Anda di halaman 1dari 110

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penanganan material secara manual seperti pengangkutan proses produksi yang menggunakan tenaga manusia masih banyak digunakan di sebagian perusahaan di indonesia. Selain mudah untuk dilakukan, pengangkutan material secara manual juga tidak mengeluarkan biaya penanganan yang terlalu tinggi. Namun terkadang perusahaan lupa untuk memperhatikan akibat dari pengangkutan material secara manual tersebut bagi kenyamanan dan kesehatan pekerja atau operator. Pada saat melakukan pekerjaan para pekerja sering merasakan keluhan pada bagian-bagian tertentu. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan pekerja dalam melakukan aktivitasnya. Tingginya tingkat cedera akibat aktivitas pengangkatan dan pemindahan beban akan berdampak buruk bagi perusahaan yaitu berupa penurunan produktivitas kerja perusahaan melalui beban biaya pengobatan yang besar. Tubuh manusia dirancang untuk melakukan aktivitas serhari-hari, adanya masa otot yang bobotnya lebih dari separuh tubuh memungkinkan manusia untuk dapat menggerakkan tubuh dan melakukan kerja. Dari sudut pandang ergonomi, setiap beban kerja yang diterima oleh seseorang harus sesuai dan seimbang terhadap kemampuan fisik, koknitif, maupun keterbatasan manusia menerima beban tersebut. Biomekanika adalah ilmu yang menggunakan hukum-hukum fisika dan konsep- konsep mekanika untuk mendeskripsikan gerakan dan gaya pada berbagai macam bagian tubuh ketika melakukan aktivitas. Faktor ini sangat berhubungan dengan pekerjaan yang bersifat material handling, seperti pengangkatan dan pemindahan secara manual, atau pekerjaan lain yang dominan menggunakan otot tubuh. Meskipun kemajuan teknologi telah banyak membantu aktivitas manusia, namun tetap saja ada beberapa pekerjaan manual yang tidak dapat dihilangkan dengan pertimbangan biaya maupun kemudahan. Pekerjaan ini membutuhkan usaha fisik sedang hingga besar dalam durasi waktu kerja tertentu. Biomekanika merupakan studi tentang karakteristik - karakteristik tubuh manusia dalam istilah mekanik. Biomekanika dioperasikan pada tubuh manusia baik saat tubuh dalam keadaan statis ataupun dalam keadaan dinamis. Contoh dari penerapan ilmu biomekanika adalah untuk menjelaskan efek getaran dan dampak yang timbul akibat kerja, menyelidiki karakteristik kolom tulang belakang, menguji penggunaan alat prosthetic, dan lain-lain. 1.2 Tujuan Praktikum 1.2.1 Tujuan Umum Tujuan praktikum ini adalah sebagai berikut : 1. Mampu menganalisa postur kerja dengan menggunakan metode RULA, REBA, dan OWAS, LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

45

MODUL 2 2. 3. 4. 5. 6.

APK DAN BIOMEKANIKA

Menggunakan konsep RULA, REBA, dan OWAS dalam mendeteksi postur kerja atau faktor resiko dalam suatu pekerjaan, Mampu melakukan pengukuran kerja fisik dan memanfaatkannya dalam perancangan metode kerja berdasarkan prinsip-prinsip biomekanika, Mengetahui besar beban kerja pada saat mengangkat beban kerja secara manual, Mampu memahami keterbatasan manusia terhadap beban kerja yang dibebankan pada anggota tubuh manusia, Mengetahui alat-alat yang digunakan dalam pengukuran kerja fisik berdasarkan prinsip-prinsip biomekanika.

1.2.2 Tujuan Khusus Tujuan khusus dari praktikum ini adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Mampu menaksir skor dan menganalisa postur kerja dengan metode RULA, REBA, dan OWAS, Mampu menganalisa tingkat kecelakaan yang mungkin terjadi yang diakibatkan oleh postur kerja tertentu, Mampu mengaplikasikan metode RWL (Recommended Weight Limit) dan LI (Lifting Index) dalam menghitung beban kerja pada saat mengangkat beban kerja secara manual, Mampu menganalisa perbaikan system kerja, merancang gerakan pemindahan benda kerja yang ergonomis, melakukan perbaikan dalam postur kerja, dan memberikan rekomendasi metode kerja yang lebih baik dari metode yang sudah ada.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

46

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Biomekanika Biomekanika adalah ilmu yang menggunakan hukum-hukum fisika dan konsep-konsep mekanika untuk mendeskripsikan gerakan dan gaya pada berbagai macam bagian tubuh ketika melakukan aktivitas. Biomekanika merupakan salah satu dari empat bidang penelitian informasi hasil ergonomi. Yaitu penelitian tentang kekuatan fisik manusia yang mencakup kekuatan atau daya fisik manusia ketika bekerja dan mempelajari bagaimana cara kerja serta peralatan harus dirancang agar sesuai dengan kemampuan fisik manusia ketika melakukan aktivitas kerja tersebut. Dalam biomekanik ini banyak disiplin ilmu yang mendasari dan berkaitan untuk dapat menopang perkembangan biomekanik. Disiplin ilmu ini tidak terlepas dari kompleksnya masalah yang ditangani oleh biomekanik ini. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat bagan (Gambar 2.1) di bawah ini:

Gambar 2.1 Diagram Ilmu Biomekanika Sumber: Contini dan Drill, 1966

Faktor ini sangat berhubungan dengan pekerjaan yang bersifat material handling, seperti pengangkatan dan pemindahan secara manual, atau pekerjaan lain yang dominant menggunakan otot tubuh. Meskipun kemajuan teknologi telah banyak membantu aktivitas manusia, namun tetap

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

47

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

saja ada beberapa pekerjaan manual yang tidak dapat dihilangkan dengan pertimbangan biaya maupun kemudahan. Pekerjaan ini membutuhkan usaha fisik sedang hingga besar dalam durasi waktu kerja tertentu, misalnya penanganan atau pemindahan material secara manual. Usaha fisik ini banyak mengakibatkan kecelakaan kerja ataupun low back pain, yang menjadi isu besar di negara-negara industri belakangan ini. Biomekanika merupakan studi tentang karakteristikkarakteristik tubuh manusia dalam istilah mekanik. Biomekanika dioperasikan pada tubuh manusia baik saat tubuh dalam keadaan statis ataupun dalam keadaan dinamis. Contoh dari penerapan ilmu biomekanika adalah untuk menjelaskan efek getaran dan dampak yang timbul akibat kerja, menyelidiki karakteristik kolom tulang belakang, menguji penggunaan alat prosthetic, dll. 2.2 Konsep Biomekanika Biomekanika diklasifikasikan menjadi dua, yaitu general biomechanics dan occupational

biomechanics.
2.2.1 General Biomechanic Adalah bagian dari Biomekanika yang berbicara mengenai hukumhukum dan konsepkonsep dasar yang mempengaruhi tubuh organik manusia baik dalam posisi diam maupun bergerak

general biomechanics dibagi menjadi 2, yaitu:


1. 2.

Biostatics adalah bagian dari biomekanika umum yang hanya menganalisis tubuh pada posisi
diam atau bergerak pada garis lurus dengan kecepatan seragam (uniform).

Biodinamic adalah bagian dari biomekanik umum yang berkaitan dengan gambaran gerakan
gerakan tubuh tanpa mempertimbangkan gaya yang terjadi (kinematik) dan gerakan yang disebabkan gaya yang bekerja dalam tubuh (kinetik) (Tayyari, 1997).

2.2.2 Occupational Biomechanic Didefinisikan sebagai bagian dari biomekanik terapan yang mempelajari interaksi fisik antara pekerja dengan mesin, material dan peralatan dengan tujuan untuk meminimumkan keluhan pada sistem kerangka otot agar produktifitas kerja dapat meningkat. Setelah melihat klasifikasi diatas maka dalam praktikum kita ini dapat kita kategorikan dalam Biomekanik Occupational

Biomechanic. Untuk lebih jelasnya disini akan kita bahas tentang anatomi tubuh yang menjadi
dasar perhitungan dan penganalisaan biomekanik. Dalam biomekanik ini banyak melibatkan bagian bagian tubuh yang berkolaborasi untuk menghasilkan gerak yang akan dilakukan oleh organ tubuh yakni kolaborasi antara tulang, jaringan penghubung (Connective Tissue) dan otot.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

48

MODUL 2 2.3 Prinsip-prinsip Biomekanika

APK DAN BIOMEKANIKA

Dasar dari prinsip kerja Biomekanika adalah Hukum Newton yang terdiri dari: 1. Hukum I Newton Bunyi Hukum I Newton: Selama jumlah gaya yang bekerja pada sebuah benda sama dengan nol (F = 0) maka benda akan berada dalam keadaan diam atau bergerak secara lurus beraturan (Kecepatannya konstan). Konsep dari hukum ini dikenal dengan kelembaman (Inersia) yaitu sifat suatu benda untuk cenderung mempertahankan kedudukannya. Benda yang diam cenderung untuk diam dan benda yang bergerak cenderung untuk terus bergerak. Contoh: ketika tubuh dalam keadaan istirahat semua otot dan organ lain juga dalam keadaan relaks. Maka ketika kita akan menggerakkannya harus dimulai dari perlahan lahan (perlu pemanasan). Jika secara tiba-tiba digerakkan maka kemungkinan akan mengakibatkan cedera pada organ tersebut. 2. Hukum II Newton Jika sebuah benda diberikan gaya maka benda tersebut akan bergerak dan mengalami Percepatan. Percepatan gerak sebuah benda berbanding lurus dengan besarnya gaya yang bekerja dan berbanding terbalik dengan besar masanya. F = m.a F = gaya (newton) m = massa (kilogram) a = percepatan (meter/sekon2) Konsep berat sama dengan gaya grafitasi berat merupakan hasil kali antara masa dengan percepatan grafitasi (w = mg). Contoh: Gaya otot yang diperlukan akan lebih besar ketika mengangkat beban yang berat dibandingkan dengan ketika mengangkat beban yang ringan, ketika mendorong sebuah sebuah kereta pasien atau kursi dorong gaya yang diperlukan lebih besar ketika mendorong pasien yang berbadan besar dibandingkan dengan ketika mendorong pasien yang bertubuh kecil. 3. Hukum III Newton Jika sebuah benda melakukan gaya pada benda lain maka benda tersebut akan mendapatkan balasan gaya yang besarnya sama tetapi arahnya berlawanan. Hukum ini dikenal dengan hukum aksi dan reaksi. Contoh: ketika telapak kaki menginjak tanah dan mendorong kearah belakang maka tanah akan membalas dengan memberikan gaya yang besarnya dengan arah kedepan sehingga badan akan terdorong maju. Prinsip-prinsip biomekanika dalam pengangkatan beban: 1. 2. Sesuaikan berat dengan kemapanan pekerja dengan mempertimbangkan frekuensi pemindahan. Manfaatkan dua atau lebih pekerja untuk memindahkan barang yang berat.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

49

MODUL 2 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

APK DAN BIOMEKANIKA

Ubahlah aktivitas jika mungkin sehingga lebih mudah, ringan dan tidak berbahaya. Minimasi jarak horizontal gerakan antara tempat mulai dan berakhir pada pemindahan barang. Material terletak tidak lebih tinggi dari bahu. Kurangi frekuensi pemindahan. Berikan waktu istirahat. Berlakukan rotasi kerja terhadap pekerjaan yang sedikit membutuhkan tenaga. Rancang kontainer agar mempunyai pegangan yang dapat dipegang dekat dengan tubuh. cidera punggung. Dalam biomekanika, banyak melibatkan bagian-bagian tubuh yang berkolaborasi untuk

10. Benda yang berat ditempatkan setinggi lutut agar dalam pemindahan tidak menimbulkan

menghasilkan gerak yang akan dilakukan oleh organ tubuh. 2.4 Manual Material Handling Meskipun telah banyak mesin yang digunakan pada berbagai industri untuk mengerjakan tugas pemindahan, namun jarang terjadi otomasi sempurna di dalam industri. Disamping pula adanya pertimbangan ekonomis seperti tingginya harga mesin otomasi atau juga situasi praktis yang hanya memerlukan peralatan sederhana. Sebagai konsekuensinya adalah melakukan kegiatan manual di berbagai tempat kerja. Bentuk kegiatan manual yang dominan dalam industri adalah

Manual Material Handling (MMH).


Definisi Manual Material Handling (MMH) adalah suatu kegiatan transportasi yang dilakukan oleh satu pekerja atau lebih dengan melakukan kegiatan pengangkatan, penurunan, mendorong, menarik, mengangkut, dan memindahkan barang. Selama ini pengertian MMH hanya sebatas pada kegiatan lifting dan lowering yang melihat aspek kekuatan vertikal. Padahal kegiatan MMH tidak terbatas pada kegiatan tersebut diatas, masih ada kegiatan pushing. Kegiatan MMH yang sering dilakukan oleh pekerja di dalam industri antara lain: 1. 2. 3. 4. Kegiatan pengangkatan benda (Lifting Task) Kegiatan pengantaran benda (Carrying Task) Kegiatan mendorong benda (Pushing Task) Kegiatan menarik benda (Pulling Task) Pemilihan manusia sebagai tenaga kerja dalam melakukan kegiatan penanganan material bukanlah tanpa sebab. Penanganan material secara manual memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut: 1. 2. Fleksibel dalam gerakan sehingga memberikan kemudahan pemindahan beban pada ruang terbatas dan pekerjaan yang tidak beraturan. Untuk beban ringan akan lebih murah bila dibandingkan menggunakan mesin. Tidak semua material dapat dipindahkan dengan alat.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

50

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Beberapa parameter yang harus diperhatikan dalam manual material handling adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Beban yang harus diangkat Perbandingan antara berat beban dan orangnya Jarak horizontal dari beban terhadap orangnya Ukuran beban yang akan diangkat (beban yang berdimensi besar akan mempunyai jarak CG (Center of Gravity) yang lebih jauh dari tubuh dan bisa mengganggu jarak pandangnya). 2.5 Faktor Resiko dan Bahaya Resiko Dalam pemidahan material secara manual terdapat faktor resiko dan bahaya resiko, yaitu sebagai berikut: 2.5.1 Faktor Resiko Beberapa faktor yang berpengaruh dalam pemindahan material adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. Berat beban yang harus diangkat dan perbandingannya terhadap berat badan operator. Jarak horizontal dan beban relatif terhadap operator. Ukuran beban yang harus diangkat (beban yang berukuran besar) akan memiliki pusat massa (center of gravity) yang letaknya jauh dari badan operator, hal tersebut akan menghalangi pandangan operator. 4. Ketinggian beban yang harus diangkat dan jarak perpindahan beban (mengangkat beban dari permukaan lantai akan relatif lebih sulit daripada mengangkat beban dari ketinggian permukaan pinggang). 5. 6. 7. 8. 9. Beban puntir (twisting load) pada badan operator selama aktivitas angkat beban. Prediksi terhadap berat beban yang diangkat. Hal ini adalah untuk mengantisipasi beban yang lebih berat dari yang diperkirakan. Stabilitas beban yang diangkat. Kemudahan untuk dijangkau pekerja. Berbagai macam rintangan yang menghalangi ataupun keterbatasan postur tubuh yang berada pada suatu tempat kerja. 10. Kondisi kerja yang meliputi: pencahayaan, tempetatur, kebisingan dan kelicinan lantai. 11. Frekuensi angkat yaitu banyaknya aktivitas angkat. 12. Metode angkat yang benar (tidak boleh mengangkat beban secara tiba-tiba). 13. Tidak terkoordinasinya kelompok kerja (lifting team). 14. Diangkatnya suatu beban dalam suatu periode. Hal ini adalah sama dengan membawa beban pada jarak tertentu dan memberi beban pada vertebral disc (VD) dan intervertebral disc (ID) pada vertebral colomn di daerah punggung.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

51

MODUL 2 2.5.2 Bahaya Resiko

APK DAN BIOMEKANIKA

Faktor resiko terpenting dari pengabaian faktor ergonomi dalam tempat kerja adalah MSDs (Muscoloskeletal Disorders). MSDs ini memungkinkan timbul dalam waktu yang cukup lama (adanya kumulatif resiko). Adapun faktor-faktor komulatif yang menyebabkan resiko tersebut, yaitu: 1.

Repetitive Motion
Melakukan gerakan yang sama berulang-ulang. Resiko yang timbul bergantung dari berapa

kali aktivitas tersebut dilakukan, kecepatan dalam gerakan / perpindahan, dan banyaknya otot yang terlibat dalam kerja tersebut. Gerakan yang berulang-ulang ini akan menimbulkan ketegangan pada syaraf dan otot yang berakumulatif. Dampak resiko ini akan semakin meningkat jika dilakukan denga postur yang kaku dan penggunaan usaha yang terlalu besar. 2.

Awkward Postures
Sikap tubuh sangat menentukan sekali pada tekanan yang diterima otot pada saat aktivitas

dilakukan. Awkward postures meliputi repetitif reaching, twisting, bending, kneeling, squatting,

working overhead dengan tangan atau lengan, dan menahan benda dengan posisi tetap. Sebagai
contoh terdapat tekanan yang berlebih pada bagian low back dalam aktivitas mengangkat benda, yang ditunjukkan pada gambar berikut.

Gambar 2.2 Awkward Postures Sumber : Anonim, 2007, http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/tmi/2007/jiunkpe-ns-s1-2007-25403095-9066welding_line-chapter2.pdf.

3.

Contact Stresses
Tekanan pada bagian tubuh karena sisi tepi atau ujung dari benda yang berkontak langsung.

Hal ini dapat menghambat fungsi kerja syaraf maupun aliran darah. Contohnya: kontak yang berulang-ulang dengan sisi yang keras atau tajam pada meja secara kontinu.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

52

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

4.

Gambar 2.3 Contact Stresses Sumber : Anonim, 2007, http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/tmi/2007/jiunkpe-ns-s1-2007-25403095-9066welding_line-chapter2.pdf.

Vibration

Getaran ini terjadi ketika spesifik bagian dari tubuh atau seluruh tubuh kontak dengan benda yang bergetar seperti penggunaan power handtool dan pengoperasian forklift mengangkat beban.

Gambar 2.4 Hand-Arm Vibration Sumber : Anonim, 2007, http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/tmi/2007/jiunkpe-ns-s1-2007-25403095-9066welding_line-chapter2.pdf.

Gambar 2.5 Whole Body Vibration Sumber : Anonim, 2007,http://digilib.petra.ac.id/jiun kpe/s1/tmi/2007/jiunkpe-ns-s1-2007-25403095-9066welding_line-chapter2.pdf.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

53

MODUL 2 5.

APK DAN BIOMEKANIKA

Forcefull Exertions (termasuk lifting, pushing, pulling) Force adalah jumlah usaha fisik yang digunakan untuk melakukan pekerjaan seperti

mengangkat benda berat. Jumlah tenaga bergantung pada tipe pegangan yang digunakan, berat objek, durasi aktivitas, postur tubuh, dan jenis aktivitasnya.

Gambar 2.6 Lifting Bulky Loads Sumber : Anonim, 2007, http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/tmi/2007/jiunkpe-ns-s1-2007-25403095-9066welding_line-chapter2.pdf.

6.

Duration
Durasi menunjukkan jumlah waktu yang digunakan dalam melakukan pekerjaan. Semakin lama

durasi dalam melakukan pekerjaan yang sama, maka akan semakin tinggi resiko yang diterima dan semakin lama juga waktu yang diperlukan untuk pemulihan tenaga pekerja. 7. Kondisi lain, seperti: a. b. c. Temperatur dingin atau panas Jam istirahat untuk pemulihan Dan lain-lain

2.6 Sistem Musculoskeletal Pekerjaan penanganan material secara manual (Manual Material Handling) yang terdiri dari mengangkat, menurunkan, mendorong, menarik dan membawa merupakan sumber utama komplain karyawan di industri (Ayoub & Dempsey, 1999).Aktivitas manual material handling (MMH) yang tidak tepat dapat menimbulkan kerugian bahkan kecelakaan pada karyawan. Akibat yang ditimbulkan dari aktivitas MMH yang tidak benar salah satunya adalah keluhan muskoloskeletal. Keluhan muskoloskeletal adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dalam jangka waktu yang lama akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen dan tendon. Keluhan inilah yang biasanya disebut sebagai muskoloskeletal disorder (MSDs) atau cedera pada sistem muskuloskeletal (Grandjean, 1993). Tingginya tingkat cidera atau kecelakaan kerja selain merugikan secara langsung yaitu sakit yang diderita oleh pekerja, kecelakaan tersebut juga akan berdampak buruk terhadap kinerja LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

54

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

perusahaan yaitu berupa penurunan produktivitas perusahaan, baik melalui beban biaya pengobatan yang cukup tinggi dan juga ketidakhadiran pekerja serta penurunan dalam kualitas kerja. 2.6.1 Sistem Tulang dan Rangka Tulang adalah alat untuk meredam dan mendistribusikan gaya/tegangan yang ada padanya. Tulang yang besar dan panjang berfungsi untuk memberikan perbandingan terhadap beban yang terjadi pada tulang tersebut. Kolaborasi antar tulang dapat menghasilkan gerakan yang dilakukan oleh organ tubuh. Tulang adalah alat untuk meredam dan mendistribusikan gaya/tegangan yang ada padanya. Tulang yang besar dan panjang berfungsi untuk memberikan perbandingan terhadap beban yang terjadi pada tulang tersebut. Dalam dengan kerangka manusia. aplikasinya, biomekanik selalu berhubungan

Gambar 2.7 Pandangan depan dan belakang dari sistem tulang manusia Sumber : Nurmianto, (2005:11)

Tulang juga selalu terikat dengan otot, dan jaringan penghubung (Connective Tissue) yakni ligamen,cartilage dan Tendon. Fungsi otot disini untuk menjaga posisi tubuh agar tetap sikap sempurna. Untuk dapat memenuhi desain atau perancangan produk baru maka diperlukan suatu peralatan yang sesuai dengan kebutuhan manusia, sehingga dibutuhkan pengetahuan mengenai kerangka pada manusia, Hal ini dilakukan agar diketahui karakter kerangka manusia dan sistem otot yang menyertainya. Karakteristik otot terutama berkaitan dengan dimensi dan kapasitasnya. Rangka-rangka yang ada pada manusia sebenarnya merupakan suatu hubungan atau garisgaris pada sistem pergerakan tubuh manusia ( link ), dimana pada rangka ini akan menempel ototLABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

55

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

otot yang bekerja secara sinergis dan antagonis. Rangka pada manusia terdiri dari tulang-tulang yang bersatu membentuk sebuah sistem pergerakan yang dikendalikan oleh otot. Rangka ini berfungsi sebagai alat untuk meredam dan mendistribusi gaya atau tegangan yang ada. 2.6.2 Sistem Otot Membahas masalah otot striatik yaitu otot sadar. Otot terbentuk atas visber (fibre), dengan ukuran panjang dari 10-40 mm dan berdiameter 0,01 - 0,1 mm dan sumber energi otot berasal dari pemecahan senyawa kaya energi melalui proses aerob maupun anaerob. 1.

Anaerobic
Yaitu proses perubahan ATP menjadi ADP dan energi tanpa bantuan oksigen. Glikogen yang

terdapat dalam otot terpecah menjadi energi, dan membentuk asam laktat. Dalam proses ini asam laktat akan memberikan indikasi adanya kelelahan otot secara lokal, karena kurangnya jumlah oksigen yang disebabkan oleh kurangnya jumlah suplai darah yang dipompa dari jantung. Misalnya jika ada gerakan yang sifatnya tiba-tiba (mendadak), lari jarak dekat (sprint), dan lain sebagainya. Sebab lain adalah karena pencegahan kebutuhan aliran darah yang mengandung oksigen dengan adanya beban otot statis. Ataupun karena aliran darah yang tidak cukup mensuplai oksigen dan glikogen akan melepaskan asam laktat. 2.

Aerobic
Yaitu proses perubahan ATP menjadi ADP dan enegi dengan bantuan oksigen yang cukup.

Asam laktat yang dihasilkan oleh kontraksi otot dioksidasi dengan cepat menjadi CO2 dan H2O dalam kondisi aerobic. Sehingga beban pekerjaan yang tidak terlalu melelahkan akan dapat berlangsung cukup lama. Di samping itu aliran darah yang cukup akan mensuplai lemak, karbohidrat dan oksigen ke dalam otot. Akibat dari kondisi kerja yang terlalu lama akan menyebabkan kadar glikogen dalam darah akan menurun drastis di bawah norma, dan kebalikannya kadar asam laktat akan meningkat, dan jika sudah demikian maka cara terbaik adalah menghentikan pekerjaan, kemudian istirahat dan makan makanan yang bergizi untuk membentuk kadar gula dalam darah. Hal tersebut di atas adalah merupakan proses kontraksi otot yang telah disederhanakan analisa pembangkit energinya, dan sekaligus menandakan arti pentingnya aliran darah untuk otot.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

56

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Gambar 2.8 Struktur Otot Manusia Sumber: Nurmianto, 2005:14

2.6.3 Sistem Persendian Persendian (artikulasi) merupakan hubungan antartulang sehingga tulang dapat digerakkan. Beberapa komponen penunjang sendi adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 1. Kapsula sendi adalah lapisan berserabut yang melapisi sendi. Di bagian dalamnya terdapat rongga. Ligamen (ligamentum) adalah jaringan pengikat yang mengikat luar ujung tulang yang saling membentuk persendian. Ligamentum juga berfungsi mencegah dislokasi. Tulang rawan hialin (kartilago hialin) adalah jaringan tulang rawan yang menutupi kedua ujung tulang. Berguna untuk menjaga benturan. Cairan sinovial adalah cairan pelumas pada kapsula sendi. Ada berbagai macam tipe persendian, yaitu: Sinartrosis Sinartrosis adalah persendian yang tidak memperbolehkan pergerakan. Dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: a. Sinartrosis sinfibrosis Sinartrosis yang tulangnya dihubungkan jaringan ikat fibrosa. Contoh: persendian tulang tengkorak. b. Sinartrosis sinkondrosis Sinartrosis yang dihubungkan oleh tulang rawan. Contoh: hubungan antarsegmen pada tulang belakang. 2. Diartrosis Diartrosis adalah persendian yang memungkinkan terjadinya gerakan. Dapat dikelompokkan menjadi: LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

57

MODUL 2 a. Sendi peluru

APK DAN BIOMEKANIKA

Persendian yang memungkinkan pergerakan ke segala arah. Contoh: hubungan tulang lengan atas dengan tulang belikat. b. Sendi pelana Persendian yang memungkinkan beberapa gerakan rotasi, namun tidak ke segala arah. Contoh: hubungan tulang telapak tangan dan jari tangan. c. Sendi putar Persendian yang memungkinkan gerakan berputar (rotasi). Contoh: hubungan tulang tengkorak dengan tulang belakang I (atlas). d. Sendi luncur Persendian yang memungkinkan gerak rotasi pada satu bidang datar. Contoh: hubungan tulang pergerlangan kaki. e. Sendi engsel Persendian yang memungkinkan gerakan satu arah. Contoh: sendi siku antara tulang lengan atas dan tulang hasta. 3. Amfiartosis Persendian yang dihubungkan oleh jaringan tulang rawan sehingga memungkinkan terjadinya sedikit gerakan. a. Sindesmosis Tulang dihubungkan oleh jaringan ikat serabut dan ligamen. Contoh:persendian antara fibula dan tibia. b. Simfisis Tulang dihubungkan oleh jaringan tulang rawan yang berbentuk seperi cakram. Contoh: hubungan antara ruas-ruas tulang belakang. 2.6.4 Keluhan Terhadap Sistem Muskuloskeletal Pekerjaan penanganan material secara manual (Manual Material Handling) yang terdiri dari mengangkat, menurunkan, mendorong, menarik dan membawa merupakan sumber utama komplain karyawan di industri (Ayoub & Dempsey, 1999).Aktivitas manual material handling (MMH) yang tidak tepat dapat menimbulkan kerugian bahkan kecelakaan pada karyawan. Akibat yang ditimbulkan dari aktivitas MMH yang tidak benar salah satunya adalah keluhan muskoloskeletal. Keluhan muskoloskeletal adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dalam jangka waktu yang lama akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen dan tendon. Keluhan inilah yang biasanya disebut sebagai muskoloskeletal disorder (MSDs) atau cedera pada sistem

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

58

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

muskuloskeletal (Grandjean, 1993). Tingginya tingkat cidera atau kecelakaan kerja selain merugikan secara langsung yaitu sakit yang diderita oleh pekerja, kecelakaan tersebut juga akan berdampak buruk terhadap kinerja perusahaan yaitu berupa penurunan produktivitas perusahaan, baik melalui beban biaya pengobatan yang cukup tinggi dan juga ketidakhadiran pekerja serta penurunan dalam kualitas kerja. Ada tiga keluhan utama yang sering dikeluhkan penderita yang mengalami gangguan muskuloskeletal, yaitu: 1. Perubahan bentuk (Deformitas) a. b. Bengkak Pada umumnya terjadi karena radang, tumor, pasca trauma, dan lain-lain Bengkok, misalnya: 1) 2) 3) c. 2. Varus, yaitu kelainan tulang bengkok keluar Valgus, yaitu kelainan tulang bengkok ke dalam seperti kaki X Genu varum, yaitu kaki seperti O Kelainan tulang yang dapat dibandingkan dengan kontralateral yang normal Gangguan Fungsi (Disfungsi), yaitu penurunan/hilangnya fungsi a. b. c. d. 3. a. b. c. d. e. Afungsi (tidak bisa digerakkan sama sekali) Kaku (stiffness) Cacat (disability) Gerakan tak stabil (instability) Riwayat trauma sebelumnya Riwayat infeksi tulang dan sendi seperti osteomielitis/arthritis Riwayat pembengkakan/tumor yang diderita Riwayat kelainan kongenital muskuloskeletal seperti CTEV Riwayat penyakit penyakit diturunkan seperti skoliosis, dan lain-lain

Pendek

Riwayat Penyakit Dahulu

2.7 Cidera Cidera kerja adalah kecelakaan yang terjadi di tempat dan saat bekerja. Menurut Bird and Germain (1990), cidera kerja adalah kejadian tidak diharapkan yang mengakibatkan kesakitan (cidera dan korban jiwa) pada pekerja/orang. Dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 3 tahun 1998 tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan, kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda. Tempat kerja merupakan ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka, bergerak atau di mana tenaga kerja

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

59

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan usaha dan di mana terdapat sumber cahaya. 2.7.1 Faktor Resiko Cidera Faktor resiko diasosiasikan dengan jumlah tugas yang dapat menyebabkan cidera muskuloskeletal. Faktor resiko digunakan untuk menganalisa tugas manual (manual task). Manual

task atau manual material handling memiliki interaksi yang kompleks antara pekerja dan
lingkungan kerja. Cara penggolongan faktor resiko cidera di berbagai negara tidak sama. Namun ada kesamaan umum, faktor resiko kemudian dikategorikan menjadi tiga bagian yaitu : 1. Tekanan langsung kepada tubuh. Hal ini meliputi faktor seperti tingkat tekanan pada muscular, postur/sikap kerja, pengulangan pekerjaan, getaran peralatan dan lama waktu kerja. 2. Kontribusi faktor resiko yang secara langsung mempengaruhi tuntutan kerja. Hal ini meliputi layout area kerja, penggunaan alat, penangan beban. Jika komponen ini di desain ulang pengaruh dari tekanan dapat dikurangi. 3. Memodifikasi faktor resiko dapat memberi masukan pada perubahan sikap kerja sehingga akibat dari faktor resiko dapat dikurangi. Cidera akibat kerja terjadi tanpa disangka-sangka dalam waktu sekejap mata. Benneth (1991) mengemukakan bahwa di dalam setiap kejadian cidera kerja, empat faktor bergerak dalam satu kesatuan berantai. 1. Faktor Manusia a. Umur Usia muda relatif mudah terkena kecelakaan kerja dibandingkan dengan usia lanjut yang mungkin dikarenakan sikap ceroboh dan tergesa-gesa. Pengkajian usia dan cidera akibat kerja menunjukkan angka kecelakaan yang pada umumnya lebih rendah dengan bertambahnya usia, tetapi tingkat keparahan cidera dan penyembuhannya lebih serius. Angka kejadian cidera lebih tinggi pada pekerja muda yaitu kurang dari 24 tahun (<24 tahun) dibandingkan pada pekerja lanjut usia (WHO, 1993). b. Jenis kelamin Tingkat cidera akibat kerja pada perempuan akan lebih tinggi daripada laki-laki. Perbedaan kekuatan fisik antara perempuan dengan kekuatan fisik laki-laki adalah 65%. Secara umum, kapasitas kerja perempuan rata-rata sekitar 30 % lebih rendah daripada laki-laki. Tugas yang berkaitan dengan gerak berpindah dengan gerak berpindah, laki-laki mempunyai waktu reaksi lebih cepat daripada perempuan, baik pergerakan tangan, kaki, dan lengan.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

60

MODUL 2 c. Koordinasi otot

APK DAN BIOMEKANIKA

Koordinasi otot berpengaruh terhadap keselamatan pekerja. Diperkirakan kekakuan dan reaksi yang lambat berperan dalam terjadinya cidera kerja. d. Kecenderungan cidera Konsep populer dalam penyebab cidera adalah accident prone theory. Teori ini didasarkan pada pengamatan bahwa ada pekerja yang lebih besar mengalami cidera dibandingkan pekerja lainnya. Hal ini disebabkan karena ciri-ciri yang ada dalam pribadi yang bersangkutan. e. Pengalaman kerja Semakin banyak pengalaman kerja dari seseorang, maka semakin kecil kemungkinan terjadinya cidera akibat kerja. Pengalaman untuk kewaspadaan terhadap cidera kerja bertambah baik sesuai dengan usia, masa kerja atau lamanya bekerja di tempat yang bersangkutan. f. Tingkat pendidikan Pendidikan formal dan pendidikan non-formal akan mempengaruhi peningkatan pengetahuan pekerja dalam menerima informasi dan perubahan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tuntutan pekerjaan atau job requirements pada seorang pekerja adalah: 1) 2) 3) g. Pengetahuan (pengetahuan dasar dan spesifik tentang pekerjaan) Fungsional (keterampilan dasar dan spesifik dalam mengerjakan suatu pekerjaan) Afektif (kemampuan dasar dan spesifikasi dalam suatu pekerjaan) Kelelahan dapat menimbulkan kecelakaan kerja pada suatu industri. Kelelahan merupakan suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup lagi untuk melakukan aktivitasnya. Kelelahan ini ditandai dengan adanya penurunan fungsi-fungsi kesadaran otak dan perubahan pada organ di luar kesadaran. Kelelahan disebabkan oleh beberapa hal, antara lain kurang istirahat, terlalu lama bekerja, pekerjaan rutin tanpa variasi, lingkungan kerja yang buruk, serta adanya konflik. (Silalahi, 1991). 2. Faktor lingkungan Lokasi/tempat kerja adalah tempat dilakukannya pekerjaan bagi suatu usah, dimana terdapat tenaga kerja yang bekerja, dan kemungkinan adanya bahaya kerja di tempat itu (Silalahi, 1991). Desain dari lokasi kerja yang tidak ergonomis dapat menimbulkan cidera kerja. Tempat kerja yang baik apabila lingkungan kerja aman dan sehat. 3. 4. Faktor bahaya Faktor peralatan dan perlengkapan

Kelelahan

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

61

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Proses produksi adalah bagian dari perencanaan produksi. Langkah penting dalam perencanaan adalah memilih peralatan dan perlengkapan yang efektif sesuai dengan apa yang diproduksinya. Pada dasarnya peralatan/perlengkapan mempunyai bagian-bagian kritis yang dapat menimbulkan keadaan bahaya, yaitu : a. b. Bagian fungsional Bagian operasional Bagian mesin yang berbahaya harus ditiadakan dengan jalan mengubah konstruksi, memberi alat perlindungan. Peralatan dan perlengkapan yang dominan menyebabkan kecelakaan kerja, antara lain : a. b. c. d. e. f. Peralatan/perlengkapan yang menimbulkan kebisingan Peralatan/perlengkapan dengan penerangan yang tidak efektif Peralatan/perlengkapan dengan temperatur tinggi ataupun terlalu rendah Peralatan/perlengkapan yang mengandung bahan-bahan kimia berbahaya Peralatan/perlengkapan dengan efek radiasi yang tinggi Peralatan/perlengkapan yang tidak dilengkapi dengan pelindung, dll. Sumber cidera kerja merupakan asal dari timbulnya kecelakaan, bisa berawal dari jenis peralatan/perlengkapannya, berawal dari faktor human error, dimana sumber dari kecelakaan merambat ke tempat-tempat lain, sehingga menimbulkan kecelakaan kerja. 2.7.2 Macam Cidera Secara umum, terdapat tiga macam cidera dalam dunia kerja, yaitu sakit pada tulang belakang bagian bawah, sakit pada tulang belakang bagian atas, dan sakit pada tangan dan pergelangan tangan. 1. Sakit pada Tulang Belakang Bagian Bawah Sebanyak 90% orang akan merasakan sakit tulang belakang pada beberapa titik di dalam kehidupannya. Mereka merasakan sakit tulang belakang pada bagian bawah untuk kedua kalinya sebagai alasan utama untuk melakukan perawatan medis. Sakit tulang belakang bagian bawah ini mewabah di Negara besar seperti Amerika Serikat. Hal itu sudah diperkirakan dan insiden timbulnya Lower Back Pain (LBP) per tahun adalah 5% dari populasi. Sekitar 70% dan 90% dari orang orang mengalami peristiwa kambuhnya rasa nyeri, dan sepertiga pasien mengalami nyeri yang persisten, rekuren, dan intermitten dari rasa nyeri yang pertama. Kesulitan menyembuhkan jaringan tertentu (seperti spondylolisthesis), proses degeneratif yang berkelanjutan, dan banyak pasien yang tidak memperkecil faktor resiko potensial. Semua ini dapat berperan dalam memperparah terjadinya LBP. Hal ini yang terpisah tetapi dengan sakit tulang belakang bagian bawah adalah cidera tulang belakang. Ini biasanya secara akut, peristiwa mendadak sakit tulang belakang atau

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

62

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

penyakit pegal pada pinggang berhubungan dengan suatu peristiwa yang spesifik. Cidera seperti itu pada umumnya tidak dianggap sebagai MSDs yang dihubungkan dengan gerakan berulang. Meskipun demikian, ada juga cidera seperti itu yang menyebabkan rasa sakit apabila melakukan gerakan berulang tertentu. Perawatan dari sakit tulang belakang bagian bawah in harus dibedakan untuk masing-masing pasien. Karena penyebab timbulnya rasa sakit pada tiap-tiap pasien itu berbeda-beda. Sementara ada bukti ilmiah yang mendukung intervensi spesifik, seperti koreksi postur tubuh, posisi tubuh pasien, latihan umum, dan teknik-teknik fisioterapi spesifik yang mungkin akan sangat bermanfaat. 2. Sakit pada Tulang Belakang Bagian Atas Beberapa individu melaporkan adanya rasa sakit pada tulang belakang bagian atas dan tengah. Tulang thorax (thoracic spine) dirancang untuk mendukung organ penting didalamnya dan sangat kuat. Jarang sekali mengalami gejala-gejala degeneratif karena pergerakannya kecil dan sangat stabil. Tentu saja trauma atau cidera dari ketegangan bisa menyebabkan rasa nyeri. Meski struktur - struktur dari tulang belakang jarang cidera, tetapi beberapa kondisi-kondisi seperti osteoporosis dapat mempengaruhi kondisi spesifik seperti tekanan yang mematahkan. Tulang thorax sering dilibatkan dalam skoliosis yang idiopatik atau kebongkokan. Hal ini kemudian dapat berkembang menjadi kondisi yang menyakitkan, meski sumber dan penyebab yang tepat sering belum jelas. Mungkin hal tersebut merupakan penyebab yang sering timbul pada bagian pertengahan tulang belakang, tetapi sekali lagi sangatlah sulit untuk dapat mendiagnosa dengan tepat nyeri otot dari otot-otot postural dan otot-otot tulang belikat. Kontribusi dari postur yang abnormal, postur statis, kekuatan dan daya tahan yang lemah dan menyeluruh mempengaruhi keadaan individu dan perlu untuk diperhitungkan. Beberapa usaha rehabilitasi harus melibatkan otot-otot yang besar, termasuk peregangan, latihan-latihan penguatan, aktivitas fungsional, dan perhatian pada postur tubuh. 3. Sakit pada Tangan dan Pergelangan Tangan MSDs dari tangan dan pergelangan tangan dapat terjadi dalam bermacam-macam bentuk seperti, kelainan trauma kumulatif, cidera karena ketegangan, trauma mikro karena pekerjaan berulang, sindrom penggunaan berlebih, sindrom terowongan karpus (carpal tunnel

syndrome) dan kelainan karena tekanan yang berulang. Hal dominan yang menjadi penyebab
kelainan gerakan berulang adalah gerakan-gerakan pembelokan dan perluasan dari pergelangan tangan dan jari-jari. Secara kronis gerakan berulang tersebut terutama pada posisi pinch menjadi penyebab terbanyak. Hal umum lain yang menyokong faktor-faktor terjadinya cidera pada tangan dan pergelangan tangan termasuk gerakan-gerakan di mana pergelangan tangan itu menyimpang dari posisi netral menjadi posisi yang abnormal ataupun tidak biasa; bekerja untuk periode waktu yang lama tanpa istirahat atau pertukaran otot-otot tangan dan lengan bawah; tekanan mekanik pada persarafan dari genggaman pada tepi tajam

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

63

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

dari instrument, pekerjaan yang membutuhkan kekuatan berlebih dan memperluas penggunaan dari instrumen-instrumen yang bergetar seperti Dental handpieces. 2.7.3 Upaya Mencegah Cidera Adapun upaya mencegah cidera antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. sediakan kalori secukupnya untuk input tubuh bekerja menggunakan metode kerja yang baik memperhatikan kemampuan tubuh. memperhatikan waktu kerja yang teratur mengatur lingkungan fisik sebaik-baiknya

2.8 Kelelahan Dalam biomekanik kita akan berurusan dengan salah satu kejadian yang dinamakan kelelahan. Kelelahan ini tidak lepas dari biomekanik karena dalam aplikasinya biomekanik melihat orang secara mekanik, tetapi kodrat kemanusiaan pada manusia tidak dapat dikesampingkan sehingga manusia/pekerja mempunyai keterbatasan yaitu salah satunya keadaan yang dinamakan lelah. Kelelahan adalah proses menurunnya efisiensi performansi kerja dan berkurangnya kekuatan atau ketahanan fisik tubuh manusia untuk melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan. Dalam bahasan lain, kelelahan didefinisikan sebagai suatu pola yang timbul pada suatu keadaan yang secara umum terjadi pada setiap individu yang telah tidak sanggup lagi untuk melakukan aktivitasnya. Ada beberapa macam kelelahan yang diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti: 1. 2. 3. 4. Lelah otot, yang diindikasikan dengan munculnya gejala kesakitan ketika otot harus menerima beban berlebihan. Lelah visual, yaitu lelah yang diakibatkan ketegangan yang terjadi pada organ visual (mata) yang terkonsentrasi secara terus menerus pada suatu objek. Lelah mental, yaitu kelelahan yang datang melalui kerja mental seperti berfikir sering juga disebut sebagai lelah otak. Lelah monotonis, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh aktivitas kerja yang bersifat rutin, monoton, ataupun lingkungan kerja yang menjemukan. Sedangkan kelelahan yang disebabkan oleh sejumlah faktor yang berlangsung secara terus menerus dan terakumulasi, akan menyebabkan apa yang disebut dengan lelah kronis. Di mana gejala-gejala yang tampak jelas akibat lelah kronis dapat dicirikan seperti: 1. 2. 3. Meningkatnya emosi dan rasa jengkel sehingga orang menjadi kurang toleran atau asosial terhadap orang lain. Munculnya sikap apatis terhadap pekerjaan. Depresi yang berat.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

64

MODUL 2 2.8.1.Proses Terjadinya Kelelahan

APK DAN BIOMEKANIKA

Kelelahan terjadi karena terkumpulnya produk-produk sisa dalam otot dan peredaran darah, dimana produk-produk sisa ini bersifat membatasi kelangsungan aktivitas otot dan mempengaruhi serat-serat syaraf dan sistem syaraf pusat sehingga orang menjadi lambat bekerja. Makanan yang mengandung glikogen mengalir dalam tubuh melalui peredaran darah. Setiap kontraksi dari otot selalu diikuti oleh kimia (oksidasi glukosa) yang merubah glikogen menjadi tenaga, panas dan asam laktat (produk sisa). Pada dasarnya kelelahan timbul karena terakumulasinya produk sisa dalam otot dan tidak seimbangnya antara kerja dan proses pemulihan. Secara lebih jelas terdapat 3 penyebab timbulnya kelelahan fisik, yaitu: 1. Oksidase glukosa dalam otot menimbulkan CO2 ,saerolactic, phosphati dan sebagainya, dimana zat-zat tersebut terikat dalam darah yang kemudian dikeluarkan waktu bernafas. Kelelahan terjadi apabila pembentukan zat-zat tersebut tidak seimbang dengan proses pengeluaran, sehingga timbul penimbunan dalam jaringan otot yang mengganggu kegiatan otot selanjutnya. 2. Karbohidrat didapat dari makanan dirubah jadi glukosa dan disimpan dihati dalam bentuk glukogen. Setiap cm2 darah normal akan membawa 1 mm glukosa, berarti setiap sirkulasi darah hanya membawa 0,1% dari sejumlah glikogen yang ada dalam hati karena bekerja persediaan glikogen akan menipis dan kelelahan akan timbul apabila konsentrasi glikogen dalam hati tinggal 0,7%. 3. Dalam keadaan normal jumlah udara yang masuk dalam pernafasan kira-kira 4 Lt/menit, sedangkan dalam keadaan kerja keras dibutuhkan udara kira-kira 15 Lt/menit. Ini berarti pada suatu tingkat kerja tertentu akan dijumpai suatu keadaan dimana jumlah oksigen yang masuk melalui pernafasan lebih kecil dari tingkat kebutuhan. Jika hal ini terjadi maka kelelahan yang timbul dikarenakan reaksi oksidasi dalam tubuh yaitu untuk mengurangi asam laktat menjadi air dan karbon dioksida agar dikeluarkan dari tubuh, menjadi tidak seimbang dengan pembentukan asam laktat itu sendiri (asam laktat terakumulasi dalam otot dalam peredaran darah). 2.8.2 Gejala-gejala Terjadinya Kelelahan Secara pasti datangnya kelelahan yang menimpa pada diri seseorang akan sulit untuk diidentifikasikan secara jelas. Mengukur lingkungan kelelahan seseorang bukanlah pekerjaan yang mudah. Prestasi ataupun performansi kerja yang bisa mengevaluasi tingkatan kelelahan. Kelelahan dapat kita lihat melalui indikasi-indikasi (gejala-gejala) sebagai berikut:

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

65

MODUL 2 1. 2. Perhatian pekerja yang menurun.

APK DAN BIOMEKANIKA

Perasaan berat dikepala, menjadi lelah seluruh badan, kaki terasa berat menguap, pikiran merasa kacau, mata merasa berat, kaku dan canggung dalam gerakan tidak seimbang dalam berdiri terasa berbaring.

3.

Merasa susah berpikir, menjadi gugup tidak dapat konsentrasi tidak dapat mempunyai perhatian terhadap sesuatu, cenderung lupa, kurang kepercayaan, cemas terhadap sesuatu tidak dapat mengontrol sikap, dan tidak tekun dalam pekerjaan.

4.

Sakit kekakuan bahu nyeri di pinggang pernafasan merasa tertekan suara serat, haus, terasa pening , spasme dari kelopak mata, tremor pada anggota badan merasa kurang sehat badan.

2.8.3 Upaya Mengurangi Kelelahan Problematika kelelahan akhirnya membawa manajemen untuk selalu berupaya mencari jalan keluar. Karena apabila kelelahan tidak segera ditangani secara serius akan menghambat produktivitas kerja dan bisa menyebabkan kecelakaan kerja. Adapun upaya-upaya untuk mengurangi kelelahan adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sediakan kalori secukupnya sebagai input untuk tubuh. Bekerja menggunakan metode kerja yang baik. Misalkan bekerja dengan menggunakan prinsip ekonomi gerakan. Memperhatikan kemampuan tubuh, artinya mengeluarkan tenaga tidak melebihi pemasukannya dengan memperhatikan batasan- batasannya. Memperhatikan waktu kerja yang teratur. Berarti harus dilakukan pengaturan terhadap jam kerja, waktu istirahat, dan sarana-sarananya. Masa libur dan rekreasi. Mengatur lingkungan fisik sebaik-baiknya, seperti temperatur, kelembaban, sirkulasi udara, pencahayaan kebisingan getaran, bau/wangi-wangian, dll. Berusaha untuk mengurangi monotoni warna dan dekorasi ruangan kerja, menyediakan musik, menyediakan waktu-waktu olah raga, dll. 2.8.4 Penyebab Kelelahan Kelelahan yang terjadi dapat disebabkan berbagai hal, penyebab kelelahan secara garis besar adalah: 1. Penyakit tertentu Adanya penyakit tertentu seperti flu, anemia, diabetes mellitus, gangguan tidur atau gangguan kelenjar tiroid dapat menyebabkan seseorang mengalami kelelahan. 2. Psikologis Seperti depresi, kecemasan, stres dan kesedihan

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

66

MODUL 2 3. Gaya Hidup

APK DAN BIOMEKANIKA

Seperti kurang tidur, terlalu banyak tidur, konsumsi alkohol, diet yang salah, kurang olahraga dan kurang nutrisi. 4. Kondisi Kerja Misalnya: kerja shift, suasana tempat kerja yang buruk, workaholic (kecanduan kerja), suhu maupun penyinaran ruang kerja, kebisingan, beban kerja, juga pekerjaan yang monoton. 2.9 Metode-metode Analisis Postur Kerja Untuk mengetahui baik tidaknya postur kerja dapat dianalisis dengan menggunakan metodemetode analisis postur kerja, yaitu Rapid Upper Limb Assessment (RULA), Rapid Entire Body

Assessment (REBA), dan Metode Analitik.


2.9.2 Metode RULA

Rapid Upper Limb Assessment (RULA) adalah sebuah metode untuk menilai postur, gaya dan
gerakan suatu aktivitas kerja yang berkaitan dengan penggunaan anggota tubuh bagian atas (upper limb). Metode ini dikembangkan untuk menyelidiki resiko kelainan yang akan dialami oleh seorang pekerja dalam melakukan aktivitas kerja yang memanfaatkan anggota tubuh bagian atas (upper limb). Metode ini menggunakan diagram postur tubuh dan tiga tabel penilaian untuk memberikan evaluasi terhadap faktor resiko yang akan dialami oleh pekerja. Faktor-faktor resiko yang diselidiki dalam metode ini adalah yang telah dideskripsikan oleh McPhee sebagai faktor beban eksternal (external load factors), yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. Jumlah gerakan Kerja otot statis Gaya/kekuatan Penentuan postur kerja oleh peralatan Waktu kerja tanpa istirahat Setiap individu pekerja pasti mempunyai perbedaan-perbedaan, yaitu postur kerja, kecepatan gerakan, akurasi gerakan, frekuensi dan lamanya delay, umur dan pengalaman, dan faktor sosial. Oleh sebab itu, RULA didesain untuk membahas faktor-faktor resiko di atas terutama pada 4 faktor eksternal pertama. Adapun tujuan dari metode ini adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. Sebagai metode yang dapat dengan cepat mengurangi resiko cidera pada pekerja, khususnya yang berkaitan dengan tubuh bagian atas. Mengidentifikasi bagian tubuh yang mengalami kelelahan dan kemungkinan terbesar mengalami cidera. Memberikan hasil analisis dan perbaikan.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

67

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Prosedur dalam pengembangan metode RULA meliputi tiga tahap, yaitu: 1. Pengembangan metode untuk merekam postur kerja Untuk menghasilkan sebuah metode kerja yang cepat untuk digunakan, tubuh dibagi dalam segmen-segmen yang membentuk dua kelompok atau grup yaitu grup A dan B. Grup A meliputi bagian lengan atas dan bawah, serta pergelangan tangan. Sementara grup B meliputi leher, punggung, dan kaki. Hal ini untuk memastikan bahwa seluruh postur tubuh terekam, sehingga segala kejanggalan atau batasan postur oleh kaki, punggung atau leher yang mungkin saja mempengaruhi postur anggota tubuh bagian atas dapat tercakup dalam penilaian. a. Grup A 1) Lengan bagian atas Jangkauan gerakan untuk lengan bagian atas (upper arm) dinilai dan diberi skor berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh Tichauer, Chaffin, Herberts et al, Schuldt et al, dan Harms-Ringdahl & Schuldt. Skornya sebagai berikut : a) b) c) d) 1 untuk ekstensi 20 dan fleksi 20 2 untuk ekstensi lebih dari 20 atau fleksi antara 20-45 3 untuk fleksi antara 45-90 4 untuk fleksi lebih dari 90 Jika bahu terangkat, skor dari postur di atas ditambahkan 1. Jika lengan bagian atas abduksi maka skor postur juga ditambahkan 1. Sedangkan bila operator bersandar atau berat lengan disangga atau diberi penyangga, skor postur di atas dikurangkan 1.

Gambar 2.9 Standar RULA untuk postur lengan bagian atas Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

2)

Lengan bagian bawah Jangkauan untuk lengan bagian bawah (lower arm) dikembangkan berdasarkan penelitian Grandjean dan Tichauer. Skornya sebagai berikut : a) b) 1 untuk fleksi 60-100 2 untuk fleksi kurang dari 60 atau lebih dari 100

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

68

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Jika lengan bagian bawah bekerja melewati garis tengah (midline) tubuh atau berada di luar sisi tubuh, maka skor postur di atas ditambahkan 1.

Gambar 2.10 Standar RULA untuk postur lengan bagian bawah Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

3)

Pergelangan tangan Panduan untuk pergelangan tangan (wrist) yang diterbitkan oleh Health and

Safety Executive digunakan untuk menghasilkan skor postur berikut:


a) b) c) 1 jika pada posisi netral 2 untuk fleksi dan ekstensi 0-15 3 untuk fleksi dan ekstensi lebih dari 15 Jika pergelangan tangan dalam gerakan ulnar maupun radial, maka skor postur ditambahkan 1.

Gambar 2.11 Standar RULA untuk postur pergelangan tangan Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

Pronasi dan supinasi pergelangan tangan ditentukan menyertai postur netral berdasarkan Tichauer. Skornya sebagai berikut : a) b) b. Grup B 1) Leher Jangkauan postur untuk leher (neck) didasarkan pada studi yang dilakukan oleh Chaffin dan Kilbom et al. Skor dan jangkauannya sebagai berikut: a) b) 1 untuk fleksi 0-10 2 untuk fleksi 10-20 LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA 1 jika pergelangan tangan berputar dalam jangkauan tengah 2 jika pergelangan tangan berputar dekat atau pada akhir jangkauan

69

MODUL 2 c) d) 3 untuk fleksi lebih dari 20 4 bila dalam posisi ekstensi

APK DAN BIOMEKANIKA

Jika leher berputar, skor postur ditambahkan 1. Jika leher bergerak ke samping, skor postur ditambahkan 1.

Gambar 2.12 Standar RULA untuk postur leher Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

2)

Punggung Jangkauan gerakan punggung (trunk) dikembangkan dari Drury, Grandjean dan Grandjean et al. Skor posturnya sebagai berikut : a) b) c) d) 1 jika duduk dan tersangga baik dengan sudut antara pinggul dan punggung 90 atau lebih 2 untuk fleksi 0-20 3 untuk fleksi 20-60 4 untuk fleksi lebih dari 60 Jika punggung memuntir, maka skor postur ditambahkan 1. Jika punggung melentur ke samping, maka skor postur ditambahkan 1.

Gambar 2.13 Standar RULA untuk postur punggung Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

3)

Kaki Skor postur kaki (legs) ditentukan sebagai berikut : a) b) c) 1 jika kaki dan telapak kaki tersangga dengan baik ketika duduk dengan berat yang seimbang. 1 jika berdiri dengan berat tubuh terdistribusi secara merata pada kedua kaki, dengan ruang untuk mengganti posisi. 2 jika kaki dan telapak kaki tidak tersangga atau berat tidak merata seimbang.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

70

MODUL 2 2.

APK DAN BIOMEKANIKA

Pengembangan sistem skor untuk pengelompokan bagian tubuh. Sebuah skor tunggal dibutuhkan dari Grup A dan B yang dapat mewakili tingkat pembebanan

postur dari sistem muskuloskeletal kaitannya dengan kombinasi postur bagian tubuh.Rekaman video yang dihasilkan dari postur Grup A yang meliputi lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan dan putaran pergelangan tangan diamati dan ditentukan skor untuk masing-masing postur. Kemudian skor tersebut dimasukkan dalam tabel A untuk memperoleh skor A.
Tabel 2.1 Skor Postur Grup A (Tabel A)

Rekaman video yang dihasilkan dari postur Grup B yaitu leher, punggung dan kaki diamati dan ditentukan skor untuk masing-masing postur. Kemudian skor tersebut dimasukkan ke dalam tabel B untuk memperoleh skor B.
Tabel 2.2 Skor Postur Grup B (Tabel B)

Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005fisiologi.pdf.

Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005 -fisiologi.pdf.

Sistem penilaian dilanjutkan dengan melibatkan otot (mucle) dan tenaga (force) yang digunakan. Skor yang melibatkan penggunaan otot dikembangkan berdasarkan penelitian Drury, yaitu tambahkan (+) 1 jika postur statis (dipertahankan dalam waktu 1 menit) atau penggunaan postur tersebut berulang lebih dari 4 kali dalam 1 menit. Skor untuk penggunaan tenaga (beban) dikembangkan berdasarkan penelitian Putz-Anderson dan Stevenson dan Baida, yaitu sebagai berikut:

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

71

MODUL 2 a. b. c. d.

APK DAN BIOMEKANIKA

Jika pembebanan sesekali atau tenaga kurang dari 2 Kg dan ditahan maka skor tidak ditambah. Tambahkan (+) 1 jika beban sesekali antara 2 10 Kg. Tambahkan (+) 2 jika beban 2 10 Kg bersifat statis atau berulang-ulang atau beban sesekali namun lebih dari 10 Kg. Tambahkan (+) 3 jika beban (tenaga) lebih dari 10 Kg dialami secara statis atau berulang dan atau jika pembebanan seberapapun besarnya dialami dengan sentakan cepat.

Skor penggunaan otot (muscle) dan skor tenaga (force) pada Grup tubuh bagian A dan B diukur dan dicatat dalam kotak-kotak yang tersedia kemudian ditambahkan dengan skor yang berasal dari tabel A dan B seperti pada lembar skor berikut :

Gambar 2.14 Diagram penilaian RULA Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

Hasil penjumlahan skor penggunaan otot (muscle) dan tenaga (force) dengan Skor Postur A menghasilkan Skor C. Sedangkan penjumlahan dengan Skor Postur B menghasilkan Skor D. 3. Pengembangan Grand Score dan Action List Tahap ini bertujuan untuk menggabungkan Skor C dan Skor D menjadi suatu grand score tunggal yang dapat memberikan panduan terhadap prioritas penyelidikan / investigasi berikutnya. Tiap kemungkinan kombinasi Skor C dan Skor D telah diberikan peringkat, yang disebut grand

score dari 1-7 berdasarkan estimasi resiko cidera yang berkaitan dengan
pembebanan musculoskeletal.

Gambar 2.15 Grand Score (Tabel C) Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

72

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Berdasarkan grand score dari Tabel C, tindakan yang akan dilakukan dapat dibedakan menjadi 4 action level berikut : a.

Action Level 1
Skor 1 atau 2 menunjukkan bahwa postur dapat diterima selama tidak dijaga atau berulang untuk waktu yang lama.

b.

Action Level 2
Skor 3 atau 4 menunjukkan bahwa penyelidikan lebih jauh dibutuhkan dan mungkin saja perubahan diperlukan.

c. d.

Action Level 3
Skor 5 atau 6 menunjukkan bahwa penyelidikan dan perubahan dibutuhkan segera.

Action Level 4
Skor 7 menunjukkan bahwa penyelidikan dan perubahan dibutuhkan sesegera mungkin (mendesak).
Tabel 2.3 Action Level
Action Level 1 2 3 4 Nilai 1 atau 2 3 atau 4 5 atau 6 7 Tingkat kepentingan Perbaikan Tidak Perlu Perbaikan Diperlukan perbaikan Implementasi dari perbaikan Dilakukan perbaikan Implementasi dan perbaikan dilaksanakan secepatnya Dilakukan perbaikan Implementasi dan perbaikan mendesak untuk dilaksanakan

Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

Aplikasi Metode RULA adalah sebagai berikut: 1. Alat untuk melakukan analisis awal yang mampu menentukan seberapa jauh risiko pekerja untuk terpengaruh oleh faktor-faktor penyebab cedera,yaitu: a. b. c. d. 2. 3. Postur Kontraksi otot statis Gerakan repetitive Gaya

Menentukan prioritas pekerjaan berdasarkan faktor risiko cedera. Hal ini dilakukan dengan membandingkan nilai tugas-tugas yang berbeda yang dievaluasi menggunakan RULA. Menemukan tindakan yang paling efektif untuk pekerjaan yang memiliki risiko relatif tinggi. Analisis dapat menentukan kontribusi tiap faktor terhadap suatu pekerjaan secara keseluruhan dengan cara melalui nilai tiap faktor risiko.

4.

Menemukan sejauh mana penngaruh suatu modifikasi atas pekerjaan. Perbaikan secara kuantitatif dapat diukur dengan cara membandingkan penilaian sebelum dan sesudah modifikasi diterapkan. LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

73

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Gambar 2.16 RULA Employee Assesment Worksheet Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

2.9.3 Metode REBA Sebuah metode dalam bidang ergonomi yang digunakan secara cepat untuk menilai postur leher, punggung, lengan, pergelangan tangan dan kaki seorang pekerja luka-luka yang dialami di tempat kerja dikenal sebagai Musculos Keletal Disorder (MSDS). MSDS juga didefinisikan sebagai gangguan dan penyakit pada otot yang telah terbukti atau dihipotesa yang disebabkan dengan pekerjaan. REBA merupakan suatu metode penelitian untuk penilaian tubuh dengan cepat secara keseluruhan. Metode ini tidak membutuhkan peralatan spesial dalam penilaian postur punggung, leher, kaki, dan lengan tangan dan pergelangan tangan. Setiap pergerakan diberi dengan skor yang telah ditetapkan. REBA dikembangkan sebagai suatu metode untuk menilai postur kerja yang merupakan faktor resiko (risk factor). Metode ini didesain untuk menilai pekerja dan mengetahui Muscules keletal yangg kemungkinan dapat menimbulkan gangguan pada anggota tubuh. Dalam usaha untuk penilaian 4 (empat) faktor beban eksternal, jumlah gerakan, kerja otot statis, tenaga/ kekuatan, dan postur, REBA dikembangkan untuk: 1. 2. 3. Memberikan sebuah metode penyaringan suatu populasi kerja yang beresiko menyebabkan gangguan pada anggota tubuh, Mengidentifikasi usaha otot yang berhubungan dengan postur kerja, penggunaan tenaga dan kerja yang berulang-ulang yang dapat menimbulkan kelelahan (fatigue) otot, Memberikan hasil yang dapat digabungkan dengan sebuah metode penilaian ergonomi, yaitu epidemiologi, fisik, mental, lingkungan dan faktor organisasi.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

74

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Untuk melakukan penilaian postur dan pergerakan kerja dengan menggunakan metode REBA melalui tahapantahapan sebagai berikut (Hignett dan McAtamney, 2000) : 1. Untuk mendapatkan gambaran sikap (postur) pekerja dari leher, punggung, lengan, pergelangan tangan hingga kaki secara terperinci dilakukan dengan merekam atau memotret postur tubuh pekerja. Hal ini dilakukan supaya peneliti mendapatkan data postur tubuh secara detail (valid), sehingga dari hasil rekaman dan hasil foto bisa didapatkan data akurat untuk tahap perhitungan serta analisis selanjutnya. 2. Penentuan sudutsudut dari bagian tubuh pekerja. Setelah didapatkan hasil rekaman dan foto postur tubuh dari pekerja dilakukan perhitungan besar sudut dari masing masing segmen tubuh yang meliputi punggung (batang tubuh), leher, lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan dan kaki. Pada metode REBA segmen segmen tubuh tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu grup A dan B. Grup A meliputi punggung (batang tubuh), leher dan kaki. Sementara grup B meliputi lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan. Dari data sudut segmen tubuh pada masingmasing grup dapat diketahui skornya, kemudian dengan skor tersebut digunakan untuk melihat tabel A untuk grup A dan tabel B untuk grup B agar diperoleh skor untuk masingmasing tabel. Berikut merupakan tabel A dan tabel B untuk skoring pada metode REBA :
Tabel 2.4 Tabel A pada Metode REBA

Sumber: Nur W,2009,http://nur-w.blogspot.com/2009/05/rapid-entire-bodyassessment-reba.html. Tabel 2.5 Tabel B pada Metode REBA

Sumber: Nur W,2009,http://nur-w.blogspot.com/2009/05/rapid-entire-bodyassessment-reba.html.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

75

MODUL 2
Tabel 2.6 Tabel C pada Metode REBA

APK DAN BIOMEKANIKA

Sumber: Nur W,2009,http://nur-w.blogspot.com/2009/05/rapid-entire-bodyassessment-reba.html. Tabel 2.7 Level Resiko dan Tindakan

Sumber: Nur W,2009,http://nur-w.blogspot.com/2009/05/rapid-entire-body-assessment-reba.html.

Langkah-langkah yang diperlukan dalam menerapkan metode REBA, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Mengambil data gambar posisi tubuh ketika bekerja. Menentukan Penentuan bagian-bagian nilai untuk dari tubuh yang akan diamati, tubuh dan untuk antara lain batang tubuh, pergelangan tangan, leher, kaki, lengan atas, dan lengan bawah. masing-masing postur penentuan memperoleh

activity
nilai

score.
Penjumlahan REBA. Penentuan level resiko dan pengambilan keputusan untuk perbaikan. Membuat desain metode, fasilitas dan lingkungan kerja. Implementasi dan evaluasi desain metode, fasilitas, dan lingkungan kerja. Penilaian Evaluasi ulang dengan menggunakan nilai REBA metode untuk REBA kondisi untuk desain baru dan yang setelah telah diimplementasikan. perbandingan sebelum implementasi desain perbaikan. nilai masing-masing kategori

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

76

MODUL 2 Keuntungan dari metode REBA, antara lain: 1. 2. 3. Metode cepat. ini dapat menganalisa pekerjaan

APK DAN BIOMEKANIKA

berdasarkan

posisi

tubuh

dengan

Menganalisa faktor-faktor resiko yang ada dalam melakukan pekerjaan. Metode Teknik kemudian ini cukup peka membagi kode-kode untuk tubuh secara menganalisa kedalam pekerjaan dan beban tertentu kerja yang berdasarkan posisi tubuh ketika bekerja.

4.

penilaian diberi

bagian-bagian berdasarkan

individual

bidang-bidang

geraknya untuk kemudian diberikan nilai.

Gambar 2.17 REBA Employee Assesment Worksheet Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

2.9.4 Metode OWAS

Ovako Work Posture Analysis System (OWAS) dimulai pada tahun tujuh puluhan di perusahaan
Ovako Oy Finlandia (sekarang Fundia Wire). Metode ini dikembangkan oleh Karhu dan kawankawannya di Laboratorium Kesehatan Buruh Finlandia (Institute of Occupational Health). Lembaga ini mengkaji tentang pengaruh sikap kerja terhadap gangguan kesehatan seperti sakit pada LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

77

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

punggung, leher, bahu, kaki, lengan, dan rematik. Penelitian tersebut memfokuskan hubungan antara postur kerja dengan berat beban. Metode ini sesuai dengan penelitian tentang sikap kerja yang mencakup pergerakan tubuh secara keseluruhan (Darmawan dan Hermawati, 2004). Metode OWAS juga sesuai dengan penelitian yang mengidentifikasi sikap kerja dinamis yang berbahaya ketika para pekerja sedang melakukan pekerjaan (Coutney Dkk, 1998). Sehingga dapat dikatakan bahwa metode OWAS ini berguna untuk memperbaiki kondisi pekerja dalam bekerja , sehingga perfomance kerja dapat ditingkatkan terus . Hasil yang diperoleh dari metode OWAS digunakan untuk merancang metode perbaikan kerja guna meningkatkan produktifitas. Metode ini dapat diterapkan pada suatu area : 1. 2. 3. Pembangunan stasiun kerja atau sebuah metode kerja, untuk mengurangi beban gangguan otot (musculoskeletal) agar lebih nyaman dan lebih produktif. Pengukuran ergonomi untuk beban postur Pelayanan kesehatan yang mengalami sakit dalam suatu pekerjaan Prosedur OWAS dilakukan dengan melakukan observasi untuk mengambil data postur, beban, fase kerja untuk kemudian dibuat kode berdasarkan data tersebut. Evaluasi penilaian didasarkan pada skor dari tingkat bahaya postur kerja yang ada dan selanjutnya dihubungkan dengan kategori tindakan yang harus diambil. Metode ini mengkodekan sikap (postur) kerja pada bagian punggung (belakang), tangan, kaki, dan berat beban. Setiap postur tubuh tersebut terdiri dari 4 postur bagian belakang, 3 postur lengan, 7 postur kaki, sedangkan berat beban yang dikerjakan juga dilakukan penilaian mengandung 3 skala poin. Klasifikasi sikap dan kriteria OWAS tersebut digambarkan seperti gambar di bawah ini: 1. Bagian Belakang (Back) Membungkuk : Penilaian sikap kerja diklasifikasikan membungkuk jika terjadi sudut yang terbentuk pada punggung minimal sebesar 20o atau lebih. Begitu pula sebaliknya jika perubahan sudut kurang dari 20o, maka dinilai tidak membungkuk. Adapun posisi leher dan kaki tidak termasuk dalam penilaian batang tubuh (punggung).Berikut ini gambar postur tubuh bagian belakang :

Gambar 2.18 Postur tubuh bagian belakang (Back) Sumber: Alexander San Lohat, 2009, http://gurumuda.com/bse/metode-analisa-postur-kerja-owas.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

78

MODUL 2 Pergerakan Lurus atau tegak Bungkuk ke depan Miring ke samping Bungkuk ke depan dan miring ke samping

APK DAN BIOMEKANIKA


Skor 1 2 3 4

Tabel 2.8 Skor Postur Tubuh Bagian Belakang

Sumber : Alexander San Lohat, 2009, http://gurumuda.com/bse/metode-analisa -postur-kerja-owas.

2.

Bagian Lengan (Arms) Yang dimaksud sebagai lengan adalah dari lengan atas sampai tangan. Penilaian terhadap posisi lengan yang perlu diperhatikan adalah posisi tangan.

Gambar 2.19 Postur tubuh bagian lengan Sumber : Alexander San Lohat, 2009, http://gurumuda.com/bse/metode-analisa-postur-kerja-owas. Tabel 2.9 Skor Postur Tubuh Bagian Lengan

Pergerakan Kedua tangan di bawah bahu Satu tangan pada atau di atas bahu Kedua tangan pada atau di atas bahu

Skor 1 2` 3

Sumber : Alexander San Lohat, 2009 http://gurumuda.com/bse/metode-analisapostur-kerja-owas.

3.

Bagian Kaki (Legs) Berikut sikap : a. b. c. Duduk, pada sikap ini adalah duduk dikursi dan semacamnya. Berdiri bertumpu pada kedua kaki lurus adalah kedua kaki dalam posisi lurus atau tidak bengkok dimana beban tubuh menumpu kedua kaki. Berdiri bertumpu pada satu kaki lurus adalah beban tubuh bertumpu pada satu kaki yang lurus (menggunakan saru pusat gravitasi lurus), dan satu kaki yang lain dalam keadaan menggantung (tidak menyentuh lantai). Dalam hal ini kaki yang menggantung untuk menyeimbangkan tubuh dan bila jari kaki yang menyentuh lantai termasuk sikap ini.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

79

MODUL 2 d.

APK DAN BIOMEKANIKA

Berdiri bertumpu pada kedua kaki dengan lutut ditekuk Pada sikap ini adalah keadaan poatur setengah duduk yang yelah umum diketahui yaitu keadaan lutut ditekuk dan beban tubuh bertumpu pada kedua kaki.

e.

Berdiri bertumpu pada satu kaki dengan lutut ditekuk Pada sikap ini dalam keadaan ini berat tubuh bertumpu pada satu kaki dengan lutut ditekuk (menggunakan pusat gravitasi pada satu kaki dengan lutut ditekuk).

f. g.

Berlutut pada satu atau kedua lutut, pada sikap ini dalam keadaan satu atau kedua lutut menempel pada lantai. Berjalan, pada sikap ini adalah gerakan kaki yang dilakukan termasuk gerakan ke depan, belakang, menyamping, dan naik turun tangga.

Gambar 2.20 Postur tubuh bagian kaki Sumber : Alexander San Lohat, 2009http://gurumuda.com/bse/metode-analisa-postur-kerja-owas. Tabel 2.10 Skor Postur Tubuh Bagian Kaki

Pergerakan Duduk Berdiri dengan kedua kaki lurus Berdiri dengan bertumpu pada satu kaki lurus Berdiri atau jongkok dengan kedua lutut Berdiri atau jongkok dengan satu lutut Berlutut pada satu atau dua lutut Berjalan atau bergerak

Skor 1 2 3 4 5 6 7

Sumber : Alexander San Lohat, 2009 http://gurumuda.com/bse/metode-analisa-postur-kerjaowas.

4.

Beban (Load) Dalam hal ini yang membedakan adalah berat beban yang diterima dalam satuan kilogram (Kg). Berat beban yang diangkat lebih kecil atau sama dengan 10 kg lebih besar dari 10 Kg dan lebih kecil atau sama dengan 20 Kg, lebih besar dari 20 Kg. LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

80

MODUL 2
Tabel 2.11 Skor Berat Beban (Load)

APK DAN BIOMEKANIKA


Skor 1 2 3

Beban <10 kg (kurang dari 10 kilogram) <20 kg (lebih dari 10 kilogram dan kurang dari 20 kilogram) >20 kg (lebih dari 20 kilogram)

Sumber : Alexander San Lohat, 2009http://gurumuda.com/bse/metode-analisa-postur-kerja-owas.

Hasil dari analisa sikap kerja OWAS terdiri dari empat level skala sikap kerja yang berbahaya bagi para pekerja. Berikut ini merupakan kategori tindakan kerja OWAS secara keseluruhan, berdasarkan kombinasi klasifikasi sikap dari punggung, lengan, kaki, dan beban berat : a. b. Kategori 1 : Pada sikap ini tidak menimbulkan masalah pada sistem musculoskeletal dan tidak diperlukan perbaikan. Kategori 2 : Pada sikap ini berbahaya pada sistem musculoskeletal (sikap kerja mengakibatkan pengaruh ketegangan yang signifikan) dan perlu dilakukan perbaikan di masa yang akan datang. c. d. Kategori 3 : Pada sikap ini berbahaya bagi sistem musculoskeletal (sikap kerja mengakibatkan pengaruh ketegangan yang sangat signifikan) dan perlu perbaikan sesegera mungkin. Kategori 4 : Pada sikap ini berbahaya bagi sistem musculoskeletal (sikap ini mengakibatkan resiko yang jelas) dan perlu perbaikan secara langsung atau saat itu juga. Berikut merupakan contoh tabel untuk menganalisa pergerakan :
Tabel 2.12 Kategori Tindakan Kerja OWAS

Sumber : Alexander San Lohat, 2009 http://gurumuda.com/bse/metode-analisa-postur-kerjaowas.

Tabel di atas menjelaskan mengenai klasifikasi postur-postur kerja ke dalam kategori tindakan. Sebagai contoh postur kerja dengan kode 2352, maka postur kerja ini merupakan postur kerja dengan kategori tindakan dengan derajat perbaikan level 4, yaitu pada sikap ini berbahaya bagi sistem musculoskeletal (sikap kerja ini mengakibatkan resiko yang jelas). Perlu perbaikan secara langsung/saat ini.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

81

MODUL 2 2.9.5 Metode Analitik 2.9.5.1 Action Limit (AL) dan Maximum Permissible Limit (MPL)

APK DAN BIOMEKANIKA

Rekomendasi NIOSH didasarkan pada perbaikan atas persamaan NIOSH yang dikeluarkan pada tahun 1981. Persamaan terdahulu dibagi menjadi dua level batas pembebanan : 1.

Action Limit (AL), yaitu yang memuat batas pembebanan untuk sebagian besar individu.
AL = 90(6/H)(1-01/V-30)(0,7+D)(1-F/Fmax)
Sumber: www.pdf-search.com/bgfniosh087.pdf.

(2-1)

2.

Maximum Permissible Limit (MPL), yaitu yang memuat batas pembebanan maksimum dimana
di atas limit tersebut makin banyak individu akan mengalami kecelakaan. MPL = 3AL
Sumber: www.pdf-search.com/bgfniosh087.pdf.

(2-2)

Berikut ini adalah tabel mengenai kriteria pembebanan:


Tabel 2.13 Kriteria Pembebanan oleh NIOSH

Tinjauan Biomekanika Fisiologis Psikofisikal

Kriteria Desain Gaya Tekan Cakram Max. Energi Ekspenditure Max. Berat max. yang dapat diterima

Nilai Batas 3,4 kN (770 lbs) 2.2 4.7 kcal/min Diterima 75% pekerja wanita dan 99% pekerja pria

Sumber: www.pdf-search.com/bgfniosh087.pdf.

Persamaan NIOSH yang terbaru yang dikeluarkan pada tahun 1991 menggunakan metode

Recommended Weight Limit (RWL)


2.9.5.2 Recommended Weight Limit (RWL) dan Lifting Index (LI) RWL merupakan persamaan pembebasan yang direkomendasikan oleh NIOSH (National

Institude Ochupational Safety and Health) pada tahun 1991 di Amerika Serikat. RWL adalah batas
beban yang dapat dipindahkan oleh pekerja industri dalam jangka waktu tertentu (tidak lebih dari 8 jam) tanpa menimbulkan resiko terjadinya cedera tulang belakang. Persamaan NIOSH berlaku pada keadaan (Waters, et al: 1994): 1. 2. 3. 4. 5. Beban yang diberikan adalah beban statis, tidak ada penambahan, ataupun pengurangan beban di tengah-tengah pekerjaan. Beban diangkat dengan kedua tangan. Pengangkatan atau penurunan beban dilakukan dalam jangka waktu maximal 8 jam. Pengangkatan atau penurunan beban tidak boleh dilakukan saat duduk / berlutut. Tempat kerja tidak sempit. Persamaan untuk menentukan beban yang direkomendasikan untuk diangkat seorang pekerja dalam kondisi tertentu menurut NIOSH adalah sebagai berikut (Waters, et al: 1994): RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM
Sumber: www.pdf-search.com/bgfniosh087.pdf.

(2-3)

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

82

MODUL 2 Keterangan: LC HM VM DM AM FM CM H V D A 1. : (Lifting Constanta) konstanta pembebanan = 23 kg : (Horizontal Multiplier) faktor pengali horizontal = 25/H : (Vertical Multiplier) faktor pengali vertical = 1-0,003[V-75]

APK DAN BIOMEKANIKA

: (Distance Multiplier) faktor pengali perpindahan = 0,82+4,5/D : (Asymmetric Multiplier) faktor pengali asimetrik = 1-0,0032A(0) : (Frequency Multiplier) faktor pengali frekuensi : (Coupling Multiplier) faktor pengali kompling (handle) : Jarak horizontal posisi tangan yang memegang beban dengan titik pusat tubuh : Jarak vertikal posisi tangan yang memegang beban terhadap lantai : Jarak perpindahan secara vertical antara tempat asal sanpai tujuan : Sudut simetri putaran yang dibentuk antara tangan dan kaki Berikut ini adalah penjelasan dari persamaan NIOSH:

Catatan:

Horizontal Multiplier (HM)


HM didapat dari nilai H (horizontal location) yaitu jarak antara tangan dengan titik tengah pergelangan kaki bagian dalam kaki. Bahwa semakin besar jarak horizontal beban terhadap tulang belakang, maka semakin besar pula gaya tekan terhadap lempeng (disc) dan menurunkan batas maksimum beban yang diperbolehkan diangkat. Tegangan pada tulang belakang selama pengangkatan beban secara umum meningkat secara proporsional dengan jarak horizontal antara beban dengan tulang belakang. HM = 25/H a. Jika H > 63 cm, HM = 0 b. Jika H < 25 cm, HM = 1
Sumber: www.pdf-search.com/rwl-451ab.pdf.

(2-4)

2.

Vertical Multiplier (VM)


VM didapat dari nilai V (vertical location) yaitu jarak antara tinggi vertical dengan lantai. Komite NIOSH 1991 merekomendasikan bahwa faktor vertikal memberikan penurunan sebesar 22.5% terhadap nilai beban yang boleh diangkat diatas 75 cm dari lantai adalah berdasarkan data empiris dari studi psikofisik, bahwa maksimum beban yang boleh diangkat (MAWL) oleh pekerja akan menurun sejalan dengan peningkatan vertikal yang lebih tinggi dari 75 cm dari lantai. VM = 1-0,003[V-75] a. b.
www.pdf-search.com/rwl-451ab.pdf .

(2-5)

Jika V > 175 cm, VM = 0

Jika V = 0 cm, VM = 0,78

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

83

MODUL 2 c. Untuk pengangkatan dengan ketinggian awal di atas 69 cm VM = 1 0,0132 [V - 69]


www.pdf-search.com/rwl-451ab.pdf.

APK DAN BIOMEKANIKA

(2-6)

d.

Untuk pengangkatan dengan ketinggian awal di bawah 69 cm VM = 1 0,0145 [69 - V]


www.pdf-search.com/rwl-451ab.pdf.

(2-7)

3.

Distance Multiplier (DM)


DM didapat dari nilai D (vertical traple distance) yaitu jarak vertikal antara titik awal beban sebelum diangkat ke titik tujuan beban diletakkan. Dari hasil studi psikofisik oleh Aquilano (1980) dan khalil (1985) memperkirakan terjadinya penurunan 15 % terhadap MAWL ketika total jarak perpindahan mendekati maksimum (beban diangkat dari lantai ke bahu). DM = 0,82+4,5/D
www.pdf-search.com/rwl-451ab.pdf.

(2-8)

a. b. 4.

Jika D > 175 cm, DM = 0 Jika D < 25 cm, DM = 1 AM didapat dari nilai A (Asymmetric) yaitu sudut yang dibentuk tubuh saat memindahkan

Asymmetric Multiplier (AM)


beban. Pengangkatan asimetri akan ditemukan pada kondisi sebagai berikut : a. b. c. d. Posisi origin dan destination membentuk sudut antara keduanya. Pengangkatan dilakukan untuk mempertahankan keseimbangan tubuh karena adanya rintangan pada tempat kerja atau permukaan lantai kerja yang tidak teratur. Gerakan mengangkat memotong posisi tubuh, misalnya saat membelokkan beban dari satu lokasi kelokasi yang lainnya. Standar produktivitas diperlukan dalam mereduksi waktu pengangkatan. Secara umum pengangkatan dengan asimetri ini harus dihindari, jika tidak maka nilai RWL akan lebih dari pada pengangkatan dengan posisi pengangkatan secara asimetri. AM = 1-0,0032A(0) a. b. c. d. e.
Sumber: www.pdf-search.com/rwl-451ab.pdf.

(2-9)

Jika A > 1350, AM = 0 Jika A = 00, AM = 0 Jika 00 Jika 300 < A

300 , AM = 1 (0,005A) 600 , AM = 1 (0,031A)

Jika A > 600 , AM = 1 (0,025A) Keterangan : A = Sudut asimetri yang dibentuk Sudut asimetri adalah sudut yang menunjukan sejauh mana benda dipindahkan dari

depan (bidang mid sagital) tubuh pekerja ke tujuan. Sudut asimetri terbentuk antara garis asimetri dengan garis sagital yang diproyeksikan pada bidang atas.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

84

MODUL 2 5. Untuk Frequency Multiplier (FM)

APK DAN BIOMEKANIKA

Untuk Frekuensi Pengali ditentukan dengan menggunakan tabel FM dibawah ini dengan mengetahui frekuensi angkatan tiap menitnya dan juga nilai V dalam inchi. a. b. c. Durasi pendek Durasi sedang Durasi panjang : 1 jam atau kurang : antara 1-2 jam : antara 2-8 jam
Tabel 2.14 Frequency Multipliers
Frekuensi Lifts/min 0,2 0,5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 1 jam V < 75 1,00 0,97 0,94 0,91 0,88 0,84 0,80 0,75 0,70 0,60 0,52 0,45 0,41 0,37 0,00 0,00 V 75 1,00 0,97 0,94 0,91 0,88 0,84 0,80 0,75 0,70 0,60 0,52 0,45 0,41 0,37 0,34 0,31 2 jam V < 75 0,95 0,92 0,88 0,84 0,79 0,72 0,60 0,50 0,42 0,35 0,30 0,26 0,00 0,00 0,00 0,00 V 75 0,95 0,92 0,88 0,84 0,79 0,72 0,60 0,50 0,42 0,35 0,30 0,26 0,23 0,21 0,00 0,00 8 jam V < 75 0,85 0,81 0,75 0,65 0,55 0,45 0,35 0,27 0,22 0,18 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 V 75 0,85 0,81 0,75 0,65 0,55 0,45 0,35 0,27 0,22 0,18 0,15 0,13 0,00 0,00 0,00 0,00

Sumber : Tarwaka, (2004:126)

Keterangan: V pada tabel diatas diganti dari 75 menjadi 69 untuk orang Indonesia 6.

Coupling Multiplier (CM) adalah:


Untuk Faktor Pengali kopling (handle) dapat ditentukan pada tabel berikut.
Tabel 2.15 Coupling Multiplier

V < 75 atau 69 (Ind) cm

V > 75 atau 69 (Ind) cm

Coupling Good Fair Poor


Sumber : Tarwaka, (2004:127)

Coupling Multiplier
1,00 1,00 0,9

1,00 0,95 0,9

a.

Kriteria Good, adalah : 1) 2) 3) Kontainer atau Box merupakan design optimal, pegangan bahannya tidak licin. Benda yang didalamnya tidak mudah tumpah. Tangan dapat dengan nyaman meraih box tersebut.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

85

MODUL 2 b. Kriteria Fair, adalah : 1) 2) c. 1) 2) 3) 4) 7. Kontainer atau Box tidak mempunyai pegangan. Tangan tidak dapat meraih dengan mudah. Box tidak mempunyai Handle/pegangan. Sulit dipegang (licin, tajam, dll).

APK DAN BIOMEKANIKA

Kriteria Poor, adalah :

Berisi barang yang tidak stabil (pecah, jatuh, tumpah, dll). Memerlukan sarung tangan untuk mengangkatnya.

Load Constanta (LC)


LC adalah berat maksimum yang direkomendasikan untuk pengangkatan beban satandar dalam kondisi optimal (posisi sagital pengangkatan dengan frekuensi yang tidak terlalu sering, kopling baik, jarak pemindahan = 25 cm, dan lain sebagainya). Pemilihan konstanta beban berdasarkan pada kriteria psikofisik dan biomekanika. Mengestimasi bahwa pengangkatan beban ekivalen dengan konstanta beban dalam kondisi ideal ( dimana semua faktor pengali sama dengan 1.0 ) dan dapat diterima oleh 75 % pekerja wanita dan 90 % pekerja pria dan gaya tekan terhadap ruas-ruas tulang belakang kurang dari 3.4 kN. Pada persamaan yang telah direvisi, konstanta beban reduksi dri 40 kg menjadi 23 kg. Reduksi ini dilakukan karena bertambahnya jarak minimum horizontal dari 15 cm pada persamaan 1991. Konstanta beban direvisi ini 17 kg lebih kecil nilainya dari persamaan 1981, namun dengan direvisinya pula jarak minimum horizontal menjadi 25 cm maka reduksi konstanta beban menjadi hanya 1 kg. Setelah nilai RWL diketahui, selanjutnya perhitungan Lifting Index, untuk mengetahui index

pengangkatan yang tidak mengandung resiko cidera tulang belakang. Lifting indeks merupakan perbandingan antara berat beban (load target dengan RWL). Lifting index (Li) merupakan nilai relatif dari tingkat tegangan fisik dalam suatu kegiatan pengangkatan manual nilai estimasi tingkat tegangan fisik tersebut dinyatakan sebagai hasil bagi antara nilai beban angkatan dengan nilai RWL, dengan persamaan: LI = L/ RWL Dimana: LI L RWL
1. Sumber: www.pdf-search.com/rwl-451ab.pdf.

(2-10)

: Lifting Index : Berat Beban : Recommended Weight Limit Interpretasi dari nilai LI: LI dapat digunakan untuk memprioritaskan perancangan ulang secara ergonomis dengan cara mengurutkan pekerjaan berdasarkan besaran LI dan dapat digunakan untuk mengestimasi besaran relatif dari tekanan fisik suatu tugas.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

86

MODUL 2
2.

APK DAN BIOMEKANIKA

Tugas-tugas dengan nilai LI > 1.0 mengakibatkan peningkatan risiko cidera punggung bawah (akibat pengangkatan) pada sebagian pekerja. RWL dapat digunakan untuk merekomendasikan berat beban yang akan membuat pekerjaan menjadi lebih aman. Semua elemen kerja yang telah terhitung LI-nya, diklasifikasi dalam tiga bagian, yaitu:

3.

1. 2. 3.

LI < 1 LI LI 1 3

: Low Stressful Task. Pekerja relatif aman : Moderate Stressful Task. Mempunyai resiko nyeri pinggang (low back pain) : High Stressful Task. Mempunyai resiko cidera pinggang (low back injury)

Dimana resiko yang tinggi harus menjadi prioritas utama terlebih dahulu untuk secepatnya dilakukan perbaikan. 2.10 Perbaikan Ergonomi Untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pekerjaan serta meningkatkan nilai-nilai tertentu yang diinginkan dari pekerjaan tersebut diperlukan suatu usaha perubahan dari sistem kerja yang lama dengan pertimbangan ergonomik yang biasa disebut dengan perbaikan ergonomi. 2.10.1 Beberapa Pendekatan untuk Mengurangi Resiko Kebutuhan untuk mengangkat secara manual (tanpa alat) haruslah benar-benar diteliti secara ergonomis. Penelitian ini akan mengakibatkan adanya standarisasi dalam aktivitas angkat manusia. Standar kemampuan angkat tersebut tidak hanya meliputi arah beban, akan tetapi berisi pula tentang ketinggian dan jarak operator terhadap beban yang diangkat. Akhirnya, pelatihan dalam mengangkat beban dan metode angkat terbaik haruslah diimplementasikan. Pendekatan ergonomi akan ditekankan pada penelitian kemampuan dan keterbatasan manusia-baik secara fisik maupun mental psikologisnya dan interaksinya dalam sistem manusia mesin yang integral. Secara sistematis pendekatan ergonomis akan memanfaatkan informasi tersebut untuk tujuan rancang bangun, sehingga akan dapat tercipta produk sistem atau lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan manusia. Mc Cormicks dan Sanders (1987) membagi ergonomi ke dalam tiga pendekatan 1. Fokus Utama Fokus utama ergonomi adalah mempertimbangkan manusia dalam perancangan benda kerja, prosedur kerja, dan lingkungan kerja. Fokus ergonomi adalah interaksi manusia dengan produk, peralatan, fasilitas, lingkungan dan prosedur dari pekerjaan dan kehidupan sehariharinya. Ergonomi lebih ditekankan pada faktor manusianya dibandingkan ilmu teknik yang lebih menekankan pada faktor-faktor nonteknis.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

87

MODUL 2 2. Tujuan

APK DAN BIOMEKANIKA

Ergonomi mempunyai dua tujuan utama yaitu meningkatkan efektifitas dan efisiensi pekerjaan dan aktifitas-aktifitas lainnya serta meningkatkan nilai-nilai tertentu yang diinginkan dari pekerjaan tersebut, termasuk memperbaiki keamanan, mengurangi kelelahan dan stres, meningkatkan kenyamanan, penerimaan pengguna yang besar dan memperbaiki kualitas hidup. 3. Pendekatan Utama Pendekatan utama mencakup aplikasi sistematik dari informasi yang relevan tentang kemampuan, keterbatasan, karakteristik, perilaku dan motivasi manusia terhadap desain produk dan prosedur yang digunakan serta lingkungan tempat menggunakannya. 2.10.2 Penyelesaian untuk Pemindahan Material secara Teknis Beberapa penyelesaian secara teknis untuk pemindahan material secara manual adalah sebagai berikut: 1. 2. Pindahkan beban yang berat dari mesin ke mesin yang telah dirancang dengan menggunakan ban berjalan (roller). Gunakan meja yang dapat digerakkan naik turun untuk menjada agar bagian permukaan dari meja dapat langsung dipakai untuk memasukkan lembaran logam ataupun benda kerja lainnya ke dalam mesin. 3. 4. Tempatkan benda kerja yang besar pada permukaan yang lebih tinggi dan turunkan dengan bantuan gaya gravitasi. Berikan peralatan yang dapat mengangkat, misalnya: pada ujung belakang truk untuk memudahkan pengangkatan material, dengan demikian tidak diperlukan lagi alat angkat (crane). 5. 6. 7. 8. 9. Rancanglah overhead monorail dan hoist diutamakan yang menggunakan power (tenaga) baik untuk gerakan vertikal maupun horizontal. Rancanglah hoist atau fork-truck yang dikeling pada permukaan lantai, diutamakan yang menggunakan power. Desainlah kotak (tempat benda kerja) dengan disertai handle yang ergonomis sehingga mudah pada waktu diangkat. Aturlah peralatan fasilitas sehingga semakin memudahkan metodologi angkat benda pada ketinggian permukaan pinggang. Berilah tanda atau angka pada beban sesuai dengan beratnya. 200 liter). 10. Siapkan trolley dan pengungkit (lever) untuk mengangkat ujung dari drum (dengan volume

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

88

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

11. Bebaskan area kerja dari gerakan dan peralatan material yang mengganggu jalur akses dari operator. 12. Hindarkan lantai kerja dari sesuatu yang dapat menghambat jalan atau membuat jalan licin sehingga akan membahayakan operator pada saat memindahkan material. 13. Buatlah suatu ruang kerja yang cukup untuk gerakan dinamis bebas operator. 14. Tempatkan semua material sedekat mungkin dengan operator. 2.10.3 Batasan Beban yang Boleh Diangkat Terdapat 4 batasan dari beban yang boleh diangkat, yaitu: 2.10.3.1 Batasan Legal (Legal Limitation) Batasan angkat ini dipakai sebagai batasan angkat secara internasional. Adapun variabelnya adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Pria di bawah usia 16 tahun, maksimum angkat adalah 14 kg. Pria usia di antara 16-18 tahun, maksimum angkat adalah 18 kg. Pria usia lebih dari 18 tahun, tidak ada batasan angkat. Wanita di antara usia 16-18 tahun tahun, maksimum angkat adalah 11 kg. Pria di bawah usia 16 tahun, maksimum angkat adalah 16 kg. Batasan angkat ini dapat membantu untuk mengurangi rasa nyeri, ngilu pada tulang belakan bagi para wanita. Batasan angkat ini akan mengurangi ketidaknyamanan kerja pada tulang belakang, terutama bagi operator untuk pekerjaan berat. Terdapat rekomendasi lain yang telah dibuat oleh Komisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (the Health and Safety Commission) di Inggris tahun 1982. Selanjutnya pada bulan Desember 1986, the National Occupational Health and Safety

Commision (Worksafe Australia) mengeluarkan lembaran kerja (a Discussion Paper and Draft Code of Practice) untuk pemindahan material yang aman.
Kemudian pada bulan Agustus 1988, Departemen Buruh di Negara bagian Victoria (Australia) mengeluarkan peraturan dan lembar kerja untuk metodologi Pemindahan Material. Lembar kerja ini benar-benar bermanfaat untuk meningkatkan keselamatan pada Pemindahan Material Secara Manual. Didalamnya terdapat tiga bagian, yaitu : 1. 2. 3. Identifikasi Resiko Metodologi Evaluasi Resiko Pengendalian Resiko

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

89

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Adapun pada bagian Evaluasi Resiko berisikan beberapa petunjuk antara lain: 1. 2. Aktivitas kerja dengan posisi duduk, tidak direkomendasikan untuk mengangkat atau membawa suatu objek yang melebihi dari 4,5 Kg. Jika objek yang diangkat lebih dari batas 16 20 kilogram maka diharuskan lebih berhati-hati dalam evaluasi resikonya. Selain itu, juga dibutuhkan sistem pengendalian atau pengukuran yang sesuai. 3. Pekerja yang sudah angkat lanjut tidak boleh membawa atau mengangkat, menurunkan atau menaikkan beban yang lebih dari 55 kilogram tanpa bantuan peralatan apapun. Hal ini dapat dipermudah dengan cara mengadakan pelatihan (training) untuk penerapan metodelogi cara angkut yang benar. 4. Resiko beratnya beban yang dipindahkan jika dihubungkan dengan faktor resiko pada soal jongkok. Ketinggian objek pada awal dari aktivitas angkat, jarak ketinggian objek (vertikal), jarak horizontal antara beban dan operator serta frekuensi angkat (jumlah aktivitas angkat). Hal-hal tersebut diatas dapat dievaluasi dengan menggunakan prosedur perhitungan yang telah dikodekan. Prosedur ini memberikan nilai ekuivalen yang disebut dengan Action Limit (batasan tindakan) yang dikeluarkan oleh NIOSH (National Institute of Occupational Safety and Health) Amerika Serikat yaitu institusi nasional untuk keselamatan dan kesehatan kerja. Jika beban yang harus diangkat melebihi batas ini maka pengembalian resiko harus segera diimplementasikan. 2.10.3.2 Batasan Biomekanika Nilai dari analisa Biomekanika adalah rentang postur atau posisi aktivitas kerja, ukuran beban dan manusia yang dievaluasi. Sedangkan kriteria keselamatan adalah berdasar pada beban tekan

(compression load) pada intervebral disk antara lumbar nomor lima dan sacrum nomor satu
(L5/S1). Kebanyakan penyakit-penyakit tulang belakang adalah hernia pada intervertebral disk, yaitu keluarnya inti intervertebral (pulpy nucleus) yang disebabkan oleh rusaknya lapisan pembungkus intervertebral disk. Adams and Hulton (1981) juga telah menguji tekan pada tulang belakang (spines) dengan berbagai variabel gerak fleksi (flexion). Mereka dalam penelitiannya menemukan bahwa : 1. 2. Hernia dapat terjadi jika tulang belakang berada pada posisi hiperfleksi (hyperflexion). Gerakan fleksi yang sedikit dapat meningkatkan kekuatan, akan tetapi sebaliknya hiperfleksi akan menurunkan kekuatannya. Batasan gaya angkat maksimum yang diijinkan (the maximum permissible limit) yang direkomendasikan oleh NIOSH (1981) adalah berdasarkan gaya tekan sebesar 6500 newton pada

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

90

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

L5/S1. Namun hanya 25% pria dan 1% wanita yang diperkirakan mampu melewati batasan gaya angkat ini. Batasan gaya angkat normal (the action limit) yang direkomendasikan ole NIOSH dan berdasarkan gaya tekan sebesar 3500 newton pada L5/S1. Ada 99% pria dan 75% wanita yang mampu mengangkat beban batas ini. Batasan ini amatlah bervariasi dan bergantung pada berat badan dan jarak horizontal antara beban dan pekerja. 2.10.3.3 Batasan Fisiologi Metode pendekatan ini dengan mempertimbangkan rata-rata beban metabolisme dari aktivitas angkat yang berulang (repetitive lifting). Sebagaimana juga dapat ditentukan dari jumlah konsumsi oksigen. Hal ini haruslah benar-benar diperhatikan terutama dalam rangka untuk menentukan batasan angkat. Kelelahan kerja yang terjadi akibat dari aktivitas yang berulang-ulang (repetitive lifting) akan meningkatkan resiko rasa nyeri pada tulang belakang (back injuries).

Repetitive lifting dapat menyebabkan Cumulative Trauma Injuries atau Repetitive Strain Injuries
(Stevenson, 1987). Ada beberapa bukti bahwa semakin banyak jumlah material yang diangkat dalam sehari oleh seseorang, akan lebih cepat mengurangi ketebalan intervertebral disc (elemen di antara segmen tulang belakang). Fenomena ini menggambarkan bahwa pengukuran yang akurat terhadap tinggi tenaga kerja dapat digunakan untuk mengevaluasi beban kerja (Corlett,1987). Metode lain secara fisiologi adalah dengan cara pengukuran langsung terhadap tekanan yang ada di dalam perut atau IAP (Intra Abdominal Pressure) selama aktivitas angkat. Dari sini pula dikeluarkan beberapa batasan gaya terhadap kerja manual yang mengakibatkan factor jarak beban relative terhadap operatornya. Teknik Pill-Tekanan (Pressure Pill) dapat digunakan pula sebagai pembanding antara beberapa metode angkat. Sebuah contoh disini adalah pada perbandingan antara dua metode untuk mengangkat pasien dirumah sakit, yaitu: 1. 2. Metode Angkat Orthodox Metode Angkat Bahu (Shoulder lift) Pada kenyataannya, metode yang kedua telah dipakai secara internasional selama bertahuntahun. Metodanya ditunjukkan pada gambar 2. Yaitu perbedaan besarnya tekanan sebagai fungsi waktu. Pada gambar tersebut dibedakan antara Angkat Orthodox dan Angkat Bahu, yang mana metoda angkat bahu menghasilkan tekanan dalam perut atau IAP yang lebih rendah. Hal itu didapat karena pada metode orthodox, tenaga para medis menggunakan dua tangan sekaligus dalam mengangkat pasien. Sedangkan pada metoda angkat bahu hanya menggunakan satu tangan, dan tangan yang lain ditumpukkan terhadap tempat tidur pasien.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

91

MODUL 2 2.10.3.4 Batasan Psiko-Fisik

APK DAN BIOMEKANIKA

Metode ini berdasarkan pada sejumlah eksperimen yang berupaya untuk mendapatkan berat pada berbagai keadaan dan ketinggian bebean yang berbeda-beda. Ada 3 macam kategori posisi angkat yang didapatkan : 1. 2. 3. Dari permukaan lantai ke ketinggian genggaman tangn (knuckle height). Dari ketinggian genggaman tangan (knuckle height) ke ketinggian bahu (shoukder height). Dari ketinggian bahu (shoulder height) ke maksimum jangkauan tangan vertikal (vertical arm

reach).

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

92

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM


3.1 Diagram Alir Praktikum Dalam praktikum Perancangan Kerja dan Ergonomi pada modul APK dan Biomekanika ini, terdapat tiga macam praktikum yang dilakukan, yaitu Analisis Postur Kerja, Biomekanika I, dan Biomekanika II. Berikut merupakan diagram alir praktikum : 3.1.1 Diagram Alir Praktikum Analisis Postur Kerja Berikut merupakan diagram alir praktikum Analisis Postur Kerja:

START

Identifikasi masalah dan penentuan objek penelitian

Studi pustaka

Pengambilan data

Pengolahan data

RULA

REBA

OWAS

Analisis

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

93

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Perbaikan postur kerja

RULA

REBA

OWAS

Kesimpulan dan saran

END
Gambar 3.1 Diagram Alir Praktikum Analisis Postur Kerja Sumber: Pengolahan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

94

MODUL 2 3.1.2 Diagram Alir Praktikum Biomekanika I Berikut merupakan diagram alir praktikum Biomekanika I: START

APK DAN BIOMEKANIKA

Identifikasi masalah dan penentuan objek penelitian

Studi pustaka

Pengambilan data

Pengolahan data

RWL

LI

Analisis Perbaikan postur kerja

RWL

LI

Kesimpulan dan saran

END Gambar 3.2 Diagram Alir Praktikum Biomekanika I Sumber: Pengolahan Data

3.1.2 Diagram Alir Praktikum Biomekanika II LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

95

MODUL 2 Berikut merupakan diagram alir praktikum Biomekanika II: START

APK DAN BIOMEKANIKA

Identifikasi masalah dan penentuan objek penelitian

Studi pustaka

Pengambilan data

Pengolahan data

Hand Grip Strength

Pull Back Strength

Analisis Kesimpulan dan saran

END
Gambar 3.3 Diagram Alir Praktikum Biomekanika II Sumber: Data yang diolah

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

96

MODUL 2 3.2 Peralatan Praktikum 3.2.1 Peralatan Praktikum Analisis Postur Kerja Peralatan praktikum yang digunakan, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Lembar pengamatan RULA Lembar pengamatan REBA Lembar pengamatan OWAS Alat ukur (penggaris dan meteran) Alat tulis Kamera atau handcam

APK DAN BIOMEKANIKA

3.2.2 Peralatan Praktikum Biomekanika I Peralatan praktikum yang digunakan, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Lembar pengamatan RWL Alat ukur Alat sudut ukur Alat ukur berat Alat tulis Kamera atau handycam

3.2.3 Peralatan Praktikum Biomekanika II Peralatan praktikum yang digunakan, yaitu: 1. 2. Lembar pengamatan kekuatan genggam Lembar pengamatan kekuatan tarik

3. 4.
5. 6. 7.

Digital Hand Grip Dynamoneter Digital Pull Back Dynamometer


Kursi Alat ukur (penggaris atau meteran) Alat tulis

3.3 Prosedur Pelaksanaan Praktikum 3.3.1 Prosedur Pelaksanaan Praktikum Analisis Postur Kerja Prosedur pelaksanaan praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. Mempersiapkan peralatan yang diperlukan berupa lembar pengamatan RULA, REBA, dan OWAS serta alat tulis. Tiap kelompok mengobservasi pekerjaan yang ada di lapangan. Merekam aktivitas pekerja.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

97

MODUL 2 4. 5. 6. 7. Melaksanakan pengamatan terhadap objek melalui video.

APK DAN BIOMEKANIKA

Mencatat hasil pengamatan dalam lembar pengamatan RULA, REBA, dan OWAS. Melakukan perhitungan RULA, REBA, dan OWAS. Membuat laporan praktikum, analisis data, serta perbaikan sistem kerja.

3.3.2 Prosedur Pelaksanaan Praktikum Biomekanika I Prosedur pelaksanaan praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Mempersiapkan peralatan yang diperlukan berupa lembar pengamatan RWL dan LI serta alat tulis. Tiap kelompok mengobservasi pekerjaan yang ada di lapangan. Merekam aktivitas pekerja. Melaksanakan pengamatan terhadap objek melalui video. Mencatat hasil pengamatan dalam lembar pengamatan RWL dan LI. Melakukan perhitungan RWL dan LI di awal dan akhir pengangkatan. Membuat laporan praktikum, analisis data, serta perbaikan sistem kerja.

3.3.3 Prosedur Pelaksanaan Praktikum Biomekanika II Untuk Hand Grip Test, prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. 2. Mempersiapkan peralatan yang diperlukan dan lembar pengamatan serta alat tulis. Masing-masing anggota kelompok melakukan pengukuran kekuatan genggam dengan digital

hand grip dynamometer. Pengukuran dilakukan dalam 3 posisi tubuh yang berbeda dan 3
variasi ukuran diameter genggam dengan replikasi sebanyak 3 kali per kombinasi posisi. 3. Mencatat hasil pengukuran dalam lembar pengamatan. Sedangkan untuk Back Strength Test, prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. 2. Mempersiapkan peralatan yang diperlukan dan lembar pengamatan serta alat tulis. Masing-masing anggota kelompok melakukan pengukuran kekuatan tarikan dengan digital

pull back strength dynamometer. Pengukuran dilakukan dalam 3 posisi tubuh yang berbeda
dan dengan replikasi sebanyak 3 kali per posisi. 3. Mencatat hasil pengukuran dalam lembar pengamatan.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

98

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengumpulan Data Pengambilan data ini dilakukan dengan cara merekam aktivitas pekerja dengan menggunakan kamera digital. Beban yang dibawa oleh pekerja adalah 1 karung semen atau sebesar 50 kilogram. Data yang dikumpulkan berupa data Hand Grip Strength dan Pull Back Strength. Selain itu, dikumpulkan pula data postur kerja pengangkatan satu karung semen untuk menganalisis RWL LI, RULA, REBA, dan OWAS.

Gambar 4.1 Satu Karung Semen 50kg Sumber: www.semengresik.com

4.1.1 Pengumpulan Data APK Pengumpulan data analisis postur kerja berupa gambar dari aktivitas pekerja yang sedang mengangkat semen. Data ini digunakan untuk melakukan analisis postur kerja dengan menggunakan metode RULA, REBA, dan OWAS. 100 00

200 200

Gambar 4.2 Pengangkatan Semen Sumber: Pengambilan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

99

MODUL 2 4.1.2 Pengumpulan Data Biomekanika I

APK DAN BIOMEKANIKA

Pengumpulan data biomekanika I berupa gambar dari aktivitas pekerja saat akan mengangkat dan meletakkan semen. Data ini digunakan untuk melakukan analisis biomekanika dengan menggunakan metode RWL dan LI. a. RWL Origin

Gambar 4.3 Postur Tubuh Pekerja saat Mengangkat Semen Sumber: Pengambilan Data Tabel 4.1 Variabel Perhitungan RWL Origin Variabel Nilai Jarak horisontal ( H ) 26 cm Jarak Vertical ( V ) 0 cm Jarak Perpindahan ( D ) 26 cm 0 Sudut Asimetri ( A ) 0 Frekuensi 4 kali/menit Durasi <1 jam Pegangan Fair (cukup) Sumber: pengolahan data b. RWL Destinaton

Gambar 4.4 Postur Tubuh Pekerja saat Meletakkan Semen Sumber: Pengambilan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 100 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Tabel 4.2 Variabel Perhitungan RWL Desstination Variabel Nilai Jarak horisontal ( H ) 35 cm Jarak Vertical ( V ) 25 cm Jarak Perpindahan ( D ) 10 cm 0 Sudut Asimetri ( A ) 0 Frekuensi 4 kali/menit Durasi <1 jam Pegangan Fair (cukup) Sumber: pengolahan data

4.1.3 Pengumpulan Data Biomekanika II Terdapat dua macam data pada pengumpulan data biomekanika II, yaitu data hand grip

strength dan data pull back strength dari putra maupun putri.
4.1.3.1 Pengumpulan Data Kekuatan Genggam Di bawah ini adalah data pengamatan putra dengan menggunakan Hand Grip Strength dengan variasi posisi tubuh dan diameter hand grip. 1. Data Kekuatan Genggam Putra
Tabel 4.3 Data Pengamatan Putra dengan Menggunakan Hand Grip Strength Posisi 1

NO 1 2

NAMA Hafidz Afif

POSISI 1 D1 D2 D3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 16,8 26 27,6 24,5 36,6 35,1 26,2 25,4 26 32,5 33,3 33,2 35 36,8 33,5 34,3 35,7 34,5

Sumber: pengolahan data Tabel 4.4 Data Pengamatan Putra dengan Menggunakan Hand Grip Strength Posisi 2

NO 1 2

NAMA Hafidz Afif

POSISI 2 D1 D2 D3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 27,4 25,8 27,4 34,1 33,6 34,3 22,7 23,4 21,8 33,4 31,7 33,7 34,1 32,6 31,9 32,3 30,5 30,2

Sumber: pengolahan data Tabel 4.5 Data Pengamatan Putra dengan Menggunakan Hand Grip Strength Posisi 3

NO 1 2

NAMA Hafidz Afif

POSISI 3 D1 D2 D3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 27,3 27,3 28,3 35,3 36,4 34,1 28,3 26,6 30,5 31,9 29,4 30,5 31,4 29,7 32,7 26,9 25,5 26,6

Sumber: pengolahan data Tabel 4.6 Data Pengamatan Putra dengan Menggunakan Hand Grip Strength Posisi 4

NO 1 2

NAMA Hafidz Afif

POSISI 4 D1 D2 D3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 27,0 25,6 28,2 35,2 28,7 34,1 27,8 27,8 26,6 30 24,2 27,7 29,9 28,9 28,9 28,7 28,9 25,3

Sumber: pengolahan data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 101 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

2.

Data Kekuatan Genggam Putri


Tabel 4.7 Data Pengamatan Putri dengan Menggunakan Hand Grip Strength Posisi 1

NO 1 2

NAMA Della Inggrid

POSISI 1 D1 D2 D3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 13,8 11,6 10,4 20,1 19,1 16,9 15,9 17,2 18,1 18,7 21,3 20 24,9 23,2 21,8 21,6 21,5 20,7

Sumber: pengolahan data Tabel 4.8 Data Pengamatan Putri dengan Menggunakan Hand Grip Strength Posisi 2

NO 1 2

NAMA Della Inggrid

POSISI 2 D1 D2 D3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 8,7 10,3 7,8 17,6 17,5 15,4 15,4 16 14,9 21,1 19 17,9 21,3 22 21,1 18,2 18,2 18,6

Sumber: pengolahan data Tabel 4.9 Data Pengamatan Putri dengan Menggunakan Hand Grip Strength Posisi 3

NO 1 2

NAMA Della Inggrid

POSISI 3 D1 D2 D3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 12,3 12,2 9,6 20,2 18,2 17,4 18,4 17,3 14,6 20,7 20 18,8 22,3 21,6 22,3 20,3 19,7 18,1

Sumber: pengolahan data Tabel 4.10 Data Pengamatan Putri dengan Menggunakan Hand Grip Strength Posisi 4

NO 1 2

NAMA Della Inggrid

POSISI 4 D1 D2 D3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 10 10,9 8 17,3 17,9 16,8 15,6 13,4 15 19,4 20 19,6 18,9 20,5 18,8 18,4 17,2 17,4

Sumber: pengolahan data

4.1.3.2 Pengumpulan Data Pullback Di bawah ini adalah data hasil pengamatan putra dengan menggunakan Pull Back Strength dengan variasi sudut punggung. 1. Data Pullback Putra
Tabel 4.11 Data Pengamatan Putra dengan Menggunakan Pull Back Strength
NO 1 2 Nama Hafidz Afif POSISI 1 1 25 28 2 23 20 3 24 20 1 81 53 POSISI 2 2 90 67 3 97 68 1 81 67 POSISI 3 2 101 77 3 96 80 1 31 37 POSISI 4 2 29 37 3 28 37 1 92 64 POSISI 5 2 101 80 3 97 71 1 61 46 POSISI 6 2 61 46 3 65 48

Sumber: pengolahan data

2.

Data Pullback Putri


Tabel 4.12 Data Pengamatan Putri dengan Menggunakan Pull Back Strength
NO Nama POSISI 1 POSISI 2 POSISI 3 POSISI 4 POSISI 5 POSISI 6

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 102 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2
1 1 2 Della Inggrid 14 14 2 11 14 3 10 14 1 24 26 2 26 33 3 27 30 1 25 42 2 29 43 3 33 47 1 12 19 2 12 17 3 13 18

APK DAN BIOMEKANIKA


1 26 35 2 29 38 3 28 38 1 15 20 2 17 21 3 14 20

Sumber: pengolahan data

4.2 Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan dan analisis yang dilakukan ialah pengolahan analisis postur kerja, biomekanika I, dan biomekanika II. 4.2.1 Pengolahan dan Analisis Data APK Pengolahan analisis postur kerja pada kegiatan pengangkatan galon air mineral dilakukan dengan tiga metode, yaitu metode RULA, REBA, dan OWAS. 4.2.1.1 Pengolahan dan Analisis Data Menggunakan Metode RULA Dalam pengolahan data menggunakan metode RULA, bagian tubuh yang menjadi fokus pengamatan tubuh bagian atas yang meliputi adalah lengan bagian atas (upper arm), lengan bagian bawah (lower arm), pergelangan tangan, leher, badan (tubuh bagian atas), kaki serta beban yang dibawa. Postur bagian-bagian tubuh tersebut kemudian diukur untuk mengetahui sudutsudut yang terbentuk. Pengukuran sudut tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini: 100 00

200 200

Gambar 4.5 Pengangkatan Semen Sumber: Pengambilan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 103 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Pada gambar di atas, dapat dilihat bahwa postur leher membentuk sudut 100, lengan bagian atas membentuk sudut 200, lengan bagian bawah membentuk sudut 200, dan badan pekerja membentuk posisi tegak atau 00. Hasil pengukuran sudut postur-postur tubuh tersebut selanjutnya dikodekan dalam lembar pengamatan RULA seperti di bawah ini:

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 104 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Gambar 4.6 Lembar Pengamatan RULA Sumber: Pengolahan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 105 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Dari lembar pengamatan RULA tersebut didapatkan hasil bahwa postur kerja dalam aktivitas pengangkatan batu bata tersebut bernilai 7 (tujuh) sehingga postur kerja ini masuk dalam kategori 4 yaitu postur kerja menunjukkan bahwa penyelidikan dan perubahan dibutuhkan sesegera mungkin. Pada postur kerja ini, posisi yang mungkin menimbulkan cedera adalah postur lengan. Postur ini dapat mengakibatkan ketegangan pada otot lengan karena berat beban menumpu ke lengan. Pekerja harus sesegera mungkin melakukan perubahan postur kerja karena apabila hal ini dibiarkan maka kemungkinan besar akan terjadi cedera pada lengan akibat menegang karena benda yang diangkat terlalu berat. 4.2.1.2 Pengolahan dan Analisis Data Menggunakan Metode REBA Dalam pengolahan data menggunakan metode REBA, bagian tubuh yang menjadi fokus pengamatan adalah lengan bagian atas (upper arm), lengan bagian bawah (lower arm), pergelangan tangan, leher, badan (tubuh bagian atas), kaki, beban yang dibawa, serta faktor

coupling. Pada metode REBA, kenyamanan genggaman pekerja dalam membawa beban
turut diperhitungkan sebagai bahan pertimbangan apakah postur tubuh tersebut baik atau tidak. Postur bagian-bagian tubuh tersebut kemudian diukur untuk mengetahui sudut-sudut yang terbentuk, hal ini sama dengan yang dilakukan pada pengolahan dan analisi data sebelumnya yaitu menggunakan metode RULA. Pengukuran sudut tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini: 100

200

1200

Gambar 4.7 Pengangkatan Semen Sumber: Pengambilan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 106 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Pada gambar di atas, dapat dilihat bahwa postur leher membentuk sudut 100, lengan bagian atas membentuk sudut 200, lengan bagian bawah membentuk sudut 600, dan badan pekerja membentuk posisi tegak atau 00. Hasil pengukuran sudut postur-postur tubuh tersebut selanjutnya dikodekan dalam lembar pengamatan REBA seperti di bawah ini:

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 107 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Gambar 4.8 Lembar Pengamatan RULA Sumber: Pengolahan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 108 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Dari lembar pengamatan REBA di atas, dapat kita lihat bahwa postur tubuh pekerja saat mengangkat batu bata memiliki nilai 5. Hal ini berarti bahwa postur tubuh tersebut masuk dalam kategori 3 yang berarti cukup beresiko menimbulkan cedera dan perlu untuk diperbaiki sesegera mungkin. Pada postur ini, letak ketidaknyamanan berada pada sudut yang dibentuk oleh pergelangan tangan. Apabila sudut yang terbentuk terlalu besar, maka penekukan tulangtulang persendian akan menyebabkan ketegangan otot apabila menggunakan postur ini dalam waktu yang cukup lama atau berulang-ulang. Selain itu, posisi yang juga dapat menimbulkan cedera adalah posisi tumpuan pada kaki. Pekerja mengangkat beban dengan hanya bertumpu ke satu kaki. Posisi ini dapat menyebabkan terjadinya cedera pada pinggul. 4.2.1.3 Pengolahan dan Analisis Data Menggunakan Metode OWAS Analisis data menggunakan metode yang dikembangkan oleh perusahaan Ovako Oy Finlandia ini memfokuskan permasalahan postur tubuh pekerja dengan jumlah beban yang dikerjakan (dibawa). Bagian tubuh yang diamati adalah tulang punggung, lengan, dan kaki. Postur-postur tubuh pekerja hasil dari pengamatan selanjutnya dikodekan sesuai dengan kode-kode dalam metode OWAS dan selanjutnya diisikan pada tabel OWAS seperti berikut ini :
Tabel 4.13 Tabel OWAS

Sumber: Pengolahan Data

Dari tabel OWAS di atas, dapat dilihat bahwa nilai postur tubuh pekerja yang diamati adalah 1. Hal ini berarti postur tubuh tersebut merupakan postur tubuh yang baik dan tidak menimbulkan resiko cedera bagi pekerja.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 109 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 4.2.2 Pengolahan dan Analisis Data Biomekanika I

APK DAN BIOMEKANIKA

Pada biomekanika I, terdapat dua jenis pengolahan data, yaitu pengolahan RWL dan LI origin dan pengolahan RWL dan LI destination. 4.2.2.1 Pengolahan dan Analisis Data Menggunakan RWL dan LI (Origin) Pengolahan RWL dan LI origin menggunakan data dari kegiatan pekerja saat mengambil satu karung semen.
Tabel 4.14 Perhitungan RWL Origin Variabel Nilai Jarak horisontal ( H ) 26 cm Jarak Vertical ( V ) 0 cm Jarak Perpindahan ( D ) 26 cm 0 Sudut Asimetri ( A ) 0 Frekuensi 4 kali/menit Durasi <1 jam Pegangan Poor (buruk) Sumber: pengolahan data

1. 2.

Load Constant (LC) = 23 kg Horizontal Multiplier (HM)


HM HM = 25/H = 25 : 26 = 0,96 cm

3.

Vertical Multiplier (VM)


VM = 1 0,003 [V - 69] = 1 0,003 [0- 69] = 1 0,003 ( 69 ) = 0,793 cm

4.

Distance Multiplier (DM)


DM = 0,82 + ( 4,5/D ) = 0,82 + ( 4,5/26 ) = 0,993 cm

5.

Asymmetric Multiplier (AM)


AM = 1 (0,0032 x A) = 1 (0,0032 x 0) =1

6.

Frequency Multiplier (FM)


f = 60/15 = 4 Dari tabel dapat diketahui FM=0,84

7.

Coupling Multiplier (CM)

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 110 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Kriteria Kopling dikatakan poor karena semen tidak mempunyai pegangan sehingga tangan tidak dapat meraihnya dengan mudah, maka dari tabel dapat diketahui nilai CM =1 8. RWL RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM = 23 x 0,96 x 0,793 x 0,993 x 1 x 0,84 x 1 = 14,60kg

9.

Lifting Index
Beban / Load Weight (L) = 50 kg LI = L/ RWL = 50 / 14,60 = 3,42 LI = 3,42 LI 3

Lifting Index pada pengangkatan awal adalah sebesar 3,42; sehingga termasuk
kategori High Stressful Task yaitu pekerja mempunyai resiko cedera pinggang. 4.2.2.2 Pengolahan RWL dan LI Destination Pengolahan RWL dan LI destination menggunakan data dari kegiatan pekerja saat meletakkan satu karung semen.
Tabel 4.15 Variabel Perhitungan RWL Destination Variabel Nilai Jarak horisontal ( H ) 35 cm Jarak Vertical ( V ) 25 cm Jarak Perpindahan ( D ) 10 cm 0 Sudut Asimetri ( A ) 0 Frekuensi 4 kali/menit Durasi <1 jam Pegangan Poor (buruk) Sumber: pengolahan data

1. 2.

Load Constant (LC) = 23 kg Horizontal Multiplier (HM)


HM = 25/H HM = 25 : 35 = 0,714 cm

3.

Vertical Multiplier (VM)


VM = 1 0,003 [V - 69] = 1 0,003 [25- 69] = 1 0,003 (44) = 0,868 cm

4.

Distance Multiplier (DM)

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 111 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 DM = 0,82+ ( 4,5/D ) = 0,82+ ( 4,5/10 ) = 1,27 cm 5.

APK DAN BIOMEKANIKA

Asymmetric Multiplier (AM)


AM = 1 (0,0032 x A) = 1 (0,0032 x 0) =1

6.

Frequency Multiplier (FM)


f = 60/15 = 4 Dari tabel dapat diketahui FM = 0,84

7.

Coupling Multiplier (CM)


Kriteria Kopling dikatakan Poor karena semen tidak mempunyai pegangan sehingga tangan tidak dapat meraihnya dengan mudah, maka dari tabel dapat diketahui nilai CM =1

8.

RWL RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM = 23 x 0,714 x 0,868 x 1,27x 1 x 0,84 x 1 = 15,20kg

9.

Lifting Index
Beban / Load Weight (L) = 50 kg LI = L/ RWL = 50 / 15,20 = 3,288 LI = 3,288 LI 3

Lifting Index pada pengangkatan awal adalah sebesar 3,288; sehingga termasuk
kategori High Stressful Task yaitu pekerja mempunyai resiko cedera pinggang. Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan untuk memperkecil resiko cedera pinggang yang akan terjadi. Hal lain yang harus diperhatikan adalah posisi tubuh pekerja saat meletakkan semen, yaitu pekerja meletakkan beban (semen) dengan cara membungkukkan tubuh. Hal ini dapat meningkatkan resiko cedera. Jika pekerja terbiasa (berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama) membungkukkan tubuh saat meletakkan beban, maka hal tersebut dapat menimbulkan cedera pinggang.

4.2.3 Pengolahan dan Analisis Data Biomekanika II Hubungan antara diameter genggam dengan kekuatan genggam dapat dijabarkan dengan tabel dan grafik, sebagai berikut:

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 112 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 4.2.3.1 Pengolahan dan Analisis Data Kekuatan Genggam

APK DAN BIOMEKANIKA

Berikut adalah table dan grafik hasil pengolahan dari kekuatan genggam

1.

Grafik dan table hubungan antara diameter genggam pada masing-masing posisi dengan kekuatan genggam pada putra.
Tabel 4.16 Perhitungan Kekuatan Genggam Putra Posisi 1 Posisi 2 Nama Operator Replikasi D1 D2 D3 D1 D2 1 16.8 24.5 26.2 27.4 34.1 Hafidz Akbar 2 26 36.6 25.4 25.8 33.6 3 27.6 35.1 26 27.4 34.3 1 32.5 35 34.3 33.4 34.1 Afif Fahmi 2 33.3 36.8 35.7 31.7 32.6 3 33.2 33.5 34.5 33.7 31.9 rata-rata 28.23 33.58 30.35 29.9 33.43 Sumber: Pengolahan Data Tabel 4.17 Perhitungan Kekuatan Genggam Putra
Nama Operator Replikasi

D3 22.7 23.4 21.8 32.3 30.5 30.2 26.82

1 Hafidz Akbar 2 3 1 Afif Fahmi 2 3 rata-rata Sumber : Pengolahan Data

D1 27.3 27.3 28.3 31.9 29.4 30.5 29.12

Posisi 3 D2 35.3 36.4 34.1 31.4 29.7 32.7 33.27

D3 28.3 26.6 30.5 26.9 25.5 26.6 27.4

D1 27 25.6 28.2 30 24.2 27.7 27.17

Posisi 4 D2 35.2 28.7 34.1 29.9 28.9 28.9 30.95

D3 27.8 27.8 26.6 28.7 28.9 25.3 27.57

Dari table di atas dapat dibuat menjadi grafik berikut :

Grafik kekuatan Genggam Putra


40 35 30 25 20 15 10 5 0 posisi 1 posisi 2 posisi 3 posisi 4 Kekuatan Tarik

1 28.23333333 29.9 29.11666667 27.11666667

2 33.58333333 33.43333333 33.26666667 30.95

3 30.35 26.81666667 27.4 27.51666667

Gambar 4.9 Grafik Kekuatan Genggam Putra

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 113 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2
Sumber : Pengolahan Data

APK DAN BIOMEKANIKA

Pada grafik tersebut, dapat dilihat nilai rata-rata tertinggi pada D2 (5,5 cm)-posisi 1 (tubuh berdiri tegak, tangan terjulur ke bawah) dengan rata-rata sebesar 33,58. Nilai rata-rata terendah adalah pada D3 (4 cm)-posisi 2 (tubuh berdiri tegak, tangan ke depan pada jangkauan maksimum) dengan nilai rata-rata sebesar 26,82.

2.

Grafik dan tabel hubungan antara diameter genggam pada masing-masing posisi dengan kekuatan genggam pada putri.
Tabel 4.18 Perhitungan Kekuatan Genggam Putri
Nama Operator Della Ginza Inggrit Repli kasi 1 2 3 1 2 3 ratarata D1 13.8 11.6 10.4 18.7 21.3 20 15.9 67 Posisi 1 D2 D3 20.1 15.9 19.1 17.2 16.9 18.1 24.9 21.6 23.2 21.5 21.8 20.7 19.1 21 67 D1 8.7 10.3 7.8 21.1 19 17.9 14.1 33 Posisi 2 D2 D3 27.6 15.4 17.5 16 15.4 14.9 21.3 18.2 22 18.2 21.1 18.6 20.8 16.8 17 83 D1 12.3 12.2 9.6 20.7 20 18.8 Posisi 3 D2 D3 20.2 18.4 18.2 17.3 17.4 14.6 22.3 20.3 21.6 19.7 22.3 18.1 20.3 18.0 15.6 33 67 D1 10 10.9 8 19.4 20 19.6 14.6 5 Posisi 4 D2 D3 17.3 15.6 17.9 13.4 16.8 15 18.9 18.4 20.5 17.2 18.8 17.4 18.3 16.1 67 67

Sumber : Pengolahan Data

Dari table di atas kemudian dapat dibuat grafik sebagai berikut :

Grafik Kekuatan Genggam Putri


25 20 15 10 5 0 posisi 1 posisi 2 posisi 3 posisi 4 Kekuatan Tarik

D1 15.96666667 14.13333333 15.6 14.65

D2 21 20.81666667 20.33333333 18.36666667

D3 19.16666667 16.88333333 18.06666667 16.16666667

Gambar 4.10 Grafik Kekuatan Genggam Putri Sumber : Pengolahan Data

Pada grafik tersebut, dapat dilihat nilai rata-rata tertinggi pada D2 (5,5 cm)-posisi 1 (tubuh berdiri tegak, tangan terjulur ke bawah) dengan rata-rata sebesar 21. Nilai rata-rata terendah adalah pada D1 (7 cm)-posisi 2 (tubuh duduk dengan badan tegak, tangan ke depan pada jangkauan maksimum) dengan nilai rata-rata sebesar 14,133.

3.

Grafik Perbandingan Kekuatan Genggam Putra-Putri pada Posisi 1

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 114 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Grafik Kekuatan Genggam Putra -Putri pada Posisi 1


40 35 30 25 20 15 10 5 0 Putra1 Putri1 Axis Title

D1 28.23333333 15.96666667

D2 33.58333333 21

D3 30.35 19.16666667

Gambar 4.11 Grafik Perbandingan Kekuatan Genggam Posisi 1 Sumber : Pengolahan Data

Dari grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa kekuatan genggam antara putra dan putri tidak sama, tetapi rata-rata kekuatan genggam terendah dan tertinggi keduanya sama. Yakni, pada rata-rata tertinggi ialah pada D2 dimana nilainya untuk putra adalah 33,583 dan untuk putri adalah 21, sedangkan nilai terendah untuk putra 28,233 dan untuk putrid adalah 15,967.

4.

Grafik Kekuatan Genggam Putra-Putri pada Posisi 2

Grafik Kekuatan Genggam Putra-Putri pada Posisi 2


Kekuatan Tarik 40 30 20 10 0 putra putri D1 29.9 14.13333333 D2 33.43333333 20.81666667 D3 26.81666667 16.88333333

Gambar 4.12 Grafik Perbandingan Kekuatan Genggam Posisi 2 Sumber : Pengolahan Data

Dari grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa kekuatan genggam dengan rata-rata tertinggi ialah pada D2 dimana nilainya untuk putra adalah 33,433 dan untuk putri adalah 20,817 sedangkan nilai terendah untuk putra pada D3 dengan nilai 26,817 dan untuk putrid adalah 16,883.

5.

Grafik Kekuatan Genggam Putra-Putri pada Posisi 3 LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 115 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Grafik Kekuatan Genggam Putra-Putri pada Posisi 3


Kekuatan Tarik 40 30 20 10 0 D1 15.6 D2 33.26666667 20.33333333 D3 27.4 18.06666667

putra 29.11666667 putri

Gambar 4.13 Grafik Perbandingan Kekuatan Genggam Posisi 3 Sumber : Pengolahan Data

Dari grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa kekuatan genggam dengan rata-rata tertinggi ialah pada D2 dimana nilainya untuk putra adalah 33,267 dan untuk putri adalah 20,333 sedangkan nilai terendah untuk putra pada D3 dengan nilai 27,4 dan untuk putri pada D1 dengan nilai 15,6.

6.

Grafik Kekuatan Genggam Putra-Putri pada Posisi 4

Kekuatan Genggam PutraPutri pada Posisi 4


35 30 25 20 15 10 5 0 Kekuatan Tarik

D1 14.65

D2 30.95 18.36666667

D3 27.51666667 16.16666667

putra 27.11666667 putri

Gambar 4.14 Grafik Perbandingan Kekuatan Genggam Posisi 4 Sumber : Pengolahan Data

Dari grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa kekuatan genggam dengan rata-rata tertinggi ialah pada D2 dimana nilainya untuk putra adalah 30,95 dan untuk putri adalah 18,367 sedangkan nilai terendah untuk putra pada D1 dengan nilai 27,117 dan untuk putrid pada D1 dengan nilai 14,65. 4.2.3.2 Pengolahan dan Analisis Data Pullback LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 116 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Pengolahan data pull back yaitu dengan menganalisis perhitungan sudut pada bagian tubuh, perhitungan gaya dan momen yang ada dalam masing-masing posisi antara kekuatan genggam putra dan putri. 4.2.3.2.1 Perhitungan Sudut Perhitungan sudut untuk masing-masing putra mapun putri dapat dilihat pada gambar berikut :

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 117 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 118 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Gambar 4.15 Enam Posisi PullBack Putra dan Putri Sumber: Pengolahan Data Tabel 4.19 Rekap Sudut Putra Posisi Nama Bagian Tubuh 1 2 3 4 o o o Lengan Bawah 0 0 90 70o Hafidz Lengan Atas 17o 0o 30o 0o Punggung 0o 37o 55o 90o Lengan Bawah 0o 0o 0o 40o Gayuh Lengan Atas 0o 0o 0o 81o Punggung 0o 48o 34o 90o Sumber : Pengolahan Data Tabel 4.20 Rekap sudut Putri Posisi Nama Bagian Tubuh 1 2 3 4 Lengan Bawah 0o 0o 50o 15o Della Lengan Atas 0o 0 o 0o 0o o o o Punggung 0 45 30 65o Lengan Bawah 0o 0o 0o 43o Inggrit Lengan Atas 0o 0 o 0o 70o o o Punggung 0 49 38o 90o Sumber : Pengolahan Data

6
o

90 25o 75o 0o 0o 13o

0o 0o 25o 78o 71o 90o

90o 30o 55o 0o 0o 16o

0o 0o 30o 90o 51o 90o

4.2.3.2.2 1. Posisi 1

Perhitungan Momen untuk Masing-masing Posisi

4.2.3.2.2.1 Perhitungan Momen Putra Lengan Bawah Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fa = Wa g =(24 : 2) 10 LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 119 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 =120 N Fab = (Wab) g =(2,3% 63,6) 10 =14,628 N Fy = 0 Fa + Fab Fb = 0 Fb = Fa + Fab Fb = 120 + 14,628 = 134,628 N Da = 26,5% tinggi responden = 26,5% 1.85 =0.49 m Dab = 41% Da =41%0.49 =0.2 M =0 Fa Da x + Fab Dab x Mb =0 Mb = (120 0.49 x + 14,628 0.2 = 61,276 Lengan atas Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fbc = (Wbc) g =(2,8% 63,6) 10 =17,808 N Fy = 0 Fb - Fbc Fc = 0 Fc = Fb - Fbc =134,628 17,808 = 116,82 N Db = 17.4% x 1.85 = 0,3219 Dbc = 48% x 0,3219 = 0,155

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 120 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 M =0 Mc = Mb x cos 17 Mbc x cos 17 Mc = (61,276 x 0,3219 x 0,96) (17,808 x 0.155 x 0.96) = 21,59 Nm Punggung Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fcd = (Wcd) g =(58,4% 63,6) 10 =371,42 N Fy = 0 2Fc + Fcd -Fd = 0 Fd = 2Fc + Fcd =(2 116,82) + 371,42 = 605,06 N Dc = 28,8% tinggi responden = 28,8% 1.85 =0,533 Dcd = 46% Dc =46%0.533 =0,245 m M =0 Md = 2Fc cos Dc + Fcd cos Dcd = (2x116,82x0.99x0,533) + (371,42x1x0,245 ) = 124,53 + 90,998 = 215,528 Posisi 2 Lengan bawah Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fa = Wa g =(89,33:2) 10 =446,65 Fab = (Wab) g =(2,3% 63,6) 10 =17,808 N

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 121 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 Fy = 0 Fa + Fab Fb = 0 Fb = Fa + Fab Fb = 446,65 + 17,808 =464,458 N Da = 26,5% tinggi responden = 26,5% 1.85 =0.49 m Dab = 41% Da =41%0.49 =0,2 M =0 Fa Da x cos 90 + Fab Dab x cos 90 Mb=0 Mb = (446,65 0,49 x 0) + (17,808 0,2 x 0) =0 Lengan atas Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fbc = (Wbc) g =(2,8% 63,6) 10 =17,808 N Fy = 0 Fb - Fbc Fc = 0 Fc = Fb - Fbc =464,458 17,808 = 446,65 N Db = 17.4% x 1.85 = 0.533 Dbc = 48% x 0.533 = 0.245 M =0 M =0 Mc + FbcDbcx cos 25 - FbDb cos 25=0 Mc=(464,458 0.533x 0.906) (17,8080.245x 0.906) =224,459+3,954 = 228,413 Nm

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 122 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 Punggung Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fcd = (Wcd) g =(58,4% 63,6) 10 =371,42 N Fy = 0 2Fc + Fcd -Fd = 0 Fd = 2Fc + Fcd =(2 446,65) + 371,42 = 1264,72 N Dc = 28,8% tinggi responden = 28,8% 1.85 =0.533 Dcd = 46% Dc =46%0.533 =0.245 m M =0 Md = 2Fc cos 30 Dc + Fcd cos 30 Dcd =2x446,65X0.866x0.533 + 371,42x0.866x0,245 =491,132 Nm 2. Posisi 3 Lengan bawah Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fa = Wa g = (92,67:2) 10 =463,35 Fab = (Wab) g =(2,3% 63,6) 10 =17,808 N Fy = 0 Fa + Fab Fb = 0 Fb = Fa + Fab Fb = 463,35 + 17,808 =481,158 N

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 123 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 Da = 26,5% tinggi responden = 26,5% 1.85 =0.49 m Dab = 41% Da =41%0.49 =0.2 M =0 Fa Da x cos 90 + Fab Dab x cos 80 Mb =0 Mb = 463,35 0.49 x 0 + 17.808 0.2 x 0 =0 Lengan atas Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fbc = (Wbc) g =(2,8% 63,6) 10 =17,808N Fy = 0 Fb - Fbc Fc = 0 Fc = Fb - Fbc =481,158 - 17,808 = 463,35 N Db = 17.4% x 1.85 = 0.533 Dbc = 48% x 0.533 = 0.245 M =0 Mc + FbcDbcx cos 30 - FbDb cos 26=0 Mc=(481,1580.533x 0.866) (17,8080,245 x 0.866) =225,87 Nm Punggung Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fcd = (Wcd) g =(58,4% 63,6) 10 =371,42 N

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 124 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 Fy = 0 2Fc + Fcd -Fd = 0 Fd = 2Fc + Fcd =(2463,65) + 371,42 = 1298,72 N Dc = 28,8% tinggi responden = 28,8% 1.85 =0.533 Dcd = 46% Dc =46%0.533 =0.245 m M =0 Md = 2Fc cos 55 Dc + Fcd cos 55 Dcd = 2x463,635x0.574x0.533 + 371,42x0,574x0.245 = 335,924 Nm 3. Posisi 4 Lengan bawah Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fa = Wa g =29.33 10 =146,65 Fab = (Wab) g =(2,3% 63,6) 10 =17,808 N Fy = 0 Fa + Fab Fb = 0 Fb = Fa + Fab Fb = (146,65) + 17,808 = 164,458 N Da = 26,5% tinggi responden = 26,5% 1.85 =0.49 m Dab = 41% Da =41%0.49 =0.2

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 125 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 M =0 Fa Da x cos 70 + Fab Dab x cos 70 Mb =0 Mb = 146,65 0.49 x 0.342 + 17,808 0.2 x 0.342 = 25,794 Nm Lengan atas Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fbc = (Wbc) g =(2,8% 63,6) 10 =17,808 N Fy = 0 Fb - Fbc Fc = 0 Fc = Fb - Fbc =164,458 - 17,808 =146.65 N Db = 17.4% x 1.85 = 0.321 Dbc = 48% x 0.321 = 0,155 M =0 Mc + FbcDbc - FbDb=0 Mc=(164,458 0,321) (17,8080,155) =55,551 Nm Punggung Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fcd = (Wcd) g =(58,4% 63,6) 10 = 371,42 N Fy = 0 2Fc + Fcd -Fd = 0 Fd = 2Fc + Fcd =(2 146.65) + 371,42 = 664,72 N Dc = 28,8% tinggi responden = 28,8% 1.85 =0.533

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 126 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 Dcd = 46% Dc =46%0.533 =0.245 m M =0 Md = 2Fc cos 90 Dc + Fcd cos 90 Dcd = 2x146.65x0 + 371,42x0.245 x 0 =0 4. Posisi 5 Lengan Atas Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fa = Wa g = (96,67:2) 10 =483,35 N Fab = Wab g =2,3% 63,6 10 =14,628 Fy = 0 Fa + Fab Fb = 0 Fb = Fa + Fab Fb = 483,35 + 14,628 = 497,978 N Da = 26,5% 1,85 = 0,49 Dab = 41% 0,49 = 0,2 M =0 (Fa Da) + (Fab Dab) Mb=0 Mb = (483,35 0,49 x cos 90) + (14,628 0,2 x cos 90) = 0 Nm Lengan atas Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fbc = Wbc g =2,8% 63,6 10 =17,808

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 127 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 Fy = 0 Fbc+Fc-Fb=0 Fc = Fb - Fbc =497,978 17,808= 139.41 N Db = 17,4% tinggi responden = 17,4% 1,85 = 0,322 m Dbc = 48% Db =48%0,322 =0,155 m M =0 Mc + (FbcDbc x cos25) (FbDbxcos 25)=0 Mc =(497,9780,322x0.906) (17,8080,134 x0.906) =147,438 Nm Punggung Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fcd = Wcd g =58,4% 63,6 10 =371,42 N Fy = 0 2Fc + Fcd -Fd = 0 Fd = 2Fc + Fcd =(2139,41 ) + 371,42 = 650,24 N Dc = 28,8% tinggi responden = 28,8% 1,85 =0.533 m Dcd = 46% Db =46%0,455 =0,245 m M =0 Md = (2Fc cos 7 Dc) + (Fcd cos 75 Dcd) = (2x139,410.259x0,533)+(371,42x0.2590,245) = 62,059 Nm

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 128 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 5. Posisi 6 Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fa = Wa g = (62,33:2) 10 = 311,65 N Fab = Wab g =2,3% 63,6 10 =14,628 Fy = 0 Fa + Fab Fb = 0 Fb = Fa + Fab Fb = 311,65 + 14,628 = 326,278 N Da = 26,5% 1,85 = 0,49 Dab = 41% 0,426 = 0,2 M =0 (Fa cos 0Da) + (Fab cos0 Dab) Mb=0 Mb = (311,65 1 0,49) + (14,628 1 0,2) = 155,634 Nm Lengan atas Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fbc = Wbc g =2,8% 63,6 10 =17,808 Fy = 0 Fbc+Fc-Fb=0 Fc = Fb - Fbc =326,278 17,808 = 308,47 N Db = 17,4% tinggi responden = 17,4% 1,85 =0.322 m Dbc = 48% Db =48%0,322 =0,155 m

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 129 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 M =0 Mc + Fbc cos Dbc Fb cos Db=0 Mc=( 326,278 1 0,322) - (17,808 10,155) = 289,995 Nm Punggung Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fcd = Wcd g =58,4% 63,6 10 =371,424 N Fy = 0 2Fc + Fcd -Fd = 0 Fd = 2Fc + Fcd =(2 308,47) + 371,42 =988,36 N Dc = 28,8% tinggi responden = 28,8% 1,85 =0.533 m Dcd = 46% Db =46%0,533 =0,245 m M =0 Md = (2Fc cos25 Dc) + (Fcd cos25 Dcd) = (308,47 1 0.464) +(371,42 1 0,245) = 324,128 Nm 4.2.3.2.2.2 Perhitungan Momen Putri 1. Posisi 1 Lengan bawah Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fa = Wa g = (11,67:2) 10 = 58,35 Fab = Wab g =2,3% 46,3 10 =10,65 N

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 130 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 Fy = 0 Fa + Fab Fb = 0 Fb = Fa + Fab Fb = 58,35 + 10,65 = 69 N Da = 26,5% tinggi responden = 26,5% 1,52 = 0,4 m Dab = 41% Da =41%0,4 =0.164 m M =0 Fa Da + Fab Dab Mb =0 Mb = (58,35 0,4) + (10,65 0,164) = 25,087 Nm Lengan atas Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fbc = Wbc g =2,8% 46,3 10 =12,964 Fy = 0 Fc + Fbc Fb = 0 Fc = Fb - Fbc = 69 12,964 = 56,036 N Db = 17,4% tinggi responden = 17,4% 1,52 = 0.26 m Dbc = 48% Db =48%0,26 = 0,108 m M =0 Mc + Fbc Dbc FbDb =0 Mc = Mb - Mbc Mc = (69 x 0.26) (12,964 x 0.108 ) = 19,34 Nm

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 131 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 Punggung Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fcd = Wcd g =58,4% 46,3 10 =270,39 Fy = 0 2Fc + Fcd -Fd = 0 Fd = 2Fc + Fcd =(256,036) + 270,39 =382,462 Dc = 28,8% tinggi responden = 28,8% 1,52 =0.438 m Dcd = 46% Db =46%0,438 =0,201 m M =0 2Fc Dc + Fcd Dcd Md =0 Md = (2x56,0360.438) + (270,390,201) = 103,436 2. Posisi 2 Lengan bawah Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fa = Wa g =(25,67:2) 10 =128,35 Fab = Wab g =2,3% 46,3 10 =12,964 Fy = 0 Fa + Fab Fb = 0 Fb = Fa + Fab Fb = 128,35+10,65 =117,7

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 132 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 Da = 26,5% 1,52 = 0,4 Dab = 41% 0,426 = 0,164 M =0 Fa Da x cos 90 + Fab Dab x cos 90 Mb=0 Mb = (128,35 0,4 x 0) + (10,65 0,164 x 0) =0 Lengan atas Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fbc = Wbc g =2,8% 46,3 10 =12.964 Fy = 0 Fc+Fbc-Fb=0 Fc = Fb - Fbc = 117,7-12,964 = 104,736 Db = 17,4% tinggi responden = 17,4% 1,52 = 0,264 Dbc = 48% Db =48%0,264 =0,127 M =0 Mc + FbcDbcx cos 30 - FbDb cos 30=0 Mc=(117,70,127 x 0.866) (12,9640,127 x 0.866) =14,37 Punggung Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fcd = Wcd g =58,4% 46,3 10 =270,39 N Fy = 0 2Fc + Fcd -Fd = 0 Fd = 2Fc + Fcd

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 133 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 =(2 x 104,736) + 270,39 = 479,862 N Dc = 28,8% tinggi responden = 28,8% 1.52 =0,438 m Dcd = 46% Dc =46%0.438 =0.2 m M =0 Md =(2Fc cos a Dc) + (Fcd cos a Dcd) = ((2 x 104,736) 0.71 0.0438) +(270,39 0.71 0.438) = 90,60 Nm 3. Posisi 3 Lengan bawah Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fa = Wa g =(29:2) 10 =145 N Fab = Wab g =2,3% 46,3 10 =10,65 Fy = 0 Fa + Fab Fb = 0 Fb = Fa + Fab Fb = 145 +10,65 =155.65 N Da = 26,5% 1,52 = 0,4 Dab = 41% 0,4 = 0,165 M =0 Fa Da x cos 50 + Fab Dab x cos 50 Mb=0 Mb = (145 0.4 x 0.64) + ( 10,65 0.165 x 0.4) =37,82 Nm

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 134 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 Lengan atas Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fbc = Wbc g =2,8% 46,3 10 =12,964 Fy = 0 Fbc+Fc-Fb=0 Fc = Fb - Fbc =155.65 12,964 = 142,686 Db = 17,4% tinggi responden = 17,4% 1,52 =0.26 m Dbc = 48% Db =48%0,26 =0,127 m M =0 Mc + FbcDbc - FbDb = 0 Mc + (12,964 0.127) - (155,65 0.26) Mc = 38,82 Nm Punggung Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fcd = Wcd g =58,4% 46,3 10 =270,39 N Fy = 0 2Fc + Fcd -Fd = 0 Fd = 2Fc + Fcd =(2 142,686) + 270,39 = 556,126 Dc = 28,8% tinggi responden = 28,8% 1,52 =0.44 m Dcd = 46% Db =46%0,44 = 0,2 m

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 135 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 M =0 Md = 2Fc cos 47 Dc + Fcd cos 47 Dcd = ( 2 142,686 x 0.87 0.44) +(270,39 0.87 0.2) = 156,288 Nm 4. Posisi 4 Lengan bawah Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fa = Wa g =(12,33:2) 10 = 61,65 N Fab = Wab g =2,3% 46,3 10 =10,65 Fy = 0 Fa + Fab Fb = 0 Fb = Fa + Fab Fb = 61,65 + 10,65 =72,3 Da = 26,5% 1,52 = 0,4 Dab = 41% 0,426 = 0,165 M = 0 Fa cos 15 Da + Fab cos 15 Dab Mb=0 Mb = (61,65 x 0.97 x 0.4 ) + (10,65 x 0.97 x 0.165) = 25,62 Nm Lengan atas Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fbc = Wbc g =2,8% 46,3 10 =12,964 Fy = 0 Fbc+Fc-Fb=0 Fc = Fb Fbc = 72,3 + 12,964

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 136 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 = 85,264 N Db = 17,4% tinggi responden = 17,4% 1,52 = 0.26 m Dbc = 48% Db =48%0,26 =0,127 m M =0 Mc + Fbc Dbc Fb Db=0 Mc = (12,964 0,26) - ( 72,3 0,127) = 30,95 Nm Punggung Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fcd = Wcd g =58,4% 46,3 10 =270,39 N Fy = 0 2Fc + Fcd -Fd = 0 Fd = 2Fc + Fcd =(2 x 85,264) +270,39 =440,19 N Dc = 28,8% tinggi responden = 28,8% 1,52 =0.44 m Dcd = 46% Db = 46%0,44 = 0,2 m M =0 Md = (2Fc cos 65 Dc) + (Fcd cos 65 Dcd) = (2 x 85,264 x 0,42 x 0.44) +(270,39 0,42 x 0,2) = 54,226 Nm 5. Posisi 5 Lengan bawah Fx = 0

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 137 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fa = Wa g =(27,67 : 2) 10 =138,35 N Fab = Wab g =2,3% 46,3 10 =10,65 Fy = 0 Fa + Fab Fb = 0 Fb = Fa + Fab Fb = 138,35 + 10,65 =149 Da = 26,5% 1,52 = 0,44 Dab = 41% 0,426 = 0,165 M =0 (Fa Da) + (Fab Dab) Mb=0 Mb = (138,35 0,44 x cos 90) + (10,65 0,165 x cos 90) =0 Lengan atas Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fbc = Wbc g =2,8% 46.3 10 =12,964 Fy = 0 Fbc+Fc-Fb=0 Fc = Fb - Fbc =149 12,964= 136,036 Db = 17,4% tinggi responden = 17,4% 1,52 =0.26 m Dbc = 48% Db =48%0,26 =0,127 m

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 138 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 M =0 Mc + (FbcDbc x cos 30) (FbDb x cos 30)=0 Mc = (149 0,26 x 0.87) (12,964 0,127 x 0.87) = 35,136 Nm Punggung Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fcd = Wcd g =58,4% 46,3 10 =270,39 N Fy = 0 2Fc + Fcd -Fd = 0 Fd = 2Fc + Fcd =(2136,036 ) + 270,39 = 542,462 N Dc = 28,8% tinggi responden = 28,8% 1,52 = 0,44 m Dcd = 46% Db =46%0,44 =0,2 m M =0 Md = (2Fc cos 55 Dc) + (Fcd cos 55 Dcd) = (272,072 0,57 0,44) +(270,39 x 0.57 0,2) = 99,06 Nm 6. Posisi 6 Lengan bawah Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fa = Wa g =(15,33 : 2) 10 =76.65 N Fab = Wab g =2,3% 46,3 10 =10,65

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 139 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 Fy = 0 Fa + Fab Fb = 0 Fb = Fa + Fab Fb = 76,65 + 10,65 =87,3 Da = 26,5% 1,52 = 0,4 Dab = 41% 0,4 = 0,165 M =0 (Fa Da) + (Fab Dab) Mb=0 Mb = (76,65 0,4) + (10,65 x 0,165) = 32,42 Nm Lengan atas Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fbc = Wbc g = 2,8% 46,3 10 = 12,964 Fy = 0 Fbc+Fc-Fb=0 Fc = Fb - Fbc = 87,3 12,964 = 74,336 Db = 17,4% tinggi responden = 17,4% 1,52 =0.26 m Dbc = 48% Db =48%0,26 =0,127 m M =0 Mc + Fbc cos Dbc Fb cos Db=0 Mc =(87,3 1 0,26) - (12,964 1 0,127) = 24,34 Nm Punggung Fx = 0 Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0 Fcd = Wcd g =58,4% 46,3 10 =270,39 N Fy = 0

APK DAN BIOMEKANIKA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 140 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 2Fc + Fcd -Fd = 0 Fd = 2Fc + Fcd =(2 74,336) + 270,39 = 419,062 Dc = 28,8% tinggi responden = 28,8% 1,52 =0.44 m Dcd = 46% Db =46%0,44 =0,2 m M =0 Md = (2Fc cos 30 Dc) + (Fcd cos 0 Dcd) = (148,672 0,87 0.44) +(270,39 1 0,2) = 110,99 Nm

APK DAN BIOMEKANIKA

Tabel 4.21 Hasil Perhitungan Panjang Dan Berat Tubuh Praktikan Putra
No 1 2 3 Segmen Tubuh Lengan Bawah Lengan Atas Punggung Prosentase Panjang Segmen (dari tinggi badan) Hafidz Gayuh 0,49 0,466 0,32 0,306 0,53 0,507 Prosentase Berat Segmen (dari berat badan) Hafidz 14,628 17,808 371,42 Gayuh 14,26 17,36 362,08 Prosentase Pusat Massa (dari panjang segmen) Hafidz Gayuh 0,2 0,191 0,155 0,147 0,245 0,233

Sumber: Pengolahan Data Tabel 4.22 Hasil Perhitungan Panjang Dan Berat Tubuh Praktikan Putri
No Segmen Tubuh Prosentase Panjang Segmen (dari tinggi badan) Della Inggrid 0,4 0,26 0,44 0,427 0,28 0,463 Prosentase Berat Segmen (dari berat badan) Della Inggrid 10,65 12,964 270,39 13,34 16,24 338,72 Prosentase Pusat Massa (dari panjang segmen) Della Inggrid 0,165 0,127 0,2 0,175 0,135 0,214

1 2 3

Lengan Bawah Lengan Atas Punggung

Sumber: Pengolahan Data

Setelah menghitung berat dan panjang segmen tubuh, maka dilakukan perhitungan gaya dan momen pada masing-masing segmen dan pada masing-masing posisi. Rekap data gaya dan momen masing-masing posisi dapat dilihat pada Tabel 4.23 dan Tabel 4.24 berikut :
Tabel 4.23 Rekap Data Gaya dan Momen pada Praktikan Putra
Nama Operator Hafidz Gayuh Fb
134,63 127,26

Posisi 1 Mb Fc
61,28 55,43 116,82 109,90

Mc
21,5 9 36,4 6

Fb
464,46 327,26

Posisi 2 Mb Fc
0,00 148,71 446,65 309,90

Mc
228,41 97,77

Fb
481,16 387,26

Posisi 3 Mb Fc
0,00 176,69 463,35 369,90

Mc
225,87 116,16

Sumber: Pengolahan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 141 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2
Nama Operator Hafidz Gayuh Posisi 4 Mb Fc
25,79 68,18 146,65 181,90

APK DAN BIOMEKANIKA


Fb
326,28 247,26

Tabel 4.24 Rekap Data Gaya dan Momen pada Praktikan Putra
Fb
164,46 199,26

Mc
55,55 9,13

Fb
497,98 372,26

Posisi 5 Mb Fc
0,00 169,70 139,41 354,90

Mc
147,44 111,56

Posisi 6 Mb Fc
155,63 23,06 308,47 229,90

Mc
290,00 23,80

Sumber: Pengolahan Data Tabel 4.25 Rekap Data Gaya dan Momen pada Praktikan Putri
Nama Operator Della Inggrid Fb 69,00 83,34 Posisi 1 Mb Fc 25,09 56,04 32,20 67,10 Mc 19,34 21,18 Fb 117,70 161,34 Posisi 2 Mb Fc 0,00 104,38 65,48 145,10 Mc 19,34 43,06 Fb 155,65 233,34 Posisi 3 Mb Fc 37,82 142,69 96,20 217,10 Mc 38,82 63,25

Sumber: Pengolahan Data Tabel 4.26 Rekap Data Gaya dan Momen pada Praktikan Putri
Nama Operator Della Inggrid Fb
72,30 103,34

Posisi 4 Mb Fc
25,62 29,78 85,26 87,10

Mc
30,95 9,16

Fb
149,00 198,34

Posisi 5 Mb Fc
0,00 81,26 136,04 182,10

Mc
35,14 53,43

Fb
87,30 114,84

Posisi 6 Mb Fc
32,42 0,00 74,34 98,60

Mc
24,34 18,88

Sumber: Pengolahan Data Rekap data gaya momen pada segmen punggung praktikan putra adalah sebagai berikut:
Tabel 4.28 Rekap Data Gaya Momen pada Segmen Punggung Praktikan Putra
Nama Operator Hafidz Gayuh Rata-rata FD/MD Posisi 1 Fd Md
605,06 215,53 581,88 195,84 593,47 205,68 2,89

Posisi 2 Fd Md
1264,72 491,13 981,88 266,66 1123,30 378,89 2,96

Posisi 3 Fd Md
1298,72 335,92 1101,88 380,85 1200,30 358,39 3,35

Posisi 4 Fd Md
664,72 0,00 725,88 0,00 695,30 0,00 0,00

Posisi 5 Fd Md
650,24 62,06 1071,88 432,66 861,06 247,36 3,48

Posisi 6 Fd Md
988,36 324,13 821,88 0,00 905,12 162,06 5,58

Sumber : Pengolahan Data

Dapat dilihat pada tabel di atas, bahwa nilai Fd terbesar dimiliki oleh posisi 3, dilanjutkan dengan posisi 2, 6, 5, 4, dan 1. Sedangkan Md terkecil dimiliki oleh posisi 4 dan Fd/Md terbesar adalah pada posisi 6. Sehingga dapat disimpulkan bahwa posisi terbaik berdasarkan penelitian yang kami lakukan adalah pada posisi 6. Sedangkan rekap data gaya momen pada segmen punggung praktikan putri adalah sebagai berikut: Tabel 4.8 Rekap Data Gaya Momen pada Segmen Punggung Praktikan Putri
Nama Operator Della Inggrid Rata-rata FD/MD Posisi 1 Fd Md
382,46 472,92 427,69 103,44 134,47 118,95

Posisi 2 Fd Md
479,86 628,92 554,39 90,60 135,67 113,13

Posisi 3 Fd Md
556,13 772,92 664,52 156,29 215,58 185,93

Posisi 4 Fd Md
440,19 512,92 476,56 54,23 0,00 27,11

Posisi 5 Fd Md
542,46 702,92 622,69 99,06 231,72 165,39

Posisi 6 Fd Md
419,06 535,92 477,49 110,99 0,00 55,50

3,60

4,90

3,57

17,58

3,77

8,60

Dapat dilihat pada tabel di atas, bahwa nilai Fd terbesar dimiliki oleh posisi 3, dilanjutkan dengan posisi 5, 2, 6, 4, dan 1. Sedangkan Md terkecil dimiliki oleh posisi 4 dan Fd/Md terbesar adalah pada posisi 5. Sehingga dapat disimpulkan bahwa posisi terbaik berdasarkan penelitian yang kami lakukan adalah pada posisi 6.

4.3 Perbaikan Ergonomi LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 142 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 4.3.1 Perbaikan Analisis Postur Kerja

APK DAN BIOMEKANIKA

Pada pengolahan dan analisis postur kerja kami dapatkan data bahwa postur kerja yang dilakukan oleh para pekerja saat ini kurang baik sehingga dapat mengakibatkan terjadinya resiko cedera lengan dan pinggang. Oleh karena itu, kami berupaya melakukan beberapa perbaikan untuk memperkecil resiko cedera yang akan terjadi. 4.3.1.1 Perbaikan Analisis Postur Kerja dengan Metode RULA Dari analisis dengan metode RULA, kita dapat menarik kesimpulan bahwa postur kerja tersebut memerlukan penyelidikan dan perubahan sesegera mungkin. Maka, kami merancang postur kerja yang dapat mengatasi masalah-masalah yang dapat timbul apabila tetap menggunakan posisi sebelumnya seperti cedera lengan. Berikut merupakan postur kerja yang kami rancang untuk melakukan perbaikan:

100

00

200

100

Gambar 4.16 Perbaikan Postur Tubuh 1 sumber: Pengolahan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 143 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Dari gambar di atas dilihat bahwa perbaikan yang kami lakukan adalah dengan menggubah sudut yang terbentuk pada lengan, yaitu dari sudut sebesar 200 menjadi 100. Hal ini dilakukan agar penekukan lengan tidak terlalu lebar sehingga dapat mencegah terjadinya cedera pada otot lengan. Selain itu, beban yang sebelumnya adalah satu karung semen dengan berat 50 kilogram, kami perbaiki dengan cara mengurangi beban yang dibawa menjadi 1/5 karung semen atau setara dengan 10 kilogram. Selanjutnya, desain perbaikan postur tubuh yang kami rancang ini harus dianalisis menggunakan metode RULA seperti analisis yang dilakukan pada postur kerja sebelumnya. Berikut merupakan hasil pengkodean sudut-sudut pada postur tubuh dalam lembar pengamatan RULA:

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 144 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Gambar 4.17 Lembar Pengamatan RULA Sumber: Pengolahan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 145 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Dari lembar pengamatan tersebut didapatkan nilai sebesar 3, sehingga postur perbaikan yang dirancang ini masuk dalam kategori 2, yaitu postur kerja yang menunjukkan bahwa penyelidikan lebih lanjut dibutuhkan dan mungkin saja perubahan diperlukan. Postur tubuh yang baru ini memiliki level atau kategori yang lebih baik dari postur sebelumnya. Sehingga diharapkan dengan penggunaan postur tubuh yang baru ini, pekerja dapat lebih nyaman dan keselamatan kerja dapat ditingkatkan. 4.3.1.2 Perbaikan Analisis Postur Kerja dengan Metode REBA Dari analisis dengan metode REBA, kita dapat menarik kesimpulan bahwa postur kerja tersebut cukup beresiko menimbulkan cedera dan perlu untuk diperbaiki sesegera mungkin. Maka, kami merancang postur kerja yang dapat mengatasi masalah-masalah yang dapat timbul apabila tetap menggunakan posisi sebelumnya seperti cedera lengan dan pinggul. Berikut merupakan postur kerja yang kami rancang untuk melakukan perbaikan: 100

00 200

900

Gambar 4.18 Perbaikan Postur Tubuh 2 Sumber: Pengolahan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 146 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa perubahan yang kami lakukan adalah dengan mengubah sudut yang dibentuk oleh pergelangan tangan dari 1200 arah ke bagian tubuh atas menjadi 900. Rancangan postur tubuh tersebut kemudian dianalisis lagi seperti analisis yang dilakukan pada postur tubuh sebelumnya. Berikut merupakan lembar pengamatan REBA yang telah diisi dengan kode postur tubuh:

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 147 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Gambar 4.19 Lembar Pengamatan REBA Sumber: Pengolahan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 148 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Dapat dilihat bahwa nilai postur tubuh yang telah diperbaiki adalah 3. Hal ini berarti postur tubuh yang baru masuk dalam kategori 2 yaitu postur tubuh dengan resiko kecil, perubahan mungkin diperlukan. Postur tubuh yang baru ini memiliki level atau kategori yang lebih baik dari postur sebelumnya. Sehingga diharapkan dengan penggunaan postur tubuh yang baru ini, pekerja dapat lebih nyaman dan keselamatan kerja dapat ditingkatkan. 4.3.1.3 Perbaikan Analisis Postur Kerja dengan Metode OWAS Analisa data menggunakan metode OWAS menunjukkan bahwa postur tubuh pekerja telah memenuhi kategori 1 atau baik. Sehingga tidak lagi perlu melakukan perbaikanperbaikan postur tubuh. Perbedaan kategori yang dihasilkan oleh ketiga metode tidak menjadi sebuah masalah karena ketiganya memiliki titik fokus yang berbeda-beda. Pada metode RULA, bagian tubuh atas merupakan fokus utama yang diteliti, sedangkan pada metode REBA yang diamati adalah postur tubuh secara keseluruhan, dan pada OWAS penelitian dititik beratkan pada hubungan antar postur tubuh dengan jumlah beban. 4.3.2 Perbaikan Biomekanika I Pada biomekanika I, terdapat dua jenis pengolahan data, yaitu pengolahan RWL dan LI origin dan pengolahan RWL dan LI destination. 4.3.2.1 Perbaikan Biomekanika I RWL dan LI (Origin) Pengolahan RWL dan LI origin menggunakan data dari kegiatan pekerja saat mengambil 1/5 karung semen.
Tabel 4.29 Perhitungan RWL Origin Variabel Nilai Jarak horisontal ( H ) 26 cm Jarak Vertical ( V ) 0 cm Jarak Perpindahan ( D ) 26 cm 0 Sudut Asimetri ( A ) 0 Frekuensi 4 kali/menit Durasi <1 jam Pegangan poor (buruk) Sumber: pengolahan data

1. 2.

Load Constant (LC) = 23 kg Horizontal Multiplier (HM)


HM HM = 25/H = 25 : 26 = 0,96 cm

3.

Vertical Multiplier (VM)


VM = 1 0,003 [V - 69] = 1 0,003 [0- 69] = 1 0,003 ( 69 ) = 0,793 cm LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 149 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2
4.

APK DAN BIOMEKANIKA

Distance Multiplier (DM)


DM = 0,82 + ( 4,5/D ) = 0,82 + ( 4,5/26 ) = 0,993 cm

5.

Asymmetric Multiplier (AM)


AM = 1 (0,0032 x A) = 1 (0,0032 x 0) =1

6.

Frequency Multiplier (FM)


f = 60/15 = 4 Dari tabel dapat diketahui FM=0,84

7.

Coupling Multiplier (CM)


Kriteria Kopling dikatakan poor karena semen tidak mempunyai pegangan sehingga

tangan tidak dapat meraihnya dengan mudah, maka dari tabel dapat diketahui nilai CM = 1
8.

RWL RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM = 23 x 0,96 x 0,793 x 0,993x 1 x 0,84 x 1 = 14,6kg

9. Lifting Index

Beban / Load Weight (L) = 10 kg LI = L/ RWL = 10 / 14,6 = 0,684 LI = 0,684 LI < 1

Lifting Index pada pengangkatan awal adalah sebesar 0,684; sehingga termasuk
kategori Low Stressful Task yaitu pekerja relatif aman. Pada Biomekanika I ini, kami memberikan perubahan pada berat beban yang dibawa oleh pekerja yaitu dari satu karung semen seberat 50kg menjadi 1/5 karung semen atau seberat 10kg. Hal ini kami lakukan guna menghindari terjadinya resiko cedera pinggang. 4.3.2.2 Perbaikan Biomekanika I RWL dan LI Destination Pengolahan RWL dan LI destination menggunakan data dari kegiatan pekerja saat meletakkan 1/5 karung semen.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 150 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

Tabel 4.30 Variabel Perhitungan RWL Destination Variabel Nilai Jarak horisontal ( H ) 35 cm Jarak Vertical ( V ) 25 cm Jarak Perpindahan ( D ) 10 cm 0 Sudut Asimetri ( A ) 0 Frekuensi 4 kali/menit Durasi <1 jam Pegangan poor (buruk) Sumber: pengolahan data

1. 2.

Load Constant (LC) = 23 kg Horizontal Multiplier (HM)


HM = 25/H HM = 25 : 35 = 0,714 cm

3.

Vertical Multiplier (VM)


VM = 1 0,003 [V - 69] = 1 0,003 [25- 69] = 1 0,003 (44) = 0,868 cm

4.

Distance Multiplier (DM)


DM = 0,82+ ( 4,5/D ) = 0,82+ ( 4,5/10 ) = 1,27 cm

5.

Asymmetric Multiplier (AM)


AM = 1 (0,0032 x A) = 1 (0,0032 x 0) =1

6.

Frequency Multiplier (FM)


f = 60/15 = 4 Dari tabel dapat diketahui FM = 0,84

7.

Coupling Multiplier (CM)


Kriteria Kopling dikatakan poor karena semen tidak mempunyai pegangan sehingga

tangan tidak dapat meraihnya dengan mudah, maka dari tabel dapat diketahui nilai CM = 1 8. RWL RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM = 23 x 0,714 x 0,868 x 1,27 x 1 x 0,84 x 1 = 15,20kg

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 151 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 9.

APK DAN BIOMEKANIKA

Lifting Index
Beban / Load Weight (L) = 10 kg LI = L/ RWL = 10 / 15,20 = 0,657 LI = 0,657 LI < 1

Lifting Index pada pengangkatan awal adalah sebesar 0,657; sehingga termasuk kategori Low Stressful Task yaitu pekerja relatif aman. Pada Biomekanika I ini, kami memberikan
perubahan pada berat beban yang dibawa oleh pekerja yaitu dari satu karung semen seberat 50kg menjadi 1/5 karung semen atau seberat 10kg. Hal ini kami lakukan guna menghindari terjadinya resiko cedera pinggang.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 152 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2

APK DAN BIOMEKANIKA

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan Kesimpulan pada praktikum analisis postur kerja dan biomekanika ini antara lain: 1. Untuk mengetahui postur kerja yang baik dapat dianalisis dengan menggunakan metode

Rapid Upper Limb Assessment (RULA), Rapid Entire Body Assessment (REBA) dan Ovako Work Posture Analysis System (OWAS).
2. 3. Untuk menganalisis ukuran beban yang diangkat dapat digunakan metode

Recommended Weight Limit (RWL).


Berdasarkan data analisis postur kerja dapat disimpulkan bahwa perlu diadakan perbaikan postur kerja karena diperoleh final score pada RULA dan REBA yang dapat mengakibatkan cedera otot lengan dan pinggang. Sedangkan pada OWAS tidak perlu dilakukan perbaikan karena final score sudah menunjukkan postur tubuh yang baik dan tidak menimbulkan resiko cedera bagi pekerja. 4. Berdasarkan analisis biomekanika I dapat disimpulkan bahwa pada posisi origin dan

destination perlu perbaikan, karena diperoleh nilai LI yang lebih dari 3 yaitu 3,42 dan
3,28 sehingga dapat menimbulkan cidera. 5. Berdasarkan analisis Biomekanika II : Hand Grip Strength dapat disimpulkan bahwa pada posisi kedua yaitu sikap duduk dengan tangan terulur ke depan lebih memiliki kekuatan yang lebih besar daripada posisi pertama, kedua, dan ketiga terutama pada diameter 2. 6. 7. 8. Pada analisis Biomekanika II : Pull Back Strength dapat disimpulkan bahwa pada saat posisi berdiri tegak adalah pada saat seseorang menghasilkan kekuatan terbesar. Berdasarkan kedua metode pengukuran Biomekanika II dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin dan tinggi maupun berat badan mempengaruhi kekuatan tarik dan genggam. Berdasarkan perbaikan ergonomi yang dilakukan pada perbaikan postur kerja dengan RULA maka diperoleh final score yang menunjukkan kategori 2, yaitu postur kerja yang menunjukkan bahwa penyelidikan lebih lanjut dibutuhkan dan mungkin saja perubahan diperlukan. Sedangkan pada perbaikan postur kerja dengan REBA maka diperoleh final

score yang menunjukkan kategori 2 yaitu postur tubuh dengan resiko kecil, perubahan
mungkin diperlukan. Nilai ini lebih baik dibandingkan dengan analisis sebelumnya, sehingga dapat meminimalkan tingkat terjadinya cedera. 9. Berdasarkan perbaikan ergonomi yang dilakukan pada analisis biomekanika I dapat disimpulkan bahwa pada posisi origin dan destination sudah menunjukkan kondisi yang baik, karena diperoleh nilai LI yang kurang dari 1 yaitu 0,68 dan 0,65 sehingga termasuk kategori Low Stressful Task yaitu pekerja relatif aman. Kami melakukan perbaikan dengan memberikan perubahan pada berat beban yang dibawa oleh pekerja yaitu dari satu karung semen seberat 50kg menjadi 1/5 karung semen atau seberat 10kg.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 153 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MODUL 2 5.2 Saran

APK DAN BIOMEKANIKA

Saran pada praktikum analisis postur kerja dan biomekanika ini antara lain: 1. 2. Dalam penggunaan Digital Hand Grip Dynamometer dan Digital Pull Back Dynamometer sebaiknya sudah mempelajari cara menggunakannya. Pada analisis RULA, REBA, dan OWAS sebaiknya membaca worksheet terlebih dulu sehingga dapat mengetahui dan mengambil gambar pada posisi yang tepat dan dapat menganalisis dengan mudah. 3. Sebelum pengambilan data dengan video, sebaiknya praktikan lebih memahami lagi analisis RULA, REBA dan OWAS serta Biomekanika I sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan video.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 154 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA