Anda di halaman 1dari 9

HUKUM ANAK ANGKAT DALAM ISLAM

Tujuan melaksanakan pernikahan adalah untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Keluarga atau rumah tangga minimal terdiri dari suami, isteri dan anak. Terkadang ada sebuah rumah tangga yang sudah lama terbangun tetapi tidak atau belum dikaruniai anak. Maka untuk menyalurkan rasa kebapakan dan keibuan, keluarga itu kemudian mengambil anak angkat atau mengadopsi anak orang lain dan dijadikan sebagai anak angkatnya. Ada perbedaan yang mendasar dalam pengangkatan anak menurut Burgerlijk Wetbok (BW) dan menurut Islam. Menurut BW, pengangkatan anak menjadikan putus hubungan sama sekali antara anak dengan orang tua kandungnya dan anak angkat itu masuk dalam keluarga orang tua angkatnya serta statusnya sama dengan anak kandung orang tua angkatnya. Ia menjadi anak dari orang tua angkatnya dan putus hubungan darah dengan orang tua kandungnya. Ia mendapat warisan sama dengan anak kandung orang tua angkatnya dan putus waris dengan orang tua kandungnya. Islam tidak membenarkan pengangkatan anak yang demikian. Islam melarang mengambil anak orang lain untuk diberi status anak kandung sehingga ia berhak memakai nasab orang tua angkatnya dan mewarisi harta peninggalannya dan hak-hak lainnya sebagai hubungan anak dengan orang tua. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Ahzab ayat 40 : Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang lakilaki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Sebagaimana kita ketahui sebelum nabi Muhammad diutus sebagai Rasulullah, dahulu ia mempunyai seorang anak angkat yaitu Zaid Bin Haritsah. Waktu itu karena anak angkat dihukumi sebagai anak kandung, maka Zaid itupun dipanggil oleh orang banyak dengan panggilan Zaid Bin Muhammad, sampai kemudian turun ayat diatas yang membatalkan anak angkat sebagai anak kandung, dan tetaplah Zaid dipanggil dengan Zaid Bin Haritsah. Sejak itu anak angkat tetap menjadi anak kandung orang tua biologisnya, hanya pemeliharaan dan biaya hidup sehari-harinya beralih kepada orang tua angkatnya. Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam pasal 171 huruf (h) mendefinisikan anak angkat sebagai anak yang dalam pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagainya beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan Pengadilan. Dengan definisi tersebut diatas perlu digaris bawahi bahwa hubungan hukum antara orang tua angkat dengan anak angkatnya tidak ada perobahan, tetap sama seperti sebelum pengangkatan anak, yang tidak mempengaruhi kemahraman dan kewarisan. Kemahraman dan kewarisan anak angkat tetap bersambung

dengan orang tua kandungnya. Sedang dengan orang tua angkat tetap sebagai orang lain, bila orang tua angkatnya itu bukan dari keluarga. Tidak dapat dipungkiri bahwa hubungan antara orang tua angkat dengan anak angkatnya atau sebaliknya sangat akrab seperti hubungan anak kandung dan orang tuanya. Antara orang tua angkat dengan anak angkatnya begitupun sebaliknya terjadi hubungan kasih sayang yang sedemikian rupa, saling bantu membantu dalam memenuhi kehidupan rumah tangga maupun kebutuhan ekonomi dan lain sebagainya, bahkan mungkin ada yang melebihi dari hubungan anak kandung dengan orang tuanya. Tetapi dalam hukum waris anak angkat tetaplah orang lain yang tidak termasuk ahli waris orang tua angkatnya. Demikian juga bagaimanapun dekatnya hubungan antara orang tua angkat dengan anak angkatnya, orang tua angkat tetaplah orang lain yang tidak ada hubungan waris dengan anak angkatnya. Karena tidak ada hubungan saling mewarisi antara orang tua angkat dengan anak angkatnya dan sebaliknya, maka dianjurkan antara orang tua angkat dengan anak angkatnya atau sebaliknya, untuk saling memberi hibah atau wasiat. Anak angkat dan orang tua angkat tidak mempunyai hubungan waris mewaris. Akan tetapi melihat kenyataan hubungan anak angkat dan orang tua angkat dan sebaliknya, sedemikian rupa seperti hubungan anak kandung dan orang tua kandung, dan hubungan semacam ini tidak dapat dipungkiri secara hukum, maka KHI mengapresiasi fakta yuridis tersebut dan menampungnya dalam pasal 209. Dinyatakan dalam pasal 209 ayat (1) Harta peninggalan anak angkat dibagi berdasarkan pasal 176 sampai dengan pasal 193 tersebut diatas, sedangkan terhadap orang tua angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan anak angkatnya. Pasal 209 ayat (2) Terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya. Makna wasiat wajibah adalah seseorang dianggap menurut hukum telah menerima wasiat meskipun tidak ada wasiat secara nyata. Anggapan hukum itu lahir dari asas apabila dalam suatu hal hukum telah menetapkan harus berwasiat, maka ada atau tidak ada wasiat dibuat, wasiat itu dianggap ada dengan sendirinya. Jadi, menurut hukum, anak angkat dan orang tua angkat mendapat wasiat wajibah apabila salah satunya meninggal dunia. Sekarang kita pertanyakan kalau anak tiri atau orang tua tiri meninggal dunia, mereka yang masih hidup mendapat apa? KHI dalam hal ini diam tidak dapat menjawab, karena memang tidak mengaturnya sama sekali.

Kalau dilihat hubungan antara orang tua tiri dengan anak tirinya atau sebaliknya anak tiri dengan orang tua tirinya, mungkin dapat disamakan dengan hubungan orang tua angkat dengan anak angkatnya atau sebaliknya. Bahkan lebih mesra lagi, lebih kuat lagi, karena salah satu dari orang tuanya adalah orang tua kandung. Kalau anak angkat dengan orang tua angkatnya, kedua orang tua angkat adalah orang lain semua, tetapi kalau anak tiri dan orang tua tiri, maka salah satu dari orang tua adalah orang tua kandung. Jadi lebih dekat lagi. Tetapi ketika KHI memberi wasiat wajibah bagi anak angkat dan orang tua angkat, maka kepada anak tiri dan orang tua tiri KHI tidak memberi apa-apa. Seyogyanya kepada orang tua tiri dan anak tiri, ketika salah satunya meninggal dunia, maka kepada yang masih hidup layak juga diberi wasiat wajibah, karena secara sosiologis, secara yuridis, hubungan anak tiri dan orang tua tiri menyatu sedemikian rupa seperti juga antara orang tua dengan anak kandungnya. Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullahu menjawab permasalahan yang seperti ini dengan pernyataan beliau, Dahulu di jaman jahiliah, orang-orang yang mengangkat anak memperlakukan anak angkat mereka seperti anak mereka yang hakiki atau seperti anak kandung dari segala sisi; dalam hal warisan, dalam hal bolehnya anak angkat tersebut berkhalwat (bersepi-sepi) dengan istri mereka, dan dianggapnya istri mereka sebagai mahram bagi anak angkat tersebut. Adalah Zaid bin Haritsah radhiyallahu anhu, maula Nabi shallallahu alaihi wa sallam, di masa sebelum beliau shallallahu alaihi wa sallam diangkat sebagai nabi, dipanggil dengan Zaid bin Muhammad (karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengangkatnya sebagai anak). Maka Allah Azza wa Jalla berkehendak untuk menghapuskan semua anggapan orang-orang jahiliah tersebut berkaitan dengan anak angkat. Datanglah syariat Islam dalam masalah anak angkat ini berikut hukum-hukumnya yang tegas sebagaimana tersebut berikut ini: 1. Menghapus dan melarang adanya anak angkat yang dianggap sebagai anak yang hakiki dalam segala sisi, berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla: Dan Allah sekali-kali tidak menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak kandung kalian sendiri. Yang demikian itu hanyalah perkataan kalian di mulut kalian saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan yang benar. Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah. Dan jika kalian tidak mengetahui bapak-bapak mereka maka panggillah mereka sebagai saudara-saudara kalian seagama dan maula-maula kalian. (Al-Ahzab: 4-5)

Dalam ayat-ayat di atas, Allah Azza wa Jalla menerangkan bahwa ucapan seseorang kepada anak orang lain dengan anakku tidaklah berarti anak tersebut menjadi anaknya yang sebenarnya yang dengannya ditetapkan hukum-hukum bunuwwah (anak dengan orangtua kandungnya). Bahkan tidaklah mungkin anak tersebut bisa menjadi anak kandung bagi selain ayahnya. Karena, seorang anak yang tercipta dari sulbi seorang lelaki tidaklah mungkin ia dianggap tercipta dari sulbi lelaki yang lain, sebagaimana tidak mungkinnya seseorang memiliki dua hati/jantung1. Dan Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita agar mengembalikan penasaban anak-anak angkat tersebut kepada ayah kandung mereka, bila memang diketahui siapa ayah kandung mereka. Bila tidak diketahui maka mereka adalah saudara-saudara kita seagama dan maula kita. Allah Subhanahu wa Taala beritakan bahwa yang demikian ini lebih adil di sisiNya. 2. Memutuskan dengan ayah angkatnya. Hal ini terkandung dalam ayat-ayat yang telah dibawakan di atas2. Juga disebutkan bahwa dalam perkara hubungan waris antara anak angkatanak angkat, Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat: Dan jika ada orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bagiannya3. (An-Nisa: 33) Ibnu Jarir rahimahullahu mengeluarkan riwayat dari Said ibnul Musayyab rahimahullahu yang menyatakan, Ayat ini hanyalah turun terhadap orang-orang yang dulunya menganggap anak pada selain anak kandung mereka dan mereka memberikan warisan terhadap anak-anak angkat tersebut. Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat dalam perkara mereka. Untuk anak-anak angkat, Allah Subhanahu wa Taala berikan bagian dari harta (orangtua/ayah angkat mereka) dalam bentuk wasiat4, sementara warisan dikembalikan kepada yang berhak dari kalangan dzawil arham5 dan ashabah6. Allah Azza wa Jalla meniadakan adanya hak waris dari orangtua angkat untuk anak angkat mereka, namun Allah Azza wa Jalla tetapkan adanya bagian harta untuk anak angkat tersebut dalam bentuk wasiat.7 3. Dihalalkannya mantan istri anak angkat (setelah perceraian keduanya) untuk dinikahi oleh ayah angkatnya. Hal ini tampak dengan Allah Azza wa Jalla menikahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan Zainab bintu Jahsy radhiyallahu anha setelah diceraikan oleh Zaid bin Haritsah radhiyallahu anhu yang dulunya merupakan anak angkat Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebelum

turunnya ayat-ayat yang melarang hal tersebut. Allah Azza wa Jalla menerangkan hikmah dari kejadian tersebut dengan firman-Nya: Kami nikahkan dia denganmu agar tidak ada keberatan bagi kaum mukminin untuk menikahi istri-istri anak angkat mereka apabila anak angkat tersebut telah menyelesaikan urusan dengan istri-istri mereka (telah bercerai). (Al-Ahzab: 37) Allah Azza wa Jalla berfirman dalam ayat yang menyebutkan tentang wanita-wanita yang haram dinikahi: dan istri-istri dari anak-anak kandung kalian. (An-Nisa: 23) Berarti dikecualikan dalam hukum pengharaman tersebut para istri anak-anak angkat (boleh dinikahi oleh ayah angkat suaminya bila mereka telah bercerai). 4. Keharusan istri ayah angkat untuk berhijab dari anak angkatnya, sebagaimana ditunjukkan dalam kisah Sahlah bintu Suhail istri Abu Hudzaifah radhiyallahu anhu, tatkala Sahlah datang menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu menyatakan, Wahai Rasulullah, kami dulunya menganggap Salim seperti anak kami sendiri. Sementara Allah telah menurunkan ayat tentang pengharaman anak angkat bila diperlakukan seperti anak kandung dalam segala sisi. Padahal Salim ini sudah biasa masuk menemuiku (tanpa hijab). Nabi shallallahu alaihi wasallam pun menetapkan kepada Sahlah ketidakbolehan ikhtilath dengan anak angkat setelah turunnya ayat Al-Quran tersebut. Jalan keluarnya, beliau menyuruh Sahlah agar memberikan air susunya kepada Salim, dengan lima susuan yang dengannya ia menjadi mahram bagi Salim (yakni sebagai ibu susu, pent.) 5. Ancaman yang ditekankan dan peringatan yang keras bagi orang yang menasabkan dirinya kepada selain ayah kandungnya. Dalam hal ini ada ayat Al-Quran yang di-mansukh (dihapus) bacaannya namun hukumnya tetap berlaku, yaitu: Dan janganlah kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian karena sungguh itu adalah kekufuran bila kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian.

Al-Imam Ahmad rahimahullahu meriwayatkan dari Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu, beliau berkata: : Kami dulunya membaca ayat: Dan janganlah kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian karena sungguh itu adalah kekufuran bila kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian. Dalam hadits yang shahih dinyatakan: Siapa yang mengaku-aku bernasab kepada selain ayahnya dalam keadaan ia tahu orang itu bukanlah ayah kandungnya maka surga haram baginya.8 Tersisa sekarang dua perkara dalam masalah menyebut anak pada selain anak kandung dan penasaban kepada selain ayah kandung. Kita akan sebutkan berikut ini: Pertama: Apabila seseorang memanggil seorang anak dengan panggilan/sebutan anakku (padahal bukan anaknya yang sebenarnya) untuk memuliakan dan menyatakan kecintaannya kepada si anak, hal ini tidaklah termasuk dalam larangan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, AnNasai, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ia berkata: : (Pada malam Muzdalifah) Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengedepankan kami anak-anak kecil dari Bani Abdil Muththalib (lebih awal meninggalkan tempat tersebut/tidak mabit, pent.) di atas keledaikeledai kami. Mulailah beliau memukul dengan perlahan paha-paha kami seraya berkata, Wahai anakanakku, janganlah kalian melempar jumrah sampai matahari terbit.9 Ini dalil yang jelas sekali, karena Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma ketika hajjatul wada (haji wada) berusia sepuluh tahun. Kedua: Orang yang sudah terlalu masyhur dengan sebutan yang mengandung penasaban kepada selain ayahnya, seperti Al-Miqdad ibnu Amr radhiyallahu anhu yang lebih masyhur dengan Al-Miqdad ibnul Aswad, di mana hampir-hampir ia tidak dikenal kecuali dengan penasaban kepada Al-Aswad ibnu Abdi Yaghuts yang di masa jahiliah mengangkatnya sebagai anak, maka ketika turun ayat yang melarang penasaban kepada selain ayah kandung, disebutlah Al-Miqdad dengan ibnu Amr. Namun penyebutannya

dengan Al-Miqdad ibnul Aswad terus berlanjut, semata-mata sebagai penyebutan bukan dengan maksud penasaban. Yang seperti ini tidak apa-apa sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qurthubi, dengan alasan yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu bahwa tidak pernah didengar dari orang terdahulu yang menganggap orang yang dipakaikan baginya sebutan tersebut telah berbuat maksiat.10. Wallahu taala alam bish-shawab. (Fatawa wa Rasail Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh, 9/21-25, sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al-Marah Al-Muslimah, hal. 889-891) Catatan kaki: 1 Awal ayat di atas berbunyi: Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua hati/jantung dalam rongganya. (Al-Ahzab: 4) 2 Allah Azza wa Jalla berfirman dalam ayat ke 6 surah Al-Ahzab: Dan orang-orang yang memiliki hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin (yang lain yang tidak punya hubungan darah) dan orang-orang Muhajirin. 3 Awal ayat ini adalah: Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. 4 Wasiat di sini tidak lebih dari 1/3 harta si mayit. 5 Dzawil arham adalah semua kerabat mayit yang tidak mendapat bagian fardh dan tashib dari harta warisan. Ahli waris terbagi dua: - Ada yang mendapat bagian warisan dengan fardh yaitu ia mendapat bagian yang tertentu kadarnya, seperti setengah atau seperempat.

- Ada yang mendapat bagian warisan dengan tashib yaitu kadarnya dari warisan tidak ada penentuannya.

6 Ashabah adalah kerabat mayit yang mendapat bagian dari harta warisan tanpa ada batasan tertentu, bahkan bila dia cuma sendirian, dia berhak mendapat semua harta si mayit. 7 Jamiul Bayan fi Tawilil Quran, 4/57. 8 HR. Al-Bukhari no. 4326 dan Muslim no. 217. 9 Dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu 10 Tafsir Al-Qurthubi, 14/80.

Sumber :
Majalah Asy Syariah vol. iv/no. 46/1429H, hal. 86-89 Nur Mujib (Ketua PA Tanjung Pinang) dalam Koran Peduli, tanggal 6 Juni 2012