Anda di halaman 1dari 76

1

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1. LATAR BELAKANG

Seperti kita ketahui ada beberapa cara untuk memindahkan daya.
Ditinjau dari segi mekanis yaitu sistem roda gigi (gear train system), sistem
sabuk (belt), sistem rantai dan sistem kopling.
Masing masing sistem tersebut mempunyai kelebihan dan
kekurangan, untuk itu perlu diadakan penyesuaian dengan kebutuhan yang
diinginkan. Dalam kasus ini transmisi yang dipilih adalah sistem roda gigi.
Roda gigi merupakan cara untuk mentransmisikan suatu daya
yang terdiri dari dua buah roda berbentuk silinder atau kerucut yang saling
bersinggungan, dimana pada kelilingnya dibuat bergigi sehingga penerusan daya
dilakukan oleh gigi kedua roda yang saling berkait.
Dibandingkan dengan cara lain untuk meneruskan daya, transmisi
roda gigi mempunyai beberapa keuntungan, yaitu :
a. Putaran lebih tinggi dan cepat
b. Daya yang diteruskan lebih besar
c. Lebih ringkas
d. Penggunaannya beraneka ragam, mulai dari peralatan yang
berdaya kecil seperti roda gigi jam tangan sampai yang berdaya
besar seperti roda gigi reduksi pada turbin pembangkit listrik.
Karena pentingnya sistem penerus daya tersebut, maka terus
dikembangkan untuk mencapai efisiensi seoptimal mungkin, sehingga untuk
masing masing sistem penerus daya tersebut banyak sekali inovasinya.
Akan tetapi penggunaan transmisi roda gigi ini tergantung pada
kebutuhan daya dan putaran yang dipindahkan, sehingga roda gigi tidak
menimbulkan suara bising pada saat dioperasikan, dan dapat bertahan lama.
2

Pada perancangan elemen mesin, termasuk roda gigi terdiri dari
beberapa besaran, yaitu :
a. Beban yang harus dipikul oleh elemen mesin, baik yang berupa gaya,
momen lentur, momen puntir ataupun lainnya.
b. Tegangan yang terjadi dalam elemen mesin akibat beban yang
diterimanya.
c. Geometris dan ukuran ukuran elemen mesin.
d. Kekuatan elemen mesin yang ada pada umumnya dinyatakan dalam
tegangan yang diijinkan tanpa menimbulkan kerusakan pada elemen.
e. Bahan elemen mesin.

Pada tahap awal, perencanaan elemen mesin pada dasarnya adalah
menentukan bahan dan dimensi elemen mesin yang sudah diketahui fungsinya,
sehingga tegangan yang terjadi dalam elemen mesin tidak melebihi tegangan
yang diijinkan atau kekuatan elemen tersebut.
Elemen yang dirancang diharapkan tidak akan mengalami kegagalan
karena patah, termasuk patah lelah maupun karena aus. Elemen mesin yang akan
dirancang dikenakan beberapa persyaratan lain, yaitu :
a. Elemen mesin tersebut tidak boleh mengalami deformasi permanen.
b. Elemen mesin tidak boleh mengalami deformasi eksesif, seperti buckling.
c. Elemen mesin tidak boleh mengalami getaran yang eksesif sehingga
mengganggu fungsi yang lainnya.
d. Elemen mesin tidak boleh memiliki tingkat kebisingan yang tinggi.

1. 2. KLASIFIKASI RODA GIGI
A. Menurut letak poros.
1. Roda gigi dengan poros sejajar
a. Berdasarkan bentuk giginya.
- Roda gigi lurus,
- Roda gigi miring, dan
3

- Roda gigi miring ganda.
b. Berdasarkan arah gerakan.
- Roda gigi luar,
- Roda gigi dalam, dan
- Piyon dan batang gigi.
2. Roda gigi dengan poros berpotongan.
- Roda gigi kerucut lurus,
- Roda gigi kerucut spiral, dan
- Roda gigi permukaan.
3. Roda gigi dengan poros bersilang.
- Roda gigi miring silang,
- Roda gigi cacing silindris,
- Roda cacing globaoid, dan
- Roda cacing hypoid.
B. Menurut tipe gigi.
1. Gigi luar,
2. Gigi dalam, dan
3. Rack dan pinion.
C. Menurut letak gigi pada permukaan silinder.
1. Gigi lurus,
2. Gigi miring,
3. Roda gigi silindris dengan berbentuk panah,
4. Roda gigi silindris dengan gigi busur,
5. Roda gigi kerucut,
6. Roda gigi spiral, dan
7. Roda gigi cacing.

Roda-roda gigi tersebut mempunyai perbandingan kecepatan sudut
tetap antara kedua poros. Tetapi terdapat pula roda gigi yang perbandingan
kecepatan sudutnya dapat bervariasi, seperti roda gigi eksentris, roda gigi bukan
lingkaran, roda gigi lonjong, dan lain-lain.
4

Di dalam perencanaan transmisi roda gigi yang akan dibahas di sini
adalah roda gigi lurus dengan poros sejajar.

1. 3. TERMINOLOGI RODA GIGI

Roda Gigi Lurus.
Roda gigi lurus (spur gear) digunakan untuk memindahkan gerakan
putar antara poros-poros yang sejajar, yang biasanya berbentuk silindris, gigi
lurus, dan sejajar sumbu putaran.


1. 4. PERUMUSAN MASALAH.
Dalam perumusan masalah penulis bermaksud akan membahas
cara kerja transmisi roda gigi lurus dan roda gigi miring serta melakukan
perencanaan bagi sistem roda gigi tersebut.
Sistem yang diinginkan dalam perencanaan transmisi roda gigi di
sini adalah sistem yang mempunyai dimensi sekecil mungkin namun memiliki
kekuatan dan umur yang tinggi.

1. 5. METODOLOGI PERENCANAAN.
Dalam perencanaan transmisi roda gigi ini digunakan metode
Niemen dalam bukunya Machine Element, volume I dan II.
Langkah-langkah perencanaannya adalah sebagai berikut :
- Pemilihan material dari elemen utama maupun pendukungnya.
- Penentuan dimensi
- Perhitungan kekuatan
- Perhitungan umur dan elemen lainnya seperti :
a. Perencanaan poros
b. Perencanaan bantalan

5

BAB II
KONSEP PERHITUNGAN

2.1. METODE PERHITUNGAN
Metode perhitungan roda gigi dikerjakan dengan metode Niemann
dengan standar DIN. Pemilihan metode ini karena dianggap cukup sesuai dan
memadai untuk perencanaan praktis roda gigi. Dalam metode Niemann akan
banyak digunakan tabel, grafik maupun data-data empiris lainnya.
Berikut ini adalah diagram batang (flow chart) prosedur perhitungan yang
dilakukan :














MULAI
Data
masukan
Perhitungan
dimensi
Roda gigi
Perhitungan beban nominal B
dan gaya tangensial U
Perhitungan factor
geometris permukaan
kontak
Perhitungan factor kesalahan gigi f
Perhitungan rasio kontak
perhitungan factor geometris
kaki gigi qw
I
6


















2. 2. DATA-DATA PERHITUNGAN
1. Daya maksimum (P
max
) = 104 kW
2. Putaran masuk (n) = 6000 rpm
3. Torsi maksimum = 18 kgm = 180000 Nmm
4. Jenis transmisi = Manual 5-kecepatan

I
Perhitungan tekanan diijinkan
K
Perhitungan factor koreksi
distribusi bahan CT dan CB
Perhitungan factor keamanan
kekuatan gigi Sb > 1
Perhitungan koreksi kecepatan
Cp factor beban dinamis Udyn
Pemilihan
bahan
Perhitungan faktor keamanan lubang pada
perencanaan gigi Sg > 1
Perhitungan umur gigi Lh
Selesai
7

5. Perbandingan transmisi (i)
- Transmisi I = 3,166
- Transmisi II = 1,904
- Transmisi III = 1,310
- Transmisi IV = 0,969
- Transmisi V = 0,815
- Transmisi mundur = 3,250














8

BAB III
PERHITUNGAN PUTARAN,
DIMENSI DAN UMUR RODA GIGI

3. 1. PERHITUNGAN PUTARAN (Teoritis)
Dalam perencanaan transmisi roda gigi ini didapat data sebagai berikut :
2. Daya maksimum (P
max
) = 104 kW
5. Putaran masuk (n) = 6000 rpm
6. Torsi maksimum = 18 kgm = 180000 Nmm
7. Jenis transmisi = Manual 5-kecepatan
6. Perbandingan transmisi (i)
- Transmisi I = 3,166
- Transmisi II = 1,904
- Transmisi III = 1,310
- Transmisi IV = 0,969
- Transmisi V = 0,815
- Transmisi mundur = 3,250
7. Jenis roda gigi = roda gigi lurus
8. n
min
= 950 rpm
9. n
max
= 11128 rpm
10. S = 5
11. Lebar gigi = 24 mm
9

12. sudut tekan (
o
) = 20 (ref. II hal.236)
13. sudut helix (
o
) = 23
Rasio antara n
max
dan n
min
dapat dihitung dengan rumus :
7 , 11
950
11128
min
max
= = =
n
n
R
n

Faktor kelipatan kecepatan () dapat dihitung dengan rumus :

85 , 1
7 , 11
1 5
1
=
=
=

s
n
R

Putaran teoritis dapat dihitung :
n
1
= n
min
= 950 rpm
n
2
= n
1
= 950 1,85 = 1757,5 rpm
n
3
= n
1

2
= 950 1,85
2
= 3251,4 rpm
n
4
= n
1

3
= 950 1,85
3
= 6015,1 rpm
n
5
= n
1

4
= 950 1,85
4
= 11127,8 rpm
Membandingkan dengan putaran sebenarnya :
Dalam membandingkan antara putaran sebenarnya dengan putaran
teoritis harga toleransinya adalah 2%. Dalam hal ini putaran motor sebenarnya
adalah 6000 rpm seperti tertera pada data yang ada, sedangkan secara teoritis
putaran motor yang mendekati putaran tersebut didapat pada putaran n
4
yaitu
6015,1 rpm.
Pembuktian penyimpangan :
% 25 , 0 % 100
6000
6000 1 , 6015
=


10

Dari harga penyimpangan tersebut maka putaran motor sebenarnya
dengan putaran motor secara teoritis tidaklah jauh menyimpangkarena harga
penyimpangannya hanya 0,25 %.
A. Posisi Gigi I
Z8
Z3
Z9
Z4
Z10
Z5
Z11
Z6
Z12
Z1
Z13
Z7
Input
Output
K2 K1 K3
Z2

B. Posisi Gigi II
Z2
Z8
Z3
Z9
Z4
Z10
Z5
Z11
Z6
Z12
Z1
Z13
Z7
Input
Output
K2 K1 K3



11

C. Posisi Gigi III
Z2
Z8
Z3
Z9
Z4
Z10
Z5
Z11
Z6
Z12
Z1
Z13
Z7
Input
Output
K2 K1 K3

D. Posisi Gigi IV
Z2
Z8
Z3
Z9
Z4
Z10
Z5
Z11
Z6
Z12
Z1
Z13
Z7
Input
Output
K2 K1 K3



12

E. Posisi Gigi V
Z2
Z8
Z3
Z9
Z4
Z10
Z5
Z11
Z6
Z12
Z1
Z13
Z7
Input
Output
K2 K1 K3

F. Posisi Gigi Mundur
Z2
Z8
Z3
Z9
Z4
Z10
Z5
Z11
Z6
Z12
Z1
Z13
Input
Output
K2 K1 K3
Z7

13

3. 2. PERHITUNGAN DIMENSI RODA GIGI

Menentukan bahan roda gigi
Dalam merancang roda gigi ini akan dipilih bahan baja karbon
kromium dan baja sianida dengan alas an sebagai berikut :
a. Dalam perancangan roda gigi dibutuhkan bahan yang keras, permukaan luar
yang tahan deformasi dan bagian dalam yang ulet, dan
b. Roda gigi akan meneruskan daya yang tinggi.

Dari data spesifikasi kendaraan didapat :
Daya maksimum (P
max
) = 104 kW
Pada putaran (n) = 6000 rpm
Pada putaran ini nilai momen puntirnya (M
p
) adalah :
Nm
n
P
M
p
52 , 165
6000 2
104000 60
2
60
max
=

=
t t

roda gigi yang dibuat adalah roda gigi miring dengan sudut kemiringan (
o
) = 23
dan sudut tekan (
o
) = 20.

Perhitungan roda gigi 1 :
Berdasarkan referensi IV hal. 54 kita dapat merencanakan roda gigi z
1

antara 12-30 yang berdasarkan kualitas DIN 6-7, kita ambil perencanaan jumlah
gigi 21 buah, maka faktor bentuk gigi (y) adalah :
y = 0,327 (ref. II, hal.240)
14

modul nominal yang digunakan m
n
= 2,75 sehingga modulnya :

mm mm m
m
m
o
n
3 98 , 2
23 cos
75 , 2
cos
~ =
=
|
(ref. I, hal.
106)
lebar roda gigi (b) = (6-8) m, dipilih 8. Maka b = 8 3 = 24 mm
Diameter lingkaran tusuk (do
1
) = z
1
m (ref. II,hal. 220)
= 21 3 = 63 mm
Diameter lingkaran kepala (dk
1
) = (z
1
+ 2) m (ref. II, hal. 220)
= (21 + 2) 3 = 69 mm
Tinggi kepala gigi (hk
1
) = k m (ref. II, hal. 219)
= 1 3 = 3 mm
Tinggi kaki gigi (hf
1
) = 1,25 m (ref. II, hal. 219)
= 1,25 3 = 3,75 mm
Sehingga tinggi gigi (h
1
) = hk
1
+ hf
1
(ref. II, hal. 64)
= 3 + 3,75 = 6,75 mm
Tebal gigi (t) = (12,5-20) m
n

Dipilih tebal gigi (t) = 16 2,75 = 44 mm
Kecepatan roda gigi (v) yang terjadi :
det / 79 , 19
60000
6000 63
1000 60
1
m
n do
v =

=


=
t t

Sehingga untuk faktor dinamis (f
v
) dengan kecepatan (v) = 19,79 m/det
(kecepatan sedang) adalah :
15

233 , 0
79 , 19 6
6
6
6
=
+
=
+
=
v
f
v
(ref. II, hal.240)
Beban tangensial yang bekerja pada roda gigi (f
t
) adalah :
N
do
T
F
t
29 , 5714
60
180000 2
2
1
max
=

=
(ref. I, hal.22)
Berdasarkan referensi II hal. 240, rumus tegangan statik yang dialami roda gigi
adalah :

2
/ 57 , 331
327 , 0 3 24 233 , 0
29 , 5714
mm N
y m b f
F
v
t
=

=

=
t
t
o

Beban aksial yang terjadi (f
a
) :
F
a
= F
t
tan
o
= 5714,29 tan 20
= 2079,83 N

Perhitungan roda gigi 7 :
Ditentukan : 85 , 1
950
5 , 1757
1
2
7 1
= = =

n
n
i
Sehingga : z
7
= i
1-7
z
1
= 1,85 21 = 38,85 39 gigi
Diameter lingkaran tusuk (do
7
) = z
7
m = 39 3 = 117 mm
Maka dapat dihitung jarak sumbu poros :
16

mm
do do
a
90
2
117 63
2
7 1
=
+
=
+
=
(ref. II, hal. 220)
Diameter lingkaran kepala (dk
7
) = (z
7
+ 2) m = (39 +2) 3 = 123
mm
Tinggi kepala gigi (hk
7
) = k m
= 1 3 = 3 mm
Tinggi kaki gigi (hf
7
) = 1,25 m
= 1,25 3 = 3,75
Sehingga tinggi gigi (h
7
) = hk
7
+hf
7

= 3 + 3,75 = 6,75 mm
Tebal gigi (t) = 16 m
n

= 16 2,75 = 44 mm
Berdasarkan referensi II, hal. 240, maka faktor bentuk gigi (y) :
y = 0,3856
Torsi maksimum pada poros perantara (T
1-7
) :

Nmm
T
z
z
T
334286 180000
21
39
max
1
7
7 1
= =
=


Putaran poros perantara pada saat torsi maksimum (n
p
) :

24 , 3243
85 , 1
6000
7 1
= =
=

i
n
n
p

17

Kecepatan roda gigi (v) yang terjadi :

det / 86 , 19
60000
24 , 3243 117
1000 60
7
m
n do
v
p
=

=


=
t
t

Sehingga untuk faktor dinamis (f
v
) dengan kecepatan (v) = 19,86 m/det
(kecepatan sedang) adalah :

232 , 0
86 , 19 6
6
6
6
=
+
=
+
=
v
f
v

Beban tangensial yang bekerja pada roda gigi (f
t
) adalah :

N
do
T
F
t
29 , 5714
117
334286 2
2
7
7 1
=

=


Maka tegangan statik yang dialami roda gigi adalah :

2
/ 39 , 282
3856 , 0 3 24 232 , 0
29 , 5714
mm N
y m b f
F
v
t
=

=

=
t
t
o

Beban aksial yang terjadi (f
a
) :
F
a
= F
t
tan
o

= 5714,29 tan 20
= 2079,83 N


18

3. 2. 1. Transmisi I
Transmisi I terdiri dari pasangan roda gigi 1-7 (daya ke poros
perantara) dan pasangan roda gigi 5-11 (daya diteruskan dari poros perantara ke
poros output). Pasangan roda gigi 5-11 akan dihitung pada bagian ini dengan
memperhatikan data sebelumnya.
Perhitungan Roda Gigi 5-11 :
Untuk pasangan roda gigi 5-11 direncanakan sebagai berikut :
- Sudut tekan () = 20
- Sudut kisar () = 23
- Perbandingan kecepatan transmisi i
1
= 3,166
- Perbandingan kecepatan roda gigi 5-11 = i
5-11

71 , 1
85 , 1
166 , 3
7 1
1
11 5
= = =

i
i
i
- Mengingat jarak sumbu poros pada poros roda gigi 1-7 (a
1-7
) = 90 mm,
maka jarak sumbu poros pada roda gigi 5-11 (a
5-11
) adalah sama yaitu 90
mm.

Perhitungan Diameter roda gigi 5 dan 11 :
do
5
= i
5-11
do
11

= 1,71 do
11


mm do
do do
do do
a
66 42 , 66
2
71 , 2
2
) 1 71 , 1 (
90
2
11
11 11
11 5
~ = =
+
=
+
=

19

Jadi : do
5
= 1,71 66 = 112,86 113 mm
Didapatkan :
gigi
m
do
z 22
3
66
11
11
= = =
z
5
= i
5-11
z
11

= 1,71 22 = 37,62 38 gigi
lebar roda gigi 5-11 (b
5
= b
11
) = 8 m = 8 3 = 24 mm.

Perhitungan Roda Gigi 11 :
z
11
= 22 gigi
do
11
= 66 mm
b
11
= 24 mm
Diameter lingkaran kepala (dk
11
) = (z
11
+ 2) m
= 24 3 = 72 mm
Tinggi kepala gigi (hk
11
) = k m
= 1 3 = 3 mm
Tinggi kaki gigi (hf
11
) = 1,25 m
= 1,25 3 = 3,75 mm
Maka tinggi gigi adalah : h
11
= hk
11
+ hf
11

= 3 + 3,75 = 6,75 mm
Tebal gigi t = 16 m
n

= 16 2,75 = 44 mm
Berdasarkan referensi II hal. 240, maka faktor bentuk gigi (y) adalah :
20

y = 0,330
Kecepatan roda gigi (v) yang terjadi :

det / 21 , 11
60000
24 , 3243 66
1000 60
11
m
n do
v
p
=

=


=
t
t

Maka faktor dinamis (f
v
) dengan kecepatan (v) = 11,21 m/det (kecepatan sedang)
adalah :

349 , 0
21 , 11 6
6
6
6
=
+
=
+
=
v
f
v

Beban tangensial yang bekerja pada roda gigi (F
t
) adalah :

N
do
T
F
t
99 , 10129
66
334286 2
2
11
7 1
=

=


Sehingga didapat tegangan statik yang dialami roda gigi :

2
/ 85 , 388
330 , 0 3 24 349 , 0
99 , 10129
mm N
y m b f
F
v
t
=

=

=
t
t
o

Beban aksial yang terjadi (f
a
) :
F
a
= F
t
tan
o

= 10129,99 tan 20
= 3687,01 N

21

Perhitungan Roda Gigi 5 :
z
5
= 38 gigi
do
5
= 113 mm
b
5
= 24 mm
Diameter lingkaran kepala (dk
5
) = (z
5
+ 2) m
= 40 3 = 120 mm
Tinggi kepala gigi (hk
5
) = k m
= 1 3 = 3 mm
Tinggi kaki gigi (hf
5
) = 1,25 m
= 1,25 3 = 3,75 mm
Maka tinggi gigi adalah : h
5
= hk
5
+ hf
5

= 3 + 3,75 = 6,75 mm
Tebal gigi t = 16 m
n

= 16 2,75 = 44 mm
Berdasarkan referensi II hal. 240, maka faktor bentuk gigi (y) adalah :
y = 0,383
Kecepatan roda gigi (v) yang terjadi :

det / 19 , 19
60000
24 , 3243 113
1000 60
11
m
n do
v
p
=

=


=
t
t

Maka faktor dinamis (f
v
) dengan kecepatan (v) = 19,19 m/det (kecepatan sedang)
adalah :
22


238 , 0
19 , 19 6
6
6
6
=
+
=
+
=
v
f
v

Beban tangensial yang bekerja pada roda gigi (F
t
) adalah :

N
do
T
F
t
57 , 5916
113
334286 2
2
5
7 1
=

=


Sehingga didapat tegangan statik yang dialami roda gigi :

2
/ 95 , 286
383 , 0 3 24 238 , 0
57 , 5916
mm N
y m b f
F
v
t
=

=

=
t
t
o

Beban aksial yang terjadi (f
a
) :
F
a
= F
t
tan
o

= 5916,57 tan 20
= 2153,46 N

3. 2. 2. Transmisi IV
Transmisi IV tidak membutuhkan pasangan roda gigi untuk
menggerakkan poros ke poros output, tetapi daya poros input akan langsung
diteruskan ke poros output tanpa poros perantara (direct driver) dengan
menggunakan sinkromes.


23

3. 2. 3. Transmisi Mundur (reverse)
Transmisi mundur (reverse) terdiri dari poros roda gigi 1-7, pasangan
roda gigi 6-13(roda gigi pembalik)-12. daya dari poros input diteruskan ke poros
perantara melalui poros roda gigi 1-7, lalu diteruskan ke poros pembalik 13
melalui roda gigi 12 dan diteruskan roda gigi 6 ke poros output. Pasangan roda
gigi satu telah dihitung, sedangkan roda gigi 6-13-12 akan dihitung di dalam
bagian berikut ini.
Pada roda gigi mundur data yang dipakai dalam perhitungan ini
adalah :
- Torsi pada poros perantara (T
p
) = 334286 Nmm
- Perbandingan transmisi R (i
R
) = 3,250
- Sudut tekan () = 20
- Sudut kisar () = 23
- Daya rencana = 104 kW
- Putaran poros perantara = 3243,24 rpm

Perhitungan Perbandingan Kecepatan Roda Gigi 6-12 dan 12-13
Perbandingan kecepatan roda gigi 6-12
757 , 1
85 , 1
250 , 3
7 1
12 6
= = =

i
i
i
R

Perbandingan kecepatan roda gigi 12-13
053 , 1
757 , 1
85 , 1
12 6
7 1
13 12
= = =

i
i
i
24

Perhitungan Diameter Roda Gigi 6-12-13
Roda gigi 12 dan 6 berjarak sangat dekat (tidak bersinggungan),
diasumsikan jarak cetak antara roda gigi 12 dan 6 = 15 mm.
do
6
= i
6-12
do
12
= 1,757 do
12

a = jarak poros antara roda gigi 12 dan 6 = 90 mm
a = 90 - 15 = 75 mm

mm do
do
do do
a
54 41 , 54
2
757 , 2
75
2
'
12
12
12 6
~ =

=
+
=

do
6
= i
6-12
do
12

= 1,757 54 = 94,88 95 mm.

Perhitungan Jumlah Gigi

gigi
m
do
z
18
3
54
12
12
= =
=


gigi
m
do
z
32 67 , 31
3
95
6
6
~ = =
=

z
13
= i
12-13
z
12

= 1,053 18 = 18,95 19 gigi
do
12
= z
13
m
= 19 3 = 57 mm
25

Perhitungan Roda Gigi 12 :
z
12
= 18 gigi
do
12
= 54 mm
b
12
= 24 mm
Diameter lingkaran kepala (dk
12
) = (z
12
+ 2) m
= 20 3 = 60 mm
Tinggi kepala gigi (hk
12
) = k m
= 1 3 = 3 mm
Tinggi kaki gigi (hf
12
) = 1,25 m
= 1,25 3 = 3,75 mm
Maka tinggi gigi adalah : h
12
= hk
12
+ hf
12

= 3 + 3,75 = 6,75 mm
Tebal gigi t = 16 m
n

= 16 2,75 = 44 mm
Berdasarkan referensi II hal. 240, maka faktor bentuk gigi (y) adalah :
y = 0,308
Kecepatan roda gigi (v) yang terjadi :

det / 17 , 9
60000
24 , 3243 54
1000 60
11
m
n do
v
p
=

=


=
t
t

Maka faktor dinamis (f
v
) dengan kecepatan (v) = 9,17 m/det (kecepatan sedang)
adalah :
26


396 , 0
17 , 9 6
6
6
6
=
+
=
+
=
v
f
v

Beban tangensial yang bekerja pada roda gigi (F
t
) adalah :

N
do
T
F
t
96 , 12380
54
334286 2
2
5
7 1
=

=


Sehingga didapat tegangan statik yang dialami roda gigi :

2
/ 77 , 448
308 , 0 3 24 396 , 0
96 , 12380
mm N
y m b f
F
v
t
=

=

=
t
t
o

Beban aksial yang terjadi (f
a
) :
F
a
= F
t
tan
o

= 12380,96 tan 20
= 4506,30 N

Perhitungan Roda Gigi 13 :
z
13
= 19 gigi
do
13
= 57 mm
b
13
= 24 mm
Diameter lingkaran kepala (dk
13
) = (z
13
+ 2) m
= 21 3 = 63 mm
Tinggi kepala gigi (hk
13
) = k m
27

= 1 3 = 3 mm
Tinggi kaki gigi (hf
13
) = 1,25 m
= 1,25 3 = 3,75 mm
Maka tinggi gigi adalah : h
13
= hk
13
+ hf
13

= 3 + 3,75 = 6,75 mm
Tebal gigi t = 16 m
n

= 16 2,75 = 44 mm
Berdasarkan referensi II hal. 240, maka faktor bentuk gigi (y) adalah :
y = 0,314
Kecepatan roda gigi (v) yang terjadi :

det / 67 , 9
60000
24 , 3243 57
1000 60
11
m
n do
v
p
=

=


=
t
t

Maka faktor dinamis (f
v
) dengan kecepatan (v) = 9,67 m/det (kecepatan sedang)
adalah :

383 , 0
67 , 9 6
6
6
6
=
+
=
+
=
v
f
v

Beban tangensial yang bekerja pada roda gigi (F
t
) adalah :

N
do
T
F
t
33 , 11729
57
334286 2
2
5
7 1
=

=


Sehingga didapat tegangan statik yang dialami roda gigi :
28


2
/ 40 , 431
314 , 0 3 24 383 , 0
33 , 11729
mm N
y m b f
F
v
t
=

=

=
t
t
o

Beban aksial yang terjadi (f
a
) :
F
a
= F
t
tan
o

= 12380,96 tan 20
= 4269,13 N

Perhitungan Roda Gigi 6 :
z
6
= 32 gigi
do
6
= 95 mm
b
13
= 24 mm
Diameter lingkaran kepala (dk
6
) = (z
6
+ 2) m
= 34 3 = 102 mm
Tinggi kepala gigi (hk
6
) = k m
= 1 3 = 3 mm
Tinggi kaki gigi (hf
6
) = 1,25 m
= 1,25 3 = 3,75 mm
Maka tinggi gigi adalah : h
6
= hk
6
+ hf
6

= 3 + 3,75 = 6,75 mm
Tebal gigi t = 16 m
n

= 16 2,75 = 44 mm
Berdasarkan referensi II hal. 240, maka faktor bentuk gigi (y) adalah :
29

y = 0,3645
Kecepatan roda gigi (v) yang terjadi :

det / 13 , 16
60000
24 , 3243 95
1000 60
11
m
n do
v
p
=

=


=
t
t

Maka faktor dinamis (f
v
) dengan kecepatan (v) = 16,13 m/det (kecepatan sedang)
adalah :

270 , 0
13 , 16 6
6
6
6
=
+
=
+
=
v
f
v

Beban tangensial yang bekerja pada roda gigi (F
t
) adalah :

N
do
T
F
t
60 , 7037
95
334286 2
2
5
7 1
=

=


Sehingga didapat tegangan statik yang dialami roda gigi :

2
/ 14 , 316
3645 , 0 3 24 270 , 0
60 , 7037
mm N
y m b f
F
v
t
=

=

=
t
t
o

Beban aksial yang terjadi (f
a
) :
F
a
= F
t
tan
o

= 7037,60 tan 20
= 2561,48 N

30

Kelengkapan Dimensi Roda Gigi
Berdasarkan modul pasangan roda gigi yang telah dihitung, maka
didapat beberapa kelengkapan dimensi roda gigi sesuai standar AGMA. Dimana
perhitungan sebelumnya didapat satu jenis modul yaitu 3, maka kelengkapan
dimensi untuk masing-masing pasangan roda gigi di atas adalah :
1. Jumlah gigi normal (z
mn
) :
o g
z
z
m
mn
| | cos cos
2

= (ref. I, hal. 105)


2. dimensi lingkaran tusuk normal (do
mn
) :
do
mn
= z
mn
m
n

3. sudut helix pada lingkaran roll (
b
) :
o o
b
b b
arc maka
i dan
i
a
db ana
do
db
arc
23
63
63
23 tan tan
85 , 1 ,
1
2
dim
tan tan
1
1
1
=
|
.
|

\
|
=
=
+

=
|
|
.
|

\
|
=
|
| |
(ref. I, hal. 87)
4. Sudut tekan pada lingkaran tusuk (
o
) :
o
o
o
o
on
o b
arc
arc
57 , 21
23 cos
20 tan
tan
cos
tan
tan
=
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
= =
|
o
o o
(ref. I, hal. 105)
5. sudut tekan pada lingkaran roll (
bn
) :
31

o
o
o
o
b
o
on bn
arc
arc
20
23 sin
23 sin
20 cos
sin
sin
cos
=
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
=
|
|
o o
(ref. I, hal. 105)
6. sudut keliling pada lingkaran dasar (
g
)
o
o
o
o
on
g
arc
arc
73 , 18
57 , 21 sin
20 sin
cos
sin
sin
cos
=
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
=
o
o
|
(ref. I, hal. 105)
3. 3. Perhitungan Kekuatan dan Umur Roda Gigi
1. Momen pada tingkat transmisi I
kgm
n
N
m
41 , 12
6000
104
716
716
1
1
=
=
=
(ref. I, hal. 88)
2. Gaya tangensial (U)
kgf
db
M
U
97 , 393
63
41 , 12 2000
10 2
1
3
1
=

=

=
(ref. I, hal. 88)
3. Beban nominal (B)
2
1
/ 14 , 0
63 44
97 , 393
mm kg
db t
U
B
=

=

=
(ref. I, hal. 88)
32

4. Gaya keliling per mm (u)
mm kg
b
U
u
/ 95 , 8
44
97 , 393
=
=
=
(ref. I, hal. 88)
5. Perhitungan faktor kesalahan gigi
- Kecepatan keliling (v)
v = 19,79 m/det

dari tabel 22/12 referensi I hal. 129 diambil kualitas g
g
e
= 1,0 g
R
=0,8
- Base pitch error (f
e
)
41 , 5
63 2 , 0 75 , 2 3 , 0 3 ( 0 , 1
2 , 0 3 , 0 3 (
1
s
+ + s
+ + s do m g f
n e e
(ref. I, hal. 129)
- Tooth direction error (f
R
)

98 , 3 31 , 5 75 , 0
75 , 0
; 0
75 , 0
31 , 5
44 8 , 0
= =
=
=
+ =
s
s
R rw
k
s k R rw
R R
f f
mounted straddle untuk g
C u g f f
t g f
(ref. I, hal. 129)


33

6. Perhitungan rasio kontak
n
dan
w

-
o
k
b k
arc
dk
db
89 , 31
849 , 0
69
63
57 , 21 cos
cos cos
1
1
1
1
=
=
=
=
o
o o
(ref. II, hal. 224)
-
o
k
b k
arc
z
z db
db
z
z
db
db
dk
db
80 , 27
885 , 0
123
117
57 , 21 cos
117
21
39 63
cos cos
1
1
7 1
7
1
7
1
7
1
1
1
=
=
=
=

=
= =
o
o o

- Rasio kontak tangensial ()
( )
( )
757 , 0
57 , 21 tan 87 , 31 tan
2
21
tan tan
2
1
1
1
=

=
o o
b k
z
t
o o
t
c
(ref. II, hal.224)
( )
( )
757 , 0
57 , 21 tan 80 , 27 tan
2
39
tan tan
2
7
7
7
=

=
o o
b k
z
t
o o
t
c

=
1 +

7
(ref. II, hal. 224)
= 0,757 + 0,819 = 1,576


34

- Rasio kontak normal (
n
)
757 , 1
73 , 18 cos
576 , 1
cos
2
2
= =
=
g
n
|
c
c
(ref. II, hal. 118)



- Rasio kontak efektif (
w
)
( )
( ) 208 , 2
6 / 41 , 5 75 , 2
4 / 79 , 19 75 , 2
1 757 , 1 1
6 /
4 /
1 1
=
+
+
+ =
+
+
+ =
e n
n
n w
f m
v m
c c
(ref. I, hal. 91)
7. Perhitungan faktor geometris kaki tinggi :
Dari grafik 22/40 referensi I hal. 134 dengan z
1n
= 25 dan z
7n
= 47, maka
didapat :
q
k1
= 2,78
q
k7
= 2,42
- Faktor kekuatan kaki gigi :
541 , 0
4 , 0 757 , 1
4 , 1
4 , 0
4 , 1
1
=
+
=
+
=
n
q
c
c
(ref. I, hal. 134)
537 , 0
4 , 0 208 , 2
4 , 1
4 , 0
4 , 1
7
=
+
=
+
=
w
q
c
c
(ref. I, hal. 134)
35

q
w1
= q
k1
+ q
1
(ref. I, hal. 97)
= 2,78 + 0,541 = 1,504
q
w7
= q
k7
+ q
7

= 2,42 + 0,537 = 1,299
8. Perhitungan faktor geometris permukaan kontak


- Faktor tekanan permukaan (y
c
)
925 , 2
57 , 21 cos 57 , 21 sin
1
cos sin
1
=

=
o o
b b
c
y
o o
(ref. I, hal. 100)
856 , 0
20 cos
73 , 18 cos
cos
cos
4
0
4
= =
=
o
o
g
b
y
|
|
(ref. I, hal. 112)
( )
w
bn n
z
y
1
1
1
tan
2
1 c
o
t
c


= (ref. I, hal. 100)
dimana :
844 , 0
73 , 18 cos
757 , 0
cos
2
2
1
1
= =
=
o
g
n
|
c
c
(ref. I, hal. 118)
06 , 1
757 , 1
208 , 2
844 , 0
1 1
= =
=
n
w
n w
c
c
c c
(ref. I, hal. 101)
36

maka :
( ) 832 , 0 757 , 0 1
20 tan 25
2
1 =


=
o
y
t
c
(ref. I, hal. 101)
009 , 3
832 , 0
856 , 0 925 , 2
1
=

=
c
|
y
y y
y
c
w
(ref. I, hal. 100)
504 , 2 856 , 0 925 , 2
2
= =
=
|
y y y
c w
(ref. I, hal. 100)
9. Perhitungan faktor koreksi CD dan U
dyn

-
5941 , 12 41 , 5 26 , 0 25 , 1 95 , 8
18 / 22 131 arg (
26 , 0
= +
+
tabel hal I ref erensi dari didapat C a h
f C u
S
e S

Dari grafik 22/37 referensi I hal. 131 didapat nilai U
dyn

U
dyn
= 4,8 Kg/mm
-
990 , 1
75 , 2
23 sin 44
sin
=

=
t
t
|
c
o
n
o
SP
m
t
(ref. I,hal. 126)
- Faktor pengaruh beban (C
D
)
( )
( )
14 , 1
1 990 , 1 25 , 1 95 , 8
8 , 4
1
1
1
=
+
+ =
+
+ =
SP S
dyn
D
C u
U
C
c
(ref. I, hal. 90)
10. Perhitungan faktor koreksi untuk distribusi beban
- Faktor pengaruh beban (C
T
)
37

4
1
T
C
T
+ = (ref. I, hal. 94)
dimana :
D S
RW Z
C C U
f C
T


=
1
(ref. I, hal. 94)
dari tabel 22/19 referensi I hal. 132 untuk kombinasi St/St, maka
C
Z
= 1, sehingga :
312 , 0
14 , 1 25 , 1 97 , 393
44 98 , 3 1
=


= T
maka :
078 , 1
4
312 , 0
1 = + =
T
C
dari grafik 22/18 referensi I hal. 132 didapatkan C

= 0,92
11. Perhitungan faktor kekuatan kaki gigi (S
B
)
Dari tabel 22/25 referensi I hal. 135 diambil Case Carburized Steel
- Kekuatan beban efektif (B
w
)
B
w
= B C
S
C
D
C
T
C

(ref. I, hal. 88)


= 0,14 1,25 1,14 1,078 0,92 = 0,1978 Kgf/mm
2

-
w1
= z
1
q
w1
B
w
(ref. I, hal.
110)
= 21 1,504 0,1978 = 6,25 Kgf/mm
2

-
w7
= z
7
q
w7
B
w

= 39 1,299 0,1978 = 5,40 Kgf/mm
2

38

-
922 , 5
25 , 6
37
251 .
1
1
1
1
= =
= = hal II ref erensi lihat S
D
W
D
B
o
o
o

(ref. I, hal. 98)
-
852 , 6
40 , 5
37
7
1
7
= =
=
W
D
B
S
o
o

12. Perhitungan tekanan permukaan yang diizinkan K
O

- y
G
= 1 (ref. I, hal. 136)
- y
H
= 1 (ref. I, hal. 136)
-
( ) ( )
60 , 60 ..... 30 , 30
79 , 19
200
.....
79 , 19
100
200
.....
100
4 , 0 4 , 0
4 , 0 4 , 0
50
= =
=
v v
v
(ref. I, hal. 137)
dari tabel 22/26 referensi I hal. 136 didapat nilai y
s

y
s
= 0,84
- faktor untuk k
o


( )
( )
216 , 1
79 , 19 / 8 1
6 , 0
7 , 0
/ 8 1
6 , 0
7 , 0
2
2
=
+
+ =
+
+ =
v
y
v
(ref. I, hal. 136)
13. Perhitungan faktor keamanan permukaan gigi (S
G
)
- Tekanan permukaan gigi (k
w
)
39

2
1 1
/ 917 , 0 1978 , 0 009 , 3
85 , 1
1 85 , 1
1
mm Kgf
B y
i
i
k
w w w
=
+
=

+
=
(ref. I, hal. 102)
2
7 7
/ 763 , 0 1978 , 0 504 , 2
85 , 1
1 85 , 1
1
mm Kgf
B y
i
i
k
w w w
=
+
=

+
=

- K
D
= y
G
y
H
y
S
y
v
k
o
(ref. I, hal. 136)
k
o
diambil dari referensi I hal. 135
k
o
= 10
maka :
K
D
= 1 1 0,80 1,216 10 = 9,728
- Faktor keamanan untuk pitting (kepala gigi)
608 , 10
917 , 0
728 , 9
1
1
1
= =
=
W
D
G
k
k
S
(ref. I, hal. 136)
750 , 12
763 , 0
728 , 9
7
1
7
= =
=
W
D
G
k
k
S

14. Faktor keamanan terhadap scoring
-
63 , 6 57 , 21 cos 3 73 , 18 cos 844 , 0
cos cos
2
2
1 max
= =
=
o o
o g n
m
t
o t | c c
(ref. I, hal.
136)
40

-
0995 , 0
75 , 2
10
63 , 6
1
85 , 1
1 85 , 1
63
7 , 12
10
1
1 7 , 12
4
4
max
2
1
=

|
.
|

\
|
+ |
.
|

\
| +
=

|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
| +
=
n F
m
i
i
db
y
c
(ref. I, hal. 102)
-
1
cos
+



=
i
i
y y B
k
S
F C w
o TEST
F
|
(ref. I, hal. 102)
Diasumsikan M
TEST
= 30 Kgfm
Sehingga K
TEST
= 1,2
Maka :
369 , 11
1 85 , 1
85 , 1
0995 , 0 925 , 2 2167 , 0
23 cos 2 , 1
=
+

=
o
F
S



15. Umur Gigi
- Umur kaki gigi
( ) jam
S
n n
L
L
B
w
h
83 , 40077 922 , 5
6000
10 33
10 33
60
5
3
5
3
1
=

=
(ref. I, hal. 136)

( ) jam
S
n n
L
L
B
w
h
02 , 83602 852 , 6
6000
10 33
10 33
60
5
3
5
3
7
=

=

- Umur kepala gigi (pitting)
41

( ) jam
S
n
K
n
L
L
G
D w
h
83 , 30468 608 , 10
6000
728 , 9 10 167
10 167
60
2
3
2
3
1
=

=

=

(ref. I, hal. 136)
( ) jam
S
n
K
n
L
L
G
D w
h
86 , 44015 750 , 12
6000
728 , 9 10 167
10 167
60
2
3
2
3
7
=

=

=


Keterangan :

Pasangan Roda Gigi


Bahan

D


K
o

1 dan 7 16 Mn Cr 5 37 10,0
5 dan 11 16 Mn Cr 5 37 10,0
4 dan 10 CK 45 27,7 8,6
3 dan 9 CK 45 27,7 8,6
2 dan 8 CK 45 27,7 8,6
6,12, dan 13 37 Mn Si 5 30 7,4








42

BAB IV
PERHITUNGAN POROS DAN BANTALAN

4. 1. PERHITUNGAN POROS
Ada beberapa gaya yang bekerja pada roda gigi lurus, antara lain :
a. Gaya tangensial, yaitu gaya yang arahnya searah dengan garis singgung
lingkaran tusuk pada titik kontak gigi. Gaya inilah yang menggerakkan roda
gigi.
b. Gaya radial, yaitu gaya yang arahnya tegak lurus dengan gaya tangensial
menuju ke pusat rotasi.
c. Gaya aksial, yaitu gaya yang arahnya tegak lurus dengan gaya tangensial dan
gaya radial serta sejajar dengan sumbu rotasi.

4.1.1. PERHITUNGAN GAYA-GAYA YANG TERJADI
a) Gaya Tangensial ( Ft )
Ft
n
= 2 . Mx . 10
3
( N ) *) Ref. 4 hal. 166
do
n
Mx = 95449, 29 N / n

b) Gaya Radial ( Fr )
Fr
n
= Ft
n
. tg
o
/ cos
o
( N ) *) Ref. 4 hal 154
c) Gaya Aksial ( Fa )
Fa
n
= Ft
n
. tg
o
( N ) *) Ref. 4 hal 167


43

#) Tabel gaya
Z Mx Ft Fr Fa
Z
1
124,11 3940 1557,89 1672,43
Z
2
66,92 2433,45 962,19 1032,94
Z
3
229,09 6109,07 2415,54 2593,15
Z
4
423,83 9314,94 3683,15 3953,96
Z
5
783,83 13837,10 5471,23 5873,50
Z
6
409,75 8628,32 3410,87 3661,66
Z
7
124,11 2121,54 838,86 900,54
Z
8
66,92 1070,72 423,37 454,49
Z
9
229,09 4363,62 1725,39 1852,25
Z
10
423,83 9524,27 3765,92 4042,81
Z
11
783,83 23752,42 9391,77 10082,30
Z
12
409,75 15175,93 6000,61 6441,80
Z
13
243,29 8536,49 3375,35 3626,52

4. 1. 2. PERHITUNGAN POROS
4. 1. 2. 1. Poros I




Gbr. Poros I dan gaya gaya pendukung
44

Perhitungan Gaya gaya Yang Terjadi
a) Gaya gaya yang terjadi pada poros I
F
t1
= 3940 N F
r1
= 1557,89 N F
a1
= 1672,43 N
F
t2
= 2433,45 N F
r2
= 962,54 N F
a2
= 1032,94 N
F
t3
= 6109,07 N F
r3
= 2415,54 N F
a3
= 2593,15 N
F
t4
= 9314,94 N F
r4
= 3683,15 N F
a4
= 2153,96 N
F
t5
= 13837,10 N F
r5
= 5471,23 N F
a5
= 5873,50 N
F
t6
= 8626,32 N F
r6
= 3410,87 N F
a6
= 3661,66 N
Reaksi gaya-gaya pada roda gigi dan bantalan :
- Reaksi gaya vertikal :
F
v
= 0
R
Av
- F
rB
- F
rC
- F
rD
- F
rE
- F
rF
+ R
Gv
- F
rH
= 0
R
Av
+ R
Gv
= F
rB
+ F
rC
+ F
rD
+ F
rE
+ F
rF
+ F
rH

= 1557,89 + 2415,54 + 3683,15 + 5471,23 + 3410,87 + 962,54
= 17501,22 N
M
Av
= 0
F
rB
25 + F
rC
85 + F
rD
125 + F
rE
165 + F
rF
225 + F
rH
315 - R
Gv
250 = 0
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
N
F F F F F F
R
rH rF rE rD rC rB
Gv
24 , 10712
250
315 225 165 125 85 25
=
+ + + + +
=

maka :
R
Av
= 17501,22 - R
Gv

= 17501,22 - 10712,24
45

= 6788,98 N
- Reaksi gaya aksial :
F
A
= 0
R
aA
= F
aB
+ F
aC
+ F
aD
+ F
aE
+ F
aF
+ F
aH

= 1672,43 + 2593,15 + 3153,96 + 5873,50 + 3661,66 + 1032,94
= 17987,64 N
- Reaksi gaya horizontal :
F
h
= 0
R
Ah
- F
tB
- F
tC
- F
tD
- F
tE
- F
tF
+ R
Gh
- F
tH
= 0
R
Ah
+ R
Gh
= F
tB
+ F
tC
+ F
tD
+ F
tE
+ F
tF
+ F
tH

= 3940 + 6109,07 + 9314,94 + 13837,10 + 8626,32 + 2433,45
= 44260,88 N
M
Av
= 0
F
tB
25 + F
tC
85 + F
tD
125 + F
tE
165 + F
tF
225 + F
tH
315 - R
Gh
250 = 0
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
N
F F F F F F
R
tH tF tE tD tC tB
Gh
87 , 27090
250
315 225 165 125 85 25
=
+ + + + +
=

maka :
R
Ah
= 44260,88 - R
Gh

= 44260,88 - 27090,87
= 17170,01 N


46

Momen yang terjadi :
- Momen akibat gaya vertikal :
M
Av
= 0
M
Bv
= R
Av
25 = 6788,98 25 = 169724,5 Nmm
M
Cv
= (R
Av
85)-(F
rB
60) = (6788,98 85)-(1557,89 60) = 483589,9 Nmm
M
Dv
= (R
Av
125)-(F
rB
100)-(F
rC
40)
= (6788,98 125)-(1557,89 100)-(2415,54 40) = 596.211,9 Nmm
M
Ev
= (R
Av
165)-(F
rB
140)-(F
rC
80)-(F
rD
40)
= (6788,98 165)-(1557,89 140)-(2415,54 80)-(3683,15 40)
= 561507,9 Nmm
M
Fv
= (R
Av
225)-(F
rB
200)-(F
rC
140)-(F
rD
100)-(F
rE
60)
= (6788,98 225)-(1557,89 200)-(2415,54 140)-(3683,15 100)
-(5471,23 60)
= 181160,1 Nmm
M
Gv
= (R
Av
250)-(F
rB
225)-(F
rC
165)-(F
rD
125)-(F
rE
85)-(F
rF
25)
= (6788,98 250)-(1557,89 225)-(2415,54 165)-(3683,15 125)
-(5471,23 85)-(3410,87 25)
= -62584,65 Nmm
M
Hv
= (R
Av
315)-(F
rB
290)-(F
rC
230)-(F
rD
190)-(F
rE
150)-(F
rF
90)-M
Gv

= (6788,98 315)-(1557,89 290)-(2415,54 230)-(3683,15 190)
-(5471,23 150)-(3410,87 90)-(-62584,65)
= -330142,85 Nmm

47

- Momen akibat gaya aksial :
Nmm
do
F M
a aB
54 , 52681
2
63
43 , 1672
2
1
1
= = =
Nmm
do
F M
a aC
13 , 97243
2
75
15 , 2593
2
2
2
= = =
Nmm
do
F M
a aD
179905
2
91
96 , 3953
2
3
3
= = =
Nmm
do
F M
a aE
75 , 331825
2
113
50 , 5873
2
4
4
= = =
Nmm
do
F M
a aF
85 , 173928
2
95
66 , 3661
2
5
5
= = =
Nmm
do
F M
a aH
85 , 28405
2
55
94 , 1032
2
6
6
= = =
- Momen akibat gaya horizontal :
M
Ah
= 0
M
Bh
= R
Ah
25 = 17170,01 25 = 429250,25 Nmm
M
Ch
= (R
Ah
85)-(F
tB
60) = (17170,01 85)-(3940 60) = 1223050,85 Nmm
M
Dh
= (R
Ah
125)-(F
tB
100)-(F
tC
40)
= (17170,01 125)-(3940 100)-(6109,07 40) = 1507888,45 Nmm
M
Eh
= (R
Ah
165)-(F
tB
140)-(F
tC
80)-(F
tD
40)
= (17170,01 165)-(3940 140)-(6109,07 80)-(9314,94 40)
= 1420128,45 Nmm
M
Fh
= (R
Ah
225)-(F
tB
200)-(F
tC
140)-(F
tD
100)-(F
tE
60)
= (17170,01 165)-(3940 140)-(6109,07 80)-(9314,94 100)-
(13837,1 60)
48

= 458262,45 Nmm
M
Gh
= (R
Ah
250)-(F
tB
225)-(F
tC
165)-(F
tD
125)-(F
tE
85)-(F
tF
25)
= (17170,01 250)-(3940 225)-(6109,07 165)-(9314,94 125)
-(13837,10 85)-(8626,32 25)
= -158173,05 Nmm
M
Hh
= (R
Ah
315)-(F
tB
290)-(F
tC
230)-(F
tD
190)-(F
tE
150)-(F
tF
90)-M
Gh

= (17170,01 315)-(3940 290)-(6109,07 230)-(9314,94 190)
-(13837,32 150)-(8626,32 90)-( -158173,05)
= -1602732,3 Nmm
Sehingga momen bengkok yang terjadi :

( ) ( )
( ) ( )
Nmm
Mh Mv M
49 , 1710034
3 , 1602732 9 , 596211
2 2
2
max
2
max
=
+ =
+ =

Bahan poros I disamakan dengan bahan roda gigi 1 yaitu16 Mn Cr 5 atau
SCM 21,
B
= 110 Kg/mm
2
= 1100 N/mm
2
, Sf
1
= 6 dan Sf
2
= 1,3 (Sf
2
= 1,3-3,0),
maka :
2
2 1
/ 25 , 141
3 , 1 6
1100
mm N
Sf Sf
B
a
=

=
o
o

Berdasarkan referensi II hal. 8 dan 17, untuk beban dengan tumbukan ringan,
maka didapat :
K
t
= 1,0 1,5 (faktor koreksi untuk momen lentur)
K
m
= 1,5 2,0 (faktor koreksi untuk momen puntir)
49

Maka diambil :
K
t
= 1,0
K
m
= 1,5
Torsi yang terjadi :

Nmm Nm
n
N
T
165521 521 , 165
6000 2
104000 60
2
60
= =

=


=
t
t

Sehingga torsi ekivalen yang terjadi adalah :

( ) ( )
( ) ( )
Nmm
T K M K T
t m e
66 , 2570386
165521 0 , 1 49 , 1710034 5 , 1
2 2
2 2
=
+ =
+ =

dan momen lentur ekivalennya :

( ) { }
( ) { } Nmm
T M k M
m e
37 , 1365286 165521 49 , 1710034 5 , 1
2
1
2
1
= + =
+ =

Bahan poros yang digunakan adalah 16 Mn Cr 5 atau SCM 21, dengan tegangan
lentur yang diizinkan :

B
= 1100 Kg/mm
2
= 1100 N/mm, diambil faktor keamanan = 4

2
/ 275
4
1100
mm N
v
B
= =
=
o
o


Berdasarkan referensi I hal. 7 didapat diameter poros :
50


mm
T d
e
B
s
25 , 45
66 , 2570386
25 , 141
16
16
3
3
=

=
t
o t

Diameter poros yang diambil adalah d
s
= 45 mm.
Tegangan geser yang terjadi :

2
3
3
/ 49 , 134
45
66 , 2570386 16
16
mm N
d
T
s
e
a
=

=
t
t
o

Sehingga tegangan geser yang terjadi masih lebih kecil daripada tegangan geser
yang diizinkan :
a a
o o ( , sehingga dinyatakan aman.
Tegangan lentur yang terjadi :
Berdasarkan referensi II hal. 12 didapat :

2
3
3
/ 61 , 152
45
37 , 1365286 32
32
mm N
d
M
s
e
=

=
t
t
o

Sehingga tegangan lentur yang terjadi masih lebih kecil daripada tegangan lentur
yang diizinkan : o o( , sehingga dinyatakan aman.
Sudut puntiran yang diizinkan :
Berdasarkan referensi II hal 18 didapatkan :

o o
o
L
749 , 0 25 , 0
315
1000
25 , 0
1000
= =
= u

51

Sudut puntir yang terjadi :
Berdasarkan Referensi II hal. 18 didapat :

o
s
d G
L T
089 , 0
45 10 83
315 165521 584
584
4 3
4
=


=


= u

Sehingga sudut puntiran yang terjadi masih lebih kecil daripada sudut puntiran
yang diizinkan persatuan meter : u u( , sehingga dinyatakan aman.

4. 1. 2. 2. Poros II





Gbr. Poros II dan gaya gaya pendukung
Perhitungan Gaya gaya Yang Terjadi
a) Gaya gaya yang terjadi pada poros II
F
t7
= 2121,54 N F
r7
= 838,86 N F
a7
= 900,54 N
F
t8
= 1070,72 N F
r8
= 423,37 N F
a8
= 454,49 N
F
t9
= 4363,62 N F
r9
= 1725,39 N F
a9
= 1852,25 N
F
t10
= 9524,27 N F
r10
= 3765,92 N F
a10
= 4042,81 N
F
t11
= 23752,42 N F
r11
= 9391,77 N F
a11
= 10082,30 N
F
t12
= 15175,93 N F
r12
= 6000,61 N F
a12
= 6441,80 N
52

Reaksi gaya-gaya pada roda gigi dan bantalan :
- Reaksi gaya vertikal :
F
v
= 0
R
Iv
- F
rJ
- F
rK
- F
rL
- F
rM
- F
rN
+ R
Ov
- F
rP
= 0
R
Iv
+ R
Ov
= F
rJ
+ F
rK
+ F
rL
+ F
rM
+ F
rN
+ F
rP

= 838,86 + 423,37 + 1725,39 + 3765,92 + 9391,77 + 6000,61
= 22145,92 N
M
Iv
= 0
F
rJ
25 + F
rK
85 + F
rL
125 + F
rM
165 + F
rN
225 + F
rP
315 - R
Ov
250 = 0
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
N
F F F F F F
R
rP rN rM rL rK rJ
Ov
04 , 14686
250
315 225 165 125 85 25
=
+ + + + +
=

maka :
R
Iv
= 22145,92 - R
Ov

= 22145,92 - 14686,04
= 7459,88 N
- Reaksi gaya aksial :
F
A
= 0
R
aI
= F
aJ
+ F
aK
+ F
aL
+ F
aM
+ F
aN
+ F
aP

= 900,54 + 454,49 + 1852,25 + 4042,81 + 10082,30 + 6441,80
= 23774,19 N
- Reaksi gaya horizontal :
F
h
= 0
53

R
Ih
- F
tJ
- F
tK
- F
tL
- F
tM
- F
tN
+ R
Oh
- F
tP
= 0
R
Ih
+ R
Oh
= F
tJ
+ F
tK
+ F
tL
+ F
tM
+ F
tN
+ F
tP

= 2121,54+1070,72+4363,62+9524,27+23752,42+15175,93
= 56008,5 N
M
Ih
= 0
F
tJ
25 + F
tK
85 + F
tL
125 + F
tM
165 + F
tN
225 + F
tP
315 - R
Oh
250 = 0
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
N
F F F F F F
R
tP tN tM tL tK tJ
Oh
96 , 37141
250
315 225 165 125 85 25
=
+ + + + +
=

maka :
R
Ih
= 56008,5 - R
Oh

= 56008,5 - 37141,96
= 18866,54 N
Momen yang terjadi :
- Momen akibat gaya vertikal :
M
Iv
= 0
M
Jv
= R
Iv
25 = 7459,88 25 = 169724,5 Nmm
M
Kv
= (R
Iv
85)-(F
rJ
60) = (7459,88 85)-(838,86 60) = 171663,5 Nmm
M
Lv
= (R
Iv
125)-(F
rJ
100)-(F
rK
40)
= (7459,88 125)-(838,86 100)-(1725,39 40) = 256480,37 Nmm
M
Mv
= (R
Iv
165)-(F
rJ
140)-(F
rK
80)-(F
rL
40)
= (7459,88 165)-(838,86 140)-(1725,39 80)-(3765,92 40)
= 220417,72 Nmm
54

M
Nv
= (R
Iv
225)-(F
rJ
200)-(F
rK
140)-(F
rL
100)-(F
rM
60)
=(7459,88 225)-(838,86 200)-(1725,39 140)-(3765,92 100)-
(9391,77 60)
= 232184,58 Nmm
M
Ov
= (R
Iv
250)-(F
rJ
225)-(F
rK
165)-(F
rL
125)-(F
rM
85)-(F
rN
25)

= (7459,88 250)-(838,86 225)-(1725,39 165)-(3765,92 125)
-(9391,77 85)-(6000,61 25)
= -27518,24 Nmm
M
Pv
= (R
Iv
315)-(F
rJ
290)-(F
rK
230)-(F
rL
190)-(F
rM
150)-(F
rN
90)-M
Ov

= (7459,88 315)-(838,86 290)-(1725,39 230)-(3765,92 190)
-(9391,77 150)-(6000,61 90)-(-27518,24)
= -257072,48 Nmm
- Momen akibat gaya aksial :
Nmm
do
F M
a aJ
59 , 52681
2
117
54 , 900
2
7
7
= = =
Nmm
do
F M
a aK
63 , 28405
2
125
49 , 454
2
8
8
= = =
Nmm
do
F M
a aL
13 , 97243
2
105
25 , 1852
2
9
9
= = =
Nmm
do
F M
a aM
05 , 179905
2
89
81 , 4042
2
10
10
= = =
Nmm
do
F M
a aN
9 , 332715
2
66
30 , 10082
2
11
11
= = =
Nmm
do
F M
a aP
6 , 173928
2
54
80 , 6441
2
12
12
= = =
55

- Momen akibat gaya horizontal :
M
Ih
= 0
M
Jh
= R
Ih
25 = 18866,54 25 = 191497 Nmm
M
Kh
= (R
Ih
85)-(F
tJ
60) = (18866,54 85)-(2121,54 60) = 236165,4 Nmm
M
Lh
= (R
Ih
125)-(F
tJ
100)-(F
tK
40)
= (18866,54 125)-(2121,54 100)-(4363,62 40) = 349583,44 Nmm
M
Mh
= (R
Ih
165)-(F
tJ
140)-(F
tK
80)-(F
tL
40)
= (18866,54 165)-(2121,54 140)-(4363,62 80)-(9524,27 40)
= 354771,87 Nmm
M
Nh
= (R
Ih
225)-(F
tJ
200)-(F
tK
140)-(F
tL
100)-(F
tM
60)
= (18866,54 165)-(2121,54 140)-(4363,62 80)-(9524,27 100)
-(23752,42 60)
= 329048,22 Nmm
M
Oh
= (R
Ih
250)-(F
tJ
225)-(F
tK
165)-(F
tL
125)-(F
tM
85)-(F
tN
25)
= (18866,54 250)-(2121,54 225)-( 4363,62 165)-(9524,27 125)
-(23752,42 85)-(15175,93 25)
= -16558 Nmm
M
Ph
= (R
Ih
315)-(F
tJ
290)-(F
tK
230)-(F
tL
190)-(F
tM
150)-(F
tN
90)-M
Oh

= (18866,54 315)-(2121,54 290)-(4363,62 230)-(9524,27 190)
-(23752,42 150)-(15175,93 90)-( -16558)
= -388727,20 Nmm
Sehingga momen bengkok yang terjadi :
56


( ) ( )
( ) ( )
Nmm
Mh Mv M
95 , 466041
20 , 388727 48 , 257072
2 2
2
max
2
max
=
+ =
+ =

Bahan poros II disamakan dengan bahan roda gigi 7 yaitu 20 Mn Cr 5
atau SCM 22,
B
= 130 Kg/mm
2
= 1300 N/mm
2
, Sf
1
= 6 dan Sf
2
= 1,3 (Sf
2
=
1,3-3,0), maka :
2
2 1
/ 67 , 166
3 , 1 6
1300
mm N
Sf Sf
B
a
=

=
o
o

Berdasarkan referensi II hal. 8 dan 17, untuk beban dengan tumbukan ringan,
maka didapat :
K
t
= 1,0 1,5 (faktor koreksi untuk momen lentur)
K
m
= 1,5 2,0 (faktor koreksi untuk momen puntir)
Maka diambil :
K
t
= 1,0
K
m
= 1,5
Torsi yang terjadi :

Nmm Nm
n
N
T
165521 521 , 165
6000 2
104000 60
2
60
= =

=


=
t
t

Sehingga torsi ekivalen yang terjadi adalah :

( ) ( )
( ) ( )
Nmm
T K M K T
t m e
38 , 718391
165521 0 , 1 95 , 466041 5 , 1
2 2
2 2
=
+ =
+ =

57

dan momen lentur ekivalennya :

( ) { }
( ) { } Nmm
T M k M
m e
62 , 432291 165521 95 , 466041 5 , 1
2
1
2
1
= + =
+ =

Bahan poros yang digunakan adalah 20 Mn Cr 5 atau SCM 22, dengan tegangan
lentur yang diizinkan :

B
= 1300 Kg/mm
2
= 1300 N/mm, diambil faktor keamanan = 4

2
/ 325
4
1300
mm N
v
B
= =
=
o
o

Berdasarkan referensi I hal. 7 didapat diameter poros :

mm
T d
e
B
s
99 , 27
38 , 718391
67 , 166
16
16
3
3
=

=
t
o t

Diameter poros yang diambil adalah d
s
= 28 mm.
Tegangan geser yang terjadi :

2
3
3
/ 78 , 107
28
08 , 10835617 16
16
mm N
d
T
s
e
a
=

=
t
t
o

Sehingga tegangan geser yang terjadi masih lebih kecil daripada tegangan geser
yang diizinkan :
a a
o o ( , sehingga dinyatakan aman.
Tegangan lentur yang terjadi :
58

Berdasarkan referensi II hal. 12 didapat :

2
3
3
/ 38 , 109
28
01 , 5498040 32
32
mm N
d
M
s
e
=

=
t
t
o

Sehingga tegangan lentur yang terjadi masih lebih kecil daripada tegangan lentur
yang diizinkan : o o( , sehingga dinyatakan aman.
Sudut puntiran yang diizinkan :
Berdasarkan referensi II hal 18 didapatkan :

o o
o
L
749 , 0 25 , 0
315
1000
25 , 0
1000
= =
= u

Sudut puntir yang terjadi : Berdasarkan Referensi II hal. 18 didapat :

o
s
d G
L T
009 , 0
28 10 83
315 165521 584
584
4 3
4
=


=


= u

Sehingga sudut puntiran yang terjadi masih lebih kecil daripada sudut puntiran
yang diizinkan persatuan meter : u u( , sehingga dinyatakan aman.
4. 1 .2. 3. Poros Pembalik




Gbr. Poros pembalik dan Gaya-gaya pendukung

59

Poros pembalik merupakan poros tempat roda gigi 13 dipasangkan,
tidak berputar melainkan hanya menahan beban roda gigi 13 (roda gigi lurus).
Dengan data sebagai berikut :
F
t
= 8536,49 N
F
a
= 3623,52 N
F
r
= 3375,35 N
Reaksi gaya-gaya pada roda gigi dan bantalan :
- Reaksi gaya vertikal :
F
v
= 0
R
Qv
- F
r13
+ R
Rv
= 0
R
Qv
+ R
Rv
= F
r13

= 3375,35 N
M
Qv
= 0
F
r13
50 R
Rv
250 = 0
N
F
R
r
Rv
33 , 2250
75
50 35 , 3375
75
50
13
=

=

maka :
R
Qv
= 3375,35 - R
Rv

= 3375,35 - 2250,33
= 1125,02 N
- Reaksi gaya aksial :
F
A
= 0
60

R
aQ
- F
a13
= 0
R
aQ
= F
a13
= 3623,52 N
- Reaksi gaya horizontal :
F
h
= 0
R
Qh
- F
t13
+ R
Oh
= 0
R
Qh
+ R
Rh
= F
t13
= 8536,49 N
M
Qh
= 0
F
t13
50 R
Rh
75 = 0
N
F
R
t
Rh
99 , 5690
75
50 49 , 8536
75
50
13
=

=

maka :
R
Qh
= 8536,49 - R
Rh

= 8536,49 - 5690,99
= 2845,5 N
Momen yang terjadi :
- Momen akibat gaya vertikal :
M
Qv
= 0
M
Sv
= R
Qv
50 = 1125,02 50 = 56251 Nmm
M
Rv
= (R
Qv
75)-(F
r13
25) = (1125,02 75)-(3375,35 25) = 0
- Momen akibat gaya aksial :
Nmm
do
F M
a aS
32 , 103270
2
57
52 , 3623
2
13
13
= = =
61

- Momen akibat gaya horizontal :
M
Qh
= 0
M
Sh
= R
Qh
50 = 2845,5 50 = 142275 Nmm
M
Rh
= (R
Qh
75)-(F
t13
25) = (2845,5 75)-(8536,49 25) = 0
Sehingga momen bengkok yang terjadi :

( ) ( )
( ) ( )
Nmm
Mh Mv M
34 , 152991
142275 56251
2 2
2
max
2
max
=
+ =
+ =

Bahan poros pembalik disamakan dengan bahan roda gigi 13 yaitu 37 Mn
Si 5 atau S 55 C-D,
B
= 72 Kg/mm
2
= 720 N/mm
2
, Sf
1
= 6 dan Sf
2
= 1,5 (Sf
2
=
1,3-3,0), maka :
2
2 1
/ 31 , 92
3 , 1 6
720
mm N
Sf Sf
B
a
=

=
o
o

Berdasarkan referensi II hal. 8 dan 17, untuk beban dengan tumbukan ringan,
maka didapat :
K
t
= 1,0 1,5 (faktor koreksi untuk momen lentur)
K
m
= 1,5 2,0 (faktor koreksi untuk momen puntir)
Maka diambil :
K
t
= 1,0
K
m
= 1,5
Torsi yang terjadi :
62


Nmm Nm
n
N
T
165521 521 , 165
6000 2
104000 60
2
60
= =

=


=
t
t

Sehingga torsi ekivalen yang terjadi adalah :

( ) ( )
( ) ( )
Nmm
T K M K T
t m e
39 , 282951
165521 0 , 1 34 , 152991 5 , 1
2 2
2 2
=
+ =
+ =

dan momen lentur ekivalennya :

( ) { }
( ) { } Nmm
T M k M
m e
01 , 197504 165521 34 , 152991 5 , 1
2
1
2
1
= + =
+ =

Bahan poros yang digunakan adalah 37 Mn Si 5 atau S 55 C-D, dengan tegangan
lentur yang diizinkan :

B
= 720 Kg/mm
2
= 720 N/mm, diambil faktor keamanan = 4

2
/ 180
4
720
mm N
v
B
= =
=
o
o

Berdasarkan referensi I hal. 7 didapat diameter poros :

mm
T d
e
B
s
21 , 26
39 , 282951
80
16
16
3
3
=

=
t
o t

Diameter poros yang diambil adalah d
s
= 26 mm.
Tegangan geser yang terjadi :
63


2
3
3
/ 99 , 81
26
39 , 282951 16
16
mm N
d
T
s
e
a
=

=
t
t
o

Sehingga tegangan geser yang terjadi masih lebih kecil daripada tegangan geser
yang diizinkan :
a a
o o ( , sehingga dinyatakan aman.
Tegangan lentur yang terjadi :
Berdasarkan referensi II hal. 12 didapat :

2
3
3
/ 46 , 114
26
01 , 197504 32
32
mm N
d
M
s
e
=

=
t
t
o

Sehingga tegangan lentur yang terjadi masih lebih kecil daripada tegangan lentur
yang diizinkan : o o( , sehingga dinyatakan aman.
Sudut puntiran yang diizinkan :
Berdasarkan referensi II hal 18 didapatkan :

o o
o
L
33 , 3 25 , 0
75
1000
25 , 0
1000
= =
= u

Sudut puntir yang terjadi :
Berdasarkan Referensi II hal. 18 didapat :

o
s
d G
L T
191 , 0
26 10 83
75 165521 584
584
4 3
4
=


=


= u

64

Sehingga sudut puntiran yang terjadi masih lebih kecil daripada sudut puntiran
yang diizinkan persatuan meter : u u( , sehingga dinyatakan aman.

4. 2. PERHITUNGAN BANTALAN
4. 2. 1. Bantalan Poros Input
Gaya aksial yang diterima (F
a1
) = 1557,89 N
Gaya radial yang diterima (F
r1
) = 1672,43 N
Sehingga berdasarkan referensi II hal. 144 bantalan yang digunakan adalah jenis
bantalan roll no. 30308 SKF dengan :
- Beban dinamik (C) = 61000 N
- Beban statik (C
o
) = 47500 N
Beban dinamis ekivalen :
Berdasarkan referensi II hal. 135 diperoleh beban dinamis ekivalen :
033 , 0
47500
89 , 1557
= =
o
a
C
F

Maka dari tabel tersebut diperoleh : e = 0,28 dan v = 1
Untuk baris tunggal :
93 , 0
43 , 1672 1
89 , 1557
=

r
a
F v
F
> e
Maka diperoleh : x = 0,56; dan y = 1,97
P
r
= x v F
r
+ y F
a

= 0,56 1 1672,43 + 1,97 1557,89
= 4005,60 N
65

Faktor kecepatan :

211 , 0
6000
3 , 33
3 , 33
10 / 3
10 / 3
=
|
.
|

\
|
=
|
.
|

\
|
=
n
f
n
(ref. II, hal. 136)
Faktor umur :

213 , 3
60 , 4005
61000
211 , 0 = =
=
r
n h
P
C
f f
(ref. II, hal. 136)
Umur nominal :

jam
F L
h h
17 , 24472 213 , 3 500
500
3 / 10
3 / 10
= =
=
(ref. II, hal. 136)


4. 2. 2. Bantalan Poros Antara
Gaya aksial yang diterima (F
a7
) = 900,54 N
Gaya radial yang diterima (F
r7
) = 838,86 N
Sehingga berdasarkan referensi II hal. 144 bantalan yang digunakan adalah jenis
bantalan roll no. 32305 SKF dengan :
- Beban dinamik (C) = 44000 N
- Beban statik (C
o
) = 33000 N
Beban dinamis ekivalen :
Berdasarkan referensi II hal. 135 diperoleh beban dinamis ekivalen :
66

027 , 0
33000
54 , 900
= =
o
a
C
F

Maka dari tabel tersebut diperoleh : e = 0,22 dan v = 1
Untuk baris tunggal :
07 , 1
86 , 838 1
54 , 900
=

r
a
F v
F
> e
Maka diperoleh : x = 0,56; dan y = 2,12
P
r
= x v F
r
+ y F
a

= 0,56 1 838,86 + 2,12 900,54
= 2378,906 N
Faktor kecepatan :

211 , 0
6000
3 , 33
3 , 33
10 / 3
10 / 3
=
|
.
|

\
|
=
|
.
|

\
|
=
n
f
n
(ref. II, hal. 136)
Faktor umur :

903 , 3
906 , 2378
44000
211 , 0 = =
=
r
n h
P
C
f f
(ref. II, hal. 136)
Umur nominal :

jam
F L
h h
98 , 46593 903 , 3 500
500
3 / 10
3 / 10
= =
=
(ref. II, hal. 136)


67

4. 2. 3. Bantalan Poros Output
Gaya aksial yang diterima (F
a5
) = 5878,50 N
Gaya radial yang diterima (F
r5
) = 5471,23 N
Sehingga berdasarkan referensi II hal. 144 bantalan yang digunakan adalah jenis
bantalan roll no. 32304 SKF dengan :
- Beban dinamik (C) = 32000 N
- Beban statik (C
o
) = 23500 N
Beban dinamis ekivalen :
Berdasarkan referensi II hal. 135 diperoleh beban dinamis ekivalen :
250 , 0
23500
5 , 5878
= =
o
a
C
F

Maka dari tabel tersebut diperoleh : e = 0,37 dan v = 1
Untuk baris tunggal :
07 , 1
23 , 5471 1
50 , 5878
=

r
a
F v
F
> e
Maka diperoleh : x = 0,56; dan y = 1,54
P
r
= x v F
r
+ y F
a

= 0,56 1 5471,23 + 1,54 5878,50
= 12116,78 N
Faktor kecepatan :

211 , 0
6000
3 , 33
3 , 33
10 / 3
10 / 3
=
|
.
|

\
|
=
|
.
|

\
|
=
n
f
n
(ref. II, hal. 136)
68

Faktor umur :

64 , 2
78 , 12116
32000
211 , 0 = =
=
r
n h
P
C
f f
(ref. II, hal. 136)
Umur nominal :

jam
F L
h h
51 , 12730 64 , 2 500
500
3 / 10
3 / 10
= =
=
(ref. II, hal. 136)

4. 2. 4. Bantalan Poros Pembalik
Gaya aksial yang diterima (F
a13
) = 3623,52 N
Gaya radial yang diterima (F
r13
) = 3375,35 N
Sehingga berdasarkan referensi II hal. 144 bantalan yang digunakan adalah jenis
bantalan roll no. 32306 SKF dengan :
- Beban dinamik (C) = 56500 N
- Beban statik (C
o
) = 45000 N

Beban dinamis ekivalen :
Berdasarkan referensi II hal. 135 diperoleh beban dinamis ekivalen :
081 , 0
45000
52 , 3623
= =
o
a
C
F

Maka dari tabel tersebut diperoleh : e = 0,28 dan v = 1
Untuk baris tunggal :
07 , 1
25 , 3375 1
52 , 3623
=

r
a
F v
F
> e
69

Maka diperoleh : x = 0,56; dan y = 1,54
P
r
= x v F
r
+ y F
a

= 0,56 1 3375,35 + 1,54 3623,52
= 7470,42 N
Faktor kecepatan :

211 , 0
6000
3 , 33
3 , 33
10 / 3
10 / 3
=
|
.
|

\
|
=
|
.
|

\
|
=
n
f
n
(ref. II, hal. 136)
Faktor umur :

60 , 1
42 , 7470
56500
211 , 0 = =
=
r
n h
P
C
f f
(ref. II, hal. 136)
Umur nominal :

jam
F L
h h
36 , 2395 60 , 1 500
500
3 / 10
3 / 10
= =
=
(ref. II, hal. 136)

70

BAB V
PERHITUNGAN LAINNYA

5. 1. Perhitungan Ketebalan Dinding Transmisi
Dari referensi V hal. 234 suhu minyak dan pemeliharaan, pengawasan
serta penggantian, didapat suhu kotak transmisi sumbu belakang untuk kendaraan
adalah :
T
max
= 130 - 150
Untuk mendapatkan ketebalan dinding kotak transmisi ini berlaku sistem dimana
pada referensi V hal. 11 :
Q = h A (T
w
- T

)
Dimana :
Q = perpindahan kalor yang terjadi (W)
h = koefisien perpindahan kalor (W/m
2
)
A = luas bidang permukaan (m
2
)
T
w
= suhu pelat (C)
T

= suhu luar (C)


Maka diketahui :
T
w
= 150
h = dari tabel 1. 2 referensi VI hal. 12 diketahui untuk konversi
bebas T = 30C pelat vertikal 0,3 m diatas permukaan tanah.
= 4,5 W/m
2
C
T

= 30C
71

l = lebar pelat = 34,5 cm = 0,345 m
p = panjang pelat = 37,5 cm = 0,375 m
Dari hal. 72 referensi VI pada dinding tiga (3) dimensi seperti dalam
tanur berbentuk kubus digunakan faktor bentuk, sehingga dapat dicari tebal
dinding yang dibutuhkan :
Q = k S T
Dimana :

t
A
S =
dan :
k = untuk baja karbon 1% sebagai bahan kotak transmisi
= 43 W/mC

m
T k
Q
S
5 , 13
) 30 150 ( 43
8625 , 69
=

=
A
=

maka :

mm mm m
S
A
t
t
A
S
10 58 , 9 00958 , 0
5 , 13
345 , 0 375 , 0
~ = =

= =
=


5. 2. Perhitungan Panas dan Pelumas
Perhitungan panas dalam kotak transmisi didasarkan pada panas yang
timbul ketika poros berputar, yaitu panas pada bantalan poros output, dimana
beban yang paling besar disini :
72

P
e
= 12380,96 4247,4 N
Diameter luar bantalan, D = 62 mm
Diameter dalam bantalan, d = 25 mm
Lebar bantalan, B = 24 mm
Untuk pelumasan dengan SAE 10 pada temperatur maksimum (T
max
)
= 60C dengan viskositas absolut (z) = 14 cP, maka tekanan bantalan (P) :

2
/ 63 , 20
24 25
96 , 12380
mm N
B d
P
P
e
=

=

=

Koefisien gesek () :
k
c
d
P
n z
+
|
.
|

\
|

|
.
|

\
|
=
3
10
33

Dimana :
c/d = faktor kelonggaran, umumnya 0,001
k = faktor koreksi, 0,002 untuk 1/d = 0,7 - 0,8
n = putaran bantalan
Maka :
025 , 0 002 , 0
001 , 0
1
63 , 20
6000 14
10
33
3
= + |
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=

Panas yang timbul :
H
g
= P
e
v
= 0,025 12380,96
1000 60
6000 25

t

73

= 2430,99 J/det = 145 KJ/menit
H
d
= C A (t
maks
- t
n
)
Dimana :
C = koefisien panas = 0,0008 KJ/menit/cm
2
/C (tanpa ventilasi)
A = luas bantalan = D T
t
maks
= temperatur pada permukaan bantalan (C)
t
n
= temperatur udara = 30C


Maka :
H
d
= 0,0008 ( 62 1,6) (60 30)
= 0,75 KJ/menit
Karena H
g
> H
d
maka diperlukan minyak pelumas sebagai media
pendingin tambahan. Jumlah panas yang dipindahkan oleh pelumas = H
t
dan
supaya seluruh panas yang timbul dapat dipindahkan, maka : H
t
= H
g
.

T S
H
M
t
pelumas

=
Dimana :
S = panas spesifik pelumas = 1,076 KJ/KgC
T = perbedaan temperatur


Maka :
menit KJ M
pelumas
/ 49 , 4
30 076 , 1
145
=

=

74

BAB IV
KESIMPULAN dan SARAN

6. 1. KESIMPULAN
Tugas perencanaan roda gigi Toyota Altis ini dimaksudkan untuk
menghitung data yang ada sehingga didapatkan suatu hasil yang diperlukan
dalam merancang transmisi.
Metode ini menggunakan metode Gustav Niemann yang diambil dari
referensi machine element jilid I dan II, Sularso serta referensi lainnya.
Dari hasil perhitungan diperoleh hasil sebagai berikut :
a. Faktor keamanan harus lebih besar sesuai dengan roda gigi dan jenis material
yang akan direncanakan.
b. Perbedaan dimensi/besaran hasil perhitungan dalam menentukan
perbandingan transmisi, tebal gigi, modul, dan material yang akan
direncanakan.
c. Untuk poros yang digerakan akan mengalami momen puntir yang lebih besar
dari poros penggerak, karena faktor beban yang dipikulnya.
d. Perbedaan dimensi poros karena adanya perbedaan dimensi roda gigi
perhitungan yang mempengaruhi perhitungan kondisi pembebanan yang
dialami, selain itu pemilihan material yang berbeda menghasilkan besaran-
besaran yang berbeda pula.

6. 2. SARAN
Saran yang dapat diajukan setelah merancang ulang roda gigi dalam
hal ini yang harus diperhatikan antara lain adalah :
a. Memindahkan posisi gigi yang satu ke posisi gigi lainnya hendaknya
diperhatikan medan yang dilalui serta cara pengoperasian koplingnya , karena
75

jika pengoperasiannya kurang baik maka akan mempercepat kerusakan pada
roda gigi.
b. Pemeriksaan minyak pelumas secara berkala amatlah penting untuk
menghindari kerusakan pada roda gigi.
c. Oli transmisi perlu diganti secara berkala. Hal ini sangat baik dilakukan agar
transmisi dapat bekerja secara maksimal dan tidak cepat mengalami keausan.



















76

DAFTAR PUSTAKA

1. Niemann, Gustav. MACHINE ELEMENT, Design and Calculation in
Mechanical Engineering Volume II. Springer Verlag, Berlin Heidelberg,
New York
2. Sularso, Kiyokatsu Suga. DASAR PERENCANAAN dan PEMILIHAN
ELEMEN MESIN. Pradnya Paramita
3. Niemann, Gustav. ELEMEN MESIN, Desain dan Kalkulasi dari Sambungan,
Bantalan, dan Poros, Jilid 2. H. Winter, Erlangga
4. Vlack, Lawrence H. Van. ILMU dan TEKNOLOGI BAHAN, Ilmu Logam dan
Bukan Logam. Erlangga
5. Niemann, Gustav. ELEMEN MESIN, Desain dan Kalkulasi dari Sambungan,
Bantalan, dan Poros, Jilid 1. H. Winter, Erlangga
6. Holman, J.P. PERPINDAHAN KALOR. Erlangga