Anda di halaman 1dari 10

KOLESISTOLITIASIS 1.1 Anatomi Kandung empedu adalah kantong berbentuk buah pear yang terletak padapermukaan viseral hati.

Untuk tujuan pendidikan, kandung empedu dibagi menjadifundus, korpus, dan collum. Fundus berbentuk bulat dan biasanya menonjol di bawahpinggir inferior hati; dimana fundus berhubungan dengan dinding anterior abdomensetinggi ujung rawan kosta IX kanan. Korpus bersentuhan dengan permukaan viseralhati dan arahnya ke atas, belakang dan kiri. Collum dilanjutkan sebagai duktussistikus, yang berjalan di dalam omentum minus untuk bersatu dengan sisi kananduktus hepatikus komunis, membentuk duktus koledokus (Gambar 1). Peritoneum membungkus fundus kandung empedu dengan sempurna danmenghubungkan corpus dan collum dengan permukaan viseral hati. Batas-bataskandung empedu yaitu: Anterior: dinding anterior abdomen dan permukaan viseral hati. Posterior: colon transversum dan bagian pertama dan kedua duodenum.

Pembuluh darah arteri kandung empedu biasanya berasal dari arteri sistikus yang merupakan cabang dari arteri hepatik dekstra yang berjalan transversal melewati Triangle Calot, di bagi menjadi dua cabang. Satu cabang berjalan sepanjangpermukaan peritoneal kandung empedu dan cabang lainnya berjalan di antara fossavesica fellea dan hati sedangkan vena sistikus berjumlah banyak yang berasal daripermukaan hati melewati fossa vesika fellea dan masuk ke dalam lobus quadratrus.Vena yang berada di bawah permukaan peritoneum dapat mencapai kollum kandungempedu dan masuk ke dalam lobus quadratus secara langsung atau berjalan bersamapleksus disekeliling duktus biliaris, kemudian vena-vena tersebut bergabung bersama vena hepatik ,tapi bukan ke vena porta. Vena yang berasal dari bagian bawah duktusbiliaris komunis yang mengalir ke dalam vena porta. Kandung empedu dipersarafi oleh sistem saraf simpatis dan parasimpatis yangkeduanya melalui pleksus seliakus. Saraf simpatis preganglionik berasal darti levelT8 dan T9 sedangkan saraf parasimpatis postganglionik berada pada pleksus seliakusdan berjalan sepanjang arteri hepatis dan vena porta menuju kandung empedu. Saraf parasimpatis berasal dari trunkus vagal, tidak seperti cabang posteriornya yangmelewati pleksus seliakus, cabang anteriornya mencapai kandung empedu melewatiligamentum gastrohepatis. Limfe dari kandung empedu melewati nodus hepatikus via nodus sistikusdekat dengan kollum kandung empedu, alirannya menuju limfonodus seliakus. 1.2 Fisiologi Fungsi utama kandung empedu adalah menyimpan dan memekatkan empedu.Kandung empedu mampu menyimpan sekitar 45 ml empedu yang dihasilkan hati.Empedu yang dihasilkan hati setiap hari sekitar 500 1000 ml, tidak langsung masuk ke duodenum, akan tetapi setelah melewati duktus hepatikus, empedu masuk keduktus sistikus dan disimpan di kandung empedu. Di dalam kandung empedu, air,natrium, klorida, dan kebanyakan elektrolit secara terus-menerus diabsorbsi olehmukosa kandung

empedu. Selain itu juga terjadi pemekatan zat-zat empedu lainnya,termasuk garam empedu, kolesterol, lesitin dan bilirubin. Kebanyakan absorbsi inidisebabkan oleh transpor aktif natrium melalui kandung emped, dan keaadaan inidiikuti oleh absorbsi sekunder ion klorida, air, dan kebanyakan zat-zat terlarutlainnya. Empedu secara normal dipekatkan sebanyak 5 kali lipat dengan cara ini,tetapi dapat dipekatkan sampai maksimal 20 kali lipat. Secara berkala kandung empedu akan mengosongkan isinya ke dalamduodenum melalui kontraksi simultan lapisan ototnya dan relaksasi sfingter Oddi(Gambar 2). Rangsang normal kontraksi dan pengosongan kandung empedu adalahmasuknya kimus asam dalam duodenum. Pengosongan tersebut dipengaruhi olehfaktor neural, humoral dan rangsang kimiawi. Rangsang vagal meningkatkan sekresiempadu, sedangkan saraf splennikus menurunkan sekresi empedu. Hormonkolesistikinin (CCK) juga memperantarai kontraksi, hormon ini disekresi olehmukosa usus halus akibat pengaruh makanan berlemak atau produksi lipolitik dapatmerangsang nervus vagus. Asam hidroklorik, sebagai digesti protein dan asam lemak yang ada di duodenum merangsang peningkatan sekresi empedu.

Gambar 2. Sfingter Oddi Sumber: Anderson, et al (2005) Substansi terbanyak yang disekresi pada empedu adalah garam-garam empedu, yang merupakan setengah dari total solut empedu, juga disekresi dandiekskresi dalam konsentrasi besar adalah bilirubin, kolesterol, lesitin dan elektrolitplasma (Tabel 1). Fungsi empedu yang lain adalah membuang limbah tubuh tertentu (terutamapigmen hasil pemecahan sel darah merah dan kelebihan kolesterol) serta membantu proses pencernaan dan penyerapan lemak. Garam empedu menyebabkan meningkatnya kelarutan kolesterol, lemak dan vitamin larut lemak, sehingga membantu penyerapan dari usus. Hemoglobin yang berasal dari penghancuran seldarah merah

dirubah menjadi bilirubin (pigmen utama dalam empedu) dan dibuangke dalam empedu. Berbagai protein yang memegang peranan penting dalam fungsiempedu juga disekresi dalam empedu. 1.3 Definisi Kolelitiasis disebut juga Sinonimnya adalah batu empedu, gallstones, biliarycalculus. Istilah kolelitiasis dimaksudkan untuk pembentukan batu di dalam kandungempedu. Batu kandung empedu merupakan gabungan beberapa unsur yangmembentuk suatu material mirip batu yang terbentuk di dalam kandung empedu. Sebagian besar batu empedu, terutama batu kolesterol, terbentuk di dalam kandungempedu (kolesistolitiasis). Kalau batu kandung empedu ini berpindah ke dalamsaluran empedu ekstrahepatik, disebut batu saluran empedu sekunder ataukoledokolitiasis sekunder. 1.4 Insidens Insidens batu empedu di negara barat adalah 20% dan banyak menyerangorang dewasa dan lanjut usia. kebanyakan batu empedu tidak bergejala atau bertanda. Angka kejadian penyakit batu empedu dan penyakit saluran empedu diIndonesia diduga tidak berbeda jauh dengan angka di negara lain di Asia Tenggaradan sejak tahun 1980-an agaknya berkaitan erat dengan cara diagnosis denganultrasonografi. Dikenal 3 jenis batu empedu, yaitu batu kolesterol, batu pigmen atau batubilirubin, dan batu campuran. Di negara barat, 80% batu empedu adalah batukolesterol, tatapi angka kejadian batu pigmen meningkat akhir-akhir ini. Sebaliknyadi Asia Timur, lebih banyak batu pigmen dibanding dengan batu kolesterol, tetapiangka kejadian batu kolesterol sejak 1965 makin meningkat. Sementara ini di dapat kesan bahwa meskipun batu kolesterol di Indonesialebih umum, angka kejadian batu pigmen lebih tinggi dibandingkan angka yangterdapat di negara Barat, dan sesuai dengan angka di negara tetangga sepertiSingapura, Malaysia, Muangthai, dan Filipina. Hal ini menunjukkan bahwa faktorinfeksi empedu oleh kuman gram negatif E. Coli ikut berperan penting dalamtimbulnya batu pigmen. Di wilayah ini insidens batu primer saluran empedu adalah40-50% dari penyakit batu empedu, sedangkan di dunia Barat sekitar 5%. Perbedaan lain dengan negara Barat ialah batu empedu banyak ditemukanmulai pada usia muda di bawah 30 tahun. meskipun usia rata-rata tersering ialah 40-50 tahun. Pada usia 60 tahun, insidens batu empedu meningkat. Jumlah penderitaperempuan lebih banyak daripada jumlah penderita laki-laki. Meskipun batu empeduterbanyak ditemukan di dalam kandung empedu, tetapi sepertiga dari batu saluranempedu merupakan batu duktus koledukus. Oleh karena itu, kolangitis di negaraBarat ditemukan pada berbagai usia, dan merupakan sepertiga dari jumlah dari kolesistitis. Batu intrahepatik dan batu primer saluran empedu juga cukup seringditemukan. 1.5 Patofisiologi Komponen-komponen organik penting dalam batu empedu antara lainbilirubin, garam empedu, fosfolipid, dan kolesterol. Batu empedu dikelompokkanberdasarkan kandungan kolesterolnya, yaitu

batu kolesterol dan batu pigmen. Batupigmen dapat dikelompokkan lagi menjadi batu hitam dan coklat. Di negara-negaraBarat, sekitar 80% batu empedu adalah batu kolesterol dan sekitar 15-20%merupakan batu pigmen hitam. Batu pigmen cokelat sendiri persentasenya hanyasedikit. kedua tipe batu pimen ini lebih umum dijumpai di Asia. Batu Kolesterol Batu kolesterol murni tidak sering dijumpai dan hanya sekitar 10% dari total jumlah batu empedu yang ada. Biasanya batu ini muncul sebagai batu tunggal yangbesar dengan permukanaan yang halus. Sebagian besar batu kolesterol jugamengandung sejumlah pigmen empedu dan kalsium, tapi jumlah kolesteroldidalamnya selalu lebih dari 70% berat batu. Batu jenis ini biasanya multipel,memiliki ukuran yang bervariasi, keras, ireguler, faset, berbentuk seperti mulberry,atau halus. Warna batu bervariasi dari putih kekuning-kuningan, hijau, hingga hitam.Kebanyakan batu empedu bersifat radioluscent; kurang dari 10% bersifatradiopaque. Proses pembentukan batu kolesterol melalui empat tahap, yaitu penjenuhan empedu oleh kolesterol, pembentukan nidus, kristalisasi, dan pertumbuhan batu.Derajat penjenuhan empedu oleh kolesterol dapat dihitung melaui kapasitas dayalarut. penjenuhan ini dapat disebabkan oleh bertambahnya sekresi kolesterol ataupenurunan relatif asam empedu atau fosfolipid. Penjenuhan kolesterol yang berlebihan tidak dapat membentuk batu, kecualibila ada nidus atau ada proses lain yang menimbulkan kristalisasi. Nidus dapatberasal dari pigmen empedu, mukoprotein, lendir, protein lain, bakteria atau bendaasing lain. Setelah kristalisasi meliputi suatu nidus akan terjadi pembentukan batu.Pertumbuhan batu terjadi karena pengendapan kristal kolesterol di atas matriksinorganik. Batu empedu baru dapat memberikan gejala jika memiliki ukuran yang cukupuntuk menyebabkan cedera pada kandung empedu atau obstruksi traktus biliaris.Pertumbuhan batu melewati 2 tahap: 1) pembesaran yg progresif dari satu kristal ataubatu melalui deposisi presipitat insoluble tambahan pada permukaan batu empeduatau 2) penggabungan beberapa kristal atau batu individual membentuk batu yangbesar. Selain itu, gangguan pada motilitas kandung empedu dapat meningkatkanlamanya waktu empedu di dalam kandung empedu. Hal ini juga turut berperan dalampembentukan batu empedu. Batu Pigmen Batu pigmen mengandung kurang dari 20% kolesterol dan berwarna gelapoleh karena adanya kalsium bilirubinat. Baik batu berwarna hitam maupun coklathanya memiliki sedikit kesamaan. Batu pigmen hitam biasanya kecil, rapuh, berwarna hitam, dan tidak beraturan. Batu ini terbentuk dari penjenuhan kalsium bilirubinat, karbonat, dan fosfatyang biasanya terdapat sekunder pada kelainan hemolitik dan pada sirosis. Sepertihalnya batu kolesterol, batu ini hampir selalu terbentuk di dalam kandung empedu. Dinegera-negara Asia seperti Jepang, batu pigmen hitam memiliki persentase yang lebihtinggi dibandingkan dunia Barat.

Batu coklat biasanya berdiameter kurang dari 1 cm, berwarna coklatkekuning-kuningan, lembut, dan sering lunak. Batu jenis ini dapat terbentuk di kandung empedu atau saluran empedu, biasanya sekunder akibat infeksi bakterialyang menyebabkan stasis empedu. Presipitat kalsium karbonat dan bakteri-bakterimembentuk bagian utama batu. Bakteri seperti Escherichia coli mensekresikan betaglukoronidase, yaitu suatu enzim yang membantu bilirubin glukoronidasemenghasilkan bilirubin tak terkonjugasi yang tidak larut. Presipitat ini bersamadengan kalsium dan sel-sel bakteri yang telah mati akan membentuk batu coklatlembut pada traktus biliaris. Batu coklat biasanya ditemukan pada traktus biliarisorang Asia dan dihubungkan dengan stasis sekunder akibat infeksi parasit. Padapopulasi Barat, batu coklat muncul sebagai batu duktus biliar primer pada pasiendengan striktura biliar atau batu di duktus yang lebih umum yang dapat menyebabkanstasis dan kontaminasi bakteri. 1.6 Faktor Predisposisi Batu empedu dapat terjadi dengan atau tanpa faktor predisposisi dibawah.Namun, semakin banyak faktor predisposisi yang dimiliki seseorang, semakin besarkemungkinan untuk terjadinya batu empedu. Batu Kolesterol 1. Faktor demografik/genetik: prevalensi di Eropa Utara dan Amerika Utara lebihbesar dibandingkan dengan di Asia. 2. Obesitas: Sekresi dan simpanan garam empedu normal namun sekresi kolesterolbiliar meningkat. 3. Kehilangan berat badan: perpindahan kolesterol di jaringan yang diikutipeningkatan sekresi kolesterol biliar sementara sirkulasi enterohepatik asamempedu menurun. 4. Hormon sex perempuan a. Estrogen menstimulasi reseptor lipoprotein hepatik, meningkatkan ambilankolesterol makanan, dan meningkatkan sekresi kolesterol biliar. b. Estrogen alami, estrogen lainnya, kontrasepsi oral menyebabkan penurunansekresi garam empedu dan menurunkan konversi kolesterol menjadi esterkolesterol. 5. Peningkatan usia: meningkatkan sekresi kolesterol biliar, menurunkan ukuransimpanan asam empedu, penurunan sekresi garam empedu. 6. Hipomotilitas kandung empedu yang menyebabkan stasis dan pembentukan a. nutrisi parenteral dalam waktu yang lama b. Kelaparan/puasa c. Kehamilan d. Obat-obat seperti octreotide 7. Terapi clofibrate: meningkatkan sekresi kolesterol biliar. 8. Penurunan sekresi asam empedu a. Sirosis biliar primer b. Defek genetik pada gen CYP7A1 9. Penurunan sekresi fosfolipid: defek genetik gen MDR3 10. Lain-Lain

a. Diet tinggi kalori, tinggi lemak b. Cedera tulang belakang Batu Pigmen 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Faktor demografik/genetik: Asia, keadaan rural Hemolisis kronik Anemia pernisiosa Cystic fibrosis Infeksi traktus biliaris kronik, infeksi parasit Peningkatan usia Penyakit usus halus, reseksi usus halus, atau bypass

1.7 Gejala Klinis Setengah sampai dua pertiga penderita batu kandung empedu adalahasimtomatik. Keluhan yang mungkin timbul berupa dispepsia yang kadang disertaiintolerans terhadap makanan berlemak. Pada yang simtomatik, keluhan utamanya berupa nyeri di daerah epigastrium,kuadran atas kanan atau prekordium. Rasa nyeri lainnya adalah kolik bilier yangmungkin berlangsung lebih dari 15 menit, dan kadang baru menghilang beberapa jamkemudian. Timbulnya nyeri kebanyakan perlahan-lahan, tetapi pada sepertiga kasustimbul tiba-tiba. Penyebaran nyeri dapat ke punggung bagian tengah skapula, atau kepuncak bahu, disertai mual dan muntah. Kalau terjadi kolesistitis, keluhan nyeri menetap dan bertambah pada waktumenarik napas dalam dan sewaktu kandung empedu tersentuh jari tangan sehinggapasien berhenti menarik napas, yang merupakan tanda rangsangan peritoneumsetempat (tanda Murphy). 1.8 Pemeriksaan Fisik Kalau ditemukan kelainan, biasanya berhubungan dengan komplikasi, sepertikolesistitis akut dengan peritonitis lokal atau umum, hidrops kandung empedu,empiema kandung empedu, atau pankreatiits. Pada pemeriksaan ditemukan nyeri tekan dengan punktum maksimum didaerah letak anatomi kandung empedu. Tanda Murphy positif apabila nyeri tekanbertambah sewaktu penderita menarik napas panjang karena kandung empedu yangmeradang tersentuh ujung jari tangan pemeriksa dan pasien berhenti menarik napas. 1.9 Pemeriksaan Laboratorium Batu kandung empedu yang asimtomatik umumnya tidak menunjukkankelainan laboratorik. Apabila terjadi peradangan akut, dapat terjadi leukositosis. Apabila ada sindrom Mirizzi, akan ditemukan kenaikan ringan bilirubin serum akibatpenekanan duktus koledokus oleh batu, dinding yang udem di daerah kantongHartman, dan penjalaran radang ke dinding yang tertekan tersebut. Kadar bilirubinserum yang tinggi mungkin disebabkan oleh batu di dalam duktus koledokus. Kadarfosfatase alkali serum dan mungkin juga kadar amilase serum biasanya meningkatsedang setiap kali ada serangan akut.

1.10 Pemeriksaaan Pencitraan Radiografi Abdomen Foto polos abdomen nilainya terbatas dalam menilai pasien dengan batu empedu atauikterus. Hanya 15-20% pasien akan mempunyai batu opak yang terletak dalamkuadran kanan atas pada foto polos. Adanya udara di dalam cabang-cabang biliarisdapat mengindikasikan adanya fistula kolesistoenterik. Kolesistografi Oral Kolesistografi oral dikenalkan oleh Graham dan Cole pada tahun 1924. Fungsi yangdinilai adalah kemampuan absorpsi dari kandung empedu. Pewarna yodiumradioopak dimakan secara oral, diabsorpsi oleh traktus gastrointestinalis, diekstraksidalam hati, diekskresikan ke dalam sistem duktus biliaris, dan dipekatkan dalamkandung empedu. Adanya batu (terlihat sebagai cacat pengisian dalam kandungempedu yang terlihat opak) atau tidak terlihatnya kandung empedu, memberikan hasil pemeriksaan yang positif. Tak terlihatnya kandung empedu secara positif palsu dapat terjadi jika pasien tidak dapat menelan tablet atau nonkomplians, tablet tidak diabsorpsi melalui traktus gastrointestinalisatau zat warna tidak diekskresikan kedalam traktus biliaris karena disfungsi hati. Ultrasonografi abdomen Tes ini telah menggantikan kolesistogram oral sebagai prosedur terpilih saatmengevaluasi pasien untuk batu empedu. kemampuan dari ultrasonografi abdomendalam mendiagnosa kolesistitis akuttidak sebesar dalam mendiagnosa batu.Ultrasonografi bermanfaat dalam mengidentifikasi dilatasi biliaris intrahepatik danekstrahepatik. Tomografi Computer (CT) Tes ini tidak terlalu sensitif untuk mengidentifikasi kandung empedum tetapimenyediakan informasi tentang sifat, luas, dan lokasi dilatasi biliaris dan adanyamassa di dalam dan di sekitar traktus biliaris dan pankreas. Skintigrafi Biliaris Pemberian intravena salah satu kelompok teknetium-99m yang dilabel denganradioisotop asam iminodiasetat, memberikan informasi yang spesifik tentang patensidari diktus sistikus dan sensitif dalam mendiagnosa pasien dengan kolesistitis akut.Tidak seperti ultrasonograf, yang merupakan tes anatomi, skintigrafi biliarismerupakan tes fungsional. Kolangiografi Transhepatik Perkutaneus (PTC) Di bawah kontrol fluoroskopik dan anastesia lokal, dimasukkan jarum kecil melaluidinding abdomen ke dalam duktus biliaris. Ini menyediakan suatu kolangiogam danmemungkinkan intervensi terapeutik bila perlu, didasarkan pada situasi klinis.Bermanfaat bagi pasien dengan masalah biliaris kompleks, mencakup striktura dantumor.

Kolangiopankreatografi Retrograd Endoskopik (ERCP) Menggunakan endoskop pandangan samping, traktus biliaris dan duktus pankreatikusdapat diintubasi dan dilihat. Keuntungannya adalah visualisasi langsung dari daerah ampula dan jalur langsung ke duktus biliaris distal. Ini sangat bermanfaat untuk pasien dengan penyakit duktus koledokus (jinak dan ganas). Koledoskopi Bila teknik pencitraan tak langsung merupakan jalur utama bagi evaluasi pasiendengan penyakit traktus biliaris ekstrahepatik, maka inspeksi langsung dan visualisasisistem biliaris merupakan tujuan utama yang hendak dicapai. Koledoskopi intraoperatif agak bermanfaat dalam mengevaluasi pasien dengan striktur duktus biliarisatau tumor. 1.11 Penatalaksanaan Jika tidak ditemukan gejala, maka tidak perlu dilakukan pengobatan. Nyeriyang hilang-timbul bisa dihindari atau dikurangi dengan menghindari ataumengurangi makanan berlemak. Jika batu kandung empedu menyebabkan serangan nyeri berulang meskipuntelah dilakukan perubahan pola makan, maka dianjurkan untuk menjalanipengangkatan kandung empedu (kolesistektomi). Pengangkatan kandung empedutidak menyebabkan kekurangan zat gizi dan setelah pembedahan tidak perludilakukan pembatasan makanan. Pilihan penatalaksanaan antara lain : 1. Kolesistektomi terbuka Operasi ini merupakan standar terbaik untuk penanganan pasien dengankolelitiasis simtomatik. Komplikasi yang paling bermakna yang dapat terjadi adalahcedera duktus biliaris yang terjadi pada 0,2% pasien. Angka mortalitas yangdilaporkan untuk prosedur ini kurang dari 0,5%. Indikasi yang paling umum untuk kolesistektomi adalah kolik biliaris rekuren, diikuti oleh kolesistitis akut. 2. Kolesistektomi laparaskopi Kolesistektomi laparoskopik mulai diperkenalkan pada tahun 1990 dansekarang ini sekitar 90% kolesistektomi dilakukan secara laparoskopi. 80-90% batuempedu di Inggris dibuang dengan cara ini karena memperkecil resiko kematiandibanding operasi normal (0,1-0,5% untuk operasi normal) dengan mengurangikomplikasi pada jantung dan paru. Kandung empedu diangkat melalui selang yangdimasukkan lewat sayatan kecil di dinding perut. Indikasi awal hanya pasien dengan kolelitiasis simtomatik tanpa adanyakolesistitis akut. Karena semakin bertambahnya pengalaman, banyak ahli bedahmulai melakukan prosedur ini pada pasien dengan kolesistitis akut dan pasien denganbatu duktus koledokus. Secara teoritis keuntungan tindakan ini dibandingkanprosedur konvensional adalah dapat mengurangi perawatan di rumah sakit dan biayayang dikeluarkan, pasien dapat cepat kembali bekerja, nyeri menurun dan perbaikankosmetik. Masalah yang

belum terpecahkan adalah kemanan dari prosedur ini,berhubungan dengan insiden komplikasi seperti cedera duktus biliaris yang mungkindapat terjadi lebih sering selama kolesistektomi laparaskopi. 3. Disolusi medis Masalah umum yang mengganggu semua zat yang pernah digunakan adalahangka kekambuhan yang tinggi dan biaya yang dikeluarkan. Zat disolusi hanyamemperlihatkan manfaatnya untuk batu empedu jenis kolesterol. Penelitian prospektif acak dari asam xenodeoksikolat telah mengindikasikan bahwa disolusi dan hilangnyabatu secara lengkap terjadi sekitar 15%. Jika obat ini dihentikan, kekambuhan batutejadi pada 50% pasien. Kurang dari 10% batu empedu dilakukan cara ini adalahsukses. Disolusi medis sebelumnya harus memenuhi criteria terapi non operatif diantaranya batu kolesterol diameternya < 20 mm, batu kurang dari 4 batu, fungsikandung empedu baik dan duktus sistik paten. 4. Disolusi kontak Meskipun pengalaman masih terbatas, infus pelarut kolesterol yang poten(Metil-Ter-Butil-Eter (MTBE)) ke dalam kandung empedu melalui kateter yangdiletakkan per kutan telah terlihat efektif dalam melarutkan batu empedu pada pasien-pasien tertentu. Prosedur ini invasif dan kerugian utamanya adalah angkakekambuhan yang tinggi (50% dalam 5 tahun). 5. Litotripsi Gelombang Elektrosyok (ESWL) Sangat populer digunakan beberapa tahun belakang ini, analisis biaya-manfaatpad saat ini memperlihatkan bahwa prosedur ini hanya terbatas pada pasien yangtelah benar-benar dipertimbangkan untuk menjalani terapi ini. 6. Kolesistotomi Kolesistotomi yang dapat dilakukan dengan anestesia lokal bahkan di sampingtempat tidur pasien terus berlanjut sebagai prosedur yang bermanfaat, terutama untuk pasien yang sakitnya kritis. 7. Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP) Pada ERCP, suatu endoskop dimasukkan melalui mulut, kerongkongan,lambung dan ke dalam usus halus. Zat kontras radioopak masuk ke dalam saluranempedu melalui sebuah selang di dalam sfingter oddi. Pada sfingterotomi, ototsfingter dibuka agak lebar sehingga batu empedu yang menyumbat saluran akanberpindah ke usus halus. ERCP dan sfingterotomi telah berhasil dilakukan pada 90%kasus. Kurang dari 4 dari setiap 1.000 penderita yang meninggal dan 3-7%mengalami komplikasi, sehingga prosedur ini lebih aman dibandingkan pembedahanperut. ERCP saja biasanya efektif dilakukan pada penderita batu saluran empeduyang lebih tua, yang kandung empedunya telah diangkat. 1.12 Komplikasi 1. Obstruksi duktus sistikus 2. Kolik bilier 3. Kolesistitis akut

4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Perikolesistitis Peradangan pankreas (pankreatitis) Perforasi Kolesistitis kronis Hidrop kandung empedu Empiema kandung empedu Fistel kolesistoenterik Batu empedu sekunder (Pada 2-6% penderita, saluran menciut kembali dan batuempedu muncul lagi) 12. Ileus batu empedu (gallstone ileus) 1.13 Prognosis Komplikasi yang serius dan kematian terkait tindakan operasi sendiri sangat jarang. Tingkat mortalitas operasi sekitar 0,1% pada penderita dibawah usia 50 tahundan sekitar 0,5% pada penderita diatas usia 50 tahun. Kebanyakan kematian terjadipada penderita dengan risiko tinggi yang telah diketahui sebelum operasi. Tindakanoperasi dapat meringankan gejala pada 95% kasus batu empedu.