Anda di halaman 1dari 111

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS KOINTEGRASI NILAI TUKAR RIIL DI KAWASAN ASEAN

TESIS

LUNA MANTYASIH MAKARTI 0906498603

FAKULTAS EKONOMI PROGRAM PASCASARJANA DEPOK JANUARI 2011

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS KOINTEGRASI NILAI TUKAR RIIL DI KAWASAN ASEAN

TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains Manajemen

LUNA MANTYASIH MAKARTI 0906498603

FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI ILMU MANAJEMEN KEKHUSUSAN KEUANGAN PERUSAHAAN DEPOK JANUARI 2010

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama NPM Tanda Tangan Tanggal

: Luna Mantyasih Makarti : 0906498603 : ............................... : 10 Januari 2011

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Tesis ini diajukan oleh Nama NPM Program Studi Judul Tesis

: : Luna Mantyasih Makarti : 0906498603 : Manajemen Keuangan : Analisis Kointegrasi Nilai Tukar Riil di Kawasan ASEAN

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Sains Manajemen pada Program Studi Ilmu Manajemen Keuangan, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.

DEWAN PENGUJI

Pembimbing : Bambang Hermanto, Ph. D.

( ........................................)

Penguji

: Prof. Dr. Adler Manurung

( ........................................)

Penguji

: Dr. Arief Rijanto

( ........................................)

Ditetapkan di : Depok Tanggal : ..........................

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan tesis ini. Penulisan tesis ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Sains Manajemen Program Studi Manajemen Keuangan pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Banyak pihak yang telah berkontribusi secara positif baik langsung maupun tidak langsung pada proses penyelesaian tesis ini. Oleh sebab itu, penulis ingin berterima kasih kepada: 1. Bambang Hermanto, Ph. D., selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan penulis dalam penyusunan tesis ini; 2. Prof. Dr. Adler Manurung dan Dr. Arief Rijanto yang telah memberi masukan yang sangat membangun; 3. Orang tua dan keluarga yang telah memberikan bantuan dukungan material dan moral; 4. Rekan-rekan mahasiswa PPIM Keuangan angkatan 2009, teman berjuang dan berdiskusi selama menyelesaikan studi ini; 5. Sahabat-sahabat alumni Arsitektur ITB angkatan 2004, teman setia yang menjaga keseimbangan antara belajar, bekerja, dan bermain selama penulis menyelesaikan tesis. Thanks for our October dinner at Sierra; serta 6. Sahabat-sahabat penulis lainnya. Terima kasih atas dukungan dan doa yang luar biasa. Akhir kata, penulis berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga tesis ini dapat membawa manfaat bagi pengembangan ilmu manajemen keuangan.

Depok, 31 Desember 2010

Penulis iv

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Luna Mantyasih Makarti NPM : 0906498603 Program Studi : Manajemen Keuangan Departemen : Program Pascasarjana Ilmu Manajemen Fakultas : Ekonomi Jenis karya : Tesis demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive RoyaltyFree Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul: ANALISIS KOINTEGRASI NILAI TUKAR RIIL DI KAWASAN ASEAN beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Depok Pada tanggal : 10 Januari 2011 Yang menyatakan

(Luna Mantyasih Makarti)

ABSTRAK

Nama : Luna Mantyasih Makarti Program Studi : Manajemen Keuangan Judul : Analisis Kointegrasi Nilai Tukar Riil di Kawasan ASEAN Pasca krisis keuangan Asia, integrasi di kawasan ASEAN telah mengalami perkembangan yang signifikan. ASEAN akan segera mengimplementasikan pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang pada akhirnya akan mengarah pada penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan intra-regional. Dalam konteks tersebut, penelitian ini memeriksa kelayakan ekonomi pembentukan blok mata uang regional di ASEAN dengan menguji hipotesis Generalized Purchasing Power Parity (G-PPP) menggunakan nilai tukar riil. Secara khusus, penelitian ini menyelidiki simetri dalam gangguan makroekonomi serta pergerakan bersama nilai tukar riil dari negara-negara ASEAN sebagai salah satu prasyarat minimum standar untuk membentuk Optimum Currency Area (OCA). Uji kointegrasi menemukan bukti yang mendukung G-PPP yang, pada akhirnya, memberikan dukungan untuk kelayakan suatu daerah mata uang optimum di ASEAN. Namun, kehadiran asimetri dalam proses, yaitu bagaimana negara menyesuaikan diri dengan guncangan dalam sistem, menunjukkan bahwa ASEAN masih perlu untuk meningkatkan konvergensi nilai tukarnya untuk memperkuat serikat mata uang. Kata kunci: ASEAN, G-PPP, Kointegrasi, Pergerakan bersama, Serikat mata uang

vi
Universitas Indonesia

ABSTRACT

Name : Luna Mantyasih Makarti Study Program: Financial Management Title : Cointegration Analysis of Real Exchange Rate in ASEAN Region After the Asian financial crisis, integration in the ASEAN region has undergone significant developments. ASEAN will implement the establishment of an ASEAN Economic Community (AEC) that will ultimately lead to the use of local currencies in intra-regional trade. In that context, this study examined the economic feasibility of forming a regional currency block in ASEAN by testing the hypothesis of the Generalized Purchasing Power Parity (G-PPP) using real exchange rate. In particular, this study investigated the symmetry in macroeconomic disturbances and the co-movements of real exchange rate of ASEAN countries as one of the standard minimum precondition for forming an Optimum Currency Area (OCA). Cointegration tests find evidence to support GPPP which, in turn, provides support for the feasibility of an optimum currency area in ASEAN. However, the presence of asymmetry in the process, how countries adjust to shocks in the system, shows that ASEAN still needs to improve its exchange rate convergence to strengthen the currency union. Key words: ASEAN, G-PPP, Co-integration, Co-movement, Currency union

vii
Universitas Indonesia

DAFTAR ISI

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS.................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN................................................................................ iii KATA PENGANTAR ........................................................................................... iv HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .............................. v ABSTRAK ............................................................................................................. vi ABSTRACT .......................................................................................................... vii DAFTAR ISI ........................................................................................................ viii DAFTAR TABEL ................................................................................................... x DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... xi 1. PENDAHULUAN.............................................................................................. 1 1.1 Latar Belakang Masalah.......................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 3 1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................... 5 1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................. 6 1.5 Hipotesa .................................................................................................. 6 1.6 Sistematika Penulisan ............................................................................. 6 2. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................... 8 2.1 Integrasi Ekonomi dan Keuangan ........................................................... 8 2.2 Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ................................................. 11 2.3 Teori Optimum Currency Areas (OCA)................................................ 12 2.4 Teori Purchasing Power Parity (PPP) .................................................. 15 2.5 Teori Generalized Purchasing Power Parity (G-PPP) ......................... 18 2.6 Penelitian-penelitian Sebelumnya ......................................................... 19 3. METODOLOGI PENELITIAN .................................................................... 22 3.1 Spesifikasi Model .................................................................................. 22 3.2 Variabel Data ........................................................................................ 23 3.3 Pengujian Pra-estimasi .......................................................................... 24 3.3.1 Uji Derajat Integrasi ......................................................................... 24 3.3.2 Lag Optimum ................................................................................... 26 3.4 Pendekatan Estimasi ............................................................................. 27 3.4.1 Uji Kausalitas Granger ..................................................................... 27 3.4.2 Uji Kointegrasi Engle-Granger ........................................................ 30 3.4.3 Uji Kointegrasi Johansen ................................................................. 31 3.4.4 Error Correction Model (ECM) ...................................................... 33 4. HASIL ESTIMASI DAN ANALISIS ............................................................ 35 4.1 Pengujian Pra-estimasi .......................................................................... 38 4.1.1 Uji Derajat Integrasi ......................................................................... 38 4.1.2 Lag Optimum ................................................................................... 39 4.2 Pengujian Estimasi ................................................................................ 40 4.2.1 Uji Kausalitas Granger ..................................................................... 40

viii
Universitas Indonesia

4.2.2 4.2.3 4.2.4

Uji Kointegrasi Engle-Granger ........................................................ 42 Uji Kointegrasi Johansen ................................................................. 44 Error Correction Model (ECM) ...................................................... 46

5. KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................................... 50 5.1 Kesimpulan ........................................................................................... 50 5.2 Saran...................................................................................................... 52 DAFTAR REFERENSI ........................................................................................ 55 LAMPIRAN .......................................................................................................... 57

ix
Universitas Indonesia

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Indikator ekonomi ASEAN ..................................................................... 2 Tabel 2.1 Tahapan integrasi ekonomi Balassa ........................................................ 9 Tabel 4.1 Variabel data ......................................................................................... 35 Tabel 4.2 Korelasi nilai tukar riil negara-negara ASEAN .................................... 37 Tabel 4.3 Hasil uji stasioneritas nilai tukar riil individu ....................................... 38 Tabel 4.4 Hasil uji lag optimum............................................................................ 40 Tabel 4.5 Hasil uji kausalitas Granger .................................................................. 41 Tabel 4.6 Hasil uji kointegrasi bilateral Engle-Granger ....................................... 43 Tabel 4.7 Hasil uji kointegrasi multilateral Johansen ........................................... 45 Tabel 4.8 Hasil estimasi ECM .............................................................................. 46

x
Universitas Indonesia

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Uji derajat integrasi ........................................................................... 58 Lampiran 2 Lag optimum ..................................................................................... 79 Lampiran 3 Uji kausalitas Granger ....................................................................... 80 Lampiran 4 Uji kointegrasi bilateral Engle-Granger ............................................ 82 Lampiran 5 Uji kointegrasi multilateral Johansen ................................................ 86 Lampiran 6 Estimasi ECM .................................................................................... 96

xi
Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Globalisasi, yang juga berarti integrasi ekonomi secara menyeluruh, akan

segera terwujud di antara negara-negara ASEAN dalam bentuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015. MEA pada dasarnya adalah perluasan dari integrasi ekonomi regional yang telah dimulai sejak pembentukan AFTA tahun 1992. Nantinya, MEA dapat mengarah pada penyatuan mata uang ASEAN. Ide ini mirip dengan apa yang dilakukan Uni Eropa (UE) saat memberlakukan mata uang Euro. Pemimpin bank sentral dari 10 anggota ASEAN bertemu di kota Nha Thang, Vietnam menjelang KTT ASEAN ke-16 yang diadakan di ibukota Ha Noi pada 8-9 April 2010. Dalam sebuah pernyataannya setelah pertemuan itu, Bank Sentral Vietnam memunculkan ide mengenai cara-cara untuk meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan intra-regional ASEAN (Warta Ekonomi, 8 April 2010). Penggunaan mata uang bersama adalah bagian dari langkah-langkah yang diambil oleh ASEAN untuk memperdalam integrasi ekonomi. Ong Keng Yong, Sekretaris umum ASEAN pada Economix 2004 Conference di Universitas Indonesia mengatakan bahwa tujuan keseluruhan dari sebuah mata uang tunggal adalah untuk memberikan kontribusi bagi stabilitas keuangan ekonomi kawasan, termasuk stabilitas harga. Mata uang tunggal mengakibatkan biaya atau risiko bisnis lintas batas menjadi lebih rendah karena risiko mata uang dapat dieliminasi. Mata uang regional juga akan memfasilitasi arus lebih besar dari perdagangan intra-regional, sehingga mampu menekan harga dan menghasilkan barang dan jasa yang lebih murah. Individu juga akan mendapat keuntungan dari mata uang regional karena tidak perlu menukar uang ketika bepergian di kawasan ini sehingga lebih mudah membandingkan harga. Bank Indonesia (BI) masih mengkaji kemungkinan penerapan mata uang lokal untuk perdagangan antar negara ASEAN. Kepala Biro Humas BI, Difi A Johansyah, mengungkapkan bahwa meskipun memberikan keuntungan dalam 1
Universitas Indonesia

menekan biaya transaksi, kebijakan ini sangat kompleks karena melibatkan banyak negara (Media Indonesia, 8 April 2010). Menurutnya, mata uang tunggal ASEAN masih sulit diwujudkan karena saat ini ASEAN masih fokus pada pendalaman ekonomi (Bisnis Jakarta, 22 April 2010). Untuk mendorong terwujudnya mata uang ASEAN sebaiknya didukung oleh beberapa fakta mengenai kondisi negara-negara di ASEAN. Sebagai satu kesatuan wilayah, ASEAN menjanjikan potensi ekonomi yang besar. Total jumlah penduduk ASEAN mencapai 567,6 juta orang, lebih besar dibandingkan dengan Uni Eropa yang mendekati 500 juta orang. ASEAN memiliki potensi pasar yang sangat besar dengan total GDP mencapai sekitar US$1,1 triliun. Selain itu, rasio total perdagangan terhadap GDP dari masingmasing negara ASEAN juga cukup tinggi, menunjukkan aktifnya kawasan ini dalam perdagangan internasional. Dari sisi aliran modal internasional, kawasan ASEAN juga dipandang sangat menarik, seperti terlihat dari aliran masuk FDI (penanaman modal asing langsung) yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi ini didukung pula dengan melimpahnya jumlah tenaga kerja (Outlook Ekonomi Indonesia 2008-2012, 2008). Tabel 1.1 Indikator ekonomi ASEAN*
Populasi Negara Juta 2006 Brunei Darussalam Kamboja Indonesia Laos Malaysia Myanmar Filipina Singapura Thailand Vietnam ASEAN 0.38 14.16 222.05 6.14 26.69 57.29 86.91 4.48 65.23 84.22 567.60 Inflasi (yoy) persen 2006 -0.7 2.8 6.6 4.7 3.1 GDP per kapita US$ 2006 US$ PPP 2006 Tingkat Pengangguran persen 2005/2006 4.0 0.8 10.5 Perdagangan Barang Rasio Ekspor Rasio Impor terhadap GDP terhadap GDP persen 2006 65.8 48.4 27.7 11.4 100.2 29.4 40.4 205.3 58.8 60.8 70.0 persen 2006 12.9 40.3 16.8 16.7 81.8 17.7 44.1 180.3 61.5 66.0 61.0 FDI Net Inflow (yoy) juta US$ persen 2005-2006 2005-2006 145.0 50.2 102.0 26.8 (2779.8) (33.4) 159.7 575.8 2,094.9 52.8 (92.9) (39.4) 491 26.5 9,053.5 60.4 1,799.1 20.1 339.2 16.8 11,311.7 27.5 *per 15 September 2007

4.3 0.8 3.5 6.6

30,213.6 25,094.1 512.3 3,226.0 1,640.4 4,321.3 574.0 2,332.1 5,880.4 12,184.9 208.6 1,958.8 1,351.5 5,332.7 29,499.6 32,379.6 3,167.8 9,163.5 723.9 3,373.3 1,890.3 5,210.2

3.0

8.1 2.7 1.3 5.3 n.a

Sumber: Outlook Ekonomi Indonesia 2008-2012, 2008

Meskipun menyimpan potensi yang sangat besar sebagai satu kawasan, kondisi ASEAN juga diwarnai oleh kesenjangan yang sangat besar. GNP per
Universitas Indonesia

kapita negara ASEAN belum merata. Singapura memiliki pendapatan per kapita hampir 350 kali lebih tinggi dari Myanmar (Strait Times, 21 April 2009). Dari sisi bea masuk, Singapura sudah mengenakan tarif impor 0%, tetapi rata-rata tarif impor di Vietnam masih 17%. Iklim bisnis juga bervariasi. Singapura hanya membutuhkan 5 hari untuk memulai bisnis, sementara Indonesia dan Laos masing-masing membutuhkan 105 dan 103 hari (Outlook Ekonomi Indonesia 2008-2012, 2008). Berbeda dengan UE, perdagangan antar negara ASEAN relatif rendah walaupun dalam beberapa tahun terakhir pangsa perdagangan intra ASEAN terus mengalami peningkatan. Pada kenyataannya, perdagangan ASEAN di negaranegara lainnya lebih besar (sekitar 75%) dibandingkan dengan perdagangan di antara negara-negara anggotanya (Strait Times, 21 April 2009). Rendahnya intraperdagangan ASEAN menunjukkan ketergantungan ekonomi sesama negara ASEAN tidak besar. Akibatnya, negara-negara ASEAN lebih peduli tentang stabilitas mata uang mereka terhadap mata uang internasional utama, seperti Dollar AS, daripada antara mata uang mereka sendiri. Pasar bersama ASEAN memang akan menjadi potensi bagi peningkatan perdagangan dan investasi. Namun, perbedaan tingkat kesejahteraan masingmasing negara menjadi salah satu kendala bagi terealisasinya mata uang bersama. Dengan demikian, kurang wajar membandingkan ASEAN dengan UE. ASEAN merupakan kelompok negara berkembang, sedangkan UE adalah kumpulan negara maju. 1.2 Rumusan Masalah Penelitian ini akan menganalisa mengenai keberadaan co-movement pada mata uang negara-negara ASEAN sebagai salah satu indikasi awal adanya kointegrasi. Dari sisi ekonomi, implikasi dari keberadaan co-movement mata uang yaitu jika sekelompok negara ternyata memiliki mata uang yang berkorelasi sangat erat, maka secara implisit kelompok negara tersebut dapat menggabungkan mata uangnya atau dapat melepaskan kekuatan moneternya dan memberikan kepada suatu badan supra nasional. Dengan kata lain, negara-negara yang terkointegrasi dianggap sudah siap menggunakan mata uang bersama.

Universitas Indonesia

Syarat dan kondisi teoritis bahwa penyatuan mata uang menguntungkan merupakan subyek dari teori Optimum Currency Area (OCA) yang diuraikan oleh Robert Mundell (1961). Teori ini menyatakan bahwa sekelompok negara dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dengan melepaskan penggunaan mata uang sendiri dan secara bersama mengadopsi mata uang baru. Hal ini terjadi jika serangkaian kondisi tertentu dapat dipenuhi. Ketika faktor-faktor fundamental dalam ekonomi di antara negara-negara ASEAN sudah cukup saling berhubungan dan terintegrasi satu sama lain, maka mereka dapat memperlihatkan common trend dan memiliki hubungan kointegrasi jangka panjang yang memungkinkan membentuk sebuah OCA. Kondisi ini dikenal dengan teori Generalized Purchasing Power Parity (G-PPP). Dalam literatur-literatur ekonomi, kajian tentang analisis kointegrasi mata uang sudah cukup banyak dilakukan, terutama untuk negara-negara Eropa. Woo (1999), misalnya, menguji kointegrasi jangka panjang antara spot exchange rate Deutschemark dengan mata uang Franc Perancis (FFR/DM), Franc Belgia (BFR/DM), Gulden Belanda (DFL/DM), Krone Denmark (DKR/DM), Lira Italia (ITL/DM), dan Pound Inggris (UK/DM) yang tergabung dalam Exchange Rate Mechanism (ERM) di bawah European Monetary System (EMS). Penelitian ini menghasilkan bahwa hanya BFR/DM, FFR/DM, dan DFL/DM yang memiliki hubungan kointegrasi selama periode EMS. Haug, MacKinnon, dan Michelis (2000) melakukan analisis kointegrasi mengenai European Monetary Union (EMU) dengan menguji co-movement nilai tukar nominal, nilai tukar riil, suku bunga jangka panjang, serta defisit anggaran pemerintah dari 12 negara Uni Eropa. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa tidak semua negara yang diuji berpotensi membentuk EMU, beberapa negara harus melakukan penyesuaian yang signifikan. Kajian mengenai pembentukan OCA melalui pendekatan Generalized Purchasing Power Parity (G-PPP) antara lain dilakukan oleh Bernstein (2000) dan Lee (2003). Bernstein melakukan studi keberhasilan EMS dalam menciptakan OCA dalam bentuk EMU. Uji G-PPP menunjukkan bahwa Jerman dan Inggris tidak membentuk OCA. Namun, kedua negara tersebut masing-masing terkointegrasi dengan negara-negara Uni Eropa yang lebih kecil seperti Austria,

Universitas Indonesia

Belgia, Denmark, Perancis, Yunani, Italia, Portugal, dan Swedia. Dengan menganalisis kawasan yang berbeda, studi empiris Lee menyatakan bahwa Australia dan Selandia Baru memiliki commond trend dan membentuk OCA. Untuk kawasan Asia, studi empiris teori OCA dilakukan oleh Mishra & Sharma (2010). Potensi pembentukan OCA dilteliti terhadap kelompok negaranegara di Asia Timur melalui pendekatan Purchasing Power Parity (PPP) dan Generalized Purchasing Power Parity (G-PPP). Uji G-PPP mendukung keberhasilan OCA di Asia Timur. Namun, tingkat integrasi di bidang ekonomi perlu diperkuat lagi dalam rangka membentuk currency union. Berdasarkan uraian tersebut, secara spesifik penelitian ini akan menganalisis kointegrasi jangka panjang mata uang di negara-negara ASEAN menggunakan uji Generalized Purchasing Power Parity (G-PPP) seperti yang dilakukan oleh Mishra & Sharma (2010). Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Enders dan Hurn pada tahun 1994. Dengan menggunakan data nilai tukar riil, penelitian ini akan menjawab permasalahan-permasalahan berikut: 1. Apakah terdapat co-movement pada mata uang negara-negara ASEAN? 2. Apakah nilai tukar riil negara-negara ASEAN dapat memperlihatkan common trend dan memiliki hubungan kointegrasi jangka panjang yang memungkinkan membentuk sebuah OCA atau dengan kata lain siap menggunakan mata uang bersama? 3. Jika ditemukan adanya kointegrasi nilai tukar riil antar negara ASEAN, negara-negara mana saja yang harus melakukan penyesuaian supaya OCA lebih potensial? 1.3 Tujuan Penelitian Terkait dengan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. Meneliti keberadaan co-movement pada mata uang negara-negara ASEAN. 2. Meneliti keberadaan common trend dan hubungan kointegrasi jangka panjang nilai tukar riil negara-negara ASEAN, baik bilateral maupun multilateral, yang mendukung kemungkinan pembentukan OCA sehingga ASEAN siap menggunakan mata uang bersama.

Universitas Indonesia

3. Menganalisis penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan oleh negaranegara tertentu apabila ditemukan adanya kointegrasi nilai tukar riil antar negara ASEAN supaya OCA lebih potensial. 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa: 1. Wawasan kepada kalangan akademisi dan masyarakat luas mengenai fenomena pembentukan Optimum Currency Areas (OCA) atau integrasi ekonomi dan keuangan di kawasan ASEAN. 2. Kontribusi terhadap teori dan penelitian empiris di bidang keuangan dan kerja sama ekonomi internasional, terutama mengenai co-movement mata uang negara-negara ASEAN. 3. Sebagai bahan referensi kepada para pembuat kebijakan, baik di tingkat nasional maupun internasional, khususnya kebijakan moneter dan pengelolaan nilai tukar. 4. Masukan dan pengetahuan bagi pelaku bisnis/praktisi terutama bagi yang memiliki ketertarikan terhadap transaksi valuta asing dalam mengambil keputusan yang diperlukan menyangkut portfolionya. 1.5 Hipotesa Hipotesa yang diajukan di dalam penelitian ini antara lain: 1. Terdapat co-movement pada mata uang negara-negara ASEAN. 2. Terdapat hubungan kointegrasi jangka panjang pada nilai tukar riil antar negara ASEAN, baik hubungan secara bilateral maupun multilateral. 1.6 Sistematika Penulisan Penelitian ini terdiri dari lima bab, yaitu pendahuluan, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, hasil estimasi dan analisis, serta kesimpulan dan saran. Pengembangan setiap bab adalah sebagai berikut: Bab satu menyajikan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, hipotesa, dan sistematika penulisan. Bab dua merupakan tinjauan pustaka mengenai integrasi ekonomi dan keuangan, latar belakang dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), teori
Universitas Indonesia

Optimum Currency Areas (OCA), teori Purchasing Power Parity (PPP), dan teori Generalized Purchasing Power Parity (G-PPP). Selain itu disajikan pula ulasan dari penelitian-penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini. Metodologi penelitian pada bab tiga berisi spesifikasi model, variabel data berupa sampel data dan sumber data, prasyarat variabel data, serta pendekatan estimasi. Pendekatan estimasi yang digunakan yaitu uji kointegrasi bilateral menggunakan metode Engle & Granger serta uji kointegrasi multilateral menggunakan metode Johansen dan estimasi terakhir menggunakan Error Correction Model (ECM). Hasil estimasi model yang disajikan sebelumnya di bab tiga serta analisisnya akan dibahas pada bab empat. Sementara itu, bab terakhir menyajikan kesimpulan dan saran berkaitan dengan tujuan penelitian.

Universitas Indonesia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Integrasi Ekonomi dan Keuangan Untuk memahami proses integrasi, perlu dipahami perbedaan konsep

integrasi berdasarkan sektoral yaitu integrasi ekonomi dan integrasi keuangan. Integrasi ekonomi adalah integrasi di sektor riil yang bertujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Sementara integrasi keuangan terfokus pada kerja sama untuk memelihara stabilitas, termasuk pencegahan krisis keuangan, di mana integrasi ini dalam jangka panjang dapat berujung pada penyatuan atau integrasi moneter regional (Arifin, Djaafara, & Budiman, 2008). Integrasi ekonomi yang menggambarkan penyatuan beberapa negara dalam satu kesatuan diawali dengan kemunculan teori Custom Union oleh Viner. Di dalam teori tersebut, dampak dari suatu integrasi ekonomi terhadap tingkat kesejahteraan dijelaskan melalui konsep trade creation dan trade diversion. Trade creation terjadi apabila suatu negara dapat mengimpor barang dengan harga yang lebih murah dari negara lain dalam suatu kawasan integrasi ekonomi, sehingga secara keseluruhan kesejahteraan akan meningkat. Sementara itu, trade diversion terjadi apabila impor dari suatu negara yang berada di luar kawasan digantikan oleh negara lain yang berada dalam kawasan integrasi, karena produk dari negara lain dalam kawasan tersebut menjadi lebih murah akibat adanya perlakuan khusus dalam penetapan tarif (Outlook Ekonomi Indonesia 2008-2012, 2008). Balassa membagi tahapan integrasi ekonomi dalam enam tahap. Tingkatan integrasi ekonomi tersebut dimulai dari kawasan/area perdagangan preferensial (preferential trading area), yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi pembentukan area perdagangan bebas (free trade area), kemudian menjadi persekutuan pabean (customs union), pasar bersama (common market), persekutuan ekonomi (economic union), dan pada akhirnya akan menjurus pada integrasi ekonomi secara menyeluruh (total economic integration). Secara teoritis, tahapan integrasi Balassa menunjukkan bahwa semakin tinggi tahapan integrasi ekonomi, semakin kompleks persyaratan kebijakan yang diperlukan (Tabel 2.1). Tahapan integrasi ini digunakan secara luas dan sampai saat ini masih tetap 8
Universitas Indonesia

menjadi alat dasar dalam studi mengenai integrasi, terutama untuk keperluan analisis mengenai tambahan kebijakan yang diperlukan dalam setiap tahapan integrasi apabila suatu kelompok negara ingin mencapai tahapan integrasi yang lebih tinggi. Tabel 2.1 Tahapan integrasi ekonomi Balassa Tahapan Preferential Trading Area (PTA) Keterangan Blok perdagangan yang memberikan keistimewaan untuk produk-produk melakukan tertentu dari negara tarif tertentu namun dengan tidak

pengurangan

menghilangkannya sama sekali. Free Trade Area (FTA) Suatu kawasan di mana tarif dan kuota antara negara anggota dihapuskan, namun masing-masing negara tetap menerapkan tarif mereka masing-masing terhadap negara bukan anggota. Customs Union (CU) FTA yang meniadakan hambatan pergerakan komoditi antar negara anggota dan menerapkan tarif yang sama terhadap negara bukan anggota. Common Market (CM) CU yang juga meniadakan hambatan-hambatan pada pergerakan faktor-faktor produksi (barang, jasa, aliran modal). Kesamaan harga dari faktor-faktor produksi

diharapkan dapat menghasilkan alokasi sumber yang efisien. Economic Union CM dengan tingkat harmonisasi kebijakan ekonomi nasional yang signifikan (termasuk kebijakan struktural). Total Economic Integration Penyatuan moneter, fiskal, dan kebijakan sosial yang diikuti dengan pembentukan lembaga supranasional dengan

keputusan-keputusan yang mengikat bagi seluruh negara anggota.


Sumber: Arifin, Djaafara, & Budiman, 2008

Berdasarkan tahapan integrasi di atas, dapat dikatakan bahwa proses menuju integrasi keuangan dan moneter diawali dengan integrasi sektor riil terlebih dahulu. Hal ini sejalan dengan definisi integrasi keuangan menurut Baele et al

Universitas Indonesia

10

(2004), yaitu pada pasar keuangan yang telah terintegrasi secara penuh, masingmasing negara dalam kawasan tersebut telah menghadapi kebijakan dan atau ketentuan yang sama dalam pasar keuangan. Selain itu, investor dan penerbit aset keuangan mempunyai akses yang sama terhadap pasar keuangan dan diperlakukan secara sama ketika beroperasi di pasar keuangan. Dalam makalahnya, Baele et al mengemukakan manfaat dari integrasi keuangan, antara lain: 1. Sharing risiko Integrasi keuangan akan memperluas alternatif investasi atau meningkatkan kuantitas instrumen keuangan dan kepemilikan aset antar negara sehingga mampu memperluas kemungkinan untuk melakukan diversifikasi portfolio bagi risiko yang bersifat unsystemic. 2. Meningkatkan alokasi modal Hilangnya hambatan-hambatan perdagangan aset keuangan akan

meningkatkan alokasi modal oleh investor. Keyakinan investor juga akan semakin meningkat karena memiliki kesempatan untuk menanamkan modalnya di berbagai negara yang dianggap menguntungkan. 3. Mendorong pertumbuhan ekonomi Salah satu jalur utama bagi pertumbuhan ekonomi adalah melalui adanya peningkatan perkembangan sektor keuangan. Selain beberapa manfaat di atas, beberapa potensi kerugian juga mungkin timbul. Dari sudut pandang teori, pengembangan instrumen keuangan pada saat pasar kurang sempurna hanya akan memberikan manfaat apabila instrumen keuangan tersebut dilengkapi dengan fasilitas hedging untuk melengkapi pasar. Integrasi keuangan juga memungkinkan terkonsentrasinya lalu lintas modal pada negara tertentu yang dianggap memberikan potensi keuntungan lebih menarik. Hal ini mungkin saja terjadi karena secara alamiah investor akan mencari lokasi yang memberikan potensi keuntungan optimum relatif terhadap risiko yang dihadapi. Meskipun kebijakan dan peraturan dalam hal moneter antar negara di dalam suatu kawasan sudah terintegrasi, perbedaan stabilitas politik dan iklim investasi yang melekat pada suatu negara akan menjadi pertimbangan bagi pemilihan lokasi investasi.

Universitas Indonesia

11

2.2

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community

(AEC) pada dasarnya adalah perluasan dari integrasi ekonomi regional yang telah dimulai pada saat pembentukan ASEAN Free Trade Area (AFTA) tahun 1992. MEA merupakan salah satu pilar Visi ASEAN 2020 bersama-sama dengan ASEAN Security Community (ASC) dan ASEAN Sosio-Cultural Community (ASCC) yang dirumuskan pada ASEAN Summit tahun 1997 di Kuala Lumpur. Visi ASEAN 2020 merupakan arahan bagi masa depan ASEAN dalam menghadapi abad ke-21 untuk mewujudkan suatu kawasan yang stabil, makmur, berdaya saing tinggi, dengan pertumbuhan ekonomi yang berimbang serta berkurangnya kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi. Hal ini menegaskan komitmen ASEAN untuk mewujudkan integrasi ekonomi yang lebih erat antar negara anggota. Konsep MEA mulai digunakan dalam Declaration of ASEAN Concord II (Bali Concord II) di Bali, Oktober 2003. Dalam deklarasi tersebut dikemukakan bahwa MEA merupakan tujuan akhir dari kerja sama di bidang ekonomi dan keuangan ASEAN. Komunitas ekonomi ASEAN ini akan berfungsi sebagai suatu pasar tunggal dan basis produksi pada tahun 2020. Artinya, MEA akan menciptakan arus bebas modal dan tenaga kerja serta memberikan kesempatan bagi setiap usaha di kawasan ASEAN agar dapat berkembang dan berdaya saing secara global. MEA yang menurut rencana diimplementasikan pada tahun 2020, telah disepakati untuk dipercepat pembentukannya pada tahun 2015. Hal ini disampaikan pada ASEAN Summit bulan Januari 2007. Percepatan ini dilakukan dengan maksud mengurangi risiko berpindahnya arus modal asing di tengah meningkatnya persaingan ekonomi regional seiring dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi China dan India. Di samping itu, percepatan pembentukan kelompok ekonomi ASEAN juga bertujuan untuk mendorong ekonomi negara-negara ASEAN agar lebih efisien dan tumbuh lebih cepat (Arifin, Winantyo, & Kurniati, 2007). Percepatan pencapaian visi ini tentu memerlukan proses penyesuaian kerja sama di berbagai sektor.

Universitas Indonesia

12

Pada ASEAN Summit November 2007, draft cetak biru MEA akhirnya disetujui dan ditandatangani oleh semua Kepala Negara ASEAN. Sejak itu, serangkaian kemajuan signifikan telah dicapai. Dimulai pada 1 Januari 2010 lalu, 99,5% pos tarif perdagangan dari inclusion list ASEAN di bawah Common Effective Preferential Tariffs for ASEAN Free Trade Area (CEPT-AFTA) telah dikenai bea masuk sebesar 0-5%. Perdagangan antar negara ASEAN juga meningkat hampir tiga kali lipat menjadi US$ 458,1 milyar yang dicapai pada tahun 2008 dibandingkan dengan tahun 2000 saat 10 negara ASEAN bergabung ke dalam CEPT-AFTA. Proses kemajuan dalam penghapusan hambatan non-tarif untuk perdagangan ini semakin menambah komitmen ASEAN untuk

memfasilitasi arus perdagangan bebas di ASEAN (http://www.aseansec.org). 2.3 Teori Optimum Currency Areas (OCA) Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kerja sama bidang moneter merupakan tahapan terakhir dari tahapan integrasi keuangan menurut Balassa. Lebih mendalam lagi, integrasi keuangan memungkinkan suatu kawasan untuk melakukan integrasi kebijakan moneter dan membentuk mata uang tunggal. Bentuk integrasi moneter yang paling dasar adalah monetary union, yaitu negara-negara yang tergabung dalam kerja sama tersebut secara bersama menetapkan sistem nilai tukar tetap (mata uang masing-masing negara anggota dipeg terhadap suatu mata uang jangkar). Sementara bentuk integrasi moneter yang paling maju adalah currency union, yang didefinisikan sebagai sebuah kawasan dengan mata uang tunggal yang memiliki otoritas moneter bersama berupa bank sentral di kawasan tersebut (Ngian & H Yuen, 2002 dalam Arifin, Winantyo, & Kurniati, 2007). Teori integrasi moneter yang paling berpengaruh hingga saat ini adalah teori tentang Optimum Currency Areas (OCA). Teori OCA memfokuskan perhatian pada beberapa kriteria yang harus dipenuhi sebelum negara-negara dalam suatu kawasan bergabung membentuk suatu monetary union. Tiga kriteria ekonomi klasik yang paling terkenal dikemukakan oleh Mundell (1961), McKinnon (1963), dan Kenen (1969). Mundell menyebutkan prasyarat yang harus terpenuhi sebelum suatu kawasan membentuk mata uang tunggal, yaitu adanya fleksibilitas pergerakan
Universitas Indonesia

13

faktor produksi dan reaksi yang simetris atas terjadinya suatu shock. Daerah (atau negara) dengan tingkat faktor mobilitas yang tinggi lebih berpeluang membentuk OCA atau area mata uang yang optimal dibandingkan daerah-daerah dengan tingkat faktor mobilitas yang rendah. Tingkat faktor mobilitas yang tinggi ini bertindak sebagai pengganti fleksibilitas nilai tukar. Potensi masalah dalam kriteria Mundell yaitu mobilitas ketenagakerjaan mudah dalam batas-batas nasional (budaya, bahasa, hukum, kesejahteraan, dll) tapi tidak mudah melintasi perbatasan nasional (national borders). Mobilitas modal biasanya tinggi untuk modal dalam bentuk aset keuangan tetapi rendah untuk modal fisik (alat produksi, tanaman, peralatan). Oleh karena itu, spesialisasi dan keterampilan suatu negara juga menjadi faktor pendukung. McKinnon menyatakan bahwa sebuah OCA dibentuk dari negara-negara yang mempunyai keterbukaan dan volume perdagangan intra kawasan yang tinggi. Harga relatif antara barang domestik dan asing harus diukur dalam mata uang yang sama. Terdapat perbedaan antara barang-barang yang dapat diperdagangkan (traded goods) dengan barang-barang yang tidak dapat diperdagangkan diperdagangkan (non-traded berlaku di goods). seluruh Harga barang-barang semua yang barang dapat dapat

dunia. Jika

diperdagangkan, maka harga barang dalam negeri harus fleksibel dan nilai tukar tidak mempengaruhi daya saing. Hal ini yang mengindikasikan adanya keterbukaan di dalam suatu negara. Adanya tingkat integrasi pasar barang yang tinggi dan struktur produksi yang sama dapat mengurangi guncangan simetris yang membutuhkan penyesuaian nilai tukar. Kenen mengemukakan bahwa negara-negara dengan produksi dan ekspor yang terdiversifikasi dan memiliki struktur serupa merupakan OCA yang optimal. Argumen ini didasarkan pada diskusi tentang guncangan asimetris. Negara-negara dengan produksi yang sangat beragam dan dengan struktur serupa memiliki efek guncangan yang simetris (misalnya suatu goncangan terhadap suatu industri tertentu memiliki efek yang serupa di negara-negara dengan struktur serupa). Dalam hal ini, hanya ada sedikit guncangan asimetris yang cenderung menjadi perhatian kecil. Negara dengan ekonomi yang sangat terdiversifikasi merupakan kandidat yang lebih baik untuk bergabung dalam monetary union daripada negara

Universitas Indonesia

14

yang ekonominya kurang terdiversifikasi karena diversifikasi dapat meredam guncangan. Arifin, Winantyo, & Kurniati (2007) merangkum literatur-literatur lain yang terkait dengan OCA dan menggolongkan empat kriteria utama untuk membentuk monetary union, antara lain: 1. Saling ketergantungan (interdependensi) di bidang perdagangan Negara-negara yang terintegrasi cukup tinggi di bidang perdagangan internasional akan mendapatkan manfaat yang relatif besar apabila berada dalam payung OCA, mengingat adanya keseragaman nilai mata uang akan menghemat biaya transaksi dan mengurangi risiko yang berkaitan dengan penggunaan mata uang yang berbeda. 2. Symmetry of shocks Negara-negara dengan siklus bisnis yang simetris mempunyai peluang lebih besar untuk menjadi anggota OCA. Hal ini sejalan dengan kriteria OCA menurut Mundell dan Kenen. 3. Mobilitas faktor produksi Apabila mobilitas tenaga kerja dan modal memungkinkan, maka shock di dalam negeri dapat diredam tanpa menimbulkan biaya penyesuaian yang tinggi. Oleh karena itu, negara-negara yang berkeinginan untuk bergabung dalam suatu monetary union harus membebaskan arus lalu lintas faktor produksi antar negara dalam kawasan yang dimaksud. Berlawanan dengan hal tersebut, McKinnon (1963) menyebutkan bahwa adanya kawasan bermata uang tunggal dapat mempengaruhi mobilitas faktor produksi. Dengan demikian, mobilitas faktor produksi dapat dianggap sebagai ex post facto dalam pemenuhan kriteria pembentukan mata uang tunggal. 4. Konvergensi kebijakan makroekonomi Apabila negara-negara dalam suatu kawasan mempunyai sasaran kebijakan yang berbeda, maka kepentingan mereka pun boleh jadi berseberangan satu sama lain dalam menghadapi external shock yang sama. Dengan demikian, sistem koordinasi untuk stabilitas nilai tukar dapat dengan mudah goyah. Dari keempat kriteria di atas, kriteria respons asimetrik terhadap gejolak eksternal merupakan kajian utama dari berbagai studi empiris mengenai OCA.

Universitas Indonesia

15

Analisis terutama ditujukan untuk mengetahui apakah negara-negara yang akan membentuk monetary union mempunyai reaksi shock yang simetris. 2.4 Teori Purchasing Power Parity (PPP) Integrasi keuangan sangat terkait dengan prinsip the law of one price yang merupakan definisi lain dari integrasi keuangan. Prinsip ini mengatakan bahwa apabila suatu pasar keuangan dalam kawasan telah efisien dan suatu aset keuangan mempunyai risiko dan tingkat pengembalian (return) yang identik, maka aset keuangan tersebut harus mempunyai harga yang sama, terlepas dari tempat transaksi aset keuangan tersebut dilangsungkan. Teori yang mengaplikasikan konsep the law of one price adalah teori Purchasing Power Parity (PPP). Teori PPP atau teori paritas daya beli atau keseimbangan/kesamaan daya beli diperkenalkan oleh Gustav Cassel. Konsep dasar yang melandasi teori PPP adalah dorongan arbitrase akan mengarahkan kepada persamaan harga barang diukur dalam mata uang yang sama. Bentuk Purchasing Power Parity ada dua, yaitu Purchasing Power Parity Absolut dan Purchasing Power Parity Relatif. 1. Purchasing Power Parity (PPP) Absolut PPP absolut didasarkan pada law of one price, yaitu hukum yang menyatakan bahwa harga produk yang sejenis di dua negara yang berbeda akan sama pula bila dinilai dalam mata uang yang sama. Dengan kata lain, nilai tukar antara dua mata uang sama dengan perbandingan (ratio) antara dua tingkat harga umum kedua negara tersebut. PPP absolut dirumuskan sebagai berikut:

(2.1) adalah nilai tukar nominal dalam negeri yang didefinisikan sebagai satuan mata uang dalam negeri per satuan mata uang luar negeri. dalam negeri. Sedangkan adalah tingkat harga

adalah tingkat harga luar negeri. Persamaan di atas

menjelaskan hubungan antara nilai tukar dan tingkat harga domestik. Implikasinya adalah dengan tingkat harga dalam negeri yang lebih tinggi dibandingkan tingkat

Universitas Indonesia

16

harga luar negeri, maka nilai tukar dalam negeri juga harus lebih tinggi (depresiasi) untuk tetap menjaga PPP. Persamaan di atas juga menjelaskan bahwa nilai tukar dapat mempengaruhi keseimbangan pasar uang melalui hubungannya ke harga domestik dan harga luar negeri. Secara implisit pendekatan PPP absolut ini mempunyai asumsi bahwa: Semua barang dan jasa dapat diperdagangkan secara internasional dengan tidak terdapat biaya dan halangan-halangan dalam perdagangan tersebut. Tidak terdapat perubahan-perubahan yang bersifat struktural (seperti perang atau kerusuhan) di setiap negara. Teori PPP absolut ini tidak memperhitungkan biaya transportasi, tarif, dan kuota sehingga menjadi tidak tepat dalam menentukan nilai tukar karena tidak semua jenis barang dan jasa dapat diperdagangkan secara internasional. Perdagangan antar negara dapat menyeimbangkan harga barang dan jasa yang dapat diperdagangkan, tetapi tidak untuk barang dan jasa yang tidak dapat diperdagangkan secara internasional. Jika PPP absolut ini dihitung dengan menggunakan tingkat harga secara umum, maka teori ini menjadi tidak berlaku. Oleh karena itu muncul konsep baru yaitu PPP relatif. 2. Purchasing Power Parity (PPP) Relatif Teori PPP relatif menyatakan bahwa harga suatu produk yang sama akan tetap berbeda karena ketidaksempurnaan pasar yang disebabkan oleh faktor biaya transportasi, tarif, dan kuota. Menurut teori ini, perubahan nilai tukar selama satu periode tertentu proporsional terhadap perubahan relatif tingkat harga di kedua negara dalam periode yang sama. Perubahan nilai tukar tersebut dapat dihitung sebagai berikut:

(2.2) Keterangan: = indeks harga domestik = tingkat inflasi domestik = indeks harga luar negeri

Universitas Indonesia

17

= tingkat inflasi luar negeri = persentase (%) perubahan nilai tukar Karena telah diasumsikan berdasarkan law of one price bahwa harga di kedua negara, yaitu harga domestik ( ) dan harga luar negeri ( ) adalah sama ( berikut: ) sehingga keduanya dapat dieliminasikan, atau dirumuskan sebagai

(2.3) Dari formula di atas, dikemukakan catatan penting yaitu: Jika , maka (positif), sehingga nilai tukar mata uang asing akan

apresiasi dan sebaliknya nilai tukar mata uang domestik depresiasi. Jika , maka (negatif), sehingga nilai tukar mata uang asing

akan depresiasi dan sebaliknya nilai tukar mata uang domestik apresiasi. Pendekatan PPP relatif juga mempunyai kelemahan. Rasio antara harga barang dan jasa non-traded terhadap harga barang dan jasa traded lebih tinggi di negara-negara maju daripada di negara-negara berkembang. Selama barang dan jasa traded dan non-traded termasuk di dalam indeks harga umum, dan hargaharga barang dan jasa non-traded tidak sama dalam perdagangan internasional tetapi lebih tinggi di negara maju, maka pendekatan PPP relatif akan cenderung memberikan hasil bahwa mata uang negara berkembang dinilai terlalu rendah (undervalued). Sampai saat ini masih menjadi perdebatan apakah PPP mampu menjelaskan pergerakan nilai tukar. Menurut teori PPP, nilai tukar riil yang didefinisikan sebagai rasio dari tingkat harga antara dua negara, harus sama untuk semua negara pada setiap waktu. Pendekatan PPP ini dinilai lebih cocok untuk menjelaskan penentuan nilai tukar dalam jangka pendek daripada dalam jangka panjang. Berdasarkan PPP menurut Mishra & Sharma (2010), nilai tukar riil antara dua negara dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut: (2.4)
Universitas Indonesia

18

dimana: = logaritma nilai tukar riil bilateral = logaritma nilai tukar nominal domestik terhadap base country = logaritma tingkat harga/CPI base country = logaritma tingkat harga/CPI domestik Hipotesis PPP mengasumsikan ekuilibrium nilai tukar jangka panjang konstan sepanjang waktu dan pergerakan level harga antara dua negara disesuaikan oleh pergerakan apresiasi atau depresiasi nilai tukar nominal. Nilai tukar riil pada persamaan di atas didefinisikan sebagai ukuran deviasi PPP. Perlu diperhatikan bahwa naiknya nilai tukar riil antara dua negara mengindikasikan terdepresiasinya nilai mata uang domestik. Stasioneritas nilai tukar riil adalah kondisi yang sangat penting untuk validitas PPP sehingga PPP akan berlangsung dalam jangka panjang. Nilai tukar riil yang non-stasioner menunjukkan bahwa guncangan terhadap nilai tukar riil permanen secara alamiah dan sebagai konsekuensinya PPP tidak berlaku. Uji PPP secara empiris memaksakan kondisi simetris yang mengimplikasikan nilai tukar riil stasioner. Akan tetapi, beberapa studi menyatakan bahwa nilai tukar riil tidak stasioner. Hal ini terjadi karena variabel-variabel fundamental makroekonomi yang mempengaruhi nilai tukar riil seperti terms of trade, pendapatan dan belanja negara, money supply, dan yang lainnya biasanya non-stasioner. 2.5 Teori Generalized Purchasing Power Parity (G-PPP) Salah satu penjelasan teoritik yang penting dalam menjelaskan perilaku nilai tukar riil adalah teori Generalized Purchasing Power Parity (G-PPP) yang dikemukakan pertama kali oleh Enders dan Hurn pada tahun 1994. Walaupun nilai tukar bilateral secara umum biasanya non-stasioner, hipotesis G-PPP menyatakan bahwa negara-negara dapat memperlihatkan common trend jika faktor-faktor fundamental dalam ekonomi di antara negara-negara tersebut saling berhubungan. G-PPP pun menyebutkan bahwa nilai tukar riil bilateral harus terkointegrasi. Analisis G-PPP penting karena metode ini dapat menghubungkan variabel makroekonomi, nilai tukar riil, dan konsep PPP. Secara empiris, teori ini melihat

Universitas Indonesia

19

bagaimana nilai tukar riil bilateral di antara negara-negara didasarkan pada sebuah mata uang yang dijadikan sebagai peg dapat memperlihatkan common trend yang ditunjukkan oleh hubungan kointegrasi di antara negara-negara yang

bersangkutan. Apabila di antara negara-negara tersebut dapat memperlihatkan common trend maka mereka dapat membentuk sebuah optimum currency area (OCA). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mishra & Sharma (2010), teori G-PPP dirumuskan sebagai berikut: (2.5) dimana adalah logaritma nilai tukar riil bilateral antara negara 1 dan negara dan masing-masing adalah parameter vektor

pada periode , sedangkan

kointegrasi dan error term yang stasioner. Persamaan di atas mencerminkan hubungan PPP absolut jika semua sama dengan nol. Di dalam pengujian,

harus ada setidaknya satu kombinasi linear yang stasioner dari berbagai nilai tukar riil bilateral non-stasioner untuk membuktikan potensi terbentuknya area mata uang (currency area). 2.6 Penelitian-penelitian Sebelumnya Kriteria untuk menilai apakah suatu zona mata uang bersama menghasilkan lebih banyak manfaat atau tidak dapat dilihat berdasarkan faktor mobilitas (Mundell, 1961), integrasi perdagangan (McKinnon, 1963), serta persamaan dalam struktur ekonomi nasional dan dalam respon terhadap common shock. Masalah persamaan struktur ekonomi dan respon terhadap guncangan ini dapat diuji melalui tiga pendekatan. Pendekatan pertama adalah menggunakan Structural Vector Auto-Regression (S-VAR) untuk mengidentifikasi simetri dari guncangan ekonomi makro di antara sekelompok negara. Kedua adalah Generalized Purchasing Power Parity (G-PPP), yaitu pendekatan untuk mengidentifikasi adanya common trend dalam fundamental ekonomi di antara sekelompok negara. Terakhir adalah pendekatan analisis kluster terhadap kelompok negara-negara target dengan menyelidiki homogenitas beberapa elemen

Universitas Indonesia

20

ekonomi.

Berikut

beberapa

penelitian

representatif

dari

masing-masing

pendekatan yang difokuskan pada kawasan Asia. Huang & Guo (2006) secara empiris meneliti kelayakan pembentukan currency union di Asia Timur. Menggunakan model S-VAR, studi yang dilakukan mengidentifikasi berbagai jenis guncangan di sembilan negara Asia Timur dengan sembilan negara European Monetary Union (EMU) sebagai tolok ukurnya. Analisis gangguan struktural menunjukkan bahwa kemungkinan akan

menguntungkan apabila Hong Kong, Indonesia, Korea, Malaysia, Singapura, dan Thailand memimpin dalam mendukung dan mendorong zona mata uang bersama. Sementara itu, kajian mengenai pembentukan OCA melalui pendekatan Generalized Purchasing Power Parity (G-PPP) dilakukan oleh Mishra & Sharma (2010). Studi potensi pembentukan OCA dilakukan terhadap kelompok negaranegara di wilayah Asia bagian timur yaitu Indonesia, India, Korea, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Srilanka untuk periode sebelum dan sesudah krisis Asia tahun 1997-1998. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tukar riil bilateral negara-negara Asia memiliki common stochastic trend dan karenanya memenuhi kriteria standar minimum untuk membentuk currency union yang diperlukan oleh teori OCA. Kointegrasi nilai tukar riil ditemukan pada periode pasca-krisis yang merupakan bukti yang mendukung untuk G-PPP di wilayah Asia bagian timur. Melihat adanya fenomena dominasi ekonomi di kawasan Asia Timur, Quah & Crowley (2010) mencoba mengkaji evolusi konvergensi di antara negaranegara Asia Timur menurut teori OCA menggunakan analisis kluster hirarkis. Analisis kluster ini dilakukan untuk periode sebelum dan setelah krisis Asia tahun 1997-1998. Hasilnya, terdapat peningkatan yang signifikan dalam derajat simetri regional setelah krisis Asia. Penelitian ini mencoba untuk mengembangkan hasil penelitian yang sudah ada dengan mengambil beberapa poin. Pertama, studi ini meneliti kemungkinan terbentuknya blok mata uang di kawasan ASEAN. Sebagian besar penelitian sebelumnya lebih banyak memfokuskan ke wilayah Asia Timur, termasuk ASEAN didalamnya padahal ASEAN sebagai suatu lembaga regional memiliki potensi untuk menjadi kekuatan ekonomi yang besar. Kedua, sebagian besar

Universitas Indonesia

21

penelitian sebelumnya memasukkan periode sebelum krisis dalam pengujiannya. Namun, sebagian besar penelitian juga menyatakan bahwa kointegrasi yang signifikan ditemukan pada masa setelah krisis. Sebagai contoh, Choudhry (2005) menyimpulkan bahwa bukti-bukti yang mendukung suatu OCA hanya dalam periode pasca-krisis. Oleh karena itu, pada penelitian ini estimasi yang dilakukan berfokus pada periode setelah krisis mata uang Asia 1997-1998. Ketiga, untuk teknik estimasi dengan G-PPP, digunakan prosedur dua langkah, yaitu uji kointegrasi nilai tukar riil bilateral di antara semua negara sampel kemudian uji kointegrasi multilateral untuk kelompok negara yang secara bilateral

terkointegrasi.

Universitas Indonesia

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Spesifikasi Model Sebelum dilakukan estimasi, nilai tukar riil dalam bentuk logaritma dihitung

terlebih dahulu menggunakan rumus: (3.1) log negara merupakan logaritma nilai tukar riil antara base country dengan pada tahun . merupakan nilai tukar riil nominal dalam bentuk per satuan mata uang base country pada tahun . adalah tingkat

satuan mata uang negara Sedangkan

adalah tingkat harga pada base country dan

harga pada negara . Nilai tukar riil mengindikasikan berapa banyak barang dan jasa yang dapat dibeli di negara untuk satu satuan barang dan jasa di base country. Pada kasus

tertentu, apabila nilai tukar riil sama dengan satu, PPP absolut berlaku. Hal ini menunjukkan bahwa mata uang antar dua negara memiliki daya beli yang sama. Hubungan kointegrasi bilateral di antara dua negara anggota ASEAN ditunjukkan oleh persamaan berikut: (3.2) Salah satu indikasi adanya co-movement nilai tukar riil dapat dilihat berdasarkan koefisien korelasi ( ). Apabila dan signifikan, maka nilai tukar riil di

antara dua negara bergerak secara bersamaan. Lebih lanjut, jika residual dari persamaan di atas stasioner, dapat disimpulkan bahwa co-movement nilai tukar riil kedua berlangsung dalam jangka panjang. Untuk menganalis adanya vektor kointegrasi antara nilai tukar riil negaranegara ASEAN, digunakan persamaan sebagai berikut:

(3.3) 22
Universitas Indonesia

23

dimana

adalah konstanta,

adalah estimasi parameter vektor kointegrasi, dan

adalah error term dengan mean nol. Vektor kointegrasi multilateral kemudian dihitung dengan menggunakan trace test dan maximum eigenvalue test. Dari persamaan di atas, apabila G-PPP berlaku, nilai tukar riil antara negara dan base country dapat dinyatakan sebagai rata-rata tertimbang nilai tukar riil negara lainnya di dalam currency area. Nilai rata-rata tertimbang ini tidak hanya mencerminkan hubungan perdagangan antar negara saja, tetapi juga hubungan yang lebih luas seperti transfer teknologi, imigrasi, dan pergerakan sumber keuangan. Untuk kasus khusus jika semua sama dengan nol, persamaan di atas

menjadi hubungan PPP biasa antara harga dalam negeri, harga luar negeri, dan nilai tukar (Choudhry, 2005). Pada tahap paling akhir, beberapa penyesuaian harus dilakukan supaya OCA lebih potensial. Untuk itu dilakukan analisis ECM untuk mengetahui speed of adjustment menuju ekuilibrium jangka panjang dari masing-masing negara dengan persamaan sebagai berikut:

(3.4) Keterangan: = vektor kointegrasi (elastisitas jangka panjang) = kecepatan menuju keseimbangan (speed of adjustment) 3.2 Variabel Data Nilai tukar riil di dalam analisis dihitung menggunakan Amerika Serikat sebagai base country. Pilihan base country tersebut memiliki alasan bahwa AS memiliki pengaruh keuangan dan hubungan perdagangan yang besar dengan negara-negara ASEAN sehingga terdapat hubungan erat antara nilai tukar nominal negara-negara ASEAN dengan Dollar AS. Nilai tukar riil bilateral dengan AS dalam bentuk logaritma didefinisikan menjadi logaritma indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) dalam negeri ditambah logaritma dari nilai tukar nominal domestik terhadap Dollar AS dikurangi dengan logaritma dari CPI AS. Semua variabel time series disesuaikan dan dinyatakan dalam logaritma sebelum
Universitas Indonesia

24

dilakukan uji secara ekonometrik. Data tingkat harga berupa indeks harga konsumen (CPI) berasal dari International Financial Statistics (IFS) yang disediakan oleh International Monetary Fund (IMF). Sedangkan data nilai tukar nominal bersumber dari Forex Trading & Exchange Rates Services oleh situs http://www.oanda.com. Soo dan Choong (2009) dalam Mishra & Sharma (2010) menemukan bahwa sebagian besar pasar negara Asia masih sangat tersegmentasi selama periode sebelum krisis, yaitu sebelum Juli 1997. Oleh karena itu, periode sampel pasca krisis mata uang Asia tahun 1997-1998 diasumsikan dimulai dari periode Juli 1999 sampai periode sekarang (Juni 2010) menurut ketersediaan data. Negaranegara sampel di dalam penelitian ini yaitu 10 negara-negara anggota ASEAN, antara lain Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Myanmar, Kamboja, dan Laos. Karena kurangnya ketersediaan data CPI pada periode yang diperlukan untuk estimasi, maka periode data untuk Brunei Darussalam dimulai dari Januari 2000-Juni 2010. 3.3 Pengujian Pra-estimasi Sebelum dilakukan uji kointegrasi, baik kointegrasi bivariat maupun multivariat, seluruh variabel data yang dipakai dalam penelitian ini harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Untuk itu, terlebih dahulu dilakukan uji derajat integrasi dan pemilihan lag optimum. 3.3.1 Uji Derajat Integrasi Penggunaan data time series memiliki suatu permasalahan tersendiri yang timbul dari sifat data yang non-stasioner. Stasioneritas sangat diperlukan dalam analisis time series agar tidak terjadi spurious pada metode estimasi yang digunakan. Namun, bukan berarti bahwa regresi antara variabel yang non stasioner selalu tidak valid. Enders (1995) menyatakan bahwa regresi variabelvariabel yang non stasioner dapat memiliki makna (non spurious) selama residual dari regresi tersebut stasioner. Kondisi tersebut memiliki arti bahwa di antara variabel-variabel tersebut terdapat kointegrasi. Pengujian derajat integrasi adalah suatu tahap yang penting untuk menguji adanya hubungan antar variabel dengan menggunakan data time series. Uji derajat integrasi dari masing-masing variabel bertujuan untuk memastikan bahwa
Universitas Indonesia

25

variabel-variabel dalam analisis tidak memiliki order integrasi yang berbeda atau semua variabel stasioner pada order yang sama. Stasioneritas dapat dilihat dengan menggunakan uji formal yang dikenal dengan sebutan Uji Unit Root. Misalkan terdapat persamaan sebagai berikut: (3.5) dimana adalah koefisien autoregresif dan adalah white noise term dengan , maka memiliki

varians konstan dan mean sama dengan nol. Jika nilai

sebuah akar unit atau data tidak stasioner. Dalam ekonometrika, maka model tersebut menjadi random walk tanpa tren. Apabila dinyatakan dalam bentuk hipotesis menjadi: Data mengandung akar unit (non stasioner) Data tidak mengandung akar unit (stasioner) Jika data dari suatu series sudah stasioner, maka data tersebut berintegrasi pada order nol atau dilambangkan dengan I(0). Sebaliknya, bila data non stasioner, maka data harus dibuat turunannya sehingga diperoleh data yang stasioner pada order d atau dilambangkan dengan I(d). Model di atas apabila dinyatakan dalam bentuk turunan pertama (first difference) adalah sebagai berikut: (3.6) ; Sehingga hipotesis yang diuji mempunyai bentuk: Data mengandung akar unit (non stasioner) Data tidak mengandung akar unit (stasioner) Uji akar unit dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik, tergantung pada karakteristik data dan kekuatan yang diinginkan. Teknik yang sangat populer yaitu menggunakan uji Augmented Dickey-Fuller (ADF) dan Phillips-Perron (PP). Pada prinsipnya, kedua teknik tersebut merupakan pengujian terhadap persamaan berikut: (3.8) (3.7)

Universitas Indonesia

26

atau dapat ditulis dengan:

(3.9) dimana adalah panjangnya lag yang digunakan. Model tersebut merupakan dan tren . Selain model di atas, masih terdapat dua

model dengan intercept

model lain yang dapat digunakan untuk melakukan uji akar unit, yaitu: a. Model dengan intercept ( ) saja, yaitu:

(3.10) b. Model tanpa intercept dan tren (slope), yaitu:

(3.11) Jika series maka . Artinya, data memiliki akar unit di mana data time dibandingkan dengan

tidak stasioner. Uji signifikansi koefisien regresi

nilai kritis tabel Mc Kinnon. Jika probabilitas nilai akar unit kurang dari level signifikansi () sebesar 5%, maka data time series telah stasioner. 3.3.2 Lag Optimum Analisis time series sangat sensitif terhadap panjang lag yang digunakan dalam model. Pemilihan lag yang optimal dilakukan untuk memastikan bahwa residual model ECM terdistribusi normal (Haris, 1995 dalam Ariefianto, 2006). Penentuan lag optimum dapat diidentifikasi melalui informasi kriteria, diantaranya adalah Akaike Info Criterion (AIC), Schwarz Information Criterion (SIC), dan Hannan-Quinn Criterion (HQ). Nilai informasi kriteria masing-masing dapat dirumuskan sebagai berikut:
Universitas Indonesia

ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa

27

(3.12) (3.13) (3.14) Keterangan: = jumlah observasi = jumlah parameter yang diestimasi = nilai dari fungsi log likelihood untuk penggunaan parameter

Besarnya lag yang optimal ditentukan oleh lag yang memiliki nilai informasi kriteria yang terkecil. 3.4 Pendekatan Estimasi Setelah dua asumsi yang telah dijelaskan sebelumnya sudah terpenuhi, langkah selanjutnya adalah melakukan estimasi hubungan kointegrasi. Penelitian ini mengambil prosedur dua langkah untuk memeriksa adanya hubungan kointegrasi antara nilai tukar riil di negara-negara ASEAN dalam kerangka pendekatan G-PPP, yaitu: verifikasi kointegrasi bilateral dan kointegrasi multilateral. Ketika memeriksa area mata uang yang optimal, penelitian ini bukan hanya menilai hubungan kointegrasi secara kelompok, yaitu ASEAN saja, tetapi juga mengamati hubungan bilateral di negara-negara ASEAN secara keseluruhan. Itulah sebabnya pertama-tama dilakukan uji kointegrasi bilateral semua kombinasi nilai tukar riil di antara semua negara sampel. Berdasarkan pengamatan pada langkah pertama, kemudian dilakukan uji kointegrasi multilateral untuk kelompok ASEAN yang mencakup setidaknya satu pasangan negara teridentifikasi memiliki kointegrasi bilateral dalam pengamatan. 3.4.1 Uji Kausalitas Granger Uji kausalitas ditemukan pertama kali oleh Granger pada tahun 1969. Dalam uji kausalitas ini, penentuan lag optimum harus tepat. Menurut Granger, hubungan kausalitas adalah hubungan jangka pendek antara kelompok tertentu dengan menggunakan pendekatan ekonometrik yang mencakup hubungan timbal balik. Uji ini pada intinya dapat mengindikasikan apakah suatu variabel mempunyai hubungan dua arah atau hanya satu arah saja (Nachrowi & Usman, 2006). Uji
Universitas Indonesia

28

kausalitas Granger bertujuan untuk melihat pengaruh kondisi masa lalu terhadap kondisi sekarang. Dengan uji ini, akan diketahui variabel mana di dalam sampel yang lebih endogen dan eksogen. Bentuk umum model kausalitas Granger adalah sebagai berikut:

atau

(3.15)

atau

(3.16) Bentuk matriks persamaan di atas adalah:

(3.17) Dalam persamaan (3.17), dan adalah variabel pengganggu dan

diasumsikan tidak berkorelasi. Statistik uji yang digunakan pada uji kausalitas Granger adalah statistik uji F, dengan rumus:

(3.18) Keterangan:

Universitas Indonesia

29

= jumlah observasi = jumlah parameter model terbatas = jumlah parameter model penuh = residual model terbatas = residual model penuh Restricted residual sum of square ( dari model terbatas. Misalnya variabel ) adalah jumlah kuadrat residual

adalah variabel tidak bebas, maka model dengan semua nilai lag

yang terbatas diperoleh dengan meregresikan variabel tanpa memasukkan lag adalah sebagai berikut:

sebagai variabel bebasnya. Bentuk model terbatas

(3.19) Unrestricted residual sum of square ( dari model penuh. Misalnya variabel ) adalah jumlah kuadrat residual

adalah variabel tidak bebas, maka model dengan semua nilai lag dan

penuh diperoleh dengan meregresikan variabel nilai lag berikut:

sebagai variabel bebasnya. Bentuk model penuh adalah sebagai

(3.20) Hipotesis pada uji kausalitas Granger adalah: ( tidak menyebabkan ) ( menyebabkan ) ( tidak menyebabkan )
Universitas Indonesia

30

( menyebabkan ) Dari uji kausalitas, dapat diketahui variabel mana yang memiliki hubungan kausalitas dan variabel mana yang terjadi sebelum variabel lainnya. Beberapa kemungkinan yang dapat dihasilkan dari uji kausalitas Granger, yaitu (Gujarati, 2003): mempengaruhi atau unidirectional causality from yang pertama ditolak dan to ( ), dapat

diidentifikasikan jika ditolak. mempengaruhi

yang kedua tidak

atau unidirectional causality from

to

), dapat yang kedua

diidentifikasikan jika ditolak. dan

yang pertama tidak ditolak dan

saling mempengaruhi atau bilateral causality ( ), jika

yang

pertama dan kedua ditolak. dan tidak saling mempengaruhi atau independent ( // ), jika yang

pertama dan kedua tidak ditolak. 3.4.2 Uji Kointegrasi Engle-Granger Istilah kointegrasi pertama kali dikenalkan oleh Granger di tahun 1981. Ide dasar konsep ini adalah jika hubungan antar variabel seperti yang dipreposisikan oleh teori itu berlaku, maka terdapat hubungan yang bersifat ekuilibrium antar variabel tersebut. Hubungan ekuilibrium ini mensyaratkan kombinasi linear yang stasioner, yang dapat dilihat melalui residual persamaan (Engle & Granger, 1987). Engle dan Granger (1987) menerapkan metode estimasi dua tahapan untuk menguji adanya hubungan kointegrasi bivariat. Model yang digunakan adalah sebagai berikut:

(3.21) Hipotesis yang diajukan yaitu: (tidak ada kointegrasi) (ada kointegrasi)
Universitas Indonesia

31

Uji kointegrasi Engle-Granger memerlukan dua tahap estimasi. Tahap pertama yaitu uji stasioner dari kedua variabel yang digunakan. Kedua variabel harus terintegrasi pada order yang sama atau memiliki satu akar unit karena uji kointegrasi adalah tes untuk keseimbangan antara time series yang non-stasioner. Tahap kedua adalah menguji apakah kedua variabel terkointegrasi menggunakan persamaan (3.21). Hal ini dapat dilakukan dengan cara terlebih dahulu meregresi satu variabel dengan variabel lain menggunakan OLS. Model regresi tersebut adalah sebagai berikut: ; (3.22) Nilai residual dari proses estimasi tersebut kemudian diuji menggunakan statistik uji ADF. Jika residual terms stasioner, maka dapat dikatakan bahwa kedua variabel memiliki keseimbangan jangka panjang atau kointegrasi jangka panjang. 3.4.3 Uji Kointegrasi Johansen Teknik kointegrasi oleh Engle-Granger mengasumsikan terlebih dahulu arah kausalitas dari persamaan kointegrasi. Tanpa asumsi tersebut, Johansen pada tahun 1988 melakukan teknik kointegrasi menggunakan dua tes yang berbeda untuk menentukan jumlah vektor kointegrasi, yaitu trace test dan maximum eigenvalue test. Secara sederhana, uji kointegrasi Johansen merupakan pengembangan multivariat dari pengujian akar unit Dickey-Fuller (Enders, 1995). Prosedur ini cocok untuk tahap kedua tes multilateral, karena memberikan hasil yang lebih kuat daripada metode kointegrasi lainnya, terutama ketika lebih dari dua variabel yang terlibat. Urutan lag optimal diperlukan pada uji kointegrasi dipilih menggunakan Kriteria Informasi Akaike. Dasar dari metode Johansen adalah metodologi Vector Autoregressive (VAR). Persamaan VAR variabel dengan lag 1 adalah sebagai berikut: (3.23)

Universitas Indonesia

32

dimana sementara

merupakan vektor ( dan

) variabel dependen pada lag 0 dan lag 1 ) dan

masing-masing adalah matriks parameter (

gangguan dengan vektor ( persamaan di atas dengan

). Dengan mengurangkan sisi kiri dan kanan , maka persamaan tersebut menjadi:

(3.24) dengan dan masing-masing adalah matriks identitas berukuran ( ) dan

jumlah vektor kointegrasi. Keberadaan kointegrasi di antara variabel tergantung pada rank matriks .

Terdapat tiga kondisi yang dapat diperoleh: 1. Jika rank matriks 2. Jika matriks terkointegrasi. 3. Jika rank matriks terkointegrasi. Pada prakteknya, prosedur ini hanya mengestimasi dan characteristic ( ) bernilai , maka terdapat sejumlah vektor sama dengan nol, maka tidak terdapat kointegrasi.

adalah full rank atau sama dengan , maka semua variabel

root. Pengujian terhadap derajat signifikansinya menggunakan statistik trace test dan maximum eigenvalue sebagai berikut:

(3.25) (3.26) Hipotesis yang diajukan antara lain: (tidak terdapat kointegrasi) Hipotesis alternatif ( ): (1 vektor terkointegrasi) (2 vektor terkointegrasi)

Universitas Indonesia

33

(3 vektor terkointegrasi) dst. 3.4.4 Error Correction Model (ECM) Apabila dua variabel tidak stasioner dan saling berkointegrasi, artinya ada hubungan jangka panjang atau keseimbangan antara kedua variabel tersebut. Dalam jangka pendek, ada kemungkinan kesalahan. terjadi ketidakseimbangan untuk mengoreksi (disekuilibrium) di antara variabel. Karena adanya ketidakseimbangan ini maka diperlukan adanya koreksi Teknik ketidakseimbangan jangka pendek menuju pada keseimbangan jangka panjang disebut dengan Error Correction Model (ECM). ECM diperkenalkan oleh Sargan, dikembangkan oleh Hendry, dan dipopulerkan oleh Engle dan Granger. Lebih lanjut, Engle dan Granger (1987) menyatakan bahwa kointegrasi adalah langkah awal untuk menilai apakah hubungan kuantitatif antara dua atau lebih variabel dapat diestimasi dengan menggunakan Error Correction Model (ECM). Dalam ECM, hubungan dinamis jangka pendek antar variabel dalam sistem dipengaruhi oleh deviasi dari keseimbangan jangka panjang. Istilah kointegrasi disebut juga sebagai eror ekuilibrium yang dapat digunakan untuk mengikat tingkah laku jangka pendek variabel dependen terhadap nilai jangka panjangnya. Pada kointegrasi bivariat, jika variabel dan terkointegrasi pada model

, maka persamaan ECM yaitu: (3.27) dimana merupakan residual pada dari persamaan kointegrasi bergantung ,

. Persamaan (3.27) menunjukkan bahwa pada dan eror ekuilibrium

. Jika koefisien eror ekuilibrium

maka error term melakukan koreksi pada partial adjustment menuju ekuilibrium jangka panjang. Pada kointegrasi multivariat, ECM secara matematis ditunjukkan oleh persamaan berikut:

Universitas Indonesia

34

(3.28) Keterangan: = koefisien hubungan jangka pendek = koefisien hubungan jangka panjang = kecepatan menuju keseimbangan (speed of adjustment)

Universitas Indonesia

BAB 4 HASIL ESTIMASI DAN ANALISIS Semua time series disesuaikan dan dinyatakan dalam logaritma sebelum dilakukan uji secara ekonometrik. Untuk lebih mempersingkat, sampel nilai tukar riil dalam logaritma dengan mata uang base country Dollar AS dinyatakan dalam variabel sebagai berikut:

Tabel 4.1 Variabel data Negara Brunei Darussalam Indonesia Kamboja Laos Myanmar Malaysia Filipina Singapura Thailand Vietnam log BND IDR KHR LAK MMK MYR PHP SGD THB VND

Untuk mendapatkan gambaran umum mengenai perkembangan nilai tukar riil negara-negara ASEAN pasca krisis Asia 1997-1999, disajikan grafik nilai tukar riil yang dihitung menggunakan CPI dengan base country AS serta tingkat korelasi antar nilai tukar sebagai berikut:

35
Universitas Indonesia

Grafik nilai tukar riil kawasan ASEAN


IDR
4.2 3.60 3.56 4.0 3.52 3.9 3.48 3.44 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 3.8 3.7 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 3.9 4.0 4.1 3.64 4.2

BND

KHR

LAK

.26

.24 4.1

.22

.20

.18 3.8

.16

00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10

MMK
.60 .58 .56 .54 .52 .50 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 1.55 1.60 1.65 1.70 1.75 1.80

MYR

PHP
.24 .22 .20 .18 .16 .14 .12 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10

SGD

1.4

1.2

1.0

0.8

0.6

0.4

00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10

00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10

THB
4.28 4.24 4.20 4.16 4.12 4.08 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10

VND

1.70

1.65

1.60

1.55

1.50

1.45

Universitas Indonesia

00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10

36

Tabel 4.2 Korelasi nilai tukar riil negara-negara ASEAN KHR LAK MMK MYR PHP SGD THB VND

BND

IDR

BND IDR KHR LAK MMK MYR PHP SGD THB VND 0.59551 0.63622 0.87864 0.87544 0.93319 0.74179 0.9252 0.70844 0.43981 0.39324 0.56541 0.48805 0.50652 0.63956 0.72022 0.67013 0.83661 0.72544 0.9223 0.89864 0.85147 0.82809 0.90902 0.91934 0.92573

0.23444 0.74609 0.24082 0.26487 0.732 0.72987 0.85807 0.61106 0.71392

0.50821 0.59916 0.92131 0.60173 0.65101 0.60466 0.8156 0.59893

0.84549 0.92535

0.83267

Universitas Indonesia

37

38

Grafik nilai tukar riil kawasan ASEAN menunjukkan bahwa secara garis besar nilai tukar riil memiliki tren atau non stasioner. Selain itu, grafik tersebut secara tidak langsung juga menunjukkan tingkat korelasi antara nilai tukar. Seperti juga tampak pada Tabel 4.2, nilai tukar negara-negara kawasan ASEAN berkorelasi positif dengan nilai korelasi rata-rata di atas 50%. Artinya, nilai tukar bergerak pada arah dan derajat yang sama (co-movement). Nilai tukar negaranegara ASEAN tampaknya sama-sama menurun drastis di tahun 2008 saat krisis keuangan global dan berada pada puncaknya pada tahun 2001. 4.1 4.1.1 Pengujian Pra-estimasi Uji Derajat Integrasi Pada langkah awal analisis empiris, uji derajat integrasi dilakukan dengan memeriksa stasioneritas nilai tukar riil setiap negara untuk memastikan ada atau tidaknya nilai tukar riil negara tertentu dalam sampel yang bersifat stasioner (mean dan varians tetap). Untuk tujuan tersebut, penelitian ini melakukan dua tes akar unit, yaitu uji Dickey-Fuller dan Phillips-Perron. Kedua metode memiliki asumsi yang berbeda. Dickey-Fuller mensyaratkan bahwa error term harus berkorelasi dan homogen. Sedangkan uji Phillips-Perron berlaku jika error term berkorelasi dan heterogen.

Tabel 4.3 Hasil uji stasioneritas nilai tukar riil individu I(0) log BND IDR KHR LAK MMK MYR PHP SGD THB VND DF PP ADF -7.44326*** -9.78523*** -7.31342*** -12.0938*** -7.54576*** -4.28435*** -8.16133*** -9.87127*** -5.0459*** -4.41717*** I(1) PP -7.87329*** -9.52164*** -7.09977*** -12.0732*** -7.53085*** -8.43249*** -8.1479*** -9.83352*** -8.49869*** -8.7836***

-2.1579 -2.15496 -0.80424 -0.80573 -0.83145 -0.52877 -3.23342** -3.44973** -1.29646 -1.17971 -0.16004 -0.20525 -0.68406 -0.76435 -0.73429 -0.41268 -0.68439 -0.55297 -0.34832 -0.23843

Level signifikansi: *: 10%; **: 5%; ***: 1%

Universitas Indonesia

39

Tabel 4.3 menyajikan hasil uji akar unit yang dilakukan pada nilai tukar riil dari sepuluh negara ASEAN yang termasuk dalam sampel. Hasil yang didapat menjelaskan hampir seluruh nilai tukar riil individu tidak stasioner pada data level (untuk level signifikansi 5%). Selain Laos, hasil secara keseluruhan menunjukkan bahwa semua negara sama-sama stasioner pada order satu atau terintegrasi pada I(1). Hanya nilai tukar Laos yang stasioner pada order nol sehingga PPP absolut tidak berlaku. Karena nilai tukar riil Laos tidak terintegrasi di order yang sama dengan nilai tukar lainnya, maka nilai tukar Laos tidak memenuhi prasyarat untuk analisis kointegrasi lebih lanjut dan harus dikeluarkan dari sampel. Nilai tukar yang stasioner memperlihatkan bahwa fluktuasi nilai tukar tersebut relatif lebih stabil. Kip Laos berfluktuasi sekitar KN 10.000 terhadap Dollar dari November 2005 sampai Januari 2008 dan bergerak sesuai dengan tingkat harga pasar dengan varians tidak lebih dari 0,2%. Kemungkinan penyebabnya yaitu Laos tidak terlalu terintegrasi dengan ekonomi AS dalam hal hubungan perdagangan maupun hubungan ekonomi lain. Nilai perdagangan dalam bentuk Dollar AS di negara ini hanya 1%-2% dari total perdagangan. Di sisi lain, nilai perdagangan dengan Thailand adalah sekitar 50%-60% dari total nilai perdagangan Laos (Capannelli & Menon, 2010). Nilai tukar Laos masih lebih banyak ditentukan oleh pemerintah, bukan ditentukan oleh pergerakan nilai tukar lain. 4.1.2 Lag Optimum Sebelum melakukan estimasi lebih lanjut, penentuan lag optimal sangat penting demi mendapatkan hasil yang baik. Pengujian panjang lag optimal ini sangat berguna agar residual model bersifat white noise. Residual yang white noise adalah residual yang mempunyai distribusi normal dan tidak memiliki autokorelasi. Dengan begitu, diharapkan tidak lagi muncul masalah autokorelasi di dalam model. Hasil pengujian penentuan lag optimal untuk sembilan negara sampel ditunjukkan pada Tabel 4.4 menggunakan tiga kriteria informasi yang berbeda. Untuk penelitian ini, kriteria penentuan lag optimal ditentukan berdasarkan nilai Akaike Info Criterion (AIC) terkecil. Nilai AIC terkecil yaitu -65.51342 terdapat

Universitas Indonesia

40

pada lag dua. Oleh karena itu, untuk analisis selanjutnya akan digunakan lag dua sebagai lag optimalnya.

Tabel 4.4 Hasil uji lag optimum Lag 0 1 2 3 4 5 6 AIC -47.53189 -65.50662 -65.51342* -65.28433 -64.99598 -64.83136 -65.0011 SIC -47.30967 -63.28440* -61.29122 -59.06213 -56.77379 -54.60918 -52.77892 HQ -47.44177 -64.60543* -63.80116 -62.761 -61.66159 -60.68589 -60.04456

*Lag optimum berdasarkan kriteria informasi

4.2 4.2.1

Pengujian Estimasi Uji Kausalitas Granger Berdasarkan penentuan lag optimum menggunakan AIC, lag optimum untuk

kesembilan variabel nilai tukar riil negara-negara ASEAN berada pada lag dua sehingga hasil tersebut digunakan untuk pengujian kausalitas Granger. Pada lag dua, error term sudah tidak memiliki autokorelasi sehingga variabel kondisi nilai tukar di masa lalu mampu menerangkan perilaku nilai tukar riil sekarang secara sistematis. Hasil uji kausalitas Granger berpasangan dengan nilai probabilitas dan statistik uji-F masing-masing ditunjukkan pada Tabel 4.5. Uji kausalitas Granger menyimpulkan bahwa negara yang memiliki kausalitas nilai tukar riil bilateral adalah nilai tukar antara Thailand dan Brunei Darussalam, Singapura dan Brunei Darussalam, Myanmar dan Indonesia, Malaysia dan Kamboja, Singapura dan Kamboja, serta Vietnam dan Singapura. Sebaliknya, Rupiah Indonesia tidak memiliki hubungan kausalitas dengan Riel Kamboja (KHR), Ringgit Malaysia (MYR), dan Dollar Singapura (SGD). Hal ini menunjukkan bahwa penentuan nilai tukar di Indonesia tidak terpengaruh oleh pergerakan nilai tukar KHR, MYR, dan SGD. Dengan kata lain, baik nilai tukar Singapura, Malaysia, dan Kamboja tidak bisa menjadi prediktor bagi nilai tukar Indonesia.

Universitas Indonesia

Tabel 4.5 Hasil uji kausalitas Granger

yt IDR 2.36399* MYR 0.00373 1.4555 3.07456** 1.19927 KHR 0.87616 1.99718 2.71889* 6.97821*** 8.31204*** 3.11421** 8.13136*** 6.80975*** 0.82038 1.1323 0.11821 1.02248 0.34348 MMK 1.55847 5.31835*** 1.44971 VND 1.23377 7.46228*** 0.32128 8.6199*** 6.24408*** 5.87173*** 3.59465** 11.2829***
Level signifikansi: *: 10%; **: 5%; ***: 1%

xt

BND

BND IDR KHR MMK MYR PHP SGD THB VND

2.50371* 7.69571*** 0.63002 2.72431* 4.60863** 3.02721* 0.51921 6.05533*** 0.07163 6.33555*** 0.4387 4.44911** 0.23267 4.72407** 0.04907

PHP SGD THB 4.21285** 5.31351*** 2.4129* 2.42994* 2.66265 5.17016*** 10.5578*** 0.55583 0.03553 4.11731** 3.91503** 2.82604* 2.93379* 0.02507 0.56821 5.72908*** 0.34793 4.68085** 2.51406* 0.54535 0.35607 5.00928*** 4.3437** 6.05034*** 1.25788 0.80012 3.15648** 0.52174

Universitas Indonesia

41

42

Nilai tukar riil Dollar Brunei Darussalam (BND) merupakan nilai tukar riil yang paling endogen karena secara signifikan dipengaruhi oleh nilai tukar riil kedelapan negara ASEAN lainnya. Sedangkan nilai tukar riil yang paling eksogen adalah Peso Filipina (PHP) yang secara signifikan mempengaruhi hampir semua nilai tukar riil negara-negara anggota ASEAN, kecuali nilai tukar riil Baht Thailand (THB), Rupiah Indonesia (IDR), dan Kyat Myanmar (MMK). Dalam hal sistem nilai tukar, Brunei Darussalam menganut sistem currency board yang mematok nilai tukarnya terhadap Dollar Singapura sehingga nilai tukarnya bersifat lebih endogen. Sebaliknya, Indonesia dan Filipina menganut sistem mengambang bebas tanpa ada intervensi pada pasar devisa. Sebagai tambahan, berbeda dengan Laos, Filipina memiliki hubungan khusus dengan AS sebagai bekas negara jajahan. Latar belakang tersebut mungkin menjadikan nilai tukar Peso Filipina menjadi lebih eksogen. Eratnya hubungan nilai tukar Peso Filipina dengan Dollar AS, sebagai mata uang terpenting di dunia, mencerminkan kenyataan bahwa AS memiliki pangsa terbesar dalam transaksi internasional Filipina. Sekitar sepertiga dari perdagangan luar negeri Filipina disumbangkan oleh AS dalam dekade terakhir (Bautista, 2003). Secara umum, urutan negara dengan nilai tukar riil dari yang paling endogen sampai yang paling eksogen, yaitu Brunei Darussalam (BND), Singapura (SGD), Myanmar (MMK), Kamboja (KHR), Thailand (THB),Vietnam (VND), Malaysia (MYR), Indonesia (IDR), dan yang terakhir Filipina (PHP). 4.2.2 Uji Kointegrasi Engle-Granger Uji kointegrasi Engle-Granger dilakukan untuk memverifikasi keberadaan hubungan kointegrasi bilateral pada semua kombinasi nilai tukar riil di antara semua negara sampel selama periode pasca-krisis. Untuk menguji adanya hubungan kointegrasi bilateral, metode ini memerlukan dua tahap estimasi. Tahap pertama uji kointegrasi ini adalah membuktikan bahwa nilai tukar riil terintegrasi pada order yang sama yaitu pada proses I(1), atau memiliki satu akar unit, Uji stasioneritas menegaskan bahwa nilai tukar riil delapan negara ASEAN, yaitu Indonesia, Filipina, Kamboja, Myanmar, Singapura, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darussalam, non-stasioner pada data level tetapi stasioner setelah first difference (lihat Tabel 4.3).

Universitas Indonesia

Tabel 4.6 Hasil uji kointegrasi bilateral Engle-Granger SGD MMK KHR THB VND MYR IDR PHP

BND

BND SGD MMK KHR THB VND MYR IDR PHP -1.94033 -2.59028* -1.62547 -3.36683** -2.91904** -1.58749 -2.96087** -1.12236 -3.02223** -2.69273* -2.27488 -4.57750*** -2.87920*

-3.17996** -2.65068* -4.09126*** -2.86027* -3.48416*** -3.63108*** -2.31184 -3.45224**

-2.27332 -2.25947 -2.67725* -2.97699** -1.95554 -3.00205** -1.59841 -1.93063 -1.49504 -1.09503 -2.60048* -2.61832* -2.89817** -3.30443**

-2.14784
Level signifikansi: *: 10%; **: 5%; ***: 1%

Universitas Indonesia

43

44

Tahap kedua adalah menguji apakah nilai tukar riil terkointegrasi dengan cara terlebih dahulu meregresi satu nilai tukar dengan nilai tukar lain menggunakan OLS. Pada prosedur ini, variabel dependen dan independen ditentukan berdasarkan asumsi endogenitas yang dihasilkan oleh uji kausalitas Granger. Selanjutnya penelitian ini memeriksa apakah residual proses estimasi stasioner menggunakan statistik uji ADF. Jika residual terms stasioner, maka terdapat hubungan kointegrasi bilateral antara nilai tukar riil. Hasil regresi nilai tukar riil bilateral negara-negara ASEAN dan grafik residual dari kointegrasi bilateral dapat dilihat pada Lampiran 4. Tabel 4.6 melaporkan hasil uji ADF pada residual estimasi hasil regresi nilai tukar riil bilateral. Uji ADF menggunakan model dengan intercept dan tanpa tren menemukan stasioneritas pada residual estimasi di beberapa pasangan nilai tukar riil. Dengan kata lain, terdapat hubungan kointegrasi bilateral pada pasanganpasangan nilai tukar riil tersebut. Dollar Brunei Darussalam memiliki hubungan kointegrasi hampir dengan semua nilai tukar. Kointegrasi terkuat yaitu dengan Riel Kamboja, Dong Vietnam, dan Kyat Myanmar. Sebaliknya, Rupiah Indonesia hanya berkointegrasi dengan Kyat Myanmar. Hasil ini konsisten dengan uji kausalitas Granger. Artinya, selain tidak memiliki hubungan timbal-balik bilateral, nilai tukar Indonesia juga tidak memiliki hubungan bilateral jangka panjang dengan negara lain di dalam satu kawasan. 4.2.3 Uji Kointegrasi Johansen Dalam studi G-PPP, ada atau tidak adanya vektor kointegrasi yang signifikan untuk sepasang negara dalam sistem tidak menunjukkan apa-apa tentang hubungan kointegrasi kelompok negara-negara untuk membentuk serikat mata uang. G-PPP berlaku apabila semua nilai tukar riil bilateral non-stasioner secara individu dan harus ada setidaknya satu kombinasi linear yang stasioner dari semua nilai tukar riil non-stasioner. Dalam konteks ini, untuk menilai apakah negara-negara ASEAN merupakan suatu area mata uang yang optimal menggunakan konsep G-PPP, penelitian ini melakukan uji kointegrasi multilateral Johansen untuk sembilan nilai tukar riil dengan syarat lebih dari satu kointegrasi bilateral diverifikasi pada uji kointegrasi sebelumnya.Penelitian ini menggunakan

Universitas Indonesia

45

asumsi data level nilai tukar riil tidak memiliki tren deterministik dan persamaan kointegrasi memiliki intersep tanpa tren yang tak terbatas (unrestricted intercepts without trends), mengikuti spesifikasi model yang disajikan oleh Enders dan Hurn (Taguchi, 2010). 1

Tabel 4.7 Hasil uji kointegrasi multilateral Johansen Hypothesized No. of CE(s) None At most 1 At most 2 At most 3 At most 4 At most 5 At most 6 At most 7 At most 8 Trace Statistic 252.7298* 189.0621* 137.9856* 95.48563 64.70285 44.3359 26.30218 12.97398 2.786471 Max-Eigen Statistic 63.66771* 51.0765 42.49992 30.78278 20.36696 18.03372 13.3282 10.18751 2.786471
*Level signifikansi 5%

Tabel 4.7 memperlihatkan jumlah vektor kointegrasi berdasarkan hasil trace test dan maximum eigenvalue test pada kawasan ASEAN. Pada tingkat kawasan, hasil uji kointegrasi Johansen multivariat mengkonfirmasi adanya hubungan kointegrasi antara nilai tukar riil dari negara-negara ASEAN. Hasil dari kointegrasi Johansen menolak hipotesis nol bahwa vektor kointegrasi adalah nol pada tingkat 5% yang signifikan di seluruh kawasan ASEAN. Trace test dan maximum eigenvalue test masing-masing mengindikasikan adanya tiga dan satu vektor kointegrasi. Ini adalah bukti yang mendukung atas kebenaran G-PPP dan kemungkinan OCA di wilayah ini. Implikasi dari temuan ini adalah bahwa adanya kointegrasi antara nilai tukar riil dari negara-negara ASEAN menunjukkan bahwa nilai tukar riil cukup saling berhubungan dan memiliki tren stokastik bersama dalam jangka panjang.

Untuk detail lebih lanjut, pembaca dapat merujuk pada: Enders, W., & Hurn, S. (1994). Theory and tests of generalized purchasing-power parity: Common trends and real exchange rates in the Pacific Rim. Review of International Economics, 2, 179190.

Universitas Indonesia

46

Penemuan lebih dari satu vektor kointegrasi multilateral memungkinkan estimasi selanjutnya menggunakan ECM. Uji kointegrasi multilateral (Lampiran 5) menghasilkan persamaan berikut:
74.72708 BND 2.463033 SGD + 12.48433 MMK 105.1691 KHR 58.38637 THB + 77.63582 VND + 232.6196 MYR 12.52765 IDR 60.22469 PHP + 141.6488 = 0

(4.1) Persamaan (4.1) membuktikan bahwa teori PPP tidak berlaku. Koefisien yang bernilai besar menunjukkan pola parameter permintaan agregat yang berbeda antara sepasang negara (Enders & Hurn, 1994 dalam Mishra & Sharma, 2010). Sedangkan koefisien yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan negara lainnya mungkin berarti bahwa negara tersebut memiliki parameter permintaan lebih mirip terhadap negara lainnya. 4.2.4 Error Correction Model (ECM)

Tabel 4.8 Hasil estimasi ECM Normalized coefficients IDR BND SGD MMK KHR THB VND MYR PHP 1.000000 -5.964971* 0.196608 -0.996542* 8.394961* 4.6606* -6.197156* -18.56849* 4.80734* Speed of adjustment parameters 0.035281* 0.024562* 0.034938* 0.01708 0.004788 0.01999* 0.003373 0.023217* 0.011466
*Level signifikansi 5%

Pada langkah terakhir, penelitian ini mengestimasi persamaan normalisasi dari vektor kointegrasi dan parameter speed of adjustment untuk sistem nilai tukar riil. Hasilnya dilaporkan dalam Tabel 4.8. Untuk mendapatkan persamaan normalisasi dalam model, digunakan nilai tukar riil Rupiah Indonesia. Tidak ada alasan khusus dalam pemilihan Rupiah Indonesia untuk menciptakan persamaan normalisasi nilai tukar riil dan nilai tukar riil bilateral manapun bisa diterapkan untuk tujuan tersebut. Koefisien normalisasi memberikan informasi tentang

Universitas Indonesia

47

keterkaitan antara nilai tukar riil yang dianalisis dalam studi ini. Koefisien normalisasi juga dapat diartikan sebagai elastisitas jangka panjang antara nilai tukar riil (Mishra & Sharma, 2010). Adapun persamaan kointegrasi (4.1) setelah dinormalisasi terhadap IDR menghasilkan parameter jangka panjang sebagai berikut:
5.964971 BND 0.196608 SGD + 0.996542 MMK 8.394961 KHR 4.660600 THB + 6.197156 VND + 18.56849 MYR IDR 4.807340 PHP + 11.30689 = 0

(4.2) sehingga persamaan kointegrasi untuk nilai tukar riil Indonesia yang terbentuk adalah:
IDR = 5.964971 BND 0.196608 SGD + 0.996542 MMK 8.394961 KHR ( 0.05245) (2.06008) (4.88883) (-6.14730) 4.660600 THB + 6.197156 VND + 18.56849 MYR 4.807340 PHP + 11.30689 (-4.08793) (5.18433) (7.14671) (-4.18314) (2.20425)

(4.3) Berdasarkan hasil estimasi ECM, terdapat beberapa asimetri dalam proses penyesuaian nilai tukar dalam merespon setiap ketidakseimbangan dalam sistem. Integrasi nilai tukar riil Indonesia dengan nilai tukar riil Singapura, Kamboja, Thailand, dan Filipina adalah negatif sedangkan hubungannya dengan Brunei Darussalam, Myanmar, Vietnam, dan Malaysia adalah positif. Apresiasi riil 1% dalam mata uang Ringgit Malaysia mengarah pada kenaikan lebih dari 18% nilai riil Rupiah Indonesia. Sedangkan depresiasi riil 1% dalam mata uang Riel Kamboja menyebabkan kenaikan lebih dari 8% nilai riil Rupiah Indonesia. Seluruh variabel signifikan kecuali Dollar Singapura. Persamaan kointegrasi jangka panjang untuk nilai tukar riil negara-negara ASEAN lainnya antara lain:
BND = 0.032960 SGD 0.167066 MMK + 1.407377 KHR + 0.781328 THB (0.09910) (-4.85338) (5.81843) (4.14366) 1.038925 VND 3.112923 MYR + 0.1667645 IDR+ 0.805929 PHP 1.895548 (1.95621) (-5.69458) (-7.61390) (4.45998) (-1.96200)

(4.4)

Universitas Indonesia

48

SGD = 30.33946 BND + 5.068682 MMK 42.69902 KHR 23.70507 THB (4.00199) (4.37933) (-6.50245) (-4.03721) + 31.52042 VND + 94.44439 MYR 5.086271 IDR (5.84074) (7.52510) (-2.01120) 24.45144 PHP (-4.66362) + 57.50993 (2.74224)

(4.5)
MMK = 5.985670 BND + 0.197290 SGD + 8.424091 KHR + 4.676772 THB (0.05000) (-2.23771) (6.04503) (4.50152) 6.218661 VND 18.63293 MYR+ 1.003470 IDR + 4.824022 PHP 11.34613 (-1.77998) (-5.13848) (-8.04499) (2.14040) (4.19353)

(4.6)
KHR = 0.710542 BND 0.023420 SGD (-0.05541) (2.00222) + 0.118707 MMK 0.555166 THB (4.51176) (-4.70614) 0.572646 PHP + 1.346867 (-4.21062) (2.24829)

+ 0.738200 VND + 2.211862 MYR 0.119119 IDR (5.29931) (7.94599) (-2.00873)

(4.7)
THB = 1.279872 BND 0.042185 SGD (-0.04847) (2.00886) + 0.213823 MMK 1.801262 KHR (4.73332) (-6.63016) 1.031485 PHP + 2.426060 (-4.51959) (1.75608)

+ 1.329691 VND + 3.984142 MYR 0.214565 IDR (5.15336) (7.58665) (-1.88192)

(4.8)
VND = 0.962534 BND + 0.031725 SGD (0.05541) (-2.18157) + 0.752055 THB (4.07224) 0.160806 MMK + 1.354647 KHR (-4.26957) (5.89959) + 0.775733 PHP 1.824529 (-1.93393) (5.53370)

2.996293 MYR + 0.161364 IDR (1.88596) (-9.34859)

(4.9)
MYR = 0.321242 BND + 0.010588 SGD 0.053668 MMK + 0.452108 KHR (0.05123) (-2.09312) (-4.79681) (6.34788) + 0.250995 THB 0.333746 VND + 0.053855 IDR (1.86563) (4.30201) (-6.70849) + 0.258898 PHP 0.608929 (-1.68133) (5.06642)

(4.10)
PHP = 1.240805 BND 0.040897 SGD (-0.05400) (2.08541) 0.969476 THB (-4.35906) + 0.207296 MMK 1.746280 KHR (4.25285) (-5.72135)

+ 1.289103 VND + 3.862529 MYR 0.208015 IDR + 2.352006 (-1.85735) (1.94151) (6.75408) (8.61734)

(4.11) Koefisien kecepatan penyesuaian (speed of adjustment) menunjukkan bagaimana kecepatan berbagai nilai tukar riil dalam sistem menyesuaikan terhadap keseimbangan jangka panjang dalam menanggapi setiap kejutan (shock) atau penyimpangan dari G-PPP (Mishra & Sharma, 2010). Hasil ini menjelaskan seberapa cepat perubahan dalam nilai tukar riil dalam sistem cenderung untuk
Universitas Indonesia

49

memperbaiki dirinya dalam kerangka VAR. Dari representasi error correction, dapat diturunkan lamanya proses penyesuaian terhadap disekuilibrium bagi setiap nilai tukar sebagai berikut: 1. IDR membutuhkan waktu 28 bulan (setiap bulan terjadi penyesuaian sebesar 3,53% dari kondisi disekuilibrium). 2. BND membutuhkan waktu 41 bulan (setiap bulan terjadi penyesuaian sebesar 2,46% dari kondisi disekuilibrium). 3. SGD membutuhkan waktu 29 bulan (setiap bulan terjadi penyesuaian sebesar 3,49% dari kondisi disekuilibrium). 4. MMK membutuhkan waktu 59 bulan (setiap bulan terjadi penyesuaian sebesar 1,71% dari kondisi disekuilibrium). 5. KHR membutuhkan waktu 209 bulan (setiap bulan terjadi penyesuaian sebesar 4,79% dari kondisi disekuilibrium). 6. THB membutuhkan waktu 50 bulan (setiap bulan terjadi penyesuaian sebesar 2% dari kondisi disekuilibrium). 7. VND membutuhkan waktu 296 bulan (setiap bulan terjadi penyesuaian sebesar 0,34% dari kondisi disekuilibrium). 8. MYR membutuhkan waktu 43 bulan (setiap bulan terjadi penyesuaian sebesar 2,32% dari kondisi disekuilibrium). 9. PHP membutuhkan waktu 87 bulan (setiap bulan terjadi penyesuaian sebesar 1,15% dari kondisi disekuilibrium). Penyesuaian tercepat dilakukan oleh Rupiah Indonesia dan Dollar Singapura, yaitu sekitar 2,5 tahun. Sedangkan Dong Vietnam membutuhkan waktu terlama dalam meningkatkan pergerakan nilai tukarnya untuk mencapai ekuilibrium (hampir 25 tahun). Koefisien penyesuaian nilai tukar riil negaranegara yang tidak signifikan, seperti Myanmar, Kamboja, Vietnam, dan Filipina, menunjukkan kemungkinan bahwa nilai tukar negara-negara tersebut eksogen lemah (Mishra & Sharma, 2010) atau tidak mempunyai kontribusi yang signifikan dalam memicu co-movement dari variabel-variabel yang berkointegrasi.

Universitas Indonesia

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Integrasi di kawasan ASEAN telah mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini dapat diamati dari kenaikan perdagangan intra-regional dan arus investasi di kawasan ini. Suku bunga dalam kerjasama moneter dan nilai tukar negara-negara ASEAN juga telah kembali membaik pada periode pasca-krisis di Asia dan integrasi negara-negara ini dalam hubungan perdagangan telah mengalami peningkatan yang cukup besar. Terdapat sejumlah inisiatif yang mendukung adanya hubungan ekonomi dan keuangan yang lebih besar, salah satunya adalah pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA pada akhirnya akan mengarah pada penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan intra-regional ASEAN. Menyangkut inisiatif tersebut, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memeriksa pergerakan bersama (co-movement) nilai tukar riil ASEAN dan memberikan bukti lebih lanjut apakah negara-negara ASEAN berpotensi membentuk Optimum Currency Area (OCA) atau tidak serta penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan supaya pembentukan OCA lebih potensial. Penelitian ini memeriksa kelayakan ekonomi pembentukan blok mata uang regional di ASEAN, dengan mengadopsi pendekatan Generalized Purchasing Power Parity (G-PPP). G-PPP bertujuan untuk mengidentifikasi adanya kecenderungan common trends dalam nilai tukar riil di antara sekelompok negara. Secara khusus, penelitian ini melakukan estimasi kointegrasi bilateral dan multilateral nilai tukar riil dengan sampel dari sepuluh negara ASEAN selama periode pasca-krisis 1997-1998. Uji korelasi nilai tukar sepuluh negara ASEAN menunjukkan bahwa nilai tukar bergerak pada arah dan derajat yang sama. Sebelum variabel nilai tukar riil diestimasi, terlebih dahulu dilakukan uji derajat integrasi dan pemilihan lag optimum. Hasil uji derajat integrasi menunjukkan bahwa nilai tukar riil Laos stasioner pada order nol dan nilai tukar kesembilan negara ASEAN lainnya stasioner pada order satu. Selanjutnya, lag optimum tanpa menyertakan nilai tukar riil Laos terdapat pada lag dua.

50
Universitas Indonesia

51

Pada tahap pertama estimasi, penelitian ini memeriksa kausalitas nilai tukar riil bilateral untuk melihat hubungan timbal balik dan pengaruh kondisi masa lalu terhadap kondisi sekarang. Uji kausalitas Granger menyimpulkan bahwa nilai tukar riil antara Thailand dan Brunei Darussalam, Singapura dan Brunei Darussalam, Myanmar dan Indonesia, Malaysia dan Kamboja, Singapura dan Kamboja, serta Vietnam dan Singapura memiliki kausalitas bilateral. Sedangkan Indonesia tidak memiliki kausalitas dua arah dengan Kamboja, Malaysia, dan Singapura, menunjukkan bahwa nilai tukar Indonesia tidak bisa diprediksi oleh pergerakan nilai tukar negara-negara tersebut. Pada tahap kedua, penelitian ini menerapkan hipotesis G-PPP untuk mengevaluasi potensi OCA untuk negara-negara ASEAN. Teori G-PPP mendalilkan bahwa meskipun secara individu nilai tukar riil bilateral nonstasioner tetapi dalam serikat mata uang harus ada setidaknya satu kombinasi linear dari berbagai nilai tukar riil yang stasioner. Uji kointegrasi Engle-Granger membuktikan bahwa Dollar Brunei Darussalam memiliki kointegrasi dengan seluruh nilai tukar negara ASEAN dalam sampel kecuali dengan Indonesia. Rupiah Indonesia hanya berkointegrasi jangka panjang dengan Kyat Myanmar. Beberapa pasangan negara lainnya yang secara signifikan saling terkointegrasi menunjukkan bahwa nilai tukar riil bilateral negara-negara ASEAN tersebut berbagi tren stokastik bersama dan karenanya mereka memenuhi kriteria standar minimum untuk membentuk serikat mata uang. Uji kointegrasi Johansen memperkuat bukti tersebut dengan menghasilkan setidaknya satu vektor kointegrasi di antara sembilan negara anggota ASEAN. Kointegrasi yang ditemukan merupakan bukti yang mendukung G-PPP di kawasan ASEAN. Penemuan lebih dari satu vektor kointegrasi multilateral memungkinkan estimasi selanjutnya menggunakan ECM. ECM bertujuan untuk mengoreksi keseimbangan jangka pendek menuju keseimbangan jangka panjang. Koefisien normalisasi sebagai elastisitas jangka panjang antara nilai tukar riil menunjukkan adanya beberapa asimetri dalam proses penyesuaian nilai tukar dalam merespon setiap ketidakseimbangan dalam sistem. Sementara itu, koefisien speed of adjustment menjelaskan bahwa semua negara harus melakukan penyesuaian untuk mencapai ekuilibrium supaya OCA lebih potensial. Indonesia dan Singapura

Universitas Indonesia

52

memerlukan waktu penyesuaian dari disekuilibrium tercepat, yaitu sekitar 2,5 tahun. Secara bilateral, Indonesia tidak terkointegrasi dengan negara-negara lain dalam satu kawasan. Indonesia dinilai lebih konvergen dengan Singapura dan tidak konvergen dengan negara-negara ASEAN lainnya. Dengan demikian respon Rupiah akan lebih cepat stabil dalam menghadapi guncangan nilai tukar negara ASEAN lainnya bila Rupiah bersatu dengan Dollar Singapura. Namun, baik Rupiah Indonesia maupun Dollar Singapura sebaiknya mendasarkan nilai tukarnya terhadap mata uang lain selain Dollar AS. Secara umum, penelitian yang dilakukan memberikan hasil diantaranya: 1. Nilai tukar riil ASEAN bergerak pada arah dan derajat yang sama. Dengan kata lain, terdapat co-movement pada mata uang negara-negara ASEAN. Ini merupakan indikasi awal adanya kointegrasi. 2. Nilai tukar riil negara-negara ASEAN berkointegrasi jangka panjang atau berbagi tren stokastik bersama dan karenanya memenuhi kriteria standar minimum untuk membentuk serikat mata uang. 3. Negara-negara yang berkointegrasi harus sama-sama meningkatkan

pergerakan nilai tukarnya untuk mencapai ekuilibrium supaya OCA lebih potensial. 5.2 Saran Hasil penelitian kointegrasi bilateral dan multilateral menunjukkan bahwa negara-negara ASEAN memenuhi kriteria standar minimum untuk membentuk serikat mata uang. Namun, berdasarkan estimasi ECM, kesembilan negara ASEAN masih memiliki respon yang asimetris terhadap shock. Pengadopsian mata uang tunggal mungkin sulit dilakukan dalam waktu dekat untuk jangka menegah atau panjang. Untuk itu, ASEAN masih perlu untuk meningkatkan konvergensi nilai tukarnya. Untuk dapat lebih mendorong terjadinya integrasi ekonomi dan keuangan, maka perlu didukung oleh beberapa kebijakan. Adapun saran-saran bagi pengambil kebijakan adalah sebagai berikut: 1. Memperkuat dasar dan pondasi perekonomian masing-masing negara, khususnya bagi negara yang perekonomiannya masih rentan dan lemah agar
Universitas Indonesia

53

tidak tertinggal, misalnya Indonesia yang belum sepenuhnya terintegrasi dengan negara-negara lain di dalam satu kawasan. Hendaknya para pengambil kebijakan lebih berusaha meningkatkan keunggulan komparatif negara masing-masing. 2. Menjaga stabilitas nilai tukar masing-masing negara, khususnya bagi negara yang fluktuasi kursnya masih sangat rentan dan tidak stabil. Hal ini bertujuan untuk mengurangi asimetri penyesuaian nilai tukar terhadap guncangan yang terjadi dalam kawasan. 3. Meningkatkan keterbukaan perekonomian dan kerjasama bilateral di antara negara-negara dalam kawasan ASEAN, terutama dalam liberalisasi

perdagangan dan perkembangan pasar keuangan. Tujuannya yaitu untuk lebih meningkatkan hubungan kausalitas antar negara. Salah satu caranya adalah dengan merealisasi pembentukan MEA yang diharapkan dapat memperkuat pasar tunggal ASEAN dan mendorong pertumbuhan ekonomi negara-negara anggotanya. Selain saran-saran bagi pengambil kebijakan, studi empris ini membuka peluang bagi pendekatan yang lebih lanjut terhadap pembuktian empiris yang berkaitan dengan teori dan aplikasi OCA, khususnya di wilayah ASEAN. Pengembangan dan saran yang diberikan diantaranya: 1. Penambahan atau pemilihan variabel-variabel kontrol yang diduga kuat mempengaruhi seluruh mata uang atau nilai tukar yang diamati. Hal ini tidak hanya dilakukan secara teoritis, melainkan juga dilakukan secara empiris dengan menguji signifikansi variabel-variabel dugaan berdasarkan suatu kriteria statistik tertentu. Kriteria yang dirujuk dalam teori OCA yang dapat dijadikan variabel kontrol yaitu variabel ekonomi makro, seperti perbedaan inflasi, pendapatan nasional, suku bunga, dan jumlah uang yang beredar. 2. Meneliti kemungkinan adanya mata uang dasar lain sebagai pembanding. Pencantuman dua mata uang dasar yang berbeda memungkinkan untuk memverifikasi apakah hasil peka dengan jarak dan pilihan mata uang dasar. Mata uang yang bisa dijadikan jangkar adalah mata uang utama dunia yang memiliki pengaruh keuangan dan hubungan perdagangan yang besar dengan negara-negara ASEAN, misalnya Yen Jepang atau Dollar Hongkong.

Universitas Indonesia

54

3. Menguji beberapa restriksi parameter vektor kointegrasi dan speed of adjustment di dalam ECM untuk menguji apakah parameter yang ditemukan telah sesuai dengan hipotesis berdasarkan teori ekonomi dan keuangan oleh karena tidak semua variabel terkointegrasi (tidak full rank). 4. Penggunaan metode Generalized Impulse Response Function dan Generalized Forecasting Error Variance Decomposition. Hal ini bertujuan agar urutan variabel dalam ordering tidak berpengaruh pada hasil penelitian yang diperoleh. Generalized Impulse Response Function menentukan respon suatu variabel endogen terhadap guncangan (shock) variabel tertentu dan berapa lama (periode) pengaruh tersebut. Sedangkan Generalized Forecasting Error Variance Decomposition memberi proporsi pengaruh pergerakan dalam variabel-variabel dependen yang terkait dengan guncangan dari variabel itu sendiri, di samping terhadap guncangan dari variabel-variabel lainnya. 5. Melakukan penelitian empiris tentang keberadaan OCA dengan pendekatan SVAR dan analisis kluster. Model SVAR menjembatani antara teori ekonomi dan keuangan dengan analisa time series dengan tujuan untuk menentukan respon dinamis dari variabel-variabel ekonomi terhadap berbagai gangguan atau shock yang terjadi dalam perekonomian. Dibandingkan dengan uji kausalitas Granger yang digunakan dalam model VAR non struktural, SVAR dibangun atas asumsi informasi berdasar teori dan kenyataan empiris untuk membentuk restriksi yang digunakan untuk mengestimasi model (imposed restrictions).

Universitas Indonesia

55

DAFTAR REFERENSI

Ariefianto, M.D. (2006). Aplikasi Teori Optimum Currency Area pada Pergerakan Bersama Mata Uang ASEAN4 Periode 1997-2005 dengan Menggunakan Model VECM. [Tesis]. Depok: Universitas Indonesia. Arifin, S., R. Winantyo, & Y. Kurniati (Ed.). (2007). Integrasi Keuangan dan Moneter di Asia Timur: Peluang dan Tantangan bagi Indonesia. Jakarta: Elex Media Komputindo. Arifin, S., R. A. Djaafara, & A. S. Budiman (Ed.). (2008). Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015: Memperkuat Sinergi ASEAN di Tengah Kompetisi Global. Jakarta: Elex Media Komputindo. ASEAN Siapkan Mata Uang Lokal Dalam Perdagangan Regional. (2010, April 8). Warta Ekonomi. http://www.wartaekonomi.co.id Baele, L., et al. (2004). Measuring Financial Integration in the Euro Area. Occasional Paper Series, No. 14/April 2004. European Central Bank. Baldwin, R. & Wyplosz, C. (2006). The Economics of European Integration (2nd ed). McGraw Hill. Bautista, R. M. (2003). Exchange Rate Policy in Philippine Development, Research Paper Series, No.2003-01, Philippine Institute for Development Studies. Bernstein, D.J. (2000). Generalized Purchasing Power Parity and the Case of the European Union as a Successful Currency Area. Atlantic Economic Journal, 28, 4; ABI/INFORM Global pg.385. Biro Riset Ekonomi Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter. (2008). Outlook Ekonomi Indonesia 2008-2012, Integrasi Ekonomi ASEAN dan Prospek Perekonomian Nasional. Jakarta: Bank Indonesia. Capanelli, G. & J. Menon (Ed.). (2010). Dealing with Multiple Currencies in Transitional Economies: The Scope for Regional Cooperation in Cambodia, The Lao People's Democratic Republic, and Viet Nam. Manila: Asian Development Bank. Choudhry, T. (2005). Asian Currency Crisis and the Generalized PPP: Evidence from the Far East. Asian Economic Journal, 19: 137157. Enders, W. (1995). Applied Econometric Time Series. New York: John Wiley & Son, Inc. Engle, R.F. & C. W. J. Granger. (1987). Co-Integration and Error Correction: Representation, Estimation, and Testing. Econometrica, Vol. 55, No. 2. (Mar., 1987), pp. 251-276. http://links.jstor.org/sici?sici=00129682%28198703%2955%3A2%3C251%3ACAECRE%3E2.0.CO%3B2-T Gujarati, D. (2004), Basic Econometric (4th ed). The McGraw-Hill Companies. Hady, Hamdy. (2008). Manajemen Keuangan Internasional (4th ed). Jakarta: Penerbit YAI. Haug, A. A., MacKinnon, J.G., & Michelis, L. (2000). European Monetary Union: a cointegration analysis. Journal of International Money and Finance, 19, 419-432.

Universitas Indonesia

56

Huang Y., Guo F. (2006). Is currency union a feasible option in East Asia? A multivariate structural VAR approach. Research in International Business and Finance, 20 (1), pp. 77-94. International Monetary Fund. (2010, September). International Financial Statistics. http://www.imfstatistics.org/imf/ Lee, Minsoo. (2003). Common Trend and Common Currency: Australia and New Zealand. International Journal of Business and Economics, Vol 2, No 2, 155-165. Lee, Yoong Yoong. (2009, April 21). Is Asean ready for a common currency? The Straits Times. McKinnon, R. I. (1963). Optimum Currency Areas. American Economic Review, 53: 717-724. Mishra, R. K. & C. Sharma. (2010). Real exchange rate behavior and optimum currency area in East Asia: Evidence from Generalized Purchasing Power Parity. International Review of Financial Analysis, 19 205213. Mundell, R. (1961). A Theory of Optimum Currency Areas. American Economics Review, 51: 657-665. Nachrowi, D. N. &H. Usman. (2006). Pendekatan Populer dan Praktis Ekonometrika untuk Analisis Ekonomi dan Keuangan. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI. Oanda. (2010, September). Historical Exchange Rate. http://www.oanda.com/currency/historical-rates Ong Keng Yong. (2004, February). Towards Asean Financial Integration. Remarks at the Economix 2004 Conference, University of Indonesia. Quah, C. H. & Crowley, P. M. (2010). Monetary Integration in East Asia: A Hierarchical Clustering Approach. International Finance, 13: 283309. Sulit Wujudkan Mata Uang Tunggal ASEAN. (2010, April 22). Bisnis Jakarta. http://issuu.com/epaper-kmb/docs/bjk22042010 Taguchi Hiroyuki. (2010). Feasibility of Currency Unions in Asia An Assessment Using Generalized Purchasing Power Parity . Policy Research Institute, Ministry of Finance, Japan, Public Policy Review, Vol.6, No.5, June 2010. Thoha, Asep. (2010, April 8). BI Kaji Penggunaan Mata Uang Lokal ASEAN. Media Indonesia. http://www.mediaindonesia.com Towards the Asean Community: from Vision to Action. (2010, April 9). Chairmans Statement of the 16th ASEAN Summit, Ha Noi, Vietnam. http://www.aseansec.org/24509.htm Woo Kai-Yin. (1999). Cointegration Analysis of the Intensity of the ERM Currencies Under the European Monetary System. Journal of International Financial Markets, Institutions and Money, 9, 393-405.

Universitas Indonesia

57

LAMPIRAN

58

59

60

61

62

63

64

65

66

67

68

69

70

71

72

73

74

75

76

77

78

79

Lampiran 2 Lag optimum


VAR Lag Order Selection Criteria Endogenous variables: BND IDR KHR MMK MYR PHP SGD THB VND Exogenous variables: C Date: 12/06/10 Time: 17:52 Sample: 1999M07 2010M06 Included observations: 109 Lag 0 1 2 3 4 5 6 LogL 2599.488 3660.111 3741.482 3809.996 3875.281 3947.309 4037.560 LR NA 1926.635 134.3740* 101.8285 86.24843 83.26171 89.42287 FPE 1.84e-32 2.89e-40* 2.95e-40 3.99e-40 6.17e-40 9.37e-40 1.19e-39 AIC -47.53189 -65.50662 -65.51342* -65.28433 -64.99598 -64.83136 -65.00110 SC -47.30967 -63.28440* -61.29122 -59.06213 -56.77379 -54.60918 -52.77892 HQ -47.44177 -64.60543* -63.80116 -62.76100 -61.66159 -60.68589 -60.04456

* indicates lag order selected by the criterion LR: sequential modified LR test statistic (each test at 5% level) FPE: Final prediction error AIC: Akaike information criterion SC: Schwarz information criterion HQ: Hannan-Quinn information criterion

80

Lampiran 3 Uji kausalitas Granger


Pairwise Granger Causality Tests Date: 11/24/10 Time: 01:01 Sample: 1999M07 2010M06 Lags: 2 Null Hypothesis: IDR does not Granger Cause BND BND does not Granger Cause IDR KHR does not Granger Cause BND BND does not Granger Cause KHR MMK does not Granger Cause BND BND does not Granger Cause MMK MYR does not Granger Cause BND BND does not Granger Cause MYR PHP does not Granger Cause BND BND does not Granger Cause PHP SGD does not Granger Cause BND BND does not Granger Cause SGD THB does not Granger Cause BND BND does not Granger Cause THB VND does not Granger Cause BND BND does not Granger Cause VND KHR does not Granger Cause IDR IDR does not Granger Cause KHR MMK does not Granger Cause IDR IDR does not Granger Cause MMK MYR does not Granger Cause IDR IDR does not Granger Cause MYR PHP does not Granger Cause IDR IDR does not Granger Cause PHP SGD does not Granger Cause IDR IDR does not Granger Cause SGD THB does not Granger Cause IDR IDR does not Granger Cause THB VND does not Granger Cause IDR IDR does not Granger Cause VND MMK does not Granger Cause KHR KHR does not Granger Cause MMK MYR does not Granger Cause KHR KHR does not Granger Cause MYR Obs 122 F-Statistic 2.50371 2.36399 7.69571 0.87616 2.72431 1.55847 3.02721 0.00373 6.05533 2.41290 6.33555 4.21285 4.44911 5.31351 4.72407 1.23377 0.63002 1.99718 4.60863 5.31835 0.51921 1.45550 0.07163 2.42994 0.43870 2.66265 0.23267 5.17016 0.04907 7.46228 2.71889 1.44971 6.97821 3.07456 Prob. 0.0862 0.0985 0.0007 0.4191 0.0699 0.2150 0.0523 0.9963 0.0031 0.0940 0.0024 0.0171 0.0137 0.0062 0.0106 0.2950 0.5343 0.1400 0.0118 0.0061 0.5963 0.2372 0.9309 0.0922 0.6459 0.0737 0.7928 0.0070 0.9521 0.0009 0.0701 0.2388 0.0013 0.0497

122

117

122

122

122

122

122

130

123

130

130

130

130

130

123

130

81

Lampiran 3 Uji kausalitas Granger (lanjutan)


PHP does not Granger Cause KHR KHR does not Granger Cause PHP SGD does not Granger Cause KHR KHR does not Granger Cause SGD THB does not Granger Cause KHR KHR does not Granger Cause THB VND does not Granger Cause KHR KHR does not Granger Cause VND MYR does not Granger Cause MMK MMK does not Granger Cause MYR PHP does not Granger Cause MMK MMK does not Granger Cause PHP SGD does not Granger Cause MMK MMK does not Granger Cause SGD THB does not Granger Cause MMK MMK does not Granger Cause THB VND does not Granger Cause MMK MMK does not Granger Cause VND PHP does not Granger Cause MYR MYR does not Granger Cause PHP SGD does not Granger Cause MYR MYR does not Granger Cause SGD THB does not Granger Cause MYR MYR does not Granger Cause THB VND does not Granger Cause MYR MYR does not Granger Cause VND SGD does not Granger Cause PHP PHP does not Granger Cause SGD THB does not Granger Cause PHP PHP does not Granger Cause THB VND does not Granger Cause PHP PHP does not Granger Cause VND THB does not Granger Cause SGD SGD does not Granger Cause THB VND does not Granger Cause SGD SGD does not Granger Cause VND VND does not Granger Cause THB THB does not Granger Cause VND 130 8.31204 0.03553 3.11421 10.5578 8.13136 0.55583 6.80975 0.32128 0.82038 1.19927 1.13230 4.11731 0.11821 3.91503 1.02248 2.82604 0.34348 8.61990 4.68085 0.02507 0.54535 2.93379 5.00928 0.56821 1.25788 6.24408 0.35607 5.72908 4.34370 0.34793 0.80012 5.87173 6.05034 2.51406 3.15648 3.59465 0.52174 11.2829 0.0004 0.9651 0.0479 6.E-05 0.0005 0.5750 0.0016 0.7258 0.4428 0.3051 0.3258 0.0187 0.8886 0.0226 0.3629 0.0633 0.7100 0.0003 0.0110 0.9752 0.5810 0.0569 0.0081 0.5680 0.2878 0.0026 0.7011 0.0042 0.0150 0.7068 0.4516 0.0037 0.0031 0.0850 0.0460 0.0303 0.5948 3.E-05

130

130

130

123

123

123

123

123

130

130

130

130

130

130

130

130

130

130

Regresi nilai tukar riil bilateral + + + + + + + + + + MMK = MMK = MMK = MMK = SGD = SGD = SGD = SGD = SGD =

BND =

BND =

BND =

BND =

BND =

BND =

BND =

BND =

SGD =

0.141564111 (17.93245)*** -0.489586944 (-17.05375)*** -0.56405337 (-19.50867)*** -0.560530466 (-13.67954)*** -2.085549316 (-25.71627)*** -10.12388492 (-20.6247)*** -9.56741775 (-7.241608)*** -2.912981702 (-6.446224)*** -4.578731189 (-11.56564)***

+ 0.0700172705529*MMK (7.629099)*** + 1.23503844279*MYR (23.97197)*** + 0.448415522626*PHP (26.37678)*** + 0.479974385306*THB (18.52422)*** + 0.545047739437*VND (28.16108)*** + 2.75219243251*IDR (22.32137)*** + 2.899132443*KHR (7.871214)*** + 6.70674849465*MYR (8.290407)*** + 3.41795405042*THB (13.67168)***
Level signifikansi: *: 10%; **: 5%; ***: 1%

SGD =

-0.07283691 (-0.792159) -0.959554658 (-10.55281)*** 0.18935792 (28.10880)*** -0.181129375 (-5.752308)*** -0.215146545 (-6.247367)*** 0.090070557 (14.34336)*** -0.166937798 (-3.980756)*** -0.992042729 (-9.682481)*** -0.760007595 (-7.036435)*** -1.949105833 (-26.74745)***

0.0707495085347*IDR (3.060397)*** 0.325698896296*KHR (12.84696)*** 0.0239792988222*MMK (2.996358)*** 0.698738792719*MYR (12.38287)*** 0.248638536638*PHP (12.30930)*** 0.592247015036*SGD (19.05324)*** 0.237303403085*THB (8.957662)*** 0.286397753023*VND (11.71839)*** 0.24094265571*IDR (8.872166)*** 0.598994214062*KHR (29.46847)***

82

Regresi nilai tukar riil bilateral (lanjutan) + + + + + + + + + MYR = MYR = IDR = VND = VND = VND = THB = + + + + + + + THB = +

MMK =

MMK =

KHR =

KHR =

KHR =

KHR =

KHR =

THB =

0.239421198 (4.474883)*** -2.113543081 (-10.31014)*** 2.567925258 (13.94167)*** 3.107389341 (49.79778)*** 2.883781323 (61.21966)*** -0.169914617 (-2.202787)** 0.006634295 (-0.294483) 2.629408435 (18.35635)***

0.78906850922*PHP (25.08231)*** 0.881688810438*VND (18.02171)*** 0.407869524274*IDR (8.807139)*** 1.94396808419*MYR (17.35948)*** 0.768410340739*PHP (27.74314)*** 0.182756218148*IDR (9.423129)*** 0.323700840553*PHP (24.43671)*** 0.792580720191*PHP (9.410347)***
Level signifikansi: *: 10%; **: 5%; ***: 1%

THB =

-2.974283932 (-6.245020)*** -11.66082191 (-8.869356)*** 2.277388479 (12.68067)*** 2.536538938 (52.14321)*** 2.451490494 (44.89414)*** 2.525851246 (34.12864)*** 0.014797375 -0.120176 -0.686539248 (-4.927393)*** 0.419066513 (6.916848)***

2.23534189758*PHP (7.994514)*** 2.98007914328*VND (9.502078)*** 0.328756906158*IDR (7.280502)*** 1.88240215371*MYR (21.56263)*** 0.666720388431*PHP (20.76524)*** 0.669910977961*THB (13.47569)*** 0.852039804099*VND (28.99492)*** 0.570125080075*IDR (16.27433)*** 2.08597902066*MYR (19.18529)***

83

84

Lampiran 4 Uji kointegrasi bilateral Engle-Granger (lanjutan) Residual Kointegrasi bilateral


RESBNDSGD
.02 .04 .02 .00 .00 -.02 -.04 -.04 00 02 04 06 08 10 -.06 00 02 04 06 08 10

RESBNDMMK
.04 .02 .00 -.02 -.04 -.06 00

RESBNDKHR

-.02

02

04

06

08

10

RESBNDTHB
.04 .02 .00 -.02 -.04 00 02 04 06 08 10 .04 .02 .00 -.02 -.04 00

RESBNDVND
.04 .02 .00 -.02 -.04 02 04 06 08 10 00

RESBNDMYR

02

04

06

08

10

RESBNDIDR
.04 .02 .00 .00 -.02 -.04 -.06 00 02 04 06 08 10 -.02 -.04 00 .04 .02

RESBNDPHP
.04 .02 .00 -.02 -.04 -.06 02 04 06 08 10 00

RESIDSGDMMK

02

04

06

08

10

RESIDSGDKHR
.04 .02 .00 .00 -.02 -.04 00 02 04 06 08 10 -.02 -.04 00 .06 .04 .02

RESIDSGDTHB
.04 .02 .00 -.02 -.04 02 04 06 08 10 00

RESIDSGDVND

02

04

06

08

10

RESIDSGDMYR
.04 .02 .00 -.02 -.02 -.04 00 02 04 06 08 10 -.04 -.06 00 .04 .02 .00

RESIDSGDIDR
.04 .02 .00 -.02 -.04 02 04 06 08 10 00

RESIDSGDPHP

02

04

06

08

10

RESIDMMKKHR
.6 .4 .2 .2 .0 -.2 -.4 00 02 04 06 08 10 .0 -.2 00 .6 .4

RESIDMMKTHB
.6 .4 .2 .0 -.2 02 04 06 08 10 00

RESIDMMKVND

02

04

06

08

10

85

Lampiran 4 Uji kointegrasi bilateral Engle-Granger (lanjutan) Residual Kointegrasi bilateral (lanjutan)
RESIDMMKMYR
.4 .2 .0 -.2 -.4 00 02 04 06 08 10 .4 .2 .0 -.2 -.4 00 02 04 06 08 10

RESIDMMKIDR
.6 .4 .2 .0 -.2 00

RESIDMMKPHP

02

04

06

08

10

RESIDKHRTHB
.08 .04 .00 -.04 -.08 00 02 04 06 08 10 .04 .02 .00 -.02 -.04 00

RESIDKHRVND
.08 .04 .00 -.04 -.08 02 04 06 08 10 00

RESIDKHRMYR

02

04

06

08

10

RESIDKHRIDR
.10 .05 .00 -.05 -.10 00 02 04 06 08 10 .050 .025

RESIDKHRPHP
.05

RESIDTHBVND

.00 .000 -.05 -.025 -.050 00 02 04 06 08 10 -.10 00 02 04 06 08 10

RESIDTHBMYR
.08 .04 .00 -.04 -.08 00 02 04 06 08 10 .08 .04 .00 -.04 -.08 00

RESIDTHBIDR
.08 .04 .00 -.04 -.08 02 04 06 08 10 00

RESIDTHBPHP

02

04

06

08

10

RESIDVNDMYR
.05 .10 .05 .00 .00 -.05 -.05 -.10 00 02 04 06 08 10 -.10 00

RESIDVNDIDR
.04 .02 .00 -.02 -.04 -.06 02 04 06 08 10 00

RESIDVNDPHP

02

04

06

08

10

RESIDMYRIDR
.04 .02 .00 -.02 -.04 00 02 04 06 08 10 .04 .02

RESIDMYRPHP
.2

RESIDIDRPHP

.1 .00 .0 -.02 -.04 00 02 04 06 08 10 -.1 00 02 04 06 08 10

86

87

88

89

90

91

92

93

94

95

96

97

98

99