Anda di halaman 1dari 81

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan hidayah-Nya, kami
dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Mitigasi Bencana (TG 5124) yang berjudul
“PERBANDINGAN MITIGASI BENCANA GEMPA BUMI DI BENUA EROPA, ASIA,
DAN AMERIKA (Studi Kasus : Prancis, Jepang, dan Equador). Tugas ini merupakan
salah satu bentuk usaha kami untuk dapat lebih memahami mengenai substansi
mata kuliah tersebut agar dapat kami aplikasikan di kemudian hari. Tugas tersebut
tentu dapat kami selesaikan dengan adanya bantuan dan dukungan dari berbagai
pihak, oleh karena itu kami bermaksud untuk mengucapkan apresiasi sebesar-
besarnya kepada :
a) Allah SWT.
b) Bapak Dr. A. Nanang T. Puspito, selaku dosen mata kuliah Mitigasi Bencana
yang selama satu semester ini telah banyak memberikan wawasan serta
pada akhirnya memberikan penugasan ini yang semakin membuat kami
memahami substansi dari mata kuliah tersebut.
c) Kedua orang tua kami, yang telah memungkinkan kami menempuh
pendidikan di ITB serta berbagai dukungan, baik materi maupun non materi.
d) Seluruh peserta mata kuliah Mitigasi Bencana, yang telah memerhatikan dan
memberikan masukan pada saat presentasi topik makalah kami ini
disampaikan.
e) Berbagai pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Besar harapan kami bahwa hasil makalah yang kami tulis ini dapat memberikan
tambahan wawasan bagi siapapun yang membacanya sehingga dapat bersama-
sama dengan kami mengkritisi kondisi negara kita (Indonesia) dalam meningkatkan
kapasitasnya dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi. Namun demikian,
kami juga sebelumnya ingin memohon maaf apabila di dalam makalah ini terdapat
kesalahan maupun kekurangan. Selamat membaca!

Bandung, 4 Januari, 2009

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Hlm
Kata Pengantar………………………………………………………………… i
Daftar Isi………………………………………………………………………… ii
Daftar Tabel……………………………………………………………………. iv
Daftar Gambar…………………………………………………………………. v
Abstrak………………………………………………………………………..... vi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang…………………………………………………………..... I–1
1.2 Tujuan dan Sasaran……………………………………………………… I–2
1.3 Ruang Lingkup……………………………………………………………. I–3
1.4 Metodologi Studi………………………………………………………….. I–4
1.5 Sistematika Penulisan……………………………………………………. I–6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Tinjauan Umum mengenai Bencana Alam, Gempa Bumi, dan
Manajemen Bencana…………………………………………………….. II – 1
2.2 Tinjauan Umum mengenai Mitigasi Gempa Bumi……………………... II – 6

BAB III PEMBAHASAN


3.1 Mitigasi Gempa Bumi di Kota Nice, Prancis……………………………. III – 1
3.1.1 Gambaran Umum Wilayah……………………………………...... III – 1
3.1.2 Teknik Mitigasi Bencana di Kota Nice, Prancis………………… III – 5
3.2 Mitigasi Gempa Bumi di Kota Kobe, Jepang…………………………… III – 13
3.2.1 Mitigasi Bencana di Jepang Secara Umum…………………….. III – 13
3.2.2 Gambaran Umum Kota Kobe…………………………………….. III – 15
3.2.3 Mitigasi Bencana di Kobe…………………………………………. III – 17
3.2.4 Kesiapan Setiap Level Pemerintahan dalam Menghadapi
Bencana di Kota Kobe…………………………………………….. III – 18
3.2.5 Implementasi Konsep Safety Oriented City…………………….. III – 20
3.2.6 Manajemen Bencana Kota Kobe………………………………… III – 24

ii
3.2.7 Riset Mengenai Gempa Bumi di Jepang………………………... III – 25
3.3 Mitigasi Gempa Bumi di Kota Quito, Equador…………………………. III – 29
3.3.1 Gambaran Umum Wilayah Kota Quito…………………………... III – 29
3.3.2 Kebijakan Pengelolaan Bencana (The Quito Earthquake Risk
Management)………………………………………………………. III – 35
3.3.3 Analisis Resiko Gempa Bumi Kota Quito di Masa yang Akan
Datang………………………………………………………………. III – 37
3.3.4 Teknis Mitigasi Bencana Struktural di Kota Quito……………… III – 43
3.3.5 Teknis Mitigasi Bencana Non Struktural di Kota Quito………… III – 44
3.3.6 Riset Ilmu Kebencanaan dan Teknologi di Kota Quito………… III – 46

BAB IV KESIMPULAN
4.1 Apresiasi dan Kritik IV – 1
4.1.1 Apresiasi dan Kritik Mitigasi Bencana di Kota Nice, Prancis….. IV – 1
4.1.2 Apresiasi dan Kritik Mitigasi Bencana di Kota Kobe, Jepang…. IV – 2
4.1.3 Apresiasi dan Kritik Mitigasi Bencana di Kota Quito, Equador.. IV – 3
4.2 Relevansi Studi untuk Mitigasi Gempa Bumi di Indonesia…………… IV – 7
4.2.1 Relevansi Studi dari Mitigasi Bencana Kota Nice, Prancis……. IV – 7
4.2.2 Relevansi Studi dari Mitigasi Bencana Kota Kobe, Jepang…… IV – 7
4.2.3 Relevansi Studi dari Mitigasi Bencana Kota Quito, Equador…. IV – 7

DAFTAR PUSTAKA

iii
DAFTAR TABEL

Hlm

Tabel 2.1 Scala Intensitas gempa MMI II – 3

Tabel 3.1 Sejarah Kejadian Gempa di Kota Nice, Prancis tahun 1300 – III – 4
1900

Tabel 4.1 Matriks Perbandingan Mitigasi Bencana di Prancis, Jepang, IV – 4


dan Equador

iv
DAFTAR GAMBAR

Hlm

Gambar 1.1 Peta Lokasi Negara/Kota Kasus I–4


Gambar 1.2 Kerangka Pemikiran Studi I–5

Gambar 2.1 Gambar Siklus Manajemen Bencana II – 5


Gambar 2.2 Tujuh Langkah Perencanaan Mitigasi Bencana II – 11

Gambar 3.1 Peta Prancis III – 1


Gambar 3.2 Peta Kawasan Perkotaan Nice III – 2
Gambar 3.3 Kota Kobe III – 16
Gambar 3.4 Gempa di Kobe III – 17
Gambar 3.5 Segitiga Kehidupan III – 26
Gambar 3.6 Peta Lokasi Quito III – 30
Gambar 3.7 Grafik Pertumbuhan Penduduk Kota Quito III – 30
Gambar 3.8 Peta Kerentanan Infrastruktur Listrik, Jalan, dan Air Bersih
di Kota Quito III – 33
Gambar 3.9 Foto Marsical Sucre International Airport III – 34
Gambar 3.10 Peta Lokasi Kemungkinan Gempa Bumi di Kota Quito III – 38
Gambar 3.11 Perbandingan Intesitas Gempa di Setiap Zona Kota Quito
Akibat Ketiga Jenis Gempa Bumi III – 40
Gambar 3.12 Peta Sebaran Jenis Kelompok Bangunan di Kota Quito III – 41
Gambar 3.13 Peta Sebaran Kerusakan Bangunan akibat Gempa Lokal III – 42

v
ABSTRAK

Bencana alam merupakan suatu interaksi antara kejadian/fenomena alam yang


membahayakan (hazard) dengan kerentanan (vulnerability) serta kapasitas
(capacity) masyarakat di lokasi kejadian. Paradigma pengelolaan bencana dari waktu
ke waktu semakin menyadari bahwa pengelolaan bukan hanya pada saat pasca
kejadian, melainkan pengelolaan sebelum kejadian dalam bentuk meminimasi resiko
kejadian serta dampak kerusakan (mitigasi). Gempa bumi sebagai salah satu jenis
bencana alam memiliki karakteristik yang sangat tidak diduga dan belum dapat
diprediksi kapan dan dimana kejadian berikutnya akan terjadi. Hal ini bahkan telah
membuat beberapa kalangan seismolog menyatakan bahwa ilmu kegempaan pun
telah mulai mengakui kerumitan gempa yang luar biasa (Jackson, 2006). Dengan
demikian mitigasi bencana alam gempa bumi sangat patut dilaksanakan di berbagai
negara serta kota yang memiliki ancaman bencana tersebut.

Bentuk-bentuk mitigasi bencana alam gempa bumi pada akhirnya diterapkan sesuai
dengan karakteristik potensi gempa, kerentanan, serta kapasitas masing-masing
lokasi. Teori Lempeng sebagai salah satu teori terbaru mengenai penyebab gempa
bumi dan pencanangan Dekade 90’an sebagai Dekade Pengurangan Resiko
Bencana oleh PBB, sangat mendorong berbagai dialektika dan kerjasama
internasional dalam mengurangi resiko bencana gempa bumi. Pembelajaran teknis
mitigasi gempa bumi antar suatu kota maupun antar negara merupakan salah satu
langkah yang cukup efisien dalam menyiapkan mitigasi bencana gempa bumi.

Kata kunci : Bencana alam, gempa bumi, mitigasi bencana

vi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bencana alam merupakan suatu kejadian yang tidak akan pernah dapat dilepaskan
dengan kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat. Telah cukup
banyak riwayat kejadian bencana alam yang terekam dan dari informasi tersebut kita
dapat melihat bahwa dimanapun dan kapanpun sebenarnya terdapat potensi akan
suatu bencana alam. UU 24/2007 mengenai Penanggulangan Bencana
mendefinisikan terminilogi “bencana alam” sebagai “bencana yang diakibatkan oleh
peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa
gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah
longsor”. Pada dasarnya pada keadaan tertentu kejadian/fenomena alam merupakan
satu proses alamiah di muka bumi, dikatakan bencana ketika menimbulkan kerugian.
Bencana merupakan interaksi dari bahaya alam yang umumnya terjadi dari kejadian
alam yang tidak terduga dan tiba-tiba dengan keadaan rentan (vulnerable conditions)
yang berakibat pada kerusakan/kerugian terhadap manusia dan lingkungannya (El-
Masri dan Tipple dalam Awotona, 1997:3).

Tulisan ini membahas lebih mendalam mengenai bencana alam gempa bumi.
Gempa bumi merupakan pergerakan bumi secara mendadak yang disebabkan oleh
pelepasan kekuatan yang terakumulasi lama. Berdasarkan penyebabnya gempa
dikelompokkan menjadi gempa tektonik dan gempa vulkanik. Teori Lempeng
Tektonik menjelaskan bumi terdiri atas lempengan-lempengan yang terus bergerak.
Pergerakan lempeng dapat berupa pemisahan, tabrakan, maupun gesekan; akibat
gerakan tersebut menimbulkan tekanan yang dalam tingkatan tertentu akan
melepaskan energi tertahan yang memecahkan batuan dan menciptakan retakan
(sesar). Pelepasan energi secara mendadak akan menimbulkan getaran (kemudian
merambat menjadi gelombang) yang mengguncangkan tanah, secara teoritis
rangkaian tersebutlah yang disebut dengan gempa bumi. Adapun pada kasus gempa
vulkanik, pelepasan energi ditimbulkan oleh getaran yang dihasilkan oleh aktivitas
vulkanik gunung api.

I-1
Bencana gempa bumi sampai dengan saat ini merupakan salah satu bencana yang
paling sulit untuk dicegah. Masalah yang pokok terkait gempa ialah ia enggan
muncul dalam patokan waktu manusia (Achenbach, 2006). Kejadian gempa San
Fransisco (1906) merupakan pemicu tumbuh berkembangnya ilmu kegempaan;
namun demikian sampai dengan saat ini manusia belum dapat mencapai tahapan
mampu memprediksi kapan dan dimana akan terjadi gempa. Ilmu kegempaan pun
telah mulai mengakui kerumitan gempa yang luar biasa (Jackson, 2006).

Karakteristik dan perkembangan ilmu kegempaan modern yang masih tergolong


muda menyebabkan tindakan pencegahan terhadap gempa hampir mustahil, bahkan
di antara seismolog pun masih memperdebatkan apakah gempa bumi benar-benar
diprediksi atau tidak. Pada akhirnya dekade 90’an dicanangkan sebagai dekade
pengurangan resiko bencana (United Nation-International Strategy for Disaster
Reduction). Dalam hal ini sangat ditekankan pula pada usaha mitigasi bencana
(pengurangan resiko) gempa bumi di seluruh dunia.

Dalam pencatatan riwayat kegempaan, terlihat bahwa seluruh benua rentan atas
terjadinya gempa bumi. Hal ini sangat mendorong kerjasama di tingkat lokal sampai
dengan internasional untuk mengurangi resiko bencana gempa bumi di berbagai
negara. Penerbitan Resolusi PBB No.63/1999, Hyogo Framework for Action, serta
Beijing Action merupakan sedikit dari sekian banyak usaha pengurangan resiko ini.
Pada akhirnya kerjasama antar negara serta aspek pembelajaran antar negara
dalam hal mitigasi bencana gempa bumi menjadi sangat penting.

1.2 Tujuan dan Sasaran


Makalah ini memiliki tujuan studi untuk “Menemukenali perbandingan kegiatan
mitigasi bencana alam gempa bumi di Prancis, Jepang, dan Equador serta
memberikan tinjauan kritis terhadapnya bagi relevansi kegiatan serupa di Indonesia”.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka terdapat sasaran studi sebagai berikut :
a. Memberikan gambaran umum mengenai bencana gempa bumi dan mitigasi
bencana gempa bumi.
b. Memberikan gambaran umum kegiatan mitigasi bencana di Prancis, Jepang, dan
Equador
I-2
c. Menemukenali perbandingan antar kegiatan mitigasi di Prancis, Jepang, dan
Equador
d. Memberikan tinjauan kritis atas hasil temuan dan relevansi bagi kegiatan mitigasi
bencana bumi di Indonesia

1.3 Ruang Lingkup


Batasan studi pada makalah ini didefinisikan melalui penentuan ruang lingkup
wilayah serta ruang lingkup materi yang dibahas. Ruang lingkup wilayah dibatasi
dengan pemilihan studi kasus mitigasi bencana gempa bumi pada satu negara di
setiap benua Amerika, Asia, dan Eropa. Berikut ialah negara-negara yang menjadi
contoh kasus untuk mewakili benua masing-masing :
1) Negara Prancis, mewakili Benua Eropa. Secara spesifik akan
memperlihatkan mitigasi bencana gempa bumi di Kota Nice; terletak pada
pertemuan Lempeng Eurasia dan Lempeng Afrika.
2) Negara Jepang, mewakili Benua Asia. Secara spesifik akan memperlihatkan
mitigasi bencana gempa bumi di Kota Kobe; terletak pada pertemuan
Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Filipina.
3) Negara Equador, mewakili Benua Amerika. Secara spesifik akan
memperlihatkan mitigasi bencana gempa bumi di Kota Quito; terletak pada
pertemuan Lempeng Nazca dan Lempeng Amerika Selatan.

Dari aspek materi, maka lingkup bahasan akan difokuskan pada bencana alam
gempa bumi (sebagai salah satu jenis bencana alam). Sebagai bencana alam, maka
gempa bumi pada setiap kasus tetap akan dibedah dari sisi potensi bahaya (hazard),
kerentanan (vulnerability), dan kapasitas (capacity). Adapun bahasan mengenai
manajemen/pengelolaan bencana akan dijelaskan secara umum, dengan bahasa
spesifik pada tingkatan mitigasi (pengurangan resiko bencana). Bahasan mitigasi
bencana pada setiap kasus akan didefinisikan dari sudut pandang teknis dan non
teknis; jenis mitigasi struktural maupun non struktural; serta dari aspek riset ilmu
pengetahuan dan teknologi.

I-3
Gambar 1.1 Peta Lokasi Negara/Kota Kasus

1.4 Metodologi Studi


Metodologi studi yang dilakukan dalam studi ini ialah metodologi penelitian kualitatif
dengan fokus pada beberapa aspek mitigasi bencana yang diperhatikan; yakni aspek
teknis/non-teknis,
teknis, jenis mitigasi struktural/non struktural, serta perkembangan riset
dan
n teknologi. Sebagai pendahuluan akan digambarkan untuk setiap sample kasus
potensi bahaya gempa bumi (hazard),
( kerentanan (vulnerability
vulnerability), dan kapasitas
(capacity).

Kegiatan studi didominasi melalui Desk Study terhadap kajian teoritis terkait lingkup
materi, gambaran umum wilayah negara/kota sample,, hasil riset, kebijakan, serta
implementasi teknis mitigasi bencana di setiap negara/kota sample. Dengan
demikian pada dasarnya pengumpulan data/informasi dilakukan melalui su
survey
sekunder memanfaatkan berbagai publikasi baik secara cetak maupun digital.

I-4
Gambar 1.2 Kerangka Pemikiran Studi

I-5
1.5 Sistematika Penulisan
Berikut ialah sistematika penulisan makalah serta gambaran umum bahasan pada
setiap bab :

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi uraian latar belakang dilakukannya studi, tujuan dan sasaran studi,
ruang lingkup serta metodologi studi, dan ditutup dengan uraian sistematika
penulisan hasil studi. Melalui bab ini maka dapat dilihat gambaran umum studi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Bab ini berisi uraian singkat dari hasil studi literatur terhadap berbagai teori dan
pustaka mengenai lingkup materi yang dibahas dalam studi. Dalam hal ini akan
diuraikan mengenai bencana alam, gempa bumi, manajemen/pengelolaan bencana,
dan mitigasi bencana. Uraian pada bab ini merupakan landasan dalam membahas
serta memberikan tinjauan kritis atas berbagai aspek mitigasi di Negara/Kota kasus.

BAB III PEMBAHASAN


Bab ini berisi uraian atas temuan pada berbagai aspek dalam mitigasi bencana
gempa bumi di Negara/Kota kasus. Bab ini dibagi berdasarkan masing-masing
kasus, serta pada setiap kasus dibahas menurut aspek yang telah ditentukan
sebelumnya. Temuan pada bab ini merupakan dasar dalam menyimpulkan tujuan
studi.

BAB IV PENUTUP
Bab ini merupakan bagian penutup studi yang berisi atas kesimpulan berupa
apresiasi serta kritik terhadap temuan mitigasi bencana gempa bumi di setiap
Negara/Kota kasus yang kemudian saling dibandingkan di dalam suatu matriks.
Uraian tersebut kemudian dikritisi serta diberikan relevansinya terhadap kegiatan
mitigasi bencana gempa bumi di Indonesia.

I-6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum mengenai Bencana Alam, Gempa Bumi, dan Manajemen
Bencana
Gempa bumi adalah gejala alam,berupa sentakan alamiah yang terjadi di bumi, yang
bersumber di dalam bumi dan merambat ke permukaan. Gempa adalah salah satu
bencana alam yang dapat diramalkan. Ada tiga kelompok pembagian gempa bumi
yang lazim kita kenal. Pertama gempa tektonik, yaitu yang berkaitan erat dengan
pembentukan patahan (fault), sebagai akibat langsung dari tumbukan antar lempeng
pembentuk kulit bumi. Gempa ini merupakan gempa yang umumnya berkekuatan
lebih dari 5 skala Richter. Gempa vulkanik, yaitu gempa berkaitan dengan aktivitas
gunung api. Gempa ini merupakan gempa mikro sampai menengah, gempa ini
umumnya berkekuatan kurang dari 4 skala Richter. Ketiga, terban yang muncul
akibat longsoran / terban dan merupakan gempa kecil. Kekuatan gempa mungkin
sangat kecil sehingga yang muncul tidak terasa, berupa tremor dan hanya terdeteksi
oleh seismograf.

Secara umum, gempa bumi merupakan gerakan tiba-tiba yang akibat pelepasan
yang terakumulasi akibat tumbukan lempeng / kulit bumi, pergeseran sesar, aktivitas
gunung api atau yang lain. Titik pelepasan sebagai sumber energi,melepaskan
energi membentuk gelombang ke segala arah, termasuk ke permukaan. Teori yang
dapat digunakan sebagai pendekatan untuk mengetahui penyebab kejadian gempa
tektinik adalah menerapkan Teori bingkas Elastik (Elastic Rebound Theory) dan
Teori Tektonik Lempeng (Plate Tectonic Theory). Teori Bingkas Elastik menjelaskan
proses pelepasan energi dalam bentuk getaran. Pada Teori Bingkas Elastik,fase
pertama dimulai dari bekerjanya gaya dari dua arah mulai bekerja terjasi penahanan
oleh kohesi maupun adhesi batuan (bahan). Fase kedua terjadi sampai pelenturan
maksimal dan terjadi akumulasi pada batas batuan. Fase ketiga, terjadi patahan
pada daya tahan batuan mencapai maksimal namun gaya yang masih berlangsung.
Fase ketiga segera diikuti fase keempat berupa fase pelepasan energi. Pada fase
terakhir batuan yang melengkung kembali ke posisi semula dengan oleh pelepasan
energi gelombang ke segala arah, dalam gelombang tranversal maupun gelombang
longitudinal.
II-1
Teori Tektonik Lempeng diterapkan untuk menjelaskan gaya tektonik regional yang
bekerja disuatu kawasan. Untuk Indonesia, tektonik regionalnya sangat dipengaruhi
oleh keberadaan Lempeng Hindia-Australia di sebelah Selatan, Lempeng di sebelah
Utara Barat, Lempeng Filipina di sebelah timur, serta Lempeng Pasific disebelah
timur, yang masing-masing bergerak mendekat dengan kecepatan 8 km / tahun
samapai 12 km / tahun.

Pada peristiwa gempa, biasanya diikuti dengan gempa susulan yang muncul.
Menurut K. Mogi, ahli Seismologi jepang akan menyertai gempa utama. Umumnya
tidak akan lebih dari gempa utama namun terjadi berulang-ulang. Pusat gempa
susulan dapat berada disekitar maupun jauh dari gempa utama. Pada kasus-kasus
tertentu gempa susulan akan relative lebih besar dengan gempa utama. Hal ini
terajadi jika gempa utama justru berfungsi sebagai pemicu munculnya gempa ikutan.
Gempa ikutan tersebut mungkin muncul kuat jika kawasan yang telah mengalami
akumulasi energi maksimal.

Kekuatan gempa
Untuk mengetahui kekuatan gempa dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu
dengan mengukur energi yang dilepaskan dan mengukur akibat yang ditimbulkan
oleh gempa tersebut.

Pengenalan kekuatan cara pertama gempa bersifat kuantitatif,dilakukan pengukuran


dengan skala Richter yang umumnya dikenal sebagai pengukuran magnetudo
gempa bumi. Magnetudo gempa bumi adalah ukuran mutlak yang dikeluarkan oleh
pudat gempa. Pendapat ini pertama kali dikemukakan oleh Richter, dengan
amplitude antara 0 sampai 9. Selama ini gempa terbesar tercatat sebesar 8,9 skala
Richter terjasi di Columbia tahun 1906

Pengenalan kekuatan cara kedua bersifat kualitatif, melihat besarnya kerusakan


yang diakibatkan oleh gempa. Kerusakan tersebut dapat dikatakan sebagai
intensitas gempa bumi. Pada kerusakan yang sama dapat ditarik dalam satu
kesamaan kerusakan sebagai satu isoseisme. Selanjutnya, daerah-daerah memiliki
kesamaan kerusakan dipetakan dan buat peta isoseisme. Suatu peta isoseisme
selalu terdiri oleh garis-garis yang tertutup (kontur). Bagian pusat dari garis-garis
II-2
melingkar disebut episentrum gempa bumi. Intensitas ini merupakan akibat
maksimun, karena kerusakan yang diderita merupakan kerusakan maksimum.
Tentunya intensitas maksimum ini tergantung dari besarnya energi yang dilepas oleh
gempa bumi.

Intensitas gempa nampaknya lebih penting bagi manusia menyangkut rusaknya


bentukanbentukan fisik yang dibuat oleh manusia. Di Indonesia digunakan skala
intensitas MMI (Modified Mercarlli Intensity) versi tahun 1931. Di bawah ini
merupakan perbandingan intensitas skala MMI dari nilai 1 hingga 12.

Tabel 1.1 Skala Intensitas gempa MMI


Skala MMI Deskripsi
1 Dapat dirasakan oleh beberapa orang saja.
2 Dapat dirasakan oleh berapa orang. Benda-benda yang digantung
dapat bergerak.
3 Dirasakan lebih keras. Kendaraan atau benda lain yang berhenti
dapat bergerak.
4 Dirasakan lebih keras baik didalam bangunan atau diluar. Jendela
dan pintu mulai bergetar.
5 Dirasakan hamper oleh semua orang. Pigura di dinding mulai
berjatuhanjendela kaca pecah.
6 Dirasakan oleh semua orang. Orang mulai ketakutan. Kerusakan
mulai nampak.
7 Setiap orang mulai lari ke luar. Bisa dirasakan di dalam kendaraan
yang bergerak.
8 Sudah membahayakan bagi setiap orang. Bangunan lunak mulai
runtuh.
9 Mulai dengan kepanikan. Sudah ada kerusakan yang berarti bagi
semua bangunan.
10 Kepanikan lebih hebat.hanya gedung-gedung kuat dapat bertahan
Terjadi arah longsor dan rekahan.
11 Lebih panih lagi. Hanya beberapa bangunan bertahan.Jembatan
rusak.

II-3
12 Kerusakan total. Gelombang terlihat ditanah. Benda-benda
berterbangan.
Sumber : Makalah Modul Manajemen Bencana Seputar Beberapa Bencana di Indonesia

Manajemen Bencana
Banyaknya peristiwa bencana yang terjadi dan menimbulkan korban jiwa serta
kerugian harta benda yang besar baik di Jawa Barat maupun di Indonesia, telah
membuka mata kita bersama bahwa manajemen bencana di negara kita masih
sangat jauh dari yang kita harapkan. Selama ini, manajemen bencana dianggap
bukan prioritas dan hanya datang sewaktu-waktu saja, padahal kita hidup di wilayah
yang rawan terhadap ancaman bencana. Oleh karena itu pemahaman tentang
manajemen bencana perlu dimengerti dan dikuasai oleh seluruh kalangan, baik
pemerintah, masyarakat, maupun swasta.

Manajemen bencana merupakan seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan


dan penanggulangan bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana
yang dikenal sebagai Siklus Manajemen Bencana (seperti terlihat dalam Gambar
Siklus Manajemen Bencana), yang bertujuan untuk (1) mencegah kehilangan jiwa;
(2) mengurangi penderitaan manusia; (3) memberi informasi masyarakat dan pihak
berwenang mengenai risiko, serta (4) mengurangi kerusakan infrastruktur utama,
harta benda dan kehilangan sumber ekonomis.

Secara umum kegiatan manajemen bencana dapat dibagi dalam kedalam tiga
kegiatan utama, yaitu:
1. Kegiatan pra bencana yang mencakup kegiatan pencegahan, mitigasi,
kesiapsiagaan, serta peringatan dini;
2. Kegiatan saat terjadi bencana yang mencakup kegiatan tanggap darurat untuk
meringankan penderitaan sementara, seperti kegiatan search and rescue
(SAR), bantuan darurat dan pengungsian;
3. Kegiatan pasca bencana yang mencakup kegiatan pemulihan, rehabilitasi, dan
rekonstruksi.

II-4
Gambar 2.1
Gambar Siklus Manajemen Bencana

Sumber : Makalah Manajemen dan Mitigasi Bencana, Ir. Agus Rachmat

Kegiatan pada tahap pra bencana ini selama ini banyak dilupakan, padahal justru
kegiatan pada tahap pra bencana ini sangatlah penting karena apa yang sudah
dipersiapkan pada tahap ini merupakan modal dalam menghadapi bencana dan
pasca bencana. Sedikit sekali pemerintah bersama masyarakat maupun swasta
memikirkan tentang langkah-langkah
langkah atau kegiatan-kegiatan
kegiatan apa yang p
perlu
dilakukan didalam menghadapi bencana atau bagaimana memperkecil dampak
bencana.

Kegiatan saat terjadi bencana yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana,
untukmenanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan
korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian, akan mendapatkan perhatian
penuh baik dari pemerintah bersama swasta maupun masyarakatnya. Pada saat
terjadinya bencana biasanya begitu banyak pihak yang menaruh perhatian dan
mengulurkan tangan memberikan bantuan tenaga, moril
moril maupun material.
Banyaknya bantuan yang datang sebenarnya merupakan sebuah keuntungan yang
harus dikelola dengan baik, agar setiap bantuan yang masuk dapat tepat guna, tepat
sasaran, tepat manfaat, dan terjadi efisiensi.

II-5
Kegiatan pada tahap pasca bencana, terjadi proses perbaikan kondisi masyarakat
yang terkena bencana, dengan memfungsikan kembali prasarana dan sarana pada
keadaan semula. Pada tahap ini yang perlu diperhatikan adalah bahwa rehabilitasi
dan rekonstruksi yang akan dilaksanakan harus memenuhi kaidah-kaidah
kebencanaan serta tidak hanya melakukan rehabilitasi fisik saja, tetapi juga perlu
diperhatikan juga rehabilitasi psikis yang terjadi seperti ketakutan, trauma atau
depresi.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa titik lemah dalam Siklus Manajemen Bencana
adalah pada tahapan sebelum/pra bencana, sehingga hal inilah yang perlu diperbaiki
dan ditingkatkan untuk menghindari atau meminimalisasi dampak bencana yang
terjadi.

2.2 Tinjauan Umum mengenai Mitigasi Gempa Bumi


Mitigasi bencana adalah “serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik
melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan
menghadapi ancaman bencana” (UU 24/2007). Konsep mitigasi bencana merupakan
suatu usaha untuk mengubah paradigma penanggulangan bencana yang
sebelumnya lebih banyak menekankan diri pada tindakan pasca terjadinya bencana.

Kegiatan-kegiatan pada tahap pra bencana erat kaitannya dengan istilah mitigasi
bencana yang merupakan upaya untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan
oleh bencana. Mitigasi bencana mencakup baik perencanaan dan pelaksanaan
tindakan-tindakan untuk mengurangi resiko-resiko dampak dari suatu bencana yang
dilakukan sebelum bencana itu terjadi, termasuk kesiapan dan tindakan-tindakan
pengurangan resiko jangka panjang.

Usaha untuk menyebarkan paradigma ini mulai banyak dilakukan sejak awal tahun
1900-an. Berbagai kegiatan dan penelitian menyangkut hal tersebut banyak
dilakukan oleh PBB maupun negara-negara lain. Salah satu siklus pengelolaan
bencana yang cukup komprehensif diperkenalkan oleh Carter (1991), terdiri atas :
Kejadian bencana (impact)  Response  Pemulihan (recovery)  Pembangunan
(development)  Pencegahan (preventioni)  Mitigasi  Kesiapan (preparedness)
 Kejadian bencana (impact).
II-6
Adapun di dalam siklus keseluruhan penanggulangan bencana di Indonesia, maka
kegiatan mitigasi bencana merupakan salah satu kegiatan pada tahap pra bencana.
Dalam tahap pra bencana, kegiatan-kegiatan penyelenggaran penanggulangan
bencana dilakukan baik dalam situasi tidak terjadi bencana maupun dalam situasi
terdapat potensi bencana. Berbagai kegiatan pada tahap pra bencana ketika
terdapat situasi tidak terjadi bencana dilakukan melalui : perencanaan
penanggulangan bencana, pengurangan resiko bencana, pencegahan, pemaduan
dalam perencanaan pembangunan, persyaratan analisis resiko bencana,
pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang, pendidikan dan pelatihan, dan
persyaratan standar teknis penanggulangan bencana. Adapun kegiatan-kegiatan
ketika terdapat situasi potensi terjadi bencana meliputi kegiatan kesigapan,
peringatan dini, dan mitigasi bencana.

Kegiatan mitigasi dilakukan untuk mengurangi resiko bencana bagi masyarakat yang
berada pada kawasan rawan bencana. Mitigasi bencana dilakukan dengan
pelaksanaan penataan ruang; pengaturan pembangunan, pembangunan
infrastruktur; dan penyelenggaraan pendidikan, penyuluhan, dan pelatihan baik
secara konvensional maupun modern.

Secara umum, praktik mitigasi bencana dikelompokkan menjadi dua jenis; yakni
mitigasi struktural dan mitigasi non struktural. Mitigasi struktural berhubungan
dengan usaha-usaha pembangunan konstruksi fisik yang dapat mengurangi resiko
atas terjadinya bencana. Sementara mitigasi non struktural lebih kepada penyadaran
untuk menjaga lingkungan (seperti perencanaan guna lahan dan pemberlakukan
peraturan) dan peningkatan kemampuan mengahadapi bencana.

Upaya mitigasi struktural dapat dilakuka dengan memperkuat bangunan dan


infrastruktur yang berpotensi terkena bencana, seperti membuat kode bangunan,
desain rekayasa, dan konstruksi untuk menahan serta memperkokoh struktur
ataupun membangun struktur bangunan penahan longsor, penahan dinding pantai,
dan lain-lain.

II-7
Untuk mitigasi juga dapat dilakukan dalam bentuk non struktural, diantaranya seperti
menghindari wilayah bencana dengan cara membangun menjauhi lokasi bencana
yang dapat diketahui melalui perencanaan tata ruang dan wilayah serta dengan
memberdayakan masyarakat dan pemerintah daerah.

Mitigasi Bencana yang Efektif


Mitigasi bencana yang efektif harus memiliki tiga unsur utama, yaitu penilaian
bahaya, peringatan dan persiapan.
1. Penilaian bahaya (hazard assestment); diperlukan untuk mengidentifikasi populasi
dan aset yang terancam, serta tingkat ancaman. Penilaian ini memerlukan
pengetahuan tentang karakteristik sumber bencana, probabilitas kejadian
bencana, serta data kejadian bencana di masa lalu. Tahapan ini menghasilkan
Peta Potensi Bencana yang sangat penting untuk merancang kedua unsur
mitigasi lainnya;
2. Peringatan (warning); diperlukan untuk memberi peringatan kepada masyarakat
tentang bencana yang akan mengancam (seperti bahaya tsunami yang
diakibatkan oleh gempa bumi, aliran lahar akibat letusan gunung berapi, dsb).
Sistem peringatan didasarkan pada data bencana yang terjadi sebagai peringatan
dini serta menggunakan berbagai saluran komunikasi untuk memberikan pesan
kepada pihak yang berwenang maupun masyarakat. Peringatan terhadap
bencana yang akan mengancam harus dapat dilakukan secara cepat, tepat dan
dipercaya.
3. Persiapan (preparedness). Kegiatan kategori ini tergantung kepada unsur mitigasi
sebelumnya (penilaian bahaya dan peringatan), yang membutuhkan pengetahuan
tentang daerah yang kemungkinan terkena bencana dan pengetahuan tentang
sistem peringatan untuk mengetahui kapan harus melakukan evakuasi dan kapan
saatnya kembali ketika situasi telah aman. Tingkat kepedulian masyarakat dan
pemerintah daerah dan pemahamannya sangat penting pada tahapan ini untuk
dapat menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi dampak
akibat bencana. Selain itu jenis persiapan lainnya adalah perencanaan tata ruang
yang menempatkan lokasi fasilitas umum dan fasilitas sosial di luar zona bahaya
bencana (mitigasi non struktur), serta usaha-usaha keteknikan untuk membangun
struktur yang aman terhadap bencana dan melindungi struktur akan bencana
(mitigasi struktur).
II-8
Mitigasi Bencana Berbasis Masyarakat
Penguatan kelembagaan, baik pemerintah, masyarakat, maupun swasta merupakan
faktor kunci dalam upaya mitigasi bencana. Penguatan kelembagaan dalam bentuk
dalam kesiapsiagaan, sistem peringatan dini, tindakan gawat darurat, manajemen
barak dan evakuasi bencana bertujuan mewujudkan masyarakat yang berdaya
sehingga dapat meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana.

Perwujudan Masyarakat atau komunitas yang berdaya dalam menghadapi bencana


dapat diwujudkan melalui Siklus Pengurangan Risiko Berbasis
Masyarakat/Komunitas. Sementara itu upaya untuk memperkuat pemerintah daerah
dalam kegiatan sebelum/pra bencana dapat dilakukan melalui perkuatan
unit/lembaga yang telah ada dan pelatihan kepada aparatnya serta melakukan
koordinasi dengan lembaga antar daerah maupun dengan tingkat nasional,
mengingat bencana tidak mengenal wilayah administrasi, sehingga setiap
daerahnmemiliki rencana penanggulangan bencana yang potensial di wilayahnya.

Hal yang perlu dipersiapkan, diperhatikan dan dilakukan bersama-sama oleh


pemerintahan, swasta maupun masyarakat dalam mitigasi bencana, antara lain:
1. Kebijakan yang mengatur tentang pengelolaan kebencanaan atau mendukung
usaha preventif kebencanaan seperti kebijakan tataguna tanah agar tidak
membangun di lokasi yang rawan bencana;
2. Kelembagaan pemerintah yang menangani kebencanaan, yang kegiatannya
mulai dari identifikasi daerah rawan bencana, penghitungan perkiraan dampak
yang ditimbulkan oleh bencana, perencanaan penanggulangan bencana,
hingga penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang sifatnya preventif
kebencanaan;
3. Indentifikasi lembaga-lembaga yang muncul dari inisiatif masyarakat yang
sifatnya menangani kebencanaan, agar dapat terwujud koordinasi kerja yang
baik;
4. Pelaksanaan program atau tindakan ril dari pemerintah yang merupakan
pelaksanaan dari kebijakan yang ada, yang bersifat preventif kebencanaan;
5. Meningkatkan pengetahuan pada masyarakat tentang ciri-ciri alam setempat
yang memberikan indikasi akan adanya ancaman bencana.

II-9
Proses Menyiapkan Rencana Mitigasi Bencana
Mitigasi bencana harus memperhatikan semua tindakan yang diambil untuk
mengurangi pengaruh dari bencana dan kondisi yang peka dalam rangka untuk
mengurangi bencana yang lebih besar dikemudian hari. Oleh karena itu seluruh
aktivitas mitigasi difokuskan pada bencana itu sendiri atau bagian/elemen dari
ancaman. Beberapa hal untuk rencana mitigasi (mitigation plan) pada masa depan
dapat dilakukan sebagai berikut (Ilyas, Tommy : 2006):
1) Perencanaan lokasi (land management) dan pengaturan penempatan
penduduk
2) Memperkuat bangunan dan infrastruktur serta memperbaiki peraturan (code)
disain yang sesuai.
3) Melakukan usaha preventif dengan merealokasi aktiftas yang tinggi kedaerah
yang lebih aman dengan mengembangkan mikrozonasi
4) Melindungi dari kerusakan dengan melakukan upaya perbaikan lingkungan
dengan maksud menyerap energi dari gelombang Tsunami (misalnya dengan
melakukan penanaman mangrove sepanjang pantai)
5) Mensosialisasikan dan melakukan training yang intensif bagi penduduk
didaerah area yang rawan Tsunami
6) Membuat early warning sistem sepanjang daerah pantai/perkotaan yang
rawan Tsunami

Pada Gambar 2.2 disampaikan diagram dari mitigation planing proses (case study
dari Regional all hazard mitigation Master Plan for Benton, Lane and Liin county,
USA ) berupa 7 langkah yang perlu diantisipasi. Dimulai dari asesmen resiko
bencana sampai dengan penyediaan dana untuk pembangunannya. Mitigasi pada
langkah keempat dihentikan jika risk atau toleransi dapat diterima. Jika tidak rencana
dilanjutkan sampai langkah ketujuh yang merupakan prioritas dari mitigasi proyek
yang diperlukan yaitu menyediakan pendanaan untuk mewujudkan

II-10
Gambar 2.2 Tujuh Langkah Perencanaan Mitigasi Bencana

Sumber : Regional All Hazard Mitigation Master Plan for Benton, Lane, and Liin County; USA

II-11
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Mitigasi Gempa Bumi di Kota Nice, Prancis


3.1.1 Gambaran Umum Wilayah
Prancis merupakan negara yang terletak di bagian selatan Benua Eropa dan salah
satu negara yang berbatasan langsung dengan laut. Batas-batas
Batas batas negara Prancis
adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Belgia dan Selat Inggris.
Sebelah Selatan : Spanyol dan laut mediterania.
Sebelah Barat : Laut Atlantik.
Sebelah Timur : Italia, Switzerland, Jerman, dan Luxembourg.

Gambar 3.1Peta Prancis

Sumber : http://www.abdet.com/maps/map_france.gif

III-1
Prancis merupakan negara yang dilalui oleh pertemuan dua lempeng tektonik yaitu
lempeng eurasia dan lempeng afrika. Dengan kondisi tersebut, maka dapat
dikatakan bahwa Prancis merupakan salah satu negara di Eropa dengan tingkat
kerawanan bencana gempa yang cukup tinggi.

Kota Nice pertama kali berkembang pada abad pertengahan selama masa
renaissance dan merupakan suatu permukiman yang mengelilingi p
perbukitan rocky
yang berlokasi di dekat laut. Permukiman pertama di Kota Nice pertama kali
dibangun di bukit tersebut selama masa renaissance.

Mulai dari awal terbentuknya hingga sekitar tahun 1950, Nice berkembang sebagai
kota dengan aktivitas utama adalah
adalah sebagai kawasan komersial dengan pelabuhan
sebagai pusatnya. Akan tetapi, pada akhirnya, karena Nice ternyata tidak mampu
untuk bersaing dengan kota pelabuhannya lainnya seperti Marseile dan Genoa yang
pada saat itu memiliki jumlah dan kualitas fasilitas
fasilitas yang lebih baik, maka kegiatan
utama di Kota Nice berganti menjadi kegiatan pariwisata. Saat ini, Kota Nice tidak
hanya berkembang sebagai salah satu tujuan wisata di Prancis, akan tetapi mulai
mengembangkan berbagai bisnis dan industri lain yang menduku
mendukung kegiatan
pariwisata yang ada.
Gambar 3.2
Peta Kawasan Perkotaan Nice

Sumber : http://www.psi.edu/~obrien/Bike_Fr/Maps/MosaicMap.gif

III-2
Kota Nice merupakan kota dengan penduduk terbanyak ke-5 di Prancis dengan
jumlah penduduk mencapai 350.000 jiwa (16.000 jiwa pada abad 18 dan 136.000
pada tahun 1911). Akibat dari adanya kegiatan pariwisata, maka populasi di Kota
Nice selalu bertambah pada saat musim panas yang jumlah bisa mencapai dua kali
lipat dari penduduk aslinya. Luas total dari Kota Nice adalah 72 km2 dengan
kepadatan penduduknya sekitar 4.860 jiwa/ km2. Akan tetapi, Nice tidak hanya
berupa dataran rendah melainkan juga terdapat pegunungan dan perbukitan yang
melingkupi hingga sebagian kota sehingga telah diidentifikasikan kembali bahwa
kepadatan di kawasan pergunungan dan perbukitan adalah sebesar 200jiwa/km2
sedangkan di kawasan perkotaannya mencapai 29.800 jiwa/km2

Pertumbuhan penduduk Kota Nice masih terus bertambah tetapi relatif lambat.
Perbedaan antara dua sensus penduduk terakhir (1982 dan 1990) menunjukkan
hanya ada pertambahan penduduk sejumlah 11.000 jiwa. Pertumbuhan ini terutama
oleh adanya pendatang karena jika melihat perbandingan antara kelahiran dan
kematian, ternyata diperoleh data bahwa kelahiran masih lebih rendah dari kematian.

Kondisi Geologis
Pegunungan alpen bagian baran ini dapat dikatakan masih baru dan aktif yang
merupakan akibat dari pertemuan lempeng Eurasia dan Aftika. Memang lokasi pasti
perpotongan lempeng ini masih belum dapat diidentifikasikan dengan jelas serta
menurut sejarah gempa yang telah terjadi sebelumnya, kejadian-kejadian tersebut
menyebar di seluruh Kota Nice. Kondisi geologisnya terdiri dari bermacam-macam
pola, diantaranya thrust, strike-slip, dan normal faulting. Menurut prediksi dari
beberapa ahli, kemungkinan terjadinya gempa dengan karakteristik yang sejenis di
Kota Nice baru akan terjadi sekitar 1000 tahun setelah kejadian sebelumnya terjadi.

III-3
Sejarah Gempa
Tabel 3.1
Sejarah Kejadian Gempa di Kota Nice, Prancis tahun 1300 - 1900
Tahun Intensitas (Skala MSK)
1348 IX
1494 IX
1517 VIII
1564 X
1612 VII
1618 VII
1618 VIII
1644 IX
1818 VII
1854 VIII
1887 IX
Sumber: Issues in Urban Earthquake Risk

Berdasarkan tabel 3.1, diketahui bahwa telah terjadi 11 gempa dengan skala lebih
dari VII MSK di Kota Nice dalam kurun waktu tahun 1300 hingga tahun 1900. Hal
tersebut memberikan gambaran bahwa Kota Nice juga merupakan Kota yang rawan
bencana meskipun tingkat periodesasinya cukup panjang. Berdasarkan tabel
tersebut diketahui bahwa untuk gempa dengan intensitas yang sama baru akan
terjadi setelah lebih dari satu abad. Gempa dengan intensitas tertinggi berlokasi di
bagian timur laut Kota Nice.

Infrastruktur Pencatat Gempa


Terdapat sebuah jaringan pengawas gempa yang terdiri dari 7 single-component
stasiun yang telah beroperasi dari tahun 1977 dan telah mencatat lebih dari 1000
kejadian dengan skala intensitas maksimum 5 dan terjadi di lokasi yang berbeda-
beda. Karena dirasa bahwa jumlah stasiun yang ada masih minim, maka dilakukan
penambahan 2 jaringan lagi yang terdiri dari 4 single-component stasiun (sudah
beroperasi) yang meliputi seluruh pegunungan di Prancis dan 10 three-component

III-4
stasiun (belum beroperasi) yang merupakan alat pengukur beresolusi tinggi yang
akan digunakan bersama-sama dengan jaringan yang sejenis yang berlokasi di Italia.

Salah satu temuan menarik dari alat-alat ini adalah dua kejadian dengan magnitud 4
yang terjadi pada tahun 1989 dan 1990 yang cukup dirasakan warga di Nice. Pusat
gempa tersebut berlokasi di lepas pantai hanya sekitar 25-30 km dari Nice. Sebuah
pertanyaan muncul yaitu apakah kejadian tersebut dapat terjadi lagi dengan
magnitude yang sama atau bahkan lebih tinggi dari 6. Hal tersebut yang menjadi
kesulitan dalam penentuan bagaimana skenario yang terbaik dalam melakukan
mitigasi bencana yang efektif dan efisien.

Kondisi Geoteknik
Beberapa observasi dilakukan setelah beberapa gempa yang terjadi untuk melihat
seberapa rentan Kota Nice terhadap gempa. Pusat Kota Nice dibangun pada dua
pegunungan alluvial yang paralel. Pegunungan ini terdiri dari batuan sedimen yang
masih baru dan belum mengikat dengan baik. Dengan kondisi tersebut, tanah akan
mengalami likuifikasi pada getaran dengan intensitas 8 MSK.

Di bagian barat Nice, pegunungan Var memiliki struktur tanah yang lebih besar dan
tipis dan merupakan karakteristik geoteknik yang cukup buruk. Airport di Kota Nice
berlokasi di kawasan tersebut dan sebagian tanahnya merupakan tanah yang
diperoleh dari laut yang dipadatkan. Berdasarkan kondisi tersebut, maka tingkat
kerawanan bencana di arport Kota Nice menjadi besar bukan karena getaran gempa
yang akan terjadi melainkan karena kondisi tanah yang tidak stabil. Perbukitan lain
yang melingkupi bagian lainnya dari Kota Nice terbentuk dari struktur batuan
konglomerat dengan komposisi yang berbeda.

3.1.2 Teknik Mitigasi Bencana di Kota Nice, Prancis


1. Emergency Response
Prancis memiliki suatu bentuk respon terhadap kejadian bencana yang akan terjadi
yang dinamakan emergency response. Dalam sistem administratif negara Prancis,
terdapat dua bagian yang mengurusi renspon tersebut, yaitu Prefet yang merupakan
perwakilan dari pemerintah pusat yang ada di daerah) dan walikota. Kedua berbagi
tanggung jawab antara kebutuhan pendidikan dan pelatihan bagi kebencanaan serta
III-5
melakukan koordinasi dari berbagai bentuk masalah yang berada di bawah otoritas
mereka yang berbeda.

Keberadaan kedua institusi tersebut masih belum memiliki tindakan yang spesifik
dalam menghadapi kejadian bencana gempa yang terjadi. Institusi tersebut lebih
bersifat general dalam menangani bencana tidak hanya gempa, akan tetapi juga
bencana lainnya, seperti kebakaran hutan, longsor, dan juga tsunami. Seluruh
keputusan dan pilihan terhadap penanganan bencana yang akan dilakukan
sepenuhnya diambil oleh pihak prefet dan terus berkoordinasi dengan walikota.
Metode koordinasi yang dilakukan antar pihak prefet dengan walikota dilakukan
dengan melakukan suatu pertemuan rutin.

Pada praktiknya, Prefet memiliki beberapa organisasi yang khusus dan spesifik yang
melayani bidang-bidang tertentu. Organisasi tersebut, yaitu:
1. Urban Civil Security
2. SDIS (Fire Department)
3. DDAFF (Agriculture and Forests)
4. DDE (Public Works and Housing)
5. DDASS (Health and Social Welfare)
6. DRIRE (Industry and Environment)
7. Geophysical Observation)

Untuk negara dengan intensitas kejadian gempa yang relatif kecil, pemerintah
Prancis sepertinya masih belum terlalu memperhatikan bahaya gempa yang akan
terjadi. Selain karena sebagian besar gempa yang terjadi dalam kurun waktu
beberapa tahun kebelakang ini hanya merupakan gempa kecil dengan skala kurang
dari 5 MSK, hal tersebut juga terjadi karena sejarah yang membuktikan bahwa
kejadian gempa dengan skala besar di Kota Nice Prancis ini terjadi dalam
periodesasi yang cukup panjang yaitu sekitar satu abad. Hal ini yang membuat
pemerintah Prancis tidak mengkhususkan adanya tim yang khusus menangani
bencana gempa. Padahal jika melihat kondisi geografis dan geoteknik dari Kota Nice
ini, banyak hal yang dapat dijadikan alasan untuk mengkhususkan masalah ini,
diantaranya adalah kondisi lapisan tanah yang tidak stabil serta lokasi Kota Nice ini
yang merupakan pertemuan antar lempeng yang sangat rawan bencana gempa. Jika
III-6
dua kondisi tersebut digabungkan, maka tingkat kerawanan bencana gempa di Kota
Nice akan semakin tinggi.

Kesimpulannya, mitigasi bencana gempa pada emergency rensponse tidak


dilakukan secara spesifik hanya untuk kejadian gempa saja, melainkan untuk
kejadian bencana lainnya. Hal ini dapat disebabkan karena kejadian gempa yang
terjadi di Kota Nice, Prancis ini tidak terlalu sering terjadi sehingga jika hal ini
dikhususkan, mungkin dirasa kurang begitu efektif, maka emergency response ini
dibuat sebagai suatu sistem mitigasi bencana untuk segala kejadian bencana.

2. Construction Code
Prancis merupakan negara yang karakteristik kotanya cukup kecil dan tersentralisasi
kehidupan di dalamnya sehingga dalam perumusan suatu construction code,
dilakukan secara sederhana yaitu hanya membuat satu national code yang
merupakan standar minimal desain bangunan yang pada akhirnya tergantung jenis
bangunan dan zona getaran dimana lokasi bangunan tersebut berada. Pada
awalnya, pengaplikasian kebijakan construction code ini hanya diperuntukkan pada
bangunan-bangunan baru atau bangunan yang berubah fungsi karena keselamatan
dari tiap kawasan terbangun yang ada di Kota Nice ini berbeda-beda tergantung usia
bangunan dan sejarah di lokasi tersebut. Akan tetapi, pada awal-awal pengaplikasian
kebijakan ini, masih belum diperuntukkan pada bangunan-bangunan lama. Padahal,
mungkin saja pada praktiknya, terdapat bangunan-bangunan lama yang tidak sesuai
dengan construction code yang telah dibuat.

Kebijakan construction code untuk mitigasi bencana gempa di Prancis pertama kali
disahkan pada tahun 1955 setelah gempa yang terjadi di Algeria. Kemudian,
kebijakan tersebut mulai dikembangkan dan ditingkatkan pada tahun 1962 dan 1964
dan terus mengalami proses penyempurnaan dan modifikasi hingga thaun 1969.
Setelah tahun tersebut, kebijakan construction code untuk mitigasi bencana gempa
telah disahkan sebagai “PS69” yang juga diaplikasikan dengan terus melakukan
pengembangan-pengembangan yang dibuat pada tahun 1982 setelah adanya
kejadian di El Asnam, Algeria pada tahun 1980.

III-7
Selanjutnya, pada tahun 1985, dibuat suatu zoning kawasan mengenai lokasi dan
bahaya gempa. Akan tetapi, dalam pengaplikasiannya hanya mengikat terbatas pada
pembangunan dua jenis bangunan baru, yaitu high-rise building (dengan ketinggian
lebih dari 28m) dan bangunan-bangunan yang menjadi barang publik, seperti
sekolah, rumah sakit, stadion olahraga, museum, serta jaringan jalan dan kereta api.

Tidak lama setelah itu, pada bulan Mei tahun 1991 dan Juli tahun 1992, dua buah
dokumen kebijakan kembali mucul dan disahkan. Meskipun begitu, ternyata tidak
terlalu terdapat perubahan pada bagian teknis, hanya saja, objek regulasi tersebut
telah bertambah menjadi termasuk bangunan perumahan yang dimulai pada agustus
tahun 1993 dan untuk jenis perumaha individu pada tahun 1994. Lebih jauh lagi,
sebuah kebijakan construction code yang lebih rinci dan lengkap sedang dalam
tahap persiapan setelah mendapat rekomendasi dari pihak French Assosiation for
Earthquake Engineering (FAEE). Bedasarkan dokumen kebijakan yang akan dibuat
tersebut, Kota Nice didefinisikan sebagai kota dengan karakteristik kota dengan
tingkat kerawanan bencana gempa paling tinggi di Prancis. Pada akhirnya, dokumen
terakhir ini diharapkan dapat diaplikasikan untuk seluruh bangunan yang ada di
prancis. Hal ini tentu saja akan sangat bermanfaat dalam proses mitigasi bencana
yang dilakukan karena dimungkinkan dengan adanya construction code ini, maka
apabila gempa terjadi, maka kerusakan dan korban yang timbul akan dapat ditekan
jumlahnya.

Menyadari bahwa kualitas kebijakan penanganan mitigasi bencana gempa di Prancis


yang cukup minim, maka pihak pemeirntah Kota Nice telah mengantisipasi hal
tersebut dengan membuat beberapa pengaplikasikan kebijakan lebih dulu
diaplikasikan tidak mengikuti alur yang sudah direncanakan pemeritah pusat Prancis.
Misalnya, untuk kasus pembangunan sekolah, sekolah tersebut sudah harus
mengikuti kebijakan PS69 mulai dari tahun 1972 yang pada rencananya baru akan
diimplementasikan pada tahun 1977. Begitu juga dengan pengimpelementasian
kebijakan construction code untuk seluruh bangunan sudah mulai dilakukan pada
tahun 1979.

III-8
Sejarah menyatakan bahwa hingga tahun 1982, tidak ada otoritas lokal yang
berinisiatif untuk mengusulkan bagaimana kebijakan penanganan bencana dari sisi
fisik itu sebaiknya dilakukan. Pada akhirnya, telah dilakukan pendesentralisasian
kebijakan penanganan bencana gempa ke setiap wilayah di Prancis.

Construction Type
Kota Nice terdiri dari 200.000 unit rumah baik flat maupun individual yang termasuk
12% yang merupakan perumahan yang tidak permanen (hanya digunakan pada
musim liburan). Seperti yang terjadi di sebagian besar wilayah Prancis bahkan di
negara-negara sepanjang laut mediteran, karakteristik rumahnya berbeda-beda dan
sangat heterogen. Hal tersebut bergantung pada kondisi ekonomi dari tiap penghuni
rumah yang ada serta berdasarkan heterogennya jenis batuan yang melingkupi
kawasan perumahan tersebut.

Kota tua Nice berlokasi di tanah alluvial yang datar yang mengelilingi Sungai Pailon.
Bangunannya yang ada dibangun dengan menggunakan material lokal seperti batu,
kayu,pasir, dan mortar. Penggunaan bahan-bahan campuran dalam membangun
mulai digunakan pada thaun 1930 dan menjadi quasi-systematic pad athaun 1945
untuk bangunan publik dan perumahan. Ketinggian rata-rata dari bangunan-
bangunan tersebut adalah 20 meter. Aturan tersebut juga ada di beberapa dokumen
perencanaan yang mencantumkan mengenai batas ketinggian bangunan. Sebagian
besar struktur ini dibangun di tanah alluvial yang datar. Untuk kehidupan di
perbukitan, sebagian besar perumahan dibangun dengan tipe individual yang dibuat
dari masonry dan/atau bahan-bahan campuran.

Control and Enforcement


Dalam menjalankan fungsi dari kebijakan construkcion code, dilakukan suatu metode
control dan enforcement terhdap berbagai kasus pembangunan yang ada di Kota
Nice, Prancis. Hal ini dilakukan guna menghindari hal-hal yang tidak sesuai dengan
yang ada di constructuon code yang telah dibuat.

Seluruh proyek konstruksi termasuk melakukan modifikasi terhadap bangunan laman


harus selalu terdaftar dan pembangunannya tidak dapat dimulai jika belum mendapat
izin dari kantor administrasi yang mengurusi bagian izin bangunan. Formulir
III-9
persetujuan ini baru diperoleh setelah dilakukan inspeksi lapangan oleh pihak pemda
dan pihak pemerintha pusat. Menurut data, terdapat 300 orang dan kurang lebih
2.100 unit perumahan yang dibangun setiap tahunnya dan identik dengan
pembangunan 175.000 m2 luas lantai bangunan. Untuk bangunan-bangunan yang
sudah ada sebelum kebijakan construction code ini diberlakukan, maka pihak kota
meminta kepada manajer proyek untuk mengirimkan desain dan konstruksi
bangunan untuk diperiksa dan didaftarkan di control office.

Sesuai dengan pemaparan mengenai kebijakan construction code yang telah dibuat,
maka dapat diperkirakan bahwa sekitar 95% bangunan yang telah dibangun di Kota
Nice, Prancis dalam proses desain dan pembangunan konstruksi, tidak
memperkirakan ancaman bahaya bencana gempa. Oleh karena itu, diharapkan
setelah diimplementasikannya kebijakan tersebut, maka jika saja terjadi gempa di
Kota Nice, maka kerugian yang ditimbulkan baik materi maupun non materi, tidak
akan terlalu banyak karena kualitas struktur bangunan yang kuat menghadapi
gempa.

3. Earthquake Awareness
Pihak pemerintah Kota Nice telah lama menyadari bahaya gempa yang mengancam.
Salah satu kebijakan yang diambil adalah dengan ikut mengimplementasikan suatu
building code dalam proses konstruksi bangunan. Selain ini, telah dilakukan berbagai
koordinasi antara pihak pemerintah daerah di Kota Nice dengan pemerintah pusat
untuk lebih memberikan penanganan yang serius terhadap bahaya gempa ini serta
dalam kegiatan emergency renspose. Kesadaran ini telah menghasilkan suatu
komite khusus di tingkat pemerintah pusat Prancis yang akan menyusun suatu
rencana tindak yang akan dilakukan. Kota Nice juga tergabung sebagai anggota
dalam sebuat asosisasi yang bergerak dibidang manjemen resiko bencana di kota-
kota skala menengah.

Hal lain yang dilakukan adalah dengan memberikan pengetahuan yang cukup
kepada masyarakat mengenai bagaimana bahaya dari bencana gempa yang akan
terjadi serta hal-hal yang berhubungan dengan gempa di Kota Nice. Hal ini dilakukan
karena berbagai pemberitaan di media massa kurang begitu memberikan
pengetahuan mengenai bahaya gempa. Selain itu, dalam brosur/boolet yang akan
III-10
dibuat, dicantumkan juga mengenai sejarah gempa dan berbagai pendidikan
mengenai bagaimana sebaiknya masyarakat dalam menghadapi gempa yang akan
terjadi. Hal ini tentu saja akan lebih mempermudah pemerintah untuk menjalankan
berbagia skenario mitigasi bencana yang telah dibuat karena dengan kondisi
masyarakat yang telah memiliki tingkat awareness yang cukup, maka masyarakat
akan lebih mengikuti bagaimana skenario yang dibuat. Prefet juga melakukan
berbagai penyuluhan di berbagai sekolah dengan tujuan yang sama yaitu
memberikan pendidikan kebencanaan. Hanya saja target yang ingin dicapai leh
pihak Prefet ini adalah siswa-siswa sekolah.

Tujuan jangka panjang yang ingin dicapai dari berbagai proses penyebaran informasi
mengenai bencana gempa ini adalah untuk membuat suatu prosedur mitigasi
bencana yang baru yang dapat dimengerti oleh seluruh masyarakat. Proses
penyebaran informasi ini merupakan langkah awal yang ditempuh untuk
menyepahamkan masyarakat mengenai berbagai informasi tentang gempa dan
bagaimana masyarakat sebaiknya bertindak dalam gempa yang akan terjadi.

Cukup beralasan jika dikatakan bahwa tingkat kesadaran dari pemerintah daerah di
Kota Nice sudah semakin baik dan mereka memiliki keinginan untuk meningkatkan
kualitas penanganan terhadap proses mitigasi yang berlangsung. Oleh karena itu,
perlu dilakukan penginformasian kepada publik tentang ancaman gempa ini. Untuk
melakukan hal tersebut, pihak pemerintah daerah harus dapat menyeimbangkan
antara berita yang ada di media massa dengan informasi-informasi yang umum
seputar gempa sehingga tidak terjadi ktimpangan informasi. Lebih jauh lagi,
pemerintah harus juga mempertimbangkan antara bahaya gempa yang akan terjadi
dengan kondisi ekonomi dan pasar pariwisata yang telah menjadi andalan Kota Nice.

4. Research
Kegiatan penelitian mengenai mitigasi bencana yang ada di Prancis ternyata dalam
pengambilan keputusan bagaimana penelitian tersebut harus dijalankan masih
menjadi otoritas dari pemerintah pusat. Keputusan mengenai siapa yang harus
menjalankan penelitian tersebut diambil di Kota Paris yang merupakan ibukota dari
Prancis. Hal ini tentu saja berdampak pada kurang terakomodasinya kepentingan
pihak pemerintah lokal yang sebenarnya lebih mengetahu mengenai keadaan
III-11
daerahnya masing-masing. Akan tetapi, bagi pihak-pihak yang ada di daerah yang
juga ikut bertanggung jawab dalam penelitian yang dilaksanakan dengan cara ikut
serta menjadi anggota tim peneliti. Biasanya tim peneliti ini diikuti oleh universitas-
universitas yang juga ikut memperhatikan masalah bencana gempa ini. Selain itu
berbagia pihak juga dapat membatu dalam bentuk dana penelitian. Pda praktiknya
tetap saja terdapat koordinasi antara pihak pemerintah pusat dengan pemerintah
daerah.

Penelitian tentang bencana gempa ini dilakukan oleh tiga institusi yang bersama-
sama memperhatikan masalah bencana gempa, yaitu
1. Universitas
2. Konsultan-konsultan lokal dari kementerian perumahan dan pekerjaan umum
(CETE)
3. Teknisi gempa dari BRGM

Pihak universitas di Kota Nice telah melakukan penelitian mengenai berbagai


aktivitas yang berhubungan dengan bahaya gempa. Selain karena di Kota Nice
terdapat departemen geofisika yang mengkhususkan pada geofisika laut dan
geodinamika, kegiata penelitian ini telah dimulai pada tahun 1990 pada saat terdapat
bagian peneliti mengenai seismologi. Tim ini telah berhasil merekrut peneliti yang
biasa bekerja pada kawasan aktif bencana gempa untuk bekerjasama meneliti dalam
skala lokal di Kota Nice. Tim ini juga terus melakukan koordinasi dengan beberapa
tim yang lebih besar (Paris, Genoa, Grenoble, Napoli) yang juga bersama-sama
melakukan penelitian tentang bencana gempa dan bersedia bekerja sama dengan
Kota Nice.

CETE yang lingkup kerja utamanya adalah tanah, konstruksi bangunan dan jalan,
mula mencoba untuk mengembangkan penelitian mengenai aktivitas bencana
gempa. Sebuah tim teknis geologi telah memulai penelitiannya selama 15 tahun dan
mereka mempublikasikan hasil penelitian pertamanya yang merupakan metode studi
dengan contoh Kota Nice. Pada permulaannya, CETE telah memperoleh banyak
pengalaman proses penelitian yang dilakukan di Kota Nice yang salah satunya juga
mengenai likuifikasi dan bahaya longsor. Selain itu, CETE juga mencoba untuk
melakukan penelitian mengenai tingkat ketahanan bangunan publik yang ada di Kota
III-12
Nice. Hal ini mengingat bahwa struktur lapisan tanah di Kota Nice tidak terlalu padat
meskipun datar.

Teknis gempa yang berasal dari BGRM yang terdiri dari lebih dari 10 teknisi yang
memilki keahlian khusus di bidang bencana gempa dan longsor serta teknisi yang
berasal dari bidang geoteknik. Tim ini telah membuat berbagai penelitian mengenai
proses maintenance untuk berbagai kawasan industri dalam menghadapi ancaman
bencana gempa. BGRM dan CETE juga melakukan beberapa penelitian bersama.

Kawasan perkotaan Nice memiliki berbagai karakteristik yang unik yang berbeda dari
berbagai kota lain di dataran eropa. Selain itu, Kota Nice juga merupakan salah satu
tujuan wisata di Eropa. Dengan tingkat kerawanan yang cukup tinggi terhadap
bencana gempa karena merupakan lokasi perpotongan lempeng tektonik, maka
perlu adanya penanganan yang serius dari berbagai pihak yang berkepentingan.

3.2 Mitigasi Gempa Bumi di Kota Kobe, Jepang


3.2.1 Mitigasi Bencana di Jepang Secara Umum
Terdapat beberapa aspek dalam penanganan gempa di Jepang. Pertama, adalah
langkah penyelamatan. Di Kobe, sekitar 90 persen penyelamatan warga yang
terperangkap puing dilakukan oleh warga sendiri. Polisi, tentara, dan pemadam
kebakaran tentu berperan penting meski dalam porsi yang lebih kecil. Artinya,
masyarakat merupakan kekuatan utama dan efektif dalam penyelamatan tersebut
sehingga hubungan sesama manusia menjadi tak ternilai harganya.

Dalam gempa Kobe, pada hari pertama terdapat 20.000 relawan dan meningkat
menjadi 1,3 juta dalam tiga bulan. Mereka membersihkan puing-puing gempa,
menjembatani antara pemerintah dan korban, menyediakan makanan, dan lain
sebagainya. Banyaknya relawan juga membawa masalah karena tidak semua
relawan punya pengalaman dan keahlian. Akan tetapi, nilai kesetiakawanan itulah
yang diapresiasi sehingga tahun 1995 disebut sebagai tahun kesetiakawanan.

Kedua, adalah rekonstruksi. Gempa Kobe yang dikenal sebagai ”The Great Hanshin-
Awaji Earthquake” mendorong pemerintah mengeluarkan Hyogo Phoenix Plan pada
Juli 1995, yang tidak saja mengembalikan infrastruktur dan pelayanan sebagaimana
III-13
sebelum gempa. Lebih dari itu, mereka berorientasi pada creative reconstruction
yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan era baru dan masyarakat matang (drive
to maturity) melalui partisipasi warga. Langkah pertama pemerintah adalah
mengundang warga mendiskusikan proyek rekonstruksi fisik. Baru pada tahap kedua
berfokus pada sosial-ekonomi.

Seperti diungkap The Great Hanshin-Awaji Earthquake Statistics and Restoration


Progress 2005 pada tahun 1997, pemerintah menetapkan Rencana Rehabilitasi
Sosial Ekonomi yang diawali dengan kampanye Catch the Spirit Kobe untuk
mengembalikan kepercayaan diri mereka dalam rangka pemulihan secara cepat.
Bagi Jepang, semangat kebersamaan untuk membangun Kobe yang hancur adalah
modal yang amat vital. Meskipun demikian, mereka pun punya rencana jangka
panjang yang tertuang dalam Kobe 2010 Comprehensive Civic Welfare Plan.
Rancangan jangka panjang ini bertujuan membangun kota berbasis kemandirian dan
kerja sama yang saling menguntungkan antara pemerintah, warga, dan swasta.
Program ini lalu diimplementasikan melalui sejumlah proyek, misalnya proyek skema
people-friendly urban development dalam perspektif anak-anak. Pembangunan
arena dan fasilitas bermain anak-anak dilakukan secara komprehensif.

Ketiga, adalah penyiapan keselamatan warga. Mereka sadar, lambatnya langkah


Pemerintah Kobe pada saat bencana itu disebabkan lemahnya sistem komunikasi
darurat. Maka, agenda nasionalnya adalah mempersiapkan jaringan komunikasi
yang lebih baik di saat-saat darurat. Ketika Niigata dihantam gempa pada 2004 lalu,
dalam tujuh menit tentara Jepang sudah bertindak dan 36 menit kemudian bergerak
mengumpulkan informasi. Pemerintah provinsi lainnya, seperti Hyogo, langsung
mengirim ahli pemulihan gempa, pembangunan perumahan darurat, menilai tingkat
bahaya rumah yang rusak, menyediakan tim kesehatan, serta pelayanan spiritual
dan psikologi. Pada level masyarakat, Pemerintah Kobe mendorong adanya
komunitas pencegahan bencana di mana warga dilatih untuk siap setiap saat ketika
terjadi gempa. Salah satu instrumennya adalah terbitnya buku manual langkah-
langkah saat gempa terjadi. Buku berisi petunjuk praktis melalui gambar dan bahasa
yang mudah dipahami itu dibagikan ke seluruh warga dan anak-anak sekolah. Begitu
pula pelatihan dan penguatan jaringan antarwarga dalam kesiapan menghadapi
gempa. Pada level pemerintah, disahkan serangkaian peraturan daerah yang
III-14
mendorong terciptanya keselamatan warga Kobe, pembangunan jaringan informasi
dan komunikasi, membangun pusat manajemen krisis, serta pusat pengumpulan
data 24 jam. Dari sekitar 640 jenis kebijakan untuk pemulihan Kobe, pemerintah
menciptakan Indeks Kebahagiaan Warga (Citizen-Happines Index) untuk memantau
sejauh mana hasil dari kebijakan-kebijakan tersebut.

Keempat, pengembangan pusat riset, baik oleh universitas maupun pemerintah. Di


Kyoto University ada Research Center for Disaster Reduction System. Ada juga
Disaster Reduction and Human Renovation Institution (DRI) milik pemerintah
prefektur (baca: provinsi) Hyogo. DRI mengembangkan riset-riset serta ”museum”
yang memberikan layanan informasi seputar gempa. Bahkan DRI mengadakan
pelatihan bagi seluruh pemerintah daerah dalam membangun jaringan penanganan
gempa. Saat ini DRI tengah mengembangkan program internasional melalui
International Disaster Prevention and Reconstruction Center yang tugasnya melatih,
dengan mengirim para ahli teknis untuk meneliti dan memberi solusi penanganan
gempa melalui sistem ”One Stop Service”.

Dari semua uraian di atas jelaslah bahwa Jepang tidak menerima begitu saja kondisi
negerinya yang demikian rawan bencana. Mereka dengan cerdas belajar dari kondisi
lokal demi membangun masa depan yang lebih sejahtera dan membahagiakan
warganya.

3.2.2 Gambaran Umum Kota Kobe


Kobe adalah ibukota dari prefektur Hyogo. Kota ini merupakan kota pelabuhan
modern yang mempunyai sejarah panjang. Dengan latar belakang pegunungan
Rokko, Kota Kobe merupakan kota pelabuhan yang indah di pantai selatan Teluk
Osaka (Osaka Bay). Pelabuhan Kobe, yang berperan sangat penting dalam aktivitas
ekonomi kota, terbuka untuk dunia luar sejak 1 Januari 1868 yaitu tahun yang
terkenal dengan Restorasi Meiji ketika Jepang melakukan modernisasi dengan
meninggalkan politik isolasi nasional yg sebelumnya berlaku. Sejak pembukaan
tersebut, lebih dari satu abad telah berlalu, pelabuhan Kobe telah berkembang
menjadi satu dari pelabuhan perdagangan internasional utama, bahkan pelabuhan
ini masuk dalam tiga pelabuhan terbesar di dunia. Setelah pembukaan pelabuhan
Kobe, banyak orang asing yang datang untuk tinggal di kota pelabuhan ini.
III-15
Bersamaan dengan meningkatnya populasi mereka, tempat kediaman orang asing
meluas, dengan rumah-rumah dan toko-toko model barat (western-style) yang
dibangun di sepanjang jalan. Pada abad ke-19, Kobe telah menjadi kota yang unik
yang mempunyai atmosfer yang eksotik. Kota Kobe juga mempunyai salah satu
universitas yang terkemuka di Jepang yaitu University of Kobe; universitas ini
menjadi salah satu tujuan mahasiswa-mahasiswa asing dari berbagai negara.

Gambar 3.3 Kota Kobe

Sumber : www.google.com

Kobe adalah sebuah kota di Jepang yang terletak di pulau Honshu. Kobe adalah
bagian dari wilayah metropolitan Osaka-Kobe-Kyoto. Kobe terletak di wilayah Kansai
di Jepang, di Prefektur Hyogo di sebelah barat daya Osaka. Kota ini adalah salah
satu kota pertama Jepang yang membuka perdagangan kepada Barat pada tahun
1868. Kota pelabuhan yang kosmopolitan ini mempunyai sekitar 45.500 penduduk
asing dari lebih dari 100 negara.

Ketika gempa besar yang melanda Kota Kobe pada tahun 1995 dengan kekuatan
7,2 SR. Menurut The Great Hanshin-Awaji Earthquake Statistics and Restoration
Progress 2005, korban yang terluka parah 14.678 orang, 4.571 orang tewas, 7.500
gedung terbakar, 85 persen sekolah rusak, dan sekitar 222.127 orang dievakuasi.
Dengan adanya bencana-bencana besar yang menimpa maka pemerintah Jepang
banyak melakukan pembelajaran dalam proses memitigasi bencana gempa tersebut.

III-16
Gambar 3.4 Gempa di Kobe

Sumber : www.google.com
Gempa yang sangat besar tersebut terletak tepat di bawah pusat Kota Kobe sedalam
16 km, gempa yang hanya berlangsung sekitar 20 detik tersebut hampir
menghancurkan setiap sudut Kota Kobe, terlihat pada gambar dimana jembatan
yang sangat panjang tersebut dapat terbalik dan juga retak. Hal ini menunjukkan
betapa dashyatnya gempa yang mengguncang Kota Kobe pada thun 1995 tersebut.

3.2.3 Mitigasi Bencana di Kota Kobe


Pemerintah Jepang sangat menekankan proses mitigasi dilakukan oleh daerah
masing-masing. Mengingat Jepang sadar bahwa kawasan mereka merupakan
kawasan yang sangat rentan terhadap bencana, maka proses mitigasi merupakan
hal yang wajib dimiliki oleh setiap Kota atau Propinsi. Begitu juga dengan Kota Kobe.
Kota yang pernah mengalami gempa yang sangat besar pada tahun 1995 tentu tidak
ingin kehilangan banyak nyawa lagi ketika terjadi gempa kedepannya. Oleh sebab itu
pemerintah Kota Kobe melakukan mitigasi yang di bagi ke dalam 4 hal besar, yaitu;
1. Konsep Utama
2. Kesiapan Setiap Level Pemerintahan dalam Menghadapi Bencana
3. Implementasi Konsep Safety-Oriented City
4. Manajemen Bencana

Konsep Safety Oriented City


Kota yang sangat berorientasi pada keselamatan penduduknya tentu akan
mengupayakan berbagai cara agar kota tersebut dapat meminimalkan dampak
apabila terjadi bencana. Maka Kota memerlukan tiga upaya:
Pertama, tingkat bencana yang menjamin keselamatan warga dimana tempat warga
tersebut tinggal dan bekerja. Kedua, fasilitas infrastruktur perkotaan yang mampu

III-17
mendukung daerah pasca terkena bencana alam. Dan ketiga fungsi administrasi
yang dapat mengoptimalkan bencana dan meningkatkan kemampuan dalam
menghadapi bencana.
 Sudut Bencana
Keselamatan kota terhadap bencana berorientasi dengan melibatkan konsep
integrasi tiga lapisan masyarakat: pada lingkungan, perwakilan masyarakat,
dan intermediate antar tingkatan.
 Departemen Kota untuk kesiapan bencana
Departemen atau instansi khusus yang menangani permasalahan kota dalam
menghadapi kesiapan bencana ini diperlukan untuk mempertahankan kota
agar dapat meminimalkan dampak ketika terjadi bencana alam seperti gempa
bumi. Hal ini dapat diambil tiga bentuk dasar perkotaan yang terdiri dari
penghijauan, luas kawasan bencana dasar, dan infrastruktur lifelines yang
berlabuh di berbagai kegiatan sehari-hari yang terjadi secara terus-menerus.
 Manajemen Bencana
Kesiapan kota dalam menghadapi bencana akan berfungsi secara efektif dan
menyeluruh jika terdapat perencanaan yang terintegrasi dengan perencanaan
kota yang berbasis bencana. Hal tersebut juga memerlukan aliran orang,
barang, dan informasi pada setiap tingkat pelayanan/pemerintahan yang
dikelola secara komprehensif melalui setiap tahapan proses bencana
sehingga pada akhirnya menjadi kegiatan rutin harian.

3.2.4 Kesiapan Setiap Level Pemerintahan dalam Menghadapi Bencana di Kota


Kobe
Saat bencana gempa bumi yang sangat besar yaitu Gempa Bumi yang terjadi di
Kota Kobe pada tahun 1995 yang kurang lebih menewakan 6000 jiwa penduduk
Kota Kobe tersebut. Kejadian yang hamper menhancurkan setengah Kota Kobe
tersebut menghancurkan banyak fasilitas perkotaan yang terdapat di Kota Kobe
tersebut. Kedepannya, upaya penanganan bencana atau mitigasi bencana dimulai
dengan peran pemerintah dalam menangani bencana tersebut. Kegiatan
penanganan bencana dimulai dengan berdasarkan pada masyarakat local terlebih
dahulu. Upaya ini didasarkan agar menekankan kepada masyarakat lokal akan

III-18
pentingnya sebuah sistem yang mengatur penanganan terhadap kebencanaan ini
agar nantinya masyarakat lokal dapat mandiri dalam penanganan bencana tersebut.

Dalam menciptakan keamanan di dalam kota dan agar dalam penanggulangan


bencana dapat terkoordinir dengan baik, maka diperlukan sebuah lingkungan yang
memungkinkan untuk proses pemulihan kegiatan yang terkoordinir dengan baik yang
merupakan kegiatan dari serangkaian operasi antara warga, dan antara warga dan
pemerintah setempat. Ini memerlukan koordinasi reguler dan pembentukan "kegiatan
dasar" dibangun ke dalam kehidupan sehari-hari warga lokal dan sesuai dengan
skala kegiatan perkotaan

Kebijakan-kebijakan Pemerintah
1. Membentuk suatu tingkatan keselamatan berdasarkan aktivitas sehari-
hariyang dilakukan penduduk Kota Kobe.
2. Bentuk kegiatan keselamatan dalam penanganan bencana yang berbasis
pada masing-masing daerah.
3. Melakukan pelatihan terhadap personil agar terlatih dalam menghadapi resiko
bencana dan membentuk organisasi lokal agar mendukung kegiatan
penanganan bencana.

Untuk menciptakan kota yang benar-benar aman kedepannya, Kota Kobe


menerapkan tingkatan keamanan di tiga tingkatan, yaitu tingkat lingkungan rumah
tangga, tingkat intermediate, dan tingkat kecamatan.
1. Tingkat Lingkungan Rumah Tangga
Untuk tingkatan lingkungan rumah tangga di Jepang biasanya di awali dengan
kebiasaan yang berpuat di sekolah dasar. Biasanya di tempat inilah yang
berfungsi sebagai awal mula pusat kegiatan masyarakat setempat yang
sangat erat kaitannya dengan rumah. Dalam hal ini biasanya warga
mengambil secara sukarela memimpin dalam pelaksanaan keselamatan
bencana melalui bantuan bersama masyarakat dan kegiatan-kegiatan lainnya
yang dilakukan bersama masyarakat. Selain itu, pada tingkatan ini juga
mencari untuk menentukan tingkatan yang minimum harus dilakukan di setiap
kegiatan sehari-hari dan dapat dilanjutkan secepat mungkin setelah terjadi

III-19
bencana. Tingkatan dalam lingkungan rumah tangga ini berupa kegiatan lokal
"bencana berbasis"
Di tingkat lingkungan rumah tangga, terdapat 3 hal yang harus diperhatikan,
yaitu kegiatan masyarakat, peningkatan bencana berbasis lokal, dan
pembentukan lingkungan yang aman dan nyaman. Untuk kegiatan
masyarakat, masyarakat harus diberikan pelatihan mengenai kesadaran akan
bencana secara berkelanjutan. Dan pemerintah lebih menekankan proses ini
berawal atau berbasis pada daerah lokal terlebih dahulu.
2. Tingkat Intermediate
Bencana "dukungan dasar" biasanya beberapa per kecamatan, yang dibentuk
untuk mendukung kegiatan kecamatan kantor. Dasar ini juga mendukung
berbagai kegiatan sehari-hari di tingkat rumah tangga melalui koordinasi
warga dan pemerintah setempat. Informasi yang diperlukan adalah dukungan
untuk dipergunakan bersama dengan perwaliannya. Layanan seperti koleksi
darurat dan pasokan mereka setiap pengiriman ke tingkat RT, koordinasi
kegiatan relawan, komunikasi dan informasi yang akurat dilakukan bekerja
sama dengan kecamatan.
3. Tingkat Kecamatan
Kantor pemerintah daerah kecamatan berbasis pada penyelamatan kegiatan.
Program ini menerima pasokan penyelamatan, mengatur personil seperti
relawan dari luar daerah yang terkena bencana. dan memberikan informasi
dan berkomunikasi dari balai kota dan sekitar kota.

3.2.5 Implementasi Konsep Safety-Oriented City


Saat Selatan Hyogo mengalami gempa serius sangat mengganggu kehidupan
perkotaan, terutama di Kobe. Luas perkotaan yang intensif oleh tinggi dari kepadatan
penduduk perkotaan, kekurangan pasokan air, kemacetan lalu lintas yang terjadi
dimana mana. Kondisi tersebut memakan waktu lama untuk memulihkannya
khususnya infrastrukturnya agar kota tersebut dapat menjalani kehidupan perkotaan
secara lancar. Pengalaman ini lebih menekankan kepada tanggung jawab kita agar
kedepannya dapat membuat penyelamatan yang berorientasi pada kota dengan
penyediaan pemadam kebakaran, dan layanan darurat lainnya agar ketika gempa,
dampak lainnya akibat gempa tersbut juga dapat teratasi.

III-20
Beberapa Kebijakan terkait dengan Konsep Safety Oriented City
1. Melaksanakan langkah-langkah yang mempertimbangkan topografi dan
geologi fitur Kota Kobe dan memastikan hidup berdampingan dengan alam.
2. Menyediakan jaringan hijau terkait untuk membantu menciptakan kota yang
tahan bencana.
3. Meningkatkan kesiapan kota bencana melalui komprehensif, luas sosial
koordinasi.
4. Menstabilkan sipil gaya hidup dengan menyediakan jaringan Lifeline tahan
bencana

Dalam konsep Safety Oriented City ini terdapat 4 langkah dalam penanganan
bencana gempa bumi, yaitu implementasi mitigasi bencana melalui RTH dan open
space, implementasi Basis Bencana, adaptasi Lingkungan Perkotaan terhadap
Peningkatan Kapasitas Kota dalam menghadapi bencana, dan implementasi
Jaringan Pelayanan Publik Tahan Bencana.
1. Implementasi Mitigasi Bencana Melalui RTH dan Open Space
Sungai, jalan, jalur hijau, taman, dan masyarakat harus kembali untuk
membentuk tanaman hijau yang berfungsi sebagai jalur evakuasi apabila
bencana terjadi. Jalur ini menyediakan kerangka untuk fisik dan kesiapan pada
bencana. Pada saat yang sama, jalur ini melayani warga negara seperti
biasanya dalam berkegiatan seari-hari.
 Sungai dan Daerah Hijau
Sungai dan daerah hijau atau jalur hijau sangat baik untuk mendukung jalur
atau rute untuk evakuasi. Selain itu juga dapat berperan sebagai transportasi
darurat apabila terjadi bencana. Sungai juga dapat menyediakan air yang
membantu dalam kegiatan sehar-hari masyarakat.
 Jalan Grid Perkotaan
Jalur utama barat timur utara dan selatan yang berfungsi sebagai jalan
utama di Kota Kobe digunakan sebagai jalur evakuasi dan juga transportasi
darurat apabila terjadi bencana.
 Jalur pesisir
Jalur pesisir juga dapat digunakan sebagai jalur untuk rute evakuasi dan juga
transportasi darurat, namun apabila kemungkinan terjadi tsunami, maka jalur
ini sangat rawan, terlebih lagidi pesisir pantai.
III-21
2. Implementasi Basis Bencana
 Basis Bencana
Basis bencana disediakan untuk mendukung kegiatan bencana di tingkat
rumah tangga dalam koordinasi dengan pusat bencana dasar. Balai kota,
yang bertanggung jawab untuk kegiatan utama kota, secara umum bencana
dasar, yang menepis kantor, di daerah bencana dasar umum, dan lain umum
bencana berbasis.
 Dasar untuk Area Evakuasi dan Penerimaan Supply
Untuk kekuatan dasar bencana dan dukungan luas adalah pemindahan
penerimaan pasokan, penambatan fasilitas darurat yang disediakan di
taman, ruang hijau, dan di titik-titik tertentu.
 Menguatkan kemampuan pencegahan bencana perkotaan
Meningkatkan kemampuan untuk pencegahan dapat dilakukan dengan
menguatkan struktur bangunan agar lebih tahan terhadap gempa. Seperti
mall-mall dan infrastruktur lainnya terutama yang merupakan milik publik.
3. Adaptasi Lingkungan Perkotaan terhadap Peningkatan Kapasitas Kota dalam
menghadapi bencana
Dalam peningkatan kapasitas kota diperlukan adaptasi dari lingkungan
perkotaan tersebut, Salah satu pendukungnya yaitu jaringan transportasi untu
menghubungkan antara satu kota dengan kota yang lainnya khusunya dari Kota
Kobe ke kota-kota lain disekitarnya.. Kawasan perkotaan untuk mengefisienkan
dalam penyelamatan kegiatan yang termasuk dalam jaringan ini yaitu dengan
menubuhkan luas kawasan bencana untuk melayani sebagai basis poin dengan
daerah-daerah di luar kota.
 Peningkatan luas area jaringan transportasi
Dalam peningkatan kapasitas kota maka factor terpenting yaitu akses agar
kota tersebut dapat beradaptasi dengan kota-kota di sekitarnya. Dalam hal
ini, maka diperlukan dukungan dari jaringan transportasi untuk mendukung
proses peningkatan kapasitas kota tersebut.
 Koordinasi darat laut dan udara dalam “bencana dasar”
Dalam memfasilitasi kegiatan penyelamatan kota terhadap bencana, luas
kawasan bencana yang didirikan di pedalaman dasar Kobe, bertujuan untuk
mengurangi kemacetan di perkotaan tersebut. Kota Kobe juga
memanfaatkan topografi. Udara dan laut berbasis bencana yang didirikan
III-22
untuk beragam berbagai bencana yang berkaitan dengan kegiatan
dilaksanakan melalui koordinasi dengan basis bencana, terutama yang
terletak di pusat.
4. Implementasi Jaringan Pelayanan Publik Tahan Bencana.
Jaringan-jaringan pelayanan publik tentu harus tahan terhadap bencana, sebab
ketika terjadi bencana, fasilitas-fasilitas tersebut sangat dibutuhkan banyak
orang karena sifatnya publik tersebut. Fasilitas-fasilitas tersebut seperti,
pasokan air, listrik, gas, dan telekomunikasi. Apabila terjadi gempa bumi dan
fasilitas-fasilitas tersebut rusak, maka kondisi tersebut akan semakin
memperparah keadaan pasca terjadinya bencana. Untuk itu diperlukan
peningkatan jaringan pelayanan publik yang tahan terhadap bencana.
 Memperkuat Sistem Pasokan Air
Ketika pasca bencana, air merupakan factor penting yang menunjang
kehidupan. Oleh karena itu sistem penyaluran air dan pengelolaannya harus
tahan terhadap bencana agar ketika pasca bencana, pasokan air masih
dapat diberikan pada masyarakat.
 Memperkuat Sistem Pembuangan Kotoran
Sistem pembuangan kotoran sangat diperlukan ketika pasca bencana karena
rata-rata ketika terjadi gempa, fasilitas pembuangan akan ikut hancur.
Namun hal ini merupakan kebutuhan pokok. Oleh sebab itu dilakukan
penguatan sistem ini agar tahan terhadap bencana.
 Sistem Pembuangan Limbah
Pasca bencana, akan banyak sampah yang berupa fisik, pemerintah Kota
Kobe mendirikan sistem pembuangan limbah yang kuat terhadap bencana
agar ketika nantinya terjadi bencana, maka sistem tersebut masih dapat
digunakan.
 Diversifikasi Sumber Energi
Energi merupakan factor penting dalam kehidupan. Ketika terjadi bencana
maka kemungkinan listrik mati sangat besar karena rusaknya jaringan akibat
bencana sehingga listrik maupun energi lain sulit untuk didistribusikan. Oleh
karena itu pemerintah Kota Kobe melakukan diversifikasi sumber energi agar
pasokan energy pasca bencana tetap dapat didisribusikan.

III-23
3.2.6 Manajemen Bencana Kota Kobe
Manajemen bencana merupakan dasar untuk mengurangi dampak akibat terjadinya
bencana. Bencana sendiri merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, namun
dapat diminimalisis dampaknya. Bagaimana agar dampak dari bencana tersebut
sangat minim, maka diperlukan manajemen bencana yang baik pula. Beberapa
kebijakan pemerintah Kobe terkait manajemen bencana
1. Meningkatkan kesiapan bencana untuk mengaktifkan cepat, tanggapan
fleksibel untuk berbagai bencana
2. Bencana memperkuat sistem dan meningkatkan koordinasi dengan organisasi
terkait untuk meningkatkan kemampuan tanggap darurat.
3. Memastikan kelancaran dan penyelamatan rekonstruksi proaktif melalui
koordinasi pengelolaan dan promosi daerah.
4. Aktif studi bencana dan memastikan pembentukan dan penanganan bencana
dari bawah kesadaran budaya terus-menerus sesuai untuk memastikan
respon dalam menghadapi bencana.

Dalam manajemen bencana, terdapat 4 proses penting, yaitu Peningkatan kesiapan


dalam menghadapi bencana, Peningkatan Kemampuan Respon Tanggap Darurat,
Peningkatan Kemampuan Aktivitas Penyelamatan dan Rekonstruksi, dan Penurunan
Kesadaran dalam Kesiapan Menghadapi Bencana.
1. Peningkatan kesiapan dalam menghadapi bencana
Sebelum datangnya bencana, masyarakat dan pemerintah harus sudah
melakukan berbagai upaya agar dapat meminimalkan dampak apabila
bencana tersebut terjadi. Yang dilakukan di Kota Kobe yaitu dengan
mendesain dan melihat persebaran ketika terjadi bencana dan menbuat
rencana apa saja yang dilakukan pasca bencana tersebut terjadi. Untuk
peralatan yang disediakan yaitu seperti penyediaan mobil pemadam
kebakaran, karena gempa bumi juga berisiko terjadinya kebakaran. Serta
penyediaan ambulans untuk mengevakuasi korban yang berjatuhan ketika
bencana tersebut datang.
2. Peningkatan Kemampuan Respon Tanggap Darurat
Setelah bencana terjadi tentu hal yang harus dilakukan yaitu mencoba
menolong orang yang mungkin masih dapat diberikan pertolongan. Dan
usaha-usaha perbaikan yang dapat dilakukan untuk sementara. Sedangkan
III-24
yang dilakukan oleh pemerintah Kota Kobe yaitu membuka lokasi informasi
darurat, agar segala informasi mengenai korban atau apapun dapat terakses
sehingga dapat membantu prose pemulihan.
3. Peningkatan Kemampuan Aktivitas Penyelamatan dan Rekonstruksi
Setelah bencana terjadi cukup lama, maka mulai dilakukan proses perbaikan
atau rekonstruksi kota atau daerah yang terkena bencana tersebut. Biasaya
pada tahapan ini infrastruktur yang rusak mulai dibangun kembali, begitu juga
bangunan-bangunan dan rumah-rumah pribadi. Yang dilakukan pemerintah
Kota Kobe yaitu dengan melaukukan kerjasama regional untuk membantu
pemulihan secara total serta melakukan menagemen terhadap kemungkinan
krisis yang terjadi akibat terjadinya bencana tersebut.
4. Penurunan Kesadaran dalam Kesiapan Menghadapi Bencana
Setelah tahap rekonstruksi atau pemulihan selesai, maka diperlukan
penanaman kesadaran kepada masyarakat agar ketika bencana datang
kembali, maka masyarakat sudah mengetahui apa saja yang harus dilakukan
agar dampak dari bencana tersebut dapat benar-benar diminmalisir. Hal ini lah
yang sangat baik dilakukan di Kobe. Masyarakat sangat menganggap serius
masalah mitigasi ini, dengan begitu ketika terjadi bencana gempa, masyarakat
di Kota Kobe sudah mengetahui apa yang harus dilakukan.

3.2.7 Riset Mengenai Gempa Bumi di Jepang


Selain melakukan bentuk-bentuk mitigasi non structural dan mitigasi structural,
Jepang dalam mitigasi non strukturalnya juga mengembangkan riset. Dan hasil riset
tersebut tentunya dapat dimanfaatkan oleh seluruh kawasan di Negara Jepang
termasuk Kota Kobe. Berikit beberapa riset Jepang mengenai kebencanaan.

A. Segitiga Kehidupan
Segitiga kehidupan ini merupakan bagian dari public education. Namun dalam
menentukan segitiga kehidupan ini baik untuk diterapkan, Doug Copp seorang
Kepala Penyelamat dan Manajer Bencana dari American Rescue Team International
(ARTI), tim penyelamat paling berpengalaman di dunia melakukan sebuah riset.
Dengan pengalaman merangkak di bawah 875 reruntuhan bangunan, bekerja sama
dengan tim penyelamat dari 60 negara, dan mendirikan tim penyelamat di beberapa
negara serta salah satu dari ahli PBB untuk Mitigasi Bencana selama 2 tahun. Dan
III-25
juga pengalaman bekerja di seluruh bencana besar di dunia sejak tahun 1985, Pada
tahun 1996 dibuat film yang membuktikan keakuratan metode bertahan hidup
segitiga kehidupan. Dengan meruntuhkan sebuah sekolah dan rumah dengan 20
boneka di dalamnya. 10 boneka "menunduk dan berlindung" dan 10 lainnya
menggunakan metode bertahan hidup "segitiga kehidupan". Setelah simulasi gempa,
ternyata setelah melihat ke dalam puing-puing dan masuk ke dalam bangunan untuk
membuat dukumentasi film mengenai hasilnya. Film itu menunjukkan bahwa boneka
yang menunduk dan berlindung tidak dapat bertahan hidup dan mereka yang
menggunakan metode "segitiga kehidupan" bertahan hidup 100%.

Gambar 3.5 Segitiga Kehidupan

Sumber :Tempo Interaktif

Dari gambar tersebut terlihat bahwa metode segitiga kehidupan ini akan terbentuk
dengan sendirinya ketika terjadi gempa dan puing-puing atap bangunan akan jatuh
dan membentur meja atau lemari atau peralatan lainnya dan membentuk sebuah
ruang kosong yang berbentuk segitiga yang dinamakan “segitiga kehidupan”.

B. Chikyu (Kapal Pengeboran Laut)


Sekelompok ilmuwan internasional dari Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa
melakukan penggalian pertama kalinya ke mantel bumi. Mata bor akan menerabas
kerak bumi dan untuk pertama kalinya menembus lapisan mantel, yang selama ini
belum terjamah. Penggalian akan dilakukan menggunakan kapal pengeboran laut
dalam Chikyu, yang ditargetkan bisa menembus sampai kedalaman 7.000 meter.
Pengeboran jauh ke dalam kerak bumi bukan perkara mudah. Salah-salah mata bor
justru menembus batuan leleh panas atau ladang minyak dan gas. Para ilmuwan
internasional yang tergabung dalam proyek ini memang tak mencari sumber minyak
III-26
apalagi gas bumi, tapi lumpur. Tapi lumpur yang dicarinya bukan sembarang lumpur,
seperti yang menyembur di proyek PT Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo. Mereka
mengincar lumpur dan inti batuan dalam, yang diharapkan bisa menyediakan
petunjuk kondisi iklim di muka bumi selama ratusan bahkan jutaan tahun. Batuan
dan lumpur dari mantel bumi itu juga akan dianalisis untuk mencari tanda-tanda
kehidupan. Seperti kita tahu, beberapa jenis bakteri mikroskopik bisa hidup pada
temperatur tinggi yang ditemukan di sekitar sumber air panas. Jika bakteri semacam
itu benar-benar ditemukan di kedalaman kerak dan mantel bumi, ada kemungkinan
mereka mempunyai enzim yang tahan temperatur panas.

Tentu bukan cuma lumpur yang akan diperoleh dalam Nankai Trough Seismogenic
Zone Experiment itu. Pengeboran ke mantel bumi ini diharapkan bisa memantau
pergerakan lempeng Filipina dan Eurasia yang berada di bawah kepulauan Jepang.
Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), yang menjadi
pemimpin proyek bernilai ratusan juta dolar itu, menyadari risiko misi tersebut.
Sampai saat ini, lubang pengeboran terdalam yang pernah dilakukan barulah
mencapai 2,1 kilometer, sepertiga dari target yang harus dilakukan Chikyu.
Diperkirakan Chikyu harus mengebor selama setahun sebelum bisa melubangi
mantel bumi. Namun, bila misi berhasil, pengeboran terapung di atas kapal seberat
57.500 ton itu akan mengambil sampel pertama dari kerak bumi. "Ini seperti proyek
Apollo, tapi di bawah tanah," kata peneliti Kan Aoike. "Sebuah upaya serius untuk
melengkapi eksplorasi kunci bagi umat manusia."

Chikyu, yang berarti bumi dalam bahasa Jepang, memulai pengeborannya di Palung
Nankai di Samudra Pasifik. Palung itu adalah lapisan kerak bumi paling tipis
dibanding kawasan sekitarnya. Satu tantangan yang harus diatasi oleh Program
Pengeboran Samudra Terpadu itu adalah menembus "Moho", daerah perbatasan
yang secara formal dikenal sebagai Mohorovicic discontinuity. Daerah ini menandai
pemisahan antara kerak bumi terluar yang rapuh dan mantel bumi yang lebih lunak
serta panas. Kerak bumi membentuk lapisan tipis terluar yang membungkus bumi.
Bagian ini terdiri atas batuan padat dengan tebal sekitar 72 kilometer di bawah
benua. Namun, di bawah samudra, tebalnya kurang dari 8 kilometer.

III-27
Bersama lapisan mantel terluar yang lebih tebal dan solid di bawahnya, kerak bumi
ini terpecah jadi lempengan-lempengan besar yang bergerak amat pelan.
Gerakannya mirip rakit hanyut di atas lapisan mantel cair di bawahnya. Batuan
mantel di bagian bawah memang selalu berada dalam kondisi cair karena tekanan
dan temperatur tinggi di perut bumi. Pergerakan lempeng amat lambat, sekitar 5
sentimeter per tahun. Pergerakan semacam ini bisa menghasilkan formasi
pegunungan, memicu gempa bumi dan erupsi gunung berapi di bagian tepi lempeng.

Pergerakan lempeng inilah yang menarik minat JAMSTEC, lembaga riset kelautan
Jepang. Apalagi negara itu berada di salah satu zona gempa paling aktif, yaitu
Palung Nankai, sehingga kerap diguncang gempa di atas magnitudo 8. Untuk
melaksanakan riset ini, JAMSTEC melengkapi Chikyu dengan berbagai teknologi
paling modern. Alat bor yang dibawanya menggunakan teknologi yang biasa dipakai
industri minyak. Bor ini dilindungi oleh pipa kedua yang diisi dengan lumpur sebagai
pelumas. Pipa ini memiliki besar yang pas dengan diameter pipa bor dan berfungsi
mengeluarkan serpihan batu dan tanah dari lubang. Sebuah katup pelepas tekanan
berfungsi mencegah semburan yang terjadi jika bor mengenai deposit minyak atau
gas bertekanan tinggi. Jika semburan terjadi, kapal bisa tenggelam, bahkan ledakan
dan kebakaran hebat. Yang paling penting, kapal itu juga dilengkapi sistem dynamic
positioning, mekanisme penentu lokasi yang dipandu satelit. Sistem ini bisa
mengoreksi posisi kapal terhadap angin, gelombang, dan arus dengan enam mesin
pendorong yang menjaga kapal tetap pada tempatnya. Pergeseran kapal sedikit saja
akibat gelombang atau arus bisa membuat pipa bor menjadi bengkok.

Dalam proyek selama 10 tahun itu, JAMSTEC didampingi oleh tim ilmuwan Amerika
Serikat dan Eropa. Selain riset tentang pergerakan lempeng tektonik, ada sejumlah
tugas lain yang harus dikerjakan para ilmuwan tersebut, termasuk upaya
menemukan kehidupan baru dan potensi menyelamatkan umat manusia. Setelah
Chikyu sukses membuat lubang pengeboran sampai ke mantel bumi, sejumlah
sensor akan diletakkan ke dalamnya untuk memantau pergerakan lempeng.
Tujuannya memprediksi kapan dan dimana gempa akan mengguncang dan
mengevakuasi penduduk dari daerah bencana. Metode tercanggih yang ada saat ini
hanya bisa memberikan peringatan akan adanya gempa beberapa menit sebelum
bencana itu terjadi. Riset ini diharapkan gempa dapat diminimalisir dampaknya.
III-28
3.3 Mitigasi Gempa Bumi di Kota Quito, Equador
3.3.1 Gambaran Umum Wilayah Kota Quito
Gambaran umum mengenai Quito akan terbagi menjadi pembahasan mengenai
aspek geografis, kependudukan, ekonomi, infrastruktur, riwayat gempa bumi.
Bahasan pada setiap aspek akan dikaitkan dengan salah satu/beberapa faktor yang
memengaruhi resiko Quito terhadap bencana gempa bumi; yakni potensi bahaya
(hazard), kerentanan (vulnerabiity), dan kapasitas (capacity).

A. Aspek Geografis
Kota Quito terletak di bagian tengah-utara dari Equador, tepatnya pada koordinat
00°15′00″S 78°35′00″W. Lokasi menyebabkan secara keseluruhan Quito berada
pada daerah dataran tinggi yang memanjang di sepanjang sempadan Sungai
Guayllabamba. Adapun pada bagian barat Kota Quito berbatasan langsung dengan
Gunung Api Pichincha. Quito berada pada Lempeng Amerika Selatan yang
berbatasan langsung dengan Lempeng Nazca. Dengan kondisi tersebut, maka pada
dasarnya Quito memiliki iklim yang sejuk, dengan suhu 19oC siang hari dan 10oC
pada malam hari.

Luas wilayah Kota Quito mencapai 4.204 km2 pada ketinggan 2.580 m dpl, adapun
bentuk kota ini sendiri ialah memanjang; menandakan pola ribbon development.
Panjang Kota Quito mencapai 40 km, sedangkan lebarnya hanya 5 km. Kota Quito
secara keseluruhan terbagi atas 32 bagian kota, yang secara umum karakteristik
penggunaan lahannya dapat diidentifikasikan menjadi 3 kelompok yang dibatasi oleh
bukit. Bagian tengah Kota Quito merupakan kawasan kota tua. Bagian selatan kota
mayoritas merupakan perumahan berskala rendah-menengah serta kawasan
industri. Adapun bagian utara merupakan bagian yang modern dengan karakteristik
penggunan lahan dipenuhi high rise building untuk bisnis, komersial, dan
permukiman elit.

Kondisi geografis ini menyebabkan Quito memiliki potensi bahaya gempa bumi yang
berasal dari 3 tempat kemungkinan episentrum; yakni gempa di lautan, gempa di
daratan, serta gempa lokal (Quito Risk Manajement Project, 1994).

III-29
Gambar 3.6 Peta Lokasi Quito

Sumber : Municipio de Quito

B. Aspek Sosial Kependudukan


Kota Quito merupakan kota dengan jumlah penduduk terbanyak di Equador.
Diperkirakan terdapat 2.504.991 jiwa di seluruh wilayah Quito (data tahun 2005)
yang tersebar di sepanjang koridor Quito. Keadaan saat ini merupakan hasil dari
ledakan penduduk yang terjadi di Quito sejak 4 abad lalu. Pada tahun 1868, Kota
Quito hanya berpenduduk 45.000 jiwa; ledakan penduduk tercatat terjadi pada awal
tahun 1990-an sampai dengan saat ini.
Gambar 3.7 Grafik Pertumbuhan Penduduk Kota Quito

Sumber : Quito Earthquake Manajement Project

III-30
Jumlah serta persebaran penduduk dibandingkan dengan luas wilayah Kota Quito
memberikan ruang kehidupan dalam bentuk kepadatan pendudu yang mencapai
4.313,9 jiwa/km2. Adapun banyaknya rumah tangga di Quito ialah sebanyak 419.845
rumah tangga. Penduduk Quito pun terbagi ke dalam kelompok-kelompok sosial
berdasarkan pekerjaan dan tingkat ekonomi mereka yang tersebar satu pola dengan
persebaran guna lahan. Pada umumnya penduduk Quito merupakan ras hispanik
dengan bahasa dan budaya yang hampir sama.

Ledakan penduduk di Kota Quito merupakan salah satu faktor yang semakin
memperbesar resiko bencana gempa bumi di kota tersebut. Di samping karena unsur
jumlah penduduk, unsur kepadatan dan persebaran merupakan unsur penting
lainnya karena hal perbandingan jumlah penduduk yang timpang terhadap daya
dukung lahan dapat mengurangi kemampuan lahan dalam mendukung kehidupan di
atasnya. Selain itu, ledakan penduduk ialah faktor penarik tumbuh dan
berkembangnya pola perkembangan Kota Quito yang tidak ramah terhadap
bencana.

C. Aspek Ekonomi
Kota Quito sebagai Ibukota Negara Equador di samping berfungsi sebagai ruang
kehidupan bagi masyarakat yang tinggal di atasnya juga berfungsi sebagai pusat
pemerintahan. Sebagaimana tipikal negara berkembang, kedudukan ibukota negara
kerap menjadikan kota tersebut sangat menarik untuk menjadi tempat investasi yang
pada akhirnya menjadikan kota tersebut juga sebagai pusat perekonomian. Pada
akhirnya kota menjadi sangat vital dipandang dari segi politis juga ekonomis.

Sebagai pusat perekonomian, tentu konsentrasi kegiatan ekonomi akan berada di


kota tersebut dengan wilayah pengaruhnya yang jauh melebihi wilayah kota itu
sendiri. Pada umumnya modal berupa dana, pabrik, kantor pusat, dan lain
sebagainya pun akan terkonsentrasi di tempat yang sama. Sebagaimana
diindikasikan melalui informasi guna lahan yang telah didapatkan, seluruh karakter 3
bagian Quito memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Bagian utara dengan pusat
perekonomian dalam bentuk high rise building, bagian tengah dengan warisan
sejarah sebagai modal pariwisata, serta bagian selatan yang memiliki banyak pabrik;
seluruhnya merupakan faktor ekonomi yang perlu dilindungi dari bencana.
III-31
D. Aspek Infrastruktur
Aspek infrastruktur (sarana dan prasarana) merupakan aspek yang sangat penting,
baik dalam kehidupan sehari-hari maupun pada saat tanggap darurat bencana.
Kerentanan terhadap infrastruktur merupakan suatu hal penting mengingat sifatnya
saling bergantung dengan lahan perkotaan yang dilayaninya (Chapin, Kaiser,
Godschalk, 1995 : 369). Dalam hal yang berkaitan langsung dengan bencana, studi
menyebutkan bahwa terdapat 5 jenis infrastruktur terpenting dalam situasi
pengelolaan bencana; yakni infrastruktur listrik, air bersih, jalan (transportasi),
kesehatan, dan pemadam kebakaran. Di samping itu, kerentanan terhadap
infrastruktur bangunan (untuk jenis kegiatan apapun) juga merupakan hal yang
sangat penting.

Berkaitan dengan uraian di atas, pada dasarnya perkembangan hampir seluruh


infrastruktur di Quito berkembang kurang terencana. Hal ini di samping mengurangi
efisiensi layanan pada saat normal, juga kurang reliable pada saat terjadinya
bencana. Studi “Quito Earthquake Risk Manajement Project” menggarisbawahi
beberapa temuan penting terkait hal tersebut :
a) Sistem jaringan listrik dan air bersih di Quito bukan dibangun pada suatu
sistem loop. Dengan demikian pada keadaan terjadi kerusakan, meskipun
hanya satu titik, maka layanan akan tidak berjalan dan beberapa blok kota
tidak akan terlayani.
b) Jaringan jalan yang berkembang secara linier disertai perkembangan
penduduk dan pembangunan kota yang sporaris menyebabkan jaringan jalan
sulit untuk berkembang serta tidak semua akses jalan saling terhubung.
Pada keadaan terjadi bencana jaringan jalan yang berada di kawasan
berbukit (yang membatasi antar bagian kota) sangat rentan untuk tidak
berfungsi sebagaimanamestinya.
c) Pola perkembangan Kota Quito juga berimplikasi pada kerentanan dan
kapasitas layanan sarana kesehatan, keamanan (polisi), dan pemadam
kebakaran. Ketiga sarana pelayanan tersebut tidak tersebar secara merata di
seluruh wilayah Kota Quito.

III-32
Gambar 3.8 Peta Kerentanan Infrastruktur Listrik, Jalan, dan Air Bersih di Kota Quito

Sumber : The Quito Earthquake Risk Manajement Project

III-33
Dalam konteks layanan transportasi secara umum, di samping pengembangan jalan
sebagai prasarana transportasi; di Quito juga telah dikembangkan transporasi
massal dalam bentuk kereta api serta kereta listrik. Di samping itu, kondisi Quito
sebagai kota land-log membuat Quito tidak memiliki akses transportasi laut, dan
sebaliknya mengembangkan transportasi udara. Namun demikian keduanya pun
memiliki kerentanan yang tinggi terhadpa bencana gempa bumi. Pada kasus
transportasi kereta api/listrik, ketergantungan terhadap listrik serta pengembangan
jaringan rel kereta api masih rentan terhadap kerusakan dari gempa bumi. Pada
kasus transportasi udara, keberadaan Mariscal Sucre International Airport yang
berada di tengah-tengah kepungan high rise building yang padat; pada kondisi terjadi
bencana sangat memungkinkan untuk terkurangi kapastias layanannya jika struktur
bangunan di sekelilingnya mengalami kerusakan.

Gambar 3.9 Foto Marsical Sucre International Airport

Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Quito

Aspek infrastruktur lainnya yang sangat perlu diperhatikan keretanannya terhadap


bencana ialah sarana bangunan (dalam konteks untuk fungsi apapun). Fokus
perhatian dalam hal ini ialah kerentanan terhadap bangunan rumah (residential),
perkantoran, serta fasilitas sosial lainnya. Ledakan penduduk dan perkembangan
kota mengakibatkan banyak munculnya bangunan yang tidak dirancang dengan baik
(non-engineered structur) serta ketiadaan building codes untuk bangunan tahan
gempa merupakan gambaran tingkat kerentanan bangunan di Quito terhadap gempa
bumi (The Quito Earthquake Risk Manajement Project, 1994).

III-34
E. Aspek Riwayat Kebencanaan
Dalam menilai tingkat kerawanan suatu wilayah atas suatu potensi bahaya alam,
maka informasi mengenai riwayat kebencanaan menjadi sangat penting. Bagi Quito,
sejarah mengenai kejadian gempa bumi telah tercatat sejak 460 tahun lalu. Selama
periode tersebut tercatat terdapat 23 kali gempa bumi berintensitas VI MMI ke atas
dan tentu terdapat ribuan gempa kecil. Berikut ialah data gempa berkekuatan VII
sampai IX MMI di Quito :
a) Gempa berkekuatan IX MMI tercatat tahun 1859 dan 1868
b) Gempa berkekuatan VIII MMI tercatat tahun 1587 dan 1755
c) Gempa berkekuatan VII MMI tercatat tahun 1797, 1923, dan 1987

Dengan ditambahkan pada catatan lainnya serta statistik yang ada; pada dasarnya
terdapat beberapa pola bahwa gempa berkekuatan VIII MMI ke atas rata-rata
berulang selama 113 tahun sekali, gempa berkekuatan VII MMI ke atas rata-rata
berulang selama 65 tahun sekali, gempa berkekuatan VI MMI ke atas rata-rata
berulang selama 20 tahun sekali. Hal ini tentu telah menunjukkan bahwa potensi
bahaya gempa bumi akan terus ada bagi Kota Quito. Isu bencana gempa bumi di
Quito juga semakin penting untuk disikapi karena seiring potensi bahaya yang selalu
ada, kerentanan dan kapasitas Quito dalam menghadapi gempa bumi semakin
berkurang. Sebagai perbandingan, pada kejadian gempa 1868 (IX MMI) jumlah
penduduk Quito hanya 1/25 jumlah penduduk Quito di tahun 1994. Adapun pada
kejadian gempa 1987 (VII MMI) dengan jumlah penduduk telah melampaui
1.000.000 jiwa, gempa mengakibatkan korban jiwa 1.000 meninggal dunia dan
kerugian 700 juta dollar.

3.3.2 Kebijakan Pengelolaan Bencana (The Quito Earthquake Risk Manajement)


Pembahasan mengenai kebijakan pengelolaan bencana gempa bumi di Equador
umumnya dan Kota Quito secara khusus, baru mulai dirintis pada awal dekade
90’an. Hal ini cukup bersamaan dengan pencanangan dekade 90’an sebagai dekade
pengurangan resiko bencana oleh PBB. Perumusan kebijakan pengelolaan bencana
gempa bumi di Quito pun merupakan cerminan kerjasama internasional dalam
pengurangan resiko bencana. Di semangat internasional, awal perumusan kebijakan
juga didorong gempa bumi di Quito tahun 1987 (VII MMI). Perumusan kebijakan
tersebut didokumentasikan dalam “The Quito Earthquake Risk Manajement Project”.
III-35
“The Quito Earthquake Risk Manajement Project” sebagai pilot project yang
mengawai kebijakan pengelolaan bencana gempa bumi secara umum merupakan
kerjasama antara Pemerintah Equador, Pemerintah Kota Quito, GeoHazard
International (Amerika Serikat), dan OYO Corporation (Jepang). Proyek ini dirintis
pada tahun 1991-1992 dan berlangsung sampai dengan tahun 1994. Adapun tujuan
dari Quito’s Project ialah :
1. Meningkatkan pemahaman atas potensi bahaya gempa bumi dia Kota Quito.
2. Meningkatkan kepekaan atas resiko gempa bumi di Ekuador dan dunia pada
umumnya.
3. Merancang program pengelolaan atas bencana gempa bumi.

Selama kurun waktu kurang lebih 2 tahun, Quito’s Project terbagi atas 3 tahapan;
yakni 1) Tahap analisis potensi bahaya gempa bumi di masa mendatang serta
dampaknya bagi Kota Quito, 2) Tahap analisis dampak kehidupan di Kota Quito
selama satu bulan setelah terjadi bencana gempa bumi, hal ini dilakukan melalui
treasure study atas gempa bumi tahun 1987 (VII MMI), dan 3) Tahap rekomendasi
pengelolaan resiko bencana gempa bumi di Kota Quito.

Pada setiap tahapan di samping sangat mengandalkan pada ilmuwan internasional


dan Equador; keterlibatan dari masyarakat umum serta kalangan dunia usaha juga
sangat penting. Dalam hal keberhasilan menarik minat setiap stakeholder untuk
terlibat dalam proyek ini merupakan salah satu kelebihan Pemerintah Kota Quito.
Proses penyusunan kebijakan dalam bentuk Quito’s Project ini juga memberikan
perspektif baru dalam aspek kepemerintahan. Dominasi Pemerintah Pusat atas
banyak sektor publik seperti pendidikan, keamanan (polisi), kesehatan, energi dan
bencana; dengan hanya menyisakan urusan drainase dan tata ruang pada
Pemerintahan Kota berhasil diubah paradigmanya melalui proyek ini. Pada akhirnya,
integrasi pemerintah pada setiap level, dukungan ilmuwan internasional, dan
ketertarikan masyarakat umum menjadikan Quito’s Project dapat berhasil melalui
ketiga tahapan dengan baik.

III-36
Bentuk kebijakan lain selain menjadikan dokumen The Quito Earthquake Risk
Manajement Project sebagai landasan dalam perencanaan mitigasi bencana; ialah
pembentukan Quito Earthquake Safety Advisory Board (QESAB). Pembentukan ini
didasari pada kebutuhan kepemimpinan, komitmen, dan keberlanjutan dalam
mengimplementasikan rencana mitigasi bencana gempa bumi di Kota Quito.
Perspektif yang dihasilkan pada pelaksanaan proyek menyebutkan bahwa dalam
pengelolaan bencana sangat dibutuhkan koordinasi yang berkesinambungan antara
Pemerintah Pusat, Pemerintah Kota, Lembaga Swadaya Masyarakat, Perusahaan-
perusahaan, sekolah, dan sebagainya. Oleh karenanya bentuk koordinasi yang
dibentuk ialah suatu badan yang terdiri atas berbagai unsur dan bertanggungjawab
langsung kepada Walikota Quito.

Pelaksanaan pekerjaan QESAB dilakukan, dikoordinasikan, dan dilaporkan langsung


kepada Walikota Quito melalui koordinator yang ditunjuk langsung oleh walikota dan
bertindak selaku Asisten Walikota Quito khusus mengenai lingkup pekerjaan ini.
Arahan kerja QESAB diberikan langsung oleh Walikota yang mencakup tujuan dan
wewenang QESAB, kriteria pemilihan anggota, dan kaitannya dengan lingkup
pekerjaan Pemerintah Kota. Pada dasarnya QESAB terdiri atas representasi
Pemerintah Kota, representasi pengusaha, berbagai perwakilan kantor pelayanan
publik, akademisi, serta komunitas terkait lainnya.

Badan ini bertanggungjawab memberi masukan pada Walikota, Pemerintah Kota,


sektor swasta atas bentuk kegiatan yang harus dilakukan sebagai bentukkesiapan
menghadapi gempa bumi. Badan ini juga bertanggungjawab melakukan prioritas
mitigasi yang dilakukan berdasarkan analisis resiko bencana sekaligus
melaksanakan program manajemen bencana, updating data, advokasi mitigasi, serta
pencarian dana untuk kebutuhan mitigasi dan pengelolaan bencana. Dalam rangka
memenuhi kegiatan tersebut, badan ini diberi wewenang untuk melakukan berbagai
kerjasama sampai dengan ke level internasional.

3.3.3 Analisis Resiko Gempa Bumi Kota Quito di Masa yang Akan Datang
Tahap pertama pada Quito’s Project merupakan langkah penting bagi keseluruhan
tahap dan kegiatan berikutnya, bahkan sampai ketika proyek ini berakhir. Analisis
terhadap kemungkinan terjadinya gempa bumi di masa yang akan datang serta
III-37
proyeksi resiko serta dampak yang mungkin terjadi di seluruh wilayah Quito, di
samping merupakan landasan bagi kebijakan serta bentuk mitigasi lainnya juga
memiliki arti strategis untuk membuat seluruh pihak terkait sadar bahwa pengelolaan
bencana merupakan tanggung jawab bersama. Tahap pertama ini diawali dengan
penentuan tiga jenis kemungkinan gempa bumi yang dapat menyebabkan
kerusakan/kerugian di Quito.

Intensitas getaran yang akan dirasakan tanah di Quito akibat terjadinya suatu gempa
bumi ditentukan oleh tiga faktor, yakni 1) kekuatan gempa (magnitude), 2) jarak
epicenter gempa terhadap Kota Quito, dan 3) kondisi tanah di masing-masing tempat
di Kota Quito. Dalam analisis kemungkinan gempa di masa datang yang akan
memengaruhi Kota Quito, para ahli menginterpertasi data dari catatan gempa bumi
Quito sampai dengan abad ke-16. Pada akhirnya dihasilkan tiga kemungkinan,
sebagai berikut :
a) Gempa bumi di lautan pada zona subduksi dengan kekuatan 8,4 MMI
dengan lokasi epicenter 200 km di arah barat Kota Quito (Titik A).
b) Gempa bumi di daratan dengan kekuatan 7,3 MMI dengan lokasi epicenter
80 km di arah timur Kota Quito (Titik B).
c) Gempa bumi lokal dengan kekuatan 6,5 MMI dengan lokasi epicenter 25 km
di arah utara Kota Quito (Titik C).

Gambar 3.10 Peta Lokasi Kemungkinan Gempa Bumi di Kota Quito

Sumber : The Quito Earthquake Risk Manajement Project

III-38
Intensitas getaran yang dirasakan pada suatu lokasi di Kota Quito pada akhirnya
ditentukan pula oleh keadaan tanah di lokasi itu sendiri. Sebagai contoh, ketika
seluruh faktor yang menentukan intensitas yang dirasakan berada pada kondisi yang
sama; tanah yang lebih lembut bergetar lebih kencang dibandingkan dengan tanah
yang keras. Untuk dapat memeroleh analisis dampak yang lebih detail, maka Kota
Quito dibagi ke dalam 18 zona, berdasarkan keadaan tanah di masing-masing zona.
Pada setiap zona akan dianalisis intensitas gempa yang terasa akibat ketiga jenis
gempa bumi yang diperkirakan akan terjadi.

Berdasarkan hasil analisis resiko yang dilakukan, terdapat temuan penting terhadap
intensitas gempa yang terasa di Kota Quito; yakni 1) Meskipun gempa di lautan (8,4
MMI) melepaskan energi 30 kali lebih besar dari gempa daratan (7,3 MMI); gempa
tersebut memberikan intensitas gerakan tanah yang lebih kecil karena lokasi
episentrum sejauh 120 km dari Kota Quito. 2) Meskipun kekuatan gempa lokal di
Kota Quito merupakan yang terkecil, tetapi menyebabkan intenstitas gempa yang
terasa di Kota Quito lebih besar dibandingkan jenis gempa lainnya. Besaran
intenstias gempa yang dirasakan pada setiap zona relatif berbeda terkait dengan
getaran dan loksi episentrum gempa. Perbandingan intensitas gempa yang terasa
pada setiap zona akibat setiap jenis gempa ditunjukkan pada Gambar 3.x.

Hasil analisis gerakan tanah dan besaran intensitas gempa yang dirasakan pada
setiap zona di Kota Quito pada dasarnya menjadi landasan dalam memperkirakan
dampak yang akan ditimbulkan terhadap berbagai aspek kehidupan di Quito. Dalam
hal ini terlihat dampak kerusakan terhadap bangunan-bangunan, prasarana jalan
raya, jaringan listrik, jaringan air bersih, dan jaringan drainase. Oleh karena jenis
gempa lokal diperkirakan memberikan dampak kerusakan yang paling besar; maka
dalam Quito’s Project jenis gempa ini yang lebih diperhatikan dalam penyusunan
rencana mitigasi bencana di Kota Quito.

III-39
Gambar 3.11 Perbandingan Intesitas Gempa di Setiap Zona Kota Quito Akibat Ketiga Jenis Gempa Bumi

Intensitas Gempa Intensitas Gempa Intensitas Gempa


Akibat Gempa di Laut (A) Akibat Gempa di Daratan (B) Akibat Gempa Lokal (C)
Sumber : The Quito Earthquake Risk Manajement Project

III-40
Hasil besaran intensitas gempa yang dirasakan pada setiap zona di Kota Quito
kemudian digunakan untuk mengestimasi kerusakan akibat gempa terhadap
bangunan dan infrastruktur. Estimasi ini dapat dilakukan dengan memiliki data
mengenai tipe struktur yang ada di setiap zona dan analisis respon setiap struktur
terhadap pengaruh setiap gempa. Perilaku setiap struktur dalam kondisi gempa tidak
hanya dipengaruhi oleh kondisi tanah; melainkan pula oleh usia struktur, material,
desain, kualitas konstruksi, dan dimensi stuktur itu sendiri.

Berdasarkan karakteristik bangunan atas


Gambar 3.12 Peta Sebaran Jenis
faktor-faktor tersebut, pada dasarnya Kelompok Bangunan di Kota Quito
terdapat 5 kelompok jenis bangunan di
Quito; yakni :
a) adobe (bangunan bata)
b) masonry (bangunan batu)
c) self-built,
d) steel, dan
e) beton bertulang (reinforced concrete)

Di samping pengelompokkan di atas,


terdapat pula pengelompokkan
berdasakan jumlah lantai bangunan,
yakni:
a) Low-Rise Building (< 3 lantai)
b) Med-Rise Building (3-7 lantai)
c) High-Rise Building (> 8 lantai)

Besaran gempa yang disimulasikan pada


setiap jenis bangunan pada zona-zona
tanah di Kota Quito ialah mengacu pada
standar bangunan yang diterapkan di
California, serta intensitas gempa yang Sumber : The Quito Earthquake
Risk Manajement
terjadi di Kota Quito pada tahun 1987.

III-41
Dari kelompok-kelompok jenis bangunan Gambar 3.13 Peta Sebaran
tersebut, kemudian ditemukan bahwa Kerusakan Bangunan akibat Gempa

terdapat karakteristik blok-blok di Quito.


Karakteristik tersebut bergantung pada
kelompok struktur yang dominan pada
suatu blok, yakni :
1) Jenis struktur yang paling dominan
di Kota Quito adalah flat.
2) Terdapat kelompok bangunan “non-
engineered” dan permukiman
kumuh yang tidak teratur.
3) Terdapat konsentrasi bangunan
zaman dahulu dengan bahan batu
bata di tengah-tengah kota.

Pada gambar 3.x terlihat persentase


kerusakan yang dialami setiap struktur
dengan tingkatan kerusakan masing-
masing. Jenis kerusakan di Kota Quito
terbagi atas 7 level; yakni None, Slight,
Light, Moderate, Heavy, Major, dan
Destroyed Sumber : The Quito Earthquake
Risk Manajement
Berdasarkan gambar di samping, kita dapat melihat bahwa area dengan kerusakan
10-20% merupakan area kerusakan terluas dengan jenis bangunan self-built.
Adapun pada bagian utara Quito yang lokasinya cukup dekat dengan episentrum
gempa, kerusakan 10-20% dialami bahkan oleh jenis bangunan reinforced concrete
(yang mayoritas adalah high-rise building); sedangkan jenis bangunan self-built yang
terletak di daerah tersebut mengalami kerusakan sampai dengan lebih dari 30%.
Pada lokasi-lokasi yang umumnya bangunan self-built mengalami kerusakan 10-
20%, jenis bangunan dengan konstruksi beton (reinforced concrete) hanya
mengalami kerusakan berkisar antara 3-9% saja.

III-42
3.3.4 Teknis Mitigasi Bencana Struktural di Kota Quito
A. Peningkatan Kualitas Infrastruktur Tanggap Darurat
Tingkat kerentanan Kota Quito yang tinggi terhadap potensi bencana gempa bumi
salah satunya disebabkan oleh minim dan tidak meratanya fasilitas dan peralatan
untuk respon darurat bencana; hal ini mencakup infrastruktur pemadam kebakaran,
polisi, serta ruang untuk evakuasi. Oleh karena itu konsentrasi mitigasi bencana
struktural di Kota Quito masih pada tahap memprioritaskan pengemangan
kemampuan respon darurat bencana melalui pembangunan infrastruktur tanggap
darurat agar dapat cepat dan efektif dalam bertindak pada kondisi tanggap darurat.
Langkah mitigasi ini meliputi inventarisasi kemampuan sumber daya manusia dan
infrastruktur yang dimiliki; untuk kemudian dikembangkan sesuai dengan analisis
resiko dan dampak bencana gempa bumi di Kota Quito.

Langkah mitigasi struktural ini menjadi tanggungjawab bersama antara Pemerintah


Kota Quito, Pemadam Kebakaran, berbagai Rumah Sakit, Polisi, dan Lembaga
Tanggap Darurat lainnya. Koordinasi antar lembage tersebut menghasilkan
kesepakatan bahwa prioritas berada pada peningkatan infastruktur Pemadam
Kebakaran, Search & Resque (SAR), dan rumah sakit. Prioritas utama dari
keseluruhan kegiatan ialah penyebaran sarana masing-masing prioritas sehingga
terdapat akses yang sama di seluruh wilayah Quito terhadap pemadam kebakaran
dan rumah sakit. Adapun langkah detail lainnya sebagai berikut :
a) Inspeksi rutin terhadap kesiapan Hydrant oleh Pemadam Kebakaran dan
PDAM Kota Quito.
b) Penyediaan crane untuk perbaikan saluran drainase
c) Penyediaan peralatan keselamatan (P3K, makanan darurat, cadangan air
bersih) untuk perusahaan-perusahaan, industri, fasilitas sosial.
d) Peningkatan kemampuan dan peralatan untuk Search&Rescue Team

B. Adopsi dan Penerapan Building Code


Penerapan building code diharapkan dapat memastikan keselamatan berbagai
fasilitas, agar dirancang dan dibangun dalam suatu standar yang tahan gempa.
Dalam mitigasi ini, sekelompok insinyur sipil dan perencana kota memuat suatu
aturan building code untuk seluruh jenis bangunan di Kota Quito, memfasilitasi
integrasi building code terhadap desain dan rancangan bangunan, serta secara
III-43
berkala meng-update building code tersebut. Penerapan building code dilakukan
melalui pendidikan terhadap para perencana, arsitek, dan insinyur sipil.

Model umum building code di Kota Quito mengadopsi model Uniform Building Code
yang diterapkan di Amerika Serikat. Jenis mitigasi bencana ini, secara spesifik,
merupakan tanggung jawab Sociedad Ecuatoriana de Ingenirea Estructural, Camara
de la Construccion de Quito, Municipio de Quito, dan Institutio Ecuatoriano de
Normalizacion. Berikut ialah beberapa kegiatan spesifik penerapan building code di
Quito :
 Pengembangan building code yang lebih ketat bagi fasilitas sosial seperti
rumah sakit, pemadam kebakaran, kantor polisi, sekolah, dan tempat
pengungsian
 Pengembangan building code khusus bagi bangunan/struktur kritis,
seperti misalnya bangunan kuno
 Penerbitan dan publikasi peraturan bagi rancangan rumah tipe self-built
yang umumnya dibangun sendiri oleh pemilik rumah
 Pengadaan pelatihan untuk para profesional di bidang konstruksi
mengenai seismic design and constructio
 Pengadaan peraturan loan agreement agar bangunan-bangunan sewaan
dipastikan tetap mematuhi building code.

3.3.5 Teknis Mitigasi Bencana Non Struktural di Kota Quito


Implementasi mitigasi bencana gempa non struktural di Kota Quito lebih banyak
jenisnya dibandingkan dengan mitigasi struktural. Jenis mitigasi non struktural
tersebut antara lain pelatihan kebencanaan dan peraturan asuransi. Berikut ialah
uraian dari setiap jenis mitigasi non struktural tersebut :

A. Pelatihan Kebencanaan berbasis Tempat Kerja


Salah satu faktor yang membuat kerentanan Kota Quito tinggi ialah ketidaksadaran
masyarakat bahwa tempat tinggal mereka ialah daerah rawan bencana. Hal ini
memengaruhi perilaku masyarakat yang tidak siap ketika bencana sewaktu-waktu.
Oleh karena itu bentuk mitigasi melalui kegiatan pelatihan kebencanaan menjadi
sangat penting.

III-44
Strategi peningkatan kemampuan dan kesiapan masyarakat melalui pelatihan yang
berbasiskan personil industri dan perusahaan-perusahaan di bidang lain. Asumsi
yang digunakan ialah bahwa melalui strategi ini akan menyebarkan informasi
mengenai bencana di setiap rumah tangga, hal ini dipercaya akan berhasil karena
personil perusahaan sebagai manusia dewasa diasumsikan memiliki logika berpikir
dan kebijaksanaan dalam menyalurkan infomasi bagi lingkungannya.

Di samping asumsi di atas, pendekatan pelatihan melalui personil/karyawan juga


dilakukan untuk memancing ketertarikan manajemen perusahaan terhadap resiko
bencana gempa bumi yang ada di Kota Quito. Dengan demikian, manfaat pendidikan
kebencanaan tidak hanya bagi personil, tetapi juga terhadap perusahaan itu sendiri.
Pengenalan terhadap resiko bencana akan menstimulus perusahaan untuk membuat
rencana darurat, jika kejadian bencana terjadi dan memengaruhi kegiatan di
perusahaan tersebut.

Pengembangan substansi pelatihan serta pengemasan pelatihan menjadi isu yang


terus bergulir dan berkembang di dalam mitigasi ini. Pemberian pelatihan terhadap
personil perusahaan disepakati akan dikelola bersama antara perusahaan tersebut,
Palang Merah, Pemadam Kebakaran, ALERTA, serta Pertahanan Sipil.

B. Peraturan Asuransi Pro Kesiapan Bencana Gempa Bumi


Penerapan peraturan asurasi dengan persyaratan yang sangat mempertimbangkan
adanya potensi bencana gempa bumi akan mendorong tanggung jawab dalam
membuat konstruksi bangunan yang tahan gempa. Melalui mitigasi bencana jenis ini,
Pemerintah Kota Quito menerapkan suatu standar dan tarif asuransi bagi seluruh
masyarakat agar membangun dan menempati bangunan yang tahan gempa.

Tarif asuransi bagi setiap jenis bangunan akan ditentukan melalui variabel kondisi
tanah dikaitkan dengan intensitas tanah tersebut pada kondisi gempa, distribusi
kerusakan, dan rancangan serta konstruksi bangunan. Keringanan tarif asuransi
akan diberikan pada bangunan yang sesuai dengan syarat konstruksi. Hal ini juga
memberikan tambahan kompensasi pada kerusakan bangunan ketika gempa bumi
terjadi.

III-45
3.3.6 Riset Ilmu Kebencanaan dan Teknologi di Kota Quito
Pendekatan potensi geologi pada tahap awal pekerjaan Quito’s Project hanya
mengandalkan data geologi yang terbatas. Terdapat banyak asumsi yang digunakan
seperti kedalaman jenis-jenis batuan di bawah permukaan Kota Quito, perlambatan
gerakan tanah akibat gempa, respon tanah, dan respon berbagai jenis struktur
bangunan dalam keadaan gempa. Riset lebih jauh dalam hal ini akan meningkatkan
tingkat kedetailan mengenai potensi bahaya geologi gempa bumi, metode
pengenalan resiko gempa bumi, dan kebijakan pengelolaan bencana gempa bumi.
Berikut ialah fokus riset keilmuan untuk Kota Quito :
a) Pengembangan basis tanah profil tanah
b) Pemetaan batuan bawah tanah
c) Pemetaan sesar dan lipatan aktif
d) Penempatan alat deteksi gempa bumi dan pengukur intensitas tanah
e) Studi evaluasi respon bangunan dalam keadaan gempa
f) Pengembangan metode prediksi kerusakan struktur bangunan akibat gempa
g) Pengembangan skenario resiko gempa bumi untuk wilayah Quito yang lebih
luas lagi

III-46
BAB IV
PENUTUP

4.1 Apresiasi dan Kritik


4.1.1 Apresiasi dan Kritik Mitigasi Bencana Kota Nice, Prancis
Kota Nice sebagai kota dengan tingkat ekonomi yang relatif tinggi ternyata
merupakan suatu kota dengan tingkat kerawanan bencana gempa yang cukup tinggi.
Akan tetapi, hal tersebut ternyata belum dapat disikapi dengan serius oleh
pemerintahan di Kota Nice tersebut. Hal ini terlihat dari kurangnya penanganan
terhadap bencana yang akan terjadi khususnya gempa. Tidak adanya komisi khusus
yang menangani itu memungkinkan adanya keterlambatan dalam aksi menghadapi
bencana yang akan terjadi. Hal itu terjadi dimungkinkan karena periodesasi
terjadinya bencana yang relatif cukup lama yaitu lebih dari 1 abad. Pemerintah Kota
Nice masih menganggap kejadian bencana gempa masih belum terlalu penting untuk
diperhatikan dengan serius.

Meskipun begitu, Kota Nice telah lebih maju dibandingkan dengan kota-kota lainnya
di Prancis. Hal ini disebabkan Kota Nice berlokasi sangat dekat dengan laut serta
struktur lapisan tanah yang kurang stabil memberikan tingkat kerawanan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Kota Nice telah mengaplikasikan
berbagai kebijakan construction code lebih dahulu dibandingkan dengan kota-kota
lainnya. Selain itu, berbagai penelitian telah dilakukan dengan lokasi studi di Kota
Nice sehingga memberikan pengetahuan yang lebih baik mengenai kondisi Kota
Nice baik fisik, sosial, maupun ekonomi. Begitu juga dengan pemberian berbagai
pendidikan kebencanaan terhadap masyarakat.

Pada intinya, mitigasi bencana di Kota Nice perlu lebih ditingkatkan dengan
membuat suatu regulasi mengenai kebencanaan khususnya untuk bencana gempa.
Hal tersebut akan lebih meningkatkan control terhadap kegiatan mitigasi bencana
yang dilakukan dan akan berefek terhadap tingkat kesadaran masyarakat dalam
menghadapi bahaya bencana gempa yang akan terjadi.

IV-1
4.1.2 Apresiasi dan Kritik Mitigasi Bencana Kota Kobe, Jepang
Jepang merupakan negara yang sangat rentan terhadap bencana gempa bumi dan
juga tsunami. Hal ini juga didukung dengan keadaan geografis Jepang yang terletak
di petemuan tiga buah lempeng bumi, yaitu lempeng eurasia, lempeng filipina, dan
lempeng pasifik. Setelah gempa bumi yang sangat besar yang melanda kawasan
Kobe pada tahun 1995, Jepang semakin banyak belajar bagaimana cara mitigasi
yang baik untuk mengurangi atau meminimalisir dampak yang terjadi setelah
terjadinya gempa bumi.

Jepang sangat menganggap serius untuk permasalahan kebencanaan ini. Hal ini
dapat dilihat dengan dibentuknya suatu badan khusus yang menangani masalah
kebencanaan. Jepang juga mengeluarkan kebijakan Hyogo Phoenix, yaitu kebijakan
yang mengharuskan pasca terjadinya suatu bencana, maka kawasan yang terkena
bencana tersebut harus langsung diambil tindakan untuk dipulihkan ke keadaan
normal. Untuk di Kota Kobe sendiri, pasca terjadinya gempa besar yang melanda
kota tersebut pada tahun 1995, banyak upaya-upaya mitigasi yang dilakukan oleh
pemerintah kota tersebut. Diantaranya yaitu membentuk konsep utama dalam
penanganan mitigasi gempa ini yang selanjutnya menyiapkan setiap level
pemerintahan di kota tersebut dalam menghadapi bencana, yaitu dilakukan sampai
pada tingkat lingkungan rumah tangga dan tingkat kecamatan. Selain itu, Kota Kobe
juga menerapkan implementasi Konsep Safety Oriented City, yaitu bentuk-bentuk
mitigasi struktural yang dilakukan untuk menghadapi terjadinya bencana. Kota Kobe
juga memiliki manajemen yang baik dalam menangani bencana.

Konsep mitigasi yang dimiliki oleh Kota Kobe ini sangat baik untuk diapresiasi karena
dengan kondisi daerah yang sangat rentan terhadap bencana, selain Kota Kobe juga
merupakan pusat salah satu pelabuhan besar di dunia, Kota Kobe mempersiapkan
dengan baik upaya-upaya mitigasi untuk mengurangi dampak apabila terjadi
bencana. Hampir dikatakan tidak ada kritik untuk konsep mitigasi di Kota Kobe ini,
karena untuk kesadaran masyarakat pun juga masyarakat sangat cerdas dalam
upaya-upaya mitigasi tersebut. Hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah Kota
Kobe yaitu bagaimana memanajemen dengan baik konsep mitigasi tersebut agar
dapat lebih meningkatkan kesiapan darisegala aspek.

IV-2
4.1.3 Apresiasi dan Kritik Mitigasi Bencana Kota Quito, Equador
Kegiatan mitigasi bencana gempa bumi di Kota Quito dimulai melalui suatu pilot
project penyusunan rencana pengelolaan bencana gempa bumi yang disebut
dengan “The Quito Risk Management Project”. Dokumen tersebut memiliki peran
strategis karena memberikan panduan rencana pengelolaan bencana yang
komprehensif bagi Kota Quito serta menjadi pedoman bagi pengelolaan di tingkat
nasional Negara Equador. Penyusunan rencana tersebut memiliki suatu hal yang
patut diapresiasi, yakni adanya keberanian secara politis untuk melakukan hal
tersebut. Seperti kita ketahui bahwa pekerjaan tersebut dapat dikatakan investasi
jangka panjang, yang dalam kacamata orang awam mungkin dianggap kurang
berguna. Hal ini sejalan dengan pandangan umum, yang pada saat itu masih
menganggap pengelolaan bencana hanyalah tindakan pasca bencana.

Keberanian politis dari Pemerintah Kota Quito pada akhirnya memberikan tiga nilai
tambah. Nilai tambah yang pertama ialah munculnya kesadaran akan bencana yang
ditindaklanjuti dengan peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi
bencana; namun demikian pendekatan yang dilakukan hanya melalui edukasi
terhadap karyawan-karyawan di berbagai perusahaan.Nilai tambah yang kedua ialah
berubahnya paradigma pelayanan publik, dimana awalnya banyak sektor publik yang
dikelola oleh Pemerintah Equador mulai didesentralisasikan pasca proyek ini. Nilai
tambah yang ketiga ialah terdapatnya dukungan lembaga-lembaga internasional
dalam pelaksanaan proyek ini, dukungan dan bantuan ini sangat berguna karena
seperti kita ketahui Negara Equador adalah negara berkembang yang pada
dasarnya belum cukup concern terhadap kebencanaan.

Dokumen Quito’s Project yang dihasilkan selama rentang 2 tahun pelaksanaan


(1992 – 1994) menghasilkan suatu rencana yang komprehensif, meliputi berbagai
program mitigasi sturkural dan non struktural yang tepat sasaran. Bentuk mitigasi
struktural berupa implementasi building code dan peningkatan kualitas serta
kuantitas infrastruktur penyelamatan; merupakan program yang tepat sasaran pada
persoalan kerentanan infrastruktur di Kota Quito yang sangat rentan terhadap gempa
bumi. Adapun bentuk mitigasi non struktural dalam bentuk aturan asuransi yang pro
kesiapan bencana bumi dan pelatihan kebencanaan, cukup efektif untuk menarik

IV-3
perhatian beragam unsur masyarakat di Quito untuk peduli pada ancaman bencana
gempa bumi.

Namun demikian, terdapat beberapa kritik utama dalam Quito’s Project; yakni
keterbatasan dalam data dan informasi yang dibutuhkan mengurang akurasi program
mitigasi yang dihasilkan. Kritik lainnya ialah kurangnya variasi dalam peningkatan
kapasitas kemampuan masyarakat karenan program yang ada belum menyentu
seluruh lapisan masyarakat. Pendekatan utama melalui karyawan perusahaan belum
sepenuhnya menyentuh lapisan masyarakat; contohnya ialah pada masyarakat yang
tidak bekerja. Kritik terakhir ialah kelengkapan program mitigasi yang dihasilkan
Quito’s Project, masih sangat dipertanyakan kesiapan data, informasi, model,
metode, serta dukungan finansial.

IV-4
Tabel 4.1 Matriks Perbandingan Mitigasi Bencana di Prancis, Jepang, dan Equador
Aspek Kota Nice, Prancis Kota Kobe, Jepang Kota Quito, Equador
Kondisi Geologi Dilalui dua jaur lempeng tektonik, Dilalui tiga lempeng tektonik; yakni Berada di lempeng Amerika
yaitu eurasia dan afrika. Eurasia, Pasifik, Filipina. Selatan dan atas pengaruh
Kondisi tanah sebagian dari wilayah lempeng Amerika Selatan dan
di Kota Nice merupakan tanah Nazca.
alluvial yang tidak begitu stabil. Bentang alam berupa dataran
tinggi, di bawah pengaruh
aktivitas Sungai Guayllabamba
dan Gunung Api Pichincha.
Kegiatan Utama Kawasan pariwisata dan jasa Kegiatan Pelabuhan yang Pusat Pemerintahan Ekuador
industri. merupakan salah satu pelabuhan dan pusat kegiatan ekonomi
terbesar di Dunia. skala nasional.
Kerentanan Rendah; karena masyarakatnya Rendah : karena masyarakat Kota Tinggi; karena masyarakat Quito
Masyarakat merupakan masyarakat yang Kobe sadar akan letak mereka di umumnya tidak sadar bahwa
berpendidikan. daerah yang rentan terhadap mereka berada di wilayah yang
bencana. rentan gempa bumi.
Kerentanan Rendah; karena Kota Nice bukan Tinggi : karena merupakan pusat Tinggi; karena merupakan
Ekonomi merupakan pusat kegiatan ekonomi pelabuhan dan juga merupakan konsentrasi kegiatan ekonomi
riil. pusat perdagangan. skala nasional yang pad
awalnya dikembangkan tanpa
paradigma sadar bencana.
Kerentanan Tinggi karena merupakan lokasi Tinggi : karna merupakan salah Tinggi; karena merupakan
Infrastruktur pariwisata terkenal di dunia. satu kota besar di Jepang konsentrasi infrastruktur skala
ditambah lagi terdapat pelabuhan nasional dengan konstruksi
yang merupakan salah satu yang minim dipengaruhi bentuk
pelabuhan besar di dunia. perkembangan kota yang
memanjang sehingga tidak
terjadi pemerataan pelayanan
infrastruktur bagi seluruh zona
di Kota Quito.

IV-5
Kebijakan Belum ada kebijakan yang spesifik - Kebijakan Konsep Safety - Penyusunan dokumen The
mengenai bencana. Oriented City. Quito Earthquake Risk
- Kebijakan Hyogo Phoenix, yaitu Management.
rekonstruksi pasca bencana - Pembentukan Quito
(kebijakan pemerintah pusat) Earthquake Safety Advisory
Board
Mitigasi Adanya construction code Konsep Safety Oriented City - Building Code
Struktural - Peningkatan infrastruktur
penyelamatan bencana gempa
bumi
Mitigasi Non Pendidikan terhadap masyarakat Penyiapan setiaplevel dalam - Peraturan Asuransi Bangunan
Struktural melalui media booklet dan pemeintahan Kota Kobe (tingkat Pro Kesiapan Gempa Bumi dan
penyuluhan kepada siswa sekolah lingkungan umah tangga, tingkat - Pelatihan Kebencanaan
intermediate, dan tingkat Berbasis Karyawan Perusahaan
kecamatan.
Riset Ilmu dan -Lokasi-lokasi rawan bencana - Public Education : Segitiga - Pengembangan dan update
Teknologi -Tingkat ketahanan bangunan Kehidupan basis data geologis Kota Quito
- Chikyu (Kapal Pengeboran Laut) - Pengembangan metode dan
pemodelan analisis resiko serta
manajemen bencana gempa
bumi
Sumber : Hasil Analisis, 2009

IV-6
4.2 Relevansi Studi untuk Mitigasi Gempa Bumi di Indonesia
4.2.1 Relevansi Studi dari Mitigasi Bencana Kota Nice, Prancis
Jika membandingkan dengan kegiatan mitigasi bencana yang telah dilakukan di
Indonesia, dapat disimpulkan bahwa mitigasi di Indonesia lebih baik dari sisi teknis
dibandingkan mitigasi bencana di Kota Nice. Akan tetapi, terdapat perbedaan dalam
hal tingkat pendidikan masyarakat antar kedua negara tersebut. Tingkat pendidikan
masyarakat di Kota Nice dapat dikatakan masih lebih tinggi dibandingkan di
Indonesia. Hal ini membuat berbagai kebijakan yang dibuat di Kota Nice dapat
dengan cepat terimplementasikan, sedangkan di Indonesia, berbagai kebijakan yang
telah dibuat kurang terimplementasikan dengan baik dikarenakan berbagai faktor
diantaranya kepatuhan pelaksana kebijakan tersebut. Oleh karena itu, satu hal yang
perlu diperbaiki dari Indonesia adalah bagaimana masyarakat dapat mematuhi
seluruh kebijakan yang dibuat.

4.2.2 Relevansi Studi dari Mitigasi Bencana Kota Kobe, Jepang


Hal utama yang membedakan proses mitigasi di Jepang dan di Indonesia salah
satunya adalah faktor masyarakat. Masyarakat Jepang sangat sadar bahwa kawasan
mereka merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap bencana seperti gempa
bumi dan tsunami, namun masyarakat Indonesia belum terlalu sadar akan potensi
bencana yang sangat besar di Kawasan Indonesia ini. Hal ini dapat dilihat ketika
terjadi bencana, korban jiwa di Jepang sangat lebih sedikit dibandingkan dengan
Indonesia. Selain itu setiap kota di Jepang memiliki konsep-konsep tersendiri dalam
melaksanakan mitigasi bencana sesuai dengan keadaan geologi, geografis dan
aspek lainnya. Sedangkan di Indonesia tiap-tiap kota belum mempunyai konsep
mitigasi khusus. Sangat baik apabila di kota-kota di Indonesia menyusun konsep
mitigasi agar siap terhadap datangnya bencana. Selain itu kesadaran dan pendidikan
masyarakat Indonesia harus ditingkatkan sebagai bentuk upaya mitigasi.

4.2.3 Relevansi Studi dari Mitigasi Bencana Kota Quito, Equador


Perencanaan pengelolaan dan mitigasi bencana gempa bumi di Kota Quito serta
Ekuador pada umumnya dimulai dengan adanya kemampuan politis yang kuat dari
Walikota Quito. Dengan mempertimbangkan keberlangsungan kegiatan sehari-hari di
perkotaan, rencana pengelolaan bencana dapat diwujudkan dengan bantuan

IV-7
berbagai pihak. Kemauan politis seperti ini merupakan sesuatu yang patut dicontoh
oleh para pemimpin di Kota/Kabupaten di Indonesia. Sebagai perbandingan, pasca
penerbitan UU 24/2007 mengenai Pengelolaan Bencana; baru 4 kota pesisir yang
memiliki rencana mitigasi bencana (Departemen Kelautan & Perikanan, 2007) dan
contoh lainnya di kota/kabupaten di Provinsi Lampung kesulitan membuat rencana
mitigasi karena lambatnya proses pembuatan perda di tingkat Provinsi Lampung
mengenai hal ini (Kajian Mitigasi Bencana untuk Perencanaan Wilayah Kabupaten
Tanggamus, 2008).

Quito’s Project merupakan pilot project rencana mitigasi yang diharapkan dapat
menjadi contoh, baik dalam lingkup Equador maupun internasional. Dalam hal ini,
Indonesia sebagai negara yang besar tentu menghadapi isu pemerataan
pembangunan wilayah (secara umum) dan tentu isu tersebut juga cukup relevan
berkaitan dengan peningkatan kapasitas kota/kabupaten di Indonesia dalam
menghadapi ancaman bencana alam gempa bumi. Hal ini ditambah dengan
kenyataan bahwa penerbitan undang-undang di tingkat nasional ditanggapi dan
diterapkan dalam kecepatan yang berbeda-beda di tiap daerah. Dengan demikian, di
samping dibutuhkan ketegasan dan kerajinan dalam pengawasan; pembuatan suatu
rencana pengelolaan dan mitigasi bencana gempa bumi di salah satu
kota/kabupaten yang rawan gempa bumi (agar dapat menjadi teladan) perlu untuk
ditempuh.

Salah satu pembelajaran teknis yang didapat dari Quito’s Project lainnya ialah
pentingnya perencanaan infarstruktur perkotaan yang sangat mempertimbangkan
resiko bencana gempa bumi. Di samping untuk mereduksi kemungkinan dampak, hal
ini juga penting untuk menjamin kecepatan penyaluran bantuan penyelamatan serta
kegiatan rekonstruksi pasca bencana. Dalam hal reduksi resiko kerusakan, Quito’s
Project menghasilkan aturan building code; hal ini juga patut untuk dicontoh karena
belum semua kota/kabupaten memiliki aturan zonasi semacam ini.

IV-8
DAFTAR PUSTAKA

http://www.abdet.com/maps/map_france.gif

http://www.psi.edu/~obrien/Bike_Fr/Maps/MosaicMap.gif

--------- . 1997 . The Wheel Extended No.95, Part Four : Urban Disaster Prevention
Planning . Tokyo : Toyota Motor Corporation, International Public Affairs
Division

--------- . 1998 . Hamparan Dunia Ilmu : Geologi dan Perubahan . Jakarta : Tira
Pustaka

--------- . 2006 . National Geographic Indonesia Edisi April 2006 : Gempa “Melacak
Gerak Patahan Sumatera” . Jakarta : Gramedia

Bard, Pierre-Yves . Feuillade, Francois . 1994 . Seismic Exposure and Mitigation


Policy in Nice, France . LGIT Grenoble Obserrvatory : France

Escuela Politecnica Nacional, Ilustre Municipio de Quito, OSTROM Quito,


GeoHazard International , OYO Corporation . 1994 . The Quito, Equador,
Earthquake Risk Management Project . GeoHazard International : USA

Fuady, Mizan Bustanul . 2008 . Laporan Kerja Praktik : Kajian Mitigasi Bencana
untuk Perencanaan Wilayah Kabupaten Tanggamus . Prodi Perencanaan
Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung

Ilyas, Tommy . 2006 . Mitigasi Gempa dan Tsunami di Daerah Perkotaan . Seminar
Bidang Keekayasaan Fakultas Teknik Unstrat

Paripurno, Eko Teguh . Modul Manajemen Bencana Seputar Beberapa Bencana di


Indonesia

IV-9
Rachmat, Agus . 2008 . Manajemen dan Mitigasi Bencana, Bandung

Tsunozaki, Etsuko . 2006 . Disaster Reconstruction in Japan : Lessons Learned from


The Kobe Earthquake . Asian Disaster Reduction Center

Tucker, Brian E. Erdik, Mustafa . Hwang, Christina N . 1994 . Issues in Urban


Earthquake Risk . Kluwer Academic Publisher : Dordrecht, The Netherlands

IV-10