Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM ASIDI-ALKALIMETRI

Oleh : 1. 2. 3. 4. 5. Cara Rizky Devi Rosa Dyah Asih Setiatin Elling Wahyu Utomo (P 17434012006) (P 17434012007) (P 17434012008) (P 17434012009)

Estiadah Tri Nurmastuti (P 17434012010)

JURUSAN ANALIS KESEHATAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG TAHUN AJARAN 2012/2013

I.

JUDUL ASIDI-ALKALIMETRI

II.

TUJUAN Untuk membakukan atau mengetahui kadar normalitas suatu zat.

III. PRINSIP Asam bertemu basa, kemudian menggunakan indicator fenoftalin (PP) maka titik akhir titrasinya (TAT) akan berwarna merah muda.

IV. REAKSI Reaksi umum HX + LOH LX + H2O HCl + NaOH NaCl + H2O

V.

ALAT DAN BAHAN Alat : 1. Buret 2. Statif 3. Pipet ukur/pipet volum 4. Gelas ukur 5. Erlenmeyer 6. Corong Bahan (Alkalimetri) NaOH 0,1 N Indikator PP 1% Bahan (Asidimetri) - HCl 0.1 N - Indikator PP 1%

VI. DASAR TEORI

Suatu metode titrimetri untuk analisis didasarkan pada suatu reaksi kimia sepersamaan umum: aA tT produk

dimana a molekul analit A, bereaksi dengan t molekul reagen T. reagen T yang disebut titran, ditambahkan sedikit demi sedikit (secara inkremental), biasanya dari dalam buret, dalam bentuk larutan yang konsentrasinya diketahui. Untuk mengetahui penabahan titran yang tanggap

dihentikan dapat dapat digunakan zat kimia yang disebut Indakator

terhadap adanya titran berlebih yang ditunjukkan dengan adanya perubahan warna. Salah satu contoh metode analisis titrimetri adalah digunakan pada reaksi asam-basa. Tirasi asam basa merupakan teknik yang banyak digunakan untuk menetapkan secara tepat konsentrasinya dari suatu larutan asam atau basa. Titrasi ini pada dasarnya merupakan reaksi penetralan dan biasa juga disebut aside-alkalimetri. Jika larutan bakunya adalah asam disebut asidimetri dan jika larutan bakunya adalah basa disebut alkalimetri. Dalam titrasi asam basa, jumlah relative asam dan basa yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen ditentukan dengan perbandingan jumlah mol asam (H+) dan jumlah mol basa (OH-) yang bereaksi: Misalanya: HCl + NaOH Reaksi ionnya: H3O+ + OHH2O NaCl + H2

Asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa, sedangkan alkalimeteri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. Oleh sebab itu, keduanya disebut juga sebagai titrasi asam-basa. Titrasi adalah proses mengukur volume larutan yang terdapat dalam buret yang ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui volumenya sampai terjadi reaksi sempurna. Atau dengan perkataan lain untuk mengukur volume titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Titik ekivalen adalah saat yang menunjukkan bahwa ekivalen perekasipereaksi sama. Di dalam prakteknya titik ekivalen sukar diamati, karena hanya merupakan titik akhir teoritis atau titik akhir stoikometri. Hal ini diatasi dengan pemberian indikator asam-basa yang membantu sehingga titik akhir titrasi dapat diketahui. Titik akhir titrasi merupakan keadaan di mana penambahan satu tetes zat penitrasi (titran) akan menyebabkan perubahan warna indikator. Kadua cara di atas termasuk analisis titrimetri atau volumetrik.

Selama bertahun-tahun istilah analisis volumetrik lebih sering digunakan dari pada titrimetrik. Akan tetatpi, dilihat dari segi yang kata, titrimetrik lebih baik, karena pengukuran volume tidak perlu dibatasi oleh titrasi. Rekasi-reaksi kima yang dapat diterima sebagai dasar penentuan titrimetrik asam-basa adalah sebagai berikut :
o

Jika HA meruapakn asam yang akan ditentukan dan BOH sebabagi basa, maka reksinya adalah : HA + OHA- + H2O

Jika BOH merupakan basa yang akan ditentukan dan HA sebagi asam, maka reaksinya

adalah ; BOH + H+ B+ = H2 Perhitungan titrasi asam basa didasarkan pada reaksi pentralan, menggunakan dua macam cara, yaitu : 1. Berdasarkan logika bahwa pada reaksi penetralan, jumlah ekivalen (grek) asam yang bereaksi sama dengan jumlah ekivalen (grek) basa. Diketahui : grek (garam ekivalensi) = Volume (V) x Normalitas (N), Maka pada titik ekivalen : V asam x N asam = V basa x N basa; atau V1 + N1 = V2 + N 2 Untuk asam berbasa satu dan basa berasam satu, normalitas sama dengan molaritas, berarti larutan 1 M = 1 N. Akan tetapi untuk asam berbasa dua dan basa berasam dua 1 M = 1 N. 2. Berdasarkan koifisein reaksi atau pensetaraan jumlah mol Misalnya untuk reaksi : 2 NaOH + (COOH)2(COONa) + H2O (COOH)2 = 2 NaOH Jika M1 adalah molaritas NaOH dan V1 adalah volume NaOH, sedangkan M2 adalah molaritas (COOH)2 dan V2 adalah volume (COOH)2, maka : = & V1 M1 x 1 = V2 M 2 x 2

Oleh sebab itu : V Na Oh x M NaOH x 1 = V (COOH)2 x M (COOH)2s Larutan yang mengandung reagensia dengan bobot yang diketahui dalam suatu volume tertentu dalam suatu larutan disebut larutan standar. Larutan standar terbagi atas 2 yaitu larutan standar primer dan sekunder. Larutan standar primer adalah suatu larutan yang

konsentrasinya dapat langsung ditentukan dari berat bahan sangat murni yang dilarutkan dan volume tertentu, sedangkan larutan standar sekunder adalah larutan standar lain yang telah ditetapkan konsentrasinya melalui titrasi dengan menggunakan larutan standar primer. Bahan kimia yang digunakan sebagai bahan untuk larutan standar primer harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Mudah didapat dalm keadaan murni dan mempunyai rumus molekul yang pasti 2. Harus stabil dan mudah ditimbang 3. Berat ekivalennya harus besar 4. Reaksinya harus sempurna 5. Harganya relatif murah. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang berbeda (Keenan, 2002). Fenolphtalein tergolong asam yang sangat lemah dalam keadaan yang tidak terionisasi indikator tersebut tidak berwarna. Jika dalam lingkungan basa fenolphtalein akan terionisasi lebih banyak dan memberikan warna terang karena anionnya (Day, 1981). Metil jingga adalah garam Na dari suatu asam sulphonic di mana di dalam suatu larutan banyak terionisasi, dan dalam lingkungan alkali anionnya memberikan warna kuning, sedangkan dalam suasana asam metil jingga bersifat sebagai basa lemah dan mengambil ion H+, terjadi suatu perubahan struktur dan memberikan warna merah dari ion-ionnya (Day, 1981). Suatu indicator dapat berubah warnanya pada daerah pH tertentu, misalnya: Metal jingga Brom timol biru Fenolftalein : merah pH 3,1 pH 4,4 kuning : kuning pH 6,0 pH 7,6 biru : bening pH 6,0 pH 9,6 merah

VII. CARA KERJA


NaOH x N 10 mL

BURET

HCL 0,1N 10,0 ml ERLENMEYER 3 tetes PP 1%

VIII. DATA PENGAMATAN Kelompok 1 2 3 4 5 6 7 8 Volume titrasi NaOH 8,9 ml 9,5 ml 10,2 ml 10,2 ml 8,9 ml 10,2 ml 9 ml 0,1123 N 0,098 N 0,1111 N 11,5 ml 0,085 N 0,1052 N 0,098 N 11.5 ml 0,085 N N. NaOH Volume titrasi asam oksalat N.oksalat

IX. PERHITUNGAN Diket : V1 = 9,5 mL V2 = 10 mL N2 = 0,1 N Ditanya : N1 ...? V1 x N1 = V2 x N2 9,5 x N1 = 10 x 0,1 9,5N1 N1 N1 =1 = Penyelesaian :

= 0,1052 N NaOH

X.

PEMBAHASAN Asidimetri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku

asam. Dalam percobaan ini diperlukan larutan standar primer yaitu asam klorida (HCl), dimana larutan standar primer adalah larutan baku yang menjadi acuan untuk menentukan TAT. Reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut : NaOH + HCl NaCl + H2O Berdasarkan reaksi diatas, campuran antara NaOH dengan HCl ditambah dengan indikator PP 1% menghasilkan NaCl dan H2O berwarna merah muda.

XI. KESIMPULAN Titrasi asidimetri pada percobaan ini adalah untuk menentukan konsentrasi NaOH dengan larutan baku HCl. Reaksi netralisasi dapat diamati ketika terjadi perubahan warna yang awalnya jernih menjadi merah muda dengan menggunakan indikator fenoftalein (PP) 1%. Persamaan reaksinya adalah : NaOH (aq) + HCl (aq) NaCl (aq) + H2O (l)

Dosen Pengampu,

Semarang, November 2012 Praktikan,

Surati, ST., M.Si., Med. Kelompok 2: 1. 2. 3. 4. 5. Cara Rizky Defi Rosa Dyah Asih Setiatin Elling Wahyu Utomo Estiadah Tri Nurmastuti