Anda di halaman 1dari 30

PRESENTASI KASUS Hemiparesis Sinsitra Pasca Stroke non Hemorragik et causa Hipertensi pada Lansia 67 Tahun dengan Status

Tidak Menikah dan Stressor Pekerjaan Tinggi Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepanitraan Klinik Ilmu Kesehatan keluarga Puskesmas Tega;rejo

Dokter pembimbing dr.widyastuti Disusun oleh Karina 20070310113 KEPANITRAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KELUARGA

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2012

HALAMAN PENGESAHAN PRESENTASI KASUS

Hemiparesis Sinsitra Pasca Stroke non Hemorragik et causa Hipertensi pada Lansia 67 Tahun dengan Status Tidak Menikah dan Stressor Pekerjaan Tinggi
Diajukan Untuk memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepanitraan

Klinik Ilmu Kesehatan keluarga Puskesmas Tega;rejo

Disusun oleh Karina 20070310113

Telah Disetujui dan Dipresentasikan Pada September 2012

Oleh Dokter Pembombing

(dr.Widyastuti)

BAB I LAPORAN KASUS A. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Alamat Agama Suku Pekerjaan B. Anamnesis Keluhan utama digerakkan Riwayat Penyakit Sekarang : Os merasakan kaki dan tangan tidak bisa digerakkan sejak 2 bulan yang lalu setelah bangun tidur di sore hari. Os merasakan seperti kelupuhan separuh badannya, sulit untuk digerakkan dan untuk beraktivitas terutama untuk berjalan. Os sempat berbicara perot setelah bangun tidur ini, tetapi setelah menjalani pengobatan, perotnya membaik. Os tidak ada riwayat terjatuh atau trauma sebelumnya. Os tidak merasakan pusing (-) demam (-), nyeri dada(-) penurunan nafsu makan(-), penurunan BB (-), tidak ada keluhan dalam buang air kecil dan buang air besar. Riwayat Penyakit Dahulu : 1. Operasi katarak mata kiri pada tahun 2010 2. Operasi katarak mata kanan dan glaucoma pada tahun 2011
3. Hipertensi + ,DM-, ginjal -, alergi -, asma-, merokok-

: Ny. S : 67 tahun : Karang Waru : Islam : Jawa : pegawai swasta

Jenis kelamin : Perempuan

Tanggal home visit : 5 September 2012 : kaki dan tangan kiri lemah dan sakit

Riwayat Penyakit Keluarga :


1. Hipertensi : paman pasien 2. Jantung : paman pasien

3. Diabetes mellitus : paman dan bibi pasien Riwayat Personal Os merupakan seorang bendahara dari suatu pabrik hasil bumi di blitar dengan tanpa masa pensiun dan aktif sampai 2 bulan terakhir ini. Selama masa kerjanya, sulit merasakan hari libur karena saat hari liburpun tetap digunakan untuk bekerja.jam kerja pasien biasanya jam 08.00 18.00 dan kadang disertai lembur. Os tidak menikah dan hidup di rumahnya sendiri dengan seorang pembantu di blitar. Saat ini Pasien tinggal dalam rumah berukuran agak luas, ventilasi cukup baik, atap tinggi, penerangan baik, sanitasi baik, ada kamar mandi dan toilet.. Keadaan ekonomi pasien baik, pasien dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari secara mandiri, mempunyai rumah pribadi serta pengobatan atas penyakitnya atas biaya sendiri pula. Hubungan pasien dengan keluarga saat ini harmonis, serta dengan tetangga tidak ada masalah. Pasien merupakan umat beragama islam dan berupaya menjalan syariah islam dengan sebaik-baiknya. Hal yang paling mengganggu pikiran pasien adalah aktivitas pekerjaan yang padat sehingga membuat pasien sulit utnuk istirahat serta kehidupan pasien yang hanya dengan pembantu di rumahnya dan ini memicu rasa kesepian pada pasien. C. Anamnesis Sistem
a. Sistem syaraf pusat b. System respirasi

: Dalam batas normal : Normal, tanpa sesak napas, regular.

c. Sistem cardiovascular : Normal, S1-S2 reguler, tanpa disertai nyeri

dada dan deg-degan


d. Sistem Gastrointestinal: Dalam batas normal e. Sistem Urinarius f. Sistem Reproduksi

: Dalam batas normal : Dalam batas normal

g. Sistem Neuromuskular: Terdapat kelemahan di kaki dan tangan kiri,

keterbatasan dalam gerak +, nyeri saat digerakkan, dan terasa kaku


h. Sistem integumentum : Dalam batas normal

D. Pemeriksaan Fisik Kesan Umum : sedang, composmentis. Vital sign : TD = 130/90 mmHg N = 88x/m regular, isi dan tegangan cukup. RR = 20 x/m T = afebris Mata : conjunctiva anemis -/-, Sklera ikterik -/-, odem -/Leher : pembesaran lnn-, peningkatan jugular vein pressure -. Paru-paru

: : massa-, gerakan ketertinggalan-, retraksi -. : fremitus taktil normal kanan-kiri. : sonor kanan-kiri. : ronkhi basah basal -/-, wheezing -/-. : iktus kordis terlihat : iktus kordis teraba di SIC V : 1) Kanan atas : SIC II linea para sternalis kanan

Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Inspeksi Palpasi Perkusi batas jantung :

Jantung

2) Kanan bawah : SIC IV linea parasternalis kanan

3) Kiri atas

: SIC II linea parasternalis kiri : SIC IV-V ke kiri linea midclavicular

4) Kiri bawah Auskultai :

: S1 murni S2 split , bising jantung-.

Abdomen

Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi

: bentuk flat, massa-, sikatrik: peristaltic + : timpani, pekak beralih-, undulasi: nyeri tekan abdomen-, defans muscular-, nyeri tekan

lepas-, massa-, pembesaran-. Extremitas REFLEKS Kekuatan otot Tonus Klonus Reflek patologis Reflek fisiologis SISTEM OTONOM BAB normal, BAK normal PEMERIKSAAN KHUSUS/LAIN a. Laseque b. Kernig c. Patrick e. Valsava test : : : : tidak terbatas tidak terbatas -/-/:Extremitas atas 5-5-3-3 + +N Extremitas bawah 5-5-2-2 + +N : hangat+, odem-.

d. Kontrapatrick : f. Brudzinski I dan II

E. Pemeriksaan penunjang Dilakukan Ct Scan dengan hasil infark sub acut pada corona radiata (14 juni 2012) Hasil pemeriksaan darah
Pemeriksaan Darah rutin Hemoglobin Hematokrit Eritrosit Leukosit Trombosit MCV MCH MCHC Kimia Darah Ureum Kreatinin Natrium Kalium Klorida Glukosa Sewaktu Aceton darah Kolesterol Trigliserid HDL LDL 11/7/12 14,7 41 4.9 8000 391000 85 30 36 40 1.2 142 4.1 104 112 -/negatif 206* 207* 41 126* Nilai Rujukan

12-16 g/dl 37-47 % 4,3-6,0 juta/L 4800-10800/L 150.000-400.000/L 80-96 fl 27-32 pg 32-36 g/dl
20 -50 mg/dL 0.5 1.5 mg/dL 135 - 145 mEq/L 3.5 5.3 mEq/L 97 107 mEq/L < 140 mg/dL -/ negatif <200 <160 >35 <100

F. Diagnosis Hemiparesis sinistra pasca stroke non hemoragik et causa hipertensi G. Aspek Biopsikososial
Biologis

: Hemiparese sinistra pada hipedrtensi, pasca stroke non : Merasa kesepian, tidak menikah, stressor pekerjaan

hemorragik
Psikis

yang tinggi.

Ekonomi Social Budaya Agama

: Dirasa cukup :Dirasa baik : Baik : Baik

H. Family Assesment Tools i) Genogram Keluarga Ny. S 5 september 2012

ii. Family life cycle : aging family members

iii. APGAR SCORE Penilaian Hampir tak pernah Saya puas dengan keluarga saya karena masing-masing anggota sudah kewajiban keluarga menjalankan sesuai Kadang-kadang Hamper selalu

seharusnya Saya puas dengan keluarga saya karena dapat terhadap permasalahan yang saya hadapi Saya puas dengan kebebasan diberikan saya kemampuan yang keluarga untuk yang membantu solusi memberikan

mengembangkan saya miliki Saya puas dengan kehangatan/kasih sayang diberikan yang keluarga

saya Saya puas dengan waktu yang

disediakan keluarga untuk menjalin kebersamaan Kriteria skor : 8-9 : fungsi keluarga sehat 4-7 : fungsi keluarga kurang sehat 0-3 : sakit Pasien tergolong dalam kategori dengan fungsi keluarga sehat di rumah yang sekarang ini, diyogyakarta V. Family screem ASPEK SOSIAL SUMBER DAYA PATOLOGI Interaksi antar pasien Tidak ada dengan keluarga baik Interaksi pasien dengan CULTURAL masyarakat baik Keluarga pasien Tidak ada

memiliki budaya saling tolong-menolong dengan masyarakat pasien nyaman RELIGIUS ECONOMY juga sekitar, merasa di

lingkungannya Pasien taat beribadah Tidak ada Keadaan ekonomi Tidak ada mencukupi, melakukan di RS. dapat pengobatan Sumber

penghasilandari tabungan pribadinya dan

dari EDUCATION sepupunya Pengetahuan penyakit

penghasilan tentang Tidak ada baik,

cukup

riwayat pendidikkannya MEDICAL baik. Kesadaran untuk berobat Tidak ada tinggi, rutin untuk melakukan pengobatan I. Diagnosis holistic Hemiparesis sinsitra Pasca stroke et causa non hemorragik hipertensi pada lansia 67 tahun dengan status tidak menikah dan stressor pekerjaan tinggi. J. Rencana Penatalaksanaan Kuratif Farmakologis : Pemberian diuretika untuk mengurangi jumlah cairan di dalam tubuh sehingga menurunkan tekanan darah seperti vasodilator, ACE-I, dan ARB serta obat-obatan yang dapat meningkatkan metabolisme otak untuk mengembalikan fungsi kerja otak seperti asetilkolin dan piracetam Non-farmakologis:fisioterapi untuk mengurangi kecacatan neurologis dan mengembalikan fungsi tubuh semaksimal mungkin, kecapekan, istirahat cukup. Promotif Menginformasikan kepada pasien tentang pengetahuan mengenai penyakitnya, hal-hal yang dapat memperburuk prognosis, sehingga pasien dapat ikut serta dalam penatalaksanaan penyakitnya secara mandiri. jangan terlalu

Preventif Diet dengan makanan sayur, kurangi garam, dan minyak. Aktivitas fisik tiap pagi Manajemen stress Istirahat cukup

Rehabilitatif Management Stress fisioterapi Sering istirahat jangan terlalu capek Giatkan beribadah dan Tingkatkan keimanan, beribadah, bertawakal, bersyukur Rutin control ke puskesmas Kembangkan pikiran positif Mengikutsertakan keluarga dalam proses penatalaksanaan penyakit

BAB II PEMBAHASAN KASUS A. ANALISIS KASUS

Pada pasien ini terdiagnosis sebagai stroke et causa hipertensi non hemorragik Dimana pemicu ynag dapat memperburuk keadaan adalah salah satunya tingkat stress pasien, Stress dapat meningkatkan aktivitas saraf simpatis yang kemudian dapat menyebabkan peningkatan cardiac output dan resistensi perifer, sehingga resistensi pembuluh darah makin besar dan hal ini akan memperburuk kerja jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Tekanan darah pasien juga 130/90 saat home visit.. B. HASIL KUNJUNGAN RUMAH Kunjungan rumah dilakukan selama dua kali. Pertemuan pertama lebih menggali mengenai anamnesis tentang penyakit pasien sendiri, masalah yang mengganggu pikiran pasien dan lebih menggali ke kehidupan pribadi serta dilakukan pemeriksaan fisik. Pertemuan kedua dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik dari ujung rambut sampai ujung kaki juga dilakukan edukasi dan observasi kondisi rumah. i) Lokasi Alamat rumah pasien yaitu karang waru, didepan pasar karang waru. Jarak antar rumah agak renggang. Jalan utama hanya bisa dilewati motor dan mobil. ii) Kondisi rumah Ukuran rumah agak luas. Bangunan rumah memiliki dinding tembok, tidak bertingkat, dan atap yang tinggi. Lantai rumah dibuat dari ubin, atap rumah dari genteng. Kerapian di dalam rumah cukup karena masih terdapat barang-barang yang berserakan seperti bantal. Terdapat kursi terbuat dari busa di ruang tamu, Kamar juga terlihat baik dan rapi serta sirkulasi udara baik. Kepemilikan barang di rumah antara lain : 1 set kursi tamu, 1 meja, 1 televisi, 1 rak, 2 ranjang, dan peralatan dapur. iii) Pembagian ruangan

Rumah pasie terbagi menjadi beberapa ruangan yaitu : 1 ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 dapur, 1 kamar mandi. iv) Pencahayaan Hanya terdapat 2 ventilasi yang terdapat di ruang tamu yaitu masingmasing berukuran kira-kira 1x0,5 m. Namun, cahaya yang masuk baik, jendela tersebut terbuka ketika siang hari dan tidak ada barang yang menggangu pencahayan sebelah jendela. Pencahayaan dan sirkulasi udara baik v) Sanitasi dasar (1) Sumber air bersih Sumber air yang digunakan untuk minum, mandi dan mencuci berasal dari PAM. Jarak antara sumur dan septic tank sekitar 10m. (2) Jamban keluarga Pasien menggunakan kamar mandi sendiri, bersih, dan terkesan mudah dibersihkan. (3) Saluran pembuangan limbah Limbah rumah tangga semua disalurkan ke kolam peresapan (4) Tempat sampah Sampah dikumpulkan di tempat sampah yang diletakkan di belakang rumah, dan setiap pagi diambil oleh petugas sampah. vi) Halaman Terdapat halaman rumah dan dihiasi dengan tanaman vii) Kandang Tidak memiliki kandang viii) Kamar mandi Satu kamar mandi yang digunakan bersama anggota keluarga lain. C. PERANGKAT PENILAIAN KELUARGA
(1) Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah

No 1 2 3

Nama H Y SJ

Kedudukan

Jenis

Umur

Pendidikan SMA SMA SD

keterangan Kepala keluarga Bread winner

kelamin Sepupu L 53 th Istri sepupu P 44th pasien Keponakan Pasien P 8 th

(2) Genogram Genogram ny. S dibuat pada tanggal 5 september 2012. Dari genogram didapatkan bahwa pasien berusia 67 tahun merupakan anak tunggal, memilik penyakit hipertensi dan pernah mengalami serangan stroke Bapak os ini 7 bersaudara, 3 diantaranya telah meninggal termasuk bapak pasien. Saudara kandung dari bapak os menderita hipertensi sama dengan os. Lalu saudara terkecil dari bapak os meninggal karena sakit jantung, dan istrinya meninggal karena sakit hepatitis, memiliki 2 orang anak laki-laki yang keluarga inilah yang merawat pasien setelah mengalami stroke. (3) Nilai APGAR keluarga Dengan menggunakan criteria APGAR dapat didapatkan 5 fungsi pokok keluarga yang dapat mengukur sehat atau tidaknya suatu keluarga. Lima fungsi yang dinilai adalah : 1. Adaptasi Dinilai dari tingkat kepuasan anggota keluarga dalam melaksanakan kewajiban masing-masing. Pada keluarga ini didapatkan skor 2, artinya kadang-kadang pasien puas, tapi kadang kecewa. 2. Kemitraan Dinilai dari kepuasan pasien dalam pemberian solusi permasalahan yang dihadapi oleh pasien. Skornya adalah 1, pasien sering

bercerita kepada anak kedua mengenai anak pertamanya, dan pasien cukup merasa lega saat bercerita, namun anaknya tidak memberikan solusi yang solutif. 3. Pertumbuhan Dinilai dari tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebebasan yang diberikan untuk mengembangkan diri. Skor disini adalah 2. 4. Kasih sayang Dinilai dari kasih sayang dan interaksi antar anggota keluarga. Skor disini adalah 2. Pasien merasakan kasih sayang yang diberikan oleh mereka adalah baik. 5. Kebersamaan Dinilai dari tingkat kebersamaan dalam membagi waktu dan ruang antar keluarga. Disini skornya adalah 2. Total skor di rumah tangga pasien ini adalah 7, yang mana interpretasinya adalah sebagai berikut: 8-10 : fungsi keluarga sehat 4-7 : fungsi keluarga kurang sehat 0-3 : fungsi keluarga yang sakit (4) Family screem Dari alat family screem ini dapat dilihat sumber daya pasien. Secara social, budaya, agama, dan kesehatan, pasien ini termasuk memiliki sumber daya baik. Namun, dari segi ekonomi dirasakan kurang sekali, dari segi edukasi juga pasien hanya memiliki pendidikan akhir Sekolah rakyat. D. IDENTIFIKASI FUNGSI KELUARGA 1. Fungsi biologis dan reproduksi

Pasien merupakan wanita karier yang hidup sendiri, tidak memiliki suami, tidak menikah. Memilik pendidikkan yang tinggi serta mampu hidup mandiri. Fungsi reproduksi,pasien sudah tidak menstruasi. 2. Fungsi afektif Pasien hidup serumah sepupu, istri sepupu dan keponakannya yang berusia 10 tahun. Tidak ada konflik dalam rumah tersebut. Pasien juga mengatakan bahwa mereka sayang terhadap pasien. 3. Fungsi social Pasien merupakan pendatang baru di kampung sepupunya itu, sehingga belum banayak mengenal tetangga- tentangga sekitar rumah.pasien tidak mengikuti kegitan-kegiatan sosial yang diadakan di sekitar rumah karena ketidakmampuan pasien dalam berdiri dan berjalan maka dari itu pasien sedang menjalani fisioterapi 4. Fungsi ekonomi Pemenuhan kebutuhan keluarga terletak pada sepupunya sebagai kepala keluarga. Namun untuk biaya pengobatannya, pasien menggunakan tabungannya utnuk membiayainya. 5. Fungsi religi Keluarga ini menganut agama Islam. Pasien rajin menjalankan ibadah solat lima waktu dan terkadang solat sunah. 6. Fungsi pendidikan Pasien pernah merasakan kuliah, tingkat pendidikkan pasien cukup tinggi. Kesimpulan : tidak ada ada gangguan fungsi keluarga E. IDENTIFIKASI PENGETAHUAN, SIKAP, PERILAKU KESEHATAN KELUARGA 1. Penggunaan pelayanan kesehatan Pasien merupakan masyarakat baru yang masuk dalam area wilayah kerja puskesmas tegal rejo. Kesadaran untuk control adalah tinggi. 2. Perencanaan dan pemanfaatan fasilitas pembiayaan kesehatan

Keluarga pasien menggunakan kartu menuju sehat. F. PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Indicator Seluruh penghuni rumah tidak merokok Persalinan tenaga kesehatan ASI eksklusif Imunisasi Balita ditimbang Sarapan pagi Makan buah dan sayur Ada kartu kepesertaan asuransi kesehatan Melakukan kebiasaan cuci tangan Melakukan kebiasaan gosok gigi Olahraga minimal 3x seminggu Jamban keluarga Air bersih bebas jentik Tersedia tempat sampah di dalam dan di luar rumah Sistem pembuangan air limbah Ventilasi Kepadatan Seluruh lantai di semen Jawaban Ya Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya

Klasifikasi : Sehat I : dari 18 pertanyaan, jawaban Ya antara 1-5 indikator Sehat II : dari 18 pertanyaan, jawaban Ya antara 6-10 indikator Sehat III : dari 18 pertanyaan, jawaban Ya antara 11-15 indikator Sehat IV : dari 18 pertanyaan, jawaban Ya antara 16-18 indikator Keluarga ini termasuk pada kategori sehat III. G. IDENTIFIKASI MASALAH KELUARGA DAN PERENCANAAN

PEMBINAAN KELUARGA

Penatalaksanaan pada pasien ini selain farmakologis juga penting untuk diperhatikan manajement stressnya supaya terjadi sinkronisasi sehingga terapi akan sukses. Perencanaan Terapi yang akan dilakuakn tercantum dalam table dibawah ini ; No 1 Masalah yang dihadapi Target Biologis : hemiparesis Pasien sinistra pasca stroke dengan hipertensi Pembinaan yang dilakukan Farmakologis : Obat anti hipertensi ; ACEI, ARB, diuretika. Obat metabolisme otak ; asetilkolin dan piracetam Non farmakologis : posisi duduk, 2 Pasien kesepian 3 yang merasa Pasien keluarga istirahat cukup, jangan terlalu capek. dan informasi mengenai penyakitnya, yang memperburuk prognosis dan yang meningkatkan kualitas hidupnya dan Berhenti dari pekerjaannya, Istirahat yang cukup, Rajin beribadah dan berserah diri pada Allah SWT. Berpikir positive, alihkan perhatiannya kepada hal lain, seperti pergi ke masjid, mengikuti pengajian, dll.
J H. IDENTIFIKASI LINGKUNGAN HIDUP KELUARGA

Stresor pekerjaan yang Pasien tinggi keluarga

1) Denah lokasi rumah


Rumah pasien

Pasar kr.war u

Puskesmas tegal rejo

l . m a g e l a n g K

2) 3) Denah rumah

Kamar mandi Ruang tamu Tempat tidur ps Kamar dapur

I. DIAGNOSIS KEDOKTERAN KELUARGA Hemiparesis sinsitra Pasca stroke et causa non hemorragik hipertensi pada lansia 67 tahun dengan status tidak menikah dan stressor pekerjaan tinggi.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA STROKE 1. Definisi Stroke adalah sindroma klinis dengan gejala berupa gangguan fungsi otak secara fokal maupun global yang dapat menimbulkan kematian atau kecacatan yang menetap lebih dari 24 jam, tanpa penyebab lain kecuali gangguan vaskular (WHO 1983). Stroke pada prinsipnya terjadi secara tiba-tiba karena gangguan pembuluh darah otak (perdarahan atau iskemik), bila karena trauma maka tak dimasukkan dalam kategori stroke, tapi bila gangguan pembuluh darah otak disebabkan karena hipertensi, maka dapat disebut stroke. 2. Jenis stroke

Berdasar penyebabnya stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu stroke iskemik maupun stroke hemorragik. a. stroke iskemik yaitu penderita dengan gangguan neurologik fokal yang mendadak karena obstruksi atau penyempitan pembuluh darah arteri otak dan menunjukkan gambaran infark pada CT-Scan kepala. Aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis (penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah) atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah ke otak. Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83% mengalami stroke jenis ini. Penyumbatan bisa terjadi di sepanjang jalur pembuluh darah arteri yang menuju ke otak. Darah ke otak disuplai oleh dua arteria karotis interna dan dua arteri vertebralis. Arteri-arteri ini merupakan cabang dari lengkung aorta jantung. Penyumbatan ini dapat disebabkan oleh

Suatu ateroma (endapan lemak) bisa terbentuk di dalam pembuluh darah arteri karotis sehingga menyebabkan berkurangnya aliran darah. Keadaan ini sangat serius karena setiap pembuluh darah arteri karotis dalam keadaan normal memberikan darah ke sebagian besar otak. Endapan lemak juga bisa terlepas dari dinding arteri dan mengalir di dalam darah, kemudian menyumbat arteri yang lebih kecil.Pembuluh darah arteri karotis dan arteri vertebralis beserta percabangannya bisa juga tersumbat karena adanya bekuan darah yang berasal dari tempat lain, misalnya dari jantung atau satu katupnya. Stroke semacam ini disebut emboli serebral (emboli = sumbatan, serebral = pembuluh darah otak) yang paling sering terjadi pada penderita yang baru menjalani pembedahan jantung dan penderita kelainan katup jantung atau gangguan irama jantung (terutama fibrilasi atrium).

Emboli lemak jarang menyebabkan stroke. Emboli lemak terbentuk jika lemak dari sumsum tulang yang pecah dilepaskan ke dalam aliran darah dan akhirnya bergabung di dalam sebuah arteri.

peradangan atau infeksi menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang menuju ke otak. Obat-obatan (misalnya kokain dan amfetamin) juga bisa mempersempit pembuluh darah di otak dan menyebabkan stroke. Penurunan tekanan darah yang tiba-tiba bisa menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak, yang biasanya menyebabkan seseorang pingsan. Stroke bisa terjadi jika tekanan darah rendahnya sangat berat dan menahun. Hal ini terjadi jika seseorang mengalami kehilangan darah yang banyak karena cedera atau pembedahan, serangan jantung atau irama jantung yang abnormal.

Macam macam stroke iskemik : i. TIA didefinisikan sebagai episode singkat disfungsi neurologis yang disebabkan gangguan setempat pada otak atau iskemi retina yang terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam, tanpa adanya infark, serta meningkatkan resiko terjadinya stroke di masa depan. ii. iii. iv. v. RIND Defisit neurologis lebih dari 24 jam namun kurang dari 72 jam Progressive stroke Complete stroke Silent stroke

b. stroke hemorragik Pembuluh darah pecah sehingga menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah di otak dan merusaknya contoh perdarahan intraserebral, perdarahan subarachnoid, perdarahan intrakranial et

causa AVM. Hampir 70 persen kasus stroke hemorrhagik terjadi pada penderita hipertensi.

3. Faktor Resiko suku bangsa (negro/spanyol) jenis kelamin (pria)


kurang olah raga. Hipertensi Penyakit jantung Merokok Alkohol Diet

usia lanjut Obesitas


Diabetes mellitus

Riwayat keluarga

Usia merupakan faktor risiko stroke, semakin tua usia maka risiko terkena strokenya pun semakin tinggi. Namun, sekarang kaum usia produktif perlu waspada terhadap ancaman stroke. Pada usia produktif, stroke dapat menyerang terutama pada mereka yang gemar mengkonsumsi makanan berlemak dan narkoba (walau belum memiliki angka yang pasti). Gaya hidup selalu menjadi kambing hitam berbagai penyakit yang menyerang usia produktif. Generasi muda sering menerapkan pola makan yang tidak sehat dengan seringnya mengkonsumsi makanan siap saji yang sarat dengan lemak dan kolesterol tapi rendah serat.

4. Gejala stroke Sebagian besar kasus stroke terjadi secara mendadak, sangat cepat dan menyebabkan kerusakan otak dalam beberapa menit (completed stroke). Kemudian stroke menjadi bertambah buruk dalam beberapa jam sampai 1-2 hari akibat bertambah luasnya jaringan otak yang mati (stroke in evolution). Perkembangan penyakit biasanya (tetapi tidak selalu) diselingi dengan periode stabil, dimana perluasan jaringan yang mati berhenti sementara atau terjadi beberapa perbaikan. Gejala stroke yang muncul pun tergantung dari bagian otak yang terkena. Membaca isyarat stroke dapat dilakukan dengan mengamati beberapa gejala stroke berikut: 1. Kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh. 2. Hilangnya sebagian penglihatan atau pendengaran. 3. Penglihatan ganda. 4. Pusing. 5. Bicara tidak jelas (pelo). 6. Sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat. 7. Tidak mampu mengenali bagian dari tubuh. 8. Pergerakan yang tidak biasa. 9. Hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih. 10. Ketidakseimbangan dan terjatuh. 11. Pingsan.
Perbedaan perdarahan intraserebral, infark trombosis dan emboli

Onset

Perdarahan intraserebri Umumnya terjadi saat beraktivitas

Infark thrombosis Saat istirahat, Biasanya diawali gejala prodormal pusing (TIA dengan defisit neurologis Gejala berangsurangsur progresif dalam hitungan menit atau jam Penyakit jantung aterosklerosis Sering hipertensi Pada fase akut adanya area avaskuler, edem Bersih

Emboli Terjadi saat beraktivitas, gejala muncul dalam waktu beberapa detik atau menit

Gejala

Hemiplegi cepat terjadi

Gejala mungkin cepat terjadi, pasien biasanya sadar Aritmia atau infark jantung (sumber emboli biasany dari jantung) Normal Pada fase akut adanya area avaskuler, edem, kemudian berubah Bersih

Penemuan khusus Tekanan darah Penemuan CTscan CSF

Hipertrofi jantung, hipertensi retinopati Hipertensi berat Peningkatan densitas, mungkin darah dalam ventrikel Mungkin berdarah

Kelainan neurologis yang terjadi akibat serangan stroke bisa lebih berat atau lebih luas, berhubungan dengan koma atau stupor dan sifatnya menetap. Selain itu, stroke bisa menyebabkan depresi atau ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi. Stroke juga bisa menyebabkan edema atau pembengkakan otak. Hal ini berbahaya karena ruang dalam tengkorak sangat terbatas. Tekanan yang timbul bisa lebih jauh merusak jaringan otak dan memperburuk kelainan neurologis, meskipun strokenya sendiri tidak bertambah luas.

5. Diagnosis Stroke Diagnosis stroke adalah secara klinis beserta pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain CT scan kepala, MRI. Untuk menilai kesadaran penderita stroke dapat digunakan Skala Koma Glasgow.

Untuk membedakan jenis stroke dapat digunakan berbagai sistem skor, seperti Skor Strok Siriraj, Algoritma Stroke Gajah Mada, atau Algoritma Junaedi Diagnosis stroke biasanya ditegakkan berdasarkan perjalanan penyakit dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dapat membantu menentukan lokasi kerusakan pada otak. Ada dua jenis teknik pemeriksaan imaging (pencitraan) untuk mengevaluasi kasus stroke atau penyakit pembuluh darah otak (Cerebrovascular Disease/CVD), yaitu Computed Tomography (CT scan) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI). CT scan diketahui sebagai pendeteksi imaging yang paling mudah, cepat dan relatif murah untuk kasus stroke. Namun dalam beberapa hal, CT scan kurang sensitif dibanding dengan MRI, misalnya pada kasus stroke hiperakut. Untuk memperkuat diagnosis biasanya dilakukan pemeriksaan CT scan atau MRI. Kedua pemeriksaan tersebut juga bisa membantu menentukan penyebab dari stroke, apakah perdarahan atau tumor otak. Kadang dilakukan angiografi yaitu penentuan susunan pembuluh darah/getah bening melalui kapilaroskopi atau fluoroskopi. 6. Penanganan Stroke Penderita stroke biasanya diberikan oksigen, dipasang infus untuk memasukkan cairan dan zat makanan, diberikan manitol atau kortikosteroid untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan di dalam otak pada penderita stroke akut Jika mengalami serangan stroke, segera dilakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah penyebabnya bekuan darah atau perdarahan yang tidak bisa diatasi dengan obat penghancur bekuan darah. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kelumpuhan dan gejala lainnya bisa dicegah atau dipulihkan jika recombinant tissue plasminogen activator (RTPA) atau streptokinase yang berfungsi menghancurkan bekuan darah diberikan dalam waktu 3 jam setelah timbulnya stroke.

Antikoagulan juga biasanya tidak diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi dan tidak pernah diberikan kepada penderita dengan perdarahan otak karena akan menambah risiko terjadinya perdarahan ke dalam otak. Penderita stroke biasanya diberikan oksigen dan dipasang infus untuk memasukkan cairan dan zat makanan. Pada stroke in evolution diberikan antikoagulan (misalnya heparin), tetapi obat ini tidak diberikan jika telah terjadi completed stroke. Pada completed stroke, beberapa jaringan otak telah mati. Memperbaiki aliran darah ke daerah tersebut tidak akan dapat mengembalikan fungsinya. Karena itu biasanya tidak dilakukan pembedahan. Pengangkatan sumbatan pembuluh darah yang dilakukan setelah stroke ringan atau transient ischemic attack, ternyata bisa mengurangi risiko terjadinya stroke di masa yang akan datang. Sekitar 24,5% pasien mengalami stroke berulang. Untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan di dalam otak pada penderita stroke akut, biasanya diberikan manitol atau kortikosteroid. Penderita stroke yang sangat berat mungkin memerlukan respirator (alat bantu bernapas) untuk mempertahankan pernafasan yang adekuat. Di samping itu, perlu perhatian khusus kepada fungsi kandung kemih, saluran pencernaan dan kulit (untuk mencegah timbulnya luka di kulit karena penekanan). Stroke biasanya tidak berdiri sendiri, sehingga bila ada kelainan fisiologis yang menyertai harus diobati misalnya gagal jantung, irama jantung yang tidak teratur, tekanan darah tinggi dan infeksi paru-paru. Setelah serangan stroke, biasanya terjadi perubahan suasana hati (terutama depresi), yang bisa diatasi dengan obatobatan atau terapi psikis.

7. Prognosis Ada sekitar 30%-40% penderita stroke yang masih dapat sembuh secara sempurna asalkan ditangani dalam jangka waktu 6 jam atau kurang dari itu. Hal ini penting agar penderita tidak mengalami kecacatan. Kalaupun ada gejala sisa seperti

jalannya pincang atau berbicaranya pelo, namun gejala sisa ini masih bisa disembuhkan. Sayangnya, sebagian besar penderita stroke baru datang ke rumah sakit 48-72 jam setelah terjadinya serangan. Bila demikian, tindakan yang perlu dilakukan adalah pemulihan. Tindakan pemulihan ini penting untuk mengurangi komplikasi akibat stroke dan berupaya mengembalikan keadaan penderita kembali normal seperti sebelum serangan stroke. Upaya untuk memulihkan kondisi kesehatan penderita stroke sebaiknya dilakukan secepat mungkin, idealnya dimulai 4-5 hari setelah kondisi pasien stabil. Tiap pasien membutuhkan penanganan yang berbeda-beda, tergantung dari kebutuhan pasien. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 6-12 bulan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Rumantir CU. Pola penderita Stroke Di Lab/UPF Ilmu Penyakit Saraf

Fakultas Kedokteran Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung

periode 1984-1985. Laporan Penelitian Pengalaman Belajar Riset Dokter Spesialis Bidang Ilmu Saraf. 1986. 2. Chusid JG, deGroot J. Correlative Neuroanatomy. 20th Edition. United States of America: Appleton & Lange, 1988.
3. Baehr M, Frotscher M. Blood Supply and Vascular Disorders of the Central

Nervous System In Duus Topical Diagnosis in Neurology 4th Completely Revised Edition. New York: Thieme, 2005. 443-445.
4. Toole JF. Cardiac Causes of Cerebral Ischemia in Cerebrovaskular Disorders

3th. New York: Raven Press, 1984.168-171