Anda di halaman 1dari 9

Borang Portofolio

Nama Peserta Nama Wahana Topik Tanggal Kasus : dr. Delvi Deliana : Puskesmas Kotabumi II : Tuberculosis Paru : 14 Februari 2012 No. RM : 0502/02/PAL/2012 Nama Pendamping : dr. Yoane Lisa

Nama pasien : Ny. Nur Asih Tanggal Presentasi : 3 April 2012

Tempat Presentasi : Puskesmas Kotabumi II Lampung Utara Obyektif Presentasi : Keilmuan O Ketrampilan O Penyegaran O Masalah O Anak O Tinjauan Pustaka O Istimewa O Remaja O Dewasa O Lansia O Bumil

O Diagnostik O Manajemen O Neonatus O Bayi

O Deskripsi: Wanita, 31 tahun, Batuk berdahak sejak 2 bulan yang lalu disertai penurunan nafsu makan dan berat badan. O Tujuan: Mengobati TB Paru, menghindari adanya kemungkinan penularan TB paru Bahan Bahasan : O Tinjauan Pustaka Cara Membahas : O Diskusi O Presentasi dan Diskusi O Email O Pos O Riset O Kasus OAudit

Data Pasien Nama : Ny. Nur Asih Telp : 081532160974 Nomor Registrasi : 213 Terdaftar sejak :3 februari 2012

Nama Klinik : Poli PAL

Data Utama untuk Bahan Diskusi :


1. Diagnosis / Gambaran Klinis

TB Paru BTA(+), keadaan umum baik, niat untuk sembuh sangat besar, batuk berdahak dan riwayat batuk berdarah 2 minggu lalu. 2. Riwayat Pengobatan Rifamfisin, INH, pirazinamid, etambutol. Saat ini Pasien sudah mendapatkan pengobatan FDC selama 3 minggu tetapi pasien mengalami mual muntah disertai dengan nyeri ulu hati dan pusing, sehingga pasien tidak meminum obat lagi selama 1 minggu.

3. Riwayat kesehatan/Penyakit

Pasien belum pernah terinfeksi TB paru, batuk berdahak dialami sudah 2 bulan disertai penurunan nafsu makan dan berat badan yang drastic. 2 minggu yang lalu pasien mengalami batuk dengan dahak bercampur darah tetapi hanya bercak bercak saja. Pasien juga mengaku sering berkeringat malam. Kadang-kadang sesak disertai nyeri dada.

4. Riwayat Keluarga Pasien anak tunggal, Ayah dan ibu pasien mengidap hipertensi, tetapi tidak pernah memiliki riwayat penyakit yang sama dengan pasien

5. Riwayat Pekerjaan Pasien merupakan ibu rumah tangga

6. Kondisi lingkungan social dan fisik (RUMAH,LINGKUNGAN,PEKERJAAN)

Pasien tinggal di satu rumah dengan jumlah anggota keluarga sebanyak 9 orang yang berisi suami, pasien dengan dua orang anak, adik ipar 3 orang, dan mertua. Luas Rumah pasien sekitar 100m2, dengan dua kamar tidur, satu ruang tamu dan satu dapur tetapi tidak terdapat ventilasi dan penerangan yang cukup memadai baik lampu ataupun sinar matahari. Pasien membuka warung kecil di depan rumahnya. Pasien mengaku ada tetangga yang menderita batuk-batuk seperti pasien dan sedang menjalani pengobatan selama 6 bulan

7. Riwayat alergi obat Tidak ada

8. Riwayat Imunisasi (disesuaikan dengan pasien dan kasus) Pasien mengaku bahwa telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap waktu kecil

SUBJEKTIF Pasien mengeluh batuk berdahak sejak 2 bulan yang lalu disertai penurunan nafsu makan dan berat badan yang drastic. Saat ini pasien sudah mendapatkan pengobatan TB Paru selama 3 minggu tetapi pasien menghentikan pengobatan selama 1 minggu dikarenakan mual, muntah disertai nyeri ulu hati dan pusing.

OBJEKTIF Hasil pemeriksaan fisik ditemukan ronki di kedua lapang paru, dan pemeriksaan BTA sputum sewaktu-pagi-sewaktu didapatkan adanya kuman tuberculosis pada sediaan tersebut. Hal ini

sangat mendukung ditegakannya diagnosis TB Paru. Pada kasus ini diagnosis ditegakan berdasarkan:
-

Gejala klinis (batuk berdahak selama 2 bulan, penurunan berat badan dan nafsu makan, keringat malam, riwayat batuk dengan dahak bercampur darah, terdapat ronchi di kedua lapang paru)

Endemisitas TB di Indonesia Hasil periksaan BTA Sputum +/+/+

ASSESSMENT (Penalaran Klinis): Batuk berdahak berawal dari adanya infeksi kuman tuberculosis paru yang membentuk tuberkel, pada system imun yang rendah bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Sehingga tuberkel yang banyak ini berkumpul membentuk sebuah ruang didalam rongga paru, Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (riak/dahak). Pasien merupakan kalangan ekonomi menengah kebawah, dengan mengandalkan gaji dari suami yang seorang buruh pabrik menuntut pasien untuk membuka warung di depan rumahnya. Kegiatan sehari-hari tersebut memungkinkan pasien berinteraksi dengan tetangga yang terinfeksi oleh TB paru lebih sering yang kemungkinan besar sebagai sumber infeksi terhadap dirinya. Kondisi lingkungan rumah pasien sangat efektif untuk perkembangbiakan kuman TB karena rumah pasien sangat lembab dan tingkat pencahayaannya sangat rendah, ditambah lagi ventilasi yang buruk/ minimnya sinar matahari yang masuk ke dalam rumah. Penularan TB paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan dalam udara terbuka. Partikel menetap dalam udara terbuka 1-2 jam.Tergantung ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembaban.Dalam suasana yang gelap kuman bertahan berhari-hari dan berbulan bulan. Bila terhisap akan menempel pada saluran nafas.

Dengan memberikan FDC kepada pasien TB diharapkan pasien akan lebih mudah dalam minum OAT karena jumlah tabletnya lebih sedikit. Selain itu dapat meminimalkan efek samping OAT. Hal ini karena formula dosis FDC disesuaikan dengan berat badan pasien dan jumlah komponen obat yang harus diminum pasien. Dengan adanya FDC, tingkat kepatuhan pasien dalam minum obat akan lebih tinggi karena pengaruh psikis pasien dari melihat jumlah tablet yang harus diminum, tidak sebanyak dibandingkan dengan pemberian OAT dalam tablet yang terpisah. Mual muntah yang terjadi pada pasien merupakan efek samping yang terjadi akibat penggunaan obat TB yang diminum pasien selama ini. Efek samping yang muncul kemungkinan merupakan efek dari INH dan pirazynamid yang dapat menimbulkan gangguan pada GI tract dan hepar. Tetapi pada pasien ini belum ditemukan adanya tanda-tanda gangguan fungsi hati.

PLAN DIAGNOSIS: TB Paru dengan BTA (+) PENGOBATAN: Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan. Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Bila pengobatan tahap intensif ini diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif dalam 2 bulan. Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten sehingga mencegah terjadinya kekambuhan Jenis-jenis tablet FDC dikelompokkan menjadi 2, yaitu: FDC untuk dewasa dan FDC untuk anak-anak. Tablet FDC untuk dewasa terdiri tablet 4FDC dan 2FDC. Tablet 4FDC mengandung 4 macam obat yaitu: 75 mg Isoniasid (INH), 150 mg Rifampisin, 400 mg Pirazinamid, dan 275 mg Etambutol. Tablet ini digunakan untuk pengobatan setiap hari dalam tahap intensif dan untuk sisipan. Tablet 2 FDC mengandung 2 macam obat yaitu: 150 mg Isoniasid (INH) dan 150 mg Rifampisin. Tablet ini digunakan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu dalam tahap lanjutan. Baik tablet 4FDC maupun tablet 2FDC pemberiannya

disesuaikan dengan berat badan pasien. Untuk melengkapi paduan obat kategori II tersedia obat lain yaitu: tablet etambutol @400 mg dan streptomisin injeksi (vial @750 mg). Dosis dan aturan pakai FDC disesuaikan dengan berat badan pasien. Untuk pasien TB dewasa yang masuk dalam kategori I dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Berat Badan Tahap Intensif tiap hari selama 56 hari 2 tablet 4FDC 3 tablet 4FDC 4 tablet 4FDC 5 tablet 4FDC Tahap Lanjutan 3 kali seminggu selama 16 minggu 2 tablet 2FDC 3 tablet 2FDC 4 tablet 2FDC 5 tablet 2FDC

30 37 kg 38 54 kg 55 70 kg 71 kg

PENDIDIKAN: Pencegahan terhadap penyakit TB dapat dilakukan dengan hidup sehat dengan makan makanan bergizi dan teratur, istirahat yang cukup, olah raga teratur, hindari rokok, minuman beralkohol, obat bius, hindari stress. Kemudian untuk mencegah terjadinya penularan TB, maka para pasien TB diharapkan menutup mulut saat batuk dan tidak meludah di sembarang tempat. Usaha pencegahan lainnya yaitu dengan melakukan imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin) yang akan memberikan kekebalan aktif pada penyakit TB. Selain itu menjaga daya tahan tubuh juga penting dalam mengantisipasi penyakit TB. Dengan daya tahan tubuh yang kuat maka tidak mudah untuk terserang infeksi oportunistik (TB). Selain itu pasien TB juga diharuskan memiliki PMO (Pengawas Minum Obat) sehingga dapat menjamin kepatuhan pasien dalam minum OAT. Pada pasien ini PMOnya adalah mertua pasien itu sendiri. Setiap pasien TB harus memiliki kartu pengobatan dan kartu identitas pasien. Kedua kartu tersebut diperoleh saat pasien berobat di unit pelayanan kesehatan. Adapun fungsi kedua kartu tersebut yaitu sebagai laporan terhadap hasil pengobatan pasien sehingga jalannya pengobatan dapat terkontrol dengan baik.

KONSULTASI: Konsultasi pada spesialis penyakit dalam diperlukan jika terdapat efek samping dari pengobatan TB yang dilakukan dan terjadinya multi resisten terhadap obat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mansjoer, A. 2000. Kapita selekta kedokteran. Edisi II. Jakarta : Media Aesculapius FKUI. 2. Guyton & Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11.Jakarta : EGC. 3. The Indonesian Asosiation of Pulmonologist. Hasil Konferensi Kerja VIII, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Jakarta 28-29 November 1998 4. Direktorat Jendral PPM, dan PLP, Departemen Kesehatan; Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB. Jakarta, Mei 1999

5. Brawnwald. HIV : HARRISONS Principle of Internal Medicine. 15th edition. Volume2. Page 1852-1913. 2001. USA. The McGraw-Hill Companies 6. Longmore, Murray. HIV: Oxford Handbook Of Clinical Medicine. 7th edition. Page 198. 2007.New York. OXFORD University Press.