Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEBIDANAN III (NIFAS)

Kasus : P30003, Nifas Normal 2 Hari PP, Anak Pertama = 6 Th, Anak Kedua = 2 Th, dengan Keluahan After Pain, dan Kebutuhan Perawatan Payudara dan Senam Nifas.

Kelompok 3/ Semester III A

Akademi Kebidanan Siti Khodijah Muhammadiyah Sepanjang


Jl. Raya Rame Pilang No.4 Wonoayu Sidoarjo Asuhan Kebidanan Masa Nifas Pada Ny. Fitriana P30003 Nifas Normal Hari ke- 2 Jam 08.00 WIB; Di BPS Harapan Bunda ; Tanggal 13 Oktober 2011 Oleh : Siti Khodijah Alif I. PENGKAJIAN A. Data histori 1. Identitas pasien Nama : Ny. Fitriana Umur : 21 tahun Pekerjaan : Guru SD Pendidikan : S1PGSD Suku bangsa : jawa Alamat : jl. Tropodo I-Sidoarjo Agama : islam No. Telp : 08563875577557 2. Keluhan utama Sangat mules ( After Pain ) 3. Riwayat keluhan utama

Nama suami : Tn.Wawan Umur : 25 tahun Pekerjaan : guru SMA Pendidikan : S1 Suku bangsa : jawa Alamat : lebo-Wonoayu Agama : islam No. Telp : 0812436767654

Ibu mengatakan sangat mules pada perut bagian bawah sejak 1 hari melahirkan, dirasa sangat nyeri jika meneteki bayinya, karena ketidaknyamanan ini ibu tidak bisa tidur nyenyak selama 2 hari setelah melahirkan, ibu mencoba meringankannya dengan sedikit memijat-mijat perutnya dan diberi minyak kayu putih. 4. Riwayat penyakit sekarang Ibu mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit apapun, seperti darah tinggi, kejang, jantung, ashma, TBC, kencing manis, dll 5. Riwayat penyakit yang lalu Ibu mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit apapun, seperti darah tinggi, kejang, jantung, ashma, TBC, kencing manis, dll 6. Riwayat penyakit keluarga Ibu mengatakan tidak ada keluarga yang memiliki riwayat penyakit apapun, seperti darah tinggi, kejang, jantung, ashma, TBC, kencing manis, dll 7. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu Ibu mengatakan: Anak pertama laki-laki lahir dengan normal, spontan di bidan dengan UK 9 bulan, sekarang berusia 6 tahun, BB lahir 3.2 kg, PB 40 cm. Meneteki selama 6 bulan. Setelah 6 bulan dengan MPASI. Nifas normal tidak ada perdarahan. Menggunakan KB suntik 3 bulan sekali setelah anak berusia 1 tahun. Anak kedua perempuan lahir normal, spontan, di bidan dengan UK 9 bulan, sekarang berusia 2 tahun, BB lahir 3,5 kg, PB 39 cm. Meneteki selama 6 bulan, setelah 6 bulan dengan MPASI, nifas normal tidak ada perdarahan. Setelah kelahiran anak kedua, menggunakan KB alami. 8. a. b. Riwayat kehamilan, persalinan sekarang Riwayat kehamilan sekarang Kehamilan ketiga UK 9 bulan 1 hari Tidak ada kelainan yang berpengaruh pada masa nifas selama hamil Riwayat persalinan Tanggal/jam persalinan : 11 Oktober 2011/ 10.00 WIB Tempat/penolong : BPS Harapan Bunda/Bd. Nusaibah Tipe persalinan : Normal (spontan) Kelainan/penyulit : Tidak ada Lama persalinan : Kala I= 3 jam, kala II = 15 menit, kala III= 7 menit. Total 3 jam 22 menit Keadaan jalan lahir Perineum : Intake Keadaan ketuban Pecah tanggal/jam : 11 Oktober 2011/07.00 WIB Warna : Jernih Volume : Dalam batas normal Keadaan plasenta Lahir tanggal/jam : 11 Oktober 2011/10.15 WIB Berat : 500 gr

Robekan selaput : Robekan rata Insersi tali pusat : Lateralis Jumlah/ kelengkapan kotiledon: Lengkap (20 kotiledon) Kelainan lain : Tidak ada Jumlah perdarahan : 200 cc Pengobatan yang diberikan : Syntocinon (10 IU) IM Keadaan bayi Jenis kelamin : Perempuan BB/TB : 3500 gr/50 cm Hidup/mati : Hidup Apgar score :8 Kesadaran : Menangis Kuat Kelainan lain : Tidak ada.

9. Kebutuhan sehari-hari selama nifas a. Ambulasi/mobilisasi dini Ibu mengatakan sudah bisa miring-miring di tempat tidur, duduk untuk meneteki, berdiri, dan jalan-jalan dengan pelan disekitar rumah. Ibu belum bisa melakukan aktivitas berat seperti kembali bekerja, dan menyelesaikan pekerjaan rumah misalnya mencuci baju, masak, dsb. b. Kebutuhan nutrisi dan cairan Ibu mengatakan sudah makan dengan porsi sedikit (1/2 piring) dengan nasi satu potong ikan dan minum air putih satu gelas selama 1 hari setelah melahirkan, dan hari berikutnya ibu sudah bisa makan 1 piring dalam sehari 3x makan, dan tidak ada pantangan terhadap makanan. c. Kebutuhan Eliminasi Ibu mengatakan BAK sering kira-kira 5 kali sehari, lancar, tetapi ibu belum BAB sampai saat ini.

d. Kebutuhan tidur dan istirahat Ibu mengatakan sulit tidur malam karena harus menyusui bayinya ditambah rasa mules yang berlebihan, hanya tidur 5 jam saja dalam sehari. e. Aktivitas Ibu mengatakan sudah melakukan aktivitas jalan-jalan dan mandi, tapi masih belum bisa melakukan pekerjaan rumah karena keluhan mules yang berlebihan, apalagi ketika menyusui. f. Personal Hygiene Ibu mengatakan sudah mandi 2x sehari, sikat gigi 2x sehari, cuci rambut 2 hari 1x, ganti pembalut 3x sehari, dan perawatan vulva hygiene setiap selesai BAK dan mandi. 10. Data psikososial 1. Komunikasi non verbal : Wajah ibu masih terlihat lelah, dan menjawab pertanyaan dari petugas dengan kooperatif. 2. Komunikasi verbal

Ibu mengatakan : Ini kelahiran anak ketiga dan direncakan Suami dan keluarga menerima dengan kelahiran anak ketiga ini Dengan suaminya telah mempersiapkan sibling bagi anak pertama dan kedua Tinggal bersama suami dan anak-anak dalam satu rumah dan terpisah dengan orang tua Akan memberikan ASI pada anak ketiga sampai usia 2 tahun seperti anak pertama dan kedua Akan berusaha merawat ketiga anaknya dengan mandiri tanpa merepotkan orang tua dengan berbagi tugas dengan suaminya.

3. Perubahan psikologis Ibu dalam fase taking in, dimana ibu masih sibuk memikirkan dirinya sendiri sehingga masih membutuhkan bantuan suami dan ibunya untuk merawat kedua anaknya yang lain, tapi ibu bisa merawat bayinya sendiri menurut pengalaman kedua anak sebelumnya. 11. Pengetahuan dan kemampuan ibu tentang a. Perawatan tali pusat Ibu mengatakan sudah mengetahui cara merawat tali pusta yang benar yaitu dengan cara menutup tali pusat dengan kasa kering dan menggantinya tiap kali mandi, dan tidak boleh diberi alkhohol. b. Memandikan bayi Ibu mengatakan sudah mengetahui cara memandikan bayinya yaitu setiap pagi dan sore dengan menggunakan air hangat. Mengganti baju bayi setiap kali mandi atau jika basah karena BAK atau BAB. c. Perawatan Payudara Ibu mengatakan membersihkan payudaranya dengan menyabun tiap kali mandi.

d. Cara meneteki yang bernar Ibu mengatakan sudah mengetahui cara meneteki yang benar, yaitu biasanya dengan posisi ibu duduk/ setengah duduk, dimana posisi kepala bayi tidak boleh menoleh kearah payudara tapi harus sejajar dengan badannya agar bisa menelan, kemudian payudara bagian areola harus masuk kemulut bayi, serta hidung bayi tidak boleh tertekan oleh payudara. e. Vulva hygiene Ibu mengatakan sudah tahu tentang cebok yang benar yaitu dari depan ke belakang kemudian mengeringkannya dengan handuk bersih. Mengganti pembalut minimal 3 kali sehari atau jika terasa penuh. Hubungan seksual Ibu mengatakan sudah mengerti hubungan seksual dilakukan setelah masa nifas dilakukan setelah 40 hari/ setelah darah bersih.

f.

g.

Pemeriksaan ulang Ibu mengatakan datang ke bidan 5 hari lagi untuk periksa ulang. Dan kunjungan berikutnya sebanyak 2 kali yaitu setelah 2 minggu dan 6 minggu pasca melahirkan. Kapan boleh hamil lagi Ibu mengetahui boleh punya anak setelah anak minimal umur 2 tahun, namun ibu mengatakan cukup dengan 3 anak tidak ingin menambah anak lagi. Tanda bahaya masa nifas dan bayi baru lahir Ibu mengatakan sudah mengetahui tanda bahaya masa nifas dan bayi baru lahir yaitu jika terjadi perdarahan yang berlebihan, pusing yang menetap, demam dsb, segera lapor ke bidan, sedangkan jika tanda bahaya pada bayi yaitu jika terjadi diare, bayi menangis terus menerus, suhu badannya meningkat atau menurun, dsb. Kapan menghubungi bidan bila ada tanda bahaya nifas Ibu mengatakan harus menghubungi bidan segera jika ada keluhan yang tidak normal, misalnya pusing yang menetap, perdarahan yang banyak, dan demam.

h.

i.

j.

k. Nutrisi Ibu Nifas Ibu mengatakan selama nifas harus makan dan minum yang lebih banyak yaitu makan bisa lebih dari 3x dalam sehari supaya ASI lancar. l. Senam Nifas Ibu mengatakan sudah pernah diajarkan senam nifas, namun belum pernah dilakukan. Ibu mengetahui tentang senam nifas dengan melakukan senam kegel, dimana ibu mudah melakukannya kapan saja dan dimana saja dengan cara seperti menahan kencing, dilakukan berkali-kali, memiringkan panggul, berbaring terlentang dengan lutut ditekuk, mengangkat kaki bergantian dan memutar pergelangan kaki.

m. Sibling Ibu mengatakan sudah mengenalkan adik barunya pada anak pertama dan kedua, dengan melibatkannya ketika menyusui. Dan membagi waktu untuk berbagi kasih sayang dengan cara tetap menemani kedua anaknya belajar. n. Mobilisasi Ibu mengatakan sudah mengetahui aktivitas yang harus dilakukan setelah melahirkan yaitu ibu sudah miring-miring, duduk untuk menyusui, jalan-jalan namun hanya didalam rumah saja.

o. Kebutuhan Vitamin dan obat-obatan Ibu mengatakan sudah mengetahui vitamin dan obat apa saja yang harus diminum, yaitu minum vitamin A dan tablet Fe. p. KB Ibu mengatakan sudah mengetahui kapan harus melakukan KB, yaitu jika menyusui dilakukan setelah 6 minggu/ 40 hari setelah melahirkan, namun jika tidak menyusui segera setelah 3 minggu melahirkan, dengan suntik KB yang tidak mempengaruhi produksi ASI. B. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan keadaan umum Kesadaran = compos mentis TTV TD = 110/70 N = 88x/ mnt RR = 16x/ S = 36,6 oC Kulit : Ibu mengatakan sudah tidak mengalami gatal-gatal didaerah perut, seperti saat kehamilan : striae lividae sudah sudah menjadi striae albicans, linea nigra sudah tidak hiperpigmentasi Muka dan kepala : Ibu mengatakan tidak pusing atau nyeri didaerah kepala, dan tidak ada keluhan lain di kepala. : Rambut bersih, kulit kepala bersih, tidak ada lesi, tidak ada benjolan abnormal, tidak ada nyeri tekan. Wajah ibu bersih, tidak pucat, tidak ada odem pada wajah. Mata : Ibu mengatakan pandangannya tidak kabur dan berkunang-kunang. : Warna konjungtiva merah muda, sclera putih, dan tidak ada odem palpebral. Hidung : Ibu mengatakan tidak ada keluhan mengalami pilek atau hidung tersumbat, atau mimisan : tidak dikaji Mulut dan tenggorokan : Ibu mengatakan giginya tidak berlubang, tidak ada sariawan, tidak ada nyeri saat menelan . : Warna bibir merah muda dan lembab, tidak ada lesi, tidak ada pembesaran tonsil, dan tidak ada karies gigi. Leher : Ibu mengatakan tidak ada nyeri telan : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada pembesaran kelenjar.sub mandibularis dan tidak ada bendungan vena jugularis. Buah dada/payudara : Ibu mengatakan tegang, payudara terasa penuh dan lecet diputing susu. : Payudara simetris , putting dan areola kotor, putting menonjol, tidak ada benjolan abnoramal, konsistensi kenyal, tidak ada pembesaran pada kel axial, ADI sudah keluar pada payudara kanan dan kiri.

1.

2. ROS Obs 3. ROS Obs

4. ROS Obs 5. ROS Obs 6. ROS Obs

7. ROS Obs

8. ROS Obs

9. ROS Obs

Abdomen GIT : ibu mengatakan tidak kembung, dan sudah kentut. : tidak ada pembesaran hepar, tidak ada nyeri tekan pada apendiks, tidak kembung, terdapat tahanan keras (penumpukan skibala), terdengar suara bising usus (tympani)

10. Abdomen obstetri ROS : Ibu mengatakan perut sangat mules. Obs : Kandung kemih kosong, TFU 3 jari dibawah pusat, teraba keras, linea alba, striae albican. 11. Genetalia eksterna ROS : Ibu mengatakan darah yang keluar masih banyak dan berwarna merah tua, Obs : Lochea kruenta, bau anyir, jumlahnya 1 kotex penuh, tidak ada odema pada vulva, perineum intake. 12. Ekstrimitas atas ROS : ibu mengatakan tidak ada gangguan pada pergerakan tangan, dan keluhan lain. Obs : Tidak ada odema, kuku bersih, warna dasar kuku merah muda, dan akral hangat. 13. Ekstrimitas bawah ROS : ibu mengatakan tidak ada gangguan pada pergerakan kaki, dan tidak ada keluhan lain. Obs : Tidak ada odema, kuku bersih, warna dasar kuku merah muda, dan akral hangat, dan tidakada tanda houman. C. Pemeriksaan penunjang Hb Shl= 11%gr Protein urine = Negatif Reduksi urine = Negatif D. Pengobatan atau tindakan yang sudah didapat -

II. Diagnosa kebidanan P30003 nifas normal hari ke-2 Keluhan Fisiologis : After pain ( mulas berlebihan ) Masalah :Kebutuhan : Perawatan payudara Senam nifas DS : Ibu mengatakan Ibu mengatakan ini adalah anak ke-3 dan direncanakan. Ibu mengatakan anak pertama lahir aterm sekarang berumur 6 th, dan yang kedua lahir aterm sekarang berumur 2 th, sehat sampai sekarang. Ibu mengatakan perutnya terasa sangat mules, terutama ketika meneteki. Ibu mengatakan merawat payudara dengan menggunakan sabun saat mandi. Ibu mengatakan sudah pernah diajarkan senam nifas, tapi lupa. DO : Dari hasil pemeriksaan didapatkan : K/U ibu baik

Kesadaran ibu = Kompos mentis TTV TD = 110/70 mmHg N = 88x/ mnt RR = 16x/mnt S = 36,6 oC Ibu melahirkan tanggal 11 oktober 2011, pukul 10.15 WIB, spontan dgn letak bayi letak belakang kepala, perempuan dengan BB = 3500 gram, PB 50 cm. Leher : Tidak ada bendungan vena jugularis, tidak ada nyeri telan, dan pembesaran kelenjar tyroid dan sub mandibularis. Mata : Konjungtiva berwarna merah muda, sclera putih, tidak ada odem palpebral. Payudara : simetris, konsistensi kenyal, putting susu menonjol, tidak ada benjolan abnormal, air susu sudah keluar pada payudara kanan-kiri. Abdomen obstetric : kandung kemih kosong, TFU 3 jari dibawah pusat, teraba keras. Genetalia Eksterna : Lochea Kruenta, jumlahnya 1 softek penuh, basah, tidak ada bekas jahitan. Ekstremitas atas dan bawah : tidak ada gannguan perggerakan tangan dan kaki, akral hangat, tidak ada odema, tidak ada tanda houman atau infeksi dan varises kaki.

III. Perencanaan atau intervensi Tujuan jangka pendek Selama dilakukan asuhan kebidanan selama 1 jam diharapkan ibu mengerti tentang kondisi saat ini dan informasi kebutuhan masa nifas ibu terpenuhi dengan kriteria hasil : Ibu dapat menjelaskan kembali tentang kondisinya saat ini. Ibu dapat menjelaskan lagi penyebab keluhan after pain, dan cara penannganannya. Ibu dapat menjelaskan cara merawat payudara yang benar. Ibu dapat menjelaskan kembali mengenai manfaat, cara, dan kapan dilakukan senam nifas. Tujuan jangka panjang Setelah dilakukan auhan kebidanan selama 1minggu diharapkan keluhan ibu teratasi, informasi yang belum didapatkan terpenuhi, kebutuhan perawatan payudara dan senam nifas terpenuhi dan nifas berjalan normal, dengan kriteria hasil : Ibu dapat beradaptasi dan dapat mengatasi keluhan afterpain sehingga tidak mengeluh kembali. Payudara ibu tidak kotor, dan ibu dapat merawat payudara secara mandiri sehingga ASI dapat keluar dengan lancar, dan proses menyusui berjalan lancar. Ibu sudah dapat melakukan senam nifas secara mandiri setiap hari selama 15 menit/ 2-3 kali dalam seminggu. Rencana Tindakan Jelaskan pada ibu mengenai kondisinya saat ini R/ penjelasan yang lengkap dapat mengurai kecemasan ibu Jelaskan penyebab, dan cara meringankan keluhan after pain, dan hal ini adalah fisiologis seiring ibu masih menyusui bayinya. R/ adaptasi terhadap keluhan after pain, dapat mengurangi kecemasan, sehingga proses menyusui juga berjalan lancar. Jelaskan dan ajarkan pada ibu mengenai cara merawat payudara dengan benar. R/ perawatan payudara yang benar dapat mencegah terjadinya putting susu lecet dan sumbatan kotoran pada putting susu sehingga ASI dapat keluar dengan lancar. Jelaskan pada ibu mengenai manfaat, kapan, dan ajarkan cara melakukan senam nifas. R/ dapat mempercepat involusi, dan mengencangkan otot-otot panggul dan perut.

IV. Implementasi Menjelaskan pada ibu tentang kondisi ibu saat ini dalam keadaan baik. Dengan TTV : TD = 110/70; N = 88x/ mnt; RR = 16x/ ; S = 36,6 oC Menjelaskan tentang keluhan after pain (mules berlebihan) adalah suatu ketidaknyamanan fisiologis yang disebabakan oleh kontraksi uterus yang berlebihan, dan ibu menyusui bayinya yang mengakibatkan keluar hormone yang mempengaruhi kontraksi rahim. Hal ini dapat hilang setelah hari ke-3 atau 4 setelah persalinan. Jika terjadi nyeri yang bertambah, segera laporkan ke petugas kesehatan. Menjelaskan cara merawat payudara, menggunakan baby oil atau minyak goreng yang masih baru, diletakkan pada kapas, kemudian ditempelkan pada putting susu selama 3-5 menit, lalu bersihkan dengan menggunakan air hangat, selanjutnya dengan air dingin supaya kerak pada putting susu dapat terangkat. Dan jika setelah menyusui sisa ASI dioleskan diputing susu dan sekitarnya untuk mencegah lecet putting Menjelaskan manfaat senam nifas yaitu :

Untuk mengurangi rasa sakit pada otot-otot, memperbaiki peredaran darah, mengencangkan otot, melancarkan pengeluaran lochea, mempercepat involusi, menghindarkan dari kelainan mislanya perdarahan. Senam nifas dilakukan dapat dilakukan pada hari ke-2 setelah melahirkan, juga dapat dilakukan senam kegel dan latihan pernafasan. Mengajarkan ibu cara melakukan senam nifas yaitu sebagai: Tidur terlentang kaki diangkat pelan setinggi yang dapat dicapai, bergantian antara kanan dan kiri. Kaki diturunkan secara perlahan, Kaki, (tumit dan telapak kaki ) diputar-putar kearah lurus tempat tidur, tumit ditempatkan pada tempat tidur, dengan tangan disamping menarik nafas panjang melalui perut (jangan mengembangkan dada), menghitung sampai 15 kali. Dengan telentang dagu ditundukkan hingga mengenai dada, tanpa menggerakkan bagian lain. Dengan tidur terlentang, lengan dilipatkan pada dada atau menekan tempat tidur perlahanlahan duduk dengan kaki selonjor rapat dan lurus.

V. Evaluasi S O A = Ibu mengatakan : Sudah mengetahui tentang kondisinya saat ini Mengetahui tentang penyebab dan cara mengatasi keluhan mulas berlebihan Mengetahui tentang cara merawat payudara yang benar. Mengetahui manfaat senam nifas dan cara melakukan senam nifas.

= Ibu dapat menjelaskan kembali tentang : Kondisinya setelah melahirkan saat ini Penyebab dan cara mengatasi keluhan mulas berlebihan Cara merawat payudara yang benar, dan dapat memperagakan cara perawatannya dengan benar Manfaat senam nifas, kapan dilakukan senam nifas dan cara melakukan senam nifas. = Ibu PP hari ke- 2 telah mendapatkan informasi tentang kondisinya saat ini, penyebab dan cara mengatasi keluhan mulas berlebihan, cara merawat payudara dan memperagakannya dengan benar, mengetahui manfaat serta cara melakukan senam nifas dan mempraktikkan senam nifas.

P = Motivasi ibu untuk merealisasikan informasi yang dilakukan oleh petugas kesehatan/ bidan. Motivasi ibu untuk melakukan perawatan payudara secara mandiri dan rutin. Motivasi ibu untuk terus menyusui bayinya hingga 6 bulan dengan ASI eksklusif. Motivasi ibu untuk melakukan senam nifas pada pagi hari selama 15menit di rumah. Anjurkan ibu untuk datang kembali setelah 5 hari atau sewaktu-waktu jika ada keluhan.

Sidoarjo, 13 Oktober Penguji I

Pemberi Asuhan

Hanik Machfudloh

Siti Khodijah Alif

OBSTETRI PATHOLOGI
Gangguan Jalan Lahir (NIFAS)

Disusun Oleh:
Eka Sari P Erna Maya D Elida Syahwia Siyam Fitriah Tiya Arisma Tri Aning S (2010.) (2010.) (2010.) (2010.1215) (2010.1216) (2010.1217)

AKADEMI KEBIDANAN SITI KHODIJAH MUHAMMADIYAH

SEPANJANG SIDOARJO Jl. Raya rame Pilang No.04 Wonoayu Sidoarjo

2011 2012
KATA PENGANTAR

Puji Syukur senantiasa kami kirimkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan kami kesehatan, kesempatan, dan kemauan hingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat dan taslim tak lupa pula kami kirimkan ke junjungan Nabi besar Muhammad SAW. Nabi yang telah membawa kita kembali ke jalan Allah SWT,hingga kita dapat menikmati indahnya Dinul Islam . Makalah ini berisi tentang Gangguan jalan lahir pada post partum, antara lain kerusakn pada perineum, vulva, cervix dan rupture uteri. Kami mengucapkan banyak terima kasih pada semua pihak yang telah turut membantu hingga makalah ini dapat terselesaikan .Terlepas dari itu semua ,kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan .Karena itu segala kritik dan saran yang mendukung guna makalah ini menjadi lebih baik ,sangat kami harapkan. Akhir kata ,mohon maaf bila ada kata kata dalam makalah ini yang menynggung perasaan dosen maupun kawan kawan.Karena kami tidak lepas dari kesalahan.

Sidoarjo, Januari 2012

Penyusun

PENDAHULUAN
Persalinan sering mengakibatkan perlukaan jalan lahir. Luka-luka biasanya ringan, tetapi kadang-kadang terjadi juga luka luas dan berbahaya. Setelah persalinan harus dilakukan pemeriksaan vulva dan perineum. Luka yang luas bisa menyebabkan perdarahan pasca persalinan yaitu perdarahan lebih dari 500-600 ml dalam masa 24 jam setelah anak lahir.

Perdarahan yang berasal dari jalan lahir selalu harus di evaluasi, yaitu sumber dan jumlah perdarahan sehingga dapat diatasi sumber perdarahan yang berasal dari perineum, vagina dan robekan uterus (ruptura uteri). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya robekan jalan lahir, di antarnya adalah persalinan dengan distosia bahu, partus presipitatus, perluasan episiotomi, multiparitas, dan lain-lain. Perdarahan karena robekan jalan lahir banyak di jumpai pada pertolongan persalinan oleh dukun karena tanpa di jahit. Bidan di harapkan melaksanakan pertolongan persalinan secara legalitas di tengah masyarakat melalui polindes. Bidan dengan pengetahuan medisnya di harapkan bisa mengarahkan pertolongan persalinan dengan resiko rendah. Pertolongan persalinan resiko rendah mempunyai komplikasi ringan sehingga dapat menimbulkan perdarahan pun akan semakin berkurang.

PEMBAHASAN GANGGUAN JALAN LAHIR


ROBEKAN JALAN LAHIR
a. PENGERTIAN Robekan adalah terputusnya kontinyuitas jaringan.(Kamus Lengkap Kedokteran : 109)

b. Jalan lahir terdiri atas jalan lahir bagia keras dan jalan lahir bagian lunak yang harus di lewati oleh janin dalam proses persalinan pervaginam. (Ilmu Bedah Kebidanan : 1)

c.

Robekan jalan lahir adalah robekan yang selalu memberikan perdarahan dalam jumlah yang bervariasi banyaknya yang berasal dari perineum, vagina serviks, dan uterus. (Ilmu kebidanan, penyakit kandungan, & KB untuk pendidikan bidan : 308)

KLASIFIKASI

1. PERINEUM
a. Pengertian Perineum adalah bagian terendah badan yaitu sabuah garis yang

menyambung kedua tuberositas iskhil, membaginya menjadi daerah depan garis ini yaitusegitiga urogenital dan belakangnya ialah segitiga anal. (anatomi fisiologi , evelyn : 256) Robekan perineum sering juga mengenai musc. Levatores ani,hingga setiap robekan perineum harus dijahit agara tidak menimbulkan kelemahan dasar panggul atau prolaps. Kadang kadang musc. Levatores ani merusak dan menjadi lemah tanpa terjadinya ruptura perinei,misalnya kalau kepala terlalu lama meregang dasar panggul. Kadang juga terjadi kolpaporrhexis ialah robeknya vagina bagian atas hingga servix terpisah dari vagina. b. Etiologi 1. Secara umum Kepala janin terlalu cepat lahir Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya Sebelumnya pada perineum terdapat banyak jaringan parut Pada persalinan dengan distosia bahu 2. Faktor maternal Partus presipitatus yang tidak dikendalikan dan tidak di tolong Pasien tidak mampu berenti mengejan c. Partus di selesaikan secara tergesa-gesa dengan dorongan fundus yang berlebihan

Edema dan kerapuhan pada perineum Perluasan perineum 3. Faktor janin Bayi yang besar Posisi kepala bayi yang normal Kelahiran bokong Ekstraksi forsep yang sukar Distosia bahu

c. Tingkat robekan perineum A. Tingkat I : Robekan hanya terjadi pada selaput lendir vaginadengan atau tanpa

mengenai kulit perineum sedikit. B. Tingkat II : Robekan yang terjadi lebih dalam yaitu mengenai selaput lendir vagina

dan muskulus perinea trasvesalis tapi tidak mengenai sfingter ani C. Tingkat III otot-otot sfingter ani D. Tingkat IV : Robekan meluas keseluruh kulit perineum membran mukosa vagina, : Robekan yang terjadi mengenai seluruh perineum sampai mengenai

senrum tendineum perinei, sfingter ani dan mukosa rektum. (Ilmu Bedah Kebidanan :175)

d. Patofisiologi

Perineum kaku

Kesalahan memimpin

Kepala janin terlalu cepat lahir

Persalinan

Regangan Perineum

Robekan perineum

Tingkat I Tingkat II Tingkat III Tingkat VI

e. Penanganan dan Perawatan pasca persalinan Pada robekan derajat I T idak perlu di jahit karena akan kembali dan sembuh dengan sendirinya, pada robekan derajat II, III & IV Perlu di lakukan penjahitan. Apabila terjadi robekan tingkat IV berikan antibiotik profilaksis dosis tunggal :

Ampicilin 500 mg/oral DHN metronidazol 500 mg/oral Observasi tanda-tanda infeksi Jangan lakukan pemeriksaan rectal atau enema 2 mgg Berikan pelembut keses selama 1 mg/oral

2. VAGINA

ngertian
o

Vagina adalah saluran potensial yang terbentang dari vulva ke uterus yang berjalan ke atas dan ke belakang sejajar dengan pintu masuk pelvis dan dikelilingi serta di topang oleh otot-otot dasar pelvis.

Vagina adalah tabung berotot yang dilapisi membran dari jenis epitelium bergaris yang khusus, di aliri pembuluh darah dan serabut saraf secara berlimpah.

Robekan pada clitoris atau sekitarnya dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak.

asifikasi robekan jalan lahir pada vagina

KOLPOREKSI i. Pengertian Kolporeksi adalah suatu keadaan di mana terjadi robekan di pada vagina baian atas

sehingga sebagian serviks uteri dan vagina terlepas yang dapat memanjang atau melintang.

ii. Etiologi

1. Pada persalinan dengan EPD sehingga terjadi regangan segmen bahwa uttrus dengan servix uteri tidak terjepit antara kepala janin dan tulang panggul.

a sewaktu mengeluarkan placenta manual

aat coitus yang kasar di sertai kekerasan

han dalam memasukkan tangan oleh penolong ke dalam uterus.

iii. Komplikasi 1. Perdarahan terjadi jika robekan lebar, dalam, dan lebih mengenai pembuluh darah 2. Infeksi, jika robekan tidak ditangani dengan semestinya bahkan dapat timbul septikemi.

ROBEKAN DINDING VAGINA

Robekan dinding vagina adalah robekan pada dinding vagina yang mengenai pembuluh darah.

ii. Etiologi

Melahirkan janin dengan cunam

Ekstraksi bokong

Ekstraksi vakum

Reposisi presentasi kepala janin misal letak oksipito posterior

Akibat lepasnya tulang simfisis pubis (Simfisiolisis)

ama dengan kolporeksi

anganan

obekan kecil superfisial tidak perlu penanganan khusus 2. robekan lebar dan dalam, lakukan penjahitan secara teratur putus-putus atau jelujur 3. pada puncak vagina sesuai dengan kolporeksi yang penanganan sesuai dengan ruptur uteri.

PERLUKAAN VAGINA

ogi

ersalinan karena luka pada vulva robekan pembuluh darah vena di bawah kulit alat kelamin luar dan selaput lendir vagina

s perlukaaan vagina

Sering dijumpai pada waktu persalinan yang terlihat pada robekan kecil pada labium minus, vestibulum atau bagian belakang vulva, luka robekan dijahit dengan cara cutgut secara terputus adalah jelujur.

Karena robeknya pembulih vena yang ada dibawah pembuluh kulit alat kelamin luar dan selaput lendir vagina, terjadi pada kala pengeluaran. Diagnosa tidak terlalu sulit karena hematoma, terlibat dibagian yang lembek, membengkok dan disertai nyeri tekan. (Ilmu Bedah Kebidanan : 177-178)

3. Komplikasi

uai pembahasan di atas.

Penanganan 1. hematoma kecil tidak perlu tindakan operatif cukup dilakukan pengompresan daerah tersebut 2. jika ada tanda-tanda anemia, syok lakukan pengosongan 3. jahitan di buka kembali atau lakukan sayatan sepanjang bagian hematoma dan keluarkan jika ada bekuan 4. jika ada sumber perdarahan, ikat pembuluh darah vena atau arteri yang terputus 5. rongga diisi dengan kasa steril sampai padat 6. luka sayatan dijahit secara terputus-putus atau jelujur 7. pakailah drain 8. tampon dapat dibiarkan selama 24 jam 9. pasien diberi koagulasi + antibiotik sebagai profilaksis dan berikan ruborasia

SIKOVAGINAL

ula adalah hubungan abnormal antara dua organ atau lebih (bagian depan)

auma, menggunakan alat-alat (perforator, kait dekapitasi, cunam)

salinan lama

bekan cervix yang menjalar ke vagina bagian atas

da SC (vesika urinaria dan ureter dapat terpotong atau robek)

Yang disebabkan oleh trauma

alam vesika urinaria Jika ditemukan air kencing menetes kedalam vagina segera lakukan penjahitan luka yang terjadi lapis demi lapis (selaput lendir otot-otot dinding vesika urinaria dinding depan vagina) Kateter dapat dibiarkan selama beberapa waktu

Yang disebabkan oleh lepasnya jaringan nekrosis Gejala kelihatan setelah 3-10 hari post partum dan sering pada fistula yang kecil Pasang kateter tetap (untuk drainase vesika urinaria) selama beberapa minggu sehingga dapat menutup sendiri Jika pada fistula yan besar dapt dilukukan setelah 3-6 bulan PP

VAGINAL

i. Pengertian

istula recovaginal adalah lubang antara rectum dan vagina

Etiologi

akbeerhasilan perbaikan pada laserasi laserasi derajat ketiga

aksembuhan dari penjahitan (Ilmu bedah kebidanan : 175-182)

Penanganan Perbaikan operaif (Ilmu Bedah Kebidanan : 177-182)

3. CERVIX
a. Pengertian Cervix adalah leher rahim atau sesuatu yang berhubungan dengan leher. (Kamus Kedokteran :51) Robekan yang kecil kecil selalu terjadi pada persalinan. Yang harus mendapat perhatian kita ialah robekan yang dalam yang kadang kadang sampai ke fornix ; robekan biasanya terdapat pada pinggir samping servix malahan kadang kadang sampai ke S.B.R dan membuka parametrium. Robekan yang sedemikian dapat membuka pembuluh pembuluh darah yang besar dan menimbulkan pendarahan yang hebat. Robekan ini kalau tidak dijahit selain menimbulkan perdarahan juga dapat menjadi sebab servisitis,parametritis,dan mungkin juga memperbesar kemungkinan terjadinya karsinoma cervix. Kadang kadang menimbulkan perdarahan nifas yang lambat. b. Etiologi Robekan servix dapat terjadi pada : 1. Partus presipitatus 2. Trauma karena pemakaian alat-alat operasi (cunam, perforator, vakum ekstraktor) 3. Melahirkan kepala janin pada letak sungsang secara paksa karena pembukaan servix belum lengkap 4. Partus lama

c. Diagnosa robekan cervix Perdarahan PP pada uterus yang berkontraksi baik harus memaksa kita untuk memeriksa servix inspekulo. Sebagai profilaksis sebaiknya semua persalinan buatan yang sulit menjadi indikasi untuk memeriksakan inspekulo.

d. Komplikasi 1. perdarahan 2. syok

3. inkompetensi servix atau infertilitas sekunder

e. Penanganan menjahit robekan servix 1. Pertama-tama pinggir robekan sebelah kiri dan kanan di jepit dengan klem sehingga perdarahan menjadi berkurang atau berhenti 2. Kemudian sevix di tarik sedikit, sehingga lebih jelaskelihatan dari luar 3. Jika pinggir robekan bergerigi, sebaiknya sebelum di jahit pinggir tersebut diratakan dulu dengan jalan menggunting pinggir yang bergerigi tersebut. 4. Setelah itu robeka dijahit dengan cutgut cromik, jahitan dimulai dari ujung robekan dengan cara jahitan terputus-putus atau jahitan angka delapan 5. Pada robekan yang dalam, jahitan harus di lakukan lapis demi lapis. Ini dilanjutkan untuk menghindari terjadinya hematoma dalam rongga di bawah jahitan

4. RUPTURA UTERI
a. Pengertian Ruptura uteri adalah distrupsi dinding uterus yang merupakan salah satu kedaruratan obstetri. (Kedaruratan obsttrik : 169) Ruptura uteri adalh robekan atau diskontinuitas dinding rahim akibat dilampaui daya regang miometrium. (Pely. Kesh maternal neonatal : 169)

b. Faktor predisposisi 1. Multiparitas atau grandemulti 2. Pemakaian oksitosin persalinan yang tidak tepat 3. Kelainan letak dan implantasi plasenta 4. Kelainan bentuk uterus 5. Hidramnion

c.

Gejala ruptur uteri 1. Sewaktu konsentrasi yang kuat, pasien tiba-tiba merasa nyeri yang mengiris di perut bagian bawah 2. SBR nyeri sekali kalau di palpasi

3. HIS berhenti 4. Ada perdarahan pervagina, walaupun biasanya tidakbanyak 5. Bagian-bagian anak mudah diraba, kalau anak masuk ke dalam rongga perut 6. Kadang-kadang disamping anak teraba tumor ialah rahim yang telah mengecil 7. Pada toucher ternyata bagian depan mudah di tolak ke atas malahan kadang-kadang tidak teraba lagi karena masuk ke dalam rongga perut 8. Biasanya pasien jatuh dalam shock 9. Kalau ruptura sudah lama terjadi maka seluruh perut nyei dan gembung 10. Adanya kencing berdarah dapat membantu kita menentukan diagnosa kalau gejala-gejala kurang jelas

d. Etiologi 1. Parut uterus (SC, Miometrium, reaksi kornua, abortus sebelumnya) 2. Trauma Kelahiran operatif (versi, ekstraksi bokong, forsep) Perangsangan oksitosin yang berlebihan Kecelakaan mobil

3. Ruptura spontan uterus yang tidak berpaut (kontraksi uterus persisten pada kasus obstruksi pelvis) Disproporsi chepalo pelvic Malperentasi janin Anomali janin (hidrosefalus) Multiparitas tanpa penyebab lain Lelomioma uteri 4. Faktor-faktor lain Placenta akreta atau perkreta Kehamilan kornua Penyakit trofoblasik invasif

e. Klasifikasi ruptura uteri 1. Menurut waktu terjadinya

Ruptura uteri gravidarum Terjadinya sewaktu hamil dan berlokasi pada korpus Ruptura uteri durate partum Terjadinya waktu melahirkan anak dan berlokasi pada SBR. 2. Menurut lokasinya a. Korpus uteri Terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami dan operasi (SC) yang kolporal atau miomektomi b. SBR Terjadi pada partus yang sulit dan lama yatu tambah merenggang dan tipis dan akhirnya ruptur uteri. c. Servix uteri Terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forcep atau versi dan ekstraksi pada pembukaan lengkap. d. Kolpoporeksis kolporeksi Robekan diantara servix dan vagina.

3. Menurut robeknya peritoneum Kompleta Robekan pada dinding uterus peritoneum (parametrium) sehingga terdapat hubungan antara rongga perut dan uterus. Inkompleta Robekan pada otot rahim tapi peritonium tidak ikut robek. 4. Menurut etiologinya Ruptura uteri spontan Karena dinding rahim yang lemak atau cacat Misal : Bekas SC, miomektomi, perforasi saat kuretase, histerorafia, pelepasan plasenta manual Karena peregangan yang luar biasa dari rahim Misal : Panggul sempit, kelainan bentuk panggul, janin besar, DM, hidrops feralis, post maturitas, dan grandemulti. Ruptura violenta (traumatika)

Karena : Estraksi forsep, versi dan ekstraksi, embriotomi, versi braxton hicks, sindrom tolakah, manual placenta, kuretase, espresi kristeller atau crede. 5. Menurut gejala klinis Ruptura iminens (membakat, mengancam) Ruptura uteri (sebenarnya)

f.

Penanganan Ruptura Uteri

Mengatasi syok Perbaiki KU penderita dengan pemberian infus dan sebagaimana Kardiotonika, antibiotika dan sebagainya Jika sudah mulai membaik lakukan laparatomi dengan tindakan jenis operasi Histerektomi (total dan subtotal) Histerorafia (tepi luka di eksidir dijahit) Konservatif (dengan temporade dan antibiotaka yang cukup

PENUTUP
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA
FK UNPAD, 1981, Obstetri Patologi, Bandung. Mochtar, rustam, 1998, Patologi dan Fisiologi Persalinan, Yayasan Essensia Medica, Yogyakarta. Pearce, Evelyn, 2002, Anatomi Fisiologi untuk Paramedis, Gramedia, Jakarta. Prawirohardjo, Sarwono, 2002, Ilmu Bedah Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta. Prawirohardjo, Sarwono, 2002, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta. Prawirohardjo, Sarwono, 2002, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta. Syaifuddin, 1997, Kedaruratan Obsetri dan Ginekologi, ECG, Jakarta.