Anda di halaman 1dari 18

Asuhan Keperawatan Pada Bayi Baru Lahir Prematur

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebanyakan bayi adalah matur, sehat dan terbentuk sempurna pada saat lahir, tetapi dalam presentase kecil tidaklah demikian. Bagi mereka yang mengalami hal demikian, deteksi dan penanganan awal terhadap masalah adalah penting. Sebetulnya semua bayi yang berkembang dibawah normal disebut premature kemudian diketahui bahwa baik usia gestasi dan pertumbuhan yang diukur melalui berat badan merupakan indicator penting terhadap derajat resiko yang sesuai. Berbicara sesuai umum, bayi paterm dan mereka dengan BBLR memiliki tingkat mortalitas yang tinggi dibandingkan dengan bayi lahir fullterm dengan berat badan yang sesuai. Bayi yang memiliki masalah yang berhubungan dengan pertumbuhan biasanya mengalami gangguan pernafasan, neurology dan terminal. Namun belakangan ini teknologi kedokteran sangat maju. Jaman dulu bayi prematur yang lahir usia 6 bulan ke bawah (25 minggu atau kurang) hamper tidak ada harapan hidup sama sekali. Boleh dibilang hampir semuanya mati. Karena kemajuan kedokteran sekarang, bayi lahir prematur sekitar 6 bulan bisa dipertahankan hidupnya. Pada mulanya tim dokter dan orang tua senang dengan adanya teknologi ini. Mereka bisa menyelamatkan nyawa bayi yang pada jaman dulu sudah hampir pasti akan mati jika lahir usia kandungan 25 minggu atau kurang. Karena teknologi ini sangat baru, efeknya tidak terlalu diketahui. Sampai pada akhirnya ada yang mempelajari efek bayi prematur. Dan hasilnya bahwa bayi prematur yang diselamatkan dahulu hanya 25% yang bisa dianggap nomal. Dari jumlah yang sedikit itupun, sebagian besar kecerdasannya sangat terbatas

(bodoh). 75% sisanya mengalami berbagai macam kelainan, dari gagal ginjal, problem dengan jantung, sampai pada keterbelakangan mental akut. B. Tujuan 1. Tujuan Umum : mampu untuk mengidentifikasi dan memberikan asuhan keperawatan pada bayi prematur 2. Tujuan Khusus a. Mereview anatomi dan fisiologi pada bayi premature b. Menjelaskan pengertian bayi premature c. Menjelaskan etiologi bayi premature d. Menjelaskan patofisiologi bayi premature e. Menjelaskan penatalaksanaan bayi premature f. Mengidentifikasi asuhan keperawatan bayi

BAB II TINJAUAN TEORI A. ANATOMI DAN FISIOLOGI 1. Vital Statistik a. Berat badan bayi baru lahir tergantung dari factor nutrisi, genetic dan factor intrauterine selama kehamilan. Pengelompokan berat badan bayi baru lahir membantu dalam mengidebtifikasi risiko terhadap neonatus karena berat badanyang kecil kemungkinan memiliki masa gestasi yang kecil. Bayi matur memiliki berat badan kira kira 3,4 kg pada perempuan dan 3,5kg pada laki laki. Batas berat badan terendah bagi bayi matur adalah 2,5 kg. bayi dengan berat badan lahir sekitar 4,7 kg harus dicurigai terhadap adanya diabetes mellitus pada ibunya. Sekitsr 75 % - 95 % berat badan bayi merupakan cairan tubuhnya. Bayi akan kehilangan cairan sekitar 5 % - 10

% pada beberapa hari pertama setelah kelahiran. Setelah mengalami kehilangan cairan yang inisial, maka bayi akan mengalami berat badan yang stabildalam waktu 10 hari. Kemudian akan bertambah sebanyak 6 8 ons/ minggu pada 6 bln pertama kelahiran. b. Panjang badan bayi baru lahir kira kira 53 cm pada perempuan dan pada bayi laki laki memiliki panjang badan 54 cm. c. Lingkar kepala baru lahir adalah 34 35 cm. Bayi baru lahir dengan lingkar kepala lebih dari 37 cm atau kurang dari 33 cm harus diidentifikasi mengenai adanya kelainan neurology. Pengukuran lingkar kepala menggunakan pita ukur yang dilakukan pada tengah tengah dahi sehingga kepala belakang dapat terukur. d. Lingkar dad pada bayi baru lahir adalah 2 cm kurang dari lingkar kepala. Pengukuran dilakukan tepat diatas nipple, yakni tonjolan berpigmen pada permukaan anterior kelenjar mamae. Dikelilingi oleh areola, tempat keluarnya air susu dari payudara. 2. Tanda Vital a. Temperature Suhu tubuh bayi baru lahir adalah 37,2 C, suhu tubuh ini dapat menurun dengan cepat karena kehilangan panas. Kehilangan panas pada bayi baru lahir melalui 4 cara, yaitu : 1) Konfeksi Adalah kehilangan panas dari permukaan tubuh menuju udara sekitar yang lebih dingin. 2) Konduksi Adalah transfer panas pada obyek/ benda yang lebih dingin tanpa kontak denagn tubuh bayi. 3) Radiasi

Adalah transfer panas pada obyek yang lebih dingin tanpa kontak dengan tubuh bayi. 4) Evaporasi Adalah kehilangan panas karena ada penguapan. b. Nadi Tekanan nadi fetus yang masih dalam kandungan adalah 120 160 bpm. Segera setelah lahir, dimana bayi akan berjuang untuk bernafas, maka denyut jantung menjadi cepat sekitar 180 bpm. Beberapa jam setelah lahir, denyut jantung akan stabil sekitar 120 140 bpm. Denyut jantung pada bayi baru lahir biasanya irregular karena kardiolegulator di medulla belum matang.Murmur biasanya terjadi akibat penutupan inkomplit pada sirkulasi. Pada saat menangis, denyut jantung menjadi 180 bpm dan pada saat tidur 90 110 bpm. c. Pernafasan Pernafasan pada bayi baru lahir adalah 80X/ mnt, setelah beberapa menit kehidupan. Setelah aktivitas pernafasan dipertahankan, maka menjadi stabil sekitar 30 60X/ mnt dalam keadaan istirahat. Kedalaman ritme masih irreguler dan terjadi apnea yang singkat tanpa sianosi yang disebut pernafasan periodik dan merupakan keadaan normal. Reflek batuk dan bersin pada bayi baru lahir dilakukan untuk membersihkan saluran nafas. d. Tekanan darah Tekanan darah bayi baru lahir adalah 80/ 46 mmHg.Setelah 10 hari akan meningkat ketika bayi menangis. B. Definisi Penyakit

Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2.500 gram sampai dengan 2.499 gram. Bayi baru lahir berat badannya kurang atau sama dengan 2.500 gram disebut bayi prematur. Bayi premature adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang dari sama dengan 37 minggu, tanpa memperhatikan berat badan lahir (Donna L Wong 2004) Bayi premature adalah bayi yang lahir sebelum minggu ke-37, dihitung dari mulai hari pertama menstruasi terakhir, dianggap sebagai periode kehamilan memendek (Nelson. 1998 dan Sacharin, 1996) Bayi premature adalah bayi yang lahir belum cukup bulan. Berasarkan kesepakatan WHO, belum cukup bulan ini dibagi lagi menjadi 3, yaitu : 1. Kurang bulan adalah bayi yang lahir pada usia kurang dari 37 minggu. 2. Sangat kurang bulan adalah bayi yang lahir pada usia kurang dari 34 minggu. 3. Amat sangat kurang bulan adalah bayi yang lahir pada usia kurang dari 28 minggu. (Martono, Hari. 2007) Prematur adalah kelahiran bayi pada saat masa kehamilan kurang dari 259 hari dihitung dari terakhir haid / menstruasi ibu. (Hasuki, Irfan. 2007) Prematuritas murni adalah masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu. (Hassan, Rusepno. 2005) C. Etiologi Penyebab terjadinya kelahiran prematur biasanya tidak diketahui. 15% dari kelahiran prematur ditemukan pada kehamilan ganda (di dalam rahim terdapat lebih dari 1 janin). Di negeri maju angka kejadian kelahiran bayi prematur ialah sekitar 6% - 7%, sedangkan di negeri yang sedang berkembang angka kematian ini kurang lebih 3X lipat. 1. Faktor ibu a. Ras (wanita keturunan afrika amerika memilki resiko lebih tinggi).

b. Ibu hamil kurang dari 18 tahun (kehamilan usia muda) Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia ibu dibawah 20 tahun dan pada multigravida yang jarak antara kelahirannya terlalu dekat. Kejadian terendah adalah pada usia ibu antara 26 35 tahun. c. Ibu menderita hipertensi dan atau kelainan jantung d. Ibu mengalami pendarahan yang jika tidak ditangani denagn mengakhiri kehamilan dapat membahayakan jiwa ibu dan bayi e. Ibu mengalami trauma akibat aktivitas fisik berlebihan f. Ibu perokok, mengkonsumsi alkohol, penyalahgunaan obat g. Ibu menderita disbetes h. Keadaan sosial ekonomi (keadaan gizi yang buruk) i. Stress j. Ibu pernah mengalami keguguran (abortus) atau melahirkan bayi premature pada riwayat kehamilan sebelumnya. (Hassan, Delina. 2006) k. Kelainan anatomi pada rahim atau leher rahim Lemahnya bagian bawah rahim atau disekitar mulut rahim (serviks) sehingga rahim akan terbuka sebelum usia kehamilan mencapai 38 minggu. l. Faktor uterus m. Kelainan bentuk rahim, misalnya uterus lebih berbentuk seperti buah pear, atau uterus terpisah menjadi dua ruang (Uterus Bifidus) n. Ketuban pecah sebelum waktunya o. Adanya infeksi seperti saluran kemih yang tidak diobati p. Pemeriksaan kehamilan 2. Faktor janin / bayi a. Kehamilan ganda

b. Hidramnion (kelebihan cairan ketuban) c. Bayi memiliki kelainan bawaan d. Gawat janin e. Infeksi f. Bayi memiliki pertumbuhan yang sangat lambat saat di dalam kandungan. D. Patofisiologi Penyebab terjadinya kelahiran bayi prmatur belum diketahui secara jelas. Data statistik menunjukkan bahwa bayi lahir prematur terjadi pada ibu yang memiliki sosial ekonomi rendah. Kejadian ini dengan kurangnya perawatan pada ibu hamil karena tidak melakukan antenatal care selama kehamilan. Asupan nutrisi yang tidak adekuat selama kehamilan, infeksi pada uterus dan komplikasi obstetrik yang lain merupakan pencetus kelahiran bayi prematur. Ibu hamil dengan usia yamg masih muda, mempunyai kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol juga menyebabkan terjadinya bayi prematur. Faktor tersebut bisa menyebabkan terganggunya fungsi plasenta menurun dan memaksa bayiuntuk keluar sebelum waktunya. Karena bayi lahir sebelum masa gestasi yang cukup maka organ tubuh bayi belum matur sehingga bayi lahir prematur memerlukan perawatan yang sangat khusus untuk memungkinkan bayi beradaptasi dengan lingkungan luar. E. Penatalaksanaan medis 1. Perawatan di Rumah Sakit Mengingat belum sempurnanya kerja alat alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan dan penyesuaian diri dengan lingkungan hidup di luar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu lingkungan, pemberian makanan dan bila perlu pemberian oksigen, mencegah infeksi sertamencegah kekurangan vitamin dan zat besi. a. Pengaturan suhu

Bayi prematur mudah dan cepat sekali menderita hipotermia bila berada di lingkungan yang dingin. Kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh bai yang relative lebih luas bila dibandingkan dengan berat badan, kurangnya jaringan lemak di bawah kulit dan kekurangan lemak coklat (brown flat). Untuk mencegah hipotermia perlu diusahakan lingkunagn yang cukup hangat untuk bayi dan dalam keadaan istirahat konsumsi okigen paling sedikit, sehingga suhu tubuh bayi tetap normal. Bila bayi di rawat di dalam incubator maka suhu untuk bayi dengan berat badan kurang dari 2 kg adalah 35 C dan untuk bayi dengan berat badan 2 2,5 kg adalah 34 C agar ia dapta mempertahankan suhu tubuh sekitar 37 C. Kelembapan incubator berkisar antara 50% - 60%. Kelembapan yang lebih tinggi diperlukan pada bayi dengan sindroma gangguan pernafasan. Suhu incubator dapat diturunkan 1C perminggu untuk bayi dengan berat badan 2 kg dan secara berangsur angsur ia dapat di letakkan di dalam tempat tidur bayi dengan suhu lingkungan 27C - 29C. Bila incubator tidak ada, pemanasan dapat dilakukan dengan membungkus bayi dan meletakkan botol botol hangat disekitarnya atau dengan memasang lampu petromaks di dekat tempat tidur bayi. Cara lain untuk mempertahankan suhu tubuh bayi sekitar 36C - 37C adalah dengan memakai alat perspexheat shield yang diselimutkan pada bayi dalam incubator. Alat ini digunakan untuk menghilangkan panas karena radiasi. Akhir akhir ini telah mulai digunakan incubator yang dilengkapi dengan alat temperature sensor (thermistor probe). Alat ini ditempelkan di kulit bayi. Suhu incubator dikontrol oleh alat servomechanism. Dengan cara ini suhu kulit bayi dapat dipertahankan pada derajat yang telah ditetapkan sebelumnya. Alat ini sangat bermanfaat untuk bayi dengan lahir yang rendah. Bayi dalam incubator hanya dipakaikan popok. Hal ini mungkin untuk pengawasan mengenai keadaan umum, perubahan tingkah laku, warna kulit,

pernafasan, kejang dan sebagainya sehingga penyakit yang diderita dapat dikenal sedini dininya dan tindakan serta pengobatan dapat dilaksanakan secepatnya. b. Pemberian ASI pada bayi premature Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang terbaik yang dapat diberikan oleh ibu pada bayinya, juga untuk bayi premature. Komposisi ASI yang dihasilkan ibu yang melahirkan premature berbeda dengan komposisi ASI yang dihasilkan oleh ibu yang melahirkan cukup bulan dan perbedaan ini berlangsung selama kurang lebih 4 minggu. Jadi apabila bayi lahir sangant premature (<30> Sering kali terjadi kegagalan menyusui pada ibu yang melahirkan premature. Hal ini disebabkan oleh karena ibu stres, ada perasaan bersalah, kurang percaya diri, tidak tahu memerah ASI pada bayi prematur refleks hisap dan menelan belum ada atau kurang, energi untuk menghisap kurang, volume gaster kurang, sering terjadi refluks, peristaltik lambat. Agar ibu yang melahirkan prematur dapat berhasil memberikan ASI perlu dukungan dari keluarga dan petugas, diajarkan cara memeras ASI dan menyimpan ASI perah dan cara memberikan ASI perah kepada bayi prematur dengan sendok, pipet ataupun pipa lambung. 1) Bayi prematur dengan berat lahir >1800 gram (> 34 minggu gestasi) dapat langsung disusukan kepada ibu. Mungkin untuk hari hari pertama kalau ASI belum mencukupi dapat diberikan ASI donor dengan sendok / cangkir 8 10 kali sehari. 2) Bayi prematur dengan berat lahir 1500- 1800 gram (32 34 minggu), refleks hisap belum baik, tetapi refleks menelan sudah ada, diberikan ASI perah dengan sendok / cangkir, 10 12 kali sehari. Bayi prematur dengan berat lahir 1250 1500 gram

(30 31 minggu), refleks hisap dan menelan belum ada, perlu diberikan ASI perah melalui pipa orogastrik 12X sehari. 3) Bayi prematur dengan berat lahir <1250> c. Makanan bayi Pada bayi prematur, reflek hisap, telan dan batuk belum sempurna, kapasitas lambung masih sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase masih kurang disamping itu kebutuhan protein 3 5 gram/ hari dan tinggi kalori (110 kal/ kg/ hari), agar berat badan bertambah sebaik baiknya. Jumlah ini lebih tinggi dari yang diperlukan bayi cukup bulan. Pemberian minum dimulai pada waktu bayi berumur 3 jam agar bayi tidak menderita hipoglikemia dan hiperbilirubinemia. Sebelum pemberian minum pertama harus dilakukan penghisapan cairan lambung. Hal ini perlu untuk mengetahui ada tidaknya atresia esophagus dan mencegah muntah. Penghisapan cairan lambung juga dilakukan setiap sebelum pemberian minum berikutnya. Pada umumnya bayi denagn berat lahir 2000 gram atau lebih dapat menyusu pada ibunya. Bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram kurang mampu menghisap air susu ibu atau susu botol, terutama pada hari hari pertama, maka bayi diberi minum melalui sonde lambung (orogastrik intubation). Jumlah cairan yang diberikan untuk pertama kali adalah 1 5 ml/jam dan jumlahnya dapat ditambah sedikit demi sedikit setiap 12 jam. Banyaknya cairan yang diberikan adalah 60mg/kg/hari dan setiap hari dinaikkan sampai 200mg/kg/hari pada akhir minggu kedua. d. Mencegah infeksi Bayi prematur mudah sekali terserang infeksi. Ini disebabkan oleh karena daya tahan tubuh terhadap infeksi kurang, relatif belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan belum baik oleh karena itu perlu

dilakukan tindakan pencegahan yang dimulai pada masa perinatal memperbaiki keadaan sosial ekonomi, program pendidikan (nutrisi, kebersihan dan kesehatan, keluarga berencana, perawatan antenatal dan post natal), screening (TORCH, Hepatitis, AIDS), vaksinasi tetanus serta tempat kelahiran dan perawatan yang terjamin kebersihannya. Tindakan aseptik antiseptik harus selalu digalakkan, baik dirawat gabung maupun dibangsal neonatus. Infeksi yang sering terjadi adalah infeksi silang melalui para dokter, perawat, bidan, dan petugas lain yang berhubungan dengan bayi. Untuk mencegah itu maka perlu dilakukan : 1. Diadakan pemisahan antara bayi yang terkena infeksi dengan bayi yang tidak terkena infeksi 2. Mencuci tangan setiap kali sebelum dan sesudah memegang bayi 3. Membersihkan temapat tidur bayi segera setelah tidak dipakai lagi (paling lama seorang bayi memakai tempat tidur selama 1 minggu untuk kemudian dibersihkan dengan cairan antisptik) 4. Membersihkan ruangan pada waktu waktu tertentu 5. Setiap bayi memiliki peralatan sendiri 6. Setiap petugas di bangsal bayi harus menggunakan pakaian yang telah disediakan 7. Petugas yang mempunyai penyakit menular dilarang merawat bayi 8. Kulit dan tali pusat bayi harus dibersihkan sebaik baiknya 9. Para pengunjung hanya boleh melihat bayi dari belakang kaca e. Minum cukup Selama dirawat, pihak rumah sakit harus memastikan bayi mengkonsumsi susu sesuai kebutuhan tubuhnya. Selama belum bisa menghisap denagn benar, minum susu dilakukan dengan menggunakan pipet.

f. Memberikan sentuhan Ibu sangat disarankan untuk terus memberikan sentuhan pada bayinya. Bayi prematur yang mendapat banyak sentuhan ibu menurut penelitian menunjukkan kenaikan berat badan yang lebih cepat daripada jika si bayi jarang disentuh. g. Membantu beradaptasi Bila memang tidak ada komplikasi, perawatan di RS bertujuan membantu bayi beradaptasi dengan limgkungan barunya. Setelah suhunya stabil dan dipastikan tidak ada infeksi, bayi biasanya sudah boleh dibawa pulang. Namunada juga sejmlah RS yang menggunakan patokan berat badan. Misalnya bayi baru boleh pulang kalau beratnya mencapai 2kg kendati sebenarnya berat badan tidak berbanding lurus dengan kondisi kesehatan bayi secara umum.(Didinkaem, 2007). 2. Perawatan di rumah a. Minum susu Bayi prematur membutuhkan susu yang berprotein tinggi. Namun dengan kuasa Tuhan, ibu ibu hamil yang melahirkan bayi prematur dengan sendirinya akan memproduksi ASI yang proteinnya lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang melahirkan bayi cukup bulan. Sehingga diusahakan untuk selalu memberikan ASI eksklusif, karena zat gizi yang terkandung didalamnya belum ada yang menandinginya dan ASI dapat mempercepat pertumbuhan berat anak. b. Jaga suhu tubuhnya Salah satu masalah yang dihadapi bayi prematur adalah suhu tubuh yang belum stabil. Oleh karena itu, orang tua harus mengusahakan supaya lingkungan sekitarnya tidak memicu kenaikan atau penurunan suhu tubuh bayi. Bisa dilakukan dengan menempati kamar yang tidak terlalu panas ataupun dingin. c. Pastikan semuanya bersih

Bayi prematur lebih rentan terserang penyakit dan infeksi. Karenanya orang tua harus berhati hati menjaga keadaan si kecil supaya tetap bersih sekaligus meminimalisir kemungkinan terserang infeksi. Maka sebaiknya cuci tangan sebelum memberikan susu, memperhatikan kebersihan kamar. d. BAB dan BAK BAB dan BAK bayi prematur masih terhitung wajar kalau setelah disusui lalu dikeluarkan dalam bentuk pipis atau pup. Menjadi tidak wajar apabila tanpa diberi susu pun bayi terus BAB dan BAK. Untuk kasus seperti ini tak ada jalan lain kecuali segera membawanya ke dokter. e. Berikan stimulus yang sesuai Bisa dilakukan dengan mengajak berbicara, membelai, memijat, mengajak bermain, menimang, menggendong, menunjukkan perbedaan warna gelap dan terang, gambar gambar dan mainan berwarna cerah. F. Pemeriksaan penunjang 1. Pemantauan glukosa darah terhadap hipoglikemia Nilai normal glukosa serum : 45 mg/dl 2. Pemantauan gas darah arteri Normal untuk analisa gas darah apabila kadar PaO2 50 70 mmHg dan kadar PaCO2 35 45 mmHg dan saturasi oksigen harus 92 94 %. 3. Kimia darah sesuai kebutuhan Hb (Hemoglobin) Hb darah lengkap bayi 1 3 hari adalah 14,5 22,5 gr/dl Ht (Hematokrit) Ht normal berkisar 45% - 53% LED darah lengkap untuk anak anak

Menurut : Westerfreen : 0 10 mm/jam Wintrobe : 0 13 mm/jam Leukosit (SDP) Normalnya 10.000/ mm. pada bayi preterm jumlah SDP bervariasi dari 6.000 225.000/ mm. Trombosit Rentang normalnya antara 60.000 100.000/ mm. Kadar serum / plasma pada bayi premature (1 minggu) Adalah 14 27 mEq/ L Jumlah eritrosit (SDM) darah lengkap bayi (1 3 hari) Adalah 4,0 6,6 juta/mm. MCHC darah lengkap : 30% - 36% Hb/ sel atau gr Hb/ dl SDM MCH darah lengkap : 31 37 pg/ sel MCV darah lengkap : 95 121 m Ph darah lengkap arterial prematur (48 jam) : 7,35 7,5 4. Pemeriksaan sinar sesuai kebutuhan 5. Penyimpangan darah tali pusat G. Asuhan keperawatan 1. Pengkajian a. Data Demografi o Permisi bu, nama ibu siapa? (untuk mengakrabkan dengan pasien) b. Pengkajian dasar neonatus 1) Sirkulasi

o Maaf bu, saya mau memeriksa nadi bayi ibu apakah normal atau tidak? (Nadi apical mungkin cepat dan atau tidak teratur dalam batas normal 120 sampai 160 dpm) o Murmur jantung yang dapat didengar dapat menandakan duktus arteriosus paten (PDA) 2) Makanan / cairan o Apakah bayi ibu mau menyusu saat bayi ibu menangis karena merasa kehausan? (Disesuaikan denga berat badan bayi kurang dari 2500 gram) 3) Neurosensori o Kalau saya boleh tahu, bisa ibu ceritakan tentang bentuk badan bayi ibu? (Tubuh panjang, kurus, lemas dengan perut agak gendut) o Apakah antara bentuk kepala dengan badan lebih besar bentuk kepalanya? (Ukuran kepala besar dalam hubungannya dengan tubuh, sutura mungkin mudah digerakkan, fontanel mungkin besar atau terbuka lebar) o Apakah pada saat melihat mata bayi ibu bisa melihat ke kanan dan kekiri, atau bisa melihat ke atas? (Dapat mendemontrasikan kedutan mata berputar) o Apakah kelopak matanya terlihat agak bengkak? (Edema kelopak mata umum mungkin terjadi, mata mungkin merapat (tergantung pada usia gestasi)) o Refleks tergantung pada usia gestasi : Rooting terjadi dengan baik, pada usia gestasi minggu ke-32 Refleks sucking / menghisap, menelan dan bernafas biasanya terbentuk pada usia gestasi minggu ke-32 Refleks moro (ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan) tampak pada gestasi minggu ke-28

Komponen kedua (fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke-32 o Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara minggu 24 dan 37. 4) Pernafasan o Skor apgar mungkin rendah o Waktu bernafas apakah bayi ibu nafasnya agak tersengal sengal? (Pernafasan mungkin dangkal, tidak teratur, pernafasan diafragmatik intermitten atau periodik (40 60 x/ mnt)) o Kadang terdengar suara seperti mengorok tidak bu sewaktu bayi ibu sedang tidur? (Mengorok, pernafasan cuping hidung, retraksi suprasternal atau substernal, atau berbagai derajat sianosis mungkin ada) o Adanya bunyi ampelas pada auskultasi, menandakan sindrome distres paernafasan (RDS) 5) Keamanan o Apakah bayi ibu kadang kadang tubuhnya terasa panas kemudian panasnya turun lagi? (Suhu berfluktasi dengan mudah) o Bu, bagaimana suara tangisan anak ibu? Keras atu pelan? (Menangis mungkin lemah) o Muka bayi ibu terlihat agak bengkak tidak? (Wajah mungkin memar, mungkin ada kaput suksedaneum) o Kulit pada bayi ibu tampak merah tidak bu? (Kulit kemerahan atau tembus pandang, warna mungkin merah muda / kebiruan akrosianosis atau sianosis pucat) o Apakah tangan dan kaki pada bayi ibu terlihat agak bengkak? (Ekstremitas mungkin tampak edema)

o Apakah ada atau tidak garis pada telapak tangan bayi ibu? (Garis telapak tangan mungkin ada mungkin tidak ada pada semua atau sebagian telapak) o Apakah kuku kuku pada bayi ibu tampak lebih pendek? (Kuku mungkin pendek) 6) Seksualitas o Persalinan atau kelahiran mungkin tergesa gesa o Genitalia, labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora, dengan klitoris menonjol, testis pria mungkin tidak turun, rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum. c. Pengkajian riwayat ibu Faktor yang dapat memperberat persalinan preterm o Maaf bu, bisa sebutkan berapa usia ibu sekarang (Usia muda) o Maaf kalau boleh tau apakah penghasilan dari suami ibu bisa mencukupi semua kebutuhan keluarga (Latar belakang sosial ekonomi rendah) o Kapan terakhir ibu hamil/ melahirkan (Rentang kehamilan dekat) o Gestasi multiple o Pada saat hamil apakah kebutuhan makanan sehat ibu bisa terpenuhi? (Nutrisi buruk) o Apakah pada saat melahirkan dulu usia kandungan ibu juga belum cukup bulan? (Kelahiran preterm sebelumnya) d. Pengkajian riwayat kesehatan ibu o Komplikasi obstetrik seperti abrupsio plasenta o Ketuban pecah dini o Dilatasi serviks prematur o Adanya infeksi

o Penggunaan obat yang diresepkan 2. Diagnosa keperawatan o Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas pusat pernafasan o Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan imaturitas produksi enzim, reflek lemah o Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakadekuatan kadar surfactan o Perubahan sensori persepsi berhubungan dengan imatur sistem neurosensori o Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan hipoksia jaringan, ketidakseimbangan metabolik (hiperbilirubin), hipoglikemia o Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan sistem imun immatur

DAFTAR PUSTAKA Dongoes, M. E. 2001. Rencana Maternal Bayi Edisi 2. Jakarta : EGC Dorlan, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. Jakarta : EGC Mansjoer, Arif dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid I. Jakarta : Media Asculapius FKUI

Staf Pengajar IKA FKUI. 1985. Ilmu Kesehatan Anak 3. Jakarta : Bagian IKA FKUI