Anda di halaman 1dari 4

Melasma

Definisi Melasma adalah hipermelanosis didapat yang biasanya bilateral dan seringkali simetris berupa makula yang tidak merata berwarna coklat muda sampai coklat tua, mengenai area yang terpajan sinar ultra violet dengan tempat predileksi pada pipi, dahi, daerah atas bibir, hidung dan dagu. 1,2 Selama tahun 2007-2011 tercatat ditemukan sebanyak 661 kasus Melasma di Poli Kulit dan Kelamin RSU Haji Surabaya dan menempati urutan keenam dari seluruh kasus kulit dan kelamin. Sinonim Sinonim penyakit ini ialah kloasma1 atau topeng kehamilan2. Epidemiologi Melasma dapat mengenai semua ras terutama penduduk yang tinggal di daerah tropis. Melasma terutama dijumpai pada wanita, meskipun didapat pula pada pria (10%). Di indonesia perbandingan kasus wanita dan pria adalah 24:1. Terutama pada wanita usia subur dengan riwayat langsung terkena pajanan sinar matahari. Insidens terbanyak pada usia 30-44 tahun.3 Kelainan ini dapat mengenai wanita hamil, wanita pemakai pil kontrasepsi, pemakai kosmetik, pemakai obat, dll(1). Melasma jarang ditemui pada masa prepubertas, dan jauh sering ditemukan pada terutama pada masa produktif.3 Etiologi Sampai saat ini penyebab melasma belum diketahui pasti. Faktor kausatif yang dianggap berperan pada patogenesis melasma adalah1: 1. Sinar ultra violet: spektrum sinar matahari merusak gugus sulfihidril di epidermis yang merupakan penghambat enzim tirosinase dengan cara mengikat ion Cu dari enzim tersebut. Sinar ultraviolet menyebabkan enzim tirosinase tidak dihambat lagi sehingga memacu proses melanogenesis. 2. Hormon: misalnya estrogen, progesterone dan MSH (Melanin Stimulating Hormone) berperan pada terjadinya melasma. Pada kehamilan, melasma biasanya meluas pada trisemester ke 3. Pada pemakai pil kontrasepsi, melasma tampak dalam 1 bulan sampai 2 tahun setelah dimulai pemakaian pil tersebut. 3. Obat: misalnya difenil hidantoin, mesantoin, klorpromasin, sitostatik dan minosiklin dapat menyebabkan timbulnya melasma. Obat ini ditimbun di lapisan dermis bagian atas dan secara kumulatif dapat merangsang melanogenesis.

4. Genetik: dilaporkan adanya kasus keluarga sekitar 20 70% 5. Ras: melasma banyak dijumpai pada golongan Hispanik dan golongan kulit berwarna gelap 6. Kosmetika: pemakaian kosmetika yang mengandung parfum, zat pewarna atau bahan-bahan tertentu dapat menyebabkan fotosensitivitas yang dapat mengakibatkan timbulnya hiperpigmentasi pada wajah, jika terpajan sinar matahari. 7. Idiopatik Patofisiologi Patogenesis yang pasti kurang dimengerti, tetapi pengaruh genetik dan hormonal yang disertai radiasi ultraviolet sangatlah penting. 3 Pada 1/3 kasus wanita dan kebanyakan pada pria adalah idiopatik. Terutama pada wanita pada usia subur dan 10% terdapat pada laki-laki. Sering terjadi eksaserbasi setelah paparan sinar matahari, kehamilan, pemakaian kontrasepsi oral dan obat-obatan anti epilepsi tertentu. Terutama terdapat pada bangsa Latin dan Asia. Tampak lebih jelas pada musim panas dan kurang jelas pada musim dingin.4 Peran sinar matahari dalam mempengaruhi melasma mungkin disebabkan karena peningkatan nitric oxide melalui jalur NF-KB. Nitric oxide menstimulasi aktivitas tirosinase dari melanosit, meningkatkan produksi melanin lokal. Ini mengakibatkan hiperpigmentasi secara klinis pada bagian yang terkena pajanan sinar matahari.5 Setelah pajanan sinar matahari, pencetus terpenting kedua untuk melasma adalah hormon pada wanita. Melasma lebih sering dan berat pada wanita dibanding pria. Itu sering terjadi pada kehamilan, dengan penggunaan kontrasepsi oral, atau dengan terapi penggantian hormon saat menopause.5 Gejala Klinis Lesi melasma berupa makula berwarna coklat muda atau coklat tua berbatas tegas dengan tepi tidak teratur.1 Bersifat kronik dan mengalami eksaserbasi bila kena sinar matahari atau sinar buatan UVA dan UVB. Melasma sering terjadi setelah kehamilan yang berulang-ulang dan dapat mengadakan resolusi setelah melahirkan atau penghentian oral kontrasepsi.4 Klasifikasi Terdapat tiga macam bentuk, yaitu (1) bentuk sentrofasial(63%): terutama pada pipi, dahi, bibir atas, hidung dan dagu, (2) bentuk malar(21%): pada pipil dan hidung, dan (3) bentuk mandibular(16%): pada ramus mandibulae.3,4,5 Berdasarkan penampakan dibawah sinar lampu Wood, melasma dibagi menjadi epidermal, dermal, dan campuran. Secara klinis, tipe epidermal mempunyai tepi yang tajam, sementara tipe dermal dan campuran mempunyai penampakan seperti bisul.

Tipe epidermal tampak jelas dibawah sinar lampu Wood, sementara tipe dermal kurang jelas.3 Diagnosis Diagnosis melasma ditegakkan hanya dengan pemeriksaan klinis. Untuk menentukan tipe melasma dilakukan pemeriksaan sinar Wood, sedangkan pemeriksaan histopatologis hanya dilakukan pada kasus-kasus tertentu.1 Diagnosis Banding Hiperpigmentasi post inflamasi.4 Penatalaksanaan Pengobatan melasma memerlukan waktu yang cukup lama, kontrol yang teratur serta kerja sama yang baik antara penderita dengan dokter diperlukan. Kebanyakan penderita datang untuk alasan kosmetik. Pengobatan dan perawatan kulit harus dilakukan secara teratur dan sempurna karena melasma bersifat kronis residif. Pengobatan yang sempurna adalah pengobatan kausal, maka penting dicari etiologinya (1). Krim pemutih dan hidrokuinon merupakan gold standard.5 1. Pengobatan topikal1 a. Hidrokuinon Hidrokuinon dipakai dengan konsentrasi 2 5%. Krim tersebut dipakai pada malam hari disertai pemakaian tabir surya pada siang hari. Umumnya tampak perbaikan dalam 6 8 minggu dan dilanjutkan sampai 6 bulan. Efek samping adalah dermatitis kontak iritan atau alergik. Setelah penghentian penggunaan hidrokuinon sering terjadi kekambuhan. b. Asam retinoat (retinoic acid/ tretinon) Asam retinoat 0,1% terutama digunakan sebagai terapi tambahan atau terapi kombinasi. Krim tersebut juga dipakai pada malam hari, karena pada siang hari dapat terjadi fotodegradasi. Kini asam retinoat dipakai sebagai monoterapi dan didapatkan perbaikan klinis secara bermakna, meskipun berlangsung agak lambat. Efek samping berupa eritema, deskuamasi dan fotosensitasi. c. Asam azeleat (Azeleic acid) Asam azeleat merupakan obat aman untuk dipakai. Pengobatan dengan asam azeleat 20% selama 6 bulan memberikan hasil yang baik. Efek sampingnya rasa panas dan gatal.

2. Pengobatan sistemik1 a. Asam askorbat/ vitamin C Vitamin C mempunyai efek merubah melanin bentuk oksidasi menjadi melanin bentuk reduksi yang berwarna lebih cerah dan mencegah pembentukan melanin dengan merubah DOPA kinon menjadi DOPA b. Glutation Glutation bentuk reduksi adalah senyawa sulfihdril (SH) yang berpotensi menghambat pembentukan melanin dengan jalan bergabung dengan Cuprum dari tirosinase. 3. Tindakan khusus1 a. Pengelupasan kimiawi Pengelupasan kimiawi dapat membantu pengobatan kelainan hiperpigmentasi. Pengelupasan kimiawi dilakukan dengan mengoleskan asam glikolat 50 70% selama 4 6 menit dilakukan setiap 3 minggu selama 6x. sebelum dilakukan pengelupasan kimiawi diberikan krim asam glikolat 10% selama 14 hari. b. Bedah laser Bedah laser dengan menggunakan laser Q-switched Ruby dan laser Argon, namun kekambuhan dapat terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardiman L, 2005, Kelainan Pigmen, Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Sisah

S, editors, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, 4th ed. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, pp. 289-300. 2. Anstey A, Disorders of Skin Colour, Dalam: Burns T, Breatnach S, Cox N, Griffiths C, Rooks Textbook of Dermatology, 8th edn, Wiley Blackwell, Chichester, pp. 2923-2981. 3. Boone B, De Schepper S, Lapeere H, 2008, Hypomelanoses and Hypermelanoses, Dalam: Wolff K, Goldsmith L, Katz S, Gilchrest B, et al, Fitzpatricks Dermatology in General Medicine, 7th edn, Mc Graw Hill Medical, New York, pp. 622-640. 4. Barakbah J, Murtiastutik D, Sukanto H, 2005, Melasma, Dalam: Pedoman Diagnosis dan Terapi. Bag/SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. RSU Dr. Soetomo, 3th ed. Surabaya, pp. 109-111. 5. James W, Berger T, Elston D, 2011, Andrews Diseases of The Skin. Clinical Dermatology; 11th edn, Saunders Elsevier.