Anda di halaman 1dari 74

MODUL PELATIHAN CLTS UNTUK TIM KABUPATEN

Draft Akhir Tanggal: 16 Juni 2005

JUNI 2005
0

KURIKULUM

KURIKULUM PELATIHAN CLTS BAGI TIM KABUPATEN


POKOK BAHASAN TUJUAN POKOK BAHASAN o Pelatihan dibuka secara resmi dan memperoleh dukungan dari Pemerintah Kabupaten o Peserta, fasilitator dan panitia saling mengenal, sehingga terbangun komunikasi yang kondusif dalam pelatihan peserta selama pelatihan METODE Upacara Permainan WAKTU 30 menit 45 menit PEMANDU Panitia Kabupaten Panitia/Fasilitator

A. Pembukaan Pelatihan B. Perkenalan dan


Pencairan Suasana

C. Rumusan Harapan dan o Diperolehnya gambaran harapan yang ingin dicapai


Kekhawatiran Peserta o Diperolehnya gambaran ranah harapan peserta (pemahaman, ketrampilan, strategi, metode, langkahlangkah, dll.) o Diperolehnya gambaran kekhawatiran peserta yang perlu dieliminir selama pelatihan.

Penugasan Individual Diskusi Kelompok Diskusi Pleno

45 menit

Fasilitator

D. Tujuan dan Alur


Pelatihan

1. Disepakatinya tujuan dan alur pelatihan, terkait dengan tujuan program CLTS serta rumusan harapan peserta 2. Terbangunnya komitmen pembelajaran bersama seluruh komponen pelatihan, dalam bentuk: a. Kesepakatan waktu/jadwal b. Tata tertib dan sanksi.

Presentasi/Penjelasan Diskusi Pleno Presentasi/Penjelasan Diskusi Pleno

30 menit

Fasilitator

E. Kontrak Belajar

30 menit

Fasilitator

1.

Refleksi Pengalaman Proyek Sanitasi Sebelumnya

3. Peserta memperoleh informasi tentang keberhasilan - kekuatan - kelemahan dan keberlanjutan proyekproyek sanitasi sebelumnya. 4. Peserta memahami perbedaan-perbedaan paradigma antara program-program sanitasi yang lalu dengan

Diskusi Kelompok Presentasi Kelompok Diskusi Pleno Presentasi/Penjelasan

120 menit (2 jam)

Fasilitator

POKOK BAHASAN

TUJUAN POKOK BAHASAN kecenderungan yang dikembangkan saat ini.

METODE

WAKTU

PEMANDU

2.

Pengenalan CLTS dan Pengalaman di Berbagai Negara Prinsip-prinsip CLTS, 3 Pilar PRA dalam CLTS, Perubahan Perilaku dan Tingkatan Partisipasi dalam CLTS

o o

Peserta mampu memahami CLTS Peserta memperoleh gambaran pengalaman penerapan di berbagai negara/daerah

o Presentasi/Penjelasan o Pemutaran film/video o Diskusi Pleno o Presentasi/Penjelasan o Diskusi Kelompok o Penugasan o Diksusi Pleno

150 menit (21/2 jam)

Fasilitator

3.

o Peserta menerima dan berkomitmen meme gang prinsip-prinsip CLTS o Peserta memahami konsep tiga pilar PRA dalam CLTS o Peserta memahami dan berkomitmen meru- bah sikap dalam memfasilitasi masyarakat dari konsep atas bawah menjadi pembela- jaraan bersama o Mengeksplorasi variasi dan wilayah sudut pandang peserta pelatihan tentang keikut- sertaan masyarakat, dan mendapatkan pe- ngertian umum pada tipe dan tingkat parti- sipasi masyarakat yang dibutuhkan pada CLTS.

90 menit

Fasilitator

4.

Fasilitasi di Komunitas: o Peserta memahami dan menyepakati alat- alat PRA utama yang tepat digunakan dalam memfasilitasi CLTS sesuai dengan setiap elemen yang akan dipicu Peserta menemukan dan menyepakati elemen-elemen pemicu dan faktor-faktor penghambat pemicuan, baik yang berlaku umum maupun yang spesifik lokal o Diskusi Pleno 30 menit Fasilitator

4.1. Alat-alat Utama PRA dalam CLTS 4.2. Elemen-elemen Pemicu dan Faktorfaktor Penghambat Pemicuan 4.3. "Apa yang seharusnya Dilakukan dan

o Diskusi Kelompok

60 menit

Peserta memahami dan berkomitmen ten- tang "apa o Diskusi Pleno yang seharusnya dilakukan" dan"apa yang seharusnya dihindari"

30 menit

POKOK BAHASAN Dihindari" dalam CLTS SIMULASI ALAT-ALAT UTAMA PARA o o

TUJUAN POKOK BAHASAN

METODE

WAKTU

PEMANDU

Peserta memiliki ketrampilan dasar memfa- silitasi CLTS dengan alat-alat utama yang disepakati. Peserta mampu menjelaskan tahapan per- kembangan sanitasi yang bisa dikembang- kan oleh masyarakat

o Simulasi o Penjelasan o Diskusi Pleno

150 menit 30 menit

5. Sanitation Ladder
6. Praktek Lapang: a. Pembentukan Kelompok b. Persiapan: Panduan dan Simulasi Praktek Lapang c. Pelaksanaan: c.1. Pemicuan

Tersusunnya kelompok-kelompok praktek lapang yang komposisinya mencakup selu- ruh komponen tim kabupaten Tersusunnya panduan praktek lapang

o Pemilihan demokratis

30 menit

Fasilitator

o Penugasan dan pendamping an o Simulasi o Pemetaan o Transek o FGD o Simulasi o dll. o FGD o Pemilihan demokratis

2-4 jam

Fasilitator

o o

Peserta siap memfasilitasi proses CLTS di masyarakat Masyarakat memahami permasalahan sanitasi di komunitasnya dan berkomitmen untuk memecahkannya secara swadaya

4 jam

Fasilitator dan Tim Kabupaten

c.2. Perencanaan

Tersusunnya rencana kegiatan masyarakat dalam rangka pemecahan masalah sanitasi di komunitasnya o Terpilihnya panitia lokal komunitas yang mengkoordinir kegiatan masyarakat Tersusunnya item-item pembelajaran dari praktek lapang setiap kelompok Tersusunnya laporan proses dan hasil praktek lapang

4 jam

Fasilitator dan Tim Kabupaten

d. Kompilasi Temuan dan Pelaporan

o o

o Diskusi Kelompok

2 jam

Fasilitator dan Tim Kabupaten

POKOK BAHASAN

TUJUAN POKOK BAHASAN setiap kelompok

METODE

WAKTU

PEMANDU

e. Refleksi Temuan Praktek Lapang

Ditemukannya item-item pembelajaran yang perlu diperhatikan dalam proses memfasilitasi CLTS selanjutnya Ditemukannya item-item pembelajaran yang spesifik lokal yang perlu dikembangkan dalam rangka optimalisasi CLTS. Dipahaminya rencana kegiatan masyarakat oleh seluruh komponen tim kabupaten Meningkatnya motivasi masyarakat untuk melaksanakan rencana kegiatan yang mereka susun Disepakatinya komitmen semua pihak untuk keberhasilan pencapaian rencana kegiatan masyarakat. Tersusunnya rencana tindak lanjut tim kabupaten dalam rangka: Pendampingan implementasi rencana kegiatan masyarakat yang telah terpicu Pengembangan kegiatan CLTS di lokasi lainnya. Diperolehnya masukan dari peserta tentang tingkat keberhasilan pelatihan dan saran-saran untuk perbaikan Pelatihan ditutup secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten Pemerintah Kabupaten berkomitmen men- dukung tindak lanjut penerapan CLTS

o Presentasi Kelompok o Diskusi Pleno

2 jam

Fasilitator

7. Diskusi Pleno dengan Masyarakat

o o o

o Presentasi Masyarakat o Diskusi Pleno o Feedback progresif

2 jam

Fasilitator

8. Penyusunan Rencana Tindak Lanjut

o o o

o Diskusi Kelompok o Diskusi Pleno

2 jam

Fasilitator

Evaluasi

o Pemilihan Demokratis o Diskusi Pleno o Upacara

30 menit

Fasilitator

Penutupan

o o

30 menit

Panitia Kabupaten

ALUR PELATIHAN

Pembukaan

Refleksi Pengalaman Program Sanitasi Sebelumnya Pengenalan CLTS dan Pengalaman di Berbagai Negara/Daerah Prinsip-2 CLTS, 3 Pilar PRA & Perubahan Sikap Perilaku Fasilitasi di Komunitas:
- Alat-2 Utama PRA dalam CLTS - Elemen pemicu dan faktor penghambat - Yang harus dilakukan dan dihindari

Persiapan Praktek Lapang: Pembagian Kelompok Persiapan Kelompok

Pleno dengan Masyarakat

Perkenalan dan Pencairan Suasana

KONTRAK BELAJAR

PRAKTEK LAPANG Pemicuan Rencana Kerja

RTL Kabupaten dan Evaluasi Pelatihan

Rumusan Harapan vs Tujuan & Alur Pelatihan

SIMULASI

Kompilasi Temuan Refleksi dan Pelaporan

Penutupan

Sanitation Ladder

JADWAL PELATIHAN

JADWAL PELATIHAN CLTS BAGI TIM KABUPATEN (ALTERNATIF B 4 hari efektif 5 session per hari)
JAM
08.00 - 10.00

HARI I
o Pembukaan o Perkenalan o Pencairan suasana o Perumusan Harapan o Review Hari I

HARI II
o Prinsip-2 CLTS & Tiga Pilar PRA Dalam CLTS o Perubahan perilaku dan sikap

HARI III

HARI IV
Refleksi Temuan Praktek Lapang

10.00 - 10.30
10.30 - 12.30

Coffee break
o Tujuan & Alur Pelatihan o Kontrak Belajar o Refleksi pengalaman proyek sanitasi sebelumnya (Diskusi Kelp.) Hambat

Coffee break
o Elemen pemicu dan faktor peng-

Praktek Lapang: Pemicuan

Coffee break
Diskusi Pleno dengan Masyarakat

o Apa yang seharusnya dan tidak? o Alat-alat PRA utama

12.30 - 13.30
13.30 - 15.30

Ishoma
o Refleksi pengalaman proyek sanitasi sebelumnya (Diskusi Pleno) o Pengenalan CLTS dan Pengalaman di Berbagai Negara/Daerah

Ishoma
Simulasi-simulasi

Ishoma

Ishoma
Penyusunan Rencana Tindak Lanjut

15.30 - 16.00
16.00 - 17.30

Coffee break
o Pengenalan CLTS dan Pengalaman di Berbagai Negara/Daerah (Lanjutan)

Coffee break
o Simulasi-simulasi (lanjutan) o Sanitation Ladder o Pembagian Kelompok (4-6 klp.) dan penjelasan tugas

Praktek Lapang: Perencanaan

Coffee break
o Evaluasi o Penutupan

17.30 - 19.30
19.30 - 21.30

Ishoma

Ishoma Persiapan Kelompok: Panduan dan Simulasisimulasi

Ishoma
Kompilasi Temuan Praktek Lapang & Pelaporan

PANDUAN PROSES

10

PEMBUKAAN PELATIHAN
TUJUAN: Pelatihan dibuka secara resmi dan memperoleh dukungan dari Pemerintah Kabupaten. WAKTU: 30-45 menit METODE: (sesuai dengan kebijakan lokal, namun umumnya dalam bentuk upacara sederhana) MATERI: Laporan Ketua Panitia Sambutan Tim Pusat Sambutan Bupati Doa Sekilas tentang Program Uji Coba CLTS ALAT BANTU: OHP atau LCD PROSES: Sangat tergantung dengan pola acara yang ditentukan dan dipilih oleh Pemerintah Kabupaten, namun secara umum proses pembukaan adalah sebagai berikut: Salam pembuka Laporan Ketua Panitia tentang Kerangka Acuan Pelatihan dan kesiapan pelaksanaan pelatihan Sambutan Tim Pusat untuk menegaskan kebijakan-kebijakan khususnya yang terkait dengan pelaksanaan program uji coba CLTS dan pelatihan ini Sambutan Bupati untuk menegaskan dukungan Pemerintah Kabupaten dalam rangka pelaksanaan program ini, sehingga meningkatkan motivasi peserta dan pihak terkait dalam mensukseskan program ini. Sekaligus pada kesempatan ini, Bupati membuka secara resmi pelatihan, juga peluncuran program ini. Pembacaan doa. Penjelasan singkat tentang Program Uji Coba CLTS oleh Konsultan. Salam penutup. Acara kemudian diistirahatkan (15 menit) untuk memberi waktu kepada para tamu undangan beristirahat sejenak sebelum meninggalkan tempat pelatihan. CATATAN PENTING: Acara pembukaan ini bila perlu bisa dimanfaatkan untuk sosialisasi program uji coba CLTS ini kepada para pihak di tingkat kabupaten, sehingga pemahaman dan dukungan terhadap program di tingkat kabupaten bisa optimal.

11

oo

PERKENALAN DAN PENCAIRAN SUASANA


TUJUAN: Peserta, fasilitator dan panitia saling mengenal, sehingga terbangun komunikasi yang kondusif dalam pelatihan. WAKTU: 45 menit METODE: Permainan MATERI: ---- ALAT BANTU: Tergantung kepada permainan yang digunakan. PROSES:

1.

Untuk acara perkenalan peserta bisa dilakukan dengan beberapa cara, berikut ini 2 alternatif yang bisa digunakan: Bagilah seluruh partisipan (peserta, fasilitator dan panitia) menjadi beberapa kelompok (5-6 kelompok). Di setiap kelompok setiap individu memperkenalkan dirinya kepada anggota kelompok lainnya (nama lengkap, nama panggilan dan lembaga asalnya serta bisa ditambahkan hal-hal lain seperti: tanggal lahir, status perkawinan, jumlah anak, hobby, bintang film ynag disukai, dll.). Perkenalan bisa dilanjutkan ke tingkat pleno, misalnya dengan cara meminta kesediaan anggota-anggota kelompok yang memiliki keyakinan bisa memperkenalkan seluruh anggota kelompoknya. Jika seluruh anggota kelompok telah diperkenalkan, cobalah bersama dengan seluruh partisipan untuk menghafal bersama nama seluruh partisipan pelatihan. Perkenalan bisa dipuncaki dengan langkah menanyakan: siapa yang paling banyak hafal nama partisipan? Dan mintalah kepada partisipan yang mengatakan paling banyak hafal nama partisipan untuk membuktikan kemampuannya menghafal nama partisipan dengan cara menyebut nama dan menunjuk orangnya satu per satu. Mintalah partisipan berpasang-pasangan, tetapi disarankan untuk berpasangan dengan partisipan lain yang belum/kurang dikenal. Kemudian setiap individu saling memperkenalkan diri kepada pasangannya (nama lengkap, nama panggilan, lembaga asal, tanggal lahir, status perkawinan, jumlah anak, dsb.). Jika setiap pasangan sudah selesai saling memperkenalkan dirinya, mintalah setiap pasangan untuk memperkenalkan ke tingkat pleno dengan cara setiap orang memperkenalkan secara rinci tentang pasangannya. Jika seluruh pasangan telah diperkenalkan, cobalah bersama dengan

12

seluruh partisipan untuk menghafal bersama nama seluruh partisipan pelatihan. Perkenalan bisa dipuncaki dengan langkah menanyakan: siapa yang paling banyak hafal nama partisipan? Dan mintalah kepada partisipan yang mengatakan paling banyak hafal nama partisipan untuk membuktikan kemampuannya menghafal nama partisipan dengan cara menyebut nama dan menunjuk orangnya satu per satu.

2.

Pencairan suasana ditujukan untuk membangun hubungan antar partisipan yang kondusif (suasana kesetaraan: tidak kaku, tidak formal, tidak ada sekatsekat) untuk mencapai tujuan pelatihan dalam tingkat optimal. Ada beberapa permainan yang bisa digunakan untuk mencairkan suasana ini, diantaranya: Berhitung bersama cara India Dalam formasi lingkaran berdiri, mintalah peserta berhitung mulai dari 1, 2, 3 dan seterusnya dengan ketentuan sebagai berikut: Saat menyebut angka setiap individu harus meletakkan salah satu tangannya di dada secara menyilang. Angka akan diteruskan oleh individu di sampingnya sesuai dengan arah silang tangannya. Jika tangan kanan yang diangkat dan menyilang ke kiri (atau sebaliknya), maka individu sebelah kiri (atau sebaliknya) harus meneruskan ke angka berikutnya. Individu yang mendapati dirinya harus menyebut angka lima (dan kelipatannya) harus memperagakan aktivitas lain, misalnya: menunduk sembari memberi salam, kemudian angka berikutnya diteruskan sesuai dengan arah penghitungan yang sedang berkembang. Partisipan yang salah atau terlambat dalam menyebut angka dirinya dikeluarkan dari lingkaran dan setelah terkumpul sekitar 3-5 orang diberikan hukuman sesuai kesepakatan. Lakukan refleksi bersama tentang apa yang memperlancar dan menghambat dalam permainan ini. Tujuh boom Langkah-langkahnya sama, namun pada hitungan 7 (atau kelipatannya) peserta tidak menyebut angka melainkan berteriak boom. Berbaris sesuai kriteria Mintalah partisipan berbagi menjadi 4 atau 5 kelompok, dan mintalah setiap kelompok berbaris memanjang ke belakang. Tugaskanlah dalam beberapa kali tahapan agar setiap kelompok membuat barisan sesuai kriteria yang anda tentukan, misal: berurutan dari depan ke belakang dari yang paling tua sampai yang paling muda, dari yang paling pendek sampai yang paling tinggi, dari yang paling panjang rambutnya sampai yang paling pendek, dan seterusnya. Sediakan waktu 10 detik untuk setiap tugas (kriteria), kemudian periksalah kebenaran barisan setiap kelompok dan buatlah scoring di

13

papan tulis. Setelah beberapa tahap, hitunglah bersama seluruh partisipan score masing-masing kelompok. Sepakatilah siapa Juara I, II, III dan seterusnya. Lakukan refleksi bersama dengan pertanyaan: Apa yang membuat sukses para juara? Apa yang menghambat kelompok dengan score terendah? dan banyak lagi permainan lainnya.

3.

Pada akhir session ini, pastikanlah bahwa seluruh partisipan sudah saling mengenal dan memiliki hubungan yang akrab.

CATATAN PENTING: Ada kemungkinan beberapa partisipan tidak mau terlibat dalam perkenalan dan pencairan suasana ini. Ajaklah secara persuasif (dengan melibatkan partisipan lainnya) agar mereka mau terlibat. Jangan paksa mereka, tetapi jangan pula membatalkan proses karena beberapa individu tidak bersedia terlibat.

14

ooo RUMUSAN HARAPAN PESERTA


TUJUAN: o Diperolehnya gambaran harapan yang ingin dicapai peserta selama pelatihan. o Diperolehnya gambaran ranah harapan peserta (pemahaman, ketrampilan, strategi, metode, langkah-langkah, dll.) o Diperolehnya gambaran kekhawatiran peserta yang perlu dieliminir, agar tidak mengganggu pencapaian tujuan pelatihan. WAKTU: 45 menit METODE: o Penugasan individual o Diskusi kelompok o Diskusi pleno. MATERI: ---- ALAT BANTU: o Kertas potong untuk menuliskan pernyataan-pernyataan (1 lembar untuk 1 pernyataan) sejumlah sesuai keperluan, dalam 2 warna yang berbeda untuk pernyataan HARAPAN dan KEKHAWATIRAN. o Spidol (jika mungkin untuk setiap peserta) o Sticky cloth untuk menempelkan kertas-kertas pernyataan. PROSES:

1.

Bagilah peserta ke dalam 4 kelompok. Setiap kelompok diminta mendiskusikan tentang HARAPAN dan KEKHAWATIRAN setiap individu dalam pelatihan. Setiap pernyataan ditulis dalam 1 lembar kertas potong dengan membedakan antara pernyataan HARAPAN dan KEKHAWATIRAN. Pernyataan yang sama cukup dituliskan 1 kali, sehingga tidak perlu terjadi duplikasi dalam kelompok. Mintalah peserta meletakkan hasil diskusinya di lantai, pisahkan dalam area yang berbeda antara pernyataan-pernyataan HARAPAN dan KEKHAWATIRAN. Ajaklah peserta untuk berkonsentrasi pada pernyataan-pernyataan HARAPAN. Sambil mengklarifikasi kejelasan setiap pernyataan, ajaklah peserta mengelompokkan rumusan-rumusan tersebut ke dalam beberapa jenis, yakni: PEMAHAMAN, KETRAMPILAN, STRATEGI, METODE, LANGKAH-LANGKAH, dan lain-lain. Tempelkanlah pernyataan-pernyataan sesuai jenisnya pada sticky cloth yang telah disiapkan.

2.

3.

15

4.

Lanjutkan dengan membahas pernyataan-pernyataan KEKHAWATIRAN, namun sebatas mengklarifikasikan maksudnya dan membahas secara cepat tentang langkah untuk mengeliminirnya, kemudian menempelkannya di sticky cloth.

CATATAN PENTING: o Bisa jadi rumusan HARAPAN peserta ada yang hanya bisa dicapai pasca pelatihan. Hal ini tidak perlu dipermasalahkan, karena akan terklarifikasi pada saat pembahasan Tujuan dan Alur Pelatihan. o Demikian pula untuk pernyataan KEKHAWATIRAN, bisa jadi muncul pernyataan yang terlalu jauh ke depan, misalnya: takut uji coba gagal. Tetaplah melakukan pembahasan pernyataan serupa itu, karena akan menjadi modal untuk implementasi program.

16

ooooTUJUAN DAN ALUR KEGIATAN


TUJUAN: Disepakatinya tujuan dan alur pelatihan, terkait dengan tujuan program CLTS serta rumusan harapan peserta. WAKTU: 30 menit METODE: o Presentasi/penjelasan o Diskusi pleno. MATERI: o Rumusan tujuan pelatihan o Lembar alur pelatihan. ALAT BANTU: o OHP/LCD/Papan flipchart PROSES:

1.

Jelaskanlah rumusan tujuan pelatihan yang telah direncanakan. Kemudian lanjutkan dengan pembahasan sejauh mana rumusan tujuan tersebut mampu menjawab rumusan harapan peserta. Bilamana ada harapan-harapan yang tidak mungkin tercapai oleh tujuan pelatihan tersebut, bahaslah bagaimana pencapaiannya. Jelaskanlah alur pelatihan yang akan dikembangkan dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Buatlah kesepakatan untuk bersama-sama mencapai tujuan pelatihan dengan mengikuti alur yang sudah disusun.

2. 3.

CATATAN PENTING:

17

oooooKONTRAK BELAJAR
TUJUAN: Terbangunnya komitmen pembelajaran bersama seluruh komponen pelatihan, dalam bentuk: a. kesepakatan waktu/jadwal b. tata tertib dan sanksi. WAKTU: 30 menit. METODE: o Presentasi/penjelasan o Diskusi pleno. MATERI: Jadwal pelatihan. ALAT BANTU: o Papan dan kertas flipchart atau laptop dan LCD. PROSES:

1.

Jelaskanlah jadwal pelatihan yang sudah dirancang. Berikanlah kesempatan kepada peserta untuk bertanya, tetapi lebih terfokus untuk mempertajam penjelasan, bukan untuk mengusulkan perubahan substansial atas jadwal. Buatlah kesepakatan jika jadwal telah dipahami peserta. Diskusikanlah secara pleno berbagai hal yang perlu diatur bersama dan menentukan keberhasilan pelatihan, misalnya: penggunaan handphone, kebisaaaan merokok, pakaian, dan sebagainya. Buatlah kesepakatan tentang tata tertib pelatihan beserta sanksinya. Tuliskanlah dalam flipchart untuk ditempel di tempat strategis yang bisa dibaca semua partisipan. Jelaskanlah pula peran berbagai pihak (peserta, fasilitator dan panitia) dalam rangka keberhasilan pelatihan ini.

2.

3.

CATATAN PENTING:

18

POKOK BAHASAN:
1. REFLEKSI PENGALAMAN PROYEK/PROGRAM SANITASI SEBELUMNYA
TUJUAN: a. Peserta memperoleh informasi tentang keberhasilan, kekuatan, kelemahan dan keberlanjutan proyek sanitasi sebelumnya. b. Peserta memahami perbedaan paradigma antara program-program yang lalu dengan kecenderungan saat ini. WAKTU: Maksimal 120 menit METODE: Alternatif 1 Diskusi kelompok Presentasi Kelompok Diskusi Pleno Presentasi / penjelasan

Alternatif 2 Presentasi tentang proyek Diskusi kelompok Diskusi pleno

MATERI: Pengalaman pengelolaan proyek-proyek sanitasi pernah dilaksanakan di kabupaten dan telah selesai. ALAT BANTU: Sarana dan prasarana untuk presentasi sesuai dengan ketersediaan setempat: kertas plano + spidol atau transparansi + spidol + proyektor, dll. PROSES: Alternatif 1 (jika mayoritas peserta telah memiliki pengalaman terlibat dalam pelaksanaan proyek/program sanitasi sebelumnya): 1. Ajukan pertanyaan kepada peserta tentang proyek sanitasi yang pernah dan sudah selesai dilaksanakan di kabupaten ini. Sepakatilah dengan peserta 2-3 program/proyek yang akan dianalisa bersama tentang KELEBIHAN, KEKURANGAN, KEBERLANJUTAN dan PERUBAHAN YANG TERJADI DI LOKASI pasca proyek tersebut. 2. Mintalah peserta berbagi dalam 2-3 kelompok sesuai dengan keterlibatan atau pemahamannya terhadap program/proyek yang akan dianalisa. Mintalah kepada peserta yang tidak pernah terlibat atau kurang paham terhadap program/proyek yang akan dianalisa untuk bergabung di salah satu kelompok. Aturlah agar jumlah peserta setiap kelompok relative berimbang.

19

3.

Mintalah kepada setiap kelompok untuk menganalisa/mendiskusikan program/proyek yang menjadi pilihannya (selama 30 menit) dengan pokokpokok kajian, sebagai berikut: o KELEBIHAN o KEKURANGAN o KEBERLANJUTAN o PERUBAHAN YANG TERJADI DI LOKASI Setelah seluruh kelompok menyelesaikan diskusinya, mintalah masingmasing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya selama 10 menit. Berikan kesempatan kepada peserta lain untuk mengajukan pertanyaan klarifikasi, tetapi bukan pertanyaan diskusi. Kembangkanlah diskusi pleno untuk mengkaji setiap program/proyek yang sudah dipresentasikan terkait dengan hal-hal sebagai berikut: o Perkembangan apa yang diharapkan terjadi di masyarakat? o Dukungan apa yang diberikan oleh program/proyek kepada masyarakat? o Siapa yang memberikan contoh-contoh model sarana? o Siapa sasaran utama (penerima manfaat) program/proyek? o Bagaimana pendekatan yang dikembangkan? o Siapa yang merancang kegiatan program/proyek? Di akhir diskusi, bersama-sama dengan peserta fasilitator merangkum perubahan paradigma proyek sanitasi pengalaman terdahulu dan orientasi ke depan. Sebagai contoh perubahan yang terjadi dari program terdahulu ke kecenderungan saat ini adalah Program-program terdahulu (bisaanya Target Oriented) Perkembangan jumlah sarana Subsidi Model-model sarana disarankan oleh pihak luar Sasaran utama adalah kepala keluarga Top down Fokus pada: Jumlah jamban Pendekatannya bersifat blue print Kecenderungan saat ini Perubahan perilaku dan kesehatan Solidaritas social Model-model sarana digagas dan dikembangkan oleh masyarakat Sasaran utama adalah masyarakat desa secara utuh Bottom up Fokus pada: Berhentinya BAB di sembarang tempat Pendekatannya lebih fleksibel.

4.

5.

6.

Alternatif 2 (Jika hanya sebagian kecil peserta yang memiliki pengalaman terlibat dalam pelaksanaan proyek/program sanitasi sebelumnya) Sebelum proses di dalam kelas (bisa sehari atau beberapa jam sebelumnya), mintalah kepada beberapa peserta (3-4 orang) yang berpengalaman dalam pengelolaan proyek/program sanitasi (yang telah selesai) untuk mempersiapkan presentasi pengalamannya tentang proyek/program tersebut, terutama mengenai hal-hal sebagai berikut:

20

o o o

KELEBIHAN KEKURANGAN PENCAPAIAN PADA AKHIR PROYEK/PROGRAM

1. Berikanlah kesempatan kepada beberapa peserta yang telah ditugasi, untuk


mempresentasikan pengalamannya tentang proyek/program sanitasi yang pernah dikelolanya, masing-masing sekitar 10 menit.

2. Jika presentasi sudah selesai, berikanlah kesempatan (10 menit) kepada


peserta yang ingin mengajukan pertanyaan klarifikasi (memperjelas informasi saja). Jagalah proses agar tidak masuk ke tingkat analisa.

3. Bagilah peserta ke dalam beberapa kelompok sesuai jumlah proyek/program


yang telah dipresentasikan. Mintalah kepada setiap kelompok untuk berperan sebagai Konsultan Internasional dari negara lain yang sedang melakukan kajian, dan mintalah kepada setiap peserta yang telah mempresentasikan pengalamannya untuk berperan sebagai Project Director. Tugaskanlah kepada setiap kelompok Konsultan Internasional untuk melakukan wawancara mendalam (selama 15 menit) kepada Project Director (satu kelompok mewawancarai satu project director). Adapun topik wawancara terutama berpusat kepada topik:

a. KEBERLANJUTAN b. PERUBAHAN YANG TERJADI DI LOKASI c. APAKAH ADA DESA YANG SUDAH 100% BEBAS DARI BAB DI
TEMPAT TERBUKA? 4. Berikanlah kesempatan kepada setiap kelompok (Konsultan Internasional) untuk mempresentasikan temuan-temuannya dari hasil wawancara yang dilakukannya, termasuk kesimpulannya tentang keberhasilan proyek/program yang dikaji utamanya terkait dengan keberlanjutan (operation and maintenance serta pengembangan) dan keberhasilan memfasilitasi masyarakat mencapai 100% bebas dari BAB di tempat terbuka. Waktu untuk presentasi setiap kelompok sekitar 5 menit saja. 5. Setelah seluruh kelompok (Konsultan Internasional) mempresentasikan hasil kajiannya, kembangkanlah diskusi pleno untuk membahas beberapa hal berikut ini: a. Perkembangan apa yang diharapkan terjadi di masyarakat? b. Dukungan apa yang diberikan oleh program/proyek kepada masyarakat? c. Siapa yang memberikan contoh-contoh model sarana? d. Siapa sasaran utama (penerima manfaat) program/proyek? e. Bagaimana pendekatan yang dikembangkan? f. Siapa yang merancang kegiatan program/proyek? g. Bagaimana keberlanjutan program? Jika tidak berlanjut, mengapa? h. Apakah ada yang berhasil memfasilitasi desa yang 100% bebas dari BAB di tempat terbuka? Jika tidak mengapa?

21

6. Di akhir diskusi, bersama-sama dengan peserta fasilitator merangkum


perubahan paradigma proyek sanitasi pengalaman terdahulu dan orientasi ke depan. Sebagai contoh perubahan yang terjadi dari program terdahulu ke kecenderungan saat ini adalah: Program-program terdahulu (bisaanya Target Oriented) Perkembangan jumlah sarana Subsidi Model-model sarana disarankan oleh pihak luar Sasaran utama adalah kepala keluarga Top down Fokus pada: Jumlah jamban Pendekatannya bersifat blue print Kecenderungan saat ini Perubahan perilaku dan kesehatan Solidaritas social Model-model sarana digagas dan dikembangkan oleh masyarakat Sasaran utama adalah masyarakat desa secara utuh Bottom up Fokus pada: Berhentinya BAB di sembarang tempat Pendekatannya lebih fleksibel.

CATATAN PENTING: Berikanlah tekanan-tekanan pada beberapa hal berikut ini: Perubahan sikap dan perilaku lebih memungkinkan untuk terjadinya perkembangan sarana dibandingkan sebaliknya. Dukungan subsidi sanitasi mendorong ketergantungan, sehingga keberlanjutan melemah Program/proyek yang dirancang oleh masyarakat sendiri, akan meningkatkan rasa percaya diri dan tanggung jawab mereka.

22

POKOK BAHASAN:
2. PENGENALAN CLTS DAN PENGALAMAN DI BERBAGAI NEGARA/DAERAH
TUJUAN: a. Peserta mampu memahami CLTS b. Peserta memperoleh gambaran negara/daerah WAKTU: Maksimal 150 menit (21/2 jam) METODE: Pemutaran film/VCD CLTS di India Refleksi atas pengalaman program sanitasi di Indonesia Penjelasan konsep CLTS dan pengalaman di berbagai negara/daerah Diskusi Pleno MATERI: a. Film/VCD: CLTS di Maharashtra India b. Materi: CLTS c. Pengalaman CLTS di Lumajang dan Sumbawa. ALAT BANTU: VCD Player, screen. PROSES: 1. Putarlah film/VCD CLTS di Maharashtra India (sebelumnya berikan pengantar bahwa peserta diminta untuk menyimak apa yang dilihatnya di film tersebut). 2. Diskusikan dengan peserta pengalaman atau pengetahuan apa yang didapat dari film tersebut. 3. Lanjutkanlah dengan penjelasan tentang Konsep CLTS dan Pengalaman di Berbagai Negara/Daerah (materi dari Kamal Kar) 4. Lengkapilah pemahaman dan komitmen peserta dengan penjelasan mengenai pengalaman penerapan CLTS di Indonesia yaitu di Kabupaten Lumajang dan Sumbawa. 5. Bukalah ruang bagi proses tanya jawab dan diskusi pleno untuk memperjelas berbagai hal yang mungkin diragukan oleh peserta. CATATAN PENTING: Berikanlah tekanan-tekanan pada beberapa hal berikut ini: Yakinkan bahwa output dari CLTS adalah non open defecation Gunakan bahasa BAB dan tai sesuai dengan daerah setempat (bandingkan dengan bahasa akademis,institusi seperti: faeces, tinja, dll.) Yakinkan definisi lebih ditekankan pada pemberdayaan, perubahan perilaku, dan tanpa subsidi.

pengalaman

penerapan

di

berbagai

23

POKOK BAHASAN:
3. PRINSIP PRINSIP CLTS, 3 PILAR PRA DALAM CLTS, PERUBAHAN PERILAKU, DAN TINGKATAN PARTISIPASI DALAM CLTS
TUJUAN: a. Peserta memahami, menerima dan berkomitmen untuk memegang prinsipprinsip CLTS. b. Peserta memahami konsep 3 pilar PRA dalam CLTS. c. Peserta memahami dan berkomitmen merubah sikap dan kebisaaan dalam memfasilitasi masyarakat dari konsep atas bawah (upper lower) menjadi pembelajaran bersama. d. Mengeksplorasi variasi dan wilayah sudut pandang peserta pelatihan tentang keikutsertaan masyarakat dan mendapatkan pengertian umum pada tipe dan tingkat partisipasi masyarakat yang dibutuhkan pada CLTS WAKTU: Maksimal 120 menit. METODE: Presentasi / penjelasan Diskusi kelompok Diskusi pleno MATERI: Prinsip prinsip CLTS: non subsidi, masyarakat sebagai pemimpin, tidak mengajari, tidak memaksa dan tidak mempromosikan, totalitas Visualisasi 3 pilar PRA Segitiga komponen perubahan perilaku (personal, institusional profesional), sharing dan methode. Visualisasi 4 tingkatan partisipasi masyarakat

dan

ALAT BANTU: Potonganpotongan kartu (metaplan), spidol, flipchart, kertas A4 untuk menggambar dan sticky cloth. PROSES: Fasilitator menjelaskan tentang prinsip dasar CLTS, dan membuka diskusi yang berkaitan dengan materi.

24

3.1

PRINSIPPRINSIP CLTS

Prinsip prinsip CLTS, adalah : 1. Tanpa subsidi kepada masyarakat 2. Tidak menggurui, tidak memaksa dan tidak mempromosikan jamban 3. Masyarakat sebagai pemimpin 4. Totalitas; seluruh komponen masyarakat terlibat dalam analisa permasalahan perencanaan pelaksanaan serta pemanfaatan dan pemeliharaan Community lead tidak hanya dalam sanitasi, tetapi dapat dalam hal lain seperti dalam pendidikan, pertanian, dan lain lain, yang terpenting adalah: Inisiatif masyarakat Total atau keseluruhan, keputusan masyarakat dan pelaksanaan secara kolektif adalah kunci utama. Solidaritas masyarakat (laki perempuan, kaya miskin) sangat terlihat dalam pendekatan ini. Semua dibuat oleh masyarakat, tidak ada ikut campur pihak luar, dan bisaanya akan muncul natural leader.

Perubahan dari Sistem Target Driven menjadi Community Lead Proses Approach
Criteria Input dari luar masyarakat Sistem Target Driven Subsidi benda-benda untuk jamban Model ditentukan Cakupan Indikator keberhasilan Bahan yang digunakan Biaya Pemanfaat Waktu yang dibutuhkan Motivasi utama Model penyebaran Sebagian Menghitung jamban Semen, Porslain, batu bata, dan lain-lain CLTS Pemberdayaan masyarakat Muncul inovasi lain dari masyarakat. Menyeluruh Tidak ada lagi kebisaaan BAB di sembarang tempat Dimulai dengan bambu, kayu, dan lainlain Relatif lebih murah Masyarakat yang sangat miskin Ditentukan oleh masyarakat

500.000 sampai 1.000.000 per model Yang punya uang Seperti yang ditargetkan oleh proyek

Subsidi / bantuan Oleh organisasi luar / formal

Harga diri Oleh masyarakat melalui hubungan persaudaraan, perkawanan dan lain-lain Dipastikan oleh masyarakat Disepakati oleh masyarakat. Contoh yang terjadi di India 20 rupee (10 rupee untuk pengelola dan 10 rupee untuk yang menemukan pelaku open defecation) Oleh masyarakat (bisa harian, bulanan, mingguan)

Keberlanjutan Sangsi bila melakukan BAB sembarangan Tipe monitoring

Sulit untuk dipastikan Tidak ada

Oleh proyek

25

3.2. TIGA PILAR PRA DALAM CLTS dan PERUBAHAN PERILAKU


Personal

Perubahan perilaku & kebiasaan

Berbagi
Metode

Profesional

Institusional

3 pilar utama dalam PRA yang merupakan basis CLTS 1. Attitude and Behaviour Change (perubahan perilaku dan kebisaaan) 2. Sharing (berbagi) 3. Method (metode) Ketiganya merupakan pilar utama yang harus diperhatikan dalam pendekatan CLTS, namun dari ketiganya yang paling penting adalah perubahan perilaku dan kebisaaan, karena jika perilaku dan kebisaaan tidak berubah maka kita tidak akan pernah mencapai tahap sharing dan sangat sulit untuk menerapkan metode. Perilaku dan kebisaaan yang dimaksud dan harus berubah adalah perilaku fasilitator. Perilaku dan kebisaaan yang harus diubah diantaranya: Pandangan bahwa ada kelompok yang berada di tingkat atas (upper) dan kelompok yang berada di tingkat bawah (lower). Cara pandang upper lower harus dirubah menjadi pembelajaran bersama, bahkan menempatkan masyarakat sebagai guru karena masyarakat sendiri yang paling tahu apa yang terjadi dalam masyarakat itu. Cara pikir bahwa kita datang bukan untuk memberi sesuatu tetapi menolong masyarakat untuk menemukan sesuatu. Bahasa tubuh atau gesture; sangat berkaitan dengan pandangan upper lower. Bahasa tubuh yang menunjukkan bahwa seorang fasilitator mempunyai pengetahuan atau ketrampilan yang lebih dibandingkan masyarakat, harus dihindari. . Perubahan perilaku dan kebisaaan tersebut harus total, dimana didalamnya meliputi:

26

perilaku personal atau individual, perilaku institusional atau kelembagaan dan perilaku profesional atau yang berkaitan dengan profesi, Ketika perilaku dan kebisaaan (termasuk cara pikir dan bahasa tubuh) dari fasilitator telah berubah maka sharing akan segera dimulai. Masyarakat akan merasa bebas untuk mengatakan tentang apa yang terjadi di komunitasnya dan mereka mulai merencanakan untuk melakukan sesuatu. Setelah masyarakat dapat berbagi, maka metode mulai dapat diterapkan. Masyarakat secara bersama-sama melakukan analisa terhadap kondisi dan masalah masyarakat tersebut. Dalam CLTS fasilitator tidak memberikan solusi. Namun ketika metode telah diterapkan (proses pemicuan telah dilakukan) dan masyarakat sudah terpicu sehingga diantara mereka sudah ada keinginan untuk berubah tetapi masih ada kendala yang mereka rasakan misalnya kendala teknis, ekonomi, budaya, dan lain-lain maka fasilitator mulai memotivasi mereka untuk mencapai perubahan ke arah yang lebih baik, misalnya dengan cara memberikan alternatif pemecahan masalah-masalah tersebut. Tentang usaha atau alternatif mana yang akan digunakan, semuanya harus dikembalikan kepada masyarakat tersebut.

3.2.a.TINGKATAN PARTISIPASI DALAM CLTS


Dalam pendekatan CLTS, dan pendekatan partisipatif lainnya, partisipasi atau keterlibatan masyarakat merupakan hal yang mutlak diperlukan. Tingkatan partisipasi masyarakat, mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah sebagai berikut: 1. Masyarakat hanya menerima informasi; keterlibatan masyarakat hanya sampai diberi informasi (misalnya melalui pengumuman) dan bagaimana informasi itu diberikan ditentukan oleh si pemberi informasi (pihak tertentu). 2. Masyarakat mulai diajak untuk berunding; Pada level ini sudah ada komunikasi 2 arah, dimana masyarakat mulai diajak untuk diskusi atau berunding. Dalam tahap ini meskipun sudah dilibatkan dalam suatu perundingan, pembuat keputusan adalah orang luar atau orang-orang tertentu 3. Membuat keputusan secara bersama-sama antara masyarakat dan pihak luar; 4. Masyarakat mulai mendapatkan wewenang atas kontrol sumber daya dan keputusan Dari ke empat tingkatan partisipasi tersebut, yang diperlukan dalam CLTS adalah tingkat partisipasi tertinggi dimana masyarakat tidak hanya diberi informasi, tidak hanya diajak berunding tetapi sudah terlibat dalam proses pembuatan keputusan dan bahkan sudah mendapatkan wewenang atas kontrol sumber daya masyarakat itu sendiri serta terhadap keputusan yang mereka buat. Dalam prinsip community lead telah disebutkan bahwa keputusan bersama dan action bersama dari masyarakat itu sendiri merupakan kunci utama.

27

3.2.b. PERUBAHAN PERILAKU


1. Minta peserta untuk membagi dalam 3 kelompok kecil, dan masing-masing kelompok membahas sekurang-kurangnya 5 point siapa yang dianggap upper dan lower (1 kelompok membahas personal, 1 kelompok membahas institusional dan yang lainnya membahas dari segi profesional). 2. Setelah diskusi dalam kelompok kecil, minta masing-masing mempresentasikan dan kelompok lain menanggapi atau memberi masukan. 3. Kembangkanlah diskusi tentang mengapa seseorang atau sesuatu dianggap upper dan yang lainnya dianggap lower. 4. Di akhir diskusi sepakati bahwa dalam pendekatan CLTS cara pandang tersebut harus diubah sehingga tidak ada pendapat siapa upper dan siapa lower (tidak ada yang memposisikan dirinya sebagai upper dan tidak ada pula pihak lain yang dipandang sebagai lower). 5. Setelah diskusi pleno 1 selesai, minta kelompok yang sama untuk membuat skenario melalui bahasa tubuh (gesture), masing-masing kelompok menggambarkan kegiatan yang top down, partisipatif dan friendly. 6. Minta masing-masing kelompok untuk menampilkan skenarionya (hanya melalui bahasa tubuh) dan kelompok lain menjadi pengamat. 7. Di setiap akhir penampilan kelompok, tanyakan kepada kelompok pengamat apa yang menjadi karakteristik dari bahasa tubuh yang ditampilkan. 8. Pada diskusi pleno, tanyakan kepada peserta bahasa tubuh yang bagaimana yang sesuai untuk pendekatan CLTS (didasarkan pada pemahaman bahwa tidak ada yang dianggap upper dan lower).

3.2.c. TINGKAT PARTISIPASI


1. Minta masing-masing peserta menggambarkan contoh partisipasi masyarakat dari pengalaman sendiri yang mereka pahami dalam bentuk gambar (masing-masing mengambil selembar kertas dan alat tulis/gambar).

28

2. Sementara mereka membuat gambar, trainer menyiapkan kartu-kartu yang bertuliskan tingkatan partisipasi yang terdiri dari 4 kriteria (tingkat terendah sampai dengan tertinggi):

Menerima Informasi 1 Membuat keputusan secara bersama-sama antara masyarakat dan pihak luar 3 Mendapatkan wewenang atas kontrol sumber daya dan keputusan 4
3. Tempelkan keempat tingkatan kelompok tersebut pada dinding atau kain yang sudah diberi perekat (sticky cloth). Tanpa memberikan tingkatan partisipasi 4. Saat peserta telah selesai menggambar, tempelkan gambar-gambar tersebut di dinding. Setelah itu minta mereka menjelaskan maksud dari gambar-gambar tersebut, lalu mereka diminta untuk mengelompokkan gambar mereka kedalam kelompok-kelompok tingkat partisipasi mana yang ada dalam keempat kelompok tersebut. 5. Minta peserta untuk membuat peringkat tingkat partisipasi dari yang terendah sampai tertinggi (dimulai dengan tingkat terendah dan tertinggi, baru kemudian yang ada diantaranya) 6. Tanyakan pada tingkat partisipasi mana yang dibutuhkan dalam proses pelaksanaan CLTS. Fasilitasikan beberapa diskusi tentang hal tersebut sekitar 5-10 menit, kemudian minta peserta untuk memilih (voting) tentang tingkatan yang seharusnya ada, Akhiri dengan konsensus dari hasil pilihan tersebut. CATATAN PENTING: Berikanlah tekanan-tekanan pada beberapa hal berikut ini: Bahas kembali tentang sikap dan perilaku. Tanyakan pada peserta: siapa yang berubah? Yakinkan pada peserta: siapa dulu yang harus berubah? Bebas dan jujur (artinya kita menanyakan sesuai dengan situasi dan kondisi sebenarnya/jangan bertolak belakang) Tanyakan: kapan peserta BAB di sembarang tempat? (buat permainan yang menyenangkan) Misalnya: Sejak lahir sampai sekarang, siapa yang pernah BAB di sembarang tempat? tahun terakhir siapa yang masih BAB di sembarang tempat?

Diajak Berunding 2

29

Seminggu yang lalu atau kemarin siapa yang masih BAB di sembarang tempat? Simpulkan bahwa besok saat praktek pemicuan di masyarakat, kita menghadapi orang yang berpengalaman. Mungkin kita baru 1 kali sementara masyarakat sejak saat lahir sampai sekarang masih BAB di sembarang tempat. Jadi kita bisa katakan bahwa masyarakat menjadi mahaguru dan kita muridnya (buat level kelas sesuai dengan lamanya peserta pelatihan BAB di sembarang tempat). Oleh karena itu jangan pernah kita menggurui, menyuluh, apalagi menyuruh. Bila itu dilakukan maka jangan pernah berharap kita dapat melakukan pemicuan. Apa yang penting bagi kita sebagai seorang murid? Misalnya: Sebagai murid kita harus pintar, patuh (tanyakan sejauh mana kita patuh atau tidak), mendengar, berpikir, rajin, responsif, kritis, kreatif, empati, dll. Tanyakan semua ini terkait dengan apa dan mengapa seorang murid harus demikian, guru akan merasa senang bila muridnya memiliki kemampuan seperti ini (yang penting adalah sikap dan perilaku) Tanpa perlu kita menguasai bahasa setempat, bila sikap dan perilaku tepat, maka metode akan berkembang dengan sendirinya dan kendala tidak ada masalah (karena ada 3 tantangan dalam PRA: individu, lembaga, profesional). Tiga pilar itu tantangan utamanya karena kita terbisaa menempatkan diri sebagai seorang birokrat (lepas baju, jangan datang dengan baju pegawai, birokrat, NGO, akademisi, dll) Jangan pernah berpikir, kitalah solusi Bangkitkan kemampuan dan kemauan masyarakat dengan cara menempatkan masyarakat sebagai guru Bila proses pemicuan benar maka akan muncul kekuatan yang luar bisaa dari masyarakat (contohkan daerah lain, misalnya di Sambas, Muara Enim, dll). Ingat, yang berpengalaman adalah masyarakat, mereka sudah bisaa BAB di sembarang tempat sejak lahir, maka jangan pernah menyuruh, tetapi bertanya senang tidak? Apa yang membuat senang? Kalau tidak senang mengapa? Apakah akan melanjutkan kebisaaan itu? Analisis dan lakukan pemicuan (Elemen-elemen pemicuan), tanyakan kembali siapa yang aka BAB di sembarang tempat lagi? (pasti akan ada keraguan/keceriaan berbeda) karena dari pengalaman menunjukkan tidak ada satu masyarakatpun yang nyaman dengan kondisi itu. Minta sukarelawan untuk menceritakan pengalaman pertama sebagai fasilitator.

30

POKOK BAHASAN:
4. FASILITASI CLTS DI KOMUNITAS 4.1 ALATALAT UTAMA PRA DALAM CLTS 4.2 ELEMEN-ELEMEN PEMICU DAN FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT PEMICUAN 4.3 APA HARUS DILAKUKAN (DO) DAN DIHINDARI (DONT) DALAM CLTS
TUJUAN: a. Peserta mengetahui dan menyepakati alat-alat PRA yang digunakan. b. Peserta akan dapat menemukan dan menyepakati elemen-elemen pemicu dan faktor-faktor penghambat pemicuan (serta alat yang paling sesuai untuk masing-masing elemen pemicuan) baik yang bersifat umum maupun spesifik lokal, serta memahami dan berkomitmen tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari saat fasilitasi (do dan dont). c. Peserta memiliki ketrampilan dasar memfasilitasi CLTS dengan alat-alat utama yang disepakati.

WAKTU:
Sekitar 270 menit (termasuk simulasi alat-alat PRA oleh peserta) METODE: Diskusi kelompok Simulasi Diskusi pleno MATERI: Pengalaman peserta dalam memfasilitasi masyarakat di bidang sanitasi. ALAT BANTU: Kertas potong (metaplan) untuk menuliskan pernyataan-pernyataan dan simulasi alur kontaminasi Bubuk kapur/tepung beberapa warna (untuk peta sosial) Air minum untuk peragaan kontaminasi Air bersih untuk peragaan kontaminasi Spidol warna-warni PROSES: 1. Tanyakan kepada peserta siapa yang pernah mengenal dan mengimplementasikan metode Participatory Rural Appraisal (PRA). o Jika sebagian ada yang sudah mengenal, minta peserta untuk menyebutkan alat-alat PRA apa saja yang dipakai untuk fasilitasi di masyarakat, yang berkaitan dengan program sanitasi. o Jika belum ada yang mengenal PRA, kenalkan secara ringkas alat-alat utama PRA yang akan dipakai seperti pemetaan, transect walk, alur kontaminasi, dll.

31

2.

Bagilah peserta menjadi 4 kelompok, kemudian mintalah mereka mendiskusikan dalam kelompok masing-masing (selama 15-20 menit) topik berikut ini: o Kelompok 1 dan 2 Elemen-elemen apa yang bisa digunakan untuk memicu masyarakat dalam perubahan di bidang sanitasi? o Kelompok 3 dan 4 Hal-hal apa saja yang menjadi penghambat dalam pemicuan di masyarakat? Mintalah agar setiap jawaban dituliskan dalam lembar-lembar kertas (metaplan), setiap lembar untuk 1 pernyataan. Jika diskusi telah selesai, mintalah masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya: o Mulailah dengan kelompok 1 dan 2, lakukanlah klarifikasi dan pendalaman agar tidak ada elemen-elemen yang relevan namun tidak terungkap o Kembangkan diskusi pleno untuk merumuskan bersama alat-alat PRA yang tepat untuk digunakan dalam pemicuan setiap elemen. o Lanjutkan dengan kelompok 3 dan 4, lakukan juga klarifikasi dan pendalaman agar tidak ada hal-hal yang relevan namun tidak terungkap. o Kembangkan diskusi pleno untuk menegaskan bahwa hal-hal tersebut harus kita hindari dalam proses pemicuan disertai alasannya. Kembangkanlah diskusi mendalam untuk menemukan elemen-elemen dan hal-hal yang spesifik terkait dengan komunitas tertentu yang mungkin tidak tepat pada komunitas lainnya. Lakukan penggalian juga tentang metodemetode pemicuan lain yang bisa dikembangkan, misalnya: penggunaan pertunjukan/kesenian rakyat, pelibatan anak-anak dalam kampanye, lembaga dan kegiatan keagamaan, dll. Kumpulkanlah pernyataan-pernyataan yang telah disepakati (elemen pemicu dan hal penghambat) atau mintalah peserta/panitia menuliskannya kembali dalam bentuk yang lebih besar/menyolok, dan tempatkanlah di area yang strategis, sehingga peserta akan bisa terus membaca dan menginternalisasikan dalam diri masing-masing. Lanjutkanlah dengan simulasi-simulasi (sebagai sarana belajar langsung bagi peserta dalam memfasiltasi masyarakat) dan diskusi-diskusi tentang hal-hal penting yang terkait, mencakup tools berikut ini: a. Pemetaan sosial b. Transect walk c. Penghitungan jumlah tinja per hari, minggu, bulan, dst. d. Alur kontaminasi e. Pencemaran air minum f. Pencemaran air mandi dan cuci g. Gangguan pada privacy perempuan h. dll.

3.

4.

5.

6.

32

CATATAN PENTING: Elemen-elemen Pemicu dan Hal-hal yang Menghambat untuk setiap komunitas bisa jadi ada perbedaan. Hal ini menjadi penting untuk digali, agar pemicuan bisa terlaksana secara optimal, selain elemen-elemen yang umum berlaku di komunitas mana pun. Pastikan peserta paham alur fasilitasi umumnya dimulai dengan Pemetaan Sosial, namun seterusnya sangat fleksibel dengan situasi yang berkembang. Baca materi Fasilitasi CLTS di Komunitas

33

POKOK BAHASAN:
5. SANITATION LADDER
TUJUAN: Peserta mampu menjelaskan dikembangkan oleh masyarakat.

tahapan

perkembangan

sanitasi

yang

bisa

WAKTU:
Maksimal 30 menit METODE: Penjelasan Diskusi Pleno MATERI: Matriks/Bagan Sanitation Ladder ALAT BANTU: PROSES:

1.

Dengan menggunakan matriks/bagan Sanitation Ladder yang diperbesar (sehingga bisa dilihat secara jelas oleh peserta dalam 1 kelas), jelaskanlah tahapan-tahapan sarana sanitasi yang bisa dikembangkan oleh masyarakat mulai dari tingkatan yang paling sederhana sampai yang memenuhi standard kesehatan. Variasi lain yang bisa dilakukan adalah dengan menggambar langsung di papan/kertas tentang tahapan tersebut sambil diskusi secara pleno dengan peserta. Tegaskanlah beberapa hal penting berikut ini: Penjelasan tentang sanitation ladder ini hendaklah disampaikan bilamana proses fasilitasi masyarakat memang sudah sampai pada tingkatan sulit menggali ide-ide dan pengalaman masyarakat dalam membangun sarana sanitasi. Bilamana masyarakat masih bisa sharing pengalaman dan informasi, fasilitator hendaknya mengembangkan proses bertumpu pada sharing tersebut, agar kepercayaaan diri dan solidaritas antar masyarakat bisa ditingkatkan. Tahapan-tahapan yang ada tidaklah berarti proses pengembangan harus dimulai dari tingkat paling dasar ke tingkat-tingkat berikutnya secara berurutan. Pengembangan bisa dimulai dari tahapan manapun sesuai kemampuan masyarakat. Namun, penjelasan tahapan yang dari paling sederhana sangatlah diperlukan untuk meyakinkan masyarakat (terutama yang paling tidak mampu), bahwa pengembangan sanitasi bisa dimulai dari tahapan yang paling sederhana itu.

2.

34

CATATAN PENTING: Bila menghadapi masyarakat yang sudah memiliki jamban, pemicuan dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas jamban (pakai tutup, tidak berbau, tidak dimasuki tikus/serangga, dll.) Bila kondisi desa ada kegiatan yang tumpang tindih, yakinkan tujuan kedatangan kita.

35

POKOK BAHASAN:
6. PRAKTEK LAPANG 6.a. PEMBENTUKAN KELOMPOK PRAKTEK LAPANG
TUJUAN: Tersusunnya kelompok-kelompok praktek lapang yang komposisinya mencakup seluruh komponen tim kabupaten.

WAKTU:
30 menit. METODE: Pemilihan demokratis. MATERI: ---- ALAT BANTU: Kertas plano PROSES:

1.

Jelaskanlah kepada peserta, bahwa pada hari ketiga akan dilaksanakan Praktek Lapang Fasilitasi CLTS (Pemicuan dan Perencanaan) di Komunitas di 4-6 lokasi di 2 desa, sehingga peserta akan dibagi menjadi 4-6 kelompok. Setiap kelompok diharapkan merupakan gabungan dari individu-individu yang mewakili berbagai komponen yang ada, sehingga diharapkan semua kelompok memikili kapasitas yang berimbang. Laksanakanlah proses pembentukan/pembagian kelompok, dengan cara membentuk barisan memanjang ke belakang sebanyak 4-6 kelompok. Mulailah, misalnya dari peserta yang berbasis kerja bidang kesehatan berpencar dalam 4-6 kelompok tersebut, lalu lanjutkan dengan yang berbasis kerja bidang perencana, selanjutnya pengembangan masyarakat desa, teknis sanitasi, dst. Perhatikanlah pula aspek gender, sehingga tidak terjadi sebaran tidak merata jenis kelamin tertentu. Pastikanlah bersama seluruh peserta, bahwa seluruh kelompok telah menggambarkan kelengkapan berbagai komponen yang ada. Tulislah di papan tulis/ kertas plano daftar nama anggota setiap kelompok.

2.

3.

36

POKOK BAHASAN:
6. PRAKTEK LAPANG 6.b. Persiapan: Panduan dan Simulasi Praktek Lapang
TUJUAN: o Tersusunnya panduan praktek lapang o Peserta siap memfasilitasi proses CLTS di masyarakat.

WAKTU:
2-4 jam METODE: o Simulasi o Penugasan dan pendampingan. MATERI: o Komposisi tim dalam memfasilitasi CLTS di komunitas o Panduan Fasilitasi CLTS di Komunitas ALAT BANTU: o Bahan-bahan untuk simulasi Pemetaan Sosial o Kertas potong (metaplan) o Kertas plano o Spidol besar dan kecil o Flagband o Ember berisi air bersih o Air mineral dalam kemasan gelas (2 gelas) PROSES:

1.

Mintalah sekitar 10 orang peserta sukarelawan untuk berperan sebagai warga masyarakat suatu dusun dalam simulasi yang akan difasilitasi fasilitator pelatihan. Sebelum proses simulasi dimulai, mintalah kepada peserta yang lain untuk menyimak proses simulasi dengan cermat, dan bila perlu mencatat langkahlangkahnya serta kata-kata kunci penting dalam proses ini. Mulai simulasi dengan Pemetaan Sosial, sehingga tergambarkan: batas wilayah pemukiman dan lahan pertanian/usaha, sebaran rumah warga, lokasi jamban dan BAB terbuka, akses setiap rumah terhadap jamban atau lokasi BAB terbuka, lokasi dan jenis sumber air minum dan air untuk keperluan rumah tangga lainnya, serta informasi lain yang relevan. Lanjutkan dengan simulasi Transect dalam bentuk yang sederhana, dengan tekanan pada kunjungan ke lokasi BAB terbuka, dan tekankan bahwa tidak seorang pun boleh menutup hidungnya saat kunjungan ini.

2.

3.

4.

37

5.

Lanjutkanlah simulasi: Menghitung jumlah tinja (per hari, minggu, bulan, tahun), alur oral faecal, kontaminasi air bersih, kontaminasi air minum, dan gangguan privacy pada perempuan serta pandangan agama tentang BAB terbuka. Bangunlah suasana klimaks dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan bertingkat dalam rangka mendorong perubahan: Bagaimana perasaan saudara-saudara hidup dengan suasana seperti ini? Apakah saudara-saudara ingin berubah? Bilamana komunitas menyatakan tak akan berubah, kembangkan pertanyaanpertanyaan yang lebih tajam untuk memicu rasa malu takut penyakit rasa bersalah, dst. Bila tetap tidak ada perubahan sikap, (ini upaya akhir) lanjutkan dengan pernyataan: Ya sudah kalau saudara-saudara tidak mau berubah. Saya akan pulang dan menuliskan laporan ke kabupaten bahwa saudarasaudara tidak mau berubah. Lanjutkanlah dengan proses memfasilitasi perencanaan oleh masyarakat, dengan pertanyaan-pertanyaan bertingkat: o o o o Siapa saja yang akan memulai perubahan? Dalam bentuk apa? Kapan dimulai? Kapan selesai? Kapan masyarakat mentargetkan komunitas ini bebas BAB di tempat terbuka?

6.

7.

8.

Tegaskanlah pada bagian akhir simulasi ini, bahwa perwakilan masyarakat (sekitar 6 orang dari setiap dusun) akan diundang dalam lokakarya di kabupaten untuk membagikan pengalamannya kepada peserta lokakarya. Simulasi berakhir. Jelaskanlah bahwa besok peserta akan melaksanakan praktek lapang. Untuk itu setiap kelompok harus mempersiapkan diri (menyusun panduan dan berlatih bila perlu). Berikanlah gambaran tentang komposisi tim fasilitasi yang bisaanya digunakan dalam memfasilitasi CLTS di komunitas, sebagai berikut: o o Lead facilitator Co facilitator :fasilitator utama, yang menjadi motor utama proses fasilitasi, bisaanya 1 orang :membantu fasilitator utama dalam memfasilitasi proses sesuai dengan kesepakatan awal atau tergantung pada perkembangan situasi :perekam proses, bertugas mencatat proses dan hasil untuk kepentingan dokumentasi /pelaporan program :penjaga alur proses fasilitasi, bertugas mengontrol agar proses sesuai alur dan waktu, dengan cara mengingatkan fasilitator (dengan kode-kode yang disepakati) bilamana ada halhal yang perlu dikoreksi.

9.

Content recorder

Process facilitator

38

Environment Setter

: penata suasana, menjaga suasana serius proses fasilitasi, misalnya dengan: mengajak anak-anak bermain agar tidak mengganggu proses (sekaligus juga bisa mengajak mereka terlibat dalam kampanye sanitasi, misalnya dengan: menyanyi bersama, meneriakkan slogan, dsb.), mengajak berdiskusi terpisah partisipan yang mendominasi atau mengganggu proses, dsb.

10. Mintalah panitia untuk menjelaskan lokasi praktek lapang dan gambaran awal
jika tersedia, rencana keberangkatan (waktu, perlengkapan yang harus dibawa, kendaraan, alur perjalanan, dll.)

11. Berikanlah penugasan kepada setiap kelompok untuk mempersiapkan diri dan
dampingilah sesuai dengan keperluan. CATATAN PENTING: Dalam fasilitasi sebenarnya, urutan tidaklah dibakukan, namun pemetaan sosial semestinya dilakukan pertama Lokasi pemetaan sosial sebaiknya di lahan terbuka (halaman), namun hasilnya harus segera dipindahkan ke kertas plano Lokasi pemicuan dengan alat-alat oral faecal, menghitung tinja, dll. tidaklah harus di ruang pertemuan tertutup, tetapi sebaiknya di lokasi-lokasi yang bisa mengoptimalkan rasa jijik, takut penyakit, berdosa, dll. Bagaimana kalau masyarakat bertanya? Bagaimana menanggapi pertanyaan? o Jangan pernah satu pertanyaan menjadi tanggung jawab kita untuk menjawab, tapi tanyakan kembali kepada penanya (menurut bapak/ibu bagaimana?), bila tidak bisa menjawab tanyakan ke masyarakat. o Jangan pernah menyerah pada satu sisi (contoh: seorang janda, rumah padat: apa bisa kita buat jadi renggang? Pasang surut: apa bias kita mengeringkan?) o Sampaikan pengalaman desa lain dengan kondisi yang sama tetapi dapat merubah perilaku.

39

POKOK BAHASAN:
6. PRAKTEK LAPANG 6.c. Pelaksanaan: 6.c.1. Pemicuan; 6.c.2. Perencanaan
TUJUAN: o Masyarakat memahami permasalahan sanitasi di komunitasnya dan berkomitmen untuk memecahkannya secara swadaya o Tersusunnya rencana kegiatan masyarakat dalam rangka pemecahan masalah sanitasi di komunitasnya o Terpilihnya panitia lokal komunitas yang mengkoordinir kegiatan masyarakat.

WAKTU:
7-8 jam di komunitas METODE: Praktek Lapang: o Pemetaan o Transek o FGD o Simulasi o Pemilihan demokratis Pemantauan: Observasi dan asistensi terhadap praktek fasilitasi yang dilakukan peserta. MATERI: ---- ALAT BANTU: ---- PROSES: 1. Karena kegiatan praktek lapang yang dilakukan peserta ini merupakan kegiatan riil (bukan simulasi), maka kesalahan proses dan hasil sedapat mungkin diminimalisir. Fungsi fasilitator yang melakukan observasi dan asistensi adalah menjamin agar proses dan hasil fasilitasi yang dilakukan peserta benar dan optimal. Langkah-langkah yang bisa ditempuh perlu disepakati dengan para peserta yang memfasilitasi di tingkat komunitas, agar proses dan hasil sesuai yang diharapkan namun eksistensi peserta sebagai fasilitator haruslah dijaga (apalagi akan terus memfasilitasi komunitas tersebut). Bila memungkinkan, setiap kelompok sebaiknya didampingi oleh 1-2 fasilitator yang hanya berkonsentrasi untuk kelompok tersebut. Ingatkanlah, bahwa esok hari perwakilan masyarakat (6 orang per dusun atau total 12 orang per desa, dengan perimbangan laki-laki dan perempuan) diundang dan akan dijemput (jam 09.00 pagi) untuk menyampaikan pengalamannya (kondisi sanitasi hingga saat ini) dan

2.

40

rencana ke depan kepada seluruh peserta pelatihan di tempat penyelenggaraan pelatihan, sekaligus makan siang bersama. Wakil masyarakat akan diantar kembali ke dusun/desa sekitar jam 14.00 dari tempat pelatihan. 3. Untuk itu, peta lapangan dan rencana kegiatan sebaiknya disalin ke kertas (plano) sebagai bahan presentasi masyarakat.

CATATAN PENTING: Beberapa contoh pemicuan: o Agama: orang makan ikan yang makan tahi tidak apa-apa (mungkin dengan alasan gurih), tetapi tidak semua orang mau makan ikan yang makan tahi. Ajak masyarakat berkata jujur untuk mengatakan bahwa ikan kita makan tahi atau ikan kita stempel dengan bebas tahi atau kita makan tahi. o Anak: lahir bersih, suci dan mulus, bapak/ibu pasti akan suka dan bahagia. Apakah anak yang bersih ini akan kita kotori dengan air yang tercampur tahi? Apa yang terjadi bila anak berkumpul, bergaul, dan bermain di tempat yang banyak tahi? Kalau anak sakit (cacingan, korengan, diare, dll) apa kita tega melihat anak sakit? Apakah rugi? (karena keluar biaya untuk berobat), bagaimana kalau anak kita meninggal? o Lalat: Jumlah kaki lalat berapa? Bentuk kaki lalat? (berambut), bila lalat hinggap di tahi apakah tidak membawa tahi? Berapa jarak terbang lalat? o Rasa Malu: keluarga BAB di tempat terbuka (istri, anak gadis, menantu, calon menantu, mertua, dll.) apa yang dirasakan? Bagaimana perasaan bila keluarga diintip orang? Bila diintip suka? Malu? Rela? Lalu apa yang seharusnya kita lakukan? Contohkan: di tempat lain yang dilakukan adalah berak di tempat tertutup, mandi harus tertutup, supaya tertutup bagaimana? Di tempat lain mereka melakukan ini... (gambarkan contoh jamban yang paling sederhana) o Jijik: minum air bersih di gelas, kemudian air tersebut dimasuki kotoran (rambut, tanah, dll.) aduk dengan lidi, minta masyarakat untuk meminumnya. o Bagaimana perasaan bapak kalau menginjak tahi? (padahal bukan tahi bapak), apa yang bapak katakan? (mengumpat), sakit hati? Biasanya kita sulit landing: bila masyarakat mau membuat jamban, tanyakan siapa yang mau membuat? (Aplaus) Berikan apresiasi bahwa kita ternyata bisa belajar banyak di desa bapak, saya yakin perubahan bapak/ibu tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi akan bermanfaat bagi keluarga, rumah tangga, bahkan masyarakat luas. Yakinkan bahwa perubahan bapak/ibu nanti akan dipelajari oleh orang lain. Desa bapak/ibu merupakan salah satu desa yang bersih dan ini akan dikunjungi oleh banyak orang (sebagai contoh desa).

41

POKOK BAHASAN:
6. PRAKTEK LAPANG 6.d. Kompilasi Temuan dan Pelaporan
TUJUAN: o Tersusunnya item-item pembelajaran dari praktek lapang setiap kelompok o Tersusunnya laporan proses dan hasil praktek lapang setiap kelompok

WAKTU:
2 jam METODE: Diskusi kelompok MATERI: Hasil praktek lapang. ALAT BANTU: Kertas plano dan peralatan lain sesuai kreatifitas peserta PROSES:

1.

Jelaskanlah, bahwa esok hari sebelum bertemu dengan masyarakat akan dilakukan refleksi temuan praktek lapang. Untuk itu setiap kelompok perlu menyusun laporan yang menggambarkan proses dan hasil serta pembelajaran yang diperoleh dari praktek lapang tersebut. Berikan penegasan, bahwa peserta boleh berkreasi dalam menyajikan laporannya. Untuk membantu dalam memetik pembelajaran, berikanlah penjelasan tentang analisis yang bisa membantu menemukan pembelajaran dimaksud, misalnya: analisa SWOT (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman). Persilahkanlah masing-masing kelompok melaksanakan tugasnya, tetapi tetaplah mendampingi agar tugas benar-benar terselesaikan dengan baik.

2.

CATATAN PENTING: Fasilitator pendamping dalam penyusunan laporan sebaiknya adalah fasilitator yang mendampingi dalam praktek lapang.

42

POKOK BAHASAN:
6. PRAKTEK LAPANG 6.e. Refleksi Temuan Praktek Lapang
TUJUAN: o Ditemukannya item-item pembelajaran yang perlu diperhatikan dalam proses memfasilitasi CLTS selanjutnya o Ditemukannya item-item pembelajaran yang spesifik lokal yang perlu dikembangkan dalam rangka optimalisasi CLTS.

WAKTU:
2 jam METODE: o Presentasi kelompok o Diskusi pleno MATERI: Laporan praktek lapang masing-masing kelompok ALAT BANTU: Sesuai keperluan presentasi PROSES:

1.

Jelaskanlah tujuan dari session ini dan tegaskanlah bahwa waktu yang tersedia untuk setiap kelompok hanya sekitar 25 menit (10 menit presentasi dan 15 menit untuk diskusi penajaman) Berikanlah kesempatan kepada kelompok yang ingin memulai presentasi dan tanya jawab pendalaman khususnya tentang pembelajaran yang diperoleh (total 25 menit), lanjutkan sampai seluruh kelompok mempresentasikan laporannya. Diskusikanlah secara pleno tentang pembelajaran bersama yang diperoleh, khususnya tentang apa yang seharusnya dilakukan, apa yang seharusnya dihindari serta apa yang spesifik bisa dikembangkan di daerah setempat.

2.

3.

CATATAN PENTING:

43

POKOK BAHASAN:
7. DISKUSI PLENO DENGAN MASYARAKAT
TUJUAN: o Dipahaminya rencana kegiatan masyarakat oleh seluruh komponen tim kabupaten. o Meningkatnya motivasi masyarakat untuk melaksanakan rencana kegiatan yang mereka susun. o Disepakatinya komitmen semua pihak untuk keberhasilan pencapaian rencana kegiatan masyarakat.

WAKTU:
2 jam METODE: o Presentasi masyarakat o Diskusi pleno o Feedback progresif. MATERI: Presentasi kondisi sanitasi saat ini dan rencana ke depan dari setiap komunitas. ALAT BANTU: Sesuai keperluan. PROSES:

1. 2.

Jelaskanlah kepada seluruh partisipan tentang tujuan session ini, khususnya tujuan 1 dan 3. Persilakanlah kepada wakil masyarakat yang akan memulai presentasi untuk mempresentasikan kondisi sanitasi di komunitasnya dan rencana mereka ke depan (waktu tersedia sekitar 20 menit untuk setiap kelompok). Jika diperlukan berikan kesempatan kepada peserta yang telah memfasilitasi kemarin untuk menambahkan. Pada setiap akhir presentasi kelompok, lakukanlah penegasan-penegasan untuk meningkatkan motivasi masyarakat, misalnya: mengajak peserta memberi applaus, menegaskan tentang tanggal bebas BAB terbuka untuk setiap komunitas, menunjukkan para natural leader yang akan memotori gerakan masyarakat, dll. Pada akhir session berikanlah penegasan-penegasan untuk membangun komitmen bersama semua pihak dalam upaya pencapaian bebas BAB terbuka di tingkat yang lebih luas.

3.

4.

44

POKOK BAHASAN:
8. PENYUSUNAN RENCANA TINDAK LANJUT
TUJUAN: Tersusunnya rencana tindak lanjut tim kabupaten dalam rangka: o Pendampingan implementasi rencana kegiatan masyarakat yang telah terpicu o Pengembangan kegiatan CLTS di lokasi lainnya.

WAKTU:
2 jam METODE: o Diskusi kelompok o Diskusi pleno MATERI: ---- ALAT BANTU: Kertas plano PROSES:

1.

Jelaskanlah tujuan session ini, kemudian bagilah peserta ke dalam 3 kelompok: Kelompok Desa I, Kelompok Desa II dan Kelompok Kabupaten. Mintalah peserta yang lain untuk membagi diri ke dalam ketiga kelompok. Tugaskanlah kepada setiap kelompok untuk menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) dalam rangka pendampingan kepada palaksanaan rencana masyarakat yang telah terpicu dan pengembangan ke area yang lebih luas. Sediakan waktu 30 menit untuk menyusun RTL ini. Format yang bisa digunakan, contohnya: Tujuan Waktu Biaya Penanggungjawab

2.

Kegiatan

3.

Mintalah setiap kelompok mempresentasikan RTLnya dan berikanlah kesempatan untuk klarifikasi bersama agar tidak terjadi tumpang tindih dan pertentangan rencana. Waktu setiap kelompok 20 menit. Gunakanlah sisa waktu untuk memberikan penegasan-penegasan dan pengembangan yang mungkin dilakukan dalam RTL bersama di tingkat kabupaten. Tegaskanlah bahwa motor utama kegiatan adalah mereka, karena merekalah yang akan teus bersama masyarakat di kabupaten ini.

4.

45

POKOK BAHASAN:
9. EVALUASI
TUJUAN: Diperolehnya masukan dari peserta tentang tingkat keberhasilan pelatihan dan saran-saran untuk perbaikan.

WAKTU:
30 menit METODE: o Pemilihan demokratis o Diskusi pleno MATERI: ---- ALAT BANTU: Sesuai metode yang digunakan. PROSES: Proses evaluasi tergantung kepada metode yang digunakan (tertulis, lisan, kombinasi gerakan dan lisan, dsb.). Komponen-komponen yang perlu dievaluasi, bisaanya mencakup: pencapaian tujuan pelatihan, kegunaan/manfaat pelatihan terhadap pekerjaan peserta, partisipasi peserta selama pelatihan, ketrampilan fasilitator dalam mendinamisir proses, tingkat layanan panitia, dukungan materi tertulis, dukungan konsumsi dan akomodasi, dll. Skala penilaian bisa menggunakan: prosentase atau gradasi kepuasan (sangat puas s/d sangat tidak puas).

46

POKOK BAHASAN:
10. PENUTUPAN PELATIHAN

TUJUAN: o Pelatihan ditutup secara resmi dan memperoleh dukungan dari Pemerintah Kabupaten. o Pemerintah kabupaten berkomitmen mendukung tindak lanjut penerapan CLTS WAKTU: 30 menit METODE: (sesuai dengan kebijakan lokal, namun umumnya dalam bentuk upacara sederhana) MATERI: Laporan Ketua Panitia Sambutan Tim Pusat Sambutan Bupati Doa ALAT BANTU: ---- PROSES: Sangat tergantung dengan pola acara yang ditentukan dan dipilih oleh Pemerintah Kabupaten, namun secara umum proses penutupan adalah sebagai berikut: Salam pembuka Laporan Ketua Panitia tentang telah selesainya kegiatan pelatihan (proses dan hasilnya) Sambutan Tim Pusat untuk menegaskan dukungan dan harapan akan keberhasilan pelaksanaan program uji coba CLTS Sambutan Bupati untuk menegaskan kembali dukungan Pemerintah Kabupaten dalam rangka pelaksanaan program ini, sehingga meningkatkan motivasi peserta dan pihak terkait dalam mensukseskan program ini. Sekaligus pada kesempatan ini, Bupati menutup secara resmi pelatihan. Pembacaan doa. Salam penutup. Acara kemudian diistirahatkan (15 menit) untuk memberi waktu kepada para tamu undangan beristirahat sejenak sebelum meninggalkan tempat pelatihan. CATATAN PENTING: Acara bisa dilanjutkan dengan penyelesaian administrasi peserta.

47

MATERI

48

MATERI PELATIHAN PENDEKATAN CLTS Pokok Bahasan 1 Refleksi Pengalaman Proyek / Program Sanitasi sebelumnya yang ada di daerah / negara Indonesia Pokok Bahasan 2 2.1 Pengenalan CLTS 2.2 Pengalaman di berbagai negara 2.3 Pengalaman di Kabupaten Lumajang dan Sumbawa Pokok Bahasan 3 3.1 Prinsip Prinsip CLTS 3.2 3 pilar PRA dalam CLTS dan Perubahan Perilaku 3.3 Tingkatan Partisipasi Pokok Bahasan 4 4.1 Alat alat utama PRA untuk CLTS 4.2 Elemen Pemicu dan Faktor Penghambat Pemicuan 4.3 Apa yang HARUS DILAKUKAN dan JANGAN DILAKUKAN oleh fasilitator dalam implementasi CLTS di masyarakat Pokok Bahasan 5 Sanitation Ladder

49

POKOK BAHASAN 1 PENGALAMAN PROYEK/PROGRAM SANITASI YANG PERNAH DIIMPLEMENTASIKAN DI INDONESIA


Berdasarkan beberapa proyek sanitasi yang ada seperti ESWS (Environment, Sanitation and Water Supply), WSLIC 1, UNICEF, dan lain-lain seperti yang terjadi di Lumajang dan Sumbawa, maka program-program tersebut faktor keberlanjutannya sangat rendah. Proyek proyek tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing namun secara umum proyek-proyek tersebut masih bersifat target oriented. Perlu adanya perubahan pendekatan dari proyek terdahulu menjadi kecenderungan saat ini, termasuk yang digunakan dalam CLTS yaitu: Program-program terdahulu (bisaanya Target Oriented) Perkembangan jumlah sarana Subsidi Model-model sarana disarankan oleh pihak luar Sasaran utama adalah kepala keluarga Kecenderungan saat ini Perubahan perilaku dan kesehatan Solidaritas social Model-model sarana digagas dan dikembangkan oleh masyarakat Sasaran utama adalah masyarakat desa secara utuh Bottom up Fokus pada: berhentinya BAB di sembarang tempat Pendekatannya lebih fleksibel.

Top down Fokus pada: jumlah jamban

Pendekatannya bersifat blue print

50

POKOK BAHASAN 2 2.1 PENGENALAN CLTS

Gambaran tentang CLTS dapat diperoleh melalui VCD tentang implementasi CLTS di Propoinsi Maharashtra di India. Latar Belakang CLTS CLTS atau Community Lead Total Sanitation (dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih sanitasi total yang dipimpin oleh masyarakat) dilatar belakangi oleh adanya kegagalan dari proyek-proyek sanitasi sebelumnya . Dari beberapa studi evaluasi terhadap beberapa program pembangunan sanitasi pedesaan didapatkan hasil bahwa banyak sarana yang dibangun tidak digunakan dan dipelihara oleh masyarakat. Banyak faktor penyebab mengenai kegagalan tersebut, salah satu diantaranya adalah tidak adanya demand atau kebutuhan yang muncul ketika program dilaksanakan, dan pendekatan yang digunakan oleh program tersebut tidak berhasil memunculan demand.dari masyarakat sasaran program. Di India dan beberapa negara berkembang lainnya termasuk Indonesia terdapat kenyataan bahwa di beberapa desa yang mendapat bantuan untuk sanitasi, rata-rata belum terbebas dari kebisaaan BAB di sembarang tempat atau open defecation. Milyaran rupiah telah dikeluarkan, banyak tenaga kerja yang bergerak dari 1 proyek ke proyek lainnya, dan banyak pihak (kecuali masyarakat) sedikit banyak telah diuntungkan dari proyek-proyek tersebut. Apa yang dimaksud CLTS. CLTS adalah sebuah pendekatan dalam pembangunan sanitasi pedesaan dan mulai berkembang pada tahun 2001. Pendekatan ini berawal di beberapa komunitas di Bangladesh dan saat ini sudah diadopsi secara massal di negara tersebut. Bahkan India, di satu negara bagiannya yaitu Provinsi Maharasthra telah mengadopsi pendekatan CLTS ke dalam program pemerintah secara massal yang disebut dengan program Total Sanitation Campaign (TSC). Beberapa negara lain seperti Cambodia, Afrika, Nepal, dan Mongolia telah menerapkan dalam porsi yang lebih kecil. Pendekatan ini muncul berawal dari sebuah participatory impact assessment yang dilakukan pada tahun 1999 terhadap program air bersih dan sanitasi yang telah dijalankan selama 10 tahun yang disponsori oleh Water Aid, sebuah lembaga swadya masyarakat internasional, yang menghasilkan dua rekomendasi utama 1. Salah satu rekomendasi tersebut adalah mengembangkan sebuah strategi untuk secara perlahan-lahan mencabut subsidi untuk pembangunan toilet. Ciri utama dari pendekatan ini adalah tidak adanya subsidi terhadap infrastruktur (jamban keluarga), dan tidak menetapkan blue print jamban yang nantinya akan dibangun oleh masyarakat. Pada dasarnya CLTS adalah pemberdayaan dan tidak membicarakan masalah subsidi. Artinya, masyarakat yang dijadikan guru dengan tidak memberikan subsidi sama sekali.
1

Institute for Development Studies, Working Paper 184, Subsidy or Self-Respect? Total Community Sanitation in Bangladesh, Kamal Kar, September 2003.

51

2.2

PENGALAMAN DI BERBAGAI NEGARA

Pendekatan CLTS dimulai dari negara-negara yang sangat miskin. Pengalaman implementasi dengan pendekatan CLTS di India dan Bangladesh yang telah dijalankan 3 4 tahun terakhir, telah membebaskan masyarakat dari kebisaaan BAB di sembarang tempat. Keberhasilan pendekatan CLTS di berbagai negara dapat ditampilkan melalui dokumentasi VCD MAHARASTHRA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PERGERAKAN SANITASI TOTAL DI BANGLADESH, INDIA, KAMBOJA, NEPAL dan INDONESIA (dalam power point).

2.3

PENGALAMAN CLTS DI KABUPATEN LUMAJANG DAN SUMBAWA

52

POKOK BAHASAN 3 3.1 PRINSIP PRINSIP CLTS,


Prinsip prinsip CLTS, adalah : 5. Tanpa subsidi kepada masyarakat 6. Tidak menggurui, tidak memaksa dan tidak mempromosikan jamban 7. Masyarakat sebagai pemimpin 8. Totalitas; seluruh komponen masyarakat terlibat dalam analisa permasalahan perencanaan pelaksanaan serta pemanfaatan dan pemeliharaan Community lead tidak hanya dalam sanitasi, tetapi dapat dalam hal lain seperti dalam pendidikan, pertanian, dan lain lain, yang terpenting adalah: inisiatif masyarakat Total atau keseluruhan, keputusan masyarakat dan pelaksanaan secara kolektif adalah kunci utama. Solidaritas masyarakat (laki perempuan, kaya miskin) sangat terlihat dalam pendekatan ini. Semua dibuat oleh masyarakat, tidak ada ikut campur pihak luar, dan bisaanya akan muncul natural leader.

Perubahan dari Sistem Target Driven menjadi Community Lead Proses Approach
Criteria Input dari luar masyarakat Sistem Target Driven Subsidi benda-benda untuk jamban Model ditentukan Cakupan Indikator keberhasilan Bahan yang digunakan Biaya Pemanfaat Waktu yang dibutuhkan Motivasi utama Model penyebaran Sebagian Menghitung jamban Semen, Porslain, batu bata, dan lain-lain 500.000 sampai 1.000.000 per model Yang punya uang Seperti yang ditargetkan oleh proyek CLTS Pemberdayaan masyarakat Muncul inovasi lain dari masyarakat. Menyeluruh Tidak ada lagi kebisaaan BAB di sembarang tempat Dimulai dengan bambu, kayu, dan lainlain Relatif lebih murah Masyarakat yang sangat miskin Ditentukan oleh masyarakat

Subsidi / bantuan Oleh organisasi luar / formal

Harga diri Oleh masyarakat melalui hubungan persaudaraan, perkawanan dan lain-lain Dipastikan oleh masyarakat Disepakati oleh masyarakat. Contoh yang terjadi di India 20 rupee (10 rupee untuk pengelola dan 10 rupee untuk yang menemukan pelaku open defecation) Oleh masyarakat (bisa harian, bulanan, mingguan)

Keberlanjutan Sangsi bila melakukan BAB sembarangan

Sulit untuk dipastikan Tidak ada

Tipe monitoring

Oleh proyek

53

3.2

TIGA PILAR PRA DALAM CLTS dan PERUBAHAN PERILAKU


Personal

Perubahan perilaku & kebiasaan

Berbagi
Metode

Profesional

Institusional

3 pilar utama dalam PRA yang merupakan basis CLTS 1. Attitude and Behaviour Change (perubahan perilaku dan kebisaaan) 2. Sharing (berbagi) 3. Method (metode) Ketiganya merupakan pilar utama yang harus diperhatikan dalam pendekatan CLTS, namun dari ketiganya yang paling penting adalah perubahan perilaku dan kebisaaan, karena jika perilaku dan kebisaaan tidak berubah maka kita tidak akan pernah mencapai tahap sharing dan sangat sulit untuk menerapkan metode. Perilaku dan kebisaaan yang dimaksud dan harus berubah adalah perilaku fasilitator. Perilaku dan kebisaaan yang harus diubah diantaranya: Pandangan bahwa ada kelompok yang berada di tingkat atas (upper) dan kelompok yang berada di tingkat bawah (lower). Cara pandang upper lower harus diubah menjadi pembelajaran bersama, bahkan menempatkan masyarakat sebagai guru karena masyarakat sendiri yang paling tahu apa yang terjadi dalam masyarakat itu. Cara pikir bahwa kita datang bukan untuk memberi sesuatu tetapi menolong masyarakat untuk menemukan sesuatu. Bahasa tubuh atau gesture; sangat berkaitan dengan pandangan upper lower. Bahasa tubuh yang menunjukkan bahwa seorang fasilitator mempunyai pengetahuan atau ketrampilan yang lebih dibandingkan masyarakat, harus dihindari. . Perubahan perilaku dan kebisaaan tersebut harus total, dimana didalamnya meliputi: perilaku personal atau individual, perilaku institusional atau kelembagaan dan perilaku profesional atau yang berkaitan dengan profesi,

54

Ketika perilaku dan kebisaaan (termasuk cara pikir dan bahasa tubuh) dari fasilitator telah berubah maka sharing akan segera dimulai. Masyarakat akan merasa bebas untuk mengatakan tentang apa yang terjadi di komunitasnya dan mereka mulai merencanakan untuk melakukan sesuatu. Setelah masyarakat dapat berbagi, maka metode mulai dapat diterapkan. Masyarakat secara bersama-sama melakukan analisa terhadap kondisi dan masalah masyarakat tersebut. Dalam CLTS fasilitator tidak memberikan solusi. Namun ketika metode telah diterapkan (proses pemicuan telah dilakukan) dan masyarakat sudah terpicu sehingga diantara mereka sudah ada keinginan untuk berubah tetapi masih ada kendala yang mereka rasakan misalnya kendala teknis, ekonomi, budaya, dan lain-lain maka fasilitator mulai memotivasi mereka untuk mecapai perubahan ke arah yang lebih baik, misalnya dengan cara memberikan alternatif pemecahan masalah-masalah tersebut. Tentang usaha atau alternatif mana yang akan digunakan, semuanya harus dikembalikan kepada masyarakat tersebut.

3.3

TINGKATAN PARTISIPASI DALAM CLTS


Dalam pendekatan CLTS, dan pendekatan partisipatif lainnya, partisipasi atau keterlibatan masyarakat merupakan hal yang mutlak diperlukan. Tingkatan partisipasi masyarakat, mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah sebagai berikut: 5. Masyarakat hanya menerima informasi; keterlibatan masyarakat hanya sampai diberi informasi (misalnya melalui pengumuman) dan bagaimana informasi itu diberikan ditentukan oleh si pemberi informasi (pihak tertentu). 6. Masyarakat mulai diajak untuk berunding; Pada level ini sudah ada komunikasi 2 arah, dimana masyarakat mulai diajak untuk diskusi atau berunding. Dalam tahap ini meskipun sudah dilibatkan dalam suatu perundingan, pembuat keputusan adalah orang luar atau orang-orang tertentu 7. Membuat keputusan secara bersama-sama antara masyarakat dan pihak luar; 8. Masyarakat mulai mendapatkan wewenang atas kontrol sumber daya dan keputusan Dari ke empat tingkatan partisipasi tersebut, yang diperlukan dalam CLTS adalah tingkat partisipasi tertinggi dimana masyarakat tidak hanya diberi informasi, tidak hanya diajak berunding tetapi sudah terlibat dalam proses pembuatan keputusan dan bahkan sudah mendapatkan wewenang atas kontrol sumber daya masyarakat itu sendiri serta terhadap keputusan yang mereka buat. Dalam prinsip community lead telah disebutkan bahwa keputusan bersama dan action bersama dari masyarakat itu sendiri merupakan kunci utama. .

55

POKOK BAHASAN 4 FASILITASI CLTS DI KOMUNITAS 4.1 ALAT ALAT UTAMA PRA DALAM CLTS
Implementasi CLTS di masyarakat pada intinya adalah pemicuan setelah sebelumnya dilakukan analisa partisipatif oleh masyarakat itu sendiri. Untuk memfasilitasi masyarakat dalam menganalisa kondisinya, ada beberapa alat PRA yang diperlukan, seperti: Pemetaan, yang bertujuan untuk mengetahui / melihat peta wilayah BAB masyarakat serta sebagai alat monitoring (pasca triggering, setelah ada mobilisasi masyarakat) Transect Walk, bertujuan untuk melihat dan mengetahui tempat yang paling sering dijadikan tempat BAB. Dengan mengajak masyarakat berjalan ke sana dan berdiskusi di tempat tersebut, diharapkan masyarakat akan merasa jijik dan bagi orang yang bisaa BAB di tempat tersebut diharapkan akan terpicu rasa malunya. Alur Kontaminasi (Oral Fecal); mengajak masyarakat untuk melihat bagaimana kotoran manusia dapat dimakan oleh manusia yang lainnya. Simulasi air yang telah terkontaminasi; mengajak masyarakat untuk melihat bagaimana kotoran manusia dapat dimakan oleh manusia yang lainnya Diskusi Kelompok (FGD); bersama-sama dengan masyarakat melihat kondisi yang ada dan menganalisanya sehingga diharapkan dengan sendirinya masyarakat dapat merumuskan apa yang sebaiknya dilakukan atau tidak dilakukan. Pembahasannya meliputi: o FGD untuk menghitung jumlah tinja dari masyarakat yang BAB di sembarang tempat selama 1 hari, 1 bulan, dan dalam 1 tahunnya. o FGD tentang privacy, agama, kemiskinan, dan lain-lain Adapun alat PRA yang digunakan dalam proses monitoring, diantaranya: Pemetaan dan skoring pemetaan, untuk melihat akses masyarakat terhadap tempat-tempat BAB (dengan cara membandingkan antara tali akses sebelum pemicuan dan akses yang terlihat pasca pemicuan dan tindak lanjut masyarakat). Rating Scale atau Convinient, yang bertujuan untuk: melihat dan mengtehui apa yang dirasakan masyarakat (bandingkan antara yang dirasakan dulu ketika BAB di sembarang tempat dengan yang dirasakan sekarang ketika sudah BAB di tempat yang tetap dan tertutup). mengetahui apa yang masyarakat rasakan dengan sarana sanitasi yang dipunyai sekarang, dan hal lain yang ingin mereka lakukan Hal ini berkaitan dengan ladder sanitasi di masyarakat. Langkah kerja dari masing-masing alat PRA tersebut dapat dilihat (untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan lapangan) dalam lampiran PANDUAN FASILITASI DI TINGKAT KOMUNITAS

56

4.2

ELEMEN-ELEMEN PEMICU DAN FAKTOR- FAKTOR PENGHAMBAT PEMICUAN


Dalam pemicuan di masyarakat terdapat beberapa faktor yang harus dipicu sehingga target utama yang diharapkan dari pendekatan CLTS yaitu: merubah perilaku sanitasi dari masyarakat yang masih melakukan kebisaaan BAB di sembarang tempat dapat tercapai. Secara umum faktor-faktor yang harus dipicu untuk menumbuhkan perubahan perilaku sanitasi dalam suatu komunitas, diantaranya: o Perasaan jijik o Perasaan malu dan kaitannya dengan privacy seseorang o Perasaan takut sakit o Perasaan takut berdosa o Perasaan tidak mampu dan kaitannya dengan kemiskinan. Berikut ini adalah elemen-elemen yang harus dipicu, dan alat alat PRA yang digunakan untuk pemicuan faktor-faktor tersebut. Hal hal yang harus dipicu Rasa jijik Alat yang digunakan Transect walk Demo air yang mengandung tinja, untuk digunakan cuci muka, kumur-kumur, sikat gigi, cuci piring, cuci pakaian, cuci makanan / beras, wudlu, dll Transect walk (meng-explore pelaku open defecation) FGD (terutama untuk perempuan) FGD Perhitungan jumlah tinja Pemetaan rumah warga yang terkena diare dengan didukung data puskesmas Alur kontaminasi Mengutip hadits atau pendapat-pendapat para ahli agama yang relevan dengan perilaku manusia yang dilarang karena merugikan manusia itu sendiri. FGD (terutama dengan perempuan) Membandingkan kondisi di desa/dusun yang bersangkutan dengan masyarakat termiskin seperti di Bangladesh atau India.

Rasa malu

Takut sakit

Aspek agama

Privacy Kemiskinan

Dalam memicu elemen-elemen di atas, dalam suatu komunitas bisaanya ada juga faktor-faktor penghambat pemicuan. Salah satunya adalah bahwa masyarakat sudah terbisaa dengan subsidi, sementara dalam pendekatan CLTS tidak ada unsur subsidi sama sekali. Berikut adalah beberapa hal yang bisaanya menjadi penghambat pemicuan di masyarakat, dengan alternatif solusi untuk mengurangi atau mengatasi faktor penghambat tersebut.

57

Hal-hal yang menjadi penghambat Solusi pemicuan di masyarakat Kebisaaan dengan subsidi / bantuan Jelaskan dari awal bahwa kita tidak punya apa-apa, kita tidak membawa bantuan Faktor gengsi; malu untuk membangun jamban yang sangat sederhana (ingin jamban permanen) Tidak ada tokoh panutan Gali model-model jamban menurut masyarakat dan jangan memberikan 1 pilihan model jamban Munculkan natural leader, jangan mengajari dan biarkan masyarakat mengerjakannya sendiri.

4.3

APA YANG HARUS DILAKUKAN (DO) DAN DIHINDARI (DONT) DALAM CLTS
Dalam CLTS, faktor penentu keberhasilan dan kegagalan (dapat diterapkan dan tidaknya) pendekatan ini sangat tergantung dari masyarakat. Meskipun bukan merupakan kesalahan fasilitator jika masyarakat menolak untuk mengimplementasikan pendekatan CLTS dalam komunitas mereka, namun peran fasilitator sangat berpengaruh. Sehingga, ada beberapa hal yang harus dihindari oleh fasilitator dan beberapa hal yang sebaiknya dilakukan saat memfasilitasi masyarakat. Misalnya: JANGAN LAKUKAN Menawarkan subsidi LAKUKAN Memicu kegiatan setempat. Dari awal katakan bahwa tidak akan pernah ada subsidi dalam kegiatan ini. Jika masyarakat bersedia maka kegiatan bisa dilanjutkan tetapi jika mereka tidak bisa menerimanya, hentikan proses. Memfasilitasi Memfasilitasi masyarakat untuk menganalisa kondisi mereka, yang memicu rasa jijik dan malu dan mendorong orang dari BAB di sembarang tempat menjadi BAB di tempat yang tetap dan tertutup. Melibatkan masyarakat dalam setiap pengadaan alat untuk proses fasilitasi. Fasilitator hanya menyampaikan pertanyaan sebagai pancingan dan biarkan masyarakat yang berbicara/diskusi lebih banyak.

Mengajari Menyuruh membuat jamban

Memberikan alat-alat atau petunjuk kepada orang perorangan Menjadi pemimpin, mendominasi proses diskusi. (selalu menunjukkan dan menyuruh masyarakat melakukan ini dan itu

58

pada saat fasilitasi). Memberitahukan apa yang baik dan apa yang buruk Langsung memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan masyarakat

(masyarakat yang memimpin). Membiarkan mereka menyadarinya sendiri

Kembalikan setiap pertanyaan dari masyarakat kepada masyarakat itu sendiri, misalnya: jadi bagaimana sebaiknya menurut bapak/ibu?

59

POKOK BAHASAN 5 SANITATION LADDER


Sanitation Ladder atau tangga sanitasi merupakan tahap perkembangan sarana sanitasi yang digunakan masyarakat, dari sarana yang sangat sederhana sampai sarana sanitasi yang sangat layak dilihat dari aspek kesehatan, keamanan dan kenyamanan bagi penggunanya. Dalam CLTS, masyarakat tidak diminta atau disuruh untuk membuat sarana sanitasi tetapi hanya mengubah perilaku sanitasi mereka. Namun pada tahap selanjutnya ketika masyarakat sudah mau merubah kebisaaan BAB nya, sarana sanitasi menjadi suatu hal yang tidak terpisahkan. Seringkali pemikiran masyarakat akan sarana sanitasi adalah sebuah bangunan yang kokoh, permanen, dan membutuhkan biaya yang besar untuk membuatnya. Pemikiran ini sedikit banyak menghambat animo masyarakat untuk membangun jamban, karena alasan ekonomi dan lainnya sehingga kebisaaan masyarakat untuk buang air besar pada tempat yang tidak seharusnya tetap berlanjut. . Pada prinsipnya sebuah sarana sanitasi terbagi menjadi tiga kelompok berdasarkan letak konstruksi dan kegunaannya. Pertama adalah bangunan bawah tanah yang berfungsi sebagai tempat pembuangan tinja. Fungsi bangunan bawah tanah adalah untuk melokalisir tinja dan mengubahnya menjadi lumpur stabil. Kedua adalah bangunan di permukaan tanah (landasan). Bangunan di permukaan ini erat kaitannya dengan keamanan saat orang tersebut membuang hajat. Terminologi aman disini dapat diartikan aman dari terperosok kepada lubang kotoran, aman saat membuang hajat (malam hari/saat hujan/ aman digunakan oleh orang jompo). Ketiga adalah bangunan dinding. Bangunan atau dinding penghalang erat kaitannya dengan faktor kenyamanan, psikologis dan estetika. Definisi jamban adalah bagian bangunan landasan yang dipasang di muka tanah untuk tempat orang buang air besar. Jamban di bawah ini adalah jamban/sarana sanitasi yang umumnya dikenal.

60

Cemplung
- Bentuk bangunan sangat sederhana, hanya berupa lubang yang menyalurkan tinja ke dalam tanah. - Dapat menggunakan material setempat yang ada seperti batu, kayu, dll. - Tidak permanen, umur bangunan lebih pendek dibandingkan dengan jenis bangunan yang lain. - Hanya menyalurkan tinja ke dalam tanah. - Lubang tinja terlihat dari atas (secara estetis tidak nyaman).

Plengsengan
- Tidak terdapat air dalam kloset, tetapi permukaan kloset dibuat dengan kemiringan tertentu dengan permukaan halus. - Dapat dibuat sendiri dengan jumlah satuan, tanpa membutuhkan cetakan atau dibuat dalam jumlah yang banyak.

Leher Angsa
- Terdapat air di dalam kloset - Hanya dapat dibeli di toko (secara satuan), atau membuat sendiri tetapi membutuhkan cetakan/bisa anya dibuat dalam jumlah yg besar.

Konstruksi

- Kemiringan tersebut berguna supaya jatuhan tinja tidak langsung jatuh searah kebawah tetapi melalui media kloset. - Bau yang ditimbulkan tidak langsung menuju atas, karena terhalang media miring. - Lubang tinja tidak serta merta terlihat dari atas.

- Air berfungsi untuk menahan gas dari bawah. Sehingga bau yang ditimbulkan dari tinja dapat dikurangi dan tidak terdapat lalat yang dapat menjangkau tinja. - Media air bisa dilihat sebagai ciri kebersihan atau berfungsi tidaknya kloset.

Kondisi

Gambar Ilustrasi
- Bisaa digunakan di daerah yang kurang air, karena kloset jenis ini tidak membutuhkan air untuk pembilasan. - Sebaiknya pada lubang disediakan penutup yang mudah untuk diangkat/ dipindahkan (tutup bergagang)

Fungsi

- Terkadang dibutuhkan air untuk pembilasan pada media miring.

- Membutuhkan cukup banyak air untuk pembilasan.

Syarat

- Sebaiknya pada lubang disediakan penutup yang mudah untuk diangkat/ dipindahkan (tutup bergagang)

- Penutup hanya dibutuhkan untuk menjaga kebersihan (misalnya: kloset terletak dibawah pohon, sehingga banyak daun gugur, adanya hewan spt: ayam, itik)

61

MATRIKS TANGGA S ANITASI


No.
Bangunan Penutup

Keterangan Gambar Bangunan A.1. Tanpa dinding sama sekali A.2. Dinding gedeg/bilik A.3. <50% permanent, atau dinding hanya setengah A.4. Permanent luar rumah A.5. Dalam Rumah tapi tanpa pemisah (didapur, ruang tamu dll), tidak ada privacy A.6. Kamar mandi sendiri di dalam rumah (ada unsur privacy) Landasan B.1. Kayu/slab/bata B.2. Sanplat (slab/kloset) cemplung B.3. Kloset semen/plengsengan B.4. Leher angsa buatan dari semen (sentra produksi) B.5. Leher angsa keramik, polypropelene, toko (swadaya) Bawah Tanah C.1. Tanpa dinding (dapat dibuat jika kondisi tanah cukup stabil) C.2. Dengan dinding pasangan bata yang berfungsi untuk menahan longsoran dinding tanah, tanah dasar tidak dilapis campuran semen sehingga dasar cubluk tidak kedap air C.3. Dengan dinding cor semen berfungsi untuk menahan longsoran dinding, dasar tanah tidak kedap air C.4. Dengan dinding pasangan batu kali berfungsi untuk menahan longsoran dinding, dasar tanah tidak kedap air C.5. Dinding berpori (dari pasangan bata yang diberi jarak) C.6. Septic tank komplit berkompartemen, kedap air, dan dilengkapi dengan sumur resapan pada bangunan terpisah

Di Dalam Tanah/ Septic Tank

Di Permukaan Tanah/ Landasan

Modul Pelatihan CLTS / Juni 2005, hal 62

PANDUAN FASILITASI CLTS DI KOMUNITAS

Modul Pelatihan CLTS / Juni 2005, hal 63

PANDUAN FASILITASI CLTS DI TINGKAT KOMUNITAS


Proses fasilitasi CLTS di masyarakat pada prinsipnya adalah pemicuan terhadap rasa jijik, rasa malu, rasa takut sakit, rasa berdosa dan rasa tanggung jawab yang berkaitan dengan kebisaaan BAB di sembarang tempat. Dan untuk membantu proses pemicuan tersebut digunakan beberapa komponen PRA seperti pemetaan, transek, alur kontaminasi dan simulasi lainnya. Panduan ini bukan merupakan suatu alur yang harus diikuti atau dilakukan pada saat fasilitasi, karena tidak ada aturan yang baku dalam proses pemicuan. Proses implementasi di masyarakat lebih berkaitan dengan kemampuan dan inisiatif fasilitator. Fasilitator bisa memulai dengan kegiatan pemetaan dilanjutkan dengan transek, alur kontaminasi, kemudian ke pemetaan lagi, atau memulainya dengan transek, kemudian ke pemetaan, transek lagi, dan seterusnya. Fasilitator tidak harus menunggu sampai 1 komponen, 2 atau 3 komponen PRA selesai, namun setiap saat bisa langsung melakukan pemicuan jika kesempatan terbuka (misalnya masyarakatnya sudah mulai menunjukkan ke arah itu). HAL - HAL YANG HARUS DIPICU DAN ALAT PEMICU YANG DIGUNAKAN (selain pemetaan wilayah BAB) Hal yang harus Alat yang digunakan dipicu Rasa jijik Transect walk Demo air yang mengandung tinja, untuk digunakan cuci muka, kumur-kumur, sikat gigi, cuci piring, cuci pakaian, cuci makanan / beras, wudlu, dll Rasa malu Transect walk (meng-explore pelaku open defecation) FGD (terutama untuk perempuan) Takut sakit FGD Perhitungan jumlah tinja Pemetaan rumah warga yang terkena diare dengan didukung data puskesmas Alur kontaminasi (oral fecal) Aspek agama Mengutip hadits atau pendapat-pendapat para ahli agama yang relevan (rasa berdosa) dengan perilaku manusia yang dilarang karena merugikan manusia itu sendiri. Privacy FGD (terutama dengan perempuan) Kemiskinan Membandingkan kondisi di desa/dusun yang bersangkutan dengan masyarakat termiskin seperti di Bangladesh atau India.

LANGKAH - LANGKAH FASILITASI DI MASYARAKAT 1. PERKENALAN DAN PENYAMPAIAN TUJUAN Perkenalkan terlebih dahulu anggota tim fasilitator dan sampaikan tujuan bahwa tim ingin melihat kondisi sanitasi dari kampung tersebut. Jelaskan dari awal bahwa kedatangan tim bukan untuk memberikan penyuluhan apalagi memberikan bantuan. Tim hanya ingin melihat dan mempelajari bagaimana kehidupan masyarakat, bagaimana masyarakat mendapat air bersih, bagaimana masyarakat melakukan kebisaaan buang air besar, dan lain-lain. Tanyakan kepada masyarakat apakah mereka mau menerima tim dengan maksud dan tujuan yang telah disampaikan 2. BINA SUASANA Untuk menghilangkan jarak antara fasilitator dan masyarakat sehingga proses fasilitasi berjalan lancar, sebaiknya lakukan pencairan suasana. Pada saat itu temukan istilah setempat untuk tinja (misalnya tai, dll) dan BAB (ngising, naeng, dll)

Modul Pelatihan CLTS / Juni 2005, hal 64

3. ANALISA PARTISIPATIF DAN PEMICUAN Memulai proses pemicuan di masyarakat, yang diawali dengan analisa partisipatif misalnya melalui pembuatan peta desa/dusun/kampung yang akan menggambarkan wilayah BAB masyarakatnya. 4. TINDAK LANJUT OLEH MASYARAKAT Jika masyarakat sudah terpicu dan kelihatan ingin berubah, maka saat itu juga susun rencana tindak lanjut oleh masyarakat. Semangati masyarakat bahwa mereka dapat 100% terbebas dari kebisaaan BAB di sembarang tempat. 5. MONITORING Lebih kepada memberikan energi bagi masyarakat yang sedang dalam masa perubahan di bidang sanitasinya.

ANALISA PARTISIPATIF, PEMICUAN DAN TINDAK LANJUT OLEH MASYARAKAT PEMETAAN


Tujuan Mengetahui / melihat peta wilayah BAB masyarakat Sebagai alat monitoring (pasca triggering, setelah ada mobilisasi masyarakat) Alat yang diperlukan Tanah lapang atau halaman Bubuk putih untuk membuat batas desa. Potongan potongan kertas untuk menggambarkan rumah penduduk. Bubuk kuning untuk menggambarkan kotoran. Spidol. Kapur tulis berwarna untuk garis akses penduduk terhadap sarana sanitasi Bahan tersebut bisa digantikan dengan bahan lokal seperti: daun, batu, ranting kayu, dll. Proses 1. Ajak masyarakat untuk membuat outline desa / dusun / kampung, seperti batas desa/dusun/kampung, jalan, sungai dan lain-lain. 2. Siapkan potongan-potongan kertas dan minta masyarakat untuk mengambilnya, menuliskan nama kepala keluarga masing-masing dan menempatkannya sebagai rumah, kemudian peserta berdiri di atas rumah masing-masing. 3. Minta mereka untuk menyebutkan tempat BABnya masing-masing. JIka seseorang BAB di luar rumahnya baik itu di tempat terbuka maupun numpang di tetangga, tunjukkan tempatnya dan tandai dengan bubuk kuning. Beri tanda (garis akses) dari masing-masing KK ke tempat BAB nya. 4. Tanyakan pula di mana tempat melakukan BAB dalam kondisi darurat seperti pada saat malam hari, saat hujan atau saat terserang sakit perut. Pendalaman / analisa partisipatif dari kegiatan pemetaan. 1. Tanyakan berapa kira-kira jumlah tinja yang dihasilkan oleh setiap orang setiap harinya. Sepakati jumlah rata-ratanya. 2. Minta masyarakat untuk menulis jumlah anggota keluarga di atas kertas yang berisi nama KK dan berapa jumlah total tinja yang dihasilkan oleh 1 keluarga/rumah setiap harinya. 3. Ajak masyarakat untuk melihat rumah mana (yang masih BAB di sembarang tempat) yang paling banyak menghasilkan tinja. (beri tepuk tangan). 4. Pada penduduk yang BAB di sungai, tanyakan ke mana arah aliran airnya.

Modul Pelatihan CLTS / Juni 2005, hal 65

5. Pada penduduk yang berada di daerah hilir, tanyakan dimana mereka mandi. Picu masyarakat bahwa bapak/ibu telah mandi dengan air yang ada tinjanya. 6. Ajak masyarakat menghitung jumlah tinja dari masyarakat yang masih BAB di sembarang tempat per hari, dan kemudian per bulan. Berapa banyak tinja yang ada di desa / dusun tersebut dalam 1 tahun? Berapa lama kebisaaan BAB semabrang tempat berlangsung?. 7. Tanyakan kemana Kira-kira perginya tinja tinja tersebut. 8. Di aKhir kegiatan tanyakan: kira-kira kemana besok mereka akan BAB? Apakah mereka akan melakukan hal yang sama? Catatan: Untuk kepentingan masyarakat dalam memonitor kondisi wilayahnya sendiri, peta di atas lahan harus disalin ke dalam kertas (flipchart). Jika tempat tidak memungkinkan, pemetaan bisa dilakukan dengan menggunakan kertas yang cukup besar.

TRANSEK
Tujuan Melihat dan mengetahui tempat yang paling sering dijadikan tempat BAB. Dengan mengajak masyarakat berjalan ke sana dan berdiskusi di tempat tersebut, diharapkan masyarakat akan merasa jijik dan bagi orang yang bisaa BAB di tempat tersebut diharapkan akan terpicu rasa malunya. Proses 1. Ajak masyarakat untuk mengunjungi wilayah-wilayah yang sering dijadikan tempat BAB (didasarkan pada hasil pemetaan). 2. Lakukan analisa partisipatif di tempat tersebut. 3. Tanya siapa saja yang sering BAB di tempat tersebut atau siapa yang hari ini telah BAB di tempat tersebut. 4. Jika di antara masyarakat yang ikut transek ada yang bisaa melakukan BAB di tempat tersebut, tanyakan: bagaimana perasaannya, berapa lama kebisaaan itu berlangsung, apakah besok akan melakukan hal yang sama? 5. Jika di antara masyarakat yang ikut transek tidak ada satupun yang bisaa melakukan BAB di tempat tersebut tanyakan pula bagaimana perasaannya melihat wilayah tersebut. Tanyakan hal yang sama pada warga yang rumahnya berdekatan dengan tempat yang sering dipakai BAB tersebut. 6. Jika ada anak kecil yang ikut dalam transek atau berada tidak jauh dengan tempat BAB itu, tanyakan apakah mereka senang dengan keadaan itu? Jika anak-anak kecil menyatakan tidak suka, ajak anak-anak itu untuk menghentikan kebisaaan itu, yang bisa dituangkan dalam nyanyian, slogan, puisi, dan bentuk-bentuk kesenian (lokal) lainnya. Catatan: Jika masyarakat sudah terpicu tetapi belum total (yang mau berubah baru sebagian), natural leader dan anggota masyarakat lainnya dapat melakukan kembali transek dengan membawa peta. Transek ini dilakukan dengan mengunjungi rumah-rumah dan menanyakan kepada mereka kapan mereka mau berubah seperti masyarakat lainnya yang sudah mulai berubah? Minta waktu yang detil, misalnya tanggal berapa. Tandai rumah masing-masing dengan tanggal sesuai kesiapan mereka.

Modul Pelatihan CLTS / Juni 2005, hal 66

ALUR KONTAMINASI (ORAL FECAL)


Tujuan Mengajak masyarakat untuk melihat bagaimana kotoran manusia dapat dimakan oleh manusia yang lainnya. Alat yang digunakan Gambar tinja dan gambar mulut Potongan potongan kertas Spidol Proses 1. Tanyakan kepada masyarakat apakah mereka yakin bahwa tinja bisa masuk ke dalam mulut? 2. Tanyakan bagaimana tinja bisa dimakan oleh kita? melalui apa saja? Minta masyarakat untuk menggambarkan atau menuliskan hal hal yang menjadi perantara tinja sampai ke mulut. 3. Analisa hasilnya bersama sama dengan masyarakat dan kembangkan diskusi (misalnya FGD untuk memicu rasa takut sakit)

SIMULASI AIR YANG TELAH TERKONTAMINASI


Simulasi dengan menggunakan air ini dapat dilakukan pada saat transek, saat pemetaan atau pada saat diskusi kelompok lainnya. Tujuan Mengetahui sejauh mana persepsi masyarakat terhadap air yang bisaa mereka gunakan sehar hari. Alat yang digunakan Ember yang diisi air (air mentah/sungai atau air masak/minum) Polutan air (tinja) Proses Dengan disaksikan oleh seluruh peserta, ambil 1 ember air sungai dan minta salah seorang untuk menggunakan air tersebut untuk cuci muka, kumur-kumur, cuci pakaiann dan lain-lain yang bisaa dilakukan oleh warga di sungai. Bubuhkan sedikit tinja ke dalam ember yang sama, dan minta salah seorang peserta untuk melakukan hal yang dilakukan sebelumnya. Tunggu reaksinya. Jika ia menolak melakukannya, tanyakan apa alasannya? Apa bedanya dengan kebisaaan masyarakat yang sudah terjadi dalam kurun waktu tertentu? Apa yang akan dilakukan masyarakat di kemudian hari? Peragaan ini bisa ditambahkan dengan hal-hal lain seperti mencampur sedikit kotoran ke dalam gelas dan minta mereka untuk meminumnya, meminta masyarakat untuk mencuci beras, sikat gigi atau berwudlu dengan air sungai yang telah dicampur dengan kotoran, dan lain-lain. Bila peragaan ini dilakukan pada saat transek ke wilayah sungai, untuk menunjukkan bahwa air telah terkontaminasi tidak perlu memasukkan kotoran ke dalam air dalam ember, melainkan bisa langsung mengambil air yang di sekitar air tersebut terdapat tinja. Kegiatan-kegiatan pemicuan tersebut dilakukan dengan cara simulasi dan dilanjutkan dengan

Modul Pelatihan CLTS / Juni 2005, hal 67

DISKUSI KELOMPOK (FGD).


Tujuan Bersama-sama dengan masyarakat melihat kondisi yang ada dan menganalisanya sehingga diharapkan dengan sendirinya masyarakat dapat merumuskan apa yang sebaiknya dilakukan atau tidak dilakukan. Banyak hal yang harus dipicu yang dapat dilakukan melalui diskusi dengan masyarakat, diantaranya:

FGD untuk memicu rasa malu dan hal-hal yang bersifat pribadi
Tanyakan seberapa banyak perempuan yang bisaa melakukan BAB di tempat terbuka dan alasan mengapa mereka melakukannya. Bagaimana perasaan kaum perempuan ketika BAB di tempat terbuka yang tidak terlindung dan kegiatan yang dilakukan dapat dilihat oleh setiap orang? Bagaimana perasaan laki-laki ketika istrinya, anaknya atau ibunya melakukan BAB di tempat terbuka dan dapat dilihat oleh siapapun juga yang kebetulan melihatnya secara sengaja atau tidak sengaja? Apa yang dilakukan perempuan ketika harus BAB (di tempat terbuka) padahal ia sedang mendapatkan rutinitas bulanan. Apa yang dirasakan? Apa yang akan dilakukan besok hari? Apakah tetap akan melakukan kebisaaan yang sama? Catatan Dalam kebisaaan BAB di sembarang tempat, perempuan adalah pihak yang paling terbebani (kehilangan privacy), jadi perempuan termasuk kelompok yang paling kompeten untuk dipicu.

FGD untuk memicu rasa jijik dan takut sakit

Ajak masyarakat untuk menghitung kembali jumlah tinja di kampungnya, dan kemana perginya sejumlah tinja tersebut. Jika dalam diagram alur terdapat pendapat masyarakat bahwa lalat adalah salah satu media penghantar kotoran ke mulut, lakukan probing tentang lalat. Misalnya: jumlah dan anatomi kaki lalat, bagaimana lalat hinggap di kotoran dan terbang ke mana saja dengan membawa kotoran di kaki-kakinya, bagaimana memastikan bahwa rumahrumah dan makananmakanan di dalam kampung itu dijamin bebas dari lalat, dan sebagainya. Ajak untuk melihat kembali peta, dan kemudian tanyakan rumah mana saja yang pernah terkena diare (2 3 tahun lalu), berapa biaya yang dikeluarkan untuk berobat, adakah anggota keluarga (terutama anak kecil) yang meninggal karena diare, bagaimana perasaan bapak/ibu atau anggota keluarga lainnya. Apa yang akan dilakukan kemudian?

FGD untuk memicu hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan


(contohnya dalam komunitas yang beragama Islam) Bisa dengan mengutip hadits atau pendapat para alim ulama yang relevan dengan larangan atau dampak buruk dari melakukan BAB sembarangan, seperti yang dilakukan oleh salah seorang fasilitator di Sumbawa, yang intinya kurang lebih: bahwa ada 3 kelompok yang karena perbuatannya termasuk orang-orang yang terkutuk, yaitu orang yang bisaa membuang air (besar) di air yang mengalir (sungai/kolam), di jalan dan di bawah pohon (tempat berteduh). Bisa dengan mengajak untuk mengingat hukum berwudlu, yaitu untuk menghilangkan najis. Tanyakan air apa yang selama ini digunakan oleh masyarakat untuk wudlu? apakah benarbenar bebas dari najis? Apa yang akan dilakukan kemudian?

Modul Pelatihan CLTS / Juni 2005, hal 68

FGD menyangkut kemiskinan


FGD ini bisaanya berlangsung ketika masyarakat sudah terpicu dan ingin berubah, namun terhambat dengan tidak adanya uang untuk membangun jamban. Apabila masyarakat mengatakan bahwa membangun jamban itu perlu dana besar, fasilitator bisa menanyakan apakah benar jamban itu mahal? Bagaimana dengan bentuk ini (berikan alternatif yang paling sederhana). Apabila masyarakat tetap beralasan mereka cukup miskin untuk bisa membangun jamban (meskipun dengan bentuk yang paling sederhana), fasilitator bisa mengambil perbandingan dengan masyarakat yang jauh lebih miskin daripada masyarakat Indonesia, misalnya Bangladesh. Bagaimana masyarakat miskin di Bangladesh berupaya untuk merubah kebisaaan BAB di sembarang tempat. Apabila masyarakat masih mengharapkan bantuan, tanyakan kepada mereka: tanggung jawab siapa masalah BAB ini? Apakah untuk BAB saja kita harus menunggu diurus oleh pemerintah dan pihak luar lainnya?

Catatan penting pada saat pemicuan.


Di setiap akhir fasilitasi (FGD) tanyakan kepada mereka bagaimana perasaan ibu/bapak terhadap kondisi ini? apakah bapak/ibu ingin terus dalam kondisi seperti ini? Fasilitator menyampaikan kesimpulan atas analisa yang telah dilakukan oleh masyarakat. Jika masyarakat masih senang dengan kondisi sanitasi mereka, artinya tidak mau berubah dengan berbagai macam alasan, fasilitator bisa menyampaikan : Terima kasih telah memberikan kesempatan untuk melakukan analisa tentang sanitasi di desa bapak/ibu, silakan bapak/ibu meneruskan kebiasaan ini, dan ibu/bapak adalah satusatunya kelompok masyarakat yang masih senang untuk membia rkan masyarakatnya saling mengkonsumsi kotoran. Dengan senang hati kami akan menyampaikan hasil analisa bapak/ibu ini kepada bapak camat/bupati/dst, bahwa di wilayah kerja mereka masih terdapat masyarakat yang mau bertahan dengan kondisi sanitasi seperti ini.

Modul Pelatihan CLTS / Juni 2005, hal 69

PENTING UNTUK FASILITATOR


Pada saat memfasilitasi, ada hal-hal yang JANGAN DILAKUKAN dan HARUS DILAKUKAN oleh seorang fasilitator, diantaranya :

JANGAN LAKUKAN
Menawarkan subsidi

LAKUKAN
Memicu kegiatan setempat. Dari awal katakan bahwa tidak akan pernah ada subsidi dalam kegiatan ini. Jika masyarakat bersedia maka kegiatan bisa dilanjutkan tetapi jika mereka tidak bisa menerimanya, hentikan proses. Memfasilitasi Memfasilitasi masyarakat untuk menganalisa kondisi mereka, yang memicu rasa jijik dan malu dan mendorong orang dari BAB di sembarang tempat menjadi BAB di tempat yang tetap dan tertutup. Melibatkan masyarakat dalam setiap pengadaan alat untuk proses fasilitasi. Fasilitator hanya menyampaikan pertanyaan sebagai pancingan dan biarkan masyarakat yang berbicara/diskusi lebih banyak. (masyarakat yang memimpin). Membiarkan mereka menyadarinya sendiri Kembalikan setiap pertanyaan dari masyarakat kepada masyarakat itu sendiri, misalnya: jadi bagaimana sebaiknya menurut bapak/ibu?

Mengajari Menyuruh membuat jamban

Memberikan alat-alat atau petunjuk kepada orang perorangan Menjadi pemimpin, mendominasi proses diskusi. (selalu menunjukkan dan menyuruh masyarakat melakukan ini dan itu pada saat fasilitasi). Memberitahukan apa yang baik dan apa yang buruk Langsung memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan masyarakat

FASILITASI DI AKHIR PEMICUAN (dimana masyarakat sudah terpicu)


Tujuan Memberikan dukungan, semangat dan apresiasi kepada masyarakat yang mau melakukan perubahan di bidang sanitasi. Proses Jika masyarakat sudah kelihatan ingin berubah, minta masyarakat untuk merumuskan upayaupaya apa. Biarkan mereka merumuskan apa upaya mereka untuk berubah. Jika mereka menanyakan pendapat fasilitator, kembalikan pertanyaan itu kepada masyarakat, apa yang sebaiknya diupayakan? Atau jika masyarakat terlihat sangat mengharapkan solusi dari fasilitator, kita sebaiknya berpura-pura sibuk sendiri (sehingga bukan kita yang memberikan solusi) tetapi dengan tetap memperhatikan dan mendengarkan apa yang mereka diskusikan. Jika diskusi di antara mereka terlihat sudah selesai, tanyakan : siapa yang ingin berubah dan membuat jamban esok hari ? Buat daftar namanya. Berikan apresiasi dengan memberikan selamat dan bertepuk tangan. Orang yang pertama menyatakan ingin berubah, itulah yang diharapkan menjadi natural leader untuk memicu masyarakat lainnya untuk merubah kebisaaan BAB di sembarang tempat. Dorong masyarakat yang mampu untuk membantu keluarga yang kurang mampu dalam mencari jalan keluar untuk menghentikan kebisaaan BAB di sembarang tempat. Dukung masyarakat yang termasuk dalam pressure group untuk bisa memfasilitasi masyarakatnya agar terjadi perubahan kebisaaan secara total. Contoh di Sumbawa, masyarakat yang punya kebun dan kebunnya sering digunakan sebagai tempat BAB sementara ia sendiri sudah mempunyai jamban

Modul Pelatihan CLTS / Juni 2005, hal 70

adalah salah seorang yang termasuk dalam pressure group karena ia merasa dirugikan dengan perilaku masyarakatnya tersebut. Jika sudah mencapai tahap ini dan masyarakat mengharapkan bantuan fasilitator dalam hal teknis, fasilitator bisa mulai membantu mereka dengan menggambarkan bentuk-bentuk jamban, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling layak (sehat, aman dan nyaman) -- LADDER SANITASI

FASILITASI UNTUK RENCANA TINDAK LANJUT MASYARAKAT


Tujuan Mendampingi masyarakat dalam menyusun rencana tindak lanjut untuk memperbaiki kondisi sanitasinya. Proses Tanyakan kembali siapa yang akan berubah (dengan membuat jamban) esok hari? Buat daftar nama orang-orang yang akan berubah. Tegaskan kepada orang-orang yang pertama kali akan berubah bahwa mereka adalah pemimpin yang diharapkan dapat membawa perubahan sanitasi secara keseluruhan di desanya (sepakati dengan mereka kemungkinan orang-orang tersebut untuk menjadi semacam panitia dalam rangka perubahan sanitasi ke arah yang lebih baik. Tanyakan pula, siapa yang akan mulai merubah kebisaaan BAB sembarangan 3 hari kemudian, 1 minggu kemudian, 10 hari, 2 minggu, 1 bulan, dan seterusnya. Berdasarkan kesepakatan, apa sebaiknya yang akan dilakukan oleh masyarakat (yang akan berubah) kepada masyarakat lain di desanya jika kesanggupan mereka untuk berubah (setelah masing-masing menyanggupi waktunya) tiba-tiba saja tertunda? - misalnya dengan membantu secara gotong royong, sanksi, dll sesuai kesepakatan. Tanyakan pula, kapan kira-kira seluruh masyarakat kampung/dusun/desa ini akan berubah dan menjadi salah satu desa yang menyatakan diri 100% telah bebas dari kebisaaan BAB sembarangan ? Fasilitasikan kepada mereka berdasarkan hasil analisa sebelumnya, bahwa sebagian kecil saja masyarakat yang masih BAB sembarangan dampaknya tetap akan dirasakan oleh seluruh masyarakat. tanyakan apakah yang dapat mereka lakukan terhadap masyarakat kampung lain di dalam desanya atau desa lain yang masih mempunyai kebisaaan BAB di sembarang tempat? (apakah mereka bersedia untuk menyebarkan kepada masyarakat kampung lain tentang upaya yang mereka lakukan untuk merubah kebisaaan?) Fasilitasikan kepada masyarakat bahwa fasilitator akan membantu masyarakat dalam mendeklarasikan kempung mereka sebagai kampung yang 100% bebas dari kebisaaan BAB sembarangan misalnya dengan mendatangkan kepala daerah (bupati), pers, masyarakat kampung lain, dan sebagainya.

Modul Pelatihan CLTS / Juni 2005, hal 71

LADDER SANITATION
Tujuan Melihat tangga/tahap-tahap sarana sanitasi masyarakat, dari sarana yang paling sederhana sampai sarana yang paling lengkap/layak (sehat, aman, nyaman) Proses 1. Ajak masyarakat untuk menggambarkan sarana sanitasi apa yang mereka ketahui. 2. Atau, ajukan pertanyaan kepada mereka (yang sudah punya jamban) kira-kira 10 tahun yang lalu BAB di mana, atau jamban seperti apa yang digunakan dulu, atau jamban apa yang digunakan sekarang? 3. Kembangkanlah diskusi yang berkaitan dengan sarana-sarana tersebut, tanyakan apakah faktor pendukung dan faktor penghambat setempat (teknis dan non teknis) dalam mewujudkan bentuk-bentuk sarana tersebut? 4. Lalu kembalikan kepada mereka, bentuk sarana apa yang bisa mereka wujudkan, yang sesuai dengan kondisi alam serta kemampuan mereka masing-masing. Catatan Ladder sanitasi penting untuk diketahui dan menjadi bekal bagi fasilitator, namun baru disampaikan kepada masyarakat jika masyarakat memerlukannya, misalnya jika mereka merasa perlu saran atau pendapat yang berhubungan dengan sarana sanitasi yang akan mereka bangun. Fasilitator bisa membawa alat bantu tentang ladder sanitasi, bisaanya dalam bentuk gambar dengan spesifikasi teknis, serta kelebihan dan kekurangan dari masing-masing sarana tersebut.

TAHAP MONITORING
Dalam CLTS monitoring yang paling efektif adalah pengawasan diantara mereka sendiri, sehingga monitoring oleh pendamping lebih kepada memberikan energi atau dorongan kepada masyarakat. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam rangka monitoring (energising) adalah: Cross visit di antara kelompok masyarakat (kelompok yang sudah terpicu kepada kelompok yang belum terpicu atau sebaliknya). Mengembangkan konsultan masyarakat; memfasilitasi masyarakat yang belum terpicu untuk mengundang natural leader yang ada untuk melakukan pemicuan di kelompok tersebut. Selain itu, beberapa tools PRA yang bisa digunakan dalam tahap monitoring (setelah 1 2 bulan perubahan kebisaaan), diantaranya:

PEMETAAN
Tujuan Melihat akses masyarakat terhadap tempat-tempat BAB (dengan cara membandingkan antara tali akses sebelum pemicuan dan akses yang terlihat pasca pemicuan dan tindak lanjut masyarakat). Proses Ajak masyarakat untuk menandai rumah-rumah mana saja yang telah berhasil merubah kebisaaan. (dimana pada peta awal tercantum kapan waktunya mereka akan berubah, sampai pada tanggal berapa mereka menyanggupi untuk terbebas dari kebisaaan BAB di sembarang tempat (kegiatan ini bisa dilengkapi dengan transek walk). Mengajak masyarakat untuk menilai kondisi sanitasi di desa/dusunnya dengan menggunakan skoring (ada penilaian, misalnya ketika pencapaian dibawah 25% berapa skornya, pencapaian 20 40%,, pencapaian 50% dan seterusnya sampai skor tertinggi untuk

Modul Pelatihan CLTS / Juni 2005, hal 72

pencapaian 100% masyarakat telah mempunyai tempat yang tetap dan tertutup untuk melakukan BAB).

RATING SCALE (CONVINIENT)


Tujuan Untuk melihat dan mengtehui apa yang dirasakan masyarakat (bandingkan antara yang dirasakan dulu ketika BAB di sembarang tempat dengan yang dirasakan sekarang ketika sudah BAB di tempat yang tetap dan tertutup). Untuk mengetahui apa yang masyarakat rasakan dengan sarana sanitasi yang dipunyai sekarang, dan hal lain yang ingin mereka lakukan Hal ini berkaitan dengan ladder sanitasi di masyarakat. Proses Ajak masyarakat untuk menggambar sesuatu yang dapat menunjukkan perasaan puas/senang/bahagia, perasaan bisaa-bisaa saja, dan perasaan tidak puas/tidak senang/sedih, misalnya:

Sepakati makna dari masing-masing gambar tersebut, (bila perlu sepakati pula berapa nilai dari masing-masing gambar tersebut, misalnya gambar sedih nilainya 0 dan gambar tertawa nilainya 100, dan ada interval nilai di antara gambar-gambar tersebut). Minta masyarakat (satu persatu) untuk berdiri diantara gambar-gambar itu, tanyakan: o apa yang dirasakan dulu ketika BAB di sembarang tempat? o Apa yang dirasakan sekarang? o Tanyakan apa perasaannya terhadap sarana sanitasi yang mereka punyai (mungkin masyarakat ada yang menjawab senang punya jamban tetapi kurang senang karena masih belum dipasang dinding, dll) Bila diperlukan, sepakati juga dengan masyarakat, bahwa masyarakat tidak harus berdiri tepat pada gambar tersebut, tetapi mungkin dapat berdiri diantara 2 gambar yang ada untuk menunjukkan apa yang mereka rasakan. Untuk setiap pertanyaan, lihat jawaban mereka dengan melihat di gambar mana mereka berdiri. Perdalam alasannya, sehingga dari hal itu akan terbentuk sebuah diskusi yang dapat menggambarkan apa yang terjadi dan dirasakan oleh masyarakat secara umum berkaitan dengan kondisi sanitasinya.

Modul Pelatihan CLTS / Juni 2005, hal 73