Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS GEOSTATISTIK TERHADAP ENDAPAN TIMAH ALUVIAL PADA TAMBANG SUMEDANG I PULAU BANGKA1)

Oleh : Ir. Kresno, M.Sc2)

Ringkasan Metode geostatistik untuk estimasi cadangan mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan metode poligon. Analisis geostatistik, yang berbasis pada peubah terregional ini, menyatakan adanya hubungan spasial setiap variabel yang dikaji, misal ketebalan dan akumulasi terhadap ketebalanxkekayaan. Secara analisis geostatistik pula dapat diketahui melalui fungsi struktural yang dicerminkan pada semivariogramnnya, kecenderungan penyebaran suatu endapan. Oleh sebab itu melalui semivariogram dapat dipandu arah kegiatan eksplorasi selanjutnya, dan dalam hal ini akan mengarah pada N 135o E sesuai dengan arah daerah pengaruh (range) terpanjang. Selanjutnya, diketahui pula bahwa hasil estimasi secara geostatistik ini ternyata mempunyai kesamaan terhadap hasil estimasi secara poligon. I. PENDAHULUAN Tambang Sumedang I merupakan salah satu lokasi penambangan timah aluvial di pulau Bangka. Perhitungan cadangan saat itu dilakukan dengan cara poligon. Dengan analisis geostatistik yang diterapkan pada endapan tima aluvial ini, diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap endapan, dan dapat diperbandingkan antara hasil perhitungan secara poligon dengan geostatistik.. Perhitungan variogram eksperimental dan kriging pada penyelidikan ini dilakukan dengan program GEOPLAN (untuk menghitung variogram sampai 4 arah utama dengan 4 variabel), sedangkan untuk perhitungan cadangan setiap blok digunakan program peket KRIG3D. Sebanyak 375 data lubang bor digunakan untuk perhitungan semivariogram ketebalan dan akumulasi dari ketebalanxkekayaan, serta lebih kurang 1.250 blok di kriging denga ukuran 20x20 m2 . II. SEMIVARIOGRAM Analisis struktural semivariogram untuk masing-masing data ketebalan dan akumulasi terhadap ketebalanxkekayaan bijih dengan model Matheron (sferis) memperlihatkan adanya anisotropi geometri. Range terbesar mempunyai arah N 1350 E dan range terkecil pada arah N 450 E. Parameter semivariogram yang dihasilkan dari perhitungan ini yaitu nilai nugget variance (Co), sill (C), dan range (a) dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2, sedangkan parameter semivariogramnya ditampilkan pada Tabel I. Penyebaran ketinggian batuan besar (Gambar 3) dan penyebaran ketebalan lapisan aluvial (Gambar 4) menunjukkan suatu arah penyebaran umum yang dominan yaitu N 1350 E. Kesesuaian penyebaran tersebut menunjukkan, bahwa endapan aluvial akan terbentuk pada cekungan mengikuti pola lembah purba yang ada, sehingga menyebabkan dijumpainya endapan aluvial dengan kekayaan yang lebih tinggi pada lembah purba ini.

_____________________________________________________ 1) Disampaikan pada Temu Ilmiah Dan Reuni 98 Jurusan Teknik Pertambangan UPN "Veteran" Yogyakarta, 4 Desember 1998 di Yogyakarta 2) Alumni 1986

Gambar 1. Semivariogram ketebalan pada empat arah dan kenampakan anisotropi geometrinya

Temu Ilmiah Dan Reuni 98

Gambar 2. Semivariogram akumulasi terhadap ketebalanxkekayaan pada empat arah dan kenampakan anisotropi geometrinya

Analisis Geostatistik Terhadap Endapan Timah Aluvial Pada Tambang Sumedang I Pulau Bangka

Gambar 3. Ketinggian dan pola lembah purba pada batuan dasar (daerah diarsir menunjukkan pola lembah purba)

Gambar 4. Penyebaran ketebalan lapisan aluvial (daerah diarsir menunjukkan Ketebalan lebih besar dari 7 meter) Tabel 1 Parameter geostatistik PARAMETER N 0o E Untuk Peubah terregional ketebalan Range (a), dalam m Nugget Varian (Co), dalam m2 Sill C, 200 1,00 2,80 Arah Semivariogram N 45o E N 90o E 250 1,00 2,80 200 1,00 2,80 N 135o E 350 1,00 2,80

Temu Ilmiah Dan Reuni 98

dalam m2 Untuk Peubah teregional akumulais terhadap ketebalanxkekayaan Range (a), 100 250 dalam m Nugget Varian (Co) 300 300 dalam (kw Sn/1000 m3.m)2 Sill C, 400 400 dalam (kw Sn/1000 m3.m)3

100 300 400

200 300 400

Kenampakan struktur semivariogram ketebalan dan akumulasi terhadap ketebalanxkekayaan bijih sebagai peubah terregionalnya ternyata menunjukkan hal-hal yang bersesuaian dengan kenampakan fisik endapan aluvial termaksud, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3 dan Gambar 4. Berdasarkan arah anisotropi geometri ini, maka pola pemboran eksplorasi yang sesuai adalah empat persegi panjang dengan dimensi terpanjang dimensi terpanjang ke arah N 1350 E dan dimensi terpendek ke arah N 450 E. III. KRIGING Berdasarkan analisis struktural semivariogram tersebut di atas dan dengan mengambil dimensi blok 20x20 m2, maka dapat dihitung nilai ketebalan dan akumulasi terhadap ketebalanxkekayaan bijih dengan cara kriging. Nilai kekayaan blok setelah di kriging dihitung dengan membagi nilai akumulasi terhadap ketebalanxkekayaan bijih dengan nilai ketebalan pada blok kriging yang sama. Dalam penaksiran nilai tersebut, selain dicari niali rata-rata pengganti terbaik bagi nilai ratarata sesungguhnya, maka varians nilai rata-rata pengganti terbaik tersebut harus ditentukan. Untuk mengetahui sejauh mana pencaran nilai rata-rata pengganti terbaik tersebut, maka perlu diketahui varians dispresinya. Varians kriging untuk setiap blok (varians estimesi lokal) dapat diketahui langsung dari hasil perhitungan untuk setiap blok kriging (print out program KRIG3D). Varians kriging untuk blok-blok pada daerah penyelidikan berkisar antara 0,4 m2 samapi 2,9 m2 untuk ketebalan dan 125 (kw.Sn/1000m3.m)2 sampai 938 (kw.Sn/1000m3.m)2 untuk akumulasi terhadap ketebalanxkekayaan. Dengan mengambil batas cog (cut off grade) 1,50; 2,00; dan 2,50 km.Sn/1000m3, maka dapat dibuatkan klasifikasi kekayaan bijih timah dengan penyebaran berdasarkan ukuran blok yang telah didifinisikan, yaitu 20x20 m2. Dari blok-blok kriging tersebut terdapat beberapa blok yang tidak bisa di kriging, hal ini disebabkan tidak adanya data pemboran yang akan digunakan sebagai pembobot di sekeliling blok tersebut, yang berarti pada lokasi ini masih diperlukan data pemboran lagi. Jika blok sebelum dan sesudah di kriging dibandingkan, terlihat bahwa setelah dilakukan kriging maka akan menghasilkan lebih banyak blok-blok yang mempunyai nilai, ini disebabkan blok yang semula kosong (tidak mempunyai nilai) akan mendapatkan nilai dari data disekelilingnya dengan pembobotan secara kriging tersebut. Penaksiran nilai blok dengan cara poligon seperti yang dilakukan saat ini semata-mata hanya didasarkan pada nilai pemboran yang berada di tengah-tengah blok termaksud. Rencana penambangan akan jauh lebih mudah dilaksanakan jika mengacu pada blok-blok yang telah di kriging dibanding blok-blok sebelum di kriging. Sesudah blok di kriging maka akan memperlihatkan bentuk penyebaran blok-blok yang > dari cog lebih jelas, tidak seperti sebelumnya yang terpencar-pencar. Untuk mengetahui sejauh mana estimasi secara poligon (Z* poligon) berbeda terhadap estimasi secara kriging (Z* kriging) dapat dilihat pada Gambar 5, dan pada cog 2 kw Sn/1000m3 terlihat bahwa dari 132 blok yang diestimasi dengan dua metode berbeda menghasilkan hal-hal sbb. : a. blok diestimasi oleh metode poligon berada di bawah cog, dan demikian pula ketika diestimasi oleh metode kriging b. blok diestimasi oleh metode poligon berada di atas cog, dan demikian pula ketika diestimasi oleh metode kriging c. blok diestimasi oleh metode poligon berada di bawah cog, dan ketika diestimasi oleh metode kriging ternyata berada di atas cog 23 blok diestimasi oleh metode poligon berada di atas cog, dan ketika diestimasi oleh

Analisis Geostatistik Terhadap Endapan Timah Aluvial Pada Tambang Sumedang I Pulau Bangka

Gambar 5. Hubungan Z* poligon versus Z* kriging IV. KESIMPULAN DAN SARAN Dari beberapa uraian terdahulu dapat ditarik kesimpulan dan saran sebagai berikut : 1. Endapan aluvial Tambang Sumedang I mempunyai variasi kekayaan bijih yang tinggi, sehingga memberikan varians estimasi yang tinggi. 2. Pemboran eksplorasi sebaiknya mempunyai arah nyelusur N 1350 N E sesuai arah anisotrop geometri terbesarnya. 3. Secara umum terdapat kesesuaian antara hasil perhitungan secara kriging dengan secara poligon 4. Proses kriging memberikan gambaran penyebaran kekayaan blok yang lebih jelas sehingga dalam perencanaan kemajuan penambangan batas endapan bisa ditentukan dengan baik. 5. Setelah dilakukan pemboran tambahan, disarankan dihitung kembali nilai kekayaan blokbloknya karena akan berubah kembali. 6. Metode ini disarankan dicoba pada endapan dengan kekayaan yang lebih homogen, misalnya endapan timah lepas pantai, untuk mengetahui apakah parameter geostatistiknya berubah atau tidak. V. DAFTAR BACAAN 1. Barnes, M.P., Computer-Assisted Mineral Appraisal and Feasibility, Emerican Institute of Mining, Metallurgical, and Petroleum Engineers, Inc., New York, 1980 2. Clark, I., Practical Geostatistics, Applied Science Publisher Ltd., London, 1979 3. Journel, A.G. and Huijbregts, Mining Geostatistics, Academic Press, London, New York, Moscow, 1968. 4. MacDonald, E.H., Alluvial Mining, Chapman and Hall, New York, 1983. 5. Rendu, J.M., An Introduction to Geostatistical Methods of Mineral Evaluation, South African Institute of Mining and Metallurgical, Johannesburg, 1981. 6. Royle, A.G., Why Geostatistics, Engineering and Mining Journal, Geostatistics Part 1, Mei 1979. 7. Taylor, R.G., Geology of Tin Deposits, Elsevier Scientific Publishing Company, Amsterdam, Oxford, New York, 1979.