Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bertamu merupakan tradisi masyarakat yang selalu dilestarikan.

Dengan bertamu seorang bisa menjalin persaudaraan bahkan dapat menjalin kerjasama untuk meringankan berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan. Adakalanya seorang bertamu karena adanya urusan yang serius, misalnya untuk mencari solusi terhadap problema masyarakat actual, sekedar bertandang, karena lama tidak ketemu (berjumpa) ataupun sekedar untuk mampir sejenak. Dengan bertandang ke rumah kerabat atau sahabat, maka kerinduan terhadap kerabat ataupun sahabat dapat tersalurkan, sehingga jalinan persahabatan menjadi kokoh. Dalam makalah ini kami akan membahas penafsiran salah satu ayat khususnya dalam surat An-Nur ayat 27-29 dimana di dalamnya menerangkan tentang beberapa adab bertamu. B. Rumusan Masalah
A. Apa Pengertian Adab Bertamu B. Bagaiman Penafsiran serta Azbaun Nuzul Surat An-Nur ayat 27-29 C. Apa Muatan Hukum Dalam Surat An-Nur ayat 27-29

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Adab Bertamu Bertamu dalam Bahasa Arab disebut dengan kata liziyaroti, atau ) - Ataa

) Istadloofa-Yastadiifu. Menurut Kamus

Besar Bahasa Indonesia, bertamu diartikan; datang berkunjung ke rumah teman ataupun kerabat untuk satu tujuan ataupun maksud (melawat dan sebagainya). Secara istilah bertamu merupakan kegiatan mengunjungi rumah sahabat, kerabat ataupun orang lain, dengan tujuan untuk menjalin persaudaraan ataupun suatu keperluan lain, dalam rangka menciptakan kebersamaan dan kemaslahatan bersama. Berdasarkan pengertian dimaksud, maka bertamu dilakukan kepada orang yang sudah dikenal, baik sahabat ataupun kerabat. Tujuan bertamu sudah barang tentu untuk menjalin persaudaraan ataupun persahabatan. Sedangkan bertamu kepada orang lain yang belum dikenal, memiliki tujuan untuk saling memperkenalkan diri ataupun maksud lain, yang belum tentu dipahami oleh kedua belah pihak. Jika dilihat dari intensitas bertamu, maka yang sering dilakukan adalah bertamu terhadap orang yang sudah dikenal. B. Penafsiran dan Azbabun Nuzul
1. Penafsiran Surat An Nur ayat 27-29

27. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. (Wahai segala mereka yang beriman, ketahuilah bahwa Allah menyerumu kepada keutamaan dan peradaban. Dia menunjuk kamu untuk tidak memasuki rumahrumah yang bukan rumahmu, tidak mempunyai hak berdiam dan tak ada sesuatu manfaat di dalamnya, walaupun rumah itu milikmu, sehingga kamu menanya lebih dulu kepada yang mendiaminya. Apakah kamu boleh masuk ataukah tidak. Meminta izin itu adalah dengan mengetuk pintu, atau memanggil orang yang ada di dalam rumah, atau dengan mendehem, atau dengan membaca tasbih dan tahmid atau dengan tegas meminta izin. Larangan masuk sebelum mendapat izin, adalah umum mengenai lelaki dan perempuan, baik yang berada di dalam rumah itu mahram ataupun bukan; karena tiap-tiap manusia mempunyai keadaan-keadaan yang tidak suka dilihat oleh orang lain, walaupun orang itu ayah ataupun anak. Seorang lelaki bertanya kepada Nabi: "Apakah saya harus meminta izin untuk saya masuk ke kamar ibuku?" Jawab Nabi: "Ya". Orang itu bertanya: "Ibuku tidak mempunyai khadam selain diriku sendiri, apakah aku harus juga meminta izin setiap aku masuk ke dalam kamarnya?" Nabi menjawab "Apakah kamu ingin melihatnya dalam keadaan telanjang?" Sahut orang itu: "Tidak". Sabda Nabi: "Kalau demikian mintalah izin lebih dahulu". Bahwa seorang suami pun disukai supaya meminta izin kepada isterinya kalau masuk ke kamarnya karena boleh jadi si isteri pada saat itu dalam keadaan dia tidak ingin dilihat oleh orang lain. Diterangkan oleh Zainab isteri Ibn mas'ud, bahwa 'Abdullah apabila kembali dari suatu keperluan, apabila sampai di pintu rumah, beliau pun berdehem-dehem, karena beliau tidak suka mendapati kami dalam keadaan yang beliau tidak senangi. Menurut lahir ayat, lebih dahulu kita minta izin, kemudian baru kita beri salam. Sebagian ulama berpendapat, bahwa salamlah yang lebih dahulu kita
3

lakukan kemudian baru minta izin. Inilah yang lebih tepat, karena "dan", tidak memberi faedah. Sebagian yang lain berpendapat, bahwa apabila telah nampak kepada seseorang di dalam rumah, maka hendaklah kita memberi salam, kemudian baru kita minta izin).1 yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Meminta izin, memberi salam dan menunggu sampai mendapat izin adalah lebih baik dari pada terus masuk, karena yang demikian itu lebih menjamin kehormatan rumah tangga orang. 28. Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, Maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. (Jika kamu tidak mendapat dalam rumah itu seseorang yang berhak memberi izin untuk masuk, umpamanya yang ada di dalam rumah itu hanya seorang anak kecil, maka janganlah kamu memasukinya sehingga kau memperoleh izin dari si pemilik rumah itu. Dalam hal ini dikecualikan keadaan-keadaan darurat, seperti terjadi kebakaran atau sesuatu kejadian yang memerlukan pertolongan segera. Dalam hal-hal yang begini tentulah tidak usah ditunggu izin lebih dahulu). 2 dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja)lah, Maka hendaklah kamu kembali. itu bersih bagimu (Jika ahlul bait menolak permintaanmu, maka hendaklah kamu kembali lebih bersih bagi kamu baik mengenai duniamu ataupun mengenai agamamu, karena pemilik rumah mungkin merasa kurang senang kamu berdiri lama-lama di muka pintunya) dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (Dan Allah mengetahui segala maksudmu dan segala niatmu dalam memasuki rumah-rumah itu dan Allah akan memberi pembalasan terhadap yang demikian itu). 29. tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, (Jika rumah-rumah yang kamu ingin masuki itu bukan rumah-rumah yang disediakan untuk didiami(tempat umum), umpamanya kedai-kedai kopi, toko-toko, hotel-hotel, tempat-tempat pemandian umum yang di dalamnya ada kebutuhanmu, maka kamu dapat memasukinya tanpa mendapat izin lebih dahulu. Ada riwayat, bahwa Abu Bakar berkata: "Ya Rasulullah, Allah telah menurunkan kepada engkau ayat yang menyuruh kami untuk meminta izin apabila kami memasuki sesuatu rumah dan kami perlu bolak1

. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqi, Tafsir Al-Qur'an Majid An-Nur, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, Cet. Ke-II, 1995, hlm. 2718. 2 Id. at 2719.

balik memasuki kedai-kedai ini, apakah juga kami memasukinya dengan lebih dahulu mendapat izin?" Berkenaan dengan pertanyaan itu turunlah ayat ini. Apabila kita dalam memasuki rumah kita sendiri yang di dalamnya ahli bait kita juga harus meminta izin, apakah cukup dengan memberi salam saja. Maka menurut lahir ayat ini cukup dengan memberi salam saja). dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan (Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dengan lidah-lidahmu, meminta izin untuk masuk dan apa yang kamu sembunyikan dalam hati-hatimu, memata-matai keadaan orang di dalam rumahnya. Oleh karena kadang-kadang kebolehan masuk ke dalam tempattempat umum karena ada sesuatu maksud dan kebolehan masuk ke dalam rumahrumah khusus lantaran sesuatu kejadian, sering disalahgunakan, maka Allah pun menutup ayat ini dengan: "Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. 3
2. Asbabun Nuzul

Dalam kitab terjemah Tafsir Jalalain diterangkan: 4Firman Allah SWT: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah " (QS. An-Nur: 27). Al Faraby dan Ibnu Jarir keduanya telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Addiy Ibnu Tsabit yang telah menceritakan, bahwa ada seorang wanita dari kalangan sahabat Anshar datang menghadap, lalu ia berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tinggal di dalam rumahku, tetapi aku tidak suka jika ada seseorang melihatku. Sesungguhnya sampai sekarang masih tetap ada seorang lelaki dari kalangan keluargaku yang masuk ke dalam rumahku, sedangkan aku dalam keadaan demikian itu, maka apakah yang harus aku lakukan?" Lalu turunlah firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin (QS. An-Nur: 27). Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Muqatil Ibnu Hayyan yang telah menceritakan, bahwa ketika ayat meminta izin untuk masuk ke rumah orang lain diturunkan, Abu Bakar berkata: "Wahai
3

Id. at 2720 Imam Jalaluddin Al-Mahally, Imam Jalaluddin As-Suyuti, TerjemahTafsir Jalaluddin Berikut Asbabun Nuzul, Bandung: Sinar Baru, 1990, hlm. 1488
4

Rasulullah, bagaimana nanti dengan para pedagang Quraish, yaitu orang-orang yang sering bolak-balik antara Makkah, Madinah dan negeri Syam, sedangkan mereka mempunyai rumah-rumah yang telah dikenal oleh mereka di tengahtengah jalan, maka bagaimanakah mereka meminta izin dan mengucapkan salam, sedangkan di dalam rumah-rumah mereka yang di tengah jalan itu tidak ada penghuninya?" Maka turunlah pula firman-Nya: "Tidak ada dosa atas kalian memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami" (QS. An-Nur: 29) Sedangkan dalam Tafsir Al-Qur'an Majid An-Nur dijelaskan sebab turun ayat:5 Diriwayatkan oleh Adi Ibnu Tsabit dari seseorang lelaki Anshar, bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah: "Aku di rumahku dalam keadaan yang aku tidak suka dilihat orang walaupun oleh ayah dan anakku sendiri, lalu datang kepadaku seseorang dan terus langsung masuk kepadaku, maka apa yang harus aku lakukan?"Berkenaan dengan pertanyaan ini turunlah ayat 27 ini.

C. Muatan Hukum 1. Diwajibkannya mengucapkan salam dan meminta izin kepada yang mempunyai rumah
2. jika kamu tidak menemui siapapun di dalamnya, maka janganlah

kamu masuk sebelum kamu mendapatkan izin.


3. Jika yang mempunyai rumah tidak memberi izin untuk masuk dan

di suruh pulang maka pulanglah dan jangan memaksa untuk masuk karena itu merupakan hak pemilik rumah untuk menerima tamu atau menolak. 4. Diperbolehkan memasuki rumah untuk umum, seperti kios, tempat persitirahatan dan yang lainnya yang dikhususkan untuk umum.

Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqi, Tafsir Al-Qur'an Majid An-Nur, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, Cet. Ke-II, 1995, hlm. 2720

BAB III PENUTUP Kesimpulan Bertamu adalah salah satu cara untuk menyambung tali persahabatan yang dianjurkan oleh Islam. Islam memberi kebebasan untuk umatnya dalam bertamu. Tatakrama dalam bertamu harus tetap dijaga agar tujuan bertamu itu dapat tercapai. Apabila tata krama ini dilanggar maka tujuan bertamu justru akan menjadi rusak, yakni merenggangnya hubungan persaudaraan.