Anda di halaman 1dari 13

1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Fisiologi mempelajari fungsi organ organ tubuh atau fungsi keseluruhan organisme.

. Organ artinya alat alat tubuh seperti hati, paru paru, insang, jantung, ginjal yang merupakan bagian tubuh hewan sedangkan pada tumbuhan oragn antara lain meliputi akar, batang, daun, bunga. Organ organ tersebut menyusun suatu organisme yaitu makhluk hidup baik yang makroskopik (berukuran besar, dapat dilihat dengan mata manusia tanpa bantuan alat) maupun yang mikroskopis (berukuran kecil, tidak dapat dilihat dengan mata manusia tanpa bantuan alat). Fisiologi mencakup pembahasan tentang apa yang dilakukan oleh makhluk hidup dan bagaimana mereka melakukan agar mereka lulus hidup dan dapat mengatasi berbagai tantangan dari lingkungan hidupnya sehingga mereka dapat beradaptasi dan memppertahankan eksistensinya. (Fujaya, 2004) Keberhasilan suatu organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi mencerminkan keseluruhan toleransinya terhadap seluruh kumpulan variabel lingkungan yang dihadapi organisme tersebut. Artinya bahwa setiap organisme harus mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungannya. Adaptasi tersebut berupa respon morfologi, fisiologis dan tingkah laku. Pada lingkungan perairan, faktor fisik, kimiawi dan biologis berperan dalam pengaturan homeostatis yang diperlukan bagi pertumbuhan dan reproduksi biota perairan (Campbell, 2004). Dewasa ini telah terjadi penurunan mutu sumber daya air, baik perairan tawar, perairan payau maupun perairan laut. Sebagai contoh adalah penurunan mutu air sungai. Sungai yang dulu berfungsi untuk mengalirkan air dari hulu ke

2 hilir atau menyalurkan air hujan yang jatuh di daratan ke lautan, sekarang berubah fungsi menjadi tempat pembuangan berbagai macam sampah dan bahan pencemar. Sampah dan bahan pencemar yang masuk ke sungai berasal dari limbah yang dihasilkan oleh berbagai jenis industri yang umumnya berlokasi di sepanjang aliran sungai. Limbah ini dapat berasal dari industri pertanian, rumah tangga, dan lain sebagainya (Kanisus, 2002).

1.2. Tujuan dan Manfaat Tujuan praktikum Pengamatan Menentukan Laju Pernafasan, Melihat Morfologi Insang Dan Jantung Ikan Beberapa Menit Setelah Mati Karena Pencemaran serta Menentukan Laju Denyut Jantung Pada Ikan ini adalah untuk menentukan berapa laju pernafasan dan laju denyut jantung ikan, serta mengamati pergerakan ikan pada saat terjadi pencemaran dan melihat morfologi insang dan jantung setelah terjadi pencemaran. Adapun manfaat dari praktikum ini adalah mengetahui bagaimana laju pernafasan dan laju denyut jantung serta dapat melihat morfologi insang & Jantung pada ikan. .

3 II. TINJAUAN PUSTAKA

Ikan Lele termasuk dalam jenis ikan air tawar dengan ciri ciri tubuh yang memanjang, agak bulat, kepala gepeng, tidak memiliki sisik, mulut besar, warna kelabu sampai hitam. Di sekitar mulut terdapat bagian nasal, maksila, mandibula luar dan mandibula dalam, masing-masing terdapat sepasang kumis. Hanya kumis bagian mandibula yang dapat digerakkan untuk meraba makanannya. Kulit lele dumbo berlendir tidak bersisik, berwarna hitam pada bagian punggung (dorsal) dan bagian samping (lateral). Sirip punggung, sirip ekor, dan sirip dubur merupakan sirip tunggal, sedangkan sirip perut dan sirip dada merupakan sirip ganda. Pada sirip dada terdapat duri yang keras dan runcing yang disebut patil. Patil lele dumbo tidak beracun (Suyanto 2007). Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) termasuk kedalam Phylum: Chordata, Kelas: Pisces, Sub Kelas: Teleoistei, Ordo: Ostariophysi, Sub Ordo: Siluroidae, Family: Claridae, Genus: Clarias, Spesies: Clarias gariepinus. Pada mulanya nama ilmiah ikan Lele Dumbo adalah Clarias fuscus dan kemudian diganti menjadi Clarias gariepinus. Pengganti nama ini berdasarkan atas sifatsifat induk jantan yang dominan diturunkan kepada anaknya. Dari hasil penyilangan itu ternyata keturunan ikan Lele yang dihasilkan mempunyai sifatsifat yang unggul (Kurniawan, 2009). Menurut Darmadi (2009) Sistem pernapasan adalah proses pengikatan oksigen (O2) dan pengeluaran karbon dioksida (CO2) oleh darah melalui permukaan alat pernapasan. Oksigen sebagai bahan pernapasan dibutuhkan oleh sel untuk berbagai reaksi metabolisme. Oleh karena itu, kelangsungan hidup ikan

4 sangat ditentukan oleh kemampuannya memperoleh oksigen yang cukup dari lingkungannya. Ikan lele mempunyai alat pernapasan berupa insang serta labirin sebagai alat pernapasan tambahannya. Alat pernapasan lele terletak di kepala bagian belakang. Insang pada ikan merupakan komponen penting dalam pertukaran gas. Insang terbentuk dari lengkungan tulang rawan yang mengeras dengan beberapa filamen insang di dalamnya. Setiap filamen insang terdiri atas banyak lamela yang merupakan tempat pertukaran gas ( Kurniawan, 2009) Bentuk alat pernapasan tambahan (labirin) ikan lele seperti rimbunan dedaunan. Labirin berwarna kemerahan yang terletak di bagian atas lengkung insang kedua dan keempat. Fungsi labirin ini mengambil oksigen dari atas permukaan air sehingga dapat mengambil oksigen secara langsung dari udara. Dengan alat pernapasan tambahan ini, ikan lele mampu bertahan hidup dalam kondisi oksigen (O2) yang minimum (Suyanto, 2002).

5 III. BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan tempat Praktikum Fisiologi Hewan Air dengan judul Menentukan Laju

Pernapasan, Melihat Morfologi Insang dan Jantung Ikan Beberapa Menit Setelah Mati Karena Pencemaran dan Menentukan Laju Denyut Jantung Pada Ikan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 11 Mei 2012, pukul 08.00 WIB s/d selesai yang bertempat di Laboratorium Biologi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau 3.2. Bahan dan Alat Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Wadah 3 Buah, Gunting bedah, Stopwatch, Nampan, Serbet, Alat tulis lengkap: Pensil, Penggaris, Penghapus, Buku penuntun praktikum dan Buku untuk menggambar hasil pengamatan yang telah dilakukan, Sedangkan bahan-bahan yang digunakan

dalam praktikum ini adalah Ikan Lele (Clarias garipienus) yang berjumlah 25 Ekor dan Bayclin. 3.3. Metode Praktikum Metode yang dipergunakan pada praktikum ini adalah metode langsung dimana objek diteliti dan diamati secara langsung secara makroskopis dan mikroskopis oleh praktikan guna diambil datanya sesuai dengan tuntunan yang terdapat didalam buku penuntun praktikum. 3.4. Prosedur Pratikum Ada 3 percobaan yang digunakan dalam praktikum keempat ini, prosedur percobaan tersebut adalah sebagai berikut :

6 Siapkan 4 buah Wadah ikan untuk masing-masing kelompok. Larutkan bahan pencemar 1ml kedalam wadah A, 2ml kedalam wadah B dan 3 ml ke dalam wadah C dan wadah 1 nya lagi dijadikan Kontrol. Masukkan ikan sample sebanyak 6 ekor kedalam masing-masing wadah tersebut. Aklimatisasi selama 10 menit pertama dan amati pergerakan ikan tersebut. Setelah 10 menit pertama hitung berapa bukaan mulut dan operculum pada masing-masing wadah Lalu diambil ikannya lalu di bedah kemudian di amati denyut jantungnya, amati juga morfologi insang dan jantungnya. Begitu juga pada 10 menit kedua, 15 menit pertama dan 15 menit kedua selanjutnya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Berdasarkan hasil pratikum mengenai Pengamatan Pergerakan Siripsirip Ikan dan Mekanisme Ikan Mengambil Makanan dan Laju Menghancur Makanan di Dalam Lambung diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut : Tabel 1. Laju Pernafasan waktu 10 menit pertama Kode ikan A 1ml B 2ml C 3ml D kontrol 10 menit kedua A 1ml B 2ml C 3ml D kontrol TL 80 mm 86 mm 95 mm 85 mm 83 mm 86 mm 90 mm 78 mm SL 70 mm 75 mm 80 mm 71 mm 70 mm 69 mm 80 mm 67 mm Bukaan Mulut 3 kali 4 kali 30 kali 8 kali 2 kali 3 kali 2 kali

Tabel 2. Morfologi insang dan jantung serta denyut jantung Kode Ikan TL SL
Denyut Jantung /menit Morfologi Insang Morfologi Jantung

A 1ml

83 mm

70 mm

112 kali

Merah pucat

Merah pudar Merah hati

B 2ml

86 mm

69 mm

117 kali

Merah pucat

8 C 3ml 90 mm 80 mm 107 kali Merah pucat D kontrol 78 mm 67 mm 155 kali Merah Merah pudar Merah hati

4.2. Pembahasan Dari hasil pengamatan yang dilakukan bahwa individu-individu ikan sebelum mengalami kematian akibat terkena limbah atau bahan pencemar biasanya akan memperlihatkan pergerakan atau tingkah laku yang berbeda ketika lingkungan hidupnya tercemar. Gerakan renang selalu tidak beraturan dan arahnya tidak menentu. Adakalanya pergerakan ikan itu akan membentur dinding stoples atau tempat dimana ikan itu berada yang akan mengakibatkan timbul luka pada permukaan tubuh sehinggga keadaan itu membantu mempercepat proses kematian individu ikan didalam stoples, keramba atau jaring apung. Karena pada saat itu kemampuan ikan untuk mengikat oksigen sudah semakin sulit dan sebagian bahan pencemar sudah terbawa darah keotak dan sistem syaraf (Campbell, 2004). Salah satu kebutuhan yang paling mendasar bagi kehidupan seekor ikan adalah harus adanya suplay oksigen yang cukup didalam jaringan. Oksigen ini diperlukan untuk melepas energi, melangsungkan oksidasi lemak dan gula. Energi yang terlepaskan dipergunakan untuk kegitan tubuh di dalam menjalani kehidupan, yang dikemukakan oleh Darmadi (2009). Djamal (2002) menyatakan bahwa pertukaran antara oksigen yang masuk kedalam darah dengan karbondioksida yang keluar dari darah terjadi dengan cara difusi pada pembuluh darah pada insang. Peredaran darah dalam filamen insang merupakan pertemuan anatara pembuluh darah yang berasal dari jantung yang

9 masih banyak mengandung karbondioksida dengan pembuluh darah yang akan meninggalkan filamen insang yang kaya akan oksigen. Difusi oksigen pada filamen insang dibantu oleh tekanan air yang terdapat pada rongga mulut dan air yang dipaksa keluar melalui insang (Soetjipta, 2003). Detergen memiliki efek beracun dalam air, karena detergen akan menghancurkan lapisan eksternal lendir yang melindungi ikan dari bakteri dan parasit. Deterjen juga dapat menyebabkan kerusakan pada insang. Kebanyakan ikan akan mati bila konsentrasi deterjen 15 bagian per juta. Deterjen dengan konsentrasi rendah, sekitar 5 ppm tetap dapat membunuh telur ikan (Djamal, 2002).

10

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah Bahan pencemar yang dimasukkan kedalam wadah mengakibatkan ikan mengalami gangguan pernafasan dan ikan tidak tahan terhadap pengaruh bahan pencemar dan mengakibatkan ikan mati. Semakin banyak bahan pencemar yang di masukkan ke dalam wadah maka ikan akan semakin cepat mengalami kematian. Morfologi insang dan jantung ikan yang telah terkena pengaruh polutan warnanya menjadi sangat pucat, dan denyut jantung, Bukaan Mulut serta Bukaan mulutnya mengalami perlambatan karena ikan sudah mulai stress.

5.2. Saran Agar asisten lebih membimbing praktikan dengan sungguh-sungguh supaya praktikan benar-benar memahami apa yang sedang dilakukan dan tujuan dari praktikum itu tercapai. Dan mohon dilengkapi sarana dan prasarana praktikum agar praktikum dapat berjalan dengan lancar.

11

DAFTAR PUSTAKA

Affandi, R., dan Tang, U. 2002. Fisiologi Hewan Air.University Riau Press. Riau.217 p. Campbell. 2004. Biologi, Edisi Kelima-Jilid 3. Jakarta. Penerbit Erlangga Darmadi. 2009. Laporan Praktikum Fisiologi Hewan (Operkulum Ikan). Bandung. Universitas Padjajaran. http://dharmadharma.wordpress.com/ diakses pada Kamis, 17 Mei 2012 pukul 16.10 WIB Djamal, Zoeraini.2002.Prinsip-Prinsip Ekologi dan Organisasi. Jakarta. Penerbit P.T Bumi Aksara Fujaya, Yusinta. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknologi Perikanan. PT Rineka Cipta, Jakarta. 179 hal. Kanisius. 2002. Polusi Air dan Udara. Yogjakarta. Penerbis Kanisius Kurniawan, Dolly. 2009. Studi Hematologi Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Yang Terdedah Pestisida Diazinon. Skripsi. Pekanbaru: FAPERIKA, Universitas Riau. Soetjipta. 2003. Dasar-dasar Ekologi Hewan. Yogjakarta. Penerbit Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sugiri, Suyanto, S. R . 2002. Budidaya Ikan Lele. Jakarta: Penebar Swadaya. 100 halaman.

12

LAMPIRAN
1.Alat-alat Yang Digunakan Selama Praktikum

Buku Penuntun

Buku Gambar

Pensil

pengapus

Nampan / Baki

Serbet

Gunting bedah

Stopwatch

13

2. Bahan-bahan yang dipratikumkan

Ikan Lele (Clarias gariepinus)

Bayclin