sulfitasi I menggunakan pembakaran rotary sulfur burner dan menggunakan udara basah sedangkan pada pembuatan gas SO2 pada sulfitasi II menggunakan pembakaran belerang yaitu oven statis. Cara kerja : Gas SO2 yang dihasilkan dari pembakaran di rotary sulfur burner.Di rotary sulfur burner ini belerang dipanaskan dengan suhu 300oC dan di tempat ini belerang akan mencair dan membentuk gas. Gas yang terbentuk akan dialirkan ke sublimator di sini mengalami pendinginan dilakukan seperti ini digunakan agar suhu tetap 200oC. Kalau suhunya lebih dari 200oC belerang akan menjadi abu dan apabila kurang dari 200oC maka belerang akan memadat. Dari sumblimator dialirkan ke tower SO2 , gas SO2 yang melebihi akan ditarik oleh tower dan dibuang. Reaksinya : S + O2 SO2 3.3.2.4. Air Flokulant Bahan ini ditambah pada Single Tray Clarifier (STC) yang mana berfungsi untuk mempercepat proses penggumpalan atau pengendapan kotoran. Bahan kimia ini untuk menangkap kotoran yang terkandung dalam nira menjadi gumpalan dan lama kelamaan gumpalan akan menjadi besar akhirnya akan mengendap. Flokulant ini berupa powder yang dilarutkan dalam air.

27

Bahan larutan antara air dan flokulant di tampung pada 2 tempat yang mana diberi pengaduk agar merata. 3.3.3 Skema proses di st pemurnian

3.A Gambar Stasiun Pemurnian Keterangan : A. Nira mentah B1. Timbangan Boulogne B2. Bak tunggu C1. Juice Heater I C2. Juice Heater II D1. Defekator I D2. Defekator II E1. Bak Belerang E2. Dapur Belerang E3. Sublimator E4. Tower SO2 F. Reaktion Tank G. Flash Tank H. Bak Floculant I. Single Tray Clarifier J. DSM Screen K. Clear Juice Tank L. Rotary Vacuum Filter M. Condensor N. Vacuum Pump O. Bak / Tabung Nira Rapis P. Blotong Q. Proses Penguapan 28

3.4 Stasiun Penguapan Tujuan dari stasiun penguapan ini untuk mengubah nira encer menjadi nira kental dan untuk menguapkan kandungan air dalam nira encer. 3.4.1 Proses penguapan Nira dari stasiun pemurnian mengalir ke dalam voor koker. Dipanaskan dengan uap bekas dengan suhu 110oC 120oC dengan tekanan 0.5 kg / cm2. suhu nira 106oC dan tekanan uap nira 0.2 kg / cm2. Uap nira yang dihasilkan dimanfaatkan untuk pemanasan pada pan masakan dan juice heater. Apabila pan masakan ada gangguan vacuum, voor koker tetap berjalan dan buangan uap dibuka. Sedangkan uap pemanas voor koker yang sudah dipakai akan menjadi air kondensat yang selanjutnya dipompa ke ketel yang mana sebelumnya masuk pada kondensor. Uap yang tidak bisa diembunkan dikeluarkan pada pipa amoniak. Nira dari Voor koker dialirkan ke badan evaporator 1 disini dipanaskan dengan uap bekas suhunya 105oC dan tekanan 0,7 0,8 kg / cm2. Setelah itu nira dialirkan ke badan evaporator II. Uap panasnya menggunakan uap bekas dari pemanasan badan evaporator I. Di sini dipanaskan dengan suhu 90oC dengan tekanannya 0,2 kg / cm2. Setelah itu nira dialirkan ke badan evaporator III dengan uap bekas dari pemanasan badan evaporator II. Di sini nira dipanaskan dengan suhu 80oC dan tekanannya 5 cm Hg. Nira selanjutnya mengalir ke badan evaporator IV. Uap pemanasnya menggunakan uap bekas pemanasan badan evaporator III. Di sini nira dipanaskan dengan suhu 60-70oC dan tekanannya 35 cmHg. Selanjutnya nira dari badan evaporator IV dialirkan ke proses sulfitasi II, sedangkan uap pemanasnya dialirkan ke kondensor. Diharapkan kekentalan nira antara 30-35oC maka proses pengkristalan berlangsung dengan waktu yang tidak lama sehingga akan menghemat bahan pemanas.

29

Apabila kurang dari 30oC maka waktu untuk pemasakan dalam proses pengkristalan lebih lama karena masih banyak kandungan air dalam nira sehingga uap yang dibutuhkan untuk masak cukup banyak. Apabila lebih dari 35oC nira yang dihasilkan mungkin sudah terbentuk kristal. Hal ini dapat menyumbat pipa sehingga nira tidak bisa menuju proses berikutnya. Jika air yang dihasilkan kondensor tidak mengandung gula maka digunakan untuk pengisi ketel. 3.4.2 Bagian-bagian di stasiun penguapan 3.4.2.1 Voor Koker Tujuan : 1. Untuk mengurangi beban kerja pada badan evaporator 2. Untuk mempersiapkan nira yang akan diuapkan pada evaporator. Sertifikasi alat : 1. Volume 2. Luas pemanas 3. Jumlah pipa 4. Panjang pipa 5. Diameter : 200HL : 1100 m2 : 3728 buah : 2296 mm : D 42,05 mm L 44,45 mm

Di PG. Rejo Agung Baru Madiun terdapat 2 buah voor koker yang mana 1 dioperasikan dan 1 sebagai cadangan. Cara kerja : Nira encer dari stasiun pemurnian dialirkan ke voor koker. Dalam pengisian nira sebanyak 30% volume badan voor koker. Karena jika terlalu tinggi akan menambah beban kerja uap pemanas dan nira juga akan ikut menjadi uap dan apabila terlalu renah maka akan membentuk kristal sehingga akan menyulitkan proses sulfitasi. Di sini dipanaskan 30

dengan suhu 110oC 120oC dengan tekanannya 0,5 kg / cm2. Uap bekas turbin sebagai media pemanasnya dan uap nira yang dihasilkan digunakan untuk pemanas pada pan masakah dan juice heater, sedangkan uap pemanas voor koker yang sudah dipakai akan ke kondensor yang mana akan menjadi air kondens. Air kondens akan dipompa menuju ke ketel. Uap yang tidak bisa mengembun dikeluarkan melalui pipa amoniak. Nira dari voor koker akan menuju ke badan evaporator. 3.4.2.2 Badan Evaporator Tujuan : Untuk menguapkan kandungan air yang ada dalam nira encer agar diperoleh nira kental dengan kekentalan tertentu. Serifikasi alat : Volume Luas pemanas Jumlah pipa Panjang pipa Diameter : 150 HL : 870m2 : 2727 buah : 2296 mm : D 42,05 mm L 44,45 mm

Di PG Rejo Agung Baru Madiun memiliki 10 buah yang mana 5 buah di bagian barat dan 5 buah di bagian timur. Di bagian barat 4 badan evaporator dioperasikan dan 1 badan evaporator dibersihkan atau sebagai cadangan. Bagian timur juga sama dengan bagian barat. Sistem pemanasnya dalam memanaskan evaporator dengan system quadruple effect. Cara kerja : Nira dari voor koker masuk melalui saluran pemasukan dibagian bawah. Lalu nira bersikulasi dalam pipa tromol. Pengisian nira sebanyak 30% volume badan, 31

karena jika terlalu tinggi akan menambah beban kerja uap pemanas dan akan menyebabkan nira ikut pada pemanasan berikutnya. Sedangkan apabila terlalu kristal rendah gula akan memungkinkan terbentuknya sehingga

menyulitkan proses sulfitasi. Pada setiap badan evaporator diatur besarnya suhu dan tekanan serta waktu yang diperlukan : 1. Pada badan evaporator I dipanaskan dengan suhu 105oC dengan tekanan 0,7-0,8 kg / cm2. 2. Badan evaporator II dipanaskan dengan suhu 90oC dengan tekanan 0,2 kg / cm2. 3. Badan evaporator III dipanaskan dengan suhu 80oC dengan tekanan 5 cmHg. 4. Badan evaporator IV dipanaskan dengan suhu 60-70oC dengan tekanan 35 cmHg. Uap dari evaporator I sampai ke evaporator IV tidak dipompa, karena tingkat kehampaan dari masing-masing evaporator berbeda. Semakin mendekati kondensor semakin hampa atau vacuum. Sehingga terjadi beda tekanan. Dengan adanya perbedaan tekanan sehingga uap akan mengalir dengan sendirinya. Masing-masing badan memiliki pipa amoniak yang berguna untuk menyerap gas-gas yang tidak bisa mengembun. Untuk badan evaporator III dan IV pipa amoniaknya dihubungkan dengan kondensor dan gas-gas tersebut ditarik dengan pompa vacuum. Jika gas-gas yang tidak dapat mengembun tidak ditarik akan menyebabkan naiknya tekanan (vacuum turun), sehingga Uap dari akan badan mengganggu jalannya penguapan.

evaporator IV ditarik ke kondensor dan didinginkan dengan air injeksi sehingga berubah menjadi air lagi, sedangkan

32

nira dari evaporator IV dipompa menuju ke proses sulfitasi yang mana hasil sulfitasi ini disebut diskrap. Evaporator sebelum dioperasikan 1. Tebal korosi yang diizinkan 2. Heat exchanger yang kotor atau menyumbat tube dibersihkan baik. 3. Pemeliharaan heat exchanger dilakukan secara rutin dengan memahami kondisi bagian dalam dan dalam tube serta menjaga agar tetap bersih. Apabila terjadi kebocoran maka dilakukan penutupan dengan plug pada ujung-ujung tube. Bila terjadi kebocoran pada aliran dapat diperbaiki dengan rolling 10% pada bypass perlu dipertimbangkan 1. 2. 3. 4. 5. 6. penuh 7. Pengeluaran air kondensat dibuka. Cara membersihkan badan evaporator : Di PG Rejo Agung Baru Madiun yang namanya evaporator sangat penting. Karena evaporator untuk mempermudah proses pemasakan pada pembuatan produksi gula. Selain itu untuk mengentalkan nira encer menjadi kental. 33 untuk air tube. Tahap-tahap yang pengoperasian badan evaporator : Saluran-saluran yang terbuka seharusnya ditutup semua. Udara ditarik supaya vacuum Afsluifer input pemanas dibuka Afsluifer uap atas dibuka Menutup bypass nira dan uap bekas Setelah aliran pipa lancar, output nira dibuka dari kotoran-kotoran karena dapat menyebabkan perpindahan panas tidak langsung dengan

Adapun caranya : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Input pemanas ditutup penuh Pipa uap bekas ditutup Bypass uap bekas atau uap nira dibuka Input dan output nira ditutup Bypass nira dibuka Uap bekas tromol dan uap badan di buang Sisa diskrap keluar kemudian di pompa ke

bak penampung di bawah timbangan boulogne. Setelah nira dikeluarkan kemudian pipa tromol di isi dengan air ditambah dengan soda yang mana bertujuan utnuk melunakkan kerak. 8. Bahan-bahan tersebut ditap dan dibuang. Badan penguapan didinginkan dan pipa tromol air di tekan dengan tekanan 1 kg / cm2, untuk mengetahui bila terjadi kebocoran. Oper evaporator Apabila ada salah satu badan dibersihkan maka badan yang sebagai cadangan dioperasikan untuk itu dilakukan oper evaporator. Langkah-langkahnya : 1. Persiapan (evaporator IV orbit atau evaporator V mati) Evaporator yang sudah diskrap di control Menutup manhole Tes vacuum Tarik vacuum sampai mendekati maksimal. Menutup saluran-saluran yang seharusnya kebersihan

2. Saat oper (untuk evaporator IV orbit) ditutup 34

3.4.2.3

Udara ditarik supaya vacuum Nira dimasukkan ke dalam badan penguapan Membuka afsluifer uap atas dan input pemanas Menutup by pass nira dan uap bekas Setelah aliran nira lancar, output nira dibuka Pengeluaran air kondensat dibuka. Menutup input pemanas dan pipa uap bekas Membuka bypass uap bekas Menutup input dan output nira Membuka bypass nira Pompa kondensat evaporator V dimatikan. Menutup input pemanas dan pipa uap bekas Membuka bypass uap bekas Menutup input dan output nira Membuka bypass nira Pompa kondensator evaporator dimatikan.

penuh 3. Untuk evaporator V dimatikan

Cara mematikan evaporator :

Kondensor Tujuan : Untuk mengembunkan uap yang berasal dari evaporator dan pan masakan. Kondensor yang digunakan berjenis barometik. Kondensor ini menghasilkan vacuum sekitar 60-65 cmHg yang digunakan pada evaporator dan pan masakan. Proses pengembunan pada kondensor mempengaruhi besar kecilnya tekanan di dalam evaporator dipengaruhi oleh pengembunan pada kondensor. Makin dingin suhu yang dicapai kondensor maka makin besar air yang mengembunkan sehingga menyebabkan penurunan tekanan. Cara kerja : 35

Uap dari evaporator IV dan pan masakan masuk melalui bawah kondensor sedangkan air injeksi dimasukkan dari bagian atas kondensor. Mula-mula air injeksi melewati sekat-sekat dan turun dengan kecepatan lebih besar air injeksi berasal dari air sungai. Karena adanya aliran yang berlawanan antara uap dan air maka akan mengembun. Uap yang sudah mengembun akan turun bersama air injeksi menuju saluran pembuangan. Kemudian gas-gas yang tidak bisa mengembun akan dikeluarkan dan ditarik dengan pompa vacuum. Hambatan-hambatan penguapan, ada 2 yaitu : 1. Peralatan 1. Badan / pipa Badan atau pipa ada yang bocor. 2. Pompa-pompa antara lain : 2. Proses 1. Kualitas nira Bisaanya kualitas nira dipengaruhi oleh kerak pada pipa pemanas. 2. Kondisi proses meliputi : tekanan uap bekas level nira kelancaran air kondensat kelancaran amoniak suhu air injeksi masuk atau keluar 36 Pompa air kondensat Pompa vacuum Pompa nira encer Pompa nira kental yang terjadi dalam proses

3. Valve-valve uap nira

vacuum badan akhirnya rendah.

Cara mengatasinya : 1. Bila terjadi kebocoran Mempersiapkan alat untuk siap dipakai dengan pengertian dicari kebocorannya (test vacuum) 2. Kerak pada pemanas Kebersihan pada waktu diskrap ditingkatkan dan saat tertentu penambahan dosis terutama pada keadaan akhir. 3. Uap bekas rendah Mengusahakan semaksimal mungkin bleeding ke pan panas, mungkin ke stasiun masakan. 4. Air injeksi panas Mengupayakan bleeding semaksimal mungkin dan mengontrol pompa air injeksi.

37

3.4.3. Skema evaporator

3.B Gambar Skema Evaporator

Keterangan

1. Lubang uap soda 2. Pipa pengambil nira 1. Pipa pancingan vacuum 3. Pipa amoniak 2. Manovacuum meter 3. Thermometer 4. Badan penguapan 5. Manometer 6. Gelas penduga 4. Lubang-lubang gas yang tak terembunkan
38

13. Pipa jiwa 14. Penangkap nira 15. Kara penglihat 16. Pipa jiwa 17. Messing pipe/ruang nira 18. Lubang lalu-orang 19. Tingkap pengaman 20. Saluran suplesi uap baru 21. Saluran uap bekas 22. Ruang pemanas 23. Saluran condensate 24. Pipa outlet nira

5. Pipa inlet dan pembagi nira 7. Krengsengan soda

3.3.4 Skema kondensor

3.C Gambar Skema Kondensor Keterangan: 1. Pipa luapan 2. Peti luapan 3. Baffle 4. Pipa air injeksi 5. Manhole 6. Pipa air jatuhan 7. Uap dari stasiun penguapan 8. Uap dari stasiun masakan

39

3.3.5 Skema proses penguapan

3.D Gambar Skema Proses Penguapan 3.5. STASIUN PEMASAKAN 3.5.1. Sulfitasi H Nira kental dari evaporator di pompa menuju ke peti sulfitasi II untuk menurunkan ph dari 7,0 menjadi phnya 5,4 sampai 5,6. Untuk menurunkan ph maka. di tambah dengan gas SO2 yamg terjadi dalam tower SO 2. Nira kental yang telah tercampur dengan gas SO 2 Akan b e r u b a h , w a r n a b e r u b a h m e n j a d i j e r n i h k e k u n i n g kuningan. Perlu diketahui jika penambahan gas SO2 terlalu banyak, maka kadar gula pada nira akan menghilang. Untuk mengetahui ph secara modem dengan menggunakan i nd ik at or . In di ka to r ya n g d ig un ak an ya i t u in di ka to r C F R (chloorphenolred). Cara melihat pH pada proses sulfitasi II yaitti: Mengambil beberapa, ml nits sebagai sampelnya Teteskan dengan indikator CPR(chloorphenolred) 40

Apabila tedadi perubahan warns coklat menjadi coklat kemerahan berarti nira kental hasil sulfitasi H atau disebut jugs diksap telah mencapai ph 5,4-5,6.

3.5.2. Skema proses suffitasi II.

3.E Gambar Skema Proses Sulfitasi II 3.5.3. Kristalisasi atau pan pemasakan Di PG. Rejo Agung Baru Madiun, sistem pemasakannya menggunakan 3 tahap yaitu sistem A,C dan D (three boiling system). dengan cara ini gula A yang mempunyai HK tinggi. Sertifikasi pan masakan Volume Luas pemanas Jumlah pipa Panjang pipa Diameter pipa : 450 HL : 270 m2. : 840 buah : 1110 mm

: D 97.6 mm L 101,6mm Di PG. Rejo Agung Baru Madiun jenis pan masakan y4ng

digunakan yaitu bedenis tromol. Pan masakannya keseluruhan berjumlah 11 buah. dibagi sebagai berikut: Pan masakan A berjumlah 5 buah yaitu pan no. 1,2,3,4 dan 5 41

Pan masakan C berjumlah "2 buah yaitu pan no.6 dan 7 Grand pan masakan D berjumlah 1 buah yaitu pan no 8 Pan masakan D berjumlah 3 buah yaitu pan no 9,10 dan 11 Suhu Tekanan vacuum Suhu uap pemanas Volume : 60-70C : 60-64cmHg : 100-105oC : 300400 HL

Pada pan masakan ini memiliki keadaan sebagai berikut:

Tekanan uap pemanas : 0,8-0,9 kg/cm2. Terdapat 2 jenis pemanasan yang digunakan pada pan masakan

yaitu: 1. Menggunakan uap dari voor koker. 2. Uap bekas dari sisa penggerak turbin dan mesin-uap. Pada awal pemasakan menggunakan bleeding selanjutnya pemanasnya ditambah dengan uap bekas dari ketel, gunanya untuk mempercepat pematangan nira. Terlalu kecil tekanan vacuum dari kondensor dan tekanan uap pemanas naik mengakibatkan nira cepat larut. Maka untuk menghindari hal tersebut harus seimbang yaitu mencapai 65 cmHg. Istilah dalam proses pemasakan : Diksap Stroop Klare Fondan Inwurf : Nira kental yang telah tercampur dengan gas SO2. : Hasil camping gula dari putaran kedua : Hasil samping gula, dari putaran pertama : Gula halus yang digunakan untuk bibit pan masakan : Pembibitan untuk pan masakan A.

Hal-hal yang harus diperhatikan: Uap pemanas yang digunakan. untuk memasak haruslah cukup jangan sampai uap tersebut kurang karena hal ini akan mengganggu proses produksi secara keseluruhan. Suhu tidak.boleh terlalu tinggi karena akan dapat merusak kadar gula 42

dan tidak boleh terlalu rendah Tekanan harus rendah agar pemanasan berjalan dengan suhu yang rendah hal ini untuk menghindari karamelisasi

Selain faktor-faktor tersebut ada hal-hal lain yang harus diperhatikan yaitu: Biaya operasi rendah Mutu memenuhi persyaratan Mudah pelaksanaanya Waktu proses pendek

Proses pengambilan gala ini diambil dari larutan nira atau gala. Pengertian nim sendiri adalah suatu larutan gala yang belum jenuh kelarutannya dalam air. Adapun mekanisme pembentukan kristalisasi pada pan masakan. Dibagi menjadi bebempa daerah kejenuhan yaitu: 1. Larutan encer Dimana larutan masih dapat melarutkan kristal sakarosa. 1. Larutan jenuh Daerah dimana larutan tidak dapat melarutkan kristal gula dan nira telah mengalami kejenuhan (membenang 2 cm). Ini saat yang tepat dalam penambahan bibit 2. Daerah meta mantap Daerah pembesaran kristal dimana melekul-melekul sukrosa hanya dapat menempelkan diri pada kristal yang telah ada. 3. Daerah pertengahan Daerah dimana melekul sukrosa mampu membentuk inti kristal apabila ada kristal sukrosa dalam larutan. 4. Daerah goyah Daerah dimana melekul sukrosa telah mampu membentuk inti kristal dengan serentak tanpa adanya kristal sukrosa yang lain.

43

Pada nira kental dari sulfitasi II dimana jarak antara melekul sukrosa saling berjauhan selanjutnya dipanaskan sampai mencapai keadaan jenuh dan membenang 2cm agar jika ditambahkan bibit tidak akan larut. Bila larutan dipanaskan sampai melewati titik jenuh akan terbentuk anti kristal, sehingga kosentrasi larutan diturunkan sampai mencapai daerah meta mantap dengan menambah bahan yang HKnya lebih rendah dari larutan tersebut. Jika ditambah dengan HKnya tinggi maka, akan timbal kristal palsu atau pasir palsu. Pada keadaan meta mantap ini melekul-melekul sukrosa akan menempel pada inti kristal yang telah terbentuk Pada proses pembesaran kristal ini perlu diamati dengan teliti untuk mencegah tedadinya kristal palsu atau pasir palsu. Jika terbentuk kristal palsu akan menyebabkan penyumbatan pada putaran. Sehingga stroop tidak dapat menembus plat penyaringan. Akibatnya putaran berjalan lambat untuk menghilangkan kristal palsu ini dengan cara penambahan air. Selain itu harus dijaga agar gula yang dihasilkan .memiliki kualitas tinggi dan jangan sampai dihasilkan gula dengan kualitas rendah, rendahnya kualitas gula yang dihasilkan disebabkan tingginya kadar kotoran yang ikut selama proses pengkristalan. Sementara itu banyak sedikitnya tetes yang dihasilkan juga mempengaruhi jumlah kandungan gula yang di kristalkan. Banyak sedikitnya tetes yang dihasilkan tergantung pada jumlah kotoran yang ada dalam nira. Makin banyak kotoran yang dibawa oleh nira, hal ini menyebabkan banyaknya kandungan gula yang hilang. 3.5.4. Tahap- tahap dalam proses pengkristalan 3.5.4.1. Proses pemasakan pada pan masakan 1. Persiapan pan masakan Sebelum pan masakan digunakan untuk proses maka harus dipersiapkan lebih dahulu yaitu; Melakukan krengsengan 44 dengan tujuan untuk

membersihkan pan masakan dari kotoran-kotoran sisa kristal gula yang melekat pada badan pan masakan.

Menutup pengeluaran masakan dari semua afsluifer. Menunjukkan 40-45 cmHg. Membuka:
afsluifer vacuum besar sampai manometer menunjukkan 60 65 cmHg.

Pan masakan siap digunakan.


2. Cara masak pada pan masakan A Bahan masak : Bahan bibit Prosedur kerja : DKS (diksap) Klare I Air

: gula C

Setelah pan masakan sudah dibuat vacuum oleh


kondensor (tekanan 60 -64 cmHg).

Masukkan DKS hasil sulfitasi II dan Klare I sampai


dengan volume 100 HL. Kemudian dipanaskan dengan suhu 60- 70C sampai keluar benang 2 cm.

Setelah itu masukan bibit gula C dan dikentalkan. Diamati sampai kristal yang diinginkan menjadi
bagus, cara mengamati gula yang terdapat pada pan masakan untuk mengambilnya dengan menggunakan batang sogokan jika, terbentuk pasir palsu harus dihilangkan dengan menambah air.

Kemudian ditambah lagi DKS secara bertahap


sampai volume 200 HL dan dituakan.

Setelah itu dilihat lagi apa masih ada pasir palsu atau
tidak, apabila masih ada di tambah air secukupnya.

Penambahan akhir dari bahan sampai volume 250


45

HL, kemudian dituakan, setelah tua maka diturunkan ke palung pendingin. Pada pan masakan.A menghasilkan masscuite. Selanjutnya diputar A stasiun pemutaran tepatnya pada putaran A. Di sini akan menghasilkan gula A dan stroop A. Selanjutnya gula masuk pada putaran SHS disini akan menghasilkan gula SHS dan klare I. Gula SHS siap di pasarkan ke masyarakat. Stroop A digunakan sebagai bahan masakan pada C sedangkan klare I digunakan sebagai bahan masakan A. Pada masakan A lama prosesnya 4 jam. Pada awal, giling, pan masakan A menggunakan bibit yang dibuat sendiri yaitu dengan masak DKS sampai menjadi bibit dan selanjunya bibit masukan menggunakan gula C. 3. Cara masak pada pan masakan C Bahan masakan Bibit Prosedur kerja : stroop A : gula D2 :

Setelah pan masakan dibuat vacuum oleh kondensor Masukan, stroop A, kemudian dipanaskan sampai masak pekat dan keluar benang.

Kemudian masukan bibit yaitu gula D2 dan dikentalkan Dengan mengunakan batang sogokan diamati sampai terbentuk kristal yang bagus Apabila masih terdapat pasir palsu maka di tambah dengan air panes penambahan bahan maksimal 300 HL. Setelah masak maka diturunkan ke palung pendingin dan menghasilkan masscuite C. Selanjutnya diputar pada putaran C di sini akan menghasilkan gula C dan Stroop C. Gula c digunakan untuk, bibit pada proses pemasakan pan masakan A sedangkan stroop C digunakan untuk bahan pada proses pemasakan di pan 46

masakan D. 4. Proses pemasakan pada pan masakan D Disini ada beberapa tahap pada pan masakan D yaitu: 1. Membuat grand pan masakan D 2. Memasak hasil grand pan masakan D Pada pan masakan D terdapat vacuum ship.fungsi alat ini untuk menampung sementara hasil grand pan masakan D. Jika pada pan masakan dialiri oleh masscuite dan grand pan masakan D masih dalam keadaan beroperasi. 1. Membuat gran pan masakan D Memasukan DKS dan stroop A sampai volume 200 HL, ditunggu sampai keluar benang. Selanjutnya masukkan fondan 100cc dan ditunggu sampai tua kemudian masukkan stroop A sedikit demi sedikit sampai volume 400 HL, setelah tua dibagi menjadi 2 jadi masing-masing 200 HL. Apabila pan masakan D sudah siap digunakan, maka hasil gran pan masakan itu bisa dimasukkan dan apabila pada masakan D masih dipakai maka di simpan pada vacuum ship. 2. Memasak hasil grand pan masakan D Bahan Bibit : stroop C dan klare III : fondan

Cara kerja : Masukkan stroop C dan klare III yang berisi nira kental dan grand pan masakan D. Kemudian dipanaskan sampai tua apabila ada, kristal palsu ditambah dengan air panas, selanjutnya masakan ditunggu sampai tua. Kemudian ditambah lagi sampai volume 400 HL dan dipanaskan sampai tua, setelah tua maka diturunkan pada palung pendingin, kemudian masscuite ini dipompa ke putaran D, sehingga akan menghasilkan 47

gala D, dan fetes. Gula D akan dipompa menuju ke putaran D2 di sini akan menghasilkan gula D2 dan klare III. Tetes yang.dihasilkan dijual. Pada pan masakan D proses pemasakannya 6 8 jam. 3.5.4.2. Palung pendingin (frog) Alat ini adalah salah satu bagian dari proses masakan sebagai tempat penurunan gula yang telah masak dari pan masakan. Tujuan dari alat ini adalah untuk mendapatkan atau membentuk masscuite kristalnya yang lebih besar agar pada saat diputar di mesin sentrifugal tidak akan lolos atau pecah di RAB Madiun ini palung pendinginnya terdapat 24 buah yaitu 18 buah dibawah pan masakan dan 6 buah di belakang pan masakan volumenya 300 400 HL. PG. Rejo Agung Baru Madiun itu memiliki 2 jenis palung pendingin antara lain : 1. Palung pendingin manual Pendinginanya dilengkapi hanya memanfaatkan yang. udara berputar ruangan. secara Pengkristalan dengan menggunakan palung pendingin ini dengan pengaduk horisontal. Pengaduknya ini memiliki fungsi antara lain: Menjaga masscuite tetap homogen karena bila tidak di aduk akan memisah antara yang mengkristal dengan yang belum mengkristal. Agar masscuite tidak membatu karena penurunan kadar air dan pendinginan untuk menjaga keadaan tersebut maka masscuite yang ada dibagian atas tidak terus di atas saja tetapi bisa gantian yang masscuite di bawah keatas sedangakan masscuite di atas akan ke bawah. Bila secara bergantian tidak akan mendapat kontak secara langsung dengan udara luar terus menerus. 48

Mempercepat pendinginan karena terjadi perubahan kedudukan dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah sehingga terjadi kontak secara bergantian antara masscuite yang masih panas dengan udara luar yang masih dingin.

2. Palung pendingin dipercepat ( rapid cooler) Pada palung pendingin ini di lengkapi dengan : 1. Pipa Pendingin Pada trog ini terdapat pipa yang dialiri air pendingin untuk menurunkan suhu masscuite sampai 450C. Dengan turunnya suhu menyebabkan viskositas naik dan sakarosa menempel pada kristal (pembesaran Kristal). Palung pendingin terdapat pada bagian awal. 2. Pipa Panes Pipa saluran yang dialiri dengan air panas agar brix dan masscuite tidak terlalu tinggi. Pada saat Maka pendinginan, viskositas akan. naik untuk mempermudah mempercepat transportasi keputaran. masscuite dipanasi terlebih dahulu. Selain itu juga untuk mempermudah pemisahan kristal dengan stroopnya di stasiun pemutaran terdapat pada bagian akhir.

49

3.5.5. Bagian-bagian pan masakan

3.F Gambar Penampang Pan Masakan Calandria Tromol Keterangan : 1. Uap nira ke kondensor 2. Pipa amonia 3. Steam amonia 4. Air kondensat 5. Diksap inlet 6. Masecuite outlet

50

3.5.6 Skema proses stasiun masakan

3.G Gambar Stasiun Masakan Keterangan : E A A1 Diksap Pan masakan A Palung pendingin A 51 F D D1 D2 Grand pan masakan D Pan masakan D Palung pendingin D manual Palung pendingin D manual

A2 A3 A4 C C1 C2 C3

Putaran SHS Gula Produk Mixer Pan masakan C

E1 E2 E3 D3

Peti gula D1 Putaran D2 Gula D2 Putaran D 1

: Palung pendingin C : Putaran C : Peti gula C

3.5.7 Bagian palung pendingin

3.H Gambar Palung Pendingin Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. Pengaduk Roda gigi/penggerak As penerus dari motor Pengeluaran mascuite Screw conveyer 3.6. STASIUN PUTERAN Di stasiun ini tujuannya adalah untuk memisahkan kristal gula dengan 52

hasil samping berupa stroop, klare dan tetes yang tercampur dalam masakan. Pemisahan ini dilakukan dengan bahan masuk pada putar di st putaran sehingga dengan proses ini akan menghasilkan atau memperoleh hasil akhir berupa gula kristal putih yang mana sebagai produk utama. Pemisahan gula dilakukan dengan alat puteran yang mana mempunyai dua buah tromol silinder yaitu tromol statis dan tromol dalam. Dimana bagian luar tidak bergerak sedangkan bagian yang lainya berlubang kecil dan dapat berputar. Pada tromol dalam dilengkapi dengan 3 saringan yaitu saringan kawat halus, saringan kawat kasar dan saringan kawat tembaga. Pada stasiun putaran di gunakan 4 unit putaran yaitu: 1. Unit Putaran A Jumlahnya ada 3 unit putaran 2. Unit Putaran SHS Jumlahnya ada 3 unit putaran 3. Unit Putaran C Jumlahnya ada 3 unit putaran 4. Unit Putarap D Pada putaran D ini dibagi 2 1. Puteran DI Jumlahnya ada 6 unit putaran 2. Putaran D2 Jumlahnya ada 3 unit putaran Alat yang digunakan pada ST Puteran adalah sentrifugal. Menurut cara kerjanya alat-alat puteran tersebut di kelompokkan. menjadi 2 macam yaitu: 1. Sistem batch yang bekerja secara otomatis yaitu pada puteran SHS dan Puteran A. 1. Sistem secara berlanjut yaitu pada puteran C dan puteran D.

53

3.6.1 Proses secara umum di ST puteran Masukkan masscuite pada palung pendingin dari palung pendingin di pompa ke bak penampungan yang di lengkapi baling-baling serta untuk mengatur masuknya bahan dan untuk bak penampung ini terletak diatas mesin puteran. Masscuite masuk pada puteran pada slat puteran ke dalam tromol dan diputar dengan gaya sentrifugal. Kemudian diberi air untuk memisahkan kristal gula dengan larutan Induk (Tetes, Ware dan stroop). Pemberian air juga untuk menghilangkan kotoran pada kristal. Sebab dapat melarutkan sebagian kristal gula sehingga akan banyak kehilangan gula dalam larutan induk. Dalam tromol kristal gula tersaring sedangkan larutan induk (stroop, klare, tetes) mengalir pada bak penampung. Kemudian kristal gula turun ke talang goyang dan siap di pasarkan.

3.6.2 Proses pada puteran A Puteran A adalah mesin puteran yang digunakan untuk menghasilkan gula produk dari masakan A, hasil sampingnya berupa stroop A. Gula produksi dari puteran A di pompa menuju ke puteran SHS. Puteran A memiliki. 3 unit mesin puteran. Cara kerja : Nira hasil masakan A dari palung pendingin di bawah pan masakan A di pompa menuju ke dalam palung penampung yang mana palung penampung ini terletak di atas puteran A. Pada palung penampung dilengkapi dengan baling- baling secara horizontal. Masakan di alirkan ke dalam tromol. Awal puteran yaitu kecepatan 60 rpm, kemudian dinaikan kecepatan sampai 200 rpm. Pada kecepatan ini disemprotkan air gunanya untuk mencuci saringan agar saringan tidak tersumbat oleh gula kristal yang menempel pada saringan. 54

Kecepatan tromol kemudian dinaikkan lagi menjadi, 1300 rpm. Akibatnya gula produk akan tertahan sedangkan stroop dapat menerobos saringan didalam tromol dan dialirkan keluar kristal gula di tambah air yang mana kegunananya untuk mempercepat lepasnya stroop yang menempel pada kristal.

Setelah itu kecepatan tromol di turunkan hingga mencapai 60 rpm. Setelah 2 2,5 menit gula yang dihasilkan akan di pompa, menuju ke bak penampung puteran SHS.

Tombol tombol yang digunakan di puteran A: Washing water Water Steam Charge Indikator Main Gate Drip Gate Top Cover Bottom Cover Horn Reset Ploughing Speat Charging Speat Spinning Speat Start, Stop, Reset : : : : : : : : : : : : Pencucian dengan air didalam A sebelum gula diputar. Pengeringan gula dengan uap. Untuk membuka pintu gula yang masuk. Membuka pintu pertama gula yang masuk. Membuka pintu ke 2 gula yang masuk. Menutup dan membuka penutup atas. Untuk menutup dan membuka penutup bawah. Untuk mereset ulang jika pemutaran ada masalah. Mengurangi kecepatan setelah gula jadi. Kecepatan stabil yang digunakan saat pengisian gula. Kecepatan tercepat saat pemutaran gula. Mulai, berhenti, mereset ulang puteran A. 55

Washing Screen On Of

Pengisian air sesudah pemutaran untuk mencuci bagian dalam puteran A.

Plough Down Scrapper

Untuk menurunkan gula.

3.6.3 Proses pada puteran SHS Bahan yang digunakan dari hasil gula puteran A. Puteran ini beker a secara otomatis. Gula yang dihasilkan adalah gula produk yang siap di pasarkan. Hasil sampingnya berupa klare. Di PG. Rejo Agung Baru Madiun puteran SHS sejumlah 3 unit puteran. Cara kerja : Bahan gula dari hasil puteran A, berupa gula A yang masuk pada penampungan yang terletak diatas mesin puteran SHS, dilengkapi dengan baling - baling secara horizontal. Setelah itu masuk pada mesin puteran atau tromol dengan kecepatan awalnya mencapai 60 rpm. Setelah itu kecepatan di tambah lagi menjadi 600-700 rpm. Dalam kecepatan ini ditambah dengan air yang digunakan mencuci gula kristal agar menjadi putih. Selanjutnya dinaikkan kembali menjadi 1200 rpm. Akibatnya gula produk akan tertahan di dalam tromol dan dialikan keluar serta di tambah uap yang mana berfungsi untuk mempercepat proses pengeringan gula, sedangkan yang menerobos adalah klare SHS atau klare I. Selanjutnya kecepatan puteran diturunkan menjadi 60 rpm. Setelah 2 2,5 menit menurunkan gula ke talang goyang. Puteran SHS bekerja mulai dari awal lagi untuk sirklus yang selanjutnya. 3.6.4 Proses pada puteran C Tujuan puteran ini untuk menghasilkan gula C dan menghasilkan hasil samping yang berupa stroop C. Puteran C ini bekerja secara kontinyu dengan jenisnya yaitu HL (Hein Lohman). Di 56

puteran C ini bejumlah 3 unit puteran 2 di operasikan dan 1 sebagai cadangan

Cara kerja: Masakan dari palung pendingin mmukan C di pompa menuju ke bak penampung yang terdapat di atas mesin puteran C, pada alat ini di lengkapi dengan baling baling secara horizontal Motor listrik di tarik untuk menggerakkan mesin putar hingga kecepatan 1600 1700 rpm. Setelah itu membuka kran aliran menuju kedalam mesin puteran dan membuka aliran air untuk mencegah tersumbatnya saringan dari gula kristal Menghasilkan gula C dan stroop C yang mana sebagai bahan masakan D sedangkan gula C untuk bibit masakan A. 3.6.5 Proses masakan D Pada puteran D di bagi menjadi 2 yaitu 1. Puteran D1 2. Puteran D2 Pada puteran D1 terdapat 6 unit puteran sedangkan pada puteran D2 terdapat 3 unit putaran. Cara kerja : Masscuite dari palung pendingin di bawah pan masakan D di pompa menuju ke bak penampung yang terdapat di atas mesin putaran DI. Yang mana dilengkapi dengan baling - baling secara horizontal. Setelah itu membuka kran agar masscuite masuk kedalam puteran D1 disini akan mengbasilkan gula D1 dan tetestetes dijual. Gula D1 dipompa menuju bak penampung yang dilengkapi dengan 57

baling baling secara horizontal yang mana terletak di atas mesin puteran D2. Selanjutnya kran dibuka agar bahan masuk puteran D2 dan pemberian air. Hasil yang didapat adalah gula D2 serta klare III. Gula D2 sebagai bibit masakan C sedangkan klare III untuk bahan masakan D. 3.6.6 Cara membersihkan puteran By pass dari bak penampung yang mana terletak di atas puteran yang menuju ke puteran itu ditutup. Mesin putaran dimatikan, dibuka mesin puteran. Selanjutnya yang berada pada dalam puteran berupa saringan dan mesin dibersihkan dengan air sedangkan pemutarnya diberi oli agar pemutaranya tidak seret. Dalam pembersihan peralatan yang ada dalam mesin putar diambil dari mesin putaran. Setelah selesai saringan dan puteran di kembalikan pada semula dan siap dioperasikan. Motor yang digunakan dalam merggerakan mesin puteran menggunakan tenaga listrik 3.6.7 Alur pada Stasiun Puteran

58

3.I Gambar Alur pada Stasiun Puteran

Keterangan 1. palung pendingin 2. puteran A 3. mixer 4. puteran SHS 5. klare A 6. talang goyang 7. gula produk 8. stroop A 9. gula halus 10. krikilan 3.7. STASIUN PENYELESAIAN Pada stasiun ini bertujuan untuk memisahkan kristal berdasarkan ukuran dan mengempakan atau pengemasan gula produk. 3.7.1 Proses secara umum Gula produk dari puteran SHS turun pada talang goyang. Di sini akan memisahkan antara gula produk gula kasar dan gula halus. Gula kasar dimasukan ke mixer dan dialirkan ke puteran C, selanjutnya dari talang goyang, gula produk akan tertampung pada silo selanjutnya dilakukan pengemasan dalam pengemasan di timbang sesuai ukuran tertentu kemudian dibawa oleh lori ke gudang dan akan di pasarkan. Pada stasiun Penyelesaian terdapat alat- alat yang digunakan antara lain: 3.7.2 Talang goyang 11. bibit gula 12. palung pendingin 13. puteran C 14. stroop C 15. palung pendingin 16. puteran D1 17. puteran D2 18. tangki leburan 19. klare D 20. tetes

59

Fungsi alat ini adalah untuk mengeringkan gula dari puteran SHS dan digunakan untuk memisahkan antara gula kasar, halus dan produk selain itu untuk transportasi menuju ke silo. 3.7.3 Bucket elevator Berfungsi untuk mengangkut dan memasukan gula SHS dari talang goyang berupa gula produk menuju ke dalam silo. Alat yang digerakkan motor listrik dan terdapat rantainya serta tempat untuk mengangkut gula produk 3.7.4 Dust collector Berguna untuk mengumpulkan debu-debu gula agar tidak berterbangan. 3.7.5 Silo Alat ini digunakan untuk mengumpulkan atau menampung produk sehingga untuk mempermudah dalam pengemasan atau pengempakan gula produk. 3.7.6 Lori Digunakan sebagai alat transportasi dari tempat pengemasan ke gudang penyimpanan pada setiap lorinya berisi 100 karung. Gula produk yang tertampung di dalam silo dikemas dalam karung yang di dalamnya terdapat plastik. Setelah di kemas dalam karung yang di lapisi plastik ditimbang hingga 50 kg. Sedangkan berat karungnya adalah 0,2 kg. Jadi jumlah keseluruhan adalah 50,2 kg. Setelah sesuai dengan beratnya maka dijahit dan menuju ke lori dibawa ke gudang penyimpanan dan akan dipasarkan ke masyarakat. Timbangan yang digunakan berjenis berkel.

60

3.7.7 Bagian-bagian Stasiun Penyelesaian

3.J Gambar Stasiun Penyelesaian Keterangan : 1. Motor listrik 2. Roda gigi 3. Puli dan rem. 4. Mixer 5. Pengatur pengeluaran massecuite 6. Pipa steam 7. Poros putaran 8. Saringan 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Pipa penghisap Tromol dalam Stroop outlet Saluran kristal gula Talang goyang Stang pengatur tromol Kran pengatur steam Saklar

61

3.7.8 Skema Stasiun Penyelesaian

3.K Gambar Skema Stasiun Penyelesaian

62